Anda di halaman 1dari 22

Ê 

Obat-obatan hipnotik sedatif adalah istilah untuk obat-obatan yang mampu


mendepresi sistem saraf pusat. Sedatif adalah substansi yang memiliki aktifitas À 
yang memberikan efek menenangkan, sementara hipnotik adalah substansi yang dapat
memberikan efek mengantuk dan yang dapat memberikan onset serta mempertahankan tidur.

Secara klinis obat-obatan sedatif-hipnotik digunakan sebagai obat-obatan yang


berhubungan dengan sistem saraf pusat seperti tatalaksana nyeri akut dan kronik, tindakan
anestesia, penatalaksanaan kejang, serta insomnia.

Obat-obatan sedatif hipnotik diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yakni:

1.‘ ½enzodiazepin
2.‘ ½arbiturat
3.‘ Golongan obat nonbarbiturat ± nonbenzodiazepin

Obat golongan benzodiazepin berkerja pada reseptor ©ÀÀÀ


    Efek
farmakologi benzodiazepin merupakan akibat aksi ©ÀÀÀ
    sebagai
neurotransmitter penghambat di otak. ½enzodiazepine meningkatkan kepekaan reseptor
gamma-aminobutyric acid terhadap neurotransmitter penghambat sehingga kanal klorida
terbuka dan terjadi hiperpolarisasi post sinaptik membran sel dan mendorong post sinaptik
membran sel tidak dapat dieksitasi. Contoh preparat benzodiazepin antara lain midazolam,
alprazolam, diazepam, clobazam.

Obat-obatan barbiturat bekerja pada neurotansmiter penghambat (©ÀÀÀ


 
  pada sistem saraf pusat. Aktifasi reseptor ini meningkatkan konduktase klorida
transmembran, sehingga terjadi hiperpolarisasi membran sel postsinaps. Contoh obat-obatan
golongan barbiturat antara lain tiopental dan phenobarbital

c
½  

 ‘Ñ
Ñ

Ñi l t li i t t 976 l F W l Ñi l
w t l l i i t i t l l i l l i
t j i it l t li t j i i

Ñi l ili i V U ½    i 


l 

i   Ñi
l l  i t 
ii  ili i   j t
 

Systematic (IUP name

8-chloro-6-(2-fluorophenyl -1-methyl-4?-imidazo[1,5-a][1,4]benzodiazepine

ë
-  


Ñidazolam merupakan benzodiazepine yang larut air dengan struktur cincin


imidazole yang stabil dalam larutan dan metabolisme yang cepat. Obat ini telah
menggantikan diazepam selama operasi dan memiliki potensi 2-3 kali lebih kuat. Selain itu
affinitas terhadap reseptor GA½A 2 kali lebih kuat dibanding diazepam. Efek amnesia pada
obat ini lebih kuat diabanding efek sedasi sehingga pasien dapat terbangun namun tidak akan
ingat kejadian dan pembicaraan yang terjadi selama beberapa jam.

Larutan midazolam dibuat asam dengan pH < 4 agar cincin tidak terbuka dan tetap
larut dalam air. Ketika masuk ke dalam tubuh, akan terjadi perubahan pH sehingga cincin
akan menutup dan obat akan menjadi larut dalam lemak. Larutan midazolam dapat dicampur
dengan ringer laktat atau garam asam dari obat lain.

-   

Ñidazolam diserap cepat dari saluran cerna dan dengan cepat melalui sa ar darah
otak. Namun aktu equilibriumnya lebih lambat dibanding propofol dan thiopental. Hanya
50% dari obat yang diserap yang akan masuk ke sirkulasi sistemik karena metabolisme porta
hepatik yang tinggi. Sebagian besar midazolam yang masuk plasma akan berikatan dengan
protein. aktu durasi yang pendek dikarenakan kelarutan lemak yang tinggi mempercepat
distribusi dari otak ke jaringan yang tidak aktif begitu juga dengan klirens hepar yang cepat.

aktu paruh midazolam adalah antara 1-4 jam, lebih pendek daripada aktu paruh
diazepam. aktu paruh ini dapat meningkat pada pasien tua dan gangguan fungsi hati. Pada
pasien dengan obesitas, klirens midazolam akan lebih lambat karena obat banyak berikatan
dengan sel lemak. Akibat eliminasi yang cepat dari midazolam, maka efek pada CNS akan
lebih pendek dibanding diazepam.


  : I 30 detik-1 menit; IÑ 15 menit; PO/rektal menit; intranasal < 10 menit;
intranasal < 5 menit

   : I 3-5 menit; IÑ 15-30 menit; PO 30 menit; intranasal 10 menit; rektal


20-30 menit

   : I /IÑ 15-80 menit; PO/rectal 2- jam

x

  
  
 : Efek depresi SSP dan sirkulasi dipotensiasi oleh alkohol, narkotik,
sedatif,anestesik volatil, menurunkan ÑAC untuk anestesik volatil; efeknya diantagonis oleh
flumazenil.


  

Ñidazolam dimetabolisme dengan cepat oleh hepar dan enzim cytochrome P-450
usus halus menjadi metabolit yang aktif dan tidak aktif. Ñetabolit utama yaitu 1-
hidroksimidazolam yang memiliki separuh efek obat induk. Ñetabolit ini dengan cepat
dikonjugasi dengan asam glukoronat menjadi 1-hidroksimidazolam glukoronat yang
dieskresikan melalui ginjal. Ñetabolit lainnya yaitu 4-hidroksimidazolam tidak terdapat
dalam plasma pada pemberian I .

Ñetabolisme midazolam akan diperlambat oleh obat-obatan penghambat enzim


sitokrom P-450 seperti simetidin, eritromisin, calsium channel blocker, obat anti
jamur.Kecepatan klirens hepatic midazolam lima kali lebih besar daripada lorazepam dan
sepuluh kali lebih besar daripada diazepam.

 

* Intramuskular atau intravena untuk sedasi pra operasi / anxiolysis / amnesia;


* Intravena sebagai agen untuk sedasi / anxiolysis / amnesia sebelum atau selama prosedur
diagnostik, terapeutik atau endoskopi, seperti bronkoskopi, gastroskopi, cystoscopy,
angiografi koroner dan kateterisasi jantung, onkologi prosedur, prosedur radiologis, jahitan
dari luka dan prosedur lainnya baik sendiri atau dikombinasikan dengan depresan SSP lain;
* Intravena untuk induksi anestesi umum, sebelum pemberian agen anestesi lain. Dengan
penggunaan narkotik premedikasi, induksi anestesi dapat dicapai dalam rentang dosis yang
relatif sempit dan dalam aktu singkat. Ñidazolam intravena juga dapat digunakan sebagai
komponen suplementasi intravena nitrous oxide dan oksigen (anestesi seimbang);
* Infus intravena terus menerus untuk sedasi pasien intubasi dan ventilasi mekanik sebagai
komponen anestesi atau selama pera atan dalam pengaturan pera atan kritisî


·


   

1.‘ Ñidazolam merupakan kontraindikasi pada pasien dengan hipersensitivitas


dikenal untuk obat. ½enzodiazepines kontraindikasi pada pasien dengan glaukoma
sudut sempit akut. ½enzodiazepine dapat digunakan pada pasien dengan glaukoma
sudut terbuka-hanya jika mereka menerima terapi yang sesuai. Pengukuran
tekanan intraokular pada pasien tanpa penyakit mata menunjukkan induksi berikut
moderat menurunkan dengan midazolam.
2.‘ Kehamilan
3.‘ Hipersensitif
4.‘ Syok
5.‘ Hipotensi
.‘ Pemakai narkoba

  


Ñidazolam sering digunakan sebagai premedikasi pada pasien pediatrik sebagai


sedasi dan induksi anestesia. Ñidazolam juga memiliki efek antikonvulsan sehingga dapat
digunakan untuk mengatasi kejang grand mal.

a)‘ Premedikasi

Sebagai premedikasi midazolam 0,25 mg/kg diberikan secara oral berupa sirup (2
mg/ml) kepada anak-anak untuk memberiksan efek sedasi dan anxiolisis dengan efek
pernapasan yang sangat minimal. Pemberian 0,5 mg/kg I 10 menit sebelum operasi
dipercaya akan memberikan keadaan amnesia retrograd yang cukup.

b)‘ Sedasi intravena

Ñidazolam dosis 1-2,5 mg I (onset 30- 0 detik, aktu puncak 3-5 menit, durasi 15-
80 menit) efektif sebagai sedasi selama regional anestesi. Dibanding dengan diazepam,
midazolam memiliki onset yang lebih cepat, amnesia yang lebih baik dan sedasi post operasi
yang lebih rendah namun aktu pulih sempurna tetap sama. Efek samping yang ditakutkan

ü
dari midazolam adalah adanya depresi napas apalagi bila diberikan bersama obat penekan
CNS lainnya.

c)‘ Induksi anestesi

Induksi anestesi dapat diberikan midazolam 0,1-0,2 mg/kg I selama 30- 0 detik.
alaupun thiopental memberikan aktu induksi lebih cepat 50-100% dibanding midazolam.
Dosis yang digunakan akan semakin kecil apabila sebelumnya diberikan obat penekan CNS
lain seperti golongan opioid. Pasien tua juga membutuhkan lebih sedikit dosis dibanding
pasien muda.

d)‘ Rumatan anestesi

Ñidazolam dapat diberikan sebagai tambahan opioid, propofol dan anestesi inhalasi
selama rumatan anestesi. Pemberian midazolam dapat menurunkan dosis anestesi inhalasi
yang dibutuhkan. Sadar dari post operasi dengan induksi midazolam akan lebih lama 1-2,5
kali dibanding penggunaan thiopental sebagai induksi.

e)‘ Sedasi post operasi

Pemberian jangka panjang midazolam secara intravena (dosis a al 0,5-4 mg I dan


dosis rumatan 1- mg/jam I ) akan mengakibatkan klirens midazolam dari sirkulasi sistemik
lebih bergantung pada metabolisme hepatik. Efek farmakologis dari metabolit akan
terakumulasi dan berlangsung lebih lama setelah pemberian intravena dihentikan sehingga
aktu bangun pasien menjadi lebih lama. Penggunaan opioid dapat mengurangi dosis
midazolam yang dibutuhkan sehingga aktu pulih lebih cepat. aktu pulih akan lebih lama
pada pasien tua, obese dan gangguan fungsi hati berat.

f)‘ Gerakan pita suara paradoks

Gerakan pita suara paradoks adalah penyebab nonorganik obstruksi saluran napas atas
dan stridor sebagai manifestasi post operasi. Ñidazolam 0,5-1 mg I mungkin efektif untuk
mengatasinya.


-  

Ñidazolam tidak harus digunakan tanpa individualisasi dosis terutama bila digunakan
dengan obat lain yang mampu menghasilkan depresi sistem saraf pusat. Sebelum midazolam
intravena dalam dosis apapun, segera ketersediaan oksigen, obat pernafasan, usia dan ukuran
peralatan yang sesuai untuk tas / katup / mask ventilasi dan intubasi, dan personel yang
terampil untuk pemeliharaan jalan napas paten dan dukungan ventilasi harus dijamin. Pasien
harus terus dipantau dengan beberapa alat deteksi untuk tanda-tanda a al hipoventilasi,
obstruksi jalan napas, atau apnea, yaitu, oksimetri pulsa. Hipoventilasi, obstruksi jalan napas,
dan apnea dapat menyebabkan hipoksia dan / atau serangan jantung kecuali tindakan
pencegahan yang efektif segera diambil. Ketersediaan segera agen pembalikan tertentu
(flumazenil) sangat dianjurkan.
Tanda-tanda vital harus terus dipantau selama periode pemulihan. Karena midazolam
intravena menekan respirasi dan karena agonis opioid dan obat penenang lainnya dapat
menambah depresi ini, midazolam harus diberikan sebagai agen induksi hanya oleh orang
yang terlatih dalam anestesi umum dan harus digunakan untuk sedasi / anxiolysis / amnesia
hanya di hadapan tenaga terampil dalam deteksi dini hipoventilasi, mempertahankan jalan
napas paten dan mendukung ventilasi. Ketika digunakan untuk sedasi / anxiolysis / amnesia,
midazolam harus selalu dititrasi perlahan-lahan pada pasien de asa atau anak. peristi a
hemodinamik samping telah dilaporkan pada pasien pediatrik dengan ketidakstabilan
kardiovaskular; pemberian intravena cepat juga harus dihindari pada populasi .Pasien Pediatri
untuk informasi lengkap

Reaksi seperti agitasi, gerakan tak terkendali (termasuk tonik / gerakan klonik dan
tremor otot), hiperaktif, dan combativeness telah dilaporkan di kedua de asa dan pasien
anak. Reaksi-reaksi ini mungkin karena dosis yang tidak memadai atau berlebihan atau
administrasi yang tidak benar dari midazolam, namun, pertimbangan harus diberikan untuk
kemungkinan hipoksia otak atau reaksi paradoksal benar. Jika reaksi tersebut terjadi, respon
terhadap setiap dosis midazolam dan semua obat-obatan lainnya, termasuk obat bius lokal,
harus dievaluasi sebelum melanjutkan. Pembalikan tanggapan tersebut dengan flumazenil
telah dilaporkan pada pasien anak.

Penggunaan bersamaan dari barbiturat, alkohol atau depresan sistem saraf pusat dapat
meningkatkan risiko hipoventilasi, obstruksi saluran napas, desaturation, atau apnea dan

ÿ
dapat menyebabkan mendalam dan / atau efek obat yang berkepanjangan. Narkotika
premedikasi juga menekan respon ventilasi terhadap rangsangan karbon dioksida.

Pada anak-anak memerlukan dosis yang lebih rendah, maupun tidak obat penenang
seiring telah diberikan. De asa atau pasien anak dengan PPOK yang luar biasa sensitif
terhadap efek depresan pernafasan midazolam. Pediatrik dan de asa pasien yang menjalani
prosedur yang melibatkan saluran udara bagian atas seperti endoskopi atas atau pera atan
gigi, sangat rentan terhadap episode desaturation dan hipoventilasi karena obstruksi jalan
napas parsial. De asa dan pasien pediatrik dengan gagal ginjal kronis dan pasien dengan
gagal jantung kongestif menghilangkan midazolam lebih lambat. Karena pasien lanjut usia
sering memiliki fungsi efisien dari satu atau lebih sistem organ dan karena kebutuhan dosis
telah terbukti menurunkan dengan usia, mengurangi dosis a al dianjurkan midazolam, dan
kemungkinan efek mendalam dan / atau berkepanjangan harus dipertimbangkan.
Keputusan untuk ketika pasien yang telah menerima midazolam suntik, terutama
secara ra at jalan, sekali lagi mungkin terlibat dalam kegiatan yang memerlukan
ke aspadaan mental selesai, mengoperasikan mesin berbahaya atau mengendarai kendaraan
bermotor harus individual. tes ½ruto pemulihan dari efek dari midazolam tidak dapat
diandalkan untuk memprediksi aktu reaksi di ba ah tekanan. Disarankan bah a tidak ada
pasien yang berbahaya mengoperasikan mesin atau kendaraan bermotor sampai efek obat,
seperti mengantuk, telah surut atau sampai satu hari penuh setelah anestesi dan operasi, mana
yang lebih lama. .
Cepat injeksi harus dihindari pada populasi neonatal. Ñidazolam cepat diberikan
sebagai injeksi intravena (kurang dari 2 menit) telah dikaitkan dengan hipotensi berat pada
neonatus, terutama jika pasien juga telah menerima fentanil. Demikian juga, hipotensi parah
telah diamati pada neonatus menerima infus kontinu midazolam yang kemudian menerima
suntikan intravena cepat fentanil. Kejang telah dilaporkan di beberapa neonatus setelah
pemberian intravena cepat.

   
 

Ñidazolam menurunkan kebutuhan metabolik oksigen otak dan aliran darah ke otak
seperti barbiturat dan propofol. Namun terdapat batasan besarnya penurunan kebutuhan

 
metabolik oksigen otak dengan penambahan dosis midazolam. Ñidazolam juga memiliki
efek yang kuat sebagai antikonvulsan untuk menangani status epilepticus.

a)‘ Pernapasan

Penurunan pernapasan dengan midazolam sebesar 0,15 mg/kg I setara dengan


diazepam 0,3 mg/kg I . Pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis memiliki resiko lebih
besar terjadinya depresi pernapasan alaupun pada orang normal depresi pernapasan tidak
terjadi sama sekali. Pemberian dosis besar (>0,15 mg/kg) dalam aktu cepat akan
menyebabkan apneu sementara terutama bila diberikan bersamaan dengan opioid.
½enzodiazepine juga menekan refleks menelan dan penuruna aktivitas saluran napas bagian
atas.

b)‘ Sistem kardiovaskuler

Ñidazolam 0,2 mg/kg I sebagai induksi anestesi akan menurunkan tekanan darah
dan meningkatkan denyut jantung lebih besar daripada diazepam 0,5 mg/kg I dan setara
dengan thiopental 3-4 mg/kg I . Penurunan tekanan darah disebabkan oleh penurunan
resistensi perifer dan bukan karena gangguan 

. Efek midazolam pada tekanan
darah secara langsung berhubungan dengan konsentrasi plasma benzodiazepine.


  


Pengaruh obat penenang midazolam intravena dititikberatkan oleh setiap obat


diberikan bersamaan, yang menekan sistem saraf pusat, terutama narkotika (misalnya,
morfin, meperidin dan fentanil) serta secobarbital dan droperidol. Akibatnya, midazolam
dosis harus disesuaikan sesuai dengan jenis dan jumlah obat yang diberikan bersamaan dan
respon klinis yang diinginkan.

Perhatian disarankan ketika midazolam diberikan bersamaan dengan obat yang


diketahui menghambat sistem enzim P450 3A4 seperti cimetidine (tidak ranitidin),
eritromisin, diltiazem, verapamil, ketokonazol dan itraconazole. Interaksi obat dapat
menyebabkan sedasi berkepanjangan akibat penurunan clearance plasma midazolam.

è
Pengaruh dosis tunggal oral simetidin 800 mg dan 300 mg ranitidine pada konsentrasi
kondisi mapan midazolam diuji dalam sebuah studi crossover acak (n = 8). Cimetidine
meningkatkan konsentrasi midazolam berarti kondisi mapan 5 - 1 ng / mL. Ranitidine
meningkatkan konsentrasi steady-state berarti 2 ng / mL. Tidak ada perubahan dalam aktu
reaksi pilihan atau indeks sedasi terdeteksi setelah dosis dengan antagonis reseptor H2.

Dalam studi terkontrol plasebo, eritromisin diberikan sebagai dosis 500 mg, tid, untuk 1
minggu (n = ), mengurangi clearance midazolam setelah tunggal 0,5 mg / kg dosis I .
aktu paruh sekitar dua kali lipat.

Pengaruh diltiazem ( 0 mg tid) dan verapamil (80 mg tid) pada farmakokinetik dan
farmakodinamik midazolam diselidiki dengan cara tiga-cross-over studi (n = ). Setengah-
hidup midazolam meningkat dari 5 hingga jam ketika midazolam diambil dalam
hubungannya dengan verapamil atau diltiazem. Tidak ada interaksi diamati pada subyek sehat
antara midazolam dan nifedipin.

Penurunan moderat dalam persyaratan dosis induksi thiopental (sekitar 15%) telah
mencatat berikut menggunakan midazolam intramuskular untuk premedikasi pada orang
de asa.

Ñeskipun kemungkinan efek interaktif kecil belum sepenuhnya diteliti, midazolam


dan pankuronium telah digunakan bersama-sama pada pasien tanpa mencatat klinis
perubahan signifikan dalam dosis, onset atau lamanya pada orang de asa. Ñidazolam tidak
melindungi terhadap perubahan peredaran darah karakteristik dicatat setelah pemberian
succinylcholine atau pankuronium dan tidak melindungi terhadap tekanan intrakranial
meningkat mencatat setelah pemberian succinylcholine. Ñidazolam tidak menyebabkan
perubahan klinis signifikan dalam dosis, onset atau lama intubasi dosis tunggal
succinylcholine, tidak ada penelitian serupa telah dilakukan pada pasien anak-anak tetapi
tidak ada alasan ilmiah untuk mengharapkan bah a pasien anak-anak akan merespon secara
berbeda daripada orang de asa.

Tidak merugikan interaksi yang signifikan dengan premedications umum digunakan


atau obat yang dipakai selama anestesi dan pembedahan (termasuk atropin, skopolamin,
glycopyrrolate, diazepam, hydroxyzine, d-tubocurarine, succinylcholine dan relaksan otot
c
nondepolarizing) atau bius lokal topikal (termasuk lidokain, HCl dyclonine dan benzokain )
telah diamati pada orang de asa atau pasien anak. Pada neonatus, bagaimanapun, hipotensi
berat telah dilaporkan dengan administrasi seiring fentanil. Efek ini telah diamati pada
neonatus pada infus midazolam yang menerima suntikan cepat fentanil dan pada pasien infus
fentanil yang telah menerima suntikan cepat midazolam.

Perhatian disarankan ketika midazolam diberikan untuk pasien yang menerima


eritromisin karena hal ini dapat mengakibatkan penurunan clearance plasma

 

o‘ Somnolen
o‘ Ñental confusion
o‘ Hipotensi
o‘ Koma

Dosis maximal : 825 mg/kg ½½

Overdosis midazolam memerlukan penanganan yang cepat dan harus diperhatikan oleh tim
medis. Antidotum yang tepat ( atau golongan benzodiazepine yang lain) adalah flumazenil.

cc


      

 ‘ 










l l t iti  i

l
l 6 ii

l
l 
i it  il tttit l t t
 
 i l  li
l  Ú   ÚÚ   t ii  
t t  ii    i
tti !i
ti  i  it   li 
 


l "  /½½ t t   ti
tl #! /½½ t
t
$itl  /½½  ti t %  ti il t
  l wt & ti  


l li t    li
  ii
t ti li  iti   t  'li t
li  


l  ijli iil'' (i
 tt ti li  i il
t iti  l    
il  R  i ii t i i  iili tt 
t i   
li li
i 



l l l t  ti l t l i  i t l t
tl tllit jiliii 'tiiil tl
il tl   itlii

ii
ti j t ili i     )

ii  ti ii    t i 
itt ili iltii illii il 
i i *  i
i t   
i 
$i 
it   7!+  )  i 


l 
i tilit /l
ji #!6# 


lti titi
tlt
ititi
ilii

i l 


Campuran propofol dan obat lain tidak dianjurkan alau penggunaan lidokain sering
ditambahkan untuk mengurangi nyeri pada tempat suntikan. Pencampuran lidokain dan
propofol dapat menimbulkan gabungan pada droplet minyak dan bentuk yang lain sehingga
meningkatkan risiko embolisasi pulmonal.
Emulsi propofol yang rendah lemak (Ampofol®) mengandung 5% minyak kedelai
dan 0, % ©©   dan tidak memerlukan bahan penga et atau zat yang meretardasi
pertumbuhan mikroba.
Suatu alternatif dalam memecahkan masalah formulasi emulsi propofol dan masalah
efek samping obat (nyeri pada tempat suntikan, risiko infeksi, hipertrigliseridemia, emboli
paru) adalah dengan menggunakan bentuk  
© dengan melepaskan suatu gugus sehingga
meningkatkan kelarutan pada air (phosphate monoester, hemisuccinates). Propofol
dibebaskan setelah dihidrolisa oleh alkaline phosphatase di permukaan sel endotel.
Dibandingkan dengan propofol, bentuk prodrug ini didistribusi lebih besar dan lebih poten.
½entuk propofol yang tidak larut lemak menggunakan cyclodextrins sebagai zat
pelarut. Cyclodextrins adalah molekul cincin gula sehingga larut dalam air. Setelah
disuntikan, cyclodextrins dipisahkan dengan propofol di dalam darah.

-  


Propofol relatif bersifat selektif dalam mengatur reseptor ©ÀÀ À
   
GA½A) dan tampaknya tidak mengatur ©©    lainnya. Propofol dianggap
memiliki efek sedatif hipnotik melalui interaksinya dengan reseptor GA½A. GA½A adalah
salah satu neurotransmiter penghambat di SSP. Ketika reseptor GA½A diaktivasi, penghantar
klorida transmembran meningkat dan menimbulkan hiperpolarisasi di membran sel post
sinaps dan menghambat fungsi neuron post sinaps. Interaksi propofol (termasuk barbiturat
dan etomidate) dengan reseptor komponen spesifik reseptor GA½A menurunkan
neurotansmitter penghambat. Ikatan GA½A meningkatkan durasi pembukaan GA½A yang
teraktifasi melaui    sehingga terjadi hiperpolarisasi dari membran sel.

-   

Propofol didegradasi di hati melalui metabolisme oksidatif hepatik oleh   À
P-450. Namun, metabolisme tidak hanya dipengaruhi hepatik tetapi juga ekstrahepatik.
Ñetabolisme hepatik lebih cepat dan lebih banyak menimbulkan inaktivasi obat dan terlarut
cx
air sementara metabolisme asam glukoronat diekskresikan melalui ginjal. Propofol
membentuk 4-hydroxypropofol oleh sitokrom P450. Propofol yang berkonjugasi dengan
sulfat dan glukoronide menjadi tidak aktif dan bentuk 4 hydroxypropofol yang memiliki 1/3
efek hipnotik. Kurang dari 0,3% dosis obat diekskresikan melalui urin. aktu paruh propofol
adalah 0,5 ± 1,5 jam tapi yang lebih penting   À dari propofol yang digunakan
melalui infus selama 8 jam adalah kurang dari 40 menit. Ñaksud dari   À
adalah pengaruh minimal dari durasi infus karena metabolisme propofol yang cepat ketika
infus dihentikan sehingga obat kembali dari tempat simpanan jaringan ke sirkulasi. Propofol
mirip seperti aldentanil dan thiofentanil, yang memiliki efek singkat di otak setelah
pemberian melalui intravena.
     dari propofol sebanding dengan aliran darah ke hati dan
bersihan ekstahepatik (
À 
 dan eliminasi a al. 
À 
 dari propofol
dipengaruhi avaibilitas propofol. Di paru propofol diubah ke dalam bentuk 2, -diisoprpyl- 1,4
quiniol dan kebanyakan kembali lagi ke dalam sirkulasi. Glukoronidasi adalah jalur
metabolisme utama dari propofol dan DP-glukoronidase sehingga ginjal juga memegang
peranan penting dalam mengekresikan propofol.
Ñeskipun metabolisme propofol cepat tidak ada bukti yang menunjukan adanya
gangguan eliminasi pada pasien sirosis hepatis.Konsentrasi propofol di plasma sama antara
pasien yang meminum alkohol dan yang tidak. Eliminasi ekstrahepatik propofol terjadi secara
ekstrahepatik selama fase anhepatik dari orhtopik transplantasi hati. Disfungsi ginjal tidak
mempengaruhi   propofol dan selama pengamatan lebih dari 34 tahun metabolisme
propofol dimetabolisme di urin hanya 24 jam pertama. Pasien yang berusia lebih dari 0
tahun menunjukan penurunan bersihan plasma propofol dibandingkan pasien de asa.
Kecepatan bersihaan propofol mengkonfirmasi bah a obat ini dapat digunakan secara terus
menerus intravena tanpa efek kumulatif. Propofol mampu mele ati sirkulasi plasenta namun
secara cepat dibersihkan dari sikulasi fetus.

-   

Efek propofol terhadap tubuh bergantung pada konsentrasi propofol dalam darah.
Konsentrasi propofol ini biasanya merupakan proporsi dari rata-rata infus, khususnya dalam
pasien secara individu. Efek Hemodynamic selama induksi dari anestesi beragam. Jika terjadi
ventilasi spontan, efek kerdiologiknya adalah hypotensi ( turun 30%) dengan sedikit atau
tidak adanya perubahan denyut jantung. Jika ventilasi terkontrol, besarnya kejadian dari


penurunan cardiac output meningkat. Oleh karena itu diberikan premedikasi potent opioid (
fentanyl).
-‘ Pada sistem saraf pusat
Dosis induksi menyebabkan pasien tidak sadar, dimana dalam dosis yang kecil dapat
menimbulkan efek sedasi, tanpa disetai efek analgetik, pada pemberian dosis induksi (2mg
/kg½½) pemulihan kesadaran berlangsung cepat.
-‘ Pada sistem kardiovaskular
Dapat menyebakan depresi pada jantung dan pembuluh darah dimana tekanan dapat turun
sekali disertai dengan peningkatan denyut nadi, pengaruh terhadap frekuensi jantung juga
sangat minim.
-‘ Pada Sistem pernafasan
Dapat menurunkan frekuensi pernafasan dan volume tidal, dalam beberapa kasus dapat
menyebabkan henti nafas kebanyakan muncul pada pemberian diprivan

 

1.‘ Induksi dan maintenance dari anestesi orang de asa
2.‘ Induksi anestesi anak-anak > 3 tahun
3.‘ Ñaintenance anestesi pasien pediatri minimal 2 bulan
4.‘ Inisiasi dan maintenance dari anestesi monitor dengan sedasi pada orang de asa,
sedasi pada intubasi atau pasien IC dengan ventilator terkontrol


   

Propofol kontraindikasi terhadap pasien yang diketahui hipersensitif terhadap
propofol dan komponennya. Karena propofol adalah sebuah emulsi lemak, sebaiknya
digunakan pada kondisi dimana metabolisme lemak tidak terganggu, contohnya seperti
hiperlipidemia patologis ataupun alergi terhadap telur dan minyak kedelai. Peningkatan
tekanan intrakranial juga merupakan kontraindikasi terhadap penggunaan propofol.



Propofol menjadi pilihan obat induksi terutama karena cepat dan efek mengembalikan
kesadaran yang komplit. Infus intravena propofol dengan atau tanpa obat anestesia lain
menjadi metode yang sering digunakan sebagai sedasi atau sebagai bagian penyeimbang atau
anestesi total iv. Penggunaan propofol melalui infus secara terus menerus sering digunakan di
ruang IC .

a. Induksi Anestesia
Dosis induksi propofol pada pasien de asa adalah 1,5 ± 2,5 mg/kg½½ intravena
dengan kadar obat 2- ȝg/ml menimbulkan turunnya kesadaran yang bergantung pada usia
pasien. Ñirip seperti barbiturat, anak-anak membutuhkan dosis induksi yang lebih besar tiap
kilogram berat badannya yang mungkin disebabkan volum distribusi yang besar dan
kecepatan bersihan yang lebih. Pasien lansia membutuhkan dosis induksi yang lebih kecil
(25% - 50%) sebagai akibat penurunan volume distribusi dan penurunan bersihan plasma.
Kesadaran kembali saat kadar propofol di plasma sebesar 1,0 ± 1,5 ȝg/ml. Kesadaran yang
komplit tanpa gejala sisa SSP merupakan karakter dari propofol dan telah menjadi alasan
menggantikan thiopental sebagai induksi anestesi pada banyak situasi klinis.

b.‘ Sedasi Intravena


  À dari propofol alau diberikan melalui infus yang terus menerus,
kombinasi efek singkat setara memberikan efek sedasi. Pengembalian kesadaran yang cepat
tanpa gejala sisa serta insidens rasa mual dan muntah yang rendah membuat propofol
diterima sebagai metode sadasi. Dosis sedasinya adalah 25-100ȝg/kg½½/menit secara
intravena dapat menimbulkan efek analgesik dan amnestik. Pada beberapa pasien, midazolam
atau opioid dapat dikombinasikan dengan propofol melalui infus. Sehingga intensitas nyeri
dan rasa tidak nyaman menurun.
Propofol yang digunakan sebagai sedasi selama ventilasi mekanik di IC pada
beberapa populasi termasuk pasien post operasi (bedah jantung dan bedah saraf) dan pasien
yang mengalami cedera kepala. Propofol juga memiliki efek antikonvulsan, dan amnestik
Setelah pembedahan jantung, sedasi propofol mengatur respon hemodinamik post operasi
dengan menurunkan insiden dan derajat takikardia dan hipertensi. Asidosis metabolik,
lipidemia, bradikardia, dan kegagalan myokardial yang progresif pada beberapa anak yang
mendapat sedasi propofol selama penanganan gagal napas akut di IC .
c.‘ Ñaintenance Anestesia
c
Dosis tipikal anestesia 100-300 ȝg/kg½½/menit iv sering dikombinasikan dengan
opioid kerja singkat. alaupun propofol diterima sebagai anestesi prosedur bedah yang
singkat, tetapi propofol lebih sering digunakan pada operasi yang lama ( < 2 jam)
dipertanyakan mengingat harga dan efek yang sedikit berbeda pada aktu kembalinya
kesadaran dibandingkan standar teknik anestesi inhalasi. Anestesi umum dengan propofol
dihubungkan dengan efek yang minimal pada rasa mual dan muntah post operasi,
pengembalian kesadaran.

 ‘      
   

1)‘ Efek Antiemetik
Insiden mual dan muntah post-operasi menurun pada pasien yang diberikan propofol.
Dosis subhipnotik propofol (10-15 mg iv) mungkin digunakan untuk mengobati mual dan
muntah terutama jika bukan yang disebabkan rangsangan nervus vagus. Selama masa
postoperasi, keuntungan propofol adalah onset kerja yang cepat dan tidak ada efek samping
obat yang serius. Propofol memiliki efek umum dalam menatalaksana mual dan muntah pada
konsentrasi yang tidak menimbulkan efek sedasi. Efek antiemetik timbul pada pemberian
propofol 10 mg diikuti dengan 10 ȝg/kg½½/menit. Dosis subhipnotik propofol efektif
menatalaksana rasa mual dan muntah akibat kemoterapi. Ketika induksi dan mempertahankan
anestesi, penggunaan propofol lebih efektif daripada pemberian ondansentron.

2)‘ Efek Anti Pruritus


Propofol 10 mg intravena efektif untuk menatalaksana pruritus yang dihubungkan
dengan opioid neuraxis atau kolestasis. Kualitas analgesia tidak dipengaruhi propofol.
Ñekanisme efek antipruritus berhubungan kemampuan obat menekan aktifitas spinal.
Terdapat suatu penelitian yang menunjukan bah a intratekal opioid menimbulkan pruritus
melalui eksitasi segmental dari sum-sum tulang.
a.‘ Aktifitas Antikonvulsan
Propofol merupakan antiepileptik dengan merefleksi GA½A mediated presinaps dan
postsinaps inhibition dari kanal ion klorida. Dosis propofol > 1 mg/kg½½ intravena
menurunkan durasi kejang 35%-45% pada pasien yang mengalami terapi elektrokonvulsif.

b.‘ Attenuation ½ronkokonstriksi
Dibandingkan thiopental, propofol menurunkan prevalensi heezing setelah induksi
dengan anestesia dan intubasi trakea pada pasien tanpa ri ayat asma dan pasien dengan
cÿ
ri ayat asma. ormula baru propofol yang menggunakan metabisulfit sebagai penga et.
Ñetabisulfit menimbulkan bronkokontriksi pada pasien asma. Pada studi di he an, propofol
tanpa metabisulfit menimbulkan stimulus ke nervus vagus yang menginduksi
bronkokonstriksi dan metabisulfit sendiri dapat meningkatkat kurang responnya saluran
pernapasan. Setelah intubasi trakea, pasien dengan ri ayat merokok, resistensi saluran
pernapasan meningkat pada pasioen yang mendapat propofol dan metabisulfit serta ethyl
enediaminetetraacetic (EDTA). Sehingga penggunaan bahan penga et propofol
meningkatkan risiko terjadinya bronkokonstriksi. Propofol yang menginduksi
bronkokonstriksi pernah dilaporkan pada psien dengan ri ayat alergi dan penggunaan
Diprivan® yang mengandung susu kedele, gliserin, ©©   , sodium edetate.

-    

-‘ Sistem Saraf Pusat
Propofol menurunkan Cerebral Ñetabolism Rate terhadap oksigen (CRÑO2 ), aliran
darah, serta tekanan intra kranial (TIK). Penggunaan propofol sebagai sedasi pada pasien
dengan lesi yang mendesak ruang intra kranial tidak akan meningkatkan TIK. Dosis besaar
propofol mungkin menyebabkan penurunan tekanan darah yang diikuti penurunan tekanan
aliran darah ke otak. Autoregulasi cerebral sebagai respon gangguan tekanan darah dan aliran
darah ke otak yang mengubah PaCO2 tidak dipengaruhi oleh propofol. Akan tetapi, aliran
darah ke otak dipengaruhi oleh PaCO2 pada pasien yang mendapat propofol dan midazolam.
Propofol menyebabkan perubahan gambaran electroencephalograpic (EEG) yang mirip pada
pasien yang mendapat thiopental. Cortical somatosensory evoked potentials yang digunakan
sebagai alat monitoring fungsi sum-sum tulang belakang menunjukan tidak terdapat
perbedaan hasil (penurunan amplitudo) antara pasien yang mendapat propofol saja dan yang
mendapat propofol, N2 O, atau zat volatil lainnya. Propofol tidak mengubah gambaran EEG
pasien kraniotomi. Ñirip seperti midazolam, propofol menyebabkan gangguan ingatan yang
mana thipental memiliki efek yang lebih sedikit serta fentanyl yang tidak memiliki efek
gangguan ingatan.


-‘ Sistem Kardivaskular
Propofol lebih menurunkan tekanan darah sistemik daripada thiopental. Penurunan
tekanan darah ini juga dipengaruhi perubahan volume kardiak dan resistensi pembuluh darah.
Relaksasi otot polos pembuluh darah disebabkan hambatan aktivitaas simpatis vasokontriksi.
Suatu efek negatif inotropik yang disebabkan penurunan avaibilitas kalsium intrasel akibat
penghambatan influks trans sarcolemmal kalsium. Stimulasi langsung laringoskop dan
intubasi trakea membalikan efek propofol terhadap tekanan darah. Propofol juga
menghambat respon hipertensi selama pemasangan laringeal mask air ay. Pengaruh propofol
terhadap desflurane mediated sympathetic nervous system activation masih belum jelas.
Suatu laporan menunjukan propofol sebanyak 2 mg/kg½½ intravena meningkatkan
konsentrasi epinefrin diikuti peningkatan mendadak konsentrasi desfluran > 1 ÑAC tetapi
tidak menyebabkan peningkatan respon jantung. ½erbeda dengan laporan lainnya, bah a
propofol dan zat penginduksi lainnya (selain etomidate) menyebabkan peningkatan aktifitas
saraf simpatis, hipertensi, dan peningkatan konsentrasi inhalasi desfluran. Efek ini mungkin
berlebihan bagi pasien hipovolemia, lansia, dan pasin dengan gangguan ventrikel kiri yang
terkompensasi yang disebabkan gangguan padar pembuluh darah arteri koroner (PJK).
Hidrasi yang cukup disarankan untuk meminimalisir gangguan tekanan darah.
Sebagai tambahan, N2 O tidak mengubah respon tekanan darah pada pasien yang
diberikan propofol. Suatu penekan respon misalnya ephedrin dapat dimanfaatkan pada pasien
ini.
½radikardi dan asisitol pernah dilaporkan pada pasien yang mendapat propofol
sehingga disarankan obat antikolinergik untuk mengatasi stimulasi ke nervus vagus. Propofol
sebenarnya juga meningkatkan respon saraf simpatis dalam skala ringan dibandingkan saraf
parasimpatis sehingga terjadi dominasi saraf parasimpatis.
Terdapat bukti yang menyatakan propofol menyababkan perubahan fungsi sinoatrial
dan ventrikular node pada pasien normal dan pasien dengan olff Parkinsonn hite
sehingga penggunaan propofol dapat diterima. Namun terdapat suatu laporan yang
menyatakan bah a timbulnya gelombang delta pada pasien dengan sindrom P pada
EKG selama pemberian infus propofol. Tidak seperti sevofluran, propofol tidak
menimbulkan gelombang QT yang memanjang. Kontrol barorefleks juga tertekan pada
pasien yang mendapat propofol.

-‘ ½radycardia- Related Death


Ditemukan bradikardia dan asistol setelah pemberian propofol telah pada pasien
de asa sehat sebagai propilaksis antikolinergik. Risiko    selama
anestesia propofol sebesar 1,4 / 100.000. ½entuk bradikardi yang parah dan fatal pada anak di
IC ditemukan pada pemberian sedasi propofol yang lama. Anestesi propofol dibandingkan
anestesi lain meningkatkan refleks okulokardiak pada pembedahan strabismus anak selama
pemberian antikolonergik.
Respon denyut jantung selama pemberian atrofin intravena berbeda tipis pasien yang
mendapat propofol dan pasien yang sadar. Penurunan respon atropin terjadi karena propofol
menekan aktifitas saraf simpatis. Pengobatan propofol yang menginduksi bradikardia adalah
dengan pemberian beta agonis contohnya insoproterenol.

-‘ Paru
Terdapat risiko apnea sebesar 25-35% pada pasien yang mendapat propofol.
Pemberian agen opioid sebagai premedikasi meningkatkan risiko ini. Stimulasi nyeri pada
saat pembedahan juga meningkatkan risiko apnea. Infus propofol menurunkan volume tidal
dan frekuensi pernapasan. Respon pernapasan menurun terhadap keadaan peningkatan karbon
diokasida dan hipoksemia. Propofol menyebabkan bronkokontriksi dan menurunkan risiko
terjadinya heezing pada pasien asma. Konsetrasi sedasi propofol menyebabkan penurunan
respon hiperkapnia akibat efek terhadap kemoreseptor sentral.

-‘ ungsi Hepar dan Ginjal


Propofol tidak menggangu fungsi hepar dan ginjal yang dinilai dari enzim transamin
hati dan konsentrasi kreatinin. Infus propofol yang lama menimbulkan luka pada sel hepar
akibat asidosis laktat, bradidisritmia, dan rhabdomyolisis. Infus propifol yang lama
menyebabkan urin yang ber arna kehijauan akibat adanya rantai phenol. Namun perubahan
arna urin ini tidak mengganggu fungsi ginjal. Namun ekskresi asam urat meningkat pada
pasien yang mendapat propofol yang ditandai dengan urin yang kerug, terdapat kristal asam
urat, pH dan suhu urin yang rendah. Efek ini menendai gangguan ginjal akibat propofol.

-‘ Tekanan Intraokular
Pembedahaan laparoskopi dinilai berhubungan dengan peningkatak TIO dan posisi
pasien saat laparoskopi meingkatkan risiko hipertensi okular. Pada kasus ini propofol
menurunkan TIO segera setelah induksi dan selama tindakan intubasi trakea. Penurunan TIO
ini meningkat pada pasien yang juga mendapat isofluran.

ë
-‘ Koagulasi
Propofol tidak mengganggu koagulasi dan fungsi trombosit. Namun ada laporan yang
menunjukan bah a emulsi propofol yang bersifat hidrofobil mempengaruhi koagulasi darah
dan menghambat agregasi trombosiy melalui pengaruh mediator inflamasi lipid termasuk
tromboksan A2 dan platelet-activating factor (PA ).

 -  
-‘ Hypotensi
-‘ Nyeri ketika injeksi
-‘ Sesak nafas, heezing, pembengkakan tenggorokan
-‘ Nadi cepat dan palpitasi
-‘ Rasa baal di tangan dan kaki
-‘ Kejang


 
 Overdosis penggunaan propofol dapat mengakibatkan depresi kardiovaskuler dan
depresi respirasi. Tindakan yang diberikan bila terjadi overdosis adalah pemberian ventilasi
oksigen dan menurunkan posisi kepala pasien dan meninggikan posisi kaki. Dapat juga
diberikan obat-obat vasopressor, plasma expander serta infus cairan dextrose maupun
elektrolit.

ëc
 -   

1.‘ Latief, A Said. Petunjuk Praktis Anestesiologi.‘Jakarta: K I; 200 .
‘ ‘ 
 ‘   ‘  ‘   ‘
  
   ‘
‘ ‘    ‘   ‘  ‘   ‘
  
   ‘
‘ ‘  ‘  ‘   ‘ ‘   ‘ ‘
!""  "#$ ! % % ‘
&‘    ‘   ‘ ‘   ‘ ‘
'!"       ‘‘
$‘ ‘ "!‘ ‘    ‘   ‘ ‘   ‘ ‘
'!"     ‘‘

ëë