Anda di halaman 1dari 12

MASALAH IDDAH DALAM PERSPEKTIF MODERN

D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
SAIFUDDIN : 130707577
AMIR SABRI MUHAMMAD : 130707588
RAHMAD : 130808008

FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) AR-RANIRY
LAMGUGOB-BANDA ACEH
Pengertian Iddah
Menurut bahasa, kata iddah berasal dari kata ’adad (bilangan dan ihshaak
(perhitungan), seorang wanita yang menghitung dan menjumlah hari dan masa haidh atau
masa suci.
Menurut istilah, kata iddah ialah sebutan/nama bagi suatu masa di mana seorang
wanita menanti/menangguhkan perkawinan setelah ia ditinggalkan mati oleh suaminya
atau setelah diceraikan baik dengan menunggu kelahiran bayinya, atau berakhirnya
beberapa quru’, atau berakhirnya beberapa bulan yang sudah ditentukan.1

Macam-macam Iddah
Ada 5 macam masa Iddah; yaitu:
1. ‘Iddah istri yang dicerai dan ia masih haid, lama ‘iddahnya tiga kali suci (quru’).
Dalilnya firman Allah dalam surat Al-Baqarah: 228.
1. Iddah istri yang dicerai dan ia tidak haid, lama iddahnya tiga bulan. Dalilnya
firman Allah surat At-Thalaq: 4.
2. Iddah istri yang ditinggal wafat oleh suaminya. Lama iddahnya empat bulan
sepuluh hari, bila tidak hamil. Dalilnya firman Allah surat Al-Baqarah: 234)
3. Iddah istri yang dicerai dalam kondisi hamil. Masa iddahnya sampai melahirkan.
Dalilnya firman Allah surat At-Thalaq: 4)
4. Iddah istri yang ditinggal mati oleh suaminya dan dalam kondisi hamil. Masa
iddahnya sampai melahirkan walaupun kurang dari empat bulan 10 hari. (menurut
sebagian besar ulama).

Tujuan Disyariatkan 'Iddah


1. Tujuan Islam mensyariatkan 'iddah ke atas kaum wanita ialah untuk
memastikan rahim wanita tersebut suci dari air mani suaminya pada saat ia
diceraikan dan juga memastikan ia tidak hamil daripada lelaki yang
menyetubuhinya sebagai langkah mencegah percampuran nasab dan keturunan.
2. Bagi wanita yang diceraikan dengan talak yang boleh dirujuk, ini
memberikan peluang kepada suaminya untuk memikirkan kembali saat-saat manis
ketika mereka bersama dan kembali rujuk kepada isterinya setelah fikirannya
kembali tenang.
3. Masa menunggu yang agak panjang ini memberikan peluang kepada
pasangan suami isteri untuk menginsafi kembali kesalahan masing-masing dan
mencari punca perselisihan antara mereka dan semoga itu mereka dapat bersatu
semula.
4. Tujuan 'iddah juga supaya ikatan sesuatu perkahwinan itu dapatlah
dipanjangkan waktunya dan pada tempoh itu adalah diharapkan kewarasan dan
kematangan fikiran pasangan suami isteri yang berselisih dapat dipulihkan dan
menghubungkan kembali persefahaman dan kasih sayang mereka.
5. Sewaktu melalui proses 'iddah banyak peluang yang boleh direbut oleh
wakil dari kedua-dua belah pihak suami isteri bagi mencari jalan keluar dan
perdamaian antara mereka dari perselisihan dan semoga dengan cara ini
diharapkan dapatlah mempersatukan mereka semula serta menjauhi dari
berlakunya perceraian.
6. Agama Islam meletakkan institusi kekeluargaan adalah sesuatu yang
tinggi dan mulia terutama bagi pasangan suami isteri dimana hubungan kelamin
bagi pasangan suami isteri tetap mendapat ganjaran pahala yang besar di sisi
Tuhan. Agama Islam amat benci kepada perceraian dan keruntuhan institusi
kekeluargaan di mana ia boleh membawa kepada lebih banyak lagi permasalahan
sosial.
7. Bagi perceraian yang berlaku kerana kematian suami, tujuan 'iddah ialah
untuk isteri menjaga hak-hak suaminya, kaum kerabat, menzahirkan perasaan
sedih dan dukacita, membuktikan kesetiannya kepada bekas suami serta menjaga
ama baik dan maruah diri dan keluarga agar tidak diperkatakan oleh orang lain.
8. 'Iddah adalah anugerah dari Allah untuk hamba-Nya yang membuktikan
kasih sayang dan kesungguhan bagi memelihara dan menjaga keutuhan institusi
kekeluargaan dalam Islam.2

Dasar Hukum Iddah


Seluruh kaum muslimin sepakat atas wajibnya iddah, pada sebagian landasan
pokoknya diambil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul. Firman Allah: al-Baqarah 228 yang
Artinya: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali
quru’.
Mengenai masalah iddah, perbedaan masalah perhitungan quru’ menurut Syafi’i
dan Malik adalah suci dari haid.3
Firman Allah surat al-Baqarah 234 yang Artinya: Orang-orang yang meninggal
dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu)
menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari.
Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat al-Ahzab 49 yang artinya: Hai orang-orang
yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian
kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka sekali-sekali tidak wajib
atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka
mut'ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya.
Dalam sunnah nabi yang dijadikan sebagai dasar hukum tentang iddah yakni:
Diceritakan oleh ali bin Muhammad diceritakan oleh Waqi’ dari Sufyan dari Mansur dari
Ibrahim dari Aswad dari Aisyah r.a. ia berkata: “Barirah diperintahkan agar ber’iddah
dengan tiga kali haid” (diriwayatkan oleh Ibnu Majah).4

Ketentuan Iddah Menurut Pemikir Kontemporer


Kalau seseorang mempelajari evolusi madzhab-madzhab yang berbeda dalam
hukum Islam (Maliki, Hambali, Hanafi, Syafi’i) maka orang akan melihat bahwa
formulasi mereka itu sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan ekonomi
mereka sendiri. Perbedaan formulasi mereka secara jelas diperbedakan oleh kondisi yang
berbeda.
Syari’at hendaknya tidak diperlakukan sebagai sistem yang tertutup. Karena
syari’at merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan-tujuan, nilai-nilai, dan prinsip-
prinsip Al-Qur’an. Dinamika dan vitalitasnya tergantung pada kapasitasnya untuk
berubah seiring dengan perjalanan waktu. Tentu saja perubahan-perubahan tersebut
bukan pada aspek prinsip dan nilai, melainkan dalam aplikasinya yang tepat berdasarkan
pandangan sosial dan konteks lain. Maulana Umar Ahmad Usmani menunjukkan dalam
karyanya fiqih Al-Qur’an bahwa tasyri’ ahkam (penetapan hukum Islam atau perintah)
berubah seiring denganruang, waktu dan kondisi sosial.5 Syari’at harus dianggap suatu
usaha untuk mencapai tujuan-tujuan, nilai-nilai dan prinsip al-Qur’an, ia merupakan alat
bukan tujuan.
Salah satu tujuan utama adanya iddah adalah untuk mengetahui apakah dalam
rahimnya ada embrio bayi atau tidak. Dalam beberapa kajian fikih atau hukum islam
dalam konsep iddah sudah sesuai dengan teks al-Qur’an seperti pada surat al-Baqarah
ayat 228, 234, at-Thalaq ayat 4 dan al-Ahzab ayat 49. ayat ini yang menjadikan dasar
hukum adanya iddah bagi seorang perempuan setelah adanya cerai mati atau cerai hidup.
Musdah menyatakan bahwa pada dasarnya, Islam agama yang penuh rahmat
(kasih sayang) dan pembawa maslahat (kedamaian dan kebaikan), sehingga setiap
keputusan yang berkaitan dengan pengambilan suatu hukum disamping mempunyai
dampak positif juga negatif.
Menurut Musdah ada persoalan mendasar tentang iddah yaitu bagaimana dengan
hubungan antara manusia dengan manusia lain (hablummin annas), lebih spesifik lagi
hubungan intern keluarga antar suami isteri. Ketika suami isteri berpisah sebenarnya
tidak menganggap semua persoalan selesai, seenaknya suami menikah lagi, bagaimana
dengan keluarga, anak-anak, saudara, tetangga atau teman, karena tidak ada manusia
yang ingin hidup sendiri. Dari contoh di atas menurut Musdah perlu diperhatikan adalah
aspek-aspek hukum relation,kebanyakan manusia memahami dalam Islam hanya melihat
hablumminaallah (hubungan dengan Allah) yang menurut musdah mendapat porsi lebih,
bila dibandingkan dengan hablumminannas (hubungan dengan manusia).
Mengingat keluarga adalah sebuah ikatan suci antara seorang laki-laki dan
perempuan melalui pernikahan, maka sejak terjadinya pernikahan keduanya terikat
dengan hak dan kewajiban sebagai suami isteri. Adapun yang berkaitan dengan urusan
rumah tangga menjadi urusan bersama, baik mengenai urusan tempat tinggal, nafkah,
anak, dan sebagainya.
Termasuk di dalamnya ketika bahtera rumah tangga mengalami bencana tidak
dapat diteruskan dan tali pernikahan sudah tidak bisa dipertahankan, maka menyangkut
urusan bersama. Perceraian merupakan masalah bersama antara suami isteri, perceraian
ditempuh melalui jalan terakhir untuk mengakhiri kesulitan-kesulitan dalam rumah
tangga. Oleh sebab itu konsekuensi yang diakibatkan dari perceraian adalah mengikat
kedua belah pihak. Ketika perceraian dipandang bencana dalam sebuahrumah tangga,
maka yang harus menanggung bencana tersebut harus kedua pihak suami isteri.
Jika dilihat hikmah dari perceraian adalah agar suami isteri yang sudah bercerai
melakukan introspeksi diri, apakah masih akan menjalin kembali tali cinta kasih (pada
kasus talak raj’i) atau tetap memutuskan untuk bercerai. Jika keputusannya bercerai maka
akibat dari perceraian tersebut juga harus ditanggung bersama. Baik yang berkaitan
dengan hak dan kewajiban, nafkah, harta, maupun anak.6
Menurut Musdah, iddah untuk perceraian hidup merupakan masa transisi untuk
memikirkan dan merenungkan kembali antara kedua belah pihak bagaimana caranya
untuk membangun masa depan kehidupan bersama. Sedangkan iddah untuk kematian
untuk mempertimbangkan kembali bagaimana menjaga hubungan dengan orang tua,
anak, mertua, saudara, tetangga dan teman-teman.7
Dalam CLD KHI yang Musdah usulkan bahwa masa iddah atau dia menyebutnya
masa transisi sebagai berikut Bab XIII Masa Transisi, pasal 86: Bagi suami isteri yang
perkawinannya telah dinyatakan putus oleh Pengadilan Agama berlaku masa transisi atau
iddah dan masa transisi suami ditetapkan mengikuti masa transisi mantan isterinya.
Berkenaan dengan adanya nas (ayat Al-Qur’an dan al-Hadis) yang mengikat
perempuan yang ditalak, maka perlu lebih dicermati filosofi syari’ahnya (maqasid al-
syar’i) dan diperlakukan secara proporsional dengan hak privasi perempuan. Jika isteri
yang ditalak dikenakan sebagai larangan terkait dengan hak pribadinya, maka pihak laki-
laki juga harus memperhatikan perasaan perempuan yang telah ditalak.
Diantara hikmah terpenting diaturnya masalah iddah ini selain untuk mengetahui
keadaan rahim, demi menentukan hubungan nasab anak, memberi alokasi yang cukup
untuk merenungkan tindakan perceraian.
Selain itu sebenarnya terdapat aturan mengenai masalah iddah ini yakni Surat
Edaran no: D.IV/E.d/17/1979 Dirjen Bimbaga Islam tentang poligami dalam iddah isteri.
Surat Edaran no: D.IV/E.d/17/1979 Dirjen Bimbingan Islam masalah poligami dalam
iddah isteri di terbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia, Direktorat Jendral
Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Jakarta pada tanggal 10 februari 1979 diberikan
kepada:
a. Saudara ketua Pengadilan Agama tingkat pertama.
b. Saudara ketua Pengadilan Agama tingkat Banding di seluruh Indonesia.

Sedangkan isi Surat Edaran tersebut adalah menunjuk keputusan rapat Dinas
Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Negara tanggal 24 sampai 28 Mei 1976 di Tugu
Bogor lampiran IV point c. 3 perihal seperti tersebut pada pokok surat , maka dengan ini
kami berikan penjelasan sebagai berikut:
a. Bagi seorang suami yang telah menceraikan isterinya dengan thalak raj’i dan
mau menikah lagi dengan wanita lain sebelum habis masa iddah bekas
isterinya. Maka ia harus mengajukan ijin poligami ke Pengadilan Agama.
b. Sebagai pertimbangan hukumnya adalah penafsiran bahwa pada hakekatnya
suami isteri yang bercerai dengan thalak raj’i adalah masih ada ikatan
perkawinan sebelum habis masa iddahnya. Karena kalau suami tersebut kalau
menikah lagi dengan wanita lain, pada hakekatnya dari segi kewajiban hukum
dan inti hukum adalah beristeri lebih dari seorang (poligami). Oleh karena itu
terhadap kasus tersebut dapat ditetapkan pasal 4 dan 5 UU No. 1 Tahun 1974
tentang perkawinan,
c. Sebagai produk Pengadilan, penolakan atau ijin permohonan tersebut harus
dituangkan dalam bentuk penetapan pengadilan Agama. Hukum positif
adalah kumpulan asas dan kaidah hukum tertulis dan tidak tertulis yang pada
saat ini sedang berlaku dan mengikat secaraumum atau khusus dan ditegakkan
oleh atau melalui pemerintah atau pengadilan dalam negara Indonesia.
Pengertian hukum positif diperluas, bukan saja yang sedang berlaku sekarang
melainkan termasuk juga hukum yang pernah berlaku dimasa lalu. Hukum
positif dibagi menjadi hukum positif tertulis dan tidak tertulis. Sedangkan
hukum positif tertulis dibedakan antara hukum positif tertulis yang berlaku
umum dan hukum positif tertulis yang berlaku khusus. Hukum positif yang
berlaku umum terdiri dari peraturan perundang-undangan dan peraturan
kebijakan termasuk didalamnya yakni surat edaran, juklak, juknis.8
Suatu peraturan tertulis atau kaidah hukum benar-benar berfungsi senantiasa di
kembalikan pada empat faktor yakni kaidah hukum atau peraturan itu sendiri, petugas
yang menegakkan atau penerap hukum, sarana yang dapat membantu, warga masyarakat
yang terkena ruang lingkup peraturan.
Kaidah hukum berfungsi apabila kaidah berlaku secara yuridis atau atas dasar
yang telah ditetapkan, sosiologis atau dapat dipaksakan dan filosofis sesuai dengan cita
hukum. Mengenai penegak hukum dari strata atas, menengah dan bawah dalam
melaksanakan tugas penerapan hukum seyogianya harus memiliki suatu pedoman salah
satunya peraturan tertulis tertentu yang mencakup ruang lingkup tugasnya.
Sarana juga sangat penting untuk mengefektifitaskan suatu aturan tertentu. Sarana
tersebut diantaranya sarana fisik yang berfungsi sebagai faktor pendukung. Misalnya
kendaraan dan alat komunikasi. Warga masyarakat yang dimaksud adalah kesadarannya
untuk mematuhi suatu peraturan perundang-undangan atau derajat kepatuhan terhadap
hukum.9

Iddah Dan Teknologi Modern


Iddah adalah periode tertentu yang wajib dijalani dan ditunggu oleh wanita yang
dicerai suaminya atau yang ditinggal mati suaminya dengan berpantang melakukan
perkawinan baru.10 Lamanya masa tunggu itu bervariasi, tergantung dalam kondisi
bagaimana seorang wanita itu berpisah dengan suaminya. Seorang wanita yang ditinggal
mati berbeda iddahnya dengan wanita yang dicerai. Begitu pula seorang wanita yang
dicerai dalam keadaan hamil berbeda dengan wanita yang dicerai tidak dalam keadaan
hamil. Semua ini ada ketentuannya dalam Quran.
Bagi wanita yang dicerai sedangkan ia dalam keadaan hamil, iddahnya adalah
sampai ia melahirkan bayi yang dikandungnya (ath-Thalaq: 4). Bagi wanita yang dicerai
sedangkan ia dalam keadaan haid, iddahnya adalah tiga kali quru`(Mengenai kata quru`
ini ada dua makna, yaitu suci dan haid. Oleh karena itu timbul dua penafsiran: ada yang
mengatakan tiga kali suci dan ada yang mengatakan tiga kali haid) (al-Baqarah: 228),
sedangkan jika ia belum balig atau sudah memasuki masa menopause, maka iddahnya
adalah tiga bulan (ath-Thalaq: 4). Sedangkan bagi wanita yang ditinggal mati, iddahnya
adalah 4 bulan 10 hari (al-Baqarah: 234). Akan tetapi Quran tidak menetapkan berapa
lama iddahnya seorang wanita yang ditinggal mati suaminya sedangkan ia dalam keadaan
hamil. Apakah iddahnya dihitung menurut iddah kematian atau kehamilan? Terhadap
kasus ini muncul dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa iddah wanita yang
dalam keadaan seperti itu adalah kelahiran anaknya. Sedangkan pendapat kedua
mengatakan bahwa iddahnya dengan melihat mana masa terlama di antara iddah
kehamilan dan kematian. Jika masa kehamilan lebih lama, maka iddah kehamilan itu
yang dijadikan patokan, yaitu sampai ia melahirkan anaknya. Akan tetapi jika iddah
kamatian lebih lama, maka iddah kematian itu yang dijadikan patokan.
Ketentuan Quran tentang iddah ini adalah suatu ketentuan yang mutlak harus
diikuti, karena inilah syariat yang diturunkan kepada manusia untuk kemaslahatan
mereka di dunia dan keselamatan mereka di akhirat kelak. Ketentuan-Nya ini tentu saja
tidak dapat diubah. Akan tetapi ada yang belum jelas di sini, yaitu apa alasan Allah
mensyariatkan iddah bagi seorang wanita, Quran tidak menjelaskannya. Tidak adanya
penjelasan Quran tentang hal ini tidaklah menunjukkan titik lemah dari Quran. Justru
inilah cara Allah memberi kebebasan kepada manusia dalam menafsirkan syariat yang
Dia turunkan. Apa alasan yang tepat dari pemberlakuan iddah ini, Dia kembalikan kepada
manusia. Oleh karena itu, tidak sedikit ulama yang mencoba mendefinisikan atau mencari
alasan pemberlakuan iddah itu kepada kaum wanita. Di sini pembahasan mulai memasuki
wilayah fikih, bukan syariat. Hal ini tentu saja menyebabkan munculnya banyak definisi
dan alasan pemberlakuan iddah itu. Dalam wacana fikih, banyaknya pendapat tentang
suatu masalah fikhiyah dimungkinkan.
Menurut golongan Syafi`iyah, makna iddah adalah:

‫مدة تتربص فيها المرأة لمعرفة براءة رحمها أو للتعبد أو لتفجعها على زوج‬.
“Masa yang harus dilalui oleh istri untuk mengetahui bebasnya (kesucian)
rahimnya, mengabdi, atau berbela sungkawa atas suaminya.”11
Sejalan dengan golongan Syafi`iyah ini, golongan Hanafiyah mendefinisikan
iddah dengan:

‫أجل ضرب لنقضاء ما بقي من أثار النكاح أو الفراش‬


“Suatu batas waktu yang ditetapkan (bagi wanita) untuk mengetahui sisa-sisa dari
pengaruh pernikahan atau persetubuhan.”12
Dari dua definisi iddah di atas tampak bahwa tujuan iddah adalah untuk
mengetahui apakah di dalam rahim wanita yang dicerai atau ditinggal mati itu terdapat
bibit yang akan tumbuh menjadi bayi atau tidak. Dalam rangka inilah masa tunggu itu
diberlakukan. Demikian menurut ulama golongan Syafi`iyah dan Hanafiyah.
Seiring dengan perjalanan waktu dan perkembangan peradaban manusia,
ditambah lagi dengan kemajuan sains dan teknologi, perubahan-perubahan terus berjalan.
Sesuatu yang tadinya dianggap mustahil oleh manusia, saat ini terjadi. Sesuatu yang
sebelumnya tak terbayangkan adanya kini dapat disaksikan.
Dewasa ini, ilmu kedokteran telah mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Dengan menggunakan USG (Ultrasonography), yaitu teknik diagnostik untuk pengujian
struktur badan bagian dalam yang melibatkan formasi bayangan dua dimensi dengan
gelombang ultrasonik,13 seseorang dapat mengetahui jenis kelamin bayi yang masih
berada di dalam kandungan. Bukan itu saja, bahkan dengan melalui suatu alat tertentu,
yaitu dengan menjalani tes urine, rahim seorang wanita dapat diketahui apakah di
dalamnya terdapat janin atau tidak. Dengan kata lain, apakah ia dalam keadaan hamil
atau tida. Jadi, proses untuk mengetahui kehamilan atau tidak sangat cepat. Hanya
dengan hitungan menit, bahkan detik, saja.
Jika kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern di bidang kedokteran ini
dihubungkan dengan pendapat para ulama tentang iddah di atas, maka jelas sekali
perbedaannya, bahkan bertolak belakang. Di sini terbukti bahwa apa yang dahulu tak
terbayangkan oleh para ulama mazhab, kini telah terjadi. Mereka mendefinisikan iddah
dengan menghubungkannya dengan kehamilan, sudah pasti karena mereka tidak
mengetahui akan adanya alat yang dapat digunakan untuk mengetes kehamilan, bahkan
dengan waktu yang sangat singkat.
Dengan adanya kontradiktif antara pendapat ulama tentang iddah dan teknologi
modern ini, timbul pertanyaan: apakah pendapat ulama mazhab tentang iddah itu masih
perlu dipertahankan atau tidak? Jika dipertahankan, konsekuensinya adalah bahwa hukum
iddah dianggap tidak berlaku lagi. Sebab, untuk mengetahui keadaan rahim seorang
wanita, dalam arti hamil atau tidak, tak perlu menunggu sampai tiga atau empat bulan
sepuluh hari. Jika hukum iddah dianggap tidak berlaku lagi, maka berarti ayat-ayat
Quran yang menjelaskan tentang hal itu juga tidak berlaku lagi. Apakah hal ini dapat
diterima akal yang sehat? Sudah barang tentu tidak. Ayat-ayat Quran, sebagai sumber
syariat, tentang iddah akan tetap berlaku. Ketentuan-ketentuannya tentang lama masa
iddah wajib diimani dan dilaksanakan. Yang harus dianggap tidak berlaku lagi justru
pendapat para ulama mazhab itu, karena sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan
dan kemajuan zaman. Dengan kata lain, perlu ada redefinisi tentang iddah.14
1
http://alislamu.com/ibadah/29-nikah/443-bab-iddah.html
2
http://www.docstoc.com/docs/66730778/TUJUAN-DISYARIATKAN-IDDAH
3
Tengku Muhammad Hasbi Ash-shidiqi, Hukum-hukum Fiqh Islam, Semarang: Pustaka Rizki Putra,
2001, hlm. 291.
4
Abi Abdillah Muhammad bin Yazid al-qazwini, Sunan ibn Majjah, juz I, Beirut: Dar Al-Fikr, tt, hlm.
671.
5
Asghar Ali Engineer, Pembebasan Perempuan, Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara, Cet II 2007, hlm.
34.
6
Moh Sodik, Telaah Ulang Wacana Seksualitas, Jakarta: PWS IAIN Sunan Kalijaga, Depag RI dan
McGill-IISEP-CIDA, 2004, hlm. 242
7
Irfan Mustofa, Studi Analisis Pemikiran Siti Musdah Mulia Tentang Konsep Iddah dan
Signifikasinya Terhadap Perubahan Hukum Islam, IAIN Semarang, 2006.
8
Bagir Manan, Hukum Positif Indonesia (suatu kajian teoritik), Yogyakarta: FH UII Press, 2004, hlm.
1-15.
9
Zainuddin Ali, Filsafat Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2008, hlm. 94-96.
10
Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jilid 2, Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1993, hlm. 171.
11
Abd ar-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh `ala al-Mazhahib al-Arba`ah, Juz IV, Beirut: Ihya` at-Turats
al-`Arabi, 1969, hlm. 517.
12
Abd ar-Rahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh `ala al-Mazhahib al-Arba`ah, hlm. 513.
13
Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Jakarta: 1994, hlm. 1101.
14
http://ahza.multiply.com/journal/item/2