Anda di halaman 1dari 10

Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi1

Oleh: Khusaini, S.Pd., MSE


Guru SMAN 7 Tangerang dan Staf Pengajar pada Program Studi Pendidikan
Ekonomi
FKIP UNIS Tangerang

Abstrak
Tulisan ini mencoba mengungkap dampak pendidikan terhadap pertumbuhan
ekonomi. Permasalahan yang muncul adalah apakah kaitan antara pendidikan
dengan ekonomi serta bagaiman kondisi atau realitas pendidikan dan
pertumbuhan ekonomi. Dengan menggunakan studi kepeustakaan dapat
ditemukan bahwa pendidikan mempunyai peran penting dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hal ini dapat ditunjukkan dari berbagai
studi yang dilakukan oleh beberapa para ahli baik di negara maju maupun di
negara berkembang. Sementara di Indonesia penanganan pendidikan belum
dilaksanakan dengan baik, sehingga dampak pendidikan terhadap
pertumbuhan ekonomi relatif belum memiliki pengaruh yang siginifikan.

Kata kunci: Pendidikan, Investasi Fisik, Pertumbuhan Ekonomi

Pendahuluan

Pendidikan memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan


bernegara dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas. Pendidikan merupakan suatu faktor kebutuhan dasar untuk
setiap manusia sehingga upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, karena
melalui pendidikan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dapat
diwujudkan. Pendidikan mempengaruhi secara penuh pertumbuhan ekonomi
suatu Negara (daerah). Hal ini bukan saja karena pendidikan akan
berpengaruh terhadap produktivitas, tetapi juga akan berpengaruh fertilitas
masyarakat. Pendidikan dapat menjadikan sumber daya manusia lebih cepat
mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan dan pembangunan suatu
Negara.

Hampir semua negara berkembang menghadapi masalah kualitas dan


kuantitas sumber daya manusia yang diakibatkan oleh rendahnya mutu
1
Artikel ini telah diterbitkan pada Jurnal Ilmu Pendidikan dan Ilmu Sosial tahun 2007

1
pendidikan. Hal ini ditunjukkan oleh adanya tingkat melek huruf yang rendah,
pemerataan pendidikan yang rendah, serta standar proses pendidikan yang
relatif kurang memenuhi syarat.

Padahal kita tahu, bahwa pendidikan merupakan suatu pintu untuk


menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk itu peningkatan
kualitas sumber daya manusia mutlak harus dilakukan. Karena dengan
kualitas sumber daya manusia yang berkualitas dapat memberikan multiplier
efect terhadap pembangunan suatu negara, khsususnya pembangunan
bidang ekonomi.

Pendidikan merupakan bentuk investasi sumber daya manusia yang harus


lebih diprioritaskan sejajar dengan investasi modal fisik karena pendidikan
merupakan investasi jangka panjang. Di mana nilai balik dari investasi
pendidikan (return on investment = ROI) tidak dapat langsung dinikmati oleh
investor saat ini, melainkan akan dinikmati di masa yang akan datang.

Mengingat modal fisik, tenaga kerja (SDM), dan kemajuan teknologi adalah
tiga faktor pokok masukan (input) dalam produksi pendapatan nasional.
Maka semakin besar jumlah tenaga kerja (yang berarti laju pertumbuhan
penduduk tinggi) semakin besar pendapatan nasional dan semakin tinggi
pertumbuhan ekonomi. Pertanyaannya, apakah ada pengaruh pendidikan
terhadap petumbuhan ekonomi? Bagaimana cara pendidikan mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi, dan bagaimana kondisi atau realitas di Indonesia?

Pengaruh Pendidikan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Isu mengenai sumber daya manusia (human capital) sebagai input


pembangunan ekonomi sebenarnya telah dimunculkan oleh Adam Smith
pada tahun 1776, yang mencoba menjelaskan penyebab kesejahteraan suatu
negara, dengan mengisolasi dua faktor, yaitu; 1) pentingnya skala ekonomi;
dan 2) pembentukan keahlian dan kualitas manusia. Faktor yang kedua inilah
yang sampai saat ini telah menjadi isu utama tentang pentingnya pendidikan
dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

2
Lebih lanjut Solow (1958) juga telah melakukan analisa dari temuannya
tentang residual dalam penjelasan mengenai pertumbuhan ekonomi.
Kemudian Romer (1986), Krugman (1987), dan Gupta (1999) juga
menjelaskan bahwa residual itu menujukkan tingkat pendidikan (educational
rate) dan sumber daya mansusia. Hubungan sumber daya manusia dan
pertumbuhan ekonomi tersebut menunjukkan suatu keharusan bahwa
kebijakan publik memperhatikan pengembangan pendidikan, promosi
keahlian, dan pelayanan kesehatan.

Hal ini dikatakan juga oleh Lim (1996) bahwa pertumbuhan ekonomi yang
tinggi di Jepang dan Korea Selatan besar kemungkinan disebabkan oleh
sumber daya manusia yang berkualitas, hal ini terlihat dari tingkat melek
huruf (literacy rate) yang tinggi, sehingga tenaga kerja mudah menyerap dan
beradaptasi dengan perubahan teknologi dan ekonomi yang terjadi.

Kasus lain seperti yang dikemukkan oleh Al-Samarai dan Zaman (2002) di
Malawi, dalam rangka peningkatan sumber daya manusia, pemerintah telah
melakukan beberapa program antara lain dengan menghapuskan biaya
untuk Sekolah Dasar dan memperbesar pengeluaran pemerintah di bidang
pendidikan. Dampak dari program ini adalah meningkatnya tingkat
enrollment rate ratio pendidikan dasar. Namun demikian masalah yang harus
diperhatikan lebih lanjut oleh pemerintah adalah distribusi pendidikan yang
tidak merata.

Hubungan investasi sumber daya manusia (pendidikan) dengan pertumbuhan


ekonomi merupakan dua mata rantai. Namun demikian, pertumbuhan tidak
akan bisa tumbuh dengan baik walaupun peningkatan mutu pendidikan atau
mutu sumber daya manusia dilakukan, jika tidak ada program yang jelas
tentang peningkatan mutu pendidikan dan program ekonomi yang jelas.

Studi yang dilakukan Prof ekonomi dari Harvard Dale Jorgenson et al. (1987)
pada ekonomi Amerika Serikat dengan rentang waktu 1948-79 misalnya
menunjukkan bahwa 46 persen pertumbuhan ekonomi adalah disebabkan

3
pembentukan modal (capital formation), 31 persen disebabkan pertumbuhan
tenaga kerja dan modal manusia serta 24 persen disebabkan kemajuan
teknologi.Selanjutnya, Suryadi (2001) menegaskan dari hasil penelitiannya
juga menunjukkan bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai kesadaran
sosial politik dan budaya, serta memacu penguasaan dan pendayagunaan
teknologi untuk kemajuan peradaban dan kesejahteraan sosial.

Meski modal manusia memegang peranan penting dalam pertumbuhan


penduduk, para ahli mulai dari ekonomi, politik, sosiologi bahkan engineering
lebih menaruh prioritas pada faktor modal fisik dan kemajuan teknologi. Ini
beralasan karena melihat data AS misalnya, total kombinasi kedua faktor ini
menyumbang sekitar 65 persen pertumbuhan ekonomi AS pada periode
1948-79.

Namun, sesungguhnya faktor teknologi dan modal fisik tidak independen dari
faktor manusia. Suatu bangsa dapat mewujudkan kemajuan teknologi,
termasuk ilmu pengetahuan dan manajemen, serta modal fisik seperti
bangunan dan peralatan mesin-mesin hanya jika negara tersebut memiliki
modal manusia yang kuat dan berkualitas. Apabila demikian, secara tidak
langsung kontribusi faktor modal manusia dalam pertumbuhan penduduk
seharusnya lebih tinggi dari angka 31 persen.

Perhatian terhadap faktor manusia menjadi sentral akhir-akhir ini berkaitan


dengan perkembangan dalam ilmu ekonomi pembangunan dan sosiologi.
Para ahli di kedua bidang tersebut umumnya sepakat pada satu hal yakni
modal manusia berperan secara signifikan, bahkan lebih penting daripada
faktor teknologi, dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Modal manusia
tersebut tidak hanya menyangkut kuantitas, tetapi yang jauh lebih penting
adalah dari segi kualitas.

Buku terakhir William Schweke, Smart Money: Education and Economic


Development (2004), sekali lagi memberi afirmasi atas tesis ilmiah para
scholars terdahulu, bahwa pendidikan bukan saja akan melahirkan sumber
daya manusia (SDM) berkualitas, memiliki pengetahuan dan keterampilan

4
serta menguasai teknologi, tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang
sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.

Karena itu, investasi di bidang pendidikan tidak saja berfaedah bagi


perorangan, tetapi juga bagi komunitas bisnis dan masyarakat umum.
Pencapaian pendidikan pada semua level niscaya akan meningkatkan
pendapatan dan produktivitas masyarakat. Pendidikan merupakan jalan
menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi.
Sedangkan kegagalan membangun pendidikan akan melahirkan berbagai
problem krusial: pengangguran, kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, dan
welfare dependency yang menjadi beban sosial politik bagi pemerintah.

Lalu pertanyaannya, apakah ukuran yang dapat menentukan kualitas


manusia? Ada berbagai aspek yang dapat menjelaskan hal ini seperti aspek
kesehatan, pendidikan, kebebasan berbicara dan lain sebagainya. Di antara
berbagai aspek ini, pendidikan dianggap memiliki peranan paling penting
dalam menentukan kualitas manusia. Lewat pendidikan, manusia dianggap
akan memperoleh pengetahuan, dan dengan pengetahuannya manusia
diharapkan dapat membangun keberadaan hidupnya dengan lebih baik.

Dari berbagai studi tersebut sangat jelas dapat disimpulkan bahwa


pendidikan mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi melalui
berkembangnya kesempatan untuk meningkatkan kesehatan, pengetahuan,
dan ketarmpilan, keahlian, serta wawasan mereka agar mampu lebih bekerja
secara produktif, baik secara perorangan maupun kelompok. Implikasinya,
semakin tinggi pendidikan, hidup manusia akan semakin berkualitas. Dalam
kaitannya dengan perekonomian secara umum (nasional), semakin tinggi
kualitas hidup suatu bangsa, semakin tinggi tingkat pertumbuhan dan
kesejahteraan bangsa tersebut.

Bagaimana Kondisi di Indonesia?

Di Indonesia, pendidikan masih belum mendapatkan tempat yang utama


sebagai prioritas program pembangunan nasional. Hal ini ditunjukkan dengan

5
jumlah anggaran pendidikan yang masih jauh dari amanat Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Padahal dalam UU
tersebut, telah mengamanatkan tentang besarnya anggaran pendidikan di
berbagai level pemerintahan minimal 20%.

Anggaran pendidikan dari APBN 2006 saja baru mencapai 9% atau Rp 36,7
triliun, sedangkan pada tahun 2007 diperkirakan jumlah anggaran pendidikan
baru berkisar 11%. Rendahnya pemenuhan anggaran pendidikan dapat
mengakibatkan mutu pendidikan dan perluasan akses pendidikan menjadi
terhambat. Akibatnya peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan
penguasaan teknologi juga terpasung.

Indikasi lain yang perlu menjadi perhatian lebih untuk menjadikan pendidikan
sebagai basis perubahan dalam meningkatkan pembangunan, khususnya
pembangunan ekonomi adalah tingkat melek huruf dan angka partisipasi
pendidikan. Berdasarkan laporan dari Dirjen PLS tentang tingkat
pemberantasan buta aksara secara nasional di Indonesia telah mengalami
penurunan tahun 2006 hingga menjadi sekitar 13 juta orang yang masih buta
huruf.

Jumlah tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan tahun 2004 yang
berjumlah 15,4 juta orang, dan menurun menjadi 14,6 juta orang pada tahun
2005. Jika dilihat persentase selama 2004 s/d 2006 telah terjadi penurunan
16,15%. Bahkan menurut Ace Suryadi (2006) diharapkan pada tahun 2015
pemberantasan buta aksara sudah bisa tuntas dengan asumsi pengurangan
setiap tahun 1,6 juta orang.

Sementara tingkat partisipasi pendidikan menurut data Susenas 2004, APS


penduduk usia 7 s/d 12 tahun meningkat dari 92,83% pada 1993 menjadi
96,775 pada 2004. Dalam rentang waktu yang sama APS penduduk usia 13 –
15 tahun meningkat dari 68,74% menjadi 83,49%. Sedangkan APS penduduk
usia 16 – 18 tahun meningkat dari 40,23% menjadi 53,48%. Data tersebut
menunjukkan adanya masalah kesenjangan partisipasi pendidikan, sehingga
pemerintah perlu meningkatkan alokasi anggaran pendidikan agar

6
masyarakat lebih banyak lagi yang mendapatkan kesempatan menikmati
pendidikan.

Yang jelas, kondisi di atas akan memunculkan fenomena tersendiri bagi


pengembangan sumber daya manusia di Indonesia, diantaranya kesenjangan
pendapatan, ketertinggalan pendidikan, kemiskinan, dan kemakmuran
masyarakat. Sylwester (2002) telah merekomendasikan dari hasil kajiannya
yang menunjukkan bahwa negara yang mencurahkan banyak perhatian
terhadap public education (dilihat dari persentase GNP terhadap pendidikan)
mempunyai tingkat kesenjangan yang rendah.

Akan tetapi, di Indonesia, investasi modal fisik masih dianggap sebagai satu-
satunya faktor utama dalam pengembangan dan akselerasi usaha. Untuk
memenuhi kebutuhan modal manusianya, di Indonesia cenderung
mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri. Dalam jangka pendek cara ini
mungkin ada benarnya, karena diharapkan dapat memberikan efek multiplier
terhadap tenaga kerja di Indonesia. Namun, dalam jangka panjang tentu
sangat tidak relevan, apalagi untuk sebuah usaha berskala besar atau yang
sudah konglomerasi, akibatnya banyak tenaga kerja sendiri tersingkirkan.

Bila dilihat dari besarnya investasi di bidang riset dan pengembangan,


kondisi ini tidak lebih baik di banding China dan Singapura, Indonesia jauh
lebih kecil. Demikian juga dari besarnya investasi pendidikan yang
dilakukan di luar negeri. Singapura, yang berpenduduk tidak sampai
setengah penduduk Jakarta, mengirim mahasiswa ke AS hampir setengah
jumlah mahasiswa Indonesia di AS.

Sesuai dengan berbagai kesepakatan regional dan internasional di bidang


ekonomi, Indonesia dihadapkan dengan situasi persaingan yang amat ketat.
Dalam situasi ini, daya saing kompetitif produk/komoditi tidak mungkin
dikembangkan jika tidak diimbangi daya saing kompetitif sumberdaya
manusia. Dalam arti, mengandalkan keunggulan komparatif sumber daya
manusia yang melimpah dan murah sudah kurang relevan.

7
Dengan demikian, peningkatan investasi di bidang pendidikan, penelitian
dan pengembangan tidak bisa dihindarkan lagi, baik oleh pemerintah
maupun kalangan swasta. Sebenarnya, setiap tahun pemerintah telah
meningkatkan anggaran sektor pendidikan. Masalahnya, angka dan
peningkatan ini secara absolut relatif sangat kecil, sehingga masih jauh bila
dibanding negara-negara tetangga yang sangat serius dalam pengembangan
sumberdaya manusia. Persentase investasi pendidikan 20 persen dari total
anggaran pemerintah harus segera dipenuhi sesuai dengan amanat undang-
undang.

Demikian juga sektor swasta, selama ini belum ada aturan yang
menggariskan berapa persen biaya pengembangan sumberdaya manusia
serta penelitian dan pengembangan dari struktur biaya perusahaan dalam
industri nasional. Di sektor perbankan sempat ada ketentuan yang
menetapkan biaya pengembangan sumberdaya manusia 5 persen dari profit.
Akan tetapi, angka ini relatif sangat kecil, karena biaya pengembangan
tersebut dibebankan pada profit, tidak sebagai beban input (Tobing, 1994).

Penutup

Sebagai akhir dari tulisan ini, penulis berharap pemerintah mampu


membangun paradigma baru pembangunan terhadap tiga hal yang merujuk
knowledge-based economy tampak kian dominan; yaitu pertama, kemajuan
ekonomi dalam banyak hal bertumpu pada basis dukungan ilmu
pengetahuan dan teknologi, sehingga perlu dikembangkan kegiatan-kegiatan
penelitian dan pengembangan.

Kedua, hubungan kausalitas antara pendidikan dan kemajuan ekonomi


menjadi kian kuat dan solid, dengan bukti-bukti hasil kajian di berbagai
negara. Ketiga, menjadikan pendidikan menjadi penggerak utama dinamika
perkembangan ekonomi, yang mendorong proses transformasi struktural
berjangka panjang, karena pendidikan membuahkan high rate of return di
masa yang akan datang.

8
Sebagai ilustrasi, negara-negara maju seperti Jepang yang merupakan
negara Asia pertama yang menjadi pelopor pembangunan perekonomian
berbasis ilmu pengetahuan. Setelah Jepang, menyusul negara-negara Asia
Timur lain seperti Singapura, China, Taiwan, Hongkong, dan Korea Selatan.
Jadi jelas bahwa pertumbuhan mempunyai pengaruh yang tidak kecil
terhadap pertumbuhan ekonomi.

Jadi meningkatnya pertumbuhan ekonomi tentunya diharapkan dapat


meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan kesempatan kerja,
serta mengurangi kemiskinan. Artinya pertumbuhan ekonomi yang dimaksud
adalah pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Wallohu a’lamu bishowab.

Referensi
Andrianus, Ferry. 2003. Analisis Pengeluaran Pendidikan dan Pertumbuhan
Ekonomi di Indonesia (1970 – 2000). Jurnal Ekonomi, Manajemen,
dan Akuntansi “KOMPETISI”. Vol. 1, No. 2, Mei 2003. hal 124-140
Alhumami, Amich, “Tiga Isu Kritis Pendidikan”, Artikel, Kompas, Jum’at, 2 Juli
2004
Al-Samarai, S. 2002. The Changing Distribution of Public Education
Expenditure in Malawi. Africa Region Working Paper Series 29.
Bank Dunia, “The East Asia Miracle”, University Press, Oxford, 1993
Damin, Sudarwan, “Media Komunikasi Pendidikan”, Bumi Aksara, Jakrta, 1995
Darminingtyas, “Di Mana Anak Miskin Bersekolah ?”, Artikel, Kompas, Senin
19 Juli 2004
Depdikbud, Dirjen Dikmenum, dan Dir Dikmenum, “Panduan Manajemen
Sekolah”, Proyek Peningkatan Mutu SMU Jakarta, Jakarta, 1999
Engle, G and C.W.J. Granger.1987. Cointegration and Error Corection:
Representation and Testing. Econometrica. Vol. 100: 818-834.
Fattah, Nanang, “Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan”, Rosda Karya,
Bandung, 2002
Green, William H.,“Econometric Analysis”, 2nd ed. (New York: Macmilan
Publishing Co, 1993.
Gupta, K. 1999. Public Expenditure on Education and Literacy Lavels: A
Comparative Study. State University at Stony Book.
Hannaway, J. & Carnoy, M. eds, “Decectralization and School Improvement:
Can We Fulfil the Promise ?”, Calif, Jassey-Bass, San Fransisco,
1993
Kerlinger, Fred N., “Behavioral Research”, New York: Holt Rinehard and,
Winston, 1978
Khusaini. 2004. Analisis Disparitas Pendapatan Antar Daerah Kabupaten/Kota
dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Regional
Provinsi Banten. JIPIS. Vol. 2, No. 2. Tahun 2005

9
Mankiw, N.G, Romer, D. and Weil, N.D. 1992. A Contribution to the Empiris of
Economic Growth. Quartely Journal of Economics. Vol 107 Issue
2: 407-437.
Laporan Dirjen PLS Tahun 2006. Depdiknas. http:\\www.depdiknas.go.id
Levin, Henry M and Schultz G. Hans, “Finacing Recurrent Education Strategic
the Increasing Employment, Job Opportuniyies and Productivity”,
Sage Publications, New Delhi, 1983
Lim, D. 1996. Explaining Economic Growth: A New Aanlitical Framework.
Vermont: Edwar Elgar Publish. Co.
Lin, T.C. 2003. Education, Technical Progres, and Economic Growth: The Case
of Taiwan. Economics of Education Review 22: 213-220.
Marsuki. 2005. Analisis Perekonomian Sulawesi Selatan dan Kawasan Timur
Indonesia. Mitra Wacana Media. Jakarta
Richardson, Harry W., “Dasar-Dasar Ilmu Ekonomi Regional (terjemahan)”,
LP-FEUI (Edisi Revisi), Jakarta, 2001
Schultz, T. W. 1963. The Economic Value of Education. New York. Columbia
University.
Solow, R. 1956. A Contribution to the Theory of Economic Growth. Quartely
Journal of Economics 70: 65 – 94.
Suhaenah Soeparno, Ana, “Pendidikan dalam Perspektif Otonomi Daerah”,
dalam “Mengurai Benang Kusut Pendidikan”, Transformasi-UNJ,
Jakarta, 2003
Supriadi, Dedi, “Satuan Biaya Pendidikan: Dasar dan Menengah”, Rosda
Karya, Bandung, 2003
Suryadi, Ace dan Tilaar, H. A.R., “Analisis Kebijakan Pendidikan: Suatu
Pengantar”, Rosda Karya Bandung, 1994
Susanti, Hera, Moh Ikhsan, dan Widyanti, “Indikator-Indikator Makro
Ekonomi”, edisi kedua LPFEUI, Jakarta, 1995
Thomas, J. A., “The Productive School: A System Analysis Approach to
Educational Administration”, John Wiley & Sons, New York, 1971
Triaswati, N. et al, “Pendanaan Pendidikan di Indonesia”, dalam Jalal, F.
Supriadi, D. eds, “Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi
Daerah”, Adicita Karya Nusa, Yogjakarta, 2001
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional
Windham, D. M., “Improving the Efficiency of Educational Systems: Indicators
of Educational Effectiveness and Efficiency”, U.S. Agency for
International Development, Woshinton D.C., 1988

10