Anda di halaman 1dari 33

Dampak Teknologi Informasi

Terhadap Fungsi dan Peranan Akuntansi

Mini Paper

Diajukan sebagai syarat untuk mendapatkan

nilai tugas Matakuliah Teori Akuntansi

Dosen: Bapak Prof. Dr. Sofyan Syafri Harahap, MSAc., S.E., BSc., Akuntan.

Disusun Oleh:

Ahmad Anshari, SST.Kom (123100002)

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER AKUNTANSI

UNIVERSITAS TRISAKTI

2010
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................... i


BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2. Perumusan Masalah .................................................................................... 1
1.3. Sistematika Penulisan ................................................................................. 2
BAB II KAJIAN PUSTAKA ......................................................................................... 3
2.1. Definisi Sistem Informasi, Akuntansi dan ilmu yang terkait keduanya ..... 3
2.2. Definisi Sistem ................................................................................................ 3
2.3. Definisi Informasi ........................................................................................... 3
2.4. Definisi Sistem Informasi ............................................................................... 3
2.5. Definisi Sistem Informasi Akuntansi ............................................................. 4
2.6. Definisi Teknologi Informasi ......................................................................... 5
2.7. Definisi Akuntansi........................................................................................... 6
2.8. Penerapan Teknologi Informasi dalam perusahaan .................................... 7
BAB III PENDALAMAN MATERI ............................................................................. 12
3.1. Sekilas Sejarah Akuntansi dalam Penggunaan Teknologi ......................... 12
3.2. Peran Teknologi Informasi terhadap profesi Akuntan/Auditor .............. 14
3.3. Perkembangan Teknologi Informasi terhadap Akuntansi ........................ 20
3.4. Krisis Akuntan menurut Belkaoui terkait dengan Teknologi Informasi .. 22
3.5. Penerapan Teknologi Informasi dalam Akuntansi Manajemen ............... 23
3.6. Teknologi Informasi XBRL sebagai Trend Akuntansi Akuntan ................. 24
3.7. XBRL di Departemen Keuangan Indonesia................................................. 27
BAB IV KESIMPULAN & REKOMENDASI ............................................................... 30
4.1. Kesimpulan.................................................................................................... 30
4.2. Keterbatasan ................................................................................................. 30
4.3. Rekomendasi ................................................................................................. 30
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... ii

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Akuntansi merupakan bahasa bisnis. Setiap perusahaan
menerapkannya sebagai alat komunikasi. Secara klasik, akuntansi
merupakan proses pencatatan (recording), pengelompokkan (classifying),
perangkuman (summarizing), dan pelaporan (reporting) dari kegiatan
transaksi perusahaan. Tujuan akhir dari kegiatan akuntansi adalah
penerbitan laporan-laporan keuangan. Laporan-laporan tersebut adalah
merupakan suatu informasi.
Kemajuan teknologi menyebabkan kemajuan revolusi informasi
yang telah ditransformasikan pada setiap aspek akuntansi. Pengaruh yang
lebih besar dari revolusi tersebut terletak pada sistem informasi yang
menggunakan komputer.
Perkembangan luar biasa yang kita alami adalah teknologi
elektronika, informasi dan telekomunikasi (seperti: satelit, komputer,
internet dan lain sebagainya), dan hal ini mempunyai pengaruh yang
positif terhadap lalulintas barang, jasa, investasi, informasi dari satu
negara ke negara lain. Dunia seolah-olah menjadi tanpa batas (borderless
world) atau kita kenal dengan istilah globalisasi.
Dengan adanya teknologi, definisi akuntansi konvensional yang
bermakna pencatatan, berubah menjadi peng-entry-an atau memasukkan
/posting data transaksi digital, dan dengan ilmu komputer yang
meningkatkan otomasi dan efisiensi, data transaksi yang dimasukkan
tersebut, dengan memakai kaidah akuntansi akan langsung otomatis
menjadi laporan keuangan.
Persaingan semakin tajam, dan setiap negara mulai
mempersiapkan diri menghadapi era perdagangan bebas, salah satunya
melalui ASEAN yang telah membentuk AFTA yang mulai berlaku tahun
2003. AFTA bersama-sama dengan negara-negara Pasifik (seperti: USA,
Australia, Kanada dan lain sebagainya) membentuk kerjasama
perdagangan bebas APEC yang berlaku tahun 2010, yang selanjutnya
untuk menghadapi WTO yang prinsip-prinsipnya akan berlaku penuh
pada tahun 2002.
Untuk memenuhi kebutuhan yang sesuai dengan perkembangan
tersebut, profesi akuntan harus menghadapi tantangan di era globalisasi
yang diwarnai oleh era perdagangan bebas dan salah satunya adalah
perkembangan teknologi komputer.

1.2. Perumusan Masalah


Bagaimana hubungan implementasi ilmu komputer dengan
peningkatan pelayanan jasa akuntan? Dan bagaimana pula peranan
komputer terhadap analisis usaha dan keuangan untuk meningkatkan
kapabilitas pelayanan jasa akuntan dengan mengimplementasikan sistem
informasi akuntansi?

1
Bagaimana perkembangan penggunaan komputer terhadap
akuntansi?

1.3. Sistematika Penulisan


Dalam menguraikan permasalahan, penulis akan membagi bahan
bahasan sebagai berikut:
1. di dalam Bab II, berisi tentang landasan teoritis dan istilah-istilah yang
akan dipakai pada bab selanjutnya, yaitu diantaranya mengenai
pernyataan FASB nomor 2, bahwa akuntansi sebagai sistem informasi.
Definisi-definisi mengenai sistem, sistem informasi, teknologi
informasi, dan sistem informasi akuntansi akan di bahas pada bab ini.
2. di dalam Bab III, berisi tentang pendalaman materi mengenai sekilas
pendapat ilmiah para ahli yang menguatkan bahwa teknologi informasi
bermanfaat bagi auditor/akuntan, dan begitu juga sebaliknya, amat
berperan penting dalam penggunaannya di perusahaan, sebagai
pemakai sistem akuntansi. Dalam bab ini pula, ditambahkan pendapat
Ahmad Riahi dan Belkaoui mengenai krisis akuntan. Tren penggunaan
teknologi informasi yang merambah ke internet yaitu XBRL, juga
dibahas sekilas pada bab ini.
3. di dalam Bab IV, berisi tentang kesimpulan, saran, dan rekomendasi.

2
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Definisi Sistem Informasi, Akuntansi dan ilmu yang terkait keduanya
Untuk melengkapi penyusunan paper ini, penulis akan
menjabarkan beberapa definisi yang terkait dengan akuntansi serta
kaitannya dengan teknologi informasi yang dikutip dan diunduh dari
textbook, literature ilmiah, dan jurnal ilmiah dari beberapa situs web.

2.2. Definisi Sistem


Menurut Romney dan Steinbart, sistem adalah rangkaian dari dua
atau lebih komponen-komponen yang saling berhubungan, yang
berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Gordon B. Davis, sistem secara fisik adalah kumpulan dari
elemen-elemen yang beroperasi bersama-sama untuk menyelesaikan
suatu sasaran.
Menurut Moscove, sistem adalah suatu entity yang terdiri dari
bagian-bagian yang saling berhubungan, yang bertujuan untuk mencapai
tujuan tertentu.
Menurut Murdick, sistem adalah suatu kumpulan elemen-elemen
yang dijadikan satu untuk tujuan umum.
Menurut Cole/Neuschel, sistem adalah suatu kerangka dari
prosedur-prosedur yang berhubungan, yang disusun sesuai dengan suatu
skema yang menyeluruh untuk melaksanakan suatu kegiatan atau fungsi
utama perusahaan.

2.3. Definisi Informasi


Menurut Gordon B. Davis, definisi informasi adalah data yang telah
diolah menjadi bentuk yang berarti bagi penerimanya dan berguna untuk
pengambilan keputusan saat ini atau di masa mendatang.
Sedangkan menurut McFadden dan kawan-kawan, informasi
dinyatakan sebagai data yang telah diproses sedemikian rupa sehingga
meningkatkan pengetahuan seseorang yang mengunakannya.

2.4. Definisi Sistem Informasi


Menurut Henry Lucas (1988: 35) yang diterjemahkan oleh
Jogiyanto H. M, menyatakan bahwa sistem Informasi adalah suatu kegiatan
dari prosedur-prosedur yang diorganisasikan, bilamana dieksekusi akan
menyediakan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan
pengendalian di dalam organisasi.
Menurut John F. Nash dan Martin B. Robert (1988: 35) yang
diterjemahkan oleh Jogianto H. M, menyatakan bahwa Sistem Informasi
adalah kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media, prosedur-
prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur
komunikasi penting, memproses tipe transaksi rutin tertentu, memberi

3
sinyal kepada manajemen yang lainnya terhadap kejadian-kejadian
internal.
Menurut John F. Nash (1995: 8) yang diterjemahkan oleh La Midjan
dan Azhar Susanto, menyatakan bahwa Sistem Informasi adalah kombinasi
dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan
pengendalian yang bermaksud menata jaringan komunikasi yang penting,
proses atas transaksi-transaksi tertentu dan rutin, membantu manajemen
dan pemakai intern dan ekstern dan menyediakan dasar pengambilan
keputusan yang tepat.
Pengertian Sistem Informasi menurut Robert dalam Jogiyanto
(2000) adalah informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan
dalam sebuah organisasi.
Sistem informasi, menurut Leitel dan Davis dalam bukunya
“Accounting Information System” mendefinisikan bahwa Sistem informasi
adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan
kebutuhan-kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi,
bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan
menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.
Definisi sistem informasi menurut Ali Masjono Mukhtar, adalah
suatu pengorganisasian peralatan untuk mengumpulkan, menginput,
memproses, menyimpan, mengatur, mengontrol, dan melaporkan
informasi untuk pencapaian tujuan perusahaan.
Selain itu pengertian sistem informasi menurut Romney (1997: 16)
yang dialihbahasakan oleh Krismiaji (2002: 12) Sistem Informasi adalah
cara-cara yang diorganisasi untuk mengumpulkan, memasukkan,
mengolah, dan menyimpan data dan cara-cara yang diorganisasi untuk
menyimpan, mengelola, mengendalikan dan melaporkan informasi
sedemikian rupa sehingga sebuah organisasi dapat mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.

2.5. Definisi Sistem Informasi Akuntansi


Menurut Barry E. Cushing (1988: 49) yang diterjemahkan oleh
Jogianto H. M menyatakan bahwa: Sistem Informasi Akuntansi adalah
kumpulan dari manusia dan sumber-sumber daya modal di dalam suatu
organisasi yang bertanggungjawab untuk menyediakan informasi yang di
dapat dari pengumpulan dan pengolahan data transaksi.
Menurut Barry E. Cushing (1995: 11) yang diterjemahkan oleh La
Midjan dan Azhar Susanto, menyatakan bahwa: Sistem Informasi
Akuntansi adalah seperangkat sumber manusia dan modal dalam
organisasi, yang berkewajiban untuk menyaajikan informasi keuangan dan
juga informasi yang diperoleh dari pengumpulan dan memproses data.
Sedangkan menurut George H. Bodnar dan William S. Hopwood
(1996: 1) yang diterjemahkan oleh Amir Abdi jusuf dan Rudi M.
Tambunan, menyatakan bahwa: Sistem Informasi Akuntansi adalah
kumpulan sumber daya seperti manusia dan peralatan, yang diatur untuk
mengubah data menjadi informasi.
Menurut Wilkinson (2000: 27), sistem informasi akuntansi dalam
melaksanakan aktivitas memerlukan elemen yang spesifik yang bervariasi
tergantung pada tingkat otomatisasi sistem informasi akuntansi tersebut.

4
Menurut Hall (2001: 10), elemen model umum sistem informasi
akuntansi meliputi pengguna akhir, sumber data, pengumpulan data,
pemrosesan data, manajemen database, penghasil informasi, dan umpan
balik.
Menurut La Midjan (2003: 12) menyatakan bahwa: Sistem
Informasi Akuntansi adalah suatu sistem pengolahan data akuntansi yang
terdiri dari koordinasi manusia, alat dan metode berinteraksi dalam
suatun wadah organisasi yang terstruktur untuk menghasilkan informasi
akuntansi keuangan dan informasi akuntansi manajemen yang terstruktur.
Menurut Bodnar dan Hopwood (2004: 1), sistem informasi
akuntansi adalah kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan,
yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya menjadi
informasi yang dikomunikasikan kepada berbagai pihak pengambil
keputusan.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Sistem Informasi
Akuntansi adalah suatu pengolahan data akuntansi yang terdiri dari
koordinasi manusia, alat, dan metode berinteraksi dalam suatu wadah
organisasi yang terstruktur untuk menghasilkan informasi akuntansi yang
terstruktur.

2.6. Definisi Teknologi Informasi


Kamus Oxford (1995): Teknologi informasi adalah studi atau
penggunaan peralatan elektronika, terutama komputer, untuk menyimpan,
menganalisa, dan mendistribusikan informasi apa saja, termasuk kata-
kata, bilangan dan gambar.
Martin (1999): Teknologi informasi tidak hanya terbatas pada
teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang
digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga
mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.
Lucas (2000): Teknologi informasi adalah segala bentuk teknologi
yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan informasi dalam
bentuk elektronis. Mikrokomputer, komputer mainframe, pembaca
barcode, perangkat lunak pemroses transaksi, perangkat lunak lembar
kerja (spreadsheet), dan peralatan komunikasi dan jaringan merupakan
contoh teknologi informasi.
Definisi TI secara lengkap dinyatakan oleh Martin, et al., (2002: 1),
yaitu teknologi komputer yang digunakan untuk memproses dan
menyimpan informasi serta teknologi komunikasi yang digunakan untuk
mengirimkan informasi. Definisi TI sangatlah luas dan mencakup semua
bentuk teknologi yang digunakan dalam menangkap, manipulasi,
mengkomunikasikan, menyajikan, dan menggunakan data yang akan
diubah menjadi informasi (Martin, et al., 2002: 125).
Williams dan Sawyer (2003): Teknologi informasi adalah teknologi
yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi
berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video.
Teknologi Informasi (TI) merupakan salah satu alat manajer untuk
mengatasi perubahan (Laudon dan Laudon, 2006: 14).
Menurut Laudon dan Laudon (2006: 14-15), infrastruktur TI terdiri
atas komponen hardware, software, teknologi penyimpanan data (storage),

5
serta teknologi komunikasi. Beberapa penulis mengklasifikasikan
teknologi storage ke dalam komponen hardware sehingga komponen TI
terdiri atas hardware, software, dan komunikasi (McLeod dan Schell, 2004:
101-123; Mescon, et al., 2002: 213-219).

2.7. Definisi Akuntansi


FASB mendefinisikan akuntansi secara umum adalah: Accounting is
the body knowledge and functions concered with systematic originating,
recording, classifying, processing, summerizing, analyzing, interpreting and
supplying of dependable and significant information covering, transaction,
and event wich are, in part at least, of financial character, required for the
management and operation of an entity and for report that have to be
submitted there on to meet fiduciary and other responsibilities”.
Definisi selanjutnya terdapat pada APB No. 4 yang dapat
menjelaskan akuntansi sebagai suatu aktivitas jasa yang memiliki fungsi
menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan
tentang satuan-satuan ekonomi yang dapat bermanfaat dalam menetapkan
pilihan-pilihan yang logis diantara berbagai tindakan alternatif. Definisi
tersebut adalah: Accounting is a service activity. Its function is to provide
quantitative information, primarily financial in nature, about economics
entities that is intended to be useful in making economic decision, in making
reasons choices among alternatives course of action.
Dan dapat disimpulkan bahwa a) akuntansi menyediakan jasa yang
penting di dalam lingkungan bisnis untuk membantu pengambilan
keputusan alokasi sumber daya yang terbatas; b) informasi yang
disediakan akuntansi bersifat kuantitatif yang dapat digunakan dengan
evaluasi kualitatif dalam pengambilan keputusan ekonomi; c) meskipun
akuntansi melaporkan apa yang telah terjadi tetapi berguna untuk
pengambilan keputusan di masa mendatang (Smith, Skousen, dan Stice,
1997).
Sejarah akuntansi menggambarkan kronologis proses akuntansi
yang panjang (Hendriksen, 1992: 51-52).
Definisi akuntansi menurut AICPA: Accounting is the art of
recording, classifying, and summarizing in a significant manner and in terms
of money, transaction and events which are in part at least, of a financial
character, and interpreting the results thereof.
Menurut Scott (2003: 6) The environment of accounting is both very
complex and very challenging. It is complex because the product of
accounting is information – a powerful and important comodity.
Akuntansi (Accounting) menurut (Jerry J. Weygandt, Donald E.
Kieso, Paul D. Kimmel, 1999): “Accounting is process of three activities:
identifying, recording and communicating the economic events of an
organization (business or non business) to interested users of the
information.” Menurut Kieso (2002: 2), akuntansi bisa didefinisikan secara
tepat dengan menjelaskan tiga karakteristik penting dari akuntansi: (1)
pengidentifikasian, pengukuran, dan pengkomunikasian informasi
keuangan tentang (2) entitas ekonomi kepada (3) pemakai yang
berkepentingan.

6
Akuntansi adalah seperangkat pengetahuan yang mempelajari
perekayasaan penyediaan jasa berupa informasi keuangan kuantitatif unit-
unit organisasi dalam suatu lingkungan negara tertentu dan cara
penyampaian (pelaporan) informasi tersebut kepada pihak yang
berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan
ekonomik (Suwardjono, 2005).
Pengertian akuntansi menurut American Accounting Association
adalah Accounting as the process identifiying, measuring, and
communicating economic information to permit informed judgements and
decisions by users of the information (Wilopo, 2005: 9).
Dalam buku Teori Akuntansi yang ditulis Prof. Sofyan Syafri
Harahap, akuntansi adalah “tool of management,” alat kapitalis untuk
mengumpulkan harta dan memeliharanya (dengan informasi tentang
kondisi atas posisi keuangan dalam jumlah kekayaan, utang, dan modal
dalam periode tertentu) agar proses akumulasi kekayaan berjalan lancar
dan penguasaannya tetap di tangan kapitalis.
Masih dari referensi buku yang sama, pada halaman 10 dituliskan
pendapat Sudibyo: Akuntansi adalah teknologi perangkat lunak.
Akuntansi tidak ditujukan untuk menerangkan dan meramalkan perilaku
variabel-variabel sosial/ekonomis tertentu melainkan untuk
mengendalikan variabel-variabel itu guna memperbaiki status ekonomis
karenanya status sosial dari pelakunya. Wujud yang lebih konkret dari
akuntansi sebagai perangkat lunak adalah bahwa akuntansi merupakan
disiplin rekayasa informasi dan pengendalian (kontrol) keuangan.
(Harahap, 2008: 11)

2.8. Penerapan Teknologi Informasi dalam perusahaan


Dalam Jurnal yang dituliskan Naniek Noviari, Akuntan merupakan
profesi yang aktivitasnya banyak berhubungan dengan TI. Perkembangan
SIA dan proses audit sebagai akibat dari adanya kemajuan TI dan
perkembangan akuntansi akan memunculkan peluang bagi akuntan.
Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh akuntan yang mempunyai
pengetahuan memadai tentang SIA dan audit berbasis komputer.
Sebaliknya, akuntan yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang SIA dan audit berbasis komputer akan tergusur posisinya karena
tidak mampu memberikan jasa yang diperlukan oleh klien.
Lingkungan teknologi memungkinkan perusahaan untuk
memajukan kinerjanya. TI dan kinerja memiliki hubungan simbiosis.
Perkembangan TI yang terjadi selama ini mencakup perkembangan
infrastruktur TI, yakni hardware, software, data, dan komunikasi
(McNurlin dan Sprague, 2002: 11).
Menurut Laudon dan Laudon (2006: 14-15), infrastruktur TI terdiri
atas komponen hardware, software, teknologi penyimpanan data (storage),
serta teknologi komunikasi. Beberapa penulis mengklasifikasikan
teknologi storage ke dalam komponen hardware sehingga komponen TI
terdiri atas hardware, software, dan komunikasi (McLeod dan Schell, 2004:
101-123; Mescon, et al., 2002: 213-219).
Kemajuan TI yang pesat berpengaruh dan mengakibatkan
perubahan yang sangat signifikan pada perkembangan akuntansi. Semakin

7
maju TI semakin banyak pengaruhnya pada bidang akuntansi.
Perkembangan akuntansi berdasar kemajuan teknologi terjadi dalam tiga
babak, yaitu era bercocok tanam, era industri, dan era informasi. Hal ini
dinyatakan oleh Alvin Toffler dalam bukunya yang berjudul The Third
Wave (Robert, 1992).
Pada masa ini teknologi akuntansi dengan single entry book keeping
sudah tidak memadai dalam penyediaan informasi akuntansi. Orang mulai
memerlukan informasi mengenai berapa pendapatan yang diperolehnya
selama suatu periode tertentu dan berapa perubahan kekayaan yang
dimiliki. Pada era ini sistem double entry book keeping mulai
diperkenalkan oleh Luca Pacioli meskipun bukan dia penemu sistem ini.
Karena kebutuhan manusia akan informasi semakin kompleks, maka
sistem double entry book keeping mengalami perkembangan. Mulai dari
teknik pembukuan sampai dengan metode akuntansi yang kompleks
seperti akuntansi untuk inflasi, dana pensiun, leasing, dan lain-lain
(Belkaoui, 2000).
Dalam jurnal yang dituliskan Sri Maharsi, ada berbagai macam
sistem informasi dengan menggunakan teknologi informasi yang muncul,
antara lain Electronic Data Processing (EDP) Systems, Data Processing
Systems (DPS), Management Information System (MIS), Decision Support
System (DSS), Expert System (ES), Executive Information Systems (EIS), dan
Accounting Information System (AIS) (Bodnar, 1998). Berikut adalah
penjelasan atas definisi dan istilah-istilah tersebut.
EDP adalah penggunaan teknologi komputer untuk
menyelenggarakan pemrosesan data yang berorientasi pada transaksi
organisasi. Sistem ini digunakan untuk mengolah data transaksi yang
sifatnya rutin (sehari-hari). Sistem ini tidak dapat membantu pekerjaan
pihak manajemen yang berkaitan dengan pengambilan keputusan. Sistem
ini hanya bermanfaat untuk meningkatkan ketepatan waktu dan frekuensi
penyajian laporan. Secara fundamental, EDP merupakan aplikasi sistem
informasi akuntansi dalam setiap organisasi. Istilah data processing (DP)
sebenarnya sama dengan EDP.
MIS merupakan penggunaan teknologi komputer untuk
menyediakan informasi yang berorientasi pada manajemen level
menengah. MIS mengakui adanya kenyataan bahwa para manajer dalam
suatu organisasi membutuhkan informasi dalam rangka pengambilan
keputusan dan bahwa sistem informasi berbasis komputer dapat
membantu penyediaan informasi bagi para manajer.
DSS adalah suatu sistem informasi yang datanya diproses dalam
bentuk pembuatan keputusan bagi pemakai akhir. Karena berorientasi
pada pemakai akhir, maka DSS membutuhkan penggunaan model-model
keputusan dan database khusus yang berbeda dengan sistem DP. DSS
diarahkan pada penyediaan data yang nyata, khusus, dan informasi yang
tidak rutin yang diminta oleh manajemen. DSS dapat digunakan untuk
menganalisis kondisi pasar sekarang atau pasar potensial. DSS juga dapat
membantu mengubah proses bisnis, dimana umumnya manajer membuat
semua keputusan, namun dengan adanya teknologi informasi seperti
decision support tools, access database, dan modelling software,
pengambilan keputusan menjadi bagian setiap orang.

8
Expert System (ES) merupakan sistem informasi yang berbasis pada
pengetahuan yang menggunakan pengetahuan tentang bidang aplikasi
khusus untuk menjalankan kegiatan sebagai konsultan ahli bagi pemakai
akhir. Seperti DSS, ES membutuhkan penggunaan model-model keputusan
manajemen dan database khusus. Tidak seperti DSS, ES juga
membutuhkan pengembangan basis pengetahuan dan inference engine.
Jika DSS membantu manajemen dalam rangka pengambilan keputusan,
maka ES membuat keputusan tersebut.
EIS merupakan suatu sistem informasi yang berkaitan dengan
kebutuhan manajemen puncak mengenai informasi strategik dalam proses
pengambilan keputusan strategik. Sedangkan AIS merupakan sebuah
sistem yang menyediakan informasi bersifat keuangan dan non keuangan
bagi para pengambil keputusan.
Penggunaan teknologi informasi pada aktivitas perusahaan seperti
pada value chain dapat menghasilkan beberapa keuntungan, seperti
penghematan biaya, percepatan waktu operasi, peningkatan produktivitas,
percepatan waktu pengiriman barang dan jasa kepada pelanggan, serta
peningkatan nilai barang dan jasa yang tinggi pada pelanggan.
Salah satu teknologi informasi yang tidak kalah pentingnya adalah
pemakaian Electronic Data Interchange (EDI). EDI adalah komunikasi
antar komputer dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan mengurangi
pekerjaan yang sifatnya klerikal. Hansen dan Hill (1989) mendefinisikan
EDI sebagai pergerakan dokumen bisnis dalam format terstruktur antara
berbagai patner bisnis dalam suatu organisasi. Dengan EDI, dokumen yang
diterima dapat memerintahkan komputer secara otomatis. EDI yang
terintegrasi memberikan peluang pada manajer untuk berkonsentrasi
penuh pada pengambilan keputusan strategik dan meningkatkan
kemampuan dalam pengendalian beberapa aktivitas.
Teknologi akan terus berkembang. Teknologi informasi yang kuat
akan menjadi competitive edge bagi perusahaan dan sekaligus menjadi
entry barrier (Fasio, 1994). Bagi organisasi yang ingin maju dan
berkembang, tidak ada alasan untuk tidak menggunakan teknologi
sepanjang hal itu dapat mempermudah perusahaan menyesuaikan diri
dengan lingkungannya (Hanscombe, 1989).
Peranan teknologi informasi pada aktivitas manusia saat ini
memang begitu besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitator utama
bagi kegiatan-kegiatan bisnis yang memberikan andil besar terhadap
perubahanperubahan mendasar bagi struktur, operasi dan manajemen
organisasi. Jenis pekerjaan dan tipe pekerja yang dominan di zaman
Teknologi Informasi adalah otonomi dan wewenang yang lebih besar
dalam organisasi.
Boundaryless organization adalah kondisi organisasi yang
digunakan dalam teknologi informasi dengan batas-batas horisontal,
vertikal, eksternal dan geografis yang sehat. Menipisnya batas horisontal
mengakibatkan berkurangnya birokrasi sehingga organisasi menjadi lebih
datar, dan karyawan menjadi lebih berdaya (empowered employees) dan
menjadikan terwujudnya kerja sama lintas fungsional dalam memenuhi
kebutuhan customers yang kompleks. Menipisnya batas eksternal
menjadikan perusahaan lebih berfokus ke penyediaan produk dan jasa

9
yang menjadi kompetensi intinya (care competence). Untuk memenuhi
kebutuhan customers yang kompleks, perusahaan membangun jejaring
organisasi (organization network), yang di dalamnya setiap perusahaan
menjadi anggota jejaring sehingga mampu menghasilkan value terbaik
bagi customers, karena koordinasi tidak lagi dijalankan melalui “command
and control mode” namun koordinasi dilaksanakan melalui komunikasi,
persuasi dan kepercayaan (trust). Kohesivitas organisasi yang
menggunakan tim lintas fungsional, dan yang mempekerjakan karyawan
yang berdaya, serta yang menggunakan jaringan organisasi dalam
mewujudkan tujuan organisasi ditentukan dari seberapa jelas misi dan visi
organisasi dirumuskan dan keberhasilan pengomunikasian strategi
tersebut kepada seluruh personal organisasi dan seluruh organisasi dalam
jaringan.
Pemberdayaan karyawan yang dilandasi oleh trust-based
relationship antar manajer dan karyawan menjadikan Information sharing
dapat meningkatkan tuntutan tentang otonomi dan wewenang di kalangan
karyawan. Persuasi menjadi pilihan untuk menggantikan komando, karena
knowledge workers menjadi dominan dalam mewujudkan visi organisasi.
dalam memacu komitmen karyawan untuk mengubah strategi menjadi
tindakan nyata. Berkat teknologi ini, berbagai kemudahan dapat dirasakan
oleh manusia seperti:
 Teknologi informasi melakukan otomasi terhadap suatu tugas atau
proses yang menggantikan peran manusia.
 Teknologi informasi berperan dalam restrukturisasi terhadap peran
manusia yang melakukan perubahan-perubahan terhadap sekumpulan
tugas atau proses.
 Teknologi informasi memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan
berbagai bagian yang berbeda dalam organisasi dan menyediakan
banyak informasi ke manajer.
 Teknologi informasi juga memengaruhi antarmuka-antarmuka
organisasi dengan lingkungan, seperti pelanggan dan pemasok.
 Teknologi informasi dapat digunakan membentuk strategi untuk
menuju keunggulan yang kompetitif (O’Brien, 1996), antara lain:
o Strategi biaya: meminimalisir biaya/memberikan harga yang lebih
murah terhadap pelanggan, menurunkan biaya dari pemasok.
o Strategi diferensiasi: mengembangkan cara-cara untuk
membedakan produk/ jasa yang dihasilkan perusahaan terhadap
pesaing sehingga pelanggan menggunakan produk/jasa karena
adanya manfaat atau fitur yang unik.
o Strategi inovasi: memperkenalkan produk/jasa yang unik, atau
mem buat perubahan yang radikal dalam proses bisnis yang
menyebabkan perubahan-perubahan yang mendasar dalam
pengelolaan bisnis.
o Strategi pertumbuhan: mengembangkan kapasitas produksi secara
signifikan, melakukan ekspansi ke dalam pemasaran global,
melakukan diversifikasi produk/jasa, atau mengintegrasikan ke
dalam produk/jasa yang terkait.
o Strategi aliansi: membentuk hubungan dan aliansi bisnis yang baru
dengan pelanggan, pemasok, pesaing, konsultan, dan lain-lain.

10
Namun ironisnya, terkait dengan hubungan dengan klien, pesatnya
perkembangan teknogi informasi tersebut awal mulanya bertolak
belakang dengan sudut pandang Auditor/akuntan yang menilai bahwa
hubungan bisnis yang wajar adalah jika dilaksanakan berdasarkan falsafah
arm’s length transaction-yaitu transaksi antara pihak-pihak yang bebas
atau independen. Hubungan istimewa (atau dikenal dengan related party
transaction) diyakini auditor sebagai transaksi yang dapat menimbulkan
ketidakwajaran angka yang dicatat dalam catatan akuntansi. Padahal
transaksi bisnis yang didasarkan atas arm’s-length transaction dan nilai
dasar ketidakpercayaan merupakan hubungan bisnis jangka pendek.
Masing-masing pihak hanya mengusahakan agar pada saat transaksi bisnis
terjadi, mereka yang terkait mampu bersikap businesslike, sehingga
masing-masing pihak dapat memperoleh manfaat dari transaksi yang
dilaksanakan. Apakah di kemudian hari pihak-pihak yang terkait sekarang
akan melaksanakan bisnis, tergantung dari penentuan syarat-syarat
independensi pada saat transaksi yang akan terjadi di masa yang akan
datang tersebut sedangkan kemitraan Usaha (Partnered Relationship)
untuk mendobrak mitos tersebut harus menitikberatkan pada trust
building dan core competency di dalam membangun hubungan kemitraan,
baik di dalam organisasi perusahaan (antara manajer dengan karyawan
dan antar fungsi dalam organisasi) maupun di antara perusahaan dengan
para pemasok dan mitra bisnisnya.

11
BAB III

PENDALAMAN MATERI

3.1. Sekilas Sejarah Akuntansi dalam Penggunaan Teknologi


Tonggak sejarah akuntansi dimulai sejak tahun 1494, yaitu ketika
Luca Pacioli memperkenalkan sistem double entry book keeping. Akan
tetapi, praktik akuntansi sebenarnya sudah ada sejak zaman sebelum itu.
Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave menyatakan bahwa pada
tahun 8000 SM yang dinyatakan sebagai masa bercocok tanam orang
sudah mengenal teknologi, informasi, dan akuntansi.
Pada masa bercocok tanam, paradigma terhadap penciptaan
kemakmuran dilakukan dengan mengeksploitasi alam. Orang belum
mengenal teknik untuk mengubah bahan baku menjadi produk. Teknologi
pada masa itu masih bersifat fisik sehingga teknologi informasi masih
tertulis dan dikembangkan untuk membuat catatan akuntansi. Pada masa
itu teknologi akuntansi masih sangat sederhana. Karena lingkungan masih
sangat statis dan dapat diprediksi dengan mudah, maka sistem single entry
book keeping sudah dianggap cukup. Dengan sistem ini orang hanya
memerlukan informasi mengenai berapa aset dan utangnya pada suatu
saat tertentu Orang belum berpikir mengenai berapa perubahan
kekayaannya dan apa penyebab perubahan tersebut. Tahun 1650 sampai
dengan 1955 dinyatakan oleh Alvin Toffler sebagai era industri. Era ini
dimulai dengan terjadinya revolusi industri, yaitu sejak ditemukannya
mesin-mesin industri. Tenaga kerja manusia di dalam pabrik mulai diganti
dengan mesin. Kantong-kantong industri mulai bermunculan dan
pertukaran dengan uang semakin berkembang.
Pada masa ini teknologi akuntansi dengan single entry book keeping
sudah tidak memadai dalam penyediaan informasi akuntansi. Orang mulai
memerlukan informasi mengenai berapa pendapatan yang diperolehnya
selama suatu periode tertentu dan berapa perubahan kekayaan yang
dimiliki. Pada era ini sistem double entry book keeping mulai
diperkenalkan oleh Luca Pacioli meskipun bukan dia penemu sistem ini.
Karena kebutuhan manusia akan informasi semakin kompleks, maka
sistem double entry book keeping mengalami perkembangan. Mulai dari
teknik pembukuan sampai dengan metode akuntansi yang kompleks
seperti akuntansi untuk inflasi, dana pensiun, leasing, dan lain-lain
(Belkaoui, 2000). Pada masa ini sistem informasi akuntansi di dalam upaya
untuk menyediakan informasi, baik kepada pihak ekstern maupun intern
masih dilakukan secara manual hanya dengan bantuan mesin hitung
ataupun kalkultor.
Era informasi dimulai dengan ditemukannya komputer pada tahun
1955. Pada era ini teknologi informasi sudah menggunakan komputer dan
pemrosesan informasi menjadi lebih cepat, pemrosesan dan penyimpanan
informasi menjadi lebih murah, dan tidak banyak memakan tempat dan
waktu. Salah satu bidang akuntansi yang banyak dipengaruhi oleh
perkembangan TI adalah SIA. Pada dasarnya siklus akuntansi pada SIA

12
berbasis komputer sama dengan SIA berbasis manual, artinya aktivitas
yang harus dilakukan untuk menghasilkan suatu laporan keuangan tidak
bertambah ataupun tidak ada yang dihapus. SIA berbasis komputer hanya
mengubah karakter dari suatu aktivitas. Model akuntasi berbasis biaya
historis tidak cukup untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh
perusahaan pada era teknologi informasi (Elliot dan Jacobson, Gani, 1999).
Model akuntansi pada era teknologi informasi menghendaki bahwa model
akuntansi dapat mengukur tingkat perubahan sumber daya, mengukur
tingkat perubahan proses, mengukur aktiva tetap tak berwujud,
memfokuskan ke luar pada nilai pelanggan, mengukur proses pada
realtime, dan memungkinkan network.
Informasi akuntansi pada dasarnya bersifat keuangan dan terutama
digunakan untuk tujuan pengambilan keputusan, pengawasan dan
impelemntasi keputusan-keputusan perusahaan (Arnold and Hope, 1990).
Agar data keuangan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh pihak internal
maupun eksternal perusahaan, maka data tersebut harus disusun dalam
bentuk-bentuk yang sesuai. Informasi akuntansi digolongkan menjadi tiga
jenis yaitu (a) informasi operasi; (b) informasi akuntansi manajemen; dan
(c) informasi akuntansi keuangan (Anthony & Reece; 1989: 5).
a. Informasi Operasi
Informasi ini menyediakan data mentah bagi informasi akuntansi
keuangan dan informasi akuntansi manajemen. Informasi operasi yang
terdapat pada perusahaan manufaktur antara lain: informasi produksi;
informasi pembelian dan pemakaian bahan baku; informasi
penggajian; informasi penjualan; dan lain-lain (Mulyadi, 1995: 15).
b. Informasi Akuntansi Manajemen
Menurut Anthony dan Reece (1989: 6) informasi akuntansi yang
khusus ditujukan untuk kepentingan manajemen disebut informasi
akuntansi manajemen. Informasi ini digunakan dalam tiga fungsi
manajemen, yaitu:
1. perencanaan
2. implementasi
3. pengendalian
Informasi akuntansi manajemen ini dihasilkan oleh sistem pengolahan
informasi keuangan yang disebut akuntansi manajemen (Mulyadi,
1995; Hansen & Mowen, 2005). Informasi akuntansi manajemen ini
disajikan kepada manajemen perusahaan dalam berbagai laporan,
seperti anggaran, laporan penjualan, laporan biaya produksi, laporan
biaya menurut pusat pertanggungjawaban, laporan biaya menurut
aktivitas, dan lain-lain.
c. Informasi Akuntansi Keuangan
Informasi akuntansi keuangan digunakan baik oleh manajer maupun
pihak eksternal perusahaan, dengan tujuan untuk menyediakan
informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan
keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi (IAI, 2001). Informasi
akuntansi keuangan untuk pihak luar disajikan dalam laporan
keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, dan laporan
perubahan posisi keuangan. Pihak luar yang menggunakan laporan

13
keuangan meliputi pemegang saham, kreditur, badan atau lembaga
pemerintah, dan masyarakat umum dimana masing-masing pihak
tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda. Informasi ini disajikan
dan disusun berdasarkan aturan dasar yang dinamakan Standar
Akuntansi Keuangan (SAK). Standar akuntansi keuangan tersebut
dipakai untuk menyusun laporan keuangan. Laporan keuangan untuk
pihak luar menyajikan suatu gambaran menyeluruh tentang kondisi
keuangan dan hasil usaha suatu organisasi. Pihak manajemen
memerlukan informasi akuntansi keuangan yang lebih rinci (Mulyadi,
1995; Hansen & Mowen, 2005).

3.2. Peran Teknologi Informasi terhadap profesi Akuntan/Auditor


Dalam literatur manajemen strategik, Hagedoorn (1993)
menyatakan bahwa jenis respon strategik perusahaan terhadap globalisasi
akan tergantung pada jenis tipologi strategi kompetitif perusahaan,
sehingga dalam hal ini bisa dikatakan bahwa tipologi strategi kompetitif
berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan investasi
dalam teknologi informasi sebagai respon strategik terhadap globalisasi.
Keputusan untuk melakukan investasi dalam teknologi investasi
menyangkut jumlah yang sangat besar, hal ini menyebabkan faktor
kematangan teknologi informasi dan ukuran perusahaan berhubungan
dengan keinginan untuk melakukan investasi teknologi informasi sebagai
respon strategik perusahaan terhadap globalisasi (Ein Dor dan Segev,
1979; McFarlan, et al., 1983; Goslar dan Grover, 1993; serta Mata, et al.,
1995).
Berikut ini adalah kutipan dari jurnal yang dibuat oleh Staf`Dosen
Universitas Bina Darma, Dr. Dedi Rianto Rahadi, dengan judul PERANAN
TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENINGKATAN PELAYANAN DI SEKTOR
PUBLIK, dalam Seminar Nasional Teknologi 2007 (SNT 2007) di
Yogyakarta, tanggal 24 November 2007.
Davis, F.D (1989) mendefinisikan kemudahan penggunaan (ease of
use) sebagai suatu tingkatan dimana seseorang percaya bahwa komputer
dapat dengan mudah dipahami. Menurut Goodwin (1987); Silver (1988);
dalam Adam, et al., (1992), intensitas penggunaan dan interaksi antara
pengguna (user) dengan sistem juga dapat menunjukkan kemudahan
penggunaan. Sistem yang lebih sering digunakan menunjukkan bahwa
sistem tersebut lebih dikenal, lebih mudah dioperasikan dan lebih mudah
digunakan oleh penggunanya. Berdasarkan definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa kemudahan penggunaan akan mengurangi usaha (baik
waktu dan tenaga) seseorang didalam mempelajari komputer.
Perbandingan kemudahan tersebut memberikan indikasi bahwa orang
yang menggunakan TI bekerja lebih mudah dibandingkan dengan orang
yang bekerja tanpa menggunakan TI (secara manual). Pengguna TI
mempercayai bahwa TI yang lebih fleksibel, mudah dipahami dan mudah
pengoperasiannya (compartible) sebagai karakteristik kemudahan
penggunaan. Davis. F. D. (1989) memberikan beberapa indikator
kemudahan penggunaan TI antara lain meliputi;
1. Komputer sangat mudah dipelajari

14
2. Komputer mengerjakan dengan mudah apa yang diinginkan oleh
pengguna
3. Keterampilan pengguna bertambah dengan menggunakan komputer
4. Komputer sangat mudah untuk dioperasikan.
Untuk variabel kemudahan pemakaian, Iqbaria (1994) juga telah
menguji dalam studinya apakah penerimaan penggunaan mikro komputer
dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan yang diharapkan oleh
sipengguna atau karena tekanan sosial. Temuan studi Iqbaria (1994)
membuktikan bahwa TI digunakan bukan mutlak karena adanya tekanan
sosial, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan TI bukan karena
adanya unsur tekanan, tetapi karena memang mudah digunakan. (Rahadi,
2007)
Perubahan proses akuntansi akan mempengaruhi proses audit
karena audit merupakan suatu bidang praktik yang menggunakan laporan
keuangan (produk akuntansi) sebagai objeknya. Praktik auditing bertujuan
untuk memberikan opini terhadap kewajaran penyajian laporan keuangan
yang dihasilkan oleh SIA. Dengan adanya kemajuan yang telah dicapai
dalam bidang akuntansi yang menyangkut SIA berbasis komputer dalam
menghasilkan laporan keuangan, maka praktik auditing akan terkena
imbasnya. Perkembangan TI juga mempengaruhi perkembangan proses
audit.
Menurut Arens, terdapat tiga pendekatan auditing pada EDP audit,
yaitu audit sekitar komputer (auditing around the computer), audit melalui
komputer (auditing through the computer), dan audit berbantuan
komputer (auditing with computer).
Auditing around the computer adalah audit terhadap
penyelenggaraan sistem informasi komputer tanpa menggunakan
kemampuan peralatan itu sendiri, pemrosesan dalam komputer dianggap
benar, apa yang ada dalam komputer dianggap sebagai “black box”
sehingga audit hanya dilakukan di sekitar box tersebut. Pendekatan ini
memfokuskan pada input dan output. Jika dalam pemeriksaan output
menyatakan hasil yang benar dari seperangkat input pada sistem
pemrosesan, maka operasi pemrosesan transaksi dianggap benar.
Holmes dan Nicholls (1989) menjelaskan bahwa kekurangan
informasi akuntansi dalam manajemen perusahaan dapat membahayakan
operasional perusahaan. Kondisi keuangan yang memburuk dan
kekurangan catatan akuntansi akan membatasi akses untuk memperoleh
informasi yang diperlukan, sehingga akan menyebabkan kegagalan
perusahaan. Oleh karena itu penggunaan informasi akuntansi berpengaruh
terhadap perencanaan dan pengendalian perusahaan (Roberts, Dunne, dan
Ezell; 1980).
Beberapa penelitian lain mengungkapkan bahwa kelemahan
keuangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi merupakan salah satu
alasan utama kegagalan perusahaan kecil dan menengah (Peterson,
Kometsky & Ridgway, 1993; Monk, 2000). Kekurangan catatan akuntansi
akan menimbulkan masalah perpajakan atau institusi pemerintah lainnya,
dan juga menyulitkan manajer perusahaan untuk mengukur prestasi
perusahaan. Wichman (1983) menjelaskan bahwa kapabilitas akuntansi

15
merupakan faktor penting yang akan mempengaruhi kesuksesan dan
kegagalan perusahaan kecil dan menengah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan informasi akuntansi
pada usaha kecil dan menengah menurut Holmes dan Nicholls (1988)
antara lain pengetahuan akuntansi, skala usaha, jenis usaha dan
pengalaman usaha.
Holmes dan Nicholls (1988) mengklasifikasikan informasi
akuntansi dalam tiga jenis yang berbeda menurut manfaatnya bagi para
pemakai, yaitu:
a. statutory accounting information, merupakan informasi yang harus
disiapkan sesuai dengan peraturan yang ada.
b. budgetary information, yaitu informasi akuntansi yang disajikan dalam
bentuk anggaran yang berguna bagi pihak internal dalam perencanaan,
penilaian dan pengambilan keputusan.
c. additional accounting information, yaitu informasi akuntansi lain yang
disiapkan perusahaan guna meningkatkan efektifitas pengambilan
keputusan manajer.
Konsep informasi akuntansi Holmes dan Nicholls ini mencakup
seluruh informasi akuntansi yang dibutuhkan oleh perusahaan.
Menurut Cushing dan Romney (1994: 2) informasi agar dapat
bermanfaat harus memenuhi beberapa kriteria. Informasi harus dapat
diandalkan (reliable), relevan, tepat waktu, lengkap, dapat dimengerti dan
dapat diuji. Dapat diandalkan berarti bebas dari kesalahan atau bias, harus
pula menunjukkan kejadian atau aktivitas perusahaan secara tepat.
Relevan berarti informasi tersebut mempunyai manfaat bagi pemakainya.
Relevansi informasi untuk tiap-tiap orang berbeda satu sama lainnya.
Tepat waktu berarti informasi tersebut harus datang tepat waktu, karena
informasi yang usang tidak berguna bagi pengambilan keputusan. Lengkap
berarti informasi tersebut memuat seluruh data yang relevan. Informasi
tersebut dapat dimengerti jika disajikan dalam bentuk yang bermanfaat
dan dapat dicerna oleh pemakai. Informasi tersebut dapat diuji berarti dua
orang yang independen dapat memproduksi informasi yang sama.
Informasi akuntansi yang dihasilkan oleh pihak manajemen
perusahaan mempunyai beberapa karakteristik kualitatif yang harus
dimiliki. Karakteristikkarakteristik kualitatif tersebut akan membedakan
informasi yang bermanfaat dengan informasi yang kurang bermanfaat bagi
penggunanya. Dalam pemilihan metode akuntansi yang akan digunakan
perusahaan, karakteristik-karakteristik tersebut haruslah menjadi salah
satu dasar pertimbangan pemilihan metode akuntansi yang akan
digunakan. Menurut Statement of Financial Accounting (SFAC) No. 2
karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi adalah sebagai berikut:
1. Relevan maksudnya adalah kapasitas informasi yang dapat mendorong
suatu keputusan apabila dimanfaatkan oleh pemakai untuk
kepentingan memprediksi hasil di masa depan yang berdasarkan
kejadian waktu lalu dan sekarang. Ada tiga karakteristik utama yaitu:
a. Ketepatan waktu (timeliness), yaitu informasi yang siap digunakan
para pemakai sebelum kehilangan makna dan kapasitas dalam
pengambilan keputusan;

16
b. Nilai prediktif (predictive value), yaitu informasi dapat membantu
pemakai dalam membuat prediksi tentang hasil akhir dari kejadian
yang lalu, sekarang dan masa depan;
c. Umpan balik (feedback value), yaitu kualitas informasi yang
memungkinkan pemakai dapat mengkonfirmasikan ekspektasinya
yang telah terjadi di masa lalu.
2. Reliable, maksudnya adalah kualitas informasi yang dijamin bebas dari
kesalahan dan penyimpangan atau bias serta telah dinilai dan disajikan
secara layak sesuai dengan tujuannya. Reliable mempunyai tiga
karakteristik utama yaitu:
a. Dapat diperiksa (veriviability), yaitu konsensus dalam pilihan
pengukuran akuntansi yang dapat dinilai melalui kemampuannya
untuk meyakinkan bahwa apakah informasi yang disajikan
berdasarkan metode tertentu memberikan hasil yang sama apabila
diverivikasi dengan metode yang sama oleh pihak independen;
b. Kejujuran penyajian (representation faithfulness), yaitu adanya
kecocokan antara angka dan diskripsi akunatnsi serta sumber-
sumbernya;
c. Netralitas (neutrality), informasi akuntansi yang netral
diperuntukkan bagi kebutuhan umum para pemakai dan terlepas
dari anggapan mengenai kebutuhan tertentu dan keinginan
tertrentu para pemakai khusus informasi.
3. Daya Banding (comparability), informasi akuntansi yang dapat
dibandingkan menyajikan kesamaan dan perbedaan yang timbul dari
kesamaan dasar dan perbedaan dasar dalam perusahaan dan
transaksinya dan tidak semata-mata dari perbedaan perlakuan
akuntansinya.
4. Konsistensi (consistency), yaitu keseragaman dalam penetapan
kebijaksanaan dan prosedur akuntansi yang tidak berubah dari periode
ke periode.
Pada audit tradisional, bukti yang dikumpulkan adalah bukti
historis, sedangkan dalam continuous audit rentang waktu yang diperlukan
antara terjadinya transaksi, proses pemerolehan bukti audit sampai
terbitnya laporan audit sangatlah singkat. Dengan demikian dalam
continuous audit, waktu untuk menjalankan penugasan sangat terbatas,
sehingga jika akuntan publik tidak dapat memanfaatkan waktu yang
singkat tersebut, maka laporan audit akan kehilangan relevansinya. Untuk
itu, akuntan publik harus memastikan terlebih dahulu bahwa sistem
informasi akuntansi perusahaan adalah sistem yang andal sehingga
laporan atau output yang dihasilkan andal dan tidak mengandung salah
saji secara material (Pinnarwan 2001) Akuntan publik harus dapat
memahami pengendalian internal dalam lingkungan e-commerce baik yang
bersifat preventif maupun detektif. Dalam proses continuous audit akuntan
publik harus dapat menggunakan software audit yang akan lebih
bermanfaat apabila dapat terintegrasi dengan sistem informasi
perusahaan klien sehingga memungkinkan audit dilakukan bersamaan
waktunya dengan perusahaan klien yang sedang melakukan pemrosesan
transaksi (embedded audit module). Oleh karena itu, continuous audit
mensyaratkan agar akuntan memiliki kompetensi dalam aspek

17
penguasaan teknologi informasi, meskipun sesungguhnya kompetensi ini
dulunya bukan kompentensi inti disiplin ilmu akuntansi Peluang lain yang
sangat luas terbuka bagi akuntan adalah peluang dibidang assurance
services. Elliot Committee atau The AICPA’s Special Committee on Assurance
Services mendefinisikan assurance services sebagai independent
professional services that improve the quality of information, or is context for
decision makers. Komite ini juga mendefinisikan bahwa assurance services
adalah jenis pekerjaan baru akuntan yang lebih luas lingkupnya daripada
audit atas laporan keuangan yang merupakan jasa tradisional yang dapat
diberikan oleh akuntan publik.
Seperti tercantum dalam SAS 78, e-commerce memberikan
pengaruh pada luas dan metode atas penugasan traditional assurance
services dalam hal internal kontrol, pemrakiraan resiko audit dan prosedur
perencanaan audit (Greenstein dan Feinman 2000). Informasi yang
menjadi bahan oleh dalam assurance services bukan hanya informasi
keuangan, tetapi juga meliputi informasi non keuangan. Tujuan dari
assurance services adalah perbaikan informasi dan bukan pada
tersusunnya laporan, meskipun mungkin bisa juga dalam bentuk
tersusunnya laporan. Contohnya adalah terjadinya perbaikan informasi
tentang proses atau sistem tertentu seperti internal kontrol atau model
pengambilan keputusan. Contoh lain adalah informasi tentang sebuah
produk atau pernyataan pihak lain atas atribut produk tertentu, dimana
semua perbaikan informasi tersebut dapat berguna untuk pengambilan
keputusan baik pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pihak
internal maupun oleh pihak eksternal. Dengan demikian audit atas laporan
keuangan hanyalah merupakan salah satu bagian dari assurance services
(Alles, et al., 2002)
Lebih jauh mengenai perkembangan dan perbedaan assurance
services pada masa dahulu dan masa yang akan datang dapat dilihat pada
gambar 1 dibawah ini. Tampak bahwa dalam lingkungan bisnis elektronik
akan menyebabkan akuntan tidak hanya akan menghasilkan opini atau
pendapat audit tapi lebih pada memberikan assurance atau pernyataan
mengenai keyakinan bahwa informasi yang dihasilkan atau disajikan oleh
pihak tertentu adalah informasi yang berkualitas dan dapat dipercaya
sehingga menimbulkan kepercayaan dalam bertransaksi. Sedangkan
waktu pelaksanaan pekerjaan tersebut bukan hanya tahunan tapi
berkesinambungan untuk mengimbangi sistem bisnis yang semakin
menuju kearah online real time.
Gambar 1. Perbandingan Historical dan Future Assurance Services
Historical Service Future Service
Annual Continuous
Opinion Assurance
On financial statement On user-chosen information
For investors and creditors For decision makers
Error focus Fraud focus
Auditee pays User pays ?
Independence Independence ?
(Sumber: Elliott 2002: 140)

18
Contoh tipe assurance services yang dapat dilakukan oleh akuntan
adalah a web assurance services, yaitu SysTrust dan WebTrust. Keduanya
dikembangkan secara bersama-sama oleh AICPA dan CICA (organisasi
akuntan publik Kanada). SysTrust berhubungan dengan masalah security,
integrity, availability, dan maintainability dari sebuah sistem informasi
bisnis. Sedangkan WebTrust diterapkan untuk ecommerce dalam kaitannya
dengan masalah security, availability, business practices dan transaction
integrity. Jika web assurance services, yaitu SysTrust dan WebTrust
diterapkan semuanya pada perusahaan maka berarti transaksi yang
terjadi dengan bisnis tersebut adalah transaksi yang dapat dipercaya.
Perusahaan yang sudah diverifikasi sistem informasinya oleh AICPA ini
akan dapat menggunakan stempel atau logo WebTrust. Logo pada website
ini berarti bahwa website telah dinilai oleh akuntan publik dan pendapat
yang diberikan adalah wajar tanpa perkecualian atau unqualified opinion
atas penerapan standar, prinsip dan kriteria suatu website yang sesuai
dengan standar (Franky 2001). Masyarakat dapat mengklik ikon logo
WebTrust untuk melihat laporan akuntan yang ada. Akuntan publik harus
senantiasa melakukan penilaian kembali atas website tersebut minimal 6
bulan sekali dan setiap kali perusahaan melakukan perubahan isi website
yang akan memiliki dampak terhadap criteria WebTrust maka perusahaan
harus melaporkan kepada akuntan publik untuk dinilai kembali. Inilah
peranan akuntan sebagai pihak ketiga yang independen. Perbedaan
SysTrust dan WebTrust dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.
A Web of Assurance

(Sumber: Elliott 2002: 142)


Pada intinya jasa yang diberikan untuk pekerjaan diatas adalah jasa
E-commerce Integrity and Security Assurance. Integrity assurance system
akan meyakinkan bahwa elemen data yang ditangkap dalam transaksi
elektronik adalah transaksi yang sudah disepakati dan bahwa prosedur
pemrosesan data transaksi dan penyimpanannya telah
mempertimbangkan unsur integrity atas elemen data dan meyakinkan
bahwa data transaksi tidak berubah selama ditransmisikan. Sedangkan
security assurance system meyakinkan bahwa telah authentication atas
pihak-pihak yang bertransaksi telah diverifikasi dan bahwa data
elektronik telah dilindungi dari pengungkapan informasi yang tidak atau
belum diotorisasi.
Jenis assurance services yang lain adalah E-commerce System
Reliability Assurance. Gambar 3 penjelaskan tentang kebutuhan informasi
yang berkualitas dari trading partnernya. Untuk memenuhi kebutuhan ini,
maka keandalan server dan informasi menjadi syarat utama. Keandalan
server atau server reliability menjamin pemakai yang sudah memiliki
otorisasi untuk dapat mengakses informasi pada saat yang dibutuhkan.
Jadi pada saat user mengambil informasi dari website, dengan segera

19
server harus dapat memberikan responnya. Informasi yang dikirimkan
oleh server adalah informasi yang akurat dan informasi yang terkini yang
berguna untuk pengambilan keputusan.
Gambar 3. Reliable Information Systems

(Sumber: Greenstein and Feinman 2000: 36)


Assurance services juga dapat berupa risk assessment assurance. Risk
assessment adalah proses untuk melakukan identifikasi, analisis, dan
pengelolaan resiko yang dapat mempengaruhi pencapaian tujuan
manajemen. Sesungguhnya akuntan telah biasa melakukan pekerjaan risk
assessment pada waktu melakukan audit keuangan, yaitu pada saat
menentukan efektifitas pengendalian internal perusahaan atau
menentukan control risk. Jadi hanya merupakan perluasan ruang lingkup
pekerjaan risk assessment yang sebelumnya telah ada.

3.3. Perkembangan Teknologi Informasi terhadap Akuntansi


Perkembangan teknologi yang luar biasa juga berdampak pada
perubahan ilmu akuntansi modern (Basuki, 2000: 173). Bila dihubungkan
dengan kelompok usaha kecil dan menengah tampaknya pemahaman
terhadap akuntansi masih berada pada tataran pertama dan kedua yaitu
sebagai alat hitung-menghitung dan sebagai sumber informasi untuk
pengambilan keputusan (Basuki, 2000: 174).

20
Informasi akuntansi merupakan alat yang digunakan oleh pengguna
informasi untuk pengambilan keputusan (Nicholls dan Holmes, 1988: 57),
terutama oleh pelaku bisnis. Dimana informasi akuntansi diharapkan
dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang bisa mengukur dan
mengkomunikasikan informasi keuangan tentang kegiatan ekonomi.
Informasi akuntansi sangat diperlukan oleh pihak manajemen perusahaan
dalam merumuskan berbagai keputusan dalam memecahkan segala
permasalahan yang dihadapi perusahaan. Informasi akuntansi yang
dihasilkan dari suatu laporan keuangan berguna dalam rangka menyusun
berbagai proyeksi, misalnya proyeksi kebutuhan uang kas di masa yang
akan datang. Dengan menyusun proyeksi tersebut secara tidak langsung
akan mengurangi ketidakpastian, antara lain mengenai kebutuhan akan
kas (Sutapa, Rusdi, dan Kiryanto, 2001: 200).
Holmes dan Nicholls (1989) mengungkapkan bahwa informasi
akuntansi yang banyak disiapkan dan digunakan perusahaan kecil dan
menengah adalah informasi yang diharuskan menurut undang-undang
atau peraturan (statutory). Selain itu, informasi akuntansi yang seharusnya
dibutuhkan oleh manajemen perusahaan kecil dan menengah dalam
pengggunaan informasi akuntansi sangat terbatas sekali. Philip (1977)
mengungkapkan banyak kelemahan dalam praktik akuntansi pada
perusahaan kecil. Kelemahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor,
antara lain pendidikan dan overload standar akuntansi yang dijadikan
pedoman dalam penyusunan pelaporan keuangan (William, et al., 1989;
Knutson dan Henry, 1985; Nair dan Rittenberg, 1983; Wishon, 1985;
Murray, et al., 1983).
Dari uraian tersebut jelas bahwa industri menengah banyak
mengalami kesulitan dalam memahami informasi akuntansi dengan baik.
Padahal dengan semakin ketatnya persaingan bisnis dalam era globalisasi
ekonomi, hanya perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif yang
akan mampu memenangkan persaingan. Keunggulan tersebut diantaranya
adalah kemampuan dalam mengelola berbagai informasi, sumber daya
manusia, alokasi dana, penerapan teknologi, sistem pemasaran dan
pelayanan. Sehingga manajemen perusahaan yang profesional merupakan
tuntutan yang harus segera dipenuhi untuk dapat melaksanakan kegiatan-
kegiatan perusahaan secara baik. Melihat begitu banyak peranan dan
manfaat informasi akuntansi dalam menciptakan arus informasi keuangan
guna menunjang kelangsungan hidup (going concern) industri menengah,
maka dalam mini paper ini penulis paparkan mengenai pengetahuan
akuntansi, skala usaha, pengalaman usaha dan jenis usaha terhadap
penggunaan informasi akuntansi pada industri menengah.
Belkaoui (2000) mendefinisikan informasi akuntansi sebagai
informasi kuantitatif tentang entitas ekonomi yang bermanfaat untuk
pengambilan keputusan ekonomi dalam menentukan pilihan-pilihan
diantara alternatif-alternatif tindakan. Penggunaan informasi akuntansi itu
untuk perencanaan strategis, pengawasan manajemen dan pengawasan
operasional (Anthony, 1965; Simons, 1991).

21
3.4. Krisis Akuntan menurut Belkaoui terkait dengan Teknologi Informasi
Pada tahun 1989 Belkaoui menulis buku dengan judul The Coming
Crisis in Accounting yang membahas krisis akuntansi yang mungkin
muncul dari hal-hal sebagai berikut:
1. Profesi Akuntan
Dalam profesi akuntan terjadi penurunan remunerasi, penurunan
jumlah tenaga kerja, peningkatan porsi jasa konsultasi dan
pengurangan jasa akuntan/auditing. Akuntan yang selama ini dianggap
borjuis justru menjadi proletar. Di samping itu, ada juga anggapan
bahwa akuntan sebetulnya bukan tergolong sebagai profesi karena
ketidakmampuan menjadi independen dan otonom dari langganannya
dan kehilangan monopolinya atas jasa informasi akuntansi yang saat
ini banyak di-supply oleh TI.
2. Kecurangan dalam lingkungan akuntansi
Kecurangan adalah tindakan kriminal. Banyak tindakan kecurangan
yang dilakukan korporasi maupun kecurangan yang melibatkan
akuntan khususnya melalui laporan keuangan. Public menganggap
meningkatnya kecurangan ini tidak lepas dari kegagalan profesi
akuntan. Bahkan di tanah air akuntan sering juga dicap “tukang angka”
yang bisa menentukan jumlah laba atau rugi perusahaan. Kasus factual
telah banyak terjadi mendukung anggapan ini sehingga akuntan
berada di ambang krisis.
3. Menurunnya work load dalam proses akuntansi
Karena kemajuan komputer, tugas-tugas akuntansi sudah bisa
dilakukan oleh software yang user friendly sehingga tidak
memerlukan keahlian akuntansi lagi. Dengan demikian, beban kerja
dari seorang ahli akuntan semakin terbatas yang akan menimbulkan
krisis profesi akuntan.
4. Iklim organisasi dikantor akuntan
Kantor akuntan adalah fakultas kedua setelah fakultas ekonomi. Kantor
akuntan hanya sebagai batu loncatan untuk memasuki dunia bisnis lain
yang lebih menggiurkan. Bahkan turn over perpindahan kerja, di kantor
akuntan cukup tinggi, career path tidak jelas, job description yang tidak
tegas, semakin kabur, dan bahkan semakin tingginya konflik internal
dalam kantor akuntan itu sendiri. Bahkan jasa yang akan dibolehkan
diberikan oleh akuntan semakin di atur dan dibatasi seperti baru-baru
ini diberlakukan oleh SEC di USA, di mana akuntan tidak bias bebas
memberikan beberapa jasa pada perusahaan yang sama karena
dianggap mengurangi independensi.
5. Problema produksi ilmu pengetahuan dalam akuntansi
Ilmu pengetahuan paling tidak saat ini dari proses akademik
sedangkan akuntansi adalah kebutuhan profesi yang berkembang
secara praktik dalam dunia bisnis. Sering terjadi antara hasil proses
ilmu pengetahuan dari proses akademik sering tidak match atau tidak
sesuai dengan keinginan atau kebutuhan dunia praktik sehingga terjadi
gap antara dunia akademis dengan dunia profesi. Banyaknya keluhan
ditemukan pasar bahwa apa yang diajarkan di bangku kuliah tidak
relevan dengan apa yang diinginkan pasar atau user dari tenaga

22
akuntan yang dihasilkan perguruan tinggi itu. Jika hal ini berjalan terus
maka akuntansi juga akan mengalami krisis.
Disamping itu semua, Belkaoui (2006) mempertanyakan apakah
akuntan itu benar sebagai profesi atau tidak. Menurut beliau paling tidak
ada persyaratan jika ingin disebut sebagai suatu profesi, yaitu:
a. Memiliki disiplin ilmu pengetahuan
b. Otonom dalam melaksakan profesinya
c. Memiliki perasaan solidaritas kelompok yang paling setia
d. Bisa mengatur sendiri praktik
e. Memerlukan izin praktik
f. Memiliki kekuasaan atas langganannya
g. Memiliki kode etik.
Menurut Belkaoui akuntan saat ini tidak memiliki otonomi yang
cukup kepada client/langganan dalam melaksanakan profesinya dan tidak
memiliki kekuasaan atas langganan. Kemudian, dengan berkembangnya
ilmu komputer maka kompleksitas profesi menjadi berkurang akibat
kemampuan komputer menyabot sebagian besar fungsi akuntan terutama
dalam penyajian laporan keuangan. Dari sini Belkaoui menyimpulkan
bahwa akuntansi berada dalam situasi apakah sebagai “yang tidak murni
profesi” atau berada pada proses bertahap “deprofessionalisasi”.

3.5. Penerapan Teknologi Informasi dalam Akuntansi Manajemen


Berikut ini adalah beberapa contoh implementasi teknologi
informasi dalam akuntansi manajemen. Penerapan EDI dalam Just In Time
(JIT) menawarkan pengendalian persediaan, mengarahkan orientasi pada
kualitas dan efisiensi tenaga kerja. EDI juga memberikan peluang pada
akuntan manajemen dalam meningkatkan kualitas yang berkaitan dengan
production, shedulling, sales forecasting, mempercepat internal response
time, berhubungan secara lebih dekat dengan pelanggan, dan membantu
manajemen dalam meningkatkan pengendalian aktivitas bisnis. Dalam
Activity Based Costing (ABC), teknologi informasi dapat diterapkan untuk
mengolah informasi biaya sehingga dapat memberi kejelasan mengenai
sumber atau penyebab dari pos-pos biaya secara cepat dan terorganisasi.
Sedangkan dalam Total Quality Control (TQC), teknologi informasi
dapat diterapkan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan sehingga
memungkinkan menghasilkan produk yang sempurna (zero-defect) dan
mutu produk merupakan tanggung jawab dari semua bagian.
Perkembangan teknologi informasi dalam akuntansi manajemen juga
dapat menyediakan informasi tentang korelasi antara biaya dan waktu
dengan cepat dan relevan. Hal ini menjadikan manajer mampu merespon
perubahan kondisi pasar secara cepat dan tepat. Selain itu, penerapan
manufacturing cell dapat mempercepat waktu yang digunakan untuk
produksi dan menurunkan biaya produksi.
Munculnya Computer–Integrated Manufacturing (CIM) juga
merupakan salah satu bentuk penerapan teknologi informasi. CIM
mengaplikasikan beberapa kemampuan. Yang pertama, produk dirancang
melalui pemanfaatan sistem rancangan komputer (Computer-Assisted
Design/CAD). Yang kedua, rancangan diuji dengan menggunakan sistem
rekayasa komputer (Computer-Assisted Engineering/CAE). Yang ketiga,

23
produk dibuat dengan menggunakan sistem (Computer-Assisted
Manufacture/CAM). CAM menggunakan mesin dan robot yang
dikendalikan oleh komputer. Yang keempat, sistem informasi yang
menghubungkan berbagai macam komponen terotomatisasi. Salah satu
ciri CAM adalah sistem manufaktur yang fleksibel, yaitu sistem yang
mampu membuat produk yang dimulai dan diakhiri dengan menggunakan
robot serta alat-alat otomatis yang dikendalikan oleh komputer
mainframe. Kemampuan menghasilkan berbagai produk yang sama ini
merupakan suatu keunggulan. Tantangan bagi akuntan manajemen
lainnya adalah berupa tekanan luar yang berasal dari partner dagang
(internal pressure). Banyak perusahaan dan organisasi yang menyadari
bahwa mereka tidak dapat melanjutkan aktivitas usahanya bila tidak
bergabung dengan Information Technology Network. Perusahaan yang
ketinggalan dalam menerapkan teknologi informasi akan sulit
berkomunikasi dengan yang lain disamping tidak dapat bersaing.
Sedangkan perusahaan yang telah mengimplementasikan teknologi
informasi merasa enggan untuk berhubungan dengan perusahaan yang
belum mengimplementasikan teknologi informasi.
Akuntan manajemen juga harus mempertimbangkan pesatnya
perkembangan teknologi informasi. Mereka harus mampu menyesuaikan
tingkat perkembangan perusahaan dengan tersedianya perangkat keras
dan perangkat lunak yang ada. Implementasi teknologi informasi harus
mempertimbangkan bukan hanya biaya investasi saja, melainkan juga
biaya perawatan dan biaya operasi, termasuk biaya tenaga ahli dan
pemakaian jaringan pada pihak ketiga. Akhirnya, dalam mengadopsi dan
mengimplementasikan teknologi informasi harus juga disesuaikan dengan
kultur atau budaya manusia secara umum. Jangan sampai dalam
mengadopsi dan mengimplementasikan teknologi informasi tersebut
hanya melihat dari sisi teknologinya saja tanpa mempertimbangkan
konteks social dan kultur di negara asal yang kondisinya jauh berbeda.
Dari gambaran diatas, terdapat suatu fenomena yang menarik, yaitu sistem
informasi dan teknologi yang canggih akan memberikan peluang untuk
membuat organisasi lebih hidup.
Akuntan harus tetap memberikan keyakinan pada pihak-pihak yang
melakukan transaksi bahwa dengan adanya pemanfaatan teknologi, maka
keamanan transaksi tidak perlu menjadi satu masalah yang perlu
dikhawatirkan. Akuntan bersama–sama dengan praktisi lain dibidang
teknologi informasi, misalnya programmer dapat memberikan jasa
penyusunan sistem akuntansi berbasis komputer dan desain pengendalian
internalnya, membangun database akuntansi dan keuangan yang
terintegrasi, merancang program-program yang dapat membantu
pengambilan keputusan manajerial secara cepat dan akurat dan
sebagainya.

3.6. Teknologi Informasi XBRL sebagai Trend Akuntansi Akuntan


Software akuntansi amat beragam, diantaranya Zahir Accounting,
MYOB, Accurate, dll.
Beberapa waktu belakangan ini AICPA sedang dan terus bekerja
untuk mengembangkan XBRL atau eXtensible Business Reporting Language

24
specification untuk menggantikan penggunaan format HTML (Hyper Text
Mark-up Language).
Asal XBRL dapat ditelusuri kembali ke awal era tahun 1990. Pada
waktu itu, perancang software bemama Jon Bosak menyadari bahwa
kelemahan dasar HTML adalah ketidak mampuannya menjelaskan isi data
yang disajikan. Bosak menyajikan World Wide Web Consortium (W3C)
untuk mensponsori pengembangan sebuah bahasa yang memiliki
kemampuan ini. Proyek tersebut mengantar Bosak dan dua pembuat
software lainnya membuat bahasa pemrograman yang disebut XML, yang
merupakan kepanjangan dari eXtensible Markup Language. XML adalah
alat umum yang dapat memberi tanda data apa pun dengan penanda untuk
ideniifikasi.
XML adalah sebuah langkah ke arah yang tepat. Akan tetapi, Charles
Hoffinan, seorang akuntan publik yang bekerja di kantor akuntan publik
lokal bertempat di Tacoma, Washington, menyadari bahwa XML tidak
cukup untuk dapat menjadi bahasa tujuan umum dalam
mengkomunikasikan informasi keuangan. Hal yang diperlukan adalah
kemampuan untuk tidak hanya mengidentifikasi setiap bagian data, tetapi
bagaimana data tersebut diproses serta bagaimana hubungannya dengan
data lainnya. Hoffman mulai bekerja untuk menambah kemampuan XML,
tetapi menyadari bahwa proyek tersebut membutuhkan dukungan
tambahan. Dia mencari dan mendapatkan bantuan dari AICPA untuk
mengejar pengembangan rangkaian prototype laporan keuangan dengan
XML yang telah ditingkatkan.
Sepanjang kemajuan proyek tersebut, hasilnya dibagi dengan
perusahaan software besar. Mereka mengetahui nilai dari bahasa bisnis
umum semacam itu dan bergabung dalam proyek tersebut. Akhimya,
banyak perusahaan software terkemuka, dan kelompok pemakai yang
penting, bergabung dalam usaha bersama AICPA. Hasilnya adalah: XBRL.
Para vendor saat ini bekerja untuk membuat berbagai software keuangan
dan pendukung keputusan, yang mampu untuk mendukung XBRL. Contoh
untuk industri tertentu sedang dikembangkan. Pekerjaan yang hampir
sama dimulai di banyak negara lainnya. XBRL sedang berusaha menjadi
bahasa komputer global untuk mengkomunikasikan data keuangan.
Kesemuanya itu berasal dari seorang akuntan publik yang mencari cara
lebih baik untuk menyebarkan data keuangan di Internet. Sumber: Stanley
Zarowin dan Wayne E. Harding, “Finally, Business Talks the Same
Language,” Journal of Accountancy (Agustus 2000): 24-30.
Dengan HTML, tercipta situs web yang dapat diakses di mana saja,
sehingga dapat melihat (dari sisi eksternal) atau menyajikan (dari sisi
internal) laporan keuangan perusahaan.
Walaupun demikian, hingga saat ini, penyebaran informasi
keuangan dan nonkeuangan secara elektronis adalah proses yang lamban
dan tidak efisien. Salah satu masalahnya adalah banyak penerima memiliki
permintaan berbeda berkaitan tentang cara informasi dikirim. Hal ini
berarti organisasi harus mengorbankan banyak waktu dan biaya untuk
memformat informasi yang sama dalam bemacam cara. Masalah kedua
yang berhubungan adalah penerima harus secara manual memasukkan
kembali banyak dari informasi tersebut ke dalam alat analisis keputusan

25
milik mereka. Contohnya, penerima harus secara manual memasukkan
kembali informasi dari laporan keuanganyang disajikan dalam dokumen
HTML ke dalam spreadsheets EXCEL, agar informasi tersebut dapat
dianalisis.
Penyebab dasar dari kedua masalah tersebut terletak pada metode
yang digunakan untuk memperlihatkan informasi di Internet. Kode HTML
hanya menspesifikasikan bagaimana bagian data tertentu harus
ditampilkan (contohnya, lokasinya dan karakter hurufnya), tetapi tidak
memberikan cara untuk secara otomatis mengidentifikasi bahwa bagian
data tertentu tersebut menyajikan jumlah dari penjualan tahun ini.
Kesemua hal ini berubah dengan adanya perkembangan XBRL, yang
merupakan varian dari XML (eXtensible Mark-up Language). Bahasa untuk
semua tujuan ini didesain untuk memberikan cara mengkomunikasikan isi
data. HTML menggunakan label untuk menunjukkan bagaimana data di-
format. Contohnya, tag code/ label <b> menunjukkan bahwa semua teks
selanjutnya hingga label </b> ditampilkan dalam huruf tebal. XBRL
menggunakan jenis label yang hampir sama untuk mengidentifikasi isi
setiap bagian data. Contohnya label XBRL dapat menunjukkan bahwa
bagian data berikutnya mewakili piutang usaha.
Kini, sebagian besar orang dapat membuat halaman Web tanpa
harus secara langsung menulis kode HTML, karena produk seperti
Microsoft Word, membuat kode HTML secara otomatis dengan pilih “Save
as HTML." Sebagian besar penjual software utama membuat fungsi yang
hampir sama ke dalam produk-produk mereka untuk membuat XBRL
mudah digunakan. Jadi, para profesional akuntan dan sistem informasi
tidak akan perlu mengetahui cara untuk menulis kode XBRL untuk
mengambii keuntungan dari manfaat yang ditawarkannya.
XBRL memberikan dua manfaat utama dalam pembuatan dan
penyebaran data keuangan secara elektronis. Pertama, XBRL
memungkinkan organisasi untuk mempublikasikan informasi hanya sekali,
dengan menggunakan label XBRL. Saat ini, data keuangan dapat dikirim ke
satu pihak sebagai dokumen HTML, ke pihak lainnya sebagai file PDF,
biasanya Adobe Acrobat, ke lainnya sebagai file teks, dan ke pihak lainnya
sebagai file comma-delimited, biasanya dapat dibuka dengan Micosoft
EXCEL. Proses ini menimbulkan biaya yang tidak perlu. Sebaliknya, file
XBRL yang sama dapat dikirim ke setiap pihak tersebut, yang dapat
kemudian menggunakan file tersebut dalam cara seperti yang mereka
kehendaki. Jadi, dengan XBRL, perusahaan dapat mempublikasikan
laporan keuangan mereka bersamaan dalam format yang dapat digunakan
semua orang.
Manfaat kedua dari XBRL adalah informasi yang diberikan oleh
label XBRL, dapat diartikan. Hal ini berarti para penerima tidak perlu lagi
secara manual memasukkan kembali data yang mereka dapatkan secara
elektronis, agar alat pendukung keputusannya dapat menganalisis
informasi tersebut. Sebagai gantinya, jika data berisi label XBRL, data
tersebut dapat dimasukkan secara langsung ke alat analisis apa pun yang
dapat membaca XBRL. Hal ini juga berarti bahwa pencarian data di
Internet akan lebih efisien dan akurat.

26
Contohnya, sebelum XBRL, pencarian di Internet atas informasi
mengenai kewajiban kontinjensi akan menghasilkan ratusan situs,
sebagian besar tidak berkaitan dengan keuangan yang dicari. Akan tetapi,
dengan data yang disertai tag XBRL, pencarian tersebut akan terbatas pada
informasi mengenai kewajiban kontinjensi yang dilaporkan dalam laporan
keuangan.
XBRL tentu saja penting dalam perkembangan TI. XBRL juga
berharga karena profesi akuntansi memulai perkembangan XBRL. Proses
perkembangan XBRL memberikan gambaran bagus tentang bagaimana
para akuntan dapat secara aktif terlibat dalam perkembangan TI yang
sedang berjalan.
Before XBRL, there was no generally accepeted format for business
reporting data (AICPA online). Dengan XBRL akan tersusun pelaporan
keuangan dalam format standar yang memungkinkan terjadinya translasi
dan sharing informasi atas pelaporan keuangan yang dihasilkan tersebut.
XBRL uses accepted financial reporting standards and practices to exchange
financial statements across all software and technologies, including the
Internet (Reuters 2000).
Keberadaan XBRL yang dapat digunakan untuk menyiapkan
laporan keuangan dalam format yang bisa dioperasikan dalam berbagai
aplikasi berarti mengurangi kebutuhan untuk menyiapkan laporan
keuangan dalam format yang berbeda. Oleh karenanya akan terjadi
penghematan waktu, biaya dan kesalahan data tertentu pada berbagai
dokumen. Meskipun masih banyak pro kontra dikalangan profesi akuntan
di AS, namun demikian beberapa perusahaan besar seperti Microsoft,
Deutsche Bank, perusahaan The Australia Prudential Regulatory Authority
(APRA), dan perusahaan besar lain telah mengadopsi penggunaan XBRL
untuk penyusunan pelaporan keuangan perusahaan mereka. Sebagian
akuntan yang pesimis dengan adopsi teknologi menyatakan bahwa sudah
selayaknya akuntan kembali pada panggilan awalnya (back to basic)
dengan mengingat pelajaran yang didapat dari kasus bangkrutnya
perusahaan besar Enron. Dokumen elektronik dan real time accounting
systems ini menyebabkan perubahan peran akuntan publik pada pekerjaan
yang terkait dengan proses pelaporan laporan keuangan, termasuk
didalamnya adalah pemrakiraan resiko audit dan exposure yang mungkin
timbul. Untuk dapat melakukan penugasan dalam lingkungan sistem
informasi akuntansi yang sudah online real time, akuntan publik harus
dapat terus mengembangkan teknologi audit untuk kepentingan
continuous audit techniques (Rezaee, et al., 2002).

3.7. XBRL di Departemen Keuangan Indonesia


Kutipan berikut adalah bersumber dari situs BAPEPAM
http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/publikasi_pm/info_pm/xbrl/id/
index.htm.
Salah satu tugas utama regulator keuangan di seluruh dunia saat ini
adalah bagaimana meningkatkan sistem pengawasan mereka secara
elektronik untuk memastikan bahwa data dan informasi yang disampaikan
oleh institusi-institusi yang diawasinya adalah benar dan akurat. Hal
tersebut sangat terkait dengan kebutuhan investor dalam mengakses data

27
dan informasi secara mudah dan cepat, sebagai dasar pengambilan
keputusan bisnis mereka.
Mengantisipasi tantangan tersebut, para regulator mulai memikirkan
bagaimana mereka dapat meningkatkan kemampuan sistem monitoring
elektronik mereka sekaligus mampu menghasilkan data dan informasi
yang cepat, akurat, dan relevan bagi kepentingan para penggunanya.
Beberapa regulator telah mulai melakukan evaluasi terhadap sistem
mereka dan BAPEPAM mengimplementasi XBRL sebagai salah satu solusi
jawaban atas kebutuhan tersebut.
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM
dan LK) Departemen Keuangan RI, sebagai salah satu regulator, memiliki
peranan penting yang berkaitan dengan penyampaian laporan (termasuk
laporan keuangan). Peranannya menjadi semakin penting mengingat
semakin meingkatnya jumlah intitusi-institusi yang akan diawasi. Dengan
mengembangkan sistem pelaporan secara elektronik via internet serta
didukung dengan implementasi XBRL, Bapepam-LK diharapkan dapat
meningkatkan kemampuannya sebagai salah satu sumber informasi dan
data keuangan yang penting di masa mendatang. Sebagai informasi,
implementasi sistem pelaporan elektronik di industri Pasar Modal
Indonesia juga sudah ditetapkan di Cetak Biru Pasar Modal Indonesia
2005-2009 dan diharapkan bisa dimanfaatkan pada tahun 2006 ini.
Untuk mengeksplorasi manfaat dan penggunaan XBRL tersebut,
Bapepam-LK telah mengirimkan dua orang pegawainya untuk melakukan
observasi (internship) di International Accounting Standards Committee
Foundation (IASCF) XBRL Team, London, UK. Observasi tersebut dilakukan
selama satu bulan (18 Juli 2006 - 15 Agustus 2006), dengan bantuan
pendanaan dari World Bank (ASEM Grant). Melalui observasi tersebut
diharapkan akan meningkatkan pemahaman yang lebih lengkap mengenai
bagaimana memanfaatkan XBRL dikaitkan dengan rencana pengembangan
sistem pelaporan secara elektronik (e-reporting) yang saat ini akan mulai
dikembangkan di industri pasar modal.
Situs ”XBRL Initiative” ini ditujukan sebagai sarana untuk
menyebarkan informasi mengenai hasil observasi. Suatu model (show
case) telah dikembangkan bersama IASC Foundation XBRL Team. Selain
untuk mempermudah pemahaman publik terhadap pemanfaatan XBRL,
model tersebut diharapkan dapat digunakan menjadi bahan pertimbangan
lebih lanjut mengenai kajian dan rencana implementasi XBRL di Indonesia.
Wikipedia menyebutkan, XBRL (Extensible Business Reporting
Language) adalah suatu standar terbuka berbasis XML yang mendukung
pemodelan informasi serta ekspresi makna semantik yang biasanya
dibutuhkan oleh pelaporan bisnis. Salah satu penggunaan XBRL adalah
untuk mendefinisikan serta mempertukarkan informasi keuangan seperti
laporan keuangan. Komunikasi ini ditentukan oleh metadata yang disusun
dalam taksonomi. Taksonomi tersebut menggambarkan definisi konsep
laporan individu serta hubungan antara konsep-konsep tersebut dan
makna semantik lainnya. XBRL menggunakan sintaks XML serta teknologi
berbasis XML lainnya seperti XML Schema, XLink, XPath, Namespace, dll
untuk menjelaskan pengertian semantiknya. Spesifikasi XBRL
dikembangkan dan dipublikasikan oleh XBRL International, Inc. (XII).

28
Akan sangat susah bagi kita untuk menganalisis laporan keuangan
yang berbentuk PDF, XLS, dll. apalagi Jika ada 10 macam laporan
keuangan dengan format yang berbeda-beda. Untuk membuat hasil
analisis yang benar-benar comparable, mungkin saja kita akan banyak
mengalami kesulitan. Dengan XBRL, semua itu akan mudah untuk kita
lakukan, karena XBRL memiliki Format yang sudah terstandar, sehingga
menghasilkan informasi dan data yang comparable dan mudah untuk
dianalisis, selain itu juga dapat dilakukan validasi secara otomatis,
sehingga meminimkan kesalahan input. Hasil analisis dengan XBRL
tersebut kemudian juga dapat diolah kembali menjadi format yang
diinginkan: PDF, HTML, Excel, CSV, TXT, dll.
XBRL ini dapat meningkatkan kemudahan akses informasi finansial,
terutama bagi investor internasional, karena XBRL menerapkan suatu
standar identifikasi informasi. Investor luar negeri dimungkinkan
melakukan analisis mereka secara mandiri serta melakukan perbandingan
dengan menggunakan bahasa mereka sendiri. Dan tentu saja akan
mempercepat pengambilan keputusan bisnis.

29
BAB IV

KESIMPULAN & REKOMENDASI

4.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari mini paper atas paparan yang telah dilakukan
adalah, dengan adanya komputer dan komputerisasi maka beberapa
keuntungan terhadap perusahaan dan dari sisi akuntan/akuntansi dapat
dicapai, diantaranya yaitu:
1. Memperbaiki kualitas informasi laporan keuangan dan menghitung
biaya (terkait disiplin ilmu akuntansi manajemen) dalam
menghasilkan produk atau jasa.
2. Meningkatkan efisiensi dalam pengeluaran biaya.
3. Memperbaiki dan memberikan feedback pengambilan keputusan
dalam pengembangan.
4. Berbagi pengetahuan, dan meningkatkan perkembangan disiplin ilmu.
5. Menghasilkan informasi yang relevan, andal, lengkap, tepat waktu,
dapat dipahami, dan dapat diverifikasi, sesuai dengan tujuan laporan
akuntansi.
6. XBRL sebagai media baru yang dapat dimaksimalkan dalam distribusi
informasi dan mengelolanya dengan validitas dan kewajaran laporan
keuangan sehingga dapat menghasilkan analisa bisnis dan keputusan
strategis yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan.

4.2. Keterbatasan
1. Dalam paper ini, penulis hanya menjabarkan dan mengulas peranan
teknologi informasi terhadap akuntansi, dari beberapa tinjauan
literatur.
2. Perluasan mengenai bahasa komputer, merek software komputer, dan
sejarah mengenai kedua hal tersebut, tidak dijabarkan secara jelas.

4.3. Rekomendasi
Untuk penelitian selanjutnya penulis memberikan beberapa
rekomendasi, yaitu:
1. Pengambilan materi literatur, sampel, dan pendalaman materi ke arah
yang lebih luas lagi, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih
akurat.
2. Objek penelitian tidak hanya perusahaan, melainkan juga bentuk
usaha non profit oriented, pemerintahan, dan bentuk usaha lain-lain,
agar menunjukkan hasil yang majemuk.
3. Ditelaah dengan menggunakan variabel dan penjabaran hipotesis
yang mempunyai instrumen yang benar-benar mampu menguji
validitas data dan akuntabilitas fakta.

30
DAFTAR PUSTAKA

Barry, Cushing E., 1993, Accounting Information system and organization, edisi
tiga, terjemahan Ruchyat Kosasih, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Bodnar, George H., and Hopwood, S. William, 1995, Accounting Information
System, edisi bahasa Indonesia, oleh Amir Abadi Jusuf dan Rudi M
Tambunan, buku satu edisi keenam, Salemba Empat, Jakarta.
Bodnar, George H., and Hopwood, S. William, 1998, Accounting Information
System. 7th edition, Upper Saddle River-New Jersey:Prentice-Hall
International, Inc.
Davis, Gordon B., 1974, Management Information System. Auckland: Mcgraw-
Hill.
Harahap, Sofyan Syafri, 2008, Teori Akuntansi. Edisi 10 revisi, Rajawali Pers.
http://www.yokikuncoro.com/?p=29
http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/publikasi_pm/info_pm/xbrl/id/index
.htm
Juniarti, 2001, Technology Acceptance Model (TAM) dan Theory of Planned
Behavior (TPB), aplikasinya dalam pengunaan software auditoleh Auditor,
Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 4. No. 3 September 332-354.
Yogyakarta.
Maharsi, Sri, 2000, Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap
Bidang Akuntansi Manajemen, Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 2, No. 2,
Nopember 2000.
Noviari, Naniek, 2008, Pengaruh Kemajuan Teknologi Informasi Terhadap
Perkembangan Akuntansi, Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi
Universitas Udayana.
Rahadi, Dedi Rianto, Dr., 2007, Peranan Teknologi Informasi dalam Peningkatan
Pelayanan Di Sektor Publik, Seminar Nasional Teknologi Yogyakarta.
Romney, Marshall B. and Paul John Steinbart, 2000, Accounting Information
System. 8th edition. Upper Saddle River-New Jersey: Prentice-Hall
International, Inc.
Stanley Zarowin, Wayne E. Harding, 2000, Finally, Business Talks the Same
Language, Journal of Accountancy Augustus, Journal of Accountancy.
Weygandt, J.J., Kieso., 2002, Akuntansi intermediate, edisi kesepuluh. Jakarta:
Erlangga.

ii