Anda di halaman 1dari 23

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1. Pendahuluan
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan hak dari setiap
pekerja yang harus dipenuhi oleh setiap perusahaan karena pada dasarnya
manusia selalu menginginkan dalam keadaan sehat dan selamat dimanapun
berada bahkan juga tempat kerja, tempat dimana seorang menjalankan tugas
dan kewajibanya. Dan setiap tempat atau unit-unit kerja mempunyai sistem
dan cara yang berbeda-beda dalam penanganan tentang keselamatan kerja
yang disesuaikan dengan tingkat keamanan dan keselamatan yang menjadi
resiko kerja.
Pada dasernya sistem penanganan keselamatan kerja adalah sama
yaitu untuk melindungi pekerja dari kecelakaan kerja, namun banyak alasan
kenapa orang kurang memperhatikan akan pentingnya kesehatan dan
keselamatan kerja padahal kalau dilihat secara seksama hal tersebut sangat
berpengaruh pada sistem dan proses kerja, diantara banyak alasan itu salah
satunya karena faktor biaya yang menjadi tanggung jawab perusahaan, faktor
dari diri pekerja yang mempunyai mental tidak teratur, dan kurang
kenyamanan dalam pemakaian alat keselamatan kerja. Dari ketiga faktor
tersebut harus bisa ditangani secara singkron karena ketiga faktor tersebut
merupakan elemen-elemen dari sistem keselamatan kerja yang sangat
menentukan baik buruknya sistem keselamatan kerja dalam perusahaan.
Salah satu dari manfaat program kesehatan kerja adalah untuk
menumbuhkan motivasi kerja pada para pekerja karena dengan sistem
keselamatan kerja yang bagus maka para pekerja akan lebih merasa aman
dalam bekerja yang nantinya akan memotivasi diri untuk bekerja lebih giat
sesuai dangan keselamatan kerja, jadi sistem keselamatan kerja bisa menjadi
jembatan perantara antara perusahaan dengan pekerja dalam meningkatkan
motivasi kerja yang pada akhirnya sangatlah berpengaruh pada tingkat
produktivitas pekerja.
Pekerja merupakan individu yang bekerja dalam team untuk
mencapai tujuan bersama yaitu keuntungan, untuk itu perlu adanya kerjasama
yang baik antara para pekerja dengan atasan. Dalam team ini perlu adanya
persfektif atau cara pandang yang sama agar nantinya dalam pelaksanaan
proses kerja sesuai peraturan dan kesepakatan yang telah ditetapkan dan
menjadi target bersama.
Persepsi itu perlu ditumbuhkan oleh seorang pimpinan dan proses
penumbuhan persepsi itu melalui tahapan-tahapan yang berurutan antara lain :
1. Perhatian.
2. Pengamatan.
3. Tanggapan.
4. Imajinasi.
5. Ingatan/ Pemikiran.
6. Motivasi.
Timbulnya motivasi pada diri seseorang untuk melakukan suatu
tindakan dimulai karena adanya perhatian maka barulah seseorang akan
melakukan pengamatan secara seksama. Pengamatan akan tidak teliti apabila
tidak ada perhatian terlebih dahulu dan hasil pengamatan akan hilang begitu
saja tanpa membekas sedikitpun dari ingatan.
Setelah terjadi perhatian dan pengamatan maka akan timbul dalam
benak seseorang tanggapan atau kesan-kesan tersendiri yang seolah ada
rekaman atau gambar yang membekas dalam otak kita tentang sesuatu yang
telah kita amati, dan dari hasil rekaman itu akan muncul imajinasi untuk
menghubung-hubungkaan dengan pengalaman yang dimilikinya dan dari hasil
imajinasi tersebut akan terus dicoba dimasukan dalam otak untuk selalu
diingat. Disamping selalu berusaha untuk mengingat maka seseorang juga
akan selalu berfikir untuk menganalisa kejadian sebagai tindak lanjut maka
akan timbul darongan untuk melakukan suatu tindakan dari diri seseorang
yang sering disebut dengan motivasi.
Dalam kehidupan kita banyak ada banyak hal yang kita jadikan
sebagai panduan dalam melatih dan menumbuhkan motivasi kerja, dan dari
berbagai macam teori tersebut kita bisa mengelompokan kedalam 3 teori
utama dimana teori teori tersebut yang paling sering digunakan oleh
perusahaan yaitu teori hirarki kebutuhan, teori dua faktor, dan teori x dan y.
a. Teori Hirarki Kebutuhan
Diperkenalkan oleh Abraham Maslow yang menyebutkan
bahwa kebutuhan manusia mengandung unsur bertingkat atau
memiliki hirarki, dari kebutuhan yang memiliki hirarki rendah, bisa
sampai kebutuhan dengn hirarki paling tinggi. Kebutuhan yang belum
tercapai akan menjadi kebutuhan dengan hirarki tertinggi dan apabila
kebutuhan tersebut sudah tercapai maka akan menjadi kebutuhan
dengan hirarki terendah. Lima hirarki keperluan atau kebutuhan dapat
digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1 Piramid Kebutuhan Maslow

1. Kebutuhan fisiologi (fisiological needs). Kebutuhan dasar untuk


menunjang kehidupan manusia, yaitu: pangan, sandang , papan,
dan seks. Apabila kebutuhan fisiologi ini belum terpenuhi
secukupnya, maka kebutuhan lain tidak akan memotivasi manusia.
2. Kebutuhan rasa aman (safety needs). Kebutuhan akan
terbebaskannya dari bahaya fisik, rasa takut kehilangan pekerjaan
dan materi.
3. Kebutuhan akan sosialisasi (social needs or affiliation). Sebagai
makhluk sosial manusia membutuhkan pergaulan dengan
sesamanya dan sebagai bagian dari kelompok.
4. Kebutuhan penghargaan (esteem needs). Kebutuhan merasa dirinya
berharga dan dihargai oleh orang lain.
5. Kebutuhan aktualisasi diri (self actualization needs), Kebutuhan
untuk mengembangkan diri dan menjadi orang sesuai dengan yang
diharapkanya.
b. Teori Dua Faktor
Teori ini dikembangkan oleh Herzberg yang mencari sebab
adanya yang mencari sebab adanya rasa puas dan tidak puas terhadap
sesuatu yang dikerjakan, dengan mengetahui faktor-faktor tersebut
maka manajer akan lebih mudah untuk memaksimalkan rasa puas bagi
pekerja terhadap hasil kerjanya.
Faktor yang mempengaruhi kepuasan adalah faktor
kesehatan. Faktor ini berupa lingkungan kerja antara lain hubungan
dengan supervisor, hubungan dengan teman kerja, rasa tidak aman
dalam pekerjaan, kondisi kerja status jabatan serta gaji yang cukup.
Apabila faktor-faktor tersebut dapat terwujud dapat menciptakan
perasaan berprestasi, dihargai memperoleh kemajuan dan tanggung
jawab.
c. Teori X dan Teori Y
Dikemukakan oleh Douglas Mac Gregor bahwa ada dua macam sikap
dasar seseorang :
1. Sikap dasar yang didasari oleh teori X
Dalam teori ini mengemukakan bahwa pada dasarnya manusia
mempunyai sifat malas dan lebih senang diberikan petunjuk praktis
dari pada diberi kebebasan imajinasi untuk berpikir. Dalam hal ini
motivasi kerja hanyalah untuk mendapatkan uang atau financial.
Mereka tidak suka menerima tanggung jawab dan hanya
menyenangi haknya saja selalu ingin merasa aman.
2. Sikap dasar yang didasari oleh teori Y
Teori ini berasumsi bahwa manusia pada dasarnya senang bekerja,
seperti halnya anak-anak yang suka bermain, orang biasa bermain
dengan bekerja, sehingga pengendalaian dan penempatan diri
sendiri merupakan dasar motivasi kerja guna mencapai tujuan yang
telah ditetapkan olehnya maupun tujuan organisasi.

Sistem keselamatan dan kesehatan kerja ada karena sering adanya


kecelakaan kerja sedangkan kecelakaan kerja itu sendiri terbagi atas dua
menurut proses terjadinya kecelakaan yaitu :
1. Incident : suatu kejadian yang tidak diinginkan bilamana
pada saat itu sedikit saja ada perubahan, maka dapat menyebabkan
accident.
2. Accident : suatu kejadian yang tidak diingikan berakibat
cedera pada manusia atau pekerja, kerusakan barang, gangguan
terhadap kelancaran pekerjaan, dan pencemaran lingkungan.
Jadi bisa dikatakan terjadinya kecelakaan atau accident karena
adanya incident yang tidak bisa ditangani dengan baik. Dalam hal seperti
inilah sistem kesehatan dan keselamatan kerja sangat diperlukan untuk
meminimalkan tingkat kecelakaan kerja pada proses kerja.
Tenaga
kerja

Kesehatan Keselamatan

Proses
Alat
Bahan
Lingkungan

Gambar 2.2 Proses Kerja K3

Gambar diatas merupakan proses kerja dari kesehatan dan


keselamatan kerja yang melibatkan unsur-unsur pokok dalam dan ruang
lingkup pembahasan mengenai keselamatan kerja yaitu menyangkut bahan
baku yang akan diproduksi, alat kerja yang akan digunakan dan tenaga kerja
yang akan melaksanakan pekerjaan tersebut.

3.2. Definisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan suatu sistem kerja
yang baik dan bijaksana seta bagaimana seorang pekerja dapat memelihara
suatu tempat keja yang baik. Sistem kerja yang dimaksud meliputi pekerja,
mesin dan peraturan yang berlaku.
Tiga unsur pokok dalam K3 adalah Kesehatan, Keselamatan dan
Kerja :
1. Kesehatan
Setiap pekerja harus bekerja dalam kondisi dan situasi yang sehat baik
sehat jasmani, rohani maupun lingkungan yang sehat.
2. Keselamatan
Dalam setiap melakukan aktivitas kerja, seorang pekerja harus
melakukan tindakan yang sesuai dengan keselamatan dirinya agar
terhindar dari kecelakaan kerja.
3. Kerja
Dengan bekerja pada situasi dan kondisi yang baik serta
memperhatikan keselamatan kerja maka akan tercipta situasi kerja
yang kondusif dan harmonis yang nantinya akan meningkatkan
produktifitas kerja.

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah keselamatan yang


bertalian dengan mesin, pesawat alat kerja, bahan dan proses pengolahanya,
landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan
pekerjaan. Keselamatan kerja bersasaran disegala tempat kerja, baik di darat di
dalam tanah di permukaan air maupun di udara. Keselamatan kerja merupakan
tugas dari semua orang yang bekerja. Keselamatan kerja adalah dari, oleh, dan
untuk setiap tenaga kerja serta orang lain dan juga masyarakat pada umumnya
dengan maksud dan tujuan untuk :
1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatanya dalam melakukan
pekerjaanya untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi
serta produktifitas nasional.
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
3. Sumber produksi dipelihara dan digunakan secara aman dan efesien.

Dari berbagai penjelasan yang telah terurai diatas dapat ditarik


kesimpulan bawasanya keselamatan kerja sangat penting dan sudah
seharusnya dipenuhi oleh setiap perusahaan karena dengan keselamatan kerja
yang baik maka dapat meningkatkan produksi dan produktifitas perusahaan.
Keselamatan kerja dapat membantu meningkatkan produksi dan
produktifitas perusahaan hal ini hal ini didasarkan atas :
1. Dengan tingkat keselamatan yang tinggi, kecelakaan-kecelakaan yang
menjadi sebab sakit, cacat dan kematian dapat dikurangi sahingga
pembiayaan yang tidak perlu dapat dihindari.
2. Tingkat keselamatan yang tinggi sejalan dengan ppemeliharaan dan
penggunaan peralatan kerja serta mesin yang produktif dan efesien
dengan tingkat produksi dan produktifitas tinggi.
3. Pada berbagai hal, tingkat keselamatan yang tinggi menciptakan
kondisi yang mendukung kenyamanaan serta kegairahan kerja.
Sehingga faktor manusia dapat diserasikan dengan tingkat efesiensi
yang tinggi pula.
4. Praktek keselamatan tidak dapat dipisahkan dari keterampilan
keduanya berjalan sejajar dan merupakan unsur-unsur esensial bagi
kelangsungan proses produksi.

Keselamatan kerja yang dilaksanakan sebaik-baiknya dengan


partisipasi dari pengusaha dan buruh / karyawan, hal ini akan membawa iklim
keamanan dan ketenaga kerjaan, sehingga sangat membantu bagi hubungan
buruh dan pengusaha yang merupakan landasan kuat bagi terciptanya
kelancaran produksi.

3.3. Undang-undang keselamatan Kerja


3.3.1. Umum
Secara umum undang-undang mengenai keselamatan kerja
ditulis dalam setiap benak pekerja karena seorang pekerja selalu
mengingatkan untuk bekerja dalam keadaan sehat dan selamat. Undang-
undang dasar 1945 mengisyaratkan semua warga negara atau pekerja
dan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan. Pekerja baru memenuhi
kelayakan bagi kemanusiaan, apabila keselamatan kerja sebagai sebagai
pelaksananya terjamin. Kematian, cacat, cidera, penyakit dan lain-lain
sebagai akibat kecelakaan dalam melakukan pekerjaan bertentangan
dengan dasar kemanusiaan. Maka dari itu, atas dasar landasan UUD
1945 lahir undang-undang dan ketentuan-ketentuan pelaksanaanya
dalam keselamatan kerja.
Dalam undang-undang No. 14 Tahun 1969 tentang
ketentuan-ketentuan pokok mengenai tenaga kerja secara jelas
ditegaskan, bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan
atas keselamatan kerja, sedangkan dalam hubungan dan bantuan sosial,
secara umum dinyatakan dalam undang-undang No. 14 Tahun 1969
tersebut bahwa pemerintah mengatur penyelenggaraan peraturan sosial
dan bantuan sosial bagi tenaga kerja dan keluarganya. Pertanggungan
dan bantuan sosial ini meliputi juga kecelakaan dan penyakit akibat kerja
sekalipun dalam penjelasan undang-undang dimaksudkan hanya
terperinci antara lain, sakit, meninggal dunia dan cacat.
Melihat sasaranya, terdapat dua kelompok perundang-
undangan dalam keselamatan kerja, yaitu sebagai berikut :
1. Kelompok perundang-undangan yang berdasarkan pencegahan
kecelakaan akibat kerja. Kelompok ini terdiri dari undang-
undang Nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja dan
peraturan lain yang berkaitan denganya.
2. Kelompok perundang-undangan yang berdasarkan pemberian
kompensasi terhadap kecelakaan yang sudah terjadi. Kelompok
ini terdiri dari undang-undang kecelakaan (1947-1957) dan
aturan yang diturunkanya.

3.3.2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970


Peraturan pemerintah dalam memperhatikan nasib
pekerjanja adalah dengan mengeluarkan undang-undang yang
berhubungan dengan keselaamatan kerja para pekerja karena pekerja
merupakan aset dari negera yang akan terus selalu menggerakan roda
perekonomian negara. Menurut undang-undang keselamatan kerja pada
tahun 1970 memuat tentang ketentuan-ketentuan umum keselamatan
kerja baik di bidang yang berada dalam wilayah kekuasaan hukum
Republik Indonesia.
Sehingga undang-undang itu berguna untuk :
1. Mencegah dan mengurangi kecelakaan.
2. Mencegah dan mengurangi bahaya.
3. Memberi jalan penyelamat diri pada waktu terjadi kecelakaan
yang berbahaya.
4. Memberi pertolongan pada kecelakaan.
5. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai.
6. Memberi alat-alat perlindungan kepala pada para pekerja.
7. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja.
8. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban.

3.3.3. Peraturan Mentri Tenaga Kerja

Peraturan Mentri Tenaga Kerja No. 1 / MEN / 1981 /


tentang kewajiban melapor masalah penyakit kerja.

(Banet N. B Silalahi dan Rumendang B. Silalahi, 1995)

3.4. Kesehatan kerja


Dalam melakukan tugasnya, seorang pekerja harus dalam keadaan
sehat baik itu sehat jasmani maupun rohani serta dalam lingkungan kerja yang
sehat pula karena tingkat produktivitas kerja sangat dipengaruhi oleh
kesehatan dari pekerja, seperti hubungan yang searah yang saling
menguntungkan satu sama lain, menguntungkan bagi pekerja menguntungkan
juga bagi perusahaan. Dengan tingkat kesehataan pekerja yang terjamin oleh
perusahaan maka pekerja akan semakin giat dalam melaksanakan tugas dari
perusahaan karena pekerja akan merasa hutang budi atas fasilitas yang telah
diberikan oleh perusahaan dengan kata lain loyalitas dari pekerja kepada
perusahaan akan meningkat, dan itu akan menguntungkan perusahaan.
Kesehatan kerja disini meliputi kesehatan dari seorang pekerja itu
sendiri baik kesehatan fisik maupun rohani juga kesehatan lingkungan kerja
yang meliputi tempat kerja dan proses kerja yang telah ditentukan oleh
perusahaan.
1. Kesehatan Pekerja
Kesehatan pekerja adalah kesehatan yang harus ada pada
diri pekerja seperti layaknya umum pekerja tidak diperkenankan untuk
bekerja apabila dalam keadaan sakit karena bisa mengganggu proses
kerja yang lainya, apabila pekerja dalam keadaan sakit maka pekerja
berhak untuk meminta cuti istirahat dan perusahaan dalam hal ini harus
membantu dalam proses penyembuhan diri pekerja baik secara moril
maupun materi.
2. Kesehatan Lingkungan Kerja
Lingkungan tempat kerja harus selalu dalam keadaan bersih
dan sehat agar dalam melakukan pekerjaanya seorang pekerja merasa
nyaman dan aman, dimana kesehatan tempat kerja ini sangat
menentukan baik buruknya tingkat kesehatan bagi pekerja. Tempat
kerja yang sehat akan membuat pekerja jarang terkena penyakit yang
dapat mempengaruhi proses kerja di tempat keja, apabila terjadi
masalah ditempat kerja maka seorang pekerja wajib melapor ke
perusahaan atau pihak yang berwenang dalam hal ini Departemen
Tenaga Kerja sesuai peraturan Mentri Tenaga Kerja Republik
Indonesia.

Keselamatan dan kesehatan kerja dapat membantu peningkatan


produksi dan produktifitas karyawan hal ini atas dasar :
1. Dengan tingkat keselamatan yang tinggi, kecelakaan-kecelakaan yang
menjadi sebab sakit, cacat dan kematian dapat dikurangi sahingga
pembiayaan yang tidak perlu dapat dihindari.
2. Tingkat keselamatan yang tinggi sejalan dengan ppemeliharaan dan
penggunaan peralatan kerja serta mesin yang produktif dan efesien
dengan tingkat produksi dan produktifitas tinggi.
3. Pada berbagai hal, tingkat keselamatan yang tinggi menciptakan
kondisi yang mendukung kenyamanaan serta kegairahan kerja.
Sehingga faktor manusia dapat diserasikan dengan tingkat efesiensi
yang tinggi pula.
4. Praktek keselamatan tidak dapat dipisahkan dari keterampilan
keduanya berjalan sejajar dan merupakan unsur-unsur esensial bagi
kelangsungan proses produksi.

3.5. Kecelakaan kerja


Kecelakaan kerja merupakan sesuatu yang paling tidak diinginkan
oleh para pekerja juga oleh perusahaan karena dengan adanya kecelakaan
kerja akan terganggu sustu proses kerja yang bisa mengakibatkan suatu
kerugian pada perusahaan. Kecelakaan kerja terjadi karena berbagai sebab dan
kejadian itu tidak terlepas dari ketiga faktor diatas yaitu faktor manusia
sebagai pekerja, alat untuk pelindung dalam keselamatan kerja dan perusahaan
sebagai penyedia bahan untuk keselamatan kerja. Proses terjadinya kecelakaan
kerja telah kita ketahui seperti pada pokok pembahasan diatas yaitu dari
proses incident kemudian karena penanganan yang tidak baik bisa
mengakibatkan terjadinya accident.
Sebab-sebab utama terjadinya kecelakaan kerja sangat bermacam-
macam baik itu dari diri pekerja, mesin sebagai alat kerja bahkan faktor-faktor
lain dari luar lingkungan kerja. Berikut gambar tentang sebab dan akibat yang
ditimbulkan dari kecelakaan kerja :
Penyebab kecelakaan Akibat kecelakaan

Kesalahan Luka
manusia

Kesalahan desain Rusak

Kesalahan
Acident Kerugian produksi
manejemen

Analisa Investiga
safety Kesalahan Cacat kualitas si
komponen kecelakaa
n
Kerugian
Kesalahan pihak lingkungan
luar

Proses kecelakaan

Gambar 2.3 Sebab akibat kecelakaan kerja

Gambar diatas merupakan faktor-faktor yang menyebabkan


kecelakaan kerja beserta akibat yang ditimbulkanya mulai dari faktor
keselahan manusia yang hanya menimbulkan luka sampai kesalahan pihak
luar yang menimbulkan kerugian lingkungan. Sebab dan akibat kecelakaan
kerja tersebut perlu kita ketahui agar kita lebih mudah dalam menginvestigasi
guna memberikan solusi yang terbaik dalam penangananya.
Secara umum kecelakaan kerja mengakibatkan kerusakaan pada
barang yang diproduksi, yang biasa kita sebut dengan barang “rijek” atau
mengakibatkan kecelakaan pada operator yang bekerja yaitu manusia.
Kecelakaan yang terjadi pada barang menyebabkan kerusakan hasil produksi
yang mudah diperbaiki dan sulit diperbaiki, sedangkan kecelakaan pada
manusia dapat menyebabkan cacat baik fisik maupun mental yang bersifat
sementara dabn permanen bahkan bisa juga menyebabkan kematian pada diri
pekerja.
Berikut adalah gambar akibat kecelakaan kerja secara umum :

Akibat kecelakaan

Kecelakaan Barang / Sulit


Kerusakan
kerja lingkungan diperbaiki

Mudah
diperbaiki

Orang Cacat Sementara

- fisik
Permanen
- mental

Kematian

Gambar 2.4 akibat kecelakaan

3.5.1. Klasifikasi kecelakaan akibat kerja


Klasifikasi kecelakaan akibat kerja menurut organisasi
perburuhan internasional tahun 1962 adalah sebagai berikut :
1. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan :
a. Terjatuh.
b. Tertimpa benda jatuh.
c. Tertekan benda.
d. Pengaruh suhu tinggi.
e. Kontak dengan bahan-bahan.
f. Jenis-jenis kelalaian.

2. Klasifikasi menurut penyebab :


a.Pembangkit tenaga terkecuali motor-motor tenaga listrik.
b. Mesin angkut dan alat angkut.
c.Peralatan lain (bencana bertekanan, alat listrik, alat kerja,
instalasi. pendingin, instalasi listrik).
d. Bahan-bahan atau material.
e.Zat-zat dan radiasi bahan peledak.
f. Lingkungn kerja.

3. Klasifikasi menurut sifat luka dan kelainan :


a.Dislokasi patah tulang.
b. Regang otot.
c.Memar.
d. Amputasi.
e.Keracunan mendadak.
f. Luka bakar.
g. Mati lemas.
h. Pengaruh listrik.
i. Pengaruh radiasi.
j. Luka-luka lain.

4. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh :


a.Kepala.
b. Leher.
c.Badan.
d. Anggota atas.
e.Anggota bawah.
f. Banyak tempat.
g. Kelainan umum.
h. Letak lain yang tidak dapat dimasukan klasifikasi tersebut.

3.5.2. Proses kecelakaan kerja menurut Hainrich


Menurut Hainrich ada 8 faktor yang menyebabkan yang
terjadinya kecelakaan kerja yang mana sebagian besar faktor tersebut
datang dari diri seorang pekerja, diantara faktor-faktor tersebut antara
lain :
1. Un-Dicipline
Faktor ketidak disiplinan dari pekerja.
2. Training Not Good
Pelatihan sebelum pekerja melakukan aktifitas kerjayang kurang
bagus sehingga pada waktu kerja masih banyak hal yang belum
dipahami oleh seorang pekerja yang menyebabkan kecelakaan kerja.
3. Lack Tool / Equipment
Faktor peralatan yang digunakan dalam melakukan aktifitas kerja
kurang baik dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja.
4. Machine protektor Not Good
Perlindungan mesin yang tidak sempurna dapat menyebabkan
terjadinya accident.
5. Body protektor
Alat pelindung diri (APD) sangat diperlukakan untuk mengurangi
resiko kecelakaan dan sebagai alat pelindung apabila terjadi sesuatu
yang membahayakan diri pekerja, faktor ketidaklengkapan alat
pelindung diri sebagai pemicu terjadinya kecelakaan yang parah.
6. lay out not good
Tata letak ruangan yang kurang bagus dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan kerja, maka perusahaan perlu membuat lay out atau tata
ruang yang bagus untuk memudahkan aliran produksi juga untuk
meminimalkan kecelakaan.
7. SOP Not Good
SOP yang tidak bagus dapat menyebabkan kecelakaan kerja
8. Emotion condition
Kondisi emosional dari seorang pekerja yang terlalau tinggi dan
tidak bisa dikontrol dengan baik dapat menimbulkan kecelakaan
kerja. Faktor emosi pekerja bisa datang dari lingkungan.

3.5.3. Faktor-faktor keselamatan kerja :


Dalam menghindari suatu kecelakaan kerja maka kita terlebih
dahulu harus mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan
kecelakaan kerja dan upaya apa yang seharusnya dilakukan untuk
meningkatkan keselamatan kerja. Ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan keselamatan kerja diantaranya
yaitu :
1. Faktor manusia
Manusia sebagai kunci keberhasilan keselamatan kerja
dalam suatu perusahaan. Yang termasuk faktor manusia adalah
pemilik perusahaan dan tenaga kerja atau karyawan. Semua orang
yang ada dalam perusahaan harus tahu bahwa pekerja
berkepentingan bukan hanya pada bagian produksi, mutu dan
kualitas produksi tetapi juga dalam keselamatan kerja.
Umumnya di perusahaan keselamatan kerja mulai dari
manajemen puncak, baru turun kebawah. Manajer juga harus
memandang keselamatan kerja sebagai dari proses bukan sebagai
tambahan, serta wajib menjamin tidak terjadinya kondisi yang tidak
aman dan tidak nyaman.
Banyak manusia yang tidak menyadari bahwa
keselamatan kerja adalah tanggung jawab bersama untuk
kepentingan bersama pula. Kesadaran tersebut tidak kalah
pentingnya bila dibandingkan dengan peraturan yang ditetapkan
perusahaan atau disiplin ketat yang dipaksakan. Memakai alat-alat
keselamatan kerja atau perlindungan dari yang telah ditetapkan
dalam peraturan tanpa adanya kesadaran dari tenaga kerja maka
peraturan tersebut malah akan diabaikan. Mereka beralasan bahwa
memakai alat perlindungan perorangan tersebut akan membuat
gerakan kurang leluasa pada saat melakukan aktivitas, walaupun
disetiap tempat telah tersedia poster-poster yang berhubungan
dengan keselamatan kerja untuk membangkitkan kesadaran
mengenai keselamatan kerja ini. Cara yang sering dilakukan untuk
memasyarakatkan keselamatan kerja antara lain :
a.Poster / gambar / plangkat.
b. Petunjuk / slide.
c.Ceramah / seminar.
d. Pameran / kampanye.
e.Mengadakan diklat keselamatan dan kesehatan kerja yang
sistematis.
Biasanya kecelakaan kerja lebih banyak terjadi pada
tenaga kerja yang baru karena belum memahami pentingnya cara
kerja yang aman. Oleh karena itu perlu diadakan atau diberikan
kepada mereka pendidikan dan lebih ditekankan kepada mereka akan
pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.

2. Faktor peralatan dan pekerjaan


Pada dasarnya semua bagian mesin yang bergerak, panel
kendali dan alat-alat perlindungan diri harus dirawat menurut kondisi
bagian-bagianya bukan menurut waktu pemakaianyan. Perawatan
berdasarkan kondisi harus dijadikan asas pemeliharaan semua
peralatan guna mendeteksi sedini mungkin bagian-bagian mesin
yang dapat menimbulkan bahaya karena kecelakaan terjadi tanpa
disangka-sangka dalam waktu sekejab mata, sehingga untuk
menghindarinya perlengkapan dan peralatan yang ada harus
terlindungi dari kemungkinan berinteraksi dengan manusia dan
peralatan lain. Oleh karena itu bagian-bagian mesin yang berbahaya
harus ditiadakan dengan mengubah konstruksi atau memberi alat
pelindung.

3.5.4. Upaya keselamatan kerja


Sangat banyak yang kita lakukan untuk mencegah suatu
kejadian yang tidak kita inginkan dan harus bisa untuk memilah dan
memprioritaskan sesuai kebutuhan yang tepat.
Kejadian kecelakaan kerja di tempat kerja tentunya terjadi
secara tidak sengaja. Baik itu terjadi dari faktor manusia ataupun tenaga
kerja sendiri, tempat kerja maupun terjadi karena mesin-mesin produksi.
Tetapi hal tersebut tidak mustahil adanya pencegahan terhadap
terjadinya kecelakaan kerja.
Kecelakaan kerja dapat dicegah dengan :
1. Peraturan perundang-undangan
Yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi kerja
pada umumnya, perencanaan, konstruksi dan pemeliharaan,
pengawasan, pengujian dan cara kerja peralatan industri, tugas-tugas
pengusaha dan buruh latihan supervisi medis, PPPK dan
pemeriksaan kesehatan.
2. Standarisasi
Standarisasi yaitu penetapan standar resmi, setengah resmi atau tidak
resmi mengenai keselamatan kerja misalnya kondisi yang memenuhi
syarat keselamatan, jenis-jenis peralatan industri tertentu, praktek
keselamatan dan kesehatan umum atas alat-alat pelindung diri yang
dipergunakan.
3. Pengawasan
Yaitu tentang dipatuhinya ketentuan perundang-undangan yang
diwajibkan.
4. Penelitian bersifat teknik
Penelitian ini meliputi sifat dan ciri-ciri bahan bahaya, penyelidikan
tentang pagar pengamanan, pengujian alat-alat pelindung diri,
penelitian tentang pencegahan peledakan gas dan debu.
5. Riset medis
Meliputi penelitian tentang efek-efek fisikologi dan patologis faktor-
faktor lingkungan dan teknologis dan keadaan-keadaan fisik yang
mengakibatkan kecelakaan.
6. Penelitian pisikologis
Yaitu penelitian tentang pola-pola kejiwaan yang mengakibatkan
terjadinya kecelakaan.
7. Penelitian secara statistik
Yaitu untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang terjadi,
banyaknya, mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa dan apa sebab-
sebabnya.
8. Pendidikan
Menyangkut pendidikan dalam kurikulum teknik, sekolah perniagaan
atau kursus-kursus pertukaran.
9. Latihan-latihan
Yaitu latihan praktek bagi tenaga kerja, khususnya bagi tenaga kerja
yang baru dalam keselamatan kerja.
10. Penggairahan
Yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk
menimbulkan sikap untuk selamat dalam bekerja.
11. Asuransi
Asuransi yaitu insentif finansial untuk meningkatkan pencegahan
kecelakaan misalnya dalam bentuk pengurangan premi, yang dibayar
oleh perusahaan, jika tindakan keselamatan sangat baik.

3.6. Organisasi keselamatan kerja


Organisasi keselamatan kerja terdapat pada unsur pemerintah,
dalam ikatan profesi, badan-badan konsultasi masyarakat, di perusahaan-
perusahaan, dan lain-lain. Program pemerintah khususnya pembinaan
pengawasan bersama-sama dengan praktek keselamatan kerja di perusahaan-
perusahaan saling mengisi sehingga sehingga dicapai tingkat keselamatan di
perusahaan dalam meningkatkan penerapan keselamatan kerja di
perusahaanya dapat memperoleh bantuan keahlian dari badan-badan konsultan
atau lembaga-lembaga pengujian. Pada tingkat perusahaan, pengusaha dan
buruh adalah kunci kearah keberhasilan program keselamatan kerja agar
menunjang keberhasilan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja.
Secara keilmuan, keselamatan kerja memerlukan keahlian-keahlian
lain. Pusat terdapat teknologi, kimia, fisika, toksilogi, kesehatan, teknisi,
fisiologi, psikologi, dan lain-lain. Maka dari itu, selain ahli atau teknisi
keselamatan kerja masih diperlukan insinyur, dokkter, ahli faal, ahli jiwa, ahli
statistik, dan lain-lain.

3.6.1. Organisasi Pemerintah


Organisasi keselamatan kerja dalam administrasi pemerintah ditingkat
pusat terdapat dalam bentuk Direktorat Pembinaan Normal Kesehatan
dan Keselamatan Kerja. Direktorat Jendral Perlindunan dan Perawatan
Tenaga Kerja, memiliki fungsi yaitu :
1. Melaksanakan pembinaan, pengawasan serta
penyempurnaan dalam penetapan norma keselamatan kerja dibidang
mekanik.
2. Melaksanakan pembinaan, pengawasan serta
penyempurnaan dalam penetapan norma keselamatan kerja dibidang
listrik.
3. Melaksanakan pembinaan, pengawasan serta
penyempurnaan dalam penetapan norma keselamatan kerja dibidang
uap.
4. Melaksanakan pembinaan, pengawasan serta
penyempurnaan dalam penetapan norma keselamatan kerja dibidang
pencegahan kebakaran.
3.6.2. Organisasi Tingkat pemerintah
Organisasi keselamatan kerja ditingkat perusahaan ada dua jenis, yaitu :
1. Organisasi sebagai bagian dari struktur organisasi
perusahaan dan disebut bidang, bagian, dan lain-lain keselamatan
kerja. Oleh karena merupakan bagian dari organisasi perusahaan,
maka tugasnya kontinyu pelaksanaanya menetap dan anggaranya
tersendiri. Kegiatan-kegiatan biasanya cukup banyak dan efeknya
terhadap keselamatan dan kesehatan kerja adalah banyak dan baik.
2. Panitia kesehatan dan keselamatan kerja yang biasanya
terdiri dari wakil pimpinan perusahaan, wakil buruh, teknisi
keselamatan kerja, dokter perusahaan dan lain-lain. Kondisi
perusahaan biasanya pencerminan panitia pada umumnya.
Pembentukan panitiademikian adalah atas dasar kewajiban undang-
undang.

Tujuan keselamatan kerja secara umum dalah sebagai berikut :


1. Pencegahan terjadinya kecelakaan kerja.
2. Pencegahan terjadinya penyakit akibat kerja.
3. Pencegahan atau penekanan menjadi sekecil-kecilnya terjadinya
kematian akibat kecelakaan kerja.
4. Pencegahan atau penekanan menjadi sekecil-kecilnya cacat yang
ditimbulkan akibat kerja.
5. Pengamanan material, konstruksi, bangunan, alat-alat kerja, mesin-
mesin, pesawat-pesawat, instalasi-instalasi, dan lain-lain.
6. Peningkatan produktifitas kerja atas dasar tingkat keamanan dan
kenyamanan kerja yang tinggi.
7. Penghindaran pemborosan tenaga kerja, modal, alat-alat dan
material-material produksi lainya sewaktu kerja.
8. Pemeliharaan tempat kerja yang bersih, sehat, aman dan nyaman.
9. peningkatan pengamanan produksi dalam rangka industrialisasi dan
pembangunan.