Anda di halaman 1dari 9

PROGRAM BOS

(BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH)

Pada Maret dan Oktober 2005, Pemerintah Indonesia mengurangi


subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan merealokasikan sebagian dananya
untuk program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang mulai dilaksanakan
pada Juli 2005. Program yang diberikan untuk sekolah-sekolah tingkat SD
dan SMP ini dimaksudkan untuk mengurangi beban masyarakat, khususnya
masyarakat miskin, dalam membiayai pendidikan setelah harga BBM
meningkat. Berbeda dengan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM
(PKPS-BBM) bidang Pendidikan sebelumnya yang diberikan dalam bentuk
beasiswa (Bantuan Khusus Murid – BKM) kepada siswa yang dianggap
miskin, sedangkan BOS diberikan kepada sekolah.
Program BOS merupakan realisasi dari Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional (UUSPN) yaitu UU No. 20 Tahun 2003 yang mulai
berlaku pada tanggal diundangkan yaitu pada tanggal 8 Juli 2003. Isi
UUSPN ini mengacu pada Konvensi Internasional bidang Pendidikan yang
dilaksanakan di Dakkar, Senegal, Afrika, Tahun 2000 yang menyatakan
bahwa semua negara diwajibkan memberikan pendidikan dasar yang
bermutu secara gratis kepada semua warga negaranya. Dalam Bab VIII
mengenai Wajib Belajar Pasal 34 UUSPN dinyatakan bahwa Pemerintah dan
Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada
jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Inilah yang menjadi tujuan
dari program BOS yaitu membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak
mampu dan meringankan beban siswa lain agar semua siswa memperoleh
layanan pendidikan dasar yang lebih bermutu sampai tamat dalam rangka
penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar (Wajar Dikdas) 9 Tahun.
Mekanisme pengalokasian dan penyaluran penggunaan Dana BOS
dilaksanakan sebagai berikut :
1. Tim Manajemen BOS Pusat mengumpulkan jumlah siswa tiap
sekolah/madrasah/ponpes melalui Tim Manajemen BOS setiap Provinsi
kemudian menetapkan alokasi dana BOS tiap Provinsi.
2. Berdasarkan data jumlah siswa, tim Manajemen BOS Pusat membuat
alokasi dana BOS tiap Provinsi yang dituangkan dalam DIPA Provinsi.
3. Tim Manajemen BOS Provinsi dan Kabupaten/Kota melakukan verifikasi
ulang data jumlah siswa sebagai dasar menetapkan alokasi tiap
sekolah/madrasah/ponpes.
4. Tim Manajemen BOS Kabupaten/Kota membuat SK penetapan
sekolah/madrasah/ponpes yang bersedia menerima BOS. SK ini
ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota dan Dewan

Sie Infokum – Ditama Binbangkum -1-


Pendidikan untuk penetapan sekolah umum yang menerima BOS, serta
ditandatangani oleh Kepala Kandepag Kab/Kota dan Dewan Pendidikan
untuk penetapan madrasah, ponpes salafiyah dan sekolah keagamaan
yang menerima BOS. SK ini dilampiri daftar nama
sekolah/madrasah/ponpes salafiyah dan besar dana bantuan yang
diterima. Sekolah-sekolah yang bersedia menerima BOS harus
menandatangani Surat Perjanjian Pemberian Bantuan (SPPB).
5. Tim Manajemen BOS Kab/Kota mengirimkan SK Alokasi BOS tersebut ke
Tim Manajemen BOS Provinsi, tembusan ke Pos/Bank penyalur dana dan
penerima BOS.
6. Dana BOS kemudian ditransfer ke rekening rutin sekolah oleh lembaga
penyalur Kantor Pos/Bank.
7. Pengeluaran dana didasarkan permintaan penanggung jawab kegiatan
dan diketahui oleh Kepala Sekolah dan disetujui oleh Komite Sekolah.
8. Penanggung jawab kegiatan harus memberikan pertanggungjawaban
kepada Bendahara Guru.
BOS dialokasikan dalam APBN pada pos pembiayaan rutin, penerimaan dana
BOS untuk setiap sekolah dihitung berdasarkan jumlah siswa. Pada tahun
2005 sampai tahun 2006, tiap Sekolah Dasar menerima Rp235.000,00
untuk setiap siswa/tahun, dan untuk tiap Sekolah Menengah Pertama
menerima Rp324.000,00 setiap siswa/tahun. Namun sejak tahun ajaran
2007, terdapat peningkatan menjadi Rp235.000/siswa/tahun untuk Sekolah
Dasar dan Rp354.000,00/siswa/tahun untuk Sekolah Menengah Pertama.
Penerima BOS adalah SD/MI/SDLB/SMP/MTs/SMPLB negeri dan
swasta serta salafiyah dan sekolah keagamaan non-Islam penyelenggara
Wajar Dikdas, dan sejak tahun ajaran 2007, sasaran BOS ditambah untuk
SMP Terbuka Reguler, TKB Mandiri, dan Madrasah Diniyah Formal yang
menyelenggarakan Program Wajar. Semua sekolah negeri dan swasta
berhak memperoleh BOS.
Khusus sekolah/madrasah/ponpes swasta harus memiliki ijin
operasional (piagam penyelenggaraan pendidikan).
Sekolah/madrasah/ponpes yang bersedia menerima BOS harus
menandatangani SPPB dan bersedia mengikuti ketentuan petunjuk
pelaksanaan program BOS, dan untuk Sekolah Kaya/mapan/yang mampu
secara ekonomi yang saat ini memiliki penerimaan yang lebih besar dari
dana BOS, mempunyai hak untuk menolak BOS tersebut, sehingga tidak
wajib untuk melaksanakan ketentuan seperti sekolah/madrasah/ponpes
penerima BOS. Keputusan Penolakan BOS harus melalui persetujuan dengan
orang tua siswa dan komite sekolah/madrasah. Bila di

Sie Infokum – Ditama Binbangkum -2-


sekolah/madrasah/ponpes yang mampu tersebut terdapat siswa miskin,
sekolah/madrasah/ponpes tetap menjamin kelangsungan pendidikan siswa
tersebut (misal dengan melakukan subsidi silang dari siswa yang mampu).
Program BOS dikelola oleh Depdiknas, namun sejak tahun ajaran
2007/2008, pengelolaan program BOS dilakukan secara terpisah antara
Depdiknas dan Depag. Depdiknas bertanggung jawab terhadap seluruh
kegiatan program dan penyaluran dana ke sekolah
SD/SDLB/SMP/SMPLB/SMPT baik negeri maupun swasta yang ijin
operasionalnya berasal dari Dinas Pendidikan, sementara Depag
bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan program dan penyaluran dana
ke MI/MTs/Salafiyah/Sekolah keagamaan lainnya yang ijin operasionalnya
berasal dari Depag.
Program BOS diperuntukkan untuk biaya operasional non personil
yaitu : penunjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), evaluasi/penilaian,
perawatan/pemeliharaan, daya dan jasa, pembinaan kesiswaan, rumah
tangga sekolah, dan supervisi, serta sebagian untuk biaya pengembangan
profesi guru (personil) dan buku perpustakan (investasi). Macam-macam
penggunaan Dana BOS adalah :
1. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka Penerimaan Siswa Baru:
biaya pendaftaran, penggandaan formulir, administrasi pendaftaran,
dan pendaftaran ulang
2. Pembelian buku teks pelajaran (diluar buku yang telah dibeli dari dana
BOS Buku) dan buku referensi untuk dikoleksi di perpustakaan
3. Pembiayaan kegiatan pembelajaran remedial, pembelajaran pengayaan,
olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja
dan sejenisnya.
4. Pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan
hasil belajar siswa.
5. Pembelian bahan-bahan habis pakai: buku tulis, kapur tulis, pensil,
bahan praktikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran,
kopi, teh dan gula untuk kebutuhan sehari-hari di sekolah.
6. Pembiayaan langganan daya dan jasa: listrik, air, telepon, termasuk
untuk pemasangan baru jika sudah ada jaringan di sekitar sekolah.
7. Pembiayaan perawatan sekolah: pengecatan, perbaikan atap bocor,
perbaikan pintu dan jendela, perbaikan mebeler, perbaikan sanitasi
sekolah dan perawatan fasilitas sekolah lainnya.
8. Pembayaran honorarium bulanan guru honorer dan tenaga kependidikan
honorer. Tambahan insentif rutin bagi kesejahteraan guru dan tenaga
kependidikan ditanggung sepenuhnya oleh pemda
9. Pengembangan profesi guru: pelatihan, KKG/MGMP dan KKKS/MKKS.

Sie Infokum – Ditama Binbangkum -3-


10. Pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin yang
menghadapi masalah biaya transport dari dan ke sekolah.
11. Pembiayaan pengelolaan BOS: alat tulis kantor (ATK), penggandaan,
surat menyurat dan penyusunan laporan.
12. Khusus untuk pesantren salafiyah dan sekolah keagamaan non Islam,
dana BOS dapat digunakan untuk biaya asrama/pondokan dan membeli
peralatan ibadah.

Kegiatan-kegiatan pengadaan mebeler dan pengadaan buku ini harus tetap


menggunakan pedoman pengadaan barang/jasa Pemerintah sebagaimana
diatur dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 yang telah diubah terakhir dengan
Perpres No. 95 Tahun 2007.

Khusus untuk SMP Terbuka, dana BOS boleh juga digunakan untuk:
Honor Penanggung jawab SMP Terbuka, Guru Bina, Guru Pamong, TU, dan
Pesuruh yang menangani SMP Terbuka; Transportasi Guru Bina ke Tempat
Kegiatan Belajar (TKB), dan Guru Pamong ke Sekolah Induk.

Bila seluruh komponen di atas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS dan
masih terdapat sisa dana, maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan
untuk membeli alat peraga, media pembelajaran dan mebel sekolah.

Penggunaan dana BOS untuk transportasi dan uang lelah bagi guru PNS
diperbolehkan hanya dalam rangka penyelenggaraan suatu kegiatan sekolah
selain kewajiban jam mengajar. Besaran/satuan biaya untuk transportasi dan
uang lelah guru PNS yang bertugas diluar jam mengajar tersebut harus
mengikuti batas kewajaran. Pemerintah daerah wajib mengeluarkan
peraturan tentang penetapan batas kewajaran tersebut di daerah masing-
masing dengan mempertimbangkan faktor sosial ekonomi, faktor geografis
dan faktor lainnya.

Dana BOS tidak boleh untuk:


1. disimpan dalam jangka waktu lama dengan maksud dibungakan.
2. dipinjamkan kepada pihak lain.
3. membiayai kegiatan yang tidak menjadi prioritas sekolah dan
memerlukan biaya besar, misalnya studi banding, studi tour (karya
wisata) dan sejenisnya
4. membayar bonus, transportasi, atau pakaian yang tidak berkaitan
dengan kepentingan murid.
5. digunakan untuk rehabilitasi sedang dan berat.

Sie Infokum – Ditama Binbangkum -4-


6. membangun gedung/ruangan baru.
7. membeli bahan/peralatan yang tidak mendukung proses pembelajaran.
8. menanamkan saham.
9. membiayai segala jenis kegiatan yang telah dibiayai dari sumber dana
pemerintah pusat atau daerah, misalnya guru kontrak/guru bantu dan
kelebihan jam mengajar.

Dalam penggunaan dana BOS ini juga terdapat kewajiban perpajakan :


a. pemotongan PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa honorarium atau gaji;
b. pemungutan PPh Pasal 22 atas penghasilan penjualan barang, dalam hal
penanggung jawab atau bendaharawan BOS merupakan Pemungut PPh
Pasal 22;
c. pemotongan PPh Pasal 23 atas penghasilan pemberi jasa;
d. pemungutan PPN atas pembelian Barang Kena Pajak dan Perolehan Jasa
Kena Pajak, dalam hal penanggung jawab atau bendaharawan BOS
merupakan pemungut PPN.

Pemungutan PPh Pasal 22 dan PPN dilakukan oleh penanggung jawab atau
bendaharawan BOS dalam hal BOS diberikan ke Sekolah Negeri, dan
penanggung jawab atau bendaharawan BOS ini harus memiliki NPWP.
Apabila BOS diberikan ke Sekolah Swasta maka penanggung jawab atau
bendaharawan BOS bukan merupakan pemungut PPh Pasal 22 dan PPN,
dan tidak ada kewajiban bagi mereka untuk memiliki NPWP, sehingga untuk
kemudahan administrasi digunakan NPWP sekolah atau yayasan.

Mekanisme perpajakan pemakaian dana BOS :


A. Terkait dengan pembelian ATK/bahan/penggandaan dan lain-lain (baik
untuk keperluan pengadaan formulir pendaftaran maupun untuk
keperluan ujian sekolah, ulangan umum bersama dan ulangan umum
harian); pembelian bahan-bahan habis pakai seperti buku tulis, kapur
tulis, pensil dan bahan praktikum; pembelian bahan-bahan untuk
perawatan/perbaikan ringan gedung sekolah dan pembelian peralatan
ibadah oleh pesantern salafiyah :
1. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada sekolah negeri :
a. memungut PPh Pasal 22 sebesar 1.5% dari nilai pembelian tidak
termasuk PPN dan menyetorkannya ke Kas Negara. Dalam hal
nilai pembelian tersebut tidak melebihi jumlah Rp1.000.000,00
dan bukan merupakan jumlah yang dipecah maka atas

Sie Infokum – Ditama Binbangkum -5-


pengadaan atau pembelian tidak dilakukan pemungutan PPh
Pasal 22.
b. membayar jumlah PPN atas pembelian barang sebesar 10% dari
nilai pembelian dengan cara memungut dan menyetorkannya ke
Kas Negara.
c. mengawasi agar pemenuhan kewajiban pemenuhan Bea Materai
berkaitan dengan dokumen-dokumen seperti kontrak, invoice
atau bukti pengeluaran uang dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
2. Bendaharawan/pengelola dana BOS pada sekolah swasta atau
pesantren Salafiyah tidak termasuk pemungut PPh Pasal 22 dan
atau PPN, sehingga kewajiban perpajakan adalah membayar PPN
yang dipungut oleh pihak penjual, dan mengawasi agar pemenuhan
kewajiban pemenuhan Bea Materai berkaitan dengan dokumen-
dokumen, seperti kontrak, invoice atau bukti pengeluaran uang
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

B. Terkait dengan penggunaan dana BOS untuk pengadaan buku pelajaran


pokok dan buku penunjang untuk perpustakaan :
1. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada Sekolah Negeri :
a. memungut PPh Pasal 22 sebesar 1.5% dari nilai pembelian tidak
termasuk PPN dan menyetorkannya ke Kas Negara. Dalam hal
nilai pembelian tersebut tidak melebihi jumlah Rp1.000.000,00
dan bukan merupakan jumlah yang dipecah maka atas
pengadaan atau pembelian tidak dilakukan pemungutan PPh
Pasal 22.
b. Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-
buku pelajaran agama, PPN yang terutang dibebaskan.
c. Mengawasi agar pemenuhan kewajiban pemenuhan Bea Materai
berkaitan dengan dokumen-dokumen seperti kontrak, invoice
atau bukti pengeluaran uang dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
2. Bagi bendaharawan pada sekolah swasta atau Pesantren Salafiyah,
tidak punya kewajiban memungut PPh Pasal 22, mengawasi agar
pemenuhan kewajiban pemenuhan Bea Materai berkaitan dengan
dokumen-dokumen, seperti kontrak, invoice atau bukti pengeluaran
uang dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku, serta atas
pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku
pelajaran agama, PPN yang terutang dibebaskan.

Sie Infokum – Ditama Binbangkum -6-


C. Untuk sekolah negeri, swasta maupun Pesantren Salafiyah, dana BOS
dapat digunakan untuk membayar honor tukang bangunan atau tukang
kebun yang melaksanakan pemeliharaan atau perawatan sekolah. Semua
penanggung jawab atau bendaharawan harus memotong PPh Pasal 21
dengan ketentuan sebagai berikut :
1. jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima tidak
melebihi Rp110.000,00 dan jumlah seluruh upah yang diterima
dalam bulan takwim yang bersangkutan belum melebihi
Rp1.100.000,00 maka tidak ada PPh Pasal 21 yang dipotong;
2. jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima tidak
melebihi Rp110.000,00 dan jumlah seluruh upah yang diterima
dalam bulan takwim yang bersangkutan melebihi Rp1.100.000,00
maka pada saat jumlah seluruh upah melebihi, harus dipotong PPh
Pasal 21 sebesar 5% atas jumlah bruto upah setelah dikurangi
PTKP yang sebenarnya;
3. jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima lebih dari
Rp110.000,00 dan jumlah seluruh upah yang diterima dalam bulan
takwim yang bersangkutan belum melebihi Rp1.100.000,00 maka
harus dipotong PPh Pasal 21 sebesar 5% dari jumlah upah harian
atau rata-rata upah harian di atas Rp110.000;
4. jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima lebih dari
Rp110.000,00 dan jumlah seluruh upah yang diterima dalam bulan
takwim yang bersangkutan telah melebihi Rp1.100.000,00 maka
pada saat jumlah seluruh upah telah melebihi Rp1.100.000,00,
harus dihitung kembali jumlah PPh Pasal 21 yang harus dipotong
dengan menerapkan tariff 5% atas jumlah bruto upah setelah
dikurangi PTKP yang sebenarnya.

D. Bendaharawan atau penanggung jawab BOS ketika membayar imbalan


jasa perawatan atau pemeliharaan sekolah yang dibayarkan kepada
Badan Usaha bukan orang pribadi harus memotong PPh Pasal 23 sebesar
15% x 40% atau 6% dari jumlah imbalan bruto tidak termasuk PPN.
Selain itu untuk PPN, bendaharawan atau penanggung jawab BOS di
Sekolah Negeri mempunyai kewajiban untuk membayar PPN sebesar
10% dari jumlah imbalan bruto dengan cara memungut dan
menyetorkannya ke Kas Negara, namun bendaharawan atau penanggung
jawab BOS di sekolah swasta atau Pesantren Salafiyah membayar PPN
yang dipungut oleh pihak pemberi jasa.

Sie Infokum – Ditama Binbangkum -7-


E. Bendaharawan atau penanggung jawab BOS pada sekolah negeri,
swasta maupun Pesantren Salafiyah ketika membayar honorarium guru :
1. untuk guru non PNS atau untuk pembayaran honor kepada komite
sekolah jika ada, harus dipotong PPh Pasal 21 dengan menerapkan
tarif Pasal 17 UU PPh sebesar 5% dari jumlah bruto honor;
2. untuk guru PNS golongan IIIA ke atas harus dipotong PPh Pasal 21
yang bersifat final sebesar 15% dari jumlah honor;
3. untuk guru PNS golongan IID ke bawah tidak dilakukan pemotongan
PPh Pasal 21.

F. Bendaharawan atau penanggung jawab BOS ketika menggunakan dana


BOS untuk bantuan transport bagi siswa miskin tidak dilakukan
pemotongan pajak, karena bantuan tersebut tidak termasuk Objek Pajak
Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a angka
1 UU PPh.

Dalam penggunaan dana BOS ini, sering ditemukan permasalahan-


permasalahan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. pada umumnya penyaluran BOS sudah tepat sasaran dan sudah sesuai
dengan tujuan untuk mengurangi iuran bulanan bahkan membebaskan
iuran bulanan bagi siswa miskin dan tidak mampu.
b. Pada beberapa daerah sering terjadi ketidaktepatan jumlah, karena
penghitungan jumlah riil murid umumnya tidak dapat diselesaikan sesuai
waktu sehingga data jumlah siswa yang digunakan sebagai dasar
perhitungan dana BOS adalah data siswa sebelumnya. Dasar
penghitungan yang tidak akurat ini menjadikan dana BOS yang dicairkan
ke setiap sekolah penerima lebih/kurang dari jumlah murid riil. Tidak
hanya itu, dalam melakukan pendataan atas sekolah-sekolah penerima
seringkali data tidak akurat dimana sekolah-sekolah tersebut menolak
untuk menerima dana tersebut sehingga penyerapan dana BOS tidak
maksimal.
c. Penyaluran dana BOS dari kantor pos ke sekolah-sekolah seringkali
terlambat.
d. Dana BOS lebih banyak dialokasikan untuk pembayaran honor guru dan
tenaga pelaksana harian sekolah padahal dana BOS hanya boleh
diperuntukkan untuk kepentingan siswa dalam rangka meringankan

Sie Infokum – Ditama Binbangkum -8-


beban siswa tidak mampu atau diperuntukkan hanya untuk honor guru
bantu.

Sumber :
www.bpk.go.id;
www.depdiknas.go.id;
situs resmi Dinas P&K Provinsi Jawa Tengah;
menkokesra.go.id

Sie Infokum – Ditama Binbangkum -9-