Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Hari, Tanggal : Kamis, 22 Mei 2008

MK. Teknologi Minyak Atsiri, Asisten : 1. Linda Purwaningrat


Fitofarmaka, dan Rempah-Rempah 2. Fina Uzwatania
3. Ira

PENGUJIAN MUTU MINYAK ATSIRI

Disusun Oleh :
Marlina Nurul M. F34050782
Prima Widya P. F34052831

2008
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Minyak atsiri merupakan minyak yang mengandung komponen-komponen
volatil yang terdapat dalam tanaman maupun hewan. Karakteristik minyak atsiri
ditentukan berdasarkan karakteristik sumber bahannya. Sehingga setiap jenis
minyak atsiri memiliki sifat khas tersendiri tergantung dari persenyawaan kimia
yang menyusunnya. Sifat-sifat khas dan mutu minyak atsiri dapat berubah mulai
dari selama proses ekstraksi, pemurnian, penyimpanan, dan pemasaran. Untuk itu
dibutuhkan pengujian mutu minyak atsiri dengan cara menganalisa sifat fisiko-
kimia minyak tersebut.
Mutu minyak atsiri didasarkan atas kriteria atau batasan yang dituangkan
di dalam standar mutu. Melalui analisis sifat fisik, dapat diketahui keaslian
minyak atsiri tersebut, sedangkan melalui analisis sifat kimia, dapat diketahui
secara umum komponen kimia yang terdapat di dalamnya. Komponen kimia
minyak atsiri akan menentukan nilai (harga) dan kegunaan minyak atsiri tersebut.
Adapun faktor-faktor yang menentukan mutu minyak atsiri yaitu jenis
tanaman dan umur panen, perlakuan bahan sebelum ekstraksi, sistem, jenis
peralatan dan kondisi proses ekstraksi minyak, perlakuan terhadap minyak atsiri
setelah ekstraksi serta pengemasan dan penyimpanan.

B. Tujuan
Tujuan praktikum pengujian mutu minyak atsiri ini adalah untuk :
1. Mendeteksi adanya pemalsuan minyak
2. Mengevaluasi mutu dan kemurnian minyak
3. Mengidentifikasi jenis dan kegunaan minyak

II. TINJAUAN PUSTAKA

Bobot Jenis
Prinsip dari pengukuran bobot jenis adalah membandingkan antara
kerapatan minyak pada suhu 250C terhadap kerapatan air pada suhu yang sama.
Bobot jenis ditentukan dengan menggunakan piknometer. Piknometer sering
digunakan dalam penetapan bobot jenis karena selain praktis dan tepat
penggunaannya juga hanya menggunakan sejumlah kecil contohminyak. Bobot
jenis suatu senyawa organik dipengaruhi oleh bobot molekul, polaritas, suhu, dan
tekanan (Guenther, 1987).
Bobot jenis minyak menunjukkan kerapatan minyak melati pada suhu
250C terhadap kerpatan air suling pada suhu yang sama. Alat yang digunakan
adalah piknometer. Bobot jenis minyak umumnya berkisar antara 0.696-1.119 dan
kebanyakn bobot jenis minyak tersebut tidak melebihi nilai 1.000. Penentuan
bobot jenis minyak adalah salah satu cara analisa yang dapat menggambarkan
kemurnian minyak. Bobot jenis merupakan salah satu indikator untuk menentukan
adanya pemalsuan minyak atsiri yang merupakan analisis untuk menggambarkan
kemurnian minyak. Penambahan dengan bahan pencampur lain yang mempunyai
bobot molekul besar dapat menaikkan bobot jenisnya (Ketaren, 1985).

Indeks Bias
Indeks bias minyak atsiri adalah perbandingan antara sinus sudut jatuh dan
sinus sudut bias jika seberkas cahaya dengan panjang gelombang tertentu jatuh
dari udara ke minyak dengan sudut tertentu. Alat untuk mengukur indeks bias
adalah refraktometer (Guenther, 1987).
Refraksi atau pembiasan ini disebabkan adanya interaksi antara gaya
elektrostatik dan gaya elektromagnet dari atom-atom di dalam molekul cairan.
Pengujian indeks bias dapat digunakan untuk menentukan kemurnian minyak
(Ketaren, 1985).
Penetapan indeks bias dilakukan ketika adanya cahaya yang melewati
media kurang padat ke media padat kemudian sinar tersebut akan membelok atau
membias menuju garis normal. Refraktometer adalah alatyang tepat dan cepat
untuk menetapkan nilai indeks bias (Ketaren, 1985).
Menurut Rusli et al (1985), indeks bias berkorelasi positif dengan bobot
jenis. Besar kecilnya indeks bias dan bobot jenis berhubungan dengan
perbandingan komponen-komponen senyawa yang terkandung di dalamnya.
Indeks bias dipengaruhi oleh panjangnya rantai karbon dan banyaknya ikatan
rangkap. Semakin banyak minyak mengandung senyawa dengan ikatan rangkap
atau fraksi-fraksi berat, maka kerapatan minyak akan bertambah besar. Jika
kerapatan minyak semakin besar, maka akan sulit membiaskan cahaya yang
datang dan akan menyebabkan indeks bias bertambah besar karena indeks bias
merupakan perbandingan kecepatan cahaya dalam udara dengan kecepatan cahaya
dalam zat bersangkutan.
Cahaya merupakan suatu gelombang. Peristiwa yang dialami suatu cahaya
juga dialami oleh cahaya, termasuk peristiwa pembiasan. Berkas sinar yang
datang disebut sebagai sinar datang. Sudut yang dibentuk antara sinar datang
dengan garis normal permukaan disebut sudut datang (i). Berkas isnar yang
dibentuk setelah pembelokan dalam air disebut sinar bias. Sudut yang dibentuk
oleh perpanjangan sinar datang dengan garis normal disebut sudut bias (r), dan
sudut yang dibentuk dari perpanjangan sinar datang dengan garis normal disebut
sudut deviasi. Konsep dasar pembiasan cahaya didasarkan pada hukum-hukum
Snellius :
1. Hukum I Snellius : sinar datang, sinar bias dan garis normal terletak pada satu
bidang datar.
2. Hukum II Snellius : jika sinar datang dari medium kurang rapat ke medium
yang rapat (N<n), sinar akan dibelokan mendekati garis normal. Sebaliknya,
jika sinar datang dari medium yang rapat ke medium yang kurang rapat (N>n),
sinar dibelokan menjauhi garis normal. Maka persamaan pembiasan menjadi
[N sin r = n sin i]. Ilustrasi mengenai pembiasan dapat dilihat dari gambar
berikut :
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000
050000000c0237080d0e040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc0200000
0000102022253797374656d00080d0e0000fb6c0000985c110004ee833978e021000c0200
00040000002d01000004000000020101001c000000fb029cff00000000000090010000000
00440001254696d6573204e657720526f6d616e000000000000000000000000000000000
0040000002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000
0100e340820522d00040000002d010000030000000000

Putaran Optik
Setiap jenis minyak atsiri mempunyai kemampuan memutar bidang
polarisasi cahaya ke arah kanan (dxtro rotary) dengan tanda (+) atau ke arah kiri
(levo rotary) dengan tanda (-). Besarnya perputaran bidang polarisasi ini
ditentukan oleh jenis minyak, suhu, panjang kolom yang berisi minyak, dan
panjang gelombang cahaya yang dipakai. Minyak atsiri yang akan dianalisa harus
bebas dari endapan dan suspensi (Ketaren, 1985). Atom C pada senyawa
penyusun minyak atsiri mengikat empat gugus berbeda yang disebut sebagai atom
C asimetri atau atom C kiral. Penandaan D (dextro) dan L (levo) menunjukkan
konfigurasi gugus yang terikat pada atom C asimetri,sedangkan tand (+) dan (-)
menunjukkan arah rotasi cahay terpolarisasi (Nur et al., 2002).

Kelarutan dalam Alkohol


Minyak atsiri dapat larut dalam alkohol pada perbandingan dan
konsentrasi tertentu. Dengan demikian, jumlah dan konsentrasi alkohol yang
dibutuhkan untukmelarutkan sejumlah minyak atsiri secara sempurna dapat
diketahui. Umumnya, minyak atsiri yang mengandung persenyawaan oxygenated
terpene lebih mudah larut daripada yang mengandung terpen. Pencampuran bahan
minyak atsiri dengan bahan-bahan lain dapat mempengaruhi kelarutan. Sebagai
contoh, pencampuran minyak sereh wangi dengan petroleum akan menurunkan
nilai kelarutan minyak tersebut dalam alkohol 80% dan kahirnya bahan
pencampur tersebut terpisah dari minyak atsiri. Hal ini disebabkan adanya
polimerisasi selama penyimpanan. Senyawa polimer yang terbentuk akan
menurunkan daya larutnya dalam alkohol. Proses polimerisasi mudah terjadi
terutama dalam minyak yang mengandung sejumlah besar terpen yang; yang
disebabkan oleh pengaruh cahaya, sinar, dan air dalam minyak (Ketaren, 1985).

Kadar Sisa Penguapan


Minyak yang tidak menguap pada suhu 1000C ditetapkan sebagai sisa
penguapan jika kotoran yang utama dalam minyak atsiri adalah penguapan. Suatu
contohpenentuan sisa penguapan minyak yang rendah kemungkinan disebabkan
karena adanya terpen atau konstituen menguap lainnya. Nilai sisa penguapan yang
tinggi disebabkan adanya benda asing seperti rosin, fixed oil, atau seskuiterpen
bertitik didih tinggi. Nilai sisa penguapan hasil rektifikasi terpentin menandakan
kurang sempurnanya proses rektrifikasi atau karena terjadinya proses polimerisasi
selama penyimpanan minyak. Konsistensi dan warna sisa penguapan dalam
keadaan maupun dingan, kadang-kadang dapat menunjukkan adanya campuran
bahan lain. Penyulingan lebih lama menghasilkan minyak dengan kandungan
seskuiterpen yangbertitik didih tinggi, sehingga sukar menguap pada pengujian
sisa penguapan (Ketaren, 1985).

Minyak Sereh Wangi


Minyak sereh wangi dihasilkan dengan cara menyulong daun sereh wangi
yang mengandung kurang dari 0.5-1.2% minyak. Bahan yang terpenting dalam
minyak sereh wangi adalah peresenyawaan aldehid dengan nama sitronellal dan
persenyawaan alkohol disebut geraniol. Kadar sitronella dan geraniol sangat
menentukan mutu minyak sereh wangi. Jenis tanaman sereh yang menghasilkan
produksi dan mutu yangterbaik adalah jenis “Mahapengiri” yang banyak ditanam
di Pulau Jawa. Jenis tanaman ini mengandung 80-97% total geraniol dan 30-45%
sitronella. Sedangkan jenis “Lenabau” dari Ceylon hanya mengandung 55-65%
total geraniol (Ketaren, 1985).
Sifat kimia minyak sereh wangi ditentukan oleh senyawa-senyawa
yangterdapat di dalamnya, terutama sitronella, geraniol, dan sitronellol. Ketiga
senyawa ini mempunyai ikatan rangkap. Mengingat adanya ikatan rangkap pada
senyawa-senyawa dalam minyak sereh wangi, maka penyebab kerusakan atau
penurunan mutuminyak sereh wangi disebabkan oleh adanya proses oksidasi dan
poliomerisasi (resinifikasi). Proses oksidasi dapat menyebabkan perubahan bau
dan warna serta menurunkan jumlah geraniol, sitronellol, dan sitronelll. Proses
resinifikasi akan menyebabkan minyak sereh wangi kelihatan keruh. Selain itu
penurunan mutu minyak sereh wangi juga dapat disebabkan karena reaksi
hidrolisis senyawa ester yang terdapat di dalam minyak sereh wangi, seperti
senyawa geranil asetat, sitronellil asetat, dan linallil asetat. Hidrolisis senyawa
ester akan menimbulkan bau yang tidak enak karena terjadi pembentukan asam-
asam organik berantai karbon lebihpendek (Ketaren, 1985).
Minyak sereh wangi biasanya berwarna kuning muda sampai kuning tua,
bersifat mudah menguap,. Pada suhu 150C mempunyai bobot jenis 0.886-0.894;
indeks bias pada suhu 200C adalah 1.467-1.473. Dapat larut dalam 3 bagian
volume alkohol 80% tetapi bila diencerkan kelarutannya berkurang dan larutan
menjadi keruh (Guenther, 1987).
Karakterisitk Syarat Mutu
1. Warna Kuning pucat sampai kuning kecokelatan
2. Bobot Jenis (250C/250C) 0.850-0.892
3. Indeks Bias (n25) 1.454-1.473
4. Total Geraniol, %(b/b) min 85
5. Sitronellal, 5(b/b) min 35
6. Bau Segar, khas minyak sereh wangi
7. Putaran Optik 00-60
8. Titik Nyala 760C-840C
9. Zat asing :
a. Lemak Negatif
b. Alkohol tambahan Negatif
c. Minyak Pelikan Negatif
d. Minyak Terpentin Negatif

Minyak Pala
Buah pala mengandung zat-zat minyak terbang (myristin, pinen, kamfer,
dipenten, safnol, eugenol, iso-eugenol, alkohol), gliserida (asam miristat, asam
oleat, borneol, giraniol), protein, lemak, pati, gula, vitamin A, B1 dan C. Biji pala
mengandung minyak terbang, memiliki wangi dan rasa aromatis yang agak pahit.
Sebanyak 8-17% minyak terbang yang dikeluarkan merupakan bahan terpenting
pada fuli (achmad dan Rasyidah, 2000).
Minyak pala diperoleh dengan melakukan penyulingan terhadap biji dan
fuli pala. Biji yangbiasa digunakan dalam penyulingan bijipala adalah biji muda
karena memiliki kandungan minyak pala yang lebih tinggi. Minyak pala berwarna
kuning pucat sampai tak berwarna, mudah menguap, dan mempunyai bau khas
pala (Nurdjanah et al., 1990).
Minyak pala merupaka cairan jernih (hampir tak berwarna) sampai kuning
muda. Sifat-sifat kimia dari biji pala ternyata tidak berbeda dengan minyak dari
fuli pala. Minyak pala jika dibiarkan di udara terbuka akan berubah menjadi
kental karena peristiwa polimerisasi dan berbau terpentin atau berbau campuran
yang tidak menyenangkan (Lutony dan Rahmawati, 2002).
Standar mutu minyak pala Indonesia sebagai berikut.
Karakterisitk Persyaratan
Bobot Jenis 0.847-0.919
Putaran Optik +100- +300
Indeks Bias (N25D) 1.472-1.494
Kelarutan dalam etanol 90% Perbandingan volume 1:3, jernih dan
seterusnya jernih
Sisa Penguapan contoh 4.8-5.2 g 2.5%
maksimal
Lemak -
Alkohol Tambahan -
Minyak Pelikan -
Minyak Terpentin -

Nutmeg oil yaituminyak hasil sulingan serbuk biji pala, sedangkan


penyulingan fuli menghasilkan mace oil. Di dalam duniaperdagangan, kedua jenis
minyak ini tidak dibedakan karena tidak terdapat kesamaan unsur-unsur penyusun
yang dikandungnya. Rendemen nutmeg oil dan mace oil sekitar 7-15% antara lain
mengandung unsur-unsur : eugenol, iso-eugenol, terpineol, borneol, linalol,
geraniol, safrole, terpene, serta aldehid dan unsur lain yang berupa cairan bebas
(Kardinan, 2005).
Patokan mutu mace oil yang ditetapkan berdasarkan EOA sebagai berikut :
a. Panampilan, warna, bau : cairan bening atau kuning
pucat, memiliki rasa dan bau khas pala.
b. Berat jenis, 250C : 0.880-0.930.
c. Putaran optik : 20-300.
d. Indeks refraksi, 250C : 1.4740-1.4880
e. Kelarutan dalam alkohol 80% : larut dalam 3 volume
(Anonimous, 1970).
Minyak biji pala atau fuli pala mengandung unsur-unsur psikotropik yang
dapat menimbulkan rasa khayal atau halusinasi alias merasa memiliki kekuatan
yang istimewa kalai dimakan unsur yang dapat mengakibatkan timbulnya
halusinasi tersebut, berdasarkan dugaan para ahli, disebabkan oleh senyawa yang
bernama myristin (Mukhopadyay, 2002).
Minyak pala juga memiliki daya bunuh yang tinggi terhadap larva
serangga yang dapat mengakibatkan penyakit seperti nyamuk ataupun serangga
hama tanaman. Minyak pala bersama dengan minyak permen (peppermint oil)
dignakan sebagai penyegar pasta gigi. Minyakpala bersama-sama dengan minyak
cengkeh, vanili, dan minyak cassia banyak dipakai sebagaipencampur aroma
tembakau (Rusli et al., 1985).

Minyak Sedap Malam (???????)


Minyak Lemon (??????)
III. METODOLOGI

A. Bahan dan Alat


Bahan yang digunkan dalam praktikum kali ini adalah minyak atsiri
(minyak sedap malam, minyak lemon, minyak sereh wangi, dan minyak pala), air
suling, alkohol 90%, larutan PP 1% dan KOH 0.1 N. Sedangkan alat yang
digunakan antara lain piknometer, thermostat, refraktometer, polarimeter,
erlenmeyer, sawan porselen, penangas air, tabung rekasi, biuret dan pipet.

B. Metode
1. Bobot Jenis
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000
050000000c0237080d0e040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc020000
00000102022253797374656d00080d0e0000fb6c0000985c110004ee833978e021000c020
000040000002d01000004000000020101001c000000fb029cff0000000000009001000000
000440001254696d6573204e657720526f6d616e00000000000000000000000000000000
00040000002d010100050000000902000000020d000000320a5a00000001000400000000
00100e340820522d00040000002d010000030000000000
2. Indeks Bias
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000
3. Putaran Optik
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000
050000000c0237080d0e040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc0200000
0000102022253797374656d00080d0e0000fb6c0000985c110004ee833978e021000c0200
00040000002d01000004000000020101001c000000fb029cff00000000000090010000000
00440001254696d6573204e657720526f6d616e000000000000000000000000000000000
0040000002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000
0100e340820522d00040000002d010000030000000000

4. Kelarutan dalam Alkohol


0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000
050000000c0237080d0e040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc0200000
0000102022253797374656d00080d0e0000fb6c0000985c110004ee833978e021000c0200
00040000002d01000004000000020101001c000000fb029cff00000000000090010000000
00440001254696d6573204e657720526f6d616e000000000000000000000000000000000
0040000002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000
0100e340820522d00040000002d010000030000000000
5. Sisa Penguapan
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000
050000000c0237080d0e040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc0200000
0000102022253797374656d00080d0e0000fb6c0000985c110004ee833978e021000c0200
00040000002d01000004000000020101001c000000fb029cff00000000000090010000000
00440001254696d6573204e657720526f6d616e000000000000000000000000000000000
0040000002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000
0100e340820522d00040000002d010000030000000000
6. Kadar Asam
0100090000037800000002001c00000000000400000003010800050000000b0200000000
050000000c0237080d0e040000002e0118001c000000fb021000070000000000bc0200000
0000102022253797374656d00080d0e0000fb6c0000985c110004ee833978e021000c0200
00040000002d01000004000000020101001c000000fb029cff00000000000090010000000
00440001254696d6573204e657720526f6d616e000000000000000000000000000000000
0040000002d010100050000000902000000020d000000320a5a000000010004000000000
0100e340820522d00040000002d010000030000000000