Anda di halaman 1dari 15

Makalah Bahasa Indonesia

Nilai Pendidikan dalam Upacara Tradisi Sekaten

Disusun oleh:
Ario Purwono (22053848)
Ridho Dwi Satriadi (22053851)

Program Studi Tekhnik Infromatika Fakultas Teknik


Universitas Kristen Duta Wacana
Tahun 2011

ii
DAFTAR ISI

Makalah Bahasa Indonesia..........................................................................i

DAFTAR ISI.................................................................................................iii

BAB I.......................................................................................................... 1

0.1 Latar Belakang...................................................................................1

0.2 Rumusan Masalah..............................................................................2

1.3 Batasan Masalah................................................................................3

1.4 Tujuan Penulisan................................................................................3

1.5 Daftar Istilah......................................................................................3

1.5.1. Pengertian Nilai .........................................................................3

1.5.2. Pengertian Pendidikan ...............................................................3

1.5.3. Nilai-Nilai Pendidikan .................................................................4

1.5.4. Teori Kecerdasan majemuk menurut Howard Gardner...............5

1.5.5. Pengertian Budaya.....................................................................7

1.6 Sistematika Penyajian........................................................................7

BAB II......................................................................................................... 9

BAB III...................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

0.1 Latar Belakang


Pendidikan dalam arti luas mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk
interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal, non formal maupun
informal, sampai dengan suatu taraf kedewasaan tertentu. Dengan demikian,
pendidikan bisa didapat dari kegiatan sehari-hari. Tetapi, banyak orang yang belum
menyadari karena selama ini pendidikan hanya diartikan sebagai kegiatan belajar
mengajar pada institusi tertentu. Hampir semua hal yang kita lakukan memiliki unsur
pendidikan, tergantung dari sisi mana pendidikan itu dilihat.

Upacara tradisi merupakan bagian dari adat istiadat yang merupakan salah satu
upaya masyarakat Jawa untuk menjaga keharmonisan dengan alam, dunia roh, dan
sesamanya (Danandjaja, 1997). Sebagai perwujudan dari itu, Keraton Kasultanan
Ngayogyakarta sekarang ini masih tetap menjaga kebudayaan yang telah diwariskan
secara turun-temurun. Hal tersebut masih tercermin dengan dilakukannya Upacara
Tradisional Sekaten sebagai sarana dalam memperingati hari lahir Nabi Muhammad
SAW. Perayaan Sekaten ini diadakan setiap 12 Mulud atau 12 Rabiul Awal
(Rahmawati, 2002). Pada dasarnya, Upacara Tradisi Sekaten memiliki tiga kegiatan
utama yang antara lain :

1. Dibunyikannya dua perangkat gamelan (Kanjeng Kyai Nagawilaga dan


Kanjeng Kyai Guntur Madu) di Kagungan Dalem Pagongan Masjid Agung
Yogyakarta selama 7 hari berturut-turut, kecuali Kamis malam sampai Jumat
siang.

1
2. Peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 11 Mulud
malam, bertempat di serambi Kagungan Dalem Masjid Agung, dengan Bacaan
riwayat Nabi oleh Abdi Dalem Kasultanan, para kerabat, pejabat, dan rakyat.

3. Pemberian sedekah Ngarsa Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun


Kanjeng Sultan, berupa Hajad Dalem Gunungan dalam upacara Garebeg sebagai
upacara puncak sekaten. Gunungan berasal dari kata gunung, terdiri dari berbagai
jenis makanan dan sayuran yang diatur bersusun meninggi menyerupai gunung.

Zaman sekarang, kebanyakan orang sudah tidak lagi peduli akan budaya
tradisional. Bagi kebanyakan orang, budaya tradisional hanya menjadi folklor
(adat-istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun,
tetapi tidak dibukukan) tanpa mengetahui makna yang terkandung didalamnya.
Hal ini menjadi salah satu penyebab timbulnya problematika dalam pelestarian
budaya tradisional pada masa sekarang ini.

Salah satu cara melestarikan budaya adalah dengan mengenal nilai-nilai


yang terkandung di dalamnya, salah satunya ialah nilai pendidikan. Nilai
pendidikan dapat digunakan sebagai bahan pengajaran kepada masyarakat.
Melalui penulisan ini penulis akan menganalisis nilai-nilai pendidikan dalam
Upacara Tradisi Sekaten.

Upacara Tradisi Sekaten dipilih sebagai objek penulisan makalah karena,


sekaten merupakan budaya tradisional Jawa khususnya Yogyakarta dan berbasis
pada ajaran Islam, yang mana sesuai dengan latar belakang penulis.

0.2 Rumusan Masalah


• Apakah Upacara Tradisi Sekaten memiliki nilai pendidikan?

2
1.3 Batasan Masalah
• Objek penulisan makalah hanya pada Upacara Tradisi Sekaten yang diadakan
di Yogyakarta.

• Penulisan makalah ini menggunakan teori delapan kecerdasan manusia


menurut Howard Gardner dari Harvard University.

1.4 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan nilai pendidikan
yang ada didalam Upacara Tradisi Sekaten

1.5 Daftar Istilah

1.5.1. Pengertian Nilai


Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi
kemanusiaan (KBBI, 1995: 690). Menurut Daroeso (1989: 20) nilai adalah
suatu penghargaan atau kualitas terhadap sesuatu atau hal yang dapat menjadi
dasar penentu tingkah laku seseorang, karena sesuatu hal itu menyenangkan,
memuaskan, menguntungkan atau merupakan suatu sistem keyakinan. Oleh
sebab itu, nilai bersifat normative dan merupakan keharusan untuk
diwujudkan dalam tingkah laku manusia.

1.5.2. Pengertian Pendidikan

Pendidikan dalam arti makro (luas) menurut Hadikusumo adalah proses


interaksi antara manusia sebagai individu/ pribadi dan lingkungan alam
semesta, lingkungan sosial, masyarakat, sosial-ekonomi, sosial-politik dan

3
sosial-budaya. Tirtarahardja menambahkan jika Pendidikan dalam arti luas
juga dapat diartikan hidup (segala pengalaman belajar yang berlangsung
dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Segala situasi hidup yang
mempengaruhi pertumbuhan individu, suatu proses pertumbuhan dan
perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan
lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir).

Jadi pendidikan dalam arti luas, hidup adalah pendidikan, dan


pendidikan adalah hidup. Maksudnya bahwa pendidikan adalah segala
pengalaman hidup (belajar) dalam berbagai lingkungan yang berlangsung
sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi pertumbuhan atau
perkembangan individu.

1.5.3. Nilai-Nilai Pendidikan

Nilai pendidikan memiliki kedudukan sebagai tolak ukur seberapa


berharganya kehidupan bagi manusia. Menghargai pentingnya arti kehidupan,
mengingat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak terlepas dengan
manusia lain. Dapat diartikan dalam kehidupan masyarakat, bahwa nilai
pendidikan dapat membentuk kemaslahatan dan kesejahteraan manusia
sebagai anggota masyarakat. Hadikusuma (1999: 25) membagi nilai-nilai
pendidikan itu atas pendidikan keindahan, pendidikan kesusilaan, pendidikan
sosial, pendidikan politik, pendidikan ekonomi, pendidikan agama dan
pendidikan ketrampilan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai pendidikan merupakan konsep


yang dijadikan panutan hidup manusia dalam menjalani hidup dan
mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

4
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

1.5.4. Teori Kecerdasan majemuk menurut Howard Gardner


Menurut Gardner, setiap orang mempunyai lebih dari satu
kecerdasan(majemuk). Ada delapan kecerdasan yan g terkandung dalam
kecerdasan majemuk, yaitu:

1. Kecerdasan Linguistik (Word Smart)

Adalah kecerdasan menggunakan kata-kata secara efektif. Kecerdasan ini


sangat berguna bagi para penulis, aktor, pelawak, selebriti, radio dan para
pembicara hebat. Kecerdasan juga membantu kesuksesan kariernya di bidang
pemasaran dan politik.

2. Kecerdasan Logis- Matematis (Number Smart)

Kecerdasan yang satu ini adalah ketrampilan mengolah angka dan kemahiran
menggunakan logika dan akal sehat. Ini adalah kecerdasan yang digunakan
ilmuwan untuk membuat hipotesa dan dengan tekun mengujinya dengan
eksperimen. Ini juga kecerdasan yang digunakan oleh Akuntan pajak,
pemrogaman komputer dan ahli matematika.

3. Kecerdasan Spasial (Picture Smart)

Ini adalah kecerdasan gambar dan bervisualisasi. Kecerdasan ini melibatkan


kemampuan untuk menvisualisasikan gambar di dalam kepala seseorang atau
menciptakannya dalam bentuk 2 atau 3 dimensi. Seniman atau pemahat serta
pelukis memiliki kecerdasan ini dalam tingkat tinggi.

5
4. Kecerdasan Kinestetik- Jasmani (Body Smart)

Kecerdasan jasmani adalah kecerdasan seluruh tubuh (atlet, penari, seniman,


pantomim aktor) dan juga kecerdasan tangan (montir, penjahit, tukang kay,
ahli bedah)

5. Kecerdasan Musikal (Music Smart)

Kecerdasan musical melibatkan kemampuan menyanyikan sebuah lagu,


mengingat melodi musik, mempunyai kepekaan irama atau sekedar menikmati
musik.

6. Kecerdasan Antar Pribadi (People Smart)

Kecedasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerja untuk


orang lain. Kecerdasan ini melibatkan banyak hal, mulai dari kemampuan
berempati, kemampuan memimpin, dan kemampuan mengorganisir orang
lain.

7. Kecerdasan Intra Pribadi (Self Smart)

Kecerdasan ini melibatkan kemampuan untuk memahami diri sendiri,


kecerdasan untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita sendiri. Kecerdasan
ini sangat penting bagi para wira usahawan dan individu lain yang harus
memiliki persyaratan disiplin diri, keyakinan, dan pengetahuan diri untuk
mengetahui bidang atau bisnis baru.

8. Kecerdasan Naturalis (Nature Smart)

Kecerdasan naturalis melibatkan kemampuan untuk mengenal bentuk-bentuk


alam di sekitar kita: Bunga, burung, pohon, hewan serta flora dan fauna

6
lainny. Kecerdasan ini dibutuhkan di banyak profesi seperti ahli biologi,
penjaga hutan, dokter, hewan dan holtikulturalis.

1.5.5. Pengertian Budaya


Menurut Bounded et.al kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh
pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-
simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang
digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu
masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di
temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan
semacam itu.

Sedangkan kebudayaan menurut Robert H Lowie adalah segala sesuatu


yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat
istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh
bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau
yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang


terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia
melalui simbol-simbol tertentu yang di peroleh dari masyarakat.

1.6 Sistematika Penyajian


Makalah ini akan disusun dalam tiga bab. Bab pertama berisi latar belakang
masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, daftar istilah,
sistematika penyajian. Bab kedua berisi pembahasan topik tulisan. Bab ketiga
berisi kesimpulan yang didapat dari pembahasan sebelumnya.

7
8
BAB II
PEMBAHASAN

Dalam Upacara Tradisi Sekaten, terdapat tiga kegiatan utama, yaitu :

1. Dibunyikannya dua perangkat gamelan (Kanjeng Kyai Nagawilaga dan


Kanjeng Kyai Guntur Madu) di Kagungan Dalem Pagongan Masjid Agung
Yogyakarta selama 7 hari berturut-turut, kecuali Kamis malam sampai Jumat
siang.

2. Peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 11 Maulud
malam, bertempat di serambi Kagungan Dalem Masjid Agung, dengan Bacaan
riwayat Nabi oleh Abdi Dalem Kasultanan, para kerabat, pejabat, dan rakyat.

3. Pemberian sedekah Ngarsa Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun


Kanjeng Sultan, berupa Hajad Dalem Gunungan dalam upacara Garebeg sebagai
upacara puncak sekaten.

Pada kegiatan pertama, ketika dibunyikannya perangkat gamelan timbul respon


dari masyarakat yang hadir untuk menikmati musik, bahkan untuk mengingat irama
dan menyanyikan lagu yang dimainkan. Hal ini menunjukkan adanya stimulus
terhadap kecerdasan musikal peserta Upacara Tradisional Sekaten.

Peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW dimaksudkan menambah


kepercayaan dan keyakinan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena selain
menceritakan riwayat Nabi, kegiatan ini juga diisi dengan dakwah mengenai ilmu
agama. Dengan demikian dapat menguatkan kecerdasan intra personal para peserta
Upacara Tradisi Sekaten.

9
Puncak acara yang tandai dengan pemberian sedekah oleh Ngarsa Dalem
Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan kepada masyarakat berupa Hajad
Dalem Gunungan. Kegiatan ini menyadarkan kepada peserta upacara baik Ngarsa
Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan maupun masyarakat
tentang berempati antar manusia. Pada sisi Ngarsa Dalem Sampean Dalem Ingkang
Sinuwun Kanjeng Sultan sendiri dimaksudkan untuk menunjukan dan memberi
contoh kepada masyarakat tentang kemampuan memimpin dan mengorganisasikan
orang lain.

10
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan diatas, pada kegiatan Upacara Tradisi Sekaten


ditemukan stimulus terhadap tiga kecerdasan manusia, yaitu kecerdasan musikal,
kecerdasan intra personal, dan kecerdasan antar personal yang merupakan bagian dari
teori kecerdasan majemuk menurut Howard Gardner. Menurut teori Nilai Pendidikan,
sebuah kegiatan yang menambah kecerdasan berarti kegiatan tersebut memiliki nilai
pendidikan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Upacara Tradisi Sekaten
memiliki nilai pendidikan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Hadikusumo, Kunaryo, dkk. 1996. Pengantar Pendidikan. Semarang : IKIP


Semarang Press.

Moeliono, Anton M . 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.

Handipaningrat, KRT.. Tt. Perayaan Sekaten. Surakarta: Kapustakan Sono Pustoko


Karaton Surakarta.

UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003

Supersuga, 2009, Teori Kecerdasan, http://supersuga.wordpress.com/2009/04/27/teori-


kecerdasan/

Arifin, masyhuri, 2009, Definisi Kebudayaan Menurut Para Ahli,


http://exalute.wordpress.com/2009/03/29/definisi-kebudayaan-menurut-para-ahli/

12