Anda di halaman 1dari 98

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita yang mana dengan karunia-NYA kita
senantiasa istiqomah dalam keimanan dan keislaman. Shalawat serta salam tetap
tercurah limpahkan kepada junjungan kita guru besar kita habibana wa nabiyana
Muhammad Saw. Dialah yang telah mendidik kita, mengajarkan kita arti hidup yang
hakiki dengan penuh nur ilahi.

Persoalan pendidikan tak akan pernah habis karena pendidikan terkait tiga hal
utama, yakni pendidikan terkait dengan manusia sehingga tidak akan selesai selama
manusianya masihada; pendidikan menyangkut ilmu pengetahuan, dan pendidikan
terkait masa depan apalagi pendidikan akan nerjalan terus bilamana jaminan bagi guru
terpenuhi dan kebutuhan siswa akan ilmu juga terpenuhi. Oleh karena itu kami akan
memaparkan sebuah karya ilmiah makalah yang berjudul KEPASTIAN JAMINAN
DALAM PELAYANAN PENDIDIKAN.

Terima kasih kepada Bapak ddosen yang telah memberikan pengarahan


sampai terselesainya makalah ini

Terimakasih kepada rekanku yang tlah membantu mengumpulkan data yang


sampai terselesainya makalah ini.

Karya ilmiah ini tak lepas dari kesalahan maka kami mohon kritik dan saran
dari rekan-rekanku sekalian.

penulis

1
ABSTRAK

Persoalan pendidikan tak akan pernah habis karena pendidikan terkait tiga hal utama,
yakni pendidikan terkait dengan manusia sehingga tidak akan selesai selama
manusianya masihada; pendidikan menyangkut ilmu pengetahuan, dan pendidikan
terkait masa depan apalagi pendidikan akan nerjalan terus bilamana jaminan bagi guru
terpenuhi dan kebutuhan siswa akan ilmu juga terpenuhi.

Dari segi keadilan kesejahteraan guru, masih ada beberapa kesenjangan yang
dirasakan sebagai perlakuan diskriminatif para guru. Di antaranya adalah: (1)
kesenjangan antara guru dengan PNS lainnya, serta dengan para birokratnya, (2)
kesenjangan antara guru dengan dosen, (3) kesenjangan guru menurut jenjang dan
jenis pendidikan, misalnya antara guru SD dengan guru SLTP dan Sekolah
Menengah, (4) kesenjangan antara guru pegawai negeri yang digaji oleh negara,
dengan guru swasta yang digaji oleh pihak swasta, (5) kesenjangan antara guru
pegawai tetap dengan guru tidak tetap atau honorer, (6) kesenjangan antara guru yang
bertugas di kota-kota dengan guru-guru yang berada di pedesaan atau daerah
terpencil, (7) kesenjangan karena beban tugas, yaitu ada guru yang beban
mengajarnya ringan tetapi di lain pihak ada yang beban tugasnya banyak (misalnya di
sekolah yang kekurangan guru) akan tetapi imbalannya sama saja atau lebih sedikit.
Kesejahteraan mencakup aspek imbal jasa, rasa aman, kondisi kerja, hubungan antar
pribadi, dan pengembangan karir.

2
BAB I

KEPASTIAN JAMINAN

Seperti telah dikemukakan di atas, hingga saat ini guru belum memperoleh
penghargaan yang memadai. Selama ini pemerintah telah berupaya memberikan
penghargaan kepada guru dalam bentuk pemilihan guru teladan, lomba kreatiivitas
guru, guru berprestasi, dsb. meskipun belum memberikan motivasi bagi para guru.
Sebutan pahlawan tanpa tanda jasa lebih banyak dipersepsi sebagai pelecehan
ketimbang penghargaan. Pemberian penghargaan terhadap guru harus bersifat adil,
terbuka, non-diskriminatif, dan demokratis dengan melibatkan semua unsur yang
terkait dengan pendidikan terutama para pengguna jasa guru itu sendiri, sementara
pemerintah lebih banyak berperan sebagai fasilitator.

Hingga saat ini masih banyak masalah dan kendala yang berkaitan dengan
guru sebagai satu kenyataan yang harus diatasi dengan segera. Berbagai upaya
pembaharuan pendidikan telah banyak dilakukan antara lain melalui perbaikan sarana,
peraturan, kurikulum, dsb. tapi belum mempriotitaskan guru sebagai pelaksana di
tingkat instruksional terutama dari aspek kesejahteraannya. Beberapa masalah dan
kendala yang berkaitan dengan kondisi guru antara lain sebagai berikut.

1. Kuantitas, kualitas, dan distribusi.

Dari aspek kuantitas, jumlah guru yang ada masih dirasakan belum cukup untuk
menghadapi pertambahan siswa serta tuntutan pembangunan sekarang. Kekurangan
guru di berbagai jenis dan jenjang khususnya di sekolah dasar, merupakan masalah
besar terutama di daerah pedesaan dan daerah terpencil. Dari aspek kualitas, sebagian
besar guru-guru dewasa ini masih belum memiliki pendidikan minimal yang dituntut.
Data di lampiran 1 menunjukkan bahwa dari 2.783.321 orang guru yang terdiri atas
1.528.472 orang guru PNS dan sisanya (1.254.849 orang) non-PNS, baru sekitar 40%
yang sudah memiliki kualifikasi S-1/D-IV dan di atasnya. Sisanya masih di bawah D-
3 atau lebih rendah. Dari aspek penyebarannya, masih terdapat ketidak seimbangan
penyebaran guru antar sekolah dan antar daerah.. Dari aspek kesesuaiannya, di SLTP
dan SM, masih terdapat ketidak sepadanan guru berdasarkan mata pelajaran yang
harus diajarkan.

3
2. Kesejahteraan.

Dari segi keadilan kesejahteraan guru, masih ada beberapa kesenjangan yang
dirasakan sebagai perlakuan diskriminatif para guru. Di antaranya adalah: (1)
kesenjangan antara guru dengan PNS lainnya, serta dengan para birokratnya, (2)
kesenjangan antara guru dengan dosen, (3) kesenjangan guru menurut jenjang dan
jenis pendidikan, misalnya antara guru SD dengan guru SLTP dan Sekolah
Menengah, (4) kesenjangan antara guru pegawai negeri yang digaji oleh negara,
dengan guru swasta yang digaji oleh pihak swasta, (5) kesenjangan antara guru
pegawai tetap dengan guru tidak tetap atau honorer, (6) kesenjangan antara guru yang
bertugas di kota-kota dengan guru-guru yang berada di pedesaan atau daerah
terpencil, (7) kesenjangan karena beban tugas, yaitu ada guru yang beban
mengajarnya ringan tetapi di lain pihak ada yang beban tugasnya banyak (misalnya di
sekolah yang kekurangan guru) akan tetapi imbalannya sama saja atau lebih sedikit.
Kesejahteraan mencakup aspek imbal jasa, rasa aman, kondisi kerja, hubungan antar
pribadi, dan pengembangan karir.

3. Manajemen guru

Dari sudut pandang manajemen SDM guru, guru masih berada dalam pengelolaan
yang lebih bersifat birokratis-administratif yang kurang berlandaskan paradigma
pendidikan (antara lain manajemen pemerintahan, kekuasaan, politik, dsb.). Dari
aspek unsur dan prosesnya, masih dirasakan terdapat kekurang-terpaduan antara
sistem pendidikan, rekrutmen, pengangkatan, penempatan, supervisi, dan pembinaan
guru. Masih dirasakan belum terdapat keseimbangan dan kesinambungan antara
kebutuhan dan pengadaan guru. Rerkrutmen dan pengangkatan guru masih selalu
diliputi berbagai masalah dan kendala terutama dilihat dari aspek kebutuhan kuantitas,
kualitas, dan distribusi. Pembinaan dan supervisi dalam jabatan guru belum
mendukung terwujudnya pengembangan pribadi dan profesi guru secara proporsional.
Mobilitas mutasi guru baik vertikal maupun horisontal masih terbentur pada berbagai
peraturan yang terlalu birokratis dan “arogansi dan egoisme” sektoral. Pelaksanaan
otonomi daerah yang kebablasan cenderung membuat manajemen guru menjadi
makin semrawut.

4
4. Penghargaan terhadap guru

Seperti telah dikemukakan di atas, hingga saat ini guru belum memperoleh
penghargaan yang memadai. Selama ini pemerintah telah berupaya memberikan
penghargaan kepada guru dalam bentuk pemilihan guru teladan, lomba kreatiivitas
guru, guru berprestasi, dsb. meskipun belum memberikan motivasi bagi para guru.
Sebutan pahlawan tanpa tanda jasa lebih banyak dipersepsi sebagai pelecehan
ketimbang penghargaan. Pemberian penghargaan terhadap guru harus bersifat adil,
terbuka, non-diskriminatif, dan demokratis dengan melibatkan semua unsur yang
terkait dengan pendidikan terutama para pengguna jasa guru itu sendiri, sementara
pemerintah lebih banyak berperan sebagai fasilitator.

5. Pendidikan guru

Sistem pendidikan guru baik pra-jabatan maupun dalam jabatan masih belum
memberikan jaminan dihasilkannya guru yang berkewenangan dan bermutu
disamping belum terkait dengan sistem lainnya. Pola pendidikan guru hingga saat ini
masih terlalu menekankan pada sisi akademik dan kurang memperhatikan
pengembangan kepribadian disamping kurangnya keterkaitan dengan tuntutan
perkembangan lingkungan. Pendidikan guru yang ada sekarang ini masih bertopang
pada paradigma guru sebagai penyampai pengetahuan sehingga diasumsikan bahwa
guru yang baik adalah yang menguasai pengetahuan dan cakap menyampaikannya.
Hal ini mengabaikan azas guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran dan sumber
keteladanan dalam pengembangan kepribadian peserta didik. Pada hakekatnya
pendidikan guru itu adalah pembentukan kepribadian disamping penguasaan materi
ajar. Disamping itu pola-pola pendidikan guru yang ada dewasa ini masih terisolasi
dengan sub-sistem manajemen lainnya seperti rekrutmen, penempatan, mutasi,
promosi, penggajian, dan pembinaan profesi.

Sebagai akibat dari hal itu semua, guru-guru yang dihasilkan oleh LPTK tidak
terkait dengan kondisi kebutuhan lapangan baik kuantitas, kualitas, maupun
kesepadannya dengan kebutuhan nyata.

5
BAB II

PELAYANAN DALAM PENDIDIKAN

menurut Mendiknas, ialah berubahnya paradigma. Pendidikan tidak lagi diarahkan ke


supply oriented, namun lebih pada output oriented. “Maksudnya setelah mendapat
pelajaran, mau diapakan lulusannya. Dengan begitu kami akan berikan layanan
sebaik-baiknya ke siswa, orangtua dan lembaga pendidikan,” ucap Mendiknas.

Sebagaimana juga dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan


Nasional (Kemendiknas) Dody Nandika, RNP membahas ketersediaan layanan
pendidikan dengan berbagai konsekuensinya. Di antaranya, jangkauan mutu
pendidikan yang dirasakan langsung oleh masyarakat serta relevansi pendidikan bagi
masyarakat. Di samping itu, pada RNP juga dibahas berbagai hal dalam kaitannya
dengan kesetaraan pendidikan serta kepastian bagi masyarakat untuk memperoleh
layanan pendidikan.

Hal yang tak kalah pentingnya dari semua itu adalah peningkatan peran guru,
kepala sekolah dan pengawas. Sebab, tidaklah mungkin pendidikan berfokus pada
pelayanan dapat diwujudkan menjadi kenyataan manakala guru, kepala sekolah dan
pengawas sendiri tidak memandang penting pelayanan. Bahkan, strategi pembiayaan
pendidikan pun harus pula dikaitkan dengan arti penting pelayanan pendidikan.

Dengan berfokus pada pelayanan itu, maka penyelarasan pendidikan benar-


benar dilakukan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang berdaya saing
dan kuat dalam hal akhlak maupun karakter.

Tentu, semua itu masih sebatas pembicaraan dalam suatu forum. Bahkan,
masih sebatas retorika. Ditunggu pembuktiannya di lapangan, bahwa pendidikan
nasional benar-benar berfokus pada pelayanan.

Pada pidato pembukaan Mendiknas menjelaskan perlunya perubahan


paradigma yang mencakup 5 hal yaitu perubahan pola pikir dari wajib belajar
menjadi hak belajar, kesetaraan dalam pendidikan,pendidikan komprehensif,
perubahan fungsi sekolah dan perubahan dasar pemikiran.

6
Dalam hal perubahan pola pikir dari wajib belajar menjadi hak belajar,
Mendiknas menerangkan bahwa terdapat 5% dari anak Indonesia belum mengenyam
pendidikan dasar, sedangkan di tingkat menengah pertama terdapat 10% anak
Indonesia belum mendapatkan hak belajarnya. Oleh karena itu, Mendiknas
mengingatkan perlunya perubahan pola pikir wajib belajar menjadi hak belajar.
Diharapkan dengan perubahan ini masyarakat Indonesia menyadari bahwa pendidikan
adalah hak yang harus didapatkan bukan suatu kewajiban yang dipaksakan.

Pada permasalahan kesetaraan pendidikan Mendiknas menegaskan bahwa


pendidikan harus membebaskan diri dari segala macam perbedaan seperti ras, suku,
golongan, agama dan jender. Beliau pun menerangkan bahwa seluruh lapisan
masyarakat berhak memperoleh pelayanan pendidikan dan perlindungan dari
diskriminasi. Mengenai warga negara yang memiliki kebutuhan khusus, Mendiknas
memandang diperlukan adanya perhatian khusus dalam menangani pendidikan warga
negara yang berkebutuhan khusus sehingga mereka dapat mendapatkan pendidikan
yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Mengenai pendidikan komprehensif, beliau mengingatkan bahwa perlunya


pendidikan berbasis kebudayaan yang kemudian akan melahirkan karakter, akhlak,
budi pekerti, kreativitas dan inovasi yang dapat memajukan pola pendidikan bangsa
Indonesia. Kita harus menerapkan pendidikan yang berkelanjutan dan mencerminkan
karakter bangsa. Diharapkan dengan pola pendidikan seperti ini bisa melahirkan
generasi yang berkarakter kuat dan kompetitif.

Mendiknas menjelaskan bahwa paradigma entrepreneurship tidak hanya


melulu mengenai ekonomi, tetapi beliau mengharapkan semangat pendidikan
entrepreunership berdasarkan kepada pengembangan pola pikir kreativitas dan
pembentukan inovasi-inovasi baru.

Selain perubahan paradigma, Mendiknas pun menetapkan visi birokasi


pendidikan yang menekankan pada bidang pelayanan yang prima. Visi yang akan
ditargetan dari tahun 2010 sampai 2014 ini akan menitikberatkan pada penguatan
pelayanan. Visi 2014 adalah terselenggaranya layanan prima pendididkan nasional
untuk membentuk insan Indonesia cerdas komprehensif. Sedangkan misi 2010-2014

7
meliputi ketersediaan, keterjangkauan, kualitas/mutu dan relevansi, kesetaraan dan
yang terakhir adalah kepastian/keterjaminan layanan pendidikan.

Dalam kesempatan ini Mendiknas menghimbau civitas akademisi pendidikan


seluruh Indonesia untuk bersama melepaskan intervensi-intervensi politik dari sistem
pendidikan Indonesia. Semoga dengan bebasnya sistem pendidikan dari dunia politik
akan membawa sebuah generasi menjadi semakin baik.

Dalam konsep yang lebih luas, kualitas pendidikan mempunyai makna sebagai
suatu kadar proses dan hasil pendidikan secara keseluruhan. Kualitas pendidikan yang
menyangkut proses dan atau hasil ditetapkan sesuai dengan pendekatan dan kriteria
tertentu. Proses pendidikan merupakan suatu keseluruhan aktivitas pelaksanaan
pendidikan dalam berbagai dimensi baik internal maupun eksternal, baik kebijakan
maupun oprasional, baik edukatif maupun manajerial, baik pada tingkatan makro
(nasional), regional, institusional, maupun instruksional dan individual; baik
pendidikan dalam jalur sekolah maupun luar sekolah, dsb. Dalam bahasan ini proses
pendidikan yang dimaksud adalah proses pendidikan Proses pendidikan yang
berkualitas ditentukan oleh berbagai faktor yang saling terkait. Kualitas pendidikan
bukan terletak pada besar atau kecilnya sekolah, negeri atau swasta, kaya atau miskin,
permanen atau tidak, di kota atau di desa, gratis atau membayar, guru sarjana atau
bukan, berpakaian seragam atau tidak. Faktor-faktor yang menentukan kualitas proses
pendidikan suatu sekolah adalah terletak pada unsur-unsur dinamis yang ada di dalam
sekolah itu dan lingkungannya sebagai suatu kesatuan sistem. Salah satu unsurnya
ialah guru sebagai pelaku terdepan dalam pelaksanaan pendidikan di tingkat
institusional dan instruksional.

Dalam konteks yang lebih luas, hasil pendidikan mencakup tiga jenjang yaitu:
produk, efek, dan dampak. Hasil pendidikan yang berupa produk, adalah wujud hasil
yang dicapai pada akhir satu proses pendidikan, misalnya akhir satu proses
instruksional, akhir catur wulan/smester, akhir tahun ajaran, akhir jenjang pendidikan,
dsb. Wujudnya dinyatakan dalam satu satuan ukuran tertentu (seperti angka, grade,
peringkat, indeks prestasi, yudicium, UAN, dsb.) sebagai gambaran kualitas hasil
pendidikan dalam periode tertentu. Hasil pendidikan berupa efek, adalah perubahan
lebih lanjut terhadap keseluruhan kepribadian peserta didik sebagai akibat perolehan
produk dari proses pendidikan (pembelajaran) dari satu periode tertentu. Perolehan

8
produk pendidikan yang dinyatakan dalam bentuk hasil belajar seperti angka dalam
rapor, dsb. seyogianya memberikan pengaruh (efek) terhadap perubahan keseluruhan
perilaku/kepribadian peserta didik seperti dalam pemahaman diri, cara berfikir, sikap,
nilai, dan kualitas kepribadian lainnya. Selanjutnya hasil pendidikan yang berupa
dampak, adalah berupa pengaruh lebih lanjut hasil pendidikan berupa produk dan efek
yang diperoleh peserta didik terhadap kondisi dan lingkungannya baik di dalam
keluarga ataupun masyarakat secara keseluruhan.

Guru Di Garda Terdepan Pendidikan

Sesuai dengan judulnya, guru merupakan subyek yang menjadi fokus bahasan ini,
karena siapapun sependapat bahwa guru merupakan unsur utama dalam keseluruhan
proses pendidikan khususnya di tingkat insitusional dan instruksional. Tanpa guru,
pendidikan hanya akan menjadi slogan muluk karena segala bentuk kebijakan dan
program pada akhirnya akan ditentukan oleh kinerja pihak yang berada di garis
terdepan yaitu guru. No teacher no education, no education no economic and social
development demikian prinsip dasar yang diterapkan dalam pembangunan pendidikan
di Vietnam berdasarkan amanat Bapak bangsanya yaitu Ho Chi Minh. Guru menjadi
titik sentral dan awal dari semua pembangunan pendidikan. Di Indonesia guru masih
belum mendapatkan posisi yang seharusnya dalam kebijakan dan program-program
pendidikan. Saatnya kini membuat kebijakan dengan paradigma baru yaitu
membangun pendidikan dengan memulainya dari subyek guru. Tanpa itu semua
dikhawatirkan mutu pendidikan tidak sampai pada cita-cita mencerdaskan kehidupan
bangsa melalui pengembangan sumber daya manusia.

Dalam kenyataan, guru belum memperoleh haknya untuk dapat mengajar


secara profesional dan efektif, Hal itu tercermin dari kondisi saat ini yang mencakup
jumlah yang kurang sehingga harus bekerja melebihi lingkup tugasnya, mutu yang
belum sesuai dengan tuntutan, distribusi yang kurang merata, kesejahteraan yang amat
tidak menunjang, dan manajemen yang tidak kondusif. Semua itu merupakan
cerminan adanya pelanggaran hak azasi guru. Hak azasi guru proteksi dari pemerintah
dan masyarakat melalui perundang-undangan yang mengatur pendidikan antara lain
Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, dan Undang-undang nomor
14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen harus segera diimplementasikan pada tatanan

9
operasional dan manajerial mulai di tingkat nasional, regional, institusional, sampai
tingkat instruksional.

Peran serta guru dalam kaitan dengan mutu pendidikan, sekurang-kurangnya dapat
dilihat dari empat dimensi yaitu guru sebagai pribadi, guru sebagai unsur keluarga,
guru sebagai unsur pendidikan, dan guru sebagai unsur masyarakat.

Guru sebagai pribadi

Kinerja peran guru dalam kaitan dengan mutu pendidikan harus dimulai dengan
dirinya sendiri. Sebagai pribadi, guru merupakan perwujudan diri dengan seluruh
keunikan karakteristik yang sesuai dengan posisinya sebagai pemangku profesi
keguruan. Kepribadian merupakan landasan utama bagi perwujudan diri sebagai guru
yang efektif baik dalam melaksanakan tugas profesionalnya di lingkungan pendidikan
dan di lingkungan kehidupan lainnya. Hal ini mengandung makna bahwa seorang
guru harus mampu mewujudkan pribadi yang efektif untuk dapat melaksanakan
fungsi dan tanggung jawabnya sebagai guru. Untuk itu, ia harus mengenal dirinya
sendiri dan mampu mengembangkannya ke arah terwujudnya pribadi yang sehat dan
paripurna (fully functioning person).

Peran guru di keluarga

Dalam kaitan dengan keluarga, guru merupakan unsur keluarga sebagai pengelola
(suami atau isteri), sebagai anak, dan sebagai pendidik dalam keluarga. Hal ini
mengandung makna bahwa guru sebagai unsur keluarga berperan untuk membangun
keluarga yang kokoh sehingga menjadi fundasi bagi kinerjanya dalam melaksanakan
fungsi guru sebagai unsur pendidikan. Untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang
kokoh perlu ditopang antara lain oleh: landasan keagamaan yang kokoh, penyesuaian
pernikahan yang sehat, suasana hubungan inter dan antar keluarga yang harmonis,
kesejahteraan ekonomi yang memadai, dan pola-pola pendidikan keluarga yang
efektif.

Peran guru di sekolah

Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan di tingkat operasional, guru merupakan


penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional,

10
instruksional, dan eksperiensial.. Sejalan dengan tugas utamanya sebagai pendidik di
sekolah, guru melakukan tugas-tugas kinerja pendidikan dalam bimbingan,
pengajaran, dan latihan. Semua kegiatan itu sangat terkait dengan upaya
pengembangan para peserta didik melalui keteladanan, penciptaan lingkungan
pendidikan yang kondusif, membimbing, mengajar, dan melatih peserta didik.
Dengan perkembangan dan tuntutan yang berkembang dewasa ini, peran-peran guru
mengalami perluasan yaitu sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer
pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan pengarang. Sebagai pelatih
(coaches), guru memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi peserta didik untuk
mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sebagai latihan untuk mencapai
hasil pembelajaran optimal.. Sebagai konselor, guru menciptakan satu situasi interaksi
di mana peserta didik melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis
yang kondusif dengan memperhatikan kondisi setiap peserta didik dan membantunya
ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru mengelola
keseluruhan kegiatan pembelajaran dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber
penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar
akan tetapi juga berperilaku belajar melalui interaksinya dengan peserta didik.
Sebagai pemimpin, guru menjadi seseorang yang menggerakkan peserta didik dan
orang lain untuk mewujudkan perilaku pembelajaran yang efektif.. Sebagai
pembelajar, guru secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan
kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, guru
secara kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk
melaksanakan tugasnya.

Peran guru di masyarakat

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara keseluruhan, guru


merupakan unsur strategis sebagai anggota, agen, dan pendidik masyarakat. Sebagai
anggota masyarakat guru berperan sebagai teladan bagi bagi masyarakat di sekitarnya
baik kehidupan pribadinya maupun kehidupan keluarganya. Sebagai agen masyarakat,
guru berperan sebagai mediator (penengah) antara masyarakat dengan dunia
pendidikan khususnya di sekolah. Dalam kaitan ini, guru akan membawa dan
mengembangkan berbagai upaya pendidikan di sekolah ke dalam kehidupan di
masyarakat, dan juga membawa kehidupan di masyarakat ke sekolah. Selanjutnya

11
sebagai pendidik masyarakat, bersama unsur masyarakat lainnya guru berperan
mengembangkan berbagai upaya pendidikan yang dapat menunjang pencapaian hasil
pendidikan yang bermutu.

12
BAB III

KESIMPULAN

Masalah jaminan dalam pelayanan pendidikan telah diatur oleh kementrian


pendidikan dalam Rembuk Nasional Pendidikan (RNP) yang berlangsung di
Sawangan, Depok, Jawa Barat, (2-4 Maret 2010) mengambil tema “Meningkatkan
Jaminan Layanan Pendidikan Berkualitas yang Terjangkau oleh Semua”. Apa maksud
tema tersebut? Seakan hendak menjawab pertanyaan ini, Menteri Pendidikan Nasional
(Mendiknas) Muhammad Nuh berkata: “Tugas tahun sebelumnya meningkatkan
kapasitas. Saat ini meningkatkan pelayanan.” Dan Undang-undang nomor 20 tahun
2003 tentang Sisdiknas, dan Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen harus segera diimplementasikan pada tatanan operasional dan manajerial mulai
di tingkat nasional, regional, institusional, sampai tingkat instruksional.

Jadi, melalui RNP itu, pendidikan nasional dieksplisitkan bakal mengalami


pergeseran pendulum. Jika sebelumnya pendidikan nasional fokus pada peningkatan
kapasitas, pada akhirnya pendidikan nasional mengarah pada pelayanan. RPN seakan
hendak menegaskan satu hal, bahwa tanpa pergeseran dari kapasitas menuju
pelayanan maka pendidikan nasional tak mengalami perkembangan secara berarti.
Memang dalam syariat islam juga diwajibkan memberikan jaminan kepada tenaga
kependidikan yang telah dicontohkan oleh rasululloh SAW.

13
14
15
Rembuknas Pendidikan 2011 menghadirkan anggota Komisi X DPR RI,Menteri
Pendidikan Nasional, pejabat eselon 1 Kemdiknas, sertasekitar 700 tamu undangan
dari berbagai provinsi di Indonesia.

Menurut Mohammad Nuh, persoalan pendidikan tak akan pernah habiskarena


pendidikan terkait tiga hal utama, yakni pendidikan terkaitdengan manusia sehingga
tidak akan selesai selama manusianya masihada; pendidikan menyangkut ilmu
pengetahuan, dan pendidikan terkaitmasa depan.

Adapun Rembuknas tahun ini kata Nuh, akan mendiskusikan berbagaiisu pendidikan
seperti, pendidikan anak usia dini (PAUD), rintisanpendidikan bertaraf
internasional/sekolah bertaraf internasional(RSBI/SBI), jaminan kepastian layanan
pendidikan bermutu danberdaya saing internasional secara efektif dan efesien,
sertamewujudkan bahasa Indonesia sebagai jatidiri bangsa dan penguatantata kelola
serta efektivitas pelaksanaan misi Kemdiknas.

Rembuknas pendidikan 2011 diharapkan dapat mempertajam danmengevaluasi


kinerja Kemdiknas tahun 2010, serta membahasimplementasi proses dan
menghimpun bermacam masukan untuk kerangkakinerja Kemdiknas pada 2012.

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat(Menkokesra)


Agung Laksono dalam sambutannya mengatakan, Rembuknasmerupakan bagian dari
tahapan siklus nasional yang hasilnya akandibahas secara nasional.

Rembuknas diyakini bisa tepat untuk mendukung dan mempertajamkerangka kinerja


Kemdiknas pada tahun selanjutnya, kata AgungLaksono.

Agung menambahkan, sejak 2009 Pemerintah telah memenuhi amanatkonstitusi


dengan mengalokasikan anggaran fungsi pendidikan minimal20 persen per tahun.
Menjadi tanggung jawab kita bersama untukmemastikan agar pemanfaatan anggaran
fungsi pendidikan tersebuttepat sasaran, kata Agung.

Hingga saat ini, total anggaran fungsi pendidikan pada 2011sekitar Rp248 triliun, dan
lebih dari 55 persennya

16
JAKARTA, Jubilee-jkt.sch.id. – Ternyata, Rembuk Nasional Pendidikan (RNP)
yang berlangsung di Sawangan, Depok, Jawa Barat, (2-4 Maret 2010) mengambil
tema “Meningkatkan Jaminan Layanan Pendidikan Berkualitas yang Terjangkau oleh
Semua”. Apa maksud tema tersebut? Seakan hendak menjawab pertanyaan ini,
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh berkata: “Tugas tahun
sebelumnya meningkatkan kapasitas. Saat ini meningkatkan pelayanan.”

Jadi, melalui RNP itu, pendidikan nasional dieksplisitkan bakal mengalami


pergeseran pendulum. Jika sebelumnya pendidikan nasional fokus pada peningkatan
kapasitas, pada akhirnya pendidikan nasional mengarah pada pelayanan. RPN seakan
hendak menegaskan satu hal, bahwa tanpa pergeseran dari kapasitas menuju
pelayanan maka pendidikan nasional tak mengalami perkembangan secara berarti.

Konsekuensi lebih lanjut dari pergeseran pendulum itu, menurut Mendiknas, ialah
berubahnya paradigma. Pendidikan tidak lagi diarahkan ke supply oriented, namun
lebih pada output oriented. “Maksudnya setelah mendapat pelajaran, mau diapakan
lulusannya. Dengan begitu kami akan berikan layanan sebaik-baiknya ke siswa,
orangtua dan lembaga pendidikan,” ucap Mendiknas.

Sebagaimana juga dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan


Nasional (Kemendiknas) Dody Nandika, RNP membahas ketersediaan layanan
pendidikan dengan berbagai konsekuensinya. Di antaranya, jangkauan mutu
pendidikan yang dirasakan langsung oleh masyarakat serta relevansi pendidikan bagi
masyarakat. Di samping itu, pada RNP juga dibahas berbagai hal dalam kaitannya
dengan kesetaraan pendidikan serta kepastian bagi masyarakat untuk memperoleh
layanan pendidikan.

Hal yang tak kalah pentingnya dari semua itu adalah peningkatan peran guru, kepala
sekolah dan pengawas. Sebab, tidaklah mungkin pendidikan berfokus pada pelayanan
dapat diwujudkan menjadi kenyataan manakala guru, kepala sekolah dan pengawas
sendiri tidak memandang penting pelayanan. Bahkan, strategi pembiayaan pendidikan
pun harus pula dikaitkan dengan arti penting pelayanan pendidikan.

Dengan berfokus pada pelayanan itu, maka penyelarasan pendidikan benar-benar


dilakukan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang berdaya saing dan
kuat dalam hal akhlak maupun karakter.

17
Tentu, semua itu masih sebatas pembicaraan dalam suatu forum. Bahkan, masih
sebatas retorika. Ditunggu pembuktiannya di lapangan, bahwa pendidikan nasional
benar-benar berfokus pada pelayanan. (A12, SI).

Rabu ( 3/03 ) bertempat di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian


Pendidikan Nasional, Rembuk Nasional Pendidikan 2010 resmi dibuka.
Gelaran yang bertema Meningkatkan Jaminan Layanan Pendidikan
Berkualitas yang Terjangkau untuk Semua ini akan berlangsung selama dua
hari.Rembuknas ini dibukaolehi Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Ir.
Muhammad Nuh, DEA.

Pada pidato pembukaan Mendiknas menjelaskan perlunya perubahan


paradigma yang mencakup 5 hal yaitu perubahan pola pikir dari wajib belajar
menjadi hak belajar, kesetaraan dalam pendidikan,pendidikan komprehensif,
perubahan fungsi sekolah dan perubahan dasar pemikiran.

Dalam hal perubahan pola pikir dari wajib belajar menjadi hak belajar,
Mendiknas menerangkan bahwa terdapat 5% dari anak Indonesia belum
mengenyam pendidikan dasar, sedangkan di tingkat menengah pertama
terdapat 10% anak Indonesia belum mendapatkan hak belajarnya. Oleh
karena itu, Mendiknas mengingatkan perlunya perubahan pola pikir wajib
belajar menjadi hak belajar. Diharapkan dengan perubahan ini masyarakat
Indonesia menyadari bahwa pendidikan adalah hak yang harus didapatkan
bukan suatu kewajiban yang dipaksakan.

Pada permasalahan kesetaraan pendidikan Mendiknas menegaskan bahwa


pendidikan harus membebaskan diri dari segala macam perbedaan seperti
ras, suku, golongan, agama dan jender. Beliau pun menerangkan bahwa
seluruh lapisan masyarakat berhak memperoleh pelayanan pendidikan dan
perlindungan dari diskriminasi. Mengenai warga negara yang memiliki
kebutuhan khusus, Mendiknas memandang diperlukan adanya perhatian
khusus dalam menangani pendidikan warga negara yang berkebutuhan
khusus sehingga mereka dapat mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan
kebutuhan mereka.

Mengenai pendidikan komprehensif, beliau mengingatkan bahwa perlunya


pendidikan berbasis kebudayaan yang kemudian akan melahirkan karakter,
akhlak, budi pekerti, kreativitas dan inovasi yang dapat memajukan pola
pendidikan bangsa Indonesia. Kita harus menerapkan pendidikan yang
berkelanjutan dan mencerminkan karakter bangsa. Diharapkan dengan pola
pendidikan seperti ini bisa melahirkan generasi yang berkarakter kuat dan
kompetitif.

Mendiknas menjelaskan bahwa paradigma entrepreneurship tidak hanya


melulu mengenai ekonomi, tetapi beliau mengharapkan semangat
pendidikan entrepreunership berdasarkan kepada pengembangan pola pikir
kreativitas dan pembentukan inovasi-inovasi baru.

18
Selain perubahan paradigma, Mendiknas pun menetapkan visi birokasi
pendidikan yang menekankan pada bidang pelayanan yang prima. Visi yang
akan ditargetan dari tahun 2010 sampai 2014 ini akan menitikberatkan pada
penguatan pelayanan. Visi 2014 adalah terselenggaranya layanan prima
pendididkan nasional untuk membentuk insan Indonesia cerdas
komprehensif. Sedangkan misi 2010-2014 meliputi ketersediaan,
keterjangkauan, kualitas/mutu dan relevansi, kesetaraan dan yang terakhir
adalah kepastian/keterjaminan layanan pendidikan.

Dalam kesempatan ini Mendiknas menghimbau civitas akademisi pendidikan


seluruh Indonesia untuk bersama melepaskan intervensi-intervensi politik dari
sistem pendidikan Indonesia. Semoga dengan bebasnya sistem pendidikan
dari dunia politik akan membawa sebuah generasi menjadi semakin baik.
(Yoggi/Risma)

Dalam kesempatan yang sama setelah menyampaikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis
ke 45 Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) Bapak Prof. Dr. H. Mohamad Surya
Ketua Umum PB PGRI juga memberikan kuliah umum kepada para mahasisa
Program pasca Sarjana dan PGSD di Aula Unit I Jl. PGRI I Kotak Pos 123 Sonosewu
Bantul Yogyakarta. Adapun isi materinya sebagai berikut:

Saat ini dunia pendidikan nasional Indonesia berada dalam situasi “kritis” baik
dilihat dari sudut internal kepentingan pembangunan bangsa, maupun secara eksternal
dalam kaitan dengan kompetisi antar bangsa. Fakta menunjukkan bahwa, kualitas
pendidikan nasional masih rendah dan jauh ketinggalan dibandingkan dengan negara-
negara lain. Berbagai kritikan tajam yang berasal dari berbagai sudut pandang terus
ditujukan kepada dunia pendidikan nasional dengan berbagai alasan dan kepentingan.

Bahkan ada beberapa pihak yang menuding bahwa krisis nasional sekarang ini
bersumber dari pendidikan dan lebih jauh ditudingkan sebagai kesalahan guru.
Benarkah ada unsur “salah” pada guru? Mungkin “ya” dan mungkin
“tidak” tergantung dari sudut mana memandang dan menilainya. Namun yang
pasti ialah bahwa kondisi guru saat ini bersumber dari pola-pola bangsa ini
memperlakukan guru. Meskipun diakui guru sebagai unsur penting dalam
pembangunan bangsa, namun secara ironis guru belum memperoleh penghargaan
yang wajar sesuai dengan martabat serta hak-hak azasinya. Hal itu tercermin dari
belum adanya jaminan kepastian dan perlindungan bagi para guru dalam pelaksanaan
tugas dan perolehan hak-haknya sebagai pribadi, tenaga kependidikan, dan warga
negara.

Siapapun mulai dari Presiden, wakil rakyat, para penabat, dan semua warga
masyarakat sangat setuju bahwa kualitas pendidikan kita harus dirtingkatkan untuk
mengejar ketertinggalannya di dalam tantangan golal. Namun bagaimana upaya itu
haruis dilakukan secara sistemik agar dapat terwujud dengan baik. Tulisan ini akan
mengemukakan satu pandangan bahwa upaya mencapai pendidikan berkualitas harus
dimulai dengan guru yang berkualitas. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan tanpa
memperhitungkan guru secara nyata, hanya akan menghasilkan satu fatamorgana atau
sesuatu yang semu dan tipuan belaka.

19
Sehubungan dengan itu bahasan berikut akan menyampaikan hal-hal yang berkaitan
dengan makna kualitas pendidikan, posisi guru dalam pendidikan, masalah dan
kendala, sertra upaya membanguin pendidikan guru yang ideal. Bahasannya baru
merupakan pikiran awal yang masih harus dikaji dan dikembangkan lebih lanjut
berdasarkan kajian sumber-sumber empiris dari berbagai penelitian dan pengalaman
nyata baik dalam maupun luar negeri. Dalam ketidak sempurnaan ini ibarat setitik air
di tengah samudra luas namun semoga memberi manfaat dan sumbangsih bagi kaum
guru dan dunia pendidikan pada umumnya.

KUALITAS PENDIDIKAN: PROSES DAN HASIL

Dalam konsep yang lebih luas, kualitas pendidikan mempunyai makna sebagai suatu
kadar proses dan hasil pendidikan secara keseluruhan. Kualitas pendidikan yang
menyangkut proses dan atau hasil ditetapkan sesuai dengan pendekatan dan kriteria
tertentu. Proses pendidikan merupakan suatu keseluruhan aktivitas pelaksanaan
pendidikan dalam berbagai dimensi baik internal maupun eksternal, baik kebijakan
maupun oprasional, baik edukatif maupun manajerial, baik pada tingkatan makro
(nasional), regional, institusional, maupun instruksional dan individual; baik
pendidikan dalam jalur sekolah maupun luar sekolah, dsb. Dalam bahasan ini proses
pendidikan yang dimaksud adalah proses pendidikan Proses pendidikan yang
berkualitas ditentukan oleh berbagai faktor yang saling terkait. Kualitas pendidikan
bukan terletak pada besar atau kecilnya sekolah, negeri atau swasta, kaya atau miskin,
permanen atau tidak, di kota atau di desa, gratis atau membayar, guru sarjana atau
bukan, berpakaian seragam atau tidak. Faktor-faktor yang menentukan kualitas proses
pendidikan suatu sekolah adalah terletak pada unsur-unsur dinamis yang ada di dalam
sekolah itu dan lingkungannya sebagai suatu kesatuan sistem. Salah satu unsurnya
ialah guru sebagai pelaku terdepan dalam pelaksanaan pendidikan di tingkat
institusional dan instruksional.

Dalam konteks yang lebih luas, hasil pendidikan mencakup tiga jenjang yaitu: produk,
efek, dan dampak. Hasil pendidikan yang berupa “produk”, adalah wujud hasil
yang dicapai pada akhir satu proses pendidikan, misalnya akhir satu proses
instruksional, akhir catur wulan/smester, akhir tahun ajaran, akhir jenjang pendidikan,
dsb. Wujudnya dinyatakan dalam satu satuan ukuran tertentu (seperti angka, grade,
peringkat, indeks prestasi, yudicium, UAN, dsb.) sebagai gambaran kualitas hasil
pendidikan dalam periode tertentu. Hasil pendidikan berupa “efek”, adalah
perubahan lebih lanjut terhadap keseluruhan kepribadian peserta didik sebagai akibat
perolehan produk dari proses pendidikan (pembelajaran) dari satu periode tertentu.
Perolehan produk pendidikan yang dinyatakan dalam bentuk hasil belajar seperti
angka dalam rapor, dsb. seyogianya memberikan pengaruh (efek) terhadap perubahan
keseluruhan perilaku/kepribadian peserta didik seperti dalam pemahaman diri, cara
berfikir, sikap, nilai, dan kualitas kepribadian lainnya. Selanjutnya hasil pendidikan
yang berupa “dampak”, adalah berupa pengaruh lebih lanjut hasil pendidikan
berupa produk dan efek yang diperoleh peserta didik terhadap kondisi dan
lingkungannya baik di dalam keluarga ataupun masyarakat secara keseluruhan.

Guru Di Garda Terdepan Pendidikan

Sesuai dengan judulnya, “guru” merupakan subyek yang menjadi fokus bahasan
ini, karena siapapun sependapat bahwa guru merupakan unsur utama dalam

20
keseluruhan proses pendidikan khususnya di tingkat insitusional dan instruksional.
Tanpa guru, pendidikan hanya akan menjadi slogan muluk karena segala bentuk
kebijakan dan program pada akhirnya akan ditentukan oleh kinerja pihak yang berada
di garis terdepan yaitu guru. “No teacher no education, no education no economic
and social development” demikian prinsip dasar yang diterapkan dalam
pembangunan pendidikan di Vietnam berdasarkan amanat Bapak bangsanya yaitu Ho
Chi Minh. Guru menjadi titik sentral dan awal dari semua pembangunan pendidikan.
Di Indonesia guru masih belum mendapatkan posisi yang seharusnya dalam kebijakan
dan program-program pendidikan. Saatnya kini membuat kebijakan dengan
paradigma baru yaitu membangun pendidikan dengan memulainya dari subyek
“guru”. Tanpa itu semua dikhawatirkan mutu pendidikan tidak sampai pada cita-
cita mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengembangan sumber daya manusia.

Dalam kenyataan, guru belum memperoleh haknya untuk dapat mengajar secara
profesional dan efektif, Hal itu tercermin dari kondisi saat ini yang mencakup jumlah
yang kurang sehingga harus bekerja melebihi lingkup tugasnya, mutu yang belum
sesuai dengan tuntutan, distribusi yang kurang merata, kesejahteraan yang amat tidak
menunjang, dan manajemen yang tidak kondusif. Semua itu merupakan cerminan
adanya pelanggaran hak azasi guru. Hak azasi guru proteksi dari pemerintah dan
masyarakat melalui perundang-undangan yang mengatur pendidikan antara lain
Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, dan Undang-undang nomor
14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen harus segera diimplementasikan pada tatanan
operasional dan manajerial mulai di tingkat nasional, regional, institusional, sampai
tingkat instruksional.

Peran serta guru dalam kaitan dengan mutu pendidikan, sekurang-kurangnya dapat
dilihat dari empat dimensi yaitu guru sebagai pribadi, guru sebagai unsur keluarga,
guru sebagai unsur pendidikan, dan guru sebagai unsur masyarakat.

Guru sebagai pribadi

Kinerja peran guru dalam kaitan dengan mutu pendidikan harus dimulai dengan
dirinya sendiri. Sebagai pribadi, guru merupakan perwujudan diri dengan seluruh
keunikan karakteristik yang sesuai dengan posisinya sebagai pemangku profesi
keguruan. Kepribadian merupakan landasan utama bagi perwujudan diri sebagai guru
yang efektif baik dalam melaksanakan tugas profesionalnya di lingkungan pendidikan
dan di lingkungan kehidupan lainnya. Hal ini mengandung makna bahwa seorang
guru harus mampu mewujudkan pribadi yang efektif untuk dapat melaksanakan
fungsi dan tanggung jawabnya sebagai guru. Untuk itu, ia harus mengenal dirinya
sendiri dan mampu mengembangkannya ke arah terwujudnya pribadi yang sehat dan
paripurna (fully functioning person).

Peran guru di keluarga

Dalam kaitan dengan keluarga, guru merupakan unsur keluarga sebagai pengelola
(suami atau isteri), sebagai anak, dan sebagai pendidik dalam keluarga. Hal ini
mengandung makna bahwa guru sebagai unsur keluarga berperan untuk membangun
keluarga yang kokoh sehingga menjadi fundasi bagi kinerjanya dalam melaksanakan
fungsi guru sebagai unsur pendidikan. Untuk mewujudkan kehidupan keluarga yang
kokoh perlu ditopang antara lain oleh: landasan keagamaan yang kokoh, penyesuaian

21
pernikahan yang sehat, suasana hubungan inter dan antar keluarga yang harmonis,
kesejahteraan ekonomi yang memadai, dan pola-pola pendidikan keluarga yang
efektif.

Peran guru di sekolah

Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan di tingkat operasional, guru merupakan


penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tingkat institusional,
instruksional, dan eksperiensial.. Sejalan dengan tugas utamanya sebagai pendidik di
sekolah, guru melakukan tugas-tugas kinerja pendidikan dalam bimbingan,
pengajaran, dan latihan. Semua kegiatan itu sangat terkait dengan upaya
pengembangan para peserta didik melalui keteladanan, penciptaan lingkungan
pendidikan yang kondusif, membimbing, mengajar, dan melatih peserta didik.
Dengan perkembangan dan tuntutan yang berkembang dewasa ini, peran-peran guru
mengalami perluasan yaitu sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer
pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar, dan pengarang. Sebagai pelatih
(coaches), guru memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi peserta didik untuk
mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sebagai latihan untuk mencapai
hasil pembelajaran optimal.. Sebagai konselor, guru menciptakan satu situasi interaksi
di mana peserta didik melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis
yang kondusif dengan memperhatikan kondisi setiap peserta didik dan membantunya
ke arah perkembangan optimal. Sebagai manajer pembelajaran, guru mengelola
keseluruhan kegiatan pembelajaran dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber
penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar
akan tetapi juga berperilaku belajar melalui interaksinya dengan peserta didik.
Sebagai pemimpin, guru menjadi seseorang yang menggerakkan peserta didik dan
orang lain untuk mewujudkan perilaku pembelajaran yang efektif.. Sebagai
pembelajar, guru secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan
kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. Sebagai pengarang, guru
secara kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk
melaksanakan tugasnya.

Peran guru di masyarakat

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara keseluruhan, guru


merupakan unsur strategis sebagai anggota, agen, dan pendidik masyarakat. Sebagai
anggota masyarakat guru berperan sebagai teladan bagi bagi masyarakat di sekitarnya
baik kehidupan pribadinya maupun kehidupan keluarganya. Sebagai agen masyarakat,
guru berperan sebagai mediator (penengah) antara masyarakat dengan dunia
pendidikan khususnya di sekolah. Dalam kaitan ini, guru akan membawa dan
mengembangkan berbagai upaya pendidikan di sekolah ke dalam kehidupan di
masyarakat, dan juga membawa kehidupan di masyarakat ke sekolah. Selanjutnya
sebagai pendidik masyarakat, bersama unsur masyarakat lainnya guru berperan
mengembangkan berbagai upaya pendidikan yang dapat menunjang pencapaian hasil
pendidikan yang bermutu.

MASALAH DAN KENDALA

Hingga saat ini masih banyak masalah dan kendala yang berkaitan dengan guru
sebagai satu kenyataan yang harus diatasi dengan segera. Berbagai upaya

22
pembaharuan pendidikan telah banyak dilakukan antara lain melalui perbaikan sarana,
peraturan, kurikulum, dsb. tapi belum mempriotitaskan guru sebagai pelaksana di
tingkat instruksional terutama dari aspek kesejahteraannya. Beberapa masalah dan
kendala yang berkaitan dengan kondisi guru antara lain sebagai berikut.

1. Kuantitas, kualitas, dan distribusi.

Dari aspek kuantitas, jumlah guru yang ada masih dirasakan belum cukup untuk
menghadapi pertambahan siswa serta tuntutan pembangunan sekarang. Kekurangan
guru di berbagai jenis dan jenjang khususnya di sekolah dasar, merupakan masalah
besar terutama di daerah pedesaan dan daerah terpencil. Dari aspek kualitas, sebagian
besar guru-guru dewasa ini masih belum memiliki pendidikan minimal yang dituntut.
Data di lampiran 1 menunjukkan bahwa dari 2.783.321 orang guru yang terdiri atas
1.528.472 orang guru PNS dan sisanya (1.254.849 orang) non-PNS, baru sekitar 40%
yang sudah memiliki kualifikasi S-1/D-IV dan di atasnya. Sisanya masih di bawah D-
3 atau lebih rendah. Dari aspek penyebarannya, masih terdapat ketidak seimbangan
penyebaran guru antar sekolah dan antar daerah.. Dari aspek kesesuaiannya, di SLTP
dan SM, masih terdapat ketidak sepadanan guru berdasarkan mata pelajaran yang
harus diajarkan.

2. Kesejahteraan.

Dari segi keadilan kesejahteraan guru, masih ada beberapa kesenjangan yang
dirasakan sebagai perlakuan diskriminatif para guru. Di antaranya adalah: (1)
kesenjangan antara guru dengan PNS lainnya, serta dengan para birokratnya, (2)
kesenjangan antara guru dengan dosen, (3) kesenjangan guru menurut jenjang dan
jenis pendidikan, misalnya antara guru SD dengan guru SLTP dan Sekolah
Menengah, (4) kesenjangan antara guru pegawai negeri yang digaji oleh negara,
dengan guru swasta yang digaji oleh pihak swasta, (5) kesenjangan antara guru
pegawai tetap dengan guru tidak tetap atau honorer, (6) kesenjangan antara guru yang
bertugas di kota-kota dengan guru-guru yang berada di pedesaan atau daerah
terpencil, (7) kesenjangan karena beban tugas, yaitu ada guru yang beban
mengajarnya ringan tetapi di lain pihak ada yang beban tugasnya banyak (misalnya di
sekolah yang kekurangan guru) akan tetapi imbalannya sama saja atau lebih sedikit.
Kesejahteraan mencakup aspek imbal jasa, rasa aman, kondisi kerja, hubungan antar
pribadi, dan pengembangan karir.

3. Manajemen guru

Dari sudut pandang manajemen SDM guru, guru masih berada dalam pengelolaan
yang lebih bersifat birokratis-administratif yang kurang berlandaskan paradigma
pendidikan (antara lain manajemen pemerintahan, kekuasaan, politik, dsb.). Dari
aspek unsur dan prosesnya, masih dirasakan terdapat kekurang-terpaduan antara
sistem pendidikan, rekrutmen, pengangkatan, penempatan, supervisi, dan pembinaan
guru. Masih dirasakan belum terdapat keseimbangan dan kesinambungan antara
kebutuhan dan pengadaan guru. Rerkrutmen dan pengangkatan guru masih selalu
diliputi berbagai masalah dan kendala terutama dilihat dari aspek kebutuhan kuantitas,
kualitas, dan distribusi. Pembinaan dan supervisi dalam jabatan guru belum
mendukung terwujudnya pengembangan pribadi dan profesi guru secara proporsional.
Mobilitas mutasi guru baik vertikal maupun horisontal masih terbentur pada berbagai

23
peraturan yang terlalu birokratis dan “arogansi dan egoisme” sektoral. Pelaksanaan
otonomi daerah yang “kebablasan” cenderung membuat manajemen guru
menjadi makin semrawut.

4. Penghargaan terhadap guru

Seperti telah dikemukakan di atas, hingga saat ini guru belum memperoleh
penghargaan yang memadai. Selama ini pemerintah telah berupaya memberikan
penghargaan kepada guru dalam bentuk pemilihan guru teladan, lomba kreatiivitas
guru, guru berprestasi, dsb. meskipun belum memberikan motivasi bagi para guru.
Sebutan “pahlawan tanpa tanda jasa” lebih banyak dipersepsi sebagai pelecehan
ketimbang penghargaan. Pemberian penghargaan terhadap guru harus bersifat adil,
terbuka, non-diskriminatif, dan demokratis dengan melibatkan semua unsur yang
terkait dengan pendidikan terutama para pengguna jasa guru itu sendiri, sementara
pemerintah lebih banyak berperan sebagai fasilitator.

5. Pendidikan guru

Sistem pendidikan guru baik pra-jabatan maupun dalam jabatan masih belum
memberikan jaminan dihasilkannya guru yang berkewenangan dan bermutu
disamping belum terkait dengan sistem lainnya. Pola pendidikan guru hingga saat ini
masih terlalu menekankan pada sisi akademik dan kurang memperhatikan
pengembangan kepribadian disamping kurangnya keterkaitan dengan tuntutan
perkembangan lingkungan. Pendidikan guru yang ada sekarang ini masih bertopang
pada paradigma guru sebagai penyampai pengetahuan sehingga diasumsikan bahwa
guru yang baik adalah yang menguasai pengetahuan dan cakap menyampaikannya.
Hal ini mengabaikan azas guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran dan sumber
keteladanan dalam pengembangan kepribadian peserta didik. Pada hakekatnya
pendidikan guru itu adalah pembentukan kepribadian disamping penguasaan materi
ajar. Disamping itu pola-pola pendidikan guru yang ada dewasa ini masih terisolasi
dengan sub-sistem manajemen lainnya seperti rekrutmen, penempatan, mutasi,
promosi, penggajian, dan pembinaan profesi.
Sebagai akibat dari hal itu semua, guru-guru yang dihasilkan oleh LPTK tidak terkait
dengan kondisi kebutuhan lapangan baik kuantitas, kualitas, maupun kesepadannya
dengan kebutuhan nyata.

WARISAN LAMA KARAKTERISTIK LINGKUNGAN KERJA


GURU

Sebagai unsur yang berada di garda terdepan pendidikan, begitu banyak sebutan
sanjungan yang diberikan kepada guru seperti “Guru yang digugu dan ditiru”,
“Guru pejabat mulia”, “pahlawan tanpa tanda jasa”, “guru sebagai
jabatan profesional”, “guru sebagai sumber teladan”, “guru sebagai
pengukir masa depan bangsa”, dsb. Tentunya ungkapan-ungkapan tersebut
merupakan upaya untuk memotivasi para guru dalam melaksanakan tugasnya,
meskipun dalam kenyataannya banyak yang mempersepsi ungkapan-ungkapan
tersebut justru merupakan sanjungan yang tidak sesuai dengan realitas sehingga
membuat guru tersandung. Guru dipandang memiliki prestise terhormat., akan tetapi
sebagai profesi yang rendah dengan imbalan yang tidak memadai.
Dengan posisi yang sangat strategis di garda terdepan pendidikan, seharusnya guru

24
mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam hal pembinaan profesional dan
dukungan kesejahteraan melalui manajemen pendidikan yang kondusif. Menurut Carl
D. Glickman (1990) guru masih berada di lingkungan kerja yang disebut “The
legacy of the One-Room Schoolhouse” atau “warisan satu-kamar bangunan
sekolah”. Dikatakan bahwa guru melakukan tugas kerjanya berada dalam sebuah
ruangan yang dibatasi empat dinding di kawasan bangunan sekolah. Aktivitas guru
dari menit ke menit dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun berada dalam batas
tembok empat dinding menata seluruh kelas, memeriksa kehadiran murid, mengajar,
menilai, dsb. Kondisi ini masih terus berlangsung dengan karakteristik sebagai
berikut:

1. Terisolasi

Penataan struktur ruang kelas tempat guru bertugas membuat guru bekerja secara
individual dan berada di lingkungan kerja yang terisolasi. Selama guru melakukan
aktivitas instruksional, pihak lain tidak mengamatinya termasuk para supervisor
(pengawas). Guru beraktivitas tanpa memperoleh umpan balik dari kinerjanya
sehingga sulit bagi mereka untuk memperoleh informasi balikan. Guru lainpun tidak
dapat mengamati kinerja guru tersebut sehingga sulit untuk terjadi proses berbagai
pengalaman. Mungkin hal ini berbeda dengan mereka yang bekerja dalam suasana
kerja yang terbuka seperti di pabrik, di lapangan, di rumah sakit, dsb. Mereka yang
bekerja di lingkungan kerja seperti di rumah sakit, para petugas baik profesional
(seperti dokter) maupun para-profesional (seperti asisten, perawat, dsb) dapat saling
mengamati kinerja masing-masing. Petugas senior dapat membimbing yang senior
terutama pemula, demikian juga tenaga paramedis. Situasi seperti ini dapat
memberikan pengaruh konstruktif bagi perkembangan profesi, namun hal seperti itu
tidak dijumpai dalam lingkungan kerja guru. Kepala sekolah, pengawas, atau pejabat
pendidikan jarang yang melakukan pengawasan dan pembinaan yang bersifat
mengembangkan. Mereka lebih banyak membahas hal-hal yang bersifat administratif.

2. Dilema psikologis

Kondisi penataan lingkungan kerja seperti dikemukakan di atas, membuat guru secara
terus menerus tanpa putus senantiasa berhadapan dengan tantangan psikologis. Setiap
hari guru melaksanakan tugasnya dengan perilaku mengajar seperti mengecek
kehadiran siswa, memperhatikan siswa satu persatu, menyampaikan materi,
mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan siswa, menulis, membacakan,
memeriksa pekerjaan, melakukan teguran, memberikan pujian, dsb. Kalau guru SD
sebagai guru kelas hal itu dilakukan mulai dari pelajaran yang satu ke pelajaran
berikutnya sampai akhir waktu. Kalau guru mata pelajaran seperti di SMP atau SMA
rangkaian perilaku itu dilakukan dari satu kelas ke kelas lainnya hingga berakhir jam
pelajaran. Cukup banyak jumlah siswa yang harus dihadapi setiap hari dengan
berbagai ragam kepribadian mulai dari yang menyenangkan sampai ke yang
menjengkelkan, mulai dari yang cerdas sampai yang lambat, dan begitu banyak
macam pola tingkah laku siswa yang berasal dari berbagai latar belakang. Semua itu
harus dihadapi dengan sebaik-baiknya. Sebagai manusia biasa sudah tentu guru akan
berhadapan dengan situasi psikologis yang bersifat dilematis. Sebagai guru harus
bertahan pada norma-norma etika psikologis, namun sebagai manusia biasa iapun
memiliki kualitas kondisi psikologis tertentu. Kalau kurang memiliki daya tahan
psikologis yang prima, maka dapat berkembang menjadi konflik, frustrasi bahkan

25
mendapat gangguan psikis.
Dilema psikologis yang dihadapi guru tidak hanya berhadapan dengan siswa, namun
dengan pihak orang tua, pihak kepala sekolah, dan birokrasi pendidikan. Orang tua
memberikan tuntutan tertentu menurut kehendak dan perasaannya. Pihak kepala
sekolah dan birokrasi lainnya lebih banyak menuntut hal-hal yang bersifat
administratif. Belum lagi tantangan yang bersifat sosial, ekonomi, kultural, dan
bahkan politik cukup memberikan tekanan psikologis. Guru dituntut berperilaku ideal
normatif namun berbagai kendala ekonomis membuat mereka berada dalam situasi
konflik. Kondisi keluarga seperti tuntutan kebutuhan hidup yang menyangkut
sandang, pangan, dan papan, kebutuhan pendidikan, kesehatan, sosial, dsb. makin
menambah panjangnya deretan daftar tantangan dilema psikologis bagi guru.

3. Rutinitas

Situasi lingkungan kerja sebagaimana dikemukakan di atas, membawa guru pada


pola-pola rutin. Semua aktivitas guru seolah-oleh sudah dipolakan sedemikian rupa
sehingga aktivitas guru terpasung dengan hal-hal yang rutin. Kurikulum dan silabus
serta jadwal mengajar setiap hari, jadwal mingguan, bulanan, bahkan tahunan,
semuanya sudah diatur secara administratif. Sedikit sekali guru berpeluang untuk
dapat mengatur dirinya sendiri di luar ketentuan yang rutin. Bahkan di masa lalu hal-
hal yang sebenarnya menjadi tugas otonomi guru sudah diatur dari atas seperti buku
pelajaran, materi, metode mengajar, soal tes, persiapan mengajar, serta juklak dan
juknis lainnya.
Kondisi rutinitas itu dapat menghambat perkembangan kreativitas dan profesi guru,
disamping memberikan dampak psikologis seperti kebosanan, apatis, pasif, reaktif,.
mekanis, dsb.

4. Kendala guru pemula

Situasi lingkungan kerja seperti telah disebutkan di atas akan banyak menimbulkan
kendala bagi para guru pemula. Untuk memulai melaksanakan tugas dakam
lingkungan yang baru guru pmula memerlukan orientasi unmtuk mengenal situasi
baru dalam mempersiapkan diri untuk memulai melaksanakan tugas. Dalam
kenyataan jarang sekali guru memperoleh bantuan untuk memulai tugasnya. Guru-
guru yang sudah ada terlebih dahulu atau guru senior kurang banyak membantu. Dari
pihak kedinasan dan birokrasi jarang ditemukan adanya program orientasi awal masa
tugas bagi pemula. Program yang disebut pendidikan dan pelatihan prajabatan lebih
banyak berkenaan dengan berbagai hal yang bersifat administratif kepegawaian.
Kondisi seperti itu agak berbeda dibandingkan dengan lingkungan kerja profesi lain
seperti di bidang hukum, kesehatan, pemerintaha, bisnis, dsb. Dalam lingkungan
tersebut para pemula telah disiapkan program yang secara bertahap membantu untuk
secara bertahap dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Lingkungan kerja
guru dengan kondisi seperti itu menjadi kendala untuk memulai tugasnya. Para
pemula harus berupaya sendiri dalam melaksanakan tugas dan melakukan
penyesuaian diri dalam berbagai aspek. Dampak psikologis yang mungkin timbul
adalah rasa terasing yang kemudian berkembang menjada rasa kurang betah dan
menurunnya motivasi kerja. Pada gilirannya keadaan seperti itu berpengaruh terhadap
efektiivitas kerja guru secara keseluruhan.

5. Karir tak berjenjang

26
Banyak profesi bergengsi seperti di bidang hukum, kedokteran, sains, rekayasa, dsb.
menetapkan secara jelas transisi dari sejak mahasiswa lulus ke jabatan profesional.
Untuk dapat melaksanakan tugas profesionalnya dilakukan secara berjenjang melalui
seleksi yang cukup ketat dengan kriteria yang jelas. Ketika memulai bertugas pada
tahap awal dimulai dengan magang kepada yang lebih seniror dan terus secara
berhjenjang sampai pada posisin tertinggi. Dalam jabatan guru hal itu tidak terjadi
secara jelas dan terprogram. Begitu lulus dari Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan langsung terjun ke dunianya laksana anak itik yang langsung berenang.
Dan seterusnya sejak mulai sampai akhir masa jabatan tidak pernah terjadi seleksi
karir yang berjenjang. Dengan begitu guru pemula sama saja dengan guru yang sudah
puluhan tahun bekerja, yang membedakannya hanyalah gaji yang diterima dan
pangkat yang semakin tinggi.

Memang ada ketentuan penjenjangan jabatan guru mulai dari guru pratama sampai ke
guru utama dengan kriteria perolehan angka kredit. Namun dalam pelaksanaannya
lebih banyak berupa ketentuan administratif ketimbang penjenjangan profesional. Di
Perguruan Tinggi para dosen cukup jelas ketentuan aturan penjenjangan dan
pelaksanaannya. Misalnya seorang asisten ahli tidak diberi wewenang untuk mengajar
secara mandiri dan membimbing skripsi.

6. Kurang dialog mengenai pengajaran.

Pada umumnya di sekolah para guru jarang melakukan dialog atau diskusi berkenaan
dengan pengajaran baik antar sesama guru maupun dengan supervisornya seperti
kepala sekolah atau pengawas. Kalaupun terjadi pertemuan antara pejabat
Departemen, Dinas, pengawas atau Kepala Sekolah, pembicaraan lebih banyak
bersifat top down dan sedikit menyinggung dialog mengenai pengajaran. Hal-hal yang
dibahas lebih banyak bersifat informatif yang berkenaan dengan berbagai peraturan,
ketentuan administratif, atau perintah, dsb. Kalau terjadi dialog sesama guru pada
waktu istirahat atau waktu luang, lebih banyak obrolan santai membicarakan masalah-
masalah pribadi, kesejahteraan, keluarga, lingkungan dsb.
Ada satu bentuk forum yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan dialog
instruksional yaitu apa yang disebut Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
Sayangnya forum ini lebih banyak berbentuk kepanjangan kedinasan yang sekali lagi
lebih banyak mengarah ke hal-hal administratif.

7. Kurang keterlibatan dalam pengambilan keputusan kurikulum sekolah dan


pengajaran.

Jika guru kurang kesempatan berdialog dengan sesama guru, tidak saling melihat satu
dengan lain dalam proses pengajaran, dan guru cukup berkinerja dalam kelas, maka
tidak heran apabila guru kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan berkenaan
dengan kurikulum dan pengajaran. Keadaan ini jelas sangat kurang menguntungkan
guru sebagai unsur pendidikan yang berada di garda terdepan pendidikan.
Keputusan pendidikan termasuk kurikulum dan p[engajaran lebih banyak ditetapkan
dari atas dalam bentuk petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang seolah-olah
sebuah resep yang harus dilaksanakan. Kalau saja inovasi mengenai penerapan KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang akan melibatkan guru dalam
pelaksanaannya, maka ini satu langkah baik untuk memberikan peluang bagi guru

27
untuk mewujudkan otonomi pedagogisnya. Masalahnya, apakah guru sudah siap, dan
apakah ada pembinaan sistematis?

GURU YANG DIHARAPKAN: Profesional, Sejahtera, dan


Terlindungi

Menghadapi berbagai tantangan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan


nasional, diperlukan guru berkualitas yang mampu mewujudkan kinerja profesional,
modern, dalam nuansa pendidikan dengan dukungan kesejahteraan yang memadai dan
berada dalam lindungan kepastian hukum. “Guru” adalah suatu sebutan bagi
jabatan, posisi dan profesi bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam bidang
pendidikan memalui interaksi edukatif secara terpola, formal, dan sistematis. Saat ini
telah lahir Undang-undang nomor 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen sebagai
satu landasan konstitusional yang sekaligus sebagai payung hukum yang memberikan
jaminan bagi para guru dan dosen secara profesional, sejahtera, dan terlindungi.
Undang-undang guru sangat diperlukan dengan tujuan: (1) mengangkat harkat citra
dan martabat guru, (2) meningkatkan yanggung jawab profesi guru sebagai pengajar,
pendidik, pelatih, pembimbing, dan manajer pembelajaran, (3) memberdayakan dan
mendayagunakan profesi guru secara optimal, (4) memberikan jaminan kesejahteraan
dan perlindungan terhadap profesi guru, (5) meningkatkan mutu pelayanan dan hasil
pendidikan, (6) mendorong peranserta masyarakat dan kepedulian terhadap guru.

Dalam UU Guru dan Dosen (pasal 1 ayat 1) dinyatakan bahwa: ”Guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak
usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.
Guru profesional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-
tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode, rasa
tanggung jawab, pribadi, sosial, intelektual, moral dan spiritual, dan kesejawatan,
yaitu rasa kebersamaan di antara sesama guru. pribadi. Sementara itu, perwujudan
unjuk kerja profesional guru ditunjang dengan jiwa profesionalisme yaitu sikap
mental yang senantiasa mendorong untuk mewujudkan diri sebagai guru profesional.
Kualitas profesionalisme ditunjukkan oleh lima untuk kerja sebagai berikut: (1)
Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. (2)
Meningkatkan dan memelihara citra profesi. (3) Keinginan untuk senantiasa mengejar
kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki
kualitas pengetahuan dan ketrampilannya. (4) Mengejar kualitas dan cita-cita dalam
profesi. (5) Memiliki kebanggaan terhadap profesinya.

Dalam UU Guru dan Dosen (pasal 7 ayat 1) prinsip profesional guru mencakup
karakteristik sebagai berikut: (a) memiliki bakat, minat, panggilan dan idealisme, (b)
memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang
tugas, (c) memiliki kompetrensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, (d)
memiliki ikatan kesejawatan dan kode etik profesi, (e) bertanggung jawab atas
pelaksanaan tugas keprofesionalan, (f) memperoleh penghasilan yang ditentukan
sesuai dengan prestasi kerja, (g) memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesi
secara berkelanjutan, (h) memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas keprofesionalan, dan (i) memiliki organisasi profesi yang mempunyai
kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan keprofesian. Selanjutnya pasal
14 menyatakan bahwa guru mempunyai hak professional sebagai berikut: (a)

28
memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan
kesejahteraan social; (b) mendapatkan poromosi dan penghargaan sesuai dengan tugas
dan prestasi kerja, (c) memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak
atas kekayaan intelektual, (d) memperoleh kesempatan untuk meningkatkan
kompetensi, (e) memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasaranban pembelajaran
untuk menunjang kelancaran tugas keprofeionalam, (f) memiliki kebebasan dalam
memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusaan, penghargaan dan/atau sanksi
kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan
perundang-undangan, (g) memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam
melaksanakan tugas, (h) memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi
profesi, (i) memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan
pendidikan, (j) memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan
kualifikasi akademik dan kompetensi, dan/atau, (k) memperoleh pelatihan dan
pengembangan profesi dalam bidangnya.
Beberapa substansi UU Guru dan Dosen yang bernilai “pembaharuan” untuk
mendukung profesionalitas dan kesejahteraan guru antara lain yang berkenaan
dengan:

1. Kualifikasi dan kompetensi guru: yang mensyaratkan kualifikasi akademik


guru minimal lulusan S-1 atau Diploma IV, dengan kompetensi sebagai agen
pembelajaran yang meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional,
dan sosial.
2. Hak guru: yang berupa penghasilan di atas kebutuhann hidup minimum berupa
gaji pokok, tunjangan yang melekat pada gaji, tunjangan profesi, tunjangan
fungsionmal, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan
tugasnya sebagai guru. (pasal 15 ayat 1)
3. Kewajiban guru; untuk mengisi keadaan darurat adanya wajib kerja sebagai
guru bagi PNS yang memenuhi persyaratan.
4. Pengembangan profesi guru; melalui pendidikan guru yang lebih berorientasi
pada pengembangan kepribadian dan profesi dalam satu lembaga pendidikan
guru yang terpadu.
5. Perlindungan; guru mendapat perlindungan hukum dalam berbagai tindakan
yang merugikan profesi, kesejahteraan, dan keselamatan kerja.
6. Organisasi profesi; sebagai wadah independen untuk peningkatan kompetensi
karir, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahtreraan dan atau
pengabdian, menetapkan kode etik guru, memperjuangkan aspirasi dan hak-
hak guru.

PELUANG DAN TANTANGAN

Sebagai satu bentuk reformasi dan inovasi, kelahirannya akan memberikan peluang
sekaligus tantangan yang akan dihadapi oleh subyek-subyek terkait.

Pertama; bagi para guru

Sebagai peluang, guru akan memperoleh jaminan dalam mewujudkan otonomi


pedagogis yang merupakan hak azasinya sebagai unsur utama pendidikan sehingga
dapat berkinerja secara profesional dan lebih optimal dengan dukungan kualitas
kesejahteraan dan perlindungan hukum yang memadai. Disamping itu guru
berpeluang untuk memperoleh jaminan sebagai warga negara dengan segala hak dan

29
kewajibannya dalam suasana lingkungan kerja yang kondusif dalam pengembangan
karir baik profesi maupun pribadi. Semua peluang tersebut apabila dapat terwujud
akan membuat para guru berkinerja secara profesional dengan dukungan
kesejahteraan yang memadai dan dalam lingkungan kerja yang kondusif, serta
jaminan kepastian karir yang lebih prospektif. Namun semua peluang itu tidak serta
merta akan terwujud karena guru ditantang untuk mampu berkinerja sesuai dengan
tuntutan undang-undang. Guru harus memenuhi standar profesi baik dalam bentuk
kualifikasi maupun kompetensi sebagaimana telah ditetapkan dalam undang-undang
dan harus senantiasa meningkatkan mutu profesionalnya melalui berbagai cara dan
kesempatan. Guru ditantang untuk dapat melaksanakan semua tuntutan undang-
undang berkenaan dengan kewajiban profesionalnya sesuai dengan kode etik profesi.
Hak untuk memperoleh kesejahteraan dan jaminan hanya mungkin terwujud apabila
yang bersangkutan mampu memenuhi kewajibannya sebagai tantangan dari tuntutan
undang-undang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peluang yang mungkin
akan dicapai oleh para guru, harus diikuti dengan kemampuan menghadapi tantangan
yang yang timbul dari implementasi undang-undang.

Kedua; bagi pemerintah.

Dengan berlakunya undang-undang guru, pemerintah mendapat tantangan untuk


secara konsekuen mengimplementasikan berbagai amanat undang-undang dalam
berbagai aspek dan dimensi pendidikan. Sesuai dengan amanat undang-undang, hal
yang harus dilaksanakan antara lain: (1) Menata berbagai ketentuan hukum yang
berkaitan dengan implementasi undang-undang, (2) Menyediakan dana dan sarana
untuk menunjang implementasi undang-undang. (2) Mewujudkan satu sistem
manajemen guru dan dosen dalam dalam satu sistem pengelolaan yang profesional
dan proporsional. (3) Pembenahan Sistem Pendidikan dan pelatihan yang lebih
fungsional untuk dan lebih berorientasi pada pembentukan dan pemberdayaan
kepribadian dan profesi, (4) Pengembangan satu sistem remunerasi (gaji dan
tunjangan lainnya) bagi guru dan secara adil, bernilai ekonomis, serta memiliki daya
tarik sedemikian rupa sehingga merangsang para guru dan melakukan tugasnya
dengan penuh dedikasi dan memberikan kepuasan lahir batin.

Ketiga; bagi organisasi profesi.

Organisasi profesi merupakan peluang untuk sebagai wadah perjuangan dalam


mewujudkan semua amanat yang tersirat dan tersurat dalam undang-undang. PGRI
yang hingga saat ini telah menjadi salah satu organisasi guru dengan usia paling lama
dan memiliki potensi yang cukup mantap dalam struktur, kultur, substansi dan SDM-
nya, harus mampu menjadi organisasi profesi sebagaimana diamanatkan oleh undang-
undang. Sebagai organisasi profesi, PGRI mempunyai fungsi sebagai wadah
kebersamaan rasa kesejawatan para anggota dalam: (1) mewujudkan keberadaannya
di lingkungan masyarakat, (2) memperjuangkan segala aspirasi dan kepentingannya
suatu profesi, (3) menetapkan standar perilaku profesional, (4) melindungi seluruh
anggota, (5) meningkatkan kualitas kesejahteraan, (6) mengembangkan kualitas
pribadi dan profesi.

Keempat; bagi penyelenggara pendidikan

30
Sebagaimana kita maklumi, Undang-undang Sisdiknas dan Undang-undang Guru dan
Dosen memberikan jaminan kesetaraan antara pendidikan yang diselenggarakan oleh
pemerintah (negeri) dan yang dioselenggarakan oleh masyarakat (swasta). Bagi
penyelenggara pendidikan swasta kelahiran Undang-undang Guru dan Dosen
merupakan peluang bagi peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu dan
kesejahteraan para pengajar (guru dan dosen). Namun hal itu merupakan tantangan
tersendiri yang mungkin cukup berat dan rumit sehingga bukan hal yang mustahil
dapat menimbulkan komplikasi. Kondisi swasta yang berbeda dengan negeri terutama
dalam dana dan sarana menuntut pihak swasta harus bekerja keras untuk mengejar
ketertinggalan dengan negeri. Sementara itu, kondisi swasta memiliki rentangan
keragaman yang cukup besar antara satu dengan lainnya sehingga dalam
mengimplementasikan Undang-undang Guru dan Dosen memerlukan adaptasi yang
cukup rumit dan memerlukan tahapan waktu dalam kurun yang panjang. Untuk itu
dibutuhkan kesiapan pihak swasta dan dukungan pemerintah dalam rangka
mengembangkan kemitraan penyelenggaraan pendidikan.

Kelima; pihak terkait lainnya

Berbagai pihak terkait baik institusi maupun perorangan yang berada di lingkungan
penyelenggara pendidikan, birokrasi, lembaga legislatif, organisasi, dan masyarakat
pada umumnya, harus ikut berperan serta dalam implementasi undang-undang guru
dan dosen. Dalam hubungan ini semua pihak terkait mendapat tantangan untuk dapat
memberikan perlakuan secara tepat sebagai dukungan bagi guru dan dosen dalam
mewujudkan dirinya sesuai dengan amanat undang-undang guru. Langkah mendasar
yang harus dilakukan oleh pihak birokrasi adalah mereposisi guru dan dosen dalam
pendidikan nasional dalam berbagai tatanan dan dimensi pendidikan sesuai dengan
tuntutan undang-undang. Selanjutnya guru dan dosen harus diperlakukan sebagai
subyek yang berada dalam tatanan manajerial yang berbasis pendidikan sebagai mitra
dalam pengelolaan yang luwes. Dengan demikian. Guru dan dosen akan mewujud
sebagai pribadi mandiri, matang, penuh percaya diri dan berwibawa untuk tampil
sebagai insan professional yang terjamin dan prospektif. Semua itu pada gilirannya
akan menunjang suksesnya kinerja pendidikan nasional sebagai infrastruktur
pengembangan sumber daya manusia.

PENDIDIKAN GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Setiap aspek dunia pendidikan termasuk masalah kualitas guru saat ini menghadapi
tantangan baik global, nasional, maupun lokal. Pada tatanan global seluruh umat
manusia di dunia dihadapkan pada tantangan yang bersumber dari perkembangan
global sebagai akibat pesatnya perkembangan ilmu perngetahuan dan teknologi.
Robert B Tucker (2001) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan di abad 21 yaitu:
(1) kecepatan (speed), (2) kenyamanan (convinience), (3) gelombang generasi (age
wave), (4) pilihan (choice), (5) ragam gaya hidup (life style), (6) kompetisi harga
(discounting), (7) pertambahan nilai (value added), (8) pelayananan pelanggan
(costumer service), (9) teknologi sebagai andalan (techno age), (10) jaminan mutu
(quality control. Menurut Robert B Tucker kesepuluh tantangan itu menuntut inovasi
dikembangkannya paradigma baru dalam pendidikan seperti: accelerated learning,
learning revolution, megabrain, quantum learning, value clarification, learning than
teaching, transformation of knowledge, quantum quotation (IQ, EQ, SQ, dll.), process

31
approach, Forfolio evaluation, school/community based management, school based
quality improvement, life skills, competency based corriculum.

Pada tatanan nasional, dunia pendidikan ditantang dengan berbagai upaya


pembaharuan dan pembangunan nasional yang lebih berorientasi pada pengembangan
sumber daya manusia. Lahirnya Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem
Pendidikan Nasional, Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,
dan berrbagai produk ketentuan hukum lainnya merupakan satu tantangan yang harus
dihadapi oleh LPTK yang mempunyai tanggung jawab dalam menghasilkan guru
yang berkualitas. Pada tatanan lokal dengan penerapan otonomi daerah, setiap daerah
mempunyai peluang untuk menata pengembangan tenaga guru yang lebih berkualitas
dan sesuai dengantuntutan kebutuhan daerah.
Berkaitan dengan masalah dan kendala guru sebagaimana dikemukakan di atas, cukup
banyak kritikan tajam yang ditujukan kepada LPTK khususnya yang berkenaan
dengan ketiak mampuan LPTK menghasilkan guruyang berkualitas. Menurut Linda
Darling Hammond dan Joan Baratz Snouwden (2007) dalam tulisannya yang
berjuudul: ”Good Teacher in Every Classroom: Preparing the High Qualified
Teachers Our Children Deserve”., ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi,
yaitu pertama; pemerintah dan masyarakat belum menunjukkan keseriusannya dalam
menangani hak-hak anak terutama dari kelompok miskin, kedua, penyempitan makna
konvensional yang menyatakan bahwa pengajaran semata-mata sebagai proses
penyampaian materi sebagaimana digariskan dalam kurikulum; ketiga, banyak pihak
yang tidak memahami hakekat mengajar yang sebenarnya, keempat, hampir semua
meyakini bahwa yang penting adalah pengajaran dan bukan pembelajaran dari peserta
didik, kelima masih longgarnya tuntutan persyaratan untuk menjadi guru yang
berkualitas, keenam para peneliti dan pendidik guru barui sampai pada kesepakatan
mengenai pengetahuan dasar yang diperlukan oleh guru untuk memasuki kelas.
Pendidikan guru di masa lalu dan hingga sekarang sering dikritik terlalu sempit yang
dibatasi dengan mempersiapkan pengetahuan yang akan diajarkan di kelas. Sementara
kurang memperhatikan hal-hal yang terkait dengan pemahaman mengernai peserta
didik, pengembangan profesi, pembentukan kepribadian, dan landasan pedagogis.
Sebagai akibatnya ialah guru hanya mampu tampil sebagai penyampai pengetahuan
dan tidak tampil sebagai guru profesional sebagaimana dituntut oleh Undang-undang
Guru dan Dosen.

Sehubungan dengan kritikan dan tantangan tersebut maka LPTK harus mau dan
mampu melakukan reformasi pola-pola pendidikan guru. Pola-pola lama harus
dikembangkan sehingga mampu menghasilkan guru yang berkualitas sebagaimana
yang diharapkan. Untuk itu perlu dilakukan berbagai penataan sistem secara utuh
dengan menempatkan proses pengajaran dan pembelajaran sebagai inti dari siostem
pendidikan guru. Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel menyebutnya proses interaksi
antara pengajaran dan pembelajaran sebagai ”technical core” dalam pendidikan
guru. Mereka menyarankan agar pendidikan guru baik pra-jabatan maupun dalam
jabatan dibangun dalam satu sistem yang utuh dengan memperhatikan aspek input,
proses, dan output dan terjadi keterpaduan berbagai unsur sub-sistem secara utuh.

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MENURUT


MUHAMMAD ABDUH

32
A. Riwayat Hidup Muhamad Abduh

Muhamad Abduh dilahirkan pada tahun 1849 didesa mahallat nasr mesir. ayahnya
bernama Abduh Hasan Khoirullah berasal dari turki. Menurut riwayat ibunya berasal
dari bangsa arab yang silsilahnya sampai ke suku bangsa Umar Bin Khatab.

Pendidikan Muhamad Abduh di mulai dengan balajar menulis dan membaca di rumah
setelah beliau hapal kitab suci al-qur’an pada tahun 1863 ia di kirim oleh orang tuanya
ke thamta untuk meluruskan bacaanya dan tajwid di masjid al-ahmadi. Namun karena
metode pelajaran tidak sesuai yang diberikan gurunya seperti membiasakan
menghapal istilah nahwu atau fiqh akhirnya Muhamad abduh kembali ke mahallat
nasr dengan tekad tidak akan kembali lagi belajar.

Pada tahun 1866 dalam usia 20 tahun beliau menikah dengan modal niat mau
menggarap ladang pertanian seperti halnya dengan ayahnya. Tidak lama menikah,
ayahnya memaksa beliau untuk kembali ke thamta tetap dalam perjalanan beliau tidak
ke thamta tetapi kedesa Kani Sahurin tempat tinggal Syekh Darwish Khadr yang
belajar berbagai ilmu agama di mesir. Syekh Darwish mendorong Muhamad Abduh
untuk selalu membaca, berkat dorongan Syekh Darwish, Muhamad Abduh kembali
menumbuhkan semangatnya untuk belajar dan membaca buku.

Setelah mengalami perubahan mental terhadap belajar, maka ia kembali ke masjid


Ahmadi di thamtha untuk belajar. Pada tahun 1866 beliau berangkat ke Kairo untuk
belajar di Al-Azhar. Metode pengajaran di Al-Azhar masih sama dengan di masjid
Al-Ahmadi yakni metode mengahapal. Kondisi Al-Azhar ketika itu berlawanan
dengan kebiasaan merupakan sesuatu kekafiran. Membaca buku geografi, ilmu kalam
dan filsafat adalah haram, sedangkan memakai sepatu adalah bid’ah dan bertentangan
dengan ajaran Islam sebenarnya.

Situasi dan kondisi masyarakat Muhamad Abduh beku, kaku menutup rapat-rapat
pintu ijtihad serta mengabaikan peranan akal di dalam memahami syariah sementara
di eropa khususnya kehidupan masyarakat sangat mendewakan akal. Kondisi
demikian, pada dekade selanjutnya akan berpengaruh terhadap ke adan mesir.

Namun pengaruh tersebut dirasakan Muhamad Abduh pada saat ia memasuki


universitas Al-Azhar sebagai suatu lembaga pendidikan formal yang membina dan
ulama-ulama terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang menganut pola
taqlid yang merupakan kelompok yang mayoritas dan yang kedua, kelompok yang
menganut pola tajdid dan merupakan kelompok minoritas. Muhamad Abduh berada di
kelompok minoritas yang ketika itu di pelopori antara lain: Syekh Muhamad Al-
Basyuni (ahli sastra) dan Syekh Hasan Thawil (ahli filsafat dan logika)

B. Konsep Pendidikan Muhamad Abduh

Pembaharuan dalam bidang pendidikan yang juga menjadi prioritas utama Muhamad
Ali, berorientasi pada pendidikan barat. Ia mendirikan berbagai macam sekolah yang
meniru sistem pendidikan dan pengajaran barat, dari pembaharuan dalam bidang
pendidikan tersebut mewariskan dua tipe pendidikan pada abad ke 20. Tipe pertama
sekolah tradisional. Tipe kedua, sekolah-sekolah modern yang didirikan oleh

33
pemerintah mesir oleh para misionaris asing. Kedua tipe lembaga pendidikan tidak
mempunyai hubungan sama sekali masing-masing berdiri sendiri.

Adanya dua tipe pendidikan tersebut juga berdampak kepada munculnya dua kelas
sosial dengan motivasi yang berbeda. Tipe yang pertama melahirkn para ulama dam
tokoh masyarakat yang mempertahankan tardisi, sedangkan tipe sekolah kedua
melahirkan kelas elit generasi muda yang mendewakan dan menerima perkembangan
dari barat tanpa melakukan filterisasi.

Muhamad Abduh malihat terdapat segi-segi negatif dari kedua bentuk pemikiran
seehingga ia mengkritik kedua corak lembaga ini. Oleh karena itu ia memandang
bahwa jika pola fikir yang pertama tetap di pertahankan maka akan mengakibatkan
umat Islam tertinggal jauh dan semakin terdesak oleh arus kehidupan modern.
semetara pola fikir yang kedua, Muhamad Abduh melihat bahwa pemikiran modern
yang mereka serap dari barat tampa nilai “religius” merupakan bahaya ynag
mengancam sendi agama dan moral.

Dari sinilah Muhamad Abduh melihat perlunya mengadakan perbaikan terhadap


kedua institusi itu sehingga dua pola pandidikan tersebut dan saling menopang demi
untuk mencapai suatu kemajuan serta upaya untuk mempersempit jurang pemisah
antara dua lembaga pendidikan yang kelak akan melahirkan para generasi penerus.

C. Urgensi Ekualisasi Dalam Pendidikan

Salah satu proyek terbesar Muhamad Abduh dalam gerakannya sebagai seorang tokoh
pembaharu sepanjang hayatnya adalah pembaharuan dalam bidang pendidikan,
dualisme pendidikan yang muncul dengan adanya institusi yang berbeda sehigga
menjadi motivasi bagi Muhamad Abduh untuk berusaha keras dua pola pikir tersebut.

Langkah yang di tempuh Muhamad Abduh untuk meminimalisir kesenjangan


dualisme pendidikan adalah uapaya menselaraskan, menyeimbangkan antara porsi
pelajaran agama dengan pelajaran umum. Hal ini di lakukan untuk memasukan ilmu-
ilmu umum kedalam kurikulum sekolah agama dan memasukan pendidikan agama
kedalam kurikulum modern yang didirikan pemerintah sebagai sarana untuk mendidik
tenaga-tenaga administrasi, militer, kesehatan, perindustrian. Atas usaha Muhamad
Abduh tersebut maka didirikan suatu lembaga yakni “majlis pendidikan tinggi”.

untuk mengejar ketertinggalan dan memperkecil dualisme pandidikan Muhamad


Abduh mempunyai beberapa langkah untuk memberdayakan sistem Islam antara lain
yaitu:

1. Rekonstruksi Tujuan Pendidikan Islam

Untuk memberdayakan sistem pendidkan Islam, Muhamad Abduh menetapkan


tujuan, pendididkan islal yang di rumuskan sendiri yakni: Mendidik jiwa dan akal
serta menyampaikannya kepada batas-batas kemungkinan seseorang dapat mencapai
kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Pendidikan akal ditujuka sebagai alat untuk menanamkan kebiasaan berpikir dan
dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Dengan menanamkan kebiasaan
berpikir, Muhamad Abduh berharap kebekuan intelektual yang melanda kaum

34
muslimin saat itu dapat dicairkan dan dengan pendidikan spiritual diharapkan dapat
melahirkan generasi yang tidak hanya mampu berpikir kritis, juga memiliki akhlak
mulia dan jiwa yang bersih.

Dalam karya teologisnya yang monumental Muhamad Abduh menselaraskan antara


akal dan agama. Beliau berpandangan bahwa al-Qur’an yang diturunkan dengan
pelantara lisan nabi di utus oleh tuhan. Oleh karena itu sudah merupakan ketetapan di
kalangan kaum muslimin kecuali orang yang tidak percaya terhadap akal kecuali
bahwa sebagian dari ketentuan agama tidak mungkin dapat meyakini kecuali dengan
akal.

2. Menggagas Kurikulum Pendidikan Islam Yang Integral

Sistem pendidikan yang di perjuangkan oleh Muhamad Abduh adalah sistem


pendidikan fungsional yang bukan impor yang mencakup pendidikan universal bagi
semua anak, laki-laki maupun perempuan. Semua harus memiliki kemampuan dasar
seperti membaca, manulis, dan menghitung. disamping itu, semua harus mendapatkan
pendidikan agama.

Bagi sekolah menengah, diberikan mata pelajaran syari’at, kemiliteran, kedokteran,


serta pelajaran tentang ilmu pemerintah bagi siswa yang berminat terjun dan bekerja
di pemerintahan. Kurikulum harus meliputi antara lain, buku pengantar pengetahuan,
seni logika, prinsip penalaran dan tata cara berdebat.

Untuk pendidikan yang lebih tinggi yaitu untuk orientasi guru dan kepala sekolah,
maka ia mengggunakan kurikulum yang lebih lengkap yang mencakup antara lain
tafsir al-quran, ilmu bahasa, ilmu hadis, studi moralitas, prinsif-prinsif fiqh, histogarfi,
seni berbicara.

Kurikulum tersebut di atas merupakan gambaran umum dari kurikulum yang di


berikan pada setiap jenjang pendidikan. Dari beberapa kurikulum yang dicetuskan
Muhamad Abduh, ia menghendaki bahwa dengan kurikulum tersebut diharapkan akan
melahirkan beberapa kelompok masyarakat seperti kelompok awam dan kelompok
masyarakat golongan pejabat pemerintah dan militer serta kelompok masyarakat
golongan pendidik. Dengan kurikulum yang demikian Muhamad Abduh mencoba
menghilangkan jarak dualisme dalam pendidikan.

Adapun usaha Muhamad Abduh menggajukan Universitas Al-Azhar antara lain:

• Memasukan ilmu-ilmu modern yang berkembang di eropa kedalam al-azhar.


• Mengubah sistgem pendidikan dari mulai mempelajari ilmu dengan sistem
hafalan menjadi sistem pemahaman dan penalaran.
• Menghidupkan metode munazaroh (discution) sebelum mengarah ke taqlid
• Membuat peraturan-peraturan tentang pembelajaran seperti larangan membaca
hasyiyah (komentar-komentar) dan syarh (penjelasan panjang lebar tentang
teks pembelajaran) kepada mahasiswa untuk empat tahun pertama.
• Masa belajar di perpanjang dan memperpendek masa liburan.

Dari beberapa usaha yang dilakukan oleh Muhamad Abduh, meskipun belum sempat
ia aplikasikan sepenuhnya secara temporal. Telah memberikan pengaruh positif

35
terhadap lembaga pendididkan Islam. Usaha Muhamad Abduh kurang begitu lancar
disebabkan mendapat tantangan dari kalangan ulama yang kuat berpegang pada tradisi
lama teguh dalam mempertahankanya.

DAFTAR PUSTAKA

Suwito dan Fauzan.2003 sejarah. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan. Bandung:


Angkasa

Abdurachman Asseqaf Suyadi.2002. Pendidikan Islam mazhab kritis. Yogyakarata:


Gama Media
Category: P

Filsafat pendidikan islam menurut muhammad abduh


Oleh : Nanang Muhamad Nasyir

BAB I

PENDAHULUAN

Tercatat beberapa nama ulama besar yang berperan sebagai pembaharu bidang
pendidikan Islam yang muncul di Timur Tengah, seperti Muhammad Ali Pasya,
Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dari Mesir. Kemudian
tercatat nama Muhammad Iqbal dari India dan sebagainya. Pada masa kemunduran
Islam abad 13-18, segala warisan filsafat dan ilmu pengetahuan diperoleh Eropa dari
Islam, ketika umat Islam larut dalam kegemilangan sehingga tidak memperhatikan
lagi pendidikan, maka Eropa tampil mencuri ilmu pengetahuan dan belajar dari Islam.
Eropa kemudian bangkit dan Islam mulai dijajah dan mengalami kemunduran.
Hampir seluruh wilayah dunia Islam dijajah oleh Bangsa Eropa termasuk di Mesir.
Penemuan-penemuan baru dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi muncul di
Eropa.

Dalam membuka mata kaum muslimin akan kelemahan dan keterbelakangannya,


sehingga akhirnya timbul berbagai macam usaha pembaharuan dalam segala bidang
kehidupan, untuk mengejar ketertinggalan dan keterbelakangan, termasuk usaha-
usaha di bidang pendidikan. khususnya di Mesir di masa Muhammad Abduh ketika
pemerintahan dipegang khadif Taufiq Pasya dan Inggris menghadapi dua aliran
manusia. Yang pertama kelompok pembaharuan yang ingin melakukan pembaharuan
sedikit demi sedikit, mereka melihat agenda perbaikan umat pertama-tama untuk
meratakan pendidikan di kalangan bangsa agar mereka tau tentang hak dan kewajiban

36
mereka. Adapun kelompok yang kedua adalah kelompok yang ingin mengadakan
perbaikan dengan cepat, intinya adalah orang-orang yang belajar di Eropa sebagai
mahasiswa non pemerintah. Dan Abduh termasuk golongan pertama yang menarik
untuk dibahas sebagai fokus kajian pada makalah ini, yakni pembaharuan pendidikan
yang dipelopori oleh Muhammad Abduh.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Pemikiran Muhammad Abduh

Muhammad Abduh dilahirkan tahun 1849 H/1266 M di salah satu Delta Mesir bagian
hilir. Ayahnya seorang petani keturunan Turki yang telah lama menetap di Mesir dan
ibunya keturunan Arab.[1] Muhammad Abduh dilahirkan dan dibesarkan dan hidup
dalam masyarakat yang sedang disentuh oleh perkembangan-perkembangan dasar di
Eropa. Sayyid Quthub sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab, dalam bukunya
yang berjudul Studi Kritis Tafsir Al-Manar Karya Muhammad Abduh dan M. Rasyid
Ridha, memberikan gambaran singkat mengenai masyarakat tersebut yakni ”suatu
masyarakat yang beku, kaku, menutup rapat pintu ijtihad, mengabaikan peranan akal
dalam memahami sari’at Allah atau mengistinbatkan hukum-hukum karena mereka
telah merasa berkecukupan dengan hasil karya para pendahulu mereka yang juga
hidup dalam masa kebekuan akal (jumud) serta yang berlandaskan khurofat”.
Sementara itu di Eropa hidup suatu masyarakat yang mendewakan akal, khususnya
setelah penemuan-penemuan ilmiah yang sangat mengagumkan ketika itu.[2]

Keadaan masyarakat Eropa tersebut sesungguhnya telah menanamkan benih


pengaruhnya sejak kedatangan ekspedisi prancis (Napoleon) ke Mesir pada tahu 1798.
Namun secara jelas tumbuhnya benih-benih tersebut mulai dirasakan Muhammad
Abduh pada saat ia memasuki pintu gerbang Al-Azhar. Waktu itu, lembaga
pendidikan tersebut para pembina dan ulamanya telah terbagi kedalam dua
kelompok., mayoritas dan minoritas. Kelompok pertama menganut pola taqlid, yakni
mengajarkan kepada siswa bahwa pendapat-pendapat ulama terdahulu hanya sekedar

37
dihapal, tanpa mengantarkan pada usaha penelitian, perbandingan dan pentarjihan.
Sedangkan kelompok kedua menganut pola tajdid (pembaharu) yang menitik beratkan
uraian-uraian mereka ke arah penalaran dan pengembangan rasa.[3]

Berkat pengetahuan Abduh tentang ilmu tasawuf serta dorongan Syekh Darwisy agar
ia selalu mempelajari berbagai bidang ilmu, yang diterimanya ketika usia muda dulu,
maka tidak mengherankan jika naluri Abduh yang didukung Syaikh tersebut membuat
Abduh lebih condong untuk berpihak kepada kelompok minoritas yang ketika itu
dipelopori oleh Syekh Hasan Al -Thawil yang telah mengajarkan filsafat dan logika
jauh sebelum Al-Azhar mengenalnya. Pada sisi lain pertemuan Abduh dengan Al-
Afgani menjadikan Abduh aktif dalam berbagai bidang sosial dan politik, dan
kemudian mengantarkannya untuk bertempat tinggal di Paris, menguasai bahasa
Prancis, menghayati kehidupan masyarakatnya, serta berkomonikasi dengan pemikir-
pemikir Eropa ketika itu.[4]

B. Corak Pemikiran Muhammad Abduh

1. Moderenisasi[5]

Sebagaimana yang telah disinggung pada latar belakang pemikiran Muhammad


Abduh, bahwa semenjak perjumpaannya dengan Al- Afgani, Abduh berusaha
mengadakan penyesuaian ajaran Islam dengan tuntutan zaman, seperti penyesuaian
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Gagasan penyesuaian inilah
kemudian disebut dengan moderniasasi. Sumber dari gagasan moderenisasi Abduh
tersebut bersumber dari penentangannya terhadap taqlid. Menurut Muhammad
Abduh, Al-Qur’an memerintahkan kepada ummatnya untuk menggunakan akal sehat
mereka, serta melarangnya mengikuti pendapat-pendapat terdahulu tanpa mengikuti
secara pasti hujah-hujah yang menguatkan pendapat tersebut, walaupun pendapat itu
dikemukakan oleh orang yang seyogyanya paling dihormati dan dipercaya. Abduh
menetapkan tiga hal yang menjadi kritrea perbuatan taqlid ini, ketiga kriteria tersebut
adalah:

a. Sangat mengagung-agungkan para leluhur dan para guru mereka secara


berlebihan.

38
b. Mengiktikadkan agungnya pemuka-pemuka agama yang silam, seolah-olah telah
mencapai kesempurnaan.

c. Takut dibenci orang dan dikritik bila ia melepaskan fikirannya serta melatih
dirinya untuk berpegang kepada apa yang dianggap benar secara mutlak.

Berdasarkan pada pandangan tersebut, Abduh memahami Alqur’an, terutama yang


berkaitan denga kecaman terhadap sikap dan perbuatan taqlid tersebut, walaupun
menyangkut sikap kaum musrikin. Selanjutnya ia mengecam kaum muslimin,
khususnya yang berpengetahuan yang mengikuti pendapat ulama-ulama terdahulu
tanpa memperhatikan hujahnya.

Berkaitan dengan modernisasi ini, Rahman memberikan pernyataan bahwa seorang


modernis biasanya memiliki beberapa ciri, diantaranya selalu berusaha menghadapi
segala situasi dengan penuh keyakinan serta keberanian, dan gerakannya bersifat
kerakyatan, serta senantiasa melibatkan pemikiran pribadi. Kemudian kaum modernis
yang telah menjadikan reformasi sebagai tolak ukurnya adalah mereka yang berusaha
menciptakan ikatan-ikatan positif antara pemikiran Qur’ani dengan pemikiran
modern.[6] Perpaduan antara kedua pemikiran ini telah melahirkan beberapa lembaga
sosial dan moral modern dengan berorientasi pada Alqur’an.

Muhammad Abduh menyikapi peradaban Barat modern dengan selektif dan kritis.
Dia senantiasa menggunakan prinsip ijtihad sebagai metode utama untuk meretas
kebekuan pemikiran kaum muslimin. Abduh tidak pernah berfikir, apalagi berusaha
untuk mengambil alih secara utuh segala yang datang dari dunia Barat. Karena ia
beranggapan apa bila itu dilakukan berarti mengubah taqlid yang lama dengan taqlid
yang baru, juga karena hal tersebut tidak akan berguna, disebabkan adanya
perbedaan-perbedaan pemikiran dan struktur sosial masyarakat masing-masing
daerah.[7] Islam menurut Abduh “harus mampu meluruskan kepincangan-
kepincangan perbedaan barat serta membersihkan dari segi-segi negatif yang
menyertainya. Dengan demikian, perbedaan tersebut pada akhirnya, akan menjadi
pendukung terkuat ajaran Islam, sesaat setelah ia mengenalnya dan dikenal oleh
pemeluk-pemeluk Islam.[8]

2. Reformis

39
Muhammad Abduh Adalah seorang pembaharu yang corak pembaharuannya bersifat
reformistik-rekonsturktif. Ini dikarenakan Muhammad Abduh senantiasa melihat
tradisi dengan perpektif membangun kembali. Agar tradisi suatu masyarakat dapat
survive dan terus diterima, ia harus dibangun kembali. Pembangunan kembali ini
tentunya dengan kerangka modern dan prasyarat rasional. Pemikiran pembaharuan
yang bercorak reformistik dalam bentuknya yang pertama secara filosofis.[9]

3. Konservatif

Gerakan pembaharuan yang diinagurasikan Muhammad Abduh bersifat konservatif,


hal ini terlihat dari sikap Muhammad Abduh yang tidak bermaksud mengubah potret
diri Islam. Risalah Tauhid merupakan bukti dari pemikiran ini. Muhammad Abduh
dalam karya ini berupaya menegaskan kembali potret diri Islam yang telah mencapai
finalitas dan keunggulan.[10]

Demikianlah muncul ke permukaan ketiga tipologi pemikiran, yaitu modernis,


reformis, konservatif, yang dilontarkan berkaitan dengan pembaharuan yang
dilakukan Muhammad Abduh. Ketiganya merupakan refleksi dalam membaca segala
pemikiran Muhammad Abduh. Dalam pembacaan itu corak pertama lebih
menekankan pada aspek slektifitas dan sikap kritis Muhammad Abduh dalam
menyikapi dan memandang peradaban barat. Corak kedua lebih menekankan kepada
upaya Muhammad Abduh dalam membangun kembali tradisi Islam secara
rekonstruktif. Sedangkan corak yang ketiga memfokuskan bacaannya kepada upaya
Muhammad Abduh dalam membela Islam melalui finalitas dan keunggulan Islam.

C. Inti Pemikiran Muhammad Abduh

1. Membebaskan pikiran dari ikatan taqlid dan memahami agama seperti kaum salaf
sebelum timbulnya pertentangan-pertentangan dan kembali dalam mencari
pengetahuan agama kepada sumbernya yang pertama dan mempertimbangkan dalam
lingkungan timbangan akal yang diberikan Allah SWT untuk mencari keseimbangan
dan mengurangi kecampuradukan dan kesalahan. Dengan cara ini orang dianggap
sebagai sahabat ilmu yang bergerak untuk meneliti rahasia-rahasia alam, mengajak
menghormati kebenaran dan untuk berpegang kepada pendidikan jiwa dan perbaikan
amal.

40
2. Memperbaiki bahasa arab dan susunan kata, baik dalam percakapan resmi atau
dalam surat menyurat antar manusia.

3. Pembaharuan di bidang politik, ini dilakukannya di Majlis Syura sejak ia dipilih


menjadi anggota majelis itu.[11]

Kita melihat di sini agenda pembaharuan dibidang bahasa, politik, dan akidah dan
tunutunan umum. Dan dalam semua sisi itu, Abduh mengemukakan kritik yang
membangun. Sedangkan inti seluruhnya adalah pendidikan Islam. Ia melihat bahwa
rusaknya masyarakat Islam karena salahnya pendidikan.[12]

D. Aggenda Pembaharuan Muhammad Abduh

1. Purifikasi

Purifikasi atau pemurnian ajaran islam telah mendapat tekanan serius dari Muhammad
Abduh berkaitan dengan munculnya bid’ah dan khurafah yang masuk dalam
kehidupan beragama kaum muslimin.

2. Reformasi

Dengan agenda reformasinya, Muhammad Abduh berambisi untuk melenyapkan


sistem dualisme dalam pendidikan di Mesir. Dia menawarkan kepada sekolah modern
agar menaruh perhatian pada aspek agama dan moral. Dengan mengandalkan aspek
intelektual saja sekolah modern hanya akan melahirkan pendidikan yang merosot
moralnya.[13] Sedangkan kepada sekolah agama, seperti Al-Azhar, Muhammad
Abduh menyarankan agar dirombak menjadi lembaga pendidikan yang mengikuti
sistem pendidikan modern. Sebagai pionirnya, ia telah memperkenalkan ilmu-ilmu
Barat kepada Al-Azhar, disamping tetap menghidupkan ilmu-ilmu Islam klasik yang
orisinil, seperti Muqodimah karya Ibnu Khaldun.[14]

Reformasi pendidikan tinggi Islam difokuskan Muhammad Abduh pada Universitas


almamaternya, Al-Azhar. Muhammad Abduh menyatakan bahwa kewajiban belajar
itu tidak hanya mempelajari buku-buku kelasik berbahasa Arab yang berisi dogma
ilmu kalam untuk membela Islam. Akan tetapi kewajiban belajar juga terletak pada
mempelajari sains-sains modern, serta sejarah dan agama Eropa, agar diketahui sebab-

41
sebab kemajuan yang telah mereka capai. Usaha awal reformasi Muhammad Abduh
adalah memperjuangkan matakuliah filsafat agar diajarkan di Al-Azhar. Dengan
belajar filsafat, semangat intlektualisme Islam yang padam diharapkan hidup kembali.

3. Pembelaan Islam

Muhammad Abduh lewat Risalah Al-Tauhidny tetap mempertahankan potret diri


Islam. Hasratnya untuk menghilangkan unsur-unsur asing merupakan bukti ia tetap
yakin dengan kemandirian Islam. Muhammad Abduh berusaha mempertahankan
potret Islam dengan dengan menegaskan bahwa jika pikiran dimanfaatkan
sebagaimana mestinya. Hasil yang dicapainya otomatis akan selaras dengan
kebenaran Illahi yang dipelajari melalui agama.

4. Reformulasi

Agenda reformulasi tersebut dilaksanakan Muhammad Abduh dengan cara membuka


kembali pintu ijtihad. Menurutnya, kemunduran kaum muslim disebabkan oleh dua
faktor, yaitu internal dan ekternal. Muhammad Abduh dengan reformulasinya
menegaskan bahwa Islam telah membangkitkan akal pikiran manusia dari tidur
panjangnya.[15]

E. Pemikiran Muhammad Abduh di Bidang Pendidikan

1. Perlawanan terhadap taqlid dan kemadzahaban

2. Perlawanan terhadap buku-buku yang tendensius, untuk diperbaiki dan


disesuaikan dengan pemikiran rasional dan historis.

3. Reformasi Al-Azhar yang merupakan jantung umat Islam, jika ia rusak maka
rusaklah umat dan jika baik maka baiklah umat.

4. Menghidupkan kembali buku-buku lama untuk mengenal intelektualisme Islam


yang ada dalam sejarah ummatnya, serta mengikuti pendapat-pendapat yang benar
disesuaikan dengan kondisi yang ada.[16]

Menurut Muhammad Abduh terpecahnya ummat Islam menjadi beberapa golongan


disebabkan oleh kelemahan mereka sebagai satu ummat yang kuat, dan itu terjadi

42
karena adanya fanatisme terhadap suatu madzhab. Banyaknya aliran madzhab
pemikiran atau keyakinan, sebenarnya, bukanlah bahaya yang menghancurkan satu
ummat, tapi yang bahaya adalah berhukum dan tunduk kepada aliran tersebut,
sehingga pengikutnya tidak berani mengemukakan kritik atau pendapat lain. Ketika
itu satu jamaah akan menjadi beberapa jamaah, suku dan golongan yang terpisah-
pisah yang tidak memiliki satu arah dan tujuan, pemisah itulah fanatisme buta.[17]

F. Peran Penting Muhammad Abduh Dalam Pendidikan:

1. Menerjemahkan buku pendidikan ke dalam bahasa Arab[18]

2. Menjadi anggota Majelis Urusan Al-Azhar[19]

3. Anggota Majelis Tinggi Pendidikan[20]

4. Penggerak Al-jami’ah al-Khariyah al-Islamiyah[21] (Himpunan sosial Islam).

G. Pembaharuan di Bidang Pendidikan.

Rashid Ridho sebagaimana yang dikutip oleh Toto Suharto menyatakan bahwa
pendidikan bagi Muhammad Abduh bertujuan “mendidik akal dan jiwa serta
mengembangkannya hingga batas-batas yang memungkinkan anak didik mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat”.[22]

Dari tujuan pendidikan di atas Muhammad Abduh nampaknya berkeinginan agar


proses pendidikan dapat membentuk keperibadian Muslim yang seimbang antara
jasmani dan rohani serta intlektualitas dan moralitas. Jadi pendidikan bukan hanya
pengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tapi juga harus menyelaraskan dengan
aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan). Pendidikan seyogyanya dapat
memerhatikan segi material dan spritual sekaligus. Pandangan ini merupakan
kritiknya terhadap situasi dan aktivitas pendidikan di Mesir pada waktu itu, di mana
pendidikan hanya menekankan pengembangan salah satu aspek saja dengan
mengabaikan aspek lainnya.

Ada beberapa faktor yang mendorong Abduh untuk mengadakan pembaharuan


terhadap sistem pendidikan saat itu, faktor-faktor itu adalah: pertama Abduh

43
mendapat inspirasi gerakan islah Sayid Jamaluddin Al-Afghani yang menjurus ke
arah mewujudkan integrasi ilmu, kedua kesadaran Syeikh Muhammad Abduh
terhadap keperluan kepada islah dalam kurikulum sekolah dan universitas yang sudah
ketinggalan zaman, ketiga sistem pendidikan masa itu menjurus ke arah taqlid buta
dan pasif (jumud), keempat kekurangan prasarana pendidikan serta bantuan dari
kerajaan Mesir kepada golongan miskin, dan yang terkahir kadar gaji guru yang
rendah.[23] Itulah bebarapa faktor yang mendorong Abduh untuk melakukan
pembaharuan dalam sistem pendidikan Islam. Adapun pembaharuan pendidikan yang
dilakukan Muhammad Abduh tidak hanya di Mesir, Di sini pemakalah mencoba
membahas pembaharuan pendidikan yang dilakukan Abduh di Beirut dan di Mesir.

1. Pembaharuan Pendidikan di Beirut

Di Beirut Muhammad Abduh menjadi guru dan mengarang dan mengajar. Ia memberi
syarah (tafsir) mengajar tafsir Alqur’an di dua masjid yang ada di Beirut dengan cara
yang pernah ia perkenalkan di mesir yaitu tidak terikat dengan sesuatu kitab tafsir
tertentu. Ia membaca suatu ayat lalu ia beri tafsir, baik ia ambil dari kitab-kitab
lainnya atau tidak, lalu dihubungkan dengan menerangkan keadaan umat Islam dan
kritik terhadap mereka sebagaimana yang diilhami oleh ayat yang ia baca.[24]

Muhammad Abduh diminta untuk mengajar di Madrasah Al-Sultaniyah di Beirut.


Kurikulumnya diperbaiki dan meningkatkan pelajaran di madrasah itu, hingga dengan
demikian madrasah itu meningkat dari madrasah tingkat rendah menjadi madrasah
tingkat tinggi. Di Beirut ini ia mengajar tauhid, mantiq, balaghah, sejarah Islam dan
rumahnya dipergunakan tempat pertemuan ilmiah, sastra dan lain-lainnya.[25]

Selanjutnya ia menaruh perhatian untuk perbaikan umum bagi dunia Islam. Ia


mengajukan dua usul untuk perbaikan pendidikan agama di madrasah-madrasah
kerajaan Ustmaniyah, dalam usulannya Muhammad Abduh melihat kelemahan umat
Islam disebabkan karena buruknya aqidah dan bodohnya akar-akar agama, itulah yang
merusak akhlak mereka. Obat satu-satunya adalah memperbaiki pendidikan agama.
Kemudian yang kedua yang diajukan kepada gubernur Beirut, Muhammad Abduh
menggambarkan buruknya keadaan negeri itu, dan pertentangan politik yang ada di
negeri itu akibat banyaknya sekolah-sekolah asing. Abduh menganjurkan

44
memperbanyak madrasah nasional dan memperbaiki kurikulum pendidikan agama.
[26]

2. Pembaharuan Pendidikan di Mesir

Usaha praktis yang dilakukan Abduh dalam mewujudkan gagasan pembaharuannya


adalah lewat Universitas Al-Azhar. Di perguruan ini seluruh kurikulum pendidikan
disesuaikan dengan kebutuhan saat itu. Begitu juga ilmu-ilmu filsafat dan logika yang
sebelumnya tidak diajarkan, di masa Abduh diajarkan dipelajari dan dihidupkan
kembali, begitu juga dengan ilmu-ilmu umum perlu dijadikan perbendaharaan bagi
lulusan-lusannya yang tentu saja diharapkan menjadi ulama modern.

Mulai dari sekolah SD yang selama ini kurang mendapat perhatian, tidak lepas dari
sorotan Abduh, sekolah tingkat dasar hendaknya menjadikan mata pelajaran agama
sebagai inti dari semua mata pelajaran. Karena agama dianggap sebagai dasar
pembentukan jiwa dan keperibadian muslim. Abduh juga mendirikan sekolah-sekolah
pemerintah yang telah didirikan untuk mendidik tenaga-tenaga yang perlu bagi mesir
dalam lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian, pendidikan dan
sebagainya.[27]

Kedalam sekolah-sekolah di atas, ia berpendapat perlu dimasukan didikan agama


yang lebih kuat, termasuk dalamnya sejarah Islam dan sejarah Kebudayaan Islam.
Atas usahanyalah didirikanlah Majlis Perguruan Tinggi. Muhammad Abduh melihat
bahaya yang akan timbul dari sistem dualisme dalam pendidikan. Sistem madrasah
lama akan mengeluarkan ulama-ulama yang tak ada pengetahuannya tentang ilmu-
ilmu modern, sedangkan sekolah-sekolah pemerintah akan mengeluarkan ahli-ahli
yang sedikit pengetahuannya tentang agama. Dengan memperkuat didikan agama
disekolah-sekolah pemerintah jurang yang memisahkan golongan ulama dari
golongan modern dapat diperkecil.[28]

Selain itu Abduh menyoroti keadaan dan sistem pendidikan, ia menata kembali
seluruh struktur pendidikan yang berlaku di Al-Azhar, dari mulai metode pengajaran
ia membawa cara baru dalam dunia pendidikan saat itu. Ia mengkritik tajam
penerapan metode hafalan tanpa pengertian yang umumnya dipraktikan di sekolah-
sekolah saat itu, terutama sekolah agama.[29] Abduh menghidupkan metode

45
munazarah dalam memahami pengetahuan,[30] yang sebelumnya mengarah kepada
taqlid semata terhadap pendapat ulama yang berpengaruh. Bahasa Arab yang selama
ini menjadi bahasa baku tanpa perkembangan, oleh Abduh dikembangkan dengan
jalan menerjemahkan teks-teks pengetahuan modern ke dalam bahasa Arab, terutama
isltilah-istilah baru muncul yang mungkin tidak ditemukan pada kosa kata bahasa
arab.[31]Abduh melakukan perbaikan menganai honorium dosen dan pengaturannya.
Memberikan tunjangan untuk pakaian dinas, asrama mahasiswa, perbaikan kesehatan
mahasiswa dan ujian.[32]

BAB III

KESIMPULAN

Ide-ide yang dibawa oleh Syeikh Muhammad Abduh telah mengubah pandangan
umat Islam terhadap Islam yang sering taqlid dengan sebagian sarjana Muslim yang
jumud dan pasif. Syeikh Muhammad Abduh berjasa dalam memberi gambaran yang
jelas tentang keperluan umat Islam kepada pembaharuan, khususnya dalam bidang
pendidikan. Ide pembaharuan Syeikh Muhammad Abduh dalam bidang pendidikan,
khususnya di Universitas Al-Azhar telah memberi kesan yang mendalam terhadap
perkembangan ilmu pengetahuan umat Islam. Antara ide tersebut ialah: mewujudkan
mata pelajaran matematik, geometri, algebra, geografi, dan sejarah, mewujudkan
farmasi khusus untuk pelajar Universitas Al-Azhar, menyediakan gaji guru dari
perbendaharaan negara dan waqaf negara, memperbaiki asrama pelajar dengan
menekankan aspek-aspek keselamatan dan kesehatan, mengganti metode pengajaran
yang bersifat hafalan kepada penalaran atau lebih dekat dengan diskusi.

DAFTAR PUSTAKA

Al Bahiy, Muhammad. Pemikiran Islam Modern, terj. Su’adi Sa’ad, Jakarta: Pustaka
Panjimas, 1986

46
Ali, Mukti. Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, Jakarta: Djambatan, 1995

http://ms.wikipedia.org/wiki/Syeikh_Muhammad_Abduh#Faktor_melakukan_pengisl
ahan dalam_sistem_pendidikan

Madjid, Nur Cholis. Islam Kemodernan Dan Keindonesiaan, Bandung: Mizan, 1989

Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era
Rsullullah Sampai Indonesia, Jakarta: Kencana, 2009

Rahman, Fazlur. Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intlektual, terj. Ashin
Muhammad, Bandung: Pustaka, 1995

Sani, Abdul. Lintas Sejarah Pemikiran; Perkembangan Modern dalam Islam, Jakarta:
PT Raja Grafindo Peersada, 1998

Shihab, M. Quraish. Studi Kritis Tafsir Al-Manar Karya Muhammad Abduh dan M.
Rasyid ridha, Bandung: Pustaka Hidayah, 1994

Suharto,Toto. Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta: Arruzz, 2006

Syar’i, Ahmad. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005

[1] Ahmad Syar’i, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), hal.
108

[2] M. Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsir Al-Manar Karya Muhammad Abduh dan
M. Rasyid Ridha, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), hlm. 17

[3] Ibid, hal. 15

[4] Ibid, hal. 18

[5] Modernisasi merupakan proses perombakan pola pikir dan tata kerja lama yang
tidak rasional dan menggantinya dengan pola pikir dan tata kerja baru yang rasional.
Nur Cholis Madjid, Islam Kemodernan Dan Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1989),
hal. 172

[6] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Arruzz, 2006), hal. 258

[7] M. Qurais Shihab, Studi Kritis Tafsir Al Manar, hal. 19

[8] Ibid, hal. 20

[9] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, hal. 265

[10] Ibid, hal. 266

47
[11] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, (Jakarta: Djambatan,
1995), hal. 487 – 488

[12] Muhammad Al Bahiy, Pemikiran Islam Modern, terj. Su’adi Sa’ad, (Jakarta:
Pustaka Panjimas, 1986), hal. 95

[13] Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas: Tentang Transformasi Intlektual, terj.
Ashin Muhammad, (Bandung: Pustaka, 1995), hal. 70

[14] Ibid, hal. 77-78

[15] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam; Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan
Era Rsullullah Sampai Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 246-247

[16] Muhammad Al Bahiy, Pemikiran Islam Modern, hal. 84

[17] Ibid, hal. 85

[18] Ibid, 471

[19]Atas usulan Abduh inilah maka didirikannya majelis urusan al-azhar yang
dikonsentrasikan untuk perbaikan Al-Azhar, meskipun banyak pertentangan yang ia
hadapi. Lihat Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, hal. 473

[20]Majelis ini muncul atau didirikan karena kritik Abduh terhadap Departemen
Pendidikan. Ibid, hal. 447

[21]Himpunan ini dimaksudkan untuk menyiarkan pengajaran dan pendidikan dan


membantu orang yang memerlukan. Lihat Ibid, hal. 478

[22] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, hal. 276

[23]http://ms.wikipedia.org/wiki/Syeikh_Muhammad_Abduh#Faktor_melakukan_pe
ngislahan dalam_sistem_pendidikan/diakses tanggal 2 November 2010

[24] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, hal. 462

[25] Ibid, hal. 462

[26] Ibid, hal. 463

[27] Abdul Sani, Lintas Sejarah Pemikiran; Perkembangan Modern dalam Islam,
(Jakarta: PT Raja Grafindo Peersada, 1998), hal. 53

[28] Ibid, hal. 54

[29] Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, hal. 250

[30] Abdul Sani, Lintas Sejarah Pemikiran, hal. 54

48
[31] Ibid, hal. 54

[32] Mukti Ali, Alam Pikiran Islam Modern di Timur Tengah, hal. 475

Pandangan dari sudut Kurikulum


Dalam pemikiran Ahmad Tafsir sarjana muslim dalam tulisannya menyatakan bahwa
“al-Qur’an dan hadits bukanlah sains, buku filsafat, atau buku mistik Al-Qur’an berisi
pokok-pokok ajaran. Oleh karena itu, Anda akan sia-sia mencari teori kurikulum
dalam al-Qur'an atau hadits".

Selanjutnya Ahmad Tafsir berpendapat bahwa sampai hari ini ahli pendidikan Islam
belum menulis teori kurikulum secara rinci dan sistematik sebagaimana yang
dilakukan oleh penulis-penulis di negeri Barat. Walaupun demikian bukan berarti
tidak didapatkan para ahli pendidikan Islam yang mempunyai wawasan tentang apa
itu kurikulum. Hal itu bisa dilihat ketika mereka menyusun program-program
pendidikan Islam untuk sekolah, dan madrasahnya, kita telah menemukan susunan
mata pelajaran dan kegiatan yang menggambarkan wawasan mereka tentang
kurikulum. Selanjutnya, Muhammad Abduh sebagai salah satu tokoh utama dan
mempunyai pandangan yang luas tentang agama Islam akan kita lihat pemikirannya
tentang apa itu kurikulum. Secara tradisional bahwa kurikulum diartikan sebagai
sebuah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Adapun menurut pandangan para
pakar modern, kurikulum adalah semua pengalaman belajar.

Dalam pembahasan ini, kurikulum yang dimaksud adalah mata pelajaran yang
diajarkan di sekolah (kurikulum secara tradisional). Pembahasan dalam bab ini, akan
dipusatkan pemikiran tentang prinsip-prinsip kurikulum, kurikulum sekolah dasar,
sekolah menengah, dan tingkat atas.

1. Kewajiban Menuntut Ilmu


Allah SWT sangat luas ilmu-Nya dan tidak mungkin manusia untuk dapat
mencapainya semuanya. Allah menantang kepada manusia dengan firman-Nya :

“Kalau sekiranya pohon-pohon di dunia ini dijadikan penanya dan lautan dijadikan
tintanya, tidaklah mungkin dapat tertulis semua kalimat Allah”

Dalam masalah ini, Muhammad Abduh berkomentar, "ilmu itu banyak dan luas
sedangkan umur manusia itu pendek, maka tidak mungkin bagi seseorang untuk
menguasainya". Jika dilihat kaidah dalam usul fiqih menggatakan

"Ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu” Artinya: Apa yang tidak bisa diketahui
semuanya, maka jangan ia tinggalkan semuanya.

Karena tidak mungkin bagi manusia untuk menguasai ilmu Allah semuanya, maka
Muhammad Abduh membagi ilmu kepada ilmu yang wajib ‘ain [personal manusia]
dan wajib kifayah [cukup sebagian saja]. Ilmu yang wajib ‘ain adalah ilmu yang harus
dimiliki setiap individu dari umat, baik pria maupun wanita seperti ilmu tentang

49
akidah yang benar, akhlak yang baik, pensucian jiwa [tasauf], cara beribadah dan
pengetahuan haram dan halal [jumlah dari ilmu yang wajib ‘ain adalah tidak banyak
jumlahnya]. Adapun ilmu yang wajib kifayah yang lebih banyak jumlahnya dari ilmu
yang wajib ‘ain adalah ilmu yang dituntut sebagaian umat manusia untuk
kemaslahatan dan kesejahteraan umat bersama. Jika tidak ada yang menuntut ilmu itu
sebagian perwakilan dari umat, maka manusia akan diazab oleh Allah. Dosa sosial
bisa diampuni oleh Allah.

Ilmu yang wajib kifayah [fardhu kifayah], khususnya ilmu-ilmu duniawiyah selalu
berkembang sesuai dengan perkembangan zaman seperti ilmu bumi [geografi],
dimana pada masa Daulat Umayyah dan Abbasiyah mereka menikmati kekayaan alam
untuk berpoyah-poyah tanpa berfaedah ilmu falak pada masa Muhammad Abduh
hidup berkembang dan sangat dibutuhkan.

Gambaran bagaimana perlunya ilmu-ilmu fardhu kifayah menurut Muhammad Abduh


dapat dilihat dari komentarnya yang dikutip oleh seorng yang hali dalam bidang
pendidikan Islam Muhammad Imarah. Bahwa Muhammad Abduh mengatakan,”Ilmu
yang harus dihidupkan adalah ilmu empiris (al-malhuzh] bukan ilmu normatif (al-
mahfuzh]. Selanjutnya Muhammad Imarah menambahkan bahwa yang dimaksud
adalah menghidupkan ilmu-ilmu empiris di samping ilmu-ilmu agama.

Dari penjelasannya tersebut di atas, dapat dipahami bahwa pada masa hidup
Muhammad Abduh ilmu-ilmu Islam telah berkembang, bahkan secara implisit
dianggap sudah mencapai puncak kesempurnaan. Yang demikian itu dapat dilihat dari
sikap umat Islam terhadap taklid. Adapun ilmu-ilmu empiris yang berkembang di
Barat masa itu, kurang mendapat tempat di mata masyarakat Islam, barangkali itulah
sebabnya Muhammad Abduh berpendapat bahwa ilmu yang penting untuk
dikembangkan ilmu-ilmu malhuzh. Para Pembaharu dan reformis dalam Islam selain
Muhammad Abduh yang memberi gambaran dan apresiasi terhadap peradaban yang
datang dari Barat, di antaranya Syekh Muhammad Ali Pasya di Mesir, Syekh Mustafa
Kemal Atatur di Turki, dan Syekh Sayyed Amir Ali di India. Di antara tiga tokoh
reformis dalam Islam tersebut, pemikiran Syekh Sayyed Amir Ali-lah yang mendekati
pada pemikiran Muhammad Abduh. Sedangkan pemikiran Syekh Muhammad Ali
Pasya dan Syekh Mustafa Kemal Atatur masih terkesan bersifat sekuler.
[pendangkalan terhadap agama]

Lebih lanjut Muhammad Abduh berpendapat bahwa semua ilmu harus dapat
menjadikan manusia berbahagia dan sejahtera. Oleh karena itu, menurutnya
kurikulum harus berhubungan erat dengan keadaan hidup manusia, sehingga ilmu –
ilmu tersebut dapat diaplikatifkan dalam kehidupan yang berkembang. Ilmu yang
dibutuhkan untuk mendapatkan kebahagiaan itu ialah ilmu yang bisa mengenal diri
anda, siapa anda,dan bersama siapa. Menurut Syekh Rasyid Ridha, kalimat tersebut
sangat tinggi maknanya dan hanya bisa dipahami oleh orang yang pintar. Syekh
Rasyid Ridha menafsirkan kalimat Muhammad Abduh tentang ilmu yang dibutuhkan
sebagai berikut:

Ilmu Usuluddin, Ilmu Akhlak yang dibantu oleh filsafat akal dan psikologi, Ilmu
fiqih,tentang haram, halal, dan ibadah yang kemudian disebut orang Turki ilmu hal.
Sosiologi dan Antropologi, Geografi, Ilmu Ekonomi, Ilmu tadbir al-manzil [tehnik
sipil, design, interior, dan semuanya yang berhubungan dengan rumah]. Sejarah

50
manusia, agama, negara, umum dan sebagainya. ilmu berhitung, ilmu kesehatan,
bahasa nasional, dan kaligrafi.

Kata Muhammad Abduh bahwa sesungguhnya kurikulum yang baik di sekolah Islam
adalah berkaitan dengan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu modern. Kedua katagori
ilmu tersebut hendaknya berhasil dalam pembinaan akhlak.

Sesungguhnya kata Muhammad Abduh bahwa kemajuan ilmu dimulai dari Timur
baru ke Barat, kemudian saat ini kita harus mengambil kembali ilmu-ilmu yang hilang
dari kita, apalagi ilmu-ilmu tersebut dikuasai oleh orang-orang di Barat.

Dari penjelasnnya tersebut di atas, dapat dipahami bahwa pada masa Muhammad
Abduh ilmu-ilmu modern itu berkembang di negeri Barat yang pada awalnya berasal
dari negeri Timur, maka ilmu yang hilang itu harus dicari kembali dari negeri Barat.

Mari kita lihat secara rinci pemikiran Muhammad Abduh tentang kurikulum dalam
pengertian mata pelajaran yang diajarkan di sekolah formal dari sekolah dasar sampai
sekolah tingkat tinggi dapat dijelaskan sebagai berikut:

2. Kurikulum Menurut Muhammad Abduh

Kurikulum Sekolah Dasar


Bahwa kurikulum pada sekolah Dasar meliputi: Membaca, menulis, berhitung,
prinsip-prinsip bahasa Arab atau kaidah-kaidah bahasa Arab, pelajaran agama,
pelajaran Akhlak

Muhammad Imarah dalam pemikirannya menambahkan bahwa pelajaran agama di


sekolah dasar menurut Muhammad Abduh meliputi :

Akidah, bahwa buku yang dipelajari pada sekolah dasar adalah buku ringkasan akidah
lslam ahli sunnah dengan tidak mengajarkan, perbedaan pendapat disertai dengan
dalil-dalil yang mudah diterima oleh akal. Pelajaran agma Islam harus menunjukkan
ayat-ayat al-Qur’an dan hadits shahih. Pada periode ini tidak boleh mengajarkan
perbandingan agama seperti perbandingan agama Islam dengan Kristen .

Fiqh dan Akhlak, buku yang dipelajari di sekolah dasar juga berhubungan dengan
halal dan haram dari perbuatan sehari-hari, akhlak mahmudah [yang baik] dan akhlak
mazmumah [buruk], dan bahaya bid'ah. Semua itu diterangkan dengan menyertakan
ayat-ayat al-Qur'an, hadits shahih, dan memberikan contoh-¬contoh orang-orang yang
jujur dari umat terdahulu. Doktrin yang harus dilakukan oleh seorng guru pada
tingkatan ini adalah segala perbuatan yang tidak bersandar dari Allah dan Rasulullah
Saw tidak boleh diterima.

Sejarah. buku yang dipelajari ialah sirah al-nabawiyah dan shahabatnya yang
berhubungan dengan akhlak mulia, perbuatan agung, pesan-pesan agama yang
berhubungan dengan pengorbanan jiwa dan harta. Selain itu, juga boleh ditambah
dengan sejarah khilafat Utsmaniyah. Semua itu, hendaknya diajarkan dengan ringkas
dan mudah diterima akal.

Kurikulum Sekolah Menengah

51
Kurikulum yang diajarkan pada Sekolah Menengah, semua yang ada dalam Sekolah
Dasar, hanya saja materi-materi lebih diperdalam dan diperluas lagi. Adapun ciri-ciri
yang lain pada kurikulum di sekolah menengah sebagai berikut

Mantiq atau ilmu logika dan dasar-dasar penalaran,

Akidah, Pada tingkat ini materi yang dikemukakan dengan pembuktian akal dan dalil-
dalil yang, pasti. Pada tingkat ini juga, belum diajarkan perbedaan pendapat atau
pembagian firqah-firqah dalam Islam. Pada tingkat ini sudah diajarkan fungsi akidah
dalam kehidupan,

Fikih dan akhlak. Pada tingkat ini pelajaran fikih dan akhlak hanya pengembangan
yang diberikan pada tingkat dasar. Pelajaran ditekankan pada aspek sebab, kegunaan,
dan menghormati orang tua, apa pengaruhnya terhadap kehidupan keluarga, dan
sebagainya. Landasan pelajaran-pelajaran itu harus bersumber pada dalil-dalil yang
shahih dan praktek ajaran Islam al-salaf al-shalih.

Sejarah Islam [tarikh al-Islam]. Materi pelajaran di sini adalah pengembangan dari
materi sejarah Islam pada tingkat dasar. Pada tingkat ini, sejarah Islam dapat dilihat
dari perspektif agama dan aspek politik, harus berada dibelakang aspek agama.

Selanjutnya Muhammad Imarah berpendapat bahwa kurikulum sekolah menengah


menurut Muhammad Abduh mencakup seluruh kurikulum sekolah dasar dan pada
pengembangannya. Adapun materi kurikulum yang baru pada tingkatan ini ialah
sebagai berikut:

Pengantar ilmu, termasuk di dalamnya ilmu mantik dan dasar-dasar penelitian,dan


aturan berdiskusi

Akidah yang mencakup usul fiqih, dan sebagian kecil tentang perbedaan pendapat
dalam madzhab Islam yang lebih dikenal firqah Islam. Selain itu, materi akidah ini
juga mencakup manfaat akidah Islam dalam kehidupan yang maju untuk mencapai
kebahagian hidup ukhrawi.

Tentang hukum Islam yang menyangkut tentang hukum halal, haram dan akhlak. Di
sini dijelaskan manfaat dan bahaya dari hukum halal dan haram yang lebih luas dari
kurikulum di sekolah dasar. Selain itu, juga dijelaskan akhlak pada tingkat ini lebih
diperluas dari kurikulum akhlak di sekolah dasar, sehingga anak didik dapat
mengetahui bahwa akhlak pada tingkat ini juga harus didukung oleh ayat-ayat al-
Qur’an dan hadits-hadits yang shahih,

Tarikh Islam [Sejarah Islam] yang terdiri dari uraian rinci tentang sirah al-nabawiyah
dan shahabatnya, futuhat al-Islamiyah, khilafat Utsmaniyah. Jika menguraikan sejarah
dari aspek politik, maka hendaknya tidak keluar dari tujuan agama. Dalam tingkatan
ini juga diterangkan sejarah pemerintahan atau khilafat Islam di seluruh dunia.
Pengajaran sejarah pada tingkatan ini, untuk membangkitkan semangat Islam dalam
mencontohkan yang baik dalam sejarah itu, sehingga Islam akan lebih maju lagi.

Kurikulum Sekolah Tingkat Atas.


Pelajaran agama Islam pada tingkatan ini dijelaskan oleh Muhammad Abduh

52
[al-‘urufa al-ummah] mencakup mata pelajaran : Tafsir, hadits, bahasa arab dengan
segala cabangnya, akhlak dengan pembahasan yang terinci sebagai yang diuraikan
oleh Imam al-Ghazali dalam bukunya yang termasyhur ihya ‘Ulum ad-Din. Ushul
Fiqih, Sejarah yang termasuk di dalamnya sejarah nabi Muhammad Saw. dan
shahabat-shahabatnya yang diuraikan secara rinci. Sejarah peralihan kekuasaan Islam,
sejarah kerajaan Ustmaniyah, dan sejarah jatuhnya kerajaan-kerajaan Islam ke tangan
lain dengan menerangkan penyebabnya, retorika [tehnik berpidato], dasar-dasar
berdiskusi, dan ilmu kalam.

Pada tingkat ini, ilmu kalam diberikan dengan menerangkan aliran-aliran yang
terdapat dalam ilmu kalam [Teologi Islam], dengan menjelaskan dalil-dalil yang
menopang pendapat setiap aliran. Pada tingkat ini, pelajaran ilmu kalam tidak
bertujuan untuk memperteguh akidah, tetapi untuk memperluas cakrawala pemikiran
siswa

Muhammad Imarah berpendapat bahwa kurikulum perguruan tinggi menurut


Muhammad Abduh sebagai berikut:

Tafsir al-Qur'an. Yang paling penting dalam pelajaran ini adalah membaca dan
memahami al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT dengan sejumlah hikmahnya,
Bahasa Arab dan tata bahasanya,
Hadits, khususnya yang dikutip para mufassir dalam menafsirkan al-Qur'an,
Akhlak dengan penjelasan yang rinci seperti yang dilakukan oleh Imam al-Ghazali
dalam Ihya Ulum al-Din dan mencocokkannya dengan akidah Islam,
Usul Fiqh,
Sejarah yang lama dan yang baru, Logika dan khirhabah,29
logika dan khithabah, .
Ilmu kalam dan penelitan agama.

Kalau dilihat dari kurikulum yang dikemukakan Muhammad Abduh pada tiga
tingkatan di atas, secara umum menggambarkan kurikulum pendidikan agama Islam.
Adapun ilmu-ilmu Barat tidak dimasukkan oleh Muhammad Abduh ke dalam
kurikulum. karena menurutnya ilmu-ilmu umum itu dipelajari bersama-sama dengan
ilmu-ilmu yang telah dijelaskan di atas. Dalam kata lain, ilmu-ilmu umum hendaknya
terintegrasi ke dalam ilmu-ilmu agama. Selanjutnya Muhammad Abduh tidak merinci
karena menurutnya setiap sekolah memiliki kecenderungan-kecenderungan atau
penekanan- penekanan yang berbeda antara satu materi pelajaran dengan materi
pelajarn yang lainnya.

Pada tingkatan yang terakhir ini harus dibimbing atau diajar oleh guru-guru yang
professional dan berakhlak mahmudah. Mahasiswa yang kuliah juga tidak diberikan
tanda tamat belajar [ijazah] sembarangan kecuali setelah mereka mengikuti ujian yang
mendalam dan mengikuti komprehensif dan dinyatakan lulus.

3. Metode Pendidikan Islam


Yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam disini adalah semua cara yang
digunakan dalam upaya mendidik anak. Oleh karena itu, metode yang dimaksud di
sini mencakup juga metode pengajaran. Sesungguhnya, membicarakan metode
pengajaran terkandung juga dalam pembahasan materi pelajaran sebab dalam materi
pelajaran secara tidak langsung juga membicarakan metode pengajaran.

53
Prof.Dr.Ramayulis dalam metodologi pengajaran agama Islam menyebutkan bahwa
tidak ada satu metode yang dijamin baik untuk setiap tujuan pengajaran dalam setiap
situasi. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk itu, semua metode
pendidikan atau pengajaran menurut Muhammad Abduh yang akan diuraikan di
bawah ini tidak menolak dan menafikan adanya metode-metode yang lainnya. Metode
metode yang akan diuraikan, dipilih atas pertimbangan literatur yang ditemukan.

Da1am pembahasan ini, akan diuraikan metode menghapal, metode diskusi, metode
tanya jawab, metode darmawisata, metode demonstrasi, metode latihan, metode
tauladan, cara belajar siswa aktif [CBSA], dan langkah-langkah pengajaran.

Metode Menghafal
Dalam bidang metode pengajaran Muhammad Abduh menggunakan metode
menghafal yang telah dipraktekkan di sekolah sekolah saat itu memakai metode
menghapal. Karena metode menghapal ini pulalah Muhammad Abduh frustasi dan
membenci belajar saat ia belajar di mesjid Ahmadi Thanta. Muhammad Abduh
mengkritik metode menghapal bukan berarti membenci metode tersebut, ia tidak
setuju dengan metode ini kalau berhenti sampai di situ. Selanjutnya ia mengatakan ;

"Saya kata Muhammad Abduh, telah mengalami pengajaran seperti ini, belajar
setahun setengah tanpa memahami sesuatu dari al-Kafrawi dan Ajrumiyah. Metode
pengajaran ilmu nahwu tanpa memahami istilah-istilahnya telah membuatku
(Muharnmad Abduh) tidak memahami sesuatu, akhirnya saya benci belajar dan putus
asa, tetapi Allah ternyata menghendaki lain, bapak saya memaksaku untuk kembali
belajar dan ditengah jalan saya menyimpang [pergi ke Kanisah Urin] ”

Hendaknya metode menghafal ini hendknya diteruskan pada pemahaman, sehingga


dimengerti apa yang dipelajari. Menurut Arbiyah Lubis, dalam tulisan-tulisan
Muhammad Abduh, ia tidak menjelaskan metode apa yang sebaiknya diterapkan,
tetapi dari pengalamannya mengajar di Universitas al-Azhar, Mesir nampaknya ia
menerapkan metode diskusi.

Metode Diskusi
Dari pengalaman belajar Muhammad Abduh dan kritikannya terhadap metode
menghapal, dapat diketahui bahwa ia mementingkan pemahaman, hal itu didukung
oleh fakta metode yang ia praktekkan dan ia sukai metode diskusi.

Sewaktu Muhammad Abduh menafsirkan sebuah QS.al-Nisa ayat tiga puluh lima,
dalam keterangannya tentang ;

‫ساًنا‬
َ‫ح‬ْ ‫ن ِإ‬
ِ ‫َوِباْلَواِلَدْي‬
"Wa bi walidain ihsaanan”

Disebutkan bahwa metode orang tua dalam mendidik anak di Mesir membuat anak
sebagai manusia passif, sehingga mereka (para Orang tua) mendidik anak-anak
dengan cara diktator. Kebanyakan orang tua mencetak anak-anak sesuai dengan
kehendak mereka. Anak ¬anak dijadikan berpengetahuan atau berilmu sesuai dengan
pengetahuan orang tua, anak-anak marah sesuai dengan marahnya orang tua. Anak-

54
anak berbuat sesuai dengan keinginan orang tua, selanjutnya Muhammad Abduh
berpikir dan kemudian bertanya ;

“Apakah dengan metode pendidikan seperti ini akan menghasilkan umat yang kuat
dan adil sehingga mereka bebas dalam berbuat baik dalam bidang politik maupun
dalam hukum ?”

Rumah adalah lembaga yang menciptakan pendidikan kediktatoran yang buruk dan
mencetak kader-kader pemimpin yang zhalim dan yang hina.Para orang tua yang
mendidik anak secara diktator sesungguhnya mereka yang gila akan kehinaan mereka
anggap suatu kenikmatan dan keselamatan. Selanjutnya, Muhammad Abduh
mengatakan,

“Wahai ulama agama dan adab, hendaknya kalian menerangkan kepada umat baik di
sekolah-sekolah atau majlis-majlis apa kewajiban orang tua terhadap anak dan apa
kewajiban anak terhadap orang tua, dan kewajiban umat terhadap dua kelompok itu.
Hendaklah kalian tidak lupa kaidah atau teori kemerdekaan dan kebebasan. Dua
kaidah itu adalah landasan dasar berdirinya bangunan Islam. Para sosiolog bagian
utara yang berkuasa pada zaman ini (Roma) mengakui bahwa peradaban mereka maju
karena mereka berlandaskan dua dasar di atas [kebebasan berpikir dan berbuat].

Pada penjelasan tersebut di atas, Muhammad Abduh berpendapat bahwa metode


pendidikan dan pengajaran hendaknya memperhatikan kemampuan bakat dan minat
anak didik. Dalam kata lain, metode pengajaran yang memberikan kebebasan berpikir
dan berkreasi dalam pendidikan dan pengajaran adalah metode diskusi. Metode
diskusi inilah yang banyak dipraktekkan oleh Muhammad Abduh dalam mengajar di
Universitas al-Azhar Mesir. Menghapal dalam proses belajar tidak mungkin di
dinafikan karena ia sangat esensial.Terbukti umat Islam banyak yang hapal al-Qur'an
termasuk Muhammad Abduh, Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Muhammad
Abduh tidak mengharamkan metode menghapal, tetapi dapat diketahui dari
pengalaman dan kritiknya terhadap metode menghapal, sepertinya ia berpendapat
bahwa metode menghapal tanpa pemahaman tidak baik (untuk tidak mengatakan
buruk).

Metode Tanya Jawab


Manusia berhak membuka jalan bagi penuntut ilmu untuk meneliti dalam berbagai
ilmu pengetahuan.Contohnya; ia menerangkan kaidah atau sebuah teori, kemudian ia
mencari kecocokannya dalam berbagai aspek pekerjaan. Dalam hal ini metode
pengajaran, hendaknya guru mengjarkan kepada anak didik cara untuk mengetahui
kesalahan dan cara kembali kepada yang benar. Cara yang demikianlah yang
dipraktekkan oleh Muhammad Abduh ketika belajar sehingga ia menjadi seorang
seorang ahli. Adapun untuk memperdalam suatu ilmu sangat tergantung pada usaha
seorang anak didik setelah seseorang lulus dari suatu lembaga pendidikan, maka ia
akan mengamalkan apa-apa yang ia peroleh ketika sekolah. Kemudian untuk
memperdalam pengetahuannya itu, hendaknya ia belajar lebih lanjut.

Muhammad Qodri Luthfi mengatakan bahwa Muhammad Abduh dalam mengajar


menggunakan metode hiwar (tanya-jawab) dan munaqasah [diskusi] tidak hanya
ceramah Memang dua metode tanya jawab dan diskusi bisa berdampingan bahkan
pada setiap diskusi ada metode tanya jawab, tetapi mutlak dalam metode tanya jawab

55
ada metode diskusi.

Metode Darmawisata.
Muhammad Abduh dalam pemikirannya sering membuat terobosan dalam pendidikan
dan pengajaran. Dalam hal metode darmawisata misalnya menyebutkan bahwa rihlah
adalah rukun dalam pendidikan. Ketika ingin mengajarkan kapada anak didik materi
"pesawat" hendaknya mereka dibawa langsung ke bandara. Ketika ingin mengajarkan
"kapal" hendaknya anak didik dibawa ke pelabuhan. Mereka sulit memahami sesuatu
yang abstrak,

Kalau dilihat contoh metode darmawisata tersebut di atas, dapat dipahami bahwa
salah satu fungsi metode ini untuk dapat dipahami bahwa salah satu fungsi metode ini
untuk dapat memahami materi kepada anak didik. Selain itu, metode darmawisata
salah satu indikasi bahwa belajar tidak hanya di kelas. Metode pengajaran seperti
disebutkan di atas sangat lebih tepat digunakan pada sekolah dasar dimana
kemampuan berpikir abstrak anak didik belum matang.

Metode Demontrasi
Dalam menyampaikan materi Ilmu-ilmu praktis (fi'liyah) hendaknya tidak hanya
diajarkan dengan menyampaikan ilmunya dengan cara berceramah, kemudian anak
didik disuruh untuk menghafalnya ilmu-ilmu fi'liyah harus diajarkan dengan cara
menyertakan prakteknya, seperti mengajarkan tata cara shalat lima waktu dengan
mendemontrasikannya baik di depan kelas maupun di mesjid.

Lebih lanjut Muhammad Abduh mengatakan ; Hendaknya guru mengadakan praktek


mengajar di sekolah tidak hanya sebentar, tetapi dalam waktu yang cukup lama,
sehingga para calon guru tersebut telah siap ilmu dan mentalnya untuk mengajar di
saat mereka telah menjadi sarjana.

Metode Latihan
Untuk mengintegrasikan antara pendidikan akal dan jiwa, guru di sekolah harus
menyuruh anak didik untuk melakukan shalat lima waktu. Bagi sekolah yang
memiliki anak didik beragama non Islam seperti Kristen, maka guru hendaknya tidak
menyuruh mereka untuk melaksanakan shalat, namun meskipun anak didik yang non
Islam tidak melaksanakan shalat, tetapi nilai-nilai spiritual tersebut tidak boleh hilang
dari mereka.

Dari penjelasan tentang pembiasaan ibadah tersebut di atas, dapat dipahami bahwa
Muhammad Abduh sangat demokratis dan menghormati kebebasan beragama. Tetapi
nilai-nilai akal [intelektual] dan jiwa [spiritual] bersifat universal, sehingga berlaku
pada seluruh negara, suku, bangsa, agama, dan sebagainya.

Metode Teladan
Pendidik harus dapat mendidik anak didik untuk memiliki sifat kasih sayang terhadap
sesama manusia. Dalam mengajarkan pesan kasih sayang itu, guru dapat memberi
tauladan kepada anak didik. Tauladan yang baik jauh lebih berpengaruh kepada jiwa
anak didik dari pada sekedar teori. Selain aspek tauladan, guru juga harus
memperhatikan dan memilih gaya bahasa yang serasi untuk menyampaikan pesan
sifat kasih sayang itu. Gaya bahasa yang digunakan guru juga harus memperhatikan
aspek efektivitas dan efesiensi.

56
Dari penjelasan tersebut di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa pengajaran
yang bertujuan untuk membina akhlak, hendaknya guru menggunakan bahasa yang
baik mudah dipahami, jelas, dan tegas, disampaikan dengan uslub atau tata cara yang
baik.

Cara Belajar Siswa Aktif


Muhammad Abduh mengajar materi Risalah al-Tauhid, al-Bashair, Asrair al-
Balaghah, dan Dalail al-I’jaz. Ia mengajar buku-buku tersebut dengan keterangan
yang singkat dan padat. Anak didiknya sangat sedikit yang bertanya. Sedikit yang
bertanya maksudnya bukan sedikit yang paham materi pelajaran yang diterangkan
oleh Muhammad Abduh, tetapi keterangan Muhammad Abduh yang singkat dan
padat itu sudah membuat anak didiknya paham. Jika ada yang bertanya karena
kesulitan dalam memahami, maka ia menjawab dengan jawaban yang singkat dan
padat juga.

Dari uraian Muhammad Abduh tentang metode pengajaran tersebut di atas, dapat
dipahami bahwa guru dalam mengajar tidak perlu menerangkan panjang lebar kalau
intinya hanya sedikit, tetapi lebih baik singkat padat dan mengenai sasaran (qalla wa
dalla). Hal ini juga menjadi indikasi bahwa Muhammad Abduh dalam mengajar
menginginkan anak didik lebih aktif dan kreatif, sehingga guru hanya membantu dan
mengantarkan anak didik pada pemahaman materi. Dalam kata lain, guru berfungsi
sebagai pembimbing dan fasilitator. Dalam konteks kekinian, konsep metode
pengajaran yang dimaksud oleh Muhammmad Abduh di antaranya sesuai dengan
metode diskusi, tanya jawab, dan cara belajar siswa aktif .

Pembiasaan berpikir sesuai dengan hukum akal. Muhammad Abduh berpendapat


bahwa tidak wajib bepikir kecuali untuk sesuatu yang benar. Jika seseorang
menemukan jalan berpikirnya benar, maka ia boleh mengikutinya dan jika ia
menemukan jalan berpikirnya salah, maka ia harus meninggalkannya .

Langkah-Langkah Mengajar
Adapun alat pemblajaran yang paling efesien melalui pengajaran tafsir al-Qur'an
harus disebutkan judul atau temanya dan dikemukakan hubungannya dengan
pembaruan umat. Dalam pembaharuan masyarakat Muhammad Abduh berusaha
menghubungkan Islam dengan peradaban modern dan ilmu pengetahuan. Selain itu ia
juga berusaha menghindari kesalahan dalam memahami teks-teks agama karena ia
berpendapat bahwa akidah yang bersih dari bid'ah akan melahirkan perbuatan yang
baik.Dalam pengajaran Muhammad Abduh juga sangat memperhatikan urusan agama
dan dunia serta akhlak yang mulia.
.
Muhammad Abduh mengajar dengan menempuh tiga langkah, yaitu: mengutarakan
materi (matan), menerangkan [al-syarh], menyebutkan hasyiyah-hasyiyah-nya .
Terkadang Muhammad Abduh menambahkan langkah terakhir dengan keputusan atau
penentuan sikap. Kalau dilihat dari langkah-langkah yang ditempuh Muhammad
Abduh ini, maka dapat disimpulkan bahwa langkah-¬langkah pengajaran tersebut
pada materi yang mangandung perbedaan pendapat seperti materi pelajaran ilmu
kalam dan fiqh. Muhammad Abduh berusaha agar anak didiknya tidak membaca
hasyiyah suatu buku.

57
Dan keterangan suatu buku untuk menghindar suatu taklid ia tidak mengajarkan
sampai akhir masa pembaharuan di Universitas al-Azhar Mesir selain matan
[materi].Meninggalkan hasyiyah dan keterangan buku serta mengajarkan matan nya
yang dilakukan Muhammad Abduh berhubungan dengan ayat al-Qur'an dan hadits
sebab para ulama sebenarnya berbeda pendapat dalam memahami nas-nas tersebut.
Muhammad Abduh juga mengarang Ta’liqat dari buku al-Bashair al-Nashiriyah
dalam ilmu mantiq, tetapi ia tidak mewajibkan anak didiknya untuk membacanya.
Muhammad Abduh mengarang Ta’liqat tersebut untuk mempermudah mahasiswa
Universitas Al-Azhar Mesir dalam memahami pendapatnya tentang ilmu mantiq.

Muhammad Abduh ketika mengajar meletakkan buku catatan materi di depannya,


kemudian ia menulis judul materi pelajaran yang akan diajarkan dengan singkat dan
jelas. Selain itu, ia juga menulis beberapa pertanyaan yang akan dijawab setiap tatap
muka. Muhammad Abduh tidak lupa menulis tujuan pembelajaran setiap tatap muka
dengan ungkapan yang variatif. Menurut Rasyid Ridha langkah-langkah pengajaran
atau kegiatan pengajaran seperti yang dilakukan oleh Muhammad Abduh sangat
berbeda dengan yang dilakukan gurunya Jamaluddin al-Afghani. Jamaluddin al-
Afghani pertama kali meminta anak didiknya bertanya, kemudian masalah itu
diidentifikasi dan selanjutnya ia menerangkannya dengan merujuk suatu buku untuk
memahamkan anak didik.

Hendaknya seorang guru kata Muhammad Abduh dapat mengetahui dan


mempertimbangkan apakah anak didiknya mampu memahami materi pelajaran
dengan memakai metode tertentu dan apakah anak didik telah siap secara psikologis
menerimanya (materi - pelajaran). Guru ketika ingin mengajar harus
memposisikannya sebagai anak didik, kemudian naik sedikit demi sedikit sampai
pada derajat setinggi mungkin. Ini adalah keterampilan untuk mengetahui tingkat
kemampuan otak dan cara menggunakannya. Keterampilan khusus ini harus dipelajari
calon guru selama enam belas tahun dan jika inti-intinya saja, maka cuknp ditempuh
selama delapan tahun.

Ada beberahal yang harus diperhatikan dalam memahami pemikiran Muhammad


Abduh tentang metode pendidikan dan pengajaran. Ia berpendapat bahwa metode
penyampaian ilmu kepada manusia tidak selalu sama. Metode dapat berubah sesuai
dengan perubahan tempat dan zaman.

Contoh yang dikemukakan Muhammad Abduh adalah teknologi pos dalam mengirim
uang. Mestinya amanah penitipan uang mesti disampaikan langsung kepada orang
yang bersangkutan, tetapi dengan adanya teknologi pos ini, maka caranya pun
mengalami perubahan .

4. Pendidik
Pada pembahasan pendidik ini, termasuk pada katagori guru, dan dosen yang dalam
bahasa Arab dikenal dengan istilah mu'allim, mudarris dan ustadz. Adapun dalam
bahasa Inggris dikenal dengan istilah teacher dan lecturer.

Jika dilihat dari sebagian tugas pendidik, maka dalam Islam dapat dirujuk kepada al-
Qur’an. Setidaknya, di dalam al-Qur’an ada empat nama yang dapat dikatagorikan
guru, yaitu : Allah

58
َ‫عّلم‬
َ {4} ‫عّلَم اِباْلَقَلِم‬
َ ‫{ اّلِذي‬3} ‫لْكَرُم‬
َ ‫ك ْا‬
َ ‫{ اْقَرْأ َوَرّب‬2} ‫ق‬
ٍ ‫عَل‬
َ ‫ن‬
ْ ‫ن ِم‬
َ ‫سا‬
َ ‫لن‬
ِ ‫قا‬
َ ‫خَل‬
َ {1} ‫ق‬
َ ‫خَل‬
َ ‫ك اّلِذي‬
َ ‫سِم َرّب‬
ْ ‫اْقَرْأ ِبا‬
5} ‫ن َماَلْم َيْعَلْم‬
َ ‫سا‬
َ ‫لن‬ ِ ‫}ْا‬

Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah


menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha
Mulia, Yang mengajar [manusia] dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya. [al-Alaq ayat 1-5]

Nabi Muhammad sebagai pendidik.

} ‫حِكيُم‬
َ ‫ت اْلَعِزيُز اْل‬
َ ‫ك َأن‬
َ ‫حْكَمَة َوُيَزّكيِهْم ِإّن‬
ِ ‫ك َوُيَعّلُمُهُم اْلِكَتابَ َواْل‬
َ ‫عَلْيِهْم َءاَياِت‬
َ ‫ل ّمْنُهْم َيْتُلوا‬
ً ‫سو‬
ُ ‫ث ِفيِهْم َر‬
ْ ‫}{ َرّبَنا َواْبَع‬

Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan
membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al-
Kitab [al-Qur’an] dan al-Hikmah [as-Sunnah] serta mensucikan mereka.
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana [al-Baqarah ayat
129]

Orang tua sebagai pendidik.

} ‫حَمَلْتُه‬
َ ‫ن ِبَواِلَدْيِه‬
َ ‫سا‬ َ ‫لن‬ِ ‫صْيَنا ْا‬
ّ ‫{ َوَو‬13} ‫ظيٌم‬ ِ َ‫ظْلٌم ع‬ُ ‫ك َل‬
َ ‫شْر‬ّ ‫ن ال‬
ّ ‫ل ِإ‬
ِ ‫ك ِبا‬
ْ ‫شِر‬ْ ‫لُت‬َ ‫ي‬
ّ ‫ظُه َياُبَن‬
ُ ‫ن لْبِنِه َوُهَو َيِع‬
ُ ‫ل ُلْقَما‬
َ ‫َوِإْذَقا‬
‫صيُر‬
ِ ‫ى اْلَم‬ّ ‫ك ِإَل‬َ ‫شُكْر ِلي َوِلَواِلَدْي‬ ْ ‫نا‬ ِ ‫ن َأ‬
ِ ‫عاَمْي‬
َ ‫صاُلُه ِفي‬
َ ‫ن َوِف‬ ٍ ‫عَلى َوْه‬َ ‫ُأّمُه َوْهًنا‬

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah
kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur [kepada Allah], maka sesungguhnya
ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”

Dan [ingatlah] ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran
kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan [Allah] sesungguhnya
mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kedzaliman yang besar”.

Dan Kami perintahkan kepada manusia [berbuat baik] kepada dua orang ibu-
bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-
tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembali. [QS.Luqman ayat 12-14].

Allah dan Nabi Muhammad Saw. sebagai guru tentunya sangat ideal dan tidak
mungkin dapat dicontoh secara sempurna, tetapi orang tua dan orang lain adalah
sebagai manusia biasa sebagaimana terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an tentu dapat
dicapai secara sempurna. Selanjutnya, bagaimana pendapat Muhammad Abduh
tentang, pendidik, akan diuraikan berikut ini:

Tugas Guru .
Pendidikan adalah tugas guru yang pertama dan pengajaran adalah tugas keduanya.
Muhammad Abduh mengatakan; "Tujuan utama mendirikan sekolah adalah untuk
pengajaran. Pengajaran yang dimaksud oleh Muhammad Abduh tentu pendidikan
sekolah formal yang sangat berbeda dengan pendidikan non formal. Pendidikan
Sekolah tentu memiliki keteraturan, sedangkan pendidikan non sekolah tentu tentu
tidak ada keteraturan formalnya, seperti tidak ada kurikulum yang sama antara satu

59
pendidikan rumah dengan rumah yang lain, tidak seragamnya tujuan pendidikan
rumah tangga, tidak sama waktu belajarnya, dan sebagainya. Oleh karena itu,
pengajaran menurut Muhammad Abduh identik dengan keteraturan belajar. Dengan
kata lain, pendidikan tidak selamanya melalui, pengajaran tetapi pengajaran adalah
salah satu bentuk pendidikan. Jadi antara pendidikan dan pengajaran terdapat
perbedaan. Menurut Muhammad Abduh, hendaknya dalam pengajaran di sekolah-
sekolah selalu diperhatikan pendidikan akal [intelektual] dan jiwa [spiritual] ,
sehingga anak didik menemukan kebahagiaan yang sempurna selama ia hidup.

Sebenarnya tugas seorang guru tidak sekedar mengajarkan ilmu pengetahuan kepada
anak didik, karena tugas utamanya adalah mendidik dan mengajar dalam pengertian
yang terbatas. Mengajar adalah sebagian dari perbuatan mendidik. Dalam pengertian
yang baru, mengajar merupakan upaya dan proses membuat anak didik mau belajar
(Causing Children to learn) [learning how to learn]. Dari sekolah diharapkan anak
didik dapat meningkatkan kecerdasannya, terbentuk akhlak dan kepribadiannya,
mendapatkan keterampilan dalam bekerja, meningkatkan kemampuan estetikanya,
dan berkemampuan secara layak untuk hidup di tengah-tengah masyarakatnya.

Dari penjelasan tentang tugas pendidik yang tersebut di atas, dapat dipahami bahwa
tugas tersebut disebut tugas profesi. Uzer Utsman mengungkapakan bahwa tugas
profesi guru meliputi mendidik, mengajar, dan melatih.

Menurut Mahammad Abduh, di Mesir pada dasarnya substansi pendidikan telah


hilang karena para pendidik tidak berkepentingan pada anak didik yang diajarinya
karena itu sulit mencapai tujuan. J.E. Aderson mengatakan bahwa perbuatan mendidik
adalah keseluruhan aktivitas yang terjadi dan terdapat pada individu anak didik dan
ketiga lingkungan pendidikannya, lingkungan dimana ia hidup masyarakat dan nilai-
nilai moral yang meliputinya, proses pendidikan berlangsung terus menerus guru
bertugas membantu dan membimbing serta mengarahkan agar dapat mempermudah
pencapaian tujuan.

Suatu kritikan tajam dari Muhammad Abduh tentang guru-guru Mesir pada masanya
mereka tidak perduli keadaan muridnya, hubungan antara guru dan murid terbatas
hanya di kelas, moral guru kurang mulia. Bahkan lebih ekstrimnya lagi guru tidak
boleh berhubungan dengan murid. Guru-guru dalam mengajar saat itu tidak
menjelaskan tujuan instruksionalnya tidak ada buku pegangan mereka.

Sikap afektif merupakan komplementasi bagi ranah kognitif.Ia harus berdisiplin yang
benar karena guru bukan saja fungsional yang digaji dan yang mempunyai tanggung
jawab tertentu yang justru membatasi kewajiban-kewajiban sehingga membuat
terciptannya jarak antara guru, murid, dan masyarakat

Dan penjelasn tentang kritik Muhammad Abduh terhadap guru yang tersebut di atas,
dapat dipahami bahwa guru hanya berfungsi sebagai pengajar yang menciptakan jarak
dari anak didiknya. Dalam kondisi seperti di atas, biasanya anak didik sangat hormat
dan takut kepada gurunya. Hubungan seperti ini terkesan birokratis antara atasan dan
bawahan. Di sini secara implisit Muhanimad Abduh menginginkan guru bersahabat
dengan anak didiknya. Guru yang menjadi orang tua kedua bagi anak didik. Dengan
demikian, tujuan pendidikan lebih mudah berhasil.Dalam kata lain, Muhammad
Abduh berpendapat bahwa guru memiliki tugas kemanusiaan.

60
Kompetensi Guru
Mempertegas pendapatnya mengenai pengajar yang menurutnya tidak layak mengajar
karena umumnya para pengajar masa itu disebut “Fuqaha” tidaklah mengerti sama
sekali hal-hal lain kecuali hapal al-Qur'an secara verbal tanpa mengetahui artinya.

Dari penjelasan tentang kompetensi guru yang tersebut di atas, Muhammad Abduh
menghendaki guru yang professional, tahu akan ilmu pendidikan, ilmu psikologi, dan
sebagainya. Hanya saja ia tidak merincikan kompetensi seorang guru, tetapi
setidaknya kritikannya itu dapat dilihat dari potret dirinya sebagai seorang guru
sebagaimana digambarkan oleh C.C.Adams.

Mengenai guru yang baik pakar pendidikan C.C Adams menggambarkan bahwa
Muhammad Abduh merupakan seorang guru yang bijaksana, mengetahui keadaan
objektif muridnya, baik fisik, mental, dan pengetahuan, sehingga dapat
mengkomunikasikan segala sesuatunya selama proses pengajaran secara benar. Dalam
hal ini, Muhammad Abduh berkata;

“Seharusnya guru memilik pengetahuan atau pertimbangan yang memadai tentang


muridnya, sehingga ia dapat menilai pemikiran dan kesiapan muridnya untuk
menerima apa yang dikatakannya.

Selanjutnya C.C.Adams bahwa Muhammad Abduh sangat menguasai masalah-


masalah Ahli sunnah secara mendalam baik literature primer dan sekunder yang
selalu dirujuk dalam pengajarannya. Guru yang professional menurutnya, setidaknya
memiliki kompetensi berikut ini; Prilaku yang baik , pengetahuan luas , menguasai
materi.

Dari penjelasan tentang kompetensi yang penulis sebutkan di atas, Muhammad Abduh
berpendapat bahwa guru yang professional harus memiliki kompetensi berprilaku
yang baik, berwawasan dan berpengetahuan yang luas, dan menguasai materi. Ketiga
katagori kompetensi tersebut masih dikenal dalam ilmu pendidikan sekarang ini.
Prilaku yang baik sebagai kompetensi guru disebut oleh Muhammad Uzer Utsman
dengan kompetensi professional .

Sifat Seorang Pendidik .


Pendidikan menurut Muhanumad Abduh hendaknya berusaha menghasilkan manusia
yang berakhlak mahmudah. Oleh karena itu, pendidikan harus menghasilkan insan-
insan berakhlak mahmudah. Karena di antara hasil yang akan dicapai dalam
pendidikan pembinan akhlak mulia,maka sudah pasti guru sebagai tenaga pendidik
juga harus berakhlak mahmudah.

Muhammad Abduh tidak merinci secara detail apa itu akhlak mulia, tetapi ia
mengungkapkannya secara umum dan global. Sebagaimana dikutip Muhammad
Imarah, akhlak mahmudah menurut Muhammad Abduh di antaranya mengikuti
perilaku para nabi seperti nabi Ibrahim As, nabi Musa As, nabi lsa As, dan nabi
Muhammad Saw. Selain perilaku nabi yang harus diikuti oleh guru, juga dapat
mencontoh perilaku para syuhada, .shiddiqin , dan quddusin . Karena para nabi,
syuhada, shiddiqin, dan quddusin adalah suri tauladan bagi semua manusia dan
termasuk guru, maka harus juga meneladani cara berpikir, kebijaksanaan, dan sumber

61
yang mereka pakai.

Selanjutnya, Muhammad Abduh berpendapat bahwa seorang guru harus memiliki


pengetahuan tentang akhlak dan berakhlak mahmudah [yang baik]. Selain itu guru
juga harus memiliki akidah yang baik dan pemikiran yang benar. Lebih lanjut, ia
berpendapat bahwa guru harus perwira ('iffah],berani, dan energik, sehingga ia dapat
melaksanakan semua tugasnya.

Dalam rangka mengajarkan akhlak mulia, menurutnya seorang guru harus menjadi
tauladan bagi anak didiknya, sehingga kesempurnaan sikapnya menjadi pelajaran
tambahan bagi mereka (anak didik). Prilaku yang baik dari seorang guru akan lebih
berkesan dan berpengaruh bagi anak didik dari pada ilmu yang ia sampaikan.

Sisi lain yang diperhatikan Pendidik dalam Proses Belajar Mengajar


Muhammad Qodri Luthfi menulis pedoman umum dalam mengajar materi palajaran,
antara lain.

Dalam mengajarkan ilmu agama, guru tidak boleh merujuk pada satu tafsir saja, tetapi
ia harus mengambil ayat-ayat al-Qur'an untuk menghindari taklid terhadap suatu
madzhab.

Hendaknya guru kata Muhammad Abduh berusaha menselaraskan Islam dengan


peradaban modern dan Islam dengan ilmu.

Hendaknya juga guru mengajar dengan keterangan yang jelas dengan menyebutkan
judul atau temanya.

Dalam pengajaran ilmu balaghah [tata bahasa Arab], hendaknya guru melatih dzauq
[kecerdasan] dan meningkatkan uslub yang tinggi yang telah dinafikan oleh para
filosof .

Dalam pengajaran insya‘ [dikte menulis arab] hendaknya diucapkan dengan baik dan
fasih.

Dalam pengajaran berbagai ilmu, hendaknya (guru dikaitkan dengan prinsip-prinsip


ilmu yang sesuai dengan tradisi dalam suatu Negara.

Dalam pengajaran ilmu berhitung, hendaknya guru mengaitkan rumus¬-rumusnya


dengan perdagangan dengan cara menghitung jumlah yang dibeli dibelanjakan
seseorang dan cara menghitung pendapatan negara, dan termasuk di dalamnya latihan
menimbang.

Dalam pengajaran geometri, hendaknya guru mengaitkanmya dengan bentuk-¬bentuk


yang berlaku dalam suatu negara.

Dalam pengajaran tata bahasa Arab, hendaknya guru menganjurkan untuk digunakan
dalam tulis menulis.

Dalam pengajaran tentang pertanian dan industri, hendaknya guru memberi


kesempatan untuk praktek lapangan setiap minggu.

62
Menurut Muhammad Imarah, bahwa Muhammad Abduh menganut madzhab
pendidikan demokratis. Ia berpendapat pendidikan harus memperhatikan
perkembangan dan periode anak, sehingga bisa menyesuaikan, tujuan, kurikulum, dan
metode pengajaran yang layak digunakan oleh guru .

Panduan Khusus Pendidik Islam


Telah dikatakan oleh Muhammad Abduh bahwa agama tidak satu tetapi bermacam-
macam dan demikian juga madzhab-madzhab dalam agama masing-masing. Oleh
sebab itu, hendaknya satu agama dengan agama yang lain saling menghormati akidah
masing-masing dan tidak menghina akidah orang lain.

Dari keterngan singkat tentang pelajaran agama terdahulu, dapat dipahami dalam
konteks pendidikan guru menurut Muhammad Abduh harus memberikan materi-
materi pelajaran agama yang dapat memperkuat akidah anak didik. Guru tidak boleh
memberi keterangan yang berupaya untuk mendiskriditkan agama yang lain. Dalam
hal ini Muhammad Abduh dapat disebut penganut madzhab pluralisme dalam ajaran
agama.

Sebagai panduan operasional dalam pelajaran agama, hendaknya guru menerapkan


nilai-nilai berikut:

Menghindari buruk sangka (su'u al-zhan) terhadap agama lain. Guru berusaha
mempersatukan semua agama, tetapi bukan mempersatukan akidahnya.
Membangkitkan rasa kemanusiaan. Hendaknya ditanamakan oleh guru kepada semua
anak didik bahwa semua manusia bersaudara bersumber dari satu bapak dan satu ibu,
maka hendaknya yang satu memberi manfaat bagi yang lainnya. Oleh sebab itu semua
manusia harus saling mencintai.

Dari keterangan yang panjang lebar tentang sifat guru di atas, secara umum itu
mengandung akhlak mahmudah. Sifat-sifat para nabi, khususnya nabi Muhammad
Saw dikenal dengan empat sifat [sidiq,amanah, tabligh, fatanah]. Empat sifat nabi
Muhammada Saw itu dapat mewakili akhlak mahmudah.

Untuk sekedar pegangan operatif, demikian kata Prof.Dr.H. Nurcholis Madjid, nilai-
nilai akhlak yang patut dipertimbangkan untuk ditanamkan kepada anak didik, antara
lain: :Silaturrahmi (Shilatu al-rahim], persaudaraan [al-ukhuwah], persamaan[al-
musawwah], adil [ al-‘adl], berbaik sangka [husnu al-zhan], rendah hati [tawadhu’],
menepati janji [al-wafa’], lapang dada [al-insyirah], dapat dipercaya [al-amanah],
menjaga diri dari syahwah [‘iffah atau ta’affuf], menolong meluruskan [qawamiyah],
dermawan [al-munfiqun].

6. Anak Didik
Anak didik dalam pembahasan ini termasuk juga katagori murid, siswa, pelajar, dan
mahasiswa yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah tilmidz, muta’allim, dan
thalib. Adapun dalam bahasa Inggris dikenal istilah student .

63
Dalam pembahasan anak didik ini, akan dijelaskan, faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan anak didik, tugas anak didik, f'ungsi motivasi bagi anak didik,
perpustakaan dan anak didik, dan sistem drop out dan anak didik.

a. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Didik.

Dalam pembahasan pasal ini lebih dahulu kita ketahui bagaimana pendapat
Muhammad Abduh tentang fitrah manusia dalam kaitannya dengan perkembangan
anak didik. Menurut Muhammad Abduh sebagaimana dikutip oleh Muhammad
Imarah, pada umumnya pendidikan sekolah pada masa Kerajaan Utsmani tidak
membuahkan hasil apa-apa, dan para lulusan sekolah-sekolah dasar itu tidak
memperhatikan terjadinya proses perkembangan fitrah mereka. Terbukti bahwa
perilaku mereka tidak mencerminkan kesucian fitrah mereka.

Kritikan Muhammad Abduh di atas tentang pelaksanaan pendidikan di Kerajaan


Ustmani tersebut lebih lanjut dapat dipahami dari pendapatnya bahwa setiap individu
memiliki potensi fitri yang baik, namun individu tersebut kemudian dapat berubah-
rubah corak dan bentuknya sejalan dengan pendidikan yang ditempuh atau
dialaminya. Lebih tegas, ia mengatakan bahwa manusia tidak jadi apa-apa kecuali
dengan pendidikan dengan memahami ajaran yang dibawa oleh Rasul, baik dan aspek
hukum, hikmah, dan lain-lain .

Dari keterangan tentang fitrah manusia tersebut di atas, dapat dipahami bahwa
menurut Muhammad Abduh, manusia dalam hal ini anak didik dilahirkan dengan
memliki potensi-potensi. Dalam kata lain, manusia lahir ke dunia ini tidak seperti
kertas kosong sebagaimana dalam teori tabularasa. Di antara potensi-potensi lahiriyah
(bawaan) manusia, khususnya potensi aqliyahnya tidak berkembang begitu saja tanpa
ada proses pendidikan. Artinya, potensi aqliyah, tidak berfungsi sempurna tanpa
adanya proses pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan adalah sarana untuk
mengembangkan potensi aqliyah manusia itu. Pada tahap ini, Muhammad Abduh
dekat pada aliran konvergensi daripada aliran nativesme dan empirisme.

Lebih lanjut, dalam membicarakan fitrah manusia, Muhammad Abduh pernah


mengutip hadits nabi pada pidato resepsi di al-Jami'ah al-Khariyah "kullu mauludin
yuladu ala al-fitrah, faabawahu yuhawwidanihi au yunashshiranihi au yumajjisanihi”
kata “yuladu ‘ala al-fitrah” adalah menunjukkan pada potensi bawaan manusia,
sedangkan tiga fi’il mudhari itu [yuhawidanihi, yunashshiranihi, dan yumajjisanihi,]
mengidentifikasikan suatu proses perkembangan anak didik melalui pendidikan.
Potensi bawaan [fitrah] ada yang bersifat aqliyah dan ada yang bersifat nafsiyah.

Fitrah nafsiyah atau ilahiyah manusia sesungguhnya adalah sama, tetapi fitrah aqliyah
mereka dapat berbeda. Fitrah aqliyah manusia, erat hubungannya dengan kualitas gizi
anak selama dalam kandungan dan selanjutnya disempurnakan dalam masa
penyusuan selama dua tahun. Setelah dua tahun kata Andi Hakim Nasution,
perkembangan otak akan lebih berkesan dan berpengaruh bagi anak didik dari pada
ilmu yang ia sampaikan sebagai alat kecerdasan tidak berarti lagi. Akan tetapi
kecerdasan bayi itu akan bertambah melalui kegiatan fisiknya yang berinteraksi
dengan lingkungan.

Dalam hadits yang menjelaskan tentang fitrah manusia tersebut diatas, dapat dipahami

64
bahwa manusia lahir membawa fitrah. Fitrah lahiriyah berupa potensi aqliyah dan
nafsiyah. Kedua fitrah manusia itu berkembang dengan melalui proses pendidikan.
Dengan demikian, Muhammad Abduh mengakui pembawaan lahir dan mementingkan
proses pendidikan. Jadi jelaslah bahwa Muhammad Abduh sangat dekat dengan aliran
konvergensi. Dalam kata lain, proses perkembangan aqliyah dan nafsiyah manusia
setelah dua tahun banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan [empiris]

b.Tugas Anak Didik


Tugas sebagai anak didik tentunya bermacam-macam. Ada tugasnya terhadap dirinya,
terhadap orang tuanya, terhadap teman-temannya, terhadap gurunya, terhadap
pendidikan, dan sebagainya. Tugas anak didik terhadap pendidikan menurut
Muhammacl Abduh adalah belajar bersungguh-sungguh. Pendapatnya ini didukung
oleh data bahwa ketika ia mengajar di Universitas al-Azhar, mewajibkan mahasiswa
bersungguh-sungguh dalam belajar, tidak boleh memiliki kesibukan selainnya.Ia juga
mewajibkan mahasiswa untuk mengikuti ujian umum tahunan setelah mereka
mengikuti ujian sesuai dengan tingkatan, kepintaran, dan kapasitas keilmuan mereka
secara lisan.

Dari uraian tersebut di atas tentang kewajiban belajar dan ujian, dapat dipahami
bahwa Muhammad Abduh menerapkan disiplin belajar yang baik. Kemudian sistem
ujian umum tahunan yang dimaksud berbentuk tes tulis setelah dilakukan tes lisan
untuk melihat kemampuan mahasiswa yang variatif. Konsep disiplin belajar yang
diterapkan oleh Muhammad Abduh masih relevan sampai sekarang. Sistem boarding
school dan beberapa pesantren di Indonesia juga masih menerapkan system ini.
Adapun sistem ujian lisan dan tulis inipun masih banyak diterapkan di sekolah-
sekolah di Indonesia.

Dengan demikian, di antara tugas anak didik terhadap pendidikan adalah bersungguh-
sungguh belajar.Pendapat Muhammad Abduh ini sifat dengan sifat anak didik yang
ditemukakan al-Abrasyi. la berpendapat bahwa diantara sifat anak didik adalah
bersungguh-sungguh dan tekun belajar, bahkan untuk mendapat suatu kemuliaan
(ilmu) seseorang perlu melakukan sahiru al-lail artinya tidak tidur pada malam hari
dengan tujuan lainnya tidak dimasukkan dalam konteks ini.

c.Fungsi Motivasi Bagi Anak Didik


Pada fitrahnya, manusia ingin mulia dan dimuliakan. Salah satu bentuk pemuliaan di
sekolah adalah pemberian beasiswa, baik beasiswa prestasi ataupun beasiswa tidak
mampu. Dalam hal ini, Muhammad Abduh dalam pembaharuannya di Universitas al-
Azhar memberikan beasiswa bagi para mahasiswa berprestasi sebagai motivasi untuk
lebih bersemangat lagi dalam belajar. Beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa
termasuk leaving cost.

Sistem pendidikan yang memberikan beasiswa adalah salah satu bentuk memotivasi
anak didik yang masih relevan sampai sekarang.Beasiswa sebagai reword sangat
berguna untuk membangkitkan semangat belajar yang berimplikasi pada kompetisi
anak didik, karena padu dasarnya manusia ingin lebih mulia dari yang lainnya.
Konsep ini jugalah yang tersirat dalam ayat fastabiqul al-khairat. ¬Muhammad Abduh
tidak saja memperhatikan kesejahteraan mahasiswa, ia juga memperlihatkan
kesejahteraan guru-guru dengan memberikan perumahan khusus untuk mereka bagi
mereka juga disediakan kantor-kantor khusus untuk bekerja.

65
d.Perpustakaan dan Anak Didik
Belajar untuk memperoleh ilmu tentu tidak cukup hanya didapatkan dari guru. Demi
memperluas wawasan, anak didik harus senang membaca. Senang membaca, salah
satunya dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Fasilitas perpustakaan adalah salah satu
wadah untuk menciptakan cinta membaca. Dalam kaitannya dengan perpustakaan,
Muhammad Abduh dalam pembaharuannya di Universitas Al-Azhar sangat apresiatif
terhadap pengembangan, perpustakaan yang menginventarisir buku-buku. Sebagian
perpustakaan itu ditempatkan di mesjid-mesjid yang dekat.

Oleh sebab itu, Muhammad Abduh menyediakan anggaran [budget] khusus untuk
menambah buku-buku di perpustakaan, sehingga perpustakaan Universitas al-¬Azhar
mengoleksi buku-huku dari berbagai ilmu pengetahuan.

Dari penjelasan tersebut di atas tentang perpustakaan, dapat dipahami bahwa lembaga
pendidikan tidak bisa terlepas dari perpustakaan, apalagi perguruan tinggi. Di antara
fungsi perpustakaan bagi anak didik, yaitu: alat memotivasi untuk cinta membaca,
fasilitas untuk memperdalam ilmu, dan membantu anak didik yang tidak mampu
membeli buku.

e. Sistem Drop Out dan Anak Didik


Dalam rangka menciptakan kesungguhan belajar anak didik, maka perlu dibuat
aturan-aturan, salah satunya adalah sistem droup out. Berkenaan dengan drop out,
Muhammad Abduh juga menerapkan sistem ini di Universitas al-Azhar. Paling lama
seseorang kuliah di Universitas al-Azhar lima belas tahun. Delapan tahun pertama,
mahasiswa bisa mendapatkan ijazah lokal dan empat tahun berikutnya bisa
mendapatkan ijazah sarjana.

Dari penjelsan tersebut di atas tentang lama masa kuliah dan sistem drop out, maka
menurut penulis dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan gelar sarjana minimal
membutuhkan waktu dua belas tahun. Jika ditarik dalam konteks sistem pendidikan
tinggi saat ini, maka masa dua belas tahun bisa sampai pada tingkat doktoral. Sistem
drop out ini diberlakukan oleh Muhammad Abduh di Universitas al-Azhar Mesir.

Jika dibandingkan dengan masa studinya dalam menempuh gelar 'Alim di lembaga
pendidikan ini, maka Muhammad Abduh dapat dikatagorikan mahasiswa yang
sungguh dalam belajar, karena ia dapat menyelesaikan studinya selama sebelas tahun.
Sistem drop out, masih sangat diperlukan dan relevan, khususnya bagi masyarakat
yang tidak memiliki budaya yang baik, dalam hal ini budaya rajin dan bersungguh-
sungguh dalam belajar.

PERENCANAAN PENGAJARAN

66
Perencanaan pengajaran berarti pemikiran tentang penetrapan
prinsip- prinsip umum mengajar didalam pelaksanaan tugas mengajar dalam
suatu interaksi pengajaran tertentu yang khusus baik yang berlangsung di
dalam kelas ataupun diluar kelas.

Perencanaan pengajaran mempunyai beberapa faktor yang

mendukung tujuan pembelajaran tercapai misal :

a. Persiapan sebelum mengajar

b. Situasi ruangan dan letak sekolah dari jangkauan kendaraan umum

c. Tingkat intelegensi siswa

d. Materi pelajaran yang akan disampaikan

Faedah perencanaan :

1. Karena adanya perencanaan maka pelaksanaan pengajaran menjadi baik


dan efektif.

Yang dimaksud adalah maka seorang guru bisa memberikan materi

pelajaran dengan baik karena ia harus dapat menghadapi situasi di dalam

kelas secara mantap, tegas dan fleksibel.

2. Karena perencanaan maka seseorang akan tumbuh menjadi seseorang guru yang
baik.

Yang di maksud adalah guru membuat persiapan yang baik dan adanya
pertumbuhan berkat pengalaman dan akibat dari hasil belajar yang terus
menerus.

Bagaimana cara untuk mencapai hasil hasil belajar yang efektif yang

dijadikan pedoman dalam setiap kali membuat perencanaan ?

Ada 7 aspek persiapan untuk mencapai tugas yang di sebutkan tadi :

67
1. Persiapan terhadap situasi

Mancakup : tempat, suasana ruangan kelas, dan lain-lain. Dan situasi umum harus
dimiliki sebelum saudara mengajar di dalam kelas tersebut dengan pengetahuan
saudara dapat membuat ancang- ancang terhadap variabel faktor masalah dan
menghadapi situasi kelas.

2. Persiapan terhadap siswa yang akan dihadapi

Maksud ; Sebelum guru mengajar ia harus mengetahui keadaan siswa tsb atau dengan
kata lain guru harus membuat gambaran yang jelas mengenai keadaan siswa yang
akan dihadapi selain dari pada faktor intern siswa tsb ( laki- laki dan Pr) seorang guru
harus mengetahui taraf kematangan dan pengetahuan serta khusus dari pada siswa tsb.

3. Persiapan dalam tujuan umum pembelajaran

Yang menyangkut tujuan instruksional apa yang akan dicapai oleh para siswa harus
dimiliki seorang guru mencakup antara lain :

Pengetahuan, kecakapan, keterampilan atau sikap tertentu yang

konkrit yang bisa di ukur dengan alat- alat evaluasi.

4. Persiapan tentang bahan pelajaran yang akan diajarkan

Yang dimaksud dengan ini : Dengan adanya pengetahuan yang akan dihadapkan
kepada siswa, si guru memiliki persiapan yang akan di sampaikan kepada siswa yang
harus terdapat batas- batas, luas dan urutan- urutan pengajaran perlu di persiapkan.

5. Persiapan tentang metode- mengajar yang hendak di pakai

a. metode ceramah

b. metode tanya jawab atau diskusi

6. Persiapan dalam penggunaan alat- alat peraga

Misal : kapur dan papan tulis, pengahapus paling sedikit di gunakan tetapi dalam
belajar pembelajaran di pergunakan alat pembantu adalah media yang mempertinggi
komunikasi pada saat proses belajar berlangsung.

68
7. Persiapan dalam jenis teknik evaluasi

Tujuan evaluasi : samapi sejauhmana daya serap terhadap produk bahasan yang
saudara terapkan

Ada beberapa jenis alat evaluasi disini yaitu : Bentuk test apakah

test tertulis maupun test lisan.

Jenis- jenis perencanaan

1. Menurut Besaran : a. Perencanaan Makro

b. Perencanaan Meso

c. Perencanaan Mikro

2. Menurut Telaahnya : a. Perencanaan Strategi

b. Perencanaan Manajerial

c. Perencanaan Operasional

2. Menurut Jangka Waktunya : a. Perencanaan Jangka Panjang

b. Perencanaan Jangka Menengah

c. Perencanaan Jangka Pendek

Tujuan Pembelajaran

I. Tujuan pembelajaran terbagi atas 2 bagian :

69
a. Tujuan pembelajaran umum

b. Tujuan pembelajaran khusus

Kriteria : 1. Harus menggunakan istilah- istilah yang operasional

Spt : menuliskan, menyebutkan, menghitung, membedakan,

dsg.

2. Harus dalam bentuk hasil belajar

Adalah Menggambarkan hasil belajar yang diharapkan pada diri siswa setelah ia
menempuh segala KBM atau dengan kata lain hasil apa yang sudah diperoleh setelah
ia mempelajari suatu pokok bahasan.

3. Harus berbentuk tingkah laku dari para siswa

Artinya Setelah siswa mempelajari pokok bahasan tsb adanya perubahan pengetahuan
tentang materi pelajaran.

4. Hanya meliputi satu jenis tingkah laku

Adalah Kemampuan yang dimiliki oleh siswa cukup hanya terbatas saja.

II. Mengembangkan Evaluasi

Yang harus dilakukan dalam mengembangkan evaluasi;

a. Perlu ditentukan jenis- jenis test yang harus di buat

b. Mengembangkan alat evaluasi

Perencanaan Desaign Instruksional

Penyusun PDI di desaign untuk menjawab pertanyaan :

70
1. Apa yang menjadi tujuan pembelajaran

2. Bagaimana prosedur dan sumber- sumber belajar yang tepat untuk

mencapai hasil belajar yang diinginkan.

3. Bagaimana kita mengetahui bahwa hasil belajar yang dihasilkan

telah tercapai.

Adapun jawaban dari pertanyaan tadi ada 8 langkah :

1. Menyusun pokok bahasan dan tujuan umum

2. Karakteristik siswa

3. Tujuan belajar

4. Isi pokok bahasan

5. Penjajakan terhadap siswa

6. Kegiatan belajar mengajar

7. Pelayanan penunjang

8. Evaluasi

Metodologi Pengajaran

1. Metode mengajar

2. Media pengajaran

Ada beberapa jenis media pengajaran yang dilakukan seorang guru :

1. Media gratis

2. Media tiga dimensi

3. Media proyeksi

71
4. Lingkungan

Faktor- faktor yang harus diperhatikan seorang guru dalam media

pengajaran :

a. Relevansi pengadaan media pendidikan

b. Kelayakan pengadaan media pendidikan

c. Kemudahan pengadaan media pendidikan

Beberapa hal yang harus diperhatikan seorang guru dalam

menggunakan media pendidikan :

a. Apakah guru tersebut memahami manfaat media pengajaran

b. Guru harus terampil dalam menyediakan media pendidikan.

Media pendidikan di gunakan jika :

a. Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang di pahami

siswa

b. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pelajaran

melalui penuturan kata- kata verbal

c. Perhatian siswa terhadap pengajaran sudah berkurang akibat

kebosanan mendengar uraian guru.

72
Manfaat media pendidikan bagi pengajaran siswa :

1. Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga lebih jelas

dipahami siswa sehingga memungkinkan siswa menguasai tujuan

pengajaran lebih baik.

2. Metode mengajar akan lebih bervariasi

3. Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar

4. Motivasi belajar dari para siswa dapat ditumbuhkan / dinaikkan

5. Dapat mengatasi sifat pasif dari para siswa

Kesulitan- kesulitan dalam media pengajaran :

1. Biaya pengadaan

2. Pengalaman seorang guru dalam menggunakan media pengajaran

tersebut.

Perencanaan Evaluasi Pengajaran

Adalah : Penilaian terhadap pertumbuhan dan kemajuan peserta


didik kearah tujuan- tujuan yang telah ditetapkan untuk mengetahui
sampai dimana daya serap siswa setelah mengikuti pelajaran tersebut.

Prinsip : Lingkungan kegiatan 1994

- Intra kurikuler

73
- Tugas

Azas : 1. Azas Objektivitas

2. Azas menyeluruh

3. Berkesinambungan

Penjelasan :

Objektif adalah suatu penilaian di katakan objektif apabila keadaan

tepat menggambar keadaan yang sebenarnya.

Menyeluruh apabila penilaian yang digunakan mencakup proses

maupun hasil belajar serta menggambarkan perubahan tingkah laku tidak

sengaja saja dalam ranah kognitif tetapi termasuk pula ranah efektif

dalam psikomotor.

Berkesinambungan adalah pelaksanaan penilaian dilakukan secara

terus menerus berencana dan bertahap.

Langkah- langkah penilaian

74
Perencanaan penilaian/ perencanaan evaluasi

Penilaian berlaku untuk untuk tujuan harian, ujian umum semester

baik gasal/ genap, EBTA terlebih dahulu harus menyusun kisi-kisi soal;

adalah menggambarkan lingkup bahan pengajaran dan jenjang prilaku yang

diukur yaitu pengetahuan, sikap, keterampilan.

Pelaksanaan penilaian

Harus berkesinambungan maksudnya adalah penialaian yang

dilakukan secara berencana, terus menerus dan bertahap untuk

memperoleh gambaran tentang perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil

KBM

Cara penilaian

Dilakukan dengan 2 cara yaitu :

 Dengan cara kuantitatif

 Dengan cara kualitatif

Standart penilaian

Sejalan dengan prinsip belajar tuntas penilaian di gunakan dengan

standart mutlak atau penilaian acuan criteria artinya tidak ada pilih kasih.

75
Bentuk- bentuk soal

Ada dua macam :

1. Pilihan berganda ada 5 yaitu :

a. Melengkapi pilihan

b. Hubungan antar hal

c. Tinjauan kasus

d. Asosiasi pilihan ganda

e. Membaca diagram

2. Bentuk uraian ada 2 macam ;

a. Uraian objektif

b. Uraian non objektif

Tingkat kesukaran dari soal

Selalu berbanding mudah : sedang : dan sukar

Perbandingannya : 25 % 50% 25%

76
Penilaian soal untuk test hasil belajar

Sebelum butir- butir soal disusun si guru harus menyusun TPK

sesuai dengan GBPP:

1. Tujuan kurikuler

2. Tujuan pembelajaran umum

3. PB

4. SPB

Tujuan pembelajaran khusus

Merupakan rumusan tingkah laku yang akan diukur melalui butir-

butir soal. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dalam menjabarkan TPU

menjadi TPK:

1. Pokok bahasan yang menunjang pencapaian tujuan pembelajaran

umum

2. Tingkat perkembangan/ umur dari para siswa pada jenjang

pendidikan yang bersangkutan

Beberapa catatan dalam membuat TPK :

1. Setiap rumusan TPK selalu mengandung aspek prilaku dan aspek isi

2. Agar bersifat operasional sehingga mudah di jadikan patokan dalam

penyusunanbutir- butir soal dengan kata lain kata- kata kerja yang

digunakan untuk aspek prilaku dalam tujuan pembelajaran khusus

haruslah operasional , seperti ; menulis, menyebutkan, menghitung,

merumuskan, memilih, dsg.

77
Pengelolaan Kegiatan Belajar Mengajar

1. menyusun program KBM

2. Melaksanakan KBM

3. Melaksanakan kegiatan penilaian

Penyusunan program pengajaran ada 3 komponen yang harus


diperhatikan :

1. Penguasaan materi

2. Analisis materi pelajaran

3. Penyusunan persiapan mengajar

Lingkup materi

1. Materi untuk siswa

2. Materi untuk guru

4 Usaha yang harus dilakukan seorang guru :

1. Musyawarah guru mata pelajaran

2. Melalui sumaber yang relevan

3. Melalui ahli yang tersedia

4. Melalui pendidikan khusus

78
Fungsi kegiatan pendalaman materi ;

1. Meningkatkan kepercayaan diri akan kemampuan professional

sehingga tidak ragu lagi dalam mengelola proses belajar mengajar.

2. Memperdalam diri dan memperluas wawasan atas konsepsi tujuan

akademis dan aplikasinya sehingga dapat di manfaatkan untuk

melaksanakan analisis materi pelajaran.

Fungsi analisis materi pelajaran

Sebagai acuan untuk menyusun program tahunan, program

semesteran, dan program satuan pelajaran.

Sasaran analisis materi pelajaran:

1. Terjabarkan pokok bahasan dan sub pokok bahasan

2. Terpilihnya metode yang efektif dan efisien

3. Terpilihnya sarana pembelajaran yang paling cocok

konomi syariah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Artikel ini adalah bagian dari seri

79
Islam

Rasul

Nabi Muhammad SAW


.
Kitab Suci

Al-Qur'an
.
Rukun Islam
1. Syahadat · 2. Salat · 3. Puasa
4. Zakat · 5. Haji
Rukun Iman
Iman kepada : 1. Allah
2. Malaikat · 3. Al-Qur'an ·4. Nabi
5. Hari Akhir · 6. Qada & Qadar
Tokoh Islam
Muhammad SAW
Nabi & Rasul · Sahabat
Ahlul Bait
Kota Suci
Mekkah · & · Madinah
Kota suci lainnya
Yerusalem · Najaf · Karbala
Kufah · Kazimain
Mashhad ·Istanbul · Ghadir Khum
Hari Raya
Idul Fitri · & · Idul Adha
Hari besar lainnya
Isra dan Mi'raj · Maulid Nabi
Asyura
Arsitektur
Masjid ·Menara ·Mihrab
Ka'bah · Arsitektur Islam
Jabatan Fungsional
Khalifah ·Ulama ·Muadzin
Imam·Mullah·Ayatullah · Mufti
Hukum Islam
Al-Qur'an ·Hadist
Sunnah · Fiqih · Fatwa
Syariat · Ijtihad
Manhaj
Salafush Shalih
Mazhab

80
1. Sunni :
Hanafi ·Hambali
Maliki ·Syafi'i
2. Syi'ah :
Dua Belas Imam
Ismailiyah·Zaidiyah
3. Lain-lain :
Ibadi · Khawarij
Murji'ah·Mu'taziliyah
Lihat Pula
Portal Islam
Indeks mengenai Islam
lihat • bicara • sunting

Ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-


masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam[1]. Ekonomi syariah atau
sistim ekonomi koperasi berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun negara
kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentang
eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang
penumpukan kekayaan[2]. Selain itu, ekonomi dalam kaca mata Islam merupakan
tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah[3].

Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Perbedaan ekonomi syariah dengan ekonomi konvensional


• 2 Ciri khas ekonomi syariah
• 3 Tujuan Ekonomi Islam
• 4 Catatan

• 5 Lihat pula

[sunting] Perbedaan ekonomi syariah dengan ekonomi


konvensional
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi syariah vs ekonomi konvensional

Krisis ekonomi yang sering terjadi ditengarai adalah ulah sistem ekonomi
konvensional, yang mengedepankan sistem bunga sebagai instrumen provitnya.
Berbeda dengan apa yang ditawarkan sistem ekonomi syariah, dengan instrumen
provitnya, yaitu sistem bagi hasil[4]. Sistem ekonomi syariah sangat berbeda dengan
ekonomi kapitalis, sosialis maupun komunis. Ekonomi syariah bukan pula berada
ditengah-tengah ketiga sistem ekonomi itu. Sangat bertolak belakang dengan kapitalis
yang lebih bersifat individual, sosialis yang memberikan hampir semua
tanggungjawab kepada warganya serta komunis yang ekstrem[1], ekonomi Islam
menetapkan bentuk perdagangan serta perkhidmatan yang boleh dan tidak boleh di
transaksikan[5]. Ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesejahteraan bagi
seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaan serta
mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha

81
[sunting] Ciri khas ekonomi syariah

Tidak banyak yang dikemukakan dalam Al Qur'an, dan hanya prinsip-prinsip yang
mendasar saja. Karena alasan-alasan yang sangat tepat, Al Qur'an dan Sunnah banyak
sekali membahas tentang bagaimana seharusnya kaum Muslim berprilaku sebagai
produsen, konsumen dan pemilik modal, tetapi hanya sedikit tentang sistem
ekonomi[6]. Sebagaimana diungkapkan dalam pembahasan diatas, ekonomi dalam
Islam harus mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku
usaha. Selain itu, ekonomi syariah menekankan empat sifat, antara lain:

1. Kesatuan (unity)
2. Keseimbangan (equilibrium)
3. Kebebasan (free will)
4. Tanggungjawab (responsibility)

Manusia sebagai wakil (khalifah) Tuhan di dunia tidak mungkin bersifat


individualistik, karena semua (kekayaan) yang ada di bumi adalah milik Allah semata,
dan manusia adalah kepercayaannya di bumi[2]. Didalam menjalankan kegiatan
ekonominya, Islam sangat mengharamkan kegiatan riba, yang dari segi bahasa berarti
"kelebihan"[7]. Dalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 275[8] disebutkan bahwa
Orang-orang yang makan (mengambil) riba. Riba itu ada dua macam : nasiah dan
fadhi. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang
meminjamkan. Riba fadhi ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis,
tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensy

[sunting] Tujuan Ekonomi Islam

Ekonomi Islam mempunyai tujuan untuk memberikan keselarasan bagi kehidupan di


dunia. Nilai Islam bukan semata-semata hanya untuk kehidupan muslim saja, tetapi
seluruh mahluk hidup di muka bumi. Esensi proses Ekonomi Islam adalah pemenuhan
kebutuhan manusia yang berlandaskan nilai-nilai Islam guna mencapai pada tujuan
agama (falah). Ekonomi Islam menjadi rahmat seluruh alam, yang tidak terbatas oleh
ekonomi, sosial, budaya dan politik dari bangsa. Ekonomi Islam mampu menangkap
nilai fenomena masyarakat sehingga dalam perjalanannya tanpa meninggalkan
sumber hukum teori ekonomi Islam, bisa berubah[9].

[sunting] C

Pengertian Konsumen

Menurut pengertian Pasal 1 angka 2 UU PK, “Konsumen adalah setiap orang pemakai
barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri
sendiri, keluarga,, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk
diperdagangkan.”

Anda tentu memahami bahwa tidak semua barang setelah melalui proses produksi
akan langsung sampai ke tangan pengguna. Terjadi beberapa kali pengalihan agar

82
suatu barang dapat tiba di tangan konsumen. Biasanya jalur yang dilalui oleh suatu
barang adalah:

Produsen – Distributor – Agen – Pengecer – Pengguna

Lebih lanjut, di ilmu ekonomi ada dua jenis konumen, yakni konsumen antara dan
konsumen akhir. Konsumen antara adalah distributor, agen dan pengecer. Mereka
membeli barang bukan untuk dipakai, melainkan untuk diperdagangkan Sedangkan
pengguna barang adalah konsumen akhir.

Yang dimaksud di dalam UU PK sebagai konsumen adalah konsumen akhir. Karena


konsumen akhir memperoleh barang dan/atau jasa bukan untuk dijual kembali,
melainkan untuk digunakan, baik bagi kepentingan dirinya sendiri, keluarga, orang
lain dan makhluk hidup lain.

Dan Anda tentu mengetahui bahwa ada dua cara untuk memperoleh barang, yakni:

* Membeli. Bagi orang yang memperoleh suatu barang dengan cara membeli, tentu ia
terlibat dengan suatu perjanjian dengan pelaku usaha, dan konsumen memperoleh
perlindungan hukum melalui perjanjian tersebut.

* Cara lain selain membeli, yakni hadiah, hibah dan warisan. Untuk cara yang kedua
ini, konsumen tidak terlibat dalam suatu hubungan kontraktual dengan pelaku usaha.
Sehingga konsumen tidak mendapatkan perlindungan hukum dari suatu perjanjian.
Untuk itu diperlukan perlindungan dari negara dalam bentuk peraturan yang
melindungi keberadaan konsumen, dalam hal ini UU PK.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana bila saya membeli barang, kemudian saya
menghadiahkannya kepada teman saya. Siapakah yang disebut konsumen? Menurut
saya yang patut untuk disebut sebagai konsumen hanyalah penerima hadiah.
Sedangkan pemberi hadiah bukan konsumen menurut pengertian Pasal 1 angka 2 UU
PK. Pemberi hadiah dapat dikatakan sebagai konsumen perantara.

Lalu mengapa di ketentuan Pasal 1 angka 2 UU PK disebutkan “… baik bagi


kepentingan diri sendiri, keluarga,, orang lain, maupun makhluk hidup lain…”?
Ketentuan ini dimaksudkan bila Anda menggunakan suatu barang dan/atau jasa dan
bukan hanya Anda yang merasakan manfaatnya, melainkan juga keluarga Anda,
orang lain, dan makhluk hidup lain. Contohnya bila Anda membeli sebuah AC untuk
dipasang di ruang tamu rumah Anda. Tentu bukan hanya Anda yang merasakan hawa
sejuk dari AC tersebut. Istri/suami, anak, tamu dan hewan peliharaan Anda tentu ikut
merasakan kesejukan AC tersebut

Maka dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat konsumen menurut UU PK adalah:

* Pemakai barang dan/atau jasa, baik memperolehnya melalui pembelian maupun


secara cuma-cuma
* Pemakaian barang dan/atau jasa untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain
dan makhluk hidup lain.

83
Belakangan ini semakin banyak muncul perusahaan-perusahaan yang menjual
produknya melalui sistem Multi Level Marketing (MLM). Karena itu, perlu dibahas
hukumnya menurut syari’ah Islam. Perlu dicatat, bahwa perusahaan money game
yang berkedok MLM bukanlah termasuk MLM., seperti BMA dan sejenisnya.
Perusahaan BMA adalah bisnis paling zalim dan jelas-jelas menipu orang. Bisnis
haram yang menggunaan sistem piramida itu pasti merugikan sebagian besar
masyarakat dan hanya menguntungkan segelintir orang yang lebih dahulu masuk.
Tulisan ini tidak membahas money game/penggandaan uang tersebut, karena ia tidak
termasuk kepada MLM, dan hukumnya telah jelas haram. Tulisan empat serangkai,
Prof. Bahauddin Darus,Drs.Agustianto,MAg, Dr. Ramli Abdul Wahab dan
Miftahuddin, SE,MBA, telah mengemukakan dua belas dalil dan alasan keharaman
bisnis BMA dan sejenisnya tersebut.
Sistem Pemasaran MLM
Pakar marketing ternama Don Failla, membagi marketing menjadi tiga macam.
Pertama, retail (eceran), Kedua, direct selling (penjualan langsung ke konsumen),
Ketiga multi level marketing (pemasaran berjenjang melalui jaringan distribusi yang
dibangun dengan memposisikan pelanggan sekaligus sebagai tenaga pemasaran).
Kemunculan trend strategi pemasaran produk melalui sistem MLM di dunia bisnis
modern sangat menguntungkan banyak pihak, seperti pengusaha (baik produsen
maupun perusahaan MLM).Hal ini disebabkan karena adanya penghematan biaya
dalam iklan, Bisnis ini juga menguntungkan para distributor yang berperan sebagai
simsar (Mitra Niaga) yang ingin bebas (tidak terikat) dalam bekerja.
Sistem marketing MLM yang lahir pada tahun 1939 merupakan kreasi dan inovasi
marketing yang melibatkan masyarakat konsumen dalam kegiatan usaha pemasaran
dengan tujuan agar masyarakat konsumen dapat menikmati tidak saja manfaat produk,
tetapi juga manfaat finansial dalam bentuk insentif, hadiah-hadiah, haji dan umrah,
perlindungan asuransi, tabungan hari tua dan bahkan kepemilikan saham perusahaan.
(Ahmad Basyuni Lubis, Al-Iqtishad, November 2000)
.
Perspektif Islam
Bisnis dalam syari’ah Islam pada dasarnya termasuk kategori muamalat yang hukum
asalnya adalah boleh berdasarkan kaedah Fiqh,”Al-Ashlu fil muamalah al-ibahah
hatta yadullad dalilu ‘ala tahrimiha (Pada dasarnya segala hukum dalam muamalah
adalah boleh, kecuali ada dalil/prinsip yang melarangnya)
Islam memahami bahwa perkembangan budaya bisnis berjalan begitu cepat dan
dinamis. Berdasarkan kaedah fikih di atas, maka terlihat bahwa Islam memberikan
jalan bagi manusia untuk melakukan berbagai improvisasi dan inovasi melalui sistem,
teknik dan mediasi dalam melakukan perdagangan.
Namun, Islam mempunyai prinsip-prinsip tentang pengembangan sistem bisnis yaitu
harus terbebas dari unsur dharar (bahaya), jahalah (ketidakjelasan) dan zhulm
( merugikan atau tidak adil terhadap salah satu pihak). Sistem pemberian bonus harus
adil, tidak menzalimi dan tidak hanya menguntungkan orang yang di atas. Bisnis juga
harus terbebas dari unsur MAGHRIB, singkatan dari lima unsur. 1, Maysir (judi), 2,
Aniaya (zhulm), 3. Gharar (penipuan), 4 Haram,5, Riba (bunga), 6. Iktinaz atau
Ihtikar dan 7. Bathil.
Kalau kita ingin mengembangkan bisnis MLM, maka ia harus terbebas dari unsur-
unsur di atas. Oleh karena itu, barang atau jasa yang dibisniskan serta tata cara
penjualannya harus halal, tidak haram dan tidak syubhat serta tidak bertentangan
dengan prinsip-prinsip syari’ah.di atas..

84
MLM yang menggunakan strategi pemasaran secara bertingkat (levelisasi)
mengandung unsur-unsur positif, asalkan diisi dengan nilai-nilai Islam dan sistemnya
disesuaikan dengan syari’ah Islam. Bila demikian, MLM dipandang memiliki unsur-
unsur silaturrahmi, dakwah dan tarbiyah. Menurut Muhammad Hidayat, Dewan
Syari’ah MUI Pusat, metode semacam ini pernah digunakan Rasulullah dalam
melakukan dakwah Islamiyah pada awal-awal Islam. Dakwah Islam pada saat itu
dilakukan melalui teori gethok tular (mulut ke mulut) dari sahabat satu ke sahabat
lainnya. Sehingga pada suatu ketika Islam dapat di terima oleh masyarakat
kebanyakan.(Lihat, Azhari Akmal Tarigan, Ekonomi dan Bank Syari’ah, FKEBI
IAIN, 2002, hlm. 30)
Bisnis yang dijalankan dengan sistem MLM tidak hanya sekedar menjalankan
penjualan produk barang, tetapi juga jasa, yaitu jasa marketing yang berlevel-level
(bertingkat-tingkat) dengan imbalan berupa marketing fee, bonus, hadiah dan
sebagainya, tergantung prestasi, dan level seorang anggota. Jasa marketing yang
bertindak sebagai perantara antara produsen dan konsumen. Dalam istilah fikih Islam
hal ini disebut Samsarah / Simsar. (Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, jilid II, hlm 159)
Kegiatan samsarah dalam bentuk distributor, agen, member atau mitra niaga dalam
fikih Islam termasuk dalam akad ijarah, yaitu suatu transaksi memanfaatkan jasa
orang lain dengan imbalan, insentif atau bonus (ujrah) Semua ulama membolehkan
akad seperti ini (Fikih Sunnah, III, hlm 159).
Sama halnya seperti cara berdagang yang lain, strategi MLM harus memenuhi rukun
jual beli serta akhlak (etika) yang baik. Di samping itu komoditas yang dijual harus
halal (bukan haram maupun syubhat), memenuhi kualitas dan bermafaat. MLM tidak
boleh memperjualbelikan produk yang tidak jelas status halalnya. Atau menggunakan
modus penawaran (iklan) produksi promosi tanpa mengindahkan norma-norma agama
dan kesusilaan.
Insentif dan penghargaan
Perusahaan MLM biasa memberi reward atau insentif pada mereka yang berprestasi.
Islam membenarkan seseorang mendapatkan insentif lebih besar dari yang lainnya
disebabkan keberhasilannya dalam memenuhi target penjualan tertentu, dan
melakukan berbagai upaya positif dalam memperluas jaringan dan levelnya secara
produktif. Kaidah Ushul Fiqh mengatakan:” Besarnya ijrah (upah) itu tergantung pada
kadar kesulitan dan pada kadar kesungguhan.”
Penghargaan kepada Up Line yang mengembangkan jaringan (level) di bawahnya
(Down Line) dengan cara bersungguh-sungguh, memberikan pembinaan (tarbiyah,
pengawasan serta keteladanan prestasi (uswah) memang patut di lakukan. Dan atas
jerih payahnya itu ia berhak mendapat bonus dari perusahaan, karena ini selaras
dengan sabda Rasulullah:” “Barangsiapa di dalam Islam berbuat suatu kebajikan
maka kepadanya diberi pahala, serta pahala dari orang yang mengikutinya tanpa
dikurangi sedikitpun”(hadist).
Intensif diberikan dengan merujuk skim ijarah. Intensif ditentukan oleh dua kriteria,
yaitu dari segi prestasi penjualan produk dan dari sisi berapa berapa banyak down line
yang dibina sehingga ikut menyukseskan kinerja. ?
Dalam hal menetapkan nilai insentif ini, ada tiga syarat syari’ah yang harus dipenuhi,
yakni:adil, terbuka, dan berorientasi falah (keuntungan dunia dan akhirat). Insentif
(bonus) seseorang (Up line ) tidak boleh mengurangi hak orang lain di bawahnya
(downline), sehingga tidak ada yang dizalimi. Sistem intensif juga harus transparan
diinformasikan kepada seluruh anggota, bahkan dalam menentukan sistemnya dan
pembagian insentif (bonus), para anggota perlu diikutsertakan, sebagaimana yang
terjadi di MLM Syari’ah Ahad-Net Internasional. Dalam hal ini tetap dilakukan

85
musyawarah, sehingga penetapan sistem bonus tidak sepihak. Selanjutnya,
keuntungan dalam bisnis MLM, berorientasi pada keuntungan duniawi dan ukhrawi.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengatakan bahwa keuntungan dalam Islam
adalah keuntungan dunia dan akhirat. Keuntungan akhirat maksudnya, bahwa dengan
menjalankan bisnis itu, seseorang telah dianggap menjalankan ibadah, (asalkan
bisnisnya sesuai dengan syari’ah). Dengan bisnis, seseorang juga telah membantu
orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penting disadari, pemberian penghargaan dan cara menyampaikannya hendaknya
tetap dalam koridor tasyakur, untuk menghindarkan penerimanya dari takabur
(bangga/sombong) dan kufur nikmat, apalagi melupakan Tuhan. MLM yang Islami
senantiasa berpedoman pada akhlak Islam..
Sebagaimana disebut di atas bahwa penghargaan yang diberikan kepada anggota
yang sukses mengembangkan jaringan, dan secara sungguh-sunguh memberikan
pembinaan (tarbiyah), pengawasan serta keteladanan prestasi (uswah), harus selaras
dengan ajaran agama Islam. Karena itu, applause ataupun gathering party yang
diberikan atas prestasi seseorang, haruslah sesuai dengan nilai-nilai aqidah dan
akhlak. Ekspressi penghargaan atas kesuksesan anggota MLM, tidak boleh
melampaui batas (bertantangan dengan ajaran Islam). Applause yang diberikan juga
tidak boleh mengesankan kultus individu, mendewakan seseorang. Karena hal itu
dapat menimbulkan penerimanya menjai takabbur, dan ‘ujub. Perayaan kesuksesan
seharusnya dilakukan dalam bingkai tasyakkur. (Lihat, Drs.H.Muhammad Hidayat,
MBA, Analisis Teoritis Normatif MLM dalam Perspektif Muamalah, 2002)
Karena itu pula, Islam sangat mengecam seseorang yang dalam menjalankan aktivitas
bisnis dan perdagangannya semakin jauh dari nilai-nilai ketuhanan. Firman Allah, “
Mereka tidak lalai dari mengingat Allah dalam melakukan bisnis dan jual beli.
Mereka mendirikan shalat dan membayar zakat”… (QS.24:37)
Dari ayat tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa seluruh aktivitas bisnis tidak
boleh melupakan Tuhan dan jauh dari nilai-nilai keilahian, baik dalam kegiatan
produksi, distribusi, strategi pemasaran, maupun pada saat menikmati kesuksesan
(menerima penghargaan dan applause).
Jadi, dalam menjalankan bisnis MLM perlu diwaspadai dampak negatif psikologis
yang mungkin timbul, sehingga membahayakan kepribadian, seperti yang dilansir
Dewan Syari’ah Partai Keadilan, yaitu adanya eksploitasi obsesi yang berlebihan
untuk mencapai terget jaringan dan penjualan. Karena terpacu oleh sistem ini, suasana
yang tak kondusif kadang mengarah pada pola hidup hura-hura ala jahiliyah, seperti
ketika mengadakan acara pertemuan para members .
Kewajaran harga produk
Setiap perdagangan pasti berorientasi pada keuntungan. Namun Islam sangat
menekankan kewajaran dalam memperoleh keuntungan tersebut. Artinya, harga
produk harus wajar dan tidak dimark up sedemikian rupa dalam jumlah yang amat
mahal, sebagaimana yang banyak terjadi di perusahaan bisnis MLM saat ini.
Sekalipun Al-quran tidak menentukan secara fixed besaran nominal keuntungan yang
wajar dalam perdagangan, namun dengan tegas Al-quran berpesan, agar pengambilan
keuntungan dilakukan secara fair, saling ridha dan menguntungkan. Firman Allah :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang saling ridha di antara
kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah maha Penyayang
kepadamu. )QS.4:29).
Dalam konteks ini, tidak sedikit masyarakat yang berpendapat bahwa produk yang
ditawarkan perusahaan MLM sangat mahal dan terlalu eksklusif, sehingga kerap kali

86
memberatkan anggota yang berada di level bawah (down line) serta masyarakat
pemakai dan sangat menguntungkan level di atasnya (up line). Seringkali harga
produk dimark up sampai dua bahkan tiga kali lipat dari harga yang sepatutnya. Hal
ini seharusnya dihindari, karena cara ini adalah mengambil keuntungan dengan cara
yang bathil, karena mengandung unsur kezaliman, yakni memberatkan masyarakat
konsumen.
Penetapan harga yang terlalu tinggi dari harga normal, sehingga memberatkan
konsumen, dapat dianalogikan dengan ghabn, yaitu menjual satu barang dengan harga
tinggi dari harga pasar.
12 syarat agar MLM menjadi syari’ah
1. Produk yang dipasarkan harus halal, thayyib (berkualitas) dan menjauhi syubhat
(Syubhat adalah sesuatu yang masih meragukan).
2. Sistem akadnya harus memenuhi kaedah dan rukun jual beli sebagaimana yang
terdapat dalam hukum Islam (fikih muamalah)
3. Operasional, kebijakan, corporate culture, maupun sistem akuntansinya harus
sesuai syari’ah.
4. Tidak ada excessive mark up harga barang (harga barang di mark up sampai dua
kali lipat), sehingga anggota terzalimi dengan harga yang amat mahal, tidak sepadan
dengan kualitas dan manfaat yang diperoleh.
5. Struktur manajemennya memiliki Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) yang terdiri
dari para ulama yang memahami masalah ekonomi.
6. Formula intensif harus adil, tidak menzalimi down line dan tidak menempatkan up
line hanya menerima pasif income tanpa bekerja, up line tidak boleh menerima
income dari hasil jerih payah down linenya.
7. Pembagian bonus harus mencerminkan usaha masing-masing anggota.
8. Tidak ada eksploitasi dalam aturan pembagian bonus antara orang yang awal
menjadi anggota dengan yang akhir
9. Bonus yang diberikan harus jelas angka nisbahnya sejak awal.
10. Tidak menitik beratkan barang-barang tertier ketika ummat masih bergelut
dengan pemenuhan kebutuhan primer.
11. Cara penghargaan kepada mereka yang berprestasi tidak boleh mencerminkan
sikap hura-hura dan pesta pora, karena sikap itu tidak syari’ah. Praktik ini banyak
terjadi pada sejumlah perusahaan MLM.
12. Perusahaan MLM harus berorientasi pada kemaslahatan ekonomi ummat.
Misi Syari’ah
Usaha bisnis MLM, (khususnya yang dikelola oleh kaum muslimin), seharusnya
memiliki misi mulia dibalik kegiatan bisnisnya. Di antara misi mulia itu adalah :
1. Mengangkat derjat ekonomi ummat melalui usaha yang sesuai dengan tuntunan
syari’at Islam.
2. Meningkatkan jalinan ukhuwah ummat Islam di seluruh dunia
3. Membentuk jaringan ekonomi ummat yang berskala internasional, baik jaringan
produksi, distribusi maupun konsumennya sehingga dapat mendorong kemandirian
dan kejayaan ekonomi ummat.
4. Memperkokoh ketahanan akidah dari serbuan idiologi, budaya dan produk yang
tidak sesuai dengan nilai-nilai Islami.
5. Mengantisipasi dan mempersiapkan strategi dan daya saing menghadapi era
globalisasi dan teknologi informasi.
6. Meningkatkan ketenangan konsumen dengan tersedianya produk-produk halal dan
thayyib.
by:ekiszone.wordpress.com

87
Label: ARTIKEL

Penyelesaian Sengketa MLM Syariah

17 Februari 2010

PENYELESAIAN SENGKETA BISNIS SYARIAH

(MULTI LEVEL MARKETING SYARIAH)

Oleh : Drs. Tatang Sutardi, M.HI.

1. Konsep Dasar

Bisnis dalam syariah Islam pada dasarnya termasuk kategori muamalah yang hukum
asalnya adalah boleh berdasarkan kaidah fiqhiyah berikut ini:

Artinya : Pada dasarnya segala hukum dalam muamalah adalah boleh kecuali ada
dalil yang melarangnya.

Islam memahami bahwa perkembangan budaya bisnis berjalan begitu cepat dan
dinamis. Berdasarkan kaidah fiqhiyah di atas, maka terlihat bahwa Islam memberikan
jalan bagi manusia untuk melakukan berbagai improvisasi dan inovasi melalui sistem,
teknik dan media dalam melakukan bisnis.

Islam memiliki prinsip-prinsip tentang pengembangan sistem bisnis yaitu harus


terbebas dari unsur dharar (bahaya), jahalah (ketidakjelasan) dan zhulm (merugikan
atau aniaya terhadap salah satu pihak). Bisnis juga harus terbebas dari unsur maisir
(judi), gharar (penipuan), haram, riba, iktinaz atau ihtikar dan bathil.

Bisnis yang berbasis syariah di luar lembaga keuangan syariah bank dan nonbank
yang menunjukkan perkembangan dewasa ini adalah bisnis multi level marketing
(MLM).

Multi Level Marketing (selanjutnya disebut MLM) sebagai penjualan langsung


menggunakan sistem network marketing semakin banyak dipilih perusahaan dalam
memasarkan produk dan jasa. Skema piramid yang dihasilkan melalui jaringan sangat
membantu perusahaan memasarkan produk/jasa yang asalnya belum terkenal untuk
meraih pasar dalam waktu singkat tanpa harus mengeluarkan biaya iklan besar di
media massa. Sementara bagi anggota (member) tawaran bonus diberikan dalam
bentuk potongan harga, bonus pembelian langsung atau bonus jaringan[1].

Kemunculan trend strategi pemasaran produk melalui sistem MLM di dunia bisnis
modern sangat menguntungkan bayak pihak seperti pengusaha disebabkan adanya

88
penghematan biaya iklan. Bisnis ini juga menguntungkan para distributor yang
berperan sebagai simsar (mitra niaga).

Sistem marketing MLM lahir pada tahun 1939 merupakan kreasi dan inovasi
marketing yang melibatkan masyarakat konsumen dalam kegiatan usaha pemasaran
dengan tujuan agar masyarakat konsumen dapat menikmati manfaat produk dan
manfaat finansial dalam bentuk insentif, tabungan hari tua dan bahkan kepemilikan
saham perusahaan[2].

MLM yang menggunakan strategi pemasaran secara bertingkat (levelisasi)


mengandung unsur-unsur positif apabila diisi dengan nilai-nilai Islam dan sistemnya
disesuaikan dengan syariah Islam. MLM dipandang memiliki unsur sillaturrahim,
dakwah dan tarbiyah.

Bisnis yang dijalankan dengan sistem MLM tidak hanya sekedar menjalankan
penjualan produk barang, tetapi juga jasa yaitu jasa marketing berlevel-level dengan
imbalan berupa marketing fee, bonus, hadiah dan sebagainya tergantung prestasi dan
level seorang anggota. Jasa marketing yang bertindak sebagai perantara antara
produsen dan konsumen dalam istilah fiqh disebut samsarah/simsar.

Kegiatan samsarah dalam bentuk distributor, agen, member atau mitra niaga dalam
fiqh termasuk dalam akad ijarah yaitu suatu transaksi memanfaatkan jasa orang lain
dengan imbalan, insentif atau bonus (ujrah). Semua ulama membolehkan akad seperti
ini[3].

Perusahaan MLM biasa memberi reward atau insentif pada yang berprestasi. Islam
membenarkan seseorang mendapatkan insentif lebih besar dari yang lainnya
disebabkan keberhasilannya dalam memenuhi target penjualan tertentu dan
melakukan berbagai upaya positif dalam memperluas jaringan dan levelnya secara
produktif. Hal ini sesuai dengan kaidah ushul fiqh :

Artinya : Besarnya upah itu tergantung pada kadar kesulitan dan pada kadar
kesungguhannya.

Penghargaan kepada up line (level atas) yang mengembangkan jaringan kepada level
di bawahnya (down line) dengan cara bersungguh-sungguh, memberikan pembinaan,
pengawasan serta keteladanan prestasi patut dilakukan, dan atas jerih payahnya itu
berhak mendapat bonus dari perusahaan sesuai dengan Hadis Nabi Muhammad saw.
yang artinya: Barangsiapa di dalam Islam berbuat suatu kebajikan. Maka padanya
diberi pahala serta pahala dari orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun.

Dalam MLM insentif diberikan dengan merujuk skim ijarah. Insentif ditentukan oleh
dua kriteria yaitu dari segi prestasi penjualan produk dan dari sisi berapa banyak
down line yang dibina sehingga ikut menyukseskan kinerja.

Dalam hal menetapkan nilai insentif, ada tiga syarat syariah yang harus dipenuhi,
yaitu (i) adil, yakni insentif seseorang up line tidak mengurangi hak orang lain di
bawahnya (down line) sehingga tidak ada yang didzalimi; (ii) terbuka, yaitu
diinformasikan kepada seluruh anggota, bahkan dalam menentukan sistemnya dan
pembagian insentif para anggota harus diikut sertakan sehingga dalam menentukan

89
insentif tersebut tidak sepihak; dan (iii) berorientasi falah (keuntungan dunia dan
akhirat) yaitu dengan berbisnis seorang telah menjalankan ibadah dan telah
membantu orang lain untuk memenuhi keperluan hidupnya, sehingga dalam
pemberian insentif tersebut dalam koridor tasyakur agar penerimanya terhindar dari
takabur dan kufur nikmat.

Dalam menjalankan bisnis MLM perlu diwaspadai dampak negatif psikologis yang
mungkin timbul sehingga membahayakan kepribadian, yaitu adanya eksploitasi yang
berlebihan untuk mencapai target jaringan dan penjualan. Karena terpacu oleh sistem
ini akan menimbulkan suasana tidak kondusif dan persaingan tidak sehat.

Adapun kriteria bisnis Multi Level Marketing (MLM) Syariah adalah sebagai
berikut[4].

1. Produk yang dipasarkan adalah produk halal, thayyib (berkualitas) dan jauh
dari syubhat (sesuatu yang masih meragukan).
2. Sistem akad memenuhi kaidah dan rukun jual beli sebagaimana yang terdapat
dalam hukum Islam (fiqh muamalah).
3. Operasional, kebijakan, corporate culture dan sistem akuntansi sesuai dengan
syariah.
4. Tidak ada excessive mark up harga yaitu harga barang dimark up sampai dua
kali lipat, sehingga anggota terzalimi dengan harga yang amat mahal, tidak
sepadan dengan kualitas dan manfaat yang diperoleh.
5. Struktur manajemen memiliki Dewan Pengawas Syariah yang terdiri dari para
ulama yang memahami masalah ekonomi.
6. Formula insentif adil, tidak menzalimi down line dan tidak menempatkan up
line hanya penerima pasif income tanpa bekerja, up line tidak menerima in
come dari hasil jerih payah down line.
7. Pembagian bonus mencerminkan usaha masing-masing anggota.
8. Tidak ada eksploitasi dalam aturan pembagian bonus antara orang yang
terdahulu menjadi anggota dengan orang yang terakhir menjadi anggota.
9. Insentif (bonus) yang diberikan jelas angka nisbahnya sejak awal.

10. Tidak menitik beratkan barang-barang tertier ketika masyarakat masih bergelut
dengan pemenuhan kebutuhan primer.

11. Cara penghargaan kepada anggota yang berprestasi tidak mencerminkan sikap
hura-hura dan pesta pora.

12. Perusahaan MLM berorientasi pada kemaslahatan ekonomi umat.

Bisnis MLM Syariah memiliki misi mulia dibalik kegiatan bisnisnya antara lain :

1. Mengangkat derajat ekonomi umat melalui usaha yang sesuai dengan tuntunan
syariat Islam.
2. Meningkatkan jalinan ukhuwah Islamiyah.
3. Membentuk jaringan ekonomi umat berupa jaringan produksi, distribusi dan
konsumen sehingga dapat mendorong kemandirian dan kejayaan ekonomi
umat.

90
4. Memperkokoh ketahanan akidah dari serbuan idiologi, budaya dan produk
yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islami.
5. Mengantisipasidan mempersiapkan strategi dan daya saing menghadapi era
globalisasidan teknologi informasi.
6. Meningkatkan ketenangan konsumen dengan tersedianya produk-produk halal
dan thayib.

2. Bentuk Sengketa Bisnis Multi Level Marketing Syariah

Bisnis MLM Syariah adalah bisnis yang memiliki kejelasan akad, yaitu jual beli
dengan akad murabahah yang harus jelas barang yang diperjualbelikan serta jumlah
marjin profit yang disepakati. Disamping itu dalam bisnis MLM Syariah karena
menggunakan sistem network marketing dikenal dengan adanya insntif (bonus) yang
merujuk pada skim ijarah sebagai insentif dari profesi penjualan produk dan
banyaknya down line yang dibina untuk menyukseskan kinerja.

Dengan berpedoman kepada kriteria di atas, apabila terjadi sengketa dalam bisnis
multi level marketing (MLM) syariah, bentuk sengketanya berupa salah satu pihak
yaitu perusahaan dan member baik up line maupun down line tidak menjalankan
perjanjian akad yang telah disepakati, misalnya:

a. Member tidak memberikan marjin profit yang telah disepakati dalam menjual suatu
produk kepada perusahaan, sehingga perusahaan mengalami kerugian.

b. Perusahaan tidak memberikan insentif (bonus) yang telah disepakati kepada


member yang telah banyak membina down line di bawahnya, sehingga member
merasa dirugikan.

3. Bentuk Penyelesaian Sengketa Bisnis MLM Syariah Dalam Formulasi


Syariah Di Indonesia

Sengketa (dispute, geschil) merupakan suatu fenomena sosial yang akan selalu
ditemukan dalam masyarakat tradisional, masyarakat modern ataupun masyarakat
pasca modern pada berbagai tempat di dunia berkenaan dengan berbagai persoalan[5].

Penyelesaian sengketa (dispute setlement) merupakan salah satu fungsi hukum yang
disebut untuk mengatur kehidupan bermasyarakat agar berjalan baik dan lancar
sehingga sering dikemukakan bahwa salah satu fungsi hukum adalah sebagai sarana
untuk memperlancar interaksi sosial[6].

Sengketa bisnis adalah sengketa yang timbul diantara pihak-pihak yang terlibat dalam
berbagai macam kegiatan bisnis dikarenakan adanya conflict of interest diantara para
pihak yang bersengketa.

Cara penyelesaian sengketa bisnis pada dasarnya dibedakan menjadi beberapa


macam, yaitu (i) adjudikatif yakni penyelesaian sengketa dengan cara pengambilan
keputusan oleh pihak ketiga dengan menghasilkan putusan yang bersifat win-lose
solution, (ii) Konsensus/kompromi, yakni dengan cara penyelesaian sengketa secara
kooperatif untuk mencapai solusi yang bersifat win-win solution dan (iii) Quasi
adjudikatif yakni dengan cara kombinasi antara unsur konsensus dan adjudikatif[7].

91
Disamping pembagian di atas, mekanisme penyelesaian sengketa bisnis dapat pula
dibedakan menjadi dua, yaitu pertama, melalui jalur ligitasi dengan cara penyelesaian
perkara melalui jalur pengadilan dengan menggunakan pendekatan hukum melalui
aparat atau lembaga hukum yang berwenang sesuai dengan aturan perundang-
undangan, dan kedua, jalur nonligitasi dengan mekanisme penyelesaian sengketa di
luar pengadilan dengan mekanisme yang hidup di masyarakat seperti musyawarah,
perdamaian, kekeluargaan dan lain-lain serta yang sedang berkembang dan diminati
para pelaku bisnis adalah melalui lembaga Alternative Dispute Resolution (ADR)[8].

MLM syariah termasuk dalam bisnis syariah sebagai bagian dari ekonomi syariah
sebagaimana penjelasan Pasal 49 huruf (i) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006,
karena yang dipergunakan “antara lain” pada awal rincian pasal tersebut menunjukkan
bahwa rincian tersebut pada huruf (a) sampai dengan huruf (k), tidak bersifat limitatif,
tetapi masih terbuka pada bentuk kegiatan lainnya seperti MLM Syariah, walaupun
untuk hal ini dalam kaitannya dengan kewenangan peradilan agama masih terdapat
perbedaan pendapat.

Prinsip syariah dalam MLM, tidak hanya pada pembentukan sistem ekonominya an
sich, tetapi juga dalam penyelesaian sengketa yang terjadi, yaitu penyelesaian
sengketa yang bersifat syariah pula, misalnya penyelesaian sengketa lebih diutamakan
melalui perdamaian (sulh) dari pada penyelesaian sengketa secara formal. Disamping
itu kelembagaan yang berperan untuk menyelesaikan sengketa MLM Syariah harus
lembaga yang menampakkan penerapan syariah, seperti Mediasi Syariah, Arbritase
Syariah dan Pengadilan Agama sebagai badan peradilan yang juga ditugasi untuk
penerapan syariat Islam di Indonesia.

Dalam berbagai fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-
MUI) disebutkan bahwa penyelesaian pertama mengenai ekonomi syariah dilakukan
melalui musyawarah. Hal ini adalah sesuai dengan prinsip Islam untuk menyelesaikan
sengketa melalui musyawarah baik yang dilakukan sendiri oleh para pihak atau
menyelesaikan dengan perantaraan seorang mediator yang disebut dengan proses
mediasi atau sulh[9].

Mediasi adalah salah satu bentuk penyelesaian sengketa yang paling tua yang dikenal
oleh manusia yang dibedakan pada traditional mediation, yaitu mediasi yang berakar
pada budaya lokal dan berbagai mediasi yang dikenal dalam masyarakat modern yang
disebut modern mediation sebagai salah satu bentuk dari Alternative Dispute
Resolution (ADR)[10], yang di Negara Indonesia telah mendapat pengaturan dalam
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa.

Disamping bentuk mediasi tersebut di atas, dikenal pula dengan Mediasi Peradilan
yaitu penyelesaian sengketa melalui prosedur mediasi pengadilan yang dalam hal ini
telah diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2008 Tentang
Prosedur Mediasi Di Pengadilan.

Apabila usaha penyelesaian sengketa melalui musyawarah yang diantaranya dengan


mediasi tidak berhasil, maka dapat dilakukan melalui arbitrase yaitu salah satu
mekanisme alternatif penyelesaian sengketa kepada arbiter ahli yang profesional,
yang akan bertindak sebagai pemutus dengan menerapkan tata cara hukum negara

92
atau tata cara hukum perdamaian yang telah disepakati bersama oleh para pihak untuk
sampai pada putusan yang final dan mengikat.

Salah satu lembaga arbitrase yang mempunyai peran penting dalam penyelesaian
sengketa ekonomi syariah (termasuk di dalamnya bisnis MLM Syariah) adalah Badan
Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) yang pada saat didirikannya bernama
Badan Arbitrase Muamalat Indonesia (BAMUI) yang didirikan pada tanggal 21
Oktober 1993 yang pada tanggal 24 Desember 2003 diubah menjadi Badan Arbitrase
Syariah Nasional.

Badan Arbitrase Syariah Nasional berwenang[11]:

a. Menyelesaikan secara adil dan cepat sengketa muamalah (perdata) yang timbul
dalam bidang perdagangan, keuangan, industri, jasa dan lain-lain yang menurut
hukum dan peraturan perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang
bersengketa, dan para pihak sepakat secara tertulis untuk menyerahkan
penyelesaiannya kepada BASYARNAS sesuai dengan prosedur BASYARNAS.

b. Memberikan pendapat yang mengikat atas permintaan para pihak tanpa adanya
suatu sengketa mengenai persoalan berkenaan dengan suatu perjanjian.

BASYARNAS mempunyai prosedur yang memuat ketentuan-ketentuan antara lain;


permohonan untuk mengadakan arbitrase, penetapan arbiter, acara pemeriksaan,
perdamaian, pembuktian dan saksi/ahli, berakhirnya pemeriksaan, pengambilan
putusan, perbaikan putusan, putusan, pembatalan putusan, pendaftaran putusan,
pelaksanaan putusan (eksekusi), biaya arbitrase. Kemudian ditentukan pula bahwa
kesepakatan untuk menyerahkan penyelesaian sengketa kepada BASYARNAS,
dilakukan oleh pihak (a) dengan mencantumkan klausula arbitrase dalam suatu naskah
perjanjian, atau (b) dengan perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat dan disetujui
oleh para pihak, baik sebelum maupun sesudah timbul sengketa.

Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Kewenangan Pengadilan


Agama tidak bersentuh dengan arbitrase. Dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2006 Pengadilan Agama berwenang memeriksa perkara-perkara ekonomi
syariah, maka sesuai dengan sifatnya, sengketa-sengketa ekonomi syariah menjadi
terbuka untuk diselesaikan melalui lembaga arbitrase yang telah diatur dalam
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.

Dalam penyelesaian sengketa bisnis MLM Syariah apabila dalam akad perjanjian
tidak dicantumkan klausula arbitrase syariah, Pengadilan Agama berwenang
memeriksa, mengadili dan memutuskan sengketa bisnis MLM Syariah sesuai dengan
pemeriksaan perdata sebagaimana diatur dalam HIR/R.Bg. dengan memperhatikan
secara khusus (lex spesialis) hal-hal yang berkenaan dengan prinsip-prinsip ekonomi
dan pertimbangan-pertimbangan mengenai prinsip syariah yang diterapkan.
Disamping itu perlu dipertimbangkan sesuai dengan kasus yang diperiksa yaitu bisnis
MLM syariah, fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional dan Peraturan Mahkamah Agung
Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES).

4. Hambatan-Hambatan Yang Dihadapi Dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis


MLM Syariah

93
Dalam penyelesaian sengketa bisnis MLM Syariah melalui jalur musyawarah dan
mediasi tidak akan ditemukan hambatan yang berarti karena penyelesaian sengketa
tersebut tidak melalui lembaga formal dan bersipat tradisional sesuai dengan budaya
masyarakat yang ada dalam lingkungannya dengan tetap memperhatikan norma-
norma dan kaidah-kaidah syariah.

Penyelesaian sengketa bisnis MLM Syariah akan menemui hambatan manakala


melaui lembaga formal yaitu arbitrase apakah kewenangan Badan Arbitrase Nasional
Indonesia (BANI) atau Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) atau
melalui lembaga peradilan apakah kewenangan peradilan umum atau peradilan
agama.

Hambatan-hambatan tersebut disebabkan:

1. Para pelaku bisnis syariah (termasuk bisnis MLM Syariah) belum paham betul
tentang lembaga mana yang berwenang untuk menyelesaikan sengketa apabila
terjadi sengketa diantara mereka.
2. Para praktisi hukum lebih cenderung menyelesaikan sengketa bisnis melalui
lembaga arbitrase atau peradilan umum walaupun tehadap bisnis berlabel
syariah kecuali yang sudah jelas paraturan perundang-undangannya seperti
perbankan syariah.
3. Bisnis MLM Syariah dimasukkan kategori bisnis syariah adalah merupakan
penafsiran dari penjelasan Pasal 49 huruf (i) Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2006 dan belum memiliki peraturan perundang-undangan tersendiri.
4. Bisnis Syariah (termasuk bisnis MLM Syariah) adalah sistem perekonomian
yang baru tumbuh dan berkembang di Indonesia pada dasa warsa terakhir ini
yang belum dikenal oleh masyarakat luas dan hanya dikenal oleh kalangan
tertentu yang peduli terhadap sistem perekonomian berbasis syariah.

5. Pemecahan Masalah

Dalam kaitannya dengan kewenangan (competensi absolute) Pengadilan Agama


dalam menerima, memeriksa dan mengadili perkara ekonomi syariah yang merupakan
kewenangan baru pasca lahirnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 sebagaimana
tersebut pada Pasal 49 huruf (i) beserta penjelasannya, maka semua kegiatan
perekonomian yang berlabel syariah termasuk bisnis MLM Syariah, apabila terjadi
sengketa, penyelesaian sengketanya melalu Pengadilan Agama kecuali apabila dalam
perjanjiannya memuat klausula arbitrase syariah.

Untuk mengantisipasi kesalahpahaman bagi para pelaku bisnis syariah dan para
praktisi hukum tentang lembaga yang berwenang penyelesaian sengketa bisnis syariah
adalah Pengadilan Agama perlu diadakan sosialisasi oleh Mahkamah Agung cq.
Dirjen Badilag. Disamping itu para notaris pun harus diberi pelatihan dan pendidikan
serta pengetahuan tentang ekonomi syariah termasuk lembaga yang berwenang
menangani sengketa ekonomi syariah, sehingga dalam setiap akta yang dibuat yang
berhubungan dengan ekonomi syariah bila terjadi sengketa menjadi kewenangan
Pengadilan Agama.

Untuk menghindari dari kekaburan penafsiran tentang bisnis syariah, dibutuhkan


peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kriteria dan jenis-jenis bisnis

94
syariah seperti undang-undang atau peratuaran Mahkamah Agung, sehingga terdapat
kepastian hukum dan tidak akan lagi terjadi multi tafsir dan sengketa kewenangan
antara peradilan umum dengan peradilan agama.

Untuk meningkatkan citra dan kepercayaan publik kepada lembaga peradilan agama,
seluruh aparatur Pengadilan Agama, staf, pejabat fungsional dan struktural, terutama
para hakim harus meningkatkan kwalitas keilmuan yang berhubungan dengan
ekonomi syariah, sehingga keraguan bahkan ketidak percayaan publik akan
kemampuan Pengadilan Agama menangani perkara ekonomi syariah, tidak terbukti.

6. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1. Bisnis Multi Level Marketing (MLM) Syariah adalah bisnis yang


menggunakan strategi network marketing, yaitu bisnis yang tidak hanya
sekedar menjalankan penjualan produk barang, tetapi juga jasa yaitu jasa
marketing berlevel-level dengan imbalan berupa marketing fee, bonus, hadiah
dan sebagainya tergantung prestasi dan level seorang anggota. Jasa marketing
yang bertindak sebagai perantara antara produsen dan konsumen dalam istilah
fiqh disebut samsarah/simsar.
2. MLM syariah termasuk dalam bisnis syariah sebagai bagian dari ekonomi
syariah sebagaimana penjelasan Pasal 49 huruf (i) Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2006.
3. Bentuk sengketa dalam MLM syariah adalah berupa salah satu pihak yaitu
perusahaan dan member baik up line maupun down line tidak menjalankan
perjanjian akad yang telah disepakati yakni berupa akad murabahah dan akad
ijarah.
4. Penyelesaian sengketa MLM syariah melalui jalur musyawarah (perdamaian,
rekonsiliasi dan mediasi) diantara para pihak atau melalui lembaga formal
seperti mediasi pengadilan, Badan Arbitrase Syariah Nasional dan Pengadilan
Agama.
5. Pengadilan Agama adalah badan peradilan yang berwenang untuk
menyelesaikan sengketa bisnis yang berbasis syariah sebagaimana ketentuan
peraturan perundang-undangan dalam Pasal 49 huruf (i) beserta penjelasannya
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006.
6. Diperlukan sosialisasi hukum bisnis syariah kepada para pelaku bisnis, praktisi
hukum, notaris dan pihak-pihak yang terkait agar terhindar dari multi tafsir
dan sengketa kewenangan mengadili apabila terjadi sengketa bisnis syariah.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurahman, Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah, Makalah Pembinaan Teknis


Yudisial di Lingkungan PTA. Palembang, 16-18 Juli 2008

Agustianto, Makalah Tentang MLM Syariah, 2008

Ahmad Basuni, Al-Iqtishad, 2000

95
Bambang Sutioso, Penyelesaian Sengketa Bisnis

Muhamad Hidayat, Analisis Teoritis Normatif MLM dalam Persfektif Muamalah,


2002

Sayyid sabiq, Fiqh Sunah, Beirut: Darul Fikr

www.wirausaha.com

Zona Ekonomi Islam–Pembahasan tentang tujuan-tujuan sistem ekonomi Islam di


atas menunjukkan bahwa kesejahteraan material yang berdasarkan nilai-nilai spiritual
yang kokoh merupakan dasar yang sangat perlu dari filsafat ekonomi Islam.

Karena dasar sistem Islam sendiri berbeda dari sosialisme dan kapitalisme, yang
keduanya terikat pada keduniaan dan tak berorientasi pada nilai-nilai spiritual, maka
suprastrukturnya juga mesti berbeda. Usaha apapun untuk memperlihatkan persamaan
Islam dengan kapitalisme atau sosialisme hanyalah akan memperlihatkan kekurang-
pengertian tentang ciri-ciri dasar dari ketiga sistem tersebut.

Disamping itu, sistem Islam betul-betul diabdikan kepada persaudaraan umat manusia
yang disertai keadilan ekonomi dan sosial serta distribusi pendapatan yang adil, dan
kepada kemerdekaan individu dalam konteks kesejahteraan sosial.

Dan perlu dinyatakan disini, bahwa pengabdian ini berorientasi spiritual dan terjalin
erat dengan keseluruhan jalinan nilai-nilai ekonomi dan sosialnya. Berlawanan
dengan ini, orientasi kapitalisme modern pada keadilan ekonomi dan sosial dan
distribusi pendapatan yang adil hanyalah bersifat parsial saja, dan merupakan akibat
desakan-desakan kelompok masyarakat, bukannya merupakan dorongan dari tujuan
spiritual untuk menciptakan persaudaraan umat manusia, dan tidak merupakan bagian
integral dari keseluruhan filsafatnya.

Sedang orientasi sosialisme, walaupun dinyatakan sebagai hasil dari filsafat dasarnya,
tidaklah benar-benar berarti, karena tiadanya pengabdian kepada cita persaudaraan
umat manusia dan kriteria keadilan dan persamaan yang adil berdasarkan spiritual di
satu pihak, dan di pihak lain karena hilangnya kehormatan dan identitas individu yang
disebabkan karena tidak diakuinya kemerdekaan individu, yang merupakan kebutuhan
dasar manusia.

Komitmen Islam terhadap kemerdekaan individu dengan jelas membedakannya dari


sosialisme atau sistem apapun yang menghapuskan kebebasan individu. Saling rela
tak terpaksa antara penjual dan pembeli, menurut semua ahli hukum Islam, adalah
merupakan syarat sahnya transaksi dagang. Persaratan ini bersumber dari ayat Al-
Qur’an: “Wahai orang-orang beriman! Janganlah kamu memakan harta salah seorang
diantaramu dengan jalan yang tidak benar; dapatkanlah harta dengan melalui jual beli
dan saling merelakan” (QS. 4:29).

Satu-satunya sistem yang sesuai dengan semangat kebebasan dalam way of life Islam
ini adalah sistem dimana pelaksanaan sebagian besar proses produksi dan distribusi

96
barang-barang serta jasa diserahkan kepada individu-individu atau kelompok-
kelompok yang dibentuk dengan sukarela, dan dimana setiap orang diijinkan untuk
menjual kepada, dan membeli dari siapapun yang dikehendakinya dengan harga yang
disetujui oleh kedua belah pihak.

Kebebasan berusaha, berlawanan dengan sosialisme, memberikan kemungkinan untuk


hal itu dan diakui oleh Islam bersama-sama dengan unsur-unsur yang
mendampinginya, yaitu pelembagaan hak milik pribadi.

Al-Qur’an, As-Sunnah, dan literatur fiqh penuh dengan pembahasan yang terperinci
tentang norma-norma yang menyangkut pencarian dan pembelanjaan harta benda
pribadi dan perdagangan, dan jual beli barang-barang dagangan, disamping
pelembagaan zakat dan warisan.

Yang pasti tidak akan dibahas dengan demikian terperinci seandainya pelembagaan
hak milik pribadi atas sebagian besar sumber-sumber daya yang produktif tidak diakui
oleh Islam. Karena itu, peniadaan hak milik pribadi ini tidak dapat dipandang sesuai
dengan ajaran Islam.

Mekanisme pasar juga dapat dipandang sebagai bagian integral dari sistem ekonomi
Islam, karena di satu pihak pelembagaan hak milik pribadi tidak akan dapat berfungsi
tanpa pasar.

Dan dilain pihak, pasar memberikan kesempatan kepada para konsumen untuk
mengungkapkan keinginannya terhadap produk barang atau jasa yang mereka senangi
diiringi kesediaan mereka untuk membayar harganya, dan juga memberikan kepada
para pemilik sumber daya (produsen) kesempatan untuk menjual produk barang atau
jasanya sesuai dengan keinginan bebas mereka.

Motif mencari keuntungan, yang mendasari keberhasilan pelaksanaan sistem yang


dijiwai kebebasan berusaha, juga diakui oleh Islam. Hal ini dikarenakan keuntungan
memberikan insentif yang perlu bagi efisiensi pemakaian sumberdaya yang telah
dianugerahkan Allah kepada umat manusia.

Efisiensi dalam alokasi sumber daya ini merupakan unsur yang perlu dalam
kehidupan masyarakat yang sehat dan dinamis. Tetapi karena adalah mungkin untuk
menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama, dan dengan demikian membawa
kepada berbagai penyakit ekonomi dan sosial, maka Islam menempatkan pembatasan-
pembatasan moral tertentu atas motif mencari keuntungan, sehingga motif tersebut
menunjang kepentingan individu dalam konteks sosial dan tidak melanggar tujuan-
tujuan Islam dalam keadilan ekonomi dan sosial serta distribusi pendapatan dan
kekayaan yang adil.

Pengakuan Islam atas kebebasan berusaha bersama dengan pelembagaan hak milik
pribadi dan motif mencari keuntungan, tidaklah menjadikan sistem Islam mirip
dengan kapitalisme yang berdasarkan kebebasan berusaha. Perbedaan antara kedua
hal itu perlu difahami dikarenakan oleh dua alasan penting:

Pertama, dalam sistem Islam, walaupun pemilikan harta benda secara pribadi
diizinkan, namun ia harus dipandang sebagai amanat dari Allah, karena segala sesuatu

97
yang ada di langit dan di bumi sebenarnya adalah milik Allah, dan manusia sebagai
wakil (khalifah) Allah hanya mempunyai hak untuk memilikinya dengan status
amanat. Qur’an berkata:

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan dibumi” (QS. 2:84).

“Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi dan apa yang ada di dalamnya, kalau kamu
semua tahu? Pasti mereka akan menjawab: Milik Allah. Katakanlah: Kalau demikian,
maukah kamu semua berfikir?” (QS. 23:84-85).

“Dan berilah (bantulah) mereka dari kekayaan Allah yang telah diberikan Allah
kepadamu” (QS. 24:33).

Kedua, karena manusia adalah wakil Allah di bumi, dan harta benda yang dimilikinya
adalah amanat dari-Nya, maka manusia terikat oleh syarat-syarat amanat, atau lebih
khusus lagi, oleh nilai-nilai moral Islam, terutama nilai-nilai halal dan haram,
persaudaraan, keadilan sosial dan ekonomi, distribusi pendapatan dan kekayaan yang
adil, dan menunjang kesejahteraan masyarakat umum.

Harta benda haruslah dicari dengan cara-cara yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam,
dan harus dipergunakan untuk tujuan-tujuan yang menjadi tujuan penciptaannya.

asulullah saw bersabda:

“Harta benda memang hijau dan manis (mempesona); barangsiapa yang mencarinya
dengan cara yang halal, maka harta itu akan menjadi pembantunya yang sangat baik,
sedangkan barangsiapa yang mencarinya dengan cara yang tidak benar, maka ia akan
seperti seseorang yang makan tapi tak pernah kenyang” (HR. Muslim, dalam Shahih-
nya, 2:728). Wallahu a’lam bish-shawab.

Artikel Terkait:

• Distribusi Pendapatan yang Adil


• Prinsip Dasar Sistem Ekonomi Sosialis
• Kelemahan Sistem Ekonomi Sosialis
• Prinsip-Prinsip Dasar dalam Etika Bisnis Islam
• Sistem Ekonomi Kapitalis (Kapitalisme)

Pencarian yang terkait :

sistem ekonomi islam, sifat produksi, motif mencari keuntungan, sumber-sumber hak,
motif dan tujuan produksi menurut sistem ekonomi islam, bagaimana sifat proses
produksi, sistem ekonomi islam hak kepemilikan, sistem akutansi pada

98