Anda di halaman 1dari 11

Majalah Hukum Forum Akademika ==========:::====:::================================= 18

HUKUM SEBAGAI INSTRUMEN PERUBAHAN SO SIAL



Oleh : Raffles, S.H., M.II.

Dosen Bagian Hukurn dan Masyarakat Fakultas Hukurn Universitas Jambi

ABSTRAK

Hukum merupakan suatu sarana perekayasaan sosial (tool of social engeneering), dan tidak sekedar sebagai alat penertiban masyarakat semata-mata (tool of social controls. Sebagai instrumen perubahan sosial, segi hukum yang harus menjadi perhatian terutama oleh pemerintah adalah efektivitas keberlakuan di dalam masyarakat, Hukum dapat berfungsi efektif apabila ada landasan yuridisnya, landasan sosiologisnya, dan landasan filosofisnya.

Kata kunci : Hukum, Perubahan sosial, Instrumen

I. PENDAHULUAN

Apa kontribusi perangkat perundang-undangan kita dalam perekayasaan

mencapai masyarakat adil dan makmur? Pertanyaan hipotetis ini, menjadi relevan dikcrnukakan rnanakala kita tidak mclihat hukurn dan pcrundang-undangan itu scbagai "etalase" dan tidak juga sebagai norma yangberada di ruang kosong; tapi melihat hukum itu sebagai sesuatu yang selalu mengada dan berinteraksi ditengah dinamika kehidupan masyakat. (Artidjo Alkostar: 1986:ix)

Hukum suatu bangsa sesungguhnya merupakan pencerminan kehidupan sosial bangsa yang bersangkutan. Dengan demikian, layak pula bila dikatakan bahwa hukum adalah fungsi sosial suatu masyarakat. Tapi hukum bukanlah bangunan sosial yang statis, melainkan ia bisa berubah dan perubahan ini terjadi karena fungsinya untuk melayani masyarakatnya. Perubahan yang paling nyata terjadi manakala di ikuti sejarah sosial suatu masyarakat yang berlaku di situ (Satjipto Rahardjo: 1986:27)

Suatu perubahan yang dimulai pada suatu lembaga sosial tertentu, menurut Soerjono Soekanto (1989:23) aka11 menjalar ke lembaga-lembaga sosial lainnya, oleh karena sifat independensi dari lembaga-lernbaga sosial tcrsebut. Akan tetapi, masalahnya adalah sejauh manakah suatu lembaga sosial tertentu perkembangannya tergantung pada lembaga sosial lainnya, atau sampai sebcrapa jauhkah suatu lembaga sosial tertentu tidak terpengaruh oleh perubahan-perubahan yang terjadi pad a lembaga-lembaga sosial lainnya sehingga mungkin menjadi katalisator di dalam proses perubahan tersebut.

=

Majalah Hukum Forum Akademi ka ==============================================::== 19

Di dalam kehidupan masyarakat yang mempunyai taraf kebudayaan dan struktur sosial madya dan modern, hampir selalu ada perbedaan antara pola-pola perikelakuan yang nyata dengan pola-pola perikelakuan yang dikehendaki oleh hukum, oleh karena meningkatnya kompleksitas dan derajat deferensiasi, Menurut SoerjonoSoekanto, perbedaan tersebut merupakan suatu gejala yang wajar dan tidak dengan sendirinya berarti bahwa hukum selalu tertinggal. Daniel S. Lev, sebagaimana dikutip Soerjono Soekanto (1989:35) menyebutkan bahwa perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh

4

karena biasanya hukum dibentuk dan disahkan oleh sebagian kecil dari rnasyarakat yang

pada suatu saat memegang kekuasaan. Walaupun mereka dianggap mewakili masyarakat, akan tetapi adalah tidak rnungkin untuk mengetahui, memahami, menyadari dan rnerasakan setiap kebutuhan dari bagian terbesar warga-warga masyarakat.

Soerjono Soekanto menggambarkan lebih jelas permasalahan yang sering muneul terkait dengan fungsi hukum sebagai "social engeneering" dan "social control" terhadap perubahan sosial dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, tertinggalnya perkembangan hukum apabila dibandingkan dengan perubahan sosial pada umumnya baru terjadi dalam situasi-situasi dinamis, dimana perubahan-perubahan sosial tidak diikuti dengan penyesuaian oleh hukum. Problem lainnya yang mungkin timbul adalah tertinggalnya perkembangan rnasyarakat oleh perubahan yang terjadi dalam hukum, atau, perubahan yang ingin dicapai melalui hukum tidak diikuti masyarakat.

- II. PERUBAHAN SOSIAL MASY ARAKA T

Perubahan sosial menurut Satjipto Rahardjo (1986) merupakan kategori umum yang di dalammnya memuat ban yak bentuk-bentuk yang lebih khusus. Bangsa Indonesia sekarang sudah berada dalam proses modernisasi dan pembangunan. Jika perubahan sosial itu boleh dibilang masih bersifat umum, maka modernisasi serta pembangunan sudah merupakan pengertian yang berisi, dan dengan demikian maka tidak lagi netral. Ketidaknetralan itu disebabkan oleh perubahan sosial di sini diterima sebagai perubahan yang mempunyai tujuan tertentu, yaitu dikaitkan pacta pertumbuhan dan kemajuan.

Mengenai sebab-sebab terjadinya perubahan sosial dapat ditelusuri dari pendapat Soerjono Soekanto (1989:23-25). menu rut Soerjono Soekanto, apabila ditelaah perihal apa yang menjarli sebab terjadinya suatu peru bahan, maka pada umumnya dapat

ISSN : 0854 -798 X

Volume Is Nomor 2 Oktober 2008

MojaJah Hukum Forum Akcdemikc ================================================= 20

dikatakan bahwa unsur yang dirubah biasanya merupakan unsur yang tidak memuaskan lagi bagi masyarakat. dikarenakan adanya unsur baru yang lebih memuaskan sebagai pengganti unsur lama. Pada umumnya, sebab-sebab tcrjadinya perubahan sosial dapat bersumber paela masyarakat itu seneliri dan ada yang letaknya di luar masyarakat lain atau eli alam sekelilingnya. Sebab-sebab yang bersumber pada masyarakat itu sendiri adalah an tara lain, bertambah atau berkurangnya penduduk, penemuan-penemuan baru, pertentangan-pertentangan, dan terjadinya revolusi. Perubahan dapat pula terjadi karena lingkungan alarn, peperangan, pengaruh budaya lain, dan lain sebagainya."

Sebagaimana pendapat Soerjono Soekanto tentang sebab-sebab terjadinya perubahan sosial, Satjipto Rahardjo (1980:96) juga menjelaskan bahwa "banyak alasan yang dapat dikemukakan yang dapat dipandang sebagai sebab timbulnya suatu perubahan di dalam masyarakat. Menurut Satjipto, perubaban dalam penerapan hasil-hasil teknologi modern dewasa ini ban yak disebut-sebut sebagai salah satu sebab terjadinya perubahan sosial. Penemuan baru di bidang teknologi tidak hanya memberikan tambahan kekayaan kebudayaan material melainkan juga menimbulkan kebutuhan untuk melakukan penyesuaian kepada penggunaan hasil teknologi yang baru tersebut.

Timbulnya industri-inelustri menyebabkankan tirnbulnya perubahan di dalam susunan mas~arakat (strata sosial) yang disebabkan oleh munculnya golongan buruh. Pengertian hak milik yang semula mengatur hubungan yang langsung dan nyata antara pemilik dan barang juga rnengalami perubahan. Perubahan di sini mengenal arah tertentu dan tidak acak-acakan sifatnya, ia bersifat longitudinal dan bergerak dari satu ke tingkat yang lain.

Dalam hal ini maka yang terjadi adalah perubahan sosial dari yang bersifat tradisional ke arah masyarakat yang modern. Modernisasi merupakan perubahan sosial yang menyangkut nilai-nilai at au asas-asas kehidupan masyarakat yang fundamental. Terkait dengan modernisasi, Samuel P. Huntington dalam bukunynya Political Order In Change Societies sebagaimana dikutip elengan baik oleh Satjipto Rahardjo (1980:97) menyatakan bahwa "untuk dapat melaksanakan modemisasi dengan baik, suatu sistem politik itu pertama-tama harus mampu melakukan pembaruan polity,yaitu untuk memajukan kehidupan sosial dan ekonomi dengan perombakan melaiui tindakantindakan kenegaraan" Ini berarti bahwa harus ada kebijakan pemerintah yang mendukung

. '"' _.SO) ow< Vorl;m;'1~'N~mortt5ktober2tlmf

Majalah Hukum Forum Akademi ko ============================================::::;:== 21

dan mendorong terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat untuk menuju ke arah kemajuan yang lebih baik, yang dalam bahasa Huntington disebut sebagai modernisasi.

III. HUKUM DAN PERUBAHAN SOSIAL

3.1. Keteraturan sebagai ukuran perubahan

W.G. Summer dalam Georges Gurvitch (1996:18) menekankan peranan

pengaturan masyarakat (societal regulation) merupakan salah satu kebutuhan mutlak dari

4

kehidupan masyarakat. Pen gatu ran demikian dimaksudkan untuk _ terwujudnya

keteraturan dalam masyarakat, Berkenaan dengan keteraturan ini, Gurvitch menyatakan bahwa keteraturan (regularities) dalam perubahan yang dapat dilaksanakan bagi kehidupan sosial hanya dapat dikenakan pada makrososiologi karena ada hubungannya dengan struktur. dan hubungan yang serba-meliputi antara kelompok (Gurvitch: 1986:264)

Lebih lanjut Gurvitch menjeJaskan bahwa Keteraturan umum perubahan lembaga hukum, menurut dugaan beberapa ahli sosiologi telah mereka saksikan, dapat dikernbalikan kepada gerak dari keunggulan undang-undang terhadap kontrak (Spencer dan Maine); peluasan dan generalisasi lingkungan orang-orang yang terikat pada tat a tertib hukum yang sarna (Tarde); ganti yang progresif dari hukum restitutif untuk hukum refresif dan perkembangan peranan negara dan kontrak yang sejajar (Durkheim).

Sebenarnya - menurut Gurvitch- segala keteraturan (regularities) ini hanya berlaku bagi perubahan hukum dalam tipe masyarakat tertentu, terutama masyarakat primitif. Masalah ini menjadi lebih rumit lagi karen a setiap masyarakat yang serba meliputi dan tiap sistem hukum yang bersesuaian dengan masyarakat itu adalah suatu mikrokosmos rangka hukum dan jenis hukum sehingga gerak-gerik yang berlawanan dapat terjadi dalam satu tipe yang sarna.

Dalam sistem hukum yang berdasarkan pengutarnaan negara teritorial dan otonomi kemauan individu mempunyai corak khas sebagai berikut. Pertama, langkah maju secara progresifke arah persamaan di hadapan kekuasaan politik menuju persamaan hak-hak, bermula dari persamaan di hadapan kekuasaan politik menuju kepada persamaan di hadapan hukum, kemudian persamaan hak-hak sipil dan akhirnya kepada persamaan hak-hak politik, termasuk di dalamnya hak akan kemerdekaan. Kedua, ada

ISSN : 0854 -798 X

Volume 18 Nomor 2 bktober 2008

Majalah Hukum Forum Akademika ==============================:::::================= 22

kecenderungan ke arah hukum rasional yang mendahului perombakan hukum positif (Gurvitch: 1986:265-266)

Dalam kaitan antara hukum dan perubahan sosial, Usman Tampubolon (1986) berpendapat bahwa hukum dapat pula menjadi sumber kekakuan yang justru menghambat pembangunan. Tentu saja keadaan ini terjadi manakaJa aturan hukum yang ada materi hukumnya tidak sesuai dengan perkembangan pembangunan yang berlangsung dinamis. Di sisi lain Usman sendiri mengkonstatir bahwa pembangunan hukum bertolak dari anggapan bahwa perubahan sosial dapat digugah secara efektif ke arah tujuan yang diinginkan masyarakat.

Menurut Satjipto Rahardjo (1986:37) untuk melihat hubungan hukum dan perubahan sosial maka periu menemukan suatu alat dimana kita bisa ditunjukkan adanya hubungan tersebut. Alat itu kita temukan dalam bentuk konsep yang menjelaskan secara fungsional tempat hukum dalam masyarakat. Salah satu konsep yang demikian itu kita temukan pad a Hoebel, yang merinci pekerjaan-pekerjaan hukum sebagai berikut:

I, Merumuskan hubungan-hubungan di antara anggota-anggota masyarakat yang menunjukkan perbuatan-perbuatan macam mana yang dilarang dan mana yang boleh dilakukan,

2, Mengalokasikan dan menegaskan siapa-siapa yang boleh menggunakan kekuasaan, dan atas siapa kekuasaan itu serta bagaimana prosedurnya.

3. Mempertahankan kemampuan adaptasi masyarakat dengan eara mengatur kembali hubungan-hubungan dalam masyarakat manakala terjadi perubahan-perubahan.

3.2. Teori-teori tentang Hukum dan Perubahan Sosial.

Teori-teori tentang hukumdan peru bah an sosial mencoba untuk menunjukkan pola-pola perkembangan hukum sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Sementara pendapat rnengatakan bahwa hukum itu berkembang dengan mengikuti tahaptahap perkembangan masyarakat. Tetapi fikiran yang nampaknya telah mempunyai akar yang kuat di dalam dunia keilmuan inipun rnasih diragukan kebenaran mutlaknya (Satjipto Rahardjo: 1980: 1 02).

Pendapat lain yang diterima dengan lebih luas menyatakan bahwa hukum itu menjadi semakin kompleks rnanakala masyarakat mengalami spesialisasi yang semakin

=

Majalah Hukum Forum Akademika =============================::=================== 23

jauh, Sekalipun demikian, seperti yang telah dibuktikan oleh penyelidikan Schwartz dan Miller, pendapat itupun perlu dipegang dengan hati-hati (Satj ipto Rahardjo: 1980: I 02).

Teori lain yang telah menjadi klasik adalah dari Emile Durkheim yang diuraikannya di dalam bukunya De fa division du travail social (Satjipto Rahardjo: 1980: 1 03) Persoalan yang dikemukakan oleh Durkheim adalah bagaimana kita dapat mengukur solidaritas sosial itu. Sekalipun fenomen itu tak dapat dilihat dan diukur secara pasti, namun ia mempunyai lambang yang dapat kita tangkap, yaitu hukum. Bertolak dari

.f

ungkapan ini Durkheim rnelihat adanya pertalian di antara jenis-jenis hukum tertentu

dengan dengan sifat solidaritassosial di dalam masyarakat.

Selain Durkheim, Weber juga menjadi tokoh yang yang klasik di dalam membicarakan mengenai hukum dan perubahan sosial. Di dalam meninjau hubungan hukum dan perubahan sosial, Weber sangat memperhatikan hubungan antara sifat kekuasaan politik di dalam suatu negara dengan hukumnya. Cara-cara penyelenggaraan hukum dan peradilan pada masa-masa lalu menurut Weber bersumber pad a cara-cara perukunan (conciliatory) antara kelornpok-kelompok suku yang bersengketa. Tetapi apabila kekuasaan politik disitu di dalam menjalankan roda pemerintahan semakin bersifat rasional, maka akan semakin besar pula kemungkinannya proses hukum di dalam rnasyarakat itu di jalankan secara rasional pula.

3.3. Hukum sebagai Instrumen Perubahan Sosial

Roscoe Pound, dalam bukunya yang berjudul "An Introduction to the Philosophy of Law" menjelaskan bahwa hukum merupakan suatu sarana perekayasaan sosial (tool of social engeneering), dan tidak sekedar sebagai alat penertiban masyarakat semata-mata (tool of social control). Sejalan dengan itu di Eropa, dan khususnya di Praneis, sejak terjadinya malaise atau resesi yang melanda seluruh dunia dalam tahun 1930-an pemerintah mulai mengadakan pembatasan-pernbatasan terhadap asas kebebasan berkontrak, yang merupakan ciri khas dan bahkan landasan dalam bidang hukum yang menunjang suatu ekonomi pasar Hal ini terbukti dengan diundangkannya Kitab UndangUndang Hukum Perdata (Code CiVil) dari kodifikasi Napoleon dalam tahun 1980 (Sunaryati Hartono: 1991 :96).

ISSN : 0854 -798 X

Volume 18 Nomor 2 Oktober 2008

Majalah Hukum Forum Akademika ::::================::::::======::====================:: 24

Pembahasan mengenai hukum sebagai saran a atau instrumen peru bah an sosial, menurut Otje Salman (1993 :82) sebaiknya didah ulu i pembahasan mengenai apa yang dimaksud dengan perubahan hukum. Hal ini dimaksudkan agar hukum sebagai sarana perubahan sosial dapat ditinjau secara komprehensif. Hukum, dapat kita temukan dalam berbagai bentuk. Di antara bentuk-bentuk itu, yang paling tegas dan terinci mengutarakan isinya adalah dalarn bentuk tertulis atau dalam istilah lain adalah bentuk sistcm hukum formal. Yang dimaksud dengan hukum formal di sini adalah hukum yang dibentuk oleh suatu lembaga atau pejabat yang berwenang membentuk hukum formal tersebut.

Perubahan hukum menurut Otje Salman, pada hakikatnya dimulai dari adanya kesenjangan antara kedaan-keadaan yang terjadi di dalam masyarakat dengan pengaturannya oleh hukum. Tuntutan bagi terjadinya perubahan hukum timbul manakala kesenjangan tersebut telah mencapai taraf yang sedemikian rupa atau d-ugan perkataan lain kesenjangan tersebut sudah tidak dapat diterima lagi, sehingga kebutuhan akan perubahan semakin mendesak.

Oalam pandangan Satjipto Rahardjo (2000: 191), perubahan hukum merupakan masalah penting, antara lain karena hukum itu dewasa ini umumnya mernakai bentuk tertulis. Dengan pemakaian bentuk tertulis ini memang kepastian hukum lebih terjamin, namun ongkos yang harus dibayarnya pun cukup mahal juga, yaitu berupa kesulitan untuk melakukan adaptasi yang cukup cepat terhadap perubahan di sekelilingnya,

Ada beberapa kemungkinan untuk menafsirkan yang dimaksudkan dengan perubahan hukum. Salah satu seginya adalah perubahan hukum dalam bentuk pemberian isi kongkret terhadap norma hukurn yang abstrak. Pengkongkretan ini berhubungan dengan penerapan hukum. Pengkongkretan yang demikian itu mernberikan efek ke arah perubahan hukum, hal tersebut dikarenakan penerapan dari norma-norma hukum itu dituntut untuk disesuaikan dengan perikehidupan pada suatu saat atau kondisi tertentu.

r

Otje Salman memberikan contoh perubahan itu pada penerapan Pasal 534 KUHP.

Pasal tersebut dalam penerapannya mengalami pelonggaran dalam penerimaan isinya, sehubungan dengan implementasi kebijakan di bidang kependudukan (Keluarga Berencana) yang dilakukan Pemerintah.

Oalam mendorong perubahan sosial dalam masyarakat, hukum memiliki fungi sebagai sarana untuk memperlancar interaksi sosial. Fungsi ini sangat essensial terutama

ISSN : ags04-798 X

.s, .

··'VOTUiltt"rrfNOmor 2 Oktober2tio8

Majalah Hukum Forum Akademika ================================================= 25

dalam mempermudah atau memperlancar proses interaksi yang terjadi antar individu, antara individu dengan kelompok, maupun antar kelompok. Sebagai contoh dari fungsi ini , adalah ketentuan Kita Undang-Undang Hukum Perdata terutama Pasal 1320 dan Pasal 1338.

Fungsi hukum demikian tidak berbeda dengan yang telah ban yak diketahui oleh umum selama ini yaitu sebagai suatu mekanisme pengendalian sosial (Ronny Hanitijo: 1980:4). Dalam pandangan anthropolog, E. A. Goebel, terdapat 4 fungsi dasar hukum di

.I

dalam masyarakat (Ronni Hanitijo: 1980:2), yaitu:

1. menetapkan pola hubungan antara anggota-anggota masyarakat dengan cara menunjukkan jenis-jenis tingkah laku mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang,

2. menentukan alokasi wewenang, merinci siapa yang boleh melakukan paksaan, siapa yang mentaatinya, siapa yang memilih sanksi yang tepat dan efektif.

3. menyelesaikan sengketa.

2. memelihara kemampuan masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kondisikondisi kehidupan yang berubah, yaitu dengan eara merumuskan kembali hubungan-hubungan essensial an tara anggota-anggota masyarakat.

Berfungsinya hukurn dalam rnasyarakat sebagai sarana pembaharuan atau perubahan sosial masyarakat menurut Muchtar Kusumaatmadja sebagaimana dikutip Otje Salman (1993:89), pengertiannya lebih luas daripada tempat kelahirannya sendiri, karena

I. Lebih menonjolnya perundang-undangan dalam proses pembaharuan hukum di Indonesia, walaupun yurisprudensi juga memegang peran, berlainnan dengan keadaan di Amerika Serikat di mana teori Pound itu ditujukan terutama pad a peranan pembaharuan dari pad a keputusan-keputusan pengadilan, khususnya keputusan Supreme Court sebagai mahkamah tertinggi.

2. Sikap yang menujukkan kepekaan terhadap kenyataan masyarakat menolak aplikasi "menchanistics" dai pada konsepsi "law as a tool of social engeneering". Aplikasi mekanistis demikian yang digambarkan dengan kata "tool" akan mengakibatkan hasil yang tidak ban yak berbeda dari pada penerapan . "Iegisme" yang dalarn sejarah hukum Indonesia telah ditentang dengan keras. Oalam pengembangannya di Indonesia, maka konsepsi (teoritis)

ISSN ; 0854 -798 X

Volume 18 Nomor 2 Oktober 2008

Majalah Hukum Forum Akademika ====================:::==========================:::= 26

hukum sebagai alat atau saran a pembaharuan ini dipengaruhi pula oleh pendekatan-pendekatan filsafat budaya dari Northrop dan penrlekatan "policyoriented' dari Laswell dan Me. Dougal.

3. Apabila dalam pengertian "hukum" termasuk pula hukum internasional, rnaka kita eli Indonesia sebenarnya sudah menjalankan asas "hukurn sebagai alat pembaharuan" jauh sebelum konsepsi ini dirumuskan secara resmi sebagai landasan kebijakan hukum. Dengan demikian, znaka perumusan resmi itu sesungguhnya merupakan perumusan pengalaman masyarakat dan bangsa Indonesia menurut sejarah. Perombakan hukum di bidang pertambangan; tindakan-tindakan di bidang hukum laut, nasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda dan lain tindakan di bidang hukum sejak tahun 1958 yang bertujuan mengadakan perubahan-perubahan mendasar merupakan perwujudan dari aspirasi bangsa Indonesia yang ditunagkan dalam bentuk hukurn dan peraturan perundang-undangan.

Penerapan konsepsi hukum sebagai sarana pembaharuan atau perubahan sosial rnasyarakat harus diperioritaskan kcpada bidang hukum yang netral sifatnya, yaitu yang tidak menyangkut masalah kehidupan pribadi yang erat kaitannya dengan kehidupan budaya dan speitual masyarakat. Di Indonesia, konsepsi hukum itu sendiri telah sejak dahulu dituangkan dalam peraturan perundang-undangan, yakni telah tertuang pada Tap. MPR No. IV tahun 1973 tetang hukum yang kemudian selalu disebut dan· dirinci dalam GBHN dan Repelita selanjutnya.

Sebagai instrumen perubahan sosial, segi hukum yang harus menjadi perhatian terutama oleh pemerintah adalah efektivitas keberlakuan di dalarn rnasyarakat, Hukum dapat berfungsi cfektif apabila ada landasan yuridisnya, landasan sosiologisnya, dan landasan filosofisnya (Djisman Sarnosir : 1998: 190) agar kepentingan masyarakat secara luas terkait dengan perubagan yang terjadi dapat terlindungi oleh hukum, Sebab, peran atau fungsi hukum itu sendiri adalah sebagai perlindungan kepentingan manusia, dan agar kepentingan manusia terlindungi, hukum harus dilaksanakan (Sudikno Mertokusumo : 1993: 1)

ISSN : 0854-798 X

Majalah Hukum Forum Akademika ;:==========================::============::::::======= 27

IV. PENUTUP

Pada tingkat kehidupan masyarakat yang mempunyai taraf kebudayaan dan struktur sosial madya dan modern, hampir selalu ada perbedaan antara pola-pola perikelakuan yang nyata dengan pola-pola perikelakuan yang dikehendaki oleh hukum. Di sini, Hukum merupakan suatu sarana perekayasaan sosial (tool of social engeneering), dan tidak sekedar sebagai alat penertiban rnasyarakat semata-mata (tool of social control). Sebagai instrumen perubahan sosial, segi hukum yang harus menjadi perhatian terutama

4

oleh pemerintah adalah efektivitas keberlakuan di dalam rnasyarakat, Hukurn dapat

berfungsi efektif apabila ada landasan yuridisnya, landasan sosiologisnya, dan landasan filosofisnya. Hukum dapat pula menjadi sumber kekakuan yang justru menghambat perubahan. Keadaan ini terjadi manakala aturan hukum yang ada materi hukumnya tidak sesuai dengan perkembangan pembangunan yang berlangsung dinamis

DAFTAR PUSTAKA

Artidjo Alkostar. 1986. Menguak Dimensi Politik Hukum Perundang-Undangan Kita, dalam Pembangunan Hukum Dalam Perspektif Politik Hukum Nasional (Editor Artidjo Alkostar dan MSholeh Amin), CV. Rajawali, Jakarta.

C. Djisman Sarnosir. 1998. Refleksi, Identifikasi, dan Solusi Krisis Indonesia Di Bidang Hukum, daJam Percikan Gagasan Tentang Hukum Ke-III (Editor: Wila Chandrawila S), Mandar Maju, Bandung,

Georges Gurvitch, 1996. Sosiologi Hukum, Bhratara, Jakarta

Otje Salman. 1989. Beberapa Aspek Sosiologi Hukum, Alumni, Bandung.

Ronni Hanitijo S. 1980. Permasalahan Hukum eli Do/am Masyarakat, Alumni. Bandung.

Satjipto Rahardjo. 1980. Hukum dan Masyarakat, Angkasa, Bandung

______ . 1986. Hukum Da/am Perspektif Sejarah dan Perubahan Sosial, dalam Pembangunan Hukum Dalam Perspektif Polittk Hukum Nasional (Editor Artidjo Alkostar dan MiSholeh Amin), CV. Rajawali, Jakarta.

______ . 2000. Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Sudikno Mertokusumo. 1993. Bab-bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung.

ISSN : 0854 -798 X

Volume Is Nomor 2 Oktober 200S

Majalah Hukum Forum Akademi ka ===============================::================= 28

Soerjono Soekanto. 1989. Fungsi Hukum dan Perubahan Sosial, Citra Aditya Bakti, Bandung

Sunaryati Hartono. 1991. Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni, Bandung.

Usman Tampubolon. 1986. Pembangunan Hukum Dalam Perspektif llmu Sosial, dalam Pembangunan Hukum Dalam Perspektif Politik Hukum Nasional (Editor Artidjo Alkostar dan MSholeh Amin), CV. Rajawali, Jakarta.