Anda di halaman 1dari 3

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia, khususnya Sumatera Utara perkembangan di bidang sub sektor


perikanan, seperti budidaya ikan air tawar, air payau, maupun laut cukup besar.
Namun demikian sering ditemui permasalahan dalam pembenihan ikan, yaitu
tingginya tingkat kematian dari larva ikan, hal ini umumnya disebabkan karena
kekurangan makanan pada saat kritis, yaitu pada masa penggantian makanan dari
kuning telur ke makanan lain. Untuk mengatasi tingginya kematian ikan pada stadia
larva ini perlu disediakan makanan yang bisa dikonsumsi oleh larva ikan. Menurut
Sumawidjaja (1981) makanan yang diberikan untuk larva ikan harus memenuhi
beberapa syarat, diantaranya adalah : ukuran makan yang diberikan harus lebih kecil
dari bukaan mulut larva (benih) ikan tersebut, kualitas baik, terdapat dalam jumlah
banyak, makanan harus bergerak aktif karena larva pada stadia awal masih relatif
pasif dan mudah diperoleh. Selanjutnya dijelaskan bahwa makanan alami bagi larva
ikan yang terbaik (makanan awal) setelah pergantian makanan dari kuning telur
adalah Rotifera, diantaranya dari genus Brachionus.

Diani (1995) menjelaskan bahwa dalam usaha pembenihan ikan, Rotifera


sangat diperlukan untuk pakan awal larva yang baru menetas dan bahkan selama
pemeliharaan pra larva hingga mencapai benih. Rotifera dari jenis B. plicatilis
merupakan organisme dari golongan zooplankton dan jasad pakan penting bagi jenis
ikan laut atau ikan air payau. Rotifera B. plicatilis pada mulanya di Jepang dianggap
sebagai hewan liar yang berbahaya bagi tambak ikan, karena menjadi pemangsa
fitoplankton yang menyebabkan oksigen terlarut di dalamnya menjadi sangat rendah
dan mengakibatkan matinya budidaya ikan. Di tahun 1963 Rotifera diketahui sangat
baik sebagai pakan larva ikan (Mustahal, 1995) dan sejak saat itu berkembanglah studi
kultur Rotifera.

Universitas Sumatera Utara


Yunus et al. (1996) menyatakan bahwa Rotifera memiliki beberapa kelebihan
dibandingkan dengan pakan buatan, terutama dalam hal ukuran yang relatif kecil,
tetap bertahan di kolam air dan tidak mengendap, bergerak dengan kecepatan rendah
dan laju perkembangbiakan yang cukup tinggi. Selanjutnya Diani & Sa’diah, (1995)
menjelaskan bahwa pemilihan B. plicatilis sebagai pasok pakan disebabkan karena
mempunyai sifat sebagai berikut : gerakannya lambat, mudah dibudidayakan, mudah
dicerna dan mudah ditingkatkan nilai gizinya dengan berbagai minyak ikan.

Mustahal (1995) menyatakan bahwa produksi Rotifera B. plicatilis sangat


tergantung pada suplai pakannya, jika pakan banyak tersedia maka produksi Rotifera
juga akan menjadi banyak. Selanjutnya Aslianti (1995) menjelaskan bahwa untuk
meningkatkan ketersediaan pakan hidup (Rotifera) selama pemeliharaan larva
tergantung sepenuhnya dari ketersediaan pakan alami, karena ditinjau dari nilai
gizinya pakan hidup cenderung bergizi lebih tinggi bila diberi pakan dari jenis
Chlorella.

Menurut Sutejo (1995) pupuk Urea dan TSP dapat meningkatkan populasi
jasad renik karena banyak mengandung nitrogen dan fosfor. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Muliani pada tahun 2000 diperoleh laju pertumbuhan
Rotifera (B. plicatilis) tertinggi pada media dengan pemupukan 2 mg/l urea ditambah
2 mg/l TSP.

Isnansetyo & Kurniastuty (1995) menyatakan bahwa kultur B. plicatilis juga


memerlukan pencahayaan, pada umumnya pencahayaan untuk mengkultur selama ini
hanya mengandalkan cahaya matahari, sehingga tidak jarang terjadi penurunan
produksi apabila cahaya matahari kurang memadai. Untuk mengatasi hal tersebut
ternyata lampu TL atau lampu sorot juga dapat digunakan. Selanjutnya Djarijah
(1995) menjelaskan bahwa Rotifera dapat tumbuh subur pada pemberian intensitas
cahaya yang cukup disamping kandungan bahan organik dan anorganik pada suatu
media. Sehubungan dengan hal di atas maka dilakukan penelitian tentang “Pengaruh
Pemberian Beberapa Variasi Pupuk TSP Pada Komposisi Media Kotoran Ayam
Dengan Pupuk Urea Terhadap Laju Pertumbuhan Populasi Rotifera
(B. plicatilis)”.

Universitas Sumatera Utara


1.2 Permasalahan

Dalam rangka memenuhi pakan alami untuk usaha budidaya perikanan telah
banyak dilakukan teknik kultur dalam memproduksi B. plicatilis. Namun sebegitu
jauh belum diketahui pada tingkat variasi TSP berapakah laju pertumbuhan
populasinya yang lebih baik.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat variasi TSP
terhadap laju pertumbuhan populasi B. plicatilis.

1.4 Hipotesis Penelitian

Pertumbuhan populasi B. plicatilis dipengaruhi oleh tingkat variasi TSP yang


diperlakukan.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian yang diperoleh dapat dimanfaatkan sebagai :


a. Bahan informasi bagi instansi terkait yang membutuhkan teknik
penyediaan pakan alami ikan.
b. Bahan informasi dalam memanfaatkan kotoran ternak dalam pembudidayaan
pakan alami ikan.

Universitas Sumatera Utara