Anda di halaman 1dari 14

SABDA PALON NAGA GENGGONG

Kemaren iseng2 buka lemari simbah saya n tak dinyana saya menemukan sebuah buku tulis usang
dengan tulisan tangan n carut-marut aksara jawa yg dengan susyah payah coba saya terjemahkan ke
aksara latin. Sebuah kebutulan ato tidak, ternyata tulisan td adalah Tembang Sinom yang berisi
tentang Sabda Palon Naya Genggong. Setelah saya tanya kanjeng mami saya, ternyata buku tua ini
adalah satu2nya peninggalan simbah kakung saya yg bisa dislametin waktu geger gestapu dulu.
Setelah saya alih-aksarakan ke huruf Latin, kira2 hasilnya seperti ini:

Padha sira ngelingana,


Carita ing nguni-nguni,
Kang kocap ing serat babad,
Babad nagri Mojopahit,
Nalika duking nguni,
Sanga Brawijaya Prabu,
Pan samya pepanggihan,
Kaliyan Njeng Sunan Kali,
Sabda Palon Naya Genggong rencangira.

Sanga Prabu Brawijaya,


Sabdanira arum manis,
Nuntun dhateng punakawan,
“Sabda palon paran karsi”,
Jenengsun sapuniki,
Wus ngrasuk agama Rosul,
Heh ta kakang manira,
Meluwa agama suci,
Luwih becik iki agama kang mulya.

Sabda Palon matur sugal,


“Yen kawula boten arsi,
Ngrasuka agama Islam,
Wit kula puniki yekti,
Ratuning Dhang Hyang Jawi;
Momong marang anak putu,
Sagung kang para Nata,
Kang jumeneng Tanah Jawi,
Wus pinasthi sayekti kula pisahan.

Klawan Paduka sang Nata,


Wangsul maring sunya ruri,
Mung kula matur petungna,
Ing benjang sakpungkur mami,
Yen wus prapta kang wanci,
Jangkep gangsal atus tahun,
Wit ing dinten punika,
Kula gantos kang agami,
Gama Buda kula sebar tanah Jawa.

Sinten tan purun nganggeya,


Yekti kula rusak sami,
Sun sajekken putu kula,
Berkasakan rupi -rupi,
Dereng lega kang ati,
Yen durung lebur atempur,
Kula damel pratandha,
Pratandha tembayan mami,
Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar.

Ngidul ngilen-purugira,
Ngganda banger ingkang warih,
Nggih punika medal kula,
Wus nyebar agama budi,
Merapi janji mami,
Anggereng jagad satuhu,
Karsanireng Jawata,
Sadaya gilir gumanti,
Boten kenging kalamunta kaowahan.

Sanget-sangeting sangsara,
Kang tuwuh ing tanah Jawi,
Sinengkalan tahunira,
Lawon Sapta Ngesthi Aji,
Upami nyabrang kali,
Prapteng tengah-tengahipun,
Kaline banjir bandhang,
Jerone ngelebne jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng.pralaya.

Bebaya ingkang tumeka,


Warata sa Tanah Jawi,
Ginawe kang paring gesang,
Tan kenging dipun singgahi,
Wit ing donya puniki,
Wonten ing sakwasanipun,
Sedaya pra Jawata,
Kinarya amertandhani,
Jagad iki yekti ana kang akarya.

Warna-warna kang bebaya,


Angrusaken Tanah Jawi,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarun,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh sirna aneng wana.

Bumi ilang berkatira,


Ama kathah kang ndhatengi,
Kayu kathah ingkang ilang,
Cinolong dening sujanmi,
Pan risaknya nglangkungi,
Karana rebut rinebut,
Risak tataning janma,
Yen dalu grimis keh maling,
Yen rinawa kathah tetiyang ambegal.

Heru hara sakeh janma,


Rebutan ngupaya bukti,
Tan ngetang anggering praja,
Tan tahan perihing ati,
Katungka praptaneki,
Pageblug ingkang linangkung,
Lelara ngambra-ambra,
Waradin saktanah Jawi,
Enjing sakit sorenya sampun; pralaya,

Kesandung wohing pralaya,


Kaselak banjir ngemasi,
Udan barat salah mangsa,
Angin gung anggegirisi,
Kayu gung brasta sami,
Tinempuhing angin agung,
Kathah rebah amblasah,
Lepen-lepen samya banjir,
Lamun tinon pan kados samodra bena.

Alun minggah ing daratan,


Karya rusak tepis wiring,
Kang dumunung kering kanan,
Kajeng akeh ingkang keli,
Kang tumuwuh apinggir,
Samya kentir trusing laut,
Sela geng sami brasta,
Kabalebeg katut keli;
Gumalundhung gumludhug suwaranira.

Hardi agung-agung samya,


Huru-hara nggegirisi,
Gurnleger suwaranira,
Lahar wutat kanan ketring,
Ambleber angelebi,
Nrajang wana lan desagung,
Manungsanya keh brasta,
Kebo sapi samya gusis,
Sirna gempang tan wonten mangga puliha.

Lindhu ping pitu sedina,


Karya sisahing sujanmi,
Sitinipun samya nela,
Brekasakan kang ngelesi,
Anyeret sagung janmi,
Manungsa pating galuruh,
Kathah kang nandhang roga,
Warna-warna ingkang sakit,
Awis waras akeh kang prapteng pralaya.

Sabda Palon nulya mukswa,


Sakedhap boten kaeksi,
Wangsul ing jaman limunan,
Langkung ngungun Sri Bupati,
Njegreg tan bisa angling,
Ing manah langkung gegetun,
Keduwung lepatira,
Mupus karsaning Dewadi,
Kodrat ikii sayekti tan kena owah.

Walah-walah....susah2 saya alih-aksarakan, ternyata setelah saya tanya mbah Google, alih-aksara saya
nggak bener2 amat. Dan versi di atas adalah versi umumnya yg saya dapatkan dari Mbah Google.
Mbah Google emang maha tau....
Lanjut...setelah tanya mbah Google lagi, ada versi bahasa Indonesianya, nih:

Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu
itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh
Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.
Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: "Sabda-Palon sekarang saya
sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan
baik."

Sabda Palon menjawab kasar: "Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta
pembesar Dah Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah
jawa. Sudah di garis kita harus berpisah.

Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat.
Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.

Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-
lainnya. Belum legalah hati saya bila belu saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan
datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

Lahar tersebut mengalir ke barat daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang.
Sudah mulai menyebarkan agama Buda. Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir
Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama
seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar,
dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin
disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya
dunia ini ada yang membuatnya.

Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak
mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang
bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang
hilang di hutan.

Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang
dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila
hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.
Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat
aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul
datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan
pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin
besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila
dilihat persis lautan pasang.

Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang
hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut
dengan gemuruh suaranya.

Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga
menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi
habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga.
Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di
sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh.
Kebanyakan mereka meninggal dunia.

Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segea menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya.
Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara.
Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat
yang tidak mungkin diubahnya lagi.

Well...saya sebenernya ga kompeten untuk menganalisa karya Sastra ini. Tp sangat menarik jika saya
berasumsi bahwa ini adalah tulisan (ramalan) yang dibuat oleh Naya Genggong alias penasihat raja
Brawijaya. Setau saya, ada tujuh raja majapahit yang bergelar Brawijaya, yg pertama adalah Dyah
Krtawijaya (sekitar taun 1400an) dan yg ke tujuh adalah Girindrawarddhana (kl ga salah wafat awal
taun 1500an). Dan kl dihubungkan dengan berkembangnya Islam di bawah Kerajaan Demak,
kemungkinan besar raja yg dimaksud adalah Brawijaya yg ke tujuh karena setelah itu Majapahit
runtuh dan dikuasai oleh Demak.
Lebih menarik lagi jika saya berasumsi bahwa tulisan Sabda Palon Naya Genggong adalah hasil karya
Brawijaya sendiri yang menyesali keputusannya karena mengakhiri kekuasaan Majapahit.
Tp yang jauh lebih penting, ramalan tersebut memang benar2 terjadi. Liat aja kondisi nusantara
sekarang, sama seperti yang digambarkan oleh Naya Genggong 500 taun lalu. dan dengan interpretasi
saat ini,agama baru yg harus lahir (yg dimaksud dalam ramalan td) adalah agama budi, suatu
keyakinan universal yang alih2 terpatri pada keyakinan religius tertentu, agama ini lebih
mencondongkan diri pada humanisme dan harmonisme. ini sebenernya sudah menjadi ciri khas
dalam agama asli jawa alias Kejawen yang saya asumsikan sebagai tak lain adalah agama budi.
Sepertinya setelah tahun 2009, Naya Gengong (ato dalam gagasan mesianik Jangka Jayabhaya,
disebut sebagai Ratu Adil) akan datang. Tentu saja sebelumnya harus ada kondisi dimana Agama
Budi sudah merasuk dalam kultur masyarakat nusantara ato...Ratu Adil itulah yang akan membawa
Agama Budi. Kapan itu terjadii? Allahu Alam.....

Selasa, 13 Oktober 2009


SABDO PALON NOYO GENGGONG
Sabdo berarti kata-kata, palon kayu pengancing kandang, noyo
pandangan, genggong langgeng tidak berubah

Pedoman Hidup Abadi di Tanah Jawa


Dari Blog : NatashaPratimaAsti

Disini di ceritakan Bagaimana Prabu Brawijaya , Sunan Kalijaga


dan SABDO PALON...
Sebuah awal...akan di mulainya Kehancuran Jawa yang akan
datang...yang sekarang sudah mulai terbukti kebenarannya...

Prabu Brawijaya melarikan diri ke Bali(Klungkung) setelah


Majapahit jatuh di tangan Raden Patah anaknya sendiri yang
sudah masuk Islam sekarang sudah sampai di Blambangan.
Akhirnya Sunan Kalijaga berhasil menemui beliau dan terjadilah
percakapan ;

Sunan Kalijaga: kini putra paduka ingat bahwa paduka lolos dari
istana dan tidak keruan tinggal dimana. Paduka dimohon kembali
ke Majapahit, tetaplah menjadi raja, dijunjung para punggawa,
menjadi pusaka dan pedoman yang dijunjung tinggi anak cucu
dan para sanak saudara, dihormati dan dimintai restu
keselamatan semua di bumi. Apabila paduka berkenan memegang
tahta lagi, paduka ingin tinggal di gunung mana paduka tinggal,
putra paduka memberi busana dan makanan untuk paduka, tetapi
mohon pusaka kraton di tanah Jawa, diminta dengan tulus.

Prabu Brawijaya berkata: aku muak bicara dengan santri mereka


bicara dengan mata tujuh, lamis semua, maka blero matanya.
Menunduk dimuka tetapi memukul dibelakang. Kata-katanya
hanya manis dibibir, batinnya meraup pasir ditaburkan ke mata ,
agar buta mataku ini. Dulu-dulu aku beri hati, tapi balasannya
seperti kenyung buntut.

Sunan Kalijaga: apabila prabu tidak bersedia mengikuti saranku


lebih baik bunuh saja hamba.

Prabu Brawijaya: Sahid duduklah dulu kupikir baik-baik


kupertimbangkan saranmu, benar dan salahnya, baik dan
buruknya, karena aku khawatir omongmu itu bohong saja.
Seumpama aku ke Majapahit Si Patah bencinya tidak sembuh
punya ayah Buda kawak kafir kufur, kemudian aku ditangkap,
dikebiri, disuruh menunggu pintu belakang, pagi sore dibokongi
sembahyang, apabila tidak tahu kemudian dicuci di kolam
digosok dengan ilalang kering. Coba pikirlah Sahid alangkah
sedih hatiku orang sudah tua renta,lemah tak berdaya kok akan
direndam dalam air.

Sunan Kalijaga: mustahil jika demikian besok hamba yang


tanggung, tidak mungkin putra paduka berlaku demikian. Akan
halnya masalah agama hanya terserah sekehendak paduka,
namum lebih baik paduka berkenan berganti syarat Rasul dan
mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika paduka tidak berkenan
itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam
itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham
syahadat itu tetap kafir namanya.
Terjadi percakapan Teologi dan Sunan Kalijaga berbicara banyak-
banyak agar Prabu Brawijaya berkenan pindah agama, jika
paduka memeluk Islam, manusia Jawa tentu kemudian Islam
semua, setelah itu prabu Brawijaya mengucapkan kalimat
syahadat.

Setelah kejadian itu minta potong rambut, tetapi belum lahir


bathin rambut paduka belum bisa terpotong.

Setelah potong rambut…

Prabu Brawijaya: kamu berdua kuberi tahu mulai hari ini aku
meninggalkan agama Buda dan memeluk agama Islam. Kalau
kalian mau, kalian akan kuajak pindah agama Rasul dan
meninggalkan agama Buda.

Sabdo Palon: hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah
Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai
darileluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumasa, Sakutrem dan
Bambang Sakri, turun-temurun sampai sekarang. Hamba
mengasuh penurun raja-raja Jawa. Hamba tidak tidur sampai 200
tahun. Selama tidur hamba selalu ada perang saudara, manusia
yang nakal membunuh bangsanya sendiri, sampai sekarang umur
hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa,
tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama menepati
agama Buda. Baru paduka berani meninggalkan pedoman leluhur
Jawa. Jawa artinya tahu. Mau menerima berarti Jawan. Kalu hanya
ikut-ikutan akan membuat celaka muksa paduka kelak.

Halilintar bersahutan menyambut perkataan Wikutama (Sabdo


Palon). Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata karena mau masuk
agama Islam, yaitu dengan perwujudan keadaan dunia ditambah
tiga hal: (1). rumput jawan (2) padi Randanunut dan (3) padi
Mriyi.
Prabu Brawijaya: bagaimana niatmu, mau apa tidak
meninggalkan agama Buda masuk agama Rasul.

Sabda Palon: paduka masuklah sendiri. Hamba tidak tega melihat


watak sia-sia, seperti manusia Arab itu. Menginjak-injak hukum,
menginjak-injak tatanan. Jika hamba pindah agama pasti akan
celaka muksa hamba kelak. Yang mengatakan mulia itu kan orang
Arab dan orang Islam semua memuji diri sendiri. Mati yang utama
itu sewu satus telung puluh . Artinya satus itu putus, telu itu
tilas, puluh itu pulih, wujud kembali, wujudnya rusak, tetapi yang
rusak berasal dari ruh.

Prabu Brawijaya: ”ciptaku menempel pada orang-orang yang


lebih”.

Sabdo Palon: itu manusia tersesat, seperti kemladeyan menempel


di pohon besar, tidakpunya kemuliaan sendiri hanya numpang.
Itu bukan mati yang utama. Tapi matinya manusia nista, sukanya
menempel, ikut-ikutan, tidak memiliki sendiri, jika diusir
gentayangan menjadi kuntilanak.

Prabu Brawijaya: aku akan kembali kepada suwung, kekosongan,


ketika aku belum maujud apa-apa, demikianlah tujuan matiku
kelak.

Sabda Palon: itu matinya manusia tidak berguna, ketika hidupnya


seperti hewan, hanya makan, minum dan tidur. Demikian
hidupbisa gemuk kaya daging. Penting minum dan kencing saja,
hilang hidup dalam mati.

Prabu Brawijaya: aku menunggui tempat kubur, apabila sudah


hancur luluh menjadi abu.

Sabdo Palon: itulah matinya orang bodoh, menjadisetan kuburan,


menunggui daging di kuburan, daging sudah luluh menjadi tanah,
tidak mengerti ruh baru. Itu manusia bodoh.

Prabu Brawijaya: aku akan muksah dengan ragaku.

Sabdo Palon: kalau orang Islam terang tidak bisa muksa, tidak
mampu meringkas makan badannya, gemuk kebanyakan daging.

Prabu Brawijaya: aku tidak punya kehendak apa-apa, tidak bisa


memilih, terserah Yang Maha Kuasa. Dimanakah Tuhan Yang
Sejati ?

Sabdo Palon: tidak jauh tidak dekat, paduka bayangannya


sendiri. Paduka wujud sifat sukma. Sejatinya tinggal budi, hawa,
dan badan.

Prabu Brawijaya: apa kamu tidak mau masuk agama Islam ?

Sabdo Palon: ikut agama lama, kepada agama baru tidak !.


kenapa paduka berganti agama tidak bertanya kepada hamba ?
Apakah paduka lupa nama hamba Sabdo Palon ?. Sabdo atinya
kata-kata, Palon kayu pengancing kandang. Naya artinya
pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi
bicara hamba itu bisa untuk pedoman orang tanah Jawa,
langgeng selamanya. Sungguh jika sudah berganti agama
Islam,meninggalkan agama Buda, keturunan paduka akan celaka,
Jawa tinggal jawan, artinya hilang, suka ikut bangsa lain. Paduka
besok saksikan banyak manusia sua menipu, berani bertindak
nista, dan suka bersumpah. Besok setelah bertaubat ingat
kepada agama Buda lagi dan kemudian mau makan buah
pengetahuan, Dewa kemudian memaafkan, hujan kembali seperti
jaman Buda.

Prabu Brawijaya: aku menyesal masuk Islam dan meninggalkan


agama Buda. Ia masuk agama Islam karena istrinya putri Cempa
yang mengatakan orang agama Islam itu kelak apabila mati akan
masuk surga yang melebihi surganya orang kafir.

Sabdo Palon: sejak jaman kuna, bila laki-laki menurut perempuan,


pasti sengsara, karena perempuan itu utamanya untuk wadah,
tidak berwenang mulai kehendak. Aku akan memisahkan diri
dengan paduka.

Prabu Brawijaya: kamu cela tanpa guna, karena sudah terlanjur,


sekarang hanya kamu yang kutanya,masih tetapkah tekadmu?
Aku masuk agama Islam disaksikan oleh Si Sahid, sudah tidak
bisa kembali lagi ke agama Buda. Kamu mau pergi kemana ?

Sabdo Palon: tidak pergi, tetapi tidak berada di situ, hanya


menepati yang namanya Semar, artinya melingkupi sekalian
wujud, anglela kalingan padang.

Prabu Brawijaya: ”Aku bersumpah besok apabila ada orang Jawa


tua, berpengetahuan, yaitulah yang akan diasuh Sabdo Palon.
Orang tua itu akan diajari benar salah”. Besok gantilah Negara
Blambangan dengan nama Negara Banyuwangi agar menjadi
pertanda kembalinya Sabdo Palon ke tanah Jawa membawa
asuhannya.

Setelah meninggal Prabu Brawijaya, Raden Patah datang ke


kubur ayahnya sendiri terdengar suara yang memekikkan telinga
”Habis cinta kasihku kepada anak enakanlah makan dan tidur.
Ada gajah digertak seperti kucing, walaupun mati wujudku, tetapi
ingatlah besok, apabila sudah agama Kawruh, besok akan ku
balas. Kuajari tahu benar dan salah, cara memangku kerajaan,
makan babi seperti jaman Majapahit”.

Sunan Kalijaga diampuni oleh Allah, dengan pasemon adanya


orang-orang yang punggungnya sampai ke punuk disisipi tatal
kayu jati. Maksudnya punukmu panakna, ilmu sejati itu tidak usah
berguru kepada orang Arab.

Melihat SEJARAH diatas yang merupakan kupasan dari SABDA


PALON..kita sebagai generasi penerus Hindu harus mempunyai
keyakinan teguh dalam berpikir, berkata dan berbuat..., kita
mesti lebih baik dan berbudi serta berani dalam segala tindakan
kita yang benar...untuk itu Bangkitlah teman-teman, sodara-
sodara - ku....jangan biarkan kita larut dalam kebisuan..mesti
bangkit sebagai generasi HINDU dan Berani melawan ke tidak
adilan.

Ini Merupakan awal proses Kita di masa depan untuk menghadapi


kenyataan yang akan datang...