Anda di halaman 1dari 1

Banjir Bandang Pidie Lebih Parah dari Wasior

Sedikitnya 13 orang tewas setelah banjir bandang menghantam Kecamatan Tangse Pidie, Aceh. Hingga
kini, warga terus bergotong-royong mencari korban yang masih hilang.

Mulyadi aktivis lingkungan dari LSM Tangse Ceudah yang berada di lokasi menyebutkan lebih dari
100 rumah rusak, empat jembatan putus, dan jalan sepanjang lima kilometer rusak parah. Selain 13
jenazah yang telah ditemukan, diperkirakan masih ada puluhan orang tertimbun lumpur dan kayu
gelondongan.

"Ini lebih parah dari Wasior (Papua). Kayu-kayu gelondongan menutupi jalan dan menghantam rumah.
Warga berharap cepat mendapatkan bantuan," katanya saat dihubungi, Jumat, 11 Maret 2011.
Banjir bandang melanda Pidie Kamis malam, 10 Maret 2011 sekitar pukul 20.00 WIB.

Menurut Mulyadi, saat ini warga masih menyisir kawasan terparah, untuk mencari para korban. Mayat
banyak ditemukan di balik tumpukan kayu yang dihanyutkan air banjir. "Kawasan terparah itu di Desa
Peunalom I, Peunalom II, Layan, dan sebagian Pulo Baro, serta Blang Dalam," jelas Mulyadi.

Saat ini, kata Mulyadi, warga sangat membutuhkan bantuan berupa pakaian, selimut, makanan, dan
obat-obatan. Apalagi, sejumlah puskesmas di kecamatan itu rusak total.

Wakil Bupati Pidie, Nazir Adam, menyatakan pihaknya berusaha mengirimkan bantuan secepatnya.
Kata Nazir, selain transportasi, komunikasi ke kawasan itu juga terputus.

Nazir memperkirakan kerugian akibat bencana ini mencapai miliaran rupiah. Dia berharap Pemerintah
Aceh dan pemerintah pusat segera membantu menanggani bencana tersebut. "Kami tidak mampu
menangani seluruhnya," kata dia.

Kawasan Hutan Tangse masuk dalam kawasan konservasi Ulu Masen. Aksi pembalakan liar diduga
menjadi penyebab banjir bandang dahsyat ini.