Anda di halaman 1dari 14

Stensilan Tjap Tjoean 2000

Bidadari itu Ibu Pemilik Apartemen #2

Jam duduk di atas TV menunjukkan pukul 22:30 ketika pesawat telpon berdering. Aku
bangun dari tidur-tiduran di depan TV. Gagang telpon pun kuangkat dari pesawatnya yang
tergeletak di samping TV.

"Hai, Bobby desu keredomo...," ucapku sambil menempelkan ujung gagang telpon ke telinga.

"A... Kawamura Yumiko desu ga...," suara merdu perempuan menyahut di telpon.

Deg! Jantungku berdegup keras. Telpon tersebut ternyata dari Yumiko. Dia sudah tersadar
dari tidurnya. Ada apa menelponku malam-malam begini? Tahukah dia dengan apa yang
kuperbuat kepadanya dua jam yang lalu?

"A-ada apa?" tanyaku dengan suara agak bergetar.

"Gomenasai... tadi saya terlalu banyak minum. Jadi saya jatuh tertidur sebelum membuat
kuitansi pembayaran apartemen. Uang sewa yang Bobby-san letakkan di atas meja sudah
saya ambil, dan sekarang sudah saya buatkan kuitansinya. Harap datang ke sini sekarang
untuk mengambilnya."

Aku bernafas lega. Ternyata hanya urusan kuitansi. Suara Yumiko tetap lembut. Tidak
bernada tinggi. Berarti dia tidak sedang marah. Berarti dia tidak tahu kalau tubuhnya kuesek-
esek dua jam yang lalu.

Aku lalu menuruni tangga apartemen dan berjalan menuju pintu rumah Yumiko. Sebelum
aku menekan bel pintu, dia sudah membuka pintu. Dia berdiri dengan menariknya, bagai
bidadari yang turun dari kayangan. Rambutnya sudah tersisir rapih, dengan bagian belakang
dijepitkan ke atas. Dengan gaya sisiran semacam itu, leher jenjangnya yang putih mulus
seolah dipamerkan dengan jelasnya. Kimono yang dikenakan masih kimono yang tadi.
Kimono yang terbuat dari bahan putih, lembut, dan mengkilat. Dadanya membusung dengan
gagahnya, dan putingnya tergambar jelas di kain kimono yang menutup dadanya. Wow... ada
perubahan. Bau parfum! Kini bau parfum yang harum dan segar terpancar dari tubuhnya. Bau
harum yang berbeda dengan wangi sabun mandi yang tadi terpancar dari tubuhnya.

"Ayo, masuk. Saya ambilkan kuitansinya." Bibir sensual Yumiko menyunggingkan senyum.
Senyum manis yang amat menggoda nafsuku. Dan berbeda dengan tadi, bibir sensualnya itu
sekarang sudah berlapis lipstik tipis berwarna pink. Sexy, ranum, dan segar sekali bibir
tersebut. Seolah menantang bibirku untuk melumat bibir tersebut habis-habisan.

Aku melangkah masuk. "Sumimasen...," kataku sambil menganggukkan kepala.

Pintu tertutup secara perlahan karena adanya pegas yang terpasang di dekat engselnya.

Aku kemudian berjalan di belakangnya menuju ruang tamu. Kuperhatikan goyang pantatnya
yang sungguh aduhai. Gumpalan daging pantat itu tergambar jelas menggunduk di kimono

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 1


Stensilan Tjap Tjoean 2000
tidurnya. Gundukan tersebut menggial ke kiri-kanan di saat melangkah, seolah menantang
batang kejantananku untuk memijit-mijit kekenyalannya.

Yumiko mengambil buku kuitansi dari rak buku, kemudian menyobeknya selembar.

"Ini Bobby-san, kuitansinya," kata Yumiko sambil memberikan lembaran itu padaku.
Bibirnya menyunggingkan senyum. Matanya menatap diriku tajam. Namun menurut
penilaianku, sunggingan bibir dan tatapan mata itu menantang diriku.

Aku mengulurkan tangan kanan untuk menerima kuitansi itu. Belum lagi kuitansi kupegang,
Yumiko sudah melepaskan kertas kuitansi tersebut. Akibatnya kertas kuitansi melayang
jatuh. Secara refleks tanganku bergerak ke bawah berusaha menyelamatkan kuitansi sebelum
menyentuh lantai. Agaknya Yumiko pun melakukan gerak refleks yang sama denganku,
bahkan dia bergerak sedikit lebih cepat. Tangan Yumiko berhasil menangkap kuitansi,
sementara tanganku dengan tidak sengaja menangkap jari-jari tangan Yumiko.

Aku terpana dengan ketidaksengajaanku. Kehalusan jari-jari tangan Yumiko terasa benar di
dalam genggaman tanganku. Sementara posisi tubuh Yumiko yang agak membungkuk
membuat mataku dapat melihat belahan payudara montok yang amat mulus itu dengan jelas
dari belahan baju kimononya. Edan... kontholku berdiri lagi.

Yumiko menatap tanganku yang tanpa sengaja menggenggam jari tangannya. Kemudian
tatapan matanya beralih ke wajahku. Sinar matanya itu... sinar mata meminta. Sinar mata
orang yang sedang kehausan. Sinar mata orang yang sedang penuh hasrat.

Tiba-tiba Yumiko merangkul pundakku. Buah dadanya menekan dadaku dengan hangatnya.

"Bobby-san. Buat apa kau berpura-pura," kata Yumiko, "Aku tahu kau melakukan masturbasi
di sini saat aku tertidur pulas tadi. Saat aku terbangun, rambutku ada yang basah oleh air
mani. Dan itu pasti air manimu..."

Yumiko mempererat rangkulannya pada bahuku. Dia berdiri sedikit berjinjit. Bibir
sensualnya yang berwarna pink merekah itu dengan ganasnya mendarat di bibirku dan
melumat-lumat bibirku. Nafasku jadi terengah-engah tidak beraturan.

"Kawamura-san...," kataku tersenggal di saat bibirku sedikit terbebas dari bibirnya.

"Bobby-san... jangan gunakan nama keluarga saat ini. Panggil saja namaku... Yumiko...,"
pinta Yumiko. "Bobby-san... cumbulah diriku... Sudah lama saya merindukan cumbuan
hangat yang menggelora... Cumbuan laki-laki jantan yang penuh tenaga... Dan sejak
pertamakali melihatmu, saya mendambakan cumbuan geloramu. Saya suka bermasturbasi
dengan membayangkan tubuhmu yang tegap berisi... Bila suamiku sedang menggelutiku,
kubayangkan bahwa yang menggelutiku itu adalah dirimu..."

Nafsuku terbakar. Ternyata hasratku untuk merasakan keaduhaian tubuhnya yang sudah
cukup lama timbul dalam diriku tidak bertepuk sebelah tangan. Ternyata dia juga menyimpan
hasrat untuk bercinta denganku.

"Yumiko...," desahku penuh nafsu. Bibirku pun menggeluti bibirnya. Bibir sensual yang
menantang itu kulumat-lumat dengan ganasnya. Tidak kusisakan satu milimeter pun bibir itu

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 2


Stensilan Tjap Tjoean 2000
dari seranganku. Sementara Yumiko pun tidak mau kalah. Bibirnya pun menyerang bibirku
dengan dahsyatnya, seakan tidak mau kedahuluan oleh lumatan bibirku.

Kedua tangankupun menyusup diantara lengan tangannya. Tubuh sexy dan kenyal itu
sekarang berada dalam dekapanku. Aku mempererat dekapanku, sementara Yumiko pun
mempererat pelukannya pada diriku. Kehangatan tubuhnya terasa merembes ke badanku,
walau lembaran kain baju masih memerantarai kami. Payudaranya yang membusung terasa
semakin menekan dadaku. Jari-jari tangan Yumiko mulai meremas-remas kulit punggungku
dari sela-sela lobang leher T-shirt yang kupakai.

"Bobby-san... kita langsung lepas pakaian dulu saja...," kata Yumiko sambil berusaha
melepas T-shirtku. Aku mengangkat kedua tangan ke atas untuk memberi kesempatan dia
mencopot T-shirt. Tercopot sudah kaos yang kupakai itu. Kini kedua tangan Yumiko dengan
sigap melepaskan ikatan tali celana pendekku. Dan mencopotnya, sehingga aku kini tinggal
memakai celana dalam saja.

Yumiko pun merangkul punggungku lagi. Aku kembali mendekap erat tubuh Yumiko sambil
melumat kembali bibirnya. Sambil tangan kiri terus mendekap tubuh, tangan kananku
bergerak ke samping pinggang Yumiko dan melepaskan ikatan baju kimono tidurnya. Begitu
terbuka kusingkapkan bukaan kimono tadi. Kemudian kedua tanganku menyusup ke dalam
kimono dan langsung mendekap erat punggungnya yang berkulit halus. Yumiko kemudian
melepaskan rangkulannya ke tubuhku dan mengayunkan kedua tangannya satu per satu ke
belakang agar kimononya terlepas dari tubuhnya. Dan terjatuhlah kimononya ke lantai. Kini
dia seperti diriku, hanya mengenakan celana dalam saja.

Dalam keadaan hanya memakai celana dalam saja, kami kembali berpelukan erat dan saling
melumat bibir. Sementara tangan kami saling meremas-remas kulit punggung. Kehangatan
menyertai tubuh bagian depan kami yang saling menempel. Kini kurasakan payudaranya
yang montok menekan nakal ke dadaku. Dan ketika saling sedikit bergeseran, putingnya
seolah-olah menggelitiki dadaku. Kontholku terasa hangat dan mengeras di dalam celana
dalam. Kontholku serasa protes, ingin ikut-ikutan menyerang tubuh mulus Yumiko.

Tangan kiriku pun turun ke arah perbatasan pinggang ramping dan pinggul besar Yumiko,
kemudian menekannya kuat-kuat dari belakang ke arah perutku. Kini masih di dalam celana
dalam, kontholku tergencet perut bawahku dan perut bawah Yumiko dengan enaknya.
Sementara bibirku melepaskan diri dari bibir Yumiko, dan bergerak ke arah lehernya. Leher
jenjang yang putih mulus dan berbau harum segar itu pun kuciumi, kuhisap-hisap dengan
hidungku, dan kujilati dengan lidahku.

"Ah... geli... geli...," desah Yumiko sambil menengadahkan kepala, agar seluruh leher sampai
dagunya terbuka dengan luasnya.

Yumiko pun membusungkan dadanya dan melenturkan pinggangnya ke depan. Dengan posisi
begitu, walaupun wajahku dalam keadaan menggeluti lehernya, tubuh kami dari dada hingga
bawah perut tetap dapat menyatu dengan rapatnya. Tangan kananku lalu bergerak ke dadanya
yang montok, dan meremas-remas payudara tersebut dengan perasaan gemas.

Setelah puas menggeluti lehernya, wajahku turun ke arah belahan dadanya. Aku berdiri
dengan agak merunduk. Tangan kiriku pun menyusul tangan kanan, yakni bergerak
memegangi payudara. Wajahku kemudian menggeluti belahan payudara Yumiko, sementara

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 3


Stensilan Tjap Tjoean 2000
kedua tanganku meremas-remas kedua belah payudaranya sambil menekan-nekankannya ke
arah wajahku. Segala kemulusan dan kehalusan belahan dada itu kukecupi dengan bibirku.
Segala keharuman yang terpancar dari belahan payudara itu kuhirup kuat-kuat dengan
hidungku, seolah tidak rela apabila ada keharuman yang tersisa sedikitpun. Kugesek-
gesekkan memutar wajahku di belahan payudara itu. Kemudian bibirku bergerak ke atas
bukit payudara sebelah kiri. Kuciumi bukit payudara yang membusung dengan gagahnya itu.
Dan kumasukkan puting payudara di atasnya ke dalam mulutku. Kini aku menyedot-sedot
puting payudara kiri Yumiko. Kumainkan puting di dalam mulutku itu dengan lidahku.
Sedotan kadang kuperbesar ke puncak bukit payudara di sekitar puting yang berwarna coklat.

"Ah... ah... Bobby-san... geli... geli...," mulut indah Yumiko mendesis-desis sambil
menggeliatkan tubuh ke kiri-kanan, bagaikan desisan ular yang kelaparan mencari mangsa.

Aku memperkuat sedotanku. Sementara tanganku meremas kuat payudara montok yang
kenyal Yumiko sebelah kanan. Kadang remasan kuperkuat dan kuperkecil menuju puncak
bukitnya, dan kuakhiri dengan tekanan-tekanan kecil jari telunjuk dan ibu jariku pada puting
di atas puncak bukit payudara kanan itu.

"Bobby-san... hhh... geli... geli... enak... enak... ngilu... ngilu..."

Aku semakin gemas. Payudara aduhai Yumiko itu kumainkan secara bergantian, antara
sebelah kiri dan sebelah kanan. Bukit payudara kadang kusedot sebesar-besarnya dengan
tenaga isap sekuat-kuatnya, kadang yang kusedot hanya putingnya dan kucepit dengan gigi
atas dan lidah. Belahan lain kadang kuremas dengan daerah tangkap sebesar-besarnya dengan
remasan sekuat-kuatnya, kadang hanya kupijit-pijit dan kupelintir-pelintir kecil puting yang
mencuat gagah di puncaknya.

"Ah... Bobby-san... terus Bobby-san... terus... hzzz... ngilu... ngilu..." Yumiko mendesis-desis
keenakan. Matanya kadang terbeliak-beliak. Geliatan tubuhnya ke kanan-kiri semakin sering
frekuensinya.

Sampai akhirnya Yumiko tidak kuat melayani serangan-serangan awalku. Dia dengan
gerakan cepat memelorotkan celana dalamku hingga turun ke paha. Aku memaklumi
maksudnya, segera kurapatkan lututku sehingga celana dalam melorot jatuh ke karpet ruang
tamu. Jari-jari tangan kanan Yumiko yang mulus dan lembut kemudian menangkap
kontholku yang sudah berdiri dengan gagahnya. Sejenak dia memperlihatkan rasa terkejut.

"Sugoi... Bobby-san, sugoi... Batang kontholmu besar sekali... Konthol pacar-pacarku dulu
dan juga konthol suamiku tidak ada yang sebesar ini. Sugoi... sugoi...," ucapnya terkagum-
kagum. Sambil membiarkan mulut, wajah, dan tanganku terus memainkan dan menggeluti
kedua belah payudaranya, jari-jari lentik tangan kanannya meremas-remas perlahan
kontholku secara berirama, seolah berusaha mencari kehangatan dan kenikmatan di liatnya
menara kejantananku. Remasannya itu memberi rasa hangat dan nikmat pada batang
kontholku.

"Bobby-san, kita main di dalam kamar saja...," ajak Yumiko dengan sinar mata yang sudah
dikuasai nafsu birahi. Tangan kirinya mendorong perlahan diriku untuk membebaskan
payudaranya dari gelutan wajah dan tanganku. Dia lalu mengunci pintu dari dalam dan
membiarkan kunci tetap tertanam di lobangnya agar orang dari luar tidak dapat membukanya.
Setelah itu dia menarik tanganku.

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 4


Stensilan Tjap Tjoean 2000

Aku dan Yumiko pun berjalan menuju menuju kamar yang ada di sebelah ruang tamu. Kamar
itu berukuran dua belas tatami. Sebagaimana kamar-kamar tidur tradisional Jepang, kamar itu
kelihatan kosong, tanpa perabotan rak atau lemari. Namun di salah satu dindingnya, terdapat
dua buah pintu geser dimana di dalamnya terdapat suatu ruang bersusun untuk menaruh
futon. Futon adalah kasur tidur yang gampang digulung. Kebiasaan orang Jepang, bila
mereka mau tidur mereka membuka futon, sedang bila selesai tidur maka futon tersebut
mereka gulung kembali dan mereka simpan di ruang bersusun yang menyatu dengan dinding
tersebut. Dengan cara inilah orang Jepang menghemat tempat karena di saat tidak tidur maka
kamar tersebut dapat dipakai untuk acara lainnya.

Yumiko yang tinggal tertutup celana dalam itu berjalan di depanku. Dari belakang, bentuk
tubuhnya sungguh terlihat aduhai. Rambut belakang yang diikatnya ke atas itu menyebabkan
lehernya yang jenjang terlihat jelas bagian belakangnya. Beberapa helai rambut bagian
bawahnya yang pendek terlepas dari ikatan tersebut dan terjatuh menghiasi lehernya yang
jenjang. Kulit punggungnya kelihatan licin. Tubuh tersebut meramping di bagian
pinggangnya. Di bawah pinggang, tampak pinggulnya yang melebar dengan indahnya.
Celana dalam pink minimnya tidak mampu menyembunyikan keindahan gundukan daging
pantatnya yang putih dan amat mulus. Gundukan daging pantat itu menggial ke kiri-kanan
dengan amat merangsangnya bergerak mengimbangi setiap langkah kakinya. Kemudian
bentuk paha dan betisnya amatlah bagus, berkulit putih mulus tanpa terlihat goresan
sedikitpun.

Perempuan Jepang bertubuh aduhai itu membuka pintu geser dan mengambil satu futon lebar
dari dalamnya. Lebar futon itu kira-kira satu tiga per empat lebar futon yang kupunyai.
Agaknya futon tersebut adalah futon untuk tidur dua orang. Yumiko lalu membuka futon
tersebut di atas lantai kamar yang berkarpet tebal berwarna biru tua. Dalam mengatur
letaknya, dia merunduk menghadap ke arahku. Buah dadanya yang besar dan montok itupun
tampak menggantung kenyal dengan indahnya di dadanya. Di bawah lampu neon, gundukan
payudara itu tampak amat mulus dan putih mengkilat. Sementara ujungnya berwarna coklat
tua, dengan putingnya yang menyembul gagah di tengah-tengahnya berwarna pink kecoklat-
coklatan. Yumiko kemudian mengambil sprei dari ruang susun atas, lalu menutup kembali
pintu geser tersebut. Ketika mengambil sprei, tubuh tampak kanannya kelihatan jelas dari
tempatku berdiri. Dari samping kanannya, payudaranya kelihatan begitu membusung dengan
bagusnya, di mana ujung serta putingnya kelihatan meruncing tajam dengan aduhainya.
Sungguh payudara dan puting yang sangat enak dilahap dan disedot-sedot.

Selesai melapisi futon dengan sprei, Yumiko mematikan lampu neon dan berjalan
membelakangiku dalam rangka menghidupkan lampu bercahaya kuning yang agak remang-
remang. Masih pada posisi membelakangiku, dia lalu mencopot celana dalamnya. Wow...
luar biasa! Kini tubuh yang membelakangiku itu telanjang bulat, tanpa suatu penutup kain
selembarpun. Gumpalan daging di pantatnya yang tadi masih ditutupi celana dalam itu kini
terlihat menggunduk dengan amat bagusnya. Di bawah sorot lampu kekuningan, kulit pantat
yang putih itu menjadi terlihat kuning licin. Sungguh mulus sekali.

Aku tidak dapat berlama-lama memandang tubuh Yumiko yang sungguh aduhai itu. Segera
kurengkuh tubuhnya dari belakang dengan gemasnya. Kukecup daerah antara telinga dan
lehernya. Bau harum dan segar yang terpancar dari kulitnya kuhisap dalam-dalam. Kadang
daun telinga sebelah bawahnya yang kebetulan sedang tidak memakai anting-anting kukulum
dalam mulutku dan kumainkan dengan lidahku. Kadang ciumanku berpindah ke punggung

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 5


Stensilan Tjap Tjoean 2000
lehernya yang jenjang. Kujilati pangkal helaian rambutnya yang terjatuh di kulit lehernya.
Sementara tanganku mendekap dadanya dengan eratnya. Telapak dan jari-jari tanganku
meremas-remas kedua belah payudaranya. Remasanku kadang sangat kuat, kadang melemah.
Sementara di bagian bawah, kontholku kutekankan ke gundukan pantatnya yang amat mulus.
Kontholku merasa hangat dan nikmat berada di himpitan pantat kenyal Yumiko dan kulit
perut bawahku sendiri. Sambil telunjuk dan ibu jari tangan kananku menggencet dan
memelintir perlahan puting payudara kirinya, sementara tangan kiriku meremas kuat bukit
payudara kanannya dan bibirku menyedot kulit mulus pangkal lehernya yang bebau harum,
kontholku kugesek-gesekkan dan kutekan-tekankan ke pantatnya. Yumiko pun
menggelinjang ke kiri-kanan bagaikan ikan yang hampir kehabisan air.

"Ah... Bobby-san... ngilu... ngilu... terus Bobby-san... terus... ah... geli... geli...

terus... hhh... enak... enaknya... enak...," Yumiko merintih-rintih sambil terus berusaha
menggeliat ke kiri-kanan dengan berirama sejalan dengan permainan tanganku di buah
dadanya. Akibatnya pinggulnya menggial ke kanan-kiri. Goyang gialan pinggul itu membuat
kontholku yang sedang menggesek-gesek dan menekan-nekan pada kenyalnya bukit
pantatnya merasa semakin keenakan. Batang kontholku serasa diremas-remas dan dipelintir-
pelintir oleh pantat mulus Yumiko.

"Yumiko... enak sekali Yumiko... enak sekali pantatmu... sssh... luar biasa... enak sekali...,"
aku pun mendesis-desis keenakan.

"Hi-hik... Bobby-san... kamu keenakan ya? Batang kontholmu terasa besar dan keras sekali
memijat-mijat pantatku. Wow... kontholmu terasa hangat di kulit pantatku... Ah...

sssh... Bobby-san... tanganmu nakal sekali di dadaku... ngilu, Bob... ngilu...," rintih Yumiko.

"Benar, Yumiko... tanganku memang nakal... Tetapi penyebabnya karena payudaramu besar
dan kenyal sekali. Payudaramu mulus sekali... Payudaramu licin sekali... Sssh... luar biasa
indahnya..."

"Bobby-san... ngilu... suka sekali kau memainkan buah dadaku... Ah... geli ah, geli... Jangan
mainkan hanya putingnya saja... geli... remas seluruhnya saja..." Yumiko semakin
menggelinjang-gelinjang dalam dekapan eratku.

"Yumiko... sugoi... indah sekali payudaramu... Kenapa kau tidak jadi bintang film saja...
Payudaramu lebih indah dari payudara Natsumi Kawahama... Payudaramu lebih bagus dari
payudara Ai Iijima... Seharusnya kau jadi bintang film saja..."

"Auw! Bobby-san... remasanmu kuat sekali... Tanganmu nakal sekali... Sssh... sssh... ngilu...
ngilu... Ak... kontholmu di pantatku juga nakal sekali... besar sekali... kuat sekali..."

"Habis... pinggulmu bagus sekali... pantatmu kenyal dan mulus sekali... licin sekali... Wow...
pantatmu bergoyang ke kanan-kiri... Edan... edan... enak sekali..."

Aku semakin bersemangat menekan-tekankan kontholku di pantat Yumiko yang licin dan
mulus sekali itu. Tekanannya menjadi berputar-putar akibat goyangan ke kiri-kanan pinggul
Yumiko. Rasa hangat dan enak sekali mengalir semakin hebat di seluruh sel-sel kontholku.
Seiring dengan rasa enak itu aku semakin meningkatkan permainan tanganku di payudara

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 6


Stensilan Tjap Tjoean 2000
montok itu dan kecupan-kecupan bibirku di leher dan daun telinganya.

"Sssh... Bobby-san. Ngilu... ngilu... geli... geli... Nakal sekali tangan, mulut, dan konthol
kamu. Auw...! Ngilu... ngilu...," suara rintihan Yumiko mulai terdengar melayang. Seolah dia
sudah berada di antara alam sadar dan alam tak sadar. "Sudah Bobby-san... aku sudah tidak
tahan lagi... Aku inginkan permainan yang sebenarnya... "

Tanpa menunggu aba-aba kedua kalinya, tubuh telanjang Yumiko yang mulus itu langsung
kubopong ke atas futon. Di dalam boponganku, Yumiko merangkulkan tangannya ke leherku
sambil bibirnya mengecupi lengan tanganku. Untuk ukuran perempuan Jepang, tubuh
Yumiko sebenarnya termasuk istimewa. Kebanyakan perempuan Jepang, tinggi badan
mereka hanya sekitar 160 cm, sedang buah dada mereka relatif kecil. Kalau masalah pinggul,
mereka memang rata-rata mempunyai bentuk yang melebar dengan bagusnya, yang cukup
kontras dengan pinggang mereka yang ramping-ramping. Berbeda dengan Yumiko, dia
mempunyai badan yang tergolong tinggi, yakni 167 cm. Payudaranya besar, padat, dan
montok. Pinggangnya ramping, dan pinggulnya luar biasa. Kecuali melebar dengan
bagusnya, gumpalan pantatnya pun membusung ke luar dengan amat indahnya. Walaupun
kulitnya putih dan mulus, namun tubuhnya tidak lunak dan empuk. Seluruh bagian tubuh
yang sudah kugeluti terasa padat dan kenyal. Makanya kalau dipandang dari kejauhan kulit
tubuhnya mengesankan licin dan mulus sekali. Namun untuk membopong tubuh aduhai
Yumiko yang berukuran serba istimewa itu bagiku tidak ada masalah. Enteng-enteng saja.
Tinggi badanku sendiri 174 cm. Badanku padat dan tegap. Dadaku bidang. Orang-orang
Jepang temanku dalam latihan aikido bilang tubuhku sangat atletis ditambah dengan otot-otot
badan yang berisi.

Tubuh Yumiko kubaringkan di atas futon. Yumiko tidak mau melepaskan tangannya dari
leherku. Bahkan, begitu tubuhnya menyentuh futon, tangannya menarik wajahku mendekat
ke wajahnya. Tak ayal lagi, bibirnya yang pink merekah itu melumat bibirku dengan
ganasnya. Aku pun tidak mau mengalah. Kulumat bibirnya dengan penuh nafsu yang
menggelora, sementara tanganku mendekap tubuhnya dengan kuatnya. Kulit punggungnya
yang teraih oleh telapak tanganku kuremas-remas dengan gemasnya.

Kemudian aku menindihi tubuh Yumiko. Kontholku terjepit di antara kemulusan pangkal
pahanya dan perutku bagian bawah sendiri. Rasa hangat mengalir ke batang kontholku yang
tegang dan keras. Bibirku kemudian melepaskan bibir sensual Yumiko. Kecupan bibirku pun
turun. Kukecup dagu Yumiko yang bagus. Kukecup leher jenjang Yumiko yang
memancarkan bau wangi dan segarnya parfum yang dia pakai. Kuciumi dan kugeluti leher
indah itu dengan wajahku, sementara pantatku mulai bergerak aktif sehingga kontholku
menekan dan menggesek-gesek paha Yumiko. Gesekan maju-mundur di kulit paha yang licin
itu membuat batang kontholku bagai diperas dengan gerakan maju-mundur. Kepala
kontholku merasa geli-geli enak oleh gesekan-gesekan paha Yumiko.

Puas menggeluti leher indah itu, wajahku pun turun ke buah dada montok Yumiko. Dengan
gemas dan ganasnya aku membenamkan wajahku ke belahan dadanya, sementara kedua
tanganku meraup kedua belah payudaranya dan menekannya ke arah wajahku. Keharuman
payudaranya kuhirup sepuas-puasku. Belum puas dengan menyungsep ke belahan dadanya,
wajahku kini menggesek-gesek memutar sehingga kedua gunung payudaranya tertekan-tekan
oleh wajahku secara bergantian. Sungguh sedap sekali rasanya ketika hidungku menyentuh
dan menghirup dalam-dalam daging payudara yang besar dan kenyal itu. Kemudian bibirku
meraup puncak bukit payudara kiri Yumiko. Daerah payudara yang kecoklat-coklatan beserta

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 7


Stensilan Tjap Tjoean 2000
putingnya yang pink kecoklat-coklatan itu pun masuk dalam mulutku. Kulahap ujung
payudara dan putingnya itu dengan bernafsunya, tak ubahnya seperti bayi yang menetek susu
setelah kelaparan selama seharian. Di dalam mulutku, puting itu kukulum-kulum dan
kumainkan dengan lidahku.

"Bobby-san... geli... geli...," kata Yumiko kegelian.

Aku tidak perduli. Aku terus mengulum-kulum puncak bukit payudara Yumiko. Putingnya
terasa di lidahku menjadi keras. Kemudian aku kembali melahap puncak bukit payudara itu
sebesar-besarnya. Apa yang masuk dalam mulutku kusedot sekuat-kuatnya. Sementara
payudara sebelah kanannya kuremas sekuat-kuatnya dengan tanganku. Hal tersebut
kulakukan secara bergantian antara payudara kiri dan payudara kanan Yumiko. Sementara
kontholku semakin menekan dan menggesek-gesek dengan beriramanya di kulit pahanya.
Yumiko semakin menggelinjang-gelinjang dengan hebatnya.

"Bobby-san... Bobby... ngilu... ngilu... hihhh... nakal sekali tangan dan mulutmu... Auw!
Sssh... ngilu... ngilu...," rintih Yumiko. Rintihannya itu justru semakin mengipasi api nafsuku.
Api nafsuku semakin berkobar-kobar. Semakin ganas aku mengisap-isap dan meremas-remas
payudara montoknya. Sementara kontholku berdenyut-denyut keenakan merasakan hangat
dan licinnya paha Yumiko.

Akhirnya aku tidak sabar lagi. Kulepaskan payudara montok Yumiko dari gelutan mulut dan
tanganku. Bibirku kini berpindah menciumi dagu dan lehernya, sementara tanganku
membimbing kontholku untuk mencari liang memeknya. Kuputar-putarkan dulu kepala
kontholku di kelebatan jembut disekitar bibir memek Yumiko. Bulu-bulu jembut itu bagaikan
menggelitiki kepala kontholku. Kepala kontholku pun kegelian. Geli tetapi enak.

"Bobby-san... kamu sudah ingin masuk? Hi-hi-hik... dasar masih perjaka. Baru pertama kali
menggeluti perempuan, jadi tidak sabar untuk merasakan memek perempuan. Hi-hi-hik... kau
akan cepat terlempar ke langit ketujuh, Bob. Kau akan segera ejakulasi... Namun bukan
masalah, nanti kita dapat melakukan babak kedua..."

Jari-jari tangan Yumiko yang lentik meraih batang kontholku yang sudah amat tegang.
Pahanya yang mulus itu dia buka agak lebar.

"Sugoi... sugoi... kontholmu besar dan keras sekali, Bob...," katanya sambil mengarahkan
kepala kontholku ke lobang memeknya.

Sesaat kemudian kepala kontholku menyentuh bibir memeknya yang sudah basah. Kemudian
dengan perlahan-lahan dan sambil kugetarkan, konthol kutekankan masuk ke liang memek.
Kini seluruh kepala kontholku pun terbenam di dalam memek. Daging hangat berlendir kini
terasa mengulum kepala kontholku dengan enaknya.

Aku menghentikan gerak masuk kontholku.

"Bobby-san... teruskan masuk, Bob... Sssh... enak... jangan berhenti sampai situ saja...,"
Yumiko protes atas tindakanku. Namun aku tidak perduli. Kubiarkan kontholku hanya masuk
ke lobang memeknya hanya sebatas kepalanya saja, namun kontholku kugetarkan dengan
amplituda kecil. Sementara bibir dan hidungku dengan ganasnya menggeluti lehernya yang
jenjang, lengan tangannya yang harum dan mulus, dan ketiaknya yang bersih dari bulu ketiak.

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 8


Stensilan Tjap Tjoean 2000
Yumiko menggelinjang-gelinjang dengan tidak karuan.

"Sssh... sssh... enak... enak... geli... geli, Bob. Geli... Terus masuk, Bob..."

Bibirku mengulum kulit lengan tangannya dengan kuat-kuat. Sementara tenaga


kukonsentrasikan pada pinggulku. Dan... satu... dua... tiga! Kontholku kutusukkan sedalam-
dalamnya ke dalam memek Yumiko dengan sangat cepat dan kuatnya. Plak! Pangkal pahaku
beradu dengan pangkal pahanya yang mulus yang sedang dalam posisi agak membuka
dengan kerasnya. Sementara kulit batang kontholku bagaikan diplirid oleh bibir dan daging
lobang memeknya yang sudah basah dengan kuatnya sampai menimbulkan bunyi: srrrt!

"Auwww!" pekik Yumiko.

Aku diam sesaat, membiarkan kontholku tertanam seluruhnya di dalam memek Yumiko
tanpa bergerak sedikit pun.

"Sakit Bobby-san... Nakal sekali kamu... nakal sekali kamu...," kata Yumiko sambil
tangannya meremas punggungku dengan kerasnya.

Aku pun mulai menggerakkan kontholku keluar-masuk memek Yumiko. Aku tidak tahu,
apakah kontholku yang berukuran panjang dan besar ataukah lubang memek Yumiko yang
berukuran kecil. Yang saya tahu, seluruh bagian kontholku yang masuk memeknya serasa
dipijit-pijit dinding lobang memeknya dengan agak kuatnya. Pijitan dinding memek itu
memberi rasa hangat dan nikmat pada batang kontholku.

"Bagaimana Yumiko, sakit?" tanyaku

"Sssh... enak sekali... enak sekali... Barangmu besar dan panjang sekali... sampai-sampai
menyumpal penuh seluruh penjuru lobang memekku...," jawab Yumiko.

Aku terus memompa memek Yumiko dengan kontholku perlahan-lahan. Payudara kenyalnya
yang menempel di dadaku ikut terpilin-pilin oleh dadaku akibat gerakan memompa tadi.
Kedua putingnya yang sudah mengeras seakan-akan mengkilik-kilik dadaku yang bidang.
Kehangatan payudaranya yang montok itu mulai terasa mengalir ke dadaku. Kontholku
serasa diremas-remas dengan berirama oleh otot-otot memeknya sejalan dengan genjotanku
tersebut. Terasa hangat dan enak sekali. Sementara setiap kali menusuk masuk kepala
kontholku menyentuh suatu daging hangat di dalam memek Yumiko. Sentuhan tersebut
serasa menggelitiki kepala konthol sehingga aku merasa sedikit kegelian. Geli-geli nikmat.

Kemudian aku mengambil kedua kakinya yang putih mulus dan mengangkatnya. Sambil
menjaga agar kontholku tidak tercabut dari lobang memeknya, aku mengambil posisi agak
jongkok. Betis kanan Yumiko kutumpangkan di atas bahuku, sementara betis kirinya
kudekatkan ke wajahku. Sambil terus mengocok memeknya perlahan dengan kontholku, betis
kirinya yang amat indah itu kuciumi dan kukecupi dengan gemasnya. Setelah puas dengan
betis kiri, ganti betis kanannya yang kuciumi dan kugeluti, sementara betis kirinya
kutumpangkan ke atas bahuku. Begitu hal tersebut kulakukan beberapa kali secara
bergantian, sambil mempertahankan rasa nikmat di kontholku dengan mempertahankan
gerakan maju-mundur perlahannya di memek Yumiko.

Setelah puas dengan cara tersebut, aku meletakkan kedua betisnya di bahuku, sementara

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 9


Stensilan Tjap Tjoean 2000
kedua telapak tanganku meraup kedua belah payudaranya. Masih dengan kocokan konthol
perlahan di memeknya, tanganku meremas-remas payudara montok Yumiko. Kedua
gumpalan daging kenyal itu kuremas kuat-kuat secara berirama. Kadang kedua putingnya
kugencet dan kupelintir-pelintir secara perlahan. Puting itu semakin mengeras, dan bukit
payudara itu semakin terasa kenyal di telapak tanganku. Yumiko pun merintih-rintih
keenakan. Matanya merem-melek, dan alisnya mengimbanginya dengan sedikit gerakan
tarikan ke atas dan ke bawah.

"Ah... Bobby-san, geli... geli... Tobat... tobat... Ngilu Bob, ngilu... Sssh... sssh... terus Bob,
terus.... Edan... edan... kontholmu membuat memekku merasa enak sekali... Nanti jangan
disemprotkan di luar memek, Bob. Nyemprot di dalam saja... aku sedang tidak subur..."

Aku mulai mempercepat gerakan masuk-keluar kontholku di memek Yumiko.

"Ah-ah-ah... bener, Bob. Bener... yang cepat... Terus Bob, terus... "

Aku bagaikan diberi spirit oleh rintihan-rintihan Yumiko. Tenagaku menjadi berlipat ganda.
Kutingkatkan kecepatan keluar-masuk kontholku di memek Yumiko. Terus dan terus.
Seluruh bagian kontholku serasa diremas-remas dengan cepatnya oleh daging-daging hangat
di dalam memek Yumiko. Mata Yumiko menjadi merem-melek dengan cepat dan dan
indahnya. Begitu juga diriku, mataku pun merem-melek dan mendesis-desis karena merasa
keenakan yang luar biasa.

"Sssh... sssh... Yumiko... enak sekali... enak sekali memekmu... enak sekali memekmu..."

"Ya Bob, aku juga merasa enak sekali... terusss... terus Bob, terusss..."

Aku meningkatkan lagi kecepatan keluar-masuk kantholku pada memeknya. Kontholku


terasa bagai diremas-remas dengan tidak karu-karuan.

"Bob... Bob... sugoi Bob, sugoi... sssh... sssh... Terus... terus... Saya hampir keluar nih Bob...

sedikit lagi... kita keluar sama-sama ya Booob...," Yumiko jadi mengoceh tanpa kendali.

Aku mengayuh terus. Aku belum merasa mau keluar. Namun aku harus membuatnya keluar
duluan. Biar perempuan Jepang yang molek satu ini tahu bahwa lelaki Indonesia itu perkasa.
Biar dia mengakui kejantanan orang Indonesia yang bernama Bobby ini. Sementara
kontholku merasakan daging-daging hangat di dalam memek Yumiko bagaikan berdenyut
dengan hebatnya.

"Bobby-san... Bobby... Bobby...," rintih Yumiko. Telapak tangannya memegang kedua


lengan tanganku seolah mencari pegangan di batang pohon karena takut jatuh ke bawah.

Ibarat pembalap, aku mengayuh sepeda balapku dengan semakin cepatnya. Bedanya,
dibandingkan dengan pembalap aku lebih beruntung. Di dalam "mengayuh sepeda" aku
merasakan keenakan yang luar biasa di sekujur kontholku. Sepedaku pun mempunyai daya
tarik tersendiri karena mengeluarkan rintihan-rintihan keenakan yang tiada terkira.

"Bob... ah-ah-ah-ah-ah... Kimochi Bob, kimochi... Ah-ah-ah-ah-ah... Mau keluar Bob... mau
keluar... ah-ah-ah-ah-ah... sekarang ke-ke-ke..."

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 10


Stensilan Tjap Tjoean 2000

Tiba-tiba kurasakan kontholku dijepit oleh dinding memek Yumiko dengan sangat kuatnya.
Di dalam memek, kontholku merasa disemprot oleh cairan yang keluar dari memek Yumiko
dengan cukup derasnya. Dan telapak tangan Yumiko meremas lengan tanganku dengan
sangat kuatnya. Mulut sensual Yumiko pun berteriak tanpa kendali:

"...keluarrr...!"

Mata Yumiko membeliak-beliak. Sekejap tubuh Yumiko kurasakan mengejang.

Aku pun menghentikan genjotanku. Kontholku yang tegang luar biasa kubiarkan diam
tertanam dalam memek Yumiko. Kontholku merasa hangat luar biasa karena terkena
semprotan cairan memek Yumiko. Kulihat mata Yumiko kemudian memejam beberapa saat
dalam menikmati puncak orgasmenya.

Setelah sekitar satu menit berlangsung, remasan tangannya pada lenganku perlahan-lahan
mengendur. Kelopak matanya pun membuka, memandangi wajahku. Sementara jepitan
dinding memeknya pada kontholku berangsur-angsur melemah, walaupun kontholku masih
tegang dan keras. Kedua kaki Yumiko lalu kuletakkan kembali di atas futon dengan posisi
agak membuka. Aku kembali menindih tubuh telanjang Yumiko dengan mempertahankan
agar kontholku yang tertanam di dalam memeknya tidak tercabut.

"Bobby-san... kamu luar biasa... kamu membawaku ke langit ke tujuh," kata Yumiko dengan
mimik wajah penuh kepuasan, "Sudah dua tahun terakhir ini suamiku tidak pernah membawa
aku orgasme. Baru setengah jalan dia selalu sudah keluar. Dalam dua tahun belakangan ini
aku mencapai kepuasan seks lewat onani sambil menonton blue film. Aku selalu
membayangkan bahwa perempuan yang digenjot dalam film itu adalah diriku. Dan sejak
kamu tinggal di sini, aku selalu membayangkan bahwa laki-laki yang menggenjot lawan
mainnya di film tersebut adalah kamu."

Aku senang mendengar pengakuan Yumiko itu. Berarti selama aku tidak bertepuk sebelah
tangan. Aku selalu membayangkan kemolekan tubuh Yumiko dalam masturbasiku, sementara
dia juga membayangkan kugeluti dalam onaninya.

"Bobby-san... kamu seperti yang kubayangkan. Kamu jantan... kamu perkasa... dan kamu
berhasil membawaku ke puncak orgasme. Luar biasa nikmatnya..."

Aku bangga mendengar ucapan Yumiko. Dadaku serasa mengembang. Dan bagai anak kecil
yang suka pujian, aku ingin menunjukkan bahwa aku lebih perkasa dari dugaannya.
Perempuan Jepang harus kewalahan menghadapi laki-laki Indonesia. Perempuan Jepang
harus mengakui kejantanan dan keperkasaan pria Indonesia. Kebetulan aku saat ini baru
setengah perjalanan pendakianku di saat Yumiko sudah mencapai orgasmenya. Kontholku
masih tegang di dalam memeknya. Kontholku masih besar dan keras, yang harus
menyemprotkan pelurunya agar kepalaku tidak pusing.

Aku kembali mendekap tubuh mulus Yumiko, yang di bawah sinar lampu kuning kulit
tubunya tampak kuning dan licin. Kontholku mulai bergerak keluar-masuk lagi di memek
Yumiko, namun masih dengan gerakan perlahan. Dinding memek Yumiko secara berangsur-
angsur terasa mulai meremas-remas kontholku. Terasa hangat dan enak. Namun sekarang
gerakan kontholku lebih lancar dibandingkan dengan tadi. Pasti karena adanya cairan

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 11


Stensilan Tjap Tjoean 2000
orgasme yang disemprotkan oleh memek Yumiko beberapa saat yang lalu.

"Ahhh... Bobby-san... kau langsung memulainya lagi... Sekarang giliranmu... semprotkan air
manimu ke dinding-dinding memekku... Sssh...," Yumiko mulai mendesis-desis lagi.

Bibirku mulai memagut bibir merekah Yumiko yang amat sensual itu dan melumat-lumatnya
dengan gemasnya. Sementara tangan kiriku ikut menyangga berat badanku, tangan kananku
meremas-remas payudara montok Yumiko serta memijit-mijit putingnya, sesuai dengan
irama gerak maju-mundur kontholku di memeknya.

"Sssh... sssh... sssh... enak Bob, enak... Terus... teruss... terusss...," desis bibir Yumiko di saat
berhasil melepaskannya dari serbuan bibirku. Desisan itu bagaikan mengipasi gelora api
birahiku.

Sambil kembali melumat bibir Yumiko dengan kuatnya, aku mempercepat genjotan
kontholku di memeknya. Pengaruh adanya cairan di dalam memek Yumiko, keluar-masuknya
konthol pun diiringi oleh suara, "srrt-srret srrrt-srrret srrt-srret..." Mulut Yumiko di saat
terbebas dari lumatan bibirku tidak henti-hentinya mengeluarkan rintih kenikmatan,

"Bob... ah... Bob... ah... Bob... hhh... Bob... ahh..."

Kontholku semakin tegang. Kulepaskan tangan kananku dari payudaranya. Kedua tanganku
kini dari ketiak Yumiko menyusup ke bawah dan memeluk punggung mulusnya. Tangan
Yumiko pun memeluk punggungku dan mengusap-usapnya. Aku pun memulai serangan
dahsyatku. Keluar-masuknya kontholku ke dalam memek Yumiko sekarang berlangsung
dengan cepat dan bertenaga. Setiap kali masuk, konthol kuhunjamkan keras-keras agar
menusuk memek Yumiko sedalam-dalamnya. Dalam perjalanannya, batang kontholku bagai
diremas dan dihentakkan kuat-kuat oleh dinding memek Yumiko. Sampai di langkah
terdalam, mata Yumiko membeliak sambil bibirnya mengeluarkan seruan tertahan, "Ak!"
Sementara daging pangkal pahaku bagaikan menampar daging pangkal pahanya sampai
berbunyi: plak! Di saat bergerak keluar memek, konthol kujaga agar kepalanya yang
mengenakan helm tetap tertanam di lobang memek. Remasan dinding memek pada batang
kontholku pada gerak keluar ini sedikit lebih lemah dibanding dengan gerak masuknya. Bibir
memek yang mengulum batang kontholku pun sedikit ikut tertarik keluar, seolah tidak rela
bila sampai ditinggal keluar oleh batang kontholku. Pada gerak keluar ini Bibir Yumiko
mendesah, "Hhh..."

Aku terus menggenjot memek Yumiko dengan gerakan cepat dan menghentak-hentak.
Remasan yang luar biasa kuat, hangat, dan enak sekali bekerja di kontholku. Tangan Yumiko
meremas punggungku kuat-kuat di saat kontholku kuhunjam masuk sejauh-jauhnya ke lobang
memeknya. Beradunya daging pangkal paha menimbulkan suara: Plak! Plak! Plak! Plak!
Pergeseran antara kontholku dan memek Yumiko menimbulkan bunyi srottt-srrrt... srottt-
srrrt... srottt-srrrt... Kedua nada tersebut diperdahsyat oleh pekikan-pekikan kecil yang merdu
yang keluar dari bibir Yumiko:

"Ak! Hhh... Ak! Hhh... Ak! Hhh..."

Kontholku terasa empot-empotan luar biasa. Rasa hangat, geli, dan enak yang tiada tara
membuatku tidak kuasa menahan pekikan-pekikan kecil:

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 12


Stensilan Tjap Tjoean 2000
"Yumiko... Yumiko... sugoi... sugoi... Enak sekali Yumiko... Memekmu enak sekali...
Memekmu hangat sekali... sugoi... jepitan memekmu enak sekali..."

"Bob... Bob... terus Bob...," rintih Yumiko, "enak Bob... enaaak... Ak! Ak! Ak! Hhh... Ak!
Hhh... Ak! Hhh..."

Tiba-tiba rasa gatal menyelimuti segenap penjuru kontholku. Gatal yang enak sekali. Aku
pun mengocokkan kontholku ke memeknya dengan semakin cepat dan kerasnya. Setiap
masuk ke dalam, kontholku berusaha menusuk lebih dalam lagi dan lebih cepat lagi
dibandingkan langkah masuk sebelumnya. Rasa gatal dan rasa enak yang luar biasa di
konthol pun semakin menghebat.

"Yumiko... aku... aku..." Karena menahan rasa nikmat dan gatal yang luar biasa aku tidak
mampu menyelesaikan ucapanku yang memang sudah terbata-bata itu.

"Bob... Bob... Bob! Ak-ak-ak... Aku mau keluar lagi... Ak-ak-ak... aku ke-ke-ke..."

Tiba-tiba kontholku mengejang dan berdenyut dengan amat dahsyatnya. Aku tidak mampu
lagi menahan rasa gatal yang sudah mencapai puncaknya. Namun pada saat itu juga tiba-tiba
dinding memek Yumiko mencekik kuat sekali. Dengan cekikan yang kuat dan enak sekali itu,
aku tidak mampu lagi menahan jebolnya bendungan dalam alat kelaminku.

Pruttt! Pruttt! Pruttt! Kepala kontholku terasa disemprot cairan memek Yumiko, bersamaan
dengan pekikan Yumiko, "...keluarrrr...!" Tubuh Yumiko mengejang dengan mata
membeliak-beliak.

"Yumiko...!" aku melenguh keras-keras sambil merengkuh tubuh Yumiko sekuat-kuatnya,


seolah aku sedang berusaha meremukkan tulang-tulang punggungnya dalam kegemasan.
Wajahku kubenamkan kuat-kuat di lehernya yang jenjang. Cairan spermaku pun tak
terbendung lagi. Crottt! Crottt! Crottt! Spermaku bersemburan dengan derasnya, menyemprot
dinding memek Yumiko yang terdalam. Kontholku yang terbenam semua di dalam
kehangatan memek Yumiko terasa berdenyut-denyut.

Beberapa saat lamanya aku dan Yumiko terdiam dalam keadaan berpelukan erat sekali,
sampai-sampai dari alat kemaluan, perut, hingga ke payudaranya seolah terpateri erat dengan
tubuh depanku. Aku menghabiskan sisa-sisa sperma dalam kontholku. Cret! Cret! Cret!
Kontholku menyemprotkan lagi air mani yang masih tersisa ke dalam memek Yumiko. Kali
ini semprotannya lebih lemah.

Perlahan-lahan baik tubuh Yumiko maupun tubuhku tidak mengejang lagi. Aku kemudian
menciumi leher mulus Yumiko dengan lembutnya, sementara tangan Yumiko mengusap-usap
punggungku dan mengelus-elus rambut kepalaku. Aku merasa puas sekali berhasil bermain
sex dengan Yumiko. Pertama kali aku bermain seks, bidadari lawan mainku adalah
perempuan jepang yang bertubuh tinggi dan kenyal, berkulit putih mulus, berpayudara besar
dan padat, berpinggang ramping, dan berpinggul besar serta aduhai. Tidak rugi air maniku
diperas habis-habisan pada pengalaman pertama ini oleh orang semolek Yumiko.

"Bobby-san... Terima kasih Bob. Puas sekali saya. Indah sekali... sungguh... kimochi
yokatta," kata Yumiko lirih. "Malam ini tidur di sini saja ya, Bob?"

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 13


Stensilan Tjap Tjoean 2000
Aku tidak memberi kata jawaban. Sebagai jawaban, bibirnya yang indah itu kukecup mesra.
Yumiko kemudian mengambil dua buah bantal tipis serta sebuah selimut besar dari dalam rak
futon. Aku dan dia tidur bersama tanpa mengenakan selembar pakaian pun di bawah satu
selimut. Dia meletakkan kepalanya di atas dadaku yang bidang, sedang tangannya melingkar
ke badanku. Bau harum bir yang dia minum masih terpancar dari udara pernafasannya.

TJAP-TJOEAN : tjap.tjoean@yahoo.com Page 14

Anda mungkin juga menyukai