Anda di halaman 1dari 11

Nama : Linda Sari

Jurusan : Akuntansi

ARTIKEL SPT TAHUNAN


MENYINGKAPI LAMPIRAN DAFTAR HARTA (SPT PPh Orang Pribadi)
Sebagaimana diketahui SPT Tahunan Pajak Penghasilan WP Orang Pribadi mulai tahun 2001
mengalami perubahan antara lain adanya penambahan lampiran Daftar Harta dan Kewajiban pada akhir
tahun. Kewajiban melaporkan jumlah harta dan kewajiban pada SPT akhir membuat bingung dan
ketakutan wajib pajak yang selama ini . Hal ini disebabkan karena mereka takut efek perpajakan bila
melaporkan seluruh kekayaannya, atau melaporkan hanya sebagian saja.Tak salah kalau ada yang
berpendapat seperti memakan buah simalakama. Bila melaporkan harta apa adanya, takut Pajak
Penghasilan tahun-tahun sebelumnya akan dipermasalahkan.
Sebagai contoh bila daftar kekayaan pada SPT Akhir tahun 2005 dinyatakan ada rumah atau
kendaraan yang dibeli tahun 1999, yang jumlahnya katakanlah mencapai milyaran rupiah, padahal pada
pada tahun 1999 orang tersebut belum memiliki NPWP Pribadi . Bisa-bisa orang tersebut diperiksa
pajak dengan berdasarkan data SPT tahun 2005 .
Jika memang belum dipajaki, fiskus memiliki kewenangan untuk memajakinya sesuai ketentuan Pasal
4 ayat (1) huruf p UU PPh.
Sebaliknya apabila tidak dilaporkan kekayaan apa adanya berarti SPT tidak benar, sewaktu-waktu
kalau ketahuan oleh aparat pajak akan dikenakan sanksi yang berat. Atau apabila nanti pada tahun 2006
dia membeli rumah baru atau mobil baru yang uangnya dari hasil penjualan rumah atau mobil yang
lama, karena tidak tercantum dalam lampiran SPT tahun 2005, maka petugas pajak bisa mengatakan
bahwa harta yang dijual tersebut didapat pada tahun 2006.
Jadi ada penambahan harta tahun 2006, penambahan harta tentu identik dengan penghasilan, sehingga
PPh tahun 2006 menjadi besar.
Apabila daftar Harta dan Kewajiban pada SPT akhir Orang pribadi tahun 2006 dibandingkan dengan
tahun 2005, maka akan diketahui penambahan atau pengurangan harta orang tersebut.
Penambahan atau pengurangan harta dan kewajiban seseorang dipengaruhi oleh dua unsur yaitu;
1. Penghasilan / Income
2. Biaya Hidup / Cost of Living
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa penghasilan dikurangi dengan biaya hidup adalah tabungan
atau penambahan harta. Apabila biaya hidup lebih besar dari penghasilan maka terjadi pengurangan
harta.
Dengan demikian untuk mengetahui penghasilan seseorang, dapat dilakukan dengan mengetahui
penambahan atau pengurangan harta dan biaya hidup orang tersebut, atau dengan kata lain dengan
mengetahui biaya hidup seseorang dan penambahan atau pengurangan hartanya, maka dapat diketahui
pula berapa penghasilan seseorang tersebut.
Besarnya biaya hidup seseorang ditentukan oleh berbagai faktor antara lain;

• Kota dan lingkungan tempat tinggal

• Besar kecilnya rumah yang ditempati

• Jumlah tanggungan keluarga, sekolah anak-anak, apakah sekolah dalam negeri atau luar negeri

• Jumlah pembantu

• Jenis dan banyaknya kendaraan pribadi

• Hobi

Pemanfaatan Daftar Harta dan Implikasinya bagi Wajib Pajak Pribadi

Penyajian daftar harta dalam Lampiran-IV 1770/Lampiran-II 1770S, data tersebut secara tidak langsung
oleh fiskus dapat digunakan.

Pertama, sebagai sarana untuk melihat pertambahan harta dari tahun ke tahun, apakah rasional atau
tidak bila dibandingkan dengan penghasilannya. Fiskus akan mengetahui kenaikan ataupun penurunan
harta dan kewajiban yang disampaikan WP dalam lampiran tersebut dengan membandingkan posisi
harta pada tahun laporan dengan posisi harta pada tahun sebelumnya. Sesuai dengan pasal 4 ayat (1) UU
No. 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan, yang menyebutkan bahwa setiap tambahan kemampuan
ekonomi/kekayaan yang berasal dari penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apa pun yang belum
dikenakan pajak merupakan objek pajak.

Kedua, sebagai sarana untuk mengungkap adanya kewajiban-kewajiban pajak yang lain berkaitan
dengan harta seperti: PBB, BPHTB, Sewa, Pajak-pajak Final, dan lain sebagainya. Dengan
memanfaatkan data pada lampiran tersebut fiskus dapat melihat tingkat kepatuhan WP dalam memenuhi
pajak-pajak lainnya yang berkaitan dengan harta, bila terdapat penambahan harta dari tahun
sebelumnya.

Ketiga, untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya penghasilan yang belum dikenakan pajak
(belum dilaporkan pajaknya). Penambahan harta yang tidak sesuai dengan pelaporan penghasilan
mengindifikasikan adanya penghasilan lain yang belum dipajaki.

Pencantuman daftar harta dalam lampiran SPT lebih berfungsi sebagai alat monitoring untuk menguji
kejujuran WP. Indikasi kejujuran dapat diukur dari informasi tentang pertambahan harta, tingkat
konsumsi dan seberapa besar yang dilaporkan dalam SPT.

Implikasi-implikasi yang mungkin terjadi dari laporan dalam Lampiran-IV 1770/Lampiran-II 1770S
(Orang Pribadi) meliputi:

1. Dikoreksinya SPT Tahunan dengan SKP atau SKPKB, karena penghasilan yang diterima tidak
menunjukkan adanya keseimbangan antara jumlah harta dan kewajiban yang dimiliki WP, tentu saja hal
ini melalui proses pemeriksaan pajak, dan dari hasil pemeriksaan tersebut dapat diberikan koreksi.

2. Dalam jangka panjang akan terus dipantau bila terjadi penambahan dan atau pengurangan harta yang
mempunyai implikasi kewajiban perpajakan. Seperti, bila dalam daftar harta dicantumkan adanya harta
berupa tanah atau bangunan yang nilainya misalnya Rp.160.000.000,00 pada tahun sebelumnya, tiba-
tiba tanah atau bangunan tidak muncul lagi, kemungkinannya tanah atau bangunan tersebut telah dijual
kepada pihak lain, dan bila demikian penjualan tersebut merupakan objek BPHTB.

3. Suatu cara yang tidak langsung, upaya pembuktian terbalik atas harta yang dimiliki. Bila tiba-tiba
muncul adanya jumlah harta yang jauh lebih besar dari jumlah penghasilannya, tentu akan mengundang
pertanyaan bagi peneliti data laporan SPT, yang dapat ditindaklanjuti dengan memanggil WP untuk
menjelaskan darimana sumber penghasilan untuk memperoleh harta atau paling tidak akan menanyakan
darimana harta tersebut diperoleh.

Suatu contoh, seseorang wajib pajak pribadi tinggal kawasan elit Jakarta, bangunan rumah 500 m2 di
atas tanah 1000 m2 , ada kolom renang, harga rumah dan bangunan ± Rp. 6 Milyar, mobil pribadi 3
buah, dua diantaranya super mewah, pembantu 5 orang, sopir 2 orang, membiayai tiga orang anaknya
yang kuliah di luar negeri, dan punya hobi jetski.

Pada SPT tahun 2005 ternyata penghasilannya yang dilaporkan 1 tahun Rp. 120.000.000, dari
penghasilan sebagai Direktur perusahaan yang dipotong PPh psl 21 nya.. Tidak ada penghasilan lain-
lain dan penghasilan Final. Jumlah harta dan kewajiban tahun 2005 dibanding tahun sebelumnya tidak
ada perubahan.

Dari data-data tersebut di atas dapat dilihat adanya ketidak cocokan antara penghasilan, penambahan
harta serta biaya hidupnya.

Tidak bisa dipungkiri Orang Pribadi tersebut biaya hidupnya jauh melebihi penghasilannya.

Seandainya petugas pajak menaksir biaya hidup orang tersebut Rp. 50.000.000/bulan atau Rp.
600.000.000 pertahun, dimana taksiran biaya hidup sebesar itu merupakan jumlah yang wajar, walaupun
fiskus tidak mempunyai data-data lain, atau tidak bisa membuktikan sumber penghasilan lain dari orang
tersebut

Perkara lain yang bisa berpeluang menimbulkan masalah adalah dokumen kepemilikan. Apa sebenarnya
arti dimiliki? Apakah harta yang dikuasai dan atau dipergunakan oleh WP dan keluarganya atau secara
formal didukung dengan bukti kepemilikan yang sah?

Dalam praktek bisa saja seorang WP memiliki kendaraan bermotor berupa mobil sedan, tetapi BPKB
(Buku Pemilik Kendaraan Bermotor)-nya masih atas nama orang lain atau belum dibalik nama. Belum
lagi kendaraan yang dibeli secara leasing, siapa pemilik sebenarnya yang harus melaporkan dalam SPT
Tahunan. Demikian juga untuk harta berupa tanah dan bangunan. Sering terjadi seorang pembeli tanah
tidak langsung melakukan balik nama sertifikat ke BPN (Badan Pertanahan Nasional).

Di samping itu, masalah penentuan nilai perolehan harta yang wajar bila tidak terdapat dokumentasi
mengenai harga pembelian atau perolehan harta atau harta yang berasal dari warisan, hibah, sumbangan
dan sejenisnya. Kelihatannya memang mudah dan sederhana, akan tetapi di lapangan hal ini bisa
menjadi sumber persengketaan antara WP dengan fiskus.

Resiko Diperiksa oleh Pajak untuk Wajib Pajak Pribadi

Penghasilan dari kacamata pajak adalah konsumsi ditambah dengan kekayaan (harta).

Dengan dasar definisi tersebut penghasilan seseorang dapat dihitung berdasarkan daftar harta dan
kewajiban yang disampaikan ke kantor pajak dengan menggunakan metode pemeriksaan tidak langsung
(misalnya dengan Metode Perbandingan Kekayaan Bersih).

Penghitungan penghasilan netto tersebut tetap harus memperhatikan kemungkinan adanya penghasilan
yang bukan objek PPh dan penghasilan yang sudah dikenakan PPh bersifat final. Jika terdapat
penambahan kekayaan bersih berarti bahwa wajib pajak memiliki tambahan penghasilan dan hal ini bisa
diperbandingkan dengan jumlah penghasilan yang dilaporkan dalam SPT Tahunan WP Orang Pribadi
yang bersangkutan. Jika terdapat ketidaksesuaian penghitungan, maka dapat dikatakan terdapat
tambahan kekayaan netto yang belum dikenakan pajak sesuai Pasal4 ayat (1) huruf p UU PPh. Jadi, dari
daftar harta dan kewajiban tersebut dapat dilakukan penilaian kewajaran atas penghasilan yang
dilaporkan dalam SPT Tahunan.

Besarnya kemungkinan adanya pemeriksaan terhadap SPT yang dilaporkan oleh WP, didasarkan pada
alasan :
Pertama, kebijakan pemeriksaan tahun 2006 yang menargetkan 45.000 wajib pajak orang pribadi

Kedua, yang menjadi alasan mengapa SPT berpeluang diperiksa, karena masa kadaluarsa yang panjang
(10 tahun, UU No. 16 Tahun 2000 tentang KUP) amatlah memberi waktu bagi pemeriksa untuk
memeriksa SPT tahun-tahun yang telah lampau tetapi belum memasuki kadaluarsa.

Ketiga, target penerimaan pajak dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.

Keempat, upayaa intensifikasi dan ekstensifikasi saat ini tengah gencar-gencarnya dijalankan, hal ini
terkait dengan target penerimaan pajak yang terus meningkat dan rendahnya rasio penerimaan pajak dari
PDB yang merupakan indikasi banyaknya obyek dan subyek pajak yang belum tergali.

Implikasi dari pemeriksaan yang paling dekat adalah adanya kenaikan jumlah pajak terutang, beban
bunga, dan denda dengan dikeluarkannya SKPKB ( Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar ) .
Namun implikasi yang paling menakutkan adalah sanksi pidana perpajakan (penjara) karena dianggap
sengaja memanipulasi laporan SPT.

Tips dalam mengisi Lampiran Harta dan Kewajiban dalam formulir SPT Pribadi

Pengisian Secara Lengkap dan Jujur

Yang dimaksud dengan pengisian secara lengkap dan jujur adalah pengisian yang sesuai dengan
petunjuk pengisian yang ada dan dilakukan secara jujur apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Jika
melihat Petunjuk Pengisian SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi sesuai dengan KEP-542/PJ/2001,
semua harta yang dimiliki oleh seorang Wajib Pajak, baik harta tidak bergerak maupun harta bergerak,
semuanya harus dilaporkan dalam daftar harta dan kewajiban pada akhir tahun tersebut yaitu:

a. harta tidak bergerak adalah suatu benda yang karena sifat, tujuan atau karena ditentukan oleh
Undang-undang sebagai benda tak gerak seperti tanah (cantumkan lokasi dan luas tanah), bangunan
(cantumkan lokasi dan luas bangunan) dan kapal dengan bobot mati lebih dari 10.000 ton dan
sebagainya.

b. Harta bergerak adalah suatu benda yang karena sifatnya atau karena ditentukan oleh Undang-undang
sebagai benda bergerak seperti:

ÿ Uang tunai rupiah, valuta asing sepadan dengan dollar Amerika, simpanan termasuk tabungan dan
deposito di bank dalam negeri dan luar negeri, piutang dan sebagainya dicantumkan seara global.

ÿ Kendaraan bermotor, mobil, sepeda motor (dicantumkan merek dan tahun pembuatannya)

ÿ Kapal dengan bobot mati kurang dari 10.000 ton, kapal pesiar, pesawat terbang, helikopter, jetski,
peralatan olahraga khusus dan sejenisnya.
ÿ Efek-efek (saham, obligasi, commercial paper dan sebagainya)

ÿ Keanggotaan perkumpulan eksklusif (keanggotaan golf, time sharing dan sejenisnya)

ÿ Modal usaha sendiri dalam pekerjaan bebas dan modal pada perusahaan lain yang tidak terbagi atas
saham (CV firma)

ÿ Lain-lain misalnya batu permata, logam mulia dan lukisan.

Dalam buku Petunjuk Pengisian SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi sesuai KEP-394/PJ/2002 (edisi
tahun 2002) tidak diuraikan secara detail bagaiaman cara mengisi daftar harta dan kewajiban pada akhir
tahun tersebut. Uraiannya sendiri relatif lebih singkat karena tidak dijelaskan jenis harta apa saja yang
harus dilaporkan dalam daftar tersebut.

Cara yang aman dalam menyajikan harta pada Lampiran-IV 1770/Lampiran-II 1770S adalah sebagai
berikut:

1. Memperhatikan rasional tidaknya harta-harta yang dimiliki bila dibandingkan dengan penghasilan
yang diterima.

2. Memperhatikan hubungan rasional antara harta dan penghasilan dengan kewajiban-kewajiban


perpajakannya.

3. Dalam menyajikan harta dalam bentuk simpanan (tabungan, deposito, dan lain-lain), harus sama
dengan jumlah yang dicantumkan dalam Lampiran III 1770.

4. Mematuhi secara menyeluruh Undang-Undang/aturan yang mengatur pengakuan pendapatan dan


penyajian laporannya secara benar baik materiil maupun formil (Pengisian SPT secara benar, dan
bertanggung jawab).

Meskipun SPT telah disampaikan dan telah disimpan dalam database pajak Wajib Pajak masih punya
kesempatan untuk membetulkan SPT yang telah disampaikan selama belum melampaui 2 tahun setelah
pajak dilaporkan dan belum dilakukan pemeriksaan oleh fiskus. Dengan demikian, bila terjadi kesalahan
mengisi, atau ada unsur-unsur lain yang membuat Lampiran-IV 1770/Lampiran-II 1770S pada SPT
tahun 2005 belum benar atau belum lengkap, masih ada kemungkinan untuk dilakukan pembetulan. Hal
ini, akan menambah rasa aman dan kepercayaan WP bila suatu saat diperiksa oleh KPP atau KARIKPA,
karena kemungkinan SPT yang dilaporkan akan diperiksa, sangat besar.

Di sini setiap Wajib Pajak memiliki pilihan-pilihan keputusan, apakah akan melaporkan secara jujur apa
adanya atau melaporkan sebagian dengan kalkulasi tertentu. Masing-masing memiliki konsekuensi
sendiri-sendiri. Tak mudah memang, karena masing-masing keputusan ada resikonya.

Harta dan kewajiban yang wajib dilaporkan adalah harta dan kewajiban pada akhir tahun yang dimiliki
oleh WP sendiri, isteri, anak/anak angkat yang belum dewasa, kecuali harta dan kewajiban yang dimiliki
oleh isteri yang telah hidup berpisah dan isteri yang melakukan perjanjian pemisahan harta dan
penghasilan. Harta dan kewajiban yang disebut terakhir wajib dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh isteri
sendiri.

Seandainya WP Orang pribadi melaporkan seluruh harta dan kewajibannya dengan jujur apa adanya,
maka tidak ada jaminan bahwa jumlah harta yang dilaporkannya tidak dipermasalahkan oleh fiskus. Jika
seseorang baru mulai mengisi SPT Tahunan pada 2005 (NPWP diperoleh di tahun 2005), maka akan
timbul pertanyaan dari pihak fiskus mengenai penghasilan-penghasilan yang diperole yang tercermin
dalam daftar harta dan kewajiban apakah sudah pernah dipajaki atau belum?

SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Orang


Pribadi 1770 SS Tahun 2009(Ketiga)

(Karena adanya peraturan yang berubah-ubah tentang SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak Orang Pribadi 1770 SS, di bawah ini tertulis kronologis peraturan yang mengatur
masalah ini.

Berikut kronologisnya dari awal sampai akhir:

1. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-161/PJ/2007 tanggal 14 Nopember


2007 bahwa yang diperkenankan untuk memakai Formulir 1770 SS adalah bagi
Wajib Pajak Orang Pribadi:
o yang hanya mempunyai penghasilan bruto dari satu pemberi kerja;
o penghasilan tersebut tidak melebihi Rp30.000.000,00 setahun;
o tidak memiliki penghasilan lain, kecuali penghasilan dari bunga bank atau
koperasi;
o hanya untuk penghasilan yang didapat selama tahun pajak 2007.

Ketentuan batas penghasilannya telah berubah dengan peraturan terbaru setelah ini.

2. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-8/PJ/2008 tanggal 13 Maret 2008


yang isinya menaikkan batas penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi yang boleh
memakai formulir 1770 SS menjadi tidak lebih dari Rp48.000.000,00 setahun.
Peraturan ini masih berlaku sampai sekarang hanya untuk pengisian SPT 1770 SS tahun
pajak 2007. Jadi kalau Anda memenuhi kriteria di atas pada nomor satu dan dua dan belum
melaporkan penghasilan Anda sampai saat ini maka gunakan ketentuan perpajakan ini.

3. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-24/PJ/2008 tanggal 05 Juni 2008 yang
isinya antara lain bahwa yang diperkenankan untuk memakai Formulir 1770 SS
adalah bagi Wajib Pajak Orang Pribadi:

• yang hanya mempunyai penghasilan bruto dari satu pemberi kerja;


• penghasilan tersebut tidak melebihi Rp48.000.000,00 setahun;
• tidak memiliki penghasilan lain, kecuali penghasilan dari bunga bank atau
koperasi;
• hanya untuk penghasilan yang didapat selama tahun pajak 2008 dan
seterusnya.

Catatan kecil:

Ketentuan batas penghasilannya telah berubah dengan peraturan terbaru setelah ini. Dan
terbukti pula bahwa setelahnya nanti ketentuan ini hanya berlaku untuk penghasilan yang
didapat di tahun 2008 saja, tidak untuk seterusnya.

4. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-7/PJ/2009 tanggal 02 Februari 2009


tentang Perubahan atas Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-24/PJ/2008
tentang Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan dan Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi Beserta Petunjuk
Pengisiannya.

Isinya antara lain menaikkan batas penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi yang boleh
memakai formulir 1770 SS menjadi tidak lebih dari Rp60.000.000,00 setahun.

Catatan kecil:

Peraturan ini masih berlaku sampai sekarang hanya untuk pengisian SPT 1770 SS tahun
pajak 2008. Jadi kalau Anda memenuhi kriteria di atas pada nomor tiga dan empat dan belum
melaporkan penghasilan Anda sampai saat ini maka gunakan ketentuan perpajakan ini.
5. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-34/PJ/2009 tanggal 04 Juni 2009 bahwa
yang diperkenankan untuk memakai Formulir 1770 SS adalah bagi Wajib Pajak Orang
Pribadi:

• yang hanya mempunyai penghasilan bruto dari satu pemberi kerja;


• tidak memiliki penghasilan lain, kecuali penghasilan dari bunga bank atau
koperasi;
• hanya untuk penghasilan yang didapat selama tahun pajak 2009 dan
seterusnya.

Catatan kecil:

Coba lihat ketentuan ini tidak mengatur batasan penghasilan yang dimiliki Wajib Pajak yang
diperkenankan mengisi SPT 1770 SS. Akankah seperti ini? Ternyata tidak, sudah ada keluar
peraturan terbaru mengenai batasan penghasilannya. Supaya Wajib Pajak tidak bingung
katanya.

Pun, akankah peraturan ini berlaku untuk tahun pajak 2009 dan seterusnya? Kita lihat saja
nanti. Kalau berubah alasan yang akan muncul biasanya adalah dinamisasi peraturan.

6. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER-66/PJ/2009 tanggal 21 Desember 2009


yang mengubah PER-34/PJ/2009. Dengan peraturan ini maka yang diperkenankan
untuk memakai Formulir 1770 SS adalah bagi Wajib Pajak Orang Pribadi:

• yang hanya mempunyai penghasilan bruto dari satu pemberi kerja;


• penghasilan tersebut tidak melebihi Rp60.000.000,00 setahun;
• tidak memiliki penghasilan lain, kecuali penghasilan dari bunga bank atau koperasi;
• hanya untuk penghasilan yang didapat selama tahun pajak 2009 dan seterusnya.

Catatan kecil:

Tentang batas penghasilan yang boleh mengisi SPT 1770 SS ini balik lagi ke PER-7/PJ/2009
yaitu sebesar Rp60.000.000,00 setahun. Dan kalau kita cermati maka di tahun 2009 terdapat
tiga peraturan yang mengatur masalah SPT 1770 SS.

Akankah peraturan ini berubah lagi? Kita tunggu saja.


Jadi sekarang Anda tak perlu bingung-bingung lagi, kalau Anda mau melaporkan SPT
Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi tahun pajak 2009 dengan menggunakan formulir
1770 SS maka syaratnya—sekali lagi saya ulangi—adalah:

a. mempunyai penghasilan hanya dari satu pemberi kerja;

b. mempunyai penghasilan dari pekerjaan tidak lebih dari Rp60.000.000,00 setahun;

c. yang tidak mempunyai penghasilan lain kecuali penghasilan bunga bank dan/atau
bunga

Tata Cara Pengisian SPT Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi 
untuk Pejabat Negara, PNS dan Anggota TNI 
  
Bagaimanakah tata cara pengisian SPT Pajak Penghasilan Orang Pribadi untuk Pejabat Negara, 
PNS dan Anggota TNI? 

Tata Cara Pengisian SPT Tahunan Pajak Penghasilan Orang Pribadi untuk Pejabat
Negara, PNS dan Anggota TNI

1.  Daftar penghasilan pejabat negara, PNS, dan anggota TNI yang dikeluarkan bendaharawan
gaji, berlaku sebagai bukti formulir SPT 1721.A1 dan dilampirkan pada SPT 1770 S
2.  Apabila PPh yang terutang lebih besar dari Kredit PPh Pasal 21, maka PPh yang
diperhitungkan sebagai kredit pajak adalah sebesar PPh yang seharusnya
terutang/dipotong, sedangkan apabila PPh yang terutang lebih kecil dari Kredit PPh Pasal
21, maka PPh yang diperhitungkan sebagai kredit pajak adalah PPh yang terutang yang
lebih kecil tersebut.
3.  Penghitungan PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa tunjangan lainnya yang tidak melekat
pada gaji, misalnya honorarium atau imbalan jasa lainnya yang dananya disediakan dalam
DIK Departemen ybs adalah dengan menerapkan tarif Pasal 17 UU PPh atas PKP.
Kemudian Jmlah PPh yang diperoleh dikurangi dengan Kredit PPh Pasal 21 atas gaji dan
tunjangan yang termasuk dalam daftar gaji. Apabila terdapat kekurangan pembayaran
pajaknya maka harus dilunasi sendiri oleh pegawai tersebut
4.  Kesimpulan : 
   a. Apabila karyawan yang menerima penghasilan hanya dari bendaharawan gaji instansi
yang bersangkutan maka PPh yang terhutang pada SPT 1770 S, dianggap sama
(disamakan), sehingga tidak ada sisa #Kurang Bayar# atau #Lebih Bayar#
   b.Apabila Karyawan tersebut juga menerima penghasilan diluar Bendaharawan gaji
instansinya sendiri ( honorarium ataupun imbalan jasa lainnya) sehingga mengakibatkan
terdapat kekurangan setor PPh dalam perhitungan SPT 1770 S, maka kekurangan tersebut
harus dibayar sendiri, dan apabila ada kelebihan dapat direstitusi.

Contoh :

Tuan A, status TK/0, PNS di Departemen Keuangan dengan data penghasilan sebagai
berikut :

Penghasilan Neto  Rp 15.600.000,‐  

Kredit PPh Pasal 21  Rp    670.000,‐

Pengisian SPT         

Penghasilan Neto           Rp 15.600.000,‐  

PTKP   Rp 2.880.000,‐

       

Penghasilan Kena Pajak  Rp 12.720.000,‐  

PPh Terutang  Rp 6.360.000,‐  

Kredit PPh Pasal 21 *)  Rp 6.360.000,‐

PPh Yang harus dibayar     N I H I L  
sendiri 

*) Kredit PPh Pasal 21 yang diperhitungkan adalah sebesar PPh yang seharusnya terutang meskipun 
lebih kecil, yaitu Rp 6.360.000