Anda di halaman 1dari 17

ANTI DIABETIK

Penyakit Diabetes mellitus (DM) atau yang sering disebut sebagai kencing manis
merupakan satu dari sekian penyakit metabolik yang prevalensinya meningkat setiap
tahunnya. Perkataan Diabetesn mellitus datangnya daripada perkataan Yunani diabainein
yang bermaksud “tembus” atau “pancuran”.

Menurut data stastistik tahun 1995 dari WHO terdapat 135 juta penderita diabetes
mellitus di seluruh dunia. Tahun 2005 jumlah diabetes mellitus diperkirakan akan
melonjak lagi mencapai sekitar 230 juta. Angka mengejutkan dilansir oleh beberapa
Perhimpunan Diabetes Internasional memprediksi jumlah penderita diabetes mellitus
lebih dari 220 juta penderita di tahun 2010 dan lebih dari 300 juta di tahun 2025.

Dari data WHO di tahun 2002 diperkirakan terdapat lebih dari 20 juta penderita diabetes
mellitus di tahun 2025. tahun 2030 angkanya bisa melejit mencapai 21 juta penderita.
Saat ini penyakit diabetes mellitus banyak dijumpai penduduk Indonesia. Bahkan WHO
menyebutkan, jumlah penderita diabetes mellitus di Indonesia menduduki ranking empat
setelah India, China, dan Amerika Serikat.

Data Departemen Kesehatan RI menunjukkan, prevalensi DM sekitar 1,5-2,3% dari


populasi usia di atas 15 tahun. Sedangkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) memaparkan,
pada tahun 1995, di Indonesia terdapat sekitar 5 juta penderita DM. Sehingga, dengan
asumsi prevalensi DM 4%, diperkirakan pada tahun 2020 penderita DM di Indonesia
akan mencapai 12 juta orang.
Penyebab kepada Diabetes Mellitus (DM) adalah kerana kegemukan (Obesiti) serta
ketinggian paras gula dalam darah (hyperglycemia). Diabetes Mellitus yang timbul
akibat kegemukan ini biasanya terjadi pada usia lanjut atau diatas 40 tahun.

Terdapat dua tipe DM yang umum terjadi di Indonesia, pertama adalah DM yang
bergantung pada insulin (insulin-dependent diabetes mellitus), disebabkan karena
destruksi sel beta langerhans akibat proses auto imun (tidak diketahui sebabnya) sehingga
terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Diabetes tipe ini dapat diderita pada anak-anak
maupun dewasa.

Tipe DM yang kedua adalah DM yang tidak bergantung pada insulin (non-insulin-
dependent diabetes mellitus) akibat dari kegagalan relatif sel beta langerhans sehingga
terjadi resistensi terhadap insulin (sensitifitas insulin berkurang).

Diagnosa pada penderita DM dapat diketahui apabila adanya keluhan sering buang air
kecil (polyuria) terutama pada malam hari, sering merasa haus (polydipsi), sering merasa
lapar (polyfagi), badan mengurus serta lemas. Apabila pemeriksaan gula darah
menunjukkan angka yang melebihi 200 mg/dl, maka seseorang tersebut sudah bisa
dipastikan mengidap DM.
Apoteker, terutama bagi yang bekerja di sektor kefarmasian komunitas, memiliki peran
yang sangat penting dalam keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Membantu penderita
menyesuaikan pola diet sebagaimana yang disarankan ahli gizi, mencegah dan
mengendalikan komplikasi yang mungkin timbul, mencegah dan mengendalikan efek
samping obat, memberikan rekombinasi penyesuaian rejimen dan dosis obat yang harus
dikonsumsi penderita bersama-sama dengan dokter yang merawat penderita, yang
kemungkinan dapat berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kondisi penderita,
merupakan peran yang sangat sesuai dengan kompetensi dan tugas seorang
apoteker. Apoteker dapat juga memberikan tambahan ilmu pengetahuan kepada penderita
tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan kondisi dan pengelolaan diabetes.

Pencegahan DM tidaklah sulit yakni hanya dengan menjaga keseimbangan makanan


(menghindari makanan tinggi lemak dan mengkonsumsi makanan tinggi karbohidrat) dan
olahraga teratur. Penanganan terhadap penyakit DM pun tidak sembarangan. Berdasarkan
hasil pemeriksaan gula darah laboratorium, jika kadar gula darah mendekati angka
normal, maka dokter akan menganjurkan diet rendah kalori terlebih dahulu serta olah
raga teratur. Namun apabila tidak juga mengalami penurunan kadar gula darah, maka
dokter biasanya akan memberikan obat anti diabetic..

Anti Diabetic dpat dikelaskan kepada enam kumpulan. Antaranya adalah Insulin,
Sulponylureas, Alpha-Glucosidase inhibitors, Biguanides, Meglitinides dan
Thiazolidinediones. Obat-obat ini ada yang diberikan secara oral maupun suntikan.

Anti Diabetic oral golongan SULFONILUREA mempunyai strategi terapi sebagai


berikut :

Non Farmakologi

Pendidikan pada Pasien


Agar pengobatan diabetes mellitus dapat optimum pasien perlu diberikan
pengetahuan tentang segala hal yang berkaitan dengan diabetes mellitus. Tetapi
tidak hanya untuk pasien juga untuk keluarganya harus mendapat pengetahuan
yang cukup mendalam mengenai peyebab dan strategi terapi diabetes mellitus.
Pengobatan akan diperudah bia pasien mampu membuat keputusan-keputusan
yang tepat dalam perawatan penyakitnya sehari-hari.
Pemberian pengetahuan secara dini hendaklah menekankan pentingnya segi-
segi praktis pengobatan penyakit, yang meliputi perencanaan diet dan tekhnik
pemantauan glukosa dan keton-keton. Perlu disampaikan kepada pasien kaitan-
kaitan yang ada antara diet, aktivitas fisik dan obat-obatan yang
digunakan.dukungan dari dokter (pemberi diagnosis/sebagai pemberi instruksi),
apoteker (pemberi obat dan informasi), dan ahli gizi serta perawat (untuk
membantu perawatan) merupakan hal penting dalam mencapai sasaran pemberian
pengetahuan. Pemberian pengetahuan dan pengobatan akan paling efektif bila
semua unsur profesional tersebut saling berkomunikasi mengenai pasiennya
secara perorangan.

Diet
Diet merupakan hal penting pada semua jenis diabetes mellitus dan juga
bermanfaat bagi pasien yang menderita gangguan toleransi glukosa. Tujuan terapi
diet hendaknya diberitahukan kepada pasien dan ahli gizi yang merawat dan
sasaran pemberian diet supaya ditelaah ulang secara teratur. Rencana makanan
harus dibuat dengan mempertimbangkan kesukaan, penghasilan dan kebutuhan
masing-masing pasien.
Perencanaan modifikasi diet mulai dari sasaran kalori, konsistensi, komposisi
makanan dengan karbohidrat 50-60%; protein 10-20%; lemak 25-30%; serat 25
g/1000 kkal; pemanis buatan, dan penggunaan alkohol harus dibatasi.

Olah Raga
Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar glukosa
darah tetap normal. Prinsipnya, tidak perlu olah raga berat tetapi olah raga ringan
asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Olah
raga yang disarankan adalah yang bersifat CRIPE (Continuous, Rhytmical,
Interval, Progressive, Endurance Training). Sedapat mungkin mencapai zona
sasaran 75-85% denyut nadi maksimal (220-umur). Disesuaikan dengan
kemampuan dan kondisi penderita. Ctoh olah raga yang disarankan seperti jalan
atau lari pagi, bersepeda, berenang dll.

Farmakologi

Terapi obat dengan obat antidiabetik oral terutama ditujukan untuk membantu
penanganan pasien diabetes mellitus tipe II. Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-
obat antidiabetik oral terbagi menjadi 5 golongan. Salah satu terapi obat antidiabetik
oral adalah golongan sulfonilurea.

Farmakologi dan Indikasi


Sulfonilurea adalah turunan sulfanilamid tetapi tidak mempunyai aktivitas
antibakteri. Golongan ini bekerja merangsang sekresi insulin di pankreas sehingga
hanya efektif bila sel β -pankreas masih dapat berproduksi. Golongan
sulfonilurea dibagi 2, yaitu generasi I (asetoheksaid, klorpropamid, tolazamid,
tolbutaid) dan generasi II (glipizid, gliburid, glimepirid). Indikasi : diabetes
mellitus tipe II.

Farmakokinetik
Semua golongan sulfonilurea diabsorpsi dengan baik setelah pemberian oral.
Dapat diminum bersama makanan kecuali glipizid. Tolbutamid, gliburid, glipizid
lebih efektif diminum 30 menit sebelum makan. Generasi I lebih mudah lepas
ikatan proteinnya jika digunakan bersama dengan obat yang terikat pada protein
yang sama (warfarin).
Kontra indikasi
Hipersensitif terhadap sulfonilurea, komplikasi diabetes karena ketoasidosis
dengan atau tanpa koma, komplikasi diabetes karena kehamilan.

Adverse reaction
Hipoglikemik, CNS (asthenia, tremor, nyeri, insomnia, depresi, konfusi),
dermatologik (reaksi alergi kulit, eksema, pruritis, urtikaria), GI (mual, rasa
terbakar), hematologi (leukopenia, agranulositosis, eosinofilia).
• INSULIN

Insulin (bahasa Latin insula, "pulau", karena diproduksi di Pulau-pulau


Langerhans di pankreas) adalah sebuah hormon polipeptida yang mengatur metabolisme
karbohidrat. Selain merupakan "efektor" utama dalam homeostasis karbohidrat, hormon
ini juga ambil bagian dalam metabolisme lemak (trigliserida) dan protein – hormon ini
memiliki properti anabolik. Hormon tersebut juga mempengaruhi jaringan tubuh lainnya.

Insulin menyebabkan sel (biologi) pada otot dan adiposit menyerap glukosa dari sirkulasi
darah melalui transporter glukosa GLUT1 dan GLUT4[1] dan menyimpannya
sebagai glikogen di dalam hati dan otot sebagai sumber energi.

Kadar insulin yang rendah akan mengurangi penyerapan glukosa dan tubuh akan mulai
menggunakan lemak sebagai sumber energi.

Insulin digunakan dalam pengobatan beberapa jenis diabetes mellitus. Pasien dengan
diabetes mellitus tipe 1 bergantung pada insulin eksogen (disuntikkan ke bawah
kulit/subkutan) untuk keselamatannya karena kekurangan absolut hormon tersebut;
pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 memiliki tingkat produksi insulin rendah
atau kebal insulin, dan kadang kala membutuhkan pengaturan insulin bila pengobatan
lain tidak cukup untuk mengatur kadar glukosa darah.

Insulin adalah suatu hormon yang penting bagi mengatur energi dan metabolisme
glukosa dalam tubuh. Insulin menyebabkan sel-sel dalamhati , otot , dan jaringan
lemak untuk mengambil glukosa dari darah , menyimpannya sebagai glikogen di hati dan
otot.
Insulin menghentikan penggunaan lemak sebagai sumber energi. Bila tidak ada insulin,
glukosa tidak diambil oleh sel-sel tubuh dan tubuh mulai menggunakan lemak sebagai
sumber energi, misalnya, melalui transfer lemak dari jaringan adiposa ke hati untuk
mobilisasi sebagai sumber energi. Sebagai level adalah mekanisme kontrol metabolik
pusat, statusnya juga digunakan sebagai sinyal kontrol untuk sistem tubuh lainnya
(seperti asam amino serapan oleh sel-sel tubuh). Selain itu, memiliki beberapa
lain anabolic efek ke seluruh tubuh.

Ketika kontrol tingkat insulin gagal, diabetes mellitus akan terjadi. Akibatnya, insulin
digunakan secara medis untuk mengobati beberapa bentuk diabetes mellitus. Pasien
dengan diabetes mellitus tipe 1 bergantung pada insulin eksternal (yang paling
sering disuntikkan subkutan) untuk kelangsungan hidup mereka karena hormon ini tidak
lagi diproduksi secara internal. Pasien dengan diabetes mellitus tipe 2 adalahinsulin
resisten , dan karena perlawanan tersebut, dapat menderita kekurangan
insulin relatif. Beberapa pasien dengan diabetes tipe 2 akhirnya mungkin memerlukan
insulin bila pengobatan lain gagal untuk mengendalikan kadar glukosa darah secara
memadai, meskipun ini agak jarang.

Insulin juga mempengaruhi fungsi-fungsi tubuh lainnya, seperti kepatuhan pembuluh


darah dan kognisi . Setelah insulin memasuki otak manusia, meningkatkan pembelajaran
dan memori dan memori verbal manfaat tertentu. [2]

Insulin adalah hormon peptida yang terdiri dari 51 asam amino dan memiliki berat
molekul dari 5.808 Da . Hal ini diproduksi dalam pulau Langerhans di pankreas . Nama
berasal dari bahasa Latin insula untuk "pulau". itu struktur insulin bervariasi sedikit di
antara spesies hewan.Insulin dari sumber hewan agak berbeda dalam "kekuatan"
(dalam metabolisme karbohidrat efek kontrol) pada manusia karena variasi tersebut. Babi
( babi ) insulin sangat dekat dengan manusia versi.

• AKARBOSE
Akarbose adalah obat anti-diabetes digunakan untuk mengobati tipe 2 diabetes
mellitus dan, di beberapa negara, pradiabetes . Itu dijual di Eropa dengan nama
merek Glucobay ( Bayer AG ), di Amerika Utara sebagai Precose ( Bayer Farmasi ), dan
di Kanada sebagai Prandase ( Bayer AG ). Ini adalah inhibitor glukosidase alfa, enzim
usus yang melepaskan glukosa dari yang lebih besar karbohidrat .
Mekanisme aksi

Akarbose menghambat enzim ( glikosida hydrolases ) yang diperlukan untuk


mencerna karbohidrat , untuk lebih spesifik, alfa-glukosidase enzim di perbatasan sikat
dari usus kecil dan pankreas amilase-alfa. pankreas alfa-amilase menghidrolisis ikatan
kompleks pati untuk oligosakarida dalam lumen usus kecil , sedangkan yang terikat
membran usus alpha-glucosidases menghidrolisis oligosakarida , trisaccharides ,
dan disakarida untuk glukosa dan lain monosakarida di dalam usus kecil. Inhibisi sistem
enzim mengurangi laju pencernaan karbohidrat kompleks. Kurang glukosa diserap karena
karbohidrat tidak dipecah menjadi molekul glukosa. Dalam diabetes pasien, efek jangka
pendek dari terapi obat ini adalah dengan menurunkan kadar glukosa darah saat ini; yang
efek jangka panjang adalah pengurangan kecil di A1c Hb level. [1]

Dosis

Sejak akarbose mencegah pencernaan karbohidrat kompleks, obat tersebut harus diambil
pada awal makanan utama (yang diambil dengan gigitan pertama makan). Selain itu,
jumlah karbohidrat kompleks dalam makanan akan menentukan efektivitas akarbose
dalam menurunkan postprandial hiperglikemia .Orang dewasa untuk mengambil dosis 25
mg 3 kali sehari.

Efek samping

Sejak akarbose mencegah degradasi karbohidrat kompleks menjadi glukosa, karbohidrat


akan tetap dalam usus. Dalam usus , bakteri akan mencerna karbohidrat kompleks,
sehingga menyebabkan efek samping gastrointestinal-seperti perut kembung (78% dari
pasien) dan diare (14% dari pasien).

Karena efek dosis yang terkait, secara umum disarankan untuk mulai dengan dosis
rendah dan secara bertahap meningkatkan dosis dengan jumlah yang diinginkan.

Jika pasien menggunakan akarbose menderita serangan dari hipoglikemia , penderita


harus makan sesuatu yang mengandung monosakarida , seperti jus buah atau tablet
glukosa. Sejak akarbose akan mencegah pencernaan karbohidrat kompleks, makanan
bertepung tidak akan efektif membalikkan episode hipoglikemik pada pasien mengambil
akarbose.

Hepatitis telah dilaporkan dengan penggunaan akarbose. Hal ini biasanya hilang bila obat
dihentikan. [2] Oleh karena itu, enzim hati harus diperiksa sebelum dan selama
penggunaan obat ini.

• GLIBENCLAMIDE

Glibenclamide atau yang juga dikenal sebagai Glyburide, adalah obat diabetes oral yang
membantu mengontrol kadar gula dalam darah. Glibenclamide digunakan untuk
mengobati diabetes mellitus tipe 2 (non-insulin dependent). Digunakan untuk mengobati
diabetes mellitus tipe 2 (non-insulin dependent).

Pemberian dosis:

1. Dosis awal: 2.5-5 mg melalui mulut (per oral) satu kali sehari.
2. Dimulai dari dosis 1.25 mg pada pasien yang mudah terkena hipoglikemia.
3. Tingkatkan dosis dengan kenaikan kurang dari sama dengan 2.5 mg tiap minggu,
berdasarkan pada reaksi pasien .
4. Dosis rumatan: 2.5-20 mg/hari melalui mulut (per oral) sehari 1 kali atau dalam
dosis terbagi.

Obat dapat diberikan kepada penderita saat bersamaan dengan makanan, dan untuk
dosis satu kali sehari, dapat diberikan saat sarapan. Pemberian obat sendiri dapat
menyebabkan hipoglikemia, reaksi alergi, berat badan, dll.

• CHLORPROPAMIDE
Chlorpropamide adalah obat diabetes oral yang membantu mengontrol kadar gula dalam
darah. Obat ini membantu pankreas dalam memproduksi insulin. Obat diabetes lainnya
kadang digunakan dalam kombinasi dengan chlorpropamide jika diperlukan. Digunakan
untuk mengobati diabetes mellitus tipe 2 (non-insulin dependent).

Pemberian dosis :

1. Dosis awal: 125-250 mg melalui mulut (per oral) setiap pagi.


2. Setelah 5-7 hari, boleh tingkatkan dosis dengan ukuran 50-125 mg/hari setiap 3-5
hari, tergantung pada reaksi pasien.
3. Dosis rumatan: 100-250 mg/hari melalui mulut (per oral), diberikan sehari 1 kali.
4. Boleh dibagi menjadi 2 dosis jika kenaikan GI terjadi.
5. Gunakan dosis yang lebih rendah pada penyakit yang ringan, pada orang yang
sudah tua, dan sebagainya.
6. Dosis untuk penyakit parah: 500 mg/hari melalui mulut (per oral).

Obat dapat diberikan pada penderita, untuk dosis satu kali sehari, diberikan pada
saat sarapan. Pemberian dari Chlorpropamide dapat memberikan efek samping, yaitu :

1. Hipoglikemia, reaksi alergi, berat badan, dosis yang berhubungan dengan


kenaikan GI, reaksi diuretik SIADH (syndrome of inappropriate diuretic
hormone) pada Chlorpropamide dan aksi diuretik ringan pada Tolazamide.
2. Mungkin mendorong munculnya reaksi GI yang merugikan.

• GLIKUIDON

- Nama & Struktur Kimia : 3-cyclohexyl-1-[4-[2-(7-methoxy-4,4-dimethyl-1,3-


dioxo-isoquinolin-2-yl) ethyl]phenyl]sulfonyl-urea

- Digunakan untuk mengobati diabetes mellitus tipe II ringan-sedang, dengan dosis


dimulai dari dosis rendah satu kali pemberian per hari, setelah itu dosis dapat
dinaikkan sesuai dengan respons terhadap obat. Dosis awal 15mg sebelum sarapan
dapat ditingkatkan 30-120 mg per hari terbagi dalam 2-3 kali pemberian. Dosis
maksimal pemberian adalah 60mg, sehari pemberian 180 mg.

Mempunyai efek hipoglikemik sedang dan jarang menimbulkan serangan


hipoglikemik.
Glikuidon menurunkan kadar gula darah dengan jalan merangsang produksi dan
sekresi insulin dari sel-sel beta-Langerhans kelenjar pankreas dan meningkatkan
transport gula ke dalam sel. Disamping itu glikuidon juga meningkatkan jumlah
reseptor insulin pada jaringan ekstrahepatik/perifer.

• GLIPIZIDE

Deskripsi:
Glipizide adalah obat diabetes oral yang membantu mengontrol kadar gula dalam darah.
Obat ini membantu pankreas dalam memproduksi insulin, digunakan untuk mengobati
diabetes mellitus tipe 2 (non-insulin dependent).

Indikasi:
Untuk mengobati diabetes mellitus tipe 2 (non-insulin dependent).

Dosis:

Pelepasan reguler:
1. Dosis awal: 2.5-5 mg melalui mulut (per oral), 1 kali sehari.
2. Sesuaikan dosis dengan kenaikan 2.5-5 mg, berdasarkan pada reaksi pasien.
3. Dosis > 15 mg/hari harus dibagi menjadi 2 kali sehari.
4. Dosis maksimum: 40 mg/hari

Pelepasan yang diperpanjang:


1. Dosis awal: 5 mg melalui mulut (per oral), 1 kali sehari.
2. Sesuaikan dosis dengan kenaikan 2.5-5 mg, berdasarkan pada reaksi gula darah.
3. Dosis maksimum: 20 mg/hari

Pelaksanaan:

Pelepasan reguler:
1. Untuk dosis 1 kali sehari, berikan 15-30 menit sebelum sarapan.
2. Untuk dosis 3 kali sehari, berikan sebelum makan.

Pelepasan yang diperpanjang:


1. Berikan saat sarapan.

Efek Samping;
1. Hipoglikemia, reaksi alergi, berat badan, dosis yang berkaitan dengan kenaikan
GI, reaksi diuretik ringan dengan Glipzide.
2. Mungkin mendorong munculnya reaksi GI yang merugikan.

Instruksi Khusus:
1. Gunakan dengan hati-hati pada pasien penderita gagal ginjal atau hati.
2. Tidak boleh digunakan dalam kasus DKA, pembedahan utama, infeksi parah,
stress atau trauma, alergi belerang.

• METFORMIN

Metformin adalah zat antihiperglikemik oral golongan biguanid untuk penderita


diabetes militus tanpa ketergantungan terhadap insulin. Mekanisme kerja metformin yang
tepat tidak jelas, walaupun demikian metformin dapat memperbaiki sensitivitas hepatik
dan periferal terhadap insulin tanpa menstimulasi sekresi insulin serta menurunkan
absorpsi glukosa dari saluran lambung-usus. Metformin hanya mengurangi kadar glukosa
darah dalam keadaan hiperglikemia serta tidak menyebabkan hipoglikemia bila diberikan
sebagai obat tunggal.
Metformin pertama kali digambarkan dalam literatur ilmiah pada tahun 1922, oleh
Emil Werner dan James Bell, sebagai produk dalam sintesis N, N-dimethylguanidine.
Metformin menjadi tersedia dalam formularium Nasional Inggirs pada tahun 1958.
Metformin disetujui di Kanada pada tahun 1972, tetapi tidak mendapat persetujuan dari
Food and Drug Administration (FDA) untuk diabetes tipe 2 sampai dengan tahun 1994.
Diproduksi dengan lisensi oleh Bristol-Myers Squibb, Glucophage adalah yang pertama
bermerek perumusan metformin untuk dipasarkan di Amerika Serikat, yang dimulai pada
tanggal 3 Maret 1995. Generic formulasi sekarang tersedia di beberapa negara, dan
metformin diyakini telah menjadi obat anti-diabetes yang paling banyak diresepkan di
dunia.
Metformin tidak menyebabkan pertambahan berat badan bahkan cendrung dapat
menyebabkan kehilangan berat badan. Metformin juga berhasil dalam gestational
diabetes, walaupun masalah keamanan masih menghalangi digunakan secara luas dalam
pengaturan ini. Selain itu juga digunakan dalam pengobatan sindrom ovarium polikistik
dan telah diteliti untuk penyakit lain di mana resistensi insulin dapat menjadi faktor
penting.
Penggunaan metformin juga sebagai kombinasi terapi pada penderita yang tidak
responsif terhadap terapi tunggal sulfonilurea baik primer ataupun sekunder. Tetapi
dalam pengobatan kombinasi dengan sulfonilurea atau insulin, kadar gula darah harus
diperiksa, mengingat kemungkinan timbulnya hipoglikimea. Beberapa catatan dalam
penggunaan metformin yaitu apabila dikombinasikan dengan pengobatan sulfonilurea
yang hasilnya kurang memadai, mula-mula diberikan satu tablet 500 mg, kemudian dosis
metformin dinaikkan perlahan-lahan sampai diperoleh kontrol maksimal. Seringkali dosis
sulfonilurea dapat dilanjutkan dengan metformin sebagai obat tunggal.
Sedangkan apabila digunakan dengan insulin makan hal yang harus diperhatikan
yaitu yang pertama bila dosis insulin kurang dari 60 unit sehari, mula-mula diberikan 1
tablet metformin 500 mg, kemudian dosis insulin dikurangi secara berangsur-angsur (4
unit setiap 2 - 4 hari). Kemudian pemakaian tablet dapat ditambah setiap interval
mingguan bila ditambah dosis insulin lebih dari 60 unit sehari, pemberian metformin
adakalanya menyebabkan penurunan kadar gula darah dengan cepat. Pasien demikian
harus diamati dengan hati-hati selama 24 jam pertama setelah pemberian metformin.
Metformin ternyata memiliki efek negatif, seperti gastrointestinal marah-dan,
seperti banyak obat anti-diabetes lain, tidak menyebabkan hipoglikemia jika digunakan
sendirian. Efek samping bersifat reversible pada saluran cerna termasuk anoreksia,
gangguan perut, mual, muntah, rasa logam pada mulut dan diare.
Dapat menyebabkan asidosis laktat tetapi kematian akibat insiden ini lebih rendah 10 - 15
kali dari fenformin dan lebih rendah dari kasus hipoglikemia yang disebabkan oleh
glibenklamid/sulfonilurea. Kasus asidosis laktat dapat dibati dengan natrium bikorbonat.
Kasus individual dengan metformin adalah anemia megaloblastik, pneumonitis,vaskulitis.
Metformin membantu mengurangi kolesterol LDL dan trigliserida. Dan metformin
merupakan obat yang diyakini dapat mencegah komplikasi kardiovaskular diabetes. .
Pada tahun 2009, metformin adalah salah satu dari dua anti diabetes di Daftar Organisasi
Kesehatan Dunia Model Obat Esensial (yang lainnya adalah glibenklamid). Kelas
biguanide obat anti-diabetes, yang juga meliputi phenformin dan buformin, berasal dari
lilac Perancis (Galega officinalis), merupakan tanaman yang digunakan dalam
pengobatan tradisional selama beberapa abad.
Yang perlu menjadi perhatian dalam penggunaan metaformin adalah adanya
keadaan yang memicu hipoksia dan akumulasi laktat dapat menyebabkan terjadinya
asidosis laktat yang berbahaya, maka metformin tidak boleh diberikan pada penderita
penyakit kardiovaskuler, gagal ginjal, gagal hati, dehidrasi dan peminum alkohol.
Kemudian Terapi metformin jangka panjang, dapat menyebabkan gangguan absorpsi
vitamin B12 dan asam folat di saluran cerna, oleh karena itu perlu diperiksa kadar
vitamin B12 dalam serumnya tiap tahun.
Meskipun metformin tidak menimbulkan efek samping embrionik pada wanita
hamil yang mengalami diabetes, insulin lebih baik daripada zat antihiperglikemik oral
untuk mengontrol hiperglikemia pada kehamilan. Metformin tidak dianjurkan pada
wanita menyusui. Selain itu ada kemungkinan terjadinya interaksi antara metformin dan
antikoagulan tertentu, dalam hal ini mungkin diperlukan penyesuaian dosis antikoagulan.
Penggunaan metformin harus diperhatikan pada orang – orang lanjut usia, infeksi serius
dan dalam keadaan taruma.
Interakasi metaformin dengan beberapa obat dapat menimbulkan reaksi yang
berbeda. Acarbose yang merupakan penghambat alpha-glukosidase dapat mengurangi
bioavailabilitas metformin dan mengurangi konsentrasi puncak plasma metformin rata-
rata, tetapi waktu untuk mencapai konsentrasi puncak tersebut tidak berubah. Getah guar
dapat mengurangi kecepatan absorpsi metformin dan mengurangi konsentrasi metformin
dalam darah. Simetidin dapat menghambat sekresi metformin pada tubular ginjal secara
kompetitif dan meningkatkan daerah di bawah kurva konsentrasi plasma metformin
terhadap waktu serta mengurangi ekskresi ginjal metformin. Antikoagulan oral
phenprocoumon menambah eliminasi obat ini, meningkatkan aliran darah hati dan
ekstraksi hati sebagai efek metformin pada aktivitas enzim mikrosomal.
Dosis dalam penggunaan metformin yaitu Metformin harus diberikan bersama
dengan makanan atau sesudah makan dalam dosis yang terbagi. Dosis percobaan tunggal
tidak dapat digunakan sebagai penilaian apakah seorang penderita diabetes akan
memberikan respon terhadap metformin karena efek maksimum mungkin baru dapat
diperoleh setelah pasien berminggu minguu menerima pengobatan metformin. Untuk
Metformin 500 yang tiap tablet salut selaput mengandung 500 mg Metformin HCl
diberikan dosis 3 x sehari 1 tablet. Sedangkan untuk Metformin 850 dimana setiap tablet
salut selaput mengandung dosis pemeliharaan 2 x sehari 1 tablet pada waktu pagi dan
malam. Metformin baik disimpan pada suhu kamar (25 – 30o celcius).
• METIGLINID

Merupakan obat anti diabetic atau obat penurun glukosa darah yang diberikan secara oral.
Untuk pengobatan terhadap pasien diabetes mellitus tipe 2, Metiglinid dapat
dikombinasikan dengan insulin.
Metiglinid membantu pankreas untuk memproduksi insulin. Modus tindakan adalah asli,
melalui saluran potasium. Dengan menutup saluran kalium sel beta pankreas, membuka
saluran kalsium, sehingga meningkatkan sekresi insulin. Dengan kata lain, Metiglinid
menstimulasi sekresi insulin dengan menutup K ATP-sensitif (+) K (ATP) saluran pada
sel beta pankreas. Metiglinid dapat digunakan dalam bentuk obat. Metiglinid mempunyai
efek samping meningkatkan berat badan dan hipoglikemia.

Gambar struktur dari Metiglinid :

Nama IUPAC :
(2S)-2-benzyl-4-[(3aR,7aS)-octahydro-2H-isoindol- 2-yl]-4-oxobutanoic acid

Rumus Kimia :
C19H25NO3

• REPAGLINID

Nama & Struktur Kimia : S(+)2-ethoxy-4(2((3-methyl-1-(2-(1-piperidinyl)


phenyl)-butyl) amino)-2-oxoethyl)benzoic acid.
Sifat Fisikokimia : serbuk putih atau putih tulang dengan BM 452,6
Golongan : hormon, obat endokrin lain dan kontraseptik
Indikasi :
Diabetes mellitus tipe 2 yang tidak dapat dikendalikan hanya dengan diet dan
olahraga.
Dosis, cara pemakaian :
Repaglinid dapat diberikan 2, 3, atau 4 kali sehari 30 menit sebelum makan.
Untuk pasien yang belum pernah mendapat terapi OHO atau insulin, atau yang kadar
HbA1c nya < 8%, dosis awal dapat diberikan 0,5mg setiap kali sebelum makan. Untuk
pasien yang sudah pernah mendapat terapi OHO atau insulin, atau yang kadar HbA1c nya
>= 8%, dosis awal repaglinid dapat diberikan 1 atau 2mg setiap kali sebelum makan.
Dosis dapat dinaikkan sesuai respon terhadap terapi, maksimal 4mg per kali makan atau
16 mg per hari.

Repaglinid menurunkan kadar glukosa darah dengan jalan merangsang sekresi insulin
dari kelenjar pankreas. Aksi ini sangat bergantung pada sel-sel beta-Langerhans yang
masih dapat berfungsi dengan baik. Sekresi insulin yang terjadi bergantung pada kadar
glukosa darah, apabila kadar glukosa darah rendah, maka sekresi insulin yang dirangsang
repglinid juga rendah.
Repaglinid menutup ATP-dependent potassium channels pada sel-sel beta-Langerhans.
Penutupan potassium channels ini akan mendepolarisasi sel-sel beta, yang akan
menyebabkan pembukaan channel kalsium. Peningkatan influx kalsium akan
mengakibatkan induksi sekresi insulin. Mekanisme channel ion ini sangat selektif
jaringan dengan afinitas rendah untuk otot jantung dan otot rangka. Diabsorpsi sempurna
dengan cepat setelah pemberian per oral. Setelah pemberian dosis tunggal atau majemuk,
baik pada orang sehat maupun pada penderita diabetes tipe 2, kadar puncak dalam plasma
(Cmax) tercapai dalam 1 jam (Tmax).
Repaglinid juga diekskresi secara cepat melalui ginjal, waktu paruh eliminasi dari darah
sekitar 1jam. Nilai tengah (mean) ketersediaan hayati absolut sekitar 56%. Ketika
repaglinid diberikan bersama makanan, nilai tengah Tmax tidk berubah tapi nilai tengah
Cmax berubah.

• ROSIGLITAZONE

Rosiglitazone adalah obat anti-diabetes di thiazolidinedione kelas obat. Ia bekerja


sebagai sensitizer insulin, dengan mengikat PPAR reseptor dalam sel-sel lemak dan
membuat sel lebih responsif terhadap insulin. Hal ini dipasarkan oleh perusahaan
farmasi GlaxoSmithKline (GSK) sebagai obat yang berdiri sendiri (Avandia) dan dalam
kombinasi dengan metformin (Avandamet) atau
dengan glimepiride (Avandaryl). Penjualan tahunan mencapai puncaknya pada sekitar $
2.5bn pada tahun 2006, namun menurun setelah laporan efek samping. obat paten
berakhir pada tahun 2012.

Beberapa laporan memberi kesan bahwa rosiglitazone dikaitkan dengan risiko statistik
signifikan dari serangan jantung, namun laporan lain tidak setuju, dan kontroversi belum
diselesaikan. Kekhawatiran terhadap efek samping telah mengurangi penggunaan
rosiglitazone meskipun efek berkelanjutan pada kontrol glikemik . Obat ini saat ini
banyak subyek tuntutan hukum terhadap GSK. Lebih dari 13.000 telah diajukan terhadap
perusahaan karena obat tersebut. Pada Juli 2010, GSK telah setuju untuk permukiman di
lebih dari 11.500 setelan ini.

Obat ini kontroversial di Food and Drug Administration. Beberapa tinjauan


menyimpulkan bahwa rosiglitazone menyebabkan kematian lebih
daripioglitazone (Actos) dan direkomendasikan bahwa rosiglitazone diambil dari pasar,
tapi sebuah panel FDA tidak setuju dan tetap di pasar di AS

Farmakologi

Rosiglitazone adalah anggota dari kelas thiazolidinedione obat. Thiazolidinediones


bertindak sebagai sensitizers insulin. Mereka mengurangi glukosa, asam lemak, dan
konsentrasi insulin darah. Mereka bekerja dengan mengikat reseptor proliferator-
diaktifkan Peroksisom (PPARs). PPARs adalahreseptor pada membran inti
sel. Thiazolidinediones masukkan sel, berikatan dengan reseptor nuklir, dan
mempengaruhi ekspresi DNA. Ada beberapa PPARs, termasuk PPARα, PPARβ / δ, dan
PPARγ. Thiazolidinediones PPARγ mengikat.

PPARs disajikan dalam sel-sel lemak, sel-sel hati, otot, jantung, dan dinding bagian
dalam (endotelium) dan otot polos pembuluh darah. PPARγ diungkapkan terutama di
jaringan lemak, di mana ia mengatur gen yang terlibat dalam sel lemak (adipocyte)
diferensiasi, serapan asam lemak dan penyimpanan, dan pengambilan glukosa. Hal ini
juga ditemukan dalam sel beta pankreas, endotelium vaskuler, dan
makrofag. [5] rosiglitazone adalah ligan PPARγ selektif dan tidak-mengikat tindakan
PPARα. Obat lain yang mengikat untuk PPARα.

Rosiglitazone juga tampaknya memiliki anti- inflamasi selain efek efek pada insulin
resistensi faktor. nuklir kappa-B ( NF-κB ) adalah molekul sinyal yang menstimulasi jalur
inflamasi. NF inhibitor-κB (IκB) adalah inhibitor yang downregulates jalur
inflamasi. Ketika pasien mengambil rosiglitazone, NF-κB tingkat jatuh dan tingkat IκB
meningkat. [6]

Rosiglitazone juga dapat bermanfaat bagi pasien dengan Penyakit Alzheimer yang tidak
mengungkapkan ApoE4 alel . [7] Ini adalah subyek dari uji klinis saat ini sedang
berlangsung. [8]
Rosiglitazone juga dapat mengobati ringan sampai sedang ulseratif colitis , karena sifat
antiinflamasi sebagai ligan PPAR. [9]

Sebuah uji klinis telah menyarankan bahwa agen ini dapat digunakan untuk mengobati
malaria. [10]