Anda di halaman 1dari 10

Tanggal Praktikum : 9 Mei 2011

Kelompok Praktikum : 20 / Sore


Penanggung Jawab : Siti Sa’diah, MSi, Apt

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II

OBAT DEPRESAN SISTEM SARAF PUSAT

No Nama Mahasiswa NIM Tanda Tangan


1. Rahmanitia Puhanda (B04080071) ( )
2. Khansaa Mirajziana (B04080072) ( )
3. Shandy Maha Putra (B04080086) ( )
4. M. Jamaluddin A (B04080146) ( )

DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI, DAN


FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PENDAHULUAN

Latar belakang

1
Depresan adalah senyawa yang dapat mendepres atau menekan system
tubuh. Depresan Sistem Syaraf Pusat (SSP) adalah senyawa yang dapat
mendepres atau menurunkan aktivitas fungsional dari sistem syaraf pusat (SSP).
Akibat dari penurunan aktivitas fungsional sistem syaraf pusat adalah
menurunnya fungsi beberapa organ tubuh. Depresan sistem syaraf pusat (SSP) ini
bekerja dengan menekan pusat kesadaran, rasa nyeri, denyut jantung dan
pernafasan. Depresansia terbagi atas golongan sedative, hipnotika, anastetik
umum. Depresansia golongan sedative menyebabkan respon fisik dan mental dari
hewan menghilang, tetapi tidak mempengaruhi kesadaran atau dengan kata lain
hanya menimbulkan efek sedasi. Depresansia golongan hipnotika menimbulkan
efek hipnotik pada hewan, sehingga rasa kantuk pada hewan. Depresansia
golongan sedative dan hipnotika ini apabila diberikan pada dosis tinggi dapat
menyebabkan efek anaesthesi. Depresansia golongan anastetik umum adalah
senyawa yang dapat menimbulkan efek anaeshtesi, sehingga kesadaran, rasa nyeri
dari hewan menjadi hilang, dan muscle relaxan.
Tujuan
Mengetahui daya kerja obat depresan sistem saraf pusat, yang bersifat
analgesik kuat, relaksan kuat, dan anastetikum kuat melalui gejala yang
ditimbulkan.

TINJAUAN PUSTAKA
Obat yang bekerja pada susunan saraf pusat (SSP) memperlihatkan efek
yang sangat luas. Obat tersebut mungkin merangsang atau menghambat aktifitas
SSP secara spesifik atau secara umum. Beberapa kelompok obat memperlihatkan
selektivitas yang jelas misalnya analgesik antipiretik yang khusus mempengaruhi
pusat pengaturan suhu dan pusat nyeri tanpa pengaruh jelas terhadap pusat lain.
Sebaliknya anestetik umum dan hipnotik sedatif merupakan penghambat SSP
yang bersifat umum sehingga dosis yang berat selalu disertai koma. (Ganiswara,
Sulistia G. 1995)
Obat depresan sistem saraf pusat adalah obat yang dapat mendepres atau
menurunkan aktifitas SSP. Obat ini bekerja dengan menekan pusat kesadaran, rasa

2
nyeri, denyut jantung dan pernafasan. Depresansia terbagi atas golongan obat
sedativ, hipnotik, dan anestetik umum.
Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi lokal dan anestesi
umum. Anestesi lokal adalah hilangnya rasa sakit tanpa hilangnya kesadaran,
sedangkan anestesi umum adalah hilangnya rasa sakit disertai hilangnya
kesadaran. Menurut teori Koloid pemberian anestesi umum menyebabkan
terjadinya penggumpalan koloid yang menimbulkan anestesia yang bersifat
refersibel diikuti dengan proses pemulihan. Teori – teori lain yang membahas
tentang anestesi umum yaitu teori lipid, teori adsorbsi dan tegangan permukaan,
teori biokimia, teori neurofisiologis dan teori fisika.
Mengikuti batas penyerapan, anaestetik lokal mungkin menyebabkan
rangsangan SSP, menyebabkan kegelisahan dan tremor atau gemetar yang
merupakan progres konvulsi clonic. Secara umum, anaestetik yang lebih kuat,
menghasilkan konvulsi yang lebih hebat. Rangsangan pusat diikuti oleh depresi;
kematian biasanya yang disebabkan oleh kegagalan pernapasan. (Goodman &
Gilman's. 2006)
Rangsangan nyata dan depresi yang berikut dihasilkan dari penerapan
anastetik lokal ke SSP yaitu penurunan aktivitas neuronal; sebuah penurunan
selektif dengan bersifat menghambat neurons yang bertanggungjawab untuk
tahapan excitatory in vivo. Administrasi systemik yang cepat dari anestetik lokal
mungkin menyebabkan kematian dengan tidak ada atau hanyalah tanda sementara
dari rangsangan SSP. Dalam kondisi ini, konsentrasi dari obat mungkin meningkat
sangat cepat sehingga semua neurons ditekan secara serempak. Kontrol udara dan
ventilasi adalah fitur penting dari perlakuan di akhir langkah intoksikasi.
Benzodiazepin atau aksi barbiturate yang cepat melalui intravena adalah obat
pilihan untuk kedua pencegahan dari gangguan hebat. (Goodman & Gilman's.
2006)
Semua zat anestetik umum menghambat SSP secara bertahap, mula – mula
fungsi yang kompleks yang akan dihambat dan yang paling akhir dihambat ialah
medula oblongata dimana terdapat pusat vasomotor dan pusat pernapasan yang
vital. Guedel (1920) membagi anestesia umum dengan eter dalam 4 stadia yaitu
stadium I ( analgesik ), stadium II ( delirium / eksitasi ), stadium III ( pembedahan

3
) kemudian dibagi lagi dalam 4 tingkat dan terakhir stadium IV ( paralisis medula
oblongata ). Obat anestetik umum menurut bentuknya dibagi menjadi 3 golongan
yaitu anestetik gas, anestetik menguap dan anestetik parenteral.
Keefektifan obat sedativ atau obat penenang (anxiolytic) agen harus
mengurangi kebimbangan dan menggunakan efek penenangan. Derajat dari
depresi atau penurunan aktivitas sistem saraf pusat yang disebabkan oleh satu obat
penenang harus minimum yang konsisten dengan keberhasilan obat tersebut.
(Katzung. 2006).
Efek sedasi juga merupakan efek samping beberapa golongan obat yang
tidak termasuk obat golongan depresan SSP. Walaupun obat tersebut memperkuat
penekanan SSP, secara mandiri tidak dapat menginduksi anestetik umum.
Golongan obat tersebut umumnya telah menghasilkan efek terapi yang lebih
spesifik pada kadar yang jauh lebih kecil dari pada kadar yang dibutuhkan untuk
mendepresi SSP secara umum. (Ganiswara, Sulistia G. 1995)
Obat hipnotis menyebabkan kantuk dan menganjurkan serangan dan
pengaturan tidur. Efek hipnotis menyebabkan depresi berlebihan dari sistem saraf
pusat dibandingkan pemberian obat penenang (sedativ), dan dapat dicapai dengan
banyak obat di kelas ini dengan meningkatkan dosis. Susunan dosis depresi
bergantung dari fungsi sistem saraf pusat yaitu karakteristik dari obat lebih
sedative-hipnotis. Bagaimanapun, obat perorangan berbeda dalam hubungannya
di antara dosis dan derajat dari kedepresian sistem saraf pusat. (Katzung. 2006).
Hipnotik sedatif merupakan golongan obat depresan susunan saraf pusat
yang relatif tidak selektif, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau
kantuk, menidurkan, hingga yang berat ( kecuali benzodiazepam ) yaitu hilangnya
kesadaran, keadaan anestesia, koma dan mati, bergantung kepada dosis. Pada
dosis terapi obat sedativ menekan aktifitas, menurunkan respon terhadap
rangsangan emosi dan menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan
mempermudah tidur serta mempertahankan tidur yang menyerupai tidur
fisiologis. (Ganiswara, Sulistia G. 1995).
Beberapa obat hipnotik dan sedatif terutama golongan benzodiazepin
digunakan juga untuk indikasi lain yaitu sebagai pelemas otot, anti epilepsi,
antiansietas (anticemas) dan sebagai penginduksi anestesia. Salah satu jenis

4
sedatif lain yaitu kloralhidrat, merupakan derivat monohidrat dari kloral dan
merupakan hipnotik yang efektif. Metabolitnya, trikloroetanol juga merupakan
hipnotik yang efektif. Kloral sendiri berupa minyak sedangkan hidratnya
merupakan kristal yang menguap secara lambat di udara dan larut dalam minyak,
air dan alkohol. Kloralhidrat memiliki rasa yang tidak enak. Senyawa ini dapat
mengiritasi kulit dan membran mukosa.
Reabsorbsi kloralhidrat cepat yaitu di usus, mulai kerjanya pesat dan bertahan
agak singkat, kurang lebih 5-6 jam. Dalam darah dan hati zat ini diubah oleh enzim
alkoholdehidrogenase antara lain menjadi trikloretanolaktif. Metabolit ini
berkhasiat hipnoyis panjang (t1/2= 8 jam) danakhirnya dirombak dalam hati
dan ginjal menjadi trikloroasetat inaktif dan diekskresikan melalui ginjal sebagai glukuronida.
Magnesium sulfat (MgSO4) pertama kali dicoba untuk pengobatan kejang
oleh Meltzer pada tahun 1899 dan bersamaan dengan Auer mencobanya untuk
pengobatan kejang pada kera yang sakit tetanus. Khon dan Sraubee sependapat
dengan mereka dan mulai mengunakan magnesium sulfat untuk pengobatan
penderita tetanus. Magnesium menekan saraf pusat sehingga menimbulkan
anestesi dan mengakibatkan penurunan reflek fisiologis. Pengaruhnya terhadap
SSP mirip dengan ion kalium. Hipomagnesemia mengakibatkan peningkatan
iritabilitas SSP, disorientasi, kebingungan, kegelisahan, kejang dan perilaku
psikotik. Suntikan magnesium sulfat secara intravena cepat dan dosis tinggi dapat
menyebabkan terjadinya kelumpuhan dan hilangnya kesadaran. Hal ini mungkin
disebabkan karena adanya hambatan pada neuromuskular perifer. (2011)
MgSO4 mempunyai pengaruh potensiasi dengan obat-obat penekan SSP
(barbiturat, obat-obat anestesi umum). Magnesium juga menyebabkan depresi
langsung terhadap otot rangka. Kelebihan magnesium dapat menyebabkan
penurunan pelepasan asetilkolin pada motor end-plate oleh syaraf simpatis,
penurunan kepekaan motor end-plate terhadap asetilkolin, dan penurunan
amplitudo potensial motor end-plate. Bila kadar magnesium dalam darah
melebihi 4 meq/liter reflek tendon dalam mulai berkurang dan mungkin
menghilang dalam kadar 10 meq/liter. Pengaruh magnesium terhahap otot jantung
menyerupai ion kalium. Kadar magnesium dalam darah yang tinggi yaitu 10-15
meq/liter menyebabkan perpanjangan waktu hantaran PR dan QRS interval pada

5
EKG. Menurunkan frekuensi pengiriman infuls SA node dan pada kadar lebih dari
15 meq/liter akan menyebabkan bradikardi bahkan sampai terjadi henti jantung
yaitu pada kadar 30 meq/liter. Pengaruh ini dapat terjadi karena efek langsung
terhadap otot jantung atau terjadi hipoksemia akibat depresi pernapasan.
Pentotal termasuk golongan barbiturat, semua barbiturat untuk keperluan
klinik berada dalam bentuk garam sodium (berupa bubuk kuning) dilarutkan
dalam air menjadi larutan 2,5% atau 5% dengan PH 10,8.
Larutan pentotal tidak stabil tapi dapat disimpan sampai dengan 24-48 jam tanpa
membahayakan, asalkan masih tetap jernih. Dianjurkan untuk segera memakai
larutan yang telah disiapkan. Untuk menghilangkan efek negatif dari pentotal
dianjurkan memakai larutan 2,5%.
Pentotal merupakan anestetik kuat dan analgesik lemah. Pentotal merupakan
anestetik umum dan paling banyak diberikan secara intravena. Metabolisme
pentotal terutama terjadi di hati dan hanya sebagian kecil keluar lewat urin tanpa
mengalami perubahan. Pentotal 10-15 % dari dalam tubuh akan dimetabolisir tiap
jam. Pulih sadar yang cepat setelah pemberian pentotal disebabkan oleh
pemecahan di dalam hati yang cepat diilusi dalam darah dan di redistribusi ke
jaringan tubuh yang lain. Oleh karena itu pentotal termasuk obat dengan daya
kerja sangat singkat “Ultra Short Acting Barbiturate” pentotal dalam jumlah kecil
masih dapat ditemukan dalam darah selama 24 jam, oleh karena itu dapat
membahayakan bagi pasien tanpa mondok yang masih harus mengendarai mobil
setelah sadar dari efek pentotal.
Pentotal menimbulkan sedasi, hypnosis (tertidur), dan depresi pernapasan,
tergantung dosis dan kecepatan pemberian. Efek analgesia sedikit dan terhadap
SSP terlihat adanya depresi dan kesadarannya menurun secara progresif. Kontak
dengan lingkungan, dengan gerakan-gerakan dan kemampuan menjawab
pertanyaan pelan-pelan menghilang.
Efek utama adalah depresi pusat pernapasan, tergantung besar dosis, dan
kecepatan injeksi. Efek ini akan bertambah jelas bila sebelumnya diberikan opioat
atau obat depresan lain. Pada sistem kardiovaskular, pentotal mendepresi pusat
vasomotor dan kontraktilitas miokard yang mengakibatkan vasodilatasi, sehingga

6
dapat menurunkan curah jantung dan tekanan darah. Efek ini tergantung dosis dan
lebih nyata pada pasien dengan penyakit kardiovaskular. (2011)

ALAT DAN BAHAN


Alat – alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah timbangan,
syringe, dan pipet tetes.
Bahan yang digunakan adalah MgSO4, kloralhidrat, penthotal 1%, mencit
dan 2 ekor katak.

METODE
Praktikum ini terdiri atas dua perlakuan, yaitu mencit yang dinjeksi dengan
penthothal 1%, katak yang diinjeksi dengan chloralhidrat dan MgSO4. Pada
perlakuan pertama, mencit ditimbang untuk mengetahui dosis masing-masing
yang akan diberikan. Kemudian mencit terlebih dahulu diperiksa status
fisiologisnya, berupa kesadaran, rasa nyeri, pernafasan, frekuensi nafas, frekuensi
jantung, dan tonus otot. Mencit disuntik penthotal secara subkutan dengan volume
awal sebanyak 0,05 cc. Setelah 10 menit, diamati perubahan yang terjadi dan
disuntik kembali penthotal dengan dosis bertingkat, diulangi sampai mencit mati.
Perlakuan kedua, yaitu dua ekor katak ditimbang untuk mengetahui dosis
masing-masing senyawa yang akan diberikan. Kemudian katak terlebih dahulu
diperiksa status fisiologisnya berupa kesadaran, rasa nyeri, pernafasan, frekuensi
nafas, frekuensi jantung, dan tonus otot. Katak pertama disuntik subkutan dengan
MgSO4, katak kedua disuntik subkutan dengan kloralhidrat, masing-masing
dengan dosis 0,05 cc sebagai dosis awal. Setelah 10 menit, katak diamati
perubahan yang terjadi dan disuntik kembali dengan dosis bertingkat, diulangi
sampai katak mati

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Percobaan

7
Tabel 1. Perubahan fisiologis mencit selama pemberian penthotal
Akti Salivasi
Dosis Tonus Frek. Frek. Kon
Menit vitas Reflek /defkasi/
(ml) Otot Nafas Jantung vulsi
tubuh urinasi
0 0,05 ++++ ++++ - + 200 140 -
10 0,1 ++++ ++++ urinasi + 192 136 -
20 0,2 ++++ ++++ - + 136 124 -
30 0,4 ++ ++ - - 120 100 ++
40 0,8 - - - - 88 88 +
50 1,6 - - urinasi - - - ++++

Tabel 2. Perubahan fisiologis katak selama pemberian MgSO4


Dosis Posisi Rasa Tonus Frek. Frek. Kon
Menit Reflek
(ml) tubuh Nyeri Otot Nafas Jantung vulsi
0 0,05
10 0,1
20 0,2
30 0,4
40 0,8
50 1,6

Tabel 3. Perubahan fisiologis katak selama pemberian Kloralhidrat


Dosis Posisi Rasa Tonus Frek. Frek. Kon
Menit Reflek
(ml) tubuh Nyeri Otot Nafas Jantung vulsi
0 0,05
10 0,1
20 0,2
30 0,4
40 0,8
50 1,6

Pembahasan
Mencit berbobot badan 40 gram dan dalam keadaan bunting. Setelah 10
menit diinjeksi dengan 0,05 penthotal 1% mencit masih memperlihatkan keadaan
fisiologis yang normal. Setelah diinjeksi lagi dengan 0,1 ml penthotal 1%
frekuensi nafas dan jantung mencit mulai menurun, yaitu dari 200 menjadi 192
kali per menit dan dari 140 menjadi 136 kali per menit. Hal ini terjadi karena pada
sistem kardiovaskular, penthotal mendepresi pusat vasomotor dan kontraktilitas
miokard yang mengakibatkan vasodilatasi, sehingga dapat menurunkan curah
jantung dan tekanan darah. Pentotal juga mempengarufi sistem pernafasan

8
sehingga tiap pemberian dosis bertingkat frekuensi nafas mencit mengalami
penurunan. Mencit urinasi pada pemberia dosis 0,1 mL. Lalu terjadi konvulsi pada
saat penyuntikan penthotal 1% dengan dosis 0,4 ml pada menit ke 30, dan mulai
terjadi penurunan pada aktivitas dan reflek. Pada penyuntikan penthotal 1%
dengan dosis 0,8 ml atau 200 mg per kg bobot badan, aktivitas tubuh dan reflek
mencit hilang. Dan pada dosis 1,6 ml mencit akhirnya mati dengan disertai
konvulsi yang lebih dari pada saat penyuntikan dosis 0,4 ml.
Hal ini terjadi karena penthotal bekerja sebagai anestesi, yaitu menurunkan
kesadaran, dan sistem saraf pusat menjadi terganggu sehingga menimbulkan
sedasi, hypnosis (tertidur), dan depresi pernapasan, kontak dengan lingkungan,
dengan gerakan-gerakanpun menghilang.
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………..

SIMPULAN
Berat badan mempengaruhi daya kerja obat depresan sistem saraf pusat.
Semakin berat bobot badan hewan maka semakin banyak dosis yang dibutuhkan.
Untuk mencit dengan bobot badan 40 gram dibutuhkan penthotal 1% sebanyak
200 mg per kg bobot badan.
Pada katak obat depresan yang baik adalah
………………………………………………………………………………………
………………….. Sehingga obat depresan sistem saraf pusat yang paling baik
dari ketiga bahan tersebut adalah…………………

DAFTAR PUSTAKA

Ganiswara, Sulistia G. 1995. Farmakologi dan Terapi. Gaya Baru : Jakarta

Goodman & Gilman's. 2006. The Pharmacologic Basis of Therapeutics - 11th Ed.

9
http://digilib.unsri.ac.id/download/MGSO4%20.pdf [diakses pada tanggal 16 Mei
2011]

http://diyoyen.blog.friendster.com/2009/05/cara-kerja-pentonal/ [diakses pada


tanggal 16 Mei 2011]

http://www.scribd.com/doc/53185738/TP-Fartox [diakses pada tanggal 16 Mei


2011]

Katzung Bertram G. 2006. Basic and clinical pharmacology - 10 th Edition.


University of California, San Francisco

10