P. 1
Retensio Urine

Retensio Urine

|Views: 1,219|Likes:
Dipublikasikan oleh Kesuma Larasati

More info:

Published by: Kesuma Larasati on May 18, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

RETENSIO URINE

Pembimbing: dr. Seto Hanggoro, Sp. U
Oleh: Kesuma Larasati (406100116)

Fisiologi Miksi
Proses ini melibatkan mekanisme volunter dan involunter karena secara anatomis sistem saluran kemih bagian bawah mendapatkan innervasi dari: -serabut saraf aferen yang berasal dari vesica urinaria dan uretra -serabut saraf eferen berupa sistem parasimpatik, simpatik, dan somatik. -Spincter urethra external & otot dasar panggul di bawah kontrol volunter N. Pudendus -m. detrusor vesicae & spinchter urethra interna di bawah kontrol sistem saraf otonom oleh korteks otak.

Terdiri dari 2 fase: 1. fase pengisian (penyimpanan) 2. fase pengosongan

1.Fase Pengisian (Filling Phase)
Pada fase ini akan timbul sensasi berkemih pertama kali yang biasanya timbul pada saat volume vesica urinaria terisi antara 150-350 ml dari kapasitas normal sekitar 300-600 ml. Pada keadaan ini, serabut aferen dari dinding vesica urinaria menerima impuls regangan (stretch receptor) yang dibawa oleh N. pelvicus ke corda spinalis S2-4 (Nucleus intermediolateralis cornu lateralis medulla spinalis/NILCLMS S24) dan diteruskan sampai ke pusat saraf cortikal dan subcortikal (ganglia basalis dan cerebellum) melalui tractus spinothalamicus. Sinyal ini akan memberikan informasi kepada otak tentang volume urin dalam vesica urinaria.

1.Fase Pengisian (Filling Phase)
Pusat subcortikal menyebabkan m. detrusor vesica urinaria berelaksasi dan m. spinchter uretra interna berkontraksi akibat peningkatan aktivitas saraf simpatis yang berasal dari NILCLMS Th10-L2 yang dibawa oleh N. hipogastricus sehingga dapat mengisi tanpa menyebabkan seseorang mengalami desakan berkemih. Ketika pengisian vesica urinaria berlanjut, rasa pengembangan vesica urinaria disadari, dan pusat cortical (pada lobus frontalis) bekerja menghambat pengeluaran urin.

2. Fase Miksi (Voiding phase)
Dimulai pada saat vesica urinary terisi penuh dan timbul keinginan untuk berkemih. Kemudian timbul stimulasi sistem parasimpatik yang berasal dari NILCLMS S2-4 dan di bawa oleh N. Eregentes kontraksi otot m. detrusor vesicae. Selain itu terjadi inhibisi sistem simpatis relaksasi spinchter urethra interna.

2. Fase Miksi (Voiding phase)

Miksi kemudian terjadi jika terdapat relaksasi spinchter urethra externa akibat: ‡pe akt. serabut saraf somatik yg dibawa oleh N. Pudendus ‡tekanan intra vesical > tekanan intraurethra.

Fisiologi Ejakulasi
Terdiri dari 2 fase: 1. Fase Emisi
dikontrol oleh eferen simpatetik yang berasal dari T9-L2 . Selama emisi, semen (sperma dan plasma seminalis) disimpan ke dalam urethra posterior melalui konstraksi vasa diferentia, vesika seminalis dan prostat. Pada saat yang bersamaan, spincter internal kandung kemih tertutup.

2. Fase Ekspulsi (Fase Ejakulasi Sejati)
Emisi diikuti segera oleh ekspulsi. Selama ekspulsi, semen dikeluarkan dengan kekuatan penuh ke dalam lumen urethra dan keluar penis oleh kontraksi klonik otot dasar panggul.

Definisi
‡ Retensio urine adalah suatu sindroma klinis urologi dimana terjadi penumpukan urine di dalam kandung kemih karena tidak dapat berkemih. ‡ Dapat terjadi secara parsial atau total. ‡ Keadaan ini merupakan keadaan yang gawat darurat karena nantinya akan menyebabkan kerusakan pada kedua ginjal.

Etiologi
1. Proses obstruksi intravesical :
‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Kelainan bawaan Trauma Infeksi Tumor Kelainan metabolik

Etiologi
2. Kelainan bawaan : - Urethra : Fimosis Atresia Stenosis meatus Diverticulum Muara urethra abnormal - Urethrovesical : Post urethra valve Hipertrofi verumontanum Kontraktur bladder neck Hipertrofi bladder neck - Vesica : Anomali diverticulum Neurogenic bladder

Etiologi
3.Kelainan didapat : -. Urethra : Fimosis Striktur Batu Fistula Diverticulum Ruptura

Etiologi
-. Urethrovesical : Prostat :a. Hiperplasia b. Keganasan c. Kontraktur median d. Kista e. Batu f . Prostatitis Spasmus sfingter : a. Essential b. Anestesi -. Vesica : Tumor Batu Diverticulum ( obstruksi kronik ) Neurogenic bladder

Retensio urine kronik disebabkan oleh obstruksi urethra yang semakin hebat, sehingga akhirnya kandung kemih mengalami dilatasi. Pada keadaan ini kemih keluar terus menerus karena kapasitas kandung kemih terlampaui.

Penderita tidak mampu berkemih lagi, tetapi urine keluar terus tanpa terkendali. Sering penderita itu dianggap inkontinensia tetapi kandung kemih yang penuh dapat diraba dan mungkin fundusnya mendekati pusat pada palpasi perut.

Patogenesa
‡ Lower tract striktur urethra Obstruksi dilatasi uretra proksimal divertikulum bila infeksi ekstravasasi dan abses periuretral.

Patogenesa
‡ Perubahan vesica
Dapat terjadi kompensasi dan dekompensasi. -Pada kompensasi akan menyebabkan hipertrofi otot detrusor (otot polos kandung kemih) dan hipertofi otot trigonum. -Pada dekompensasi terjadi melemahnya otot detrusor yang akan menjadi atoni sehingga terjadi retensio urine ( parsial atau total).

Pada hipertrofi trigonum terjadi obstruksi sekunder ureter intravesical, dan terjadi peregangan yang menyebabkan retensio urine. Keadaan tersebut menyebabkan mekanisme back pressure terhadap kedua ginjal. Jika retensio tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka akan terjadi dekompensasi U-V junction dan menyebabkan reflux. Back pressure berserta reflux menyebabkan kerusakan ginjal menjadi lebih cepat.

Patogenesa
‡ Perubahan ureter
Pada mulanya ureter masih dapat mengadakan kompensasi, namun nantinya akan terjadi dekompensasi, ureter akan melebar dan memanjang, yang nantinya akan manjadi atonia.

‡ Perubahan pelviocalices
Keadaan diatas akan berlanjut menjadi hidronefrosis. Hidronefrosis ada tiga tingkat, yaitu dilatasi pelviocalices, papilae mendatar, calices minor melembung.

Patogenesa
‡ Perubahan parenkim ginjal
Merupakan akibat dari distensi peliviocalices, sehingga vasa arcuata terjepit dan akan menjadi atrofi iskemik, yang akan menyebabkan fungsi ginjal berkurang

Akibat retensio urin : - Dilatasi buli-buli maksimal tekanan & tegangan inkontinensia paradoks - Hambatan aliran urin hidroureter,hidonefrosis - Kontraksi otot detrusor menyusut - Predileksi ISK (pielonefritis, urosepsis) gawat uro

Keadaan klinis obstruksi intravesical
‡ Riwayat penyakit khas sesuai dengan causa obstruksinya, berat dan lamanya, serta letak lesinya. ‡ Mula-mula harus mengejan pada awal miksi ‡ Butuh waktu lebih lama untuk miksi ‡ Pancaran melemah atau mengecil. ‡ Merasa tidak puas waktu miksi. ‡ Pada akhir miksi, air seni menetes ‡ Sering ingin miksi, lama-lama akan terjadi retensi parsial yang akan menjadi total ‡ Miksi menjadi sakit.

Tatalaksana
Untuk penanganan setelah diagnosa retensio urine total maka harus dilakukan drainage dengan pemasangan kateter untuk mengosongkan kandung kemih dan mencari causanya.

Causa retensio urine yang lazim adalah : - Kelainan bawaan : 1. Fimosis. 2. Stenosis meatus eksternus. - Kelainan didapat : 1. temporer pada pasca operasi 2. prostat hiperplasia 3. striktura uretra (trauma, GO, iatrogenik) 4. batu vesika atau uretra 5. ruptur uretra (trauma pelvis) 6. neurogenik bladder 7. pada wanita: - kehamilan atau inpartu - fibrosis karena tua atau infeksi - karunkula - inflamasi atau udema pasca trauma

Tatalaksana
Untuk retensio urine akibat striktur uretra, dilakukan: ‡ dilatasi uretra sampai bisa dipasang kateter karet ‡ dilatasi berkala hati-hati bahaya bisa terjadi false route.

Tatalaksana
1. Kateterisasi Syarat : ± Prinsip aseptik ± Gunakan kateter folley ± Usahakan tidak nyeri spasme spingter. ± Sistim tertutup dan ukur volume urin. ± Antibiotik profilaksis 1 kali.

Indikasi kateterisasi: - Drainase buli selama dan sesudah proc. bedah . - Menilai produksi urin pada pasien kritis. - Pengambilan spesimen urin . - Evaluasi urodinamik. - Studi radiografi - Menilai residual urin - Retensio urin.

Tatalaksana
2. Sistostomi trokar/tertutup
Indikasi : -Kateterisasi gagal : striktur, batu uretra yg menancap -Kateterisasi tidak dibenarkan : ruptur uretra Syarat : - Retensi urin dan buli-buli penuh (fundus lebih tinggi pd pertengahan jarak antara simpisis dan pusat). - Ukuran Folley lebih kecil dari celah trokar (20 F) - Sikatrik bekas op. abd. bawah (-) - tidak dicurigai adanya perivesikal hematom, seperti pada fraktur pelvis

Tatalaksana
3. Open sistostomi
indikasi: Retensio urin dimana: ‡ kateterisasi gagal: striktura uretra, batu uretra yang menancap (impacted) ‡ kateterisasi tidak dibenarkan: ruptur uretra ‡ sistostomi trokar gagal ‡ bila akan dilakukan tindakan tambahan seperti: mengambil batu dalam buli-buli, evakuasi gumpalan darah, memasang drain di kavum Retzii dan sebagainya.

Tatalaksana
4. Pungsi buli-buli. Syarat : ± buli-buli penuh ± kateterisasi gagal ± fasilitas sistostomi (-) ± informasi tindakan sementara & perlu tindakan lanjutan Indikasi : - Sample urin pada anak-anak. - Kateterisasi gagal. - Study voiding cystografi - Diversi urin.

Tatalaksana
Untuk retensio urine pasca bedah, dilakukan: ‡ Jika pasien bisa berdiri / berjalan: 1. kateterisasi kemudian dicabut lagi 2. cystostomia dengan abocath sampai vesica kosong selanjutnya pasien akan bisa miksi spontan lagi seperti biasa. Jika pasien belum boleh bangun: dipasang kateter dauer sampai pasien bisa bangun

‡

Gambar diatas menunjukkan berbagai macam kateter. A. Kateter Malecot, B. Kateter de Pezzer, C. Kateter Tienmann, D. Kateter Foley, 1. Lumen. 2. Saluran untuk mengisi balon. 3. Balon, E. Ukuran Cahrriere

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->