Anda di halaman 1dari 79

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

PERWAKILAN IX BPK-RI DI BANDA ACEH

Jl. Tgk. M. Daud Beureueh No. 155 Telp (0651) 22453 Banda Aceh
Banda Aceh, Juni 2005
Nomor : /S/XIV.9/6/2005
Sifat : Rahasia
Lampiran : Satu berkas
Perihal : Hasil Pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Kabupaten Aceh Tenggara
Tahun Anggaran 2004

Kepada Yth.
1. Bupati Aceh Tenggara
2. Ketua DPRD Kabupaten Aceh Tenggara
di
Kutacane

Sesuai dengan ketentuan Pasal 23E Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945 jo. Pasal 2 ayat
(4) Undang-Undang No. 5 Tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia jo. Pasal 32
ayat (1) Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, dengan hormat kami sampaikan
Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kabupaten Aceh Tenggara Tahun Anggaran 2004.
Atas perhatian dan tindak lanjut Bapak, kami ucapkan terima kasih.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
Plt. KEPALA PERWAKILAN IX BPK-RI
DI BANDA ACEH

DRS. H. MAULANA GINTING


NIP. 240001912
Tembusan:
1. Yth. Menteri Dalam Negeri di Jakarta;
2. Yth. Inspektur Jenderal Departemen Dalam
Negeri di Jakarta;
3. Yth. Kepala Badan Pengawas Daerah Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam di Banda
Aceh;
4. Yth. Kepala Badan Pengawas Daerah
Kabupaten Aceh Tenggara di Kutacane;
5. Yth. Auditor Utama Keuangan Negara IV
BPK-RI di Jakarta.
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

Jl. Tgk. M. Daud Beureueh No. 155 Telp. (0651) 22453 Banda Aceh

LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN

Kepada Para Pengguna Laporan Keuangan


Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
Tahun Anggaran 2004

Berdasarkan ketentuan Pasal 23E Perubahan Ketiga Undang-undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 2 Undang-undang No. 5 Tahun 1973, dan Pasal 31 UU No.
17 tahun 2003, Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) telah memeriksa
Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara Tahun Anggaran 2004 yang telah
disusun oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara.
Laporan Keuangan tersebut adalah tanggung jawab Pemerintah Kabupaen Aceh Tenggara.
Tanggung jawab BPK-RI terletak pada pernyataan pendapat atas Laporan Keuangan Tahun
Anggaran 2004 berdasarkan pemeriksaan BPK-RI. BPK-RI tidak mengaudit saldo awal Neraca
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara.
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan tersebut dilakukan dengan berpedoman pada Standar
Audit Pemerintahan (SAP) yang ditetapkan oleh BPK-RI. Standar tersebut mengharuskan BPK-RI
untuk merencanakan, mengumpulkan bukti yang cukup dan melaksanakan pemeriksaan agar
memperoleh keyakinan yang memadai sebagai dasar untuk memberikan pendapat.
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara Tahun
Anggaran 2004 bertujuan untuk memberikan keyakinan apakah Laporan Keuangan Tahun
Anggaran 2004 telah disajikan secara wajar sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang ditetapkan di
dalam Peraturan Perundangan yang berlaku.
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara Tahun
Anggaran 2004 meliputi pengujian atas Laporan Realisasi Anggaran Tahun Anggaran 2004,
Neraca per 31 Desember 2004 dan Laporan Aliran Kas Tahun Anggaran 2004.
Masalah-masalah material yang ditemukan adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan penutupan Buku Kas Umum Bendaharawan Umum Daerah (BKU-BUD)
diketahui saldo kas per 31 Desember 2004 adalah sebesar Rp12.640.289.779,59 yang terdiri
dari dari kas dan bank sebesar Rp1.824.848.607,59 dan kas bon yang belum diselesaikan
sampai dengan akhir tahun anggaran sebesar Rp10.815.441.172,00. Dari jumlah tersebut telah
diselesaikan sampai dengan 31 April 2005 sebesar Rp5.793.242.399,00, sehingga masih tersisa
sebesar Rp5.022.198.773,00. Namun demikian nilai kas bon tersebut berbeda dengan
perhitungan menurut draft Laporan Keuangan yaitu sebesar Rp470.394.046.757,41 sebagai
akibat kesalahan pencatatan nilai Surat Perintah Membayar dan kesalahan penjumlahan
penerimaan dan pengeluaran dalam BKU-BUD yang sampai berakhirnya pemeriksaan belum
dikoreksi.
2. Dari pemeriksaan secara uji petik atas Surat Pertanggungjawaban Belanja Bantuan Keuangan
diketahui bahwa dari realisasi sebesar Rp18.228.383.500,00, pertanggungjawaban pengeluaran
sebesar Rp1.627.950.000,00 diantaranya hanya didukung kuitansi tanpa bukti-bukti pendukung
lainnya.
3. Dari realisasi Belanja Tidak Tersangka sebesar Rp2.671.109.000,00, ternyata sebesar
Rp2.406.970.000,00 dipergunakan untuk membiayai kegiatan yang telah memiliki pos
anggaran tersendiri.
4. Bukti kepemilikan penyertaan modal Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara pada beberapa
BUMD sebesar Rp9.639.850.000,00 tidak diperoleh.
Berdasarkan Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Kabupaten Aceh Tenggara Tahun
Anggaran 2004, BPK-RI berpendapat bahwa Laporan Keuangan Kabupaten Aceh Tenggara
Tahun Anggaran 2004, kecuali atas akibat paragraf atas hal-hal yang dimuat dalam paragraf
sebelumnya, telah disajikan secara wajar untuk semua hal yang material sesuai dengan Prinsip
Akuntansi yang ditetapkan di dalam berbagai peraturan perundangan yang berlaku.
Di dalam hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh
Tenggara Tahun Anggaran 2004, BPK-RI menyampaikan beberapa hal yang perlu
mendapat perhatian Pemerintah dan DPRD Kabupaten Aceh Tenggara dalam upaya
penyempurnaan Laporan Keuangan Daerah sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban
Keuangan Daerah.

Banda Aceh, 12 Mei 2005


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Perwakilan IX di Banda Aceh
Ketua Tim

Syafruddin Lubis, SE. Ak


Akuntan REG-NEG D - 16785
A. Laporan Keuangan Audited (setelah diperiksa).
1. Perhitungan APBD Audited (setelah diperiksa).

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TENGGARA


PERHITUNGAN APBD TAHUN ANGGARAN 2004
(AUDITED)

KODE URAIAN ANGGARAN REALISASI SELISIH


REK. (RP) (RP) ANGGARAN
DENGAN
REALISASI
(RP)
1 2 3 4 5 (3-4)
I PENDAPATAN
1.1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 7.270.787.270,00 4.366.314.816,00 2.904.472.454,00
1.1.1 Pajak Daerah 982.779.545,00 736.653.153,00 246.126.392,00
1.1.2 Retribusi Daerah 2.144.116.000,00 1.595.719.866,00 548.396.134,00
1.1.3 Hasil Perusda dan Pengelolaan Ke-
kayaan Daerah yang Dipisahkan 15.600.000,00 0,00 15.600.000,00
1.1.4 Lain-lain PAD yang sah 4.128.291.725,00 2.033.941.797,00 2.094.349.928,00

1.2 DANA PERIMBANGAN 182.128.711.444,00 183.004.889.887,00 (876.178.443,00)


1.2.1 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 39.227.849.190,00 39.594.766.182,00 (366.916.992,00)
1.2.2 Dana Alokasi Umum 122.468.000.000,00 122.468.000.000,00 0,00
1.2.3 Dana Alokasi Khusus 8.490.000.000,00 8.490.000.000,00 0,00
1.2.4 Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Ke-
uangan dari Provinsi 11.942.862.254,00 12.452.123.705,00 (509.261.451,00)

1.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN YG


SAH 1.035.084.000,00 2.270.512.200,00 (1.235.428.200,00)
1.3.1 Dana Kontinjensi/ Dana Darurat 1.035.084.000,00 879.552.418,00 155.531.582,00
1.3.2 Kompensasi Pajak 0,00 1.390.959.782,00 (1.390.959.782,00)

JUMLAH PENDAPATAN 190.434.582.714,00 189.641.716.903,00 792.865.811,00

II BELANJA
2.1 APARATUR DAERAH 91.109.093.512,00 97.853.708.359,00 (6.744.614.847,00)
2.1.1 Belanja Administrasi Umum 73.874.219.778,00 81.450.922.021,00 (7.576.702.243,00)
2.1.1.1 Belanja Pegawai/Personalia 66.386.446.099,00 74.632.658.626,00 (8.246.212.527,00)
2.1.1.2 Belanja Barang dan Jasa 7.217.165.673,00 6.771.644.389,00 445.521.284,00
2.1.1.3 Belanja Perjalanan Dinas 263.351.000,00 39.362.000,00 223.989.000,00
2.1.1.4 Belanja Pemeliharaan 7.257.006,00 7.257.006,00 0,00

2.1.2 Belanja Operasi & Pemeliharaan 16.111.961.141,00 15.279.804.248,00 832.156.893,00


2.1.2.1 Belanja Pegawai/Personalia 5.161.499.250,00 5.040.075.885,00 121.423.365,00
2.1.2.2 Belanja Barang dan Jasa 4.336.343.135,00 3.867.488.741,00 468.854.394,00
2.1.2.3 Belanja Perjalanan Dinas 2.595.514.000,00 2.367.412.785,00 228.101.215,00
2.1.2.4 Belanja Pemeliharaan 4.018.604.756,00 4.004.826.837,00 13.777.919,00

2.1.3 Belanja Modal 1.122.912.593,00 1.122.982.090,00 (69.497,00)


2.1.3.5 Belanja Modal Jaringan 5.899.000,00 5.899.000,00 0,00
2.1.3.9 Belanja Modal Alat-alat Angkutan 108.300.000,00 108.300.000,00 0,00
2.1.3.12 Belanja Modal Alat Ktr & RT 740.992.110,00 741.061.110,00 (69.000,00)
2.1.3.13 Belanja Modal Alat Studio & Kom 267.721.483,00 267.721.980,00 (497,00)
1 2 3 4 5
2.2 PELAYANAN PUBLIK 103.592.658.206,00 84.628.444.798,00 18.964.213.408,00
2.2.1 Belanja Administrasi Umum 389.820.250,00 276.232.750,00 113.587.500,00
2.2.1.1 Belanja Pegawai/Personalia 138.800.000,00 86.600.000,00 52.200.000,00
2.2.1.2 Belanja Barang dan Jasa 72.797.250,00 12.197.250,00 60.600.000,00
2.2.1.3 Belanja Perjalanan Dinas 157.930.000,00 157.142.500,00 787.500,00
2.2.1.4 Belanja Pemeliharaan 20.293.000,00 20.293.000,00 0,00

2.2.2 Belanja Operasi & Pemeliharaan 38.294.268.784,00 32.405.331.753,00 5.888.937.031,00


2.2.2.1 Belanja Pegawai/Personalia 16.302.109.943,00 14.214.177.368,00 2.087.932.575,00
2.2.2.2 Belanja Barang dan Jasa 7.779.100.146,00 6.445.276.592,00 1.333.823.554,00
2.2.2.3 Belanja Perjalanan Dinas 2.444.827.475,00 1.938.245.600,00 506.581.875,00
2.2.2.4 Belanja Pemeliharaan 11.768.231.220,00 9.807.632.193,00 1.960.599.027,00

2.2.3 Belanja Modal 41.521.193.904,00 31.047.387.795,00 10.473.806.109,00


2.2.3.1 Belanja Modal Tanah 2.709.286.473,00 2.669.186.473,00 40.100.000,00
2.2.3.2 Belanja Modal Jalan dan Jembatan 7.938.117.480,00 5.012.176.350,00 2.925.941.130,00
2.2.3.3 Belanja Modal Bangunan Air 5.193.865.800,00 5.105.889.130,00 87.976.670,00
2.2.3.4 Belanja Modal Instalasi 530.413.878,00 400.625.377,00 129.788.501,00
2.2.3.5 Belanja Modal Jaringan 198.029.500,00 197.529.500,00 500.000,00
2.2.3.6 Belanja Modal Bangunan Gedung 17.861.721.748,00 12.388.776.050,00 5.472.945.698,00
2.2.3.9 Belanja Modal Alat-alat Angkutan 1.966.746.695,00 1.374.443.000,00 592.303.695,00
2.2.3.10 Belanja Modal Alat-alat Bengkel 15.030.000,00 15.030.000,00 0,00
2.2.3.11 Belanja Modal Alat-alat Pertanian 137.140.000,00 104.140.000,00 33.000.000,00
2.2.3.12 Belanja Modal Alat Ktr & RT 2.755.098.745,00 1.829.323.130,00 925.775.615,00
2.2.3.13 Belanja Modal Alat Studio & Kom 237.343.185,00 60.543.185,00 176.800.000,00
2.2.3.14 Belanja Modal Alat Kedokteran 404.601.000,00 316.425.000,00 88.176.000,00
2.2.3.15 Belanja Modal Alat Laboratorium 454.826.400,00 454.326.400,00 500.000,00
2.2.3.16 Belanja Modal Buku Perpustakaan 968.523.000,00 968.524.200,00 (1.200,00)
2.2.3.17 Belanja Modal Brg Seni/Budaya 42.300.000,00 42.300.000,00 0,00
2.2.3.18 Belanja Modal Hewan & Tanaman 108.150.000,00 108.150.000,00 0,00

2.2.4 BELANJA BAGI HASIL & BAN-


TUAN KEUANGAN 20.713.100.000,00 18.228.383.500,00 2.484.716.500,00
2.2.4.3 Bant. Keu. Kepada Pemkab 5.000.000.000,00 4.998.343.500,00 1.656.500,00
2.2.4.4 Bant. Keu. Kepada Pemdes/Kel 6.863.100.000,00 4.554.000.000,00 2.309.100.000,00
2.2.4.5 Bant. Keu. Kepada Ormas 4.000.000.000,00 3.999.035.000,00 965.000,00
2.2.4.6 Bant. Keu. Kepada Org. Profesi 4.850.000.000,00 4.677.005.000,00 172.995.000,00

2.2.5 BELANJA TDK TERSANGKA 2.674.275.268,00 2.671.109.000,00 3.166.268,00


2.2.5.1 Belanja Tidak Tersangka 2.674.275.268,00 2.671.109.000,00 3.166.268,00

JUMLAH BELANJA 194.701.751.718,00 182.482.153.157,00 12.219.598.561.00

SURPLUS (DEFISIT) (4.267.169.004,00) 7.159.563.746,00 (2.892.394.742,00)

III PEMBIAYAAN
3.1 PENERIMAAN DAERAH
3.1.1 Sisa Perhitungan Anggaran Tahun
Lalu 6.191.969.004,00 6.191.969.004,00 0,00
3.1.2 Transfer dari Dana Cadangan 0,00 0,00 0,00
3.1.3 Penerimaan Pinjaman dan Obligasi 0,00 0,00 0,00
3.1.4 Hasil Penjualan Asset Daerah yg
Dipisahkan 0,00 0,00 0,00
Jumlah Penerimaan Daerah 6.191.969.004,00 6.191.969.004,00 0,00
1 2 3 4 5
3.2 PENGELUARAN DAERAH
3.2.1 Transfer ke Dana Cadangan 0,00 0,00 0,00
3.2.2 Penyertaan Modal 1.000.000.000,00 1.000.000.000,00 0,00
3.2.3 Pembayaran Utang Pokok yg Jatuh
Tempo 940.000.000,00 0,00 940.000.000,00
3.2.4 Sisa Perhitungan Anggaran Tahun
Berkenaan 0,00 12.351.532.750,00 (12.351.532.750,00)
Jumlah Pengeluaran Daerah 1.940.000.000,00 13.351.532.750,00 (11.411.532.750,00)

PEMBIAYAAN NETTO 4.251.969.004,00 7.159.563.746,00 (2.907.594.742,00)


2. Laporan Aliran Kas Audited (setelah diperiksa).
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TENGGARA
LAPORAN ALIRAN KAS TAHUN ANGGARAN 2004
(AUDITED)

URAIAN JUMLAH
(RP)
1 2
ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Aliran Kas Masuk:
1. Pendapatan Asli Daerah 4.366.314.816,00
2. Dana Perimbangan 183.004.889.887,00
3. Lain-lain Pendapatan Yang Sah 2.270.512.200,00
Jumlah Aliran Kas Masuk 189.641.716.903,00

Aliran Kas Keluar:


1. Belanja Administrasi Umum 81.727.154.771,00
- Belanja Pegawai/Personalia 74.719.258.626,00
- Belanja Barang dan Jasa 6.783.841.639,00
- Belanja Perjalanan Dinas 196.504.500,00
- Belanja Pemeliharaan 27.550.006,00

2. Belanja Operasi dan Pemeliharaan 47.685.136.001,00


- Belanja Pegawai/Personalia 19.254.253.253,00
- Belanja Barang dan Jasa 10.312.765.333,00
- Belanja Perjalanan Dinas 4.305.658.385,00
- Belanja Pemeliharaan 13.812.459.030,00

3. Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan 18.228.383.500,00

4. Belanja Tidak Tersangka 2.671.109.000,00

Jumlah Aliran Kas Keluar 150.311.783.272,00

Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Operasi 39.329.933.631,00

ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI


Aliran Kas Keluar
1. Belanja Modal/Pembangunan 32.170.369.885,00
2. Diinvestasikan Dalam Bentuk Saham 1.000.000.000,00
Jumlah Aliran Kas Keluar 33.170.369.885,00
Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Investasi 33.170.369.885,00
1 2
ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS PEMBIAYAAN
Aliran Kas Masuk
1. Penerimaan Pinjaman dan Obligasi 0,00
2. Transfer dari Dana Cadangan 0,00
3. Penjualan Asset Daerah yang Dipisahkan 0,00
4. Penerimaan Piutang Pajak Tahun Lalu 0,00
Jumlah 0,00

Aliran Kas Keluar


1. Pembayaran Pokok Pinjaman dan Obligasi 0,00
2. Transfer ke Dana Cadangan 0,00
3. Penyertaan Modal 0,00
4. Pembayaran Hutang Pajak Tahun Lalu 0,00
Jumlah 0,00

Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan 0,00

Kenaikan Kas Bersih Selama Periode 6.159.563.746,00

Saldo Awal 6.191.969.004,00

Saldo Akhir 12.351.532.750,00


3. Neraca Audited (setelah diperiksa).

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TENGGARA


NERACA DAERAH
PER 31 DESEMBER 2004
(AUDITED)

KODE
URAIAN JUMLAH (RP)
REK.
1 2 3
4 AKTIVA
4.1 AKTIVA LANCAR
4.1.1 Kas dan Bank 1.990.582.964,59
4.1.8 Piutang pada Dinas/Pihak Ketiga 10.345.046.757,41
Jumlah Aktiva Lancar 12.335.629.722,00

4.2 INVESTASI JANGKA PANJANG


4.2.1 Investasi Dalam Saham 9.639.850.000,00
Jumlah Investasi Jangka Panjang 9.639.850.000,00

4.3 AKTIVA TETAP


4.3.1 Tanah 22.183.243.235,00
4.3.2 Jalan dan Jembatan 34.102.898.700,00
4.3.3 Bangunan Air (Irigasi) 19.814.080.714,00
4.3.4 Instalasi 3.629.805.480,00
4.3.5 Jaringan 3.774.326.627,00
4.3.6 Bangunan Gedung 104.026.504.868,00
4.3.7 Monumen dan Tugu 60.000.001,00
4.3.8 Alat-alat Besar 14.322.100.000,00
4.3.9 Alat Angkutan 18.255.670.957,00
4.3.10 Alat Bengkel dan Alat Ukur 452.058.750,00
4.3.11 Alat Pertanian 346.240.000,00
4.3.12 Alat Kantor dan Rumah Tangga 18.958.991.931,00
4.3.13 Alat Studio dan Komunikasi 825.572.118,00
4.3.14 Alat Kedokteran 591.715.018,00
4.3.15 Alat Laboratorium 832.964.700,00
4.3.16 Buku Perpustakaan 6.297.604.574,00
4.3.17 Barang Bercorak Seni dan Budaya 169.200.000,00
4.3.18 Hewan Ternak dan Tanaman 588.685.200,00
Jumlah Aktiva Tetap 249.186.662.873,00

4.4 DANA CADANGAN


4.4.1 Dana Cadangan Biaya Bunga dan Hutang 1.211.976.398,00
Jumlah Dana Cadangan 1.211.976.398,00
1 2 3
4.5 AKTIVA LAIN – LAIN
4.5.1 Piutang Dana Bantuan Modal 1.682.492.000,00
Jumlah Aktiva Lain – Lain 1.682.492.000,00

TOTAL AKTIVA 274.056.610.993,00

5 UTANG
5.1 UTANG JANGKA PENDEK
5.1.1 Bagian Lancar Utang Jangka Panjang 1.279.377.778,00
5.1.2 Utang Belanja 1.211.976.398,00
Jumlah Utang Jangka Pendek 2.491.354.176,00

5.2 UTANG JANGKA PANJANG


5.2.1 Utang Dalam Negeri 2.243.022.222,00
Jumlah Utang Jangka Panjang 2.243.022.222,00

6 EKUITAS DANA
6.1 Ekuitas Dana Umum 269.322.234.595,00
Jumlah Ekuitas Dana 269.322.234.595,00

TOTAL UTANG DAN EKUITAS 274.056.610.993,00


B. Catatan atas Laporan Keuangan Daerah Setelah Audit
1. Perhitungan APBD
a. Pendapatan Daerah

1.1.1 Pajak Daerah


Saldo akun Pajak Daerah sebesar Rp736.653.153,00 merupakan pendapatan dari
berbagai jenis pajak yang diterima selama tahun 2004.

1.1.2 Retribusi Daerah


Saldo akun Retribusi Daerah sebesar Rp1.595.719.866,00 merupakan pendapatan
dari berbagai jenis retribusi yang diterima selama tahun 2004.

1.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah


Saldo akun Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah sebesar
Rp2.033.941.797,00 merupakan pendapatan dari hasil penjualan aset daerah yang
tidak dipisahkan dan sumbangan pihak ketiga yang diterima selama tahun 2004.

1.2.1 Bagi Hasil Pajak / Bukan Pajak


Saldo akun Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak sebesar Rp39.594.766.182,00
merupakan pendapatan dari Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak yang diterima selama
tahun 2004.

1.2.2 Dana Alokasi Umum


Saldo akun Dana Alokasi Umum sebesar Rp122.468.000.000,00 adalah
pendapatan Dana Alokasi Umum yang diterima selama tahun 2004.

1.2.3 Dana Alokasi Khusus


Saldo akun Dana Alokasi Khusus sebesar Rp8.490.000.000,00 adalah pendapatan
Dana Alokasi Khusus yang diterima selama tahun 2004.

1.2.4 Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Provinsi


Saldo akun Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Provinsi sebesar
Rp12.452.123.705,00 merupakan pendapatan dari Pemerintah Provinsi Nanggroe
Aceh Darussalam yang diterima selama tahun 2004.

1.3.1 Dana Kontinjensi/Dana Darurat


Saldo akun Dana Kontinjensi/Dana Darurat sebesar Rp879.552.418,00
merupakan pendapatan Dana Kontinjensi/Dana Darurat yang diterima selama
tahun 2004.

1.3.2 Kompensasi Pajak


Saldo akun Kompensasi Pajak sebesar Rp1.390.959.782,00 merupakan
pendapatan dari kelebihan penyetoran PPh Pasal 21 yang diterima selama tahun
2004.

b. Belanja Daerah
2.1.1 Belanja Administrasi Umum-Aparatur Daerah
Saldo akun Belanja Administrasi Umum sebesar Rp81.450.922.021,00
merupakan belanja yang sudah dibayar selama tahun 2004 terdiri dari Belanja
Pegawai sebesar Rp74.632.658.626,00, Belanja Barang dan Jasa sebesar
Rp6.771.644.389,00, Belanja Perjalanan Dinas sebesar Rp39.362.000,00 dan
Belanja Pemeliharaan sebesar Rp7.257.006,00.

2.1.2 Belanja Operasi dan Pemeliharaan-Aparatur Daerah


Saldo akun Belanja Operasi dan Pemeliharaan sebesar Rp15.279.804.248,00
merupakan belanja yang sudah dibayar selama tahun 2004 terdiri dari Belanja
Pegawai sebesar Rp5.040.075.885,00, Belanja Barang dan Jasa sebesar
Rp3.867.488.741,00, Belanja Perjalanan Dinas sebesar Rp2.367.412.785,00 dan
Belanja Pemeliharaan sebesar Rp4.004.826.837,00.

2.1.3 Belanja Modal-Aparatur Daerah


Saldo akun Belanja Modal sebesar Rp1.122.982.090,00 merupakan belanja yang
sudah dibayar selama tahun 2004, yang digunakan untuk pengadaan jaringan, alat
angkutan, alat kantor dan rumah tangga serta alat studio dan komunikasi.

2.2.1 Belanja Administrasi Umum-Pelayanan Publik


Saldo akun Belanja Administrasi Umum sebesar Rp276.232.750,00 merupakan
belanja yang sudah dibayar selama tahun 2004 terdiri dari Belanja Pegawai
sebesar Rp86.600.000,00, Belanja Barang dan Jasa sebesar Rp12.197.250,00,
Belanja Perjalanan Dinas sebesar Rp157.142.500,00 dan Belanja Pemeliharaan
sebesar Rp20.293.000,00.

2.2.2 Belanja Operasi dan Pemeliharaan-Pelayanan Publik


Saldo akun Belanja Operasi dan Pemeliharaan sebesar Rp32.405.331.753,00
merupakan belanja yang sudah dibayar selama tahun 2004 terdiri dari Belanja
Pegawai sebesar Rp14.214.177.368,00, Belanja Barang dan Jasa sebesar
Rp6.445.276.592,00, Belanja Perjalanan Dinas sebesar Rp1.938.245.600,00 dan
Belanja Pemeliharaan sebesar Rp9.807.632.193,00.

2.2.3 Belanja Modal-Pelayanan Publik


Saldo akun Belanja Modal sebesar Rp31.047.387.795,00 merupakan belanja
untuk berbagai jenis belanja modal yang sudah dibayar selama tahun 2004.

2.3. Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan


Saldo akun Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan sebesar
Rp18.228.383.500,00 merupakan Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan
kepada Instansi Vertikal, Pemerintah Desa/Kelurahan, Organisasi Masyarakat dan
Organisasi Profesi yang sudah dibayar selama tahun 2004.

2.4 Belanja Tidak Tersangka


Saldo akun Belanja Tidak Tersangka sebesar Rp2.671.109.000,00 merupakan
Belanja Tidak Tersangka yang sudah dibayar selama tahun 2004.

c. Pembiayaan
Penerimaan Daerah
3.1.1 Sisa Lebih Perhitungan Tahun Yang Lalu
Saldo akun Sisa Lebih Perhitungan Tahun Yang Lalu sebesar
Rp6.191.969.004,00 merupakan saldo Sisa Lebih Perhitungan Tahun Anggaran
2003.

Pengeluaran Daerah
3.2.2 Penyertaan Modal
Saldo akun Penyertaan Modal sebesar Rp1.000.000.000,00 merupakan
penambahan penyertaan modal pada PT. Bank BPD Aceh dalam tahun 2004.

3.2.4 Sisa Perhitungan Anggaran Tahun Berkenaan


Sisa Perhitungan Anggaran Tahun Berkenaan sebesar Rp12.351.532.750,00
merupakan selisih Surplus dan Pembiayaan Penerimaan Daerah dengan
Pembiayaan Pengeluaran Daerah tahun 2004, yaitu:
a. Surplus Anggaran 2004………………………Rp7.159.563.746,00
b. Pembiayaan Penerimaan Daerah……………..Rp6.191.969.004,00
Dikurangi :
Pembiayaan Pengeluaran Daerah ………..…(Rp1.000.000.000,00)

2. Laporan Aliran Kas


Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Operasi
Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Operasi sebesar Rp39.329.933.631,00 merupakan selisih
aliran kas masuk yang berasal dari aktivitas operasi tahun 2004 sebesar
Rp189.641.716.903,00 dengan aliran kas keluar pada tahun berkenaan sebesar
Rp150.311.783.272,00.

Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Investasi


Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Investasi sebesar Rp33.170.369.885,00 merupakan aliran kas
keluar untuk belanja modal dan investasi dalam bentuk saham pada tahun 2004 masing-
masing sebesar Rp32.170.369.885,00 dan Rp1.000.000.000,00.

3. Neraca
Aktiva Lancar
4.1.2 Kas dan Bank
Saldo akun Kas dan Bank per 31 Desember 2004 sebesar Rp1.990.582.964,59 terdiri
dari kas tunai sebesar Rp50.965,21, saldo pada rekening BUD sebesar
Rp1.824.797.642,38 dan saldo pada Pemegang Kas sebesar Rp165.734.357,00.

4.1.8 Piutang pada Dinas/Pihak Ketiga


Saldo akun Piutang pada Dinas/Pihak Ketiga per 31 Desember 2004 sebesar
Rp10.345.046.757,41 merupakan kas bon beberpa dinas/pihak ketiga yang belum
diselesaikan sampai dengan akhir tahun anggaran.

Investasi Jangka Panjang


4.2.1 Investasi Dalam Saham
Saldo akun Investasi Dalam Saham per 31 Desember 2004 sebesar
Rp9.639.850.000,00 merupakan penyertaan saham Pemerintah Kabupaten Aceh
Tenggara pada beberapa perusahaan daerah, yaitu:
- PT. Bank BPD Aceh sebesar Rp3.105.350.000,00
- PD. Tirta Agara sebesar Rp4.950.000.000,00
- PD. Makmur Sepakat sebesar Rp1.200.000.000,00
- PD. BPR Lawe Alas sebesar Rp84.500.000,00
- PD. BPR Blang Kejeren sebesar Rp100.000.000,00
- SPBU Mina sebesar Rp200.000.000,00.

Aktiva Tetap
4.3.1 Tanah
Saldo akun Tanah per 31 Desember 2004 sebesar Rp22.183.243.235,00 merupakan
nilai Tanah milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan neraca awal
dan hasil pengadaan yang dibiayai dari Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.2 Jalan dan Jembatan


Saldo akun Jalan dan Jembatan per 31 Desember 2004 sebesar Rp34.102.898.700,00
merupakan nilai jalan dan jembatan milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.3 Bangunan Air (Irigasi)


Saldo akun Bangunan Air (Irigasi) per 31 Desember 2004 sebesar
Rp19.814.080.714,00 merupakan nilai Bangunan Air (Irigasi) milik Pemerintah
Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada
tahun 2004.

4.3.4 Instalasi
Saldo akun Instalasi per 31 Desember 2004 sebesar Rp3.629.805.480,00 merupakan
nilai instalasi milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara yaitu instalasi air minum
dan komunikasi berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun
2004.

4.3.5 Jaringan
Saldo akun Jaringan per 31 Desember 2004 sebesar Rp3.774.326.627,00 merupakan
nilai jaringan air limbah milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan
neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.6 Bangunan Gedung


Saldo akun Bangunan Gedung per 31 Desember 2004 sebesar Rp104.026.504.868,00
merupakan nilai Bangunan Gedung milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.
4.3.7 Monumen dan Tugu
Saldo akun Monumen dan Tugu per 31 Desember 2004 sebesar Rp60.000.001,00
merupakan nilai monumen dan tugu milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.8 Alat-alat Besar


Saldo akun Alat-alat Besar per 31 Desember 2004 sebesar Rp14.322.100.000,00
merupakan nilai alat-alat besar milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.9 Alat-alat Angkutan


Saldo akun Alat-alat Angkutan per 31 Desember 2004 sebesar Rp18.255.670.957,00
merupakan nilai kendaraan milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan
neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.10 Alat-alat Bengkel dan Alat Ukur


Saldo akun Alat-alat Bengkel dan Alat Ukur per 31 Desember 2004 sebesar
Rp452.058.750,00 merupakan nilai alat-alat bengkel dan alat ukur milik Pemerintah
Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada
tahun 2004.

4.3.11 Alat Pertanian


Saldo akun Alat Pertanian per 31 Desember 2004 sebesar Rp346.240.000,00
merupakan nilai alat pertanian milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.12 Alat Kantor dan Rumah Tangga


Saldo akun Alat Kantor dan Rumah Tangga per 31 Desember 2004 sebesar
Rp18.958.991.931,00 merupakan nilai alat kantor dan rumah tangga milik
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja
Modal pada tahun 2004.

4.3.13 Alat Studio dan Komunikasi


Saldo akun Alat Studio dan Komunikasi per 31 Desember 2004 sebesar
Rp825.572.118,00 merupakan nilai alat studio dan komunikasi milik Pemerintah
Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada
tahun 2004.
4.3.14 Alat Kedokteran
Saldo akun Alat Kedokteran per 31 Desember 2004 sebesar Rp591.715.018,00
merupakan nilai alat kedokteran milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.15 Alat Laboratorium


Saldo akun Alat Laboratorium per 31 Desember 2004 sebesar Rp832.964.700,00
merupakan nilai alat laboratorium milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.16 Buku Perpustakaan


Saldo akun Buku Perpustakaan per 31 Desember 2004 sebesar Rp6.297.604.574,00
merupakan nilai buku perpustakaan milik Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada tahun 2004.

4.3.17 Barang Bercorak Seni dan Budaya


Saldo akun Barang Bercorak Seni dan Budaya per 31 Desember 2004 sebesar
Rp169.200.000,00 merupakan nilai barang bercorak seni dan budaya milik
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja
Modal pada tahun 2004.

4.3.18 Hewan Ternak dan Tanaman


Saldo akun Hewan Ternak dan Tanaman per 31 Desember 2004 sebesar
Rp588.685.200,00 merupakan nilai hewan ternak dan tanaman milik Pemerintah
Kabupaten Aceh Tenggara berdasarkan neraca awal dan realisasi Belanja Modal pada
tahun 2004.

Dana Cadangan
4.3.12 Dana Cadangan Biaya Bunga dan Hutang
Saldo akun Dana Cadangan Biaya Bunga dan Hutang per 31 Desember 2004 sebesar
Rp1.211.976.398,00 merupakan nilai yang dicadangkan untuk pembayaran biaya dan
bunga hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo pada tahun 2005.

Aktiva Lain-lain
4.5.3 Piutang Dana Bantuan Modal
Saldo akun Piutang Dana Bantuan Modal per 31 Desember 2004 sebesar
Rp1.682.492.000,00 merupakan nilai bantuan modal kepada masyarakat yang
disalurkan melalui Dinas/Kantor dan Badan, terdiri dari:
- Kantor Peternakan sebesar Rp217.492.000,00
- Kantor Perikanan sebesar Rp115.000.000,00
- Dinas Perindustrian dan Perdagangan sebesar Rp650.000.000,00
- Bappeda sebesar Rp700.000.000,00.

Utang Lancar
5.1.1 Bagian Lancar Hutang Jangka Panjang
Saldo akun Bagian Lancar Hutang Jangka Panjang per 31 Desember 2004 sebesar
Rp1.279.377.778,00 merupakan saldo Bagian Lancar Hutang Jangka Panjang dari
Rekening Dana Pembangunan (RDP) Departemen Keuangan Republik Indonesia
untuk pembiayaan pembangunan pasar terpadu di Kutacane berdasarkan perjanjian
antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
No. RDA-309/DP.3/2001 tanggal 15 Februari 2001 yang akan jatuh tempo pada
tahun 2005.

5.1.2 Utang Belanja


Saldo akun Utang Belanja per 31 Desember 2004 sebesar Rp1.211.976.398,00
merupakan saldo biaya dan bunga hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo
pada tahun 2005, terdiri dari:
- Biaya bunga sebesar Rp1.018.155.311,00
- Biaya komitmen sebesar Rp15.802.425,00
- Denda angsuran pokok sebesar Rp42.570.875,00
- Denda biaya administrasi sebesar Rp128.564.532,00
- Denda biaya komitmen sebesar Rp6.883.255,00.

5.2.1 Utang Jangka Panjang


Saldo akun Utang Jangka Panjang per 31 Desember 2004 sebesar
Rp2.243.022.222,00 merupakan utang jangka panjang yang harus dibayar
berdasarkan perjanjian seperti tersebut pada catatan 5.1.1.

Ekuitas Dana
6.1 Ekuitas Dana Umum
Saldo akun Ekuitas Dana Umum per 31 Desember 2004 sebesar
Rp269.322.234.595,00 merupakan selisih bersih antara nilai aktiva dengan nilai
utang pada tahun 2004, teridir dari:
- Akumulasi sisa Perhitungan Anggaran sebesar Rp12.335.629.722,00
- Diinvestasikan dalam investasi permanen sebesar Rp9.639.850.000,00
- Diinvestasikan dalam aktiva tetap sebesar Rp245.664.262.873,00
- Ekuitas Dana Umum lainnya sebesar Rp1.682.492.000,00.
BAB I
GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN

A. Dasar Hukum Pemeriksaan


1. Pasal 23E Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945 Tahun 2001;
2. Pasal 2 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan;
3. Pasal 31 ayat (2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
4. Pasal 56 ayat (3) Undang-Undang No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
5. Pasal 4 ayat (2) Undang-Undang 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggungjawab Keuangan Negara;
6. Pasal 43 Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.

B. Tujuan Pemeriksaan
Untuk memberikan keyakinan apakah Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh
Tenggara sebagai laporan pertanggungjawaban atas realisasi APBD Tahun Anggaran 2004
telah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang ditetapkan dalam berbagai
peraturan perundangan mengenai Pengelolaan Keuangan Daerah.

C. Lingkup Pemeriksaan
Untuk mencapai tujuan pemeriksaan tersebut, maka pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara Tahun Anggaran 2004, meliputi:
1. Perhitungan APBD Tahun Anggaran 2004;
2. Laporan Aliran Kas Tahun Anggaran 2004;
3. Neraca Per 31 Desember 2004;
4. Catatan atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2004.

D. Cakupan Pemeriksaan
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kabupaten Aceh Tenggara Tahun Anggaran
2004 meliputi pengujian substantif atas transaksi yang dibukukan dan disajikan dalam Laporan
Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Aliran Kas serta pengungkapan informasi dalam
catatan atas Laporan Keuangan Daerah tidak termasuk lampiran laporan keuangan daerah yang
meliputi semua transaksi material dalam satu tahun anggaran yang diperiksa dan pengujian
terinci atas saldo-saldo akun-akun yang material dalam laporan tersebut.
Cakupan pemeriksaan atau Audit Coverage Ratio (ACR) yang merupakan perbandingan antara
jumlah realisasi anggaran/saldo akun yang diaudit dan jumlah realisasi anggaran/saldo akun
(sebelum koreksi) Tahun Anggaran 2004 diuji 100% untuk kecermatan perhitungan yang dapat
dilihat dalam tabel berikut:
Tabel
Cakupan Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kabupaten Aceh Tenggara
Tahun Anggaran 2004
No. Uraian Bagian/Pos Anggaran Realisasi % Nilai yang Diaudit ACR
(Rp) (Rp) (Rp)
A. Perhitungan APBD
1. Pendapatan 190.434.582.714,00 189.641.716.903,00 99,58 189.641.716.903,00 100,00
Pendapatan Asli Daerah 7.270.787.270,00 5.757.274.598,00 79,18 5.757.274.598,00 100,00
Dana Perimbangan 182.128.711.444,00 183.004.889.887,00 100,48 183.004.889.887,00 100,00
Lain-lain Pend. Yg Sah 1.035.084.000,00 879.552.418,00 84,97 879.552.418,00 100,00
2. Belanja 194.701.751.718,00 182.663.790.542,00 93,82 182.663.790.542,00 100,00
Belanja Aparatur 91.109.093.512,00 97.886.778.201,00 107,44 97.886.778.201,00 100,00
Belanja Adm. Umum 73.874.219.778 81.464.413.672,00 110,27 81.464.413.672,00 100,00
Belanja Pemeliharaan 16.111.961.141,00 15.299.382.439,00 94,96 15.299.382.439,00 100,00
Belanja Modal 1.122.912.593,00 1.122.982.090,00 100,01 1.122.982.090,00 100,00
Belanja Publik 103.592.658.206,00 84.777.012.341,00 81,84 84.777.012.341,00 100,00
Belanja Adm. Umum 389.820.250,00 277.020.250,00 71,06 277.020.250,00 100,00
Belanja Pemeliharaan 38.294.268.784,00 32.421.111.796,00 84,66 32.421.111.796,00 100,00
Belanja Modal 41.521.193.904,00 31.179.387.795,00 75,09 31.179.387.795,00 100,00
Bel. Bant. Keuangan 20.713.100.000,00 18.228.383.500,00 88,00 18.228.383.500,00 100,00
Bel. Tidak Tersangka 2.674.275.268,00 2.671.109.000,00 99,88 2.671.109.000,00 100,00
3. Pembiayaan 4.251.969.004,00 5.191.969.004,00 122,10 5.191.969.004,00 100,00
Penerimaan 6.191.969.004,00 6.191.969.004,00 100,00 6.191.969.004,00 100,00
Pengeluaran 1.940.000.000,00 1.000.000.000,00 51,55 1.000.000.000,00 100,00
Jumlah A 389.388.303.436,00 377.497.476.449,00 96,94 377.497.476.449,00 100,00

B. Neraca
1. Aktiva - 274.022.876.637,00 - 274.022.876.637,00 100,00
2. Utang - 4.734.376.398,00 - 4.734.376.398,00 100,00
3. Ekuitas - 269.288.500.239,00 - 269.288.500.239,00 100,00
Jumlah B - 548.045.753.274,00 - 548.045.753.274,00 100,00

E. Standar Pemeriksaan
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Kabupaten Aceh Tenggara Tahun Anggaran 2004
dilakukan dengan berpedoman pada Standar Audit Pemerintahan (SAP) yang diterbitkan oleh
BPK-RI Tahun 1995, Panduan Manajemen Pemeriksaan, dan Standar Profesional Akuntan
Publik (SPAP) yang diterbitkan oleh IAI.
F. Batasan dan Kendala Pemeriksaan
Dalam rangka pelaksanaan salah satu tugas konstitusionalnya yaitu pemeriksaan atas
Laporan Keuangan, BPK-RI masih menghadapi kendala yaitu Pemerintah Kabupaten Aceh
Tenggara belum memahami sepenuhnya sistem pembukuan berganda (double entry) dan dasar
pencatatan akrual. Pelaksanaan pengelolaan dan penatausahaan keuangan daerah didasarkan
pada modifikasi terhadap ketentuan yang diatur dalam Kepmendagri No. 29 Tahun 2002.
Namun demikian modifikasi tersebut belum dibakukan dalam suatu Peraturan Daerah tentang
Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah maupun Keputusan Kepala Daerah tentang Sistem
dan Prosedur Akuntansi yang seharusnya dapat dijadikan sebagai pedoman oleh para
penyelenggara/penata usaha keuangan daerah. Selain itu karena kondisi Kabupaten Aceh
Tenggara belum sepenuhnya kondusif dan adanya bencana alam, maka pelaksanaan
pemeriksaan fisik hanya dapat dilakukan pada beberapa kegiatan yang terbatas pada pengujian
keberadaannya saja.

G. Laporan Keuangan Unaudited (sebelum diperiksa).


1. Perhitungan APBD Unaudited (sebelum diperiksa).

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TENGGARA


PERHITUNGAN APBD TAHUN ANGGARAN 2004
(UNAUDITED)

KODE URAIAN ANGGARAN REALISASI SELISIH


REK. (RP) (RP) ANGGARAN
DENGAN
REALISASI
(RP)
1 2 3 4 5 (3-4)
I PENDAPATAN
1.1 PENDAPATAN ASLI DAERAH 7.270.787.270,00 5.757.274.598,00 1.513.512.672,00
1.1.1 Pajak Daerah 982.779.545,00 736.653.153,00 246.126.392,00
1.1.2 Retribusi Daerah 2.144.116.000,00 1.595.719.866,00 548.396.134,00
1.1.3 Hasil Perusda dan Pengelolaan Ke-
kayaan Daerah yang Dipisahkan 15.600.000,00 0,00 15.600.000,00
1.1.4 Lain-lain PAD yang sah 4.128.291.725,00 3.424.901.579,00 703.390.146,00

1.2 DANA PERIMBANGAN 182.128.711.444,00 183.004.889.887,00 (876.178.443,00)


1.2.1 Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 39.227.849.190,00 39.974.549.586,00 (746.700.396,00)
1.2.2 Dana Alokasi Umum 122.468.000.000,00 122.468.000.000,00 0,00
1.2.3 Dana Alokasi Khusus 8.490.000.000,00 8.490.000.000,00 0,00
1.2.4 Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Ke-
uangan dari Provinsi 11.942.862.254,00 12.072.340.301,00 (129.478.047,00)

1.3 LAIN-LAIN PENDAPATAN YG


SAH 1.035.084.000,00 879.552.418,00 155.531.582,00
1.3.1 Dana Kontinjensi/ Dana Darurat 1.035.084.000,00 879.552.418,00 155.531.582,00

JUMLAH PENDAPATAN 190.434.582.714,00 189.641.716.903,00 792.865.811,00


II BELANJA
2.1 APARATUR DAERAH 91.109.093.512,00 97.886.778.201,00 (6.777.684.689,00)
2.1.1 Belanja Administrasi Umum 73.874.219.778,00 81.464.413.672,00 (7.590.193.894,00)
2.1.1.1 Belanja Pegawai/Personalia 66.386.446.099,00 74.632.658.626,00 (8.246.212.527,00)
2.1.1.2 Belanja Barang dan Jasa 7.217.165.673,00 6.785.118.040,00 432.047.633,00
2.1.1.3 Belanja Perjalanan Dinas 263.351.000,00 39.380.000,00 223.971.000,00
2.1.1.4 Belanja Pemeliharaan 7.257.006,00 7.257.006,00 0,00

2.1.2 Belanja Operasi & Pemeliharaan 16.111.961.141,00 15.299.382.439,00 812.578.702,00


2.1.2.1 Belanja Pegawai/Personalia 5.161.499.250,00 5.040.320.885,00 121.178.365,00
2.1.2.2 Belanja Barang dan Jasa 4.336.343.135,00 3.874.988.741,00 461.354.394,00
2.1.2.3 Belanja Perjalanan Dinas 2.595.514.000,00 2.378.995.285,00 216.518.715,00
2.1.2.4 Belanja Pemeliharaan 4.018.604.756,00 4.005.077.528,00 13.527.228,00

2.1.3 Belanja Modal 1.122.912.593,00 1.122.982.090,00 (69.497,00)


2.1.3.5 Belanja Modal Jaringan 5.899.000,00 5.899.000,00 0,00
2.1.3.9 Belanja Modal Alat-alat Angkutan 108.300.000,00 108.300.000,00 0,00
2.1.3.12 Belanja Modal Alat Ktr & RT 740.992.110,00 741.061.110,00 (69.000,00)
2.1.3.13 Belanja Modal Alat Studio & Kom 267.721.483,00 267.721.980,00 (497,00)
2.2 PELAYANAN PUBLIK 103.592.658.206,00 84.777.012.341,00 18.815.645.865,00
2.2.1 Belanja Administrasi Umum 389.820.250,00 277.020.250,00 112.800.000,00
2.2.1.1 Belanja Pegawai/Personalia 138.800.000,00 86.600.000,00 52.200.000,00
2.2.1.2 Belanja Barang dan Jasa 72.797.250,00 12.197.250,00 60.600.000,00
2.2.1.3 Belanja Perjalanan Dinas 157.930.000,00 157.930.000,00 0,00
2.2.1.4 Belanja Pemeliharaan 20.293.000,00 20.293.000,00 0,00

2.2.2 Belanja Operasi & Pemeliharaan 38.294.268.784,00 32.421.111.796,00 5.873.156.988,00


2.2.2.1 Belanja Pegawai/Personalia 16.302.109.943,00 14.229.337.368,00 2.072.772.575,00
2.2.2.2 Belanja Barang dan Jasa 7.779.100.146,00 6.445.531.635,00 1.333.568.511,00
2.2.2.3 Belanja Perjalanan Dinas 2.444.827.475,00 1.938.610.600,00 506.216.875,00
2.2.2.4 Belanja Pemeliharaan 11.768.231.220,00 9.807.632.193,00 1.960.599.027,00

2.2.3 Belanja Modal 41.521.193.904,00 31.179.387.795,00 10.341.806.109,00


2.2.3.1 Belanja Modal Tanah 2.709.286.473,00 2.669.186.473,00 40.100.000,00
2.2.3.2 Belanja Modal Jalan dan Jembatan 7.938.117.480,00 5.012.176.350,00 2.925.941.130,00
2.2.3.3 Belanja Modal Bangunan Air 5.193.865.800,00 5.105.889.130,00 87.976.670,00
2.2.3.4 Belanja Modal Instalasi 530.413.878,00 400.625.377,00 129.788.501,00
2.2.3.5 Belanja Modal Jaringan 198.029.500,00 197.529.500,00 500.000,00
2.2.3.6 Belanja Modal Bangunan Gedung 17.861.721.748,00 12.520.776.050,00 5.340.945.698,00
2.2.3.9 Belanja Modal Alat-alat Angkutan 1.966.746.695,00 1.374.443.000,00 592.303.695,00
2.2.3.10 Belanja Modal Alat-alat Bengkel 15.030.000,00 15.030.000,00 0,00
2.2.3.11 Belanja Modal Alat-alat Pertanian 137.140.000,00 104.140.000,00 33.000.000,00
2.2.3.12 Belanja Modal Alat Ktr & RT 2.755.098.745,00 1.829.323.130,00 925.775.615,00
2.2.3.13 Belanja Modal Alat Studio & Kom 237.343.185,00 60.543.185,00 176.800.000,00
2.2.3.14 Belanja Modal Alat Kedokteran 404.601.000,00 316.425.000,00 88.176.000,00
2.2.3.15 Belanja Modal Alat Laboratorium 454.826.400,00 454.326.400,00 500.000,00
2.2.3.16 Belanja Modal Buku Perpustakaan 968.523.000,00 968.524.200,00 (1.200,00)
2.2.3.17 Belanja Modal Brg Seni/Budaya 42.300.000,00 42.300.000,00 0,00
2.2.3.18 Belanja Modal Hewan & Tanaman 108.150.000,00 108.150.000,00 0,00

2.2.4 BELANJA BAGI HASIL & BAN-


TUAN KEUANGAN 20.713.100.000,00 18.228.383.500,00 2.484.716.500,00
2.2.4.3 Bant. Keu. Kepada Pemkab 5.000.000.000,00 4.998.343.500,00 1.656.500,00
2.2.4.4 Bant. Keu. Kepada Pemdes/Kel 6.863.100.000,00 4.554.000.000,00 2.309.100.000,00
2.2.4.5 Bant. Keu. Kepada Ormas 4.000.000.000,00 3.999.035.000,00 965.000,00
2.2.4.6 Bant. Keu. Kepada Org. Profesi 4.850.000.000,00 4.677.005.000,00 172.995.000,00

2.2.5 BELANJA TDK TERSANGKA 2.674.275.268,00 2.671.109.000,00 3.166.268,00


2.2.5.1 Belanja Tidak Tersangka 2.674.275.268,00 2.671.109.000,00 3.166.268,00
JUMLAH BELANJA 194.701.751.718,00 182.663.790.542,00 12.037.961.176,00

SURPLUS (DEFISIT) (4.267.169.004,00) 6.977.926.361,00 (2.710.757.357,00)

III PEMBIAYAAN
3.1 PENERIMAAN DAERAH
3.1.1 Sisa Perhitungan Anggaran Tahun
Lalu 6.191.969.004,00 6.191.969.004,00 0,00
3.1.2 Transfer dari Dana Cadangan 0,00 0,00 0,00
3.1.3 Penerimaan Pinjaman dan Obligasi 0,00 0,00 0,00
3.1.4 Hasil Penjualan Asset Daerah yg
Dipisahkan 0,00 0,00 0,00
Jumlah Penerimaan Daerah 6.191.969.004,00 6.191.969.004,00 0,00
3.2 PENGELUARAN DAERAH
3.2.1 Transfer ke Dana Cadangan 0,00 0,00 0,00
3.2.2 Penyertaan Modal 1.000.000.000,00 1.000.000.000,00 0,00
3.2.3 Pembayaran Utang Pokok yg Jatuh
Tempo 940.000.000,00 0,00 940.000.000,00
3.2.4 Sisa Perhitungan Anggaran Tahun
Berkenaan 0,00 0,00 0,00
Jumlah Pengeluaran Daerah 1.940.000.000,00 1.000.000.000,00 940.000.000,00

PEMBIAYAAN NETTO 4.251.969.004,00 5.191.969.004,00 (940.000.000,00)


2. Laporan Aliran Kas Unaudited (sebelum diperiksa).
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TENGGARA
LAPORAN ALIRAN KAS TAHUN ANGGARAN 2004
(UNAUDITED)

URAIAN JUMLAH
(RP)
1 2
ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Aliran Kas Masuk:
1. Pendapatan Asli Daerah 5.757.274.598,00
2. Dana Perimbangan 183.004.889.887,00
3. Lain-lain Pendapatan Yang Sah 879.552.418,00
Jumlah Aliran Kas Masuk 189.641.716.903,00

Aliran Kas Keluar:


1. Belanja Administrasi Umum 81.741.433.922,00
- Belanja Pegawai/Personalia 74.719.258.626,00
- Belanja Barang dan Jasa 6.797.315.290,00
- Belanja Perjalanan Dinas 197.310.000,00
- Belanja Pemeliharaan 27.550.006,00

2. Belanja Operasi dan Pemeliharaan 47.720.494.235,00


- Belanja Pegawai/Personalia 19.269.658.253,00
- Belanja Barang dan Jasa 10.320.520.376,00
- Belanja Perjalanan Dinas 4.317.605.885,00
- Belanja Pemeliharaan 13.812.709.721,00

3. Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan 18.228.383.500,00

4. Belanja Tidak Tersangka 2.671.109.000,00

Jumlah Aliran Kas Keluar 150.361.420.657,00

Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Operasi 39.280.296.246,00

ALIRAN KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI


Aliran Kas Keluar
1. Belanja Modal 32.302.369.885,00
2. Diinvestasikan Dalam Bentuk Saham 1.000.000.000,00
Jumlah Aliran Kas Keluar 33.302.369.885,00
Aliran Kas Bersih dari Aktivitas Investasi 33.302.369.885,00

Kenaikan Kas Bersih Selama Periode 5.977.926.361,00

Saldo Awal 6.191.969.004,00

Saldo Akhir 12.169.895.365,00


3. Neraca Unaudited (sebelum diperiksa).

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TENGGARA


NERACA DAERAH
PER 31 DESEMBER 2004
(UNAUDITED)

URAIAN JUMLAH (RP)


1 2
AKTIVA
AKTIVA LANCAR
Kas dan Bank 12.169.895.366,00
Total Aktiva Lancar 12.169.895.366,00

INVESTASI JANGKA PANJANG


Investasi Dalam Saham 9.639.850.000,00
Total Investasi Jangka Panjang 9.639.850.000,00

AKTIVA TETAP
Tanah 22.183.243.235,00
Jalan dan Jembatan 34.102.898.700,00
Bangunan Air (Irigasi) 19.814.080.714,00
Instalasi 3.629.805.480,00
Jaringan 3.774.326.627,00
Bangunan Gedung 104.158.504.868,00
Monumen dan Tugu 60.000.001,00
Alat-alat Besar 14.322.100.000,00
Alat Angkutan 18.255.670.957,00
Alat Bengkel dan Alat Ukur 452.058.750,00
Alat Pertanian 346.240.000,00
Alat Kantor dan Rumah Tangga 18.958.991.931,00
Alat Studio dan Komunikasi 825.572.118,00
Alat Kedokteran 591.715.018,00
Alat Laboratorium 832.964.700,00
Buku Perpustakaan 6.297.604.574,00
Barang Bercorak Seni dan Budaya 169.200.000,00
Hewan Ternak dan Tanaman 588.685.200,00
Total Aktiva Tetap 249.318.662.873,00

DANA CADANGAN
Dana Cadangan Biaya Bunga dan Hutang 1.211.976.398,00
Total Dana Cadangan 1.211.976.398,00
1 2
AKTIVA LAIN – LAIN
Piutang Dana Bantuan Modal 1.682.492.000,00
Total Aktiva Lain – Lain 1.682.492.000,00

TOTAL AKTIVA 274.022.876.637,00

UTANG
UTANG JANGKA PENDEK
Bagian Lancar Utang Jangka Panjang 1.279.377.778,00
Utang Belanja 1.211.976.398,00
Total Utang Jangka Pendek 2.491.354.176,00

UTANG JANGKA PANJANG


Utang Dalam Negeri 2.243.022.222,00
Total Utang Jangka Panjang 2.243.022.222,00

EKUITAS
EKUITAS DANA UMUM
Akumulasi Sisa Perhitungan Anggaran (SILPA) 12.169.895.366,00
Diinvestasikan dalam Investasi Permanen 9.639.850.000,00
Diinvestasikan dalam Aset Tetap 245.796.262.873,00
Ekuitas Dana Umum lainnya 1.682.492.000,00
Total Ekuitas Dana Umum 269.288.500.239,00

TOTAL UTANG DAN EKUITAS 274.022.876.637,00


BAB II
HASIL PEMERIKSAAN

A. Penelaahan atas Sistem dan Pelaksanaan Sistem Pembukuan dan Penyusunan Laporan
Keuangan.
Pembukuan dan penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
dilaksanakan oleh Tim Penyusun Perhitungan yang dikoordinir Bagian Keuangan Sekretariat
Daerah Kabupaten Aceh Tenggara.
Pembukuan dan penyusunan Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
Tahun Anggaran 2004 diselenggarakan dengan menggunakan sistem modifikasi kas
sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah dan Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang
Pedoman Pengelolaan, Pengurusan dan Pertanggungjawaban Pengelolaan APBD. Namun
dalam pelaksanaannya, pencatatan transaksi keuangan belum menggunakan media jurnal
(double entry) dan masih menggunakan single entry yang selanjutnya dibukukan dalam Buku
Kas Umum (model B.IX), Buku Besar Penerimaan (model B.IV) dan Buku Besar Pengeluaran
(B.V). Pada Tahun Anggaran 2004 sampai dengan berakhirnya pemeriksaaan Pemerintah dan
DPRD Kabupaten Aceh Tenggara belum menetapkan Peraturan Daerah tentang Pokok-pokok
Pengelolaan Keuangan Daerah, demikian pula dengan Keputusan Kepala Daerah tentang
Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah juga belum ditetapkan.
Berdasarkan pasal 31 ayat (2) UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara berkewajiban menyusun Laporan Keuangan Daerah
yang terdiri dari Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Aliran Kas dan Catatan atas
Laporan Keuangan Daerah.
Hasil penelaahan atas Sistem Pembukuan dan Penyusunan Laporan Keuangan serta
pelaksanaannya yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara yang kami
uji ternyata belum sepenuhnya mengikuti ketentuan-ketentuan yang berlaku, sehingga masih
terdapat beberapa kelemahan yang dapat menghambat proses pembukuan dan penyusunan
laporan keuangan. Kelemahan-kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Infrastruktur pengelolaan keuangan daerah seperti Peraturan daerah tentang Pokok-pokok
Pengelolaan Keuangan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur
Pengelolaan Keuangan Daerah belum ditetapkan, sehingga para pelaksana dan penata
usaha keuangan belum memiliki pedoman baku yang dapat menjamin perlakuan yang
sama atas suatu transaksi dan terciptanya konsistensi pelaporan keuangan.
2. Keterbatasan jumlah dan kualitas personil di Bagian Keuangan khususnya dalam
pemahaman dan penafsiran terhadap sistem dan prosedur pengelolaan keuangan
sebagaimana diatur dalam Kepmendagri No. 29 Tahun 2002, sehingga masih sangat
tergantung kepada kemampuan teknis para Kepala Sub Bagian dan Kepala Bagian
Keuangan sebagai Penanggung Jawab Teknis penatausahaan, pembukuan dan penyusunan
laporan keuangan.
3. Ketidaktertiban penyampaian Surat Pertanggungjawaban (SPJ) oleh para Pemegang Kas,
sehingga berpengaruh terhadap proses verifikasi dan pengesahan SPJ yang bersangkutan
sebagai dasar penyajian angka realisasi dalam laporan keuangan.
4. Adanya kesalahan dalam pembebanan dan pencatatan penerimaan dan pengeluaran serta
penyajian beberapa pasal pengeluaran yang masih didasarkan pada realisasi berdasarkan
Surat Perintah Membayar bukan berdasarkan nilai SPJ yang sudah disahkan oleh Sub
Bagian Verifikasi.
5. Kesadaran dari masing-masing Kepala Dinas/Badan/Kantor maupun Pimpinan Unit Kerja
untuk melaporkan hasil pengadaan di lingkungannya kepada unit kerja terkait masih
rendah, sehingga Bagian Umum dan Perlengkapan tidak dapat mengkompilasi dan
menyajikan Daftar Hasil Pengadaan sebagai lampiran yang tidak terpisahkan dari Laporan
Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara.
6. Koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dengan Investee belum optimal,
sehingga Laporan Keuangan Perusahaan Daerah maupun Daftar Investasi sebagai lampiran
Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara belum dapat disajikan.
7. Rekonsiliasi bank oleh Bendaharawan Umum Daerah tidak dilaksanakan secara tertib
setiap bulan. Demikian pula pengujian silang dan koordinasi antara Bendaharawan Umum
Daerah dengan Sub Bagian Pembukuan belum berjalan dengan baik.
8. Tidak memadainya berbagai persyaratan untuk pengamanan aset daerah yang ditandai
dengan tidak adanya Nomor Inventaris Barang, Buku Induk Inventaris maupun Buku
Inventaris Barang Daerah.
Atas kelemahan pengendalian intern tersebut, BPK-RI menyarankan agar Pemerintah
Kabupaten Aceh Tenggara melakukan review atas sistem pembukuan dan penyusunan Laporan
Keuangannya.
B. Koreksi Pembukuan dan Kecermatan Penyusunan Laporan Keuangan Kabupaten Aceh
Tenggara
Dari pemeriksaan atas kecermatan penyusunan Laporan Keuangan (sebelum
disampaikan ke DPRD) Tahun Anggaran 2004 yang telah disajikan oleh Pemerintah
Kabupaten Aceh Tenggara, BPK-RI telah mengajukan 26 koreksi dengan nilai koreksi saldo
akun menurut menurut objek sebesar Rp14.287.345.778,00 kepada Pemerintah Kabupaten
Aceh Tenggara. Koreksi yang dilakukan BPK-RI didasarkan atas kebenaran formal dari bukti
akuntansi. Koreksi-koreksi tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kesalahan karena belum dicatat.

Perhitungan APBD

Pembiayaan – Pengeluaran Daerah

Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp 1.000.000.000,00


Koreksi tambah Rp12.351.532.750,00
Realisasi setelah koreksi Rp13.351.532.750,00

Koreksi tambah sebesar Rp12.351.532.750,00 karena Sisa Perhitungan Anggaran Tahun


Berkenaan belum dicatat.

2. Kesalahan Pembebanan (dicatat tetapi salah akun).

a. Perhitungan APBD

1) Pendapatan.

a) Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp39.227.849.190,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp39.974.549.586,00
Koreksi kurang ( Rp 379.783.404,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp39.594.766.182,00
Selisih Anggaran dan Realisasi ( Rp 746.700.396,00 )
Koreksi tambah Rp 379.783.404,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi ( Rp 366.916.992,00 )

Koreksi kurang sebesar Rp379.783.404,00 karena penerimaan dari Pajak Bahan


Bakar Kendaraan Bermotor Tahun Anggaran 2004 (kode rek. 101032101)
dicatat dan dibukukan dalam objek pendapatan Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak
(kode rek. 1.2.1) dari yang seharusnya dicatat dan dibukukan dalam objek
pendapatan Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan dari Provinsi (kode rek. 1.2.4).

b) Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan dari Provinsi

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp11.942.862.254,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp12.072.340.301,00
Koreksi tambah Rp 379.783.404,00
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp12.452.123.705,00
Selisih Anggaran dan Realisasi ( Rp 129.478.047,00 )
Koreksi kurang ( Rp 379.783.404,00 )
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi ( Rp 509.261.451,00 )

Koreksi tambah sebesar Rp379.783.404,00 karena penerimaan dari Pajak Bahan


Bakar Kendaraan Bermotor Tahun Anggaran 2004 (kode rek. 101032101)
dicatat dan dibukukan dalam objek pendapatan Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak
(kode rek. 1.2.1) dari yang seharusnya dicatat dan dibukukan dalam objek
pendapatan Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan dari Provinsi (kode rek. 1.2.4).

c) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp4.128.291.725,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp3.424.901.579,00
Koreksi kurang ( Rp1.390.959.782,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp2.033.941.797,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 703.390.146,00
Koreksi tambah Rp1.390.959.782,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp2.094.349.928,00

Koreksi kurang sebesar Rp1.390.959.782,00 karena penerimaan atas kelebihan


penyetoran PPh. Pasal 21 (kode rek. 1010314085) dicatat dan dibukukan dalam
objek pendapatan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah (kode rek. 1.1.4)
dari yang seharusnya dicatat dan dibukukan dalam akun/objek pendapatan
tersendiri yaitu dalam kelompok Lain-lain Pendapatan Yang Sah.

d) Lain-lain Pendapatan Yang Sah

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp1.035.084.000,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp 879.552.418,00
Koreksi tambah Rp1.390.959.782,00
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp2.270.512.200,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 155.531.582,00
Koreksi kurang ( Rp1.390.959.782,00 )
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi ( Rp1.235.428.200,00 )

Koreksi tambah sebesar Rp1.390.959.782,00 karena penerimaan atas kelebihan


penyetoran PPh. Pasal 21 (kode rek. 1010314085) dicatat dan dibukukan dalam
objek pendapatan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah (kode rek. 1.1.4)
dari yang seharusnya dicatat dan dibukukan dalam akun/objek pendapatan
tersendiri dalam kelompok Lain-lain Pendapatan Yang Sah.

b. Laporan Aliran Kas

Aliran Kas Masuk dari Aktivitas Operasi

1) Pendapatan Asli Daerah

Realisasi menurut Draft Lap. Aliran Kas Rp5.757.274.598,00


Koreksi kurang ( Rp1.390.959.782,00 )
Realisasi setelah koreksi Rp4.366.314.816,00

Koreksi kurang sebesar Rp1.390.959.782,00 karena penerimaan dari kompensasi


PPh Pasal 21 telah salah dicatat dalam Lain-lain PAD yang Sah dari yang
seharusnya dicatat dalam kelompok Lain-lain Pendapatan yang Sah.

2) Lain-lain Pendapatan Yang Sah

Realisasi menurut Draft Lap. Aliran Kas Rp 879.552.418,00


Koreksi tambah Rp1.390.959.782,00
Realisasi setelah koreksi Rp2.270.512.200,00

Koreksi tambah sebesar Rp1.390.959.782,00 karena kesalahan pencatatan


penerimaan dari kompensasi PPh Pasal 21 dalam kelompok Lain-lain PAD yang
Sah dari yang seharusnya dicatat dalam kelompok Lain-lain Pendapatan yang Sah.

c. Neraca

1) Akun Kas dan Bank

Realisasi menurut Draft Neraca Rp12.169.895.366,00


Koreksi tambah Rp 181.637.385,00
Koreksi kurang ( Rp10.360.949.786,41 )
Realisasi setelah koreksi Rp 1.990.582.964,59

Koreksi tambah sebesar Rp181.637.385,00 merupakan penambahan akun Kas dan


Bank karena koreksi terhadap pencatatan realisasi beberapa akun belanja yang
masih berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar dan koreksi kurang sebesar
Rp10.360.949.786,41 karena adanya pengembalian sisa Pengisian Kas oleh
beberapa Pemegang Kas pada tahun 2004 sebesar Rp15.903.028,00 yang telah
dicatat sebagai Penerimaan Lain-lain, kelebihan catat saldo kas akhir menurut
Laporan Aliran Kas sebesar Rp1,00 dan kesalahan catat kas bon dari beberapa dinas
sebagai bagian dari akun Kas dan Bank sebesar Rp10.345.046.757,41.

2) Akun Piutang Dinas dan Pihak Ketiga

Realisasi menurut Draft Lap. Aliran Kas Rp 0,00


Koreksi tambah Rp10.345.046.757,41
Realisasi setelah koreksi Rp10.345.046.757,41

Koreksi tambah sebesar Rp10.345.046.757,41 karena pinjaman Dinas dan Pihak


Ketiga melalui kas bon yang belum dikembalikan sampai dengan akhir tahun
anggaran telah dicatat sebagai bagian dari akun Kas dan Bank.

3. Kesalahan Aritmatika (dicatat pada akun yang benar tetapi salah jumlah)

a. Perhitungan APBD

1) Belanja – Belanja Aparatur Daerah

a) Belanja Barang dan Jasa – BAU

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp7.217.165.673,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp6.785.118.040,00
Koreksi kurang ( Rp 13.473.651,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp6.771.644.389,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 432.047.633,00
Koreksi tambah Rp 13.473.651,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp 445.521.284,00

Koreksi kurang sebesar Rp13.473.651,00 karena realisasi untuk beberapa jenis


Belanja Barang dan Jasa pada Pos Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah,
Sekretariat Daerah, Dinas Sumber Daya Air, Dinas Pertanian, Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi, Dinas Peternakan, Dinas Koperasi, Dinas Kesehatan,
Dinas Kesejahteraan Sosial, Kecamatan, SLTP dan SMU dibukukan
berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar dari yang seharusnya dibukukan
berdasarkan nilai Surat Pertanggungjawaban yang disahkan. Rincian jenis dan
objek Belanja Barang dan Jasa yang dikoreksi untuk masing-masing Pengguna
Anggaran dapat dilihat pada Lampiran 1.
b) Belanja Perjalanan Dinas – BAU

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp263.351.000,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp 39.380.000,00
Koreksi kurang ( Rp 18.000,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp 39.362.000,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp223.971.000,00
Koreksi tambah Rp 18.000,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp223.989.000,00

Koreksi kurang sebesar Rp18.000,00 karena realisasi untuk Belanja Perjalanan


Dinas Dalam Daerah yang termasuk Belanja Perjalanan Dinas pada Pos Dinas
Kesejahteraan Sosial dibukukan berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar
dari yang seharusnya dibukukan berdasarkan nilai Surat Pertanggungjawaban
yang disahkan. Rincian jenis dan objek Belanja Perjalanan Dinas yang dikoreksi
dapat dilihat pada Lampiran 1.

c) Belanja Pegawai/Personalia - BOP

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp5.161.499.250,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp5.040.320.885,00
Koreksi kurang ( Rp 245.000,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp5.040.075.885,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 121.178.365,00
Koreksi tambah Rp 245.000,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp 121.423.365,00

Koreksi kurang sebesar Rp18.000,00 karena realisasi untuk Belanja Perjalanan


Dinas Dalam Daerah yang termasuk Belanja Perjlanan Dinas pada Pos Dinas
Kesejahteraan Sosial dibukukan berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar
dari yang seharusnya dibukukan berdasarkan nilai Surat Pertanggungjawaban
yang disahkan. Rincian jenis dan objek Belanja Barang dan Jasa yang dikoreksi
untuk masing-masing Pengguna Anggaran dapat dilihat pada Lampiran 1.

d) Belanja Barang dan Jasa – BOP

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp4.366.343.135,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp3.874.988.741,00
Koreksi kurang ( Rp 7.500.000,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp3.867.488.741,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 461.354.394,00
Koreksi tambah Rp 7.500.000,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp 468.854.394,00

Koreksi kurang sebesar Rp7.500.000,00 karena realisasi untuk Biaya Sewa yang
termasuk dalam Belanja Barang dan Jasa pada Pos Sekretariat Daerah
dibukukan berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar dari yang seharusnya
dibukukan berdasarkan nilai Surat Pertanggungjawaban yang disahkan. Rincian
jenis dan objek Belanja Barang dan Jasa yang dikoreksi untuk dapat dilihat pada
Lampiran 1.

e) Belanja Perjalanan Dinas – BOP

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp2.595.514.000,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp2.378.995.285,00
Koreksi kurang ( Rp 11.582.500,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp2.367.412.785,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 216.518.715,00
Koreksi tambah Rp 11.582.500,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp 228.101.215,00

Koreksi kurang sebesar Rp11.582.500 karena realisasi Biaya Perjalanan Dinas


Dalam dan Luar Daerah yang termasuk Belanja Perjalanan Dinas pada Pos
Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, Sekretariat Daerah, SLTP Dinas Sumber
Daya Air dibukukan berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar dari yang
seharusnya dibukukan berdasarkan nilai Surat Pertanggungjawaban yang
disahkan. Rincian jenis dan objek Belanja Perjalanan Dinas yang dikoreksi
dapat dilihat pada Lampiran 1.

f) Belanja Pemeliharaan – BOP

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp4.018.604.756,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp4.005.077.528,00
Koreksi kurang ( Rp 250.691,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp4.004.826.837,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 13.527.228,00
Koreksi tambah Rp 250.691,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp 13.777.919,00
Koreksi kurang sebesar Rp250.691,00 karena realisasi beberapa jenis Biaya
Pemeliharaan yang termasuk Belanja Pemeliharaan pada Pos Dinas Pariwisata
dan Kecamatan dibukukan berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar dari
yang seharusnya dibukukan berdasarkan nilai Surat Pertanggungjawaban yang
disahkan. Rincian jenis dan objek Belanja Pemeliharaan yang dikoreksi dapat
dilihat pada Lampiran 1.

2) Belanja – Belanja Pelayanan Publik

a) Belanja Perjalanan Dinas – BAU

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp 157.930.000,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp 157.930.000,00
Koreksi kurang ( Rp 787.500,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp 157.142.500,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 0,00
Koreksi tambah Rp 787.500,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp 787.500,00

Koreksi kurang sebesar Rp787.500,00 karena realisasi Biaya Perjalanan Dinas


Luar Daerah yang termasuk Belanja Perjalanan Dinas pada Pos Dinas Pertanian
dibukukan berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar dari yang seharusnya
dibukukan berdasarkan nilai Surat Pertanggung-jawaban yang disahkan.
Rincian jenis dan objek Belanja Perjalanan Dinas yang dikoreksi dapat dilihat
pada Lampiran 1.

b) Belanja Pegawai/Personalia – BOP

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp16.302.109.943,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp14.229.337.368,00
Koreksi kurang ( Rp 15.160.000,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp14.214.177.368,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 2.072.772.575,00
Koreksi tambah Rp 15.160.000,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp 2.087.932.575,00

Koreksi kurang sebesar Rp15.160.000,00 karena realisasi Biaya Honorarium


dan Insentif yang termasuk Belanja Pegawai/Personalia pada Pos Dinas
Pertanian, Dinas Kesehatan dan Dinas Kesejahteraan Sosial dibukukan
berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar dari yang seharusnya dibukukan
berdasarkan nilai Surat Pertanggungjawaban yang disahkan. Rincian jenis dan
objek Belanja Pegawai/Personalia yang dikoreksi dapat dilihat pada Lampiran
1.

c) Belanja Barang dan Jasa – BOP

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp7.779.100.146,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp6.445.531.635,00
Koreksi kurang ( Rp 255.043,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp6.445.276.592,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp1.333.568.511,00
Koreksi tambah Rp 255.043,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp1.333.823.554,00

Koreksi kurang sebesar Rp255.043,00 karena realisasi beberapa jenis biaya


yang termasuk Belanja Barang dan Jasa pada Pos Dinas Pertanian, Dinas
Kesejahteraan Sosial dan Dinas Kehutanan dibukukan berdasarkan nilai Surat
Perintah Membayar dari yang seharusnya dibukukan berdasarkan nilai Surat
Pertanggungjawaban yang disahkan. Rincian jenis dan objek Belanja Barang
dan Jasa yang dikoreksi dapat dilihat pada Lampiran 1.

d) Belanja Perjalanan Dinas – BOP

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp2.444.827.475,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp1.938.610.600,00
Koreksi kurang ( Rp 365.000,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp1.938.245.600,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 506.216.875,00
Koreksi tambah Rp 365.000,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp 506.581.875,00

Koreksi kurang sebesar Rp365.000,00 karena realisasi Biaya Perjalanan Dinas


Dalam dan Luar Daerah yang termasuk Belanja Perjalanan Dinas pada Dinas
Sumber Daya Air, Dinas Kesehatan dan Dinas Kesejahteraan Sosial dibukukan
berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar dari yang seharusnya dibukukan
berdasarkan nilai Surat Pertanggungjawaban yang disahkan. Rincian jenis dan
objek Belanja Perjalanan Dinas yang dikoreksi dapat dilihat pada Lampiran 1.
e) Belanja Modal

Anggaran menurut Draft Perhitungan APBD Rp17.861.721.748,00


Realisasi menurut Draft Perhitungan APBD Rp12.520.776.050,00
Koreksi kurang ( Rp 132.000.000,00 )
Jumlah realisasi setelah koreksi Rp12.388.776.050,00
Selisih Anggaran dan Realisasi Rp 5.340.945.698,00
Koreksi tambah Rp 132.000.000,00
Selisih Anggaran dan Realisasi setelah koreksi Rp 5.472.945.698,00

Koreksi kurang sebesar Rp132.000.000,00 karena Belanja Modal untuk


Bangunan Gedung Tempat Kerja pada Pos Sekretariat Daerah dibukukan
berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar, meskipun kegiatan tersebut tidak
terealisir. Rincian jenis dan objek Belanja Modal yang dikoreksi dapat dilihat
pada Lampiran 1.

b. Laporan Aliran Kas

1) Aliran Kas Keluar dari Aktivitas Operasi

a) Belanja Administrasi Umum

Realisasi menurut Draft Lap. Aliran Kas Rp81.741.433.922,00


Koreksi kurang ( Rp 14.279.151,00 )
Realisasi setelah koreksi Rp81.727.154.771,00

Koreksi kurang sebesar Rp14.279.151,00 karena pencatatan beberapa jenis


pengeluaran Belanja Barang dan Jasa dan Belanja Perjalanan Dinas yang
termasuk Belanja Administrasi Umum pada Pos Kepala Daerah, Wakil Kepala
Daerah, Sekretariat Daerah, Dinas Sumber Daya Air, Dinas Pertanian, Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Kesehatan, Dinas Koperasi, Dinas
Kesehatan, Dinas Kesejahteraan Sosial, Kecamatan, SLTP dan SMA masih
dicatat berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar, bukan berdasarkan nilai
Surat Pertanggungjawaban yang telah disahkan (rincian koreksi dapat dilihat
pada Lampiran 1).

b) Belanja Operasional dan Pemeliharaan

Realisasi menurut Draft Lap. Aliran Kas Rp47.720.494.235,00


Koreksi kurang ( Rp 35.358.234,00 )
Realisasi setelah koreksi Rp47.685.136.001,00

Koreksi kurang sebesar Rp35.358.234,00 karena pencatatan beberapa jenis


pengeluaran Belanja Pegawai/Personalia, Belanja Barang dan Jasa, Belanja
Pemeliharaan dan Belanja Perjalanan Dinas yang termasuk Belanja Operasional
dan Pemeliharaan pada Pos Kepala Daerah, Wakil Kepala Daerah, Sekretariat
Daerah, Dinas Sumber Daya Air, Dinas Pariwisata, Dinas Pertanian, Dinas
Kesehatan, Dinas Kesejahteraan Sosial, Dinas Kehutanan, Kecamatan dan
SLTP masih dicatat berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar, bukan
berdasarkan nilai Surat Pertanggungjawaban yang telah disahkan (rincian
koreksi dapat dilihat pada Lampiran 1).

2) Aliran Kas Keluar dari Aktivitas Investasi

Belanja Modal

Realisasi menurut Draft Lap. Aliran Kas Rp32.302.369.885,00


Koreksi kurang ( Rp 132.000.000,00 )
Realisasi setelah koreksi Rp32.170.369.885,00

Koreksi kurang sebesar Rp132.000.000,00 karena pengeluaran untuk Belanja


Modal untuk Bangunan Gedung Tempat Kerja pada Pos Sekretariat Daerah dicatat
berdasarkan nilai Surat Perintah Membayar, sedangkan sampai dengan berakhirnya
tahun anggaran kegiatan tersebut belum terealisir dan dipertanggungjawabkan
(lihat Lampiran 1).

c. Neraca

1) Akun Bangunan Gedung

Realisasi menurut Draft Neraca Rp104.158.504.868,00


Koreksi kurang ( Rp 132.000.000,00 )
Realisasi setelah koreksi Rp104.026.504.868,00

Koreksi kurang sebesar Rp132.000.000,00 karena Belanja Modal untuk Bangunan


Gedung Tempat Kerja pada Pos Sekretariat Daerah dibukukan berdasarkan nilai
Surat Perintah Membayar, meskipun kegiatan tersebut tidak terealisir.
2) Akun Ekuitas Dana Umum

Realisasi menurut Draft Neraca Rp269.288.500.239,00


Koreksi tambah Rp 181.637.385,00
Koreksi kurang ( Rp 147.903.029,00 )
Realisasi setelah koreksi Rp269.322.234.595,00

Koreksi tambah sebesar Rp181.637.385,00 karena pengaruh koreksi atas


pengeluaran beberapa jenis belanja yang masih berdasarkan Surat Perintah
Membayar, sedangkan koreksi tambah sebesar Rp147.903.029,00 merupakan sisa
Pengisian Kas yang disetorkan oleh beberapa Pemegang Kas pada tahun 2004 dan
telah dicatat sebagai Penerimaan Lain-lain sebesar Rp15.903.028,00 dan
pengurangan akumulasi nilai investasi dalam aset tetap yaitu nilai bangunan gedung
sebesar Rp132.000.000,00.

Dengan koreksi tersebut, maka terjadi perubahan saldo pada:

1. Akun-akun dalam Perhitungan APBD Tahun Anggaran 2004, yaitu:

a. Akun Pendapatan Asli Daerah

Saldo sebelum koreksi Rp 5.757.274.598,00


Koreksi kurang ( Rp 1.390.959.782,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 4.366.314.816,00

Akun Pendapatan Asli Daerah dikoreksi yaitu atas akun Lain-lain PAD yang Sah,
sebagai berikut:

Saldo sebelum koreksi Rp 3.424.901.579,00


Koreksi kurang ( Rp 1.390.959.782,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 2.033.941.797,00

b. Akun Dana Perimbangan

Saldo sebelum koreksi Rp183.004.889.887,00


Koreksi tambah Rp 379.783.404,00
Koreksi kurang ( Rp 379.783.404,00 )
Saldo setelah koreksi Rp183.004.889.887,00

Akun Dana Perimbangan dikoreksi dengan rincian sebagai berikut:


1) Akun Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak

Saldo sebelum koreksi Rp 39.974.549.586,00


Koreksi kurang ( Rp 379.783.404,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 39.594.766.182,00

2) Akun Bagi Hasil Pajak dan Bantuan Keuangan dari Provinsi

Saldo sebelum koreksi Rp 12.072.340.301,00


Koreksi kurang ( Rp 379.783.404,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 12.452.123.705,00

c. Akun Lain-lain Pendapatan yang Sah

Saldo sebelum koreksi Rp 879.552.418,00


Koreksi tambah Rp 1.390.959.782,00
Saldo setelah koreksi Rp 2.270.512.200,00

Akun Pendapatan Asli Daerah dikoreksi yaitu atas akun Kompensasi PPh Pasal 21,
sebagai berikut:

Saldo sebelum koreksi Rp 0,00


Koreksi tambah Rp 1.390.959.782,00
Saldo setelah koreksi Rp 1.390.959.782,00

d. Akun Belanja Administrasi Umum – Aparatur Daerah

Saldo sebelum koreksi Rp 81.464.413.672,00


Koreksi kurang ( Rp 13.491.651,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 81.450.922.021,00

Akun Belanja Administrasi Umum dikoreksi dengan rincian sebagai berikut:

1) Akun Belanja Barang dan Jasa

Saldo sebelum koreksi Rp 6.785.118.040,00


Koreksi kurang ( Rp 13.473.651,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 6.771.644.389,00

2) Akun Belanja Perjalanan Dinas

Saldo sebelum koreksi Rp 39.380.000,00


Koreksi kurang ( Rp 18.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 39.362.000,00

e. Akun Belanja Operasi dan Pemeliharaan – Aparatur Daerah

Saldo sebelum koreksi Rp 15.299.382.439,00


Koreksi kurang ( Rp 19.578.191,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 15.279.804.248,00

Akun Belanja Operasi dan Pemeliharaan dikoreksi dengan rincian sebagai berikut:

1) Akun Belanja Pegawai/Personalia

Saldo sebelum koreksi Rp 5.040.320.885,00


Koreksi kurang ( Rp 245.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 5.040.075.885,00

2) Akun Belanja Barang dan Jasa

Saldo sebelum koreksi Rp 3.874.988.741,00


Koreksi kurang ( Rp 7.500.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 3.867.488.741,00

3) Akun Belanja Perjalanan Dinas

Saldo sebelum koreksi Rp 2.378.995.285,00


Koreksi kurang ( Rp 11.582.500,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 2.367.412.785,00

4) Akun Belanja Pemeliharaan

Saldo sebelum koreksi Rp 4.005.077.528,00


Koreksi kurang ( Rp 250.691,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 4.004.826.837,00

f. Akun Belanja Administrasi Umum – Pelayanan Publik

Saldo sebelum koreksi Rp 277.020.250,00


Koreksi kurang ( Rp 787.500,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 276.232.750,00
Akun Belanja Administrasi Umum dikoreksi yaitu atas akun Belanja Perjalanan Dinas
sebagai berikut:

Saldo sebelum koreksi Rp 157.930.000,00


Koreksi kurang ( Rp 787.500,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 157.142.500,00

g. Akun Belanja Operasi dan Pemeliharaan – Pelayanan Publik

Saldo sebelum koreksi Rp 32.421.111.796,00


Koreksi kurang ( Rp 15.780.043,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 32.405.331.753,00

Akun Belanja Operasi dan Pemeliharaan dikoreksi dengan rincian sebagai berikut:

1) Akun Belanja Pegawai/Personalia

Saldo sebelum koreksi Rp 14.229.337.368,00


Koreksi kurang ( Rp 15.160.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 14.214.177.368,00

2) Akun Belanja Barang dan Jasa

Saldo sebelum koreksi Rp 6.445.531.635,00


Koreksi kurang ( Rp 255.043,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 6.445.276.592,00

3) Akun Belanja Perjalanan Dinas

Saldo sebelum koreksi Rp 1.938.610.600,00


Koreksi kurang ( Rp 365.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 1.938.245.600,00

h. Akun Belanja Modal – Pelayanan Publik

Saldo sebelum koreksi Rp 31.179.387.795,00


Koreksi kurang ( Rp 132.000.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 31.047.387.795,00

Akun Belanja Modal dikoreksi yaitu atas akun Belanja Modal Bangunan Gedung
sebagai berikut:
Saldo sebelum koreksi Rp 12.520.776.050,00
Koreksi kurang ( Rp 132.000.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 12.388.776.050,00

i. Akun Pembiayaan – Pengeluaran Daerah

Saldo sebelum koreksi Rp 1.000.000.000,00


Koreksi tambah Rp 12.351.532.750,00
Saldo setelah koreksi Rp 13.351.532.750,00

Akun Pembiayaan – Pengeluaran Daerah dikoreksi yaitu atas akun Sisa Perhitungan
Anggaran Tahun Berkenaan, sebagai berikut:

Saldo sebelum koreksi Rp 0,00


Koreksi tambah Rp 12.351.532.750,00
Saldo setelah koreksi Rp 12.351.532.750,00

2. Akun-akun dalam Laporan Aliran Kas Tahun Anggaran 2004

a. Akun-akun Aliran Kas dari Aktivitas Operasi

1) Akun Pendapatan Asli Daerah

Saldo sebelum koreksi Rp 5.757.274.598,00


Koreksi kurang ( Rp 1.390.959.782,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 4.366.314.816,00

2) Akun Dana Perimbangan

Saldo sebelum koreksi Rp183.004.889.887,00


Koreksi tambah Rp 379.783.404,00
Koreksi kurang ( Rp 379.783.404,00 )
Saldo setelah koreksi Rp183.004.889.887,00

3) Akun Lain-lain Pendapatan yang Sah

Saldo sebelum koreksi Rp 879.552.418,00


Koreksi kurang ( Rp 1.390.959.782,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 2.270.512.200,00
4) Akun Belanja Administrasi Umum

Saldo sebelum koreksi Rp 81.741.433.922,00


Koreksi kurang ( Rp 14.279.151,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 81.727.154.771,00

Akun Belanja Administrasi Umum dikoreksi dengan rincian sebagai berikut:

a) Akun Belanja Barang dan Jasa

Saldo sebelum koreksi Rp 6.797.315.290,00


Koreksi kurang ( Rp 13.473.651,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 6.783.841.639,00

b) Akun Belanja Perjalanan Dinas

Saldo sebelum koreksi Rp 197.310.000,00


Koreksi kurang ( Rp 805.500,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 196.504.500,00

5) Akun Belanja Operasi dan Pemeliharaan

Saldo sebelum koreksi Rp 47.720.494.235,00


Koreksi kurang ( Rp 35.358.234,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 47.685.136.001,00

Akun Belanja Operasi dan Pemeliharaan dikoreksi dengan rincian sebagai berikut:

a) Akun Belanja Pegawai/Personalia

Saldo sebelum koreksi Rp 19.269.658.253,00


Koreksi kurang ( Rp 15.405.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 19.254.253.253,00

b) Akun Belanja Barang dan Jasa

Saldo sebelum koreksi Rp 10.320.520.376,00


Koreksi kurang ( Rp 7.755.043,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 10.312.765.333,00
c) Akun Belanja Perjalanan Dinas

Saldo sebelum koreksi Rp 4.317.605.885,00


Koreksi kurang ( Rp 11.947.500,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 4.305.658.385,00

d) Akun Belanja Pemeliharaan

Saldo sebelum koreksi Rp 13.812.709.721,00


Koreksi kurang ( Rp 250.691,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 13.812.459.030,00

b. Akun-akun Aliran Kas dari Aktivitas Investasi dikoreksi yaitu atas akun Belanja
Modal, sebagai berikut:

Saldo sebelum koreksi Rp 32.302.369.885,00


Koreksi kurang ( Rp 132.000.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp 32.170.369.885,00

3. Akun-akun Neraca per 31 Desember 2004


a. Akun Aktiva Lancar
Saldo sebelum koreksi Rp 12.169.895.366,00
Koreksi tambah Rp 10.526.684.142,41
Koreksi kurang ( Rp 10.360.949.786,41 )
Saldo setelah koreksi Rp 12.335.629.722,00

Akun Aktiva Lancar dikoreksi dengan rincian sebagai berikut:


1) Akun Kas dan Bank
Saldo sebelum koreksi Rp 12.169.895.366,00
Koreksi tambah Rp 181.637.385,00
Koreksi kurang ( Rp 10.360.949.786,41 )
Saldo setelah koreksi Rp 1.990.582.964,59

2) Akun Piutang pada Dinas/Pihak Ketiga


Saldo sebelum koreksi Rp 0,00
Koreksi tambah Rp 10.345.046.757,41
Saldo setelah koreksi Rp 10.345.046.757,41
b. Akun Aktiva Tetap
Saldo sebelum koreksi Rp249.318.662.873,00
Koreksi kurang ( Rp 132.000.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp249.186.662.873,00

Akun Aktiva Tetap dikoreksi yaitu atas akun Bangunan Gedung, sebagai berikut:
Saldo sebelum koreksi Rp104.158.504.868,00
Koreksi kurang ( Rp 132.000.000,00 )
Saldo setelah koreksi Rp104.026.504.868,00

c. Akun Ekuitas Dana Umum


Saldo sebelum koreksi Rp269.288.500.239,00
Koreksi tambah Rp 181.637.385,00
Koreksi kurang ( Rp 147.903.239,00 )
Saldo setelah koreksi Rp269.322.234.595,00

Keseluruhan koreksi dimaksud telah ditindaklanjuti.

C. Catatan Pemeriksaan.

Hasil pemeriksaan atas Laporan Keuangan Daerah (sebelum disampaikan ke DPRD) Tahun
Anggaran 2004 yang disajikan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara memuat 16 Catatan
Pemeriksaan yang perlu mendapat perhatian Pemerintah Daerah dan DPRD untuk meningkatkan
kualitas laporan keuangan, yaitu:

1. Pelaksanaan dan Penatausahaan Keuangan Daerah Belum Sesuai dengan Ketentuan.


Dari pemeriksaan atas pelaksanaan penatausahaan keuangan daerah diketahui beberapa
hal sebagai berikut:
a Penutupan Buku Kas Umum (BKU) belum dilaksanakan dengan tertib seperti yang terjadi
pada BKU Pemegang Kas Sekretariat Daerah.
b. Penyampaian Surat Pertanggungjawaban oleh para Pemegang Kas ke Sub Bagian
Verifikasi belum diagendakan, sehingga pengendalian atas ketertiban para Pemegang Kas
dalam mempertanggungjawabkan anggaran yang dikelolanya tidak terpantau dengan baik.
c. Sebagian angka realisasi dalam Laporan Keuangan masih disajikan berdasarkan Surat
Perintah Membayar (SPM) dan belum seluruhnya didasarkan pada angka realisasi
berdasarkan pengesahan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) oleh Sub Bagian Verifikasi. Hal
tersebut antara lain terlihat dari adanya koreksi kurang terhadap nilai realisasi belanja pada
beberapa Pos Pengguna Anggaran sebesar Rp181.637.385,00 yang merupakan sisa
Pengisian Kas yang harus dipertanggungjawabkan/dikembalikan oleh masing-masing
Pemegang Kas yang bersangkutan.
d. Rekonsiliasi antara rekening koran bank dengan Buku Kas Umum (BKU) Bendaharawan
Umum Daerah (BUD) belum dilaksanakan secara tertib setiap bulannya, sehingga terdapat
selisih antara jumlah penerimaan dan pengeluaran menurut BKU-BUD dengan rekening
koran selama Tahun Anggaran 2004. Selain itu masih terdapat transaksi yang dibayarkan
secara tunai di BUD yang ditunjukkan dengan tidak dapat ditelusurinya pengeluaran yang
tercatat dalam B.IX BUD dengan rekening koran BUD serta adanya selisih penerimaan dan
pengeluaran yang signifikan antara BKU-BUD dengan rekening koran per 31 Desember
2004. Kondisi yang digambarkan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

No. Uraian BKU-BUD Rek. Koran


(Rp) (Rp)
1. Penerimaan 195.833.685.863,59 222.705.423.901.38
2. Pengeluaran 183.193.396.084,00 219.780.918.842,00
Sisa Kas 12.640.289.779,59 2.924.505.059,00

e. Ketidakcermatan BUD dalam melakukan pencatatan pada B.IX, sehingga terdapat banyak
kesalahan pencatatan maupun kesalahan penjumlahan yang berakibat pada ketidaksesuaian
realisasi pengeluaran antara Sub Bagian Pembukuan dan BKU-BUD. Berdasarkan review
yang dilakukan oleh Sub Bagian Pembukuan diketahui perbedaan nilai yang tercatat dalam
BKU dengan yang seharusnya seperti terlihat pada tabel berikut:
No. Uraian BKU-BUD Seharusnya Selisih Lebih
(Rp) (Rp) (Kurang)
(Rp)
1. Penerimaan 195.833.685.863,59 195.833.685.907,59 (44,00)
2. Pengeluaran 183.193.396.084,00 183.663.790.542,00 470.394.458,00
Sisa Kas 12.640.289.779,59 12.169.895.365,59 470.394.414,00

Kesalahan-kesalahan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:


1) Kesalahan catat jumlah penerimaan dalam BKU , yaitu:
No. Tanggal BKU-BUD Seharusnya Overstated
Penerimaan (Rp) (Rp) (Understated)
(Rp)
1. 25 Mei 2004 6.574.148.409,00 6.574.148.354,00 55,00
2. 10 Desember 2004 189.412.199.445,59 189.412.199.544,59 (99,00)
Jumlah selisih (44,00)

2) Kesalahan catat nilai SPMU dan penjumlahan pengeluaran dalam BKU sebesar
Rp470.394.458,00, terdiri dari:
a) Kelebihan catat nilai SPMU dan jumlah pengeluaran sebesar……………….
Rp366.417.151,00.
b) Kekurangan catat nilai SPMU dan jumlah pengeluaran sebesar…………….
Rp836.811.609,00.
Hal tersebut juga ditemukan pada pencatatan yang dilaksanakan oleh Pemegang Kas
Sekretariat Daerah yang antara lain terlihat dari pembukuan yang tidak dicatat secara
kronologis.
f. Kewenangan kepada Pemegang Kas tidak sesuai dengan fungsinya, antara lain terlihat dari
pengeluaran untuk Belanja Bantuan Keuangan yang seharusnya menjadi kewenangan
Pemegang Kas Sekretariat Daerah pada kenyataannya dilaksanakan oleh pegawai yang
bertindak sebagai Pimpinan Pelaksana Kegiatan tanpa adanya SK Penunjukan kepada yang
bersangkutan.
g. Laporan Keuangan yang disajikan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara belum
didukung dengan lampiran yang seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan seperti
Daftar Hasil Pengadaan Barang, Daftar Hasil Pemeliharaan Barang, Laporan Keuangan
Perusahaan Daerah, Daftar Piutang Daerah, Daftar Utang daerah, Daftar Investasi Daerah,
dan Daftar Cek yang Masih Belum Dicairkan.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam:
a. PP No. 105 Tahun 200 tentang Pengelolaan Keuangan dan Pertanggungjawaban Keuangan
Daerah pasal 4 yang menyatakan bahwa pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara
tertib, taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, efisien, efektif, transparan
dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatutan.
b. PP No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah
pasal 14 ayat (1) dan (3) yang antara lain menyatakan bahwa ketentuan tentang pokok-
pokok pengelolaan keuangan daerah diatur dengan Peraturan Daerah sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan
penerbitan Keputusan Kepala Daerah tentang sistem dan prosedur keuangan daerah sesuai
dengan Perda dimaksud.
c. Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan dan Pengawasan
Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah,
Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD pasal 34
yang menyebutkan bahwa BUD setiap bulan menyusun rekonsiliasi bank yang
mencocokkan saldo menurut BUD dengan saldo menurut laporan bank.
Kondisi tersebut mengakibatkan:
a. Realisasi angka penerimaan dan pengeluaran yang disajikan dalam Laporan Keuangan
belum sepenuhnya akurat dan mengurangi kehandalan laporan yang disajikan.
b. Membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan daerah.
c. Transparansi dan akuntabilitas Laporan Keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara belum sepenuhnya tercapai.
d. Upaya untuk menegakkan tertib administrasi dan disiplin dalam pengelolaan keuangan
daerah sulit tercapai.
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Upaya dan perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara untuk menciptakan praktek-
praktek yang sehat dalam penyelenggaraan dan penatausahaan keuangan daerah belum
optimal.
b. Pengendalian dan pengawasan oleh Sekretaris Daerah Kabupaten, Kepala Bagian
Keuangan belum berjalan baik.
c. Keterbatasan kemampuan dari para pelaksana tata usaha keuangan daerah dalam
menjabarkan dan mempedomani ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
d. Bendaharawan Umum Daerah belum mematuhi ketentuan yang berlaku.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan bahwa atas
permasalahan tersebut akan diambil langkah-langkah perbaikan antara lain mengadakan
pembinaan dan pelatihan kepada Pejabat Pengelola BUD, penempatan Pejabat BUD yang
memiliki disiplin ilmu yang memadai, menjalankan prosedur pengelolaan keuangan sesuai
ketentuan yang berlaku dan meningkatkan pengendalian dan pengawasan atas pengelolaan dan
penatausahaan keuangan.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara:
a. Segera menyelenggarakan pelatihan kepada Bendaharawan Umum Daerah dan para
Pemegang Kas serta staf di unit kerja terkait tentang praktek-praktek penyelenggaraan dan
penatausahaan keuangan yang baik.
b. Menegur secara tertulis Sekretaris Daerah dan memerintahkan yang bersangkutan untuk
menegur secara tertulis Kepala Bagian Keuangan masing-masing supaya lebih
meningkatkan pengendalian dan pengawasan sebagaimana mestinya.
c. Lebih selektif dalam menyetujui pejabat yang akan ditunjuk sebagai pelaksana tata usaha
keuangan daerah.
d. Mengenakan sanksi yang tegas terhadap kelalaian dan ketidakmampuan Bendaharawan
Umum Daerah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai ketentuan yang
berlaku.
2. Penatausahaan dan Penyelenggaraan Pembukuan oleh Pemegang Kas Sekretariat
Daerah Tidak Tertib.
Berdasarkan pemeriksaan atas penatausahaan dan penyelenggaraan pembukuan yang
dilaksanakan oleh Pemegang Kas Sekretariat Daerah Kabupaten Aceh Tenggara diketahui
beberapa hal sebagai berikut:
a. Pada Buku Kas Umum (BKU) tidak terdapat penjelasan tentang jumlah halaman yang
tertera dalam BKU dan ada nomor halaman BKU yang hilang yaitu halaman 2 serta
terdapat dua nomor halaman yang sama yaitu halaman 22 yang memuat transaksi yang
terjadi pada tanggal 2 dan 14 Juni 2004. Selain itu juga terdapat pencatatan untuk transaksi
yang persis sama pada halaman 22 dan 23 yang memuat transaksi yang terjadi pada tanggal
15 Juni 2004 (nomor urut 40 s.d 53).
b. Pencatatan transaksi dalam BKU tidak kronologis misalnya:
1) Transaksi yang terjadi pada tanggal 1 Mei 2004 sebanyak 24 transaksi dicatat pada
nomor urut halaman 16 s.d 18, sedangkan transaksi pada tanggal 1 April 2004 sebanyak
10 transaksi dicatat pada nomor urut halaman 19 s.d 20.
2) Pada halaman BKU nomor 21 tercatat pencatatan yang memuat transaksi yang terjadi
pada tanggal 1 April 2004 (nomor urut 33) yang dilanjutkan dengan pencatatan
transaksi tanggal 1 Juni 2004 (nomor urut 34).
3) Pada halaman BKU nomor 25 terlebih dahulu dicatat transaksi yang terjadi pada
tanggal 7 Juni 2004 yaitu sebanyak dua transaksi (nomor urut 55 s.d 56) dan
dilanjutkan dengan pencatatan transaksi yang terjadi pada tanggal 1 Juni 2004 sebanyak
22 transaksi (nomor urut 57 s.d 78).
4) Pada halaman BKU nomor 28 s.d 31 yang memuat transaksi yang terjadi selama bulan
Juni 2004 juga terdapat pencatatan transaksi yang terjadi pada tanggal 30 Maret 2004
sebanyak empat transaksi (nomor urut 79 s.d 82).
5) BKU hanya mengungkapkan dua transaksi yang terjadi selama bulan Nopember 2004
yaitu yang terjadi pada tanggal 1 Nopember 2004 yang dicatat diantara transaksi yang
terjadi pada tanggal 25 Oktober 2004 (BKU halaman 70 dan 71).
6) BKU tidak memuat cut off yang jelas setiap bulannya, hal tersebut terlihat dari adanya
transaksi pada bulan yang berbeda, namun dicatat pada halaman yang sama.
c. Upaya pengendalian oleh Atasan Langsung Pemegang Kas masih kurang, seperti terlihat
dari tidak ditutupnya BKU dan tidak dilakukannya pemeriksaan kas dan rekonsiliasi kas
dengan bank secara rutin setiap bulan. Dalam Tahun Anggaran 2004 penutupan BKU
hanya dilakukan lima kali yaitu pada bulan Januari, Februari, Maret, Juni dan Desember
2004.
d. Saldo kas berdasarkan penutupan BKU yang dilakukan pada pada bulan-bulan tersebut
adalah sebagai berikut:

No. Uraian Penerimaan Pengeluaran Sisa Kas


(Rp) (Rp) (Rp)
1. Januari 308.764.181,00 308.764.181,00 -
2. Februari 1.127.741.356,00 1.127.741.356,00 -
3. Maret 2.405.894.056,00 2.207.043.657,00 198.850.399,00
4. Juni 6.489.580.844,00 5.823.359.501,00 666.221.343,00
5. Desember 23.686.974.704,00 23.222.601.854,00 464.372.850,00

Dalam penutupan BKU pada bulan Maret diketahui adanya sisa kas sebesar
Rp198.850.399,00, namun tidak ada penjelasan atau rincian tentang sisa kas dimaksud.
Sedangkan sisa kas pada bulan Juni sebesar Rp666.221.343,00 dan bulan Desember
sebesar Rp464.372.850,00 merupakan surat berharga tanpa adanya keterangan lebih lanjut
dari jenis surat berharga dimaksud.
e. Terdapat perbedaan antara sisa kas menurut BKU dengan rekening koran Pemegang Kas
pada Bank BPD Aceh Cabang Kutacane (rek. nomor 070.01.02.805056-6), sebagai berikut:
No. Uraian Sisa Kas Menurut BKU Sisa Kas Menurut R/K Selisih
(Rp) (Rp) (Rp)
1. Maret 198.850.399,00 603.999,00 198.246.400,00
2. Juni 666.221.343,00 607.622,00 665.613.721,00
3. Desember 464.372.850,00 150.341.831,00 314.031.019,00

f. Selain itu diketahui pula bahwa nilai SPM yang tercatat dalam BKU Pemegang Kas tidak
selamanya diikuti dengan diterimanya dana oleh yang bersangkutan. Hal tersebut
didasarkan pada kenyataan dimana nilai SPM yang tercantum dalam BKU tidak dapat
ditelusuri dalam rekening koran yang bersangkutan dan penjelasan tentang jumlah uang
senyatanya yang diterima dan dikelola oleh Pemegang Kas tidak diperoleh.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang
tentang Pedoman Pengururusan, Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta
Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha
Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
pasal 39 ayat (1) yang antara lain menyatakan bahwa di setiap Perangkat Daerah ditunjuk 1
(satu) Pemegang Kas yang melaksanakan tata usaha keuangan dan pasal 39 ayat (7) yang
menyatakan Kepala Satuan Kerja melakukan pemeriksaan kas yang dikelola oleh Pemegang
Kas minimal 3 (tiga) bulan sekali.
Kondisi tersebut mengakibatkan posisi saldo Buku Kas Umum pada akhir Tahun
Anggaran 2004 tidak dapat diyakini kebenarannya dan membuka peluang terjadinya
penyalahgunaan keuangan yang dapat merugikan daerah.
Kondisi tersebut terjadi karena kemampuan Pemegang Kas dalam penatausahaan
keuangan yang dikelolanya belum memadai dan kurangnya upaya pembinaan, pengendalian
dan pengawasan yang dilakukan oleh Sekretaris Daerah sebagai Atasan Langsung.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan bahwa untuk
menindaklanjuti hal tersebut akan dilakukan langkah perbaikan, sehingga laporan yang
dihasilkan memenuhi kriteria/standar yang telah ditentukan.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara menegur secara tertulis Sekretaris
Daerah supaya lebih meningkatkan pembinaan, pengendalian dan pengawasan khususnya
kepada Pemegang Kas Sekretariat Daerah dan memerintahkan yang bersangkutan untuk
menegur secara tertulis Pemegang Kas Sekretariat Daerah supaya menyelenggarakan
pembukuan dan penatausahaan keuangan daerah sesuai ketentuan yang berlaku.

3. Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara Belum Menetapkan Peraturan Daerah tentang


Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah.
Untuk mewujudkan terciptanya pengelolaan keuangan daerah yang lebih transparan
dan akuntabel diperlukan adanya infrastruktur pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan
dalam Peraturan Daerah tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah dan selanjutnya
dijabarkan dalam Keputusan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan
Keuangan Daerah sebagai petunjuk teknisnya.
Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara pada Tahun
Anggaran 2003 telah menyusun draft tentang Perda dimaksud namun sampai dengan akhir
Tahun Anggaran 2004 draft tersebut belum rampung sehingga belum dapat diajukan dan
dibahas bersama dengan DPRD. Keadaan yang demikian juga berpengaruh kepada belum
ditetapkannya Keputusan Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan
Daerah.
Kondisi yang dikemukakan di atas juga telah menjadi catatan pemeriksaan dalam Laporan
Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2003.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan PP No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah pasal 11 ayat (1) yang menyatakan bahwa ketentuan
tentang pokok-pokok pengelolaan Keuangan Daerah diatur dengan Peraturan Daerah sesuai
dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan ayat (3) yang menyatakan
bahwa sistem dan prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah diatur dengan Keputusan Kepala
Daerah sesuai dengan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
Kondisi tersebut mengakibatkan belum memadainya infrastruktur pengelolaan
keuangan daerah yang dapat dijadikan sebagai pedoman baku yang dapat menjamin praktek
dan perlakuan akuntansi yang sama bagi satuan kerja sebagai Pengguna Anggaran di
lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara yang dapat menjamin adanya konsistensi
pelaporan.
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Kurangnya perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara akan arti penting
ditetapkannya Perda tentang Pokok-Pokok Keuangan Daerah.
b. Pengawasan umum atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan yang dilaksanakan oleh
DPRD Kabupaten Aceh Tenggara belum optimal.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan bahwa dalam Tahun
Anggaran draft Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah akan diajukan dan dibahas
bersama dengan DPRD untuk selanjutnya diikuti dengan pembuatan Keputusan Kepala Daerah
tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah.
BPK-RI menyarankan agar:
a. Bupati Aceh Tenggara segera membentuk Tim yang bertugas merampungkan draft Perda
tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah termasuk dengan melakukan
konsultasi dengan pihak-pihak yang berkompeten.
b. DPRD Kabupaten Aceh Tenggara secara proaktif memantau kelanjutan dari penyusunan
draft Perda tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah dan lebih meningkatkan
pengawasan atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan yang dilaksanakan oleh pihak
eksekutif.

4. Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara Belum Melakukan Penilaian terhadap Aset


Daerah.
Dalam tiga tahun anggaran terakhir (Tahun Anggaran 2002 s.d 2004), Pemerintah
Kabupaten Aceh Tenggara telah menyusun neraca daerah sebagai bagian dari
pertanggungjawaban pengelolaan keuangan sebagaimana diatur dalam PP No. 105 Tahun 2000
tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.
Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa nilai aktiva tetap yang tercatat dalam draft Neraca
per 31 Desember 2004 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan posisi per 31
Desember 2003 yaitu dari sebesar Rp217.016.292.988,00 menjadi sebesar
Rp249.318.662.873,00 yang berarti naik sebesar Rp32.302.369.885,00 atau sebesar 14,88%.
Selanjutnya diketahui bahwa dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Tahun
Anggaran 2003 telah dikemukakan bahwa penyusunan Neraca per 31 Desember 2002 dan
2003 dilakukan melalui kerjasama dengan konsultan dari BPKP sesuai Surat Perjanjian No.
119/PKS/2003-3729/MOU/PW.01/2003 tanggal 19 April 2003 yang didasarkan pada perkiraan
atau taksiran dari Dinas/Badan dan Satuan Kerja lainnya dan bukan berdasarkan penilaian yang
dilaksanakan oleh Lembaga Appraisal independen yang berkompeten. Sehubungan dengan hal
tersebut, BPK-RI telah merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara segera
mengalokasikan dana untuk merevaluasi aset dimaksud yaitu dengan membentuk tim
independen dan berkompeten, namun sampai dengan Tahun Anggaran 2004 berakhir
rekomendasi tersebut belum ditindaklanjuti.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang
Pedoman pengurusan dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan
Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pasal 105 yang
menyatakan bahwa untuk menyusun Neraca Awal Daerah, Kepala Daerah dapat secara
bertahap melakukan penilaian aset, dengan mengacu pada Pedoman Penilaian Aset Daerah
yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri.
Kondisi tersebut mengakibatkan nilai aktiva tetap dalam Neraca Tahun Anggaran 2004
belum menggambarkan nilai yang sebenarnya.
Kondisi tersebut terjadi karena kurangnya perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh
Tenggara dalam mengalokasikan dana yang dibutuhkan untuk penilaian aset sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan bahwa Tahun Anggaran
2005 telah dianggarkan kegiatan untuk penilaian aset yang akan dilaksanakan oleh Lembaga
Appraisal yang independen dan berkompeten.
BPK-RI menyarankan agar:
a. Bupati Aceh Tenggara segera membentuk Tim yang bertugas melakukan pendataan aset
daerah dan menunjuk Lembaga Apraisal yang independen untuk merevaluasi aset daerah
sesuai dengan kemampuan keuangan daerah.
b. DPRD Kabupaten Aceh Tenggara lebih meningkatkan pengawasan atas penyelenggaraan
pemerintahan oleh eksekutif khususnya yang berhubungan dengan rekomendasi yang
disampaikan oleh BPK-RI.

5. Pengeluaran Uang Tanpa Melalui Penerbitan Surat Perintah Membayar Sebesar


Rp10.815.441.172,00 Tidak Sesuai Ketentuan.
Berdasarkan pemeriksaan atas Buku Kas Umum (BKU) Bendaharawan Umum Daerah
per 31 Desember 2004 diketahui adanya sisa kas sebesar Rp12.640.289.779,59 yang
merupakan selisih antara jumlah penerimaan selama Tahun Anggaran 2004 sebesar
Rp195.833.685.863,59 dan pengeluaran sebesar Rp183.193.396.084,00. Penelaahan lebih
lanjut atas ikhtisar penutupan BKU selanjutnya diketahui sisa kas tersebut terdiri dari uang kas
tunai sebesar Rp50.965,21, kas di bank Rp1.824.797.642,38 dan kas bon kepada beberapa
dinas/satuan kerja sebesar Rp10.815.441.172,00 yang sampai dengan berakhirnya Tahun
Anggaran 2004 belum dapat diselesaikan.
Pemeriksaan selanjutnya menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Berdasarkan data yang disampaikan oleh Bendaharawan Umum Daerah, dari kas bon
sebesar Rp10.815.441.172,00 tersebut telah diselesaikan oleh peminjam melalui
pemotongan SPMU yang terbit antara tanggal 24 Februari s.d 31 April 2005 sebesar
Rp5.793.242.399,00, sehingga masih tersisa sebesar Rp5.022.198.773,00. Namun demikian
data nama peminjam dan nama peminjam yang telah mengembalikan kas bon tidak persis
sama. Data mengenai kas bon dan penyelesaiannya serta perbedaan nama peminjam dan
yang mengembalikan kas bon dapat dilihat pada lampiran 2.
b. Berdasarkan sisa perhitungan anggaran dalam draft laporan keuangan yang disusun oleh
Sub Bagian Pembukuan diketahui sisa kas per 31 Desember 2004 adalah sebesar
Rp12.169.895.365,00 terdiri dari penerimaan sebesar Rp195.833.685.907,59 dan
pengeluaran sebesar Rp183.663.790.542,00. Merujuk kepada sisa uang tunai dan kas pada
bank berdasarkan ikhtisar penutupan BKU Bendaharawan Umum Daerah masing-masing
sebesar Rp50.965,21 dan Rp1.824.797.642,38 atau seluruhnya sebesar
Rp1.824.848.607,59, maka sisa kas bon seharusnya adalah sebesar Rp10.345.046.757,41
(Rp12.169.895.365,00 – Rp1.824.848.607,59), sehingga terdapat selisih sebesar
Rp470.394.414,59 (Rp10.815.441.172,00 – …………… Rp10.345.046.757,51).
Hal tersebut menunjukkan pengelolaan data kas bon oleh Bendaharawan Umum Daerah tidak
akurat. Sampai dengan pemeriksaan berakhir perbedaan data kas bon antara data Perhitungan
Anggaran yang disusun oleh Sub Bagian Pembukuan dengan Bendaharawan Umum Daerah
belum dapat dijelaskan dan disampaikan kepada Tim.
Dari konfirmasi yang dilakukan dengan Bendaharawan Umum Daerah dan Kepala Bagian
Keuangan serta Sekretaris Daerah diketahui pemberian kas bon kepada satuan kerja tersebut
dilakukan karena terlambatnya penerimaan dana perimbangan dari Pemerintah Pusat sehingga
dengan keterbatasan dana dan kebutuhan satuan kerja yang ada maka diberikan pinjaman
sementara dalam bentuk kas bon. Selain itu dijelaskan pula bahwa pengeluaran melalui kas bon
tersebut adalah atas sepengetahuan Bupati Aceh Tenggara.
Kondisi yang sama juga telah dimuat dalam Laporan Hasil Pemeriksaan atas Laporan
Keuangan Tahun Anggaran 2003 dengan nilai sebesar Rp5.687.291.013,00. Dalam laporan
tersebut juga telah direkomendasikan agar Bupati Aceh Tenggara tidak lagi menyetujui
pemberian kas bon dan segera menetapkan keputusan yang melarang adanya pengeluaran
melalui kas bon, namun rekomendasi tersebut belum ditindaklanjuti.
Dari kondisi yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh
Tenggara tidak serius dalam mengupayakan penghentian pemberian kas bon dan terindikasi
melegalkan pemberian kas bon.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
Negara pasal 20 ayat (1) yang menyatakan bahwa pejabat wajib menindaklanjuti
rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan.
b. PP Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan
Daerah pasal 28 ayat (2) yang menyatakan bahwa pembayaran yang membebani APBD
dilakukan dengan SPM dan ayat (3) yang menyatakan bahwa Bendaharawan Umum
Daerah membayar berdasarkan Surat Perintah Membayar.
Kondisi tersebut mengakibatkan :
a. Realisasi pengeluaran daerah dan posisi sisa kas per 31 Desember 2004 tidak
menggambarkan keadaan yang sebenarnya
b. Pengeluaran kas bon yang membebani APBD sulit untuk dikendalikan dan membuka
peluang penyalahgunaan keuangan daerah.
c. Kas bon yang belum dipertanggungjawabkan dapat merugikan keuangan daerah minimal
sebesar Rp5.002.198.773,00.

Kondisi tersebut terjadi karena :


a. Bupati Aceh Tenggara dalam memberikan persetujuan pengeluaran kas bon tanpa
menggunakan SPM tidak mempedomani ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
b. Bendaharawan Umum Daerah dan satuan kerja sebagai pengguna anggaran dan pihak yang
mengajukan kas bon belum menaati ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara secara lisan mengakui temuan tersebut
dan mengemukakan akan berupaya agar pemberian kas bon tidak terulang lagi.
BPK-RI menyarankan agar:
a. Bupati Aceh Tenggara tidak lagi memberikan persetujuan atas kas bon dan menegur secara
tertulis dan memerintahkan semua unit kerja pengguna kas bon supaya tidak lagi
mengajukan permohonan kas bon dan dalam prosedur pengeluaran uang daerah mengikuti
ketentuan yang berlaku serta segera mempertanggungjawabkan sisa kas bon yang belum
dilunasi minimal sebesar Rp5.002.198.773,00. Selain itu memerintahkan Bendaharawan
Umum Daerah untuk segera menyusun data akurat tentang rincian dan jumlah serta
pertanggungjawaban kas bon yang sebenarnya, termasuk penjelasan selisih antara data kas
bon menurut BUD dan Sub Bagian Pembukuan sebesar Rp470.394.414,59.
b. DPRD Kabupaten Aceh Tenggara lebih meningkatkan pengawasan atas pemberian kas bon
dimaksud, termasuk pengawasan atas kesungguhan pihak Pemerintah Kabupaten Aceh
Tenggara dalam menindaklanjuti rekomendasi yang disampaikan BPK-RI yang melarang
pengeluaran daerah dalam bentuk kas bon dan secara proaktif memantau penyelesaian kas
bon dari masing-masing unit kerja terkait.

6. Pengeluaran Dana Sebesar Rp1.627.950.000,00 Belum Didukung Bukti-bukti yang Sah.


Pada Tahun Anggaran 2004 Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara telah
menganggarkan dana untuk Belanja Bantuan Keuangan sebesar Rp20.713.100.000,00 dengan
realisasi sebesar Rp18.228.383.500,00 atau 88,00% yang dipergunakan untuk membiayai
kegiatan penyelenggaraan pemerintahan desa/kelurahan, bantuan kepada organisasi politik,
profesi, sosial kemasyarakatan dan instansi vertikal.
Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa meskipun pengeluaran untuk Belanja Bantuan
Keuangan dianggarkan pada Pos Sekretariat Daerah, namun dalam pelaksanaannya kegiatan
tersebut tidak sepenuhnya dikelola oleh Pemegang Kas Sekretariat Daerah tetapi lebih
dominan dilaksanakan oleh Pimpinan Pelaksanaan Kegiatan yang juga merangkap sebagai
Pemegang Kas Kepala Daerah, termasuk dalam penyusunan pertanggung-jawabannya.
Dari pemeriksaan secara uji petik atas pertanggungjawaban Belanja Bantuan Keuangan
tersebut diketahui terdapat pengeluaran sebesar Rp1.627.950.000,00 yang hanya didukung
kuitansi tanda terima tanpa didukung bukti-bukti pendukung lain sebagaimana mestinya.
Rincian pengeluaran tersebut dapat dilihat pada lampiran 3.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. PP No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah
pasal 27 ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap pembebanan APBD harus didukung oleh
bukti-bukti yang lengkap dan sah mengenai hak yang diperoleh oleh pihak yang menagih
dan ayat (2) yang menyatakan bahwa setiap orang yang diberi wewenang menandatangani
dan atau mengesahkan surat bukti yang menjadi dasar pengeluaran atas beban APBD
bertanggung jawab atas kebenaran dan akibat dari penggunaan bukti tersebut.
b. Seharusnya pengelolaan keuangan atas Belanja Bantuan Keuangan dilaksanakan oleh
Pemegang Kas Sekretariat Daerah sebagai satuan kerja pengguna anggaran.
Kondisi tersebut mengakibatkan pengeluaran sebesar Rp1.627.950.000,00 tidak
memenuhi syarat sahnya pertanggungjawaban sehingga berpotensi merugikan keuangan
daerah.
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Mekanisme atau sistem pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan Belanja Bantuan
Keuangan yang tidak tepat yaitu dengan penunjukan pejabat lain sebagai Pimpinan
Pelaksanaan Kegiatan.
b. Pengendalian dan pengawasan Sekretaris Daerah sebagai Pengguna Anggaran belum
optimal.
c. Pelaksanaan fungsi verifikasi oleh Bagian Keuangan belum sesuai ketentuan yang berlaku.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan bahwa dimasa
mendatang akan diupayakan penetapan mekanisme atau sistem yang baik dan menunjuk
pengelola penyalur bantuan yaitu staf yang profesional, sehingga memudahkan pengawasan
dan tertib administrasi.

BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara:


a. Menyerahkan sepenuhnya mekanisme pengeluaran atas beban Belanja Bantuan Keuangan
kepada unit kerja Pengguna Anggaran dhi. melalui Pemegang Kas Sekretariat Daerah.
b. Memerintahkan Pimpinan Pelaksana Kegiatan untuk mempertanggungjawabkan Belanja
Bantuan Keuangan sebesar Rp1.627.950.000,00.
c. Menegur secara tertulis Sekretaris Daerah supaya lebih meningkatkan pengendalian dan
pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku.
d. Melalui Sekretaris Daerah menegur secara tertulis Kepala Sub Bagian Verifikasi supaya
lebih cermat dalam mensahkan bukti pertanggungjawaban Belanja Bantuan Keuangan.

7. Pembayaran atas Beban Belanja Tidak Tersangka Sebesar Rp2.406.970.000,00 Tidak


Sesuai Ketentuan.
Pada Tahun Anggaran 2004 Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara telah
menganggarkan dana untuk Belanja Tidak Tersangka sebesar Rp2.674.275.268,00 dengan
realisasi (berdasarkan konsep Perhitungan APBD) sebesar Rp2.671.109.000,00 atau 99,88%
dari anggaran. Dari pemeriksaan atas bukti-bukti pertanggungjawaban penggunaan Belanja
Tidak Tersangka diketahui bahwa sebagian dari realisasi Belanja Tidak Tersangka tersebut
dipergunakan untuk membiayai pengeluaran atau kegiatan yang telah memiliki pos anggaran
tersendiri dalam APBD sebesar Rp2.406.970.000,00, seperti terlihat pada tabel berikut :
No. U r a i a n Jumlah (Rp)
1 2 3
1. Pembayaran untuk biaya perlombaan dalam rangka Peringatan Hari Jadi
Kabupaten Aceh Tenggara ke XXX. 39.500.000,00
2. Pembayaran untuk pembelian bingkisan dalam rangka Peringatan Hari Jadi
Kabupaten Aceh Tenggara ke XXX. 45.910.000,00
3. Pembayaran untuk Pelatihan Linmas PAM Pemilu Tahun 2004 461.000.000,00
4. Pembayaran untuk Tim Operasi Pemantapan Pemerintahan PDMD 30.000.000,00
5. Pembayaran sewa helikopter dalam rangka kunjungan Gubernur NAD ke
Kabupaten Aceh Tenggara 15.000.000,00
6. Pembayaran bantuan untuk pembuatan spanduk partai 7.500.000,00
7. Pembayaran bantuan PAM Pemilu Kodim 0108 Agara 28.000.000,00
8. Pembayaran bantuan kepada Tim Monitoring DESK Pemilu Provinsi NAD 10.000.000,00
9. Pembayaran bantuan Pelatihan Linmas Pemilu 200.000.000,00
10. Pembayaran bantuan Pelatihan Linmas 100.000.000,00
11. Pembayaran bantuan operasional PAM Pemilu 100.000.000,00
12. Pembayaran bantuan Pelatihan Linmas Pemilu 100.000.000,00
13. Pembayaran bantuan kepada Panitia Pelaksana Hari Jadi Kabupaten Aceh
Tenggara ke XXX 10.000.000,00
14. Pembayaran kepada Panitia Penyelenggara Hari Keluarga Nasional XI 20.000.000,00
15. Pembayaran bantuan kepada anggota BKO TNI-AD dan Polri 9.000.000,00
16. Pembayaran bantuan pengamanan Pemilu Legislatif kepada Polri 15.000.000,00
17. Pembayaran bantuan pengamanan Pemilu Legislatif kepada Polri 15.000.000,00
18. Pembayaran bantuan kepada Front Pembela Pemberantasan Separatis 200.000.000,00
GAM
19. Pembayaran bantuan kepada Tim Evaluasi Lapter Dishub NAD 5.000.000,00
20. Pembayaran biaya pengadaan baju Linmas PAM Pemilu Tahun 2004 996.060.000,00
Jumlah 2.406.970.000,00

Selanjutnya diketahui bahwa sebagaian besar pengeluaran atas beban Belanja Tidak Tersangka
dimaksud hanya didukung bukti kwitansi pembayaran, tanpa didukung bukti-bukti lain seperti
proposal maupun penggunaan dana. Selain itu tidak diperoleh penjelasan yang cukup tentang
pemberitahuan penggunaan Belanja Tidak Tersangka tersebut kepada DPRD Kabupaten Aceh
Tenggara.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :
a. PP Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan
Daerah pasal 12 ayat (2) yang menyatakan bahwa pengeluaran yang dibebankan pada
pengeluaran tidak tersangka adalah untuk penanganan bencana alam, bencana sosial , dan
pengeluaran tidak tersangka lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan
kewenangan pemerintahan Daerah dan pasal 30 yang menyatakan bahwa penggunaan
anggaran belanja tidak tersangka diberitahukan kepada DPRD.
b. Keputusan Bupati Aceh Tenggara Nomor 65 Tahun 2004 tentang Penjabaran Perubahan
APBD Kabupaten Aceh Tenggara Tahun Anggaran 2004 yang menyatakan bahwa belanja
tidak tersangka diperuntukkan guna menampung kegiatan yang dananya tidak termasuk
dalam mata anggaran lainnya yaitu tagihan mengenai Tahun Anggaran yang telah
ditetapkan dan belum diselesaikan asalkan belum kadaluarsa bilamana tidak ada rekening
pengeluaran-pengeluaran yang uraiannya sesuai dengan pengeluaran yang dimaksud dan
untuk bantuan bencana alam.
c. Kepmendagri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban
dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan APBD, Pelaksanaan Tata
Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan APBD pasal 56 yang menyatakan
bahwa penggunaan anggaran tidak tersangka ditetapkan dengan Ketetapan Kepala Daerah
dan diberitahukan kepada DPRD paling lambat 1 bulan terhitung sejak keputusan
ditetapkan.
Kondisi tersebut mengakibatkan pemborosan Keuangan Daerah sebesar
Rp2.406.970.000,00 dan realisasi Belanja Tidak Tersangka yang disajikan dalam Laporan
Keuangan Daerah tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya serta upaya untuk
menciptakan pengelolaan keuangan daerah yang lebih transparan dan akuntabel belum berhasil
guna.
Kondisi tersebut terjadi karena Bupati Aceh Tenggara dalam memberikan persetujuan
pembayaran atas beban Belanja Tidak Tersangka tidak mengikuti ketentuan dan perundang-
undangan yang berlaku.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan bahwa pihak Pemda akan
mengefektifkan dan mengefisiensikan realisasi belanja sesuai dengan beban yang tersedia dan
didasarkan pada proposal beserta lampiran penggunaan dana dan penggunaan Belanja Tidak
Tersangka tersebut akan diberitahukan kepada DPRD.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara tidak memberikan persetujuan
pengeluaran atas beban Belanja Tidak Tersangka yang tidak sesuai dengan peruntukannya dan
meminta pihak-pihak terkait untuk mempertanggungjawabkan pengeluaran-pengeluaran yang
tidak sesuai ketentuan dimaksud sebesar Rp2.406.970.000,00.

8. Penyertaan Modal kepada Beberapa BUMD dan Badan Usaha Lain Belum Didukung
Bukti Kepemilikan dan Laporan Keuangan Perusahaan Belum Disampaikan kepada
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara.
Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa sampai dengan akhir Tahun Anggaran
jumlah penyertaan modal Pemerintah Kabupaten Acegh Tenggara kepada beberapa BUMD
dan badan usaha lainnya adalah sebesar Rp9.639.850.000,00, dengan rincian sebagai berikut:
a. PT. Bank BPD Aceh sebesar Rp3.105.350.000,00
b. PD. Tirta Agara sebesar Rp4.950.000.000,00
c. PD. Makmur Sepakat sebesar Rp1.200.000.000,00
d. PD. BPR Lawe Alas sebesar Rp84.500.000,00
e. PD. BPR Blang Kejeren sebesar Rp100.000.000,00
f. SPBU Mina sebesar Rp200.000.000,00.
Dari pemeriksaan dokumen dan bukti pendukung investasi tersebut, ternyata penyertaan
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara pada enam perusahaan tersebut tidak didukung dengan
bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu Laporan Keuangan perusahaan yang
seharusnya dapat menjelaskan nilai penyertaan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dan
memberikan informasi perkembangan operasi perusahaan tidak diperoleh. Selanjutnya
diketahui pula bahwa pada Tahun Anggaran 2004, Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara tidak
memperoleh kontribusi apapun dari hasil penyertaan modalnya pada enam perusahaan tersebut.
Kondisi tersebut di atas juga telah menjadi catatan pemeriksaan atas Laporan Keuangan Tahun
Anggaran 2003.
Seharusnya penyertaan modal tersebut didukung dengan bukti kepemilikan yang sah
dan terdokumentasi dengan baik dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara secara aktif
memonitor perkembangan perusahaan-perusahaan tersebut dan meminta Laporan Keuangan
dari perusahaan-perusahaan sebagai bentuk pertanggungjawaban pengelolaan oleh Pimpinan
Perusahaan kepada Pemerintah Aceh Tenggara sebagai investor.
Kondisi tersebut mengakibatkan:
a. Legalitas formal kepemilikan modal Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara pada enam
perusahaan tersebut belum dapat dipertanggungjawabkan dan perkembangan perusahaan
tidak dapat dipantau dengan baik untuk kepentingan penganggaran dan kontribusinya
dalam APBD.
b. Laporan Keuangan perusahaan sebagai lampiran yang tidak terpisahkan dari penyajian
Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara Tahun Anggaran 2004 belum
dapat disajikan.
Kondisi tersebut terjadi karena kurang optimalnya upaya dan koordinasi yang
dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dengan Pimpinan Perusahaan dan belum
adanya iktikad baik dari Pimpinan Perusahaan untuk menyampaikan laporan kepada
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara sebagai bentuk pertanggungjawabannya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan bahwa Pemda telah
melakukan tindak lanjut dengan menyerahkan dokumen kepemilikan dan bukti pendukung
investasi, namun diakui bahwa kontribusi kepada Pemda hanya diperoleh dari PT. Bank BPD
Aceh.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara memerintahkan Kepala Bagian
Keuangan untuk segera melengkapi seluruh bukti kepemilikan saham Pemerintah Kabupaten
Aceh Tenggara pada perusahaan-perusahaan tersebut.
9. Pengelolaan Aset Milik Daerah Tidak Sesuai Dengan Ketentuan.
Berdasarkan draft Laporan Realisasi Anggaran Tahun Anggaran 2004 diketahui bahwa
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara telah menganggarkan dana untuk belanja modal
aparatur dan publik Rp42.644.106.497,00 dengan realisasi sebesar Rp32.302.369.885,00 atau
75,74% yang dipergunakan untuk pengadaan atau penambahan aset daerah.
Dari pemeriksaan yang dilakukan di lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten dan konfirmasi
dengan Kepala Bagian Umum dan Perlengkapan diketahui bahwa pengelolaan aset milik
daerah belum berjalan baik, antara lain terlihat dari hal-hal sebagai berikut:
a. Barang inventaris seperti meubeluer dan berbagai peralatan lainnya tidak diberi nomor
inventaris.
b. Tidak diselenggarakannya Kartu Inventaris Barang, Kartu Inventaris Ruangan, maupun
Daftar Mutasi Barang dan Daftar Pengadaan Barang.
c. Laporan Hasil Pengadaan Barang dari Dinas/Badan maupun Satuan Kerja Daerah lainnya
tidak disampaikan.
d. Kepemilikan aset daerah tidak terdokumentasi secara lengkap antara lain ditunjukkan dari
tidak tersedianya data mengenai tanah milik Pemda yang telah bersertifikat dan data
mengenai jumlah dan bukti kepemilikan kendaraan.
Kondisi demikian juga telah menjadi catatan pemeriksaan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan
atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara Tahun Anggaran 2003.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. PP No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah
Pasal 33 yang menyatakan bahwa pengguna barang wajib mengelola barang daerah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Kepmendagri No. 32 Tahun 1998 tentang Manual Administrasi Barang Daerah dalam bab
VI yang antara lain menyatakan bahwa kegiatan atau tindakan untuk melakukan
pengurusan, penyelenggaraan, pengaturan, pencatatan data dan pelaporan barang dalam
pemakaian diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah yang disusun dalam suatu buku
inventaris yang bertujuan untuk pemanfaatan, pengendalian dan pengawasan setiap barang,
penggunaan setiap barang secara maksimal sesuai dengan tujuan dan fungsinya masing-
masing serta menunjang pelaksanaan tugas pemerintahan.
c. Kepmendagri No. 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan dan Pengawasan
Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah,
Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah dalam pasal 65 yang menyatakan bahwa seluruh barang
yang pengadaannya atas beban APBD, wajib dibukukan ke dalam rekening aset daerah
yang berkenaan, dan dicatat dalam Daftar Aset Daerah sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Kondisi tersebut mengakibatkan hasil pengadaan barang milik daerah Tahun Anggaran
2004 tidak terjamin keberadaannya dan membuka peluang terjadinya pencurian dan
penyalahgunaan barang milik daerah yang dapat merugikan daerah.
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Kepala Bagian Umum sebagai pengelola barang daerah tidak mematuhi ketentuan yang
berlaku.
b. Upaya Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dalam menertibkan pengelolaan barang
milik daerah belum maksimal yang ditandai dengan belum dilakukannya inventarisasi
barang dan penyelenggaraan berbagai buku dan daftar terkait dengan pengelolaan barang
milik daerah.
c. Kesadaran akan pentingnya pengamanan aset milik daerah dan upaya pengendalian serta
pengawasan yang dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah dan para Pimpinan Unit Kerja
lainnya belum optimal.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara menjelaskan akan memerintahkan Bagian
Umum untuk membuat nomor inventaris barang, dan mendokumentasikan bukti kepemilikan
aset daerah secara lengkap.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara:
a. Memerintahkan Sekretaris Daerah untuk menegur secara tertulis Kepala Bagian Umum
supaya segera menyusun daftar inventaris dan aset daerah.
b. Mengeluarkan surat edaran kepada seluruh pimpinan unit kerja untuk menatausahakan
pengelolaan inventaris dan aset daerah di lingkungannya sesuai ketentuan yang berlaku.
c. Secara bersama-sama dengan pihak Legislatif mengalokasikan dana untuk kegiatan
inventarisasi dan sensus aset milik daerah.

10. Perencanaan dan Pengendalian atas Pengeluaran Belanja Pemeliharaan Belum Berjalan
Baik.
Pada Tahun Anggaran 2004 Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara telah
menganggarkan dana untuk Belanja Pemeliharaan Aparatur Daerah sebesar
Rp1.432.484.355,00 yang dialokasikan untuk belanja pemeliharaan berbagai jenis aset daerah
seperti kendaraan bermotor, alat berat, gedung dan barang inventaris lainnya.
Berdasarkan pemeriksaan dan konfirmasi dengan Bagian Umum Setdakab Aceh Tenggara
diketahui bahwa pengendalian atas belanja pemeliharaan khususnya untuk pemeliharaan alat
angkutan bermotor seperti penggantian oli, spare part kendaraan serta pemakaian bahan bakar
minyak (BBM) untuk kendaraan dinas Pemerintah Daerah belum berjalan dengan baik. Hal
tersebut antara lain terlihat dari :
a. Kegiatan pemeliharaan kendaraan belum didasarkan pada perencanaan yang matang
sebagaimana yang seharusnya dituangkan dalam rencana pemeliharaan per jenis kendaraan
yang disesuaikan dengan tahun perolehan dan kondisi kendaraan yang bersangkutan.
b. Kartu Pemeliharaan untuk masing-masing kendaraan dinas belum diselenggarakan
sehingga penggantian oli dan spare part kendaran tersebut tidak terpantau dan tidak dapat
dinilai kewajarannya.
c. Pemakaian BBM hanya didasarkan atas memo yang diberikan kepada pemakai kendaraan
yang berisi jumlah liter yang dapat ditukarkan kepada pihak SPBU, namum memo tersebut
hanya dibuat satu lembar dan tidak ada arsip yang disimpan di Bagian Umum. Dengan
demikian jumlah tagihan yang diajukan oleh pihak SPBU Kepada atas pemakaian BBM
tidak dapat diperbandingkan.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan PP No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah pasal 8 yang menyatakan APBD disusun dengan
pendekatan kinerja dan penjelasan umum PP No. 105 Tahun 2000 yang antara lain menyatakan
bahwa pengelolaan sumber daya keuangan daerah harus diarahkan kepada upaya untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas yang didukung dengan adanya transparansi dan
akuntabilitas dalam pengelolaannya. Dengan demikian seharusnya perencanaan untuk biaya
pemeliharaan disusun secara matang dan terukur antara lain dituangkan dalam buku rencana
pemeliharaan barang yang selanjutnya dijabarkan dalam kartu pemeliharaan.
Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya penyalahgunaan keuangan daerah dan
belanja pemeliharaan yang terealisir belum sepenuhnya mencerminkan efisiensi dan efektivitas
penggunaan anggaran.
Kondisi tersebut terjadi karena :
a. Upaya yang dilakukan oleh Bagian Umum Setdakab dalam merencanakan dan menyusun
sistem pengendalian serta dalam tertib administrasi belanja pemeliharaan belum
sepenuhnya mengikuti ketentuan yang berlaku.
b. Pengendalian dan pengawasan Sekretaris Daerah sebagai atasan langsung belum optimal.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan bahwa menindaklanjuti
hal tersebut akan dilakukan langkah-langkah diantaranya dengan membuat kartu pemeliharaan
untuk masing-masing kendaraan dan untuk pemakaian BBM akan dibuat bukti pemakaian
sesuai kebutuhan pertanggungjawaban.
BPK-RI menyarankan Bupati Aceh Tenggara agar menegur secara tertulis Sekretaris
Daerah untuk lebih meningkatkan pengendalian dan pengawasan dan memerintahkan yang
bersangkutan untuk menegur secara tertulis Kepala Bagian Umum dan Perlengkapan supaya
dalam mengelola Belanja Pemeliharaan mengikuti ketentuan yang berlaku.

11. Pajak Pertambahan Nilai (PPN), PPh Pasal 21, 22 dan 23 Sebesar Rp114.029.547,00 atas
Pengadaan Barang dan Jasa pada Beberapa Dinas Pengguna Anggaran Belum Disetor ke
Kas Negara.
Berdasarkan pemeriksaan atas Surat Pertanggungjawaban (SPJ) Pemegang Kas Dinas
Kimpraswil, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan Sekretariat Daerah
Kabupaten Aceh Tenggara diketahui adanya pemotongan beberapa jenis pajak yang terkait
dengan pembayaran atas Belanja Barang dan Jasa yaitu PPN, PPh Pasal 22 dan PPh Pasal
21/23, namun belum disetorkan ke Kas Negara sebesar Rp114.029.547,00, seperti terlihat pada
tabel berikut:
No. Uraian Penerimaan Pajak Jumlah Disetor Sisa belum
(Rp) (Rp) (Rp) disetor
PPN PPh Psl 22 PPh Psl 21/23 (Rp)
1. Dinas Kimpraswil 96.354.737,00 10.765.562,00 76.831.925,00 183.952.224,00 132.503.897,00 51.448.327,00
2. Dinas Kesehatan 13.363.637,00 2.004.546,00 1.593.000,00 19.961.183,00 - 16.961.183,00
3. Dinas Pertanian 29.831.982,00 4.269.314,00 3.993.058,00 38.094.354,00 897.000,00 37.197.354,00
4. Sekretariat Daerah 5.257.724,00 610.459,00 2.554.500,00 8.422.683,00 - 8.422.683,00
Jumlah 144.808.080,00 17.649.881,00 84.972.483,00 247.430.444,00 133.400.897,00 114.029.547,00

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan :


a. Buku Panduan Bendaharawan dan Pemegang Kas Pemerintah Daerah sebagai Wajib
Pungut Pajak-pajak Negara yang antara lain menyatakan bahwa Bendaharawan Wajib
memungut, menyetor dan melaporkan PPN kepada Instansi Pemerintah.
b. Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Pasal 4 huruf (e) yang antara lain menyatakan bahwa Kebijakan Umum
Pemerintah dalam Pengadaan Barang dan Jasa adalah meningkatkan penerimaan Negara
melalui sektor perpajakan.
c. Keputusan Menteri Keuangan No. 548/KMK.04/2000 pasal 3 ayat (1) yang menyatakan
bahwa dalam jumlah pembayaran yang dilakukan oleh Bendaharawan Pemerintah,
termasuk jumlah Pajak Pertambahan Nilai yang terhutang.
d. Keputusan Menteri Keuangan No. 606/KMK.04/1994 jo Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 251/KMK.04/1995 tentang Penetapan Tanggal Jatuh Tempo Pembayaran dan
Penyetoran Pajak, Tempat Pembayaran Pajak, Tata Cara Pengangsuran dan Penundaan
Pembayaran Pajak yang antara lain menyebutkan bahwa PPN/PPn-BM yang dipungut oleh
Bendaharawan selaku pemungut pajak wajib disetorkan ke Bank Persepsi atau Kantor Pos
dan Giro selambat-lambatnya tanggal 7 bulan takwim berikutnya setelah masa pajak
berakhir, dalam hal tanggal 7 bertepatan dengan hari libur, maka penyetoran harus
dilakukan pada hari kerja berikutnya dan penyetoran dilakukan dengan menggunakan SSP
(Surat Setoran pajak).
Kondisi tersebut mengakibatkan penerimaan Negara dari Pajak Pertambahan Nilai
(PPN), PPh Pasal 21/23 dan PPh Pasal 22 sebesar Rp114.029.547,00 belum diterima dan
membuka peluang penyalahgunaan keuangan yang dapat merugikan keuangan negara.
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Para Pemegang Kas selaku wajib pungut pajak lalai dalam melaksanakan tugasnya.
b. Sub Bagian Verifikasi masih lemah dalam melakukan pengujian terhadap Surat
Pertanggungjawaban yang disampaikan oleh masing-masing Pemegang Kas.
c. Pengendalian dan pengawasan Sekretaris Daerah dan para Kepala Dinas terkait belum
optimal.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan akan memberikan
teguran kepada Pengguna Anggaran dan memerintahkan Pemegang Kas untuk melakukan
penyetoran pajak-pajak tersebut sesegera mungkin.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara menegur secara tertulis Sekretaris
Daerah dan Kepala Dinas terkait supaya lebih meningkatkan pengendalian dan pengawasan
sebagaimana mestinya dan memerintahkan yang bersangkutan untuk menegur dan
memerintahkan para Pemegang Kas supaya segera menyetorkan kekurangan penyetoran pajak
sebesar Rp114.029.547,00 dimaksud ke Kas Negara.

12. Pembayaran Pengadaan Barang dan Jasa Sebesar Rp213.502.000,00 Tidak Sesuai
Ketentuan.
Berdasarkan konsep Perhitungan APBD Tahun Anggaran 2004 diketahui bahwa
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara telah menganggarkan dana untuk Belanja Barang dan
Jasa Aparatur Daerah pada Pos Sekretariat Daerah sebesar Rp1.898.353.501,00 dengan
realisasi sebesar Rp1.600.470.925,00 atau 84,30 % dari anggaran.
Dari pemeriksaan secara uji petik atas Surat Pertanggungjawaban (SPJ) Pemegang Kas
Sekretariat Daerah diketahui adanya 11 transaksi pembayaran untuk Belanja Barang dan Jasa
seperti pengadaan ATK, obat-obatan, makan minum dan biaya cetak antara Rp11.250.000,00
s.d Rp43.200.000,00 atau seluruhnya senilai Rp213.502.000,00 yang seharusnya dibayar
dengan Beban Tetap, namun oleh Pemegang Kas Sekretariat Daerah dilakukan melalui
pembayaran Beban Sementara, seperti terlihat pada tabel berikut :
No. Tanggal/No. U r a i a n Jumlah Keterangan
Bukti Kas (Rp)
1. 489/17-12-04 Pengadaan kertas computer gaji 31.125.000,00 CV. Sinar Sentosa
2. 377/27-10-04 Pengadaan Alat Listrik dan Elektronik 22.706.625,00 UD. Doli
3. 377/27-10-04 Alat Tulis Kantor 16.050.375,00 Yogamelas Group
4. 388/27-10-04 Cetak Buku Standarisasi Harga 20.000.000,00 Yogamelas Group
5. 406/27-10-04 Pembelian obat-obatan 11.250.000,00 Apotik Sehat Arios
6. 418/27-10-04 Pengadaan makanan dan minuman 15.000.000,00 RM. Famili
7. 422/27-10-04 Pengadaan makanan dan minuman 15.000.000,00 RM. Famili
8. 423/27-10-04 Pengadaan makanan dan minuman 15.000.000,00 RM. Famili
9. 30/04-03-04 Pengadaan Alat Tulis Kantor 12.670.000,00 TB.Sinar Ilmu
10. 369/25-10-04 Biaya cetak penyusunan APBD 11.500.000,00 Pengusaha
11. 472/17-12-04 Biaya cetak LPJ Keuangan Daerah 43.200.000,00 ASCO
Jumlah 213.502.000,00

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun
1994 tentang Pelaksanaan APBD pasal 17 ayat (13) yang menyatakan bahwa pembayaran
sebagai Beban Sementara dapat dilaksanakan untuk pengadaan baarang dan jasa dengan nilai
setinggi-tingginya sebesar Rp10.000.000,00 untuk setiap jenis pengeluaran.
Kondisi tersebut mengakibatkan :
a. Tujuan penyusunan APBD sebagai alat perencanaan dan pengendalian anggaran belum
sepenuhnya efektif.
b. Pengadaan barang dan jasa sebesar Rp213.502.000,00 belum dapat menjamin harga yang
menguntungkan daerah.
Kondisi tersebut terjadi karena :
a. Pemegang Kas Sekretariat Daerah dalam melakukan tugas tidak menaati ketentuan yang
berlaku.
b. Sekretaris Daerah sebagai Atasan Langsung Pemegang Kas Sekretariat Daerah kurang
melakukan pengendalian dan pengawasan atas pembayaran yang dilakukan oleh Pemegang
Kas.
c. Penyusunan Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK) Sekretariat Daerah belum
sepenuhnya berdasarkan pada perencanaan yang matang.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan bahwa mulai Tahun
Anggaran 2005 pengadaan barang dan jasa di atas Rp10.000.000,00 tidak dibenarkan lagi
melalui SPM-PK.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara menegur secara tertulis Sekretaris
Daerah supaya lebih meningkatkan pengendalian dan pengawasan, merencanakan dan
menyusun RASK senyata mungkin dan memerintahkan yang bersangkutan untuk menegur
secara tertulis Pemegang Kas Sekretariat Daerah supaya melaksanakan tugas sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.

13. Hasil Pemeriksaan atas Laporan Keuangan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara
Tahun Anggaran 2003 Belum Seluruhnya Ditindaklanjuti dan Diselesaikan.
Dari pemeriksaan tindaklanjut yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh
Tenggara atas rekomendasi yang diberikan oleh BPK-RI terhadap catatan pemeriksaan atas
Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2003 diketahui beberapa rekomendasi belum
ditindaklanjuti dan diselesaikan, sebagai berikut :
a. Pelaksanaan pembukuan dan pengelolaan keuangan daerah belum sepenuhnya
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan. Hal tersebut antara lain terlihat dari beberapa hal
berikut :
1) Belum ditetapkannya Perda tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah dan
SK Kepala Daerah tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Daerah.
2) Pembukuan realisasi Pendapatan dan Belanja dilaksanakan belum tertib diantaranya
pencatatan angka realisasi anggaran masih berdasarkan Surat Perintah Membayar dan
Perhitungan APBD belum dilengkapi dengan lampiran-lampiran seperti Daftar Hasil
Pengadaan Barang, Laporan Keuangan Perusahaan Daerah dan Daftar Investasi
Daerah.
3) Pengelolaan keuangan belum tertib yang ditandai dengan belum dilaksanakannya
rekonsiliasi antara Rekening Koran, Buku Kas Umum dan Buku Pembantu Bank secara
tertib, pencatatan atas pemungutan dan penyetoran pajak yang tidak diselenggarakan
dengan baik, dan adanya transaksi yang dibayarkan secara tunai oleh Bendaharawan
Umum Daerah (BUD).
Atas permasalahan tersebut BPK-RI telah memberikan rekomendasi kepada Bupati Aceh
Tenggara, diantaranya agar pokok-pokok keuangan daerah serta sistem dan prosedur
segera disusun dan ditetapkan, penyelenggaraan pelatihan tentang implementasi
Kepmendagri No. 29 Tahun 2002, memberikan teguran secara tertulis kepada Kabag
Keuangan dan Kepala Dinas/Badan supaya melakukan pengendalian dan pengawasan
semestinya kepada staf yang dipimpinnya, memberikan teguran tertulis kepada BUD
supaya menyusun rekonsiliasi baik dan menyelenggarakan buku pembantu baik dan pajak
yang memadai serta memerintahkan Kabag Keuangan untuk memberikan teguran tertulis
kepada Pemegang Kas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dan Kasubag
Pembukuan supaya melaksanakan tugas sesuai dengan ketentuan.
Berdasarkan hasil Pra Pembahasan Tindak Lanjut diketahui bahwa rekomendasi kepada
Bupati Aceh Tenggara untuk penyusunan Perda dan sistem prosedur tentang pengelolaan
keuangan daerah, penyelenggaraan pelatihan tentang implementasi Kepmendagri No. 29
Tahun 2002 serta surat teguran secara tertulis kepada pejabat terkait belum
dilaksanakan/ditindaklanjuti.
Temuan tentang ketidaktertiban pembukuan dan pengelolaan keuangan daerah tersebut
juga masih ditemukan dan menjadi catatan pemeriksaan atas Laporan Keuangan Tahun
Anggaran 2004.
b. Penetapan anggaran yang berbasis anggaran defisit tidak sesuai dengan ketentuan dalam
hal ini perubahan anggaran belanja melampaui anggaran pendapatan. Atas catatan tersebut
BPK-RI memberikan rekomendasi kepada Bupati Aceh Tenggara agar penetapan APBD
tidak berbasis pada anggaran defisit dan memperhatikan potensi keuangan daerah serta
kepada Kepala Bagian Keuangan, Kepala Sub Bagian Anggaran dan Panitia Penyusunan
APBD diberikan teguran secara tertulis supaya dalam menyusun APBD mempedomani
ketentuan tentang tata cara penyusunan APBD. Berdasarkan hasil Pra Pembahasan Tindak
Lanjut diketahui bahwa atas rekomendasi tersebut, Bupati Aceh Tenggara telah membuat
surat teguran kepada Kepala Bagian Keuangan, namun penetapan anggaran defisit tersebut
juga masih terjadi pada Tahun Anggaran 2004.
c. Penilaian terhadap aset daerah belum dilaksanakan, dalam hal ini BPK-RI telah
menyarankan kepada Bupati Aceh Tenggara agar dialokasikan dana untuk penilaian aset
dimaksud melalui pembentukan tim independen dan tim internal yang berkompeten untuk
itu, namun sampai akhir Tahun Anggaran 2004 dana untuk penilaian aset tidak
dialokasikan dan tim penilaian asset juga belum ditunjuk dan ditetapkan.
d. Pengelolaan barang inventaris tidak sesuai dengan ketentuan diantaranya terlihat dari tidak
diselenggarakannya Kartu Inventaris Ruangan, Daftar Inventaris Barang maupun Buku
Inventaris Barang yang memadai. Atas temuan tersebut disarankan kepada Bupati Aceh
Tenggara agar memberikan teguran kepada Sekretaris Daerah dan Kepala Bagian Umum
supaya yang bersangkutan lebih meningkatkan pengendalian atas ketertiban administrasi
barang serta segera membuat Daftar Inventaris Barang. Berdasarkan pemeriksaan dan hasil
Pra Pembahasan Tindak Lanjut diketahui rekomendasi tersebut belum ditindaklanjuti,
sehingga kondisi yang sama juga terjadi dalam Tahun Anggaran 2004.
e. Penyertaan modal pada beberapa badan usaha tidak didukung bukti kepemilikan yang sah,
dalam hal ini disarankan agar Bupati Aceh Tenggara memerintahkan Kepala Bagian
Keuangan supaya segera melengkapi bukti-bukti kepemilikan atau penyertaan modal
pemerintah daerah, namun hingga pemeriksaan berakhir masih dalam proses sehingga
Laporan Keuangan Tahun Anggaran 2004 belum juga dapat dilampiri dengan Laporan
Keuangan masing-masing badan usaha dimaksud. Kondisi yang sama juga terjadi pada
Tahun Anggaran 2004.
f. Hasil pemungutan PPh pasal 23 dan PPN sebesar Rp 927.850.200,00 belum disetorkan ke
Kas Negara. Atas permasalahan tersebut direkomendasikan agar Bupati Aceh Tenggara
memberikan teguran secara tertulis kepada Bendahara Umum Daerah supaya lebih tertib
dalam administrasi pemungutan pajak diantaranya dengan membuat buku pembantu pajak
serta segera menyetorkan kekurangan pajak tersebut ke Kas Negara. Selanjutnya diketahui
bahwa kekurangan setoran pajak tersebut telah diselesaikan, namun surat teguran kepada
Bendahara Umum Daerah belum diterbitkan.
g. Pengadaan meubeleur diperhitungkan lebih tinggi dari harga standar sebesar
Rp80.701.076,60, dalam hal ini direkomendasikan agar Bupati Aceh Tenggara
memerintahkan Sekretaris Daerah untuk menegur secara tertulis kepada Kepala Bagian
Umum supaya mematuhi ketentuan dan tidak melaksanakan pembelian yang melebihi
harga standar, namun rekomendasi tersebut belum ditindaklanjuti.
h. Pengeluaran dana untuk anggota DPRD tidak sesuai ketentuan sebesar
Rp1.663.550.000,00, dalam hal ini direkomendasikan agar dibuat teguran secara tertulis
kepada Panitia Anggaran DPRD, Sekretaris DPRD, dan Pemegang Kas DPRD agar dalam
melaksanakan tugas mempedomani ketentuan yang berlaku, namun hal tersebut belum
ditindaklanjuti.
i. Terdapat pengeluaran tanpa melalui penerbitan SPM atau melalui mekanisme kas bon
sebesar Rp874.350.481,00 kepada delapan satuan kerja. Dalam hal ini disarankan kepada
Bupati Aceh Tenggara agar tidak menyetujui pengeluaran daerah yang membebani APBD
tanpa mengikuti prosedur yang berlaku, dan segera menetapkan suatu keputusan untuk
melarang adanya pengeluaran melalui kas bon sekaligus menetapkan jangka waktu
penerbitan SPM setelah diajukan SPP sehingga pelayanan kepada pengguna anggaran tidak
terhambat, memerintahkan semua unit kerja pengguna kas bon untuk
mempertanggungjawabkannya serta membuat teguran secara tertulis kepada Kepala
Dinas/Badan supaya mengikuti semua ketentuan yang berlaku mengenai prosedur
pengeluaran keuangan daerah dan kepada Bendaharawan Umum Daerah supaya tidak
mencairkan uang tanpa prosedur yang berlaku. Berdasarkan hasil Pra Pembahasan Tindak
Lanjut diketahui pertanggungjawaban kas bon dan teguran tertulis Kepada Dinas/Badan
masih dalam proses, sedangkan teguran secara tertulis kepada Bendaharawan Umum
Daerah dan rekomendasi kepada Kepala Daerah untuk tidak menyetujui pemberian kas bon
belum ditindaklanjuti. Kondisi yang sama juga ditemukan dalam Tahun Anggaran 2004.
j. Terdapat pengeluaran dana sebesar Rp 1.060.856.061,00 tidak didukung bukti yang sah,
dalam hal ini direkomendasikan agar Bupati Aceh Tenggara menegur secara tertulis kepada
Sekretaris Daerah untuk lebih meningkatkan pengendalian, namun hal tersebut belum
dilaksanakan/ditindaklanjuti. Sedangkan rekomendasi agar Kepala Bagian Umum dan
Pemegang Kas Sekretariat Daerah melengkapi bukti pengeluaran dimaksud sampai dengan
pemeriksaan berakhir masih dalam proses.
k. Terdapat penggunaan Belanja Tidak Tersangka tidak sesuai ketentuan sebesar
Rp1.765.786.100,00, dalam hal ini direkomendasikan agar Bupati Aceh Tenggara tidak
menyetujui penggunaan dana yang tidak sesuai dengan ketentuan tersebut dan meminta
pihak-pihak terkait untuk segera melengkapi bukti-bukti pertanggungjawaban penggunaan
dana dimaksud, namun hal tersebut belum ditindaklanjuti.
l. Terdapat pengeluaran dana yang belum dipertanggungjawabkan sebesar
Rp1.745.516.081,00, dalam hal ini direkomendasikan agar dibuat teguran secara tertulis
kepada Sekretaris Daerah supaya lebih meningkatkan pengendalian dan memerintahkan
kepada yang bersangkutan untuk meminta pertanggungjawaban pengeluaran dana dari
pemegang kas, namun hal tersebut belum ditindaklanjuti.
m. Kegiatan penanggulangan dan normalisasi banjir Sungai Lawe Alas diperhitungkan lebih
tinggi sebesar Rp502.272.727,28, dalam hal ini direkomendasikan agar Bupati Aceh
Tenggara membuat teguran secara tertulis kepada Kepala Dinas Sumber Daya Air supaya
dalam menyusun RASK mempedomani ketentuan yang berlaku dan memperhitungkan
kembali harga satuan pekerjaan dan membuat teguran secara tertulis kepada Kepala
Bappeda, Kepala Bagian Keuangan, Kepala Bagian Administrasi Pembangunan serta Tim
Anggaran Eksekutif supaya lebih cermat dalam menetapkan dan mengevaluasi harga
satuan pekerjaan, namun hal tersebut masih dalam tahap penyelesaian.
n. Perhitungan analisa harga satuan pekerjaan dalam kontrak tidak sesuai ketentuan dan
menimbulkan pemborosan keuangan daerah sebesar Rp153.097.922,32, dalam hal ini
direkomendasikan agar Bupati Aceh Tenggara membuat teguran secara tertulis kepada
Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran supaya dalam menyusun RASK mempedomani
ketentuan yang berlaku serta memerintahkan Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran
menegur CV. Biro Insinyur Arsitek Kutacane supaya mengikuti ketentuan dalam kontrak
perjanjian, namun hal tersebut belum ditindaklanjuti.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan:
a. UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
Negara pasal 20 ayat (1) yang menyatakan bahwa pejabat wajib menindaklanjuti
rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan.
b. PP No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah
pasal 4 yang menyatakan pengelolaan keuangan daerah dilakukan secara tertib, taat pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku, efisien efektif, transparan dan bertanggung
jawab.
Kondisi tersebut mengakibatkan praktek-praktek penyelenggaraan keuangan daerah
yang tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku kembali terjadi pada
Tahun Anggaran 2004 dan upaya menciptakan pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik,
transparan dan akuntabel belum tercapai.
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Kurangnya perhatian Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dalam memperbaiki sistem
pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
b. Fungsi pengawasan yang dilaksanakan oleh DPRD Kabupaten Aceh Tenggara terhadap
penyelenggaraan pengelolaan keuangan daerah belum optimal.
Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tenggara mengemukakan telah melakukan
beberapa tindak lanjut, ke depan langkah-langkah penyelesaian dan perbaikan tetap akan
dilaksanakan.
BPK-RI menyarankan agar:
a. Bupati Aceh Tenggara beserta jajarannya secara aktif melaksanakan/menindaklanjuti
rekomendasi yang disampaikan BPK-RI.
b. DPRD Kabupaten Aceh Tenggara meningkatkan pengawasan atas kesungguhan
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dalam menindaklanjuti rekomendasi yang
disampaikan BPK-RI.

14. Pembayaran kepada PT. Waskita Karya atas Proyek Pekerjaan Pembangunan
Lapangan Terbang Kutacane Lebih Tinggi dari yang Seharusnya Sebesar
Rp399.125.000,00.
Untuk mendukung terwujudnya pembangunan lapangan terbang di Kutacane, maka
berdasarkan kesepakatan antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dengan pihak
Manajemen Leuser sebagai perwakilan dari Uni Eropa dan PT. Waskita Karya, Pemerintah
Kabupaten Aceh Tenggara telah menyiapkan anggaran untuk dana pendamping proyek
dimaksud yang dialokasikan untuk pembangunan gedung terminal, ruang tunggu dan lapangan
parkir.
Dari pemeriksaan atas dokumen pendukung pembangunan lapangan terbang tersebut
diketahui bahwa pada Tahun Anggaran 2003 telah ditandatangani kontrak pekerjaan
pembangunan gedung terminal seluas 800 m2 dan pembangunan jalan seluas 2.500 m2 antara
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dengan PT. Waskita Karya sebagaimana tertuang dalam
Perjanjian Kontrak (Kontrak Induk) No.620/3-September/AF/2003 tanggal 3 September 2003
senilai Rp5.248.294.537,00. Kesepakatan tersebut selanjutnya diikuti dengan
penandatanganan Perjanjian Detail Pekerjaan (Kontrak Anak) No. 621/3-Sept/AF/2003 tanggal
3 September 2003 senilai Rp1.548.562.500,00, jangka waktu pekerjaan dimulai tanggal 3
September s.d 31 Desember 2003. Berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak selanjutnya
dilakukan amandemen kontrak yaitu Amandemen No. 621/16-Januari/2004 tanggal 16
Januari 2004 yang antara lain menyatakan pembangunan gedung seluas 800 M2,
pembangunan jalan seluas 2.500 M2 dengan nilai kontrak anak adalah Rp3.100.000.000,00,
pelaksanaannya dimulai tanggal 3 September 2003 s.d 31 April 2004.
Untuk melaksanakan pekerjaan tersebut PT. Waskita Karya membuat permintaan
pembayaran uang muka kepada Pemimpin Kegiatan sebesar Rp 620.000.000,00 atau 20% dari
nilai kontrak sebesar Rp3.100.000.000,00 yang nantinya akan diperhitungkan melalui
pembayaran termin. Atas dasar permintaan tersebut selanjutnya diterbitkan SKO No.
02/BL/2004 tanggal 13 Februari 2004 dan penerbitan SPM No. 011/BPP-MD/BT/2004 tanggal
1 Maret 2004 sebesar Rp 620.000.000,00 (20 % x Rp 3.100.000.000,00) dengan jaminan uang
muka dari PT. Asuransi Jasaraharja Putra No. Bond 1306002004.00006 yang bertindak sebagai
penjamin.
Selanjutnya diketahui bahwa pada tanggal 8 April 2004 telah diterbitkan SPM untuk
pembayaran termin pekerjaan sebesar 28,50% sebesar Rp662.625.000,00 yang merupakan nilai
SPM untuk pembayaran fisik pekerjaan sebesar Rp883.500.000,00 (28,50% x
Rp3.100.000.000,00) setelah dipotong untuk uang retensi/jaminan sebesar Rp44.175.000,00
(28,50% x 5% x Rp3.100.000.000,00) dan potongan pengembalian uang muka sebesar
Rp176.700.000,00 (28,50% x 5% x Rp3.100.000.000,00). Dengan demikian jumlah uang yang
diterima berdasarkan nilai SPM yang diterbitkan adalah sebesar Rp1.282.625.000,00
(Rp620.000.000,00 + Rp662.625.000,00).
Berdasarkan penjelasan Pemimpin Kegiatan diketahui bahwa PT. Waskita Karya tidak
melaksanakan pekerjaan sesuai dengan tugasnya dan Pemimpin Kegiatan telah memberikan
teguran tertulis sebanyak tiga kali, namun hal tersebut juga tidak mendapat tanggapan dari PT.
Waskita Karya. Berdasarkan kondisi tersebut Pemimpin Kegiatan dan Pengawas Lapangan
melakukan rapat untuk melakukan pemutusan kontrak yang diikuti dengan Surat Dinas
Kimpraswil No. 621/AF/92/2004 tanggal 20 Agustus 2004 dan telah disepakati oleh PT.
Waskita Karya.
Sehubungan dengan pemutusan kontrak tersebut, maka jumlah tagihan yang seharusnya
menjadi hak PT. Waskita Karya adalah sebesar Rp883.500.000,00 (28,50% x
Rp3.100.000.000,00), sehingga dalam hal ini terjadi kelebihan pembayaran sebesar
Rp399.125.000,00 (Rp1.282.625.000,00 – Rp883.500.000,00). Dengan perkataan lain jumlah
tersebut merupakan sisa pembayaran uang muka yang belum dikembalikan sebesar
Rp443.300.000,00 (Rp620.000.000,00 – Rp176.700.000,00) dikurangi dengan potongan uang
retensi/jaminan sebesar Rp44.175.000,00 (28,50% x 5% x………………
Rp3.100.000.000,00).
Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa jaminan uang muka pekerjaan yang
seharusnya dapat digunakan untuk menutupi kelebihan pembayaran tersebut, ternyata sampai
dengan pemeriksaan tanggal 6 Mei 2005 juga belum dicairkan oleh Pemimpin Kegiatan dan
jangka waktu berlakunya jaminan uang muka tersebut telah berakhir.
Kondisi tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Amandemen
Perjanjian Detail Pekerjaan (Kontrak Anak No.1) No. 621/61-Januari/2004 tanggal 16 Januari
2004 pada poin 5.A yang antara lain menyatakan bahwa pembayaran uang muka dapat
diberikan oleh pemilik kepada kontraktor sebesar 20% dari kontrak anak, dan pembayaran
selanjutnya akan dilakukan secara bulanan sesuai dengan kemajuan progress yang dicapai.
Kondisi tersebut mengakibatkan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara dirugikan
sebesar Rp399.125.000,00 (Rp1.282.625.000,00 – Rp883.500.000,00).
Kondisi tersebut terjadi karena:
a. Kelalaian Pemimpin Kegiatan yang tidak mencairkan jaminan uang muka kepada penjamin
yaitu PT. Asuransi Jasaraharja Putra.
b. Pengendalian dan pengawasan Kepala Dinas Kimpraswil sebagai Atasan Langsung belum
optimal.
Pemimpin Kegiatan mengakui temuan tersebut dan akan berupaya menagih kelebihan
pembayaran tersebut secepat mungkin.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara menegur secara tertulis Kepala
Dinas Kimpraswil supaya lebih meningkatkan pengendalian dan pengawasan dan
memerintahkan yang bersangkutan untuk menegur secara tertulis Pemimpin Kegiatan atas
kelalaiannya yang tidak mencairkan jaminan uang muka kepada penjamin dan sesegera
mungkin mencairkan jaminan uang muka dari PT. Asuransi Jasaraharja dan menyetorkan
hasilnya ke Kas Daerah.

15. Jumlah Anggaran Pembangunan Proyek Lapangan Terbang Kutacane yang


Dilaksanakan secara Swakelola Dikalkulasikan dengan Biaya Sewa Alat-alat Berat
Sebesar Rp197.499.000,00.
Sehubungan dengan pemutusan kontrak pelaksanaan pembangunan terminal Airfield
antara PT. Waskita Karya dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara sejak bulan Agustus
2004 maka pelaksanaan proyek tersebut selanjutnya dilaksanakan secara swakelola oleh Dinas
Kimpraswil Kabupaten Aceh Tenggara.
Sesuai dengan amandemen Kontrak Anak No. 1 No. 621/16 Januari/ 2004 tanggal 16
Januari 2004 antara lain disepakati nilai kontrak adalah sebesar…………….
Rp3.100.000.000,00, sedangkan PT. Waskita karya telah mencairkan dana sebesar
Rp1.503.500.000,00, sehingga sisa dana yang diswakelolakan adalah sebesar
Rp1.596.500.000,00, yang ditindaklanjuti dengan penunjukan Pemimpin Kegiatan sesuai
dengan Surat Bupati Aceh Tenggara No.600/105/SK/2004 tanggal 3 September 2004.
Untuk melaksanakan pembangunan tersebut, Pemimpin Kegiatan telah mengajukan
permintaan pembayaran untuk pengadaan material oleh beberapa rekanan yang ditindaklanjuti
dengan penerbitan SPM No. 811/BPP-MD/BT/2004 tanggal 5 Nopember 2004 sebesar Rp
844.896.200,00, dengan rincian sebagai berikut:
No. NAMA REKANAN NAMA JLH JLH HARGA
PENERIMA PEKERJAAN BARANG (RP)
1. T. Achyar, BE CV Cipta Marga Pengadaan Bahan 400 M3 49.500.000,00
2. Ir. Gajah Mada Cipta Agung Pengadaan Bahan 400 M3 49.500.000,00
3. Andi Cuntala CV. Aslia Pengadaan Bahan 400 M3 49.500.000,00
4. Jusniar CV. Luendi Pengadaan Bahan 400 M3 49.500.000,00
5. Selamat Bangko, ST CV. Ciputha Pratama Pengadaan Bahan 400 M3 49.500.000,00
6. Junedi, Skd CV. Serba Guna Pengadaan Bahan 400 M3 49.500.000,00
7. Hendri Selian, ST CV. Arjuna Pengadaan Bahan 307,42 M3 38.043.000,00
8. Junedi, Skd CV Serba Guna Pengadaan Bahan 400 M3 49.751.000,00
9. Gazali Usman PT. Usni Utama Sewa Alat 4 Macam 48.886.000,00
10. Ali Mandor Upah Kerja 4.537.500,00
11. Gazali Usman PT. Usni Utama Sewa Alat 4 Macam 49.985.000,00
12. T. Achyar, BE CV Cipta Marga Pengadaan Bahan 350 M3 47.932.500,00
13. Andi Cuntala CV Aslia Pengadaan Bahan 350 M3 47.932.500,00
14. Ir. Gajah Mada CV Cipta Agung Pengadaan Bahan 350 M3 47.932.500,00
15. Selamat Bangko, ST CV Ciputha Pratama Pengadaan Bahan 350 M3 47.932.500,00
16. Jusniar Dir. CV Luendi Pengadaan Bahan 350 M3 47.932.500,00
17. Hendri Selian, ST Dir. CV Arjuna Pengadaan Bahan 112,52 M3 15.409.000,00
18. Gazali Usman Dir. PT. Usni Utama Sewa Alat 4 Macam 48.922.000,00
19. Gazali Usman Dir. PT. Usni Utama Sewa Alat 4 Macam 49.706.000,00
20. Ali Mandor Upah Kerja 2.994.200,00
Jumlah 884.896.200,00

Data tersebut di atas menunjukkan bahwa pengajuan dana untuk pengadaan material
sebesar Rp 884.896.200,00 pada kenyataannya juga dipergunakan untuk sewa alat-alat berat
dari PT. Usni Utama sebesar Rp 197.499.000,00 dan dikalkulasikan dalam nilai pekerjaan
swakelola, meskipun seharusnya sewa alat berat tersebut tidak termasuk dalam kalkulasi harga
untuk pekerjaan swakelola yang dilaksanakan sendiri oleh Dinas Kimpraswil.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan Keputusan Presiden No. 80 Tahun 2003 tentang
Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa pasal 39 yang menyatakan bahwa swakelola
adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan dan diawasi sendiri. Dengan
demikian maka penyewaan alat-alat berat seharusnya tidak dilakukan karena Dinas Kimpraswil
juga memiliki peralatan untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut.
Kodisi tersebut mengakibatkan biaya pekerjaan swakelola untuk proyek lapangan
terbang dikalkulasikan lebih tinggi sebesar Rp197.499.000,00.
Kondisi tersebut terjadi karena Pemimpin Kegiatan tidak cermat dalam mengkalkulasi
biaya pekerjaan sesuai ketentuan yang berlaku dan belum optimalnya fungsi pengendalaian
dan pengawasan oleh Kepala Dinas Kimpraswil.
Pemimpin Kegiatan mengakui temuan yang disampaikan dan menyatakan hal tersebut
dilaksanakan karena Dinas Kimpraswil tidak memiliki peralatan tersebut.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara menegur secara tertulis Kepala
Dinas Kipraswil supaya lebih meningkatkan pengendalian dan pengawasan dan
memerintahkan yang bersangkutan untuk menegur secara tertulis Pemimpin Kegiatan atas
ketidakcermatannya dalam menyusun kalkulasi biaya pekerjaan dan
mempertanggungjawabkan kelebihan kalkulasi biaya pekerjaan swakelola sebesar
Rp197.499.000,00.

16. Penyelesaian Pekerjaan Rehabilitasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan di Kabupaten


Aceh Tenggara Terlambat.
Berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa dari realisasi Belanja Modal pada Dinas
Kimpraswil pada Tahun Anggaran 2004 sebesar Rp8.690.542.953,00 diantaranya telah
dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi dan pemeliharaan jalan dan jembatan
senilai Rp 3.260.043.000,00 yang telah dikontrakkan kepada PT. Usni Utama berdasarkan
kontrak No. 620/71/PRPJJK/2004 tanggal 15 Juni 2004 senilai Rp2.693.675.454,55 dengan
volume 13.302 M2. Jangka waktu pekerjaan dilaksanakan selama 150 hari kalender dan serah
terima pertama dilaksanakan pada tanggal 11 Nopember 2004.
Selanjutnya diketahui bahwa pekerjaan tersebut telah diaddendum waktu yaitu berdasarkan
addendum No. 620/71.1/PRPJJK/2004 tanggal 12 Nopember 2004 yang pelaksanaannya
menjadi 190 hari kalender terhitung mulai 15 Juni s.d. serah terima pertama tanggal 21
Desember 2004. Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa serah terima pekerjaan pertama
dilaksanakan pada tanggal 30 Desember 2004 berdasarkan Berita Acara Serah Terima Pertama
(PHO) No. 125/BA/PHO/ PRPJJK/2004 tanggal 30 Desember 2004. Dengan demikian
pekerjaan telah mengalami keterlambatan selama sembilan hari kalender yaitu dari tanggal 21
Nopember s.d. 30 Desember 2004.
Kontrak pekerjaan No.620/71.1/PRPJJK/2004 tanggal 12 Nopember 2004 pada pasal
11 ayat (2) yang antara lain menyatakan bahwa keterlambatan waktu pelaksanaan pekerjaan
oleh Pihak Kedua dikenakan denda keterlambatan sebesar 1/1000 per hari dan setinggi-
tingginya 10 % dan memutuskan kontrak secara sepihak
Kondisi tersebut mengakibatkan pemanfaatan pekerjaan belum sepenuhnya sesuai
rencana dan pemborong dapat dikenakan denda sebesar Rp24.243.079,09 (9/1000 x
Rp2.693.675.454,55).
Kondisi tersebut terjadi karena Pengawas Lapangan kurang cermat dalam mengawasi
pekerjaan di lapangan dan Pemborong kurang bersungguh-sungguh dalam melaksanakan
pekerjaannya.
Secara prinsip Pemimpin Kegiatan mengakui temuan yang disampaikan namun
dimohonkan agar dapat dikompensasikan dengan penambahan volume pekerjaan pengaspalan,
sehubungan dengan belum direalisasikannya pembayaran jaminan pemeliharaan.
BPK-RI menyarankan agar Bupati Aceh Tenggara memerintahkan Kepala Dinas
Kimpraswil supaya menegur secara tertulis Pengawas Lapangan atas tindakannya yang tidak
mengawasi pekerjaan sebagaimana mestinya serta memerintahkan Pemimpin Kegiatan untuk
menagih denda keterlambatan sebesar Rp24.243.079,09 dan menyetorkan hasilnya ke Kas
Daerah.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN