Anda di halaman 1dari 26

PERCOBAAN II

I. JUDUL PERCOBAAN : ANALISA ALIRAN DAYA

II. TUJUAN
a. Untuk memeriksa tegangan-tegangan pada setiap bus yang ada didalam
system yang dipelajari, biasanya variasi yang diperbolehkan adalah 5 %
b. Memeriksa kapasitas semua peralatan yang ada dalam system apakah
cukup besar untuk menyalurkan daya yang diinginkan.
c. Untuk memperoleh kondisi mula-mula untuk studi lanjutan yaitu : studi
hubung singkat, studi stabilitas transient dan studi rugi-rugi transmisi.
d. Menganalisa pengaruh perubahan beban pada system yang telah ada
terhadap system aliran beban/daya.

III.PERALATAN
Untuk mengoperasikan dan melaksanakan percobaan-percobaan dalam praktikum
distribusi system tenaga sesuai dengan tujuan praktikum tersebut di atas maka
peralatan yang dibutuhkan antara lain :
a. Software program analisa sistem tenaga
b. Seperangkat PC yang kompetibel

IV. DASAR TEORI


Keadaan suatu sistem tenaga elektrik dapat diketahui bilamana tegangan pada
semua bus diketahui. Salah satu keadaan sistem tenaga elektrik yang paling sering
menjadi perhatian adalah aliran beban. Aliran beban pada cabang-cabang jaringan
dapat dihitung apabila tegangan pada bus diketahui. Masalah utama dalam studi
aliran beban adalah bagaimana menghitung tegangan pada masing-masing bus.
Dari persamaan jaringan I bus =Ybus Vbus , bila I diketahui maka persamaan
dapat diselesaikan untuk menghitung vektor tegangan V. Namun demikian dalam
sistem tenaga elektrik, khususnya dalam penyelesaian aliran beban, biasanya
bukanlah injeksi arus yang diketahui, melainkan injeksi daya, oleh karena itu
penyelesaian hanya dapat dilakukan dengan cara iterasi, yakni secara bertahap
mencari tegangan bus yang akan menghasilkan injeksi daya yang sama dengan daya
yang ditentukan untuk masing-masing bus.
Dalam setiap bus, paling sedikit dua besaran yang harus diketahui, oleh
karena itu dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal tiga tipe bus,
yaitu:
1. BUS PQ
Lazim disebut dengan bus beban. Dalam bus ini besaran yang diketahui
adalah injeksi daya aktif P dan daya reaktif Q, sedangkan magnitude tegangan,
V dan sudut tegangan, δ dihitung.
2. BUS PV
Bus PV atau bus pengendali atau sering pula disebut bus pembangkit,
disini injeksi daya aktif P dan magnitud tegangan V diberikan, sedangkan
sudut tegangan δ dan daya reaktif Q dihitung.
3. BUS AYUN
Bus ayun atau bus penadah, disini magnitud tegangan V dan sudut
tegangan δ diberikan, sedangkan injeksi daya aktif dan reaktif dihitung.
Konsep bus penadah dibutuhkan karena pada bus penadah inilah semua
susut daya pada jaringan ditimpakan. Konsep yang sama berlaku pula pada bus
PV, karena pada bus ini susut daya reaktif ditimpakan.
Meski semua bus yang ada pembangkit dapat dipilih menjadi bus
penadah, namun dalam penyelesaian aliran beban hanya diperlukan sebuah bus
penadah. Untuk memilih bus penadah, cukup diteliti bus mana saja yang masih
memiliki kapasitas cadangan pembangkitan yang cukup. Demikian pula halnya
dengan bus pembangkit yang dikatagorikan sebagai bus PV, tidak semua bus
pembangkit harus dikatagorikan sebagai bus PV.

PENGGUNAAN PROGRAM UNTUK ALIRAN DAYA


Program ini menganalisa beban dengan menganalisa arus beban dengan
mengkalkulasi tegangan bus, factor daya cabang, sekarang, dan menggerakkan arus
sepanjang : seluruh system yang elektrik. Program memperkirakan ayunan,
pengaturan tegangan dan sumber tak diatur dengan berbagai kegunaan dan koneksi
generator. Program menangani kedua-duanya yang radial dan system loop. Metoda
berbeda disediakan untuk dipilih dari dalam rangkan mencapai efisiensi kalkulasi
yang terbaik. Latar belakang teoritis untuk beban [yang] berbeda mengalir kalkulasi
metoda adalah juga disajikan. Bagian toolbar arus beban menyajikan bagaimana
mungkin menjelaskan bagaimana mungkin menjalankan suatu kalkulasi arus beban,
membuka dan memandang suatu laporan keluaran, atau memilih pilihan tampilan.
Bagian Editor Studi Arus Beban menjelaskan bagaimana menciptakan suatu kasus
studi baru, parameter apa yang diperlukan untuk menetapkan suatu kasus studi, dan
bagaimana cara menetapkannya. Bagian pilihan tampilan menjelaskan pilihan apa
yang ada tersedia untuk mempertunjukkan beberapa penyetelan parameter system
dan keluaran menghasilkan pada one-line diagram, dan bagaimana cara
menetapkannya. Bagian metoda kalkulasi arus beban menunjukkan perumusan dari
metoda kalkulasi beban yang berbeda.
Perbandingan pemusatan pada tingkat beban, meningkatkan pemusatan
sederhana tentang parameter system dan bentuk wujud yang berbeda dan
beberapa ujung/persenan pada atas memilih suatu kalkulasi sesuai metoda adalah
juga ditemukan bagian ini. Data yang diperlukan untuk bagian kalkulasi untuk
bagian kalkulasi menguraikan data apa yang diperlukan untuk melaksanakan
kalkulasi arus beban dan dimana jika untuk masuknya. Akhirnya bagian laporan
keluaran studi arus beban menggambarkan dan menjelaskan laporan keluaran dan
format tersebut.
PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN
Persamaan kinerja jaringan sistem tenaga elektrik dengan kerangka acuan
bus dalam bentuk admitansi dinyatakan sebagai berikut:
I bus = Ybus Vbus (V.3-1)

Hubungan-hubungan daya aktif dan daya reaktif pada bus p dapat dituliskan
sebagai :
Pp − jQ p
Ip = (V.3-2)
Vp*

Atau
Pp − jQ p
Vp*
= ∑(G
q∈Γ(p)
pq + jB pq )Vq (V.3-3)

Persamaan arus dalam jaringan yang menghubungkan bus p dengan bus lain
(misal bus q) dapat dinyatakan dengan
y ,pq
i pq = ( Vp − Vq ) y pq + Vp (V.3-4)

Aliran daya aktif dan reaktif antara kedua bus menjadi


Ppq − jQ pq = Vp* i pq

Atau
y ,pq
Ppq − jQ pq = Vp* ( Vp − Vq ) y pq + Vp* Vp
2
(V.3-5)
y ,pq
Pqp − jQ qp = Vq* ( Vq − Vp ) y pq + Vq* Vq
2
Dimana :
y pq = admitansi jaringan (bedakan dengan admitansi bus)
y ,pq = total admitansi pengisian tanah (line charging)
DATA UNTUK STUDI ALIRAN BEBAN
Dalam penyelesaian masalah aliran beban kita dapat menggunakan bentuk
admitansi bus maupun impedansi bus. Dalam pembahasan ini kita hanya
memfokuskan penyelesaian aliran beban menggunakan matriks admitansi bus.
Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi dua
bagian yaitu : data bus dan data jaringan.
Data jaringan yang diperlukan mencakup nilai impedansi seri dari masing-
masing cabang jaringan dan admitansi shunt yang ada pada saluran transmisi.
Selain itu rating dan impedansi transformator, rating kapasitor shunt, dan setelan
sadapan Transformator juga diperlukan (bila ada).
Kondisi kerja dan data bus harus selalu ditentukan untuk setiap studi. Data
bus meliputi daya aktif dan reaktif pembangkitan maupun pembebanan, magnitud
tegangan dan sudut fasa, beserta keterangan lain yang diperlukan.

METODE PERHITUNGAN
Untuk menghitung aliran beban digunakan beberapa metode umum yang
sering digunakan untuk sebagai penyelesaian adalah metode Newton Raphson,
Metode Accelerasi Gauss-Seidel dan Metode Fast Decoupled.
Analisa ini menghitung tegangan bus serta aliran daya, arus, dan faktor
daya pada cabang rangkaian. Program ini memungkinkan sumber daya dengan
mode swing, tegangan teratur(regulated voltage), dan tegangan tak teratur.
Program ini bisa bekerja pada sistem radial dan cincin. Program menyediakan
tiga metode perhitungan yang bisa dipilih, yaitu Newton Raphson, Fast
decoupled, dan Accelerated Gauss-Seidel. Masing-masing memiliki karakteristik
konvergensi yang berbeda.
• Metode Newton Raphson
Metode ini membuat dan menyelesaikan persamaan berikut secara
iterasi :
∆ P   J 1 J 2  ∆δ 
∆ Q   J J  = ∆V  ………………………… (1)
  3 4   

dengan ΔP dan ΔQ adalah vektor selisih daya nyata dan daya reaktif
antara nilai yang ditetapkan dan nilai perhitungan. Δδ dan ΔV menunjukkan
vektor sudut fasa dan besar tegangan dalam bentuk incremental, dan J1
hingga J4 merupakan matrik Jacobian.
Metode ini memiliki karakteristik konvergensi kuadratis yang unik.
Bisanya dia memiliki konvergensi yang cepat dibanding metode lain.
Keuntungan lain adalah kriteria konvergensi diteteapkan untuk mendapatkan
konvergensi selisih daya nyata dan reaktif. Kriteria ini memungkinkan
pengguna menetapkan ketelitian yang diinginkan.
Metode ini sangat tergantung pada nilai awal tegangan bus. Pemilihan
yang teliti untuk nilai awal sangat dianjurkan. Sebelum metode ini dijalankan,
ETAP membuat sejumlah iterasi Gauss-Seidel untuk menetapkan kumpulan
nilai yang dijadikan nilai awal tegangan bus.
Metode Newton-Raphson direkomendasikan sebagai pilihan pertama.

• Metode fast Decoupled


Metode ini diturunkan dari Newton-Raphson. Hal itu berdasar fakta
bahwa perubahan kecil pada besar tegangan bus tidak terlalu mempengaruhi
daya nyata dan perubahan kecil pada sudat fasa tegangan bus tidak terlalu
mempengaruhi daya reaktif. Oleh karena itu, persamaan aliran daya pada
Newton-Raphson bisa digantikan dua persamaan aliaran daya terpisah
(decoupled) yang diselesaikan secara iterasi, yaitu :
[∆ P] [J 1 ] = [ ∆δ ]
[ ∆ Q] [ J 4 ] = [ ∆V ] …………………………………… (2)
Metode ini mengurangi kebutuhan memori hingga setengahnya bila
dibandingkan metode Newton-raphson, dan mengurangi waktu penyelesaian
karena matrik Jacobian bernilai konstan.

• Metode Accelerated Gauss-Seidel


Dari persamaan tegangan nodal system ;

[I ] = [Ybus ] [V ] ……………………………………… (3)

Metode ini menurunkan persamaan aliran daya berikut dan menyelesaikan


secara iteratif :

[ P+ j ] =Q[V ] [Y*b ] [Vu *] s


T ………………………… (4)

dengan ΔP dan ΔQ merupakan vektor daya nyata dan daya reaktif, ΔV


adalah vektor tegangan bus, serta Ybus adalah matrik admitansi sistem.
Metode ini memerlukan nilai awal tegangan bus yang lebih sedikit
dibandingkan metode newton-Raphson dan Fast Decoupled. Metode ini
memriksa toleransi besar tegangan bus antara dua iterasi berurutan untuk
mengendalikan ketelitian jawaban. Umumnya ketelitian besar tegangan di-set
pada 0,000001 pu.
V. PROSEDUR PERCOBAAN
Lakukan percobaan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Jalankan program
2. Pilih file – New Project
3. Tulis nama Project anda dengan nama LF_(no kelompok anda)
4. Lalu akan tampil user information, klik – Ok
5. Buatlah One-Line Diagram seperti dibawah ini pada onne-line diagram
edit mode.

6. Aturlah properties masing-masing alat sesuai dengan data yang diberikan


oleh asisten.
7. Lakukan studi kasus load flow.
Simpan Load-Flow Report dari percobaan yang telah anda lakukan.
VI. DATA HASIL PERCOBAAN
Gambar Rangkaian :

Gambar setelah percobaan :


Data hasil percobaan :
VII. ANALISA PERCOBAAN
Pada praktikum analisa aliran daya ini, kita bisa melakukan analisa pada
daya keluaran, aliran daya pada masing-masing bus, dan rugi-rugi daya pada setiap
saluran. Dan pada praktikum ini kita dapat juga mengetahui bagaimana keadaan
suatu sistem tenaga listrik baik dari tegangan, beban, maupun daya pada masing-
masing generator. Karena daya kita ketahui, maka penyelesaian hanya dapat
dilakukan dengan cara iterasi, yakni secara bertahap mencari tegangan bus yang
akan menghasilkan injeksi daya. Dalam perhitungan analisa aliran daya ini
digunakan tiga iterasi. Sehingga, untuk hal ini kita harus mengetahui paling sedikit
dua besaran, misalnya : daya aktif (P) dan reaktif (Q) pada generator. Dimana
sering kita sebut PQ bus. Dan dari hasil perhitungan manual, didapat rugi-rugi daya
reaktif lebih besar dibandingkan rugi-rugi pada daya aktif.
Untuk mempermudah menganalisa pada praktikum ini digunakan program
ETAP. Program ini didesain untuk melakukan perhitungan dan analisa sistem
tenaga listrik. Baik analisa aliran daya maupun hubung singkat. Namun hasil
perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan program ETAP jauh berbeda
bila kita bandingkan dengan hasil perhitungan secara manual. Terjadi selisih angka
yang cukup besar baik untuk perhitungan daya keluaran, aliran daya pada masing-
masing bus, ataupun rugi-rugi daya pada saluran. Hal ini, dapat dikarenakan tingkat
ketelitian dari praktikan yang masih rendah dalam melakukan perhitungan secara
manual. Dimana, praktikan hanya melakukan 3 iterasi dengan batas ketelitian
0,001. Pada praktikum analisa aliran daya ini,

VIII. JAWABAN TUGAS


Tugas Manual :
Bus 1 = Slack Bus
Indeks Presisi = 0,001
α = 1,5
Base = 100 MVA, 20 kV
Dengan Gauss Seidel tentukan:
1. Daya keluaran pada Generator 1
2. Daya keluaran pada masing-masing bus.
3. Rugi-rugi daya pada saluran Z1 dan Z2
Penyelesaian
Data kawat transmisi :
Kode Bus Impedansi Admitansi Shunt
p-q Zpq
Ypq
1 2 0,4 + j 0,13 0
1 3 0,707 + j 0,707 02
2 3 0,5 + 0,j 866 0

Data pembangkitan beban dan tegangan bus permulaan


Tegangan Generator Beban
Kode P Bus Keterangan
Permulaan MW MVA Q MW MVA Q
1 1,05 + j 0,00 0 0 Slack Bus
2 1,00 + j 0,00 30 40 Load Bus
3 1,00 + j 0,00 0 0 40 30 Load Bus
Penyelesaian:
Matriks admitansi:
1
Y12 = 0,1 + j 0,13 = 2,37 < - 18o = 2,25 – j 0,73

Y11 = Y12 + Y13 = 3,58 – j 1,05


Y22 = Y23 + Y21 = 2,75 – j 1,596
Y33 = Y31 + Y32 = 1,83 – j 1,186
Y12 = Y21 = - Y12 = - 2,25 + j 0,73
Y13 = Y31 = - Y13 = - 1,33 + j 0,32
Y23 = Y32 = - Y23 = - 0, 5 + j 0,866

 3 , 5j1 8, 0 5 - 2 , +2 j 05 , 7 -13 , +3 j 03 , 3 2
 - 2 , +2 j 05 , 7 3 2 , 7j1 5, 5 9- 0 65,+ j 0 , 8 6 6
 
[Y] =

 -1 , +3 j 03 , 3 2 - 0 5,+ j 0 , 8 61 6, 8j1 3, 1 8 6


Perhitungan KLP:
PP + jQ P
KLP =
YPP
Untuk p = 2
(0,0 − j 0,0) − (0,3 − j 0,4) −0,3 + j 0,4 0,5 < 126 ,86 o
KL2 = 2,75 − j1,596
= 2,75 − j1,596
=
3,18 < −30 ,13 o

= 0,16<156o
= -0,147 + j0,06
Untuk p = 3
(0,0 − j 0,0) − (0,4 − j 0,3) −0,4 + j 0,3 0,5 < 143 ,13 o
KL3 = 1,83 − j1,186
= 1,83 − j1,186
=
2,18 < −32 ,9o

= 0,23<176,03o
= -0,23 + j0,016
Perhitungan YLPQ :
YPQ
YLPQ = YPQ – LP =
YPP
−2,25 + j 0,73 2,36 < 162 o
YL12 = 3,58 − j1,05
= = 0,63 < 178,3o = - 0,63+j0,02
3,73 < −16 ,3o

−1,33 + j 0,32 1,37 < 166 ,5o


YL13 = 3,58 − j1,05 = = 0,37 < 182,8o = - 0,37-j0,018
3,73 < −16 ,3o

−2,25 + j 0,73 2,36 < 162 o


YL21 = 2,75 − j1,596 = = 0,74 < 192o= - 0,72-j0,15
3,18 < −30 o

−0,5 + j 0,73 1 < 120 o


YL21 = 2,75 − j1,596 = = 0,314 < 152o= - 0,27+j0,157
3,18 < −30 o

−1,33 + j 0,32 1,37 < 166 ,5o


YL31 = 1,83 − j1,186 = = 0,63 < 199,5o= - 0,6-j0,2
2,18 < −33 o

−0,5 + j 0,866 1 < 120 o


YL32 = 1,83 − j1,186
= = 0,46 < 153o= - 0,6+j0,2
2,18 < −33 o

Perhitungan Itersi Gauss-Seidel :


1. Iterasi 1 ; K = 0
E1 = 1,05+j0,00 (slack bus)
KL2
E21 = o - YL21. E11 – YL23. E3o
( E2 )*
−0,147 + j 0,06
= 1,0 − j 0,0
- (-0,72-j0,15) (1,05) – (-0,27+j0,157) (1,00)

= - 0,147 + j0,06 + 0,756 + j0,1575 + 0,27 – j0,157


= 0,879+j0,0605
E21 = 0,88 < 3,94o
∆E21 = E21 – E2o
= (0,879+j0,06) – (1,0+j0,0)
= - 0,121+j0,06
= 0,135 < 153,6o > 0,001
E21(acc) = E2o + γ ( ∆E21)
= (1,0+j0,0) + 1,5 (-0,121+j0,06)
= 0,818+j0,09
KL3
E31 = o - YL31. E11 – YL32. E21
( E3 )*
−0,23 + j 0,016
= 1,0 − j 0,0
- (-0,6-j0,2) (1,05) – (-0,4+j0,2)(0,818+j0,09)

= - 0,23 + j0,016 + 0,63 + j0,21 –(- 0,327 – j0,128-0,018)


= 0,745+j0,098
E31 = 0,82 < 6,28o
∆E31 = E31 – E0
= (0,745+j0,098) – (1,0+j0,0)
= - 0,26+j0,098
= 0,27 < 159 > 0,001
E31(acc) = E3o + γ ( ∆E31)
= (1,0+j0,0) + 1,5 (-0,26+j0,098)
= 0,61+j0,147
= 0,43 < 19,72o
2. Iterasi 2 ; K = 1
KL3
E22 = 1 - YL21. E11 – YL23. E31
(E2 )*
−0,147 + j 0,06
= 0,818 − j 0,09 -(-0,72-j0,15)(1,05)–(-0,27+j0,157)(0,61+0,147)

= - 0,17 + j0,09 + 0,756 +j0,1575 –(-0,1647–j0,0397+j0,0960,023)


= 0,774+j0,549
E22 = 0,88 < 3,94o
∆E21 = E22 – E21
= (0,774+j0,549) – (0,818+j0,09)
= - 0,044 - j0,459
= 0,46 < - 95,48o > 0,001
E22(acc) = E21 + γ ( ∆E22)
= (0,774+j0,549) + 1,5 (-0,044+j0,456)
= 0,708+j1,233
KL3
E32 = 1
o * - YL31. E1 – YL32. E2
2
( E3 )
−0,23 + j 0,016
= 1,0 − j 0,0
- (-0,6-j0,2) (1,05) – (-0,4+j0,2) (0,708+j1,233)

= - 0,35 + j0,11-(-0,63 - j0,21) – (- 0,31 – j 0,219+j0,155 – 0,1098)


E32 = 0,69+j0,353
∆E32 = E32 – E0
= (0,69 + j0,35) - (0,61+j1,147)
= 0,08+j0,203
= 0,27 < 159 > 0,001
E32(acc) = E32 + γ ( ∆E32)
= (0,69+j0,35) - (0,08+j0,203) (1,5)
= 0,57+j0,045
3. Iterasi 3 ; K = 2
KL3
E23 = 2 - YL21. E11 – YL23. E32
(E2 )*
−0,147 + j 0,06
= 0,708 − j1,233 -(-0,72-j0,15)(1,05)–(-0,27+j0,157) (0,57+0,045)

=-0,013 + j0,109–(- 0,756-j0,1575)–(-0,154–j0,012+j0,096-0,007)


= 0,904+j0,1815
E23 = 0,88 < 3,94o
∆E23 = E23 – E22
= (0,904+j0,1815) – (0,708+j1,233)
= 0,196 – j1,0515
E23(acc) = E22 + γ ( ∆E23)
= (0,708+j1,233) + 1,5 (-0,196+j1,0515)
= 1,002+j0,34
KL3
E33 = 1
2 * - YL31. E1 – YL32. E2
2
(E3 )
−0,147 + j 0,06
= 0,57 − j 0,045 - (-0,6-j0,2) (1,05) – (-0,4+j0,2) (1,002+j0,34)

= - 0,25 + j0,125 - (-0,63 - j0,21) – (- 0,4 – j 0,136+j0,2 – 0,068)


E33 = 0,69+j0,353
∆E33 = E33 – E32
= (0,712 + j0,001) - (0,57+j0,045)
= 0,142+j0,046
= 0,149 < - 17,9 > 0,001
E33(acc) = E32 + γ ( ∆E32)
= (0,57+j0,045) - (0,142 - j0,046) (1,5)
= 0,783 - j0,024
E1 = 1,05+j0,0 = 1,05 < 0o
E2 = 1,002 - j0,34 < 1,06o < - 18,7o
E3 = 0,783 - j0,024 < 0,78o < - 17,56o
 Daya pada bus 1 - 2
P12 – jQ12 = E1* (E1 – E2). Y12
= (1,05 - j0,0) (1,05+j0,0 – 1,002+j0,34) ( 2,25 – j0,73)
= (1,05 – j 0,0) (0,498+j0,34) (2,25 – j0,73)
= 1,453+j0,4167
P12 = 145,3 MW
Q12 = 41,67 MVAR
 Daya pada bus 1 - 2
P21 – jQ21 = E2* (E2 – E1). Y21
= (1,002 - j0,34) (1,002 - j0,3 – 1,05 - j0,0) ( 2,25 – j0,73)
= (1,002 - j0,34) (-0,048 - j0,3) ( 2,25 – j0,73)
= - 0,11 - j0,755
P21 = - 11 MW
Q21 = - 75,5 MVAR
Rugi-rugi
P = P12 + P21
= 145,3 MW + (- 11 MW)
= 134,3 MW
Q = Q12 + Q21
= 41,67 MVAR + (- 75,5 MVAR)
= - 33,83 MW

Tugas modul :
1. Diketahui : Sistem dengan 3 bus seperti gambar dibawah ;
_ _ _
Z a = j 0,6 , Z b = j 0,2 dan Z c = j 0,25

Ditanya : Matriks admitansi ?


Jawab :
1 1 1
y 12
=
Za
= =
j 0.6 0,6∠90 0
= 1,667 ∠ − 90 0 = − j1,667

1 1 1
y 13
=
Zb
= =
j 0.2 0,2∠90 0
= 5∠ − 90 0 = − j 5

1 1 1
y 23
=
Zc
= =
j 0.25 0,25∠90 0
= 4∠ − 90 0 = − j 4

Y11 = Y12 + Y13 = − j1,667 − j 5 = − j 6,667

Y22 = Y21 + Y23 = − j1,667 − j 4 = − j 5,667

Y33 = Y31 + Y32 = − j 5 − j 4 = − j 9

Y12 = Y21 = − y12 = j1,667


Y13 = Y31 = −y13 = j 5

Y23 = Y32 = −y23 = j 4

Maka Matriks Admitansi nya adalah :


− j 6,667 j1,667 j 5
[Y ] =
j1,667 − j 5,667 j 4

j 5 j 4 − j9

2). Diketahui :
Sebuah system dengan 3 bus, memiliki 2 buah generator dan satu beban
serta impedansi masing-masing saluran seperti gambar diatas.
Ditanya :
δ2, δ3, V2, PG1, QG1, QG2, QG3, dan aliran kawat S12 dan S 21 ?
Jawab :

1 1 1
y 12
= = =
Z12 0,02 + j 0,04 0,045 ∠63,43 0
= 22,22∠ − 63,430 = 9,94 − j19,87
1 1 1
y 13
= = =
Z13 0,01 + j 0,03 0,032 ∠71,57 0
= 31,25∠ − 71,57 0 = 9,88 − j 29,65

1 1 1
y 23
= = =
Z 23 0,0125 + j 0,025 0,028 ∠63,43 0
= 35,71∠ − 63,43 0 = 15,97 − j 31,94

Y11 = Y12 +Y13 = 9,94 − j19 ,87 + 9,98 − j 29 ,65 = 19 ,92 − j 49 ,52

Y22 = Y23 +Y21 = 15 ,97 − j 31,94 + 9,94 − j19 ,87 = 25 ,91 − j 51,81

Y33 = Y31 +Y32 = 9,88 − j 29 ,65 +15 ,97 − j 31,94 = 25 ,85 − j 61,59

Y12 = Y21 = −y12 = −9,94 + j19 ,87


Y13 = Y31 = −y13 = −9,88 + j 29 ,65

Y23 = Y32 = −y23 = −15 ,97 + j 31,94

Maka matriks admitansi nya adalah :

 1 ,9 −2 j4 ,59 −29,9 +4 j1 ,89 −79,8 +8 j2 ,69 5



[ Y ] =  − 9,9 +4 j1 ,89 7,9 2− 1j5 ,81 − 11 ,95 +7 j3 ,91 4
 − 9,8 +8 j2 ,69 −51 ,95 +7 j3 ,91 4,8 2−5 j56 ,51  9
3). Data-data komponen yang diperlukan untuk studi aliran daya :
• Data-data yang diperlukan pada komponen power grid, yaitu :
 Operating mode (swing, voltage control atau Mvar control)
 Nominal kV
 % V dan sudut dari swing mode
 % V, Beban (MW) dan Mvar limits (Qmax & Qmin) untuk tegangan
control saat beroperasi
 Beban MW & Mvar untuk Mvar control mode.

• Data-data yang diperlukan pada komponen Motor induksi, yaitu :


 Rated kW/hp & kV
 Power factors & efisiensi saat beban 100%, 75% dan 50 %
 ID kategori beban & % beban
 Data kabel

• Data-data yang diperlukan pada komponen beban statis, yaitu :


 ID beban statis
 Rated kVA/MVA 7 kV
 Power factors
 ID kategori beban & % beban
 Data kabel

• Data-data yang diperlukan pada cabang dari transformer, yaitu :


 Cabang Z, R, X atau nilai X/R & unit, toleransi & temperature jika
diperlukan.
 Kabel & saluran transmisi, jarak & unit
 Rasio trafo (kV) & kVA/MVA, tap, & setting LTU
 Impedance base kV & base kVA/MVA
• Rasio X/R untuk trafo 25 kVA berdasarkan ANSI, yaitu ;
 Pada rating 5 < kVA ≤ 25,
# Untuk group 1, trafo dengan tegangan ≤ 8,32 kV maka rasio X/R nya
adalah 1,13
# Untuk group 2, trafo dengan tegangan 8,32 < kV ≤ 12,47 maka rasio X/R
nya adalah 1,00

IX. KESIMPULAN
• Pada perhitungan aliran daya yang sangat berpengaruh adalah tegangan
dan beban pada masing-masing bus, serta daya pada generator.
• Semakin besar beban, semakin besar pula daya yang dialirkan ke beban
tersebut.
• Rugi-rugi daya reaktif lebih besar dibandingkan rugi-rugi pada daya aktif.
• Daya akan mengalir ke masing-masing bus dan akan diteruskan ke beban

X. DAFTAR PUSTAKA
a. Ir. A. Hamdadi, MS. Analisa Sistem Tenaga. Jurusan Teknik Elektro.
2002.
b. Ir. Hendra Marta Yudha. Proteksi Sistem Tenaga. Jurusan Teknik Elektro.
2000.
c. Modul Praktikum Distribusi Sistem Tenaga. Jurusan Teknik Elektro.
Universitas Sriwijaya. 2006.