Anda di halaman 1dari 13

Laporan Kimia Komputasi

“Pemodelan jalur reaksi esterifikasi antara Asam asetat dan Butanol


dengan menggunakan metode mekanika molekular dan metode
struktur elektronik ab initio HF”

Oleh:

Fashihatul Aini (083234212)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2011
A. Dasar Teori

Terjadinya suatu reaksi antar kedua pereaktan dimulai dengan saling


bertabrakan. Terkadang tabrakan antar molekul itu tidak mengakibatkan suatu
reaksi, molekul-molekul itu hanyalah tepental kembali. Agar bereaksi, molekul-
molekul yang bertabrakan itu harus mengandung cukup energi potensial agar
terjadi pematahan ikatan. Molekul yang bergerak di dalam suatu larutan memiliki
sejumlah energi potensial tertentu dalam ikatan-ikatannya dan sejumlah energi
kinetik tertentu dalam gerakannya. Energi potensial dan kinetik molekul-molekul
itu tidak sama, namun dapat digunakan, pengertian energi molekul rata-rata.
Energi total dari campuran reaksi dapat ditambah, biasanya dengan memanasi
larutan tersebut. Bila dipanasi molekul-molekul memperoleh tambahan energi
kinetik, untuk lebih sering bertabakan dan mengubah energi kinetik menjadi
energi potensial.

Agar suatu reaksi dapat terjadi, beberapa molekul dan ion yang bertabrakan
dalam wadah itu harus memiliki cukup energi untuk mencapai keadaan transisi
pada waktu bertabrakan. Pada keadaan transisi molekul-molekul mempunyai
pilihan yang sama mudahnya, kembali menjadi perekasi atau terus menjadi
produk. Tetapi setelah melewati puncak, dengan hambatan terkecillah yang dapat
menuju ke produk. Selisih antara energi potensial rata-rata pereaksi dan produk,
ialah perubahan entalpi ΔH untuk reaksi tersebut.

Dibawah ini adalah gambar yang akan menunjukkan diagram energy untuk
berlangsungnya reaksi SN2. Energy potensial yang dibutuhkan untuk mencapai
keadaan transisi membentuk suatu barier energy, dalam gambar barier ini adalah
titik energy maksimum.
Tiap molekul yang bereaksi dan menghasilkan produk harus melewati
keadaan transisi, baik strukturnya maupun eneginya. Karena energi molekul-
molekul tersebut tidak sama, maka diperlukan waktu agar semua molekul itu
bereaksi. Persyaratan waktu ini menimbulkan pengertian dan besaran yang disebut
laju reaksi (rate of reaction). Peningkatan konsentasi pereaksi akan meningkatkan
laju terbentuknya produk, karena akan menambah seringnya tabrakan antar
molekul-molekul. Artinya laju reaksi berbanding lurus dengan konsentrasi kedua
pereaksi.

Secara sederhana pengaruh energi pengaktifan terhadap laju relatif reaksi


dapat dirumuskan sebagai; pada kondisi yang sama, reaksi dengan Eakt rendah
akan berjalan dengan lebih cepat. Makin sedikit energi yang diperlukan untuk
reaksi, akan makin banyak molekul yang memiliki cukup energi untuk bereaksi.
Bila satu bahan awal dapat mengalami dua reaksi berbeda yang tak dapat balik
(irreversibel) dan yang menghasilkan dua produk yang berlainan. Bila E akt dari
reaksi balik jauh lebih besar daripada Eakt reaksi, maka reaksi ini besifat eksotem
dan pada hakikatnya tak reversibel. Bila bahan awal dapat mengalami dua macam
reaksi semacam ini, maka produk dari reaksi yang lebih cepat (reaksi dengan E akt
rendah) akan lebih melimpah.

Ea ialah energi keadaan tansisi relatif terhadap pereaksi. Oleh karena itu
terdapat hubungan antara laju relatif reaksi dan energi keadaan transisi. Diantara
reaksi-reaksi yang besaing dengan bahan awal sama, reaksi dengan energi
keadaan transisi yang rendah adalah reaksi yang lebih cepat. Suatu spesi dengan
energi potensial rendah, akan lebih stabil dibandingkan dengan spesi berenergi
potensial tinggi. Oleh karena itu dapat juga dikatakan, reaksi dengan struktur
keadaan transisi yang lebih stabil adalah reaksi yang lebih cepat.

(Gambar 2). Dalam reaksi-reaksi yang bersaing, dengan satu bahan awal,
reaksi dengan Ea rendah akan lebih cepat. Jika reaksi – reaksi itu tak dapat
kembali, maka produk dari reaksi yang lebih cepat akan lebih banyak
menghasilkan produk.

B. Hasil Pengamatan

 Metode mekanika molekuler

1. Energi ikat reaktan


a. Energi Ikat asam asetat

H 3C C OH

Total energi : -1,2655 Kkal/mol


Total energi (gamess): -142868.9396
Bond Length R(0) K(S) Energy
C-C 1,544 15,090 44,000 0,3644
C-H 1,545 11,130 46,000 35,2912
C-H 1,545 11,130 46,000 35,2921
C-H 1,545 11,130 46,000 35,2921
C-O 1,365 13,380 50,500 0,2452
C-O 1,207 12,080 108,000 0,0004
O-H 0,974 0,972 72,000 0,0032
Total 106,4886

b. Energi ikat Butanol

H2 H2 H2
H3C C C C OH

Total energi : 4.7873 Kkal/mol

Bond Length R(0) K(S) Energy


C-C 1,539 15,230 44,000 0,081
C-H 1,114 11,130 46,000 0,000
C-H 1,542 11,130 46,000 34,858
C-H 1,542 11,130 46,000 34,761
C-C 1,550 15,230 44,000 0,214
C-H 1,116 11,130 46,000 0,003
C-H 1,118 11,130 46,000 0,007
C-C 1,540 15,140 44,000 0,207
C-H 1,118 11,130 46,000 0,010
C-H 1,116 11,130 46,000 0,003
C-O 1,423 14,080 53,600 0,087
C-H 1,114 11,110 46,000 0,002
C-H 1,111 11,110 46,000 0,000
O-H 0,966 0,610 46,000 0,008
Total 70,241
2. Energi Ikat Madya

OH

H2 H2 H2
H 3C C O C C C CH 3

OH

Total energi : 10.9107 Kkal/mol

Bond Length R(0) K(S) Energy


C-C 1,518 14,960 44,000 0,141
C-H 1,122 11,130 46,000 0,028
C-H 1,543 11,130 46,000 34,928
C-H 1,543 11,130 46,000 34,937
C-O 1,413 13,930 53,600 0,145
C-O 1,409 14,120 53,600 0,003
C-O 1,411 14,120 53,600 0,001
O-C 1,426 13,890 53,600 0,495
O-H 0,960 0,961 46,000 0,000
C-C 1,543 15,140 44,000 0,257
C-H 1,114 11,110 46,000 0,003
C-H 1,113 11,110 46,000 0,001
C-C 1,549 15,230 44,000 0,206
C-H 1,117 11,130 46,000 0,006
C-H 1,116 11,130 46,000 0,004
C-C 1,553 15,230 44,000 0,267
C-H 1,117 11,130 46,000 0,005
C-H 1,116 11,130 46,000 0,002
C-H 1,122 11,130 46,000 0,026
C-H 1,542 11,130 46,000 34,850
C-H 1,543 11,130 46,000 34,893
O-H 0,959 0,961 46,000 0,001
Total 141,199
3. Energi Ikat Produk

H2 H2 H2
H 3C C O C C C CH 3

Total energi : 9.9337 Kkal/mol

Bond Length R(0) K(S) Energy


C-C 1,518 14,960 44,000 0,141
C-H 1,122 11,130 46,000 0,028
C-H 1,543 11,130 46,000 34,928
C-H 1,543 11,130 46,000 34,937
C-O 1,413 13,930 53,600 0,145
C-O 1,409 14,120 53,600 0,003
C-O 1,411 14,120 53,600 0,001
O-C 1,426 13,890 53,600 0,495
O-H 0,960 0,961 46,000 0,000
C-C 1,543 15,140 44,000 0,257
C-H 1,114 11,110 46,000 0,003
C-H 1,113 11,110 46,000 0,001
C-C 1,549 15,230 44,000 0,206
C-H 1,117 11,130 46,000 0,006
C-H 1,116 11,130 46,000 0,004
C-C 1,553 15,230 44,000 0,267
C-H 1,117 11,130 46,000 0,005
C-H 1,116 11,130 46,000 0,002
C-H 1,122 11,130 46,000 0,026
C-H 1,542 11,130 46,000 34,850
C-H 1,543 11,130 46,000 34,893
O-H 0,959 0,961 46,000 0,001
Total 141,199
 Metode Struktur Elektronik

1. Energi Total Reaktan


a. Energi Total asam asetat

Kinetic Energy = 141809,9482 Kcal/Mol


Potential Energy = -283962,2072 Kcal/Mol
Total Energy = -142152,259 Kcal/Mol

b. Energi Total Butanol

Kinetic Energy = 144585,5642 Kcal/Mol


Potential Energy = -289453,3173 Kcal/Mol
Total Energy = -144867,7532 Kcal/Mol

2. Energi Total Madya

Kinetic Energy = 286374,0157 Kcal/Mol


Potential Energy = -573404,481 Kcal/Mol
Total Energy = -287030,4653 Kcal/Mol

3. Energi Total Produk

Kinetic Energy = 239068,5475 Kcal/Mol


Potential Energy = -478657,9283 Kcal/Mol
Total Energy = -239589,3807 Kcal/Mol

C. Pembahasan

Pada reaksi esterifikasi antara asam asetat dan butanol yang


menghasilkan butil etanoat diperkirakan melalui kompleks keadaan teraktivasi
berupa madya. Pembuktian tersebut dilakukan dengan cara komputasi
menggunakan metode mekanika molekuler (MM) dan metode struktur
elektronik ab initio HF dengan menghitung energi total keadaan dasar dan
energi ikat dari tiap-tiap reaktan dan produknya, energi aktifasi didapatkan
dengan menghitung selisih energi total keadaan dasar antara madya dengan
reaktannya, sedangkan entalphi didapatkan dari selisih energi antara energi
keadaan dasar produk dan reaktan. Dimana reaksinya adalah sebagai berikut:

OH
O
H2 H2 H2
H2 H2 H2 H 3C C O C C C CH3
H 3C C OH HO C C C CH3
OH

O
H2 H2 H2
H 3C C O C C C CH3
Dari hasil pengamatan diperoleh beberapa energi pada setiap fase reaksi
tersebut adalah:

 Menggunakan metode mekanika molekuler

Tabel Energi

Molekul
Energi Total Energi Ikat
(Kkal/mol) (Kkal/mol)
Reaktan
Asam asetat (CH3COOH) -1,2655 106,4886
Butanol (C4H9OH) 4,7873 70,241
Keadaan teraktifasi
Madya 10,9107 141,199
Produk
Butil Etanoat 9,9337 141,199

Ereaktan = Easam asetat + EButanol = (-1,2655) + (4.7873) = 3,5218 Kkal/mol


Emadya = 10,9107 Kkal/mol
Eproduk = 9,9337 Kkal/mol

Diagram Energi

12

10
Energi (Kkal/mol)

0
reaktan madya produk
Perhitungan:

Berdasarkan Total energi


Ea = Emadya – Ereaktan = (10,9107) – (3,5218) = 7,3889 Kkal/mol
ΔH = Eproduk – Ereaktan = (9,9337) – (3,5218) = 6,4119 Kkal/mol

Berdasarkan Energi Ikat


ΔH = ΣEikat reaktan – ΣEikat produk = 176,7296 – 141,199 = 35,5306 Kkal/mol.

Dari hasil perhitungan tersebut dapat pastikan bahwa madya yang


terbentuk selama reaksi esterifikasi antara asam asetat dan Butanol yang
menghasilkan butil etanoat adalah terbukti benar karena pada keadaan
teraktifasinya madya tersebut memiliki energi aktifasi yang bernilai positif, dan
reaksi tersebut mempunyai harga entalphi positif yang berarti reaksi tersebut
bersifat endoterm dan memerlukan energi sebesar 6,4119 Kkal/mol dilihat dari
total energinya dan sebesar 35,5306 Kkal/mol dilihat dari energi ikatnya.
Kedua nilai tersebut sedikit berbeda dikarenakan kurang akuratnya perhitungan
dengan menggunakan metode tersebut dalam komputasi.

 Menggunakan metode struktur elektronik ab initio HF

Tabel energi
Molekul Energi Total (Kkal/mol)
Reaktan
Asam asetat (CH3COOH) 142152,259
Butanol (C4H9OH) 144867,7532
Keadaan teraktifasi
Madya 287030,4653
Produk
Butil Etanoat 239589,3807

Ereaktan = (142152,259) + (144867,7532) = 287020,0122 Kkal/mol


Emadya = 287030,4653 Kkal/mol
Eproduk = 239589,3807 Kkal/mol
Diagram Energi

300000

290000

280000
Energi (Kkal/mol)

270000

260000

250000

240000

230000
reaktan madya produk

Perhitungan:

Ea = Emadya – Ereaktan = (287030,4653) – (287020,0122) = 10,4531 Kkal/mol


ΔH = Eproduk – Ereaktan = (239589,3807) – (287020,0122) = -47430,6315 Kkal/mol

Dari hasil perhitungan menggunakan metode struktur elektronik ab initio


HF tersebut dapat dipastikan bahwa madya yang terbentuk selama reaksi
esterifikasi antara asam asetat dan butanol yang menghasilkan produk butil
etanoat adalah terbukti benar karena pada keadaan teraktivasinya madya
tersebut memiliki energi aktifasi yang bernilai positif yakni sebesar 10,4531
Kkal/mol, dan reaksi tersebut mempunyai harga entalphi negatif yang berarti
reaksi tersebut bersifat eksoterm dan melepaskan energi sebesar 47430,6315
Kkal/mol.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas didapatkan beberapa kesumpulan sebagai


berikut:
1. Energi aktivasi dalam reaksi esterifikasi antara asam asetat dan propanol
dengan melalui kompleks keadaan teraktifasi berupa madya yang dikaji
dengan menggunakan metode mekanika molekuler adalah 7,3889 Kkal/mol
dan dengan menggunakan metode struktur elektronik ab initio HF adalah
sebesar 10,4531 Kkal/mol.
2. Madya pada mekanisme jalur reaksi esterifikasi antara asam asetat dan
butnol terbukti benar secara teori dengan menggunakan komputasi metode
mekanika molekuler (MM) dan mengunakan metode struktur elektronik ab
initio HF.
3. Entalphi (ΔH) pembentukan produk pada reaksi tersebut adalah sebesar
6,4119 Kkal/mol dilihat dari total energinya dan sebesar 35,5306 Kkal/mol
dilihat dari energi ikatnya yang dikaji dengan menggunakan metode
mekanika molekuler (MM), dan sebesar -47430,6315 Kkal/mol yang dikaji
dengan menggunakan metode struktur elektronik ab initio HF. Kedua
metode tersebut memiliki harga entalphi yang berbeda, dengan
menggunakan metode mekanika molekuler harga enthalpi bernilai positif
dan reaksi tersebut bersifat endoterm, namun dengan menggunakan metode
struktur elektronik harga entalphi dari reaksi tersebut adalah negatif yang
menandakan bahwa reaksi tersebut adalah bersifat eksotermis.
4. Hasil perhitungan dengan menggunakan metode struktur elektronik ab initio
HF lebih akurat jika dibandingkan dengan menggunakan metode mekanika
molekuler karena metode mekanika molekuler tidak dapat menjelaskan
adanya transisi elektronik selama reaksi terjadi yang dapat dijelaskan
dengan menggunakan metode struktur elektronik ab initio HF.