Anda di halaman 1dari 4

SARAN DAN MASUKAN

UNTUK IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ATAS KEPUTUSAN RELOKASI


TERHADAP PENGUNGSI BENCANA ERUPSI GUNUNG MERAPI 2010
DESA BALERANTE KECAMATAN KEMALANG
KABUPATEN KLATEN

Oleh :
Herman Suryosardjono .
Anggota Unsur Pengarah BPBD Provinsi Jawa tengah
Dari Masyarakat Proffesional.

Ringkasan Eksukutip

Kebijakan untuk merelokasi relokasi warga yang terkena erupsi Gunung Merapi adalah
sebuah keputusan yang sangat tepat namun juga harus dikuti pula dengan kebijakan
kebijakan lain maupun implementasi yang baik dan terarah.Selain bantuan dana untuk
membuat huntap maka perlu diperhatikan aspek aspek akses ekonomi agar warga dapat
secara mandiri dan hidup normal seperti sedia kala

I Latar Belakang Masalah

Bahwa sampai dengan saat ini lebih kurang 165 Keluarga warga Balerante Kecamatan
Kemalang dengan status pengungsi masih menempati rumah hunian sementara ( Huntara ) di
Bumi Perkemahan Kepurun sebagai akibat dari adanya bencana erupsi Gunung Merapi bulan
Oktober 2010 .
Selain kehilangan harta benda seperti Rumah beserta isinya maupun akses sumber
ekonomi yang selama ini bermanfaat untuk menopang kehidupan sehari hari ,selama 5 bulan
warga juga berada dalam ketidak pastian terhadap isu isu yang berkembang yang menyangkut
nasib kehidupannya

Adapun konten atas isu isu tersebut antara lain :

1.Permit ( boleh tidaknya ) warga untuk menempati kembali rumah yang rusak akibat bencana
erupsi
2.Permit untuk pemanfaatan sumber alam dan akses ekomomi seperti sedia kala baik sumber
alam,pertanian maupun peternakan .
3.Ketiadaan sumber alternatip selain melakukan kegiatan pemanfaatan sumber
alam,peladangan,peternakan maupun sektor jasa ( perdagangan dan pertukangan).
4.Dilakukan relokasi dan berimplikasi hingga warga akan kehilangan status tanah garapanya .

Selain isu isu yang berkembang tersebut juga ditemukenali adanya pendapat bahwa
masyarakat ditempat tersebut lebih memahami karakter dan sifat sifat kegunung apian
dibandingkan dengan masyarakat lain ,selain itu sebagian besar warga merasa sudah turun
temurun hingga 3 sampai dengan 4 generasi menempati wilayah Balerante dan berpendapat
bahwa siklus aktivitas gunung Merapi ( gejala aktivitas tiap 4 s.d 6 tahun ) tidak bersifat mulak.

II.Kebijakan Dalam Kerangka Pemecahan Masalah

Bahwa terhadap warga yang bermukim di Desa Balerante kecamatan Kemalang


Kabupaten Klaten yang berada pada radius 5 Km maka pemerintah tetap menempuh kebijakan
untuk :

1.Merelokasi warga Desa Balerante


2.Memberikan Subsidi / Bantuan sebesar 30 juta untuk Membangun Hunian tetap
3.Pemberian Bantuan penyediaan tanah untuk perumahan seluas 150 m 2

III.Penilaian Kebijakan

Bahwa kebijakan untuk merelokasi warga Desa Balerante adalah sebuah keputusan yang
sangat tepat mengingat terdapatnya potensi sumber ancaman bencana sehingga pertimbangan
untuk keselamatan dan perkembangan masa depan warga Balerante merupakan pertimbangan
utama.

IV.Saran dan Masukan

Bahwa terhadap keputusan untuk merelokasi warga Desa Balerante Kecamatan


Kemalang Kabupaten Klaten maka bersama ini disampaikan saran antara lain :

1.Warga dibebaskan untuk memilih tanah yang akan digunakan sebagai tempat hunian tetap
demikian juga dengan model rumah yang akan di huni namun tetap berpedoman dengan
rumah sehat yang layak huni sesuai dengan kebutuhan dan anjuran dari pemerintah.

2.Diperlukan suatu perangkat peraturan yang kuat di semua level agar masyarakat maupun
pihak tidak lain tidak mempunyai kesempatan untuk kembali ke tempat semula untuk menetap
kecuali kegiatan kegiatan yang bersifat sementara.

3.Bahwa kebijakan tersebut tetap dilaksanakan walaupun masih terdapat warga yang belum
setuju dengan adannya relokasi tersebut namun dimulai dahulu dengan yang setuju sedangkan
yang belum setuju diharapkan untuk tetap tinggal ditempat huntara dan dipastikan warga yang
belum setuju untuk tidak kembali ke tempat asal maka Lambat laun sebagian warga yang
belum setuju akan megikuti jejak warga lain untuk bersedia direlokasi
4.Pertemuan dengan warga dalam kerangka relokasi tetap dilaksanakan secara terus menerus
namun sudah tidak ada tawar menawar kecuali tetap memutuskan adanya relokasi sambil
menjaring aspirasi warga yang berkenaan dengan hal hal yang berkaitan dengan
penanggulangan bencana.

5.Selain keputusan untuk melakukan relokasi namun juga diikuti kebijakan lain yakni mengenai
pentingnya pengurangan risiko bencana dan rencana kontijensi lokal .

6.Warga tetap diperkenankan untuk mengelola sumber daya alam yang semula merupakan
sumber / akses ekonomi utama maupun melakukan pengeloaan terhadap ladang / tanah
pertanian sebagai sumber makanan maupun pakan ternak yang dimilikinya.

7.Bahwa untuk mewujudkan kebijakan tersebut diperlukan suatu lembaga yang sekiranya
dapat melakukan pendampingan yang berasal dari berbagai satuan kerja perangkat daerah
(SKPD) dengan sumber daya yang kompeten sehingga problem kebencanaan yang kompleks
( multi sektor ) dan tidak hanya menyangkut masalah hunian saja maka segera dapat teratasi