Anda di halaman 1dari 6

HUBUNGAN KOMUNITAS PT MADUBARU

BACKGROUND

PT. Madubaru merupakan sebuah perseroan terbatas yang didirikan pada tanggal 14 Juni
1955. PT Madubaru, yang merupakan pemilik dari pabrik yang berada di Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta, tepatnya di desa padokan, Tirtonirmolo, kelurahan Kasihan, di kabupaten
Bantul ini umumnya lebih banyak dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai Madukismo.
Madukismo ini sendiri terdiri dari dua pabrik, yaitu pabrik gula dan pabrik alkohol atau spiritus.
Pabrik ini menjadi satu-satunya pabrik di Yogyakarta yang mendapatkan tugas untuk
menyukseskan program pengadaan pangan nasional, khususnya untuk kategori gula pasir.

Dalam sejarahnya, Yogyakarta merupakan kota yang sangat lekat dengan industri gula.
Hal ini tidak lepas pada banyaknya jumlah pabrik gula yang berdiri di wilayah ini pada masa
Belanda. Namun tidak banyak yang mengetahui betapa lekatnya kota ini dengan gula. Petunjuk
akan hal ini dapat kita perhatikan di dalam budaya masyarakatnya yang menyukai segala sesuatu
yang berasa manis. Namun, adanya catatan dari J. Marches, Overzicht van de Bedriftsresultanten
Betreffende Campagne 1941 yang dikeluarkan oleh Proefstation Voor Java Suikerindustrie
sekarang berubah menjadi Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) banyak
mengagetkan berbagai pihak, terutama mereka yang lahir setelah masa kemerdekaan. Dari
catatan tersebut diketahui, dalam wilayah sekecil Yogyakarta, terdapat begitu banyak pabrik
gula. Saat itu pabrik gula yang berdiri di provinsi ini mencapai angka 17 buah. Ketujuhbelas
pabrik gula ini di antaranya adalah PG Randugunting, PG Tanjungtirto, PG Kedaton Pleret, PG
Wonocatur, PG Padokan, PG Bantul, PG Barongan, PG Sewu Galur, PG Gondanglipuro, PG
Pundong, PG Gesikan, PG Rewulu, PG Demakijo, PG Cebongan, PG Beran, PG Medari, dan PG
Sendangpitu1. Bahkan, pada masa tersebut, Belanda bahkan sempat merencanakan melakukan
pembangunan pelabuhan di Parangtritis untuk mempermudah jalur distribusi dalam perdagangan
gula.

Meski demikian, kondisi industri gula tidak selalu berjalan dengan baik. Pada masa itu,
terjadi mallaise yang melanda dunia. Hal tersebut terjadi akibat supply gula pasir di dunia yang
mengalami kelebihan dan pada akhirnya membuat harga gula menjadi jatuh. Pada masa ini
pemerintah Belanda terpaksa memberlakukan kesepakatan perdagangan gula, yaitu Charbourne
Agreement, yang disetujui pada tahun 1931. Pada perjanjian tersebut pemerintah Belanda harus
mengurangi produksi gulanya. Produksi gula di Jawa yang pada awalnya dapat mencapai 3 juta
ton harus turun menjadi 1,4 juta ton per tahun. Akibat perjanjian ini, 9 pabrik gula akhirnya
mengalami kebangkrutan dan harus ditutup. Yang masih bisa bertahan dan terus beroprasi hanya
8 pabrik, yaitu, PG Tanjungtirto, PG Kedaton Pleret, PG Padokan, PG Gondang Lipura, PG
Gesikan, PG Cebongan, PG Beran, serta PG Medari. Meski berhasil bertahan dari krisis tersebut,
namun kejatuhan mereka tidak bisa dihindari. Dunia memasuki perang dunia kedua dan Jepang
yang mulai menduduki Indonesia saat itu membumihanguskan pabrik-pabrik gula yang tersisa.

Madukismo pertama kali dibangun pada tahun 1955, setelah massa kolonialisme dan
penjajahan. Pembangunannya sendiri dilakukan diatas bekas bangunan pabrik gula Padokan

1
http://madubaru.comyr.com/sejarah/sejarah1.html
yang merupakan salah satu Pabrik Gula di DIY di masa pemerintahan Belanda yang ikut
dibumihanguskan saat penjajahan Jepang selama perang dunia kedua. Pendirian pabrik gula ini
diprakarsai langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Pemilihan kontraktor dilakukan dan
akhirnya pabrik ini menggunakan kontraktor yang berasal dari Jerman Timur, yaitu Machine
Fabriek Sangerhausen. Peresmiannya sendiri baru dilakukan pada 3 tahun setelahnya, yaitu pada
tanggal 29 Mei 1958, oleh presiden Republik Indonesia yang pertama, yaitu Ir.Soekarno. Sejak
peresmian tersebut, pabrik gula memulai produksinya untuk yang pertama kali di tahun itu juga.
Sedangkan untuk pabrik Spiritusnya baru mulai melakukan produksi satu tahun setelahnya, yaitu
di tahun 1959.

Pada tahun 1955 hingga tahun 1962, Madukismo menjadi perusahaaan swasta atau
Perseroan Terbatas. Kemudian dari tahun 1962 hingga tahun 1966 BPU-PPN bubar. Saat itu,
pabrik-pabrik gula yang ada di Indonesia bias menentukan pilihan untuk tetap menjadi
perusahaan milik negara atau kembali menjadi perusahaan swasta. Dengan berbagai
pertimbangan, PT madubaru mengambil keputusan untuk kembali menjadi perusahaan swasta.
Pada tahun Hingga tahun 1984, PT Madubaru tetap berdiri sebagai perusahaan swasta dengan
susunan Direksi yang dipimpin oleh Hamengku Buwono IX sebagai Presiden Direktur. Pada
tanggal 4 Maret 1984 hingga 24 Februari 2004 PT.Rajawali Nusantara Indonesia (PT.RNI)
mengadakan kontrak managemen dengan perusahaan ini. Hingga saat ini PT madubaru
merupakan perusahaan mandiri dan independent dibawah pengelolaan profesional. Pada Awal
berdirinya, mayoritas kepemilikan saham Madukismo, yaitu sebanyak 75 persen, ada dibawah
Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sedangkan sisanya yaitu 25% dimiliki Pemerintah Indonesia
dengan melalui kepemilikan dan pengelolaan Departemen Pertanian RI. Namun, dengan adanya
kontrak managemen baru, saat ini tinggal 65% saham PT Madubaru saja yang dimiliki oleh Sri
Sultan Hamengku Buwono X yang merupakan penerus dari pemilik saham sebelumnya yang
sekaligus merupakan raja Yogyakarta, yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sedangkan
sisanya, yaitu 35% adalah milik pemerintah yang dikuasakan kepada PT.Rajawali Nusantara
Indonesia (PT.RNI).

Saat ini, Visi dari PT MAdubaru sendiri adalah menjadikan PT.Madubaru ( PG/PS
Madukismo) perusahaan agro industri yang unggul di Indonesia dengan menjadikan Petani
sebagai mitra sejati Sedangkan misinya adalah, yang pertama, menghasilkan Gula dan Ethanol
yang berkualitas untuk memenuhi permintaan masyarakat dan industri di Indonesia. Yang kedua,
menghasilkan produk dengan memanfaatkan tekhnologi maju yang ramah lingkungan ,dikelola
secara profesional dan inovatif,memberikan pelayanan yang prima kepada pelanggan serta
mengutamakan kemitraan dengan petani. Ketiga, mengembangkan produk/bisnis baru yang
mendukung bisnis inti. Terakhir, menempatkan karyawan dan stake hoders laninya sebagai
bagian terpenting dalam proses penciptaan keunggulan perusahaan dan pencapaian share holder
values.2

Hubungan Komunitas

Kondisi masyarakat di sekitar Madukismo sendiri cenderung beragam. Namun di sini,


komunitas masyarakatnya lebih cenderung pada komunitas sosial. Komunitas sosial ini dicirikan
dengan adanya konstruksi nilai-nilai sosial yang lebih dominan dibandingkan dengan nilai-nilai
2
http://madubaru.comyr.com/visi.html
yang lain. Dalam hal ini, mereka sangat peka terhadap nilai sosial yang ada. Umumnya, warga
sekitar aktif dalam hal gotong royong atau kegiatan desa lainnya dan memiliki kebersamaan
sosial yang kuat. Dalam beberapa hal, mereka yang tidak aktif di dalam hal-hal semacam ini
akan mendapat gunjingan masyarakat dan pengucilan. Opinion leader adalah mereka yang
memiliki posisi sosial yang kuat. Masyarakat akan lebih percaya kepada mereka yang memiliki
posisi-posisi penting seperti ketua dasawisma, ketua pengajian, RT, Lurah, dan pihak kelurahan
dari pada mereka yang tidak memiliki posisi sosial. Mereka yang berada di posisi-posisi penting
ini biasanya pendapatnya akan lebih didengar dan diikuti oleh yang lain. Untuk itu, dalam
beberapa hal, PT Madubaru banyak melibatkan pihak kelurahan tempatnya berada.

Sistem yang dilakukan dalam penanaman tebu umumnya adalah dengan sistem kontrak
dan perekrutan musiman. Dalam melangsungkan kerjasama dengan komunitas petani di wilayah
sekitar Madukismo sendiri, yaitu Kasihan, Madukismo banyak melakukan kerjasama dengan
pihak kelurahan Kasihan. Umumnya, petani di wilayah tersebut akan dikumpulkan di kelurahan
dan perundingan kerjasama antara petani dengan PT Madubaru akan dilakukan dengan
didampingi oleh pihak kelurahan. Selain itu, pada saat pembagian hasil, mereka tidak mengambil
di Madukismo namun mereka harus datang dan mengambil di kantor kelurahan. Yang akan
membagikan hasil kerja mereka adalah orang dari pihak kelurahan. Dengan kondisi masyarakat
yang lebih percaya pada mereka yang memiliki kedudukan atau posisi sosial, pengaturan ini
membuat masyarakat menjadi lebih percaya dan mudah diajak bekerjasama. Masyarakat tani di
wilayah ini pun mayoritas setuju untuk melakukan kerjasama dalam pemberdayaan uantuk
penanaman tebu. Sebagai bentuk terimakasih atas kerjasama yang dilakukan, selain pembayaran
yang disesuaikan dalam kontrak, para petani umumnya mendapat kiriman gula setelah
penggilingan. Sementara itu, mereka yang memilih untuk tidak setuju terhadap kerjasama
penanaman tebu ini dan memilih menanam tanaman lain pada akhirnya akan mengalami
kesulitan tersendiri. Perbedaan irigasi antara tanaman tebu dan tanaman yang lain akan membuat
mereka sulit untuk melakukan pengairan.

PT madubaru juga melakukan berbagai inovasi dalam hal kelembagaan tani. Pada tahun
1998 Madukismo melakukan upaya berupa kerjasama dengan petani dalam menjalankan
usahatani tebu dan memberikan jaminan pendapatan minimum (JPM). Tindakan yang dilakukan
olehMadukismo ini mampu mengurangi kecenderungan penurunan lahan tebu. Petani yang
memeperoleh JPM adalah petani yang melakukan adopsi inovasi kelembagaan dengan
menjalankan usahtani tebu rakyat Kemitraan (TR Kemitraan) dan usahatani tebu kerjasama
usaha (TR KSU). Besarnya JPM yang diberikan kepada petani akan disesuaikan dengan potensi
lahan yang ada. Pada pelaksanaan usahtani TR KSU yang dilakukan di lahan tani kelas I akan
mendapatkan JPM yang lebih banyak daripada yang tidak di sawah kelas tersebut. Di sisi lain,
petani yang memilih untuk melakukan usahatani tebu rakyat Mandiri (TR Mandiri) tidak
memperoleh JPM. Para petani tebu yang bergabung dalam kelembagaan TR KSU dan TR
Kemitraan dalam menjalankan usahatani tebu akan terikat kontrak dengan PG Maduksimo.
Sementara petani yang tidak tergabung dalam TR Mandiri akan menjalankan usaha tani dengan
tidak terikat kontrak. 3

3
Unggul Priyadi, Peranan Inovasi Kelembagaan Pabrik Gula Madukismo Terhadap Pelaksanaan Usaha Tani Tebu
Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta, F E Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Selain menjalin hubungan dengan komunitas tani, PT Madubaru juga memiliki kedekatan
dengan masyarakat sekitar. Berdirinya pabrik Madukismo banyak membuka lapangan kerja bagi
masyarakat sekitar. Dari munculnya peluang masyarakat untuk menjalankan usaha tani tebu yang
tidak hanya berasal dari wilayah sekitas sata, namun juga banyak dari banyak daerah Bantul,
seperti sewon, Kasihan, srandakan, atau dari wilayah lain seperti Sleman, Prambanan, Magelang
hingga wates yang memberikan peluang kerja bagi para petani. Proses penebangan hingga proses
pengangkutan dengan lori atau truk, hingga proses di dalam pabrik yang juga membutuhkan
banyak tenaga mampu memberikan peluang kerja dan memberdayaan mereka yang ada di sekitar
kawasan Kasihan maupun wilayah-wilayah lainnya.

Untuk menjalin hubungan baik denngan masyarakat sekitar, Madukismo banyak


melakukan berbagai program, yaitu, Madukismo sempat memberikan listrik gratis bagi warga
sekitar dengan menggunakan tenaga uap yang ada di pabriknya. Selain itu, mereka juga
memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat umum sebagi wujud dari kerperdulian
PT.Madubaru dengan masyarakat sekitar. praktek Dokter dilakukan setiap hari Senin ampai
dengan hari Sabtu, dari jam 08.00 WIB hingga selesai dengan bertempat di Balai Pengobatan
PT.Madubaru Yogyakarta. Sedangkan, hari libur seperti hari minggu atau hari besar lainnya
balai pengobatan ini ditutup. Di balai pengobatan ini, Madukismo menyediakan dua dokter jaga,
yaitu, Dr.Yos Benito Armand yang melakukan praktek setiap hari Senin , Selasa , hingga Rabu
dan buka dari jam 08.00 hingga selesai. Sedangkan Dr.Lia Ratna Sari Praktek setiap hari Selasa,
Kamis, dan Sabtu pada jam yang sama. Di balai pengobatan ini, PT Madubaru melayani
pemeriksaan untuk penyakit-penyakit umum, pengadaan program KB, tes kehamilan, hingga
foto rongten. Selain membuka klinik pengobatan, PT madukismo juga mengadakan pengobatan
gratis yang umumnya dengan melalui kerjasama dengan Pukesmas kasihan yang terletak di
lingkungan kelurahan. Dalam bidang pengobatan, madukismo juga pernah mengadakan bis
sekolah gratis.

Di sisi lain, masyarakat di sekitar mungkin juga sudah awam dengan istilah Cembengan.
Cembengan merupakan upacara perkawinan tebu yang sudah berlangsung selama puluhan tahun
sejak pabrik ini berdiri. Upacara ini telah menjadi pesta rakyat dan wujud syukur masyarakat
akan datangnya musim gilingan tebu yang tujuannya agar penduduk siap menyambut datangnya musim
giling, sekaligus dengan permohonan agar proses penggilingan tebu menjadi gula bisa selamat tanpa aral melintang.
Kata Cembengan sendiri merupakan kata dari istilah Cina, yaitu Cing Bing yang merupakan perjalanan ke makam
leluhur, yang biasanya dilakukan oleh para pekerja Tionghoa di pabrik yang berubah menjadi Cembengan karena
masalah pelafalan. Dalam acara ini, dilakukan kirab manten tebu, dengan pasangan pengantin tebu pria dan wnita,
yaitu kyai Tumpak dan Nyai Pon yang diarak dengan 2 ekor kuda. Arak-arakan biasanya diramaikan dengan
marchingband yang berasal dari sekolah-sekolah disekitar pabrik, arakan prajurit Kraton, dan berbagai kelompok
kesenian, seperti kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Sesaji dalam ritual ini adalah 2 kepala sapi yang
dikubur di dekat mesin giling serta sejumlah 40 ingkung (ayam utuh) dan uba-rambpe lainnya
untuk sesaji seluruh unit kerja pabrik. Selain itu, ada juga acara seperti pasar malam yang dipenuhi oleh
berbagai pedagang dan berisi berbagai atraksi.

Dengan adanya acara-acara di atas, Madukismo berhasil membangun ikatan emosional dengan masyarakat
sekitar. Apalagi, dengan adanya ikatan antara pabrik dengan pihak keraton yang selalu ditunjukan melalui
Cembengan, masyarakat menjadi lebih menerima keberadaan pabrik dan lebih mudah diajak bekerjasama oleh
pihak pabrik. Hal ini tidak lepas dari budaya dan tradisi masyarakat Jogja yang masih sangat kental. Selain itu,
masyarakat juga sangat menjungjung Sultasn dan masih menghormati Kraton. Sehingga, jika ada masalah yang
berkaitan dengan keberadaan pabrik pun, biasanya masyarakat sungkan terhadap Sri Sultan Hamengku
Buwono. Selain itu, masyarakat yang telah memiliki ikatan terhadap pabrik gula serta bagaimana
pentingnya posisi pertanian tebu dalam masyarakat yang telah yang telah berakar sejak masa
kolonialis dan pembakaran peristiwa pembakaran pabrik gula yang merupakan sumber
penghidupan saat itu membuat mereka memiliki ikatan emosional yang kuat dengan satu-satunya
pabrik yang masih tersisa ini. Namun, masyarakat di daerah ini terus berkembang. Tidak hanya
masyarakat tradisional saja yang saat ini tinggal di wilayah ini. Banyak masyarakat di daerah ini
yang saat ini lebih terbuka dan moderat. Selain itu, wilayah ini juga sudah banyak berkembang
dan banyak masyarakat pendatang. Di sisi lain, saat ini masayrakat telah berganti generasi.
Banyak yang tidak mengetahui peristiwa pembakaran pabrik ataupun mengikuti upacara
tradisional. Selain itu, masyarakat di daerah ini tidak lagi hanya bergantung pada pertanian.
Banyak dari mereka yang memiliki pekerjaan yang tidak berhubungan dengan pertanian atau
tebu. Sehingga hidup mereka tidak terpengaruh dengan operasi pabrik. Sehingga, dalam
beberapa tahun terakhir, masalah mulai muncul dan protes terhadap madukismo mulai marak.
Banyak warga, teruama yang di selatan pabrik yang mengeluh karena air buangan limbah yang
banyak dialirkan ke selatan yang mengganggu warga. Warga sekitar Pabrik Gula Madukismo
juga mengeluhkan limbah asap yang keluar dari cerobong asap pabrik. Asap yang disertai
dengan debu hitam mengental itu menganggu pernafasan dan mengotori pemukiman penduduk
di sekitarnya. Warga meminta pihak manajemen segera memperbaiki instalasi limbah asap
dengan teknologi lebih memadai. pada hari Minggu 3 Agustus 2008 warga Dusun Jogonalan,
Desa Tirtonirmolo menggelar aksi unjuk rasa meminta wilayahnya dibebaskan dari limbah debu
asap. Menurut mereka debu asap tersebut telah mencemari udara di sekitar permukiman warga,
sehingga mengganggu pernafasan. Walhi juga mulai angkat bicara setelah 2 orang tewas akibat
berendam di aliran limbah pabrik. Warga juga tidak dapat berternak ikan akibat adanya aliran
limbah ini. Di sekitar sungai Winongo sendiri, banyak warga yang menggantungkan hidup pada
perternakan ikan. Pada tahun 2009 lalu, mereka mengalami kegagalan panen iklan hingga hampir
sejumlah 7 ton. Pihak Madukismo sendiri menyangkal karena limbah mereka dialirkan di
Winongo kecil bukan sungai Winongo besar. Selain itu Madukismo juga pernah bermasalah
dengan kelompok tani yang melakukan demo terhadap perusahaan ini atas masalah pembayaran.

Jika tidak diatasi, meski mendapat dukungan dari keraton pun, krisis dapat terjadi dan
dapat mengancam kelangsungan hidup perusahaan untuk itu, pihak Madukismo harus melakukan
tindakan pencegahan agar protes tidak semakin menyebar dan masyarakat mau mendukung
keberadaan pabrik. Untuk itu, Madukismo mau tidak mau harus merangkul masyarakat generasi
baru yang ada di wilayahnya, menjalin hubungan dengan komunitas peternak ikan, dan
memperbaiki kerjasama dengan para petani. Beberapa hal yang dapat dilakukan Madukismo
adalah:

• Mengadakan pertemuan dengan para peternak ikan


• Mengadakan diskusi dan pertemuan rutin dengan para kelompok tani.
• Melakukan CSR
• Melakukan berbagai kegiatan sosial yang dapat mencakup generasi yang lebih muda dan
pendatang.
Sumber:

http://www1.kompas.com/read/xml/2009/06/02/18305289/bupati.bantul.yakin.madukismo.bersal
ah

http://www.antaranews.com/view/?i=1222146863&c=WBM&s=

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/39973/Bab%20V%20F95wah.pdf?
sequence=10

http://mycityblogging.com/yogyakarta/2009/04/25/cembengan-tradisi-menyambut-musim-
giling-pg-madukismo/

http://www.jogjatrip.com/id/566/upacara-cembengan

http://www.infoanda.com/id/link.php?lh=CQUOVQNVBwUC

http://bantulbiz.com/id/bizpage_budaya/id-150.html