Anda di halaman 1dari 8

IPA

Bencana Alam
[TSUNAMI]

 Disusun Oleh:
 Ahmad Siddiq
 Heri Antonius
 Jovan
 Lulu Pratiwi
 Terence Reno
 Yunita Anggraini

1. PENGERTIAN
Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu berarti
"pelabuhan", dan nami berarti "gelombang", sehingga tsunami
dapat diartikan sebagai "gelombang pelabuhan".

Istilah ini pertama kali muncul di kalangan nelayan Jepang.


Karena panjang gelombang tsunami sangat besar, pada saat
berada di tengah laut, para nelayan tidak merasakan adanya
gelombang ini. Namun setibanya kembali ke pelabuhan, mereka
mendapati wilayah di sekitar pelabuhan tersebut rusak parah.
Karena itulah mereka menyimpulkan bahwa gelombang tsunami
hanya timbul di wilayah sekitar pelabuhan, dan tidak di tengah
lautan yang dalam.

Tsunami adalah gelombang air yang sangat besar yang


dibangkitkan oleh macam-macam gangguan di dasar samudra.
Gangguan ini dapat berupa gempa bumi, pergeseran lempeng,
atau gunung meletus. Tsunami tidak kelihatan saat masih berada
jauh di tengah lautan, namun begitu mencapai wilayah dangkal,
gelombangnya yang bergerak cepat ini akan semakin membesar.
Tsunami juga sering disangka sebagai gelombang air pasang. Ini karena
saat mencapai daratan, gelombang ini memang lebih menyerupai air pasang
yang tinggi daripada menyerupai ombak biasa yang mencapai pantai secara
alami oleh tiupan angin. Namun sebenarnya gelombang tsunami sama sekali
tidak berkaitan dengan peristiwa pasang surut air laut. Karena itu untuk
menghindari pemahaman yang salah, para ahli oseanografi sering menggunakan
istilah gelombang laut seismik (seismic sea wave) untuk menyebut tsunami,
yang secara ilmiah lebih akurat.

2. PENYEBAB TSUNAMI
Tsunami tidak akan terjadi jika tidak ada faktor pemicu. Faktor penyebab
terjadinya tsunami ini adalah:

a) Gempa bumi yang berpusat di bawah laut

Gempa bumi didasar laut ini merupakan penyebab utama terjadinya


tsunami. Tsunami yang menghancurkan kota Banda Aceh tahun 2004 dan
tsunami yang memporak-porandakan Pulau Mentawai pada tahun 2010 ini
berasal dari adanya gempa bumi yang berpusat di bawah laut.

Sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut dan samudera,


Indonesia sangat berpotensi terkena Tsunami. Meskipun demikian, tidak semua
gempa bumi dibawah laut berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa bumi dasar
laut dapat menjadi pernyebab terjadinya tsunami adalah gempa bumi dengan
kriteria sebagai berikut:

- Gempa bumi yang terjadi di dasar laut.

- Pusat gempa kurang dari 30 km dari permukaan laut.

- Magnitudo gempa lebih besar dari 6,0 SR

- Jenis pensesaran gempa tergolong sesar vertikal (sesar naik atau turun).

b) Letusan Gunung Berapi

Gelombang tsunami juga dapat terjadi akibat aktifitas gunung berapi yang
berada di dasar laut. Aktifitas ini bisa sebagai akibat dari pergeseran lempeng
bumi sehingga menyebabkan guguran lava maupun batuan gunung.

Bila guguran lava ini terjadi dalam volume yang cukup besar, maka dapat
menyebabkan terganggunya kondisi air laut. Air laut yang terdesak dapat
mendorong dan memunculkan terjadinya gelombang besar tsunami.

Aktifitas gunung berapi lainnya juga bisa menimbulkan gangguan terhadap


kondisi air laut. Di antaranya aktifitas magma yang menyebabkan terjadinya
erupsi maupun berupa letusan gunung seperti terjadi pada letusan Gunung
Krakatau pada tahun 1883 yang menjadi penyebab tsunami besar dan
mengakibatkan tak kurang dari 36 ribu orang meninggal dunia.

Letusan gunung berapi dapat menyebabkan terjadinya gempa vulkanik


(gempa akibat letusan gunung berapi). Tsunami besar yang terjadi pada tahun
1883 adalah akibat meletusnya Gunung Krakatau yang berada di Selat Sunda.
Meletusnya Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat pada tanggal 10-11 April
1815 juga memicu terjadinya tsunami yang melanda Jawa Timur dan
Maluku. Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di wilayah ring of fire
(sabuk berapi) dunia tentu harus mewaspadai ancaman ini.

c) Longsor Bawah Laut

Longsor bawah laut ini terjadi akibat adanya tabrakan antara lempeng
samudera dan lempeng benua. Proses ini mengakibatkan terjadinya palung laut
dan pegunungan. Tsunami karena longsoran bawah laut ini dikenal dengan
nama tsunamic submarine landslide. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2008
menemukan adanya Palung Siberut yang membentang dari Pulau Siberut hingga
pesisir pantai Bengkulu.

d) Benda Langit
Sebagai peristiwa yang terjadi di lautan, penyebab Tsunami secara umum
dibagi dua, yaitu penyebab yang berasal dari dalam laut maupun penyebab yang
berasal dari atas atau luar laut. Penyebab yang berasal dari atas umumnya
berupa hempasan meteor atau benda langit yang jatuh dan masuk ke laut
dengan tingkat benturan yang keras sehingga menimbulkan gelombang besar.

Sekecil apapun ukuran meteor namun karena kecepatannya yang tinggi


akan menimbulkan benturan yang kuat sehingga menghasilkan energi yang
cukup besar pula bagi terjadinya gelombang. Namun tsunami yang diakibatkan
oleh jatuhnya benda angkasa atau meteor sangat jarang terjadi.

Penyebab tsunami yang paling sering terjadi berasal dari akfititas di dasar
laut yang memunculkan gangguan terhadap kondisi air laut. Penyebab ini
meliputi hal-hal sebagai berikut.

e) Gempa Bumi

Pertemuan antar lempeng kerak bumi dapat menimbulkan goncangan yang


dinamakan gempa tektonik. Kalau gempa ini terjadi di dasar laut, maka dapat
menimbulkan gangguan terhadap kondisi ekuilibrium dari air laut.

Proses selanjutnya akan diikuti dengan upaya air laut untuk kembali pada
kondisi ekuilibrium tersebut mengikuti gravitasi. Gerakan ini dapat menyebabkan
terjadinya energi yang mendorong gelombang laut naik secara vertical dan
memunculkan tsunami.

Selain itu, lempeng-lempeng kerak bumi biasanya melakukan gerakan


pergeseran dalam rentang waktu tertentu. Bila lempeng bergerak secara
vertikal dan berada di dasar laut, maka air laut akan mengalami gerakan turun
ke bawah maupun ke atas mengikuti pergeseran lempeng bumi.

Besarnya tekanan yang ditimbulkan akibat gerakan naik turun ini dapat
menghasilkan tenaga yang akan mendorong terjadinya gelombang dan dapat
menjadi penyebab tsunami.

3. RAMBATAN GELOMBANG TSUNAMI


Kecepatan rambat gelombang tsunami berbeda-beda, tergantung
pada kedalaman laut. Di laut dalam, kecepatan rambat tsunami
mencapai 500 – 1000 km per jam atau setara dengan kecepatan
pesawat terbang namun ketinggian gelombangnya hanya sekitar 1
meter.

Ketika gelombang tsunami ini sudah mendekati pantai, kecepatan


rambatnya hanya sekitar 30 km per jam, namun ketinggian
gelombangnya bisa mencapai puluhan meter. Ini sebabnya banyak
orang yang sedang berlayar di laut dalam tak menyadari adanya
tsunami. Mereka baru mengetahui tsunami telah terjadi ketika tiba di
daratan dan menyaksikan kehancuran mengerikan yang disebabkan
oleh tsunami.

Tsunami merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di


Indonesia. Keberadaan pulau-pulau yang dikelilingi laut membuka peluang yang
semakin besar bagi terjadinya tsunami. Apabila air laut terpengaruh sehingga
menyebabkan naiknya gelombang laut diluar batas normal, maka bencana
tsunami dapat terjadi. Oleh karena itu ada baiknya masyarakat lebih mengenal
ciri-ciri dan penyebab tsunami.

4. CARA PENANGGULANGAN TSUNAMI


Cara penanggulangan tsunami, yaitu :
1. Melaksanakan evakuasi secara intensif.
2. Melaksanakan pengelolaan pengungsi.
3. Melakukan terus pencarian orang hilang, dan pengumpulan jenazah.
4. Membuka dan hidupkan jalur logistik dan lakukan resuplay serta
pendistribusian
logistik yang diperlukan.
5. Membuka dan memulihkan jaringan komunikasi antar daerah atau kota.
6. Melakukan pembersihan kota yang hancur dan penuh puing dan lumpur.
7. Menggunakan dana pemerintah untuk penanggulangan bencana dan
gunakan pula dengan tepat sumbangan dana baik dari dalam maupun luar
negeri.
8. Menyambut dengan baik dan libatkan unsur civil society.

5. AKIBAT TERJADINYA TSUNAMI


a. Banjir dan gelombang pasang.
b. Kerusakan pada berbagai bentuk infrastruktur.
c. Pencemaran air besih.
d. Korban jiwa dan ancaman kemanusiaan.
e. Mewabahnya virus dan bakteri penyakit.

6. BAGAIMANA MENGURANGI DAMPAK RESIKO?


a. Hindari bertempat tinggal atau tinggal di daerah sekitar 100
meter dari tepi pantai, sebab berdasarkan riset daerah ini
merupakan daerah yang mengalami kerusakan terparah akibat
tsunami, badai dan angin ribut.

b. Disarankan untuk menanam tanaman yang mampu menahan


gelombang, seperti palem, waru, camplung, beringin atau
sejenis lainnya.
c. Ikuti tata guna lahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah
setempat.

7. DAERAH RAWAN TSUNAMI


Catatan dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG)
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral di Indonesia terdapat 28
wilayah yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami. Di antaranya
NAD, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten,
JawaTengah dan DIY bagian Selatan.

Selanjutnya, wilayah Jawa Timur bagian Selatan, Bali, NTB dan NTT. Sementara
di bagian utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku
Utara, Maluku Selatan, Biak, Balikpapan (Kalimantan Timur), Yapen dan Fak-Fak
di Papua.

Selain dikepung tiga lempeng tektonik dunia, Indonesia juga merupakan jalur
The Pasicif Ring of Fire (Cincin Api Pasifik), yang merupakan jalur rangkaian
gunung api aktif di dunia. Cincin Api Pasifik (CAP) membentang di antara
subduksi maupun pemisahan lempeng Pasifik dengan lempeng Indo-Australia,
lempeng Eurasia, lempeng Amerika Utara dan lempeng Nazca yang bertabrakan
dengan lempeng Amerika Selatan.

CAP membentang dari mulai pantai barat Amerika Selatan, berlanjut ke pantai
barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamsatschka, Jepang,
Indonesia, Selandia baru dan kepulauan di Pasifik Selatan. Indonesia memiliki
gunung berapi kurang lebih 240 buah, dan 70 di antaranya masih aktif.

Zone kegempaan dan gunung api aktif Circum Pasifik amat terkenal, karena
setiap gempa hebat atau tsunami dahsyat di kawasan itu, dipastikan menelan
korban jiwa manusia amat banyak.

8. BEBERAPA TSUNAMI PALING MEMATIKAN DI DUNIA


a. Tsunami Aceh

Tsunami ini terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 akibat gempa


berkekuatan 9,1 hingga 9,3 skala Richter. Gelombang tsunami menyapu
beberapa wilayah di Aceh, India, Sri Lanka, Thailand, Maladewa, dan wilayah
Afrika Timur.

Sejumlah 226.000 jiwa tewas akibat tsunami ini dengan 166.000 jiwanya
merupakan warga negara Indonesia. Gempa penyebab tsunami ini merupakan
gempa terbesar keempat yang terjadi dalam sejarah, sedangkan tsunaminya
merupakan tsunami yang terbesar. Jumlah orang yang meninggal mencapai
226.000 jiwa dengan 166.000 jiwanya merupakan orang Indonesia.

b. Tsunami di masa Yunani Kuno


Tsunami di masa Yunani Kuno ini diketahui merupakan tsunami pertama yang
terekam sepanjang sejarah. Sebab, tsunaminya adalah meletusnya gunung yang
berada di dekat Pulau Thera atau Santorini. Jumlah orang yang tewas dalam
tsunami ini tidak diketahui dengan pasti, tetapi ditaksir mencapai lebih dari
100.000 orang.

Gelombang tsunami diperkirakan mencapai 15 meter. Sementara


itu, tsunami yang terjadi pada tahun 1500 SM ini diperkirakan menjadi sebab
runtuhnya peradaban Minoa, salah satu peradaban yang berkembang kala itu.

c. Tsunami di Portugal, Spanyol, dan Maroko

Tsunami ini terjadi akibat gempa berpusat di dasar perairan Atlantik pada
tahun 1755. Gelombang tsunami menghantam kota-kota di Portugal, Spanyol,
dan Maroko dengan kerusakan terparah terjadi di wilayah kota Lisbon. Tinggi
gelombang tsunami memang tak melebihi Tsunami Krakatau, tetapi jumlah
orang yang tewas jauh lebih banyak, sebanyak 60.000 orang.

d. Tsunami Laut China Selatan

Tsunami ini terjadi pada tahun 1782 di wilayah Laut China Selatan yang
berdekatan dengan Taiwan. Sebab, tsunami adalah gempa tektonik yang terjadi
di dasar lautan. Tidak jelas pusat gempa dan kekuatannya, tetapi sebanyak
40.000 orang tewas karenanya. Berdasarkan katalog tsunami yang
dipublikasikan Rusia, gelombang tsunami menerjang daratan hingga sejauh 120
kilometer.

e. Tsunami akibat letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda


Tsunami ini terjadi pada tahun 1883 dan membunuh sekitar 36.000 orang.
Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh letusan mencapai tinggi 40 meter
dan menyapu setidaknya 165 desa di wilayah Jawa dan Sumatera.
Letusan Krakataunya sendiri merupakan letusan gunung api yang
terbesar dalam sejarah, menimbulkan suara yang begitu keras dan abu
vulkanik yang bahkan tersebar hingga ke Australia.

9. KESIMPULAN

Tsunami menjadi populer di telinga masyarakat Indonesia sejak kota Banda


Aceh luluh lantak pada bulan Desember 2004. Sebelumnya, meski tsunami
sering terjadi kata itu kurang dikenal.

Kebanyakan tsunami yang terjadi sebelum peristiwa Tsunami Aceh itu


hanyalah tsunami kecil dan terjadinya pun lebih sering mengenai pulau-pulau
kecil tak berpenghuni. Tsunami besar yang terjadi di Banda Aceh itu membuka
kesadaran banyak orang sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang penyebab
terjadinya tsunami.

Beberapa faktor yang penyebab Tsunami antara lain ; Gempa bumi yang
berpusat di bawah laut, Letusan Gunung Berapi, Longsor Bawah Laut, Benda
Langit, dan Gempa Bumi. Kecepatan rambat tsunami mencapai 500 – 1000 km
per jam.

Penanggulangan yang dapat dilakukan setelah terjadi Tsunami antara lain


adalah dengan Melaksanakan evakuasi secara intensif dan Melaksanakan
pengelolaan pengungsi.

Kita juga dapat mengurangi dampak resiko dengan menghindari bertempat


tinggal atau tinggal di daerah sekitar 100 meter dari tepi pantai, diketahui
terdapat 28 wilayah yang dinyatakan rawan gempa dan tsunami. Di antaranya
NAD, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Lampung, Banten, JawaTengah
dan DIY bagian Selatan.
Tsunami Aceh tercatat sebagai salah satu TSUNAMI PALING MEMATIKAN DI
DUNIA, yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dengan aktivitas gempa
berkekuatan 1 hingga 9,3 skala Richter. Dan memakan korban tewas sejumlah
226.000 jiwa.

***