Anda di halaman 1dari 2

Enam Syarat Sekolah Berkualitas

Pernahkan Anda membayangkan, apakah dalam benak siswa benar-benar ingin berprestasi
atau sebaliknya? Apakah mereka datang ke sekolah dengan rasa senang atau sebaliknya?
Tentu tidak gampang menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat. Tetapi mungkin ada cara
untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan melihat indikator-indikatornya. Kecenderungan
tidak berkembangnya prestasi siswa di sekolah kita sangat penting untuk dicari penyebabnya.
Apakah tidak mungkin justru sekolah yang menjadi penyebab siswa kurang berprestasi
karena ‘budaya’ sekolah yang tidak kondusif?

Sekolah yang berkualitas tidak lahir dengan sendirinya. Juga tidak lahir semata-mata karena
fasilitas yang dimiliki. Sekolah yang berkualitas harus dibentuk dan direncanakan dengan
baik serta dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Komitmen warga sekolah dan stake
holder, adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari lahirnya sebuah sekolah yang
berkualitas.

Glasser, dalam bukunya yang kedua, The Quality School Teacher memberi pesan kepada kita
bahwa sedikitnya ada enam syarat yang harus dipenuhi sebuah sekolah agar menjadi sekolah
berkualitas. Keenam syarat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Harus ada lingkungan kelas yang hangat dan mendukung.


Tanpa adanya jalinan yang akrab antara semua warga sekolah (guru, siswa, staf, dan
karyawan lain) tidak bias dihasilkan tugas-tugas sekolah yang berkualitas, dan lebih dari
semua itu harus terbangun saling percaya/kepercayaan.

2. Siswa harus selalu diminta untuk melakukan hal-hal yang berguna.


Tidak boleh ada siswa yang diminta untuk melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti
mengingat atau menghafal (secara berlebihan). Apa pun yang mereka kerjakan, harus ada
manfaatnya – secara praktis, estetis, intelektual, atau pun sosial.

3. Siswa selalu diminta untuk mengerjakannya sebaik mungkin sesuai dengan


kemampuannya.
Ini berarti siswa harus diberi kesempatan yang memadai untuk dapat mengerjakan tugas-
tugasnya agar pekerjaannya berkualitas. Mereka sebenarnya sudah biasa diberi tugas, tetapi
bukan belajar, dan hampir tidak pernah berusaha melakukan pekerjaan yang berkualitas.

4. Siswa diajari dan diberi kesempatan mengevaluasi pekerjaan mereka sendiri, kemudian
diminta untuk meningkatkannya.
Mengevaluasi sendiri adalah hal yang paling sulit diterapkan, tetapi penting dilakukan untuk
mencapai perbaikan yang konstan dalam usaha siswa menghasilkan pekerjaan berkualitas.

5. Pekerjaan yang berkualitas selalu terasa menyenangkan.


Sungguh menyedihkan melihat sangat sedikit siswa yang merasa nyaman dalam pelajaran-
pelajaran mereka sekarang. Bukan hanya siswa yang merasa senang jika mereka berhasil
mengerjakan sesuatu dengan berkualitas, guru dan orangtua pun merasa senang
memerhatikan proses itu.

6. Pekerjaan berkualitas tidak pernah bersifat merusak.


Tidak berkualitas namanya, jika meraih perasaan senang dengan cara memakai obat adiktif
atau merugikan orang lain, makhluk hidup, benda milik orang lain, atau lingkungan.
Silakan direnungkan, apakah semua syarat kualitas tersebut sudah ditemukan di sekolah Anda
dan apa artinya itu bagi semua pihak yang terkait; atau, apabila baru sebagian yang
diterapkan, apa sebab belum diterapkannya keenam syarat ini, dan apa yang bisa dilakukan
untuk memperbaiki situasi tersebut.

*****