Anda di halaman 1dari 2

Pelanggan Migrasi LPB Tidak Bisa Kembali ke Pasca Bayar

Surabaya (KabarGres.com) - PT PLN (Persero) Distribusi Jatim mengharapkan masyarakat


pelanggan untuk mempelajari cara penghitungan Kilo Watt Hours (KWH) pada meteran listrik
sehingga manfaat program terbaru PLN berupa Listrik Pra Bayar (LPB) benar-benar dirasakan.
Coorporate Speaker PT PLN (Persero) Distribusi Jatim, Ir. Agus Widayanto, mengungkapkan
hal tersebut terkait munculnya keluhan masyarakat pengguna LPB. Seperti diketahui, diantara
keluhan pelanggan merasa tagihannya membengkak setelah migrasi dari listrik pasca bayar.
Besaran pembengkakan beragam, mulai 10-20 persen.
Seperti dikeluhkan warga Desa Seruni, Gedangan, Sidoarjo, Agus, sejak migrasi ke LPB Januari
lalu, rata-rata biaya yang disediakan untuk pembelian setrum naik hingga 20 persen.
Ia merasakan setrum cepat habis, meski pemakaian listrik sama ketika masih menggunakan
pascabayar. “Ketika pascabayar rata-rata pembayaran listrik bulanan Rp 150.000- Rp 200.000
tapi sekarang dengan prabayar saya harus sedia dana hingga Rp 250.000,” ungkap Agus kepada
wartawan, belum lama ini.
Agus merupakan pelanggan PLN jenis rumah tangga dengan daya 2.200 VA. Seperti kebanyakan
pelanggan lain, ia mengonsumsi listrik untuk kebutuhan rumah tangga, seperti perangkat
elektronik dan lampu penerangan di malam hari. Biasanya, Agus membeli setrum di Kantor Pos
atau melalui warga di sekitar rumah dengan besaran Rp 20.000 dan Rp 50.000. “Kalau beli Rp
20.000 belum dua hari sudah habis. Sedang Rp 50.000 kurang dari seminggu alarm juga sudah
berbunyi,” tandas pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan ini.

Apa yang dirasakan Agus juga dialami beberapa tetangganya. Desa Seruni merupakan kawasan
percontohan listrik prabayar yang diresmikan Pebruari lalu. Sementara itu, warga Kedung
Tarukan, Surabaya, Bambang Priyo, juga mengeluhkan hal serupa. Menurutnya, sejak rumah
yang ia fungsikan untuk kos-kosan beralih ke listrik prabayar, pemakaiannya justru makin
melambung. “Hampir lipat dua dari biasanya. Kalau bulan depan begini lagi, mungkin saya akan
ganti ke listrik pascabayar,” keluhnya.
Diakuinya, rata-rata tarif listrik yang ia bayar kisaran Rp 700.000–800.000 per bulan. Biaya ini
relatif stabil sejak dua tahun terakhir. Namun sejak beralih ke listrik prabayar justru melambung
jadi Rp 1,3 jutaan. “Padahal, beberapa kamar kosong karena anak kos pindahan. Saya sudah cek
perlengkapan listrik anak-anak kos juga tak berubah,” kata Bambang.

Sedangkan, Agus Widayanto menjelaskan harus ada penjelasan rinci apakah membengkaknya
biaya yang dikeluarkan pelanggan murni karena prabayar, terjadi pemborosan atau berdasar
paket nilai setrum yang dibeli. “Bisa saja setrum yang ia beli dalam bulan itu ternyata masih
tersisa dan dianggap masuk dalam bulan yang sama. Jadi, harus dihitung besaran pemakaiannya
secara matang,” tutur Agus.
Pada prinsipnya, lanjut dia, tarif yang dibebankan PLN sama, baik terhadap pelanggan prabayar
maupun pascabayar. Pembedanya, hanya daya yang digunakan.
PLN juga sudah memberikan penjelasan ke masyarakat terkait keuntungan dan kerugian
menggunakan listrik prabayar. “Mereka yang migrasi, murni atas dasar kesadaran sendiri,”
ujarnya.

Agus menguraikan, animo pelanggan terhadap listrik prabayar masih cukup tinggi. Sejak
diluncurkan di Jatim Nopember 2009, hingga kini telah mencapai 17.000 pelanggan.

Tujuan listrik prabayar bukan tarif lebih murah, namun agar pelanggan terbiasa menghemat
pemakaian listrik. “Sehingga, diharapkan pemakaian terkontrol,” tukasnya.

Nilai rupiah/KWH LPB, masih kata Agus, diambil dari realisasi daya Jawa-Bali, sesuai dengan
kelompok dan daya yang sama. Untuk daya 450 Volt Ampere (VA) Rp 414/KWH, sedangkan
900 VA Rp 603/KWH dan untuk daya 1.300 VA Rp 667/KWH, begitu juga daya di atas 1.300
VA.

Tidak Bisa Balik Pelanggan Pasca Bayar


PLN juga mengingatkan untuk para pelanggan yang sudah bermigrasi ke LPB maka tidak boleh
kembali ke langganan pasca bayar. "Ini harus diperhatikan para pelanggan, karena kebijakan ini
menyangkut pengadaan, seperti juga pemasangan meter listrik, instalatir dan penyambungan,"
tandas Agus.
Ditambahkan Agus, sebelum beralih ke LPB, PLN telah memberikan informasi tentang
kemudahan dan ketentuan LPB. "Dimana program listrik pra bayar ini jauh lebih murah dan
efisien. Jadi, pelanggan dihadapkan pada satu pilihan yang tidak bisa dikembalikan," imbuhnya.
(toro)
Teks foto: Coorporate Speaker PT PLN (Persero) Distribusi Jatim, Ir. Agus Widayanto.
Sumber web: http://www.kabargres.com/index.php?mod=read&id=1324