Anda di halaman 1dari 49

1

ANALISIS RISIKO

Risiko adalah hal yang tidak akan pernah dapat dihindari pada
suatu kegiatan / aktivitas yang idlakukan manusia, termasuk aktivitas
proyek pembangunan dan proyek konstyruksi. Karena dalam setiap
kegiatan, seperti kegiatan konstruksi, pasti ada berbagai ketidakpastian
(uncertainty). Faktor ketidakpastian inilah yang akhirnya menyebabkan
timbulnya risiko pada suatu kegiatan. Para ahli mendefinisikan risiko
sebagai berikut :
1. Risiko adalah suatu variasi dari hasil – hasil yang dapat terjadi
selama periode tertentu pada kondisi tertentu (William & Heins,
1985).
2. Risiko adalah sebuah potensi variasi sebuah hasil (William,
Smith, Young, 1995).
3. Risiko adalah kombinasi probabilita suatu kejadian dengan
konsekuensi atau akibatnya (Siahaan, 2007).

Macam Risiko

Risiko adalah buah dari ketidakpastian, dan tentunya ada banyak sekali
faktor – faktor ketidakpastian pada sebuah proyek yang tentunya dapat
menghasilkan berbagai macam risiko. Risiko dapat dikelompokkan menjadi
beberapa macam menurut karakteristiknya, yaitu lain:

1. Risiko berdasarkan sifat


a. Risiko Spekulatif (Speculative Risk), yaitu risiko yang memang
sengaja diadakan, agar dilain pihak dapat diharapkan hal – hal
yang menguntungkan. Contoh: Risiko yang disebabkan dalam
hutang piutang, membangun proyek, perjudian, menjual produk,
dan sebagainya.
b. Risiko Murni (Pure Risk), yaitu risiko yang tidak disengaja, yang
jika terjadi dapat menimbulkan kerugian secara tiba – tiba.
Contoh : Risiko kebakaran, perampokan, pencurian, dan
sebagainya.

2. Risiko berdasarkan dapat tidaknya dialihkan


a. Risiko yang dapat dialihkan, yaitu risiko yang dapat
dipertanggungkan sebagai obyek yang terkena risiko kepada
perusahaan asuransi dengan membayar sejumlah premi.
Dengan demikian kerugian tersebut menjadi tanggungan
(beban) perusahaan asuransi.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


2

b. Risiko yang tidak dapat dialihkan, yaitu semua risiko yang


termasuk dalam risiko spekulatif yang tidak dapat
dipertanggungkan pada perusahaan asuransi.

3. Risiko berdasarkan asal timbulnya


a. Risiko Internal, yaitu risiko yang berasal dari dalam perusahaan
itu sendiri. Misalnya risiko kerusakan peralatan kerja pada
proyek karena kesalahan operasi, risiko kecelakaan kerja, risiko
mismanagement, dan sebagainya.
b. Risiko Eksternal, yaitu risiko yang berasal dari luar perusahaan
atau lingkungan luar perusahaan. Misalnya risiko pencurian,
penipuan, fluktuasi harga, perubahan politik, dan sebagainya.

Selain macam – macam risiko diatas, Trieschman, Gustavon, Hoyt, (2001),


juga mengemukakan beberapa macam risiko yang lain, diantaranya :

1. Risiko Statis dan Risiko Dinamis (berdasarkan sejauh mana


ketidakpastian berubah karena perubahan waktu)
a. Risiko Statis. Yaitu risiko yang asalnya dari masyarakat yang
tidak berubah yang berada dalam keseimbangan stabil. Risiko
statis dapat bersifat murni ataupun spekulatif. Contoh risiko
spekulasi statis : Menjalankan bisnis dalam ekonomi stabil.
Contoh risiko murni statis : Ketidakpastian dari terjadinya
sambaran petir, angin topan, dan kematian secara acak (secara
random).
b. Risiko Dinamis. Risiko yang timbul karena terjadi perubahan
dalam masyarakat. Risiko dinamis dapat bersifat murni ataupun
spekulatif. Contoh sumber risiko dinamis : urbanisasi,
perkembangan teknologi, dan perubahan undang – undang atau
perubahan peraturan pemerintah.

2. Risiko Subyektif dan Risiko Obyektif


a. Risiko Subyektif
Risiko yang berkaitan dengan kondisi mental seseorang yang
mengalami ragu – ragu atau cemas akan terjadinya kejadian
tertentu.
b. Risiko Obyektif
Probabilita penyimpangan aktual dari yang diharapkan (dari rata
- rata) sesuai pengalaman.

Manajemen Risiko
Untuk dapat menanggulangi semua risiko yang mungkin terjadi, diperlukan
sebuah proses yang dinamakan sebagai manajemen risiko. Adapun

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


3

beberapa definisi manajemen risiko dari berbagai literatur yang didapat,


antara lain :
a. Manajemen risiko merupakan proses formal dimana faktor –
faktor risiko secara sistematis diidentifikasi, diukur, dan dicari
b. Manajemen risiko merupakan metoda penanganan sistematis
formal dimana dikonsentrasikan pada pengientifikasian dan
pengontrolan peristiwa atau kejadian yang memiliki
kemungkinan perubahan yang tidak diinginkan.
c. Manajemen risiko, dalam konteks proyek, adalah seni dan
pengetahuan dalam mengidentifikasi, menganalisa, dan
menjawab faktor – faktor risiko sepanjang masa proyek.

Tabel 1. Definisi manajemen risiko

Definisi Manajemen Risiko Sumber


Referensi
Manajemen risiko merupakan pengenalan, pengukuran, dan Williams dan
perlakuan terhadap kerugian dari kemungkinan kecelakaan Heins, 1985
yang muncul
Manajemen risiko merupakan sebuah proses untuk Redja, 2008
mengidentifikasi terjadinya kerugian yang dialami oleh suatu
organisasi dan memilih teknik yang paling tepat untuk
menangani kejadian tersebut
Manajemen risiko adalah sebuah proses formal untuk Al Bahar dan
mengidentifikasi, menganalisa, dan merespon sebuah risiko Crandall, 1990
secara sistematis, sepanjang jalannya proyek, untuk
mendapatkan tingkatan tertinggi atau yang bias diterima,
dalam hal mengeliminasi risiko atau kontrol risiko
Manajemen risiko merupakan suatu aplikasi dari Williams, Smith,
manajemen umum yang mencoba untuk mengidentifikasi, Young, 1995
mengukur, dan menangani sebab dan akibat dari
ketidakpastian pada sebuah organisasi

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa tahapan dalam


manajemen risiko. Terdapat beberapa ahli yang mengemukakan pendapat
mengenai tahapan – tahapan dalam manajemen risiko. Untuk lebih
jelasnya, dapat dilihat pada Tabel 2.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


4

Tabel 2. Tahapan manajemen risiko

Tahapan Manajemen Risiko Sumber Referensi

a. Identifikasi risiko Williams dan Heins,


b. Menafsir kerugian yang dapat terjadi (menentukan probabilitas 1985
dan dampaknya)
c. Menangani risiko
d. Pengimplementasian
e. Memonitor dan mengevaluasi pengimplementasiannya

a. Identifikasi misi Williams, Smith,


b. Menafsir risiko dan ketidakpastian Young, 1995
c. Mengontrol risiko
d. Membiayai risiko
e. Pengadministrasian program

a. Identifikasi risiko Trieschmann,


b. Evaluasi risiko Gustavon, Hoyt, 1995
c. Memilih teknik manajemen risiko
d. Mengimplementasikan dan meninjau kembali keputusan yang
dibuat

a. Menafsir risiko Kerzner, 1995


b. Menganalisa risiko (menentukan probabilitas dan
konsekuensinya)
c. Menangani risiko
d. Mendokumentasikan proses manajemen risiko

a. Mengidentifikasi kerugian Redja, 2008


b. Menganalisa kerugian
c. Memilih teknik pengangan yang tepat (mengontrol risiko dan
membiayai risiko)
d. Mengimplementasikan dan memonitor program manajemen
risiko

a. Mengidentifikasi risiko Loosemore, Raftery,


b. Menafsir dan menganalisa risiko Reilly, Higgon, 2006
c. Mengontrol risiko

a. Identifikasi risiko Al Bahar dan


b. Analisa risiko dan proses evaluasi Crandall, 1990
c. Respon manajemen
d. Administrasi sistem

Selanjutnya, dalam penelitian ini akan dipakai tahapan – tahapan


manajemen risiko yang dikemukakan oleh Al Bahar dan Crandall (1990),
dengan sedikit modifikasi, sehingga menjadi sebagai berikut :
1. Identifikasi dan Analisa Risiko
2. Respon manajemen

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


5

3. Administrasi system.

Identifikasi dan Analisa Risiko


Tahapan pertama dalam proses manajemen risiko adalah tahap
identifikasi risiko. Identifikasi risiko merupakan suatu proses yang secara
sistematis dan terus menerus dilakukan untuk mengidentifikasi
kemungkinan timbulnya risiko atau kerugian terhadap kekayaan, hutang,
dan personil perusahaan. Proses identifikasi risiko ini mungkin adalah
proses yang terpenting, karena dari proses inilah, semua risiko yang ada
atau yang mungkin terjadi pada suatu proyek, harus diidentifikasi.
Adapun proses identifikasi harus dilakukan secara cermat dan
komprehensif, sehingga tidak ada risiko yang terlewatkan atau tidak
teridentifikasi. Dalam pelaksanaannya, identifikasi risiko dapat dilakukan
dengan beberapa teknik, antara lain:
a. Brainstorming
b. Questionnaire
c. Industry benchmarking
d. Scenario analysis
e. Risk assessment workshop
f. Incident investigation
g. Auditing
h. Inspection
i. Checklist
j. HAZOP (Hazard and Operability Studies)
k. dan sebagainya

Adapun cara – cara pelaksanaan identifikasi risiko secara nyata


dalam sebuah proyek, adalah :
1. Membuat daftar bisnis yang dapat menimbulkan kerugian.
2. Membuat checklist kerugian potensial. Dalam checklist ini dibuat
daftar kerugian dan peringkat kerugian yang terjadi.
3. Membuat klasifikasi kerugian.
a. Kerugian atas kekayaan (property).
• Kekayaan langsung yang dihubungkan dengan
kebutuhan untuk mengganti kekayaan yang hilang atau
rusak.
• Kekayaan yang tidak langsung, misalnya penurunan
permintaan, image perusahaan, dan sebagainya.
b. Kerugian atas hutang piutang, karena kerusakan kekayaan
atau cideranya pribadi orang lain.
c. Kerugian atas personil perusahaan. Misalnya akibat
kematian, ketidakmampuan, usia tua, pengangguran, sakit,
dan sebagainya.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


6

Dalam mengidentifikasi risiko, beberapa ahli membaginya menjadi


beberapa kategori, diantaranya :

Tabel 3. Kategori risiko

Kategori Risiko Sumber Referensi


a. Risiko eksternal Kerzner, 1995
b. Risiko internal
c. Risiko teknis
d. Risiko legal

a. Risiko yang berhubungan dengan konstruksi Fisk, 1997


b. Risiko fisik
c. Risiko kontraktual dan legal
d. Risiko pelaksanaan
e. Risiko ekonomi
f. Risiko politik dan umum

a. Risiko finansial Shen, Wu, Ng, 2001


b. Risiko legal
c. Risiko manajemen
d. Risiko pasar
e. Risiko politik dan kebijakan
f. Risiko teknis

a. Risiko teknologi Loosemore, Raftery,


b. Risiko manusia Reilly, Higgon, 2006
c. Risiko lingkungan
d. Risiko komersial dan legal
e. Risiko manajemen
f. Risiko ekonomi dan finansial
g. Risiko partner bisnis
h. Risiko politik

a. Risiko finansial dan ekonomi Al Bahar dan


b. Risiko desain Crandall, 1990
c. Risiko politik dan lingkungan
d. Risiko yang berhubungan dengan konstruksi
e. Risiko fisik
f. Risiko bencana alam

Untuk kepentingan tugas akhir ini, kategori – kategori risiko yang


dikemukakan oleh Al Bahar dan Crandall (1990), dimodifikasi sedemikian
rupa sehingga sesuai dengan kondisi yang diinginkan, yaitu dari risiko yang
dipandang dari sudut pandang kontraktor dan yang sering terjadi pada

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


7

proyek – proyek pemerintah. Adapun kategori risiko tersebut dimodifikasi


sehingga menjadi sebagai berikut :
1. Finansial & Ekonomi. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya
fluktuasi tingkat inflasi dan suku bunga, perubahan nilai tukar, kenaikan
upah pekerja, dan lain sebagainya.
2. Politik & Lingkungan. Yang termasuk dalam kategori ini misalnya
perubahan dalam hukum dan peraturan, perubahan politik, perang,
embargo, bencana alam, dan lain sebagainya.
3. Konstruksi
Yang termasuk dalam kategori ini misalnya kecelakaan kerja,
pencurian, perubahan desain, dan sebagainya. Dari ketiga kategori
risiko tersebut, proses identifikasi risiko dikembangkan menjadi
beberapa jenis risiko yang didapat dari berbagai sumber, antara lain :
1. Al Bahar dan Crandall, 1990
2. Shen, Wu, Ng, 2001
3. Keppres RI no 80 tahun 2003
4. Loosemore, Raftery, Reilly, Higgon, 2006

Tabel 4. Matriks sumber identifikasi risiko

Sumber Katego Jenis Risiko


ri
Risiko
Finansial dan Ekonomi 1 2 3 4
1. Kenaikan upah pekerja
2. Kenaikan harga material
3. Persediaan dana klien

4. Keterlambatan pembayaran dari klien

5. Kemungkinan kebangkrutan partner

6. Kemungkinan kekurangan modal


7. Sanksi keterlambatan
8. Kesalahan estimasi

9. Kompetisi dengan proyek sejenis


10. Klaim dari klien
11. Fluktuasi tingkat inflasi
12. Fluktuasi suku bunga
13.Fluktuasi nilai tukar mata uang

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


8

Politik dan Lingkungan

1. Rintangan dari pemerintah

2. Kurangnya hubungan dengan


departemen pemerintah
3. Perubahan kebijakan
4. Perubahan hukum, peraturan dan politik
5. Persaingan yang tidak sehat
6. Korupsi dan penyuapan
7. Pelanggaran kontrak
8. Lamanya perizinan birokrasi
9. Perang dan kekacauan
10. Embargo
11. Bencana alam
12. Peraturan lingkungan
13. Aturan polusi dan keselamatan
14. Kontaminasi terhadap lingkungan

Konstruksi

1. Perselisihan dengan industri


2. Perselisihan dengan pekerja
3. Buruknya kualitas material
4. Keterbatasan pengadaan material dan
pekerja ahli
5. Pelarangan mensub-kontrakkan
6. Produktivitas pekerja dan peralatan
7. Pekerjaan yang tidak sempurna
8. Sabotase pada properti dan peralatan
9. Kebakaran / pencurian material dan
peralatan
10. Kegagalan pada peralatan
11. Kondisi fisik lapangan yang tidak
diketahui
12. Kecelakaan di lapangan
13. Akurasi dan kelengkapan spesifikasi
teknis
14. Perubahan desain

Setelah proses identifikasi semua risiko – risiko yang mungkin


terjadi pada suatu proyek dilakukan, diperlukan suatu tindak lanjut untuk
menganalisa risiko – risiko tersebut. Al Bahar dan Crandall (1990)
mengemukakan bahwa, yang dibutuhkan adalah menentukan signifikansi
atau dampak dari risiko tersebut, melalui suatu analisa probabilitas,
sebelum risiko – risiko tersebut dibawa memasuki tahapan respon
manajemen.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


9

Menurut Al Bahar dan Crandall (1990), analisa risiko didefinisikan


sebagai sebuah proses yang menggabungkan ketidakpastian dalam bentuk
quantitatif, menggunakan teori probabilitas, untuk mengevaluasi dampak
potensial suatu risiko.
Langkah pertama untuk melakukan tahapan ini adalah
pengumpulan data yang relevan terhadap risiko yang akan dianalisa. Data
– data ini dapat diperoleh dari data historis perusahaan atau dari
pengalaman proyek pada masa lalu. Jika data historis tersebut kurang
memadai, dapat dilakukan teknik identifikasi risiko yang lain, seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya pada bagian lain bab ini.
Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, selanjutnya dilakukan
proses evaluasi dampak dari sebuah risiko. Proses evaluasi dampak risiko
dilakukan dengan mengkombinasikan antara probabilitas (sebagai bentuk
quantitatif dari faktor ketidakpastian / uncertainty) dan dampak /
konsekuensi dari terjadinya sebuah risiko.
Untuk melakukan proses evaluasi tersebut, dibutuhkan suatu
parameter yang jelas untuk dapat mengukur dampak dari suatu risiko
dengan tepat. Menurut Loosemore, Raftery, Reilly dan Higgon (2006),
beberapa parameter untuk proses evaluasi risiko seperti pada Tabel 5 dan
6.

Tabel 5. Parameter probabilitas risiko

Parameter Deskripsi
Jarang terjadi Peristiwa ini hanya muncul pada keadaan yang luar biasa
jarang.
Agak jarang terjadi Peristiwa ini jarang terjadi.
Mungkin terjadi Peristiwa ini kadang terjadi pada suatu waktu.
Sering terjadi Peristiwa ini pernah terjadi dan mungkin terjadi lagi.
Hampir pasti terjadi Peristiwa ini sering muncul pada berbagai keadaan.
Sumber : Loosemore, Raftery, Reilly, Higgon, (2006). Risk Management in Projects

Tabel 6. Parameter konsekuensi risiko

Parameter Deskripsi
Tidak signifikan Tidak ada yang terluka; kerugian finansial kecil.
Kecil Pertolongan pertama; kerugian finansial medium.
Sedang Perlu perawatan medis; kerugian finansial cukup besar.
Besar Cedera parah; kerugian finansial besar.
Sangat signifikan Kematian; kerugian finansial sangat besar.
Sumber : Loosemore, Raftery, Reilly, Higgon, (2006). Risk Management in Projects

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


10

Setelah risiko – risiko yang mungkin terjadi dievaluasi dengan


menggunakan parameter – parameter probabilitas dan konsekuensi risiko
diatas, selanjutnya dapat dilakukan suatu analisa untuk mengevaluasi
dampak risiko secara keseluruhan, dengan menggunakan matriks evaluasi
risiko.

Respon Manajemen

Setelah risiko – risiko yang mungkin terjadi diidentifikasi dan


dianalisa, kontraktor akan mulai memformulasikan strategi penanganan
risiko yang tepat. Strategi ini didasarkan kepada sifat dan dampak potensial
/ konsekuensi dari risiko itu sendiri. Adapun tujuan dari strategi ini adalah
untuk memindahkan dampak potensial risiko sebanyak mungkin dan
meningkatkan kontrol terhadap risiko.

Ada lima strategi alternatif untuk menangani risiko, yaitu :


1. Menghindari risiko
2. Mencegah risiko dan mengurangi kerugian
3. Meretensi risiko
4. Mentransfer risiko
5. Asuransi

1. Menghindari risiko

Menghindari risiko merupakan strategi yang sangat penting, strategi


ini merupakan strategi yang umum digunakan untuk menangani risiko.
Dengan menghindari risiko, kontraktor dapat mengetahui bahwa
perusahaannya tidak akan mengalami kerugian akibat risiko yang telah
ditafsir. Di sisi lain, kontraktor juga akan kehilangan sebuah peluang untuk
mendapatkan keuntungan yang mungkin didapatkan dari asumsi risiko
tersebut.
Contohnya : seorang kontraktor yang ingin menghindari risiko politik
dan finansial berkaitan dengan proyek pada negara dengan kondisi politik
yang tidak stabil, dapat menolak melakukan tender proyek pada negara
tersebut. Namun demikian, apabila kontraktor tersebut menolak untuk
melakukan tender, maka kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan
dari proyek tersebut juga ikut menghilang.

2. Mencegah risiko dan mengurangi kerugian


Alternatif strategi yang kedua adalah mencegah risiko dan
mengurangi kerugian. Strategi ini secara langsung mengurangi potensi
risiko kontraktor dengan 2 cara, yaitu :
1. Mengurangi kemungkinan terjadinya risiko.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


11

2. Mengurangi dampak finansial dari risiko, apabila risiko tersebut


benar – benar terjadi.
Contohnya : pemasangan alarm atau alat anti – maling pada peralatan di
proyek, akan mengurangi kemungkinan terjadinya pencurian. Sebuah
gedung yang dilengkapi dengan sprinkler system, akan mengurangi
dampak finansial, apabila gedung tersebut mengalami kebakaran.

3. Meretensi risiko

Retensi risiko telah menjadi aspek penting dari manajemen risiko


ketika perusahaan menghadapi risiko proyek. Retensi risiko adalah
perkiraan secara internal, baik secara utuh maupun sebagian, dari dampak
finansial suatu risiko yang akan dialami oleh perusahaan. Dalam
mengadopsi strategi retensi risiko ini, perlu dibedakan antara 2 jenis retensi
yang berbeda.
1. Retensi risiko yang terencana (planned) adalah asumsi yang
secara sadar dan sengaja dilakukan oleh kontraktor untuk
mengenali atau mengidentifikasi risiko. Dengan strategi seperti
itu, risiko dapat ditahan dengan berbagai cara, tergantung pada
filosofi, kebutuhan khusus, dan juga kapabilitas finansial dari
kontraktor itu sendiri.
2. Retensi risiko yang tidak terencana (unplanned) terjadi ketika
kontraktor tidak mengenali atau mengidentifikasi kberadaan dari
suatu risiko dan secara tidak sadar mengasumsi kerugian yang
akan muncul.

4. Mentransfer risiko

Pada dasarnya, transfer risiko dapat dilakukan, melalui negosiasi,


kapanpun kontraktor menjalani perencanaan kontraktual dengan banyak
pihak seperti pemilik, subkontraktor ataupun supplier material dan
peralatan. Transfer risiko bukanlah asuransi. Biasanya, transfer risiko ini
dilakukan melalui syarat atau pasal – pasal dalam kontrak seperti : hold –
harmless aggrement dan klausul jaminan atau penyesuaian kontrak.
Karakeristik esensial dari transfer risiko ini adalah dampak dari suatu risiko,
apabila risiko tersebut benar – benar terjadi, ditanggung bersama atau
ditanggung secara utuh oleh pihak lain selain kontraktor.
Contohnya : penyesuaian pada harga penawaran, dimana
kompensasi ekstra akan diberikan kepada kontraktor apabila terjadi
perbedaan kondisi tanah pada suatu proyek.

5. Asuransi
Asuransi menjadi bagian penting dari program manajemen risiko,
baik untuk sebuah organisasi ataupun untuk individu. Asuransi juga

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


12

termasuk di dalam strategi transfer risiko, dimana pihak asuransi setuju


untuk menerima beban finansial yang muncul dari adanya kerugian. Secara
formal, asuransi dapat didefinisikan sebagai kontrak persetujuan antara 2
pihak yang terkait yaitu : pengasuransi (insured) dan pihak asuransi
(insurer). Dengan adanya persetujuan tersebut, pihak asuransi (insurer)
setuju untuk mengganti rugi kerugian yang terjadi (seperti yang tercantum
dalam kontrak) dengan balasan, pengasuransi (insured) harus membayar
sejumlah premi tiap periodenya.

Administrasi sistem

Administrasi sistem adalah tahapan terakhir dari program


manajemen risiko. Manajer risiko harus mengandalkan kemampuan
manajerialnya untuk mengkoordinasi, mengarahkan, mengorganisasi,
memotivasi, memfasilitasi dan menjalankan organisasi menuju rencana
penanganan risiko yang rasional dan terintegrasi. Menurut William, Smith,
Young (1995), ada 5 hal manajerial penting yang dihadapi oleh seorang
manajer risiko, yaitu :
1. Tantangan untuk menyusun prosedur dan kebijakan manajemen
risiko.
2. Pengkomunikasian risiko, baik secara organisasi maupun
personal.
3. Manajemen kontrak dan kontrak portfolio.
4. Pengawasan klaim.
5. Proses mengkaji ulang, memonitor, dan mengevaluasi program
manajemen risiko.

1. Kebijakan dan prosedur


Proses manajemen risiko harus dilakukan oleh semua pihak dalam
suatu organisasi. Namun, dengan demikian banyaknya pihak yang terlibat,
akan sangat mudah untuk terjadinya miskomunikasi. Oleh karena itu,
dibutuhkan sebuah kebijakan dan prosedur pelaksanaan proses
manajemen risiko yang formal, yang sesuai dengan misi atau tujuan dari
program manajemen risiko dan sejalan dengan misi organisasi tersebut.
Menurut William, Smith, Young (1995), untuk menyusun kebijakan
dan prosedur program manajemen risiko tersbut, dibutuhkan beberapa
tahapan, yaitu :

1. Statement kebijakan manajemen risiko


Perusahaan harus menyusun statement kebijakan manajemen
risiko yang berisi tentang misi dan tujuan dari program
manajemen risiko.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


13

2. Organisasi
Perusahaan sebaiknya menyusun sebuah organisasi atau
departemen khusus, yang menangani masalah manajemen
risiko.
3. Manual (rencana kegiatan)
Perusahaan sedianya menyiapkan rencana kegiatan
operasional manajemen risiko, yang menjelaskan mengenai
prosedur, metode, dan juga kegiatan – kegiatan yang akan
dilakukan untuk program manajemen risiko.

2. Manajemen informasi

Supaya proses manajemen risiko dapat berlajan secara lancar,


proses pengkomunikasian risiko yang terjadi pada suatu proyek, harus
dilakukan dengan lancar pula. Karena pentingnya informasi risiko ini, maka
manajemen informasi juga berperan sangat penting untuk kelangsungan
proses manajemen risiko. Manajemen informasi dapat digunakan sebagai
basis dari segala buku text mengenai komunikasi dalam organisasi. Ruang
lingkup manajemen informasi pada program manajemen risiko :
1. Komunikasi risiko
Proses pengkomunikasian informasi (dalam hal ini, risiko) yang
mengalir dari dan menuju ke manajer risiko.
2. Sistem informasi manajemen risiko
Penggunaan teknologi masa kini yang dapat membantu
jalannya proses manajemen informasi dalam rangka melakukan
manajemen risiko pada suatu proyek.
3. Proses pelaporan manajemen risiko
Isi dan bentuk formal dari proses pelaporan risiko yang
dilakukan oleh pihak – pihak yang terkait dalam proses
manajemen risiko.
4. Sistem alokasi sumber daya
Mekanisme pembiayaan proses manajemen risiko.

3. Manajemen kontrak
Dalam pelaksanaannya, manajemen risiko juga membutuhkan
system manajemen kontrak, yaitu suatu proses untuk mengatur semua
perkara mengenai kontrak, seperti : penawaran, asuransi, dan sebagainya.
William, Smith, Young (1995), memaparkan bahwa, manajemen kontrak
harus dapat menguasai atau menangani, setidaknya 4 hal, yaitu :
1. Mengatur hubungan dan kontrak – kontrak dengan agen
asuransi dan broker.
2. Mempersiapkan dokumen atau kontrak penawaran untuk
layanan jasa pihak ketiga.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


14

3. Mengatur dokumen dan sertifikat asuransi.


4. Memberikan garansi atau menjamin rencana pembiayaan risiko
dengan pihak ke tiga.

4. Pengawasan klaim

Seorang manajer risiko, juga harus dapat berperan dalam


manajemen atau pengawasan klaim. Apabila suatu kejadian yang tidak
diinginkan terjadi pada suatu proyek, dan pihak kontraktor mengajukan
klaim pada perusahaan asuransi, manajer risiko mempunyai
tanggungjawab untuk bernegosiasi dengan utusan dari pihak asuransi dan
mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan klaim tersebut.
Ada beberapa macam klaim yang harus ditangani oleh manajer
risiko, antara lain :
1. Klaim yang berkaitan dengan properti
Klaim yang terjadi apabila ada suatu kerugian pada suatu
proyek dan kontraktor mengajukan klaim pada pihak asuransi.
2. Klaim pertanggungjawaban atau klaim dari pihak ketiga
Klaim yang terjadi akibat kecelakaan yang dialami oleh pihak
ketiga (misalnya : konsumen jatuh di tempat parkir yang licin).
3. Klaim yang berkaitan dengan sumber daya manusia
Klaim yang berhubungan dengan kesehatan dan keselamatan
pekerja dalam sebuah perusahaan.

5. Memonitor dan mengkaji ulang program

Untuk mengetahui seberapa berhasil, manajemen risiko yang telah


dijalankan, perlu dilakukan suatu proses untuk memonitor dan mengkaji
ulang program manajemen risiko yang telah dijalankan. Dengan adanya
proses pemantauan dan penkajian ulang ini, kontraktor dapat mengetahui
sejauh manaproses manajemen risiko yang telah dijalankan. Selain itu,
dengan proses tersebut, kontraktor dapat melihat kesalahan – keslahan
atau kekurangan – kekurangan yang terjadi selama proses manajemen
risiko, sehingga kontraktor dapat memperbaiki kekurangannya dan tidak
melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya.
Untuk melakukan proses pemantuan kegiatan manajemen risiko,
beberapa hal harus dilakukan :
1. Pemantauan secara terus - menerus
Pemantauan akan proses manajemen risiko yang dijalankan
harus dilakukan secara terus – menerus, sehingga terdapat
kesinambungan antara data – data yang didapatkan.
2. Audit program

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


15

Proses audit program manajemen risiko harus dijalankan untuk


memverifikasi sistem pemantauan dan pelaporan berkala. Audit
program dapat digunakan sebagai evaluasi untuk manajer risiko
dan fungsi manajemen risiko, serta menyediakan masukan yang
obyektif untuk pengembangan program.

Risk assessment is a step in a risk management process. Risk


assessment is the determination of quantitative or qualitative value of risk
related to a concrete situation and a recognized threat (also called hazard).
Quantitative risk assessment requires calculations of two components of
risk: R, the magnitude of the potential loss L, and the probability p, that the
loss will occur.
Methods may differ whether it is about general financial decisions or
environmental or public health risk assessment. Risk assessment consists
in an objective evaluation of risk in which assumptions and uncertainties
are clearly considered and presented. Part of the difficulty of risk
management is that measurement of both of the quantities in which risk
assessment is concerned - potential loss and probability of occurrence -
can be very difficult to measure. The chance of error in the measurement
of these two concepts is large. A risk with a large potential loss and a low
probability of occurring is often treated differently from one with a low
potential loss and a high likelihood of occurring. In theory, both are of
nearly equal priority in dealing with first, but in practice it can be very
difficult to manage when faced with the scarcity of resources, especially
time, in which to conduct the risk management process. Expressed
mathematically,

Financial decisions, such as insurance, express loss in terms of dollar


amounts. When risk assessment is used for public health or environmental
decisions, loss can be quantified in a common metric,such as a country's
currency, or some numerical measure of a location's quality of life. For
public health and environmental decisions, loss is simply a verbal
description of the outcome, such as increased cancer incidence or
incidence of birth defects. In that case, the "risk" is expressed as:

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


16

Risk assessment is a in an financial point of view.

If the risk estimate takes into account information on the number of


individuals exposed, it is termed a "population risk" and is in units of
expected increased cases per a time period. If the risk estimate does not
take into account the number of individuals exposed, it is termed an
"individual risk" and is in units of incidence rate per a time period.
Population risks are of more use for cost/benefit analysis; individual risks
are of more use for evaluating whether risks to individuals are
"acceptable".

In the context of public health, risk assessment is the process of


quantifying the probability of a harmful effect to individuals or populations
from certain human activities. In most countries, the use of specific
chemicals, or the operations of specific facilities (e.g. power plants,
manufacturing plants) is not allowed unless it can be shown that they do
not increase the risk of death or illness above a specific threshold. For
example, the American Food and Drug Administration (FDA) regulates
food safety through risk assessment.[1] The FDA required in 1973 that
cancer-causing compounds must not be present in meat at concentrations
that would cause a cancer risk greater than 1 in a million lifetimes.

How the risk is determined

In the estimation of the risks, three or more steps are involved, requiring
the inputs of different disciplines:
1. Hazard Identification, aims to determine the qualitative
nature of the potential adverse consequences of the contaminant
(chemical, radiation, noise, etc.) and the strength of the evidence
it can have that effect. This is done, for chemical hazards, by

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


17

drawing from the results of the sciences of toxicology and


epidemiology. For other kinds of hazard, engineering or other
disciplines are involved.
2. Dose-Response Analysis, is determining the
relationship between dose and the probability or the incidence of
effect (dose-response assessment). The complexity of this step
in many contexts derives mainly from the need to extrapolate
results from experimental animals (e.g. mouse, rat) to humans,
and/or from high to lower doses. In addition, the differences
between individuals due to genetics or other factors mean that
the hazard may be higher for particular groups, called
susceptible populations. An alternative to dose-response
estimation is to determine an effect unlikely to yield observable
effects, that is, a no effect concentration. In developing such a
dose, to account for the largely unknown effects of animal to
human extrapolations, increased variability in humans, or
missing data, a prudent approach is often adopted by including
safety factors in the estimate of the "safe" dose, typically a factor
of 10 for each unknown step.
3. Exposure Quantification, aims to determine the
amount of a contaminant (dose) that individuals and populations
will receive. This is done by examining the results of the
discipline of exposure assessment. As different location,
lifestyles and other factors likely influence the amount of
contaminant that is received, a range or distribution of possible
values is generated in this step. Particular care is taken to
determine the exposure of the susceptible population(s).

Finally, the results of the three steps above are then combined to
produce an estimate of risk. Because of the different susceptibilities and
exposures, this risk will vary within a population.

Quantitative risk assessments include a calculation of the single loss


expectancy (SLE) of an asset. The single loss expectancy can be
defined as the loss of value to asset based on a single security incident.
The team then calculates the annualized rate of occurrence (ARO) of the
threat to the asset. The ARO is an estimate based on the data of how
often a threat would be successful in exploiting a vulnerability. From this
information, the annualized loss expectancy (ALE) can be calculated.
The annualized loss expectancy is a calculation of the single loss
expectancy multiplied the annual rate of occurrence, or how much an
organization could estimate to lose from an asset based on the risks,
threats, and vulnerabilities. It then becomes possible from a financial
perspective to justify expenditures to implement countermeasures to
protect the asset.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


18

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


19

Risiko Kegiatan Pembangunan Perumahan

Resiko adalah bagian penting dari sebuah pelaksanaan terhadap


manajemen resiko karena resiko adalah obyek yang menjadi akar teori dan
permasalahan yang digunakan untuk mengembangkan teknik-teknik dan
analisa dalam menanggulangi resiko itu sendiri. Persepsi dan definisi
terhadap resiko berbeda-beda tergantung dari kepercayaan seseorang,
kelakuan penilaian dan perasaan dan juga termasuk faktor-faktor
pendukung antara lain: latar belakang pendidikan, pengalaman praktis di
lapangan, karakterisitik individu, kejelasan informasi, dan pengaruh
lingkungan sekitar.
Manajemen resiko adalah sebuah cara yang sistematis dalam
memandang sebuah resiko dan menentukan dengan tepat penanganan
resiko tersebut. Ini merupakan sebuah sarana untuk mengidentifikasi
sumber dari resiko dan ketidakpastian, memperkirakan dampak yang
ditimbulkan dan mengembangkan respon yang harus dilakukan untuk
menanggapi resiko.
Rumah sehat sederhana adalah tempat kediaman yang layak
dihuni, yang dibangun menggunakan bahan bangunan dan konstruksi
sederhana akan tetapi masih memenuhi standar kebutuhan minimal dari
aspek kesehatan, keamanan, dan kenyamanan, dengan
mempertimbangkan dan memanfaatkan potensi local meliputi potensi fisik
seperti bahan bangunan, geologis, dan iklim setempat serta potensi sosial
budaya seperti arsitektur lokal, dan cara hidup dan harganya terjangkau
oleh masyarakat berpenghasilan rendah atau sedang (Keputusan Menteri
Pemukiman dan Prasarana Wilayah Republik Indonesia, 2002).

Pendekatan sistematis mengenai manajemen resiko terdiri dari :

1. Identifikasi Resiko
Langkah yang utama dan paling penting dalam menghadapi resiko
adalah dengan mengidentifikasikannya. Banyak pembuat keputusan
meyakini bahwa prinsip yang baik dalam manajemen resiko berasal dari
tahap identifikasi daripada tahap analisa. Hal ini dikarenakan identifikasi
resiko mencakup perincian pemeriksaan strategi proyek, melalui resiko
potensial mana yang bisa ditemukan dan kemungkinan disusunnya respon.

2. Dampak dan Frekuensi


Untuk mengetahui seberapa besar dampak dan frekuensi dari
identifikasi resiko, yang harus dilakukan adalah dengan pengumpulan data
untuk proses manajemen risiko. Data bisa diperoleh melalui database
perusahaan, namun apabila tidak bisa didapat dari database, bisa juga
diambil dari pengalaman masa lalu.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


20

Data yang diambil merupakan sebuah asumsi prosentase atas sebuah


resiko yang dapat terjadi dalam sebuah item pekerjaan yang diangggap
beresiko.
Hal ini bertujuan untuk menentukan seberapa besar dampak yang dapat
diakibatkan dan mengetahui frekuensi terjadinya resiko yang telah
teridentifikasi tersebut.

3. Penanganan Resiko
Penanganan resiko adalah elemen terakhir dalam pendekatan
manajemen resiko berupa sebuah atau serangkaian tindakan yang menjadi
bagian dari para pembuat keputusan untuk menangani segala resiko yang
ada. Berbagai cara penanganan yang mungkin dilakukan oleh kontraktor
rumah sehat sederhana adalah:
▪ Asuransi
▪ Menunda proyek
▪ Menentukan klausa akan penambahan atau kompensasi di kontrak
pembayaran
▪ Menentukan sistem rekruitmen dan seleksi pekerja
▪ Membuat jadwal dan biaya dalam plan and control yang jelas dan
sesuai
▪ Memasukkan klausa yang sesuai dalam tingkat suku bunga, tingkat
inflasi dan keterlambatan untuk rencana kontingensi di dalam
kontrak
▪ Mengadopsi program safety control, manajemen sistem,
pengawasan dan pencegahan yang sesuai
▪ Memasukkan kondisi di dalam kontrak untuk tingkat polusi, dan
sebagainya
▪ Mengalihkan pekerjaan ke subkontraktor
▪ Menyediakan/stok kebutuhan material terlebih dahulu dan
menyimpannya
▪ Memperbaiki segala kerusakan atas komplain yang diterima.

MANAJEMEN RISIKO BISNIS KONSTRUKSI Daerah Kota Padang.


(Andar Atmaja, Akhmad Suraji, dan Benny Hidayat, 2006)

Pada proyek-proyek konstruksi terdapat sangat banyak risiko dimana risiko-


risiko tersebut sangat bervariatif. Pada manajemen risiko sangat diperlukan
memberikan prioritas utama kepada risiko-risiko yang penting sebelum
memulai sebuah proyek konstruksi. Selain itu, penting juga untuk menentukan
alokasi risiko yang tepat agar dapat mengurangi kerugian biaya, waktu dan
kualitas akibat risiko tersebut.
Penelitian ini membahas pandangan mengenai tingkat kepentingan dan
penanganan risiko pada proyek konstruksi, dalam kasus ini yaitu kontraktor
sebagai pelaksana proyek yang datanya diperoleh dari hasil kuisioner yang
dibagikan kepada perusahaan-perusahaan kontraktor di kota Padang.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


21

Hasil analisa dari perhitungan level risiko secara umum menunjukkan bahwa
pada level risiko tidak didapatkan rangking level risiko yang mencapai skala
untuk diklasikfikasikan risiko tinggi, hanya terdapat risiko sedang yakni risiko
perubahan harga dan material (nilai 5,2) dan risiko birokrasi atau perizinan
yang rumit (nilai 4,7). Sedangkan untuk penanganan risiko yang dihasilkan
pada penelitian ini menunjukkan bahwa yang paling banyak digunakan adalah
bentuk penangan risiko dihindari sebanyak 40 risiko dan bentuk penanganan
risiko diterima sebagai biaya sebanyak 8 risiko.

Identifikasi terhadap risiko-risiko dalam proyek konstruksi


perumahan di Malang
(Felisitas Kahat Higang, 2004)

Risiko merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Lebih-lebih dalam


kehidupan usaha jasa konstruksi, penuh dengan risiko yang harus dihadapi.
Beberapa risiko yang sering muncul dalam dunia usaha jasa konstruksi, yang
secara langsung dapat menimbulkan kerugian antara lain
(1) ketidak cocokan kondisi lapangan dengan data-data yang didapat
sebelumnya padahal kontraknya lumpsum,
(2) keterlambatan angsuran dari pemilik,
(3) keterlambatan pencairan kredit,
(4) keadaan cuaca di lokasi lapangan,
(5) lonjakan harga,
(6) perubahan moneter

Proyek konstruksi sebagai salah satu bentuk proyek memiliki sejumlah risiko
dalam pelaksanaannya. Sebagaimana dalam proyek lain, risiko yang terlibat di
dalamnya antara lain risiko eksternal, risiko internal, risiko teknis, dan risiko
legal..
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut: Bagaimanakah gambaran intensitas risiko
eksternal tidak dapat diprediksi yang terjadi pada proyek konstruksi
perumahan? Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah
mengetahui gambaran intensitas risiko eksternal tidak dapat diprediksi yang
terjadi pada proyek konstruksi perumahan.
Rancangan penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yaitu untuk melukiskan
fenomena apa adanya. Penelitian deskriptif dirancang untuk memperoleh
imformasi mengenai fenomena pada saat penelitian dilakukan, tidak ada
perlakuan yang diberikan atau yang dikendalikan seperti yang dijumpai pada
penelitian ekperimen, tujuan untuk melukiskan kondisi dalam situasi tertentu.
Data deskriptif ini dikumpulkan dengan teknik kuesioner atau angket. Data
yang terkumpul dianalisis dengan langkah sebagai berikut: (1) tabulasi data,
yang diperoleh berdasarkan angket atau kuesioner yang ada dsimasukan
kedalam tabel (2) analsis deskritif dengan menggunakan Mean. Populasi
penelitian adalah semua perusahan Jasa Konstruksi di Malang. Terdapat dua
jenis sampel yaitu sampel perusahaan dan sampel responden. Sedangkan
sampel responden diambil dari staf perusahaan yang menjadi sampel
penelitian. Sampel responden digunakan teknik purposive random sampling.
Dengan teknik tersebut, maka yang dijadikan sampel responden adalah:
direktur utama, wakil direktur, dan para manajer fungsional lainnya(manejer
lapangan, manejer keuangan, manejer pengadaan) setiap perusahaan diambil
5 orang responden berdasarkan data DPD REI MALANG jumlah perusahaan

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


22

sebanyak 28 perusahaan. Dari 28 perusahaan itu, diambil sampel sebanyak


60% yaitu 16 perusahaan jadi jumlah sampel responden adalah 80 responden.

Hasil penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:


(1) risiko ekternal tidak dapat diprediksi,
(2) risiko dapat diprediksi, terdiri atas lima jenis yaitu (a) kondisi
perekonomian yang buruk (b) penyediaan sumber daya (c) kondisi owner
kurang mendukung (d) kondisi perusahaan kurang baik, dan (e) retribusi
diluar dugaan
(3) risiko internal non teknis, risiko ini terdiri dari enam jenis yaitu, (a) kondisi
keuangan yang buruk, (b) kondisi waktu pelaksanaan yang buruk, (c)
kondisi SDM yang kurang baik (d) kecurangan, kelalaian, ketidakjujuran,
(e) risiko akibat pihak ketiga dan (f) kerusakan alat, property fisik.
(4) risiko internal tennis, risiko ini terdiri atas empat jenis yaitu, (a) tidak
dipenuhi spesifikasi teknis, (b) masalah teknik proyek yang mengalami
perubahan dari owner, (c) masalah konstruksi metode kerja konstruksi (d)
masalah kondisi fisik aktual yang ditemui dilapangan dan
(5) risiko legal, risiko ini terdiri atas tiga jenis yaitu, (a) masalah kontrak dan
pasal-pasalnya, (b) tuntutan hukum, (c) perizinan dan pembebasan lahan.

Bertitik tolak dari hasil penelitian diatas dapat disarankan perlunya


mengidentifikasi risiki-risiko ini lebih lanjut lagi agar risiko-risiko dapat diatasi
oleh perusahaan jasa konstruksi yang ada di Malang. Dalam hal ini terutama
dalam segi risiko internal non teknis.

blackantzz.blogspot.com/2009_09_...ive.html

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


23

ABOUT RISK ANALYSIS IN FOOD


The World Health Organization (WHO) and the Food and Agriculture Organization of
the United Nations (FAO) are in the forefront of the development of risk-based
approaches for the management of public health hazards in food. The approach used
is called risk analysis, and is made up of three components:
:: Risk assessment
:: Risk management
:: Risk communication

The diagram below illustrates the relationship between the three components of risk
analysis.

www.who.int/foodsafety/micro/ris...ysis/en/

Risk assessment
Risk assessment is the scientific evaluation of known or potential adverse health effects
resulting from human exposure to foodborne hazards. The process consists of the following
steps:
• Hazard identification: The identification of known or potential health effects
associated with a particular agent.
• Hazard characterization: The qualitative and/or quantitative evaluation of the
nature of the adverse effects associated with biological, chemical, and physical
agents which may be present in food. For chemical agents, a dose-response
assessment should be performed. For biological or physical agents, a dose-
response assessment should be performed if the data is obtainable.
• Exposure assessment: The qualitative and/or quantitative evaluation of the
degree of intake likely to occur.
• Risk characterization: Integration of hazard identification, hazard characterization
and exposure assessment into an estimation of the adverse effects likely to occur
in a given population, including attendant uncertainties.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


24

Risiko Pengelolaan Limbah B3

Risiko lingkungan adalah probabilitas dari kerusakan lingkungan


sehingga dapat menghambat kinerja perusahaan untuk mencapai
tujuannya, hal ini dapat juga disebabkan karena ketidakmampuan
perusahaan dalam mengelola limbah berbahan berbahaya dan beracun
(B3), maka dari itu perlu adanya manajemen risiko lingkungan untuk limbah
B3. Salah satu jenis limbah B3 adalah lumpur dari Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL) yang mengolah air limbah B3. Pengolahan yang disarankan
untuk lumpur B3 ini adalah solidifikasi dengan semen dan produk akhirnya
adalah paving. Banyak penelitian yang membahas mengenai manajemen
risiko lingkungan terutama penilaian risiko dengan berbagai kriteria dampak
lingkungan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Tetapi AHP
memiliki kelemahan yaitu tidak mempertimbangkan adanya ketidakpastian ,
padahal ketidakpastian ada dalam risiko lingkungan.
Fenton & Wang (2006) menyarankan penggunaan fuzzy dalam
mengatasi keterbatasan AHP. Penelitian ini dapat membantu PT. A dan
PT. B untuk mengelola risiko lingkungan lumpur B3 dari IPAL yang
pengolahannya menggunakan solidifikasi dengan semen sehingga kedua
perusahaan dapat mencapai tujuan lingkungannya yaitu melakukan
pengembangan berkelanjutan untuk mengelola dampak lingkungan. Ruang
lingkup penelitian ini adalah sistem pengelolaan lumpur B3 dimana sistem
ini dipengaruhi oleh key performance indicator (KPI); karakteristik lumpur;
produktifitas lumpur; dan ketersediaan lahan.
Hasil identifikasi risiko pada sistem menunjukkan adanya lima risiko,
yaitu Lumpur tumpah saat penyimpanan dan pengiriman; paving rusak saat
penyimpanan; pengiriman; dan pemanfaatan (Nur Indradewi Oktavitri, Nani
Kurniati, Udisubakti Ciptomulyono, 2009). Berdasarkan penilaian risiko
dengan Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP) diketahui bahwa risiko
paving rusak saat pemanfaatan memiliki nilai risiko berdasarkan dampak
yang paling besar, yaitu dalam rentang 0-1 nilai risikonya 0.7. Sedangkan
penilaian risiko berdasarkan probabilitas risiko dari hasil brainstorming
dengan pihak perusahaan, nilai risiko dalam rentang 0-1 untuk ke lima
risiko diatas, PT. B memiliki probabilitas di bawah 0.2 sedangkan PT. A
untuk risiko lumpur tumpah saat penyimpanan dan pengiriman serta paving
rusak saat pemanfaatan, nilai risikonya dibawah 0.2. Risiko paving rusak
saat penyimpanan, probabilitasnya 0.5 dan untuk risiko paving rusak saat
pengiriman nilai peluangnya 0.3. Pemetaan risiko menunjukkan bahwa
risiko lumpur tumpah saat penyimpanan dan pengiriman; paving rusak saat
penyimpanan dan pengiriman merupakan risiko yang rendah; sedangkan
risiko paving rusak saat pemanfaatan merupakan risiko yang signifikan.
Dengan menggunakan metode analisis akar-masalah Root Cause Analysis
(RCA) dapat diungkapkan bahwa seluruh risiko pada pengelolaan lumpur
B3 disebabkan oleh faktor teknis dan faktor manusia.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


25

ANALISIS RESIKO LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN LIMBAH


PABRIK TAHU DENGAN KAYU APU (Pistia stratiotes L.)
(Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali Masduqi. 2004).

Kayu apu sebagai tumbuhan air memiliki potensi dalam


menurunkan kadar pencemar air limbah, yang memiliki kadar organik
tinggi. Penelitian ini menggunakan air limbah pabrik tahu sebagai media
kayu apu dengan tujuan melakukan analisis resiko lingkungan.
Berdasarkan hasil analisis kualitas lingkungan maka dapat disimpulkan
berdasarkan hasil analisis kualitatif beberapa komponen resiko yang
memiliki resiko tinggi yaitu pencemaran air permukaan, limbah pabrik tahu
Purnomo Surabaya memiliki resiko kecil, dengan komponen yang paling
berpengaruh adalah limbah cair menurut analisis semi kuantitatif serta
pengaruh limbah secara keseluruhan terhadap manusia dan lingkungan
sekitar pabrik tidak signifikan.
Perkembangan industri dewasa ini telah memberikan sumbangan
besar terhadap perekonomian Indonesia. Di lain pihak hal tersebut juga
memberi dampak pada lingkungan akibat buangan industri maupun
eksploitasi sumber daya yang semakin intensif dalam pengembangan
industri. Lebih lanjut dinyatakan harus ada transformasi kerangka
kontekstual dalam pengelolaan industri, yakni keyakinan bahwa: operasi
industri secara keseluruhan harus menjamin sistem lingkungan alam
berfungsi sebagaimana mestinya dalam batasan ekosistem local hingga
biosfer. Efisiensi bahan dan energi dalam pemanfaatan, pemrosesan, dan
daur ulang, akan menghasilkan keunggulan kompetitif dan manfaat
ekonomi.
Berdasarkan hal di atas pengembangan industri harus dibarengi
upaya pengelolaan lingkungan dalam bentuk penanganan limbah yang
dilepaskan. Hal tersebut disertai dengan kegiatan penilaian terhadap resiko
lingkungan akibat kegiatan maupun hasil buangan industri untuk
mendapatkan tingkat resiko dan bahaya dari kegiatan industri tersebut.
Kegiatan penelitian yang dilakukan berupa pengumpulan data,
dimana data diperoleh dari hasil laporan pelaksanaan penelitian untuk
kemudian dianalisis resiko lingkungannya. Data yang diambil meliputi data
pengolahan limbah, kualitas/ baku mutu limbah cair dan sungai tempat
pembuangan serta data-data lain yang berkaitan. Analisis dilakukan
dengan membandingkan kondisi yang ada dengan parameter lingkungan
sehingga dapat diketahui tingkat resikonya. Suatu metode hirarki
digunakan untuk suatu acuan/ matriks kualitatif. Analisis metode matriks
dengan cara hirarki tingkatan, dengan bentuk matriks ini, kemungkinan
dirangking berdasarkan seberapa sering resiko akan terjadi dan besaran
dirangking berdasarkan kuat dan hebatnya dampak yang terjadi.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


26

Identifikasi Risiko Lingkungan

Sebelum melakukan identifikasi resiko lingkungan akibat aktifitas


industri pengolahan kelapa sawit, perlu terlebih dahulu diketahui rona
lingkungan wilayah studi, yang meliputi rona fisik kimia, biologi, serta
sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Daerah pemukiman padat, tanah-
tanah dibutuhkan untuk perumahan, kebutuhan komersil dan untuk
komersil dan untuk rekreasi, sehingga tidak ada lagi daerah yang kosong
yang dapat digunakan untuk Sanitary Landfill. Sebagian besar wilayah
studi merupakan pemukiman yang memiliki beberapa kelompok hutan kota.
Tumbuhan yang umum ada di hutan kota adalah yang dapat hidup baik di
dataran rendah yaitu: akasia, sono, tembesu, bungur, bambu, meranti,
medang. Fauna yang umum ada di wilayah studi adalah fauna yang biasa
diternakkan oleh warga seperti sapi, kambing, kerbau, domba, ayam, dan
itik. Selain itu di dalam air juga terdapat ikan hias maupun ikan untuk
konsumsi. Sebagian penduduk hidup dari perdagangan, industri,
pariwisata, dan pegawai negeri. Surabaya sebagai permukiman pantai
adalah pintu keluar dan masuk bagi hinterland yang subur dan kaya hasil
bumi. Telah menjadikannya sebuah kota dagang.

Pengolahan Limbah Kota

hasakona.wordpress.com/
Pemahaman tentang sifat air limbah adalah fundamental untuk mendesain
pengolahan air limbah yang sesuai dengan teknologi yang efektif. Air limbah
berasal dari penggunaan air oleh rumah tangga, Pasar dan industri, yang
bercampur degan air tanah, air permukaan dan air hujan (lihat gambar ).
Akibatnya, aliran air limbah berfluktuasi tergantung dari penggunaannya, dan
dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk iklim, jumlah masyarakat, standar
hidup, keandalan dan kualitas pasokan air, konservasi air harus dipraktekan,
dan diukur sampai sejauh mana, di samping tingkat industrialisasi, biaya air
dan pasokan.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


27

Sumber limbah cair pabrik tahu berasal dari proses merendam


kedelai serta proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu. Pada Tabel 6 dapat
dilihat bagaimana karakteristik pencemar yang berasal dari limbah pabrik
tahu.

Tabel 6. Kandungan Pencemar Limbah Tahu

Nomor COD (mg/l) BOD (mg/l) N-Total P-Total pH


Sampel (mg/l) (mg/l)
1 7250 5643 169,5 ? 3,94
2 6870 5395 153,4 ? 4,28
Rata-rata 7050 5389,5 161,5 81.6 4,11
Sumber: Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali Masduqi (2004).

Untuk limbah industri tahu tempe ada dua hal yang perlu
diperhatikan yakni karakteristik fisika dan kimia. Karakteristik fisika meliputi
padatan total, suhu, warna dan bau. Karakteristik kimia meliputi bahan
organik, bahan anorganik dan gas. Suhu buangan industri tahu berasal dari
proses pemasakan kedelai. Suhu limbah cair tahu pada umumnya lebih
tinggi dari air bakunya, yaitu 40oC sampai 46oC. Suhu yang meningkat di
lingkungan perairan akan mempengaruhi kehidupan biologis, kelarutan
oksigen dan gas lain, kerapatan air, viskositas, dan tegangan permukaan.
Bahan-bahan organik yang terkandung di dalam buangan industri
tahu pada umumnya sangat tinggi. Senyawa-senyawa organik di dalam air
buangan tersebut dapat berupa protein, karbohidrat, lemak dan minyak. Di
antara senyawa-senyawa tersebut, protein dan lemaklah yang jumlahnya
paling besar, yang mencapai 40% - 60% protein, 25 - 50% karbohidrat, dan
10% lemak (Sugiharto, 1987). Semakin lama jumlah dan jenis bahan
organik ini semakin banyak, dalam hal ini akan menyulitkan pengelolaan
limbah, karena beberapa zat sulit diuraikan oleh mikroorganisme di dalam
air limbah tahu tersebut. Untuk menentukan besarnya kandungan bahan
organik digunakan beberapa teknik pengujian seperti BOD, COD dan TOM.
Uji BOD merupakan parameter yang sering digunakan untuk mengetahui
tingkat pencemaran bahan organik, baik dari industri ataupun dari rumah
tangga.
Air buangan industri tahu kualitasnya bergantung dari proses yang
digunakan. Apabila air prosesnya baik, maka kandungan bahan organik
pada air buangannya biasanya rendah. Pada umumnya konsentrasi ion
hidrogen buangan industri tahu ini cenderung bersifat asam. Komponen
terbesar dari limbah cair tahu yaitu protein (N-total) sebesar 226,06 sampai
434,78 mg/l (Nurhasan dan Pramudya, 1987), sehingga masuknya limbah

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


28

cair tahu ke lingkungan perairan akan meningkatkan total nitrogen di


peraian tersebut.
Gas-gas yang biasa ditemukan dalam limbah adalah gas nitrogen
(N2), oksigen (O2 ), hidrogen sulfida (H2S), amonia (NH3 ), karbondioksida
(CO2 ) dan metana (CH4). Gas-gas tersebut berasal dari dekomposisi
bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air buangan. Beberapa
contoh hasil pengukuran kadar BOD Dan COD di dalam air limbah tahu
dan tempe di daerah DKI Jakarta ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Analisa Limbah Cair Industri Tahu

PARAMETER LOKASI COD(mg/l) BOD(mg/l)


Cipinang 1102 910
Kebon Pala 3211 2200
Utan Kayu 8327 1200
Setia Budi 5904 2250
Tebet 2362 2100
Kebayoran Lama 7916 3450
Kuningan Barat 8360 8100
Mampang 4897 3550
Cilandak 9207 5425
Pasar Minggu 3779 1750
Tegal Parang 15055 12100
Sumber: Nusa Idaman Said, dan Arie Herlambang, 2009.

Sumber limbah padat berasal dari penyaringan bubur kedelai


berupa ampas tahu yang sudah melalui pemerasan berkali-kali dengan
menyiram air panas sampai tidak mengandung sari lagi. Walaupun
diperkirakan masih ada resiko dalam kegiatan pabrik tahu di lokasi studi,
upaya-upaya pengendalian dan minimalisir oleh pihak pabrik dilakukan
melalui pengendalian dan pemanfaatan kembali limbah.
Pengelolaan limbah cair adalah menggunakan kolam pengolahan limbah
dengan menggunakan kayu apu. Dalam pengolahan limbah ini digunakan
air PDAM sebagai pengencer dengan perbandingan 1:6 yaitu 1 bagian
limbah pabrik tahu dengan 6 bagian air PDAM.
Pemanfaatan limbah padat adalah sebagai makanan ternak. Pabrik
tahu Purnomo Kalidami, Surabaya memanfaatkan ampas limbah tahu
untuk makanan babi di daerah Pegirian, Surabaya. Dari uraian rona
lingkungan yang dijelaskan dan penjelasan tentang proses pengelolaan
limbah sebagaimana disebutkan di atas, dapat diidentifikasi dan

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


29

diperkirakan resiko limbah pabrik tahu terhadap komponen lingkungan


seperti pada Tabel 72.

Tabel 7. Identifikasi Resiko

Komponen Lingkungan, Pengaruh Limbah

Tata guna lahan (tanah) Ada


Kualitas udara Ada
Kebisingan Ada
Kualitas air Ada
Flora darat Ada
Flora air Ada
Fauna darat Ada
Fauna air Ada
Struktur kependudukan Ada
Pendidikan Tidak ada
Agama Tidak ada
Tingkat kesehatan masyarakat Ada
Tingkat pendapatan Ada
Estetika lingkungan Ada
Sikap; budaya; dan perilaku masyarakat Tidak ada
Sumber: Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali Masduqi (2004).

Prakiraan resiko terhadap tata guna lahan yang mungkin terjadi


yaitu resiko berasal dari buangan limbah terutama limbah cair yang
mencemari air tanah dan air permukaan. Akibat pencemaran tersebut
maka warga merasa tidak nyaman dan pindah dari lokasi sekitar pabrik,
sehingga terjadi perubahan tata guna lahan. Resiko yang muncul bersifat
negatif. Bobotnya kecil karena pencemaran yang terjadi tidak berdampak
langsung terhadap masyarakat.
Prakiraan resiko terhadap udara, yaitu resiko berasal dari bau
limbah tahu yang semakin lama semakin tidak sedap. Akibat pencemaran
tersebut warga khususnya pekerja pabrik merasa kurang nyaman akibat
terhisapnya bau ke dalam pernafasan. Jenis resiko yang muncul bersifat
negatif. Bobotnya kecil karena pencemaran gas yang timbul jumlahnya
kecil dan bukan merupakan gas yang berbahaya.
Prakiraan resiko terhadap air tanah yaitu berasal dari pengolahan
limbah cair, yang mungkin meresap dan masuk ke dalam air tanah. Resiko
yang mungkin timbul berupa timbulnya penyakit-penyakit yang diderita oleh
masyarakat yang menggunakan air tanah, seperti penyakit kulit, penyakit
perut, dan lain-lain. Resiko yang muncul bersifat negatif. Bobotnya sedang

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


30

karena lokasi dekat dengan warga sehingga ada kemungkinannya


mencemari air sumur warga.
Prakiraan resiko terhadap air permukaan yaitu berasal dari
pengolahan limbah cair, yang dibuang ke sungai. Resiko yang timbul pada
flora, fauna, dan manusia, yang memanfaatkan sungai. Resiko terbesar
yang mungkin terjadi adalah matinya biota air, tumbuhan air, dan hewan
air. Resiko yang muncul bersifat negatif.
Dari hasil pengujian maka effluen dari pengolahan Pabrik Tahu
Purnomo, Kalidami, Surabaya berada di atas Baku Mutu yang diijinkan
Pemda Jawa Timur, seperti pada Tabel 8.

Tabel 8. Effluen Pengolahan Limbah Pabrik Tahu Purnomo, Kalidami, Surabaya

Parameter Data Laboratorium


BOD 38
COD 149
NH4+ 3.94
PO43- 2.5
pH 7.9
Sumber: Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali Masduqi (2004).

Prakiraan resiko terhadap flora darat berasal dari limbah cair yang
berasal dari proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah
kemudian dibuang ke sungai lalu dihisap oleh tumbuhan yang hidup di
sekitar sungai. Resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya
kemampuan tumbuhan dalam berfotosintesis sehingga menyebabkan
tumbuhan tersebut mati serta bersifat negatif. Tetapi bobotnya kecil karena
effluen dari pabrik tahu telah mengalami pengenceran air sungai sehingga
konsentrasi pencemar juga menurun.
Prakiraan resiko terhadap flora air berasal dari limbah cair yang
berasal dari proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah
kemudian dibuang ke sungai lalu dihisap oleh tumbuhan yang hidup di
sekitar sungai. Resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya
kemampuan tumbuhan dalam berfotosintesis sehingga menyebabkan
tumbuhan tersebut mati serta bersifat negatif. Bobotnya kecil karena
effluen dari pabrik tahu telah mengalami pengenceran air sungai sehingga
konsentrasi pencemar juga menurun. Dengan demikian kecil pengaruhnya
terhadap flora air.
Prakiraan resiko terhadap fauna darat berasal dari limbah cair yang
berasal dari proses akhir pemisahan jonjot-jonjot tahu yang telah diolah
kemudian dibuang ke sungai lalu dihisap oleh tumbuhan yang hidup di
sekitar sungai. Berkurangnya flora darat mempengaruhi pula fauna yang

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


31

ada. Resiko yang mungkin timbul berupa berkurangnya jumlah fauna


daratan, dan akibat berkurangnya flora darat mengurangi pula makanan
bagi fauna darat serta bersifat negatif. Bobotnya kecil karena pengaruh
limbah bagi kehidupan di darat tidak terlalu signifikan.
Prakiraan resiko terhadap fauna air berasal dari limbah cair yang
berasal dari kolam pengolahan ke sungai. Resiko yang mungkin timbul
berupa berkurangnya fauna di dalam air serta bersifat negatif. Bobotnya
kecil karena effluen dari pabrik tahu telah mengalami pengolahan yang baik
serta sehingga konsentrasi pencemar juga kecil. Dengan demikian kecil
pengaruhnya terhadap fauna air.
Prakiraan resiko terhadap tingkat kesehatan masyarakat berasal
dari limbah cair yang dari kolam pengolahan yang masuk ke dalam air
permukaan/ sungai, di mana masyarakat sekitar tinggal dan memanfaatkan
sungai maupun air tanah (sumur).
Resiko yang mungkin timbul berupa munculnya penyakit kulit, perut,
dan sebagainya serta bersifat negatif. Bobotnya adalah sedang karena
pemanfaatan sungai dipakai untuk menyiram tanaman oleh masyarakat di
sekitar sungai. Sedangkan pemanfaatan sumur dipakai untuk keperluan
sehari-hari seperti mandi, mencuci, bahkan sumber air untuk memasak.
Prakiraan resiko terhadap estetika lingkungan berasal dari limbah
cair yang dari kolam pengolahan yang masuk ke dalam air
permukaan/sungai, limbah padat yang ditumpuk. Resiko yang mungkin
terjadi berupa penurunan estetika lingkungan dan bersifat negatif serta
bobotnya kecil.
Analisis Resiko Lingkungan merupakan kegiatan memperkirakan
kemungkinan munculnya suatu resiko dari suatu kegiatan dan menentukan
dampak dari kegiatan/peristiwa tersebut. Dalam analisis ini akan digunakan
tiga metode analisis yaitu analisis kualitatif, analisis semi kuantitatif dan
analisis lingkungan signifikan (Idris, 2003)
Dengan metode analisis kualitatif ini akan dibuat matriks kombinasi
antara nilai peluang resiko seperti Tabel 9 dan besarnya resiko pada Tabel
10 sehingga akan dihasilkan suatu nilai resiko tinggi, sedang atau rendah
seperti Tabel 11.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


32

Tabel 9. Matriks Peluang Resiko

Resiko Level Uraian


peluang
Perubahan E Masyarakat menjual lahan karena menurunnya
tata guna kenyamanan lingkungan; peluang tejadinya resiko ini
lahan adalah jarang.
Pencemaran D Pencemaran udara dapat terjadi karena bau dari proses
udara pengolahan limbah tahu, peluang terjadinya kecil.

Pencemaran B Pencemaran air tanah dari kolam pengolahan limbah,


air tanah karena muka air cukup dalam maka peluangnya besar.

Pencemaran B Pencemaran air permukaan berasal dari air limbah yang


air permukaan dibuang ke sungai walaupun sudah melalui proses
pengolahan peluang terjadinya besar.
Penurunan D Penurunan jumlah flora darat akibat bau yang berasal dari
jumlah flora pengolahan limbah tahu kemungkinan terjadinya kecil.
darat
(terestrial)

Penurunan C Jumlah flora air dapat menurun akibat limbah yang masuk
jumlah flora ke air permukaan, dengan peluang terjadinya sedang.
air (aquatik)

Penurunan D Penurunan jumlah fauna darat di sekitar sungai akibat


jumlah fauna limbah yang dibuang kecil.
darat

Penurunan C Penurunan jumlah fauna air di sekitar sungai akibat


jumlah fauna limbah yang dibuang sedang.
air

Penurunan C Tingkat kesehatan masyarakat menurun akibat


tingkat pencemaran air sumur oleh buangan
kesehatan limbah pabrik, peluangnya sedang.
masyarakat

Berkurangnya D Pencemaran air sungai dan tumpukan limbah padat


estetika mengurangi estetika lingkungan,
lingkungan dengan peluang kecil.

Keterangan: A = Pasti terjadi; B = Kemungkinan besar; C = Kemungkinan sedang; D =


Kemungkinan kecil; E = Jarang.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


33

Tabel 10. Matriks Besaran Resiko

Resiko Level Uraian


peluang
Perubahan tata 2 Risikonya “Kecil”, karena harga lahan di wilayah
guna lahan Surabaya sangat mahal
Pencemaran udara 2 Kecil karena gas yang dihasilkan tidak berbahaya dan
jumlahnya sedikit sehingga dapat dengan mudah
diatasi.
Pencemaran air 3 Sedang karena mempengaruhi manusia dan bila ini
tanah terjadi memerlukan prosedur tertentu untuk
penanganannya
Pencemaran air 4 Besar karena mempengaruhi lingkungan dan manusia
permukaan di sekitar sungai namun dapat diawasi melalui
kerjasama yang baik antara pabrik, pemerintah serta
LSM.

Penurunan jumlah 2 Kecil karena tidak terlalu dipengaruhi limbah pabrik.


flora darat
(terestrial)
Penurunan jumlah 3 Sedang karena mempengaruhi populasi ikan dan
flora air (aquatik) berdampak pada manusia dapat diatasi dengan
manajemen yang baik antara pihak-pihak terkait.
Penurunan jumlah 2 Kecil karena tidak terlalu dipengaruhi limbah pabrik.
fauna darat
Penurunan jumlah 3 Risikonya “Sedang”, karena jumlah flora yang
fauna air menurun.

Penurunan tingkat 3 Risikonya “Sedang” , karena berhubungan dengan


kesehatan kesehatan manusia.
masyarakat
Berkurangnya 2 Resiko yang berhubungan dengan estetika lingkungan
estetika lingkungan “kecil”, karena risiko ini dapat diatasi dengan
pengelolaan pabrik yang lebih baik.

Keterangan : 1 = Pengaruh tidak berarti; 2 = Pengaruh kecil; 3 = Pengaruhnya sedang; 4 =


Pengaruhnya besar; 5 = Bencana

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


34

Tabel 11. Matriks Tingkat Resiko

Resiko Peluang Nilai Nilai


Besaran Resiko
Perubahan tata guna lahan E 2 R
Pencemaran udara D 2 R
Pencemaran air tanah D 3 S
Pencemaran air permukaan B 4 T
Penurunan jumlah flora darat (terestrial) D 2 R
Penurunan jumlah flora air (aquatik) C 3 S
Penurunan jumlah fauna darat D 2 R
Penurunan jumlah fauna air C 3 S
Penurunan tingkat kesehatan masyarakat C 3 S
Berkurangnya estetika lingkungan D 2 R

Keterangan: T = Tinggi; S = Sedang; R = Rendah


Sumber: Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali Masduqi (2004).

Risk matrix and risk score

Use the risk matrix to combine LIKELIHOOD and IMPACT ratings and values
to obtain a risk score. The risk score may be used to aid decision making
and help in deciding what action to take in view of the overall risk. How the
risk score is derived can be seen from the sample risk matrix and risk score
table shown below. Four levels of risk level or score are shown in the matrix
and table below, but you can define as many risk scores as you believe are
necessary.

www.austrac.gov.au/elearning_aml..._14.html

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


35

www.austrac.gov.au/elearning_aml..._14.html

Risk-Era: The Swedish Rescue Service's Tool for Community


Risk Management

The risk matrix shows the number of risks for each of the risk levels in the diagram.

proceedings.esri.com/library/use...0307.htm

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


36

Analisis semi kuantitatif juga menggunakan matriks penilaian resiko


yang menggabungkan unsure frekuensi, besaran pengaruh, dan sensitifitas
untuk mendapatkan tingkat resiko. Pada Tabel 12 disajikan matrik
frekuensi dan Tabel 13 disajikan matrik nilai besaran.

Tabel 12. Matriks Frekuensi

Resiko Frekuensi Uraian

Perubahan tata 1 Masyarakat menjual lahannya karena menurunnya


guna lahan kenyamanan lingkungan; hal ini tidak pernah terjadi.

Pencemaran udara 2 Frekuensi kejuadian pencemaran udara akibat bau


yang timbul dari tumpukan limbah padat dan proses
pengolahan limbah adalah kecil.
Pencemaran air 2 Frekuensi pencemaran air tanah kecil sebagai
tanah akibat dari kolam pengolahan limbah meresap ke
dalam tanah kecil.
Pencemaran air 3 Kemungkinan terjadinya pencemaran air
permukaan permukaan medium, akibat buangan air dari kolam
pengolahan limbah dibuang ke sungai.
Penurunan jumlah 2 Penurunan jumlah flora darat di sekitar sungai
flora darat akibat menyerap buangan air limbah yang dibuang
(terestrial) ke sungai frekuensinya kecil,

Penurunan jumlah 3 Penurunan jumlah flora air akibat limbah yang


flora air (aquatik) masuk mempunyai frekuensi medium.

Penurunan jumlah 2 Penurunan jumlah fauna darat akibat tercemarnya


fauna darat lingkungan dan berkurangnya makanan,
mempunyai frekuensi kecil.
Penurunan jumlah 3 Jumlah fauna air yang menurun akibat pencemaran
fauna air dari berkurangnya flora air mempunyai frekuensi
medium.
Penurunan tingkat 2 Penurunan tingkat kesehatan masyarakat akibat
kesehatan penggunaan air sumur untuk mandi, cuci, dan
masyarakat memasak frekuensinya kecil.

Berkurangnya 2 Pencemaran air dan tumpukan limbah padat


estetika lingkungan mengurangi estetika, frekuensinya kecil.

Keterangan: 1 = ada kemungkinan tidak terjadi; 2 = kecil; 3 = medium; 4 = sering ;5 =


sangat sering terjadi
Sumber: Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali Masduqi (2004).

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


37

Tabel 13. Matriks Nilai Besaran


Resiko Nilai Uraian
besaran
Perubahan tata guna 3 Pengaruhnya sedang kepada masyarakat;
lahan karena jaraknya cukup dekat.
Pencemaran udara 2 Pengaruhnya kecil karena bukan gas berbahaya
dan jumlahnya sedikit.
Pencemaran air 3 Pengaruhnya sedang karena mempengaruhi
tanah kehidupan manusia.
Pencemaran air 4 Pengaruhnya besar karena mempengaruhi
permukaan lingkungan.
Penurunan jumlah 2 Pengaruhnya kecil karena tidak terlalu
flora darat (terestrial) dipengaruhi limbah pabrik.
Penurunan jumlah 3 Sedang karena mempengaruhi polulasi ikan dan
flora air (aquatik) berdampak pada manusia.
Penurunan jumlah 2 Pengaruhnya kecil karena tidak terlalu
fauna darat dipengaruhi oleh limbah pabrik.
Penurunan jumlah 4 Besar karena mempengaruhi manusia.
fauna air
Penurunan tingkat 4 Besar karena berhubungan dengan kehidupan
kesehatan manusia.
masyarakat
Berkurangnya 2 Pengaruhnya kecil terhadap estetika lingkungan.
estetika lingkungan
Keterangan : 1 = Resiko tidak ada; 2 = Resiko dan pengaruhnya kecil; 3 = Resiko
sedang; 4 = Resiko besar; 5 = Resiko besar sekali
Sumber: Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali Masduqi (2004).

Qualitative Risk Analysis Matrix

www.dpmc.gov.au/implementation/p...licy.cfm

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


38

(E) Extreme risk - detailed action/plan required

Rating risk (H) High risk - needs senior management attention


level: (M) Moderate risk - specify management responsibility
(L) Low risk - manage by routine procedures
A Almost certain - expected in most circumstances
B Likely - will probably occur in most circumstances
Likelihood: C Possible - could occur at some time
D Unlikely - not expected to occur
E Rare - exceptional circumstances only
5 Severe - would stop achievement of functional goals / objectives
4 Major - would threaten functional goals / objectives
Moderate - necessitating significant adjustment to overall
Consequences:
3 function
2 Minor - would threaten an element of the function
1 Negligible - lower consequence

Tabel 14 menunjukkan matrik nilai sensitivitas dan Tabel 15 menunjukkan


nilai resiko yang mungkin dapat terjadi.

Tabel 14. Matriks Nilai Sensitivitas

Resiko Nilai Uraian


sensitivitas
Perubahan tata guna lahan 2 Menjadi perhatian dari kelompok tertentu.
Pencemaran udara 2 Menjadi perhatian dari kelompok tertentu.
Pencemaran air tanah 3 Menjadi perhatian dari masyarakat lokal.
Pencemaran air permukaan 4 Menjadi perhatian dari pemerintah lokal
dan masyarakat local Kota Surabaya.
Penurunan jumlah flora darat 2 Menjadi perhatian dari kelompok tertentu.
(terestrial)
Penurunan jumlah flora air 1 Tidak menjadi perhatian masyarakat.
(aquatik)
Penurunan jumlah fauna darat 2 Menjadi perhatian dari kelompok tertentu.
Penurunan jumlah fauna air 3 Menjadi perhatian masyarakat lokal.
Penurunan tingkat kesehatan 3 Menjadi perhatian masyarakat lokal.
masyarakat
Berkurangnya estetika 1 Tidak menjadi perhatian masyarakat.
lingkungan
Keterangan: 5 = Tidak menjadi internasional/dunia/media; 4 = Menjadi perhatian
nasional; 3 = Menjadi perhatian regional/local; 2 = Menjadi perhatian kelompok; 1 =
Tidak menjadi perhatian masyarakat. Sumber: Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali
Masduqi (2004).

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


39

Tabel 15. Nilai Resiko

Resiko Frekuen- Pengar Sensitivi Nilai Resiko


si (F) uh (S1) tas (S2) R=Fx(S1+S2
Perubahan tata guna lahan 1 3 2 5
Pencemaran udara 2 2 2 8
Pencemaran air tanah 2 3 3 12
Pencemaran air permukaan 3 4 4 24
Penurunan jumlah flora darat 2 2 2 8
(terestrial)
Penurunan jumlah flora air (aquatik) 3 3 1 12
Penurunan jumlah fauna darat 2 2 2 8
Penurunan jumlah fauna air 3 4 3 21
Penurunan tingkat kesehatan 2 4 3 14
masyarakat
Berkurangnya estetika lingkungan 2 2 1 6
Total Resiko 118
Keterangan : 0 – 150 = Resiko rendah, pengelolaan dengan prosedur yang rutin.; 151 –
300 = Resiko sedang, memerlukan perhatian manajemen tingkat tinggi; 301 – 450 = Resiko
tinggi, memerlukan penelitian dan manajemen terperinci. Sumber: Alia Damayanti, Joni
Hermana, dan Ali Masduqi (2004).

Dengan demikian dapat disimpulkan limbah dari Pabrik Tahu Purnomo,


Kalidami, Surabaya memiliki resiko kecil.

Tabel 16. Analisis Dengan Aspek Lingkungan Signifikan


Resiko Nilai Resiko
(A*B*C*D*
E*F*G)
A B C D E F G
Perubahan tata guna lahan 3 1 1 5 3 1 1 45
Pencemaran udara 1 3 3 8 3 1 1 216
Pencemaran air tanah 7 6 3 5 1 3 1 1890
Pencemaran air permukaan 7 5 3 3 7 1 3 6615
Penurunan jumlah flora darat 2 3 3 3 2 3 1 324
(terestrial)
Penurunan jumlah flora air 4 2 1 5 5 7 1 1400
(aquatik)
Penurunan jumlah fauna darat 2 2 3 3 2 3 1 216
Penurunan jumlah fauna air 4 2 1 5 5 4 2 1600
Penurunan tingkat kesehatan 3 4 3 5 3 1 3 1620
masyarakat
Berkurangnya estetika 3 3 3 5 3 3 1 1215
lingkungan
Keterangan: A = Luasan Dampak; B = Keseriusan Resiko; C = Peluang terjadinya
resiko; D = Waktu pemaparan; E = Peraturan perundang-undangan; F = Metode
Pengendalian; G = Persepsi/pandangan masyarakat. Sumber: Alia Damayanti, Joni
Hermana, dan Ali Masduqi (2004).

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


40

Menurut kriteria aspek lingkungan tidak signifikan bila hasil evaluasi


menunjukkan nilai 1 – 196.000, cukup signifikan bila 196.001 – 392.000
dan signifikan bila 392.001 – 588.245 (Razif, 2002). Ternyata dari hasil
evaluasi tidak ada aspek lingkungan signifikan, karena angka semuanya
berada di bawah 196.000. Hanya satu komponen yaitu pencemaran air
permukaan yang tinggi namun tidak sampai 196.000.
Berdasarkan hasil analisis kualitatif beberapa komponen resiko
yang memiliki resiko tinggi yaitu pencemaran air permukaan. Limbah pabrik
tahu memiliki resiko kecil, dengan komponen yang paling berpengaruh
adalah limbah cair. Pengaruh limbah secara keseluruhan terhadap
manusia dan lingkungan sekitar pabrik tidak signifikan. Hal ini karena
adanya unit pengolahan limbah sehingga limbah memiliki konsentrasi yang
kecil.

Limbah cair yang dikeluarkan oleh kegiatan industri-industri umumnya masih


menjadi masalah bagi lingkungan sekitarnya, karena pada umumnya
industri-industri, terutama industri rumah tangga mengalirkan langsung air
limbahnya ke selokan atau sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Demikian
pula dengan industri tahu/tempe yang pada umumnya merupakan industri
rumah tangga. Keadaan ini akibat masih banyaknya pengrajin tahu/tempe
yang belum mengerti akan kebersihan lingkungan dan disamping itu pula
tingkat ekonomi yang masih rendah, sehingga pengolahan limbah akan
menjadi beban yang cukup berat bagi mereka. Namun demikian keberadaan
industri tahu-tempe harus selalu didukung baik oleh pemerintah maupun
oleh masyarakat karena makanan tahu-tempe merupakan makanan yang
digemari oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia, disamping nilai
gizinya tinggi harganya pun relatif murah.
Limbah industri tahu-tempe dapat menimbulkan pencemaran yang cukup
berat karena mengandung polutan organik yang cukup tinggi. Dari beberapa
hasil penelitian, konsentrasi COD (Chemical Oxygen Demand) di dalam air
limbah industri tahu-tempe cukup tinggi yakni berkisar antara 7.000 - 10.000
ppm, serta mempunyai keasaman yang rendah yakni pH 4-5. Dengan
kondisi seperti tersebut di atas, air limbah industri tahu-tempe merupakan
salah satu sumber pencemaran lingkungan yang sangat potersial.
Pada saat ini pengelolaan air limbah industri tahu-tempe umumnya dilakukan
dengan cara membuat bak penampung air limbah sehingga terjadi proses
anaerob. Dengan adanya proses biologis anaerob tersebut maka kandungan
polutan organik yang ada di dalam air limbah dapat diturunkan. Tetapi
dengan proses tersebut efisiesi pengolahan hanya berkisar antara 50 % - 70
% saja. Dengan demikian jika konsertarsi COD dalam air limbah 7000 ppm,
maka kadar COD yang keluar masih cukup tinggi yakni sekitar 2100 ppm,
sehinga hal ini masih menjadi sumber pencemaran lingkungan.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah air limbah industri tahu-tempe tersebut
adalah dengan kombinasi proses pengolahan biologis anaerob dan aerob. Secara
umum proses pengolahannya dibagi menjadi dua tahap yakni pertama proses

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


41

penguraian anaerob (Anaerobic digesting), dan yang ke dua proses pengolahan


lanjut dengan sistem biofilter anaerob-aerob.
Air limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan tahu-tempe kumpulkan melalui
saluran air limbah, kemudian dilairkan ke bak kontrol untuk memisahkan kotoran
padat. Selanjutnya, sambil di bubuhi dengan larutan kapur atau larutan NaOH air
limbah dialirkan ke bak pengurai anaerob. Di dalam bak pengurai anaerob tersebut
polutan organik yang ada di dalam air limbah akan diuraikan oleh mikroorganisme
secara anaerob, menghasilkan gas methan yang dapat digunakan sebagai bahan
bakar. Dengan proses tahap pertama konsentrasi COD dalam air limbah dapat
diturukkan sampai kira-kira 600 ppm (efisiensi pengolahan 90 %). Air olahan tahap
awal ini selanjutnya diolah dengan proses pengolahan lanjut dengan sistem biofilter
aerob.

Teknologi Pengolahan Limbah Tahu-Tempe Dengan


Proses Biofilter Anaerob Dan Aerob

www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Arti...htt.html
Diagram proses pengolahan air limbah industri tahu-tempe dengan
sistem kombinasi biofilter "Anareb-Aerob".

Industri tahu dan tempe merupakan industri kecil yang banyak tersebar di kota-
kota besar dan kecil. Tempe dan tahu merupakan makanan yang digemari oleh
banyak orang. Akibat dari banyaknya industri tahu dan tempe, maka limbah hasil
proses pengolahan banyak membawa dampak terhadap lingkungan. Limbah dari
pengolahan tahu dan tempe mempunyai kadar BOD sekitar 5.000 - 10.000 mg/l, COD
7.000 - 12.000 mg/l.
Besarnya beban pencemaran yang ditimbulkan menyebabkan gangguan yang
cukup serius terutama untuk perairan disekitar industri tahu dan tempe. Teknologi
pengolahan limbah tahu tempe yang ada saat ini pada umumnya berupa pengolahan
limbah sistem anaerob. Dengan proses biologis anaerob, efisiensi pengolahan hanya
sekitar 70-80 %, sehingga air lahannya masih mengandung kadar polutan organik
cukup tinggi, serta bau yang ditimbulkan dari sistem anaerob dan tingginya kadar
fosfat merupakan masalah yang belum dapat diatasi.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


42

Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan cara kombinasi proses
biologis anaerob-aerob yakni proses penguraian anaerob dan diikuti dengan proses
pengolahan lanjut dengan sistem biofilter anaerob-aerob. Dengan kombinasi proses
tersebut diharapkan konsentrasi COD dalan air olahan yang dihasilkan turun menjadi
60 ppm, sehingga jika dibuang tidaklagi mencemari lingkungan sekitarnya.

Limbah cair yang berasal dari industri kecil tahu-tempe

Keunggulan proses anaerobik dibandingkan proses aerobik adalah sebagai berikut :


• Proses anaerobik dapat segera menggunakan CO2 yang ada sebagai penerima
elektron. Proses tersebut tidak membutuhkan oksigen dan pemakaian oksigen
dalam proses penguraian limbah akan menambah biaya pengoperasian.
• Penguraian anaerobik menghasilkan lebih sedikit lumpur (3-20 kali lebih sedikit dari
pada proses aerobik), energi yang dihasilkan bakteri anaerobik relatif rendah.
Sebagian besar energi didapat dari pemecahan substrat yang ditemukan dalam
hasil akhir, yaitu CH4. Dibawah kondisi aerobik 50% dari karbon organik dirubah
menjadi biomassa, sedangkan dalam proses anaerobik hanya 5% dari karbon
organik yang dirubah menjadi biomassa. Dengan proses anaerobik satu metrik ton
COD tinggal 20 - 150 kg biomassa, sedangkan proses aerobik masih tersisa 400 -
600 kg biomassa (Speece, 1983; Switzenbaum, 1983).
• Proses anaerobik menghasilkan gas yang bermanfaat, metan. Gas metan
mengandung sekitar 90% energi dengan nilai kalori 9.000 kkal/m3, dan dapat

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


43

dibakar ditempat proses penguraian atau untuk menghasilkan listrik. Sedikit energi
terbuang menjadi panas (3-5%). Pruduksi metan menurunkan BOD dalam
Penguraian lumpur limbah.
• Energi untuk penguraian limbah kecil.
• Penguraian anaerobik cocok untuk limbah industri dengan konsentrasi polutan
organik yang tinggi.
• Memungkinkan untuk diterapkan pada proses Penguraian limbah dalam jumlah
besar.
• Sistem anaerobik dapat membiodegradasi senyawa xenobiotik (seperti chlorinated
aliphatic hydrocarbons seperti trichlorethylene, trihalo-methanes) dan senyawa
alami recalcitrant seperti liGnin.

Beberapa kelemahan Penguraian anaerobik:


• Lebih Lambat dari proses aerobik
• Sensitif oleh senyawa toksik
• Start up membutuhkan waktu lama
• Konsentrasi substrat primer tinggi

Pengolahan air limbah industri kecil tahu tempe di Semanan, Jakarta Barat, dengan
sistem Penampungan (lagon) Anaerob. Dengan sistem lagon tersebut dapat
menurunkan kadar zat organik (BOD) sekitar 50 %.

www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Arti...htt.html

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


44

Analisis Risko Bencana:


Tanggul, Pemicu dan Audit Teknologi
Kompas online, Posted in Uncategorized on April 1, 2009 by zeniad

Bencana, kecuali gempa dan angin topan, sebenarnya tidak terjadi secara
tiba-tiba. Bencana seperti longsor dan banjir selalu membawa pertanda
sebelumnya. Korban menjadi banyak ketika mitigasi tidak dilakukan dalam
bentuk antisipasi dan prevensi.
Sebagai contoh adalah bencana Situ Gintuing. Kata Situ Gintung
berkonotasi rekreatif: kolam renang, lokasi berpetualang (adventure camp),
dan rumah makan. Situ tersebut memiliki daerah tangkapan air seluas 112,5
hektar; dari kawasan itulah situ mendapat suplai air di samping mata air asli.
Kondisi permukaannya, seperti diungkapkan Kepala Bidang Mitigasi
Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Sutopo
Purwo Nugroho, kini berupa permukiman (39,7 persen), tegalan (22,8
persen), badan air (17 persen), kebun (18 persen), rumput atau tanah
kosong (4,5 persen), dan gedung (0,6 persen).
Dari kondisi permukaan itu, yang mampu menyerap air adalah tegalan,
badan air (yaitu situ atau saluran irigasi), kebun, dan rumput atau tanah
kosong.
Pada situ seluas 21,4 hektar tersebut ada satu spillway (saluran buang)
selebar kira-kira 5 meter dan dua saluran irigasi yang lebarnya sekitar 1
meter, yang diperkirakan pada saat itu tidak bekerja optimal.
Jika curah hujan besar, kecepatan aliran air melalui saluran buang akan
tidak memadai sehingga ada kemungkinan terjadi limpasan (overtopping),
atau luberan.
Menempel pada bagian luar tanggul adalah permukiman padat, mulai dari
kaki tanggul, terletak di bawah tanggul sekitar 15-20 meter. Sungguh rawan
karena bisa terkena longsoran tanggul. Mestinya, minimal 100 meter dari
kaki tanggul tidak boleh ada bangunan. Permukiman itu mengurangi lebar

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


45

saluran air dari semula 5-7 meter kini tinggal 1 meter. Kondisi ini berpotensi
menambah beban air pada situ karena air tidak tersalur ke luar.

Kemungkinan penyebab bencana

Menurut peneliti dari Pusat Bencana Institut Teknologi Sepuluh Nopember


Surabaya, ada tiga faktor penyebab bencana. Ketiga faktor itu adalah faktor
internal (kondisi tanggul), faktor eksternal (bencana lain seperti gempa,
longsor, dan hujan besar), dan faktor manusia (pembangunan sekitar
tanggul, pembabatan hutan, dan sebagainya).
Di sekitar Situ Gintung sudah sejak lama tak ada hutan. Saat itu pun tak
terjadi gempa. Dari data hasil kajian kualitas air dan pemanfaatan air situ
untuk waduk resapan (5 Desember 2008), pada bagian tanggul yang jebol
itu telah didapati erosi buluh (piping). Erosi itu diduga sudah lama terjadi
karena muncul mata air di bawah tanggul. Rembesan air ke dalam kapiler
retakan menyebabkan kapiler bertambah besar. Akibatnya, terjadi deformasi
struktur saluran buang. Tekanan yang ditimbulkan oleh massa air
menyebabkan badan tanggul longsor karena kapiler (retakan kecil) terisi air.
Ketika bagian atas tanggul longsor, beban massa air berpindah ke bawah
sehingga bagian dasar tanggul tergerus. Hal inilah yang diduga
mengakibatkan tanggul jebol hingga sekitar 20 meter tingginya.
Setelah tanggul jebol, rembesan air di sekeliling tanggul memberi beban
besar sehingga tanggul jebol semakin lebar pada 27 Maret 2009. Lapisan
tanah pada Situ Gintung merupakan sedimen muda—batuan kuarter, tersier
—mudah longsor. Situ dengan struktur batuan muda umumnya dibuat
tanggul urukan. Selain urukan, ada tipe busur (berbentuk melengkung) dan
tipe graviti-tanggul beton di sisi luar miring ke luar, di sisi dalam datar seperti
dinding.
Meski beban massa air menyebabkan tanggul jebol, curah hujan pada saat
kejadian bukanlah faktor tunggal penyebab, melainkan hanya pemicu. Dari
catatan di Stasiun Meteorologi Ciputat—terdekat dengan Situ Gintung—
curah hujan 113,2 milimeter per hari, dari Stasiun Meteorologi Pondok
Betung, curah hujan normal selama tiga jam disusul 1,5 jam curah hujan
ekstrem 70 mm per jam. Curah hujan 180 mm pada tahun 1996 tercatat di
Stasiun Pondok Betung (Stasiun Ciputat baru dibangun tahun 2007), tanggul
Situ Gintung tidak jebol. Juga saat 2007 ketika curah hujan 275-300 mm per
hari di sekitar Situ Gintung, tanggul situ tetap aman. Pada dua kejadian itu,
Jakarta banjir besar.
Secara global terdapat 78 persen bendungan jebol adalah tipe urukan,
sedangkan tipe lainnya 22 persen. Adapun runtuhnya bendung di dunia, 38
persen akibat erosi buluh, 35 persen akibat peluapan air, 21 persen fondasi
jebol, dan 6 persen karena longsoran dan lainnya.
Akan tetapi, untuk mengetahui secara tepat penyebab jebolnya tanggul,
perlu dilakukan kajian lebih mendalam dengan meneliti faktor lainnya, seperti
aktivitas pengerukan sedimen situ dengan ekskavator, atau hilangnya batu-
batu di luar tanggul.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


46

Pelajaran yang mahal


Bencana adalah arena belajar yang amat mahal. Mestinya pihak yang
bertanggung jawab langsung atas Situ Gintung melakukan tugasnya dengan
tepat. Masyarakat juga harus ikut bertanggung jawab dengan melaporkan
potensi bencana, sementara pemerintah harus membuka diri pada laporan
masyarakat, tertulis atau tidak tertulis. Mengabaikan laporan masyarakat
hanya menunjukkan bentuk arogansi penguasa; masyarakat Situ Gintung
sudah pernah melaporkan kerusakan tanggul pada dua tahun sebelumnya.
Selain itu, lembaga penelitian seperti BPPT dan lainnya sudah seharusnya
dilibatkan untuk melakukan audit teknologi demi keamanan struktur pada
situ-situ. Saat ini sudah ada sejumlah teknologi ciptaan mereka sendiri yang
mampu mendeteksi kelayakan teknis sebuah bendung.

Ada banyak situ lain di Jabodetabek. Beberapa di antaranya perlu


diwaspadai karena berpotensi menimbulkan bencana. Pada akhirnya,
keselamatan dan keamanan manusia semestinya diletakkan pada posisi
teratas kebijakan pembangunan sehingga pada setiap pembangunan harus
selalu disertakan analisis risiko bencana.

Landscape-scale risk assessment for the ARR

The International Science Panel (ISP) in its 2000 examination of whether the
Kakadu World Heritage status was at risk from impacts of uranium mining,
recommended landscape and ecosystem analyses and called for a comprehensive
risk assessment within the context of the Kakadu World Heritage area.

www.environment.gov.au/ssd/research/scale.html

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


47

Outline of the landscape-scale risk assessment for the Magela


Creek floodplain, Kakadu National Park
Initial results from the risk assessment are summarised in Table 2 and are
elaborated in more detail in Section 3.10 of the Supervising Scientists Annual
Report 2005-2006. Two key results from the integrated assessment are:
• Non-mining landscape-scale risks are currently several orders of
magnitude greater than mining risks (Table 2), although that difference
may reduce when on-site water management systems at Ranger mine
change in the transition between mine production and mine closure
and rehabilitation; and
• Para grass weed (Urochloa mutica) is currently the major
ecological risk on the Magela floodplain because of its extent (10%
cover), effect (a monoculture that displaces native vegetation and
wildlife habitat) and rapid spread rate (14% per annum). Note the risk
posed by para grass has been examined in greater detail by combining
a Bayesian habitat suitability model with a spread rate model, therefore
encompassing current and future risk to floodplain habitat diversity
depending on distance to source and invasion pathways.

Table 2. Comparison of landscape and minesite ecological risks to the Magela


floodplain, and their relative importance rank

Risk
Category Pathway Hazard Action Time frame
rank
Para grass weed
1
Park-wide Pig damage Take active control In perpetuity
2
LANDSCAPE Park-wide Unmanaged fire Research effects In perpetuity
3
Floodplains Total ecological Research effects In perpetuity
0.21
risk =
Uranium
4
Sulfate Watching brief
5 2006
Magnesium Watching brief
Surface water 6 2006
MINESITE Manganese Watching brief 2006
Magela Ck 7
Total ecological Watching 20062006
0.00009
risk = briefWatching brief
8
Ra-226
Airborne/wind Radon (Ra-222) 9 Watching brief 2011

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


48

DAFTAR PUSTAKA

Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali Masduqi. 2004. ANALISIS RESIKO
LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN LIMBAH PABRIK TAHU
DENGAN KAYU APU (Pistia stratiotes L.). Jurnal Purifikasi, Vol.5,
No.4, Oktober 2004 : 151-156
COSO (The Committee of Sponsoring Organization) of the Treadway
Commission. 2004a. Enterprise Risk Management – Integrated
Framework. PDF Version. http://www.coso.org
COSO (The Committee of Sponsoring Organization) of the Treadway
Commission. 2004b. Enterprise Risk Management – Integrated
Framework. Application Techniques. PDF Version.
http://www.coso.org
D’Arcy, S. P.dan J. C. Brogan. 2001. Enterprise Risk Management. Journal
of Risk Management of Korea. Volume 12, Number 1.
DeLoach, J. W. 2003. Building Enterprise Risk Management on the
Foundation Laid by Sarbanes-Oxley. http://www.protiviti.com
Hambali. (2003). Analisis Resiko Lingkungan (Studi Kasus Limbah Pabrik
CPO PT Kresna Duta Agroindo Kabupaten Merangin, Jambi).
Program Pascasarjana, Program Studi Magister Teknik Lingkungan
ITS, Surabaya.
Hamilton, S., dan I. Francis. 2003. The Enron Collapse, International
Institute for Management Development. Lausanne. Swiss.
Hasan, H. (2003). Analisis Resiko Lingkungan Effluen IPLT Keputih.
Program Pascasarjana, Program Studi Magister Teknik Lingkungan
ITS, Surabaya.
Idris, Y.Z. (2003). Analisa Resiko Limbah Industri Tapioka di Sungai Tulang
Bawang. Program Pascasarjana. Program Studi Magister Teknik
Lingkungan ITS, Surabaya.
Internal Auditor. 2005. ERM: a Status Report. February 2005. The Institute
of Internal auditor. Florida.
Meulbroek, L. K.2002. Integrated Risk Management for the Firm: A Senior
Manager’s Guide (working paper draft). Harvard Business School.
Boston
Miccolis, J. dan S. Shah. 2000. Enterprise Risk Management – An Analytic
Approach. Tillinghast-Towers Perrin. http://www.tillinghast.com
Nur Indradewi Oktavitri, Nani Kurniati, Udisubakti Ciptomulyono. 2009.
ANALISIS MANAJEMEN RISIKO LINGKUNGAN LIMBAH
BERBAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN (B3) BERDASARKAN
PENILAIAN RISIKO DENGAN FUZZY ANALYTICAL HIERARCHY
PROCESS (FAHP) (STUDI KASUS : LUMPUR B3 PT. A DAN PT.
B). Tesis PROGRAM MAGISTER BIDANG KEAHLIAN REKAYASA
KUALITAS JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010


49

TEKNOLOGI INDUSTRI, INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH


NOPEMBER, SURABAYA.
Nusa Idaman Said, dan Arie Herlambang. 2009. Teknologi Pengolahan
Limbah Tahu-Tempe Dengan Proses Biofilter Anaerob Dan Aerob.
Kelompok Teknologi Pengelolaan Air Bersih dan Limbah Cair,
Direktorat Teknologi Lingkungan, Kedeputian Bidang Informatika,
Energi dan Material. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Razif, M. 2002. Analisis Resiko Lingkungan: Kumpulan Materi Kuliah.
FTSP Jurusan Teknik Lingkungan ITS, Surabaya.
Susilo, Leo J. dan Victor Riwu Kaho.2010. Manajemen Risiko Berbasis ISO
31000. Ppm Manajemen. Jakarta.
Vedpuriswar, A.V, P. Madhav, dan N. V. Chowdary. 2001. A strategic
approach to Enterprise Risk Management. Icfaian School of
Management. Hyderabad.

Manajemen Risiko Lingkungan - 2010