Anda di halaman 1dari 5

Membangun Peradaban Bangsa Melalui Masjid

Dapat kita saksikan bahwa kebanyakan masjid di Indonesia mengalami degradasi


fungsi masjid. Salah satu contoh sebagian dari masjid adalah adzan. Masyarakat umum
kebanyakan menganggap adzan sebagai pengingat atau penanda waktu. Padahal esensi dari
adzan itu sendiri adalah panggilan, yaitu panggilan yang sangat mulia untuk menegakkan
sholat dan memperkuat tiang agama. Padahal di Indonesia terdapat lebih dari 1.000.000
masjid. Tentunya ini menjadi pemikiran umat islam yang mana “status” idealnya adalah
pembawa kebaikan dan rahmat bagi seluruh alam.

Dalam kenyataanya orang – orang (khususnya para remaja - pemuda) lebih menyukai
pasar dari pada masjid. Mereka menyukai pasar modern dengan berbagai fasilitas, mulai dari
film bioskop, restoran, hingga games berteknologi tingi. Padahal di bumi ini, tempat yang
paling disukai Allah adalah masjid, tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar. Pasar
adalah tempat ekspresi hawa nafsu, orang yang dimuliakan adalah manusia yang bermodal
(kapitalisme). Sedangkan dalam masjid, bisa jadi yang dimuliakan adalah orang yang tidak
berharta atau pun tidak bertahta. Seorang imam besar, pengurus takmir masjid, orang yang
memiliki ketaqwaan kepada Allah SWT yang tinggi, merupakan orang yang mulia di masjid.
Tentunya mereka memiliki ilmu karena ilmulah yang membuat derajat seseorang berbeda –
beda. Yang menjadi tantangan masjid di masa sekarang adalah menjadikan masjid sebagai
pusat peradaban yang disegani masyarakat.

Mari kita mempelajari sejarah sejenak tentang peristiwa di masa lalu, ketika penjajah
masuk dengan politik domba kerajaan – kerajaan islam yang ada di Indonesia. Salah satunya
adalah peristiwa VOC beserta pasukkannya membuat perjanjian dengan Raja Amangkurat,
Hamengkubowono dan takmirnya. Kolonialisme membutuh kekuatan, kemudian lahirlah
imperialism. Imperialism politik = imperialism ekonomi.

Menurut Moch. Hatta, imperialism adalah sistem riba, sedangkan perekonomian


nasional adalah berasaskan kerjasama dan kekeluargaan. Tentu sangat jauh perbedaan kedua
sistem perekonomian tersebut.

Salah satu motif kolonialisme adalah untuk memperoleh keuntungan ekonomi yang
sebesar-besarnya dari tanah jajahan. Sebagai buktinya, penjajahan pertama kali yang dialami
Indonesia berawal dari eksploitasi ekonomi perusahaan public Belanda (VOC). Perusahaan
ini bukanlah persekutuan politik dan dan tugas utamanya bukanlah merebut kekuasaan raja –
raja pribumi, melainkan melakukan monopoli perdagangan antar pulau di kawasan nusantara
(Baswir, 2004). Karl Marx (dalam Grant and Wood, 1998) mengatakan bahwa kolonialisme
adalah salah satu cara untuk mencegah kecenderungan akumulasi modal yang semakin
menurun. Nikolai Lenin (dalam C. Wright Mills 2003:214) mengatakan bahwa inti
perekonomian imperialism adalah kapitalisme monopoli yang muncul dari persaingan bebas
dan merupakantransisi dari sistem kapitalis menjadi tatanan sosial yang lebih tinggi.

Imperialisme adalah tahapan monopoli dalam kapitalisme karena mencakup beberapa


hal,. Pertama, modal finansial merupakan modal sejumlah bank besar yang monopolistic
digabung dengan sejumlah pengusaha yang monopolis. Kedua, pembagian dunia merupakan
proses perubahan dari kebijakan colonial yang telah meluas tanpa hambatan ke wilayah yang
tidak dikuasai oleh kaum kapitalis menjadi kebijakan colonial kepemilikan monopolistik atas
wilayah dunia yang terbagi-bagi.

Yang dimaksud dengan ekonomi rakyat oleh Bimg Hatta ketika itu tentu tidak lain dari
ekonomi kaum pribumi atau ekonomi penduduk asli Indonesia. Dibandmgkan dengan
ekonomi kaum penjajah yang berada di lapisan atas, dan ekonomi warga timur asing yang
berada di lapisan tengah, ekonomi rakyat Indonesia ketika itu memang sangat jauh tertinggal.
Sedemikian mendalamnya kegusaran Bung Hatta menyaksikan penderitaan rakyat pada masa
itu, meika tahun 1934 beliau kembali menulis sebuah artikel dengan nada serupa. Judulnya
kali ini adalah Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya (Hatta, 1954). Dari judulnya dengan mudah
dapat diketahui betapa semakin mendalamnya kegusaran Bung Hatta menyaksikan
kemerosotan ekonomi rakyat Indonesia di bawah tindasan pemerintah Hindia Belanda.

Pada masa perjuangan melawan penjajah munculah berbagai gerakan jamaah islam
yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sekaligus mengganti peradaban baru yang
lebih adil. Mulai berdatangan para syaikh luar negeri dan pemuka agama yang ahli sesuai
dengan bidangnya ke tanah jawa. Mereka mendakwahkan islam dan membuat peradaban
generasi masjid. Maulana Malik Ibrahim ahli di bidang irigasi dan politik.
Maulana Ishak, datang dari Rusia, ahli pengobatan menetap di Pasai.
Syaikh Subaghir, Ahli rukhyah dari Irak (sunan gunung Tidar), serta syaikh
– syaikh lainnya yang mempelajari budaya, ahli siasat berperang,
mengimplementasikan ilmunya untuk membangun peradaban di
Indonesia.
Dari sunan sunan inilah kerajaan islam mulai bermunculan dan
membesarkan kepemimpinan Islam. Contoh kerajaan mataram. Pada
tahun masa Sultan Agung, Belanda masuk di Jayakarta, mengganti
dengan Batavia. Mataram islam mulai melemah, sejak itulah ada politik
devide et empera lewat Jean Peter Coan.

Haji Miskin menggerakkan gerakkan salafi di Sumatera yang


melawan adat minang, sehingga disebut pendeta (father), Padri. Sampai
dengan kepemimpinan pahlawan Malik Barsyah (Tuanku Imam Bonjol).
1822 – 1837 ada perang VOC melawan kaum salaf, sampai ada
kesepakatan damai kaum adat dengan kaum salaf. Adat boleh tapi
bersendi sara’, sara’ berdasarkan kitabullah.

Tahun 1901 berdiri jamiat khoir di Jakarta, didirikan Ibnu syihab.


Seminar Khilafah diadakan mengundang Ahmad, “Haram Kaum Muslimin
Tunduk Pada Kaum Kafir”. Ini menjadi bibit bibit gerakan kemerdekaan.
Jamiat khoir ini lah memiliki murid – murid yang aktif. Setelah pulang dari
haji, Haji Samanhudi mendirikan Sarikat Dagang Islam. Begitu pula
Muhammad Darwis / KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah.
Semangat kemerdekaan dan rasa kebangsaan resmi dimulai dari
kalangan islam, di suarakan National Indiche Konggres. Tahun 1918 Serikat
Islam memperjuangkan rakyat miskin, menghapus kerja paksa. Hingga
muncul kesepakatan “Kapitalisme Berdosa, dan Bersatulah Kaum
Melarat”.

Umat islam dahulu menyebut perjuangan rakyat, namun timbul


penyempitan pola penyebutan umat. Sampai hari ini partai islam
memikirkan umat – umat – umat. Ini menimbulkan paradigma yang
sangat bodoh kepada pemuda sehingga memiliki paradigma hanya
kepentingan umat, bukan lagi kepemimpinan yang memikirkan rakyat.

Pemimpin NU, Perdana Mentri Masyumi, Bung karno, moh.hatta,


natsir, Sri Sultan HB I saat umur masih muda dan produktif! Santri lain
yang berjuang melawan penjajah antara lain adalah Ki Hajar Dewantoro
dan Jendral Sudirman.
Setiap zaman memiliki tantangan masing – masing. Sekarang yang
kita hadapi adalah generasi yang ada pada zaman informasi dan
teknologi. Alur komunikasi, informasi dan media sangat kuat
pengaruhnya. Sarana prasarana canggih yang memudahkan kerja
manusia semakin merebak. Dunia hiburan, musik, dan film menjadi
kebutuhan dalam membentuk karakter seseorang. Tantangan ini tentu
saja tidak dialami oleh pemuda, namun mulai dari anak – anak hingga
orang tua turut dinaungi masalah yang ada.

Lalu bagaimana caranya agar masjid menjadi pembangun peradaban


di era sekarang antara lain dengan membentuk masjid yang informatif
dan berteknologi. Pembentukan kader - kader yang mencintai IT perlu
digalakkan agar nantinya masjid dapat memimpin informasi di
masyarakat sekitar. Sudah seharusnya masjid menjadi pusat peradaban
seperti halnya masjid di zaman rasul.

Masjid di zaman rasul merupakan pusat peradaban, pusat ibadah, pusat informasi
masyarakat, ruang bertamu, tempat zakat, mengatur kegiatan masyarakat, tempat menginap,
penyelesaian sengketa, sampai dengan urusan ijab qobul pernikahan. Jangan sampai
kemajuan informasi dan teknologi di zaman sekarang membuat generasi masjid mengalami
disorientasi dalam menjalanjan fungsi masjid di masyarakat.

Selain itu, program kerja masjid yang utama adalah membuat para jamaah mencintai
masjid, merawat masjid, mengelola masjid dengan sepenuh hati. Jika kita menilik salah satu
pemimpin islam, Sri Sultan yang bergelar khalifatullah ngabdurrahman sayidin panatagama,
merupakan contoh pemimpin yang dapat mengaitkan masyarakat dengan masjid. Raja dekat
dengan masjid sehingga raja dekat dengan rakyat. Di buatlah filosofi caturmanunggal, yaitu
antara kraton, masjid, lapangan, pasar (yang agak jauh dari masjid) menjadi suatu tatanan
yang sinergis. Hal ini merupakan penerapan dari prinsip peradaban masjid, antara lain
kesamaan (egaliter), tolong menolong, dan keseimbangan. Hal ini pula yang seharusnya
diterapkan pada masjid di zaman informasi dan teknologi. Siapa yang berinovasi, maka dia
yang akan bernilai. Tentunya inovasi dalam pengembangan masjid sesuai dengan syari’at
islam.
Masjid menjadi pusat pelayanan rakyat adalah kunci dekatnya masjid dengan rakyat.
Mulai dari pelayanan fisik, hingga pelayanan psikis. Pelayanan kesehatan, olahraga,
pendidikan, pelatihan internet, pengelolaan zakat infak shodaqoh, bakti sosial, hingga pusat
informasi berita nasional dan internasional menjadi unsur penting dalam membangun
peradaban masjid. Sampai pada akhirnya jamaah masjid atau bukan, masyarakat islam atau
bukan, akan menganggap masjid adalah naungan kehidupan bersama.