Anda di halaman 1dari 108

PEDOMAN TEKNIS

Draft Pertama
November 2008

Pedoman Teknis Instalasi Pengisian,


Transportasi, Penanganan dan Penggunaan
serta Pemeriksaan Berkala Tabung LPG
Disampaikan pada Lokakarya ” Penyusunan Pedoman Teknis Instalasi Pengisian,
Transportasi, Penanganan dan Penggunaan serta Pemeriksaan Berkala Tabung
LPG” tanggal 2 Desember 2008 di The Park Lane, Venue Park Lane III

Direktorat Teknik dan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi


Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi
Jakarta, 2008
DAFTAR ISI

BAB Halaman
1. RUANG LINGKUP 1

2. ACUAN NORMATIF 1

3. ISTILAH DAN DEFINISI 3

4. PEDOMAN TEKNIS OPERASI INSTALASI PENGISIAN LPG 7

4.1 Operasi Penerimaan LPG 7


4.1.1 Ruang lingkup 7
4.1.2 Persyaratan Umum 7
4.1.3 Kualifikasi Personil 7
4.1.4 Fasilitas Penerimaan LPG 8
4.1.5 Prosedur penerimaan LPG dari Skid Tank 9
4.1.5.1 Sebelum Penerimaan 9
4.1.5.2 Selama penerimaan 9
4.1.5.3 Setelah penerimaan 10
4.1.6 Operasi Penerimaan LPG dalam tabung LPG dengan kapasitas air 0,5 10
liter s/d 150 liter WC
4.1.6.1 Sebelum penerimaan 10
4.1.6.2 Selama penerimaan 10
4.1.6.3 Setelah penerimaan 11
4.1.7 Operasi Penerimaan Tabung LPG Kosong baru dan lama 11

4.2 Operasi penanganan dan penimbunan LPG 12


4.2.1 Persyaratan umum 12
4.2.2 Kualifikasi personil 13
4.2.3 Fasilitas penimbunan 13
4.2.3.1 Gudang penimbunan 13
4.2.3.2 Sistem Listrik 14
4.2.3.3 Sistem hidran 14
4.2.3.4 Alat pemadam 14
4.2.3.5 Area parkir 14
4.2.4 Fasilitas tangki timbun LPG 14
4.2.4.1 Tangki penimbun sebagai bejana tekan 15
4.2.4.2 Perlengkapan tangki timbun 16
4.2.5 Prosedur penanganan tabung LPG 16
4.2.6 Prosedur penyimpanan tabung LPG di dalam gedung 17
4.2.7 Prosedur penyusunan Tabung dalam Gudang Penimbunan 17
4.2.7.1 Tanpa Fasilitas Forklift 17
4.2.7.2 Dengan Fasilitas Forklift 18
4.2.8 Mengatasi Kebocoran pada kerangan tabung LPG 18

4.3 Operasi Pengisian LPG 19


4.3.1 Persyaratan Umum 19
4.3.2 Persyaratan Khusus 19
4.3.3 Kualifikasi Personil 20
4.3.4 Fasilitas dan Peralatan 20
4.3.5 Penandaan dan Tanda Peringatan 21
4.3.5.1 tangki 21
4.3.5.2 Tabung LPG 21
4.3.6 Prosedur klasifikasi tabung sebelum pengisian 22
4.3.6.1 Tabung yang layak untuk pengisian 22
4.3.6.2 Tabung harus dilakukan pemeriksaan berkala 22
4.3.6.3 Tabung memerlukan perbaikan 22
4.3.7 Pedoman teknis pengisian LPG 23
4.3.7.1 Jumlah pengisian LPG yang aman 23
4.3.7.2 Komposisi campuran LPG yang aman 23
4.3.7.3 Ketepatan Penimbangan 23
4.3.7.4 Metode Pengisian 23
4.3.8 Prosedur pengisian LPG ke Skid Tank di Depot LPG/Filling Plant 24
4.3.8.1 Persiapan sebelum Pengisian LPG ke Skid Tank 24
4.3.8.2 Prosedur selama pengisian LPG ke Skid Tank 24
4.3.8.3 Penyelesaian Pengisian LPG ke Skid Tank 24
4.3.9 Prosedur pengisian LPG ke tabung dengan kapasitas air 0,5 liter s/d 25
150 liter WC.
4.3.9.1 Persiapan Pengisian Tabung LPG dengan kapasitas air 0,5 25
liter s/d 150 liter WC
4.3.9.2 Pelaksanaan Pengisian Tabung LPG dengan kapasitas air
0,5 liter s/d 150 liter WC 25
4.3.9.3 Pedoman Pemeriksaan setelah Pengisian 25

4.4 Operasi Penyerahan LPG 31


4.4.1 Persyaratan Umum 31
4.4.2 Kualifikasi Personil 31
4.4.3 Fasilitas Penyaluran/Penyerahan 31
4.4.3.1 Melalui Laut/Air (Kapal / Tongkang) 31
4.4.3.2 Melalui Darat. 32
4.4.4 Prosedur Operasi Penyerahan LPG dengan Rail Tank Wagon 32
4.4.4.1 Sebelum Pengisian 33
4.4.4.2 Selama Pengisian 33
4.4.4.3 Setelah Pengisian 33
4.4.5 Prosedur Operasi Penyerahan LPG dengan Skid Tank 33
4.4.5.1 Sebelum Pengisian 33
4.4.5.2 Setelah Pengisian 33
4.4.6 Prosedur Operasi Penyerahan LPG Kepada SPPBE 33
4.4.7 Prosedur Penukaran Tabung LPG dari SPPBE untuk Retest 34
4.4.8 Prosedur Operasi Penyerahan LPG kepada Dealer 35
4.4.9 Prosedur Pengawasan Penyerahan LPG 35

4.5 Pedoman Keselamatan Kerja Dalam Keadaan Darurat Instalasi Pengisian LPG 36
4.5.1 Pedoman Umum Keselamatan Kerja 36
4.5.2 Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat 36
4.5.3 Prosedur Tanggap Darurat 37
4.5.4 Prosedur Penanggulangan Kebocoran/Penyebaran LPG 38
4.5.5. Instalasi Pengisian Gas yang tidak memiliki fasilitas Odorisasi 39
4.5.6 Prosedur Penanggulangan Kebakaran LPG 39
4.5.6.1 Ketentuan Umum 39
4.5.6.2 Kebakaran Kecil 40
4.5.6.3 Kebakaran Besar 40
4.5.7 Tanda-tanda Keadaan Darurat 41
4.5.7.1 Peringatan Tanda Bahaya 41
4.5.7.2 Tanda evakuasi 41
4.5.7.3 Tanda keamanan aman 41
4.5.8 Kejadian alam yang tidak normal 42

5. PEDOMAN TEKNIS PEMELIHARAAN TABUNG LPG 43

5.1 Ruang Lingkup 43

5.2 Kualifikasi Personil 43

5.3 Fasilitas Pemeliharaan Tabung LPG 43


5.3.1 Objek Pemeliharaan 43
5.3.2 Fasilitas/Peralatan Pemeliharaan Tabung LPG dan Kerangan 44

5.4 Pedoman teknis pemeliharaan tabung LPG 45


5.4.1 Prosedur tertulis 45
5.4.2 Panduan pemeliharaan 45
5.4.3 Pemeliharaan peralatan pencegah kebakaran 45

5.5 Prosedur pemeliharaan tabung LPG 46


5.5.1 Pengecekan visual 47
5.5.2 Prosedur klasifikasi tabung 47
5.5.3 Prosedur klasifikasi tabung 48
5.5.4 Kebocoran 48
5.5.5 Pemeriksaan Hand Guard 49
5.5.6 Pemeriksaan Foot Ring 49
5.5.7 Cat dan marka tabung 49
5.5.8 Prosedur penandaan, pemindahan dan pengirimanTabung 49
5.5.9 Penetapan klasifikasi pemeliharaan 50
5.5.10 Prosedur penerimaan tabung yang terseleksi 50

5.6 Persyaratan Tabung Baru 51


5.6.1 Sifat tampak 51
5.6.2 Dimensi 51
5.6.3 Ketahanan Hidrostatik 51
5.6.4 Sifat Kedap Udara 51
5.6.5 Ketahanan pecah (uji bursting) 51
5.6.6 Ketahanan expansi volume tetap 51
5.6.7 Sambungan las 51
5.6.8 Pengecatan 51

5.7 Jenis-Jenis Pemeliharaan 52


5.7.1 Pengujian ulang tanpa pengecatan 52
5.7.2 Pengujian ulang dengan pengecatan 55
5.7.3 Perbaikan 55
5.7.4 Perbaikan dan Penggantian Kerangan 56

5.8 Persyaratan Bengkel Perbaikan/Repair 56


5.9 Pedoman Keselamatan Kerja Dalam Keadaan Darurat Instalasi Pengisian LPG 56
5.9.1 Pedoman Umum Keselamatan Kerja 57
5.9.2 Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat 57
5.9.3 Prosedur Tanggap Darurat 58
5.9.4 Prosedur Penanggulangan Kebocoran/Penyebaran LPG 58
5.9.5 Prosedur Penanggulangan Kebakaran LPG 60
5.9.5.1 Ketentuan Umum 60
5.9.5.2 Kebakaran Kecil 60
5.9.5.3 Kebakaran besar 61
5.9.6 Tanda-tanda Keadaan Darurat 61
5.9.6.1 Peringatan Tanda Bahaya 61
5.9.6.2 Tanda evakuasi 61
5.9.6.3 Tanda keadaan aman 61

5.10 Kejadian alam yang tidak normal 62

6. PEDOMAN TEKNIS TRANSPORTASI LPG 63

6.1 Ruang lingkup 63

6.2 Persyaratan Kendaraan Pengangkut LPG 63


6.2.1 Persyaratan Umum 63
6.2.2 Persyaratan khusus 63

6.3 Kualifikasi Personil 64


6.3.1 Persyaratan umum 64
6.3.2 Persyaratan khusus 64

6.4 Fasilitas transportasi LPG 65


6.4.1 RTW (Rail Tank Wagon) 65
6.4.2 Skid Tank 66
6.4.2.1 Persyaratan mobil Skid Tank untuk LPG 66
6.4.2.2 Persyaratan Skid Tank Rigid LPG 67
6.4.2.3 Skid Tank semi Trailler 67
6.4.2.4 Skid Tank Trailler 67
6.4.2.5 Persyaratan Muatan 68
6.4.3 Kelengkapan Skid Tank 68
6.4.4 Truk 69
6.4.5 Tanki 70

6.5 Jalur Lintas Pengangkutan LPG 70

6.6 Prosedur Pengangkutan Tabung LPG 71

6.7 Prosedur Pengendalian Keadaan Darurat diperjalanan 71


6.7.1 Prosedur Penanggulangan Kebocoran/Penyebaran LPG 72
6.7.2 Prosedur Penanggulangan Kebakaran LPG 72

7. PEDOMAN TEKNIS INSPEKSI BERKALA TABUNG LPG 76


7.1 Ruang Lingkup 76
7.2 Kualifikasi Personil 76

7.3 Kriteria Perusahaan Jasa Inspeksi 76

7.4 Jarak waktu antara Pemeriksaan Berkala 76

7.5 Prosedur Inspeksi Berkala 77

7.5.1 Umum 77
7.5.2 Prosedur pengujian 77
7.5.3 Pemeriksaan visual bagian luar tabung (eksternal) 77
7.5.3.1 Persiapan pemeriksaan visual untuk bagian luar tabung 77
7.5.3.2 Prosedur pemeriksaan 77
7.5.3.3 Kerusakan yang terlihat mata 78
7.5.4 Prosedur Uji Tambahan 82
7.5.4.1 Persiapan tabung 82
7.5.4.2 Pengujian tekanan hidrolik 82
7.5.5 Pemeriksaan visual bagian dalam tabung 82
7.5.6 Uji Kebocoran dan Uji Pneumatik 83
7.5.6.1 Umum 83
7.5.6.2 Prosedur 83
7.5.7 Uji Ekspansi volumetric 83
7.5.7.1 Umum 83
7.5.7.2 Persiapan tabung 84
7.5.7.3 Peralatan uji 84
7.5.7.4 Prosedur 84

7.6 Pemeriksaan ulir atau drad tabung 85


7.6.1 Umum 85
7.6.2 Ulir internal 85
7.6.3 Ulir eksternal 85
7.6.4 Kerusakan ulir 85

7.7 Operasi penyelesaian 85


7.7.1 pengeringan 85
7.7.2 Purging 85
7.7.3 Tare Mass 85
7.7.4 Valving 85
7.7.5 Marking 85
7.7.6 Referensi tanggal periode inspeksi berikutnya 85
7.7.7 Identifikasi isi 86

7.8 Prosedur inspeksi tabung LPG baru 86

7.9 Periode inspeksi 86

7.10 Laporan Hasil Inpeksi dan Pengujian 86


7.10.1 Rekaman 86
7.10.2 Laporan pengujian 86
7.11 Pedoman Keselamatan Kerja Dalam Keadaan Darurat Instalasi Pengisian LPG 87
7.11.1 Pedoman Umum Keselamatan Kerja 87
7.11.2 Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat 88
7.11.3 Prosedur Tanggap Darurat 88
7.11.4 Prosedur Penanggulangan Kebocoran/Penyebaran LPG 89
7.11.5 Prosedur Penanggulangan Kebakaran LPG 90
7.11.5.1 Ketentuan Umum 91
7.11.5.2 Kebakaran Kecil 91
7.11.5.3 Kebakaran Besar 91
7.11.5.4 Tanda-tanda Keadaan Darurat 92

7.12 Kejadian alam yang tidak normal 92

8. PEDOMAN TEKNIS PENGGUNAAN LPG UNTUK END USER 93

8.1 Ruang Lingkup 93

8.2 Petunjuk Pemilihan Tabung 93

8.3 Karakteristik umum LPG 93

8.4 Tata cara penggunaan tabung LPG di sektor industry, komersial dan Pengecer 94
8.4.1 Tata cara penanganan tabung LPG 94
8.4.2 Tata cara penyimpanan Tabung LPG di Industri dan Komersial 94
8.4.3 Tata cara Penggunaan Tabung LPG di Pengecer (toko/warung) 94

8.5 Tata cara Penggunaan Tabung LPG di Rumah Tangga 95


8.5.1 Persyaratan penempatan tabung 95
8.5.2 Tata Cara pemasangan peralatan 95

8.6 Pengawasan Pemerintah terhadap produk dan Tabung LPG 97


8.6.1 Pengawasan Pemerintah terhadap produk LPG 97
8.6.2 Pengawasan pemerintah terhadap tabung LPG
Spesifikasi LPG 98

Bibliografi 99
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
Tabel 1 Lokasi tangki timbun di atas tanah 15
Tabel 2. Jarak Aman Tabung Terhadap Batas Pagar dan Bangunan 27
Pada Instalasi Pengisian LPG
Tabel 3. Jarak Aman Antara Titik Pengisian/Penyerahan dengan lokasi lain 28
Pada Instalasi Pengisian LPG
Tabel 4. Kebutuhan jumlah alat pemadam kebakaran 41

Table 5 Kerusakan – Kerusakan Fisik Pada Dinding Tabung 79

Table 6 Korosi Pada Dinding Tabung 80

Tabel 7 Kerusakan Lain 81


DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
Gambar 1. Persyaratan Jarak Antar Fasilitas di Instalasi Pengisian LPG 29
Gambar 2. Tanda peringatan pada Instalasi pengisian LPG 29
Gambar 3 Ukuran dan bentuk plakat pada kendaraan pengangkut LPG 74
Gambar 4 Penempatan plakat pada kendaraan pengangkut LPG 74
Gambar 5 Ukuran dan penempatan tulisan nama perusahaan pada 75
kendaraan pengangkut LPG
Gambar 6 Petunjuk penggunaan gas LPG 96
PEDOMAN TEKNIS INSTALASI PENGISIAN, TRANSPORTASI, PENANGANAN DAN
PENGGUNAAN SERTA PEMERIKSAAN BERKALA TABUNG LPG

1. RUANG LINGKUP

Pedoman teknis instalasi pengisian, transportasi, penanganan, penggunaan dan


pemeriksaan berkala tabung LPG ini dibuat untuk dapat dipahami, dimengerti
dan dilaksanakan oleh setiap Badan Usaha Migas yang melakukan kegiatan
usaha niaga dan dapat digunakan dalam pembinaan serta pengawasan
keselamatan Migas. Isi dari pedoman teknis ini adalah sebagai berikut :
1.1. Pedoman teknis ini menetapkan persyaratan teknis untuk pengoperasian
pengisian, penanganan, penyimpanan, transportasi, penggunaan dan
pemeriksaan berkala tabung LPG.
1.2. Pedoman teknis ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa prosedur
pengoperasian pengisian, penanganan, penyimpanan, transportasi,
penggunaan dan pemeriksaan berkala tabung LPG terlaksana secara
terkontrol dan aman
1.3. Pedoman teknis ini meliputi :
1.3.1. Prosedur penerimaan, penanganan, pengisian, penyaluran dan
keselamatan kerja dalam keadaan darurat.
1.3.2. Prosedur pemeliharaan, jenis pemeliharaan, persyaratan uji tabung
dan bengkel perbaikan.
1.3.3. Prosedur penggunaan tabung LPG secara aman dan memenuhi
aspek keselamatan.
1.3.4. Prosedur pemeriksaan berkala tabung LPG

2. ACUAN NORMATIF

2.1 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi
(Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 136, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 4152).

2.2 Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 84.K/38/DJM/1998
tentang Pedoman dan Tata Cara Pemeriksaan Keselamatan Kerja atas
Instalasi, Peralatan dan Teknik yang dipergunakan dalam Usaha
Pertambangan Minyak dan Gas Bumi dan Pengusahaan Sumberdaya
Panas Bumi

2.3 Keputusan Dirjen Perhubungan Darat No. SK.725/AJ.302/DRJD/2004


tentang Pengangkutan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Jalan

2.4 Standar Nasional Indonesia, SNI 1452-2007 “ Tabung Baja LPG”.

2.5 Standar Nasional Indonesia, SNI 13-3619-1994 “Penanganan Tabung


Bertekanan”.

2.6 Standar Nasional Indonesia, SNI 15-1591-2006 “Katup Tabung Baja LPG”.

1
2.7 Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor
84.K/38/DJM/1998 tentang Pedoman dan Tata Cara Pemeriksaan
Keselamatan Kerja atas Instalasi, Peralatan dan teknik yang dipergunakan
dalam Usaha Pertambangan Minyak dan gas Bumi dan Pengusahaan
Sumber daya Panas bumi.

2.8 Australian/New Zealand Standard AS/NZS 1596:2008 The Storage and


Handling of LP Gas

2.9 International Standard ISO 10691: 2004 Gas Cylinders-Refillable welded


steel cylinders for liquefied petroleum gas (LPG)-Procedures for checking
before, during and after filling.

2.10 International Standard ISO 11622:2005 Gas Cylinders-Conditions for filling


gas cylinders

2.11 International Standard ISO 10464:2004 Gas Cylinders-Refillable welded


steel cylinders for liquefied petroleum gas (LPG)-Periodic inspection and
testing.

2.12 International Standard ISO 10460:2005 Gas Cylinders-Welded carbon steel


gas cylinders-Periodic inspection and testing.

2.13 International Standard ISO 24431:2006 Gas Cylinders-Cylinders for


compressed and liquefied gases – Inspection at time of filling.

2.14 British Standard : BS EN 13952:2003 LPG equipment and accessories-


Filling procedures for LPG cylinders.

2.15 British Standard : BS EN 1439:1997 Transportable refillable welded steel


cylinders for liquefied petroleum gas (LPG)-Procedure for checking before,
during and after filling.

2.16 NFPA 58 : Storage and Handling of Liquefied Petroleum Gases

2.17 ASME VIII Division 1 Boiler & Pressure Vessel Code-Rules for Construction
of Pressure Vessels.

2.18 Australian Standard AS 2337.1 – 2004 Gas Cylinder Test Stations Part
1: General Requirements, Inspection and Test – Gas Cylinder

2.19 API Publication 2510A Fire Protection for LPG Storage Facilities

2.20 API Publication 910 – Eight Edition, November 1997 : Above ground
Storage Tank Rules and Regulation.

2.21 ISO 140001-2004 dan OHSAS 18001-1999 butir 4.4.7.

2
3 ISTILAH DAN DEFINISI

3.1. Liquefied Petroleum Gas (LPG)


Merupakan produk minyak dan gas bumi berupa campuran hidrokarbon
gas yang dicairkan dengan komposisi utama propane dan butane dengan
sedikit hidrokarbon gas lain.

3.2. Skid Tank


Kontainer dengan kapasitas di atas 1000 lb kapasitas air yang
dipergunakan untuk mengangkut LPG sebagai sebuah paket dan dapat
dipasang atau dilepas di atas kendaraan pengangkut, seperti truk atau
trailer.

3.3. Tabung
Adalah tabung bertekanan yang terbuat dari plat baja, digunakan untuk
mengemas atau menyimpan LPG dengan kapasitas pengisian 0,5 liter
sampai 150 liter kapasitas air.

3.4. Filling Plant


Instalasi pengisian LPG baik dalam bentuk tabung atau Skid Tank

3.5. Dealer
Penyalur LPG dari Filling Plant ke pihak konsumen

3.6. Afkir
Adalah tabung yang tidak dapat diperbaiki dan tidak memenuhi ketentuan
yang berlaku serta dinyatakan tidak lulus uji oleh pihak yang berwenang
sehingga tidak dapat digunakan untuk mengemas LPG.

3.7. Cap Protector


Tutup pelindung kerangan tabung LPG pada kemasan 50 kg

3.8. Conveyor
Alat pengangkut tabung LPG kosong maupun isi di LPG Filling Plant

3.9. Competent person


Seseorang yang telah mendapatkan pelatihan, memiliki pengalaman serta
mampu membuat keputusan yang objektif terhadap subjeknya.

3.10. Check Scale


Timbangan yang digunakan untuk mengecek kebenaran dari pengisian
tabung-tabung.

3.11. Dealer
Penyalur LPG dari Filling Plant ke Konsumen

3.12. Evaquation Pump


Jenis pompa yang dipakai untuk mengeluarkan uap atau gas sisa yang
masih terdapat dari dalam tanki dan tabung kemasan LPG.

3
3.13. Fixed Tank
Tangki yang dipasang mati pada truk sebagai alat angkut LPG

3.14. Filling Capacity


Jumlah LPG maksimum yang boleh diisikan ke dalam suatu tangki atau
tabung agar tangki atau tabung tersebut tidak penuh cairan .

3.15. Filling Nozzle


Ujung pipa atau selang penyalur LPG pada instalasi pengisian LPG

3.16. Flamable
Setiap zat, baik padat, cair atau gas yang mudah terbakar

3.17. Flamable Gas


Tanda peringatan tentang gas yang mudah terbakar dan tertulis pada
dinding Skid Tank dan RTW

3.18. Forklift
Alat/kendaraan pengangkut dan pengangkat tabung LPG yang
menggunakan sistem hidrolik untuk memindahkan tabung dari kendaraan
ke tempat penimbunan dan sebaliknya.

3.19. Hand Guard


Bagian atas tabung yang berfungsi sebagai alat pelindung kerangan dan
untuk mengangkat tabung LPG.

3.20. Hydrostatic Test


Pengujian terhadap bejana tekan atau tabung LPG kosong dengan cara
memasukkan air bertekanan ke dalamnya.

3.21. Intertank Transfer


Adalah pemindahan LPG dari suatu tangki timbun ke tangki timbun lainnya
yang dilakukan untuk kepentingan operasional instalasi.

3.22. Inspector
Individu atau personil yang ditunjuk oleh pihak yang berkompeten untuk
melakukan inspeksi dan pengujian terhadap subyek yang telah ditetapkan.

3.23. Liquefied Petroleum Gases (LPG)


Suatu produk minyak dan gas bumi berupa gas hidrokarbon yang
dicairkan dengan tekanan untuk memudahkan penyimpanan,
pengangkutan dan penanganannya, pada dasarnya terdiri atas propane,
butane atau campuran keduanya.

3.24. LPG loading package


Merupakan suatu unit pompa (compressor) yang dipakai untuk
mentransfer LPG ke dalam container

3.25. LPG Filling Machine


Merupakan suatu unit pengisian tabung-tabung LPG yang terdiri dari :
• Timbangan

4
• Kerangan-kerangan pengisi tabung
• Master penyetelan volume atau berat pengisian untuk 3, 12 dan 50 kg

3.26. Level Gauge


Alat yang digunakan untuk mengukur ketinggian isi cairan LPG di dalam
tangki dengan bantuan pelampung

3.27. Panel Board


Meja pengontrol untuk penempatan semua alat-alat atau instrumentasi
selama kegiatan operasi.

3.28. Pressure Gauge


Alat pengukur tekanan gas (uap) dan cairan

3.29. Product Transfer


Surat pemberitahuan permintaan pemindahan LPG dalam kemasan dari
instalasi satu ke instalasi lainnya.

3.30. Resertifikasi
Adalah pengesahan kembali pemakaian tabung LPG oleh pihak yang
berwenang, dimana tabung LPG telah dinyatakan lulus uji sehingga dapat
diedarkan selama 5 tahun mendatang.

3.31. Retest
Adalah rangkaian kegiatan pengujian ulang tabung LPG dengan mengacu
kepada ketentuan keselamatan kerja yang ditetapkan oleh pihak yang
berwenang, sebagai syarat tabung LPG dapat digunakan atau diedarkan
kembali.

3.32. Repair tabung


Adalah kegiatan perbaikan terhadap tabung dan bagian-bagiannya yang
rusak, meliputi penggantian kerangan, handguard & footring, pengelasan
ulang sambungan las yang masih dapat diperbaiki.

3.33. Repaint
Adalah pengecatan ulang tabung LPG yang telah pudar, mengelupas,
berkarat, marka tidak jelas atau hilang dan tabung yang telah selesai
direpair sehingga menyebabkan kerusakan pada bagian body tabung.

3.34. Safe Capacity


Kapasitas maksimum tangki timbun yang dapat digunakan secara aman.

3.35. Safety Kerangan


Kerangan yang tekanan kerjanya di set pada suatu tekanan maksimum
dan apabila tekanan gas di dalam tangki lebih besar dari tekanan
maksimum maka gas akan keluar.

3.36. Sand Blasting


Pembersihan dinding luar tabung LPG dari kerak, karat dan bekas cat
dengan semprotan pasir sebelum dilakukan pengecatan ulang

5
3.37. Sealing Tool
Merupakan peralatan yang digunakan untuk pemasangan seal cap tabung
LPG

3.38. Segel
Alat yang dipasang pada tutup yang berfungsi untuk menjamin isi tabung

3.39. Ullage
Ruangan kosong yang dihitung dari permukaan cairan LPG sampai
reference point

3.40. WC (Water Capacity)


Kapasitas suatu container atau tabung LPG dalam satuan volume,
misalnya liter atau satuan massa misalnya kg apabila tabung tersebut diisi
dengan air.

3.41. SPPBE
Stasiun pengisian dan pengangkutan bulk LPG

3.42. Pallet
Wadah penyusunan tabung, terbuat dari bahan yang kokoh dan dibuat
sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam penyusunan tabung LPG
dan pengambilannya.

3.43. Label
Setiap keterangan mengenai barang yang berbentuk gambar, tulisan atau
kombinasi gambar dan tulisan atau bentuk lain yang memuat informasi
tentang barang dan pelaku usaha yang disertakan pada produk atau
ditempelkan dan merupakan bagian kemasan barang.

6
4. PEDOMAN TEKNIS OPERASI INSTALASI PENGISIAN LPG

Pedoman Teknis Operasi ini dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang


kegiatan operasi di Instalasi Pengisian LPG yang dimulai dari kegiatan operasi
penerimaan, operasi penanganan dan penimbunan LPG, operasi pengisian dan
penyerahan LPG yang aman dan terkontrol.

Tahapan kegiatan operasi berikut ini harus dilaksanakan secara prosedural untuk
menjamin keselamatan dan keamanan kerja di Instalasi Pengisian LPG. Teknis
operasi di Instalasi Pengisian LPG dimulai dari :

4.1 Operasi Penerimaan LPG

4.1.1 Ruang Lingkup


Ruang lingkup operasi penerimaan LPG meliputi persyaratan umum,
persyaratan personil, fasilitas peralatan dan prosedur penerimaan LPG
berdasarkan aturan standar yang disetujui oleh pihak yang berwenang.

Pedoman teknis operasi penerimaan LPG ini dimaksudkan untuk


menjelaskan tata cara penerimaan LPG dengan kapasitas besar dari
tangki dan penerimaan LPG dalam tabung berkapasitas air 0,5 liter
sampai dengan 150 liter.

4.1.2 Persyaratan Umum


Persyaratan umum kegiatan operasi penerimaan LPG diantaranya
meliputi :
a. Lokasi, tempat, fasilitas, peralatan dan personil yang melakukan
penerimaan dan penimbunan harus memenuhi persyaratan
keselamatan.
b. Pada saat penerimaan, kondisi skid tank, tabung LPG dan kerangan
masih layak edar dan belum memasuki waktu inspeksi berkala dan
pengujian sesuai dengan ISO 10460 dan ISO 24431.
c. Tabung dan kerangannya berada dalam kondisi layak edar sesuai
dengan ISO 10691, ISO 11755 dan ISO 24431.
d. Tabung harus teridentifikasi dengan benar selama proses
penerimaan tabung gas.

4.1.3 Kualifikasi Personil


Kualifikasi personil yang dimaksudkan dalam pedoman teknis ini
mencakup persyaratan yang harus dipenuhi sesuai dengan standar
yang ditetapkan, yaitu diantaranya :
a. Seluruh personil yang ditugaskan untuk melakukan penerimaan
LPG dan telah mendapatkan pelatihan tata cara penerimaan LPG
dan penanganannya.
b. Mengetahui pengetahuan tentang produk LPG dan bahayanya
c. Memiliki sertifikat yang masih berlaku dan dikeluarkan oleh instansi
yang berwenang.
d. Pelatihan sebaiknya diberikan minimal setiap 3 tahun sekali dan
terdokumentasi

7
4.1.4 Fasilitas penerimaan LPG
Yang dimaksudkan dengan fasilitas penerimaan LPG dalam pedoman
ini adalah fasilitas dan peralatan yang dapat mendukung jalannya
proses operasi penerimaan LPG dengan Skid Tank dan tabung LPG
yang berkapasitas air 0,5 liter sampai dengan 150 liter.

Fasilitas penerimaan LPG melalui darat meliputi :

a. Fasilitas penerimaan dengan tangki timbun


Fasilitas tangki timbun dirancang untuk tekanan tinggi. Spesifikasi
tangki timbun yang terkait dengan tekanan operasi ditetapkan
dalam ASME Section VIII ”Pressure Vessel Code”.

Fasilitas penerimaan LPG dengan tangki timbun meliputi :


• Kompresor
• Pompa
• Valve (kerangan)
• Pressure relief valve
• Pipa atau selang
• Level gauge
• Manometer
• Alat keselamatan dan keamanan kerja

b. Fasilitas penerimaan dengan Skid Tank


Skid tank yang digunakan berukuran 1 ton s/d 14 ton
Fasilitas penerimaan LPG dengan skid tank meliputi :
• Pipa atau selang
• Quick coupling
• Valve (Kerangan)
• Stronner
• Pompa
• Manometer
• Grounding cable
• Level gauge
• Alat timbang
• Peralatan segel
• Alat pemadam api

c. Fasilitas penerimaan LPG dalam tabung LPG


Fasilitas penerimaan tabung LPG dengan kapasitas air 0,5 liter s/d
150 liter WC (Water Capacity). Fasilitas untuk penerimaan tabung
LPG terdiri dari :
• Forklift.
• Palet
• Rubber

8
4.1.5 Prosedur penerimaan LPG dari Skid Tank
Prosedur penerimaan LPG dari Skid Tank dimulai dengan kegiatan
operasi sebelum penerimaan, selama proses penerimaan dan setelah
proses penerimaan.

4.1.5.1. Sebelum penerimaan


Kegiatan operasi sebelum penerimaan meliputi :
a. Pengukuran dan pencatatan suhu, tekanan dan tinggi
permukaan cairan dalam skid tank.
b. Memastikan ada ullage yang cukup
c. Memastikan peralatan fire and safety dalam kondisi baik
dan berfungsi
d. Setiap penerimaan LPG dari Skid Tank harus dilengkapi
dengan dokumen.
e. Pemeriksaan dokumen meliputi:
• Surat jalan
• Dokumen bukti pengiriman produk LPG
• Tiket tangki
• Certificate of Quality
• Certificate of Quantity Discharge
f. Melakukan pemeriksaan segel dan kode lokasi pemuatan
terhadap semua kerangan pembongkaran dari Skid Tank.
g. Jika terdapat kerangan Skid Tank yang tidak disegel,
harus dibuatkan surat pernyataan yang ditanda tangani
penerima dan petugas Skid Tank.
h. Melakukan komunikasi agar pihak pengirim dan penerima
siap untuk pelaksanaan pemompaan meliputi jumlah,
waktu, flow rate dan kesiapan instalasi penerima.
i. Memasang sambungan LPG cair dan Vapor LPG dalam
Skid Tank lewat flexible hose dengan pipa-pipa yang
sesuai agar tersambung menuju tangki timbun.
j. Membuka semua kerangan yang terkait
k. Menghidupkan pompa transfer

4.1.5.2. Selama Penerimaan


Kegiatan selama proses penerimaan terdiri dari :
a. Pengawasan jalur pipa dari Skid Tank sampai tangki
timbun dari kemungkinan kebocoran
b. Memastikan bahwa LPG sudah mengalir ke tangki yang
telah disiapkan
c. Apabila terjadi kebocoran, pemompaan dihentikan,
menutup kerangan dan melakukan perbaikan secepatnya.
d. Petugas penerima harus selalu berada di tempat
e. Melakukan pengukuran Ullage, Specific Gravity dan
Temperatur, yaitu :
• Pengukuran Ullage dilakukan dengan Rotary Gauge
• Pengukuran Temperatur dilakukan dengan Termometer
yang melekat pada Skid Tank.

9
• Pengukuran Specific Gravity.
f. Apabila pengukuran SG 60/60oF hasilnya di luar kisaran
SG LPG, segera melakukan pemeriksaan contoh LPG ke
laboratorium dan pembongkaran ditunda.
g. Jika hasil pengukuran SG 60/60oF berada dalam kisaran,
maka pembongkaran LPG dapat diteruskan.
h. Menghentikan operasi penerimaan apabila cuaca buruk
dan banyak petir.

4.1.5.3. Setelah Penerimaan


Kegiatan setelah proses penerimaan adalah :
a. Setelah tangki Skid Tank kosong, pompa transfer
dimatikan
b. Semua kerangan Skid Tank harus ditutup rapat dan
disegel oleh petugas penerima.
c. Melepaskan sambungan Quick Coupling (liquid dan
vapour) dan bonding cable
d. Inlet tangki penerima juga ditutup dan disegel.
e. Melakukan pengukuran Specific Gravity dan Temperatur.
f. Jika hasil pengukuran tidak ada masalah, dibuatkan berita
acara penerimaan yang ditandatangani oleh kedua belah
pihak.
g. Jika terjadi selisih yang melebihi batas toleransi (± 0.5 %
wt), segera dibuatkan Letter of Protest.
h. Menyelesaikan seluruh dokumen penerimaan

4.1.6 Operasi Penerimaan LPG dalam tabung LPG dengan kapasitas air
0,5 liter s/d 150 liter WC (Water Capacity).

Operasi penerimaan tabung LPG dengan kapasitas air 0,5 liter s/d 150
liter WC meliputi kegiatan operasi sebelum penerimaan, selama
penerimaan dan setelah penerimaan.

4.1.6.1. Sebelum Penerimaan


Kegiatan operasi sebelum penerimaan meliputi :

a. Pemeriksaan visual, meliputi pemeriksaan bagian luar


tabung terhadap adanya karat, goresan, penyok, bekas
terbakar dan marka yang tidak jelas.
b. Memeriksa keutuhan segel/safety seal cap masing-
masing tabung.
c. Menghitung jumlah tabung LPG isi sesuai dengan
dokumen pengiriman

4.1.6.2. Selama Penerimaan


Kegiatan operasi selama penerimaan tabung meliputi
a. Pemindahan tabung-tabung isi ke tempat penimbunan
tabung isi atau gudang penyimpanan.

10
b. Pemindahan tabung dari truk tidak boleh dilakukan
dengan kasar (dibanting atau digelindingkan)
c. Penyusunan tabung maksimum berdasarkan pada ukuran
atau kapasitas masing-masing tabung sesuai dengan
standar yang telah di tetapkan.
d. Apabila terjadi kebocoran/kekosongan pada tabung,
harus dapat di atasi dengan baik.
e. Apabila kebocoran tidak bisa diatasi, kosongkan isinya
dan pisahkan/isolasikan tabung tersebut dengan
memberikan tanda.
f. Menyelesaikan seluruh dokumen penerimaan

4.1.6.3. Selesai Penerimaan


Kegiatan operasi pada akhir penerimaan adalah :
a. Menghitung kembali jumlah tabung LPG isi yang sudah
dipindahkan dan mencocokkan kembali dengan jumlah
yang ada pada dokumen.
b. Membuat berita acara penerimaan yang berisi :
• Jumlah tabung LPG isi dalam kondisi baik dan layak
edar.
• Jumlah tabung LPG isi yang rusak, bocor, kosong dan
menandatangani penerimaan pada dokumen bukti
penyerahan produk LPG
• Memisahkan tabung yang rusak/bocor/kosong dan
kirimkan kembali ke Depot pengirim dengan dilengkapi
dokumen bukti pengiriman produk LPG
c. Membuat Nota Claim terhadap tabung yang
rusak/bocor/kosong kepada transportir yang mengangkut.

4.1.7 Operasi Penerimaan Tabung LPG Kosong baru dan lama.


Yang dimaksudkan dengan operasi penerimaan tabung LPG kosong
baru dan lama adalah kegiatan penerimaan tabung baru dan lama
dalam kondisi belum terisi dan siap untuk diisikan dengan produk LPG
setelah melalui tahapan penyeleksian tabung.

a. Tabung-tabung LPG yang diterima harus dilengkapi dengan


dokumen-dokumen pengangkutan LPG yang sah.
b. Tabung kosong baru dan isi ulang diperiksa dan angkanya
dicocokkan yang tertera dalam dokumen dengan kenyataan untuk
jumlah dan jenis tabung yang akan diserahkan.
c. Jika secara administratif sudah dipenuhi, maka
pembongkaran/penerimaan tabung dapat dilaksanakan.
d. Tabung-tabung kosong LPG baru dan isi ulang diseleksi satu
persatu sesuai dengan persyaratan keselamatan.
e. Tabung kosong yang tidak memenuhi persyaratan harus
disingkirkan, yaitu :
• Tabung yang tidak sesuai dengan spesifikasi (mengacu pada
SNI 1452-2007)
• Tabung bukan milik instansi resmi yang diijinkan pemerintah

11
• Belum di tes atau disyahkan oleh instansi yang berwenang
untuk tabung baru
• Habis masa beredarnya (harus diretest ) untuk tabung kosong
isi ulang
• Nozzle tidak dilengkapi rubber seal (tabung dengan kapasitas
kecil)
• Lapisan cat yang tidak baik
• Foot ring yang las-lasannya terlepas
• Hand rail yang las-lasannya terlepas
• Kerangan bocor atau rusak ujung permukaannya.
f. Tabung LPG baru, tabung ex repair, tabung yang sudah di retest
sebelum di isi harus di vakum terlebih dahulu.
g. Tabung-tabung harus ditangani dan diperlakukan sesuai dengan
persyaratan pemeliharaan sehingga tidak merusak tabung dan
perlengkapannya.
h. Untuk tabung-tabung berkapasitas besar harus dilengkapi tutup
pelindung (Cap Protector) agar tetap dipasang pada tempatnya
selama penanganan, kecuali untuk maksud pemeriksaan atau
pengisian guna melindungi kerangan dari kemungkinan terbentur
benda keras.
i. Tabung-tabung kosong ex LPG dan tabung-tabung yang telah terisi
LPG harus ditangani dengan baik, jangan ditangani secara kasar,
dilempar, dibanting, dijatuhkan atau menyentuh benda-benda logam
lainnya.
j. Meletakkan tabung kosong di atas ban berjalan (conveyor) dengan
posisi yang baik sesuai pengelompokkan tabung.
k. Tidak dibenarkan menumpuk tabung-tabung kosong di lantai
bangunan tempat pengisian hingga menutup seluruh lantai kerja
atau menyulitkan untuk bergeraknya petugas.
l. Usahakan tabung kosong yang pertama kali masuk, tabung itu pula
yang pertama kali keluar ( First In – First Out ).
m. Dilarang menempatkan tabung kosong di tempat-tempat yang
berpotensi sebagai penyalur arus listrik.
n. Tabung-tabung kosong harus dihindari dari alat pemanas, saluran
pipa atau unit lainnya yang dapat digunakan sebagai penyalur
ARDE dari mesin-mesin las listrik.
o. Dilarang menggunakan tabung kosong sebagai alat penahan atau
pengganjal.

4.2 Operasi Penanganan dan Penimbunan LPG


Pedoman ini menjelaskan tentang persyaratan penanganan dan penimbunan
LPG, fasilitas dan prosedur yang harus dipenuhi suatu instalasi pengisian LPG
agar dapat beroperasi dengan baik dan aman.

4.2.1 Persyaratan Umum


Persyaratan umum dalam penanganan dan penyimpanan tabung LPG
mencakup :

12
a. Lokasi, tempat, fasilitas, peralatan dan personil yang melakukan
penanganan dan penimbunan LPG harus memenuhi persyaratan
keselamatan.
b. Penempatan tabung selama penimbunan harus memperhatikan
kondisi lingkungan, yaitu tidak boleh terpapar matahari, menjaga
kenaikan temperatur, meminimalkan terjadinya kerusakan fisik dan
benturan.
c. Tabung tidak boleh ditempatkan di dekat pintu keluar, di dekat
tangga atau dalam area umum demi keselamatan.
d. Harus dapat menentukan jumlah maksimum tabung yang dapat
disimpan dalam tempat penimbunan atau penyimpanan.
e. Bangunan tempat penimbunan memiliki ventilasi yang cukup,
ventilasi terletak di bagian paling bawah atau sejajar dengan lantai
yang letaknya berlawanan arah dan pada bagian atap
f. Lantai terbuat dari bahan yang tidak mudah menimbulkan percikan
api/bunga api.
g. Bangunan dan ruangan khusus penyimpanan tabung LPG tidak
boleh berdekatan dengan tempat dan bangunan umum seperti,
sekolah, gereja, rumah sakit, lapangan olah raga tempat-tempat
dimana massa biasa berkumpul

4.2.2 Kualifikasi Personil


Kualifikasi personil yang dimaksudkan dalam pedoman teknis ini
mencakup persyaratan yang harus penuhi sesuai dengan standar yang
ditetapkan, yaitu :

a. Seluruh personil yang ditugaskan untuk melakukan penanganan


dan penimbunan LPG telah mendapatkan pelatihan tata cara
penyimpanan LPG dan penanganannya.
b. Mengetahui pengetahuan tentang produk LPG dan sifat fisika-
kimianya.
c. Mengetahui tingkat resiko bahaya dari penanganan dan
penimbunan LPG.
d. Memiliki sertifikat yang masih berlaku dan dikeluarkan oleh instansi
yang berwenang.
e. Pelatihan sebaiknya diberikan minimal setiap 3 tahun sekali dan
terdokumentasi

4.2.3 Fasilitas Penimbunan


Yang dimaksud dengan fasilitas penimbunan dalam pedoman teknis ini
adalah fasilitas yang digunakan guna menunjang kegiatan operasi
penanganan dan penimbunan LPG.

Fasilitas penimbunan LPG minimal terdiri dari :

4.2.3.1 Gudang penimbunan


Gudang yang digunakan untuk menimbun LPG dalam tabung
bertujuan untuk melindungi tabung LPG dari pengaruh cuaca
(panas dan hujan).

13
Beberapa persyaratan yang perlu diperhatikan untuk
bangunan gudang penimbunan adalah sebagai berikut :
a. Konstruksi harus terbuat dari bahan yang tidak mudah
terbakar untuk rangka bangunan, sedangkan dinding bisa
terbuat dari asbes atau tanpa dinding, dengan lantai yang
menggunakan bahan yang tidak menimbulkan percikan api
misalnya kayu, beton dilapis dengan flinkote.
b. Jarak gudang dengan lokasi sumber api sesuai dengan
Standard Institute Petroleum Marketing Safety Code.
c. Dasar atau lantai gudang selain padat juga dibuat lebih
tinggi (setinggi lantai bak truk/pengangkut) untuk
memudahkan pemasukan dan pengeluaran tabung LPG
dari dan ke kendaraan pengangkut.
d. Sistem ventilasi bagian bawah harus cukup baik.

4.2.3.2 Sistem listrik


Instalasi peralatan listrik yang dimaksud adalah penyalur petir,
grounding/bounding cable, penerangan, alat telekomunikasi
dan instrumentasi serta sistem peringatan awal yang sesuai
dengan IP Electrical Safety Code.

4.2.3.3 Sistem hidran


Air diperlukan untuk memproteksi area skid tank dan gudang
penimbunan dari bahaya api. Untuk penyediaan air ini bisa
dilakukan dengan sistem hidran, mobile, fixed monitor dan
fixed spray system.

4.2.3.4 Alat pemadam


Harus dilengkapi dengan jenis racun api BCF, Dry Chemical
Powder yang cocok untuk kebutuhan LPG. Untuk setiap luas
lantai 230 m2 tersedia minimal 4 buah serbuk kimia kering.

4.2.3.5 Area parkir


Area parkir yang tersedia harus memadai sehingga untuk
mobil truck yang mengangkut LPG termasuk skid tank dapat
parkir paling sedikit berjarak 50 ft ( 15 m ) dari bangunan-
bangunan seperti bengkel, rumah-rumah, sekolah dan tempat
keramaian yang berjarak paling sedikit 22,5 meter dari lokasi
api tebuka.

4.2.4 Fasilitas tangki timbun LPG


LPG disimpan dalam tangki dalam bentuk cair dan untuk
mempertahankan keadaan ini maka LPG dapat disimpan dalam tangki
bertekanan pada suhu normal, atau disimpan dalam tangki bertekanan
normal pada suhu rendah.

Tangki timbun LPG bertekanan dirancang dan dikonstruksi berdasarkan


standar ASME VIII (The American Society of Mechanical Engineers)

14
VIII dan API standard 2510. Tangki timbun LPG bertekanan dirancang
dalam bentuk :
• Spherical tanks yang digunakan untuk kapasitas besar
• Cylindrical tanks, digunakan untuk kapasitas kecil dengan diameter
dalam 2000-25000 mm, ditempatkan secara mendatar atau
horizontal.

4.2.4.1 Tangki penimbun sebagai bejana tekan harus memiliki


persyaratan :
a. Sertifikat konstruksi / ijin penggunaan dari yang
berwenang, yang masih berlaku.
b. Katup pengaman yang bekerja dengan baik, dan harus
ditera 2 tahun sekali oleh yang berwenang.
c. Alat penunjuk tekanan (pressure gauge)
d. Alat penunjuk suhu
e. Alat penunjuk tinggi permukaan cairan dalam tangki
f. Lubang orang, yang digunakan untuk
perbaikan/pembersihan.
g. Pipa-pipa penghubung yang digunakan untuk operasi
h. Pipa drain untuk mengosongkan isi tangki
i. Tangga
j. Dan lain-lain yang dianggap perlu.

Untuk tangki timbun LPG yang dibangun di atas tanah, maka


persyaratan penempatan tangki harus memperhatikan jarak terhadap
fasilitas lain berdasarkan pada kapasitasnya. Jarak minimal
penempatan tangki timbun di atas tanah terhadap fasilitas lain dapat
dilihat pada tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Lokasi tangki timbun di atas tanah

Kapasitas Jarak minimum Jarak minimum tangki Jarak minimum tangki


tangki terhadap tangki terhadap tempat2 umum terhadap tempat yang
LPG lain atau jalur kereta api dilindungi
(m) (m)
(kliter) (m)
≥ 0,5 1,5 1,5
1 2 3
2 4 (3) 6 (4,5)
5 5 (3,5) 8 (5)
8 6 (4) 10 (6)
10 Diameter dari tangki 7 11
terbesar
15 8 14
20 9 15
50 10 17
100 11 20
200 12 25
500 22 45

15
4.2.4.2 Perlengkapan tangki timbun yang harus ada untuk mendukung
jalannya operasi, pemeliharaan dan keamanan adalah
meliputi :
a. Safety valve
b. Emergency safety valve (inlet dan outlet)
c. Outlet dan Inlet valve
d. Manometer
e. Thermimeter
f. Water cooling sistem
g. Sight glass

4.2.4.3. Pompa transfer


a. Pompa transfer merupakan alat yang diperlukan untuk
menyalurkan LPG dari tangki timbun ke tempat lain
dimana karakteristik desain dan operasinya ditentukan
berdasarkan kebutuhan dan pemilihannya tergantung
pada :
• Laju alir yang dibutuhkan
• NPSH (Net Positive Suction Head)
• Konsumsi daya
• Persyaratan differential head

b. Penempatan pompa sebaiknya memperhatikan :


• Persyaratan keamanan, operasi dan pemeliharaan
• Jarak terhadap tangki penyuplai sedekat mungkin
• Tidak ditempatkan pada lokasi yang dapat menimbulkan
potensi kebocoran pada komponen lain

4.2.5 Prosedur penanganan tabung LPG


Prosedur penanganan tabung LPG meliputi :
a. Penanganan tabung yang harus memperhatikan aspek keamanan
dan keselamatan dan menghindari dari kemungkinan jatuh atau
membentur benda keras.
b. Mengangkut tabung gas dengan posisi berdiri dan diikat dengan
jumlah tabung tidak melebihi kapasitas alat angkut.
c. Pemindahan tabung gas tidak boleh dengan cara diseret,
digelindingkan atau dibanting.
d. Dilarang mengangkut tabung gas LPG dengan tali baja (wire rope).
e. Memindahkan/membongkar tabung-tabung kosong dari truk
ketempat yang ditentukan LPG Filling Plant.
f. Penyusunan tabung harus disesuaikan dengan persyaratan yang
telah ditentukan pihak berwenang berdasarkan kapasitas masing-
masing tabung.
g. Tabung-tabung harus senantiasa diperlakukan sedemikian rupa
sehingga tidak merusak tabung maupun perlengkapannya.
h. Tidak dibenarkan menumpuk tabung-tabung kosong maupun isi

16
dilantai bangunan tempat pengisian hingga menutup seluruh lantai
kerja, atau dapat menyulitkan untuk bergerak

4.2.6 Prosedur penyimpanan tabung LPG di dalam gedung (bangunan)

a. Pada tempat dan bangunan dimana LPG disimpan atau ditimbun,


harus dipasang tanda larangan merokok dan tanda larangan
melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan percikan bunga api.
b. Tabung tidak boleh ditempatkan pada lokasi yang dapat
menghalangi keluar masuknya personil dan dijauhkan dari bahan-
bahan yang mudah terbakar
c. Tabung tetap dijaga pada posisi berdiri setiap saat dan dilindungi
dari benturan fisik
d. Tabung-tabung LPG harus dipisahkan minimal 3 m dari gas
pengoksidasi, kecuali tabung LPG dan gas pengoksidasi
merupakan bagian dari system yang digunakan untuk pengelasan,
pemotongan dll.
e. Kerangan tabung harus tertutup apabila tidak digunakan.
f. Tabung dan kelengkapannya harus diperiksa terhadap kebocoran
sebelum digunakan atau disimpan dengan menggunakan sabun
dan air atau larutan deterjen untuk mendeteksi kebocoran
g. Apabila terjadi penambahan lokasi penyimpanan pada lantai dan
gedung yang sama, maka harus ada pemisahan minimal 300 feet
(91,4 m)
h. Jarak dengan bangunan-bangunan umum atau kemungkinan ada
sumber api minimum 50 feet (± 15 m).

4.2.7 Prosedur penyusunan Tabung dalam Gudang Penimbunan

4.2.7.1 Tanpa Fasilitas Forklift


• Menangani tabung-tabung kosong sama seperti tabung-
tabung yang sudah isi.
• Penyusunan tabung harus dikelompokkan sesuai dengan
kapasitasnya
• Tabung isi harus disusun terpisah dengan tabung kosong,
oleh karena itu perlu diberu plakat (board) yang bertuliskan
“tabung isi” dan “Tabung kosong”. Kemudian
menempatkan plakat sedemikian rupa sehingga mudah
terbaca.
• Memisahkan tabung yang rusak/cacat, bocor dan diberi
tanda untuk tabung-tabung tersebut.
• Tabung harus disusun tegak dengan memperhatikan :
1) Tabung isi maupun kosong kapasitas 108 lt WC tidak
boleh ditumpuk
2) Tabung isi dengan kapasitas 26.2 lt WC dapat
ditumpuk maksimum 2 (dua) susun tabung, sedangkan
tabung kosong dapat ditumpuk maksimum 3 (tiga)

17
susun tabung, Jarak minimum antara dinding dengan
tabung LPG 100 cm.
• Agar mudah menghitungnya jumlah tabung setiap baris
dalam kelompok (blok) harus dibuat sama.
• Memastikan safety plug (plastic) harus selalu terpasang
pada kerangannya.
• Untuk menghindari jatuhnya susunan tabung maupun
kemungkinan pencurian, tabung dapat diikat
menggunakan tali baja dan dikunci.
• Jarak antara kelompok susunan tabung harus cukup aman
untuk kegiatan penimbunan dan penyaluran.
• Tabung ditempatkan untuk maksud penyimpanan dan
penimbunan, dan tidak boleh untuk

4.2.7.2 Dengan Fasilitas Forklift


• Dengan adanya fasilitas forklift maka dimungkinkan
menyusun tabung LPG lebih dari 2 susun. Dalam hal ini
tabung ditempatkan didalam pallet.
• Dalam penggunaan palet harus memperhatikan ketentuan-
ketentuan berikut ini :
1) Bahan pallet tidak boleh dari bahan besi atau
sejenisnya
2) Konstruksi pallet harus diatur sedemikian rupa
sehingga memudahkan didalam penyusunan dan
pengambilannya, cukup kuat untuk menahan beban
diatasnya.
3) Ukuran pallet harus disesuaikan dengan kemampuan
forklift.
4) Jarak gang (aisle) didalam gudang harus cukup aman
untuk pergerakan forklift.
5) Jumlah tumpukan tabung ukuran 26.2 lt WC dalam
satu pallet maksimum 2 (dua) susun, sedangkan
jumlah tumpukan pallet disesuaikan dengan
kemampuan forklift dan lantai.
6) Mengikat tabung dalam pallet agar tumpukan stabil.

4.2.8 Mengatasi Kebocoran pada kerangan tabung LPG


a. Apabila terjadi kebocoran pada kerangan usahakanlah memperbaiki
dengan cara memebersihkan kerangan dan menghilangkan kotoran
– kotoran yang mungkin ada pada kerangan dengan menekan
spindle kerangan, sehingga kotoran yang mungkin melekat pada
dudukan kerangan hilang atau mungkin dudukan dari kerangan
kurang sempurna.
b. Memberi tanda bahaya di daerah tersebut.
c. Pada tabung tersebut diberi tanda yang cukup jelas.
d. Menghindarkan kemungkinan suatu campuran yang dapat menyala
(campuran mudah menyala, bilamana konsentrasi gas LPG dalam
udara mencapai 1 sampai 2 %).
e. Menyediakan alat pemadam kebakaran dengan jumlah yang cukup.

18
f. Bilamana terjadi kebocoran diluar kerangan, maka cara
mengatasinya adalah sama seperti diatas. Selanjutnya tabung
tersebut tidak boleh dipergunakan lagi dan tabung tersebut
dinyatakan sebagai tabung afkir.

4.3 Operasi Pengisian LPG


Pedoman teknis operasi pengisian LPG menjelaskan tentang persyaratan
umum dan khusus, kualifikasi personil, fasilitas dan peralatan operasi
pengisian di Depot, Filling Plant dan SPPBE serta prosedur pengisian LPG ke
dalam tangki dengan kapasitas besar dan ke dalam tabung dengan kapasitas
air 0,5 liter sampai dengan 150 liter, mengacu pada standar yang telah
ditetapkan.

4.3.1 Persyaratan Umum


Persyaratan umum dalam operasi pengisian LPG menetapkan bahwa :
• Lokasi, tempat, fasilitas, peralatan dan personil yang melakukan
pengisian harus memenuhi persyaratan keselamatan.
• Tangki/tabung hanya dapat di isi oleh petugas yang berkompeten
dan terdaftar pada organisasi pemilik tabung.
• Pada saat pengisian, kondisi tabung LPG dan kerangan masih layak
edar dan belum memasuki waktu inspeksi berkala sesuai dengan
ISO 10460 dan ISO 24431.
• Tabung dan kerangannya berada dalam kondisi layak edar sesuai
dengan ISO 10691, ISO 11755 dan ISO 24431.
• Tabung harus dilengkapi dengan kerangan yang sesuai dan dengan
kerangan outlet yang tepat
• Filling ratio tabung tidak boleh berlebih
• Pengisian dengan volume tidak bisa dilakukan pada tabung-tabung
yang tidak dilengkapi dengan penunjuk level cairan (liquid level
gauge).
• Pengisian harus dihentikan apabila terjadi kesalahan yang
menyebabkan kebocoran gas.
• Agen, dealer atau pengecer tidak diperbolehkan melakukan kegiatan
pengisian LPG ke dalam tabung sesuai dengan Standar AS/NZS
1596:2008.

4.3.2 Persyaratan Khusus


Persyaratan khusus operasi pengisian LPG menetapkan bahwa :
a. Lokasi titik pengisian atau titik pengisian tabung sekurang-
kurangnya :
• 6 m dari tempat yang dilindungi
• 3 m dari tempat umum, batas pagar, tempat pembuangan,
basement dan tangki penyimpan (storage tank) LPG.
b. Tekanan maksimum pengisian diatur tidak boleh lebih rendah dari
dua per tiga tekanan uji tabung dan harus mengantisipasi
kemungkinan peningkatan tekanan dan kenaikan temperature
sehingga tidak melebihi tekanan uji.

19
c. Memeriksa dan menimbang berat tabung kosong yang tertera pada
tabung sebelum ditempatkan pada filling machine, mengacu pada
standar ISO 13769
d. Memastikan bahwa filling machine dalam kondisi baik dengan
memeriksa filling hose, koneksi tabung serta peralatan otomatis
penyuplai LPG apakah dapat berfungsi dengan baik.
e. Pengisian dengan pompa, maka laju pompa harus disesuaikan
dengan ukuran tabung agar meminimalkan resiko pengisian
berlebih.
f. Tekanan pengisian tidak boleh mencapai tekanan buka dari
kerangan keselamatan (safety kerangan) yang terpasang.
g. Melakukan inspeksi kebocoran dengan cermat dan teliti.
h. Jika ditemukan kebocoran pada tabung, segera dieliminasi dan
dikosongkan melalui sarana evacuation pump dan kemudian
direparasi.
i. Melakukan penimbangan ulang untuk meyakinkan bahwa volume
LPG dalam tabung sesuai dengan berat yang ditentukan.

4.3.3 Kualifikasi Personil


Persyaratan personil yang dapat melaksanakan kegiatan pengisian
LPG ke dalam tangki atau tabung, adalah :
a. Seluruh personil yang ditugaskan untuk melakukan pengisian LPG
adalah personil yang berkompeten.
b. Memiliki sertifikasi personil dan mendapatkan pelatihan tata cara
pengisian LPG dan penanganannya.
c. Mengetahui pengetahuan tentang produk LPG dan bahayanya
d. Memiliki sertifikat yang masih berlaku dan dikeluarkan oleh instansi
yang berwenang.
e. Pelatihan sebaiknya diberikan minimal setiap 3 tahun sekali dan
terdokumentasi
f. Melaksanakan tugas sesuai dengan instruksi kerja yang telah
ditetapkan.

4.3.4 Fasilitas dan Peralatan


Fasilitas pengisian dalam pedoman teknis ini harus memenuhi standar
minimal untuk menjamin terlaksananya kegiatan pengisian produk LPG
secara tepat dan aman.

Fasilitas pengisian dalam pedoman teknis ini meliputi fasilitas pengisian


di Depot, Filling Plant dan SPPBE, yaitu :
a. Area pengisian dan parkir khusus
b. LPG transfer pump, vacuum pump, evacuation pump dan kompresor
c. LPG Filling Machine
d. Conveyor
e. Alat Timbang
f. Leakage Tester
g. Seal cap equipment

20
h. Kubangan air untuk menghilangkan muatan listrik statis pada Skid
Tank
i. Bumper
j. Filling Shed
k. Selang.
l. Quick release coupling
m. Control cabinet
n. Nozzle, metering, dispenser
o. Pedoman pengoperasian alat

4.3.5 Penandaan dan Tanda Peringatan


Yang dimaksud dengan penandaan adalah pemberian marka berupa
label atau tulisan untuk memberikan informasi tentang identitas dan
peringatan tanda bahaya yang dapat ditimbulkan baik pada tangki
penimbun, tabung dan kerangan LPG.

4.3.5.1 Tangki

a. Penandaan Kerangan
Kerangan seperempat putaran harus diberi tanda sesuai
dengan persyaratan berikut :
• Tanda harus menunjukkan arti yang jelas untuk posisi
membuka dan menutup.
• Jenis kerangan globe dan angle sebaiknya ditandai
secara permanen dengan arah membuka.
• Jenis kerangan lain untuk keselamatan, pengatur
tekanan atau penunjuk batas cairan harus ditandai
untuk menunjukkan apakah kerangan tersambung ke
ruang cairan atau uap.

b. Data Tangki
• Kapasitas tangki dalam water capacity
• Berat kosong
• Tekanan uji (test pressure)
• Tekanan kerja (working pressure)
• Tanggal terakhir inspeksi internal dan tanggal terakhir
inspeksi kerangan
• Simbol atau plakat minimal berdiameter 100 mm
• Tanda peringatan Flammable Gas, No Smoking, No
Ignition Sources, Keep Fire Away harus tampak dari
luar pagar dan dari titik akses.

4.3.5.2 Tabung LPG


a. Setiap tabung LPG harus diberi tanda dan peringatan yang
jelas dan mudah dibedakan

21
b. Simbol dan tanda peringatan yang terpasang pada bagian
muka tabung harus tampak jelas, misalnya simbol dan
tanda peringatan
• Flammable Gas-No Smoking atau No Flame
• Highly Flammable LPG
• No Naked Lights

c. Data tabung
• Kapasitas tangki dalam water capacity
• Berat kosong
• Tekanan uji (test pressure)
• Tekanan kerja (working pressure)
• Tanggal terakhir inspeksi internal dan tanggal terakhir
inspeksi kerangan

4.3.6 Prosedur klasifikasi tabung sebelum pengisian


Untuk tabung LPG dengan kapasitas 0,5 liter hingga 150 liter, tabung-
tabung LPG kosong harus diperiksa dan dipisahkan berdasarkan
klasifikasi 4.3.6.1 s/d 4.3.6.3

4.3.6.1 Tabung yang layak untuk pengisian


Tabung yang layak untuk dilakukan pengisian produk LPG
adalah tabung yang memiliki kriteria kondisi sebagai berikut :
a. Sesuai dengan desain dan spesifikasi tabung (SNI 1452-
2007)
b. Tertera Indikasi berat dan kapasitas volumenya (water
capacity)
c. Tabung belum memasuki masa pengujian atau tanggal
inspeksi berkala.
d. Terdapat simbol inspeksi berkala
e. Secara visual tabung dan kerangan tidak mengalami
kerusakan
f. Tidak ditemukan adanya kebocoran pada tabung

4.3.6.2 Tabung harus dilakukan pemeriksaan berkala


Tabung harus menjalani pemeriksaan berkala sesuai
dengan ISO 10464, jika ditemukan salah satu kondisi
berikut:
a. Tabung hampir mendekati tanggal atau waktu pengujian.
b. Tabung tidak dapat teridentifikasi waktu pengujiannya.
c. Penandaan pada tabung tidak jelas dan sulit
diidentifikasi.

4.3.6.3 Tabung memerlukan perbaikan


Jika ditemukan salah satu kondisi berikut, tabung harus
menjalani perbaikan sesuai dengan ISO 10464, yaitu :

22
a. Tabung yang mengalami kerusakan dan terjadi
penebalan, pegangan tabung dan foot ringnya terlepas,
tabung penyok atau terdapat bekas terbakar.
b. Tabung telah terkorosi secara jelas atau ditemukan
adanya pengelasan
c. Tabung, kerangan dan alat pelepas tekanan (pressure
relief device) mengalami kebocoran dan rusak.

4.3.7 Pedoman teknis pengisian LPG


Kondisi yang harus diperhatikan pada saat pengisian LPG adalah
sebagai berikut :

4.3.7.1 Jumlah pengisian LPG yang aman


Prosedur pengisian LPG yang aman adalah :
a. Prosedur pengisian yang dimiliki harus dapat menjamin
bahwa tidak terjadi pengisian LPG berlebih.
b. Isi berat maksimum per liter (water capacity) harus sama
dengan 0,95 kali densitas fasa cairan pada suhu 50oC,
dan fasa cairan tidak boleh mengisi tabung hingga suhu
60oC.
c. Untuk tabung yang digunakan pada daerah dengan iklim
khusus, pihak yang berkompeten harus menentukan
filling ratio maksimum untuk masing-masing campuran
komposisi LPG.
d. Timbangan di set pada berat yang ditentukan dan
otomatis berhenti jika proses pengisian tabung LPG
sudah cukup.

4.3.7.2 Komposisi campuran LPG yang aman


a. Tabung-tabung harus diiisi dengan komposisi campuran
LPG yang tepat.
b. Penanganan khusus harus dilakukan untuk menjamin
tidak ada kontaminan yang dapat menyebabkan korosi.

4.3.7.3 Ketepatan Penimbangan


Timbangan yang digunakan dalam proses pengisian harus
telah diperiksa akurasinya minimal sekali dalam sehari.

4.3.7.4 Metode Pengisian


Metode pengisian LPG yang dilakukan mencakup :
a. Pengisian tabung yang dilakukan berdasarkan berat dan
volume. Pengisian berdasarkan berat, timbangan yang
digunakan harus terkoreksi untuk setiap tabung.
b. Pengisian berdasarkan volume, alat penunjuk level
cairan harus diperiksa agar dapat beroperasi dengan
baik

23
4.3.8 Prosedur pengisian LPG ke Skid Tank di Depot LPG/Filling Plant
Prosedur pengisian LPG di Depot atau Filling Plant meliputi kegiatan
persiapan sebelum pengisian, selama proses pengisian dan kegiatan
penyelesaian pengisian seperti yang dijelaskan di bawah ini.

4.3.8.1 Persiapan sebelum Pengisian LPG ke Skid Tank


a. Melengkapi material dan alat yang diperlukan, seperti:
• Dokumen penyerahan
• Fasilitas pengisian
• Segel
b. Memeriksa dokumen pengiriman/penyerahan yang terdiri
atas:
• Masa berlakunya
• Pengesahan dokumen penyerahan
• Memeriksa kuantitas di dokumen penyerahan apakah
sesuai dengan kapasitas Skid Tank
c. Menempatkan Skid Tank di bangsal pengisian dengan
posisi yang tepat dan benar
d. Personil pelaksana menguasai atau telah terbiasa
dengan sistim kerangan dan prosedur pengisian yang
tepat dan benar.
e. Memeriksa data tangki agar yakin bahwa tangki telah
sesuai dengan jenis LPG yang akan diisikan dan nama
pemiliknya.
f. Memeriksa isi tangki dan pastikan tangki memiliki ullage
yang cukup.
g. Memeriksa kondisi lokasi pengisian dan pastikan tidak
ada sumber nyala api di sekitar lokasi.
h. Sambungan harus dipastikan aman

4.3.8.2 Prosedur selama pengisian LPG ke Skid Tank


Prosedur yang harus dilakukan adalah :
a. Seluruh kerangan yang berhubungan dengan pengisian
ke Skid Tank dibuka dan pompa mulai dijalankan.
b. Pengisian dihentikan jika ada sumber nyala di dalam
lokasi pengisian atau jika terjadi kesalahan yang
menyebabkan kebocoran gas.
c. Personil yang melakukan pengisian menguasai operasi
pengisian LPG dan harus dapat menjamin bahwa
pengisian tangki tidak berlebih.
d. Filling ratio LPG ke dalam tangki harus tepat dan tidak
boleh berlebih.

4.3.8.3 Penyelesaian Pengisian LPG ke Skid Tank


Kegiatan penyelesaian pengisian LPG ke Skid Tank terdiri
dari :
a. Menghentikan pompa dan kompresor
b. Menutup semua kerangan yang berhubungan dengan
pengisian

24
c. Untuk pengisian akhir, mencatat posisi presentase rotto
gauge dan segel kerangan Skid Tank
d. Sambungan listrik dan antistatic dilepas
e. Operator harus memeriksa lokasi dengan berjalan kaki di
sekitar kendaraan untuk memastikan bahwa mesin
kendaraan telah dimatikan dan tidak boleh dijalankan
hingga seluruh uap telah menyebar dengan aman.
f. Mobil Skid Tank keluar dari bangsal pengisian atau
timbangan untuk proses selanjutnya
g. Jika terjadi kelebihan muatan dievakuasi ke tanki timbun

4.3.9 Prosedur pengisian LPG ke tabung dengan kapasitas air 0,5 liter s/d
150 liter WC (Water Capacity).

4.3.9.1 Persiapan Pengisian Tabung LPG dengan kapasitas air 0,5


liter s/d 150 liter WC.

a. Memeriksa semua peralatan yang diperlukan agar


tersedia pada tempatnya
b. Memeriksa lokasi titik pengisian terhadap potensi
sumber nyala.
c. Memeriksa dan menghitung jumlah tabung apakah
sesuai dengan jumlah yang tertera dalam dokumen.
d. Menyusun tabung kosong pada tempat yang telah
ditentukan dan penyusunan tabung tidak boleh lebih dari
ketentuan.
e. Memeriksa tabung secara visual sesuai ketentuan untuk
penentuan layak tidaknya tabung tersebut di isi ulang
LPG dan diedarkan.
f. Untuk tabung yang tidak layak edar, kirimkan ke bagian
penerimaan dan penimbunan untuk ditukar dengan
tabung yang layak edar.
g. Memeriksa apakah kerangan tabung dilengkapi dengan
rubber seal, jika tidak segera dipasangkan.
h. Memeriksa apakah ada udara bertekanan dalam tabung
dan bila ada, buanglah udara bertekanan tersebut
dengan cara membuka kerangan pada kerangan tabung.
i. Memasukkan tabung ke mesin pengisi satu persatu
j. Menimbang tabung secara random, 1 tabung untuk
setiap 25 tabung dan dicatat dalam formulir random
timbangan.

4.3.9.2. Pelaksanaan Pengisian Tabung LPG dengan kapasitas air


0,5 liter s/d 150 liter WC (Water Capacity).
a. Melakukan pelumasan pada Conveyor
b. Memeriksa fungsi alat timbang untuk pengecekan tabung
c. Menghidupkan LPG Transfer Pump
d. Memasukkan tabung satu persatu ke tiap-tiap filling point
e. Melakukan setting pada tiap filling point antara berat
tabung + berat isi + 0,2 kg (faktor koreksi) LPG.

25
f. Penyambungan kerangan tabung pada tiap-tiap filling
point dan mulai dilakukan pengisian
g. Filling point otomatis akan berhenti mengisi jika berat
tabung telah sesuai dengan setting timbangan.
h. Melakukan tes kebocoran pada setiap kerangan tabung
yang keluar dari filling point .
i. Tabung yang bocor dieliminasi dan dikosongkan isinya,
lalu kirimkan ke Bagian Penerimaan dan Penimbunan
untuk diganti dengan tabung yang siap pakai.
j. Tabung yang tidak bocor ditimbang secara random,
dengan menimbang 1 tabung dari 25 tabung.
k. Tabung-tabung yang isinya kurang ditambahkan di area
Filling Point.
l. Setelah selesai, Transfer Pump dimatikan
m. Memasang Security Seal Cup atau segel di bagian atas
untuk tabung yang telah di isi
n. Menutup kerangan yang terkait dengan pengisian

4.3.9.3. Pedoman Pemeriksaan setelah Pengisian


a. Memeriksa jumlah pengisian
Setiap tabung yang telah diisi harus diperiksa dengan
cara ditimbang untuk menjamin tidak terjadi kelebihan
pengisian dalam batas toleransi yang ditentukan oleh
pihak terkait atau dengan menggunakan Ullage dalam
tabung.
b. Tindakan dalam penanganan pengisian tabung berlebih
Apabila terjadi pengisian berlebih produk LPG ke dalam
tabung, segera lakukan pembuangan kelebihan produk
LPG dan dilakukan pemeriksaan ulang.
c. Pemeriksaan kebocoran
• Setiap tabung yang telah diisi harus dilakukan
pemeriksaan kebocoran.
• Kebocoran tabung harus ditangani sesuai dengan
prosedur pemeliharaan.
• Melakukan tes kebocoran dengan mengoleskan air
sabun, menggunakan spray gun pada setiap
kerangan tabung.
• Apabila terjadi kebocoran, berikan tanda dengan
kapur tulis.
• Mengeliminasi tabung yang bocor dan isinya
dikosongkan
d. Pemeriksaan penutup kerangan atau plugs
Sealing caps (seal), plug dan pelindung kerangan harus
diperiksa untuk setiap tabung yang telah diisi sebelum
pengiriman.

26
Tabel 2.
Jarak Aman Tabung Terhadap Batas Pagar dan Bangunan
Pada Instalasi Pengisian LPG

JARAK MINIMUM
KAPASITAS ISI AIR TERPASANG DIATAS ANTAR TABUNG-
DALAM SATU TABUNG DIBAWAH TANAH PERMUKAAN TABUNG TANKI-
TANGKI ELPIJI ATAU SETENGAN TANAH TANKI
TERPENDAM
( M3)

Sampai dengan 0,5 3 Meter Tidak di - Tdk disyaratkan


Syaratkan

0 , 5 s/d 1 , 0 3 meter 3 meter Tdk disyaratkan


1 , 0 s/d 1 , 9 3 meter 3 meter 1 meter
1 , 9 s/d 7 , 6 3 meter 7 , 6 meter 1 meter

7,6 s/d 114 15 meter 15 meter 1 , 5 meter


114 s/d 265 15 meter 23 meter
265 s/d 341 15 meter 30 meter 1/4 x jumlah
341 s/d 454 15 meter 38 meter diameter tan
454 s/d 757 61 meter ki
757 s/d 3785 91 meter
Diatas 3785 122 meter

27
Tabel 3.
Jarak Aman Antara Titik Pengisian/Penyerahan dengan lokasi lain
Pada Instalasi Pengisian LPG

MINIMUM
No. L O K A S I JARAK ARAH
HORIONTAL
1 Bangunan‐bangunan yang dilengkapi dengan
dinding tahan api. 3 meter

2 Bangunan‐bangunan yang tidak dilengkapi 
dinding tahan api 5 meter
3 Bangunan terbuka (tanpa dinding) berada  7,6 meter
dibawah permukanan titik pengisian/penyera
han

4 Sepanjang garis batas/pagar diatas permu‐ 3 meter
kaan
5 Tempat terbuka/lapangan dimana terdapat  15 meter
suatu kegiatan yang melibatkan banyak
orang, termasuk tempat bermainnya anak
sekolah, kegiatan atletik maupun lapangan
untuk kegiatan lainnya

6 Jalur dimana lewatnya kegiatan banyak
orang termasuk jalan raya, jalan tol, ja‐
lan tapak, trotoar (gili‐gili) :
a.  Dari titik penyerahan pada lokasi tem‐
     pat pendistribusian 3 meter
b. Dari titik penyerahan terhadap lokasi
     lainnya. 7,6 meter
7 Jalan Raya 15 meter
8 Jalur utama kereta api 7,6 meter
9 Tabung/tangki yang berisi produk lain 3 meter

10 Api terbuka 22,5 meter

28
Gambar 1. Persyaratan Jarak Antar Fasilitas di Instalasi Pengisian LPG

29
Gambar 2. Tanda peringatan pada Instalasi pengisian LPG

Dilarang menghidupkan mesin Lingkaran dan garis miring : Merah


Simbol : Hitam
Instruksi : Hitam

Dilarang Mengaktifkan Handphone Lingkaran dan garis miring : Merah


Simbol : Hitam
Instruksi : Hitam

Dilarang menyalakan api/korek api Lingkaran dan garis miring : Merah


Simbol : Hitam
Instruksi : Hitam

Dilarang merokok Lingkaran dan garis miring : Merah


Simbol : Hitam
Instruksi : Hitam

Dilarang Kontak langsung dengan Lingkaran dan garis miring : Merah


LPG dapat menyebabkan Simbol : Hitam
Dingin yang membakar Instruksi : Hitam

Dilarang Mengisi Untuk Silinder/Tabung

Jangan sampai melebihi batas pengisian Tulisan : Merah


80 % maksimum

30
4.4 Operasi Penyerahan LPG
Pedoman teknis operasi penyerahan LPG menjelaskan tentang fasilitas,
kualifikasi personil dan prosedur operasi penyerahan LPG dalam tangki dan
tabung di Filling Plant, SPPBE dan Agen atau dealer.

4.4.1 Persyaratan Umum


Persyaratan umum dalam operasi pengisian LPG menetapkan bahwa :
• Lokasi, tempat, fasilitas, peralatan dan personil yang melakukan
penyerahan LPG harus memenuhi persyaratan keselamatan.
• Tabung hanya dapat di serahkan oleh personil yang bertugas dan
terdaftar pada perusahaan pemilik tangki atau tabung.
• Pada saat penyerahan, kondisi tangki dan tabung LPG serta
kerangan masih layak edar dan belum memasuki waktu inspeksi
berkala sesuai dengan ISO 10460 dan ISO 24431.
• Tabung dan kerangannya berada dalam kondisi layak edar sesuai
dengan ISO 10691, ISO 11755 dan ISO 24431.

4.4.2 Kualifikasi Personil


Personil yang memenuhi kualifikasi untuk melaksanakan operasi
penyerahan LPG adalah :
a. Memahami prosedur penyerahan dan penyaluran LPG
b. Telah mendapatkan pelatihan tata cara penyerahan LPG
c. Memiliki kemampuan untuk membuat laporan administrasi.

4.4.3 Fasilitas Penyaluran/Penyerahan


Fasilitas penyaluran /penyerahan LPG dapat dilakukan :
• Melalui laut/air : Kapal /tongkang.
• Melalui darat : RTW dan skid tank

4.4.3.1 Melalui Laut/Air (Kapal / Tongkang)


Fasilitas penyaluran / penyerahan LPG melalui laut/air
adalah peralatan/fasilitas perlengkapan yang harus ada
selama proses penyerahan di atas air yang meliputi :
a. Dermaga
b. Mooring buoy
c. Pipa / slang
d. Kerangan
e. Pompa
f. Strainer
g. Meter arus
h. Manometer
i. Bonding Cable
j. Manifold
k. Loading arm
l. Quick Release Coupling
m. Thermometer.

31
4.4.3.2 Melalui Darat.
Penyerahan atau penyaluran LPG melalui darat dapat
dilakukan dengan :
• Rail Tank Wagon (RTW)
• Skid Tank

Rail Tank Wagon


Fasilitas Penyaluran LPG melalui RTW adalah
peralatan/perlengkapan yang ada diantara outlet tanki
timbun sampai dengan inlet RTW, yaitu :
a. Pipa / slang
b. Kerangan
c. Pompa
d. Manometer
e. Level Gauge
f. Grounding cable
g. Quick Release Coupling
h. Strainer
i. Thermometer
j. Alat Timbang.

Skid Tank.
Khusus mobil tanki untuk penyaluran LPG, tanki dengan
kapasitas di atas 50 kg dapat berupa :
a. Tangki yang dirancang untuk penimbunan sementara
LPG dan penggunaannya sebagai alat angkut dari satu
lokasi ke lokasi lain.
b. Fasilitas penyalurannya sama dengan : 4.4.3.2

Penyaluran LPG menggunakan container


a. Container yang ada pada pengisian LPG terdiri atas :
• Skid tank, yang berukuran 1 ton, 4 ton, 7 ton, 8 ton, 9
ton, 14 ton
• Tabung 26,3 lt WC dan 108 lt WC
Container / tabung LPG yang akan digunakan harus
memenuhi syarat dari pihak atau instansi yang
berkompeten

4.4.4 Prosedur Operasi Penyerahan LPG dengan Rail Tank Wagon


Prosedur operasi penyerahan LPG dengan RTW meliputi operasi
pengisian LPG sebelum, selama proses pengisian dan setelah
pengisian, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

4.4.4.1. Sebelum Pengisian


a. Menyeleksi dan mencatat nomor dan kapasitas RTW yang
akan di isi

32
b. Menghubungkan grounding/bonding cable
c. Menghubungkan selang pengisian antara filling point
dengan bottom loading atau menggunakan loading arm.
d. Membuka kerangan dan pompa dijalankan
e. Mengatur flow meter sesuai kapasitas RTW

4.4.4.2. Selama Pengisian


a. Memeriksa saluran pengisian dari kemungkinan kebocoran
b. Memeriksa jumlah isi dan kapasitas tangki dengan melihat
flow meter dan roto gauge (rotary level gauge)

4.4.4.3. Setelah Pengisian


a. Menutup kerangan jika isi sudah terpenuhi
b. Melepaskan selang atau hose pengisian
c. Saluran inlet dan outlet di segel
d. Lepaskan grounding/bonding cable
e. Menyelesaikan semua dokumen pengiriman
f. Pada akhir kegiatan, matikan pompa dan tutup semua
kerangan.

4.4.5 Prosedur Operasi Penyerahan LPG dengan Skid Tank


Prosedur operasi penyerahan LPG dengan Skid tank meliputi operasi
sebelum pengisian selama proses pengisian dan setelah pengisian,
yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

4.4.5.1. Sebelum Pengisian


Sebelum memasuki tempat pengisian (Filling Shed) di pintu
masuk petugas memeriksa :
a. Persyaratan keselamatan kerja
b. Mencatat No. dokumen penyerahan dan identifikasi lain.
c. Menyerahkan dokumen penyerahan yang berlaku dan
jumlahnya sesuai dengan kapasitas Skid Tank maupun No.
Polisi kendaraan tersebut.

4.4.5.2. Sesudah Pengisian


a. Pengemudi mengambil dokumen penyerahan yang telah di
isi oleh petugas yang berwenang.
b. Skid Tank segera meninggalkan Filling Shed
c. Di pintu gerbang, petugas memeriksa dokumen
penyaluran serta tinggi cairan LPG pada roto gauge dan
segel pada inlet kerangan.

4.4.6 Prosedur Operasi Penyerahan LPG Kepada SPPBE


Prosedur operasi penyerahan LPG kepada SPPBE meliputi operasi
penyerahan produk LPG dalam tangki dan tabung dengan berbagai
kapasitas, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Penyerahan fisik LPG dalam bentuk skid tank LPG, minimum 1 ton
ex Depot LPG Filling Plant atau Kilang LPG.
b. Dokumen penyerahan dibuat untuk pengambilan LPG ex Depot
LPG Filling Plant atau Kilang LPG.

33
c. Pemberian Transportation Fee dan Filling Fee diperhitungkan pada
harga LPG.
d. SPPBE menjual LPG ke Dealer sesuai yang telah ditetapkan oleh
perusahaan.
e. Harga jual LPG ke Dealer sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan oleh perusahaan dan disetujui oleh instansi terkait.

4.4.7 Prosedur Penukaran Tabung LPG dari SPPBE untuk Retest


a. SPPBE memisahkan tabung yang diterima dari Dealer yang secara
visual kurang baik atau habis masa operasinya.
b. Apabila terdapat tabung palsu atau bukan dari perusahaan yang
diterima oleh SPPBE, menjadi tanggung jawab SPPBE dan disita
oleh perusahaan untuk dimusnahkan dengan tidak diberi ganti rugi
kepada SPPBE.
c. Petugas dari perusahaan LPG atau perusahaan lain yang telah
ditunjuk secara periodik sesuai dengan jadwal yang disepakati
bersama antara Perusahaan LPG dan SPPBE, dengan membawa
sejumlah tabung LPG yang baik, mengunjungi SPPBE dan
menukar tabung yang perlu retest yang sudah terkumpul di SPPBE
dengan tabung yang baik.
d. Petugas dari perusahaan LPG memastikan kembali tabung yang
dianggap tidak layak di SPPBE tersebut dengan mememriksa
setiap tabung yang terdapat di SPPBE.
e. Petugas yang ditunjuk oleh perusahaan LPG harus petugas yang
memahami betul kondisi tabung yang layak dan yang tidak layak
pakai.
f. Pelaksanaan pengambilan/penukaran tabung LPG diatur oleh:
• Depot LPG Filling Plant, untuk unit operasi yang mempunyai
Depot LPG Filling Plant dan secara geografis dekat dengan
SPPBE tersebut.
g. Instalasi / depot BBM, untuk unit operasi yang belum ada Depot
LPG (Depot LPG Filling Plant) atau secara geoografis jauh dari
SPPBE tersebut.
h. Instalasi / Depot LPG Pelaksana harus selalu mempunyai buffer
stock tabung LPG yang cukup dan baik (siap diisi) yang sewaktu-
waktu dapat dipergunakan untuk mengganti tabung LPG yang tidak
layak pakai di SPPBE.
i. Tabung LPG yang tidak layak pakai yang terkumpul di
instalasi/Depot dapat diserahkan ke Depot LPG (Depot LPG Filling
Plant) yang mempunyai fasilitas pemeliharaan tabung LPG, baik
yang ditangani oleh perusahaan sendiri atau oleh pihak ketiga
(rekanan).
j. Pelaksanaan pengangkutan tersebut dapat dilakukan dengan cara
sewa/kontrak dengan ketentuan, kendaraan/truck harus memenuhi
persyaratan safety sebagai alat angkut tabung LPG dan sopir serta
kernet harus memenuhi/mematuhi ketentuan yang berlaku di
perusahaan.
k. Setiap kegiatan penukaran/serah terima tabung LPG dibuat berita
acara dan dokumennya direkam.

34
l. Semua biaya yang timbul berkenan dengan pelaksanaan
penukaran tabung LPG dari SPPBE menjadi beban
perusahaan/Badan Usaha.

4.4.8 Prosedur Operasi Penyerahan LPG kepada Dealer


a. Penyerahan fisik LPG kepada Dealer dalam bentuk tabung atau
skid tank LPG, berasal dari Depot LPG, Filling Plant atau SPPBE.
b. Dealer menjual LPG ke konsumen, dapat secara langsung atau
melalui pengecer atau system home to home service.
c. Harga LPG yang dijual ke konsumen sesuai dengan ketentuan
yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Untuk daerah di luar radius
60 km, harga LPG tersebut ditambah dengan biaya transport yang
besarnya ditetapkan oleh perusahaan.

4.4.9 Prosedur Pengawasan Penyerahan LPG


a. Kegiatan pengawasan dilakukan dengan sistem pengawasan intern
(mengenai administrasi penjualan LPG didalam perusahaan atau
badan usaha, dilakukan oleh kepala penjualan perusahaan yang
bersangkutan).
b. Kegiatan pengawasan terhadap Dealer dan SPPBE oleh tim
terpadu oleh perusahaan dengan cara sebagai berikut :
Mengawasi kegiatan penyaluran LPG oleh Dealer di rayon kerjanya,
meliputi administrasi, mutu dan kelengkapan safety, mutu
pelayanan terhadap konsumen serta mengenai :
1. Stock tabung isi dan kosong
2. Harga jual tabung LPG isi dan konsumen
3. Pola penyaluran LPG ke konsumen
4. Kendala yang dihadapi dalam memasarkan LPG
5. Kelengkapan peralatan pemasaran LPG dan sistem safety di
gudang, mobil pengangkut LPG maupun tempat penjualan
c. Secara berkala memeriksa administrasi, mutu dan kelengkapan
safety di SPPBE. Dan apabila perlu Tim untuk memeriksa
mengenai kelayakan asset yang digunakan SPPBE tersebut.
Faktor lain yang diperiksa meliputi :
• Surat –surat perijinan
• Stock tabung kosong dan tabung afkir, stock seal cap plastik
dan rubber seal
• Kelengkapan transportasi LPG
• Sistem safety di SPPBE
• Pelaksanaan handling tabung LPG
• Pengawasan terhadap mutu LPG, termasuk kualitas dan
kuantitasnya

35
4.5 Pedoman Keselamatan Kerja Dalam Keadaan Darurat Instalasi Pengisian
LPG

Pedoman teknis instalasi LPG ini disusun dalam rangka menjamin


keselamatan migas yang meliputi keselamatan umum, keselamatan kerja
personil, keselamatan lingkungan dan keselamatan instalasi pengisian LPG,
sesuai dengan aturan dan standar yang telah ditetapkan.

Pedoman keselamatan kerja dalam keadaan darurat harus dapat menunjukkan


suatu garis perintah/komando, laporan dan pemberitahuan secara jelas,
sehingga semua personil yang terlibat dapat memahami tugas, wewenang dan
tanggung jawabnya secara jelas, tegas dan disiplin sehingga dapat
mengendalikan dan mengatasi keadaan darurat dengan baik.

4.5.1. Pedoman Umum Keselamatan Kerja


a. Seluruh daerah Instalasi Pengisian LPG merupakan daerah
terlarang untuk merokok dan menyalakan api. Merokok di larang
keras kapan saja kecuali dalam lokasi-lokasi yang khusus diijinkan
oleh Manajemen.
b. Dilarang membawa mancis, korek api atau benda apa saja yang
dapat menimbulkan bunga api atau api ke dalam ”daerah instalasi”.
c. Dilarang menyalakan api dan sumber-sumber api lainnya seperti
pekerjaan las tanpa surat ijin kerja panas, kecuali pada lokasi-
lokasi yang khusus diperbolehkan oleh Manajemen.
d. Dilarang berjalan di atas pipa saluran
e. Sebelum melakukan pekerjaan, yakinkan bahwa surat ijin atau
surat keterangan yang diperlukan telah diperoleh.
f. Mencatat keadaan-keadaan yang berpotensi bahaya atau keadaan
yang sudah dikatagorikan bahaya dengan cara melaporkan kepada
kepala instalasi.
g. Janganlah mencoba menjalankan atau menggerakkan mesin-
mesin atau alat-alat yang tidak diperlukan.
h. Petugas harus berusaha membersihkan tempat pekerjaan segera
setelah pekerjaan selesai.
i. Menjaga semua perkakas`dan peralatan bersih dan ditempatkan
pada yang seharusnya.
j. Dilarang mengganti atau menukar alat atau perkakas secara tidak
baik.
k. Petugas tidak boleh meninggalkan pekerjaan sampai petugas yang
menggantikan telah diberitahu mengenai keadaan pekerjaan.

4.5.2. Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat


Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat meliputi :
Prosedur tanggap darurat untuk kondisi tidak normal, kejadian
tumpahan/kebocoran LPG, kejadian kebakaran, kecelakaan kerja dan
kegagalan sistem kerja alat.
Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat minimal terdiri
dari :

36
• Daftar nama personil, layanan darurat dan no. Telepon/no. Yang
mudah dihubungi.
• Jalur komando keadaan darurat
• Uraian tugas dan tanggung jawab
• Kerjasama dengan pihak lain yang terkait
• Safety briefing dan pelaporan
• Pengendalian rekaman
• Area penyimpanan dan penimbunan tabung harus diberi tanda
plakat dan peringatan untuk tidak merokok.
• Site Plant

4.5.3. Prosedur Tanggap Darurat


a. Suatu sistim alarm harus dapat didengar di seluruh daerah instalasi
pengisian LPG untuk memperingatkan personil akan keadaan
darurat yang mungkin akan terjadi.
b. Apabila sistim alarm umum gagal, petunjuk lisan keadaan darurat
akan diberikan dengan menggunakan radio dan sistim siaga
keadaan darurat.
c. Cara yang benar untuk melaporkan keadaan darurat harus
berbicara dengan jelas dan terang serta memberikan informasi
yang tepat.
d. Semua panggilan keadaan darurat harus diketahui dengan
ucapan ”INI KEADAAN DARURAT”.
e. Memberitahukan lokasi keadaan darurat secara benar dan tepat.
f. Menjelaskan keadaan darurat secara ringkas , seperti kebakaran,
tabung meledak dll.
g. Memperkenalkan diri nama, nomor personil/petugas dan
bagian/tempat bertugas.
h. Jika terjadi suatu keadaan darurat, petugas yang bertanggung
jawab harus langsung merespon untuk mengendalikan keadaan
darurat di daerah instalasi.
i. Setiap petugas bertanggung jawab untuk mengamati keadaan-
keadaan di daerah kegiatannya dan menanggulangi atau
melaporkan segera setiap kejadian yang tidak biasa di daerah itu.
j. Petugas yang menemukan adanya api, gas atau cairan
hidrokarbon yang bocor harus segera melaporkan pada kepala
instalasi tentang masalah dan situasinya.
k. Sesudah melapor dan atas petunjuk Kepala instalasi, personil di
daerah tersebut akan mengambil tindakan langsung untuk
mengatasi masalah atau menjaga agar tidak meluas sampai
bantuan tiba, seperti mematikan pompa, menutup kerangan,
mengaktifkan sistim sprinkler, menggunakan pemadam api dsb.
l. Kepala instalasi harus mendengarkan laporan, mengajukan
pertanyaan dan menginstruksikan tindakan apa yang perlu
dilakukan untuk mengatasi keadaan darurat.
m. Kepala instalasi langsung menuju ke tempat kejadian, mengamati
keadaan dan meyakinkan bahwa prosedur keadaan darurat
dilaksanakan dengan baik.

37
4.5.4. Prosedur Penanggulangan Kebocoran/Penyebaran LPG
Apabila LPG tertumpah di tanah, gas yang terlepas akibat penguapan
cairan LPG akan menimbulkan campuran udara dan gas hidrokarbon
yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Karena LPG sifatnya dingin,
gas ini akan mengkondensasi air dari udara dan disebut kabut gas.
Tindakan yang segera dan tepat dalam menanggulangi kejadian
tersebut harus ditangani sesuai dengan pedoman prosedur sebagai
berikut :
a. Setiap pekerja yang mengetahui adanya kebocoran atau
penyebaran LPG yang ditandai dengan terciumnya bau tertentu,
agar segera berusaha mencari tahu sumbernya.
b. Apabila sumber kebocoran/penyebaran gas telah ditemukan,
segera memberitahukan dan melapor kepada kepala satuan
penyelamatan produk LPG.
c. Kepala satuan penyelamatan produk LPG dan bagian yang terkait
harus memeriksa situasi pada lokasi kejadian kemudian meneliti
dan menyelidiki sumber kebocoran dan berupaya mengatasi dan
memperbaikinya.
d. Melakukan tindakan segera untuk mengatasi masalah atau agar
masalah tidak meluas sampai bantuan tiba, seperti menutup
kerangan atau mengisolasi pipa atau tabung yang bocor,
mengaktifkan sistim alat pemadam kebakaran dsb.
e. Apabila tindakan di atas tidak berhasil, hentikan semua aktifitas
yang berkaitan dengan penerimaan dan penyerahan produk LPG
f. Menghentikan semua aktifitas pengisian produk LPG dan menutup
semua kerangan yang diperkirakan akan memutuskan atau paling
tidak akan mengurangi besarnya penyebaran gas LPG dan
mengeluarkan kendaraan angkutan tabung LPG.
g. Melarang/menghimbau kepada para pekerja,
masyarakat/penduduk yang ada di sekitar lokasi instalasi dalam
radius 50 m, untuk tetap tenang dan tidak melakukan kegiatan
yang menggunakan atau dapat menimbulkan nyala api terbuka.
h. Semua kegiatan perbaikan yang tidak ada hubungannya dengan
kejadian dalam jarak 300 m dari kabut gas harus dihentikan dan
semua sumber api (mesin las, motor bakar dll) harus dimatikan.
i. Orang-orang yang tidak berkepentingan dalam menangani kejadian
tersebut harus mengungsi dari daerah kejadian dan tidak boleh
berada di daerah 300 m dari kabut gas.
j. Petugas emergensi bertanggung jawab untuk mengukur
konsentrasi gas di sekeliling tumpahan untuk menjamin bahwa
daerah dalam jarak 300 m adalah aman.
k. Zona yang berbahaya mungkin akan meluas apabila konsentrasi
gas dalam jarak 300 m lebih tinggi dari pada 60 % dari Titik Nyala
Terendah (TNT) gas.
l. Menyiapkan regu penanggulangan keadaan darurat serta pompa
pemadam dan perlengkapannya agar setiap saat siap segera
melakukan tindakan atas berbagai kemungkinan yang akan terjadi,
serta mengaktifkan water sprinkler system.
m. Karena berat jenis uap LPG lebih berat dari udara, maka uap LPG
akan merambat di atas tanah sebelum menyebar di atmosfir.

38
n. Air tidak boleh diarahkan langsung ke tumpahan LPG karena ini
akan membentuk gumpalan uap gas yang lebih besar.
o. Hanya High Expansion Foam (HEF) dengan ratio pengembangan
busa 500 : 1 yang boleh digunakan dalam pengendalian
penguapan tumpahan LPG agar penyebaran uap gas di atmosfir
dapat terkendali.
p. Alat pernapasan harus dipakai oleh personil yang bertugas`dalam
mengatasi keadaan darurat tersebut.
q. Terkena cairan LPG dapat menyebabkan luka bakar dingin .
Apabila ini terjadi, hangatkan bagian yang terkena dengan air
hangat yang bersih sampai warnanya menjadi merah dan segera
ke dokter untuk memperoleh pengobatan.

4.5.5. Instalasi Pengisian Gas yang tidak memiliki fasilitas odorisasi


Untuk menjaga sistem kemanan dan keselamatan instalasi, harus
dilengkapi dengan :
a. Emergency shut-down system
Instalasi Pengisian LPG yang tidak memiliki fasilitas odorisasi
harus dilengkapi dengan suatu Emergency shut-down system yang
secara otomatis menghentikan aliran gas jika detektor gas
mendeteksi adanya konsentrasi gas di udara lebih dari 25 % LEL
(lower explosive limit). Apabila jenis gas yang disimpan lebih dari
satu, detektor sebaiknya di atur/diset untuk gas dengan LEL
terendah.

b. Penempatan detektor gas


Detektor gas harus dipasang :
• Di sekitar instalasi LPG
• Pada titik pemuatan LPG jika pengisian langsung tidak
digunakan
• Pada titik penggunaan gas yang tidak diodorisasi

c. Fungsi dari detektor gas


• Menghentikan aliran gas
• Menginisiasi berfungsinya alarm pada level 105 desibel dan
alarm tersedia

4.5.6. Prosedur Penanggulangan Kebakaran LPG


Prosedur penanggulangan kebakaran LPG harus memenuhi
persyaratan penanggulangan kebakaran seperti dalam ketentuan
umum berikut ini :

4.5.6.1. Ketentuan Umum


a. Alat pemadam kebakaran yang sesuai harus tersedia di
tempat dan dapat digunakan kapan saja.
b. Tersedia peralatan perlindungan kebakaran yang cukup,
seperti : alat pemadam kebakaran ringan, tirai air (water
curtain), fire monitor, alat bantu pernapasan dsb.

39
c. Jumlah alat pemadam kebakaran ringan yang tersedia
tergantung dari jumlah LPG yang disimpan. Tabel 4
menunjukkan jumlah APAR yang dibutuhkan
berdasarkan jumlah LPG yang disimpan.
d. Personil pengamat kebakaran harus petugas yang
berkompeten dan telah mendapatkan pelatihan
kebakaran atau sudah berpengalaman sebagai regu
bantuan keadaan darurat.
e. Pengamat kebakaran yang siap siaga tidak boleh
melakukan pekerjaan lain bila sedang bertugas sebagai
pengamat kebakaran.
f. Komunikasi harus dibuat antara kawasan kerja dan
pengontrolan supaya mudah mengirimkan bantuan bila
keadaan darurat terjadi.

4.5.6.2. Kebakaran Kecil


a. Setiap pekerja yang mengetahui terjadinya kebakaran
kecil, segera bertindak sendiri dan berusaha sedapat
mungkin untuk memadamkan kebakaran dengan alat
pemadam api yang sesuai dan yang berada di dekat
lokasi kejadian.
b. Apabila tumpahan LPG berkembang menjadi kebakaran,
maka prosedur yang harus dilakukan adalah :
• Kebakaran LPG tidak boleh dimatikan sebelum
sumber bahan bakar atau kebocoran ditutup.
• Kerangan harus segera ditutup karena panas radiasi
secara tidak langsung akan membahayakan personil
merusak alat-alat di daerah yang terbakar tersebut.
Apabila keadaan seperti ini terjadi, alat pemadam api
tepung kering (dry powder) harus dipakai.
• Usahakan mengurangi radiasi panas kebakaran LPG
dan mengendalikan api yang dapat membahayakan
peralatan atau semakin besarnya api dengan
menggunakan HEF (High Expansion Foam) ke
genangan LPG yang terbakar atau dengan
melindungi peralatan di sekeliling kejadian dengan
semprotan air.
c. Segera melapor kepada kepala penanggulangan
kebakaran yang sedang bertugas dengan menyebutkan
identitas pelapor, lokasi kejadian, jenis yang terbakar
dan tindakan yang telah dilakukan.
d. Kepala penanggulangan kebakaran dan anggotanya
membawa perlengkapan yang diperlukan segera menuju
ke lokasi kebakaran untuk mengevaluasi kejadian dan
sekaligus melaksanakan penanggulangan kebakaran
yang belum padam.

4.5.6.3. Kebakaran Besar


a. Apabila kebakaran yang terjadi tidak berhasil diatasi,
sehingga kebakaran menjalar lebih luas dan besar, maka
langkah penanggulangan lanjutan adalah :

40
b. Menghubungi para komandan satuan tugas dalam
organisasi keadaan darurat untuk segera melakukan
tindakan sesuai tugas dan tanggung jawabnya masing-
masing.
c. Membunyikan tanda bahaya alarm
d. Melakukan evakuasi personil yang masih berada di
dalam dan di sekitar area kebakaran.
e. Bekerjasama dan berkoordinasi dengan pihak lain di luar
perusahaan dalam pelaksanaan pemadaman kebakaran.

Tabel 4. Kebutuhan jumlah alat pemadam kebakaran

Jumlah LPG yang disimpan (kg) Jumlah Pemadan Kebakaran (9 kg)

Hingga 5000 2

5000 – 15.000 3

15.000 – 25.000 4

4.5.7. Tanda-tanda Keadaan Darurat


Tanda-tanda keadaan darurat meliputi beberapa kondisi, diantaranya :
4.5.7.1. Peringatan Tanda Bahaya
a. Klakson berbunyi selama 2 menit terus menerus
b. Petugas mengamankan daerah yang menjadi tanggung
jawabnya sesuai dengan perintah atasan.
c. Petugas keamanan wajib mengamankan daerah
kejadian dan mengamankan instalasi pengisian LPG
secara keseluruhan.
d. Petugas penanggulangan keadaan darurat menuju dan
melapor ke bagian kebakaran
e. Personil lain menghentikan semua kegiatan dan menuju
assembly poin terdekat.

4.5.7.2. Tanda Evakuasi


a. Klakson akan berbunyi 5 detik ”ON” dan 5 detik ”OFF”
secara terus menerus
b. Personil yang berada di assembly point akan diungsikan
oleh petugas.
c. Personil yang berada di dalam gedung atau kantor,
segera meninggalkan kantor atau gedung menuju muster
area dan selanjutnya akan diungsikan oleh petugas.

4.5.7.3. Tanda Keadaan Aman


a. Klakson akan berbunyi 10 detik ”ON” dan 2 detik ”OFF”
secara terus menerus selama 2 menit.

41
b. Semua personil kembali ke tempat kerja dan bekerja
seperti biasa, kecuali kalau ada instruksi lain dari
Petugas.

4.5.8. Kejadian alam yang tidak normal

Kejadian alam yang tidak normal meliputi gempa bumi, banjir, badai
topan, gelombang pasang dll.

Langkah yang harus dilakukan setiap personil dan atau petugas Badan
Usaha jika terjadi kondisi alam seperti dimaksudkan di atas adalah
berusaha secepat mungkin untuk melakukan langkah-langkah
pengamanan baik untuk diri sendiri, orang lain dan asset perusahaan
atau badan usaha.

42
5. PEDOMAN TEKNIS PEMELIHARAAN TABUNG LPG

Pedoman tertulis harus menjadi dasar untuk melakukan kegiatan pemeliharaan


tabung LPG. Prosedur operasi harus diperbaharui ketika terdapat perubahan yang
mempengaruhi operasi sistem.

5.1 Ruang Lingkup

Pedoman teknis pemeliharaan tabung LPG ini menjelaskan mengenai teknis


pemeliharaan yang harus dilakukan terhadap tabung dan kerangan LPG yang
beredar atau digunakan agar kondisinya selalu terpelihara dalam keadaan baik
dan memenuhi aspek keselamatan kerja berdasarkan pada ketentuan yang
telah ditetapkan.

Ruang lingkup pedoman teknis ini juga meliputi penetapan kualifikasi personil
pemeliharaan tabung, fasilitas pemeliharaan tabung, jenis-jenis pemeliharaan
tabung, teknik klasifikasi, prosedur pemeliharaan dan bengkel perbaikan.

5.2 Kualifikasi Personil


Kualifikasi personil yang dipersyaratkan di dalam standar yang dimaksud
adalah :
a. Seluruh personil yang berkompeten dan ditugaskan untuk melaksanakan
pemeliharaan tabung LPG.
b. Telah mendapatkan pelatihan tata cara pemeliharaan tabung LPG dan
penanganannya.
c. Memiliki sertifikat yang masih berlaku dan dikeluarkan oleh instansi yang
berwenang.
d. Pelatihan sebaiknya diberikan minimal setiap 3 tahun sekali dan
terdokumentasi
e. Memiliki pengetahuan mengenai produk LPG, tabung LPG dan resiko
bahayanya
f. Memiliki pengetahuan mengenai bagaimana mengatasi keadaan darurat

5.3 Objek dan Fasilitas/Peralatan Pemeliharaan

5.3.1 Objek Pemeliharaan


Yang dimaksud dengan objek pemeliharaan adalah kemasan atau
tabung bertekanan dan kerangan yang dipakai pada operasi
penyaluran LPG.
a. Tabung LPG / bejana bertekanan
Kemasan ini diadakan oleh pihak Badan Usaha dengan sertifikasi
yang telah dikeluarkan oleh pihak berwenang. Bejana-bejana
bertekanan ini harus ditandai dengan kode-kode tertentu misalnya
kapan harus di test ulang (bulan, tahun), berat kotor dari bejana
tekan dan tanda pengesahan dari pihak yang berwenang, mutu,
kode wilayah serta tanda lain yang dianggap perlu.

43
b. Kerangan
Kerangan adalah alat untuk membuka dan menutup yang terpasang
di outlet tabung

5.3.2 Fasilitas /Peralatan Pemeliharaan Tabung LPG dan Kerangan


Peralatan minimal yang harus dimiliki untuk dapat melaksanakan
pemeliharaan / retest tabung LPG antara lain :
1) Hydrostatic test equipment.
Fungsi : Menguji hydrostatic, untuk mengetahui kebocoran tabung
dan besarnya pengembangan tetap.
Equipment ini meliputi :
• Plunger / hydrostatic pump
• Water jacket
• Panel instrument
• Water pump.
2) Gas Separator.
Fungsi : Untuk menetralisisr / mengurangi konsentrasi gas LPG di
sekitar work shop pada waktu proses gas free tabung LPG yang
akan ditest dengan cara mengisi air ke dalam tabung.
3) Chain hoist
Fungsi : Untuk memasukkan dan mengeluarkan tabung yang akan
di test dalam water jacket.
4) Drainage unit
Fungsi : Dengan udara bertekanan disemprotkan ke dalam tabung
untuk mengeluarkan air dari dalam tabung yang selesai ditest.
5) Bottle turn unit dan blower heater.
Fungsi : Untuk mengeringkan bagian dalam tabung setelah proses
hydrostatic test.
6) Lamp for inspection into bottle
Fungsi : Lampu dengan voltage rendah untuk memeriksa bagian
dalam tabung.
7) Sand blasting machine
Fungsi : Membersihkan / mengupas cat lama sebelum proses
pengecatan
8) Kerangan Fitting Machine
Fungsi : Melepas atau memasang kembali kerangan.
9) Painting booth
Fungsi : Pengecatan tabung.
10) Air Compressor
Fungsi : Suplai udara bertekanan untuk alat-alat seperti : kerangan
fitting machine, water drainage unit dan lain-lain.
11) Evacuation pump.

44
Fungsi : Untuk memindahkan sisa LPG dalam tabung yang akan
diuji/repair.
12) Peralatan perbengkelan umum.

5.4 Pedoman teknis pemeliharaan tabung LPG

Orang yang melakukan pemeliharaan instalasi pengisian LPG harus terlatih


dalam menghadapi keadaan darurat pada sistem dan melakukan tahapan
prosedural dalam proses pemeliharan dan pengujian.
Kontraktor yang bertugas untuk melakukan pemeliharan harus menjamin
bahwa tiap-tiap petugas yang melakukan pemeliharaan sudah terlatih atau
dalam pengawasan yang ketat dari orang yang terlatih untuk melakukan
prosedur pemeliharaan.

5.4.1 Prosedur tertulis ini harus mencakup persyaratan berikut :


a. Kontrol terhadap korosi
b. Perlindungan fisik
c. Hoses
d. Perpipaan
e. Peralatan tambahan
f. Kontainer
g. Tabung LPG

5.4.2 Panduan pemeliharaan


5.4.2.1 Panduan pemeliharaan harus mencakup inspeksi rutin dan
prosedur pemeliharaan untuk alat pencegahan keadaan
darurat dan terjadwal.
5.4.2.2 Tiap-tiap fasilitas harus menjaga riwayat dari kegiatan
pemeliharaan dari peralatan yang digunakan untuk
menyimpan dan mentransfer LPG. Riwayat pemeliharaan
untuk fasilitas yang tidak ditempati harus dijaga di lokasi
tersebut atau lokasi lain yang memungkinkan.
5.4.2.3 Riwayat peralatan harus dibuat dan mudah diakses oleh
petugas berwenang yang memiliki wewenang selama jam
kerja normal.
5.4.2.4 Riwayat pemeliharaan harus disimpan selama peralatan
tersebut ada.

5.4.3 Pemeliharaan peralatan pencegah kebakaran


5.4.3.1 Harus menyiapkan dan mengimplementasikan program
pemeliharaan untuk semua peralatan pemadam kebakaran di
dalam sistem

45
5.4.3.2 Kegiatan pemeliharaan untuk alat pelindung kebakaran harus
terjadwal sehingga jumlah peralatan yang harus diservice dan
dikembalikan dari service dalam jumlah yang minimum.
5.4.3.3 Pemadam api otomatis yang menggunakan air harus sesuai
dengan NFPA 25, “Standard for the inspection, testing, dan
maintenance of water-based fire protection system”.
5.4.3.4 Alat pemadam api portable harus dirawat sesuai dengan
NFPA 10, Standard for Portable Fire Extinguisher”.

5.5 Prosedur Pemeliharaan Tabung LPG

46
5.5.1 Pengecekan visual
Pengecekan Visual dilakukan di Depot, Filling Plant dan SPPBE,
merupakan seleksi tabung LPG kosong dari agen sebelum dilakukan
pengisian, saat dan setelah proses pengisian, bertujuan untuk
melakukan pengecekan/penyeleksian secara visual tabung-tabung
yang penampilannya buruk, tidak laik pakai dan atau kadaluarsa
untuk kemudian disisihkan dan ditukarkan dengan tabung rolling
yang baik dan kemudian tabung-tabung tersebut diklasifikasikan
sesuai dengan kriteria kerusakannya yaitu : Retest, Retest Dengan
Repaint, Repaint, Repair Penggantian Kerangan, Repair Lainnya dan
Afkir.

5.5.2 Prosedur klasifikasi tabung


Untuk tabung LPG dengan kapasitas 0,5 liter hingga 150 liter, tabung-
tabung LPG kosong harus diperiksa dan dipisahkan berdasarkan
klasifikasi sebagai berikut :

a. Tabung yang masih layak edar


Tabung yang masih layak edar memiliki kondisi sebagai berikut :
• Sesuai dengan desain dan spesifikasi tabung
• Tertera Indikasi berat dan kapasitas volumenya (water capacity)
• Tabung belum memasuki masa pengujian atau tanggal inspeksi
berkala.
• Terdapat simbol inspeksi berkala
• Secara visual tabung dan kerangan tidak mengalami kerusakan
• Tidak ditemukan adanya kebocoran pada tabung

b. Tabung harus dilakukan inspeksi dan pengujian


Jika ditemukan kondisi tabung sebagai berikut, tabung harus
menjalani pemeriksaan berkala sesuai dengan ISO 10464.
Kriteria tabung yang harus dilakukan pengujian adalah :
• Tabung hampir mendekati tanggal atau waktu pengujian.
• Tabung tidak dapat teridentifikasi waktu pengujiannya.
• Penandaan pada tabung tidak jelas dan sulit diidentifikasi.
• Cat mengelupas lebih dari 20%

c. Tabung yang memerlukan perbaikan


Jika ditemukan salah satu kondisi berikut, tabung harus menjalani
perbaikan sesuai dengan ISO 10464, yaitu :
• Tabung yang mengalami kerusakan dan terjadi penebalan,
pegangan tabung dan foot ringnya terlepas, tabung penyok atau
terdapat bekas terbakar.
• Tabung telah terkorosi secara jelas atau ditemukan adanya
pengelasan
• Tabung, kerangan dan alat pelepas tekanan (pressure relief
device) mengalami kebocoran dan rusak.

d. Tabung yang tidak laik pakai


Kriteria tabung yang tidak laik pakai adalah :

47
• Tidak memenuhi standar keselamatan kerja seperti: bocor,
kerangan bocor, kerangan penyok, bodi penyok, dll
• Terdapat lekuk, luka atau benjol pada dinding tabung.
• Terdapat bekas terbakar pada bodi tabung
• Terdapat korosi (karat) pada tabung lebih dari 15% dari luas
permukaan tabung
• Terdapat kerusakan pada Hand Guard atau Foot Ring

e. Tabung Kadaluarsa
Habis masa edarnya dilihat dari bulan dan tahun masa berlaku

f. Kerangan rusak
Kerangan rusak artinya kerangan yang tidak dapat dipergunakan
lagi dan tidak dapat dipasang pada tabung LPG karena terjadi cacat
atau tidak berfungsi.

5.5.3 Pemeriksaan Bentuk (Deformasi)


a. Pelendungan/benjol
• Terdapat pelendungan/benjolan pada dinding tabung dengan
maximum benjolan sebesar 1% terhadap keliling tabung.
• Maximum benjolan hanya 1 (satu) buah.
b. Lekuk
• Terdapat lekukan yang tidak tajam pada pemukaan dinding
tabung dimana permukaan bahan tidak ditembus.
• Kedalaman lekukan tidak boleh lebih dari l/10 diameter lekukan.
• Diameter lekukan tidak boleh lebih dari '/4 diameter tabung.
c. Lekuk Tajam
• Terdapat lekuk tajam dengan lekukan bcrsudut tajam scdangkan
perrmukaan bahan tabung tidak ditembus.
• Jumlah maximum lekukan tajam adalah 2 (buah) dalam arah
memanjang.
d. Luka tajam
• Lekukan bersudut tajam dimana permukaan bahan terluka
(tersobek).
• Tebal dinding tabung pada daerah yang terluka tidak kurang dari
1 x tebal dinding minimum yang diperbolehkan.
• Panjang luka tajam harus kurang dari 75 mm.

Catatan : Jika terjadi penyimpangan dari salah satu kerusakan


tersebut diatas maka tabung harus di Afkir.

5.5.4 Kebocoran
a. Jika terjadi kebocoran pada badan tabung (bukan pada pengelasan)
dan atau kebocoran ulir (neck ring) yang tidak dapat diperbaiki,
maka tabung harus di Afkir
b. Jika terjadi kebocoran pada bagian pengelasan bodi dan neckring,
maka tabung harus diperbaiki

48
5.5.5 Pemeriksaan Hand Guard
a. Jika berhubungan dengan badan tabung tidak boleh ada yang
rusak/cacat.
b. Jika terjadi kerusakan Hand Guard pada tempat yang tidak
berhubungan langsung dengan badan tabung dapat diperbaiki

5.5.6 Pemeriksaan Foot Ring


a. Foot Ring yang rusak adalah Foot Ring yang kerusakannya berupa
penyok yang tidak dapat dikembalikan ke bentuk awalnya,
korosi/keropos.
b. Foot ring yang rusak harus diganti dengan yang baru dengan
mengacu kepada ketentuan Welding Proeedure Specification
(W.P.S) yang berlaku.
c. Jika kerusakan yang terjadi pada Foot Ring berupa penyok yang
dapat dikembalikan ke bentuk awal, sambungan las cincin Foot
Ring yang dapat diperbaiki tanpa merusak tabung maka tabung
harus diperbaiki
d. Jika penggantian Foot Ring akan mengakibatkan kerusakan pada
bodi tabung maka tabung harus di Afkir

5.5.7 Cat dan marka tabung


Tabung yang catnya buram/pudar, mengelupas lebih dari 20 %,
logo/marka tidak dapat terbaca/hilang maka tabung tersebut harus di
perbaiki

Catatan : Semua tabung yang telah habis masa edarnya harus di


lakukan uji ulang
Semua tabung yang masuk dalam katagori perbaikan tetapi masa
edarnya akan habis kurang dari 6 bulan kedepan maka tabung tersebut
harus diuji ulang dan lakukan pengecatan kembali.

5.5.8 Prosedur Penandaan, Pemindahan dan PengirimanTabung


a. Seleksi dan pemberian tanda pada tabung dilakukan oleh Petugas
SPPBE / DEPOT/ LPG Filling. Bagi petugas yang menyeleksi
tabung-tabung LPG (di LPG Filling Plant, SPPBE/DEPOT) wajib
menuliskan identitas dan jumlah tabung yang diseleksi, serta
memberi tanda pada tabung tersebut sesuai dengan klasifikasinya
b. Pengambilan dan pemindahan tabung yang terseleksi dilakukan
oleh Petugas dari Bengkel Pemeliharaan. Tabung-tabung yang
terseleksi dan telah dikumpulkan di Filling Plant/SPPBE/DEPOT,
ditukarkan dengan tabung yang baik dari Bengkel Pemeliharaan.

Catatan :
Bagi Bengkel Pemeliharaan yang berlokasi di' SPPBE/LPG Filling Plant
maka petugas Badan Usaha akan mendatangi lokasi Bengkel
Pemeliharaan sesuai jadwal yang disepakati, dengan ketentuan
sebagai berikut :

49
• Semua tabung yang akan diproses harus sudah diperiksa dan
ditetapkan klasifikasinya oleh petugas Badan Usaha.
• Petugas Badan Usaha datang kelokasi Bengkel Pemeliharaan
sesuai jadwal yang disepakati bersama.

5.5.9 Penetapan Klasifikasi Pemeliharaan


Penetapan klasifikasi pemeliharaan tabung bertujuan untuk memeriksa
dan menetapkan klasifikasi proses pemeliharaan tabung oleh Bengkel
Pemeliharaan.

Tabung yang dinyatakan tidak layak isi atau tidak layak operasi disebut
tabung rusak. Tabung rusak diklasifikasikan menjadi :
a. Masih dapat diperbaiki
• Kerangan rusak
• Foot-ring rusak
• Handguard rusak yang masih dapat diperbaiki
• Body tabung pudar, mengelupas, berkarat dan marka tidak jelas.
• Bocor pada sambungan las
• Bocor pada celah neck ring
• Kerangan.

b. Tidak dapat diperbaiki


• Tidak lulus uji hidrostatik
• Rusak ulir neck ring
• Handguard rusak dan harus diganti
• Bocor pada permukaan badan tabung
• Karat yang melebihi ketentuan
• Deformasi (lekuk, luka dan penyok) pada badan tabung yang
melebihi ketentuan
• Terdapat bekas terbakar pada badan tabung.

5.5.10 Prosedur penerimaan tabung yang terseleksi


• Tabung-tabung yang terseleksi dari SPPBE/LPG Filling Plant yang
dibawa oleh Bengkel Pemeliharaan, dikumpulkan untuk kemudian
dievaluasi dan ditetapkan klasifikasi proses pemeliharaannya oleh
petugas Badan Usaha
• Tabung-tabung yang telah dievaluasi dan ditetapkan klasifikasinya
oleh petugas Badan Usaha dibawa oleh Bengkel Pemeliharaan
untuk diproses lebih lanjut di Bengkel Pemeliharaan.
• Tabung-tabung yang dievaluasi dan ditetapkan tidak masuk
klasifikasi (masih layak edar) harus dikirim kembali oleh Bengkel
Pemeliharaan ke SPPBE/LPG Filling Plant tempat pengambilannya,
atas biaya Bengkel Pemeliharaan.
• Tabung-tabung yang dievaluasi dan dikategorikan Afkir oleh
Petugas Badan Usaha, maka tabung-tabung tersebut harus
dipisahkan dan diganti dengan tabung Rolling Badan Usaha.
• Tempat pelaksanaan Klasifikasi Pemeliharaan TabungLPG Filling
Plant / Depot Badan Usaha

50
5.6 Persyaratan Tabung Baru

Tabung-tabung baru yang akan di operasikan /diedarkan harus dinyatakan


lulus pengujian dan mendapatkan sertifikat pengujian dari instansi pemerintah
yang berwenang.

Sertifikasi tabung baru dilakukan melalui pengujian dengan metode test


sesuai dengan ketentuan instansi pemerintah yang berwenang dan
memenuhi persyaratan mutu sebagai berikut :

5.6.1 Sifat tampak


Setiap permukaan tabung baja LPG tidak boleh ada cacat atau kurang
sempurna dalam pengerjaannya yang dapat mengurangi kekuatan dan
keamanan dalam penggunaannya, seperti : luka gores, penyok dan
perubahan bentuk.

5.6.2 Dimensi
• Lingkaran tabung
• Kelurusan

5.6.3 Ketahanan Hidrostatik


Setiap tabung harus tahan terhadap tekanan hidrostatik dengan
tekanan sebesar 31 kg/cm2 dan pada tekanan tersebut tidak boleh ada
rembasan air atau kebocoran dan tidak boleh terjadi perubahan bentuk.

5.6.4 Sifat Kedap Udara


Tabung yang telah dilengkapi dengan katup harus kedap udara/tidak
boleh bocor.

5.6.5 Ketahanan pecah (uji bursting)


Tabung ditekan secara hidrostatik sampai pecah. Tekanan saat pecah
tidak boleh lebih kecil dari 110 kg/cm2 untuk tipe 3 kg sampai 15 kg,
dan tidak boleh lebih kecil dari 80 kg/cm2 untuk tabung tipe diatas 15
kg sampai 50 kg. Tabung tidak boleh pecah dengan inisiasi pecahan
berawal dari sambungan las.

5.6.6 Ketahanan expansi volume tetap


Tabung ditekan secara hidrostatik dengan tekanan sebesar 31 kg/cm2
selama 30 detik.
Ekspansi volume tetap yang terjadi tidak boleh lebih besar dari 1/5000
volume awal. Tidak boleh terjadi kebocoran dan tampak perubahan
bentuk.

5.6.7 Sambungan las


Sambungan las harus mulus, rigi – rigi las harus rata, tidak boleh terjadi
cacat pengelasan yang dapat mengurangi kekuatan dalam pemakaian.

5.6.8 Pengecatan
Salah satu persyaratan tabung baru adalah harus dilakukan
pengecatan sesuai dengan SNI 1452-2007, butir 10.8

51
Dalam SNI 1452-2007 dinyatakan bahwa setiap tabung yang telah dinyatakan
lulus uji harus diberi penandaan, minimal mengandung informasi sebagai
berikut ;
• Identitas perusahaan/logo
• Nomor urut pembuatan
• Berat kosong tabung
• Tahun pembuatan
• Tekanan pengujian
• Volume air
• Lingkaran merah pada cincin leher

Penandaan lain yang sebaiknya tercantum pada setiap tabung adalah :


• Jenis isi gas dalam tabung
• Berat isi
• Tekanan desain
• Bulan dan tahun pemeriksaan berkala
• Nama dan alamat importer di Indonesia (untuk tabung impor)

5.7 Jenis-Jenis Pemeliharaan


Proses pemeliharaan tabung oleh Bengkel Pemeliharaan terdiri dari
• Retest tanpa Pengecatan
• Retest dengan Pengecatan
• Pengecatan
• Perbaikan dan penggantian kerangan
• Perbaikan lain dan Afkir

5.7.1 Pengujian ulang tanpa pengecatan


Tabung yang telah kedaluwarsa atau 6 bulan kedepan mendekati
masa edarnya tetapi mempunyai tampilan masih baik, pemeliharaannya
terdiri dari :
a. Pencatatan Identitas Tabung
Identitas tabung yang akan diproses
dicatat:
- Nomor Tabung
- Tahun pembuatan/tahun retest terakhir
- Jenis Perbaikan

b. Purging Gas
Sebelum dilakukan pelepasan kerangan, harus dilakukan
penurunan tekanan dengan cara mengeluarkan gas yang berada
dalam tabung.

c. Pemeriksaan Kerangan
• Setiap Kerangan yang telah berumur 5 tahun harus diganti, jika
masa edarnya kurang dari 5 tahun harus diperiksa secara visual,
apabila masih baik, dapat digunakan lagi.

52
• Apabila terjadi kebocoran pada kerangan usahakanlah
memperbaiki dengan cara membersihkan kerangan dan
menghilangkan kotoran – kotoran yang mungkin ada pada
kerangan dengan menekan spindle kerangan, sehingga kotoran
yang mungkin melekat pada dudukan kerangan hilang atau
mungkin dudukan dari kerangan kurang sempurna.
• Bilamana terjadi kebocoran diluar kerangan, maka cara
mengatasinya adalah sama seperti diatas. Selanjutnya tabung
tersebut tidak boleh dipergunakan lagi dan tabung tersebut
dinyatakan sebagai tabung afkir.

d. Pengujian Hidrostatik
Pelaksanaan Pengujian Hidrostatik melalui beberapa tahapan
sebagai berikut :
• Tekanan pengujian ditentukan dari tekanan yang tercantum
pada tabung
• Tekanan tabung dinaikkan secara bertahap sampai tekanan
pengujian tercapai. Selanjutnya tabung dipisahkan.
• Tekanan pengujian tidak boleh lebih dari 10 % atau 2 bar, mana
yang lebih kecil.
• Tekanan pengujian dipertahankan selama paling cepat 30 detik
hingga pengujian selesai.
• Jika terdapat kebocoran, harus dikoreksi dan tabung diuji ulang.
• Tabung yang tidak bocor tetapi nampak adanya penyimpangan
permanent sebaiknya dipertimbangkan untuk memperoleh hasil
pengujian yang memuaskan.
• Tabung-tabung yang tidak lulus pengujian harus ditolak. Tabung
yang ditolak diklasifikasikan sesuai kondisi masing-masing
tabung untuk diperbaiki, dilas atau diservis ulang sesuai dengan
prosedur tertulis yang disetujui pihak yang berkompeten.
Tabung LPG yang sudah ditest keluarkan dari bejana (bila
menggunakan water jacket).Keluarkan air dari tabung dan
keringkan dengan menggunakan Drainage Unit.

e. Pemeriksaan Bagian Dalam Tabung


Untuk memeriksa bagian dalam tabung digunakan lampu khusus
inspeksi yaitu lampu voltase rendah. Bagian dalam tabung diperiksa
dari kotoran dan cacat lain, dengan ketentuan pengujian adalah:
• Jika terdapat kotoran ataupun material lain didalam tabung,
harus dikeluarkan.
• Jika kotoran ataupun material lain yang terdapat dalam tabung
tidak dapat dikeluarkan dan atau terdapat korosi dalam badan
tabung maka tabung tersebut harus di Afkir.

f. Penimbangan Tabung
Penimbangan tabung harus ditetapkan lagi atau diulangi jika terjadi
penggantian kerangan pada tabung.

53
g. Stamping/pemarkaan uji ulang
Tabung yang telah melalui proses pemeriksaan/testing harus diberi
tanda :
• Tanda lingkaran pada hand guard untuk yang memenuhi syarat.
• Tanda segi empat di stamp dua tempat untuk tabung yang tidak
lulus pengujian, satu tanda pada hand guard dan lainnya pada
badan tabung di tempat yang mudah terlihat.
• Bulan dan Tahun pengetesan serta kode lokasi pengetesan.
Tanda-tanda tersebut dicantumkan dengan cara distamping
pada sisi luar kaki kiri Hand Guard.
• Contoh penulisan pada sisi luar kaki kiri Hand Guard adalah:

h. Ganti Marka Sablon Bulan/Tahun Uji Ulang Selanjutnya


Marka lama pada Hand Guard tabung ditimpa dengan cat tabung
standar (biru), kemudian disablon sesuai dengan Bulan dan tahun
uji ulang berikutnya.
Sablon dibuat dengan menggunakan tinta sablon/cat warna putih,
pada sisi luar kaki Hand Guard kanan

i. Pasang kerangan
Sebelum kerangan dipasang, bagian ulir kerangan harus dililitkan
seal tape (minimal 15 lilitan). Setelah dipasang seal tape kemudian
kerangan dipasangkan pada tabung dengan menggunakan mesin
dengan ketentuan torsi 18-20 kgf/cm atau sisa ulir kerangan adalah
3-5 ulir.

j. Leakage Test/Test Kebocoran


Setelah pemasangan Kerangan, dilakukan Leakage Test dengan
menggunakan udara bertekanan min. 4 kg/cm2. Apabila terdapat
kebocoran pada ulir neckring maka kerangan tabung tersebut
dibuka kembali untuk diperbaiki.

k. Quality Control
Setiap tahapan proses dan hasil proses retest tabung dilakukan
pengecekan visual meliputi hasil stamping, marka dan pemasangan
kerangan

54
l. Sertifikasi
Tabung yang telah selesai pada tahapan proses retest harus
disertifikasi dan mendapatkan pengesahan dari instansi pemerintah
yang berwenang, baik tabung afkir maupun tabung yang lulus uji

Titik pada kotak tersebut (sisi luar kaki kiri Hand Guard) adalah bagian
yang harus diisikan (distamping) oleh Bengkel Pemeliharaan.

5.7.2 Pengujian ulang dengan pengecatan


Tabung yang harus di Retest dan di cat ulang adalah tabung yang
sudah habis atau mendekati masa edarnya dan catnya sudah
pudar/rusak atau cat nya masih baik tetapi perlu dilakukan
penambahan Plate Balancer (memerlukan proses pengelasan) yang
sesuai dengan beratnya. Pemeliharaannya terdiri :

a. Pencatatan Identitas Tabung


Ketentuan pelaksanaan Pencatatan Identitas Tabung sesuai butir
5.7.1.a diatas.
b. Purging Gas
Ketentuan pelaksanaan Purging Gas sesuai butir 5.7.1.b tersebut
diatas
c. Buka Kerangan
Ketentuan pelaksanaan Buka Kerangan sesuai butir 5.7.1.c
tersebut diatas
d. Pemeriksaan Kerangan
Ketentuan pelaksanaan Pemeriksaan Kerangan sesuai butir
5.7.1.d tersebut diatas
e. Hydrostatik Test
Ketentuan pelaksanaan Hydrostatik Test sesuai butir 5.7.1.e
tersebut diatas.
f. Pengecatan
Sebelum dilakukan pengecatan harus didahului dengan proses
pembersihan dengan cara shot blasting di seluruh permukaan
tabung. Untuk pengecatan dapat dilihat pada SNI 1452-2007.

5.7.3 Perbaikan
a. Perbaikan tidak dapat dilakukan di bagian silinder yang dirijek.
Silinder yang menunjukkan adanya kerusakan tetapi masih dapat
diperbaiki, perbaikannya harus sesuai dengan spesifikasi SNI 1452.
Silinder yang masih dapat diperbaiki harus diberi tanda atau label
yang menunjukkan keterangan dapat diperbaiki, segera setelah
silinder terdeteksi kerusakannya pada saat visual inspeksi. Silinder
yang diperbaiki harus dites ulang sesuai persyaratan SNI 1452.
b. Silinder yang bocor pada bagian pengelasan harus diperbaiki oleh
lembaga yang memiliki kewenangan dan kompeten untuk
melakukannya setelah isinya dibuang. Setelah pengelasan, silinder
harus ditimbang ulang dan ditandai ulang berat kosongnya pada
silinder.

55
5.7.4 Perbaikan dan penggantian kerangan
a. Silinder yang bocor dan rusak atau kerangan yang bocor harus
dibuang isinya dengan memperhatiakan aspek keselamatan.
kerangan yang bocor atau rusak harus diperbaiki sesuai manual
produsen sehingga memenuhi SNI atau diganti.

b. Setiap Kerangan yang telah berumur 5 tahun harus diganti, jika


masa edarnya kurang dari 5 tahun harus diperiksa secara visual,
apabila masih baik, dapat digunakan lagi.

5.7.5. Tabung Afkir (tidak bisa dipakai)


a. Tabung dihancurkan dengan menggunakan peralatan mekanik
b. Pemotongan pada leher tabung secara tidak teratur
c. Pemotongan tabung menjadi dua atau lebih secara tidak teratur
d. Pemecahan dengan cara terkontrol dan aman

5.8 Persyaratan Bengkel Perbaikan/Repair

a. Bengkel perbaikan sudah tersertifikasi/terakreditasi untuk pengujian tabung


dan telah mendapatkan ijin untuk pengujian tabung, yaitu :
• Badan Usaha (LPG Filling Plant dan Depot)
• SPPBE
• Bengkel Swasta
b. Memiliki personil yang berkompeten dan telah mendapatkan sertifikat
pelatihan dari instansi berwenang.
c. Memiliki bangunan bengkel, gudang dan kantor
d. Memiliki sarana pengangkutan
e. Memiliki fasilitas dan peralatan yang lengkap dalam proses perbaikan
tabung
f. Memenuhi persyaratan LK3 yang meliputi :
• APAR
• Alarm tanda bahaya
• Sarana penampungan limbah
g. Metode /prosedur pengujian mengacu pada standar berdasarkan peraturan
instansi pemerintah yang berwenang.

5.9 Pedoman Keselamatan Kerja Dalam Keadaan Darurat Instalasi Pengisian


LPG

Pedoman teknis instalasi LPG ini disusun dalam rangka menjamin


keselamatan migas yang meliputi keselamatan umum, keselamatan kerja
personil, keselamatan lingkungan dan keselamatan instalasi pengisian LPG,
sesuai dengan aturan dan standar yang telah ditetapkan.
Pedoman keselamatan kerja dalam keadaan darurat harus dapat menunjukkan
suatu garis perintah/komando, laporan dan pemberitahuan secara jelas,
sehingga semua personil yang terlibat dapat memahami tugas, wewenang dan
tanggung jawabnya secara jelas, tegas dan disiplin sehingga dapat
mengendalikan dan mengatasi keadaan darurat dengan baik.

56
5.9.1 Pedoman Umum Keselamatan Kerja
a. Seluruh daerah Instalasi Pengisian dan pemeliharaan LPG
merupakan daerah terlarang untuk merokok dan menyalakan api.
Merokok di larang keras kapan saja kecuali dalam lokasi-lokasi
yang khusus diijinkan oleh Manajemen.
b. Dilarang membawa mancis, korek api atau benda apa saja yang
dapat menimbulkan bunga api atau api ke dalam ”daerah instalasi”.
c. Dilarang menyalakan api dan sumber-sumber api lainnya seperti
pekerjaan las tanpa surat ijin kerja panas, kecuali pada lokasi-lokasi
yang khusus diperbolehkan oleh Manajemen.
d. Dilarang berjalan di atas pipa saluran
e. Sebelum melakukan pekerjaan, yakinkan bahwa surat ijin atau surat
keterangan yang diperlukan telah diperoleh.
f. Mencatat keadaan-keadaan yang berpotensi bahaya atau keadaan
yang sudah dikatagorikan bahaya dengan cara melaporkan kepada
kepala instalasi.
g. Janganlah mencoba menjalankan atau menggerakkan mesin-mesin
atau alat-alat yang tidak diperlukan.
h. Petugas harus berusaha membersihkan tempat pekerjaan segera
setelah pekerjaan selesai.
i. Menjaga semua perkakas`dan peralatan bersih dan ditempatkan
pada yang seharusnya.
j. Dilarang mengganti atau menukar alat atau perkakas secara tidak
baik.
k. Petugas tidak boleh meninggalkan pekerjaan sampai petugas yang
menggantikan telah diberitahu mengenai keadaan pekerjaan.

5.9.2 Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat


Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat meliputi :
Prosedur tanggap darurat untuk kondisi tidak normal, kejadian
tumpahan/kebocoran LPG, kejadian kebakaran, kecelakaan kerja dan
kegagalan sistem kerja alat.
Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat minimal terdiri
dari :
• Daftar nama personil, layanan darurat dan no. Telepon/no. Yang
mudah dihubungi.
• Jalur komando keadaan darurat
• Uraian tugas dan tanggung jawab
• Kerjasama dengan pihak lain yang terkait
• Safety briefing dan pelaporan
• Pengendalian rekaman
• Area penyimpanan dan penimbunan tabung harus diberi tanda
plakat dan peringatan untuk tidak merokok.
• Site Plant

57
5.9.3 Prosedur Tanggap Darurat
a. Suatu sistim alarm harus dapat didengar di seluruh daerah instalasi
pengisian LPG untuk memperingatkan personil akan keadaan
darurat yang mungkin akan terjadi.
b. Apabila sistim alarm umum gagal, petunjuk lisan keadaan darurat
akan diberikan dengan menggunakan radio dan sistim siaga
keadaan darurat.
c. Cara yang benar untuk melaporkan keadaan darurat harus
berbicara dengan jelas dan terang serta memberikan informasi yang
tepat.
d. Semua panggilan keadaan darurat harus diketahui dengan
ucapan ”INI KEADAAN DARURAT”.
e. Memberitahukan lokasi keadaan darurat secara benar dan tepat.
f. Menjelaskan keadaan darurat secara ringkas , seperti kebakaran,
tabung meledak dll.
g. Memperkenalkan diri nama, nomor personil/petugas dan
bagian/tempat bertugas.
h. Jika terjadi suatu keadaan darurat, petugas yang bertanggung
jawab harus langsung merespon untuk mengendalikan keadaan
darurat di daerah instalasi.
i. Setiap petugas bertanggung jawab untuk mengamati keadaan-
keadaan di daerah kegiatannya dan menanggulangi atau
melaporkan segera setiap kejadian yang tidak biasa di daerah itu.
j. Petugas yang menemukan adanya api, gas atau cairan hidrokarbon
yang bocor harus segera melaporkan pada kepala instalasi tentang
masalah dan situasinya.
k. Sesudah melapor dan atas petunjuk Kepala instalasi, personil di
daerah tersebut akan mengambil tindakan langsung untuk
mengatasi masalah atau menjaga agar tidak meluas sampai
bantuan tiba, seperti mematikan pompa, menutup kerangan,
mengaktifkan sistim sprinkler, menggunakan pemadam api dsb.
l. Kepala instalasi harus mendengarkan laporan, mengajukan
pertanyaan dan menginstruksikan tindakan apa yang perlu
dilakukan untuk mengatasi keadaan darurat.
m. Kepala instalasi langsung menuju ke tempat kejadian, mengamati
keadaan dan meyakinkan bahwa prosedur keadaan darurat
dilaksanakan dengan baik.

5.9.4 Prosedur Penanggulangan Kebocoran/Penyebaran LPG


Apabila LPG tertumpah di tanah, gas yang terlepas akibat penguapan
cairan LPG akan menimbulkan campuran udara dan gas hidrokarbon
yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Karena LPG sifatnya dingin,
gas ini akan mengkondensasi air dari udara dan disebut kabut gas.
Tindakan yang segera dan tepat dalam menanggulangi kejadian
tersebut harus ditangani sesuai dengan pedoman prosedur sebagai
berikut :
a. Setiap pekerja yang mengetahui adanya kebocoran atau
penyebaran LPG yang ditandai dengan terciumnya bau tertentu,
agar segera berusaha mencari tahu sumbernya.

58
b. Apabila sumber kebocoran/penyebaran gas telah ditemukan,
segera memberitahukan dan melapor kepada kepala satuan
penyelamatan produk LPG.
c. Kepala satuan penyelamatan produk LPG dan bagian yang terkait
harus memeriksa situasi pada lokasi kejadian kemudian meneliti
dan menyelidiki sumber kebocoran dan berupaya mengatasi dan
memperbaikinya.
d. Melakukan tindakan segera untuk mengatasi masalah atau agar
masalah tidak meluas sampai bantuan tiba, seperti menutup
kerangan atau mengisolasi pipa atau tabung yang bocor,
mengaktifkan sistim alat pemadam kebakaran dsb.
e. Apabila tindakan di atas tidak berhasil, hentikan semua aktifitas
yang berkaitan dengan penerimaan dan penyerahan produk LPG
f. Menghentikan semua aktifitas pengisian produk LPG dan menutup
semua kerangan yang diperkirakan akan memutuskan atau paling
tidak akan mengurangi besarnya penyebaran gas LPG dan
mengeluarkan kendaraan angkutan tabung LPG.
g. Melarang/menghimbau kepada para pekerja, masyarakat/penduduk
yang ada di sekitar lokasi instalasi dalam radius 50 m, untuk tetap
tenang dan tidak melakukan kegiatan yang menggunakan atau
dapat menimbulkan nyala api terbuka.
h. Semua kegiatan perbaikan yang tidak ada hubungannya dengan
kejadian dalam jarak 300 m dari kabut gas harus dihentikan dan
semua sumber api (mesin las, motor bakar dll) harus dimatikan.
i. Orang-orang yang tidak berkepentingan dalam menangani kejadian
tersebut harus mengungsi dari daerah kejadian dan tidak boleh
berada di daerah 300 m dari kabut gas.
j. Petugas emergensi bertanggung jawab untuk mengukur konsentrasi
gas di sekeliling tumpahan untuk menjamin bahwa daerah dalam
jarak 300 m adalah aman.
k. Zona yang berbahaya mungkin akan meluas apabila konsentrasi
gas dalam jarak 300 m lebih tinggi dari pada 60 % dari Titik Nyala
Terendah (TNT) gas.
l. Menyiapkan regu penanggulangan keadaan darurat serta pompa
pemadam dan perlengkapannya agar setiap saat siap segera
melakukan tindakan atas berbagai kemungkinan yang akan terjadi,
serta mengaktifkan water sprinkler system.
m. Karena berat jenis uap LPG lebih berat dari udara, maka uap LPG
akan merambat di atas tanah sebelum menyebar di atmosfir.
Petugas emergensi akan menentukan zona yang aman sesudah
pengukuran konsentrasi gas dilakukan.
n. Air tidak boleh diarahkan langsung ke tumpahan LPG karena ini
akan membentuk gumpalan uap gas yang lebih besar.
o. Hanya High Expansion Foam (HEF) dengan ratio pengembangan
busa 500 : 1 yang boleh digunakan dalam pengendalian penguapan
tumpahan LPG agar penyebaran uap gas di atmosfir dapat
terkendali.
p. Alat pernapasan harus dipakai oleh personil yang bertugas`dalam
mengatasi keadaan darurat tersebut.
q. Terkena cairan LPG dapat menyebabkan luka bakar dingin .
Apabila ini terjadi, hangatkan bagian yang terkena dengan air

59
hangat yang bersih sampai warnanya menjadi merah dan segera ke
dokter untuk memperoleh pengobatan.

5.9.5 Prosedur Penanggulangan Kebakaran LPG


Pekerjaan panas dilakukan di daerah yang dikatagorikan
sebagai ”daerah panas” memerlukan seorang pengamat kebakaran
yang siap siaga terhadap bahaya kebakaran.

5.9.5.1 Ketentuan Umum


a. Alat pemadam kebakaran yang sesuai harus tersedia di
tempat dan dapat digunakan kapan saja.
b. Tersedia peralatan perlindungan kebakaran yang cukup,
seperti : alat pemadam kebakaran ringan, tirai air (water
curtain), fire monitor, alat bantu pernapasan dsb.
c. Personil pengamat kebakaran harus petugas yang sudah
mendapatkan pelatihan kebakaran atau sudah
berpengalaman sebagai regu bantuan keadaan darurat.
d. Pengamat kebakaran yang siap siaga tidak boleh
melakukan pekerjaan lain bila sedang bertugas sebagai
pengamat kebakaran.
e. Komunikasi harus dibuat antara kawasan kerja dan
pengontrolan supaya mudah mengirimkan bantuan bila
keadaan darurat terjadi.

5.9.5.2 Kebakaran Kecil


a. Setiap pekerja yang mengetahui terjadinya kebakaran
kecil, segera bertindak sendiri dan berusaha sedapat
mungkin untuk memadamkan kebakaran dengan alat
pemadam api yang sesuai dan yang berada di dekat lokasi
kejadian.
b. Apabila tumpahan LPG berkembang menjadi kebakaran,
maka prosedur yang harus dilakukan adalah :
• Kebakaran LPG tidak boleh dimatikan sebelum sumber
bahan bakar atau kebocoran ditutup.
• Kerangan harus segera ditutup karena panas radiasi
secara tidak langsung akan membahayakan personil
merusak alat-alat di daerah yang terbakar tersebut.
Apabila keadaan seperti ini terjadi, alat pemadam api
tepung kering (dry powder) harus dipakai.
• Usahakan mengurangi radiasi panas kebakaran LPG
dan mengendalikan api yang dapat membahayakan
peralatan atau semakin besarnya api dengan
menggunakan HEF (High Expansion Foam) ke
genangan LPG yang terbakar atau dengan melindungi
peralatan di sekeliling kejadian dengan semprotan air.
c. Segera melapor kepada kepala penanggulangan
kebakaran yang sedang bertugas dengan menyebutkan
identitas pelapor, lokasi kejadian, jenis yang terbakar dan
tindakan yang telah dilakukan.

60
d. Kepala penanggulangan kebakaran dan anggotanya
membawa perlengkapan yang diperlukan segera menuju
ke lokasi kebakaran untuk mengevaluasi kejadian dan
sekaligus melaksanakan penanggulangan kebakaran yang
belum padam.

5.9.5.3 Kebakaran Besar


a. Apabila kebakaran yang terjadi tidak berhasil diatasi,
sehingga kebakaran menjalar lebih luas dan besar, maka
langkah penanggulangan lanjutan adalah :
b. Menghubungi para komandan satuan tugas dalam
organisasi keadaan darurat untuk segera melakukan
tindakan sesuai tugas dan tanggung jawabnya masing-
masing.
c. Membunyikan tanda bahaya alarm
d. Melakukan evakuasi personil yang masih berada di dalam
dan di sekitar area kebakaran.
e. Bekerjasama dan berkoordinasi dengan pihak lain di luar
perusahaan dalam pelaksanaan pemadaman kebakaran.

5.9.6 Tanda-tanda Keadaan Darurat


Tanda-tanda keadaan darurat meliputi beberapa kondisi, diantaranya :

5.9.6.1 Peringatan Tanda Bahaya


a. Klakson berbunyi selama 2 menit terus menerus
b. Petugas mengamankan daerah yang menjadi tanggung
jawabnya sesuai dengan perintah atasan.
c. Petugas keamanan wajib mengamankan daerah kejadian
dan mengamankan instalasi pengisian LPG secara
keseluruhan.
d. Petugas penanggulangan keadaan darurat menuju dan
melapor ke bagian kebakaran
e. Personil lain menghentikan semua kegiatan dan menuju
assembly poin terdekat.

5.9.6.2 Tanda Evakuasi


a. Klakson akan berbunyi 5 detik ”ON” dan 5 detik ”OFF”
secara terus menerus
b. Personil yang berada di assembly point akan diungsikan
oleh petugas.
c. Personil yang berada di dalam gedung atau kantor, segera
meninggalkan kantor atau gedung menuju muster area
dan selanjutnya akan diungsikan oleh petugas.

5.9.6.3 Tanda Keadaan Aman


a. Klakson akan berbunyi 10 detik ”ON” dan 2 detik ”OFF”
secara terus menerus selama 2 menit.
b. Semua personil kembali ke tempat kerja dan bekerja
seperti biasa, kecuali kalau ada instruksi lain dari Petugas.

61
5.10 Kejadian alam yang tidak normal

Kejadian alam yang tidak normal meliputi gempa bumi, banjir, badai topan,
gelombang pasang dll.

Langkah yang harus dilakukan setiap personil dan atau petugas Badan Usaha
jika terjadi kondisi alam seperti dimaksudkan di atas adalah berusaha secepat
mungkin untuk melakukan langkah-langkah pengamanan baik untuk diri sendiri,
orang lain dan asset perusahaan atau badan usaha.

62
6. PEDOMAN TEKNIS TRANSPORTASI LPG

6.1. Ruang Lingkup


Pedoman teknis transportasi LPG menetapkan persyaratan kendaraan
pengangkut LPG, persyaratan pengemudi, jalur lintas kendaraan dan prosedur
pengoperasian angkutan LPG serta keadaan darurat di jalan.

6.2. Persyaratan Kendaraan Pengangkut LPG


Setiap kendaraan pengangkut LPG harus memenuhi persyaratan umum dan
persyaratan khusus sesuai dengan jenis dan karakteristik bahan yang diangkut.

6.2.1 Persyaratan Umum


Persyaratan umum kendaraan pengangkut LPG yang harus dipenuhi
adalah :
a. Persyaratan teknis dan laik jalan
Pemenuhan persyaratan teknis dan laik jalan dibuktikan dengan
surat tanda lulus uji kendaraan
b. Surat Ijin Pengangkutan
c. Plakat yang dilekatkan pada sisi kiri, kanan ,depan dan belakang
kendaraan dengan ukuran, bentuk dan contoh penempatan dapat
dilihat pada Gambar 3.
d. Nama perusahaan yang dicantumkan pada sisi kiri, kanan dan
belakang kendaraan dengan ukuran sebagaimana dalam Gambar 4.
e. Jati diri pengemudi yang ditempatkan pada dashboard
f. Kotak obat lengkap dengan isinya
g. Alat pemantau unjuk kerja pengemudi , yang sekurang-kurangnya
dapat merekam kecepatan kendaraan dan perilaku pengemudi
dalam mengoperasikan kendaraannya.
h. Alat pemadam kebakaran
i. Nomor telepon pusat pengendali operasi yang dapat dihubungi jika
terjadi keadaan darurat, yang dicantumkan pada sebelah kiri dan
kanan kendaraan pengangkut.
j. Perlengkapan keadaan darurat

6.2.2 Persyaratan Khusus


Persyaratan khusus untuk kendaraan pengangkut LPG harus dapat
memenuhi aspek perancangan kendaraan dan aspek konstruksi
sebagai berikut :
a. Harus memenuhi aspek perancangan kendaraan yang memenuhi
persyaratan teknologi, keselamatan, kelaikan jalan dan kelestarian
lingkungan.
b. Rancangan kendaraan harus mendapat sertifikat uji dari instansi
yang berwenang.
c. Kendaraan harus memenuhi aspek konstruksi, yaitu Kendaraan
harus kuat dan terbuat dari bahan yang tahan api
d. Konstruksi kendaraan harus memberikan pertimbangan teknologi
pada berat kendaraan dan muatan, daya penggerak, kerangka

63
landasan, ban, karakteristik jalan dsb.
e. Sistim suspensi dan ban yang digunakan harus dapat menjamin
kestabilan kendaraan, terutama pada saat membelok.
f. Jarak tanah untuk komponen tangki dan peralatan pengaman atau
pelindung tidak boleh kurang dari 250 mm pada jarak 1 meter dari
setiap sumbu atau 350 mm pada lokasi lain, pada saat kendaraan
belum dimuati.
g. Sambungan bongkar muat harus dipasangkan pada tangki secara
kaku dan berjarak tidak lebih dari 40 mm di bawah bidang datar
melalui garis sumbu gardan.
h. Tangki yang tidak dipasang secara permanen harus tetap pada
kendaraan pengangkut dan harus menggunakan pengikat yang
memenuhi persyaratan.
i. Kendaraan harus dilengkapi dengan Alat komunikasi, lampu tanda
bahaya, segitiga pengaman, dongkrak dan lampu senter.
j. Jarak antara bagian belakang ruang kemudi dengan bagian
tangkiyang terdekat dengan ruang kemudi tidak boleh kurang dari
75 mm.
k. Bumper untuk melindungi dari kemungkinan benturan langsung dari
belakang harus memenuhi persyaratan.
l. Sistem rem harus memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.
m. Ban yang digunakan memperhatikan beban maksimum yang bisa
diterima setiap ban.
n. Sistim suspensi harus dapat membagi beban pada setiap roda
secara merata.

6.3. Kualifikasi Personil


Pengemudi kendaraan pengangkut LPG harus memenuhi persyaratan umum
dan persyaratan khusus.

6.3.1 Persyaratan umum


Persyaratan umum pengemudi diantaranya :
a. Memiliki Surat izin Mengemudi sesuai dengan golongan dan
kendaran yang dikemudikannya.
b. Mendapatkan pelatihan mengenai tata cara pengangkutan dan
memiliki sertifikat yang diberikan oleh instansi yang berwenang
c. Memiliki pengetahuan mengenai :
• Jaringan jalan dan kelas jalan
• Kelaikan kendaraan bermotor
• Tata cara pengangkutan bahan

6.3.2 Persyaratan khusus


Persyaratan khusus pengemudi meliputi :
a. Memiliki pengetahuan mengenai bahan berbahaya yang
diangkutnya, seperti klasifikasi, sifat dan karakteristik LPG
b. Memiliki pengetahuan mengenai bagaimana mengatasi keadaan
jika terjadi suatu kondisi darurat, seperti cara penanggulangan
kecelakaan
c. Memiliki pengetahuan dan keterampilan mengenai tata cara

64
pengangkutan LPG
d. Memiliki pengetahuan mengenai ketentuan pengangkutan LPG,
seperti penggunaan plakat, label dan simbol
e. Memiliki kemampuan psikologi yang lebih tinggi, seperti tidak
mudah panik, sabar, bertanggung jawab dan tidak mudah jenuh
menghadapi pekerjaan dan situasi yang monoton.
f. Memiliki fisik yang sehat

6.4. Fasilitas transportasi LPG


Yang dimaksudkan dengan fasilitas transportasi LPG adalah segala
perlengkapan sarana transportasi dan persyaratannya yang berfungsi
melancarkan proses kegiatan pengangkutan LPG sampai ke konsumen atau
end user dengan aman dan selamat.

Fasilitas transportasi dalam pedoman ini meliputi pengangkutan LPG dalam


bentuk curah dengan menggunakan kemasan besar, seperti truk tangki atau
tangki portabel dan pengangkutan LPG dalam bentuk non curah yang
dilakukan dengan kemasan tabung yang diangkut dengan menggunakan
kendaraan pengangkut biasa sepanjang keamanannya dapat dijamin selama
dalam perjalanan.

Masing-masing jenis kendaraan pengangkut LPG memiliki persyaratan yang


berbeda dan dijelaskan di bawah ini.

6.4.1. RTW (Rail Tank Wagon)


Persyaratan Rail Tank Wagon yang harus dipenuhi diantaranya adalah :
a. RTW yang dipergunakan sebagai alat angkut LPG harus dirancang
khusus untuk mengangkut LPG.
b. Material yang digunakan harus dari besi Alloy atau yang disahkan
oleh pejabat yang berwenang
c. RTW harus secara jelas diberi tanda di kedua sisi, di depan dan di
belakang dengan latar belakang yang kontras dengan kata “Bahan
Bakar Gas mudah terbakar” dengan huruf yang berukuran
minimum 400 mm x 400 mm dengan warna hitam dan latar
belakang putih
d. RTW harus dilengakapi dengan papan portable dengan tulisan
“Dilarang Merokok atau memasang lampu Tanpa Isolasi” dengan
ukuran tulisan besar yang dapat terbaca dalam jarak 8 meter.
e. RTW harus dibersihkan dalam wkurun waktu 3 tahun sekali dan 5
tahun sekali untuk inspeksi
f. RTW harus ditempatkan minimal 8 meter dari sumber api
g. Untuk perbaikan, hanya dapat dilakukan apabila RTW dinyatakan
bebas dari cairan / gas yang mudah terbakar, dan harus diperbaiki
di luar ruangan dan tidak ada sumber api dalam jarak 8 meter atau
jaringannya tidak dinyatakan sebagai sumber apabila diputuskan
aliran listriknya.

65
h. Harus ada alat pemadam kebakaran BCF atau pemadam dengan
serbuk kering.

6.4.2. Skid Tank


Skid Tank adalah jenis tangki yang memiliki kapasitas di atas 1000 lb
kapasitas air yang digunakan untuk mengangkut LPG curah dan dapat
dipasang atau dilepas lagi di atas kendaraan pengangkut truk atau
trailer.
Kendaraan skid tank ada beberap jenis, diantaranya skid tank rigid, skid
tank semi trailer dan skid tank trailer.

• Skid tank rigid adalah mobil yang dilengkapi dengan tangki tetap
yang melekat pada chasis kendaraan tersebut.
• Skid Tank semi trailer adalah mobil tanki dilengkapi dengan tarikan
tanki dan merupakan satu rangkaian yang dapat dilepas /
dipisahkan
• Skid tank trailler , adalah skid tank yang dilengkapi dengan
rangkaian tangki yang melekat pada rangka dan roda tersendiri, dan
dapat dipisahkan / dilepaskan.

6.4.2.1. Persyaratan mobil Skid Tank untuk LPG :


Persyarataan mobil skid tank yang harus dipenuhi adalah :
a. Harus mempunyai bumper belakang untuk melindungi
tangki pipa-pipa dan alat bantu lainnya
b. Bumper harus terletak minimum 400 nm dari belakang
tangki dan paling sedikit 150 nm di belakang setiap
peralatan yang dipergunakan untuk memuat atau
mengosongkan tangki.
c. Bumper harus dirancang untuk dapat menahan tekanan
sebesar 2 x massa tank wagon muatan penuh
d. Baterei / accu harus dilindungi oleh lempengan penahan
api, voltage nominal tidak melebihi 24 volt.
e. Jaringan kabel listrik harus terisolir dari rangka dan harus
diamankan serta dilindungi dari kerusakan-kerusakan
mekanik, gesekan dan harus ditempatkan sedemikian rupa
sehingga jauh dari kemungkinan kerusakan isolasi karena
panas.
f. Tangki dan jaringan pipa harus dicat dengan warna putih
mengkilap
g. Semua jaringan pipa tangki diberi tanda sesuai dengan
fungsi masing-masing.

66
6.4.2.2. Persyaratan Skid Tank Rigid LPG;
Skid tank rigid LPG memiliki persyaratan minimal sebagai
berikut :
a. Safety kerangan dapat terbuka pada tekanan 27 kg/cm2
b. Harus ada pressure gauge.
c. Harus ada roto gauge
d. Tangki terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar
dengan konstruksi yang sesuai serta memenuhi
persyaratan dari instansi yang berwenang.
e. Tangki harus melekat pada rangka dan tidak goyah
dengan diikat dengan mur baut. Antara skid dengan
rangka diberi perantara kayu keras.
f. Berat tanki dengan muatan tidak boleh melebihi batas
kemampuan rangka kendaraan tersebut serta disesuaikan
dengan kelas jalan yang dilewati.
g. Lebar tangki tidak boleh melebihi lebar kendaraan / kabin
serta panjang tangki tidak boleh melebihi panjang sisa
chassis.
h. Jarak antara cabin belakang dengan dinding tangki
minimum 50 cm

6.4.2.3. Skid Tank semi Trailler


Kendaraan jenis skid tank semi trailer memiliki persyaratan
sebagai berikut :
a. Mobil tunda (penarik) harus dilengkapi dengan ban ganda
pada bagian belakang
b. Hubungan mobil tunda dengan tangki trailer harus sesuai
dan dilengkapi pin pengaman /pengikat / per penekan
yang mempunyai kekuatan patah dari penghubung atau
pin pengaman minimal 2 x berat trailer sendiri. Bagian
depan dari tangki trailer dilengkapi dengan minimal sebuah
tiang penyangga yang dapat diatur ketinggiannya guna
menunjang berat tangki & muatan bila rangkaian dilepas.
c. Antara cabin dan tangki, mesin harus tertutup plat logam
(plat besi)
d. Sistem rem untuk ban belakang dari trailer harus berfungsi
serta dipasang nomor polisi dan lampu sesuai ketentuan
lalu lintas / DLLAJR.

6.4.2.4. Skid Tank Trailler


Persyaratan kendaraan jenis skid tank trailer yang harus
dipenuhi adalah :
a. Panjang tangki tidak boleh melebihi panjang rangka sendiri
baik ke belakang atau ke depan. Ban muka dan belakang

67
kiri kanan harus terpasang ganda. Kapasitas muatan
tangki trailer tidak boleh sama atau melebihi muatan yang
ditetapkan tangki dari mobil tangki sendiri.
b. Rangkaian mobil tangki dan trailer dilengkapi dengan pin
dan 2 buah rantai keselamatan (terbungkus karet) yang
kuat daya tariknya dan dihubungkan dengan kaitan, serta
tidak menggeser di jalanan pada saat kendaraan berjalan.

6.4.2.5. Persyaratan Muatan


Muatan yang akan diangkut oleh mobil tangki harus memenuhi
persyaratan di bawah ini :
a. Setiap mobil tangki hanya dibenarkan diisi dengan satu
jenis produk. Jika terdapat/dilengkapi sekat harus
berlobang sehingga antar compartment saling
berhubungan.
b. Batas isi aman.
• Batas isi aman setiap skid tank harus sesuai dengan
kapasitas. Untuk menghindari adanya perubahan
volume akibat kenaikan suhu, maka konstruksinya
dimungkinkan mempunyai ruang kosong. Batas isi
aman sesuai kapasitas, max 90,0% dari kapasitas
penuh isi tangki yang bersangkutan.
Kapasitas tangki mobil ditandai dengan level indicator
gauge / roto gauge

6.4.3. Kelengkapan Skid Tank


Skid tank harus dilengkapi dengan peralatan sebagai berikut :
a. Mobil tangki harus dilengkapi dengan STNK, Surat kir dan
formalitas lain yang berlaku
b. Lampu-lampu signal dan perlengkapan yang lain yang diperlukan
c. Lampu rotary warna merah yang dipasang pada samping kanan
atas.
d. Bendera merah ukuran 20 x 30 cm dipasang pada samping kanan
atas.
e. Cabin di cat dengan warna merah dan dilengkapi simbol / lambang
perusahaan ukuran 15 x 15 cm serta nama perusahaan dengan
tinggi huruf 5 cm dengan cat warna kuning pada kedua sisi pintu
mobil (lihat gambar Skid Tank)
f. Tanda peringatan dilarang menumpang dengan tinggi huruf 7 cm
dan cat warna putih dipasang di bawah nama perusahaan (PT)
pada kedua sisi pintu mobil
g. Tanda peringatan “ Max kecepatan ”
i. Dalam Kota 40 km/jam.
ii. Luar Kota 60 km/jam.
h. Spot board dicat warna hitam

68
i. Bumper depan dan belakang dicat dengan warna hitam dengan
garis/strip kuning 45o (dapat berupa spot light)/
j. Kode identifikasi kir / izin masuk instalasi / Depot dari KK/LL
setempat dipasang pada plat belakang spot board.
k. Tangki dicat dengan warna putih yang dilengkapi dengan
gambar/lambang BADAN USAHA ukuran 600 x 600 mm dan
dibelakangnya tulisan LPG berwarna merah dengan ukuran tinggi
huruf 350 mm serta tulisan BADAN USAHA berwarna biru dengan
tinggi huruf 200 mm, dilekatkan pada dinding samping tangki.
l. Kode warna pita lingkaran diletakkan pada bagian belakang tangki
dengan rincian :
1) Untuk tangki berisi butana.
• Cat warna dasar biru tua (200 mm).
• Ban tengah merah ( 100mm)
• Huruf pada ban tengah B (cat hitam) dengan tinggi 50 mm
pada kedua sisinya.
2) Untuk tangki berisi propana
• Cat warna dasar putih ( 200 mm) dengan garis hitam selebar
0,5 cm sebagai pembatas
• Ban tengah merah (100 mm)
• Huruf pada ban tengah P ( cat hitam ) dengan dengan tinggi
huruf 50 mm pada kedua sisinya.
3) Untuk tangki berisi propana – butana (mix). Ditandai sama
dengan butane
m. Tanda peringatan Dilarang Merokok dipasang pada bagian samping
bawah, muka dan belakang dengan tinggi huruf 7 cm.
n. Simbol transportasi bahan bakar gas mudah terbakar dipasang
pada bagian samping kanan dan kiri belakang. ( gambar terlampir
pada lampiran )
o. Isi dalam kg di atas kiri, kanan, dan belakang mobil tangki.

6.4.4. Truk
Truk pengangkut LPG memiliki persyaratan sebagai berikut :
a. Mesin penggerak harus dapat distarter bukan diengkol dan ditutup
plat logam besi :
b. Cut out ditutup.
c. Saringan udara pada karburator harus terpasang
d. Busi tertutup / terisolasi
e. Dinamo starter terlindung
f. Right hand drive ( kemudi di kanan).
g. Knalpot.
h. Kabel listrik
i. Semua aliran listrik tertutup /terisolasi
j. Sekering asli dan tidak boleh diganti dengan kawat
k. Rem harus bekerja dengan baik tidak mengocok, tidak makan
sebelah. Rem tangan juga harus bekerja dengan baik. Ban harus
baik, tidak gundul. Gerakan kemudi maksimum 60 o

69
l. Accu dipasang dalam kap mesin yang tertutup atau disamping
chassis dengan kotak khusus dengan dilengkapi tutup. Tidak boleh
dipasang dibawah tangki.
m. Racun api CO2 atau BCF ukuran 2 atau 3 lbs ditempatkan di
tempat yang mudah terlihat/diambil dalam cabin. Racun api jenis
bubuk kering yang ukuran siap pakai 20 lbs dipasang di belakang
cabin luar, diikat, dan keadaan darurat mudah diambil. Pemeriksaan
racun api dilakukan setiap 3 bulan sekali.
n. Kotak P3K ditempatkan dalam cabin yang dilengkapi dengan obat
P3K & zalf bakar.
o. Tempat alat/kunci disimpan dalam cabin. Bila disimpan di luar,
harus dibuatkan tempat khusus yang rapat serta tak mudah
terbakar / benturan.
p. Skid Tank harus dilengkapi dengan grounding dari kawat
khusus/tembaga dan dilengkapi dengan crocodile clamp.
q. Bak truck terbuat dari kayu.

6.4.5. Tanki
Konstruksi tangki sedemikian rupa sehingga mampu menahan tekanan
statis dari LPG, tekanan pengisian, guncangan dalam perjalanan dan
lain-lain, ditambah safety factor 35 Kpa atau = 3,5 kg/cm2. Bentuk
tangki oval panjang agar mampu mengurangi goncangan, mantap dan
ketahanan yang baik. Perlu dipasangkan penyangga tangki yang kuat
dibuat dari balok besi “U” untuk memperkuat kedudukan tangki. Bahan
tangki aluminium alloy atau dari besi plat seperti low carbon steel / low
alloy steel. Tangga dipasang di bagian depan, samping atau belakang
tangki.

6.5. Jalur Lintas Pengangkutan LPG


Pengangkutan LPG di jalan harus memenuhi ketentuan aspek keselamatan
dan keamanan yang dapat dijelaskan di bawah ini.

6.5.1 Jalur lintas pengangkutan LPG harus memperhatikan :


a. Kelas jalan yang dilalui
b. Tingkat bahaya muatan dan jenis bahan yang diangkut
c. Frekwensi pengangkutan dan jenis kemasan
d. Muatan kendaraan pengangkut LPG tidak boleh melebihi berat
kotor dari berat kendaraan pengangkut LPG.
e. Tidak melalui daerah padat penduduk, terowongan dan jalan yang
sempit.
f. Tidak melalui tanjakan dan belokan yang membahayakan atau tidak
memungkinkan dilalui kendaraan pengangkut LPG.
g. Tidak melalui daerah rawan sepanjang lintasan, seperti daerah
kemacetan lalulintas, tempat penyimpanan bahan berbahaya, depot
bahan bakar dan jalur listrik tegangan tinggi.

70
6.5.2 Daerah padat penduduk
Dalam kondisi tertentu pengangkutan LPG dapat melalui daerah padat
penduduk dengan syarat harus disertai pengawalan oleh petugas yang
bertanggung jawab di bidang lalu lintas dan angkutan.

6.5.3 Laporan rencana lintas angkutan


Setiap pengangkutan LPG curah, sebaiknya melaporkan rencana lintas
angkutan mulai dari asal tempat pemuatan, lintas yang dilalui, tempat-
tempat pemberhentian dan tujuan (tempat pembongkaran) kepada
pihak yang terkait.

6.6. Prosedur Pengangkutan Tabung LPG


a. Tabung LPG tidak boleh memiliki indikasi kebocoran sebelum dimuat ke
atas kendaraan pengangkut LPG.
b. Tabung harus diangkut dalam posisi berdiri, dengan alat pengaman
tekanan secara langsung berhubungan dengan ruang uap dari tabung.
c. Tabung-tabung harus diikat dengan posisi aman untuk meminimalkan
kemungkinan bergeser, roboh atau mengalami kerusakan fisik
d. Tabung-tabung sebaiknya disusun secara aman. Penumpukan tabung
harus dilakukan tidak lebih dari ¼ tinggi dari top layer tabung , tidak lebih
tinggi dari sisi truk.
e. Tabung LPG kecil dapat diangkut dalam kendaraan penumpang hingga
batas 40 kg.
f. Kendaraan pengangkut tabung LPG sebaiknya kendaraan jenis bak
terbuka.
g. Tidak diperbolehkan ada orang lain yang ikut dalam pengangkutan LPG,
selain personil yang ditunjuk.
h. Kendaraan pengangkut LPG lebih dari 225 kg harus dilengkapi tanda
peringatan yang mudah dibaca dan jelas dilihat, diantaranya : Awas
Bahaya ! ; Gas Mudah Terbakar dan Dilarang Merokok.
i. Setiap kendaraan pengangkut LPG harus dilengkapi minimal alat pemadam
api (portable fire extinguisher) yang memiliki kapasitas minimum 9 kg
bahan kimia kering.

6.7. Prosedur Pengendalian Keadaan Darurat diperjalanan


Kendaraan pengangkut LPG selain harus memenuhi persyaratan teknis dan
laik jalan, juga harus dilengkapi dengan perlengkapan keadaan darurat
sebagai berikut :
• Alat komunikasi antara pengemudi dengan pusat ppengendali operasi dan
atau sebaliknya.
• Lampu tanda bahaya berwarna kuning yang ditempatkan di atas atap ruang
kemudi
• Rambu portable
• Kerucut pengaman
• Segitiga pengaman
• Dongkrak, pita pembatas, serbuk gergaji
• Lampu senter
• Warna kendaraan khusus

71
• Pedoman pengoperasian kendaraan untuk keadaan normal dan darurat
• Ganjal roda yang cukup kuat.

6.7.1. Prosedur Penanggulangan Kebocoran/Penyebaran LPG


Apabila LPG tertumpah diperjalanan, maka pengemudi harus
melakukan tanggap darurat sebagai berikut :
a. Menghentikan kendaraan di tempat yang aman, lalu memeriksa
situasi pada lokasi kejadian dan menyelidiki sumber kebocoran
serta berupaya mengatasi dan memperbaikinya.
b. Melakukan tindakan segera untuk mengatasi masalah atau
mengupayakan agar masalah tidak meluas hingga bantuan tiba,
seperti menutup kerangan atau mengisolasi tabung yang bocor,
mengaktifkan sistim alat pemadam kebakaran dsb.
c. Menghentikan semua aktifitas pengisian produk LPG dan menutup
semua kerangan yang diperkirakan akan memutuskan atau paling
tidak akan mengurangi besarnya penyebaran gas LPG dan
mengeluarkan kendaraan angkutan tabung LPG.
d. Melarang/menghimbau kepada masyarakat/penduduk yang ada di
sekitar lokasi dalam radius 50 m dan tidak melakukan kegiatan yang
dapat menimbulkan nyala api terbuka.
e. Orang-orang yang tidak berkepentingan dalam menangani kejadian
tersebut harus mengungsi dari daerah kejadian dan tidak boleh
berada di daerah 300 m dari kabut gas.
f. Menghubungi petugas emergensi untuk mengukur konsentrasi gas
di sekeliling tumpahan untuk menjamin bahwa daerah dalam jarak
300 m adalah aman.
g. Zona yang berbahaya mungkin akan meluas apabila konsentrasi
gas dalam jarak 300 m lebih tinggi dari pada 60 % dari Titik Nyala
Terendah (TNT) gas.
h. Menyiapkan regu penanggulangan keadaan darurat serta pompa
pemadam dan perlengkapannya agar setiap saat siap segera
melakukan tindakan atas berbagai kemungkinan yang akan terjadi,
serta mengaktifkan water sprinkler system.
i. Karena berat jenis uap LPG lebih berat dari udara, maka uap LPG
akan merambat di atas tanah sebelum menyebar di atmosfir.
Petugas emergensi akan menentukan zona yang aman sesudah
pengukuran konsentrasi gas dilakukan.
j. Air tidak boleh diarahkan langsung ke tumpahan LPG karena ini
akan membentuk gumpalan uap gas yang lebih besar.
k. Alat pernapasan harus dipakai oleh personil yang bertugas`dalam
mengatasi keadaan darurat tersebut.
l. Terkena cairan LPG dapat menyebabkan luka bakar dingin .
Apabila ini terjadi, hangatkan bagian yang terkena dengan air
hangat yang bersih sampai warnanya menjadi merah dan segera ke
dokter untuk memperoleh pengobatan.

6.7.2. Prosedur Penanggulangan Kebakaran LPG

a Alat pemadam kebakaran yang sesuai harus tersedia di kendaraan


pengangkut LPG dan dapat digunakan kapan saja.

72
b Menghubungi petugas yang sudah mendapatkan pelatihan
kebakaran atau sudah berpengalaman sebagai regu bantuan
keadaan darurat.
c Komunikasi harus terus dilakukan antara pengemudi dan bagian
pengontrolan supaya mudah mengirimkan bantuan bila keadaan
darurat terjadi.
d Kebakaran LPG tidak boleh dimatikan sebelum sumber bahan
bakar atau kebocoran ditutup.
e Kerangan harus segera ditutup karena panas radiasi secara tidak
langsung akan membahayakan personil dan merusak alat-alat di
daerah yang terbakar tersebut. Apabila keadaan seperti ini terjadi,
alat pemadam api tepung kering (dry powder) harus dipakai.
f Segera melapor kepada kepala penanggulangan kebakaran yang
sedang bertugas dengan menyebutkan identitas pelapor, lokasi
kejadian, jenis yang terbakar dan tindakan yang telah dilakukan.
g Kepala penanggulangan kebakaran dan anggotanya membawa
perlengkapan yang diperlukan segera menuju ke lokasi kebakaran
untuk mengevaluasi kejadian dan sekaligus melaksanakan
penanggulangan kebakaran yang belum padam.
h Apabila kebakaran yang terjadi tidak berhasil diatasi, sehingga
kebakaran menjalar lebih luas dan besar, maka langkah
penanggulangan lanjutan adalah :
i Menghubungi para komandan satuan tugas dalam organisasi
keadaan darurat untuk segera melakukan tindakan sesuai tugas
dan tanggung jawabnya masing-masing.
j Melakukan evakuasi personil yang masih berada di sekitar area
kebakaran.
k Bekerjasama dan berkoordinasi dengan pihak lain di luar
perusahaan dalam pelaksanaan pemadaman kebakaran.

73
Gambar 3

Gambar 4.

74
Gambar 5.

75
7. PEDOMAN TEKNIS INSPEKSI BERKALA TABUNG LPG

7.1 Ruang Lingkup


Pedoman teknis inspeksi berkala tabung LPG dimaksudkan untuk memberikan
informasi mengenai prosedur pengujian dan inspeksi berkala tabung LPG
dengan kapasitas air 0,5 liter sampai dengan 150 liter.

Pedoman ini diterapkan untuk tabung-tabung yang dilindungi oleh suatu sistem
pencegahan korosi eksternal dan di desain sesuai dengan SNI 1452-2007 atau
standard konstruksi dan desain yang setara.

Pedoman teknis ini dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan berkala


tabung LPG yang meliputi pemeriksaan tabung baru, pemeriksaan tabung
lama dan kerangannya. Penentuan inspeksi berkala tergantung pada isi
pedoman tertulis yang telah disetujui oleh pihak yang berkompeten.

7.2 Kualifikasi Personil


a. Seluruh personil yang telah mendapatkan pelatihan, berpengalaman dan
mampu memberikan keputusan yang objektif terhadap subjek yang di
inspeksi.
b. Harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang cukup untuk memahami
kondisi dan peduli terhadap bahaya yang ditimbulkan apabila salah dalam
melakukan inspeksi
c. Memiliki sertifikat yang masih berlaku dan dikeluarkan oleh instansi yang
berwenang.
d. Pelatihan sebaiknya diberikan minimal setiap 3 tahun sekali dan
terdokumentasi
e. Mampu membedakan tabung LPG yang layak dan tidak layak edar dengan
tepat dalam seluruh aspek pengujian (berkompeten)
f. Inspektor dari pihak ke III, bertindak mewakili dan atas nama inspektor dari
Pemerintah (Ditjen. Migas) dan telah terdaftar di Ditjen Migas.

7.3 Kriteria Perusahaan Jasa Inspeksi


a. Perusahaan Jasa Inspeksi harus memiliki SDM yang berkompeten dan
bersertifikat
b. Telah terdaftar dan ditunjuk oleh Ditjen. Migas.

7.4 Jarak waktu antara Pemeriksaan Berkala


Penentuan jarak waktu antara pemeriksaan berkala tergantung pada isi
pedoman tertulis yang telah disetujui oleh pihak yang berkompeten sesuai
dengan kondisi pada Annex A Standar ISO 10464:2004

Jarak waktu antara pemeriksaan berkala adalah 15 tahun sesuai dengan


lampiran A.8. Pelaksanaan inspeksi dapat dipercepat tidak lebih dari 10 tahun
jika terdapat kondisi khusus dimana dalam Annex A tidak terpenuhi.

76
7.5 Prosedur Inspeksi Berkala

7.5.1 Umum
Penentuan prosedur inspeksi berkala tergantung dari isi skema tertulis
yang disetujui oleh pihak yang berkompeten.

7.5.2 Prosedur pengujian


Dalam setiap kegiatan prosedur pemeriksaan berkala, umumnya terdiri
dari pemeriksaan tabung bagian luar secara visual sesuai yang tertulis
pada bagian 7.5.3. Apabila diperlukan dan dipersyaratkan oleh
peraturan nasional, salah satu prosedur berikut ini harus dilakukan,
yaitu :
a. Pengujian tekanan hidrolik
b. Pemeriksaan visual bagian dalam tabung. Dilakukan untuk
mengetahui ketebalan dinding tabung dan tekanan burstingnya.
Tekanan bursting actual terbukti sama atau lebih dari :
• 35 bar untuk tabung yang didesain untuk butane
• 70 bar untuk tabung yang di desain untuk propana
• Setelah sisa cairan residu dibuang dan tekanan dalam tabung
dihilangkan, tabung silinder diperiksa bagian dalamnya dari
beberapa kemungkinan korosi atau kerusakan lain yang dapat
mempengaruhi kualitas tabung.
• Jika diperlukan pembersihan secara mekanik, pelaksanaannya
dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak dinding tabung.
Tabung sebaiknya diperiksa ulang setelah dibersihkan.
c. Uji kebocoran dan uji pneumatic
d. Uji kebocoran pneumatic untuk tabung-tabung LPG dengan
kapasitas air 6,5 liter atau lebih kecil, maka tekanan actual burst
adalah sama dengan atau melebihi :
• 35 bar untuk tabung yang di desain untuk pemakaian butane
• 70 bar untuk tabung yang di desain untuk pemakaian propane
e. Uji Ekspansi pneumatic yang dilakukan oleh pihak pemerintah atau
pihak lain yang terkait.

7.5.3 Pemeriksaan visual bagian luar tabung (eksternal)


7.5.3.1 Persiapan pemeriksaan visual untuk bagian luar tabung
• Apabila permukaan tabung telah bersih dari cat, korosi,
aspal, oli atau benda asing yang menempel, seluruh
material tersebut harus dibersihkan dengan cara steel wire
brushing, shot blasting, water jet abrasive cleaning,
chemical cleaning atau metode lain yang sesuai.
• Diperlukan kehati-hatian untuk mencegah kerusakan pada
tabung
• Tabung-tabung yang dipakai dengan suatu proses yang
dapat mengikis bahan material tabung harus diperiksa
ketebalan dindingnya.

7.5.3.2 Prosedur pemeriksaan


Seluruh permukaan tabung harus diperiksa oleh personil yang
berkompeten terhadap adanya :

77
• Penyok, goresan, cungkilan, tonjolan, kerak, penebalan ,
petunjuk untuk rejection seperti dalam Table 8.1.
• Korosi, lokasi dimana air dapat terperangkap pada bagian
dasar tabung, pertemuan antara badan tabung dengan
foot ring, antara badan tabung dengan selubung kerangan
dan korosi yang tidak terlihat mata. Penerapan kriteria
rejection terdapat pada Tabel 8.2.
• Kerusakan lainnya atau kerusakan akibat terbakar ,
mengacu pada kriteria rejection pada Tabel 8.3

Setiap tabung yang di reject oleh personil yang berkompeten,


harus dipisahkan untuk direkondisi, untuk selanjutnya
dilakukan pengujian atau tidak dapat digunakan lagi.

7.5.3.3 Kerusakan yang terlihat mata


Kriteria reject untuk kerusakan material tabung terdapat pada
table 3, tabel 4 dan tabel 5 di bawah kondisi pengecualian dan
dengan persetujuan personil yang berkompeten, ketebalan
dinding tabung dapat kurang dari nilai desain minimum,
apabila tabung telah lulus tekan seperti yang tercantum pada
pengujian tekanan hidrolik.

78
Table 5
Kerusakan – Kerusakan Fisik Pada Dinding Tabung

Kerusakan Uraian Batasan Rijek/penolakan


Tonjolan Kelihatan menonjol Di tolak untuk semua kasus
pada tabung
Penyok Sebuah tekanan pada Jika kedalaman penyoknya melebihi 25%
tabung yang dari ketebalan maka akan ditolak
menyebabkan
rusaknya lapisan
metal, dimana peot
melebihi 2 % dari
diameter luar tabung
Terpotong atau Sebuah bekas/jejak Apabila hitungan asli dari ketebalan dinding
tercongkel tajam dimana diketahui, dan kedalaman jejak adalah
metalnya terkelupas. dibawah hitungan minimum dari kebebalan
dinding maka kasus ini dapat diterima
Tapi apabila hitungan asli dari ketebalan
dinding tidak diketahui maka harus ditolak
untuk semua kasus
Pertemuan Pada titik temu dari 2 Ditolak untuk semua kasus
antara lubang atau lebih lubang dan
dan gouge gouge
Tonjolan yang Sebuah tekanan pada Bila ukuran penyok , lubang atau gouge
mengandung tabung yang mana melebihi ukuran maka ditolak sebagai
lubang dan terdapat sebuah kerusakan individu
gouge lubang atau gouge
Retak Ada celah atau Ditolak untuk semua kasus
rebekan pada tabung
Tempelan/lapisan Material pelapis pada Ditolak untuk semua kasus
dinding tabung yang
telihat seperti
sambungan, retak,
cut dan bulge pada
permukaannya

79
Table 6
Korosi Pada Dinding Tabung

Kerusakan Uraian Batasan Rijek/penolakan


Korosi pada Lubang pada metal Bila kedalaman lubang melebihi 0.6 mm
lubang isolasi yang terjadi pada
daerah isolasi
konsentrasinya tidak
melebihi 1 pit per 500
mm2 dari luas area
Korosi Pengurangan Ketika kedalaman penetrasi dari lubang
permukaan ketebalan dinding melebihi 0.4 mm
melebihi
Korosi Umum Pengurangan Ketika kedalaman penetrasi dari lubang
ketebalan dinding melebihi 0.2 mm
melebihi 20 % dari
permukaan dinding
Korosi piting Sebuah rangkaian dari 1. Bila total panjang dari korosi pada
atau garis atau lubang2 atau rongga beberapa tempat melebihi 50 % dari
korosi channel keliling tabung
2. Bila kedalaman penetrasi melebihi
0.4 mm
3. Bila kedalaman korosi tidak terukur
Korosi Celah Korosi celah terjadi Bila kedalaman penetrasi melebihi 0.4 mm
pada daerah titik atau bila kedalaman korosi tidak dapat
pertemuan foot ring terukur
dengan tabung

80
Tabel 7
Kerusakan Lain

Kerusakan Uraian Batasan Rijek/penolakan


Tutup Tekanan Kerusakan tutup yang Ditolak untuk semua kasus, atau sebuah
berasal dari perubahan level batasan penyimpamgan harus
profil tabung disetujui olah petugas yang berwenang
Percikan Api Terbakarnya logam Ditolak untuk semua kasus
dasar dari tabung,
sebuah efeek panas
yang kuat atau
melepaskan logam
dengan menggores
Kerusakan Lokalisir panas dari Ditolak untuk semua kasus
akibat api tabung, biasanya
melalui
‐ Pemanasan cat
‐ Kebakaran dari
logam
‐ Distorsi dari
tabung
‐ Mencairnya
bagian dari
valve logam
‐ Mencairnya
komponene
komponen dari
plastik

81
7.5.4 Prosedur Uji Tambahan

7.5.4.1 Persiapan tabung


• Tabung dikosongkan dari adanya cairan dan tekanannya
dihilangkan dalam suatu kondisi yang terkontrol dan aman
sebelum proses pengujian.
• Tabung-tabung dengan kerangan yang tidak berfungsi
dipisahkan dan dibawa ke tempat yang aman untuk
penggantian.
• Kerangan tabung yang telah dilepas diperiksa dan
diperbaiki.

7.5.4.2 Pengujian tekanan hidrolik


a. Persiapan
• Menggunakan cairan sebagai media, misalnya air atau
minyak tanah.
• Tabung LPG dibersihkan dengan cara membasahkan
bagian luar permukaan tabung dan mengeringkannya.
• Menyiapkan dan memastikan bahwa peralatan
pengujian, seperti flexible tubing, pressure gauge,
kerangan, fitting dan komponen lainnya dalam kondisi
baik.
• Menggunakan pressure gauge yang terkalibrasi dan
mampu membaca tekanan pengujian tabung.

b. Pelaksanaan Pengujian Hidrostatik


• Tekanan pengujian ditentukan dari tekanan yang
tercantum pada tabung
• Tekanan tabung dinaikkan secara bertahap sampai
tekanan pengujian tercapai. Selanjutnya tabung
dipisahkan.
• Tekanan pengujian tidak boleh lebih dari 10 % atau 2
bar, mana yang lebih kecil.
• Tekanan pengujian dipertahankan selama paling cepat
30 detik hingga pengujian selesai.
• Jika terdapat kebocoran, harus dikoreksi dan tabung
diuji ulang.
• Tabung yang tidak bocor tetapi nampak adanya
penyimpangan permanent sebaiknya dipertimbangkan
untuk memperoleh hasil pengujian yang memuaskan.
• Tabung-tabung yang tidak lulus pengujian harus ditolak.
Tabung yang ditolak diklasifikasikan sesuai kondisi
masing-masing tabung untuk diperbaiki, dilas atau
diservis ulang sesuai dengan prosedur tertulis yang
disetujui pihak yang berkompeten.

7.5.5 Pemeriksaan visual bagian dalam tabung


Setelah membersihkan sisa residu cair dan menghilangkan tekanan
dalam tabung, maka tabung harus diperiksa bagian dalamnya untuk

82
mengetahui adanya tanda-tanda tabung terkorosi atau adanya
kerusakan lain yang dapat mempengaruhi integritas tabung.
Tabung bagian dalam perlu dibersihkan secara mekanik dari berbagai
kotoran dan benda asing. Tabung-tabung yang menunjukkan korosi
internal harus diganti dan dievaluasi sesuai dengan table 8.2
Pembersihan tabung bagian dalam harus dilakukan dengan hati-hati
untuk mencegah kerusakan pada dinding tabung dan setelah
dibersihkan harus diperiksa kembali.

7.5.6 Uji Kebocoran dan Uji Pneumatik

7.5.6.1 Umum
Tabung di uji dalam suatu batasan yang aman untuk
melindungi tabung di bawah kondisi tekanan pneumatic.
Pengecatan kembali (repainting) sebelum pengujian
sebaiknya terbatas untuk lapisan primer. Pelapisan akhir
harus dilakukan setelah pengujian dengan tujuan tidak untuk
menutupi potensi kebocoran.

7.5.6.2 Prosedur
a. Tekanan uji pneumatic untuk tabung harus ditentukan
sebelum pengujian dimulai. Tekanan uji pneumatic harus
sama dengan tekanan uji hidrolik.
Tabung-tabung harus diisi dengan media untuk pengujian
tekanan dan tekanan dijaga atau dipertahankan selama 5
detik hingga 7 detik sampai pengujian selesai.
Apabila dilengkapi dengan kerangan pengaman (pressure
relief valve), jarak pengamanan harus dijaga antara
tekanan uji pneumatic dan tekanan setting dari pressure
relief valve. Jika diperlukan pressure relief valve
dilepas`dan ujungnya ditutup selama pengujian.
b. Tekanan dapat diturunkan selama pemeriksaan
kebocoran. Penurunan tekanan sebaiknya tidak kurang
dari kenaikan tekanan pada temperature acuan yang
diberikan dalam standar desain. Jika pressure relief valve
dilepas, valve tersebut sebaiknya dipasang kembali
sebelum pengujian.
c. Pengecekan kebocoran harus dilakukan untuk
keseluruhan tabung dan sebaiknya dicelupkan ke dalam
air.
d. Beberapa tabung yang tidak lulus tes harus direkondisi
atau tidak digunakan lagi.

7.5.7 Uji Ekspansi Volumetric

7.5.7.1 Umum
Tabung harus ditempatkan dalam suatu kubangan air
dilengkapi dengan alat pengukur ekspansi dan diberi tekanan

83
dengan menggunakan air, minyak tanah atau cairan lain yang
sesuai.

7.5.7.2 Persiapan Tabung


• Tabung dikosongkan dari adanya cairan dan tekanannya
dihilangkan dalam suatu kondisi yang terkontrol dan aman
sebelum proses pengujian.
• Tabung-tabung dengan kerangan yang tidak berfungsi
dipisahkan dan dibawa ke tempat yang aman untuk
penggantian.
• Kerangan tabung yang telah dilepas diperiksa dan
diperbaiki.

7.5.7.3 Peralatan Uji


Seluruh peralatan yang diperlukan disiapkan, diantaranya :
• Pipa
• Flexible tubing
• Kerangan-kerangan
• Fitting
• Komponen pendukung
Peralatan uji di desain untuk menjaga tekanan 1,5 kali tekanan
uji maksimum tabung. Flexible tubing harus memiliki
karakteristik yang dapat mencegah patah.
Pengukur tekanan yang digunakan mampu membaca tekanan
uji tabung sesuai dengan standar yang disetujui.
Pengukur takanan harus terkalibrasi dan diperiksa ke
akuratannya dengan menggunakan master pengukur tekanan
pada jarak tertentu dan sebaiknya tidak kurang dari 1 kali
sebulan.
Master pengukur tekanan harus direkalibrasi sesuai dengan
persyaratan nasional.
Seluruh sambungan dalam sistem dipastikan tidak bocor
Sistem pengukuran ekspansi harus memiliki akurasi ± 2 %
atau lebih baik lagi

7.5.7.4 Prosedur
a. Tekanan pengujian harus ditetapkan dari tekanan uji yang
tercantum pada tabung
b. Tekanan tabung dinaikkan secara perlahan sampai
tekanan uji tercapai. Selanjutnya tabung diisolasi.
c. Tekanan pengujian dipertahankan selama paling cepat 30
detik hingga pengujian selesai.
d. Jika terdapat kebocoran dalam sistem tekanan, harus
dilakukan koreksi dan tabung diujikan kembali.
e. Tabung sebaiknya tidak menunjukkan ekspansi tetap yang
lebih besar dari 10 % dari ekspansi maksimumnya.

84
7.6 Pemeriksaan ulir atau drad tabung

7.6.1 Umum
Apabila terjadi penggantian kerangan selama pemeriksaan berkala, ulir
atau drad tabung harus diperiksa sesuai dengan butir 7.6.2. sampai
7.6.4.

7.6.2 Ulir internal


Ulir internal tabung secara visual dapat terlihat apakah bentuknya
sesuai dan kondisinya bersih.

7.6.3 Ulir eksternal


Ulir bagian luar dari leher tabung yang diperlukan untuk operasional
harus dipastikan integritas dan kemungkinan adanya kerusakan.

7.6.4 Kerusakan ulir


Kerusakan yang terdapat pada ulir dapat diperbaiki oleh personil yang
berkompeten apabila perbaikan tersebut diperlukan dan diijinkan.

7.7 Operasi Penyelesaian

7.7.1 Pengeringan
Setelah uji hidrolik, perhatian khusus yang harus dilakukan adalah
mencegah timbulnya korosi internal

7.7.2 Purging
Udara dihilangkan dari dalam tabung, misalnya dengan evakuasi atau
dibersihkan dengan menggunakan LPG. Tabung tidak boleh dibiarkan
terbuka tanpa adanya kerangan atau penutup.

7.7.3 Tare Mass


Penimbangan tabung harus ditetapkan lagi atau diulangi jika terjadi
penggantian kerangan pada tabung.

7.7.4 Valving
Kerangan yang sesuai dan dipasang pada tabung harus menggunakan
seal yang aman

7.7.5 Marking
Apabila pemeriksaan berkala telah selesai dilakukan, masing-masing
tabung harus dilengkapi dan ditandai dengan informasi sebagai
berikut ;
Identifikasi tempat pengujian atau personil yang melakukan pengujian
Tanggal pemeriksaan berkala. Tinggi bidang penandaan (marka) paling
pendek 4 mm

7.7.6 Referensi tanggal periode inspeksi berikutnya


Tanggal pemeriksaan berkala berikutnya harus teridentifikasi pada
bagian tabung sesuai dengan aturan yang berlaku.

85
7.7.7 Identifikasi isi
Isi tabung harus teridentifikasi sesuai dengan aturab yang berlaku,
misalnya propane komersial.

7.8 Prosedur Inspeksi Tabung LPG Baru


Penentuan prosedur inspeksi tabung LPG baru tergantung pada isi rencana
tertulis yang telah disetujui oleh pihak yang berwenang.
Prosedur Inspeksi tabung baru adalah :
a. Inspektor memeriksa dan mengevaluasi kelengkapan seluruh dokumen,
meliputi dokumen jaminan mutu yaitu certificate of quality (spesifikasi
tabung) dan certificate of quantity.
b. Pemeriksaan visual pada bagian dalam tabung. Tabung LPG baru harus
bersih, kosong, tidak ditemukan adanya gas dan aman untuk dilakukan
pengisian pada saat inpeksi.
c. Pemeriksaan visual bagian luar tabung, meliputi :
• Pemeriksaan bentuk dan ukuran bagian-bagiannya
• Identifikasi kerusakan pada bagian permukaan tabung.
• Pemeriksaan kondisi cat pada tabung
• Pemeriksaan kondisi lapisan pelindung dinding tabung.
• Pemeriksaan label atau penandaan pada tabung.
d. Melakukan evaluasi untuk setiap kali pekerjaan inspeksi selesai.

7.9 Periode Inspeksi


a. Periode inspeksi atau jangka waktu pemeriksaan tidak selalu sama bagi
setiap konstruksi tabung. Waktu pelaksanaan inspeksi juga dipengaruhi
oleh perawatan pada tabung tersebut.
b. Inspeksi atau pemeriksaan bagian luar dianjurkan paling lama setiap 5
tahun atau seperempat dari sisa umur korosi.
c. Untuk tabung LPG dengan kerangan yang dapat diganti, inspeksi periodik
dilakukan maksimal 10 tahun sekali dengan melakukan pengujian eksternal
dan internal tabung.
d. Untuk tabung LPG dengan kapasitas air < 5,5 kg, inspeksi periodik
dilakukan maksimal 10 tahun sekali dengan melakukan pengujian eksternal
tabung.

7.10 Laporan Hasil Inpeksi dan Pengujian

7.10.1 Rekaman
a. Rekaman tabung
b. Rekaman pengujian alat
c. Data elektronik

7.10.2 Laporan Pengujian


Pemilik tabung diminta untuk memberikan keterangan terkait dengan
data tabung yang dimilikinya.

86
Suatu laporan pengujian harus memberikan informasi sbb:
a. Untuk tabung-tabung baru, seluruh data diperlukan untuk
disesuaikan dengan spesifikasi tabung yang dikeluarkan oleh pihak
yang berkompeten
b. Untuk tabung yang diuji ulang, diperlukan data sebagai berikut :
• Nama dan lokasi tempat pengujian terakhir
• Nomor dan tanggal hasil pengujian serta penandatangan hasil
uji
• Nomor seri dan spesifikasi tabung
c. Hasil uji eksternal
d. Hasil uji internal
e. Intergritas hasil uji
f. Tanggal pengujian
g. Pemeriksaan berat
h. Tahapan Perbaikan
i. Tanda lulus uji
j. Pernyataan hasil uji
k. Tanda tangan dari personil yang berwenang
l. Nama dan kontak detail dari pemilik tabung
m. Membuat kesimpulan hasil evaluasi inpeksi
n. Memberikan saran dan rekomendasi cara-cara untuk memperbaiki
atau mengganti bagian yang cacat berdasarkan prosedur.
o. Catatan data hasil inspeksi beserta saran perbaikan diserahkan
pada pihak yang berwenang sebagai laporan hasil inpeksi.

7.11 Pedoman Keselamatan Kerja Dalam Keadaan Darurat Instalasi Pengisian


LPG

Pedoman teknis instalasi LPG ini disusun dalam rangka menjamin


keselamatan migas yang meliputi keselamatan umum, keselamatan kerja
personil, keselamatan lingkungan dan keselamatan instalasi pengisian LPG,
sesuai dengan aturan dan standar yang telah ditetapkan.

Pedoman keselamatan kerja dalam keadaan darurat harus dapat menunjukkan


suatu garis perintah/komando, laporan dan pemberitahuan secara jelas,
sehingga semua personil yang terlibat dapat memahami tugas, wewenang dan
tanggung jawabnya secara jelas, tegas dan disiplin sehingga dapat
mengendalikan dan mengatasi keadaan darurat dengan baik.

7.11.1 Pedoman Umum Keselamatan Kerja


a. Seluruh daerah Instalasi Pengisian LPG merupakan daerah
terlarang untuk merokok dan menyalakan api. Merokok di larang
keras kapan saja kecuali dalam lokasi-lokasi yang khusus diijinkan
oleh Manajemen.
b. Dilarang membawa mancis, korek api atau benda apa saja yang
dapat menimbulkan bunga api atau api ke dalam ”daerah instalasi”.
c. Dilarang menyalakan api dan sumber-sumber api lainnya seperti
pekerjaan las tanpa surat ijin kerja panas, kecuali pada lokasi-lokasi
yang khusus diperbolehkan oleh Manajemen.

87
d. Dilarang berjalan di atas pipa saluran
e. Sebelum melakukan pekerjaan, yakinkan bahwa surat ijin atau surat
keterangan yang diperlukan telah diperoleh.
f. Mencatat keadaan-keadaan yang berpotensi bahaya atau keadaan
yang sudah dikatagorikan bahaya dengan cara melaporkan kepada
kepala instalasi.
g. Janganlah mencoba menjalankan atau menggerakkan mesin-mesin
atau alat-alat yang tidak diperlukan.
h. Petugas harus berusaha membersihkan tempat pekerjaan segera
setelah pekerjaan selesai.
i. Menjaga semua perkakas`dan peralatan bersih dan ditempatkan
pada yang seharusnya.
j. Dilarang mengganti atau menukar alat atau perkakas secara tidak
baik.
k. Petugas tidak boleh meninggalkan pekerjaan sampai petugas yang
menggantikan telah diberitahu mengenai keadaan pekerjaan.

7.11.2 Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat


Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat meliputi :
Prosedur tanggap darurat untuk kondisi tidak normal, kejadian
tumpahan/kebocoran LPG, kejadian kebakaran, kecelakaan kerja dan
kegagalan sistem kerja alat.
Pedoman Keselamatan Kerja dalam Keadaan Darurat minimal terdiri
dari :
• Daftar nama personil, layanan darurat dan no. Telepon/no. Yang
mudah dihubungi.
• Jalur komando keadaan darurat
• Uraian tugas dan tanggung jawab
• Kerjasama dengan pihak lain yang terkait
• Safety briefing dan pelaporan
• Pengendalian rekaman
• Area penyimpanan dan penimbunan tabung harus diberi tanda
plakat dan peringatan untuk tidak merokok
• Site Plant

7.11.3 Prosedur Tanggap Darurat


a. Suatu sistim alarm harus dapat didengar di seluruh daerah instalasi
pengisian LPG untuk memperingatkan personil akan keadaan
darurat yang mungkin akan terjadi.
b. Apabila sistim alarm umum gagal, petunjuk lisan keadaan darurat
akan diberikan dengan menggunakan radio dan sistim siaga
keadaan darurat.
c. Cara yang benar untuk melaporkan keadaan darurat harus
berbicara dengan jelas dan terang serta memberikan informasi yang
tepat.
d. Semua panggilan keadaan darurat harus diketahui dengan
ucapan ”INI KEADAAN DARURAT”.
e. Memberitahukan lokasi keadaan darurat secara benar dan tepat.

88
f. Menjelaskan keadaan darurat secara ringkas , seperti kebakaran,
tabung meledak dll.
g. Memperkenalkan diri nama, nomor personil/petugas dan
bagian/tempat bertugas.
h. Jika terjadi suatu keadaan darurat, petugas yang bertanggung
jawab harus langsung merespon untuk mengendalikan keadaan
darurat di daerah instalasi.
i. Setiap petugas bertanggung jawab untuk mengamati keadaan-
keadaan di daerah kegiatannya dan menanggulangi atau
melaporkan segera setiap kejadian yang tidak biasa di daerah itu.
j. Petugas yang menemukan adanya api, gas atau cairan hidrokarbon
yang bocor harus segera melaporkan pada kepala instalasi tentang
masalah dan situasinya.
k. Sesudah melapor dan atas petunjuk Kepala instalasi, personil di
daerah tersebut akan mengambil tindakan langsung untuk
mengatasi masalah atau menjaga agar tidak meluas sampai
bantuan tiba, seperti mematikan pompa, menutup kerangan,
mengaktifkan sistim sprinkler, menggunakan pemadam api dsb.
l. Kepala instalasi harus mendengarkan laporan, mengajukan
pertanyaan dan menginstruksikan tindakan apa yang perlu
dilakukan untuk mengatasi keadaan darurat.
m. Kepala instalasi langsung menuju ke tempat kejadian, mengamati
keadaan dan meyakinkan bahwa prosedur keadaan darurat
dilaksanakan dengan baik.

7.11.4 Prosedur Penanggulangan Kebocoran/Penyebaran LPG


Apabila LPG tertumpah di tanah, gas yang terlepas akibat penguapan
cairan LPG akan menimbulkan campuran udara dan gas hidrokarbon
yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Karena LPG sifatnya dingin,
gas ini akan mengkondensasi air dari udara dan disebut kabut gas.
Tindakan yang segera dan tepat dalam menanggulangi kejadian
tersebut harus ditangani sesuai dengan pedoman prosedur sebagai
berikut :
a. Setiap pekerja yang mengetahui adanya kebocoran atau
penyebaran LPG yang ditandai dengan terciumnya bau tertentu,
agar segera berusaha mencari tahu sumbernya.
b. Apabila sumber kebocoran/penyebaran gas telah ditemukan,
segera memberitahukan dan melapor kepada kepala satuan
penyelamatan produk LPG.
c. Kepala satuan penyelamatan produk LPG dan bagian yang terkait
harus memeriksa situasi pada lokasi kejadian kemudian meneliti
dan menyelidiki sumber kebocoran dan berupaya mengatasi dan
memperbaikinya.
d. Melakukan tindakan segera untuk mengatasi masalah atau agar
masalah tidak meluas sampai bantuan tiba, seperti menutup
kerangan atau mengisolasi pipa atau tabung yang bocor,
mengaktifkan sistim alat pemadam kebakaran dsb.
e. Apabila tindakan di atas tidak berhasil, hentikan semua aktifitas
yang berkaitan dengan penerimaan dan penyerahan produk LPG

89
f. Menghentikan semua aktifitas pengisian produk LPG dan menutup
semua kerangan yang diperkirakan akan memutuskan atau paling
tidak akan mengurangi besarnya penyebaran gas LPG dan
mengeluarkan kendaraan angkutan tabung LPG.
g. Melarang/menghimbau kepada para pekerja, masyarakat/penduduk
yang ada di sekitar lokasi instalasi dalam radius 50 m, untuk tetap
tenang dan tidak melakukan kegiatan yang menggunakan atau
dapat menimbulkan nyala api terbuka.
h. Semua kegiatan perbaikan yang tidak ada hubungannya dengan
kejadian dalam jarak 300 m dari kabut gas harus dihentikan dan
semua sumber api (mesin las, motor bakar dll) harus dimatikan.
i. Orang-orang yang tidak berkepentingan dalam menangani kejadian
tersebut harus mengungsi dari daerah kejadian dan tidak boleh
berada di daerah 300 m dari kabut gas.
j. Petugas emergensi bertanggung jawab untuk mengukur konsentrasi
gas di sekeliling tumpahan untuk menjamin bahwa daerah dalam
jarak 300 m adalah aman.
k. Zona yang berbahaya mungkin akan meluas apabila konsentrasi
gas dalam jarak 300 m lebih tinggi dari pada 60 % dari Titik Nyala
Terendah (TNT) gas.
l. Menyiapkan regu penanggulangan keadaan darurat serta pompa
pemadam dan perlengkapannya agar setiap saat siap segera
melakukan tindakan atas berbagai kemungkinan yang akan terjadi,
serta mengaktifkan water sprinkler system.
m. Karena berat jenis uap LPG lebih berat dari udara, maka uap LPG
akan merambat di atas tanah sebelum menyebar di atmosfir.
Petugas emergensi akan menentukan zona yang aman sesudah
pengukuran konsentrasi gas dilakukan.
n. Air tidak boleh diarahkan langsung ke tumpahan LPG karena ini
akan membentuk gumpalan uap gas yang lebih besar.
o. Hanya High Expansion Foam (HEF) dengan ratio pengembangan
busa 500 : 1 yang boleh digunakan dalam pengendalian penguapan
tumpahan LPG agar penyebaran uap gas di atmosfir dapat
terkendali.
p. Alat pernapasan harus dipakai oleh personil yang bertugas`dalam
mengatasi keadaan darurat tersebut.
q. Terkena cairan LPG dapat menyebabkan luka bakar dingin .
Apabila ini terjadi, hangatkan bagian yang terkena dengan air
hangat yang bersih sampai warnanya menjadi merah dan segera ke
dokter untuk memperoleh pengobatan.

7.11.5 Prosedur Penanggulangan Kebakaran LPG


Pekerjaan panas dilakukan di daerah yang dikatagorikan
sebagai ”daerah panas” memerlukan seorang pengamat kebakaran
yang siap siaga terhadap bahaya kebakaran.

7.11.5.1 Ketentuan Umum


a. Alat pemadam kebakaran yang sesuai harus tersedia di
tempat dan dapat digunakan kapan saja.

90
b. Tersedia peralatan perlindungan kebakaran yang cukup,
seperti : alat pemadam kebakaran ringan, tirai air (water
curtain), fire monitor, alat bantu pernapasan dsb.
c. Personil pengamat kebakaran harus petugas yang sudah
mendapatkan pelatihan kebakaran atau sudah
berpengalaman sebagai regu bantuan keadaan darurat.
d. Pengamat kebakaran yang siap siaga tidak boleh
melakukan pekerjaan lain bila sedang bertugas sebagai
pengamat kebakaran.
e. Komunikasi harus dibuat antara kawasan kerja dan
pengontrolan supaya mudah mengirimkan bantuan bila
keadaan darurat terjadi.

7.11.5.2 Kebakaran Kecil


a. Setiap pekerja yang mengetahui terjadinya kebakaran
kecil, segera bertindak sendiri dan berusaha sedapat
mungkin untuk memadamkan kebakaran dengan alat
pemadam api yang sesuai dan yang berada di dekat
lokasi kejadian.
b. Apabila tumpahan LPG berkembang menjadi kebakaran,
maka prosedur yang harus dilakukan adalah :
• Kebakaran LPG tidak boleh dimatikan sebelum
sumber bahan bakar atau kebocoran ditutup.
• Kerangan harus segera ditutup karena panas radiasi
secara tidak langsung akan membahayakan personil
merusak alat-alat di daerah yang terbakar tersebut.
Apabila keadaan seperti ini terjadi, alat pemadam api
tepung kering (dry powder) harus dipakai.
• Usahakan mengurangi radiasi panas kebakaran LPG
dan mengendalikan api yang dapat membahayakan
peralatan atau semakin besarnya api dengan
menggunakan HEF (High Expansion Foam) ke
genangan LPG yang terbakar atau dengan
melindungi peralatan di sekeliling kejadian dengan
semprotan air.
c. Segera melapor kepada kepala penanggulangan
kebakaran yang sedang bertugas dengan menyebutkan
identitas pelapor, lokasi kejadian, jenis yang terbakar
dan tindakan yang telah dilakukan.
d. Kepala penanggulangan kebakaran dan anggotanya
membawa perlengkapan yang diperlukan segera menuju
ke lokasi kebakaran untuk mengevaluasi kejadian dan
sekaligus melaksanakan penanggulangan kebakaran
yang belum padam.

7.11.5.3 Kebakaran Besar


a. Apabila kebakaran yang terjadi tidak berhasil diatasi,
sehingga kebakaran menjalar lebih luas dan besar, maka
langkah penanggulangan lanjutan adalah :
b. Menghubungi para komandan satuan tugas dalam
organisasi keadaan darurat untuk segera melakukan

91
c. Membunyikan tanda bahaya alarm
d. Melakukan evakuasi personil yang masih berada di
dalam dan di sekitar area kebakaran.
e. Bekerjasama dan berkoordinasi dengan pihak lain di luar
perusahaan dalam pelaksanaan pemadaman kebakaran.

7.11.5.4 Tanda-tanda Keadaan Darurat


Tanda-tanda keadaan darurat meliputi beberapa kondisi,
diantaranya :
a. Peringatan Tanda Bahaya
• Klakson berbunyi selama 2 menit terus menerus
• Petugas mengamankan daerah yang menjadi
tanggung jawabnya sesuai dengan perintah atasan.
• Petugas keamanan wajib mengamankan daerah
kejadian dan mengamankan instalasi pengisian LPG
secara keseluruhan.
• Petugas penanggulangan keadaan darurat menuju
dan melapor ke bagian kebakaran
• Personil lain menghentikan semua kegiatan dan
menuju assembly poin terdekat.

b. Tanda Evakuasi
• Klakson akan berbunyi 5 detik ”ON” dan 5
detik ”OFF” secara terus menerus
• Personil yang berada di assembly point akan
diungsikan oleh petugas.
• Personil yang berada di dalam gedung atau kantor,
segera meninggalkan kantor atau gedung menuju
muster area dan selanjutnya akan diungsikan oleh
petugas.

c. Tanda Keadaan Aman


• Klakson akan berbunyi 10 detik ”ON” dan 2
detik ”OFF” secara terus menerus selama 2 menit.
• Semua personil kembali ke tempat kerja dan bekerja
seperti biasa, kecuali kalau ada instruksi lain dari
Petugas.

7.12 Kejadian alam yang tidak normal

Kejadian alam yang tidak normal meliputi gempa bumi, banjir, badai topan,
gelombang pasang dll.

Langkah yang harus dilakukan setiap personil dan atau petugas Badan Usaha
jika terjadi kondisi alam seperti dimaksudkan di atas adalah berusaha secepat
mungkin untuk melakukan langkah-langkah pengamanan baik untuk diri sendiri,
orang lain dan asset perusahaan atau badan usaha.

92
8. PEDOMAN TEKNIS PENGGUNAAN LPG UNTUK END USER

Pedoman teknis penggunaan tabung LPG untuk End User dapat digunakan sebagai
petunjuk penting bagi konsumen atau end user mengenai tata cara penggunaan
LPG dalam tabung yang benar dan aman. Tabung LPG yang telah diisi dan siap
edar disalurkan dari Depot/Filling Plant ke Agen dan konsumen di sector industri,
komersial dan rumah tangga.

LPG yang disalurkan dan diperdagangkan sampai ke konsumen (end user)


merupakan LPG dengan komposisi propane dan butane dan kandungan gas lain
seperti etana dan pentane dalam jumlah yang relative kecil. Penggunaan LPG oleh
konsumen umumnya sebagai bahan bakar di sector industri, komersial dan
rumahtangga bahkan kini untuk sektor transportasi.

8.1 Ruang Lingkup


Pedoman teknis ini meliputi petunjuk pemilihan tabung LPG sebelum
digunakan, tata cara penggunaan tabung LPG dan pengawasan Pemerintah
terhadap produk dan tabung LPG di dalam negeri.

Yang harus diperhatikan oleh konsumen dalam penggunaan LPG yang aman
untuk memenuhi kebutuhan energinya adalah memahami kondisi tabung yang
layak untuk digunakan, mengetahui karakteristik umum produk LPG dan tata
cara penggunaan tabung LPG yang tepat dan benar baik di sektor industri,
komersial maupun rumah tangga.

8.2 Petunjuk pemilihan tabung


Untuk mengetahui kondisi tabung yang akan digunakan, konsumen harus
mengetahui kriteria tabung yang aman untuk digunakan, yaitu :
a. Memeriksa kondisi tabung secara visual, seperti :
• Tidak ada goresan
• Tabung tidak dipenuhi karat
• Tidak ditemukan adanya bagian yang terbakar
• Tidak cacat, penyok, benjol dsb.
b. Memeriksa keutuhan segel kerangan
c. Memeriksa adanya seal
d. Marka pada tabung harus terlihat jelas

8.3 Karakteristik umum LPG, yaitu :


a. Berat jenis LPG lebih besar dari udara.
Karena berat jenis LPG lebih besar dari udara, apabila terjadi kebocoran
LPG di dalam ruangan, maka uap LPG tidak langsung menyebar
b. Memiliki daya pemanasan yang tinggi
c. LPG tidak berbau, oleh karena itu diberikan odor untuk mempermudah
mengidentifikasi kebocoran.
d. Tidak berwarna, baik cairan maupun uap LPG

93
e. Sensitif terhadap api
f. Bersifat mudah terbakar (flammable)
g. Bersih, mudah dan aman dalam pengangkutan dan penyimpanannya.

8.4 Tata cara penggunaan tabung LPG di sektor industri, komersial dan
pengecer.

Penggunaan LPG di sector industri, komersial dan pengecer dimulai dari


penanganan tabung LPG isi dari LPG Filling Plant, Agen atau dealer.
Umumnya tabung yang digunakan di sector industri adalah tabung berukuran
50 kg dan di sektor komersial, misalnya hotel dan restaurant menggunakan
LPG berukuran 50 kg dan 12 kg. Sedangkan pada pengecer (toko/warung)
menjual tabung berukuran 12 kg dan 3 kg.
Tata cara penanganan dan penyimpanannya adalah sebagai berikut :

8.4.1 Tata cara penanganan tabung LPG


a. Menangani tabung LPG dengan cara yang aman dan hindari dari
kemungkinan jatuh atau membentur benda keras.
b. Memindahkan tabung LPG dengan posisi berdiri dan diikat dengan
jumlah tabung tidak melebihi kapasitas alat angkut.
c. Menghindari pemindahan tabung gas dengan cara diseret,
digelindingkan atau dibanting.

8.4.2 Tata cara penyimpanan tabung LPG di Industri dan komersial.


a. Dilarang menyimpan tabung gas LPG di tempat yang langsung
terpapar panas matahari atau sumber panas lainnya, di tempat
yang lembab dan korosif.
b. Tidak boleh menyimpan tabung LPG melebihi kapasitas gudang
penimbunnya
c. Tabung LPG berukuran 50 kg tidak boleh disusun bertingkat.
d. Tabung LPG berukuran 12 kg, dapat disusun maksimal 2
e. Tabung tidak boleh di letakkan di dekat pintu keluar dan atau di
dekat tangga.
f. Tidak boleh menyimpan tabung LPG dalam satu ruangan dengan
tabung gas jenis lain.

8.4.3 Tata cara penyimpanan tabung LPG di pengecer (toko/warung)


a. Dilarang menyimpan tabung gas LPG di tempat yang langsung
terpapar panas matahari atau dekat dengan sumber panas dan
di tempat yang lembab dan korosif.
b. Dilarang menyimpan tabung LPG dalam ruangan yang tidak
memiliki sirkulasi udara atau ventilasi yang cukup.
c. Tabung LPG berukuran 12 kg dapat disusun maksimal 2
d. Tabung LPG berukuran 3 kg dapat disusun maksimal 3
e. Tabung LPG tidak boleh di letakkan di dekat pintu keluar dan
atau di dekat tangga.
f. Tidak boleh menyimpan tabung LPG dalam satu ruangan dengan
tabung gas jenis lain.

94
8.5 Tata cara Penggunaan Tabung LPG di Rumah Tangga
Penggunaan tabung LPG di sektor rumah tangga meliputi persyaratan lokasi
dan kondisi penempatan tabung serta tata cara pemasangan peralatan.
8.5.1 Persyaratan penempatan tabung
a. Tabung LPG ditempatkan dalam ruangan yang memiliki sirkulasi
udara yang baik.
b. Disarankan untuk membuat ventilasi udara di bagian bawah dekat
lantai ruangan .
c. Letakkan kompor gas di bagian yang mendatar dan jauh dari bahan
yang mudah terbakar
d. Posisi tabung harus selalu berdiri tegak dan terhindar dari panas
matahari.

8.5.2 Tata Cara pemasangan peralatan


a. Dilarang menggunakan tabung gas tanpa seal dan regulator.
b. Eratkan klem pada kedua ujung selang sebelum memasang
regulator pada tabung LPG.
c. Pastikan pemutar/tombol kompor gas harus dalam keadaan mati
(off) saat menghubungkan kompor dengan tabung LPG.
d. Segel plastik di katup tabung LPG dilepaskan dan regulator
dipasang.
e. Setelah regulator terpasang, putar knopnya searah jarum jam
sebesar 90 derajat sehingga posisinya horizontal.
f. Pastikan regulator tidak kendur atau kemungkinan dapat terlepas.
g. Kemudian putar knop regulator searah jarum jam sebesar 90
derajat hingga posisinya vertical agar gas LPG mengalir ke kompor.
h. Periksa dahulu kompor dan tabung sebelum menyalakan api.
i. Selang harus terhindar dari panas dan tidak boleh tertindih.
j. Bila ada kebocoran gas, bau khas LPG akan tercium.

95
PETUNJUK PENGGUNAAN GAS LPG

PETUNJUK PENGGUNAAN GAS LPG

96
8.6 Pengawasan Pemerintah terhadap produk dan Tabung LPG

8.6.1 Pengawasan Pemerintah terhadap produk LPG


Pengawasan pemerintah terhadap produk LPG Berdasarkan atas
landasan hukum :
1. PP No. 36 tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Migas (Pasal 6
huruf a)
2. Peraturan Menteri ESDM No. 0048/2005 tentang Standard an Mutu
(Spesifikasi) serta Pengawasan Bahan Bakar Minyak , Bahan Bakar
Gas, Bahan Bakar lain, LPG, LNG dan Hasil Olahan yang
dipasarkan di dalam negeri (Pasal 3)
3. Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No.
8757.K/24/DJM/2006 tentang Tata Cara Pengawasan Bahan Bakar
Minyak, Bahan Bakar Gas, Bahan Bakar lain, LPG, LNG dan hasil
olahan

Maka Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Minyak dan Gas
Bumi harus melindungi produsen dan konsumen dari penyimpangan
kualitas atau mutu LPG yang beredar di pasar dalam negeri. Atas dasar
hal tersebut di atas, maka pemerintah yang dalam hal ini Dirjen. Migas
harus memantau kesesuaian mutu LPG di titik akhir distribusi dengan
membandingkannya terhadap spesifikasi LPG yang telah ditetapkan
pemerintah baik spesifikasi LPG Propana, Butana, LPG campuran
maupun spesifikasi LPG kendaraan bermotor.

Spesifikasi LPG Propana, Butana dan Campuran ditetapkan dalam


Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan gas Bumi Nomor
25K/36/DDJM/1990, seperti pada Tabel 9.1 dan Spesifikasi LPG untuk
kendaran bermotor ditetapkan dalam Keputusan Direktur Jenderal
Minyak dan Gas Bumi Nomor 2527K/24/DJM/2007, seperti pada Tabel
9.2

Dalam melakukan pengawasannya, pemerintah juga harus memberikan


sarana penyuluhan dan konsultasi mengenai mutu LPG dengan
instansi terkait sebagai bagian dari upaya pembinaan pengusaha dan
pengelola bisnis LPG di Indonesia.

Pelaksanaan pengawasan mutu produk LPG dilaksanakan pemerintah


dalam hal ini Ditjen. Migas bekerjasama dengan instansi terkait untuk
melakukan evaluasi mutu LPG secara terencana dan terprogram setiap
tahunnya. Dit.Jen. Migas merencanakan dan menentukan titik sampling
di setiap kilang, depot, SPPBE dan agen di seluruh daerah yang
tersebar di Indonesia. Pelaksanaan pengambilan sample dan analisa
LPG dilakukan oleh instansi yang berwenang yang ditunjuk oleh Dit.Jen.
Migas dan memiliki fasilitas laboratorium analisis gas LPG yang telah
terakreditasi dan bersifat independent.

97
8.6.2 Pengawasan pemerintah terhadap tabung LPG

Pengawasan pemerintah terhadap tabung LPG dapat menggunakan


Standar Nasional Indonesia (SNI) yang telah ditetapkan pemerintah
yaitu SNI 1452-2007 tentang Tabung baja LPG dan SNI 05-2301-1991
tentang Katup Pengaman untuk Kegunaan Umum.

Pelaksanaan pengawasan tabung LPG dapat dilaksanakan oleh


pemerintah dalam hal ini Dit.Jen.Migas bekerjasama dengan instansi
terkait yang ditunjuk yang memiliki fasilitas laboratorium pengujian
tabung LPG yang telah terakreditasi dan bersifat independent

8.6.2.1. Objek Pengawasan


Objek pengawasan tabung LPG meliputi semua jenis dan tipe
tabung baja yang beredar dan digunakan oleh konsumen.
Klasifikasi tabung baja LPG dalam SNI 1452:2007 yang beredar
dan digunakan oleh konsumen adalah :
• Tabung LPG 3 kg dan isi 6,5 liter
• Tabung LPG 12 kg dan isi 26,2 liter
• Tabung LPG 50 kg dan isi 108 liter

8.6.2.2. Aspek Pengawasan


Aspek pengawasan tabung baja LPG meliputi pencantuman
label dan standar mutu produk

a. Pencantuman label
• Label pada tabung LPG minimal mengandung informasi :
• Identitas perusahaan
• Tipe
• Nomor urut pembuatan
• Berat kosong tabung
• Tahun pembuatan
• Tekanan uji
• Berat isi

b. Standar mutu tabung LPG, disesuaikan dengan ketentuan


yang berlaku dalam SNI 1452-2007 tentang tabung baja
LPG.

98
Bibliografi

British Standard : BS EN 14334:2005 Inspection and Testing of LPG road tankers

Australian Standard AS 2337.1 – 2004 Gas Cylinder Test Stations Part 1: General
Requirements, Inspection and Test – Gas Cylinder

International Standard ISO 10297:2006 Transportable gas cylinders-Cylinder valve-


Specification and type testing.

ISO 22991 : 2004 Gas Cylinder, Transporatable refillable welded steel cylinder for
liquefied petroleum gas (LPG)-Design and Construction.

ISO 11625 : 2007 Gas cylinder Safe Handling

International Standard ISO 15995 : 2006 Gas cylinders - Specifications and testing of
LPG cylinder kerangans – Manually operated

International Standard ISO 13769 : 2002 Gas cylinders-Stamp marking

International Standard ISO 14245 : 2006 Gas cylinders-Specification and testing of LPG
cylinder kerangans-Self closing

International Standard ISO 2929 : 2002 Rubber hoses and hose assemblies for bulk fuel
delivery by truck-Specification

International Standard ISO 10297:2006 Transportable gas cylinders-Cylinder kerangan-


Specification and type testing.

International Standard ISO 4706 : 1989 Refillable welded steel gas cylinders

API Standar 2510 Design and Construction of LPG Installation

SNI 05-2301-1991 Katup Pengaman – Kegunaan Umum

Australian standard AS 2473 – 1996 Kerangans for Compressed Gas Cylinders


(Threaded Outlet)

Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 69 tahun 1993 tentang Penyelenggaraan


Angkutan Barang di Jalan.
Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor : 04/M-IND/PER/1/2007, Spesifikasi Teknis
Katup Tabung Baja LPG.

Pedoman Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakan Stasiun Pengisian Bahan


Bakar LPG PT. Eramina Kencana – BADAN USAHA.

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor : KM 69 tahun 1993 tentang Penyelenggaraan


Angkutan Barang di Jalan.

99