Anda di halaman 1dari 6

HARTA (Pemilikan dan Pemanfaatan)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok Pada Mata Kuliah Fiqih

Disusun oleh :

Ai Sulastri : (1210401007)

Deni Romdon M : (1210401017)

Helena Fitriani : (1210401036)

Fakultas Dakwah dan Komunikasi


Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam
Universitas Islam Negri
Sunan Gunung Djati
Bandung
1432 H/2011 M

BAB I
PENDAHULUAN
A. Pengertian Harta

Makna maal (harta) secara umum ialah segala sesuatu yang disukai manusia, seperti
hasil pertanian, perak atau emas, ternak, atau barang-barang lain yang termasuk perhiasan
dunia. Adapun tujuan pokok dari harta itu ialah membantu untuk memakmurkan bumi dan
mengabdi pada Allah.
menurut madzab Hanafi adalah sesuatu yang layak dimiliki menurut syarat dapat
dimanfaatkan, disimpan/dikuasai dan bersifat konkret. Madzab Maliki mendefinisikan hak
milik menjadi dua macam. Pertama, adalah hak yang melekat pada seseorang yang
menghalangi orang lain untuk menguasainya. Kedua, sesuatu yang diakui sebagai hak
milik secara ’uruf (adat). Madzab Syafi’i mendefinisikan hak milik juga menjadi dua
macam. Pertama, adalah sesuatu yang bermanfaat bagi pemiliknya; kedua, bernilai harta.
Hambali juga mendefinisikan hak milik menjadi dua macam. Pertama, sesuatu yang
mempunyai nilai ekonomi; kedua, dilindungi undang-undang. Dari 4 madzab tersebut
dapat disimpulkan tentang pengertian harta/hak milik:

1. Sesuatu itu dapat diambil manfaat


2. Sesuatu itu mempunyai nilai ekonomi
3. Sesuatu itu secara ’uruf (adat yang benar) diakui sebagai hak milik
4. Adanya perlindungan undang-undang yang mengaturnya.

Harta menurut Hasbi ash-Shiddiqy di atas ialah; manusia bukanlah harta sekalipun berwujud,
babi bukanlah harta karena bagi muslim babi haram diperjualbelikan dan sebiji beras juga
bukan harta, karena sebiji beras tidak memiliki nilai (harga) menurut ’urf.

Klasifikasi Harta

Harta (kekayaan atau hak milik) pada dasarnya diklasifikasinya menjadi dua; yaitu materi dan
non materi. Contoh yang berwujud materi adalah uang, perhiasan, tanah, dan lain sebagainya.
Harta yang berwujud non materi adalah deposito, HAKI (Hak Ats Kekayaan Intelektual),
saham, dan lain sebagainya. Menurut Abdullah al-Mushlih dan Shalah ash-Shawi, harta
terbagi menjadi berbagai macam tergantung dengan orientasi pembagiannya. Di antara
bentuk klasifikasi tersebut adalah :
Harta tetap/Diam dan harta bergerak
Harta tetap/Diam adalah harta yang tidak mungkin dipindahkan seperti tanah dan yang
melekat dengan tanah, seperti bangunan permanen.
Harta bergerak adalah yang dapat dengan cepat dipindahkan dan dialihkan.

Pembagian Maal (harta) dari segi benda:

1. mal mutaqawwim (benda bernilai) dan maal gair mutaqawwim (benda tak bernilai);
2. mal manqul (benda bergerak) dan ’uqar (benda tak bergerak);
3. mal mamluk (benda ada pemiliknya) dan mal mubah (benda tak bertuan);
4. mal khass (benda milik privat) dan mal ‘amm (benda milik umum);
5. mal misli (benda bercontoh) dan mal qimi (benda tak bercontoh);
6. mal istihlaki (benda habis pakai) dan mal gair istihlaki (benda tak habis pakai);
7. usul (benda pokok) dan simar (hasil);
8. mal qabil lil al-qismah (benda dapat dibagi) dan aal gair qabil lil al-qismah (benda tak
dapat dibagi).
Harta dalam ekonomi islam
Ada tiga asas pokok tentang harta dalam ekonomi Islam, yaitu:

1. Allah Maha Pencipta, bahwa kita yakin semua yang ada di bumi dan di langit adalah
ciptaan Allah.
2. Semua harta adalah milik Allah. Kita sebagai manusia hanya memperoleh titipan dan
hak pakai saja. Semuanya nanti akan kita tinggalkan, kita kembali ke kampung
akhirat.
3. Iman kepada hari Akhir. Hari Akhir adalah hari perhitungan, hari pembalasan
terhadap dosa dan pahala yang kita perbuat selama mengurus harta di dunia ini. Kita
akan ditanya darimana harta diperoleh dan untuk apa ia digunakan, semua harus
dipertanggungjawabkan.

Pengolahan harta dalam islam


Ada 3 poin penting dalam pengelolaan harta kekayaan dalam Islam (sesuai Al-Qur’an dan
Hadits); yaitu:

1. Larangan mencampur-adukkan yang halal dan batil. Hal ini sesuai dengan Q.S. Al-
Fajr (89): 19; ”Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan
(yang halal dan yang bathil)”
2. Larangan mencintai harta secara berlebihan Hal ini sesuai dengan Q.S. Al-Fajr (89):
20; ”Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”
3. ”Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram darahnya, hartanya dan
kehormatannya” (hadits Muslim)

Ada beberapa ketentuan hak milik pribadi untuk sumber daya ekonomi dalam Islam:

1. harta kekayaan harus dimanfaatkan untuk kegiatan produktif (melarang penimbunan


dan monopoli);
2. pembayaran zakat serta pendistribusian (produktif/konsumtif)
3. penggunaan yang berfaidah (untuk meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan
material-spiritual)
4. penggunaan yang tidak merugikan secara pribadi maupun secara kemasyarakatan
dalam aktivitas ekonomi maupun non ekonomi
5. kepemilikan yang sah sesuai dengan prinsip-prinsip muamalah dalam aktifitas
transaksi ekonomi.

http://noexs.blogspot.com/2009/10/harta.html

Muamalat Jual Beli Dalam Islam (Pengertian, Rukun,


Hukum, Larangan, Dll)
A. Arti Definisi / Pengertian Muamalat :

Muamalat adalah tukar menukar barang, jasa atau sesuatu yang memberi manfaat dengan tata
cara yang ditentukan. Termasuk dalam muammalat yakni jual beli, hutang piutang,
pemberian upah, serikat usaha, urunan atau patungan, dan lain-lain. Dalam bahasan ini akan
menjelaskan sedikit tentang muamalat jual beli.

B. Arti Definisi / Pengertian Jual Beli :

Jual beli adalah suatu kegiatan tukar menukar barang dengan barang lain dengan tata cara
tertentu. Termasuk dalam hal ini adalah jasa dan juga penggunaan alat tukar seperti uang.

C. Rukun Jual Beli

1. Ada penjual dan pembeli yang keduanya harus berakal sehat, atas kemauan sendiri,
dewasa/baligh dan tidak mubadzir alias tidak sedang boros.
2. Ada barang atau jasa yang diperjualbelikan dan barang penukar seperti uang, dinar emas,
dirham perak, barang atau jasa. Untuk barang yang tidak terlihat karena mungkin di tempat
lain namanya salam.
3. Ada ijab qabul yaitu adalah ucapan transaksi antara yang menjual dan yang membeli
(penjual dan pembeli).

D. Hal-Hal Terlarang / Larangan Dalam Jual Beli

1. Membeli barang di atas harga pasaran


2. Membeli barang yang sudah dibeli atau dipesan orang lain.
3. Memjual atau membeli barang dengan cara mengecoh/menipu (bohong).
4. Menimbun barang yang dijual agar harga naik karena dibutuhkan masyarakat.
5. Menghambat orang lain mengetahui harga pasar agar membeli barangnya.
6. Menyakiti penjual atau pembeli untuk melakukan transaksi.
7. Menyembunyikan cacat barang kepada pembeli.
8. Menjual barang dengan cara kredit dengan imbalan bunga yang ditetapkan.
9. Menjual atau membeli barang haram.
10. Jual beli tujuan buruk seperti untuk merusak ketentraman umum, menyempitkan gerakan
pasar, mencelakai para pesaing, dan lain-lain.

E. Hukum-Hukum Jual Beli

1. Haram
Jual beli haram hukumnya jika tidak memenuhi syarat/rukun jual beli atau melakukan
larangan jual beli.
2. Mubah
Jual beli secara umum hukumnya adalah mubah.
3. Wajib
Jual beli menjadi wajib hukumnya tergantung situasi dan kondisi, yaitu seperti menjual harta
anak yatim dalam keadaaan terpaksa.
F. Kesempatan Meneruskan/Membatalkan Jual Beli (Khiyar)

Arti definisi/pengertian Khiyar adalah kesempatan baik penjual maupun pembeli untuk
memilih melanjutkan atau menghentikan jual beli. Jenis atau macam-macam khiyar yaitu :
1. Khiyar majlis adalah pilihan menghantikan atau melanjutkan jual beli ketika penjual
maupun pembeli masih di tempat yang sama.
2. Khiyar syarat adalah syarat tertentu untuk melanjutkan jual beli seperti pembeli
mensyaratkan garansi.
3. Khiyar aibi adalah pembeli boleh membatalkan transaksi yang telah disepakati jika
terdapat cacat pada barang yang dibeli.

G. Jual Beli Barang Tidak Terlihat (Salam)

Arti definisi/pengertian Salam adalah penjual menjual sesuatu yang tidal terlihat / tidak di
tempat, hanya ditentukan dengan sifat danbarang dalam tanggungan penjual.

Rukun Salam sama seperti jual beli pada umumnya.

Syarat Salam :
1. Pembayaran dilakukan di muka pada majelis akad.
2. Penjual hutang barang pada si pembeli sesuai dengan kesepakatan.
3. Brang yang disalam jelas spesifikasinya baik bentuk, takaran, jumlah, dan sebagainya.

Transaksi yang mengandung suatu hal yang tidak diketahui oleh salah satu pihak unknown to
one party.
Setiap transaksi dalam Islam harus didasarkan pada prinsip kerelaan antara kedua belah pihak
(sama-sama ridha). Mereka harus mempunyai informasi yang sama (complete information)
sehingga tidak ada pihak yang merasa dicurangi/ditipu karena ada sesuatu yang unknown to
one party (keadaan di mana salah satu pihak tidak mengetahui informasi yang diketahui pihak
lain, ini merupakan asymmetric information).
Unknown to one party dalam bahasa fikihnya disebut tadlis (penipuan), dan dapat terjadi
dalam 4 (empat) hal, yakni dalam:

1. Kuantitas;
2. Kualitas;
3. Harga; dan
4. Waktu Penyerahan

Haram Selain Zatnya ; 2. Taghrir


Definisi :
Transaksi pertukaran yang mengandung ketidakpastian bagi kedua pihak (uncertainty to both
parties ).
Uncertainty to both parties dalam bahasa fikihnya disebut taghrir (ketidakpastian), dan dapat
terjadi dalam 4 (empat) hal, yakni dalam:

1. Kuantitas;
2. Kualitas;
3. Harga; dan
4. Waktu Penyerahan

http://mei-azzahra.com/2010/03/18/transaksi-yang-dilarang-fiqh-muamalah/