Anda di halaman 1dari 8

3 Perencanaan Kurikulum

3.1 Perencanaan kursus pendidikan

Pendidikan tak terencana dan pendidikan terencana

Pendidikan kejuruan dapat dilihat sebagai proses belajar yang tidak diberi bentuk yang
tetap atau diformalisasikan, dapat dikatakan prosedur pendidikan untuk sebagian besar tidak
direncanakan dari semula dan banyak dipasrahkan pada kebutuhan sesaat. Pada umumnya
disini hanya terdapat beberapa kondisi umum saja, seperti : lama pendidikan, prasyarat untuk
dapat mengikuti pendidikan, pembiayaan pendidikan, prasyarat untuk mengikuti ujian
terakhir.

Pendidikan teknik dan kejuruan dapat dilihat juga sebagai komponen formal dari
keseluruhan system pendidikan. Pada pola ini pendidikan lebih terencana, perencanaan tidak
hanya menyangkut factor-faktor formal saja seperti misalnya penyusunan definisi :
persyaratan penerimaan, kualifikasi lulusan, keabsahan hak, lama pendidikan. Tapi juga
menyangkut deskripsi dan penentuan : lokasi pendidikan, sasaran pendidikan, substansi
pelajaran yang diberikan.

Karakteristik perencanaan tertutup dan terbuka

Perencanaan tertutup adalah rencana pendidikan diolah sampai rincian terkecil, kemudian
dicetak dan dinyatakan berlaku sesuai ketetapan. Segi-segi negatif perencanaan tertutup :

 Prosedurnya tidak mengikutsertakan pihak-pihak yang berkepentingan seperti pengajar,


pelajar, masyarakat, dll.
 Penerapan dan pelaksanaan rencana tidak lancar.
 Kekakuaan struktur rencana mengakibatkan penyimpangan-penyimpangan yang tidak
terkontrol.

Perencanaan terbuka adalah suatu kerangka dengan isi yang esensial saja, dengan
memberikan ruang gerak yang cukup lapang bagi penyesuian pada kebutuhan-kebutuhan
individual, kondisi regional, perubahan bidang teknologi, dsb. Hal-hal positif perencanaan
terbuka :
 Prosedurnya lebih demokratis, karena mengikutsertakan pihak-pihak yang
berkepentingan.
 Pengajar akan mendukung rencana, yang dalam pengembangannya mereka ikut berperan
serta.
 Struktur rencana yang terbuka memungkinkan adanya penyesuaian sehingga rencana
tersebut tidak mudah kadaluarsa.

Rencana pengajaran tertutup sering gagal mencapai tujuan. Keinginan untuk membuat
ketentuan-ketentuan yang ketat dan tidak dapat diubah menjadi bersifat mengikat dalam
proses pengajaran. Sebaliknya rencana pengajaran terbuka memiliki peluang untuk
ditanggapi secara serius. Alternative yang diberikan dalam batas-batas tertentu
memungkinkan pengajar untuk mengatur sendiri perinciannya.

Definisi kurikulum

Kata kurikulum melukiskan proses belajar yang komplek dan menyeluruh. Didalamnya
dianalisa tidak hanya materi pengajaran dan pengaturannya saja, tapi beberapa bidang yang
bertalian dengan pengambilan keputusan tentang kurikulum yaitu sasaran, subjek, dan
organisasi pengajaran.

Kurikulum yang baik harus dapat memuat informasi terhadap pertanyaan-pertanayaan


berikut :

 Untuk siapa tindakan pendidikan ritujukan?


 Sasaran serta kualifikasi mana yang hendak dicapai?
 Substansi apa yang harus dipelajari?
 Metode dan alat bantu mana yang hendak dipakai?
 Bagaimana menguji hasilnya?
Model pengembangan kurikulum

Tahap pengembangan kurikulum dapat dijelaskan pada lingkaran pertama, yaitu :

1. Analisa situasi
 Orientasi pada pihak yang belajar dan kebutuhannya, pendidikan sebelumnya, bakat
dan kemampuan belajar, kesempatan kerja.
 Orientasi pada kebutuhan masyarakat, misalnya kebutuhan tenaga ahli, pembangunan
daerah.
2. Prasyarat
 Penentuan tingkat pendidikan, test-test dan ujian akhir.
 Pengakuan untuk memeperoleh dukungan.
 Menjalin pertalian anyara kurikulum dengan system pendidikan.
3. Analisa didaktik
 Pemilihan dan pengesahan substansi pengajaran.
 Pemilihan pangkal tolak didaktik.
4. Sasaran-sasaran proses belajar dan pendidikan
 Perumusan sasaran belajar serta kualifikasi.
 Penyusunan sasaran belajar.
5. Organisasi proses belajar dan mengajar
 Pembentukan tahapan belajar
 Penyusunan rencana-rencana media dan metode
 Penyusunan jadwal
6. Proses mengajar dan belajar
 Pengajaran dilaksanakan
 Kursus berjalan
7. Penilaian
 Proses belajar diuji
 Efektifitas cara penerapan kurikulum diuji
 Keselarasan substansi dan sasaran diteliti

3.2 Perumusan sasaran-sasaran proses belajar

Tujuan belajar

Tujuan belajar adalah semua yang sudah harus dipelajari pelajar setelah menempuh suatu
proses pengajaran tertentu yang berjalan menurut perencanaan.

Taksonomi tujuan belajar

Table berikut menjelaskan taksonomi tujuan belajar secara singkat :


Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan tujuan belajar :

1. Substansi pelajaran, yang ditentukan oleh profil kejuruan, deskripsi pekerjaan, materi
pengajaran yang relevan
2. Karakteristik pelaku
3. Metode belajar
4. Media belajar

3.3 Pemilihan dan pengaturan substansi-substansi pelajaran

Pemilihan substansi adalah masalah yang sangat penting dalam merencanakan kursus
pendidikan. Ini disebabkan karena muncul pertanyaan dari mana substansi diambil. Dalam
perkembangan disukusi mengenai kurikulum ternyata muncul tiga sumber dari mana
substansi dapat diambil, yaitu :

1. Ilmu pengetahuan dan teknologi


2. Kebutuhan masyarakat
3. Kebutuhan individu

Orientasi pada kejuruan dan lapangan kerja

Dalam mengembangkan atau mengolah garis-garis pedoman pendidikan kejuruan teknik,


perlu dipertimbangkan kebutuhan-kebutuhan individu dan masyarakat, dan substansi harus
dipilih dengan memperhatikan tingkat pengetahuan sains dan teknik. Hal ini untuk
memperoleh informasi setepat mungkin mengenai lapangan kerja yang nantinya akan
ditempati siswa, karena disitulah akan terjadi perjumpaan antara kepentingan sosial dan
individual.

Pengaturan didaktik dengan rujukan bidang kejuruan

Agar diperoleh kedekatan dengan praktek kejuruan, pengajaran dibidang kejuruan


sebaiknya menggunakan metode tugas proyek. Dalam melaksanakan proyek-proyek berupa
usulan kongkret yang khas bagi profesi kejuruan, akan nampak apakah rencana pendidikan
diatur dengan corak yang memungkinkan peserta didik melakukan tugas kejuruan dan teknik
yang penting atau tidak. Perlu diperhatikan agar hasil pekerjaan yang dilakukan dapat
berguna bagi masyarakat dan tidak sia-sia.

3.4 Bentuk-bentuk pendidikan teknik dan kejuruan

Pendidikan formal dan non formal

Disisni pendidikan formal ditafsirkan sebagai segala-galanya yang diberikan sekolah


umum. Sistem sekolah umum dari tingkat dasar sampai tinggi umumnya dikarakteristikkan
sbb :

 Struktur tingkat yang berurutan


 Kerukuluma yang diselaraskan
 Persyaratan untuk masuk
 Pemberian hak keabsahan
 Pengerahan tenaga pengajar terdidik

Pendidikan non formal didefinisikan sebagai semua tindakan pendidikan yang tidak
dilangsungkan di sekolah umum. Seringkali badan-badan pendidikan non formal adalah sbb :

 Departemen yang bukan departemen yang menangani persekolahan


 Organisasi-organisasi bantuan nasional dan internasional
 Organisasi-organisasi majikan dan karyawan
 Pusat-pusat keagamaan
 Pengusaha swasta

Pendidikan formal dan in formal

Pendidikan formal wujudnya berupa bentuk pendidikan yang berlangsung di sekolah,


walau tidak terbatas disitu saja dengan orang-orang yang dididik untuk keperluan itu
(pengajar), dalam ruang kelas, dengan alat-alat bantu, pada waktu tertentu, dan dengan
substansi dan tujuan tertentu yang dapat dikontrol (kurikulum). Pendidikan formal dalam
garis besarnya dapat dikarakteristikkan sbb :
 Terencana, sistematik
 Diniatkan
 Berorientasi pada sasaran

Pendidikan informal pada hakekatnya dapat dikatakan bahwa pendidikan berlangsung


disetiap bidang kehidupan, dalam keluarga, di antara teman-teman, saat sedang bekerja, dsb.
Pendidikan informal memiliki karakteristik proses belajar sbb :

 Tidak terencana, tidak sitematik


 Sering diniatkan dengan tidak sengaja
 Jarang berorientasi pada sasaran

Belajar di tempat kerja dan sekolah

Keterlibatan serempak antaran pabrik dan sekolah dalam situasi kejuruan yang realistic
menggugah kesadaran bahwa kedua-duanya berperan serta dalam tugas bersama. Dalam
pendidikan di pabrik, pengajar ditenpat pertama merupakan pakar serta wakil suatu bidang
kejuruan sasaran pelajar. Sedang di sekolah pengajar sebagai pendidik, jarang sekaliada
jalinan dengan bidang kejuruan sasaran pelajar. Bentuk pendidikan kejuruan yang paling
dikenal adalah memberiikan fungsi ganda, yaitu sebagai tempat bekerja dan belajar.

Hal-hal positif pendidikan di pabrik :

 Pendidikan berlangsung dengan kenyataan praktek


 Proses belajar berlangsung di tengah-tengah keseriusan
 Biaya pendidikan lebih rendah, mengingat ikut bekerja

Hal-hal positif pendidikan kejuruan di sekolah :

 Pendidikan terencana dan berpedoman prinsip-prinsip pedagogic


 Pendidikan memungkinkan penerapan beraneka ragam
 Pembiayaan pendidikan dipikul masyarakat
Pengenalan tempat kerja dan praktikum

Widyawisata ke pabrik

Widyawisata ke pabrik merupapkan sarana metodik yang baik untuk memaparkan dengan
jelas masalah-masalah kejuruan yang penting dengan car mengkonfrontasikan peserta didik
dengan realitas kerja. Penyelidikan yang dilakukan hanya pada satu bidang saja. Hal ini
karena terbatasnya waktu yang tersedia sehingga tidak mungkin semua dapat diselidiki. Ada
faedahnya bila peserta didik dipecah menjadi kelompok-kelompok untuk kemudian
melakukan penelitiannya sendiri. Prasyarat selanjutnya demi keberhasilan adalah
keterbukaan pimpinan pabrik terhadap proses belajar yang berorientasi pada praktek.

Teori dan praktek dalam pendidikan kejuruan

Penentuan perimbangan antara teori dan praktek dalam program pendidikan kejuruan
bukanlah hal yang mudah, tidak ada data ilmiah yang tepat mengenai perbandingan teori dan
praktek. Tidak mungkin diungkapkan perumusan yang berlaku umum mengenai
perimbangan waktu yang paling berhasil guna antara pengetahuan umum, pengajaran
kejuruan dan praktek kejuruan, karena kondisi-kondisi regional, tujuan-tujuan kebijakan
pendidikan serta taraf kesulitan bidang kejuruan terlalu berbeda. Tapi walu demikian secara
berhati-hati masih bbisa dipakai perbandingan berikut sebagai pedoman untuk pendidikan
kejuruan modern, dengan persyaratan teori kejuruan yang biasa :

Pengetahuan umu = 1 jam

Teori kejuruan = 2 jam

Praktek kejuruan = 6 jam