Anda di halaman 1dari 22

PENGEMBANGAN KALIGRAFI UNTUK OPTIMALISASI PERANAN BAHASA, SASTRA, DAN BUDAYA ARAB

Amri Yahya·

1. Pendahuluan

Salah satu gejala penting sepanjang s~ jarah persebaran kebudayaan Arab dl seluruh permukaan bumi ialah pemunculan kaligrafi Arab yang sangat kuat dalam lingkungan kebudayaan bumiputera. Hal ini dapat ditemukan pada berbagai wilayah, dengan berbagai versi, dan dengan aneka cara penerapan. Gejala kaligrafi tersebut - bersamaan dengan unsur-unsur lain peradaban--- menghantarkan kebudayaan Arab menjadi suatu yang tidak asing bagi masyarakat setempat (Bukchardt, 1976: 40). Di Indonesia, gejala itu telah muncul sejak masa yang sangat awal dan selanjutnya terlihat pada hampir setiap objek, baik yang berkaitan langsung dengan keilmuan seperti perangkat tulis baca maupun pada benda dan bangunan yang menunjang peribadatan. Bahkan, kaligrafi telah dijadikan sebagai simbol diri seperti tanda tangan, dan subject matter yang menyertai berbagai omamen yang terpahat pada batu nisan (Sijelmessi, 1976; Gallop, 1991; Ali, 1994).

Eksistensi kaligrafi yang kuat itu, pada penghujung abad ke-20, diperluas pula dengan kehadirannya dalam khazanah kesenirupaan kontemporer (Dan Soewaljono, 1980:2) sehingga menjadikan unsur kebudayaan Arab yang satu ini memperoleh jaIan perkembangan dan masa depan yang baru. Kaligrafi Arab, dalam konteks kesenirupaan telah merebut apresian yang cukup luas sehingga dipelihara, terutama oleh masyarakat pengguna aksara bersangkutan, yang pada umumnya adalah kaum muslimin. Akan tetapi, agar tidak berhenti di tengah jalan, gejala positif ini perlu ditopang

oleh dukungan yang melibatkan berbagai pihak secara komprehensif.

2. Makna dan Arti Penting Kaligrafi

Kaligrafi adalah istilah yang berasal dari kata ka/io dan graphia dalam bahasa Yunani (Smith, 1984:38), yang secara umum diartikan sebagai tulisan yang indah. Dalam bahasa Inggris kaligrafi disebut sebagai calligraphy, sedang dalam bahasa Arab lebih dikenal dengan sebutan khathth (Israr, 1978:51). Dalam lingkungan kebudayaan, kaligrafi dapat disoroti melalui dua aspek yaitu dari sisi kaligrafi sebagai suatu aksara yang menjadi simbol untuk penulisan huruf atau kata dan dari sisi keberadaannya sebagai hasil dan proses estetika.

Sebagai aksara untuk penulisan huruf, kaligrafi memiliki kaitan erat dengan alam pikiran dan sebagai hasil dan proses estetika, kaligrafi berkaitan erat dengan kondisi estetika yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kaitan ini dapat dijelaskan melalui pemahaman bahwa tulisan kaligrafi, sebagaimana tulisan pada umumnya, adalah suatu karya yang mampu menampung gagasan dari penulis atau pelukisnya. Dalam keadaan tersebut, kaligrafi berfungsi sebagai wahana untuk menyimpan, mengawetkan, serta mengungkapkan kembali gagasan dan pemikiran dari seseorang ataupun suatu komunitas tertentu.

Gagasan, pikiran, dan daya estetis yang mampu diungkapkan oleh kaligrafi itu mencakup aspek yang sangat luas dan hampir tak terbatas. Batasan daya tampungnya hanya ditentukan oleh keterbatasan yang terdapat pada pemikiran, gagasan, dan imaji-

• Doktor, stat pengajar Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

nasi itu. Dalam kondisi tersebut, kaligrafi memiliki kekuatan maksimal untuk tampil sebagai salah satu gejala kebudayaan yang representatif dan sangat membantu untuk menemukan bukan saja kecenderungan-kecenderungan yang terjadi dalam suatu kebudayaan, tetapi juga menemukan pertautan antara lingkungan kebudayaan yang satu terhadap yang lainnya.

Kenyataannya, kaligrafi memiliki lahan perkembangan yang sangat subur dalam setiap kebudayaan yang mempunyai aksara khusus seperti dalam lingkungan masyarakat di India, Jepang, Cina, Jawa, Arab, dan lain-lain (Stevens, 1984; Sijelmessi, 1976).

Gambar 1

Pesan dari Jepang: Ja/an Tuhan sangat dekat tetapi Manusia se/a/u Menjauh

Sebagaimana ditemukan dalam peninggalan-peninggalan sejarah, terlihat hampir setiap aksara telah menerima usaha pengembangannya dalam bentuk kaligrafis. Hal ini dapat ditemukan pad a prasasti yang menuliskan perjanjian ataupun mengungkapkan statement tertentu yang berkenaan dengan suatu kekuasaan. Ada pula kaligrafi yang dituliskan pada bangunan-bangunan suci dan tempat pertemuan umum, dan tldak jarang pula tulisan yang berbentuk kaligrafi ditemukan dalam fungsinya yang amat sakral, yaitu sebagai bag ian dari mantera seperti tulisan huruf Manu dari Tibet, tulisan Kanji dari Jepang, atau yang lain.

Sebagaimana halnya dengan kaligrafi aksara lainnya, kaligrafi yang menggunakan huruf Arab telah mengemban fungsi kebudayaan dan religiusitas yang sangat luas (Siradj uddin, 1991). Oleh karena fungsi religiusitasnya yang sangat luas itulah ia seakan-akan tidak dapat dipisahkandari sejarah dan kebudayaan Arab. Keberadaan agama Islam yang menggunakan aksara Arab sebagai standar pokok tulisannya mendorong pula perkembangan dan persebaran kaligrafi yang menggunakan aksara Arab atau kaligrafi Arab sampai jauh.

Tiap-tiap tempat, secara kreatif, melakukan pula pengolahan sesuai dengan lingkungan pribumi yang bersangkutan sehingga variasinya menjadi semakin lebih kaya seperti aksara Taus yang dikaitkan dengan fantasi sufi Persia tentang burung merak (Sijelmessi, 1976; 8akhtiar, 1976: 114), atau di Jawa ungkapan ketauhidan pada AIQuran surat AI-Ikhlash (112): 1-4 dilukis dalam bentuk tokoh wayang Semar yang khas.

Karena kaligrafi memiliki kaitan erat dengan suatu gagasan, sejak pengolahan kaligrafi Arab berada di tangan kaum muslim in, telah terjadi hubungan yang sangat erat antara aksara Arab dengan gagasan kaum muslimin. Hubungan ini lebih lanjut mengakibatkan seringkali terjadi pencampuran antara kaligrafi Arab dengan kaligrafi Islam. Annemarie Schimmel, peneliti tasawuf yang banyak mengkaji budaya Arab dan Persia klasik membuat batasan yang patut menjadi acuan. Menurutnya, apabila tulisan indah itu menampilkan ayat AIQuran, AI-Had its, ungkapan hikmah dan

lain-lain yang merupakan ajaran Islam rnaka kaligrafi tersebut secara khusus dinamakan sebagai kaligrafi Islam (Husain, 1988: 1). Batasan ini membuka pada penjelasan lebih lanjut bahwa apabila kaligrafi tersebut tidak berkaitan dengan ajaran Islam, ia

merupakan kaligrafi Arab biasa. Hal ini sejalan dengan definisi umum yang diberikan oleh Muhammad Sijelmessi dan Abdulkabir Khetibi (Sijelmessi, 1976:20) bahwa kaligrafi Arab pada umumnya (termasuk kaligrafi Islami) ialah

~

~ ..



.

J

..

Gambar2

Fantasi Burung Merak: Nun, Lam, Alit, Ba, Alif Maksura

Gambar3

Wayang Semar: AI-Quran Surat AI-Ikhlash

Humaniora Volume XIII, No. 212001

an art which is conscious founded upon a code of geometric and decorative rules; an art which, in the patterns which it creates, implies a theory of language and of writing. This art starts off as part of the linguistic structure and institutes an alternative set of rules, derived from languages but dramatizing and duplicating it by transposing it in to visual terns."

Batasan di atas sekaligus menggarisbawahi berbagai komponen kesenirupaan, kebahasaan, dan aktivitas mental yang terkait dalam pembuatan kaligrafi.

Proses kreatif dengan memperketat pertimbangan linguistik serta memperhatikan aturan geometris dan dekoratif sebagaimana diungkapkan oleh Sijelmessi dan Khatibi di atas sangat tepat bila diterapkan dalam fungsinya sebagai unsur dekorasi dan media komunikasL Akan tetapi, kaligrafi Arab mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan lebih luas dan sekedar unsur dekorasi dan media komunikasi karena, sebagaimana dikemukakan oleh pengamat senirupa, Dan Soewarjono (1980: 3) , kaligrafi Arab sebagai karya seni rupa dapat mencapai harkatnya sebagai seni murni. Inilah potensi yang perlu diperhatikan lebih serius pad a masa depan.

3. Pengembangan Kaligrafi Arab

Perkembangan Kaligrafi Arab telah terjadi seiring dengan sejarah aksara Arab sendiri. Huruf Arab telah memiliki asal usul kesejarahan yang sangat dini, bahkan menurut beberapa sumber bahwa aksara Arab telah memulai pertumbuhannya sejak keberadaan manusia pertama. Melalui jalur Semit yaitu Sam putera Nuh dan setelah berpecah dengan bahasa Ibrani (Tim 00- sen Perjaniian Lama, 1988:19), aksara ini selanjutnya lebih dipelihara dalam lingkungan masyarakat yang sekarang dikenal sebagai bangsa Arab dan menempati kawasan Timur Tengah. Bangsa Arab mengakui bahwa tempat tinggal mereka dewasa ini adalah tempat bangsa Semit berasal.

Selanjutnya, fakta yang cukup awal tentang kaligrafi Arab ditemukan pada prasasti tulisan tangan Dzu Shafar yang mengirim

hulubalang kepada raja Yusuf as. pada masa kelaparan yang dahsyat (NadWi, 1985: 19). Prasasti yang ditulis sangat indah itu menunj ukkan salah satu bukti bahwa kaligrafi Arab telah dikembangkan jauh sebelum dimulai hitungan tahun Masehi. Selanjutnya, kaligrafi ini mencapai puncak perkembangannya setelah masa kedatangan agama Islam. Perkembangan kaligrafi yang mengikuti penyebaran ajaran dan tradisi Islam menimbulkan kesan khusus yang menyebabkannya diidentikkan dengan keberadaan kaum Muslimin. Kesan khusus tersebut adalah wajar mengingat dalam banyak hal, terutama dalam konteks perkembangan keilmuan dalam lingkungan kaum Muslimin selalu ditopang oleh penggunaan aksara Arab. AI-Quran mulia kitab suci kaum muslimin, sebagaimana diungkapkan dalam QS Yusuf (12) : 2 diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Selain itu, kitab-kitab hadis, serta pelajaran keislaman -terutama yang konvensional dan klasik- ditulis pula dengan menggunakan aksara Arab. Demikian pula seluruh sendisendi agama Islam yang paling fundamental tetap menggunakan bahasa Arab sebagai wahana penuturan dan acuannya.

Bagi kaum muslimin yang berada di Indonesia serta kawasan sekitarnya, termasuk Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam, aksara Arab bukan barang baru lagi. Mereka telah mengenalnya sejak mereka mengenal agama Islam. Di samping untuk keperluan tulis baca AI-Quran, AIHad its, dan lainnya, sejak lama aksara Arab dipergunakan untuk menuliskan materi pelajaran, catatan pribadi, undang-undang, naskah perjaniian resmi dalam bahasa setempat, tulisan mata uang logam, stempel, kepala surat, dan sebagainya, ditulis dengan menggunakan bahasa setempat. Gejala tersebut berlaku hampir pada seluruh kepulauan Nusantara. Sebagian berkas-berkas itu ikut digelar dalam suatu Pameran Surat Emas Raja-raja Nusantara yang diselenggarakan di Yogyakarta beberapa tahun lalu, serta oleh Ananbel Teh Gallop, dihimpun dalam satu buku khusus yang diterbitkan sepuluh tahun lalu (Gallop, 1991:10; Ali, 1994). Aksara Arab dengan bahasa setempat di kawasan tersebut, kemudian dikenal sebagai huruf Arab Mela-

•' .

. .

~,r"·! .. i'-'

....... ',;.

yu, Arab Jawa, atau ada pula yang menyebutnya sebagai Arab Pegon.

Sesuai dengan sifat umum yang menjadi karakter tulisan indah, sebagaimana disebutkan terdahulu, kaligrafi Arab dikembangkan pada dua aspek sekaligus. Aspek pertama adalah pengembangan terhadap pili han ungkapan indah, penuh hikmat, bersumber dari kitab suci, hadis Rasulullah saW., ucapan para sufi, penyair, filsuf, juga doa-doa kaum muslim in. Aspek kedua ialah pengembangan terhadap bentuk (flSik) aksara dalam kerangka kesenirupaan. Dalam konteks pengembangan sebagai karya kesenirupaan atau bersifat visual art, kaligrafi memiliki peranan yang sangat penting, terutama menjadi ajang berkreasi bagi pelukis muslim yang ragu menggambar makhluk hidup.

Gambar4

Kufi_ Bentuk bersudut yang berujung pada bunga-bunga

Akan tetapi, keunggulan kaligrafi Arab tentunya bukan terletak pada keterbukaannya menampung 'pelarian'. Keunggulannya justru terletak pada karakter fisikoplastisnya yang luwes sehingga melahirkan berjuta kemungkinan dan variasi. Terhadap karya lain, pola geometris dan lengkungan ritmis pada kaligrafi Arab mengawetkan sekaligus memberikan inspirasi terus-menerus terhadap karya seni rupa lain di lingkungan kaum muslimin sendiri. Kaligrafi Arab, sebagaimana diungkap Quresyi (1988: 32) memelihara kaidah bentuk dan terkadang memberikan makna tunggal terhadap jutaan fakta seni rupa yang tersebar pad a berbagai komunitas muslim di berbagai pelosok dan penjuru dunia.

Sambil beradaptasi dengan variasi lokal, keberadaan lengkungan ritmis dan pola geometris itu masih tetap terasa kehadirannya dalam ornamen, kubah, mihrab, mimbar masjid-masjid di berbagai penjuru dunia. Selain variasi lokal, pada semua paparan kaligrafi Arab ditemui jejak universal, yaitu suatu gaya yang lebih menggunakan garis lurus vertikal dan bentuk bersegi ataupun bersudut kemudian berakhir pad a wujud flora seperti pada kufi.

Yang secara ekstrim tetap mernpertahankan lengkungan ritmis terlihat pada karakter naskhi, tsu/uts, serta diwani. Gaya riq·iy menampilkan kesan tangkas, tetapi tetap serius. Variasi ornamental pad a kaligrafi Arab justru menjadi bagian dari data bagi sejarawan seperti Hoesein Djajadiningrat sebagai salah satu dasar berpijak menelusuri identifikasi historis (Salam, 1960: 6). Bagi sejarawan, karakter huruf termasuk karakter yang terdapat pada kaligrafi, menjadi bahan informasi yang pokok. Dengan melihat gaya tulis yang diterapkan pad a aksara dan cara penulisan yang terdapat pada suatu data sejarah, dapat ditelusuri beberapa identitas penting lain di sekitar waktu dan para penulisnya.

4. Kaligrafi Tulis dan Lukis

Sebagai gejala peradaban yang telah melembaga menjadi suatu subjek atau disiplin kajian tersendiri, kaligrafi Arab telah melibatkan pendukung dan eksponen yang cukup luas. Selanjutnya bidang ini berkembang menjadi kaligrafi tulis dan kaligrafi lu-

kis. Kaligrafi tulis adalah kaligrafi yang dibuat menurut ketentuan serta aturan baku yang bersifat standar, resmi, dan cukup mengikat, termasuk dalam pembakuan itu adalah teknik penulisan, gaya tulisan, serta tipologi (huruf) yang dihasilkan (Amri Yahya, 2000: 11). Kaligrafi jenis itu disebut sebagai kaligrafi tulis karena mengandalkan tulisan atau aksara dalam membuat kornposisi untuk mencapai keindahannya. Dalam keadaan tersebut, dipaparkanlah keindahan huruf sebagai suatu susunan maupun penyajian lain berupa kata-kata atau kalimat agar menjadi simetris dan melahirkan efek yang bersifat sugestif. Sesuai dengan kondisi huruf dan tata bahasa Arab itu, dalam mempelajari kaidah kaligrafi tulis ini diterapkan aturan-aturan khusus sesuai dengan aturan yang berlaku dalam mempelajari huruf yang bersangkutan sehingga proses pelatihan menjadi lebih efektif. Blasanya dimulai dengan pengenalan terhadap identitas dan karakter setiap aksara, dilanjutkan dengan pembuatan huruf tunggal (mandiri) yang belum disambung.

Dari lingkungan kaligrafi tulis ini muncul tokoh-tokoh yang bergiat mencetak prestasi dan jejaknya masing-masing. Para tokoh kaligrafi tulis ini sangat berjasa menyempurnakansistem penulisan aksara Arab dari yang semula polos tanpa titik, harkat, sampai pada pembakuan terhadap karakter huruf Arab itu. Karena pembakuan karakter itulah pada masa mutakhir, masyarakat kemudian mengenal berbagai karakter seperti tsuluts, kuti; naskhi, farisi, andalusi, ta 'iliq, taus, badrul kamal, rihani, hilali, mu'in, tugra, diwani, riq'iy, diwani jali, muhaqqaq, bihar, wilayat, zulfi arus, taj, sumbuli, mansub al-faiq dan sebagainya. Untuk mendukung pembakuan ini, diciptakan pula alqalam al-sittah (Sirajuddin, 1991; Sijelmessi, 1976; Safadi, 1978).

Di sam ping kaligrafi tulis, berkembang pula kaligrafi lukis. Kaligrafi lukis ialah seni lukis yang menampilkan aksara Arab sebagai sUbject-matter utuh ataupun sebagian, atau dengan mengambil hanya beberapa huruf saja dalam khazanah hijaiyah (Yahya, 2000:13). Dengan demikian kaligrafi lukis ini adalah kaligrafi yang telah mengalami pembebasan dari ikatan mutlak kaidahkaidah, rumusan-rumusan yang menjadi patokan sebagaimana dilakukan dalam

pembuatan kaligrafi tulis. Pada praktiknya, pembuatan kaligrafi lukis ini menjadikan pelukisnya lebih leluasa karena mereka dibebaskan dari berbagai ikatan-ikatan baku seperti pada kaligrafi tulis. Dalam proses tersebut, ada pel uk is yang menggarap karyanya dengan cara berangkat dari bentuk yang sudah ada secara baku (seperti tsuluts, kufi, dan seterusnya). Bentuk yang sudah baku ini kemudian di-stilisasi (dibuat menjadi lebih bergaya) sedemikian rupa sehingga keluar dari batas-batas yang ditentukan oleh kaidahnya semula sebagai kaligrafi yang baku. Cara seperti ini biasanya dilakukan dalam kerangka menemukan keharmonisan dengan lukisan yang menyertai kaligrafi yang hendak ditampilkan. Akan tetapi, cara ini tidak mutlak karena terkadang lukisanlah yang· disajikan dengan penampilan yang menyesuaikan dengan sajian kaligrafi.

• All ,

-· .... cJ

-.MiII/i

--. Ra J

, All.

U 1.1 •• /i .... -

J Ra.-

J Ra.-

/iJIiID.

cJ -

, -

GambarS

Puteri Merong: Pemyataan estetik kalimat syahadat

If'·

.

",.,.

Seiring dengan perkembangan Islam, kaligrafi Arab terjadi pula di Indonesia. Baik kaligrafi Arab sebagai kaligrafi tulis maupun sebagai kaligrafi lukis, telah menemukan perkembangannya di Indonesia. Masyarakat Nusantara, bukan saja menerima secara pasif atas kehadiran aksara Arab dengan kaligrafinya. Dalam perspektif alam pikiran lokal, pengolahan terhadap kaligrafi itu tampak pada peninggalan sejarah peradaban berupa teks surat dan kitab, atribut kekuasaan, perlengkapan perang, masjid, batu nisan, dan sebagainya. Di Aceh, bentuk senjata unik yang sangat terkenal dengan sebutan rencong, adalah hasil apresiasi budaya setempat terhadap kaligrafi Arab. Bentuk rencong dari pangkal gagang sampai ujung mata tajamnya adalah manifestasi dari bismil/ah. Kata ini adalah kata pembuka dan pemula untuk mengawali setiap kegiatan kaum muslimin. Di Yogyakarta, ukiran puteri merong yang terdapat pada Bangsal Kencana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, adalah perwujudan kaligrafis dua kalimat syahadat (asyhadu an laa i/aaha il/al/aah wa asyhadu anna muhammadar rasuulul/aah) dua kalimat suci yang menjadi inti keislaman. Ada pula perwujudan kaligrafi yang disajikan dalam bentuk buah waluh (semacam buah semangka) dan umpak (bertingkat-tingkat).

6. Usaha Pengembangan Kaligrafi Arab

Dalam kaitannya dengan peningkatan sumber daya manusia, pengembangan kaligrafi Arab kiranya perlu dilakukan dalam konteks kesenirupaan. Seni rupa, sebagai bag ian dari kebudayaan, merupakan suatu proses dan usaha untuk mengukuhkan keutuhan pribadi manusia. Hal ini sesuai dengan harapan untuk membina manusia seutuhnya, bukan manusia parsial yang hanya memiliki satu dimensi, seperti politik saja, ekonomi saja, dan sebagainya. Untuk itu, cara yang sang at efektif ialah ditempuh melalui pendidikan. Pendidikan, secara umum dipahami sebagai usaha mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, maupun pengajaran dan latihan untuk memenuhi peranan di masa depan. Dengan mengacu kepada kebudayaan yang diwariskan serta keseniru-

paan yang tengah berkembang dalam masyarakat mutakhir, pendidikan kaligrafi dapat diselenggarakan.

Sehubungan dengan itu, sambil memanfaatkan potensi yang ada, secara kritis lembaga pendidikan, terutama lembaga pendidikan kesenirupaan dan keislaman, mempertimbangkan pula dinamika yang terjadi dalam sejarah kesenirupaan mutakhir. Dengan demikian, makna kebudayaan yang menjadi acuan akan lebih aktual, Selama ini, pembinaan terhadap kaligrafi Arab pada umumnya berjalan menurut tradisi yang diterima secara turun-temurun. Dalam tradisi ini yang ditekankan biasanya adalah pembinaan kaligrafi yang bersifat baku (kaligrafi tulis). Pengajarannya menerapkan disiplin yang sangat ketat dan cenderung mekanis sehingga tampak monoton. Kecenderungan ini menjadi terasa amat kaku bila dikaitkan dengan semangat berkesenian yang menekankan pada semangat kebebasan dan kreativitas. Kondisi seperti ini menjadi sangat kontras bila dikaitkan dengan perkembangan yang terjadi dalam sejarah seni rupa di tanah air, yang memperlihatkan pemunculan kaligrafi Arab yang telah mencapai taraflukis dalam maknanya yang modern.

Sementara itu, di lingkungan pendidikan kesenirupaan, perhatian terhadap kaligrafi ini masih sangat langka. Syukurlah, sejak beberapa waktu lalu Universitas Negeri Yogyakarta telah mulai menempatkan kaligrafi ini dalam kurikulumnya. Di lingkungan ini, kaligrafi dikaji dalam konteks kesenirupaan.

Kaligrafi Arab, baik kaligrafi tulis maupun kaligrafi lukis semuanya bertumpu pada asas keindahan bentuk. Karakter garis dihadirkan tanpa terputus membuat abstraksi dengan efek yang tetap berbasis pada dua syarat elementer seluruh karya seni rupa yaitu fisikoplastis dan idioplastis. Sementara itu, huruf Arab yang memiliki bentuk sesuai dengan posisi yang diembannya (huruf awal, tengah, akhir), dan terikat pula dengan prinsip gramatika (nahwu dan sharaf) sehingga apabila terjadi sedikit pergeseran tanpa kontrol dalam penempatannya dapat mengakibatkan perubahan makna. Dua kenyataan ini dapat menjadi problema dalam pengembangan kaligrafi Arab. Untuk mengatasi itu, pembinaan ka-

ligrafi Arab tidak hanya mengutamakan faktor estetis tetapi idealnya memperhatikan pula pembinaan terhadap aspek gramatika. Masalah ini merupakan problematika faktual yang menuntut penyelesaian secara integratif.

Dukungan pendidikan formal tentu perlu diperkuat oleh dukungan dialog dengan pendidikan informal seperti sanggar, kelompok-kelompok minat, dan sebagainya sehingga terjadi proses yang lebih terbuka terhadap berbagai cara dan pola perkembangan sehingga masa depan kaligrafi menjadi lebih terbuka.

Kesimpulan

Kaligrafi, sebagai salah satu perwujudan peradaban Arab, telah berkembang dan menjadi salah satu gejala yang merepresentasikan berbagai keunggulan dalam sistem kebudayaan Arab, khususnya budaya tulis baca. Dalam perkembangannya mengiringi penyebaran agama Islam, aksara ini telah mengalami pengolahan-pengolahan sehingga mencapai disiplin pokok sebagai kaligrafi tulis dan kaligrafi lukis. Pertemuan kaligrafi tulis dan lukis dengan aneka budaya setempat melahirkan pula karya-karya yang lebih unik dan khas. Akibatnya, setelah melampaui waktu yang sangat panjang, pertemuan tersebut menghasilkan perwujudan karya seni yang sangat kaya dengan variasi dan isi.

Kekayaan tersebut perlu dipertimbangkan dalam usaha pembinaan manusia seutuhnya dengan menyertakannya dalam sistem pendidikan nasional. Dengan cara tersebut, bukan saja telah dilakukan pengembangan dan pengawetan kritis terhadap salah satu warisan dunia, tetapi juga memberikan orientasi lebih religius terhadap pengembangan estetika. Bagaimanapun juga, kaligrafi Arab pada umumnya mengandung pesan-pesan keagamaan.

DAFTAR PUS.TAKA

,

,

Ali, Zakaria,1994 Islamic Art: Southest Asia 830 A.D. - 1570 A.D., Kuala Lumpur, Ministry of Education Malaysia, Dewan Bahasa dan Pustaka.

Bachtiar, Laleh, 1976, Sufi; Expression Of The Mystic Sufi, London, Thames and Hudson.

Buckhardt, Titus, 1976, Art of Islam: Language and Meaning, World of Islam Festival Publishing.

Dan Soewarjono, 1980, Kaligrafi Sebagai Ekspresi Estetik Seni Rupa, Katalog Pamer an Seni Lukis Kaligrafi Indonesia, Jakarta, Muktamar Media Massa Islam.

Gallop, Ananbel Teh dan Bernard Arps, 1991, Golden Letters: Writing Tradition of Indoriesia (Surat-surat Emas: Budaya Tulis di Indonesia); London, The British Library.

Husein, Abdulkarim, 1988, Seni Kaligrafi Khat Naskhi, Jakarta, Pedoman IImu Jaya.

Israr, C., 1978, Sejarah Kesenian Islam, jilid 2, Jakarta, Bulan Bintang.

Nadwi, Saiyid Muzaffaruddin, 1985, Sejarah Geografi AI-Quran, a.b. Ir Jum'an Basalim, Jakarta, Pustaka Firdaus.

Quresyi, Isytiaq Husein, 1988, Seni Rupa Islam, dalam M. Abdul Jabbar Beg, ed. Seni dalam Peradaban Islam, a.b. Yustiono dan Edy Suriyono, Bandung, Pustaka.

Safadi, Yasin Hamid, 1978, Islamic Calli-

graphy, London, Thames and

Hudson.

Salam, Solichin, 1960, Di Sekitar Walisongo, Kudus, Menara.

Sijelmessi, Muhammad dan Abdulkabir Khatibi, 1976, The Splendour of Islamic Calligraphy, London, Thames and Hudson

Sirajuddin AR., D., 1991, Be/ajar Mudah Ka/igrafi, Jakarta, DarulUlem,

Smith, Edward, 1984, Art Therms, London,

. Thames and Hudson.

Stevens, John, 1984, Secret Calligraphy of the East, London, Sambhala Book.

Team Dosen Pe~anjian Lama STT-HBP Pematangsiantar, 1988, Pengantar Bahasa /brani, Jakarta,BPK Gunung Mulia

Yahya, Amri, 2000, Unsur Islami dalam Ornamen Tradisi Putri Merong Keraton Yogyakarta, Juma/ Seni V/V03, Yogyakarta, BP lSI.

ANALISIS STRUKTUR RETORIKA:

ALTERNATIF PEMAHAMAN KOHERENSI WACANA SELEBARAN

PARTAI RAKYAT DEMOKRATIK

Aris Munandar"

A Pengantar

Selebaran Partai Rakyat Oemokratik (PRO) memperlihatkan ciri-ciri khusus sebagai wacana persuasif. Ciri yang menonjol adalah penggunaan judul berbentuk kalimat imperatif yang menyimpang dari kaidah penulisan teks. Judul berbentuk kalimat imperatif itu dimaksudkan untuk mengedepankan daya perlokusi dari tindak ujar yang dilakukannya dalam selebaran sehingga pembaca segera mengetahui keinginan penulis dari dirinya tanpa harus membaca bagian isi terlebih dahulu. Selain itu, selebaran tidak memiliki koherensi yang mudah dipahami akibat penulisan yang kurang cerrnat dan pemanfaatan faktor-faktor ekstemal pembangun koherensi.

Selebaran PRO sebagai wacana persuasif belum pernah diteliti sebelumnya. Penelitian-penelitian tentang wacana persuasif lebih banyak berhubungan dengan wacana iklan, baik dalam media siar maupun media cetak. Penelitian-penelitian tersebut kebanyakan menggunakan pendekatan analisis koherensi,· bukan analisis struktur retorika.

Penelitian anal isis wacana selebaran ini dititikberatkan pad a analisis struktur retorika guna memahami alur gagasan penulis yang sukar dipahami melalui anal isis koherensi. Selain adanya kendala-kendala, hasil analisis koherensi itu juga bersifat superfisial, tidak memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kepaduan gagasan sebagai sarana persuasi. Oleh karena itu, anal isis

struktur retorika ini juga dimaksudkan untuk mengetahui keterkaitan pengaturan alur gagasan dengan strategi persuasi dalam selebaran sebagai wacana persuasif.

Telah terbukti bahwa strategi logika, selain strategi emosional, banyak dipakai dalam wacana-wacana persuasi. Strategi logika lebih banyak bertumpu pad a daya penalaran, yaitu bagaimana menyusun gagasan yang hendak disampaikan dalam pola-pola yang linier sehingga mudah diikuti oleh pembacanya. Strategi emosional lebih banyak mengeksploitasi daya pemikat emosi (emotional appeal) guna mempengaruhi pembacanya.

B. Lanc:lasan Teori

Penelitian ini dilandasi terutama oleh teori koherensi dan struktur retorika.

B.1 Koherensi

Ramlan (1993:1-2) mengemukakan bahwa untuk menandai adanya kepaduan dalam suatu paragraf (kohesi), terdapat unsurunsur kebahasaan yang menghubungkan kalimat-kalimat itu menjadi satu kesatuan, yang disebut penanda hubungan antarkalimat. Adapun penanda hubungan kalimat itu terdiri dari 5 bentuk, yaitu penunjukan, penggantian, pelesapan, perangkaian, dan hubungan leksikal. Oi bidang makna, setiap kalimat dalam satu paragraf menyatakan suatu inforrnasi. Inforrnasi pada kalimat yang satu berhubungan dengan inforrnasi pada kalimat lain sehingga paragraf itu

Sarjana Sastra, Magister Humaniora, staf pengajar Jurusan Sastra Inggris, Fakultas IImu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

membentuk satu satuan informasi yang padu (koherensi) (Ramlan, 1993: 41). Bentuk pertalian antara informasi yang dinyatakan pada kalimat yang satu dengan informasi pada kalimat lainnya adalah: 1) penjumlahan, 2) perturutan, 3) perlawanan atau pertentangan, 4) lebih, 5) sebab-akibat, 6) waktu, 7) syarat, 8) cara, 9) kegunaan, dan 10) penje/asan. Untuk mencapai kekoherensifan yang mantap dibutuhkan pemarkah koherensif atau pemarkah transisi.

B.2 Struktur Retorika

Struktur retorika berkait dengan sifat pengetahuan. Pengetahuan bersifat tidak linier, tetapi begitu hendak disajikan dalam bentuk teks, penulis harus dapat menyajikan pengetahuan (gagasan) yang tidak .Iinier itu ke dalam bentuk linier yang mudah

dipahami (Coulthard dalam Coulthard, 1996 :7). Untuk dapat menyajikan gagasan yang linier, digunakan pola-pola retorika tertentu. Beberapa bentuk atau pola retorika yang banyak dipakai adalah pola umumlkhusus (general/particular) dan pola problem/salusi (problem-solution).

Pola umum-khusus menggunakan dua penendaanutama, khususnya untuk memperlihatkan adanya hubungan umumlkhusus, yaitu enumerables dan matching relations. Yang dimaksud dengan enumerabel adalah bagian pemyataan yang mengetengahkan jumlah atau unsur yang dapat diurai lebih lanjut ke dalam perinciannya, sedangkan matching relations adalah bagian pernyataan yang memuat pemerincian dari 'enumerabel'nya. Contohnya adalah sebagai berikut:

Once upon a time there were three be-

ars (enumerables/general)

father beet', mother beai and baby be-

ar (matched particulars)

(Coulthard dalam Coulthard, 1996:8).

Pernyataan tiga ekor beruang (three bears) merupakan enumerabel karena menunjuk adanya jumlah yang dapat diuraikan masing-rnasing komponen pembentuknya, yaitu beruang 1, beruang 2, dan beruang 3. Pemyataan tersebut juga dapat dikatakan bersifat umum karena kata beruang barn menunjuk kepada satu jenis binatang yang dapat digambarkan dengan lebih spesifik ke

dalam bentuk beruang jantan, beruang betina (berdasarkan jenis kelamin), atau beruang tua, beruang muda (berdasarkan umur), dan lain-lain. Pernyataan bapak beruang, ibu beruang, dan . anak beruang merupakan pernyataan pemerincian pernyataan pada bag ian enumerabel. Ketiganya memiliki kedudukan atau hubungan yang setara, dalam arti tidak ada yang menjadi superordinat bagi yang lainnya.

Pola problem-salusi terdiri atas dua bagian: bagian pertama penyajian masalah, dan bag ian kedua pemecahan masalahnya. Pola ini dapat dijabarkan ke dalam struktur empat bagian, yaitu situasi-masa/ah-solusievaluasi. Situasi dapat berupa penggambaran latar tempat atau latar waktu; masalah merupakan aspek dari situasi yang membutuhkan suatu tanggapan; solusi merupakan tanggapan terhadap masalah (aspek situasi yang membutuhkan tanggapan); dan evaluasi merupakan akibat dari tanggapan yang telah dilakukan.

Hoey (dalam Coulthard, 1996:31) menyampaikan bahwa struktur teks yang mengikuti pola masalah-solusi adalah sebagai berikut.

Situasi

Aspek situasi yang membutuhkan respons Respons terhadap aspek situasi yang membutuhkan respons

Akibat dari respons terhadap aspek situasi yang membutuhkan respons Evaluasi bagi akibat dari respons terhadap aspek situasi yang membutuhkan respons

Namun, tidak tertutup kemungkinan adanya susunan yang bervariasi, misalnya evaluasi dapat mendahului akibat. Pad a teks yang mengandung banyak pemerian (detil), struktur intinya tetap dapat dianalisis mengikuti pola masalah-solusi. Pemerianpemerian yang ada dapat dikelompokkan berdasarkan sifat hubungan antarkalimat yang berdekatan, dengan tetap mengacu pada fungsi-fungsi kalimat yang membentuk struktur masalah-solusi secara menyeluruh. Oleh karena itu, analisis struktur teks dapat diwujudkan dalam bentuk diagram berikut.

A

o

Keterangan:

A-8-C-O menggambarkan fungsi-fungsi kalimat yang membangun struktur retorika secara menyeluruh; a,b merupakan hubungan antarkalimat yang berdekatan; t1,t2.t3,t4 menggambarkan urutan kronologisnya.

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memahami struktur retorika dalam suatu wacana. Yang pertama adalah dengan memproyeksikan wacana ke dalam bentuk dialog, dan yang kedua adalah melalui identifikasi penandaan leksikal. Cara pertama dilandasi oleh anggapan Hoey (Coulthard, 1996:29) bahwa suatu monolog, baik lisan maupun tertulis, merupakan dialog meskipun pertanyaan atau komentar pembaca/pendengamya tidak disertakan secara eksplisit. Meskipun implisit, wacana monolog tetap memberikan indikasi-indikasi yang jelas bagi jawaban-jawabannya. Oleh karenanya, bentuk pertanyaan-pertanyaan sangat berrnanfaat untuk menjelaskan hubungan yang ada antara kalimat dengan konteksnya.

Seperti halnya koherensi dalam teori Ramlan, yang ditandai oleh penanda pertalian inforrnasi antarkalimat, struktur retortka juga memiliki penandaan. 8erkaitan dengan penandaan struktur retorika dimaksud, Hoey (dalam Coulthard, 1996:33) mengemukakan kembali pendapat Winter (1977) bahwa hubungan-hubungan antarklausa dapat ditandai dengan salah satu dari ketiga cara berikut: i) dengan vocabulary 1, yaitu penadaan dengan anak kalimat; ii) denqan vocabulary 2, yaitu penandaan dengan sarana penghubung kalimat yang mencakup konjungsi; dan iii) dengan vocabulary 3, yaitu penandaan dengan satuan-satuan leksikal.

Hal vocabulary 3 sangat penting bagi pemahaman pembaca mengenai bagaimana suatu wacana memberikan penandaan bagi pembacanya mengenai struktur apa yang diikutinya. la mencontohkan pemakaian satuan-satuan leksikal sebagai penanda struktur situasi-problem-solusi-observasievaluasi pada kutipan di bawah ini.

I was on sentry duty. I saw the enemy approaching. To prevent them coming

closer, I opened fire. This way I beat off the enemy attack. (hal. 34)

= (Saya sedang bertugas di pos penjagaan. Tiba-tiba saya melihat musuh mendekat. Untuk mencegah musuh samakin dekat', saya menembakkan senapan saya. Dengan begittl saya menggagalkan serangan musuh.)

Klausa Untuk mencegah musuh semakin dekat1 merupakan penandaan dua-arah. Klausa tersebut menunjukkan bahwa yang muncul pad a bag ian berikutnya merupakan respons dan yang muncul pada bag ian sebelumnya adalah problem. Penandaan tersebut menggunakan leksikon mencegah. Frase dengan begittl juga merupakan penanda dua-arah untuk menunjukkan bahwa apa yang muncul kemudian adalah akibat, sedangkan yang mendahuluinya adalah respons. Oengan demikian respons diberikan penandaan 2 kali.

Pada dasamya teori koherensi Ramlan seirama dengan penandaan dengan Vocabulary 2 model Winter, yaitu penandaan dengan sarana penghubung kalimat yang mencakup konjungsi, sedangkan penandaan Vovabulary 1 model Winter ini sejalan dengan pendapat Ramlan dalam hal menafsirkan pertalian makna yang bersifat implisit (tak berpenanda). Hanya oleh Ramlan, sifat pertalian itu dititikberatkan pada pertalian antarkalimat, sedangkan Winter memandang pertalian itu bisa hadir antarklausa dalam kalimat, maupun antarkalimat. Penandaan dengan leksikal seperti yang dikemukakan oleh Winter, yaitu penandaan dengan vocabulary 3, tidak dikemukakan oleh Ramlan maupun para analis lain.

c. Pembahasan

Analisis struktur retorika memiliki dua manfaat sekaligus. Manfaat yang pertama adalah dapat dipahami bagaimana penulis mengorganisasi gagasannya berdasarkan alur penalaran tertentu guna mempersuasi pembaca, dan yang kedua dapat dipahami fungsi tiap-tiap bag ian wacana itu dalam membangun koherensi wacana secara keseluruhan. Analisis struktur retorika selebaran PRO dilakukan dengan teknik parafrase, proyeksi tanya-jawab, serta teknik sisip sekaligus juga menggabungkan pe-

nandaan koherensi model Ramlan (1993). Bagian data yang dianalisis hanyalah bagian isi karena pada umumnya bag ian isi menduduki fungsi yang paling penting dalam sebuah wacana. Akan tetapi, pada selebaran yang sangat singkat, penyertaan judul dalam analisis terpaksa dilakukan sebagai bentuk pengecualian.

Fungsi masing-masing kalimat dalam membangun struktur retorika keseluruhan wacana tidak lagiterikat pada kesatuan paragrafnya. Oi sam ping itu, kalimat tidak dapat lagi dipandang sebagai kesatuan yang hanya memiliki satu fungsi karena dalam satu kalimat yang memiliki dua klausa, masing-masing klausa dapat memiliki fungsi yang berbeda. Misalnya, klausa inti merupakan penggambaran situasi, sedangkan klausa bawahannya merupakan evaluasi situasi, atau bahkan berfungsi sebagai bagian problem.

Berikut ini disajikan tiga hasil analisis selebaran PRO.

Hasil analisis 1.

REFORMASI BELUM TUNTAS!!!

Salam Oemokrasi, Salam Reformasi TotaL .. I!!

1) Tanggal 21 Mel' merupakan tanggal yang sang at bersejarah bagi perjalanan bangsa Indonesia. 2)Yaitu tanggar [atuhnya simbol rezim tiran, yang otoriter dan keji, sehingga memaksa rezim untuk membuka celah-celah demokrasi. 3)Namun3 semua masih semu', sehingga semua perl'; dirumuskan kembali. 4)Untuk itu6 KPK-PRO Sleman menyerukan kepada seluruh rakyat untuk mendukung peringatan 1 tahun tergulingnya rezim Orde Baru (Soeharto) yang dilakukan oleh mahasiswa bersama buruh, tani, dan kaum miskin kota. 5)Maka7 berkumpullahB dan bersatulah9 bersama:

Sekilas selebaran ini tampak seperf sebuah surat dengan diawali salam pembuka. Seperti lazimnya dalam surat, salam pembuka bukan bagian dari isi surat. Dengan analogi ini maka salam pembuka pada selebaran ini tidak dimasukkan sebagai bagian isi selebaran. Oleh karena itu tidak berfungsi membangun struktur retorika selebaran ini.

Oengan menganalisis penandaan struktur pada selebaran di atas, diperoleh deskripsi sebagai berikut.

Penandaan Situasi

a) Penandaan leksikal

Pada kalimat pertama terdapat tanggal dalam frase tanggal 21 Mei1, dan kata tanggar dalam frase tanggal jatuhnya simbol rezim tiran. Penyebutan tanggal merupakan salah satu cara untuk menandai setting (Iatar), yaitu latar waktu. Latar merupakan bentuk pemaparan situasi. Kalimat 2) memberikan keterangan mengapa tanggal 21 Mei menjadi tanggal yang sangat bersejarah.

b) Penandaan posisi

Kalimat pertama sebuah paragraf biasanya berfungsi sebagai konteks bagi kalimat-kalimat selanjutnya. Posisi tidak dapat dijadikan sebagai patokan karena letak atau urutan masing-masing elemen struktur dapat bervariasi. Oleh karena itu, penandaan posisi tidak dijadikan penandaan utama.

Penandaan Problem

Penandaan problem diperlihatkan oleh penandaan leksikal. Ada beberapa unit leksikal yang mengindikasikan problem, yaitu kata nemun', semu,4 dan perlu5•

a) Kata namun4

Konjungsi ini berfungsi mengontraskan keadaan yang dikemukakan sebelumnya. Klausa namun semua masih semu jelasjelas menandai adanya suatu masalah, sekaligus merupakan pemyataan yang bersifat umum sehingga membutuhkan penjelasan yang lebih khusus pada bag ian berikutnya. Oikaitkan dengan pengontrasan, maka kata semu' juga dapat digunakan sebagai penanda. Kata semu bermakna bukan sebenamya. Oleh karena itu, tidak sesuai dengan cita-cita yang diperjuangkan.

b) Kala peri"

Kata perlu menandai suatu keharusan adanya respons dan dapat diparafrase dengan kata harus untuk memperjelas makna

keharusan. Oleh karena itu, salah satu definisi kata 'per/u' dapat diberikan sebagai 'aspek dari situasi yang membutuhkan suatu respons', sepertl yang telah dirumuskan Hoey di muka (periksa bag ian B.2)

Pada selebaran ini problem tidak diikuti denganevaluasi problem, melainkan serta merta diikuti oleh solusinya, yaitu pada kalimat 4) dan 5)

:Penandaan :Solusi a)Penandaan posisi

Karena problem tidak diikuti dengan evaluasi, berdasarkan penandaan posisi, kalimat4) dan 5) dipandang sebagai solusi. Apalagi di dalamnya terdapat juga penandaan leksikal.

b) Penandaan leksikal

Terdapat tiga penandaan leksikal yang dafat digunakan, yaitu frase untuk itu6, maka, dan partikel -Iah pada kata berkumpullah8 dan bersatulah9• Frase untuk itu terdapat padakalimat 4). Menurut Ramlan frase ini berfungsi sebagai penanda pertalian kegunaan, menjawab pertanyaan 'untuk apa?'. Dengan demikian frase ini mengindikasikan suatu respons terhadap situasi yang menuntut dilakukannya tindakan tertentu.

Pada kalirnat 5) terdapat kata maka7 serta partikel -Iah. Kata maka mengindikasikan suatuakibat dari sebab yang dinyatakan pada bag ian sebelumnya. Dengan teknik parafrase dapat ditunjukkan secara Jebiheksplisitsebagai berikut.

5) O/eh karena itu, berkumpullah dan bersatulah ....

Jika sebab yang dikemukakan adalah situasi yang mengharuskan adanya respons, konjungsi maka mengindikasikan suatu respons dari situasi itu. Keharusan yang dimaksudadalah 'untuk mendukung peringatan .. .' yang dinyatakan pada kalimat 5). Agar lebih eksplisit, disajikan parafrase berikut ini.

4)+5) .... untuk mendukung peringatan X maka berkumpullah dan bersatulah ...

Lebih-Iebih lagi dengan adanya partikel _ lah pada kala berkumpul dan bersatu. Partikel -Iah berfungsi membentuk kalimat tersebut menjadi kalimat imperatif yang formal dan sopan untuk meminta pembaca melakukan suatu tindakan sebagai respons.

Berdasarkan hasil analisis penandaan, terlihat bahwa pola struktur retorika yang digunakannya adalah situasi-problem-solusi. Adapun kalimat-kalimat yang berfungsi sebagai bag ian situasi adalah kalimat 1) dan 2), bag ian problem adalah kalimat 3), dan bag ian solusinya adalah kalimat 4) dan 5). Teknik parafrase, disertai dengan pelesapan bagian-bagian yang fungsinya tidak secara langsung membangun struktur inti, dapat dilakukan untuk membuat rumusan struktur yang lebih padat.

(Situasi) Jatuhnya simbol rezim tiran yang otoriter dan keji pada 21 Mei memaksa rezim untuk membuka celahcelah demokrasi. (Problem) Namun semua masih semu, sehingga semua per/u dirumuskan kembali. (Solusi) Untuk itu KPK-PRD S/eman menyerukan kepada seluruh rakyat untuk mendukung peringatan 1 tahun tergulingnya rezim Orde Baru dengan cara berkumpul

di pada .

Analisis kedua dilakukan dengan memproyeksikan wacana ini ke dalam bentuk dialog. Dalam teknik analisis ini setiap elemen struktur dipisahkan dan dibuat ke dalam bentuk dialog tanya-jawab. Analisis dengan metode proyeksi dialog terlihat sebagai berikut.

A. Situasi seperti apa yang terjadl?

B. Tanggal 21 Mei simbol rezim tiran, yang otoriter dan keji, jatuh sehingga memaksa rezim untuk membuka celah-celah demokrasi.

A. Adakah masalah dengan hal itu?

B. Semua itu masih semu sehingga perlu dirumuskan kembali.

A. Respons apa yang telah dilakukan?

B. KPK-PRD Sleman menyerukan kepada seluruh rakyat untuk mendukung peringatan 1 tahun tergulingnya rezim Orde Baru (Soeharto) yang dilakukan oleh

mahasiswa bersama buruh, tani, dan kaum miskin kota. Maka berkumpullah dan bersatulah bersarna:

: Bunderan Boulevard UGM

: Jumat, 21 Mei 1999

Jam : 08.00 WIB pagi

untuk kemudian bersama elemen rakyat lain rally ke Gedung DPRD I.

Proyeksi dialog ini menuntut perubahan yang semata-mata hanya untuk menyesuaikan diri dengan bentuk dialog, tidak menyebabkan perubahan makna.

Pola problem solusi pada selebaran ini temyata juga didukung oleh pola kronologi linier. Pola kronologi linier memperlihatkan bagaimana fakta/gagasan diatur berdasarkan urutan kejadiannya. Dari analisis kronologi waktunya, dapat diperlihatkan bahwa selebaran ini menggunakan rangkaian kronologi linier, yaitu lampau-sekarang-mendatang. Bagian situasi menyampaikan halhal yang telah terjadl; bag ian problem menyingkap apa yang sebenamya sedang terjadi sekarang; dan bagian solusi memperlihatkan apa yang akanlharus terjadi dalam waktu dekat. Dengan urutan waktu yang linear seperti ini, alur gagasan yang disampaikan menjadi lebih mudah diikuti oleh pembaca.

Tern pat

Hariltanggal

Hasil analisis 2.

1) CABUT DWI FUNGSI ABRil!!

2) Pemilu Jurdil dan Demokratis Harus1 Tanpa Dwifungsi ABRI. 3) Pemilu Jurdil dan Demokratis HaruSZ Dilaksanakan Oleh Pemerintahan Koalisi Sipil Demokratik.

Selebaran ini juga mengikuti pola problem-solusi. Berbeda dengan selebaran 1, selebaran 2 tidak disertai kalimat-kalimat penjelas, mengikuti pola yang paling dasar yaitu terdiri dari dua komponen problem dan solusi. Bahkan bag ian judul harus diikutsertakan sebagai elemen pembangun struktur retorika demi kelengkapan struk-

tumya. Hal ini merupakan pengecualian dari aturan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini bahwa hanya bagian isi yang dianalisis untuk mengidentifikasi struktur retorikanya. Di antara 19 data penelitian, selebaran ini khusus. Bentuknya sangat pendek sehingga antara bagian judul dan isi seolah-olah tidak terpisahkan. Bagian isi lebih mirip subheading, dan tidak berisi perincian kejahatan-kejahatan pemerintah Orde Baru dan ABRI seperti dalam selebaran lainnya. Selain itu, selebaran ini menggunakan pola inversi (susun balik) dengan menyebutkan bag ian solusi terlebih dahulu, baru kemudian bagian problemnya. Dengan kata lain, digunakan susunan yang bervariasi.

Bentuk selebaran yang padat ini tidak memberikan banyak variasi bentuk penandaan. Penandaan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bagian problem dan solusi adalah penandaan leksikal dan bentuk klausa/kalimat.

Penanc:laan Problem

Penandaan problem diperlihatkan oleh penandaan leksikal, yaitu adanya kata harus' dan harus2 . Kata harus merupakan indikasi adanya keharusan untuk segera melakukan sesuatu, sebagai tanggapan atas situasi yang mengharuskannya. Bagian situasi dalam selebaran ini memang tidak diungkapkan secara eksplisit, tetapi pembaca dapat menyimpulkannya berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Kenyataan bahwa selama ini dwifungsi telah diselewengkan untuk mempertahankan status quo sudah sangat dipahami oleh target pembaca yang bukan pemula (dalam arti telah memiliki pengetahuan yang memadai tentang situasi sosial politik pada saat itu). Berkaitan dengan prinsip ekonomi, hal yang sudah jelas tidak perlu diungkapkan lagi.

Penanc:laan Solusi

. Satu-satunya penandaan yang dapat dlgunakan adalah bentuk kalimat. Kalimat 1) merupakan kalimat perintah yang berisi seruan dilakukannya tindakan sebagai respons dari problem.

Dengan demikian, kalimat-kalimat yang membangun struktur retorikanya adalah: kalimat 2) dan 3) sebagai problem dan ka-

limat 1) sebagai solusi, Dengan teknik parafrase disertai teknik sisip (memberikan slsipan konjungsi), selebaran tersebut dapat direkonstruksi untuk memperjelas struktur retorikanya sebagai berikut.

(Situasi) ABRI masih kokoh dengan dwifungsinya. (Problem) Padahal pemilu yang jurdil dan demokratis harus dilaksanakan tanpa dwifungsi ABRI, serta harus dilaksanakan o/eh Pemerintahan Koalisi Sipil Demokratik. (Solusi) O/eh karena itu, dwifungsi ABRI harus dicabut ..

Pembalikan susunan soiusi-problern dimaksudkan untuk memberikan penekanan pada bag ian yang dikedepankan. Oleh karena itu, teknik inversi ini dapat juga dilihat sebagai pengedepanan informasi (fore~ grounding). Selain dengan teknik foregrounding penekanan dalam selebaran ini juga dilakukan dengan cetak huruf (cetak miring, kapital) danpungtuasi (tanda seru berjajar tiga). Efek yang tercipta dari penekanan seperti ini adalah pentingnya segera diupayakan solusi yang merupakan kebulatan tekad untuk keluar dari masalah. Dari segi urgensinya, pencabutan Dwifungsi ABRI harus dilaksanakan terlebih dahulu daripada pembentukan pemerintahan Koalisi Sipil Demokratik. Dengan pencabutan dwifungsi ABRI, hal-hal lain yang juga mendesak dapat diupayakan lebih mudah. Dengan kata lain, pencabutan dwifungsi ABRI rnerupakan prasyarat mutlak bagi terwujudnya solusl-solusi lain, misalnya pembentukan pemerintahan Koalisi Sipil Demokratik demi terlaksananya pemilu yang jujur.

Dikaitkan dengan urgensi pemecahan masalah seperti tarnpak dalam analisis solusi di atas, maka hubungan antara dua paparan problem pada bag ian problem dapat dianggap sebagai hubungan kronologis ataupun pemeringkatan. Problem I merupakan penyampaian situasi yang menuntut tanggapan yang paling substansial. Oleh karena itu, harus diatasi terlebih dahulu. Disusul kemudian oleh tuntutan tanggapan yang kedua.

Pembuktian juga dapat dilakukan dengan proyeksi dialog. Karena selebaran ini tidak memiliki bag ian situasi, pertanyaan tentang situasi tidak perlu disertakan.

A. Adakah masalah dengan dwifungs; ABRI?

B. Pemilu yang jurdil dan demokratis harus dilaksanakan tanpa dwifungsi ABRI, serta harus dilaksanakan oleh Pemerintahan Koalisi Sipil Demo-. kratik

A. Respons apa yang per/u dilakukan?

B. Dwifungsi ABRI harus dicabut

Hasil analisis 3.

INGAT!!!

REJIM OTORITER BELUM JATUH.

1) Tanggal 21 Me; tahun lalu1 hanya2 menumbangkan diktator tua Soeharto. 2) Seluruh bangunannya masih utuh. 3) Habibi-ABRI yang dari dulu sampai sekarang selalu tunduk pada Suharto tidak bisa menyelesaikan segala krisis yang menimpa negara kita tetapi j ustru memecah belah rakyat di seluruh penjuru tanah air dengan isu SARA.

4) Dengan segala alat-alatnya (birokrasi-militer-media massa-dll) mereka terus membohongi rakyat dengan tanpa malu mengaku mendukung reformasi supaya bisa melanggengkan kekuasaannya.

5) Orde Baru-nya Habibi-ABRI sedang terdesak dan mencoba memberi sogokan-sogokan3 kepada rakyat, supaya rakyat menqira" negara kita sudah demokratis. 6) Mereka memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menyusun kekuatan dan kembali menindas rakyat'', 7) Karena itu6, rakyat yang sadar dan tidak bisa dibohongi harus menyatukan langkah solid7 maju menggempur penguasapenguasa serakah itu tanpa kornpromi. 8) Berkompromi dengan rezim Habibi-ABRI justru akan memberi waktu bernafas kepada para pembohong itu dan mengkhianati perjuangan rakyat-rnahasiswa yang telah dibunuh mereka. 9) KPK-PRDBantul menyerukan kepada seluruh masyarakat berhenti sejenak beraktifitas8 dan bergabung bersarna" rakyat-mahasiswa untuk menyatukan

pembangunstruktur inti problem-solusi. Kalimat-kalimat penjelas itu selanjutnya dapat dikelompokkan berdasarkan sifat hubungan antarkalimat yang berdekatan, dengan tetap mengacu pada fungsi-fungsi kalimat yang membentuk struktur problem-solusi secara menyeluruh. Oleh karena itu, analisisstruktur teks dapat diwujudkan dalam bentuk diagram berikut.

1)

t

2) 3) 4)

5)

t

6)

7)/9)

t

8)

Dari diagram di atas terlihat bahwa kalimat 1) berfungsi membentuk situasi, kalimat 5)sebagai problem, dan kalimat 7) dan 9) sebagaisolusi, sedangkan kalimat-kalimat 2),3),4) berfungsi mernperjelas situasi, kalimat 6) rnemperjelas problem, dan kalimat 8) rnemperjelas solusi, khususnya solusi yang dinyatakan oleh kalimat 7).

Perumusan kembali untuk memperjelas struktur retorika selebaran ini dapat dilakukan sebagai berikut.

(Situasi) Tanggal 21 Mei tahun lalu hanya menumbangkan diktator tua Soeharto. (Problem) Kini, Orde Baru-nya Habibi-ABRI sedang terdesak dan mencoba memberi sogokan-sogokan kepada rakyat, supaya rakyat mengira negara kita sudah demokratis. (Solusi1) Karena itu, rakyat yang sadar dan tidak bisa dibohongi harus menyatukan langkah solid maju menggempur penguasa-penguasa serakah itu tanpa kompromi (Solusi2.)KPK-PRD-Bantul menyerukan kepada seluruh masyarakat berhenti sejenak beraktifitas dan bergabung bersama rakyat-mahasiswa untuk menyatukan langkah bersama melawan tirani pada hari Jumatl121 Mei 1999, jam OB.OO WIB, di Boulevard UGM.

Hasil analisis struktur retorika memperlihatkan bahwa semua selebaran PRD menggunakan struktur problem-solusi seperti terlihat pada ringkasan struktur retorika yang disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel1. Pola Struktur Retorika Selebaran PRO

:Oata Pola : Kalimat pembangun struktur inti
ds-1 Situasi Tanggal 21 Mei tahun lalu hanya menumbangkan diktator tua
Suharto.
Problem Orde Baru-nya Habibie-ABRI sedang terdesak dan mencoba
memberi sogokan-sogokan kepada rakyat, supaya rakyat me-
ngira n~ara kita sudah demokratis.
Solusi 1. Karena itu, rakyat yang sadar dan tidak bisa dibodohi harus
menyatukan langkah solid maju menggempur penguasa-pe-
nguasa serakah itu tanpa kompromi. ........ (umum)
Solusi 2 KPK-PRD-Bantul menyerukan kepada seluruh rakyat berhenti
seienak beraktifitas dan bergabung bersama rakyat-maha-
siswa untuk menyatukan langkah bersama melawan tirani,
pada: ..... (khusus)
ds-2 Situasi Tanggal21 Mei merupakan tanggal yang sangat bersejarah,
yaitu tanggal jatuhnya simbol rezim tiran, yang otoriter dan
keji, sehingga memaksa rezim untuk membuka celah-celah
demokrasi.
Problem Namun semua masih semu, sehingga semua perlu dirumus-
kan kembali. Solusi 1 Untuk itu KPK-PRO Sleman menyerukan kepada seluruh rak-
yat untuk mendukung peringatan 1 tahun tergulingnya rezim
Orde Baru ............ (umum)
Solusi 2 Maka berkumpullah dan bersatulah bersama: .... (khusus)
ds-3 Problem Sudah Pasti pemilu tidak jurdil
Solusi 1 Bersama Rakyat Mahasiswa Boikot Pemilu atau pilih PRO
Solusi 2 Serukan ....
ds-4 Situasi Tindakan represif aparat yang membubarkan aksi PRO di Ja-
karta pada tanggal1 Juli 1999 kembali meminta korban [se-
hingga] Partai Rakyat Demokratik berpendapat bahwa semua
kekerasan dan penangkapan yang dilakukan aparat adalah
bukti warisan orde baru yang masih bebas bergerak mengha-
langi laju reformasi yang kita kobarkan (metode penaJaran
induks~
Problem Pemilu saat ini sesungguhnlla, masih sarat dengan kecurang-
an yang dHakukan oleh Partai Golkar dan aparat masih mela-
kukan kekerasan dalam menghadapi tuntutan rakyat.
Solusi 1 Kami menllerukan kepada seluruh rakyat Indonesia agar tidak
terlena dan tidak terbuai dengan hasH-hasH pemilu saat ini
(khusus pemHu).
Solusi 2 Untuk itu kami Partai Rakyat Demokratik mengajak pada selu-
ruh elemen masyarakat untuk bersatu melawan ketidakadHan
dan tindakan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh
aparat (relevan dengan kekerasan aparat).
ds-5 Problem Militer yang tidak suka demokrasi, menginginkan kembali ke-
kuasaan seperti yang pernah mereka nikmati pada jaman or-
de baru [dengan cara fraksi ABRI mendorong Pansus DPR
membahas] RUU-PKB [yang] sangat anti terhadap demokrasi
dan tidak menghargai HAM.
Solusi Oleh karena itu marilah kita tolak pembahasan RUU PKB [de-
ngan melakukan aksi pada: ..... ] .
ds-6 Situasi Sampai pada pasca pemilu, musuh rakyat masih belum ber-
ubah, [yaitu tetap Golkar dan ABRI]
Problem Persoalannlla bila kedua kekuatan ini (Golkar dan ABRI) ber-
satu dan didukung oleh mayoritas partai politik yang mendu-
kung status quo, maka parpol besar reformis tidak akan marn-
pu mengalahkan Golkar dan ABRI yang memiliki dana besar
dan dilengkapi oleh senjata.
Solusi 1 Karena itu, hanya satu cara yang sudah terbukti kebenar-
annya, yaitu bersatu dan bergerak dengan gerakan massa.
[Datanglah pada aksi bersama rakyat Yogyakarta pada: ... ] -
-> untuk rakyat
Solusi 2 Untuk itu, seluruh partai politik sudah saatnya harus bersatu
dengan gerakan mahasiswa dan gerakan rakyat untuk turun
ke jalan-jalan, melakukan gerakan massa, secara t~mpin dan terorganisir untuk melawan Golkar dan ABRI. -> untuk
partai reform is.
ds-7 Situasi ''Tim 11" telah menyelesaikan pekeJjaannya [+evaluasi: akan
tetapi mereka membawa sejumlah persoalan]
Problem Tim itu hanyalah sebagai topeng agar pemilu mendatang keli-
hatan demokratis.
Solusi Oleh karena itu KPW-PRD DIY akan melaksanakan aksi pa-
da: ....
ds-8 Problem Pemilu Jurdil dan Demokratis Harus Tanpa Dwifungsi ABRI
(&) Pemilu Jurdil dan Demokratis Harus Oilaksanakan Oleh
Pemerintahan Koalisi Sipil Demokratik. (terimplikasi)
Solusi Cabut Dwifungsi ABRI
ds-9 Problem Gelombang reformasi total yang dipelopori oleh mahasiswa
Indonesia dengan imbalan hujaman peluru dan bayonet mili-
ter ternyata dikhianati oleh kaum oportunis yang mengaku
pro-reformasi yang berpanen memetik hasil tanpa setetes ke-
ringat-pun pemah mereka lakukan untuk memperjuangkan
nasib rakyat!)
Solusi 1 Rakyat-Mahasiswa Indonesia serta seluruh element pro-de-
mokrasi dan pro-reformasi yang anti dengan status quo ha-
ruslah bersama-sama menyatukan barisan dan menggalang
persatuan untuk menumpas habis penindas-penindas rakyat,
demi tegaknya demokrasi di Indonesia ......... (umum)
Maka 10 musuh besar rakyat inilah yang harus kita lawan
bersama .......... (khusus)
Solusi 2 Komunike Bersama yang dirintis oleh Gus Our, Megawati,
dan Amin Rais untuk menghadang status quo haruslah kita
dukung bersama dan disempumakan ........ (umum)
Maka jalan satu-satunya tidak lain hanyalah dengan melawan
bersama-sama dengan cara: ... (khusus)
ds-10 Situasi Pemerintahan baru Gus Our-Mega terbentuk secara demo-
kratis
Problem Pemerintahan yang kelihatan demokratis ini sebetulnya belum
melaksanakan agenda-agenda reformasi yang menjadi tun-
tutan rakyat Indonesia.
Solusi Apa yang harus dilaksanakan rakyat saat ini bukanlah hanya
melihat dan menunggu apa yang dilakukan rejim baru, tetapi
lebih konsisten terus mengontrol dan menyuarakan agenda-
agenda reformasi .....
ds-11 Situasi Keputusan pemerintah Gus Our-Mega, yang akan menaikkan
harga BBM 12%, merupakan keputusan final ....... , begitu pula
OPR yang seharusnya membela rakyat, seperti janjinya waktu
kampanye pemilu, sekarang justru menyepakati pemotongan
subsidi BBM dan listrik yang jelas akan menyengsarakan
rakyat. (melaporkan) Problem

Solusi

Oi sini kita ketahui bahwa watak dari pemerintah dan wakil rakyat yang berada di OPR sama-sama pro-kapitalis.

Untuk itu rakyat sendirilah yang harus bergerak melawan semua kebijakan yang tidak memihaknya.

ds-12

Situasi

Problem

Solusi

Perdebatan tentang pemilu kembali dibicarakan dalam pertemuan Dewan Nasional PRO

Berdasarkan pada kondisi objektif, maka partai harus meresQQ!! pemilu tanpa harus terisolasi dari massa, tanpa harus menurunkan kualitas program-program politik PRO.

PRO lalu memutuskan bahwa partai akan berpartisipasi dalampemilu.

[solusi ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang diuraikan dari no. 1- 6, dan ditegaskan ulang solusi itu pada bagian akhir: Atas dasar pertimbangan itu, maka PRO memutuskan untuk ikut dalam proses pemilu semata-mata untuk dapat berbicara seluas-Iuasnya kepada rakyat tentang pernilu yang tidak jurdil].

..

ds-13

Situasi

Problem

Solusi

Pemilu yang bebas, Demokratis dan Jurdil harus memenuhi syarat-syarat 1-13.

Apakah syarat-syarat ini sudah terpenuhi? (terimplikasi bahwa syarat-syarat tsb belum terpenuhi)

Jangan mimpi pemilu 1999 akan bebas, demokratis, danjurdil

ds-14

Situasi

Problem

Solusi

Dalam usianya yang ke 54, "TNI mencatat banyak sekali 'prestasi': pembantaian, pengkambinghitaman anak buah, kebohongan.

Akan sampai kapan tentara membohongi rakyat, semuanya tergantung kepada rakyat: mau terus dibohongi atau sebaliknya berjuang terus menerus merebut demokrasi dan menuntut agar tentara segera ke barak.

Agenda kita masih tetap: berada dalam barisan rakyat, menggusur tuntas tirani, membongkar semua sistem peninggalan orde baru yang menindas rakyat.

ds-15

Problem SoIusi

Terdapat 10 musuh bersama

Musuh tersebut harus dilawan dengan 10 cara melawan

ds-16

Problem

Solusi

Tuntutan Reformasi total yang bergulir sejak mei lalu belum menghasilkan apa-apa: [kejadian-kejadian yang terjadi hingga November kemarin menunjukkan bahwa kekuasaan masih dipegang suharto]; Revolusi Demokratik belum selesai: [ABRI masih berjaya, tidak membela rakyat]

[terdapat dalam slogan] Tuntaskan revolusi demokratik, Cabut Dwifungsi ABRI, Bentuk Pemerintahan Transisi, Referendum untuk Rakyat Maubere.

ds-17 Selebaran ini memiliki 5 topik pembicaraan, ditandai denQan penomoran pada

setiap topik. Masing-masing memiliki struktur.
(1) situasi Kasus Banyuwangi membuktikan ketidakseriusan Habibi dan
militer dalam melakukan pengusutan
(2) situasi Setelah Gus Our mengungkap sedikit dari datanya, elit politik
kebingungan [menggambarkan sibuk saling tarung pengaruh
tanpa ingin tahu banyak persoalan rakyat]
(3) situasi Habibi dan militer bukannya tidak tahu skenario semua keru-
suhan (Banyuwangi, Tanjung Priok, dst)
Problem Jika skenario itu terungkap, mereka akan membuat skenario
lain untuk menyulap yang sudah dilihat rakyat.
Salusi Kita harus tegas jika kita tidak ingin kasus Banyuwangi seperti
kasus Tanjung Prick, Aceh, dll.
(4) Salusi Rakyat harus tegas menolak 0INi fungsi ABRI, menghentikan
dan menolak keterlibataan militer, menolak SI.
(5) Situasi Kekuatan rakyat yang disatukan sangat menakutkan rejim
Habibi dan militer.
Problem Habibi dan ABRI memiliki sifat adu domba
Solusi Kita akan bersama-sama menyerukan tuntutan rakyat; me-
nyerukan kepada pemimpin rakyat dan peduli nasib rakyat
bawah untuk bersatu, bergandeng tangan dan bersama-sama
membentuk pemerintahan sementara, untuk mengganti pe-
merintahan sekarang.
Salusi
menyeluruh : Bergabunglah dalam aksi massa pada: .....
ds-18 Situasi Sampai pada hari ke 5 penghitungan suara, Partai Golkar
berada pada posisi ketiga secara nasional. Sementara secara
nasional pula, partai ini menu rut beberapa organisasi pe-
mantau pemilu, menduduki urutan teratas dalam praktek mo-
ney politics, sogok menyogok.
Problem Lalu bagaimana kita harus menyikapi kecurangan-kecurang-
an yang sangat prinsip ini?
Solusi 1. Tidak lain bahwa Golkar dan POR harus bertanggung jawab:
Mereka harus didiskualifikasi, atau tidak bisa ikut dalam pro-
ses pemilu mendatang, dan kalau perlu kita tidak perlu meng-
akui perolehan suara Golkar dan POR dalam pemilu kali ini.
(solusi untuk panitia pemilu)
Salusi 2. Partai-partai politik harus berkoalisi, kerjasama untuk meng-
hadang dan menghancurkan kekuatan lama yang menindas.
(solusi untuk partai reformis)
Solusi 3 Rakyat harus bersatu untuk menuntaskan reformasi total, sa-
bab rakyat bersatu tak bisa dikalahkan ...... (salusi untuk rak-
yat).
ds-19 Problem Pemilu ibarat pisau bermata dua: dapat menciptakan peme-
rintahan yang adil, demokratis, serta memihak rakyat kecil,
juga dapat menjadi alat menyegarkan pemerintah Orba yang
lapuk ...

Solusi

Problem

Solusi

Satu agenda mendesak yang tetap menjadi agenda utama rakyat Indonesia, yang harus kita perjuangkan secara terus menerus adalah menuntaskan revolusi demokratik [meskipun pemilu telah usai}.

Bila pada pemilu kali ini Golkar dan ABRI masih berkuasa, maka semua mimpi rakyat tentang demokrasi dan keadilan tidak akan terwujud.

Karena itu, tugas mendesak yang harus dilakukan oleh rakyat saat ini adalah menuntaskan revolusi demokratik [dengan cara seluruh rakyat pro-reformasi untuk bersatu: partai-partai reform is bersatu dengan kekuatan mahasiswa dan kekuatan rakyat lainnya untuk turun ke jalan menuntut perubahan yang lebih mendasar}.

D. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa selebaran PRO menggunakan salah satu strategi persuasi berupa pengaturan alur gagasan dengan pola problem-solusi. Selain untuk tujuan koherensi, pola problem-solusi ini ternyata memberikan efek penekanan situasi sosial politik yang sedang teriadl pad a waktu itu (periode 1996-1999), yaitu dengan mengedepankan permasalahan serius yang menimpa kehidupan demokrasi di Indonesia. Permasalahan-permasalahan tersebut dijadikan sebagai pembangun bagian problem dalam struktur retorika. Penyajian problem dapat semakin meyakinkan pembaca akan perlunya dilakukan berbagai respons, yaitu dengan mengikuti berbagai alternatif yang ditawarkan oleh PRO. Alternatif-alternatif itu dikemukakan secara sangat efektif sebagai bag ian solusi pada struktur retorika.

Melalui deskripsi alur gagasan berstruktur problem-solusi ini, dapat ditafsirkan kepaduan gagasan dalam selebaran-selebaran PRO secara lebih akurat, sekaligus dipahami efeknya sebagai salah satu strategi persuasi. Oleh karena itu, analisis struktur retorika ini dapat diterapkan sebagai bentuk alternatif penafsiran koherensi pada wacana persuasif.

DAFTAR PUSTAKA

Coulthard, Malcolm, On Analysing and Evaluating Written Text dalam Coulthard, Malcolm (ed.), 1994, Advances in Written Text Analysis, pp. 1-11, Routledge, New York

Hoey, Michael, 1979, Signaling in Discourse: A Functional Analysis of A Common Discourse Pattern in Written and Spoken English dalam Coulthard, Malcolm (ed.), 1994, Advances in Written Text Analysis, pp. 2745, New York: Routledge

Ramlan, M., 1993, Paragraf: Alur Pikiran dan Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia, Yogyakarta: Andi Offset

Winter, Eugene, "Clause Relations an Information Structure: Two Basic Text Structures in English", dalam Coulthard, Malcolm (ed.), 1994, Advances in Written Text Analysis, pp. 46-68, New York: Routledge.

r~~;"";M'-;:;;;'7i'ff~~~'~£l'&' ,

1r ". "

J,:~~~~~L~.-~~;;~l