Anda di halaman 1dari 16

PENULISAN PERSAMAAN REAKSI MENGGUNAKAN INVERS MATRIKS

Latar belakang
Penulisan persamaan reaksi yang telah dikembangkan selama ini menggunakan
subtitusi secara aljabar. Cara ini dapat digunakan untuk menentukan koefisien reaksi
dari reaksi yang belum setimbang dengan reaktan dan produk yang sudah ditetapkan.
Berdasarkan jurnal Chemical Education 1995 telah dikembangkan penulisan persaman
reaksi menggunakan invers matriks. Cara ini reaksi yang akan ditetukan persamaannya
dituliskan dalam bentuk matriks selanjutnya dicari inversnya kemudian dari invers
matriks akan dapat ditentukan koefisien reaksinya sekaligus reaktan dan produknya.

Teori invers matriks


Sebelum membahas tentang invers matriks perlu diketahui apa matriks itu,
berdasarkan definisi matriks adalah barisan bilangan atau fungsi yang diletakkan dalam
kurung. Pada penulisannya bagian horisontal disebut sebagai baris sedang bagian yng
vertikal disebut kolom atau lebih singkatnya matriks terdiri dari bris dan kolom.

⎡2 4 0 ⎤
⎢6 ⎡2 3 ⎤
⎢ 7 − 9⎥⎥ ⎢5 − 7 ⎥ [a1 a2 a3 ]
⎢⎣3 1 4 ⎥⎦ ⎣ ⎦

⎡a c⎤ ⎡e x x 2 + x + 5⎤
⎢b ⎢ ⎥
⎣ d ⎥⎦ ⎣2 x 3x + 1 ⎦

Invers matriks adalah suatu matriks yang apabila dikalikan dengan matriks asalnya akan
menghasilkan matriks satuan atau matriks identitas. Hal ini hanya berlaku untuk
matriks yang mempunyai jumlah baris sama dengan jumlah kolom ( matriks bujur
sangkar).

A.A-1 = I atau A-1 A = I

Suatu matriks hanya akan mempunyai satu invers, kemudian invers matriks tersebut
apabila dikalikan dengan matriks asalnya sama dengan martriks identitas. Matriks
identitas adalah matriks yang mempunyai entri pada diagonalnya samadengan 1 diluar
diagonal entrinya 0. Berikut beberapa matriks identitas.

⎡1 0 0⎤
⎡1 0⎤
I2 = ⎢ ⎥ I 3 = ⎢⎢0 1 0⎥⎥ dan sebagainya. adalah matriks identitas
⎣0 1 ⎦ ⎢⎣0 0 1⎥⎦

1
Contoh:

⎡3 5⎤
B=⎢ ⎥. dan. inversnya .adalah. A ,. dim ana.
⎣1 2⎦

⎡ 2 − 5⎤
A=⎢ ⎥, maka
⎣− 1 3 ⎦

B. A = I

⎡3 5⎤ ⎡ 2 − 5⎤ ⎡1 0⎤
⎢1 2⎥ ⎢− 1 3 ⎥ = ⎢0 1⎥
⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦

A.B = I

⎡ 2 − 5⎤ ⎡3 5⎤ ⎡1 0⎤
⎢− 1 3 ⎥ ⎢1 2⎥ = ⎢0 1⎥
⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦

Cara mencari invers matriks diantaranya dengan


a.Subtitusi Gauss
b.Adjoin matriks
Cara mencari invers matriks dengan subtitusi Gauss atau subtitusi antar baris yaitu
dengan memasangkan matriks yang akan dicari inversnya dengan matriks identitas. [
A/I ] kemudian melalui operasi antar baris pada matriks seehingga dapat mengubah
kedudukan matriks identitas yang semula berada disebelah kanan dapat berubah
disebelah kiri [ I/ A-1 ] adapun yang berada disebelah kanan adalah matriks inversnya.
Ambilah matriks A akan dicari inversnya menggunakan subtitusi Gauss.

⎡ 3 2⎤
A=⎢ ⎥
⎣2 1⎦

⎡ 3 2⎤
A=⎢ ⎥ dengan mengandengkan matriks A dengan matriks I kemudian
⎣2 1 ⎦
mengoperasikan antar baris sampai akhirnya diperoleh matriks A-1 disebelah kanan.

2
⎡ 3 2 1 0⎤
⎢ ⎥ baris ke dua dikalikan dengan − 1 kemudian hasi ln ya dijumlahkan
⎣ 2 1 0 1 ⎦
dengan baris pertama

⎡1 1 1 − 1⎤
⎢ ⎥ baris pertama dikalikan dengan − 2 kemudian hasi ln ya
⎣ 2 1 0 1 ⎦
dijumlahkan dengan baris ke dua

⎡1 1 1 − 1⎤
⎢ ⎥ baris ke dua dikalikan dengan 1 hasi ln ya dijumlahkan
⎣ 0 − 1 − 2 3 ⎦
dengan baris pertama

⎡1 0 − 1 2 ⎤
⎢ ⎥ baris ke dua dikalikan dengan − 1
⎣ 0 − 1 − 2 3 ⎦

⎡1 0 − 1 2 ⎤ −1 ⎡− 1 2 ⎤
⎢ ⎥ sehingga matriks invesnya A = ⎢ ⎥
⎣0 1 2 − 3⎦ ⎣ 2 − 3⎦
sebagai cek A. A −1 = A −1 A harus sama dengan I

⎡ − 1 2 ⎤ ⎡ 3 2 ⎤ ⎡1 0 ⎤
⎢ 2 − 3⎥ ⎢2 1⎥ = ⎢0 1⎥ atau
⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦

⎡ 3 2 ⎤ ⎡ − 1 2 ⎤ ⎡1 0 ⎤
⎢2 1⎥ ⎢ 2 − 3⎥ = ⎢0 1⎥
⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦
Sebenarnya untuk mencari invers matriks ukuran 2 x 2 dapat dengan mudah
menggunakan persamaan yang sudah dikenal, tetapi persamaan ini hanya terbatas untuk
matriks 2 x 2. Persamaan ini tidak dapat diterapkan untuk mencari invers dari matriks
yang ukurannya lebih besar dari 2 x 2.

3
⎡a b ⎤
A=⎢ ⎥, maka.
⎣c d ⎦

1 ⎡ d − b⎤
A −1 =
ad − bc ⎢⎣− c a ⎥⎦
contohnya :

⎡1 2⎤
A=⎢ ⎥, maka..
⎣1 3⎦

1 ⎡ 3 − 2⎤ 1 ⎡ 3 − 2⎤
A −1 = =
3 − 2 ⎢⎣− 1 1 ⎥⎦ 1 ⎢⎣− 1 1 ⎥⎦

⎡ 3 − 2⎤
A −1 = ⎢ ⎥
⎣− 1 1 ⎦

Seperti telah dikatakan diatas untuk matriks ukuran lebih besar 2 x 2 inversnya dapat
dicari dengan cara subtitusi Gauss atau dengan adjoin matriks.

⎡1 2 1 ⎤
A = ⎢⎢2 5 0⎥⎥
⎢⎣3 3 8⎥⎦

⎡1 2 1 1 0 0 ⎤
⎢ ⎥
⎢ 2 5 0 0 1 0⎥
⎢⎣3 3 8 0 0 1⎥⎦

⎡1 2 1 1 0 0⎤
⎢ ⎥
⎢ 2 5 0 0 1 0⎥
⎢⎣0 − 3 5 − 3 0 1⎥⎦

⎡1 2 1 1 0 0⎤
⎢ ⎥
⎢0 1 − 2 − 2 1 0⎥
⎢⎣0 − 3 5 − 3 0 1⎥⎦

4
⎡1 2 1 1 0 0⎤
⎢ ⎥
⎢0 1 − 2 − 2 1 0 ⎥
⎢⎣0 0 − 1 − 9 3 1⎥⎦

⎡1 2 1 1 0 0⎤
⎢ ⎥
⎢0 1 − 2 − 2 1 0⎥
⎢⎣0 0 1 9 − 3 − 1⎥⎦

⎡1 2 1 1 0 0 ⎤
⎢ ⎥
⎢0 1 0 16 − 5 − 2⎥
⎢⎣0 0 1 9 − 3 − 1 ⎥⎦

⎡1 2 0 − 8 3 1 ⎤
⎢ ⎥
⎢0 1 0 16 − 5 − 2⎥
⎢⎣0 0 1 9 − 3 − 1 ⎥⎦

⎡1 0 0 − 40 13 5 ⎤
⎢ ⎥
⎢0 1 0 16 − 5 − 2⎥ sehinggga
⎢⎣0 0 1 9 − 3 − 1⎥⎦

⎡− 40 13 5 ⎤
A = ⎢⎢ 16 − 5 − 2⎥⎥
−1

⎢⎣ 9 − 3 − 1⎥⎦

Adapun mencari invers matriks melalui adjoin beberapa langkah harus dilalui
diantarannya mencari minor setelah minor untuk setiap entri didapatkan, dicari kofaktor
untuk setiap entri dan dapat disusun matriks kofaktor. Matriks adjoin dapat diperoleh
dari transpose matriks kofaktor selanjutnya dibagi determinan maka akan diperoleh
invers matriks.

Mij = minor entri aij adalah determinant sub matrik dimana baris ke i kolom ke j
dihilangkan.
Cij = kofaktor dari entri matriks baris ke i kolom ke j

5
⎡3 1 4⎤
A = ⎢⎢2 5 6⎥⎥
⎢⎣1 4 8 ⎥⎦

5 6
M 11 = = 16
4 8
2 6
M 12 = = 10
1 8
3 1
M 23 = dan seterusnya . adalah min or
1 4

sedang Cij = (− 1)
i+ j
. Mij

Cij = kofaktor baris ke kolom ke j sehingga

C11 = (− 1)
1+1
. M 11

C11 = M 11
C11 = 16

C 21 = − M 21
C 21 = −10

C 23 = − M 23 dan seterusnya adalah kofaktor.


Adapun det er min ant matriks det ( A) = ∑ a ij . c ij pada sepanjang baris atau kolom.
5 6 2 6 2 5
A =3 −1 +4 = 3. 16 − 1. 10 + 4. 3
4 8 1 8 1 4
= 48 − 10 + 12
= 50

6
C adalah matriks kofaktor dari Cij
⎡c11 " c1n ⎤
C = ⎢⎢ # # ⎥⎥
⎢⎣c n1 " c nn ⎥⎦
⎡ 16 − 10 3 ⎤
C = ⎢⎢ 8 20 − 11⎥⎥
⎢⎣− 14 − 10 13 ⎥⎦
Transposisi dari matri kofaktor adalah adj ( A).

⎡c c n1 ⎤
C T = ⎢# 11 # = adj ( A)
⎣ c1n c nn ⎥⎦

⎡ 16 8 − 14⎤
adj ( A) = C ⎢− 10 20 − 10⎥⎥
⎢ T

⎣⎢ 3 − 11 13 ⎥⎦

Apabila A dikalikan adj ( A) maka :


⎡3 1 4⎤ ⎡ 16 8 − 14⎤
⎢ ⎥
A adj ( A) = ⎢2 5 6⎥ ⎢− 10 20 − 10⎥⎥

⎢⎣1 4 8⎥⎦ ⎢⎣ 3 − 11 13 ⎥⎦

⎡50 0 0 ⎤
= ⎢⎢ 0 50 0 ⎥⎥
⎢⎣ 0 0 50⎥⎦

Dari kedua hal yaitu A adj (A) dan det A dapat ditulis:

⎡det A 0 0 ⎤
A adj ( A ) = ⎢⎢ 0 det A 0 ⎥⎥
⎢⎣ 0 0 det A⎥⎦

Adikalikan dengan adj (A) dapat ditulis juga sebagai :


A adj (A) = det (A) . I
Karena I = A-1 . A maka

7
A adj (A) = det (A) A-1 . A
adj (A) = det (A). A-1

adj ( A)
1
A −1 =
det ( A)

adj A
A −1 =
det ( A)

sehingga invers matriks dari A dapat ditulis menjadi

⎡−8 4 − 7⎤
⎢ 25 25 25 ⎥
⎢ −1 2 −1 ⎥
A−1 = ⎢ ⎥
⎢ 5 5 5 ⎥
⎢ 3 − 11 13 ⎥
⎢⎣ 50 50 50 ⎥⎦

Penggunaan invers matriks dalam penulisan persamaan reaksi

Terapan invers matriks pada penulisan persamaan reaksi yang belum setimbang
ambilah contoh untuk reaksi:

Cl2 + H2 HCl

Untuk reaksi tersebut belum setibang antara produk dan reaktannya untuk itu dicari
koefisien reaksi secara aljabar, ambilah koefisien a untuk Cl2 ; b untuk H2 dan c untuk
HCl.Dari pemisalan itu dapat ditulis persamaan:

2a = c
2b = c

apabila c diambil sama dengan 1 maka :

2a = 1
1 1
a= dan b = sehingga persamaan reaksinya
2 2

1 1
Cl 2 + H 2 → HCl atau
2 2

Cl2 + H2 2 HCl

8
Adapun dengan menggunakan invers matriks reaksi tersebut dapat disusun dengan tabel
berikut:

Cl2 H2 HCl
Cl 2 0 1
H 0 2 1
0 0 1

Secara matriks dapat ditulis menjadi :

⎡2 0 1⎤
A = ⎢⎢0 2 1⎥⎥
⎢⎣0 0 1⎥⎦

dari penulisan matriks perlu ditambahkan baris terakhir yang berupa elemen matriks
baris terakhir dari matriks identitas, hal ini dilakukan untuk memperoleh matriks bujur
sangkar. Selanjutnya untuk memperoleh invers matriks diselesaikan dengan subtitusi
Gauss.

⎡ 2 0 1 1 0 0⎤
⎢ ⎥
⎢0 2 1 0 1 0⎥
⎢⎣0 0 1 0 0 1⎥⎦

⎡2 0 1 1 0 0 ⎤
⎢ ⎥
⎢0 2 0 0 1 − 1⎥
⎢⎣0 0 1 0 0 1 ⎥⎦

9
⎡2 0 1 1 0 0 ⎤
⎢ 1 1⎥
⎢0 1 0 0 − ⎥
⎢0 0 1 2 2⎥
⎣ 0 0 1 ⎦

⎡2 0 0 1 0 −1⎤
⎢ 1 1⎥
⎢0 1 0 0 − ⎥
⎢0 0 1 2 2⎥
⎣ 0 0 1 ⎦

⎡1 0 0 1 0 −1⎤
⎢ 1 1⎥
⎢0 1 0 0 − ⎥ Sehingga diperoleh invers matriks
⎢0 0 1 2 2⎥
⎣ 0 0 1 ⎦

⎡1 1⎤
⎢2 0 − ⎥
2
⎢ 1 1⎥
A-1 = ⎢ 0 − ⎥
⎢ 2 2⎥
⎢0 0 1 ⎥
⎢⎣ ⎥⎦

Entri matriks invers pada kolom paling kanan adalah koefisien dari reaksi yang
dimaksudkan artinya
1 1
− untuk Cl 2 dan − untuk H 2 serta 1 untuk HCl atau secara matematika dapat
2 2
dituliskan sebagai
1 ⎛ 1⎞
− Cl 2 + ⎜ − ⎟ H 2 + 1 HCl = 0 atau
2 ⎝ 2⎠

1 1
Cl 2 + H 2 = HCl atau sec ara kimia dapat ditulis
2 2

1 1
Cl 2 + H 2 → HCl
2 2

Cl2 + H2 2 HCl

10
Contoh lain:

Fe2+ Fe3+ e
Fe 1 1 0
Muatan 2 3 -1
e 0 0 1

Dari tabel tersebut dapat dituliskan dengan matriks berikut:

⎡1 1 0 ⎤
A = ⎢⎢2 3 − 1⎥⎥
⎢⎣0 0 1 ⎥⎦

kemudian dengan menggunakan cara adjoin atau dengan cara subtitusi Gauss diperoleh
invers matriks:

⎡ 3 1 − 1⎤
A −1 = ⎢⎢− 2 1 1 ⎥⎥
⎢⎣ 0 0 1 ⎥⎦

entri invers matriks pada kolom terakhir merupakan koefisien dari reaksi yang
dimaksudkan, secara matematika dapat ditulis:

-1 Fe2+ + 1 Fe3+ + 1 e = 0

secara kimia dapat dituliskan menjadi :

Fe3+ + e ⇔ Fe2+

Penulisan matriks dari reaksi reduksi Feri menjadi fero dapat ditulis dengan beberapa
cara yang berbeda diantaranya:

Fe3+ Fe2+ e
Fe 1 1 0
e 0 0 1
Muatan 3 2 -1

Dari tabel tersebut dapat dituliskan dengan matriks berikut:

11
⎡1 1 0 ⎤
A = ⎢⎢0 0 1 ⎥⎥
⎢⎣3 2 − 1⎥⎦

kemudian dengan menggunakan cara adjoin atau dengan cara subtitusi Gauss diperoleh
invers matriks:

⎡− 2 1 1⎤
A = ⎢ 3 − 1 − 1⎥⎥
−1⎢
⎢⎣ 0 1 0 ⎥⎦

entri invers matriks pada kolom ke dua merupakan koefisien dari reaksi yang
dimaksudkan, secara matematika dapat ditulis:

1 Fe3+ + (-1 ) Fe2+ + 1 e = 0

secara kimia akan sama saja dengan reaksi diatas .

Fe3+ + e ⇔ Fe2+

Dari penulisan persamaan reaksi kimia menggunakan invers matriks tampak antara
produk dan reaktan baru diketahui setelah invers matriks diperoleh.
Untuk reaksi reduksi oksidasi yang agak kompleks dapat juga ditentukan
persamaan reaksinya. Ambilah contoh reaksi reduksi Cr(VI) menjadi Cr(III)
berdasarkan tabel berikut:

e Cr2O72- H+ H2O Cr3+


Cr 0 2 0 0 1
e 1 0 0 0 0
H 0 0 1 2 0
Muatan -1 -2 1 0 3
O 0 7 0 1 0

Dengan matriks ditulis :

⎡0 2 0 0 1⎤
⎢1 0 0 0 0⎥⎥

A=⎢ 0 0 1 2 0⎥
⎢ ⎥
⎢− 1 − 2 1 0 3⎥
⎢⎣ 0 7 0 1 0⎥⎦

dapat diperoleh inversnya

12
⎡ 0 1 0 0 0 ⎤
⎢−1 1 −1 1 1 ⎥
⎢ 2 6 6 6 3 ⎥
⎢ 7 −4 7 8 ⎥
⎢− 7 ⎥
A −1 = ⎢ 3 3 3 3 ⎥
⎢ 7 −7 7 −7 − 4⎥
⎢ 2 6 6 6 3 ⎥
⎢ −1 1 −1 − 2⎥
⎢ 2 ⎥
⎣ 3 3 3 3 ⎦

sehingga koefisien reaksi dari tabel tersebut diambil dari entri invers matriks kolom ke 2
adalah:

1 7 + 7 1 3+
1e + Cr2O72- + H - H2O - Cr = 0
6 3 6 3

6 e + Cr2O72- + 14 H+ - 7 H2O - 2 Cr3+ = 0

Persamaan reaksinya dapat ditulis:

Cr2O72- + 14 H+ + 6e ⇔ 7 H2O + 2 Cr3+

Untuk reaksi lebih kompleks lainnya ambilah reaksi oksidasi CH3COOH oleh KMnO4
Bedasarkan ion-ionnya dapat ditabelkan sebagai berikut:

MnO4- CH3COOH CO2 H2O H+ Mn2+


Mn 1 0 0 0 0 1
C 0 2 1 0 0 0
H 0 4 0 2 1 0
O 4 2 2 1 0 0
Muatan -1 0 0 0 1 2
0 0 0 0 0 1

Dengan matriks dituliskan :

⎡1 0 0 0 0 1⎤
⎢0 2 1 0 0 0⎥⎥

⎢0 4 0 2 1 0⎥
A=⎢ ⎥
⎢4 2 2 1 0 0⎥
⎢− 1 0 0 0 1 2⎥
⎢ ⎥
⎣⎢ 0 0 0 0 0 1⎦⎥

13
⎡ 1 0 0 0 0 −1⎤
⎢ 7 1 1 −1 −1 − 5⎥
⎢ 8 2 8 4 8 8 ⎥
⎢− 7 −1 1 1 5 ⎥
⎢ 0 ⎥
A −1 = ⎢ 4 4 2 4 4 ⎥
⎢− 9 −1
1 1 −1 11 ⎥
⎢ 4 4 2 4 4 ⎥
⎢ 1 0 0 0 1 − 3⎥
⎢ ⎥
⎣⎢ 0 0 0 0 0 1 ⎦⎥

dari hasil invers matriks koefisien persamaan reaksi diambil pada kolom terakhir
sehingga dapat ditulis:

−5 5 11
-1 MnO4- + ( ) CH3COOH + ( ) CO2 + ( ) H2O + (-3) H+ + 1 Mn2+ = 0
8 4 4
secara kimia

8 MnO4- + 5 CH3COOH + 24 H+ ⇔ 22 H2O + 10 CO2 + Mn2+

dari beberapa penulisan persamaan reaksi dapat dikatakan invers matriks dapat
diterapkan untuk menentukan koefisien reaksi dengan syarat matriksnya harus bujur
sangkar. Namun kadang-kadang untuk matriks bujur sangkar tidak mempunyai invers,
sehingga subtitusi secara aljabar masih diperlukan.

Pembahasan

Penulisan persamaan reaksi secara umum dapat dicari menggunakan invers


matriks sehingga dapat dirancang reaksi kimia yang terdiri dari reaktan dan produk
sesuai dengan yang diharapkan. Persamaan reaksi dapat ditulis menggunakan entri
invers matriks pada kolom terakhir. Penulis telah mengembangkan teori itu menjadi
agak lebih luas, bedanya dengan teori yang sudah ada. Penulisan persamaan reaksi
selalu menggunakan entri invers matriks pada kolom terakhir dan menambah satu baris
terakhir matriks identitas untuk mendapatkan matriks bujur sangkar. Pada teori yang
telah dikembangkan tidak harus menggunakan entri invers matriks pada kolom terakhir
tetapi menggunakan salah satu kolom, hal ini tergantung dari penulisan matriks bujur
sangkar yang akan dicari inversnya.demikian juga tidak selalu menambahkan satu baris
terakhir dari matriks identitas untuk mendapatkan matriks bujur sangkar. Jelasnya dapat
dilihat pada reaksi reduksi Fe3+ menjadi Fe2+.
Penulisan persamaan reaksi menggunakan invers matriks secara matematika
boleh jadi ada tetapi secara reaksi kimia yang sebenarnya belum tentu dapat dijalankan
karena beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi perlu diperhatikan. Hal penting
dalam reaksi kimia adalah Δ G. Perbedaan energi bebas Gibbs reaksi ( Δ G) dapat
beharga Δ G < 0 untuk reaksi spontan Δ G = 0 untuk reaksi dalam kesetimbangan dan
Δ G > 0 untuk tidak terjadi reaksi kimia.
Pada reaksi yang tidak dapat dituliskan dengan matriks bujur sangkar cara invers
matriks tidak dapat diterapkan karena hanya matriks bujur sangkar saja yang
mempunyai invers, kadang-kadang juga dijumpai tidak mempunyai invers walaupun

14
matriksnya sudah bujur sangkar. Untuk itu dapat digunakan lagi subtitusi secara
aljabbar untuk menuliskan persamaan reaksinya.

Simpulan

1.Penulisan persamaan reaksi menggunakan invers matriks dapat diterapkan untuk


reaksi kimia yang apabila ditulis dengan matriks menghasilkan matriks bujur angkar.
2. Penulisan persamaan reaksi menggunakan invers matriks secara otomatis diketahui
antara reaktan dan produk.

Saran
Perlu dikembangkan cara penulisan persamaan reaksi kimia secara matematik
sehingga dapat berlaku untuk semua jenis reaksi.

Daftar Pustaka

Hirst. D.M, 1976, Mathematics for Chemists, ed I, The Macmillan Press LTD,
London
Irwin Krizig, 1989, Advanced Mathematicfor Physicist and Engineering, ed IV,
John Wiley & Sons Inc, New York.
Journal Chemical Education, 1995.

15
ABSTRAK

PENULISAN PERSAMAAN REAKSI MENGGUNAKAN INVERS MATRIKS

Oleh
Pirim Setiarso
Jurusan Kimia FMIPA
Universitas Negeri Surabaya

Penulisan persamaan reaksi yang telah diketahui selama ini menggunakan


subtitusi secara aljabar. Penulisan reaksi kimia menggunakan invers matriks
menggunakan entri pada kolom terakhir dan harus menambahkan satu baris terakhir
matriks identitas untuk mendapatkan matriks bujur sangkar.
Telah dikembangkan teori penulisan persamaan reaksi menggunakan invers
matriks. Teori ini tidak harus menambahkan baris terakhir matriks identitas untuk
mendapatkan matriks bujur sangkar dan tidak harus menggunakan entri kolom terakhir
pda matriks invers akan tetapi menggunakan salah satu kolom tergantung dari cara
penulisanya.
Apabila suatu reaksi tidak dapat dituliskan dengan matriks bujur sangkar maka
cara ini tidak dapat diterapkan, dan dapat digunakan subtitusi secara aljabar.

16