Anda di halaman 1dari 10

BAB V : KONSEP DASAR TEORI AKUNTANSI

Sumber Konsep Dasar


Konsep dasar pada umumnya merupakan abstraksi atau konseptualisasi
karakteristik lingkungsn tempat atau wilayah diterapkannya pelaporan keuangan.
Daftar konsep dasar dari beberapa sumber:
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
IAI mengadopsi kerangka konseptual IASC sehinggga konsep dasar yanga
dipilih juga mengikuti IASC. Ada dua konsep dasar (dinamakan asumsi pelandas
atau underlying assumption) yang disebut secara spesifik dalam kerangka
konseptual IASC. Konsep dasar tersebut adalah :
1. basis Akrual ( Accrual basis)
2. Usaha berlanjut (Going concern)
Grady
Grady mendiskripsikan konsep dasar sebagai konsep yang mendasari kualitas
kebermanfaatan dan keterandalan informasi akuntansi atau sebagai
keterbatasan yang melekat pada statemen keuangan.
Accounting Principles Board
Accounting Principles Board (APB) menyebut konsep dasar sebagai cirri-ciri
dasar dan memuatnya dalam APB statement No.4. APB mengidentifikasi
tigabelas konsep dasar yang merupakan karakteristik lingkungan diterapkannya
akuntansi
Wolk, Tearney, dan Dodd
Wolk dan Teraney mendaftar empat konsep yang dianggap sebagai postulat
dan beberapa konsep lain sebagai prinsip berorientasi masukan (input-oriented
principles) yaitu recognition, matching, conservatism, disclosure, materiality,
dan objectivity dan prinsip berorientasi keluaran (output oriented principles)
yaitu comparability,consistency, dan uniformity. Keempat konsep yang dikategori
sebagai postulat adalah;
1. Usaha berlanjut (going concern)
2. Periode waktu (Time period)
3. Entitas akuntansi (Accounting entity)
4. Unit moneter (Monetary unit)
Anthony, Hawkins, dan Merchant
Konsep dasar 1 sampai 5 dikategori sebagai pelandas statement posisi
keuangan (neraca) sedangkan konsep dasar 6 sampai 11 dikategori sebagai
pelandas statement laba rugi.
(1) pengukuran dengan unit uang),(2) entitas,(3) usaha berlanjut,(4)cost,(5)aspek
ganda,(6)perioda akuntansi,(7)konservatisme,(8)realisasi,(9)penandingan,
(10)konsistensi,(11)materialitas.
Paton dan Littleton
Konsep-konsep dasar yang dikemukakan P&L:
Entitas bisnis atau kesatuan usaha,kontinuitas kegiatan,penghargaan sepakatan,
kos melekat, upaya dan capaiaan hasil, bukti terverifikasi dan objektif, asumsi.
Kesatuan usaha
Konsep ini menyatakan bahwa perusahaan dianggap sebagai suatu kesatuan
atau badan usaha ekonomik yang berdiri sendiri, bertindak atas namanya sendiri,
dan kedudukannya terpisah dari pemilik atau pihak lain yang menanamkan dana
dalam perusahaan dan kesatuan ekonomik tersebut menjadi pusat perhatian atau
sudut pandang akuntansi. Jadi kesatuan usaha merupakan pusat pertanggung
jelasan.

Batas kesatuan
Batas kesatuan usaha dari segi akuntansi bukanlah kesatuan yuridis atau
hokum melainkan kesatuan ekonomik. Batas kesatuan ekonomik adalah kendali
(control) oleh satu manajemen.
Pengertian ekuitas
Ekuitas adalah hak residual pemilik terhadap asset bersih sebagaimana
didefinisi dalam rerangka konseptual FASB. Sudut pandang FASB adalah pemilik.
Pengertian pendapatan
Konsep kesatuan usaha dapat menjelaskan mengapa pendapatan (dan utang)
didefinisi sebagai kenaikan atau aliran masuk asset. Dengan konsep kesatuan
usaha, semua sumber ekonomik yang dimiliki atau dikuasai oleh perusahaan
merupakan asset perusahaan bukan asset pemilik. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa pendapatan menambah ekuitas (utang kesatuan usaha kepada
pemilik).
Pengertian Biaya
Definisi biaya sebagai penurunan asset atau timbulnya kewajiban dapat
dijelaskan dengan konsep kesatuan usaha. Penyerahan produk dalam rangka
menciptakan penedapatan, menyebabkan asset(persediaan barang) berkurang.
Berkurangnya asset (sebesar kos barang terjual) inilah yang disebut biaya. Jadi,
dapat dikatakan bahwa biaya mengurangi ekuitas. Definisi biaya oleh FASB
konsistensi dengan konsep kesatuan usaha.

System berpasangan
Sistem berpasangan atau aspek ganda yang dikemukakakn Anthony, Hawkins, dan
Merchant sebenarnya merupakan konsekuensi logis atau turunan dari konsep
kesatuan usaha. Hubungan bisnis antara manajemen dan pemilik mengakibatkan
manajemen harus selalu memepertanggungjawabkan asset yang dikelolanya dan
sumber aseet tersebut. Ini berarti bahwa pengaruh transaksi terhadap
hubungan bisnis dan posisi keuangan (termasuk utang-piutang dengan pemilik
serta pihak lainnya) harus selalu ditunjukkan. Untuk melaksanakan hal ini dengan
mudah dan nyaman, digunakan system berpasangan.

Persamaan Akuntansi
Konsep kesatuan usaha memisahkan managemen dengan penyedia danadan
manajemen bertanggung jawab kepada mereka. Pertanggungjelasan menuntut
agar asset yang dipercayakan kepada manajemen selalu ditunjukkan sumber atau
asalnya. Pelaporan keuangan harus menunjukkan hubungan ini. Hubungan
fungsional inilah yg disebut Persamaan Akuntansi.
Agar penyususnan statemen keuangan dapat dilakukan dengan cepat, system
akuntansi buku besar harus di organisasi atas dasar persamaan akuntansi. Oleh
karena itu, persamaan akuntansi dapat dikatakan sebagai hubungan fungsional
buku besar yang mempresentasikan elemen statemen keuangan. Hubungan
fungsional antar buku besar ini dapat dinyatakan sebagai berikut.
A = K + E + P – B + I – D atau A = K + E + P – B
Artikulasi
Sebagai konsep dasar yang dikemukakan APB yaitu bahwa statemen keuangan
berkaitan secara mendasar ( Fundamentally Related Financial Statemens ),
artikulasi sebenarnya turunan atau konsekuensi dari konsep kesatuan usaha.
Dengan artikulasi, akan slalu dapat ditunjukkan bahwa laba dalam statemen laba
rugi akan sama dengan laba dalam statemen perubahan ekuitas dan jumlah rupiah
ekuitas dalam neraca.
Kontinuitas Usaha.
Konsep kontinuitas usaha atau usaha berlanjut menyatakan bahwa kalau tidak
ada tanda-tanda, gejala-gejala, atau rencana pasti dimasa dating bahwa kesatuan
usaha akan dibubarkan atau dilikuidasi maka akuntansi menganggap bahwa
kesatuan usaha tersebut akan berlangsungsung terus sampai waktu yang tidak
terbatas.
Konsep ini akan menjadi pertimbangan pada saat penyusunan statemen
keuangan atau pada saat akuntansi menghadapi berbagai pilihan dalam proses
perekayasaan atau penyususnan standar karena kenyataan bahwa kelangsungan
hidup perusahaan dimasa dating tidak pasti.
Dalam menghadapi ketidakpastian kelangsungan usaha, akuntansi menganut
konsep ini atas dasar penalaran bahwa harapan normal atau umum pendiri
perusahaan adalah untuk berlangsung terus dan berkembang bukan untuk mati
atau dilikuidasi.
Arti Penting Laporan Periodik
Dengan konsep kontinuitas usaha, perusahaan berusaha untuk maju dan
berkembang dengan jalan menciptakan laba terus menerus dalam jangka panjang.
Laba diperoleh melalui kegiatan menyerahkan barang atau jasa yang menimbulkan
biaya sebagai aliran keluar asset (sumber ekonomik) dan kegiatan mnedatangkan
pendapatan yang merupakan aliran asset masuk akibat penyerahan barang atau
jasa tersebut. Dengan demikian, kesatuan usaha dapat dipandang sebagai pusat
aliran pendapatan dan biaya yang berlangsung terus. Dengan penalaran di atas,
kinerja akhir dapat diketahui secara tuntas dan objektif kalau perusahaan
dinyatakan benara-benar berhenti, dinilai pada saat itu, dan kemudian dilikuidasi.
Kedudukan Statemen Laba Rugi
Untuk mengukur daya melaba jangka panjang, aliran kontinus sumber
ekonomik masuk dan keluar kesatua usaha ( pendapatan dan biaya ) harus
dipenggal-penggal dengan peroda waktu sebagai wadah atau penakar. Jadi,
konsep konsep perioda waktu yang dikemukakan oleh Hawkins, Anthony, dan
Merchant atau perioda akuntansi ole APB sebenarnya merupakan turunan dari
konsep dasar kontinuitas usaha. Penggalan pendapatan dan biaya untuk suatu
perioda dituangkan dalam statemen laba rugi periodic sehingga statemen laba
rugi dipandang sebagai statemen yang paling penting dalam pelaporan keuangan
karena tingkat laba dalam rangka menilai daya melaba.
Fungsi Neraca Dan Penilaian Elemennya
Konsep kontinuitas usaha sangat besar peranannya dalam mendasari penilaian
elemen atau pos neraca dan interpretasi jumlah rupiah yang dimuat didalamnya.
Dengan konsep kontinuitas usaha, tujuan pelaporan pos neraca dalah untuk
menunjukkan sisa potensi-potensi jasa atau sumber-sumber ekonomik yang belum
dikonsumsi dalam tahun yang berakhir pada tahun neraca. Dengan kata lain,
neraca berfungsi untuk menunjukkan potensi jasa yang masih dimiliki / dikuasai
kesatuan usaha untuk menghasilkan pendapatan dalam perioda-perioda
berikutnya.
Penghargaan Sepakatan
Konsep ini menyatakan bahwa jumlah rupiah/agregat harga atau penghargaan
sepakatan yang terlibat dalam tiap transaksi atau kegiatan pertukaran
merupakan bahan olah dasar akuntansi yang paling objektif terutama dalam
mengukur sumber ekonomi yang masuk dan sumber ekonomi yang keluar. Sebagai
konsekuensi, elemen-elemen atau pos-pos pelaporan keuangan diukur atas dasar
penghargaan sepakatan tersebut.
Istilah Yang Tepat
P & L tidak menyebut bahan olah dasar akuntansi sebagai nilai karena bagi
orang yang satu mungkin sekali berbeda dengan nilai bagi orang yang lain
sehingga nilai akan menimbulkan berbagai interpretasi. Istilah nilai akan member
kesan bahwa akuntansi mengolah bahan yang tidak homogenus. Nilai bersifat
subjektif dan interpretative sedangkan penghargaan sepakatan adalah apa yang
melekat pada objek sehingga bersifat objektif dan inheren.
P & L tidak menggunakan istilah cost untuk menunjuk penghargaan sepakatan
karena cost terlanjur mempunyai makna umum sebagai acquisition cost dari
sudut pandang pihak yang memperoleh sumber ekonomik.
Menurut pendapat penulis, istilah cost sebenarnya cukup tepat untuk untuk
menyatakan price-agregate atau measured consideration karena alas an-alasan
berikut :
1. Dari segi penjual, walaupun istilah cost tidak cukup luas, aliran masuk
penghargaan sepakatan penjualan atau pendapatan/pendapatan yang dicatat
akhirnya akan menjadi cost juga kalau sudah digunakanuntuk memperoleh barang
dan jasa.
2. Dari segi pembeli, kalau istilah cost mempunyai keterbatasan karena tidak
dapat menyatakan hal yang sama dari kedua belah pihak dalam suatu pertukaran,
keterbatasan ini sebenarnya tidak masalah karena akuntansi menganut konsep
kesatuan usaha.

Jas Dibalik Kos


Akuntansi menggunakan satuan mata uang karena satuan tersebut paling
mudah untuk mengkualifikasi objek atau jasa kedalam satuan yang homogenus
dan juga karena harga dalam satuan uang adalah cara yang sudah umum untuk
menyatakan kesepakatan dalam pertukaran. Dari segi akuntansi, sebenarnya
bukan uang atau harga itu sendiri yang mempunyai arti penting meleinkan justru
potensi jasa yang ada dibalik angka koslah yang mempunyai arti penting. Perlu
diingat bahwa kos merupakan salah satu atribut untuk merepresentasi secara
tepat realitas kegiatan perusahan.

Keterbatasan Informasi Akuntansi


Dengan memahami kos sebagai bahan olah akuntansi sebenarnya dapat
dikenali keterbatasab akuntansi dalam memberikan informasi untuk kepentingan
pengambilan keputusan. Informasi akuntansi hanya merupakan sebagian dari
informasi yang dibutuhkan untuk penganbilan keputusan oleh pihak eksternal dan
manajemen.
Kos Melekat
Konsep in I menyatakan bahawa kos melekat pada objek yang dipresentasinya
sehingga kos bersifat mudah bergerak dan dapat dipecah-pecah dan digabung.-
gabungkan kembali mengikuti objek yang di dekatinya. Berbagai kos mempunyai
daya salinh mengikat antara yang satu dengan yang lainnya mengikuti ikatan
objek-objek yang disimbolkannya.
Saat Pengakuan Nilai Tambah
Secara ekonomik, kegiatan perusahaan terdiri atas penggabungan berbagai
factor produksi untuk menghasilkan produk baru yang manfaatnya lebih tinggi.
Kalau kegiatan produksi menggunakan bahan baku dan berbagai macam factor
produksi, kegiatan akuntansi menggunakan kos untuk menyatakan pemrosesan
factor produksi tersebut. Tujuan kegiatan akuntansi adalah mengikuti secara
tepat perubahan tersebut dengan menggolongkan, memecah, dan
mengikhtisarkan kos bahan baku, kos tenaga kerja, kos bahan mesin, dan kos
factor produksi lainnya sehingga seluruh kos tersebut secara bersama-sama
akan membentuk kos produksi. Jadi, dasar konsep kos melekat diperlukan karena
dalam mengikuti aliran fisis tersebut harus ada anggapan bahwa tiap kos
mempunyai daya saling mengikat bila digabungkan dengan kos lain secara tepat.
Konsep dasar ini mempunyai implikasi penting terhadap saat pengakuan
tambahan manfaat produk fisis yang dihasilkan. Kalau kos produk menunjukkan
nilai, maka kedalam kos produk tersebut harus dimasukkan jumlah rupiah nilai
yang merupakan tambahan manfaat yang melekat pada produk sebagai akibat
dari proses produksi itu. Akan tetapi tidak diketahui secara objektif dan
meyakinkan berapa besarnya nilai tambah tersebut.
Wadah Penggabungan
Dalam mengikuti aliran fisis produksi, kos dipecah, dikelompokkan, dan
kemudian digabungkan kembali mengikuti unit fisis produk. Ini berarti bahwa kos
digabungkan dengan dengan produk sebagai wadah atau penakar penggabungan.
Upaya Dan Hasil
Konsep ini menyatakan bahwa biaya merupakan upaya dalam rangka
memperoleh hasil berupa pendapat. Dengan kata lain, tidak ada hasil tanpa upaya.
Secara konseptual, pendapat timbul karena biaya bukan sebaliknya pendapat
menanggung biaya. Artinya, begitu kesatuan usaha melakukan kegiatan produktif
maka pendapat dapat dikatakan telah terbentuk pula walaupun belum terealisasi.
Ojektivitas Bukti
Maust dan Sharaf menjelaskan pengertian dan lingkup bukti audit sebagai
berikit:
Audit evidence includes all influences on the mind pof auditor which affect his
judgment about the truthfulness of the financial statement proposition,
submitted to him for review.
Bukti adalah sarana untuk memastikan kebenaran atau memberikan pembuktian.
Objektivitas Relatif
Akuntansi bukan ilmu pasti sehingga objetivitas bukti dalam akuntansi
bersifat relatif. Kegiatan usaha tidak memungkinkan untuk dijadikan bahan
analisis laboratorium dan tidak pula mengikuti rumus-rumus matematika. Dengan
demikian pakta akuntansi tidak akan selalu beersifat objektif penuh
( conclusively objective ) dan dapat diverifikasi secara tuntas ( completely
verifiable). Oleh Karena itu, konsep objektivitas dalam penciptaan data
akuntansi adalah objektivitas yang disesuaikan dengan keadaan yang ada pada
saat penentuan fakta bukan objektivitas mutlak.
Objektivitas Dan Keterverifikasian Jangka Panjang
Bukti yang paling kuat dan paling diinginkan adalah bukti yang sepenuhnya
objetif. Akan tetapi, bila persyaratan ojektivitas semacam ini harus diikuti
secara mutlak dalam segala hal maka akuntansi akan menjadi perpandangan
jangka pendek dan bertentangan dengan konsep kontinuitas usaha.
Bukti akuntansi juga tidak harus mendasar pada bukti yuridis. Itulah
sebabnya, untuk dapat dinyatakan sebagai asset yang harus dilaporkan oleh
kesatuan usaha, suatu asset tidak harus memiliki kesatuan usaha tetapi cukup
dikuasai.
Dalam jangka panjang ,ada resiko dari konsep objektivitas relative yaiti
bahwa perilakuan akuntansi atas dasar bukti yang tersedia sekarang menjadi
tidak sesuai dengan keadaan dan fakta priode masa datang. Akan tetapi, kalau
fakta ( bukti ) yang digunakan adalah yang terbaik diperoleh ( best obtainable )
maka tidak ada lagi yang dapat diperbuat pada waktu itu.
Akunta nsi hendaknya berusaha untuk mendapatkan bukti yang terbaik
tampa mengorbankan reliabil;itas. Namun memperoleh bukti yang secara
menyakinkan objektif juga memerlukan kos yang tinggi.
Dengan konsep dasar ini, akuntansi dapat menggunakan taksiran-taksiran dan
aproksimasi sebagaimana konsep yang diajukan dalam APB No. 4.
Asumsi
Beberapa contoh asumsi yang menjadi landasan penalaran dalam memiliki
konsep yang relevan.
 Kontinuitas Usaha
Konsep kontinuitas usaha hanya dapat dibenarkan atas dasar pengalaman
perusahaan pada umumnya.
 Priode Satu Tahun
Pelaporan priodek dengan waktu sebagai wadah pengukuran adalah salah satu
kebiasaaan penting dalm akuntansi.untuk tujuan “penakaran” terhafap
pendapatan dan biaya yang menghasilkan pendapatan tersebit, interval waktu
yang biasanya yang digunakan adalah satu tahun, baik tahun kalender ataupun
tahun buku/fiscal.
 Kos Sebagai Bahan Olah
Penghargaan sepakaian yang menjadi bahan oleh akuntansi didasarkan atas
asumsi bahwa kos factor produksi yang diperoleh perusahaan menunjukan nilai
wajar pada saat terjadinya. Asumsi dibalik penalaran tersebut adalah bahwa
para pelaku ekonomi bertindak rasional, suatu asumsi yang tidak terlalu benar
dalam tiap keadaan.
 Daya Beli Uang Stabil
Konsep bahwa jumlah rupiah yang tercatat akan tetap menunjukkan nilai
dilandasi asumsi bahwa daya beli uang adalah stabil sepanjang masa. Dalam
priode-priode yang mengalami inflasi cukup tinggi asumsi tersebut jelas tidak
berlaku lagi untuk tujuan-tujuan tertentu.
 Tujuan Mencari Laba
Konsep pendapatan dan biaya sebagai aliran jumlah rupiah yang ditandingkan
sebenarnya mengandung asumsi bahwa pendapatan adalah objek yang dituju oleh
upaya yang diukur dengan kos. Dengan kata lain, perusahaan dipandang sebagai
suatu organisasi yang dibentuk menghasilkan laba. Asumsi ini tidak diragukan
kelayakannya. Keinginan untukmenghasilkan laba adalah karakteristik nyata yang
melekat pada perussahaan-perusahaan komersial pada umumnya.
 Konsep Dasar Lain
Konsep-konsep dasar yand diuraikan oleh P&L diatas merupakan konsep-konsep
dasar yang terpadu dan lengkap sebagai landasan konseptual untuk merekayasa
pelaporan keuangan. Telah dibahas pula kaitan dengan konsep-konsep dasar
tersebut dengan konsep dasar dari sumber lain yang berpaut.
 Substansi Daripada Bentuk
Konsep ini menyatakan bahwa dalam menetapkan suatu konsep ditingkat
perekayasaan atau dalam menetapkan standar ditingkat penyusun standar,
akuntansi akan menekankan makna atau substansi ekonomi suatu objek atau
kejadian dari pada makna yuridisnya meskipun makna yuridis mukin menghendaki
atau menyarankan perlakuan akuntansi yang berbeda.
Pengakuan Hak Milik Pribadi
Akuntansi yang dikenal sekarang ini sebenarnya dilandasi oleh suatu
lingkungan yang melindungi atau mengakui hak milik pribadi sehingga pertanggung
jawaban bisnis menjadi sangat penting. Hak milik pribadi merupakan landasa
untuk penguasaan suatu sumbeer ekonomik yang membentuk asset.

Keanekaragaman Akuntansi Antarentitas


Keseragaman dalam pelaporan merupakan syarat untuk membantu
pembandingan. Akan tetapi, keseragaman yang kaku justru akan menyembunyikan
karakteristik penting yang harus diungkap secara unik. Oleh karana itu, standar
akuntansi harus member keleluasan kepada kesatuan usaha secara individual
dalam batas-batas yang realistic dan bermakna untuk menyajikan informasi yang
paling sesuai dengan karakteristik kepada usahanya.

Konservatisma
Konservantisma merupakan konsep dasar yang menjadi landasan penentuan
perlakuan akuntansi dalam kondisi ketidakpastian. Secara umum, akuntansi
menghadapi pilihan utuk mengakui pendapatan ( laba ) atau rugi yang
kepastiannya bergantung pada keadaan di masa datang. Karena mengannut
konservatisme akuntansi pada umumnya segera mengakui rugi tetapi menunda
pengakuan pendsapatan ( laba ).

Pengendalian Internal Menjamin Keterandalan Data


Pengendalian internal yang baik merupakan prasyarat tercapainya
keterandalan data akuntansi. Pengendalian internal yang memadai memungkinkan
dicapainya keterverifikasi yang keobjektifan bikti yang paling tinggi. Struktur
pengendalian internal menjadi sasaran bagi auditor untuk di evaluasi untuk
m,enentukan luasnya pengumpulan bukti audit.
TUGAS
TEORI AKUNTANSI
BAB V “KONSEP DASAR”

OLEH KELOMPOK 2 :
ICHTIARINI (AIC008026)
AS’ARI ORAMAHI (AIC008014)
KHAIRUL ANNAM (AIC008
BQ.NUNING PUJI L. (AIC008090)
ASWIN DEAHAERTA (AIC007012)

FAKULTAS EKONOMI AKUNTANSI


UNIVERSITAS MATARAM