Anda di halaman 1dari 8

ACARA IV

REARING
I. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap perkembangan Spodoptera litura.
2. Untuk mengetahui pembentukan spesies Spodoptera litura.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Spodoptera litura (Fabricius) Hubner merupakan salah satu hama seri utama di bidang
pertanian. Spodoptera litura Hubner (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan ancaman utama bagi
pertanian intensif. penyebaran yang luas dan status OPT telah dikaitkan dengan sifat polifag dan
kemampuannya untuk adaptasi dan dapat hidup dengan baik pada kondisi lingkungan yang
buruk dan migrasi musiman . Spesies ini migrasi di semua benua dan merupakan hama utama
pada semua dari mereka (Devanand et al, 2008).
Pemeliharaan serangga pada pakan buatan telah dikembangkan dan dilakukan secara terus
menerus sangat penting untuk serangga ekonomis . Keberhasilan pemeliharaan pada diet buatan
dalam upaya untuk belakang menghilangkan kebugaran dan potensi reproduksi yang
menyebabkan waktu pengembangan lebih lama dan fekunditas rendahpada generasi-generasi
serangga ekonomi berikutnya. Hidup dan tabel fekunditas telah ditemukan untuk menjadi metode
penting untuk menganalisis dan memahami dampak dari faktor eksternal, seperti pakan terhadap
pertumbuhan, reproduksi kelangsungan hidup dan laju peningkatan populasi serangga ( Coudron
et al., 2002 ).
Tabel fekunditas ini telah digunakan untuk memperbaiki teknik pemeliharaan dan
membandingkan sumber makanan yang berbeda dalam diet. Hal ini ditandai sebagai agen gelling
dan menyediakan beberapa mineral dan mungkin memberikan stimulasi motilitas usus, yang
sangat penting dalam penyerapan nutrisi dan pencernaan. Ada fungsi lain dari komponen
makanan seperti pengubah dari ketersediaan hayati, stabilitas, palatabilitas, emulsifikasi dan
aspek lain seperti viskositas, kekuatan tipis dan kekuatan tarik ( Cohen, 2003 ).
Produksi missal musuh alami untuk inokulasi adalah dengan mengatur kultur setiap musim
untuk setiap individu yang diambil dari lapangan pada akhir musim tanam. Untuk menjaga
keragaman genetik dan mencegah adaptasi terhadap kondisi di laboratorium, kultur dimulai
dengan sebanyak mungkin individu musuh alami. Rearing musuh alami harus menjaga tingkat
hygiene secara ketat untuk menghindari penyakit atau hiperparasitoid (Purnomo, 2009).
Tapioka juga dapat digunakan sebagai bahan pembentuk gel di media. Dalam hal ini
tapioka yang digunakan sebagai pengganti pakan agar-agar pada pemeliharaan H. armigera
sampai lima generasi berturut-turut. Dampak dari pakan tapioka berbasis dipelajari pada
pengembangan larva, pengembangan kepompong, berat pupa, pupation tidak lengkap, persentase
kelamin munculnya, fekunditas dan umur panjang, yang dibandingkan dengan hasil dari generasi
berturut-turut secara bersamaan dipelihara pada formula makanan agar-based. Baru-baru ini
Ehric (2009) mengevaluasi perkembangan kontrol dan pakan buatan dengan musuh alami
termasuk hama Lepidopteran.
III. METODOLOGI
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 28 Desember 2010 di Laboratorium
Entomologi Terapan, Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Adapun bahan dan alat yang dibutuhkan untuk praktikum
ini yaitu ulat grayak (Spodoptera litura), kuas, pakan buatan, tabung biakan, kertas tissu, dan
lemari inkubator.

Pertama-tama, Spodoptera litura fase larva disiapkan. Setelah itu, tissu dipotong sesuai
dengan ukuran tabung biakkan yang nantinya digunakan sebagai alas pada tabung tersebut. Pada
tabung biakkan yang telah siap, pakan buatan yang telah dipotong dimasukkan bersama larva
Spodoptera litura tersebut. Pada praktikum ini terdapat dua perlakuan yaitu pada suhu kamar dan
suhu inkubasi 15-20C. Pada masing-masing perlakuan dibuat 6 ulangan. Setelah itu diamati
perubahannya selama 7 hari dan dicatat jumlah serta perkembangan instarnya.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Data Pengamatan Rearing pada Suhu Kamar dan Suhu Inkubator

Suhu kamar
Ulangan / Perubahan instar hari ke-
kelompok 1 2 3 4 5 6 7 keterangan
1 1 1 0 0 0 0 0 = mati
1
1 1 1 1 0 0 0
1 1 1 1 1 1 1
2
1 1 1 1 1 1 0
1 1 instar 2 0 0 0 0
3 instar
1 1 instar 2 instar 5 pupa 0
3-4

suhu inkubator
Perubahan instar hari ke-
ulangan / kelompok
1 2 3 4 5 6 7 keterangan
1 1 1 1 1 1 1 1 0 = mati
  1 1 1 1 1 1 1
2 1 1 1 1 1 0 0
  1 1 1 1 1 0 0
3 1 1 0 0 0 0 0
  1 1 instar 2 2 2 0 0

Keterangan:
*) Bagian yang disukai oleh serangga Kutu Daun yaitu bagian daun dan batang tanaman
*) Serangga Kutu Daun suka berada di posisi bagian permukaan daun bagian bawah.

B. Pembahasan
Pemeliharaan serangga menguntungkan meliputi sinkronisasi dari 3 biologi
entitas-spesies yang menguntungkan, spesies inang, dan tanaman inang atau makanan. Tujuan
pemeliharaan serangga yang bermanfaat (parasitoid dan predator) di laboratorium
adalah untuk mempelajari serangga itu sendiri, untuk memfasilitasi pembentukan spesies
dikenali, untuk mencapai distribusi yang lebih luas dari spesies yang telah ditetapkan
sebelumnya, atau untuk pengendalian biologis. Serangga yang dipelihara harus mempunyai
siklus hidup singkat, potensi biotik yang tinggi, kebutuhan makanan sederhana, dan host
alternatif. Pemeliharaan serangga dipengaruhi oleh reproduksi, perilaku, lingkungan, fisiologis,
gizi dan faktor genetik (Singh, 1982).
Spodoptera litura merupakan hama penting pada tembakau yang menyebabkan kerusakan
serius. Biologi dan dinamika populasi hama ini menunjukkan korelasi yang signifikan antar
perilaku larva Spodoptera litura dan suhu atau kelembaban. Misalnya, larva lebih suka bergerak
dan makan pada dingin dan lembabnya malam hari (Zhou et al, 2007).

suhu kamar
1.2
1
0.8 jumlah ulat vs hari
pengamatan
0.6
0.4
0.2
0
1 2 3 4 5 6 7

Perkembangan larva Spodoptera litura hingga berubah menjadi imago dengan pakan
buatan dapat berkembang dengan baik pada suhu 27 ± 1 ° C dan kelembaban 65 ± 5% (Gupta et al,
2005).
Berdasarkan grafik diatas, dapat terlihat terjadi penurunan jumlah larva Spodoptera litura
pada hari ke-7. Adanya penurunan tersebut dikarenakan adanya perubahan instar serta kematian
ulat tersebut. Sedangkan pada perkembangan pertumbuhan ulat ini, perubahan instar dimulai
pada hari ke-4 yaitu larva Spodoptera litura mulai memasuki instar 3-4. Perubahan instar ini
hingga tahap berpupa seperti yang terjadi pada hari ke-6 pada ulangan 3. Pada umumnya larva
Spodoptera litura yang digunakan pada praktikum ini adalah instar 2. Berdasarkan literatur, suhu
kamar yang berkisar 25-27C, sangat cocok untuk pemeliharaan larva Spodoptera litura hingga
menjadi bentuk imago. Spodoptera litura merupakan serangga yang bersifat polyfag dan sangat
mudah beradaptasi walaupun dengan lingkungan yang ekstrem, sehingga mudah menyesuaikan
diri dengan pakan buatan. Ketersediaan pakan bernutrisi secara terus menerus juga dapat
memicu perkembangan larva Spodoptera litura. Kondisi lingkungan yang sesuai (suhu dan
kelembaban) serta ketersedian pakan mempercepat perkembangan larva Spodoptera litura pada
suhu kamar.

suhu inkubator
1.2
1
0.8 jumlah ulat vs hari
pengamatan
0.6
0.4
0.2
0
1 2 3 4 5 6 7

Pada perlakuan suhu inkubator dengan suhu yang berkisar 15-20C, penurunan jumlah
spodoptera terjadi lebih awal yaitu pada hari ke-6. Adanya penurunan jumlah larva ini karena
adanya mortalitas. Suhu sangat menentukan perkembangan Spodoptera litura, semakin tinggi
suhu lingkungan maka semakin kecil tingkat mortalitas serangga ini.Perubahan instar hanya
mencapai instar 2 saja yang berlangsung pada hari ke-3 dan ulangan ke-3. Ketersediaan pakan
yang cukup, namun keadaan lingkungan yang tidak sesuai seperti suhu dan kelembaban sangat
mempengaruhi kondisi larva Spodoptera litura yang berpengaruh pada kebugaran dan ketahanan
hidup hama tersebut. Suhu juga mempengaruhi perkembangan siklus hidup larva Spodptera litura.
Semakin tinggi suhu, semakin pendek siklus hidup Spodptera litura yang mempengaruhi fisiologis larva.

C. KESIMPULAN
1. Suhu 27± 1 ° C dan kelembaban 65 ± 5% merupakan suhu yang optimal untuk perkembangan larva
Spodoptera litura yang sesuai dengan suhu kamar.
2. Suhu mempengaruhi tingkat mortalitas dan siklus hidup larva Spodptera litura.
3. Pada suhu kamar, larva Spodptera litura ada yang menjadi pupa pada hari pengamatan hari ke-6.
4. Pada suhu inkubator, larva Spodptera litura hanya mengalami perubahan instar pada pengamatan
hari ke-3.

DAFTAR PUSTAKA
Cohen, AC, 2003. Insect Diet Science and Technology. Serangga Diet Sains dan Teknologi. CRC Press,
USA., pp: 429. CRC Press, USA, pp: 429.
Coudron, TA, J. Wittmeyer and Y. Kim, 2002. Coudron, TA, J. Wittmeyer dan Y. Kim, 2002. Life history and
cost analysis for continuous rearing of Podisus maculiventris (Heteroptera: Pentatomidae) on a
Zoophytophagous artificial diet. Hidup sejarah dan analisis biaya pemeliharaan terus-menerus
maculiventris Podisus (Heteroptera: Pentatomidae) pada diet buatan Zoophytophagous. J. Econ.
J. Econ. Entomol., 95: 1159-1168. Entomol, 95:. 1159-1168.
Dhandapani N, S Jayaraj, Rabindra RJ, 1993. Cannibalism on nuclear polyhedrosis-virus
infected larvae by Heliothis armigera (Hubn.) and its effect on viral-infection. Insect Sci
Appl 14 : 427 -430.
Ehric, R., 2009. Development of control to image crop pest natural enemies including lepidopteran
pests, parasitoid. Pengembangan kontrol ke musuh memotong gambar hama alam termasuk
hama Lepidopteran, parasitoid. Biocontrol, 54: 325-339. Biokontrol, 54: 325-339.
Gupta, G.P, S. Rani, A. Birah and M. Ranghuraman. 2005. Improved artificial diet for mass
rearing of the tobacco caterpillar, Spodoptera litura (Lepidoptera: Noctuidae).
International Journal of Tropical Insect Science 25: 55-58.
Purnomo, H. 2009. Pengantar Pengendalian Hayati. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Singh, P. 1982. http://www.ento.org.nz/nzentomologist/free_issues/NZEnto07_3_1982/Volume%207-3-
304-310.pdf. Diakses 10 Januari 2011.
Zhou ZS, Chen ZP, Deng HB, YM Chen, ZF Xu (2007). Life table of tabel natural population of
Spodoptera litura (Fabricius) on tobacco and alam talas. Acta Ecologica Sinica, 27: 1515-
1523.