Anda di halaman 1dari 40

EFEK ANALGESIK INFUSA TEMU KUNCI (Kaempferia pandurata Roxb.

)
TERHADAP JUMLAH GELIAT MENCIT BETINA GALUR SWISS YANG
DIINDUKSI ASAM ASETAT

Disusun oleh:
PRAKTIKAN KELOMPOK A
FST A

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DASAR


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2011
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................................... 0i


DAFTAR ISI........................................................................................................................ 0ii
BAB I
A. LATAR BELAKANG .............................................................................................. 01
B. PERMASALAHAN.................................................................................................. 02
C. MANFAAT ............................................................................................................... 02
D. TUJUAN ................................................................................................................... 02
BAB II
A. SISTEMATIKA TANAMAN................................................................................... 03
B. OBAT TRADISIONAL ............................................................................................ 05
C. NYERI ...................................................................................................................... 06
D. ANALGETIKA......................................................................................................... 08
E. PARASETAMOL ..................................................................................................... 10
F. ASAM ASETAT....................................................................................................... 10
G. PENYARIAN............................................................................................................ 10
H. UJI ANALGETIKA .................................................................................................. 12
I. LANDASAN TEORI ................................................................................................ 14
J. HIPOTESIS............................................................................................................... 14
BAB III
A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN............................................................ 15
B. METODE PENELITIAN.......................................................................................... 15
C. VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN .............................. 15
D. BAHAN ATAU MATERI PENELITIAN................................................................ 16
E. ALAT ATAU INSTRUMEN PENELITIAN ........................................................... 17
F. TATA CARA PENELITIAN.................................................................................... 17
G. ANALISIS HASIL.................................................................................................... 19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................................................. 20
BAB V
A. KESIMPULAN ......................................................................................................... 28
B. SARAN ..................................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 29
LAMPIRAN......................................................................................................................... 31

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Nyeri merupakan salah satu gejala dari penyakit ataupun kerusakan jaringan
atau organ tubuh yang paling sering terjadi. Kerusakan jaringan ataupun terjadinya
gangguan pada jaringan dapat menimbulkan rasa nyeri. Impuls nyeri bisa terjadi
karena adanya rangsangan yang menyebabkan sel-sel melepaskan enzim proteolitik
(enzim pengurai protein) dan polipeptida yang merangsang ujung saraf. Prostaglandin
dapat bereaksi dengan senyawa kimia untuk membuat ujung saraf menjadi sensitif
terhadap rangsangan nyeri oleh polipeptida.
Apabila seseorang merasa nyeri, maka akan segara meminum obat penghilang
rasa nyeri. Obat-obat penghilang rasa nyeri ini sering disebut obat-obat analgetik.
Obat analgesik adalah obat yang mempunyai efek menghilangkan atau mengurangi
nyeri tanpa disertai hilangnya kesadaran atau fungsi sensorik lainnya. Obat analgesik
bekerja dengan meningkatkan ambang nyeri, mempengaruhi emosi (sehingga
mempengaruhi persepsi nyeri), menimbulkan sedasi atau sopor (sehingga nilai
ambang nyeri naik) atau mengubah persepsi modalitas nyeri.Obat analgesik akan
merubah persepsi dan interpretasi nyeri dengan jalan mendepresi sistem saraf pusat
pada thalamus dan korteks cerebri. Analgesik akan lebih efektif diberikan sebelum
klien merasa nyeri yang berat dibandingkan setelah mengeluh nyeri.
Tanaman obat tradisional merupakan salah satu modal dasar pembangunan
kesehatan nasional. Di Indonesia disamping pelayanan kesehatan formal, pengobatan
dengan cara tradisional dan pemakaian obat tradisional masih banyak dilakukan oleh
masyarakat secara luas, baik di daerah pedesaan maupun daerah perkotaan.
Temu kunci (Kaempferia pandurata Roxb.) yang biasanya digunakan oleh
masyarakat sebagai penyedap pada masakan tradisional, dipercaya juga merupakan
obat tradisional yang dapat digunakan sebagai obat analgesik. Penelitian ini bertujuan

1
untuk mengetahui apakah ekstrak seduhan rimpang temu kunci memiliki efek
analgesik, yaitu mengurangi rasa nyeri.

B. PERMASALAHAN
1. Apakan infusa rimpang temu kunci memiliki efek analgesik?
2. Apakah pemberian infusa rimpang temu kunci per oral dapat mengurangi
jumlah geliat mencit betina galur Swiss yang diinduksi asam asetat?

C. MANFAAT
Penelitian mengenai efek analgetik infusa rimpang temu kunci (Kaempferia
pandurata Roxb.) ini memiliki beberapa manfaat di bidang farmasi antara lain:
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi
mengenai efek analgesik dari infusa rimpang temu kunci.
2. Manfaat praktis
Hasil penelitian yang diperoleh dapat digunakan sebagai acuan untuk
menentukan simplisia yang memiliki efek farmakologis besar terutama efek
analgesik.

D. TUJUAN
1. Membuktikan bahwa infusa rimpang temu kunci memiliki efek analgesik.
2. Membuktikan bahwa infusa rimpang temu kunci dapat mengurangi jumlah
geliat mencit betina galur Swiss yang diinduksi asam asetat

2
BAB II
PENELAHAAN PUSTAKA

A. SISTEMATIKA TANAMAN
1. SISTEMATIKA TANAMAN TEMU KUNCI

Sistematika temu kunci (Boesenbergia rotunda (L.) Mansf. syn. Curcuma


rotunda L., B. pandurata (Roxb.) Schlechter, Kaempferia pandurata Roxb.)
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Liliopsida
Ordo: Zingiberales
Famili: Zingiberaceae
Genus: Boesenbergia
Spesies: B. rotunda
(Plantus, 2008).
2. NAMA LATIN dan NAMA DAERAH
Nama latin dan nama daerah dari temu kunci adalah:
Nama Latin : Boesenbergia pandurata (Roxb.), Curcuma rotunda L., B.
pandurata (Roxb.) Schlechter, Kaempferia pandurata Roxb.).
Nama Indonesia : Temu kunci

3
Nama Daerah : Temu kunci (Sunda), kunci (Jawa), temu konci (Bali), dumu kunci
(Bima), temo kunce (Madura), tampute (Ternate), tamu konci (Makasar), suo shi, ow sun
zhiang (Cina), chinese key (Inggris) (Plantus, 2008).

3. MORFOLOGI TANAMAN
Temu kunci berperawakan herba rendah, merayap di dalam tanah. Dalam satu
tahun pertumbuhannya 0,3-0,9 cm. Batangnya merupakan batang asli di dalam tanah
sebagai rimpang, berwarna kuning coklat, aromatik, menebal, berukuran 5-30 x 0,5-2
cm. Batang di atas tanah berupa batang semu (pelepah daun). Daun tanaman ini pada
umumnya 2-7 helai, daun bawah berupa pelepah daun berwarna merah tanpa helaian
daun. Tangkai daun tanaman ini beralur, tidak berambut, panjangnya 7-16 cm, lidah-
lidah berbentuk segitiga melebar, menyerupai selaput, panjang 1-1,5 cm, pelepah
daun sering sama panjang dengan tangkai daun; helai daunnya tegak, bentuk lanset
lebar atau agak jorong, ujung daun runcing, permukaan halus tetapi bagian bawah
agak berambut terutama sepanjang pertulangan, warna helai daun hijau muda,
lebarnya 5-11 cm (Plantus, 2008).
Bunga tanaman ini berupa susunan bulir tidak berbatas, di ketiak daun,
dilindungi oleh 2 spatha, panjang tangkai 41 cm, umumnya tangkai tersembunyi
dalam 2 helai daun terujung. Kelopak bunganya 3 buah lepas, runcing. Mahkota
bunganya 3 buah, warnanya merah muda atau kuning-putih, berbentuk tabung 50-52
mm, bagian atas tajuk berbelah-belah, berbentuk lanset dengan lebar 4 mm dan
panjang 18 mm. Benang sarinya 1 fertil besar, kepala sarinya bentuk garis membuka
secara memanjang. Lainnya berupa bibir-bibiran (staminodia) bulat telur terbalik
tumpul, merah muda atau kuning lemon, gundul, 6 pertulangan, dan ukurannya 25×7
cm. Putik bunganya berupa bakal buah 3 ruang, banyak biji dalam setiap ruang
(Plantus, 2008).

4
4. KANDUNGAN KIMIA
Rimpang temu kunci mengandung minyak atsiri, saponin, flavonoid,
kurkumin, tannin, d-burneol, d-pinen sesquiterpen (Plantus, 2008).

5. MANFAAT
Rimpang temu kunci memiliki manfaat sebagai peluruh dahak atau untuk
menanggulangi batuk, peluruh kentut, penambah nafsu makan, menyembuhkan
sariawan, bumbu masak, dan pemacu keluarnya Air Susu Ibu (ASI), Perasan dan
infusa rimpang temu kunci memiliki daya analgetik dan antipiretik (Plantus, 2008)..

B. OBAT TRADISIONAL
Obat tradisional adalah obat yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan, hewan,
mineral dan atau persediaan galeniknya atau campuran dari bahan-bahan tersebut
yang belum mempunyai data klinis dan dipergunakan dalam usaha pengobatan
berdasarkan pengalaman (Anonim, 1983).
Penggunaan bahan alam sebagai obat cenderung mengalami peningkatan
dengan adanya isu back to nature dan krisis berkepanjangan yang mengakibatkan
turunnya daya beli masyarakat terhadap obat-obat modern yang relatif lebih mahal
harganya. Obat bahan alam juga dianggap hampir tidak memiliki efek samping yang
membahayakan. Pendapat itu belum tentu benar karena untuk mengetahui manfaat
dan efek samping obat tersebut secara pasti perlu dilakukan penelitian dan uji
praklinis dan uji klinis. Obat bahan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi
tiga yaitu jamu yang merupakan ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis,
obat herbal yaitu obat bahan alam yang sudah melewati tahap uji praklinis,
sedangkan fitofarmaka adalah obat bahan alam yang sudah melewati uji praklinis dan
klinis (SK Kepala BPOM No. HK.00.05.4.2411 tanggal 17 Mei 2004) ( Gunawan dan
Mulyani, 2004).
Di samping keunggulannya, obat bahan alam juga memiliki beberapa
kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional

5
antara lain: efek farmakologisnya lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat
higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai
mikroorganisme. Upaya-upaya pengembangan obat tradisional dapat ditempuh
dengan berbagai cara dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan
bentuk obat tradisional yang telah teruji khasiat dan keamanannya, bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta memenuhi indikasi medis, yaitu
kelompok obat fitoterapi atau fitofarmaka. Untuk mendapatkan produk fitofarmaka
harus melalui beberapa tahap (uji farmakologi, toksisitas dan uji klinik) hingga bisa
menjawab dan mengatasi kelemahan tersebut ( Gunawan dan Mulyani, 2004).
Hingga saat ini, obat-obat tradisional dianggap dan diharapkan berperan dalam
usaha-usaha pencegahan dan pengobatan penyakit, serta peningkatan taraf kesehatan
masyarakat. Penggunaan hingga saat ini didasarkan pada dugaan-dugaan hasil
pengalaman atau pengetahuan yang diteruskan secara turun-temurun, dan belum
didasarkan pada hasil penelitian dan hasil percobaan yang seksama. Sesuai dengan
rencana pemerintah untuk memperluas dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
kepada masyarakat, maka penanganan persoalan obat tradisional serta
pengembangannya seharusnya dapat menolong pemerintah. Pengembangan obat
tradisional harus didasarkan pada kepentingan masyarakat, ini berarti bahwa
penggunaan obat tradisional untuk pengobatan harus punya dasar-dasar yang kuat,
sehingga penggunaan dan anjuran untuk menggunakannya harus benar-benar dapat
dipertanggungjawabkan (Husin, 1983).

C. NYERI
Nyeri sebenarnya sebagai tanda adanya penyakit atau kelainan dalam tubuh dan
merupakan bagian dari prosese penyembuhan (inflamasi). Nyeri perlu dihilangkan
jika sudah mengganggu aktifitas tubuh, analgetik merupakan obat yang digunakan
untuk menghilangkan nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (Priyanto, 2008).
Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala yang fungsinya memberi tanda
tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau

6
kejang otot. Rasa nyeri disebabkan oleh rangsangan mekanisme atau kimiawi, kalor
atau listrik yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yang
disebut mediator nyeri (Tjay dan Rahardja, 2002).
Rasa nyeri diterima oleh reseptor khusus, yang merupakan ujung syaraf bebas.
Secara fungsional di bedakan menjadi 2 jenis reseptor:
1. Mekanoreseptor
Suatu reseptor yang meneruskan rangsangan nyeri permukaan melalui serabut
A- delta bermielin.
2. Termoreseptor
Suatu reseptor yang meneruskan rangsangan nyeri kedua melalui serabut-
serabut C-yang tidak bermienil.
(Mutschler,1991).
Berdasarkan tempat terjadinya, nyeri dibedakan menjadi 2 yaitu: nyeri somatik
dan nyeri viseral. Nyeri somatik dibagi dua kualitas yaitu nyeri permukaan dan nyeri
dalam. Bila nyeri berasal dari kulit rangsang yang bertempat dalam kulit maka rasa
yang terjadi disebut nyeri permukaan, sebaliknya nyeri yang berasal dari otot,
persendian, tulang, atau dari jaringan ikat disebut nyeri dalam (Mutschler, 1991).
Mediator-mediator nyeri yang terpenting adalah histamin, serotonin,
plasmakinin (antara lain bradikinin) dan prostaglandin, juga ion-ion kalium. Zat-zat
tersebut dapat mengakibatkan reaksi-reaksi radang dan kejang-kejang dari jaringan
otot yang selanjutnya mengaktifkan reseptor nyeri. Plasmakinin merupakan peptida
(rangkaian asam-asam amino) yang terbentuk dari protein-protein plasma, sedangkan
prostaglandin merupakan zat yang mirip asam lemak dan terbentuk dari asam-asam
lemak esensial. Kedua zat tersebut berkhasiat sebagai vasodilatator kuat dan
memperbesar permeabilitas (daya hablur) kapiler dengan akibat terjadinya radang dan
udema (Tjay dan Rahardja, 2002).

7
Cara pemberantasan nyeri:
1) Menghalangi pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri perifer oleh
analgetika perifer atau oleh anastetik lokal.
2) Menghalangi penyaluran rangsang nyeri dalam syaraf sensoris, misalnya
dengan anastetik lokal.
3) Menghalangi pusat nyeri dalam sistem syaraf pusat dengan analgetika sentral
(narkotik) atau dengan anastetik umum (Tjay dan Rahardja, 2002).

D. ANALGETIKA
Analgetika adalah senyawa yang dalam dosis terapetik meringankan atau
menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anestesi umum. Berdasarkan potensi kerja,
mekanisme kerja dan efek samping analgetika dibedakan dalam 2 kelompok yaitu
analgetika yang berkhasiat kuat, bekerja pada pusat (hipoanalgetik, kelompok Opiat)
dan analgetika yang bersifat lemah (sampai sedang) bekerja terutama pada perifer
(Mutschler, 1991).
Efek sedasi merupakan efek samping beberapa golongan obat yang tidak
termasuk golongan depresan SSP. Walaupun golongan tersebut memperkuat efek
penekanan SSP, secara mandiri tidak dapat menginduksi anestesi umum. Golongan
tersebut umumnya telah mengahasilkan efek terapi yang lebih spesifikasi pada kadar
yang lebih kecil dari pada yang dibutuhkan untuk depresi SSP secara umum
(Ganiswara, 1995).
Analgetik dibedakan menjadi dua golongan besar :
1. Analgetik Narkotik.
Analgetik narkotik mempunyai daya penghalang yang kuat sekali,
mengurangi kesadaran atau mengantuk dan memberikan perasaan atau
habituasi. Ketergantungan secara fisik dan psikis, adikasi, gejala-gejala
abstinemia dapat terjadi bila pengobatan tidak dihentikan segera. Contoh
golongan ini adalah peptidin HCl, opii pulvis dan sediaannya, morfin HCl pada
morfin. Mekanisme keja dari analgeti narkot adalah berikatan secara selektif

8
pada banyak tempat diseluruh tubuh untuk menghasilikan efek farmakologi.
Tempat kerja utama di lobus otak yang terlibat trasmisi rasa nyeri dalam
perubahan reaktivitas rangsangan monoseptik (Mutschler, 1991).
Efek umum yang dimiliki oleh narkotik:
 Memberikan analgetik serta rasa gembira, hilangnya rasa takut dan
merasa terganggu ole nyaeri yang diderita, pada dosis analgetik tidak
memberi hipnosi tetapi pada dosis tersebut memberi rasa ngantuk.
 Menekan pusat pernapasan sehingga peranapasan menjadi dangkal dan
lambat, bahkan terjadi kematian karenakegagalan pernapasan. Tetapi
pusat-pusat dirangsang sehingga menimbulkan mutah.
 Keracunan akut mengalami gejala depresi sistem syaraf pusat
khususnya pusat pernapasan sehingga gerakan napas hampir tidak
terlihat dan jarang. Akibatnya kulit dan mukosa berwarna biru
sehingga miosis maksimal mengikat khasiatnya sebagai analgetik juga
memberi rasa gembira (Mutschler, 1991).
2. Analgesik Non Narkotik
Analgetik non narkotik berefek melalui mekanisme kerja menghambat
biosintesis prostaglandi. Prostaglandi berperan pada rasa nyeri yang berkaitan dengan
kerusakan jantung atau inflamasi. Prostaglandi mengakibatkan keluarnya mediator
kimiawi seperti histamin yang merangsang dan menimbulkan rasa nyeri yang nyata.
Obat analgetik ini efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang,
contoh sakit kepala, mialigia, artalagia dan rasa nyeri lain yang berasal dari
antequment. Selain itu juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi
(Mutschler, 1991).
Efek obat dari golongan non narkotik jauh lebih rendah dibandingkan obat
golongan narkotik. Namun obat ini tidak menimbulkan ketagihan dan efek samping
sentral yang merugikan seperti golongan narkotik. Adapun beberapa efek samping
yang timbul sesudah pemakaian analgetik non narkotik yaitu kerusakan lambung,

9
usus,kerusakan darah seperti leukopenia, agranulositosis, kerusakan hati dan
kerusakan gunjal. Contoh obat analgetik golongan non narkotik yaitu aspirin,
asetosal, asam mefenamat, parasetamol, ibuprofen fenil butason, pirosikam, dan asam
salisilat (Mutschler, 1991).

E. PARASETAMOL
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik da antipiretik yang
populer dan digunakan untuk melegakan sakit kepala dan demam. Digunakan dalam
sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu. Ia aman dalam dosis standar,
tetapi karena mudah didapati, overdosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering
terjadi (Anonim, 2011).
Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen,
parasetamol tak memiliki sifat antiradang. Jadi parasetamol tidak tergolong dalam
obat jenis NSAID. Dalam dosis normal, parasetamol tidak menyakiti permukaan
dalam perut atau mengganggu gumpalan darah, ginjal atau duktus arteriosus pada
janin. (Anonim, 2011).

F. ASAM ASETAT
Asam asetat mempunyai rumus molekul CH3COOH. Asam asetat mengandung
tidak kurang dari 36,0% dan tidak lebih dari 37,0%b/b C2H4O2. Pemerian berupa
cairan jernih, tidak berwarna, berbau khas, rasa asam yang tajam (Anonim, 1995).
Dalam pengujian efek analgesik menggunakan metode rangsang kimia, dapat
digunakan asam asetat glasial 0.1 % sebagai rangsang sakit. Dosis asam asetat glasial
0.1 % untuk pengunaan tersebut adalah 0,5ml/20 g BB (Hardoko dan Eleison, 1999).

G. PENYARIAN
Penyarian merupakan pemindahan masa zat aktif yang semula berada di dalam
sel, ditarik oleh cairan penyari, sehingga terjadi larutan zat aktif dalam cairan penyari

10
tersebut. Penyarian akan bertambah bila permukaan serbuk simplisia yang
bersentuhan dengan cairan penyari makin luas (Anonim, 1986).
Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi harus dipilih berdasarkan
kemampuannya dalam melarutkan kandungan zat aktif yang maksimal dan seminimal
mugkin bagi :
1. Simplisia
Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan
yang telah dikeringkan. Simplisia nabati adalah simplisia berupa tanaman utuh,
bagian tanaman, dan eksudat tanaman. Simplisia hewani adalah simplisia
berupa hewan utuh, bagian hewan, atau zat yang dihasilkan hewan yang masih
belum berupa zat kimia murni (Anonim, 1979).
2. Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa kering, kental, dan cair yang dibuat
dengan menyari simplisia nabati atau simplisia hewani dengan cara yang sesuai,
diluar pengaruh sinar matahari langsung (Anonim, 1979).
Pembuatan sediaan ekstrak dimaksudkan agar zat berkhasiat yang terdapat
disimplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar yang tinggi (Anief,
1987).
Ekstraksi merupakan metode penyarian yang digunakan tergantung pada jenis
zat aktif dan kandungan yang akan disari. Metode dasar, penyarian adalah
maserasi, perkolasi dan soxhletasi. Pemilihan terhadap ketiga cara di atas
disesuaikan dengan kepentingan dalam memperoleh sari (Harborne, 1987).
3. Infusa/ Infus
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan
air pada suhu 90o selama 15 menit. Pembuatan infus dengan cara mencampur
simplisia dengan derajat halus yang cocok dalam panci dengan air secukupnya,
panaskan diatas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90 o
sambil sekali- sekali diaduk. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan

11
air panas secukupnya melalui ampas hingga diperoleh volume infus yang
dikehendaki (Anonim,1979).
4. Aquadest
Aquadest merupakan singkatan dari Aqua Destilata yang dikenal sebagai air
suling. Aquadest dibuat dengan cara menyuling air yang dapat diminum.
Pemerian aquadest; merupakan cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan
tidak mempunyai rasa. Penyimpanan aquadest di dalam wadah tertutup baik
(Anonim,1979).

H. UJI ANALGETIKA
Berdasarkan jenis analgesiknya dibagi menjadi 2,yaitu :
1. Golongan Analgesik Non-narkotik
a. Metode Rangsang Kimia
Dalam metode ini, rangsang nyeri yang timbul berasal dari rangsang
kimia yang disebabkan zat kimia yang diberikan secara i.p. pada hewan uji.
Beberapa zat yag sering digunakan untuk metode ini yaitu asam asetat. Metode
ini cukup peka untuk pengujian senyawa yang mengandung daya analgesik
lemah. Pemberian analgesik akan mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
dengan jumlah geliat terkurang sampai hilang sama sekali tergantung pada
senyawa yang digunakan (Turner, 1995).
b. Metode Pedodolorimeter
Metode ini menggunakan aliran listrik untuk mengukur besarnya daya
analgesik. Alas kandang tikus terbuat dari metal yang biasa mengalirkan listrik.
Respon ditandai dengan teriakan dari tikus tersebut (Turner, 1995).
c. Metode Rektodolorimeter
Tikus diletakkan dalam sebuah kandang yang dibuat khusus dengan
tembaga yang dihubungkan dengan silinder elektroda tembaga. Sebuah
voltmeter yang sensitif untuk mengubah 0,1 volt dihubungkan dengan

12
konduktor yang berada pada gulungan di atas. Tegangan yang sering digunakan
untuk menimbulkan teriakan menjerit adalah 1-2 volt (Turner, 1995).
2. Golongan Analgesik Narkotik
a. Metode Jepitan Ekor
Sekelompok mencit disuntik dengan larutan yang akan di uji dengan dosis
tertentu secara s.c. atau i.v. tiga puluh menit kemudian dijepit, yang dibuat
dengan mengatupkan lengan di klip arteri dalam karet yang tipis, diletakkan
atau dijepitkan pada ekor tikus selama 80 detik. Mencit yang telah disuntik
akan membuat tingkah untuk mencoba melepaskan klip tersebut. Obat
analgesik akan menyebabkan perlakuan berbeda dengan yang tidak disuntik
terhadap klip (Turner, 1995).
b. Metode Pengukuran Tekanan
Tes dilakukan dengan menyuntikkan substansi secara s.c. 0,2 ml saline
per 50 kg BB. Tekanan akan terjadi dalam 6 kali dalam interval 10 menit. Rata-
rata dari 6 indikasi digunakan untuk perbandingan. Tekanan yang paling tinggi
digunakan 3 kali sebagai nilai kontrol rata-rata (Turner, 1995).
c. Metode Rangsang Panas
Tikus albino jantan dengan berat tubuh antara 20-30 gram diletakkan di
atas plat panas. Plat panas tersebut bersuhu antara 55o C-55,5 o C dengan wadah
air mengandung larutan yang mendidihkan yang merupakan aseton dan metil
format. Waktu reaksi diambil pada interval saat tikus mencapai plat panas
sampai tikus menjilat kakinya atau melompat keluar. Tes ini efektif untuk
morfin hidroklorida 4 mg/kg BB, kodein phosphate 28 mg/kg BB dan
dihidromorphin hidroklorid 0,5 mg/kg BB (Turner, 1995).
d. Metode Potensi Petidin
Tes ini tidak cocok untuk pemilihan acak tikus. 20 mencit dibagi menjadi
2 kelompok masing-masing 10. Masing-masing dibagi menjadi 3 dosis petidin :
2,4 dan 8mg/mg BB. Persen analgesik dijumlahkan dengan tes suhu (Turner,
1995).

13
I. LANDASAN TEORI
Analgetika adalah obat atau senyawa yang bertujuan untuk mengurangi atau
melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Analgetik dibagi menjadi
dua golongan besar :
a. Analgetika yang berkhasiat kuat, bekerja pada pusat (hipnoanalgetika,
kelompok opiat). Ini disebut dengan analgetika narkotika atau opiodia.
b. Analgetika yang berkhasiat lemah (sampai sedang), bekerja terutama pada
perifer dengan sifat antiretika, kebanyakan juga mempunyai sifat antiinflamasi
dan antireumatik. Ini disebut dengan analgetik non narkotika.
Salah satu metode pengujian daya analfesik non narkotika adalah metode
rangsang kimia. Metode rangsang kimia yaitu dilakukan dengan memberikan zat
kimia secara p.o. pada hewan uji sehingga menimbulkan rangsangan nyeri. Zat kimia
yang sering dipakai pada metode ini adalah asam asetat. Adapun contoh beberapa
obat analgetik non narkotik antara lain asetosal, aspirin, asam mefenamat,
paracetamol dan asma salisilat. Metode ini cukup pekat untuk pengujian senyawa
yang mengandung daya analgetik rendah.
Asam asetat memberi efek nyeri melalui suatu mekanisme kerja dalam
memeberi suasana asam dengan adanya ion hidrogen. Ion hidrogen akan
menyebabkan pH pada sam lambung makin rendah sehingga menimbulkan rasa nyeri
dan peningkatan ion hidrogen.

J. HIPOTESIS
Ada efek analgetik yang ditimbulkan oleh seduhan ekstrak rimpang temu kunci
pada hewan uji mencit.

14
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN


Penelitian daya analgesik infusa temu kunci merupakan metode analisis
eksperimental murni pola acak lengkap satu arah.

B. METODE PENELITIAN
Metode pengujian efek analgesik yang digunakan pada penelitian ini adalah
metode rangsang kimia. Pada metode ini rasa nyeri yang timbul berasal dari rangsang
kimia yang disebabkan oleh zat kimia yaitu asam asetat 0.1% yang disuntikan pada
hewan uji secara intraperitonial.
Penelitian ini menggunakan asam asetat sebagai rangsang kimia yang diberikan
secara intraperitonial pada mencit yang telah dipuasakan selama 8 jam tidak diberi
makan tapi diberi minum sepuasnya dan diberi senyawa uji secara per oral pada 10
menit sebelumnya. Respon nyeri pada mencit yang diamati adalah geliat berupa
kontraksi perut disertai tarikan kedua kaki belakang dan perut menempel pada lantai.
Geliat diamati dan dihitung setiap 5 menit selama 1 jam. Pemberian senyawa
analgesik akan mengurangi rasa nyeri sehingga jumlah geliat yang terjadi akan
berkurang.

C. VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN


1. Variabel Bebas : infusa rimpang temu kunci
2. Variabel Tergantung: jumlah geliat mencit (jumlah gerakan kedua pasang kaki
ke depan dan ke belakang, serta perut menekan lantai kandang)
3. Definisi Operasional
a. Dosis infusa rimpang temu kunci
Dosis diperoleh dengan cara menginfusi serbuk rimpang temu kunci
b. Uji daya analgesik

15
Dilihat dari junlah geliat mencit yang diinduksi dengan asam asetat
c. Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari 10 gram serbuk
rimpang temu kunci dengan 100 ml air pada suhu 90oC selama 15 menit
kemudian diserkai setelah dingin, bila diperoleh volume kurang dari 100 ml
maka ditambahkan aquadest melalui ampas sampai diperoleh volume 100
ml.
d. Efek analgesik adalah kemampuan suatu zat untuk mengurangi atau
menghilangka rasa nyeri dengan/tanpa menghilangkan kesadaran.

D. BAHAN ATAU MATERI PENELITIAN


Bahan yang digunakan dalam penelitian daya analgesik infusa rimpang temu
kunci adalah :
1. Bahan senyawa uji :
Rimpang temu kunci yang dibeli di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Jawa Tengah.
Rimpang yang dikumpulkan adalah rimpang dengan keadaan yang masih segar.
2. Hewan uji :
Mencit betina galur Swiss, dengan usia 2-3 bulan, dengan berat badan 20-30 gram
yang diperoleh dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Univesitas
Sanata Dharma, Yogyakarta.
3. Bahan-bahan kimia yang digunakan :
a. 1 ml aquades sebagai kontrol negatif yang diperoleh dari Laboratorium
Farmakologi dan Toksikologi, Univesitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
b. 1 ml parasetamol sebagai kontrol positif yang di diperoleh dari Laboratorium
Farmakologi dan Toksikologi, Univesitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
c. Infusa rimpang temu kunci sebagai bahan uji
d. 1 ml larutan asam asetat 0.1% sebagai zat penyebab nyeri yang diperoleh dari
Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Univesitas Sanata Dharma,
Yogyakarta.

16
e. Aquadest yang diperoleh dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi,
Univesitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

E. ALAT ATAU INSTRUMEN PENELITIAN


Alat-alat yang digunakan dalam penelitian tentang daya analgesik infusa
rimpang temu kunci meliputi stopwatch, spuit injeksi oral, spuit injeksi, panci infusa,
dan penangas air.

F. TATA CARA PENELITIAN


1. Determinasi
Tujuan dilakukan determinasi adalah untuk mencegah terjadinya kesalahan
dalam menentukan tumbuhan. Hasil determinasi dapat dipastikan bahwa tumbuhan
yang akan digunakan benar-benar rimpang temu kunci sesuai dengan ciri-cirinya
yang khas. Determinasi tanaman temu kunci yang dilakukan dengan mneggunakan
bagian rimpang.
2. Pengumpulan bahan
Rimpang temu kunci yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pasar
Beringharjo, Yogyakarta, Jawa Tengah. Rimpang yang digunakan adalah rimpang
dalam keadaan segar.
3. Pembuatan infusa temu kuncit
Rimpang temu kunci yang telah dikumpulkan kemudian dicuci dan
dikeringkan. Pengeringan dilakukan dengan menggunakan sinar matahari tak
langsung yaitu dengan cara ditutup dengan menggunakan kain hitam kemudian
dikeringkan di oven pada suhu 30-40oC. Pengeringan dilakukan dengan tujuan untuk
mengurangi kadar air simpleks sehingga tidak mudah ditumbuhi jamur atau bakteri
yang dapat merusak kandungan kimia dari rimpang temu kunci dan untuk
menghindari bekerjanya enzim yang dapat menimbulkan perubahan secara kimiawi
pada rimpang temu kunci tersebut. Pengeringan dengan menggunakan kain hitam

17
karena kain hitam dapat mneyerap sinar ultraviolet dari matahari, sehingga
kandungan kimia yang ada dalam rimpang temu kunci tidak rusak.
Kemudian rimpang yang sudah dikeringkan dipotong-potong menjadi kecil.
Tujuannya untuk memperkecil ukuran sehingga mudah dijadikan serbuk. Rimpang
temu kunci yang telah dipotong-potong kemudian dibuat serbuk dengan
menggunakan blender. Serbuk lalu diayak menggunakan ayakan dengan jumlah
lubang tiap inchi adalah 35 lubang untuk memperkecil ukuran partikel sehingga
proses penyarian dapat dilakukan lebih efektif.
4. Pembuatan infusa rimpang temu kunci
Infusa rimpang temu kunci dibuat dengan memanaskan 10 gram serbuk
rimpang temu kunci yang telah dicampur aquadest 100 ml dalam panci infusa diatas
penangas air pada suhu 90oC selama 15 menit kemudian diserkai setelah dingin
sampai 100 ml menggunakan kain katun yang terdapat pada Laboratorium
Farmakognosi-Fitokimia. Penyerkaian infusa dilakukan dalam keadaan dingin
dikarenakan rimapang temu kunci mengandung minyak atsiri.
5. Penyiapan hewan uji
Hewan uji yang dibutuhkan adalah sebanyak 25 ekor mencit betina galur Swiss.
25 ekor mencit betina ini kemudian dibagi menjadi 5 kelompok masing-masing
terdiri dari 5 ekor mencit. Kelompok I sebagai kontrol negatif, kelompok II sebagai
kontrol positif, dan kelompok III, IV, dan V sebagai kelompok perlakuan diberi
infusa rimpang temu kunci. Sebelum digunakan, mencit-mencit dipuasakan selama 8
jam tidak diberi makan tetapi diberi minum sepuasnya.
6. Pembuatan suspensi parasetamol
Diambil parasetamol sebanyak 1 gram kemudian dilarutkan dalam 15 ml
alkohol lalu diencerkan dengan aquadest sebanyak 100 ml
7. Penentuan kriteria geliat mencit
Respon hewan uji dalam pengujian efek analgesik sangat bervariasi. Respon
mencit pada metode uji efek analgesik rangsang kimia adalah berupa geliat. Kriteria

18
geliat mencit yang diamati dan dihitung adalah gerakan menggeliat dengan menarik
kedua kaki ke belakang serta menempelkan perut ke lantai.
8. Penetapan dosis
a. Parasetamol
Dosis parasetamol ditentukan berdasarkan faktor konversi dosis manusia.
Dosis lazim parasetamol = 500 mg satu kali pakai. Pemberian dosis
berdasarkan pada berat badan orang dewasa rata-rata 70 kg. konversi dosis
manusia (70 kg) ke mencit = 0.0026, maka dosis parasetamol yang digunakan
adalah 1.3 mg/20 g BB (Laurence and Bacharah, 1964 cit Anonim, 2002).
Perhitungan dapat dilihat pada lampiran.
b. Infusa rimpang temu kunci
Konsentrasi infusa rimpang temu kunci mengikuti ketentuan konsentrasi
infusa menurut Farmakope Indonesia IV. Lima belas ekor hewan uji dibagi
menjadi tiga kelompok, tiap kelompok diberi perlakuan secara peroral dengan
dosis 0,7 mg/g BB, 1,4 mg/g BB, dan 2,8 mg/g BB.

G. ANALISIS HASIL
Hasil yang diperoleh dari perhitungan persentase daya analgesik kelompok
perlakuan infusa rimpang temu kunci beserta kontrolnya dianalisis secara statistik
dengan metode analisis eksperimental murni pola acak lengkap satu arah, taraf
kepercayaan 95%.

19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tujuan dari proyek ini adalah membuktikan bahwa infusa rimpang temu kunci
memiliki efek analgetik dan dapat mengurangi jumlah geliat mencit betina galur
Swiss yang diinduksi asam asetat.
Temu kunci yang merupakan tanaman herba yang biasa digunakan sebagai
pelengkap lauk, dipercaya juga memiliki khasiat sebagai obat analgesik, yaitu
mengurangi rasa nyeri. Pada saat infusa temu kunci disuntikkan pada mencit dengan
cara peroral, diharapkan ekstrak tersebut dapat mengurangi geliat pada mencit yang
disebabkan oleh asam asetat. Pemberian infusa temu kunci sendiri dilakukan secara
peroral sebab temu kunci biasanya digunakan sebagai bumbu masak,
Analgetika merupakan suatu senyawa yang dalam dosis terapetik dapat
meringankan atau menekan rasa nyeri tanpa mempunyai kerja anestesi umum.
Analgetika diberikan pada penderita untuk menghilangkan rasa nyeri yang
disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimia, dan fisik.
Analgetik dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :
Hal Analgesik Non Narkotik Analgesik Narkotik
Tempat Kerja Saraf perifer Susunan saraf pusat
Mekanisme Bekerja menghambat mediator Bekerja langsung pada
Kerja nyeri seperti prostaglandin impuls saraf pusat
Efek Analgesik Lemah Kuat
Sifat Adiksi Tidak menyebabkan indikasi Menyebabkan indikasi
Indikasi Mengatasi nyeri ringan sampai Mengatasi nyeri berat
sedang

20
Berdasarkan potensi kerja, mekanisme kerja dan efek samping analgetika
dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
1. Analgetika yang berkhasiat kuat, bekerja pada sistem saraf pusat
(hipoanalgetika, kelompok opionat). Contohnya: morfin, petidin, dll.
2. Analgetika yang berkhasiat lemah (sampai sedang), bekerja terutama pada
perifer dengan sifat antipiretika dan kebanyakan mempunyai sifat antiinflamasi
dan antireumatik. Contohnya: parasetamol, aspirin, metamphiron, dll.
Nyeri timbul akibat pengaktifan fosfolipase A2, enzim yang menyebabkan
pelepasan asam arakidonat, yang kemudian diubah menjadi prostaglandin oleh
prostaglandin sintetase. Biosintesis prostaglandin dimulai dari rangsang yang berupa
kimiawi dan termik yang menyebabkan kerusakan membran sel, sehingga akan
mengaktifkan enzim fosfolipase yang merubah fosfolipid dalam membran sel menjadi
asam arakidonat yang selanjutnya akan disiklasi menjadi prostaglandin
endoperoksida siklik dalam bentuk PGG2 (satu rantai peroksida) yang merupakan zat
awal pembentukan semua senyawa prostaglandin dengan bantuan enzim
siklooksigenase. Peroksida dari PGG2 ini melepaskan radikal bebas oksigen yang
juga berperan pada timbulnya rasa nyeri. PGG2 kemudian akan diubah menjadi
PGH2 (satu rantai samping hidroksil) dengan bantuan enzim endoperoksida
isomerase dan peroksidase.
Dari PGH2 ini akan dibentuk secara langsung prostaglandin primer yaitu PGE2,
PGF2α dan PGD2. Perubahan PGH2 menjadi PGE2 dibantu oleh enzim PGE2
isomerase. Enzim PGF2α reduktase dan peroksidase mengkatalisis perubahan PGH2
menjadi PGF2α dan enzim PGD2 isomerase mengubah PGH2 menjadi PGD2. Dari
PGE terbentuk prostaglandin A, B, dan C. Dalam trombosit PGG2 dapat diubah
menjadi tromboksan A2 oleh tromboksan sintase. Tromboksan A2 yang tidak stabil
diubah menjadi tromboksan B2 yang stabil dan tidak aktif. Zat lain yang dibentuk
oleh PGG2 adalah prostasiklin (PGI1) yang disintesis di dinding pembuluh darah
dengan bantuan enzim prostasiklin sintase. Namun, analgetik non narkotik
menimbulkan efek antiradang melalui beberapa kemungkinan, antara lain adalah

21
menghambat biosintesis dan pengeluaran prostaglandin dengan cara memblok enzim
siklooksigenase sehingga menurunkan gejala nyeri serta kostikosteroid yang
menghambat phospolipase yang mensintesis asam arakidonat.

Pada proyek kali ini, untuk mengetahui aktivitas analgesik infusa rimpang temu
kunci, digunakan metode rangsang kimia. Metode ini digunakan untuk mengetahui
daya analgesik obat non-narkotik. Sifat antagonis non narkotik ditentukan dengan
melihat daya menghilangkan rasa sakit atau analgetika akibat pemberian asam asetat
secara i.p. pada mencit percobaan. Gejala sakit pada mencit sebagai akibat pemberian
asam asetat yaitu adanya kontraksi dari dinding perut, kepala dan kaki ditarik ke
belakang sehingga abdomen menyentuh dasar dari ruang yang ditempatinya, gejala
ini dinamakan geliat (writhing) (Domer dan Charles, 1971). Atas dasar itulah, kami
memilih metode rangsang kimia dikarenakan bahan uji yang digunakan berupa jamu
yang tergolong analgetika non narkotik.
Pembuatan infusa temu kunci dengan cara mengumpulkan rimpang temu kunci
yang kemudian dikeringkan dengan oven, yang bertujuan untuk mengurangi

22
kandungan air sehingga tidak mudah untuk ditumbuhi jamur atau bakteri yang dapat
merusak kandungan kimia dari temu kunci. Kemudian rimpang temu kunci yang telah
dikeringkan, dipotong kecil-kecil dan diserbuk, agar pada saat penyarian akan lebih
efektif. Temu kunci yang telah diserbukkan dilarutkan ke dalam aquadest agar mudah
diberikan ke mencit secara peroral. Setelah itu, disaring menggunakan kasa agar pada
saat pemberiannya, tidak terdapat serbuk yang tidak larut yang dimasukkan ke dalam
saluran pencernaan mencit.
Untuk melakukan uji ini, disiapkan 5 kelompok mencit untuk kontrol positif;
kontrol negatif; infusa rimpang temu kunci dosis 0,7 mg/g BB; infusa rimpang temu
kunci dosis 1,4 mg/g BB; dan infusa rimpang temu kunci dosis 2,8 mg/g BB.
Kontrol positif kali ini menggunakan parasetamol, karena parasetamol
merupakan salah satu analgesik yang sering digunakan orang untuk mengatasi nyeri.
Kontrol positif dilakukan untuk membandingkan kuat atau lemahnya daya analgesik
infusa rimpang temu kunci.
Kontrol negatif dilakukan untuk mengetahui apakah pelarut memiliki daya
analgesik atau tidak, dan pada praktikum kali ini mengunakan aquades karena semua
bahan yang digunakan pada praktikum kali ini dilarutkan dalam aquades.
Rimpang temu kunci yang akan diuji daya analgesiknya dibuat infusa, dan
diberikan pada 3 kelompok mencit dengan dosis yang berbeda, yaitu 0,7 mg/g BB;
1,4 mg/g BB; dan 2,8 mg/g BB. Dosis normalnya adalah 1,4 mg/g BB, lalu
digunakan pula dosis terendah 50% dari dosis normal, dan dosis tertinggi yang
digunakan 150% dari dosis normal, agar diperoleh hasil yang signifikan diantara
masing-masing dosis.
Asam asetat 0.1% yang disuntikkan secara i.p. digunakan sebagai penginduksi
nyeri. Asam asetat dapat memberikan suasana asam dengan melepas ion H+ yang
berperan sebagai mediator nyeri yang mempengaruhi kerja sistem saraf, sehingga
menimbulkan rasa nyeri. Rasa nyeri ini dapat dilihat melalui gejala menggeliat pada
mencit.

23
Langkah pertama adalah menyuntikkan larutan perlakuan pada masing-masing
mencit sesuai dengan kelompoknya secara peroral. Setelah 15 menit, disuntikkan
asam asetat 0,1% secara intra peritonial. Lalu dihitung geliat mencit, dan jumlah
geliat mencit tiap 5 menit selama 60 menit dicatat.
Dari data jumlah geliat mencit yang didapat, kemudian dilanjutkan untuk
mencari persen (%) daya proteksi. Data persen daya proteksi dianalisis statistik
dengan Uji Kolgomorov-Smirnov, ternyata mempunyai nilai signifikansi sebesar
0,566 yang berarti nilai signifikansinya = 0,05 sehingga dapat dikatakan distribusi
datanya normal atau homogen.
Dari hasil perhitungan, diperoleh data persen daya proteksi kelompok kontrol
aquades dan parasetamol masing-masing sebesar 0% dan 75%, sedangkan pada
kelompok perlakuan infusa temu kunci dosis 0,7 mg/ gBB; 1,4 mg/ gBB; 2,8 mg/
gBB masing-masing menunjukkan persen daya proteksi sebesar 32,6%; 52%; dan
66%.
Tabel I. Data rata-rata jumlah geliat mencit, rata-rata persen daya proteksi
kelompok perlakuan infusa temu kunci pada tiga peringkat dosis
disertai kontrol.
Rata-rata persen daya
Perlakuan Rata-rata jumlah geliat mencit
proteksi
Kontrol negatif 70 0%
Kontrol positif 17,5 75%
Infusa temu kunci
47,2 32,6%
(0,7 mg/gBB)
Infusa temu kunci
33,6 52%
(1,4 mg/gBB)
Infusa temu kunci
23,8 66%
(2,8 mg/gBB)

24
Selanjutnya dilakukan uji Scheffe untuk mengetahui ada perbedaan bermakna
atau perbedaan tidak bermakna antar kelompok perlakuan. Hasil analisis dari uji
Scheffe dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel II. Data rata-rata jumlah geliat mencit, rata-rata % daya proteksi kelompok
perlakuan infusa temu kunci pada tiga peringkat dosis disertai kontrol dan
uji Scheffe
Hasil uji Scheffe
Rata-rata jumlah
Kelompok %DP±SE terhadap kelompok
geliat mencit
1 2 3 4 5
1 70 0±15,14 - BB TB BB BB
2 17,5 75±6,02 BB - TB TB TB
3 47,2 32,6±9,48 TB TB - TB TB
4 33,6 52±10,41 BB TB TB - TB
5 23,8 66±5,26 BB TB TB TB -
Keterangan:
1 = kelompok kontrol (-) aquades
2 = kelompok kontrol (+) parasetamol
3 = kelompok perlakuan infusa temu kunci dosis 0,7 mg/gBB
4 = kelompok perlakuan infusa temu kunci dosis 1,4 mg/gBB
5 = kelompok perlakuan infusa temu kunci dosis 2,8 mg/gBB
BB = berbeda bermakna (p<0,05)
TB = berbeda tidak bermakna (p>0,05)
SE = standar eror
DP = daya proteksi

Kelompok kontrol positif parasetamol memberikan hasil berbeda berbeda


bermakna untuk kontrol negatif aquades, sedangkan untuk kelompok perlakuan
infusa temu kunci dosis 0,7 mg/gBB; 1,4 mg/gBB; 2,8 mg/gBBB memberikan hasil
yang berbeda tidak bermakna.
Berdasarkan hasil uji Scheffe ini, dapat dikatakan bahwa infusa temu kunci
dosis 0,7 mg/gBB; 1,4 mg/gBB; serta 2,8 mg/gBB mempunyai persen daya proteksi
yang setara dengan parasetamol 1,3 mg/20g. Namun, jika dilihat dari persen daya

25
proteksinya (pada gambar I), dapat dikatakan bahwa dengan dosis 2,8 mg/gBB akan
memberikan persen (%) daya proteksi yang lebih besar jika dibandingkan dengan
dosis 1,4 mg/ gBB ataupun 0,7 mg/ gBB. Sehingga akan lebih efektif jika
menggunakan dosis infusa temu kunci 2,8 mg/ gBB sebagai analgesik pada mencit.
Gambar I. Diagram batang persen (%) proteksi pada kelompok perlakuan uji

Dari gambar di atas dan pada tabel II, terlihat bahwa nilai standar eror dari tiap
perlakuan sangatlah besar. Hal ini mungkin terjadi karena adanya kesalahan dalam
penyuntikkan serta pengamatan oleh praktikan yang berbeda antara yang satu dengan
yang lainnya
Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam praktikum ini dapat
disebabakan oleh :
1. Faktor penyuntikan yang tidak akurat (tidak tepat pada titik penyuntikan), yang
menyebabkan proses absorpsi dan distribusi menjadi tidak tepat dan tidak wajar
pada tiap hewan uji.
2. Faktor keadaan hewan uji (mencit) yang memang memiliki kondisi tubuh yang
spesifik dalam menanggapi rangsang dari nyeri dan analgesiknya.

26
3. Pengamatan yang dilakukan oleh tiap orang berbeda, akibatnya terdapat
perbedaan persepsi jumlah geliat yang mengakibatkan munculnya data yang
bias.
4. Faktor kontaminan yang timbul dalam tanaman obat, suntikan dan peralatan
yang lain sehingga terjadi pergeseran fungsi kerja dari yang sebenarnya.

Dari percobaan yang dilakukan dengan metode rangsang kimia, terdapat


kelebihan dan kekurangan pada metode tersebut, antara lain :
Kelebihan Kekurangan
1. Murah dan sederhana. 1. Metode rangsang kimia kurang spesifik
2. Metode ini cukup peka untuk bila digunakan dalam percobaan efek
pengujian senyawa yang obat analgesik karena ada senyawa lain
mengandung daya analgesik yang juga dapat mengurangi rasa nyeri
lemah. tapi tidak memilki daya analgesik.
2. Tidak spesifik untuk steroid karena dapat
juga digunakan uji lainnya seperti uji
antiinflamasi sehingga hasil yang
diperoleh belum dapat dipastikan
merupakan hasil daya analgesik dan perlu
dilanjutkan dengan uji analgesik lainnya.
3. Pengamatan geliat mencit bersifat
subjekif

27
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Dari hasil analisis data dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan:
1. dari percobaan di atas,terbukti bahwa infusa rimpang temu kunci memiliki efek
analgesik
2. besar kecilnya efek analgesik dinyatakan dengan persen (%) daya proteksi
dimana infusa temu kunci (Kaempferia pandurata Roxb.) pada dosis 0,7
mg/gBB; 1,4 mg/gBB; dan 2,8 mg/gBB mempunyai persen (%) proteksi
berturut-turut 32,6%; 52%; dan 66%

B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran juga dapat dikemukakan:
1. Perlu dilakukan isolasi senyawa bioaktif pada infusa temu kunci sehingga
memperkuat dugaan tentang senyawa yang bertanggungjawab pada efek
analgesik infusa temu kunci.
2. Perlu dilakukan uji analgesik pada mencit jantan galur Swiss untuk mengetahui
apakah infusa temu kunci memberikan hasil yang sama atau tidak terkait
dengan efek analgesiknya.

28
DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1987, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, 168-169, UGM Press, Yogya
karta.
Anonim a, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, 28, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Anonim b, 1983, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan Indonesia,
Jakarta.
Anonim c, 1986, Sediaan Galenik, 1-6, Departemen Kesehatan Indonesia, Jakarta.
Anonim d, 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, 45; 46; 649, Departemen Republik
Indonesia, Jakarta.
Anonim, 2007 , Analgetik , htpp ://www.farmako.us.ac.id/pengusaha/barakupload/ma
teri/Analgasik%20S1.pgf, diakses 23 Maret 2011.
Anonim, 2011, Parasetamol, http://dinkeskabtasik.com/index.php/informasi-
obat/220-parasetamol.html, diakses 26 Maret, 2011
Ganiwara, 1995, Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, 124, UI Press, Jakarta.
Gunawan, D., dan Mulyani, S., 2004, Ilmu Obat Alam (Farmakognosi.) Jilid I,
Penebar Swadaya, Jakarta.
Husin, A., 1983, Peranan Farmakologi dalam Pengembangan Obat Tradisional
dalam Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III, 25-26, Fakultas
Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Kardoko, H. dan Eleison, M., 1999, Pemanfaatan Buah Kemukus sebagai analgetika,
http ://i-lib.ugm.ac.id/jurnal/download.php?data Id=1311, diakses 26 Maret
2011.
Mutschler, 1991, Dinamika Obat Buku Ajar Farmakologi dan Teknolosi, Edisi
V,177-179;181-185;194-197, ITB Press, Bandung.
Plantus, 2008, Fingerroot (Boesenbergia pandurata Roxb. Schult).
http://anekaplanta.com/2008/01/04/temu-kunci-boesenbergia-pandurata-roxb-
schlechter/, diakses 23 maret 2011.

29
Priyanto, 2008, Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa Farmasi dan Keperawatan,
Edisi II, 114-115, Lembaga Studi Konsultasi Farmakologi, Jakarta.
Tjay, T.H. dan Rahardja, K., 2002, Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan dan
Efek-efek Sampingnya, Edisi IV, 295-296, PT Elex Media Komputindo,
Jakarta.
Turner, R.A, 1965, Screening Methods in Pharmacology, 113-116, Academic Press,
New York and London.

30
Lampiran Data

Perhitungan dosis aspirin :


Konversi dosis manusia 70 kg ke mencit 20 g = 0.0026
Dosis untuk mencit 20 g = 0.0026 x 500 mg
= 1.3 mg/20 g BB

Perhitungan dosis rimpang kunci 10 % b/v :


a. Dosis untuk hewan uji 0.7 mg/g BB
Dosis untuk mencit 20 g = 0,7 mg x 20 g
= 14 mg/20 g BB mencit
b. Dosis untuk hewan uji 1,4 mg/g BB
Dosis untuk mencit 20 g = 1,4 mg x 20 g
= 28 mg/20 g BB mencit
c. Dosis untuk hewan uji 2,8 mg/g BB
Dosis untuk mencit 20 g = 2,8 mg x 20 g
= 56 mg/20 g BB mencit

Dosis Asam Asetat : 50mg/kg BB hewan uji

Perhitungn volume pemberian

Kontrol (-)
Langsung di beri aquadest 0,5mL

Volume pemberian asam asetat kontrol (-)

kontrol (-) asam asetat


D = 50mg/kg BB, C = 10 mg/mL

BB =28,4 g BB =29,64
50mg/kg BB x 28,4 g = 10mg/mL x 50mg/kg BB x 29,64 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,14 mL V = 0,15 mL

BB = 30,36 g BB = 25,4
50mg/kg BB x 30,36 g = 10mg/mL 50mg/kg BB x 25,4 g = 10mg/mL x
xV V
V = 0,15 mL V = 0,13 mL
Volume pemberian asam asetat
Kontrol positif (paracetamol) Kontrol positif (parasetamol)
D = 0,0065mg/g, C = 0,5mg/mL D = 50mg/kg BB, C = 10 mg/mL

BB = 26,5 g BB = 26,5 g
0,0065mg/g x 26,5 g = 0,5mg/mL x 50mg/kg BB x 26,5 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,34 mL V = 0,13 mL

BB = 33,22g BB = 33,22g
0,0065mg/g x 33,22 g = 0,5mg/mL 50mg/kg BB x 33,22 g = 10mg/mL
xV xV
V = 0,43 mL V = 0,17 mL

BB = 31,67g BB = 31,67g
0,0065mg/g x 31,67 g = 0,5mg/mL 50mg/kg BB x 31,67 g = 10mg/mL
xV xV
V = 0,41mL V = 0,16 mL

BB = 25,6 g BB = 25,6 g
0,0065mg/g x 25,6 g = 0,5mg/mL x 50mg/kg BB l x 25,6 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,33mL V = 0,13 mL

Volume pemberian asam asetat


Jamu 0,7 mg/gBB Jamu 0,7 mg/gBB
D = 14mg/20 g, C = 100mg/mL D = 50mg/kg BB, C = 10 mg/mL

BB = 26,7 g BB = 26,7 g
14mg/20 g x 26,7 g = 100mg/mL x 50mg/kg BB x 26,7 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,19 mL V = 0,13 mL

BB = 27,33 g BB = 27,33 g
14mg/20 g x 27,33 g = 100mg/mL x 50mg/kg BB x 27,33 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,19 mL V = 0,14 mL

BB = 27,93 g BB = 27,93 g
14mg/20 g x 27,93 g = 100mg/mL x 0,05mg/mL x 27,93 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,20 mL V = 0,14 mL
BB = 26,2g BB = 26,2g
14mg/20 g x 26,2 g = 100mg/mL x 50mg/kg BB x 26,2 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,18 mL V = 0,13 mL

BB = 25,4 g BB = 25,4 g
14mg/20 g x 25,4 g = 100mg/mL x 50mg/kg BB x 25,4 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,17 mL V = 0,13 mL

Volume pemberian asam asetat


Jamu 1,4mg/gBB Jamu 1,4mg/gBB
D= 28mg/20g , C= 100 mg/mL D = 50mg/kg BB C = 10 mg/mL

BB = 33g BB = 33g
50mg/kg BB x 33 g = 10mg/mL x
28mg/20g x 33g = 100 mg/mL x V V
V = 0,46 mL V = 0,17 mL

BB = 34,67 g BB = 34,67 g
28mg/20g x 34,67g = 100 mg/mL x 50mg/kg BB x 34,67 g = 10mg/mL
V xV

V = 0,49 mL V = 0,17 mL

BB = 34,24 g BB = 34,24 g
28mg/20g x 34,24 g = 100 mg/mL x 50mg/kg BB x 34,24 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,48 mL V = 0,17 mL

BB = 26,7g BB = 26,7g
28mg/20g x 26,7g = 100 mg/mL x 50mg/kg BB x 26,7 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,37 mL V = 0,13 mL

BB = 26,4 g BB = 26,4 g
28mg/20g x 26,4g = 100 mg/mL x 50mg/kg BB x 26,4 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,36 mL V = 0,13 mL
Volume pemberian asam asetat
Jamu 2,8 mg/gBB Jamu 2,8 mg/gBB
D = 56mg/20g, C= 100mg/mL D = 50mg/kg BB, C = 10 mg/mL

BB =29,7 g BB =29,7 g
56mg/20g x 29,7 g = 100mg/mL x 50mg/kg BB x 29,7 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,83mL V = 0,15 mL

BB =27,32 g BB =27,32 g
56mg/20g x 27,32 g = 100mg/mL x 50mg/kg BB x 27,32 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,76mL V = 0,14 mL

BB =25,35 g BB =25,35 g
56mg/20g x 25,35 g = 100mg/mL x 50mg/kg BB x 25,35 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,71mL V = 0,13 mL

BB =25,8 g BB =25,8 g
56mg/20g x 25,8 g = 100mg/mL x 50mg/kg BB x 25,8 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,72mL V = 0,13 mL

BB =25,3 g BB =25,3 g
56mg/20g x 25,3 g = 100mg/mL x 50mg/kg BB x 25,3 g = 10mg/mL
V xV
V = 0,71mL V = 0,13 mL
Aquadest (K. Negatif) Infusa T.kunci (0.7 mg/ml) Infusa T.kunci (1.4 mg/ml) Infusa T.kunci (2.8 mg/ml)
∑ geliat ∑ geliat ∑ geliat ∑ geliat
Waktu ̅ ̅ ̅ ̅
1 2 3 4 ∑ 1 2 3 4 ∑ 1 2 3 4 5 ∑ 1 2 3 4 5 ∑ 1 2 3 4 5 ∑
kum kum kum kum kum
0-5 3 0 2 0 1,25 0 0 1 0 0,25 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 0,6
5-10 9 9 10 4 9,25 2 5 1 5 3,5 0 1 2 3 3 1,8 0 0 0 3 2 1 2 1 1 2 2 2,2
10-15 11 10 11 7 19 3 4 2 5 7 5 11 7 12 11 11 4 0 3 5 5 4,4 4 8 1 7 4 7
15-20 14 12 16 17 33,75 4 3 0 5 10 9 7 9 9 10 19,8 7 2 5 9 8 10,6 4 5 4 7 6 12,2
20-25 18 10 17 11 47,75 2 2 0 3 11,75 10 3 12 11 12 29,4 7 3 6 9 12 18 5 2 5 6 3 16,4
25-30 12 8 9 4 56 1 2 0 4 13,5 8 1 8 7 6 35,4 6 3 6 8 9 24,4 4 1 3 5 3 19,6
30-35 10 5 7 3 62,25 0 1 0 2 14,25 7 2 6 8 7 41,4 5 2 3 7 7 29,2 3 1 1 4 2 21,8
35-40 10 0 5 2 66,5 0 2 1 2 15,5 5 0 0 6 3 44,2 3 1 1 3 4 31,6 2 0 1 2 1 23
40-45 8 0 3 3 70 0 2 3 1 17 3 0 0 4 2 46 2 0 1 2 2 33 1 0 0 2 1 23,8
45-50 0 0 0 0 70 0 1 1 0 17,5 0 0 0 2 1 46,6 0 0 0 2 1 33,6 0 0 0 0 0 23,8
50-55 0 0 0 0 70 0 0 0 0 17,5 0 0 0 3 0 47,2 0 0 0 0 0 33,6 0 0 0 0 0 23,8
55-60 0 0 0 0 70 0 0 0 0 17,5 0 0 0 0 0 47,2 0 0 0 0 0 33,6 0 0 0 0 0 23,8
∑ 95 54 80 51 12 22 9 27 47 25 44 65 55 34 11 25 48 50 25 18 16 37 23
̅ 70 17.5 47.2 33.6 23.8

Persen (%) daya proteksi

Mencit Parasetamol (K. Positif) Infusa temu kunci (0.7 mg/ml) Infusa temu kunci (1.4 mg/ml) Infusa temu kunci (2.8 mg/ml)
ke 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
%protek 82,86 68,57 87,14 61,43 32,86 64,29 37,14 7,143 21,43 51,43 84,29 64,29 31,43 28,57 64,29 74,29 77,14 47,14 67
̅ 75 32,6 52 66
LAMPIRAN DATA

NPar Tests
Descriptive Statistics

N Mean Std. Deviation Minimum Maximum


PERLAKUAN 23 3.1304 1.42396 1.00 5.00
PERSEN_PROTEKSI 23 45.7670 32.05488 -36.00 87.10

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

PERSEN_PRO
PERLAKUAN TEKSI
N 23 23
Mean 3.1304 45.7670
Normal Parameters(a,b)
Std. Deviation 1.42396 32.05488
Most Extreme Absolute .164 .165
Differences Positive .134 .099
Negative -.164 -.165
Kolmogorov-Smirnov Z .787 .793
Asymp. Sig. (2-tailed) .566 .555
a Test distribution is Normal.
b Calculated from data.

Oneway

ANOVA

PERSEN_PROTEKSI
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 14900.852 4 3725.213 8.703 .000
Within Groups 7704.488 18 428.027
Total 22605.340 22
Post Hoc Tests
Multiple Comparisons

Dependent Variable: PERSEN_PROTEKSI


Scheffe
Homogeneous Subsets
PERSEN_PROTEKSI

Scheffe
N Subset for alpha = .05
PERLAKUAN 1 2 1
KONTROL NEGATIF 4 .0000
DOSIS TEMU KUNCI
1 (0,7 mg/ mL) 5 32.5680 32.5680
DOSIS TEMU KUNCI
2 (1,4 mg/ mL) 5 52.0000
DOSIS TEMU KUNCI
3 (2,8 mg/ mL) 5 65.9600
KONTROL POSITIF 4 75.0000
Sig. .271 .089
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a Uses Harmonic Mean Sample Size = 4.545.
b The group sizes are unequal. The harmonic mean of the group sizes is used. Type I error levels are not
guaranteed.

GGraph