Anda di halaman 1dari 8

PEMBAHASAN

Gambar 1. Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara


Provinsi Nusa Tenggara Timur

Kabupaten Timor Tengah Utara dan Kabupaten Timor Tengah Selatan,


Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan batas koordinat 123° 45’ - 124
°50’ BT dan 9°30’ - 11°25’ LS.
Pada daerah Oetuke dan sekitarnya, Kabupaten Timor Tengah Selatan,
Provinsi Nusa tenggara Timur yang secara geografis terletak pada batas
koordinat 124o32'43"-124o33'55" BT dan 09o54'32"–09o54'59" LS dengan
luas area sekitar 60 km2, secara fisiografi, daerah penelitian berada pada
zona perbukitan yang sangat dikontrol oleh struktur sesar naik. Daerah
kabupaten ini dapat dibagi menjadi empat satuan geomorfologi yaitu:
• Satuan pegunungan kasar tersebar di daerah bagian utara yang
tersusun dari batuan beku dan batuan volkanik. Berlereng terjal
dengan lembahnya yang sempit
• Satuan Perbukitan Bergelombang Sedang tersebar di bagian selatan
dan utara, batuan penyusunnya terdiri dari sedimen dan breksi
gunungapi,
• Satuan Perbukitan Relief Tinggi tersebar di bagian tengah dan
tersusun dari batugamping, batuan metamorf, dengan puncak tertinggi
Nuaf Mutis 2.427 m yang umumnya memperlihatkan gejala kars.
• Satuan Dataran Aluvial pada dataran rendah bagian selatan. Stratigrafi
daerah kabupaten ini dapat dibagi menjadi lima satuan.

Litostratigrafi yang terbentuk sejak umur Jura Awal hingga Resen


yaitu: Satuan Batulempung, Satuan Batulempung-Batugamping, Satuan
Batugamping A, Satuan Batugamping B, dan Satuan Endapan Aluvial.
Struktur geologi yang berkembang di daerah ini antara lain lipatan, sesar
naik, sesar mendatar mengiri, dan sesar mendatar menganan yang berumur
pasca pengendapan Satuan Batugamping A (pasca Miosen Akhir). Lipatan
berupa antiklin dan sinklin memiliki bidang sumbu berarah sama dengan arah
umum jurus dari sesar naik yaitu berarah timur timurlaut-barat baratdaya (N
260oE). Sesar mendatar mengiri memiliki jurus berarah utara timurlaut-
selatan baratdaya (N 15oE), sedangkan sesar mendatar menganan memiliki
kelurusan berarah utara baratlaut-selatan tenggara (N 160oE). Sesar – sesar
ini pembentukannya dipengaruhi oleh gaya yang bekerja pada batuan dan
pada sifat fisik batuan. Adanya gaya tekan (tension) yang besar melebihi
kekuatan fisik batuan lempung serta gamping, menyebabkan batuan pecah
serta tergeser kearah yang berlawanan (slicken).
Berdasarkan tatanan tektonikanya wilayah ini juga merupakan salah
satu daerah pertemuan antara tiga lempeng benua dan samudera yang aktif
bergerak satu terhadap yang lainnya. Ketiga lempeng tersebut, yakni
lempeng Eurasia di bagian utara, lempeng Pasifik di bagian timur, dan
lempeng Indo-Australia di bagian selatan. Lempeng Indo-Australia menunjam
secara oblique ke arah timur laut di bawah lempeng Eurasia dengan
kecepatan 7,5 mm / tahun, begitu pula lempeng Pasifik menunjam dari arah
timur dengan kecepatan 10,5 mm / tahun. Pergerakan-pergerakan tersebut
menimbulkan gaya kompresi dan regangan yang memicu terjadinya aktifitas
sesar.
Struktur lipatan yang didapati pada kabupaten ini ialah berupa bentuk
deformasi pada batuan sedimen, batuan vulkanik dan batuan metamorf yang
memperlihatkan suatu bentuk yang bergelombang. Pada lipatan ini
ditemukan suatu perubahan kedudukan pada suatu perlapisan batuan,
dimana suatu perlapisan batuan tersebut yang pada awalnya diendapkan
pada posisi yang mendatar, maka setelah mengalami perlipatan maka akan
megalami perubahan kedudukan. Lipatan juga dapat dicirikan dengan
adanya kedudukan yang berlawanan pada satu lapisan batuan yang sama
dan pada suatu horizon yang sama pula.
Karena Kabupaten ini merupakan salah satu daerah dari rangkaian-
rangkaian gunung – gunung api yang ada di Indonesia, terdapat beragam
jenis batuan gunung api yang dihasilkan diantaranya batuan piroklastika tuf
berbutir halus yang bersifat asam dan bersusunan dasit-riolit atau bermassa
kaca gunung api. Tuf halus ini sebagian atau seluruhnya telah mengalami
proses ubahan atau diagenesis menjadi zeolit. Batuan zeolit di daerah
kabupaten ini berupa tuf litik dan tuf gelas yang terubah dan sebagian
termineralisasi termasuk ke dalam Gunung Api Lamasi berumur Oligosen.
Hal ini ditunjukkan oleh hadirnya mineral ubahan hidrotermal seperti klorit,
epidot, mineral lempung, karbonat dan silika, serta logam-logam dasar.
Litologi daerah penyelidikan batuan diendapkan dimulai pada Zaman
Perm dimana batuan karbonat Pra Tersier yang terdiri dari batugamping
terumbu pejal berisipan napal, kalsilutit, rijang, konglomerat dan tuf yang
masuk dalam Formasi Maubisse. Di atas F. ini secara tak selaras
diendapkan Formasi Nahfunu dan Waibasa, yaitu batuan sedimen laut
berumur Kapur Awal yang terdiri dari serpih radiolaria, rijang dan batulanau,
napal, rijang gampingan, rijang radiolaria, serpih kalsilutit, radiolarit.
Selanjutnya secara menjemari diendapkan Formasi Seical dan Formasi Ofu
berumur Paleosen, batuan sedimen karbonat laut dalam yang terdiri dari
kalsilutit, napal, serpih, rijang radiolarit dan serpih radiolaria, bersisipan
batugamping foraminifera dan arenit. Pada Kala Holosen diendapkan
beberapa endapan antara lain endapan undak sungai berupa bongkah,
kerakal, kerikil, pasir, kemudian batugamping koral dan endapan aluvial
berupa kerikil, pasir, lempung dan lumpur.
Selain formasi - formasi yang telah disebutkan di atas, beberapa formasi
lain dari zaman pra tersier yang cukup mendominasi adalah Formasi
Maubisse, Bijane, Cable, Ofu, Kompleks Mutis dan Kompleks Bobonaro yang
terdiri dari batugamping terumbu pejal berisipan napal, kalsilutit, rijang,
konglomerat dan tuf. Sedangkan batuan ultra basa tersingkap di sekitar
daerah Mollo Utara. Geologi yang terdapat hampir didominasi oleh Formasi
Kompleks Bobonaro, yang menempati di bagian barat laut dan tenggara,
seolah olah dipisahkan oleh Formasi Metan dan Formasi Konglomerat dan
Kerakal yang memanjang ke arah timur laut - barat daya.
Di Kepulauan Nusatenggara, merupakan tempat-tempat ditemukannya
formasi Pra-Tersier terbatas di Pulau Timor (Kabupaten Timor, Nusa
Tenggara Timur) dan Sumbawa (Nusa Tenggara Barat), sedangkan pulau-
pulau lainnya belum diketahui adanya singkapan Pra-Tersier. Kabupaten
Timor termasuk kedalam tipe Pegunungan kelopak dimana intensitas
tektoniknya cukup aktif dengan sesar sungkup yang cukup banyak ditemukan
di bagian selatan, hal ini menyebabkan litologi yang menyusun daerah ini
cukup rumit dan sering mengalami perulangan, (H.M.D. Rosidi, K.
Suwitodirdjo, S. Tjokrosapoetro,1974/1975)
Kepulauan Nusatenggara terletak pada dua jalur geantiklin yang
merupakan sambungan dari bagian barat Busur Sunda-Banda. Busur terdiri
dari pulau-pulau : Romang, Wetar, Kambing, Alor, Pantar, Lomblen, Solor,
Adonara, Flores, Rinca, Komodo, Sumbawa, Lombok dan Bali. Sedangkan
Busur geantiklin dimulai dari timur ke barat sebelah selatan terdiri dari :
Timor, Semau Roti, Sawu, Raijua dan Dana.
Pematang Geantiklin tersebut bercabang dua di daerah Sawu, satu
cabang masuk kearah barat menyeberangi P.Raijua dan P. Dana terus ke
Pematang submarin pada palung Jawa Selatan, cabang lainnya bersambung
dengan busur Sunda-Banda melalui P. Sumba.
Struktur geologi daerah penyelidikan sangat rumit, tercermin dengan
adanya macam-macam batuan, atau campur aduknya batuan. Pada
umumnya struktur didaerah penyelidikan sesar mendatar yang berarah
barat–timur, meskipun ada yang berarah timurlaut-baratdaya.
KESIMPULAN

• Kepulauan Nusatenggara termasuk ke dalamn tipe


Pegunungan kelopak dimana intensitas tektoniknya cukup aktif
dengan sesar sungkup yang cukup banyak ditemukan di bagian
selatan, hal ini menyebabkan litologi yang menyusun daerah ini cukup
rumit dan sering mengalami perulangan.
• Struktur Geologi yang mendominasi di Provinsi Nusa Tenggara
Timur berupa lipatan, sesar naik, sesar mendatar mengiri, dan sesar
mendatar menganan
• Struktur lipatan yang didapati pada kabupaten ini ialah berupa
bentuk deformasi pada batuan sedimen, batuan vulkanik dan batuan
metamorf yang memperlihatkan suatu bentuk yang bergelombang.
GEOLOGI DAN ANALISIS STRUKTUR GEOLOGI DAERAH OETUKE DAN
SEKITARNYA, KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN, NUSA
TENGGARA TIMUR

Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2008-04-29 10:16:39


Oleh : ANGELINO JOSUA IKO (NIM 12002031), Central Library Institute
Technology Bandung
Dibuat : 2008, dengan 8 file

Keyword : geomorfologi, stratigrafi, lipatan, struktur sesar, endapan geologis

Lokasi daerah penelitian terletak pada daerah Oetuke dan sekitarnya, Kabupaten
Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa tenggara Timur. Secara geografis, daerah
penelitian berada pada batas koordinat 124o32'43"-124o33'55" BT dan 09o54'32"–
09o54'59" LS dengan luas area sekitar 60 km2. Secara fisiografi, daerah penelitian
berada pada zona perbukitan yang sangat dikontrol oleh struktur sesar naik. Daerah
penelitian dapat dibagi menjadi tiga satuan geomorfologi yaitu Satuan Perbukitan
Bergelombang Sedang, Satuan Perbukitan Relief Tinggi, dan Satuan Dataran Aluvial.

Stratigrafi daerah penelitian dapat dibagi menjadi lima satuan litostratigrafi yang
terbentuk sejak umur Jura Awal hingga Resen yaitu: Satuan Batulempung, Satuan
Batulempung-Batugamping, Satuan Batugamping A, Satuan Batugamping B, dan
Satuan Endapan Aluvial. Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian
adalah lipatan, sesar naik, sesar mendatar mengiri, dan sesar mendatar menganan
yang berumur pasca pengendapan Satuan Batugamping A (pasca Miosen Akhir).
Lipatan berupa antiklin dan sinklin memiliki bidang sumbu berarah sama dengan arah
umum jurus dari sesar naik yaitu berarah timur timurlaut-barat baratdaya (N 260oE).
Sesar mendatar mengiri memiliki jurus berarah utara timurlaut-selatan baratdaya (N
15oE), sedangkan sesar mendatar menganan memiliki kelurusan berarah utara
baratlaut-selatan tenggara (N 160oE).

Dari restorasi penampang seimbang yang dilakukan, secara umum daerah penelitian
mengalami pemendekan sebesar 60 %. Sistem sesar anjakan yang berkembang di
daerah penelitian termasuk dalam imbrikasi tipe trailing.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.nttprov.go.id/bkpmd/web/index.php?hal=depan
http://www.dim.esdm.go.id/
http://digilib.sunan-ampel.ac.id/index.php