Anda di halaman 1dari 15

TUGAS DISKUSI KELOMPOK

Patologi Nifas

Disusun oleh :

Arief Dwinanda

4111081055

Kelompok 5

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
CIMAHI
2010
Patologi Nifas

Nifas ( Pueperium ) adalah masa mulai setelah persalinan selesai dan


berakhir selama 6 minggu atau 42 hari, merupakan waktu diperlukan untuk
pulihnya alat – alat kandungan pada keadaan yang normal. Selama masa nifas
dapat terjadi beberapa masalah yang terjadi. Ada 4 masalah utama yang menjadi
sorotan yaitu : perdarahan postpartum, Infeksi masa nifas, tromboemboli, depresi
pasca persalinan.

PERDARAHAN POSTPARTUM

Perdarahan postpartum adalah perdarahan melebihi 500 ml yang terjadi


setelah bayi lahir dalam masa 24 jam. Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua
bagian :
a. perdarahan postpartum primer, terjadi dalam 24 jam setelah anak lahir.
b. perdarahan postpartum sekunder, terjadi setelah 24 jam yang biasanya antara
hari ke 5 sampai 15 postpartum.

Perdarahan postpartum primer ( early postpartum hemorrahage )

 Etiologi :
1. Atonia uteri dan
2. Sisa plasenta ( 80%)
3. Laserasi jalan lahir (20% )
4. Gangguan faal pembekuan darah pasca solusio plasenta

 Faktor resiko :
1. Partus lama
2. Overdistensi uterus ( hidramnion , kehamilan kembar, makrosomia )
3. Perdarahan antepartum
4. Pasca induksi oksitosin atau MgSO4
5. Korioamnionitis
6. Mioma uteri
7. Anaesthesia
 Diagnosis
1. Jumlah perdarahan pasca persalinan yang sesunguhnya sulit ditentukan
oleh karena sering bercampur dengan cairan amnion, tercecer, diserap
bersama dengan kain dan lain sebagainya.
2. Perdarahan pervaginam yang profuse dapat terjadi sebelum plasenta
lahir atau segera setelah ekspulsi plasenta.
3. Perdarahan dapat terjadi secara profus dalam waktu singkat atau sedikit
sedikit diselingi dengan kontraksi uterus.

 Penatalaksanaan
A. Perdarahan kala III ( plasenta belum lahir )
Masase fundus uterus untuk memicu kontraksi uterus disertai dengan
tarikan talipusat terkendali. Bila perdarahan terus terjadi meskipun uterus
telah berkontraksi dengan baik, periksa kemungkinan laserasi jalan lahir
atau ruptura uteri. Bila plasenta belum dapat dilahirkan , lakukan plasenta
manuil

Bila setelah dilahirkan terlihat tidak lengkap maka harus dilakukan


eksplorasi cavum uteri atau kuretase.

Perdarahan postpartum sekunder ( late postpartum hemorrahage )

 Etiologi
1. Atonia uteri
2. Jaringan plasenta tertinggal
3. Proses reepitelialisasi ‘plasental site’ yang buruk ( 80% )
4. Sisa konsepsi atau gumpalan darah
5. Infeksi

 Faktor predisposisi
1. Higienis kurang
2. Malnutrisi
3. Proses persalinan bermasalah : partus lama, korioamnitis,
persalinan traumatik

 Faktor risiko
1. Multipara
2. Perpanjangan persalinan ( kala II )
3. Chorioamnitis
4. Retensio plasenta
5. Durasi dari ruptur membrane
6. Sosek malnutrisi

INFEKSI MASA NIFAS

Definisi
Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah
melahirkan, ditandai kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau lebih selama
2 hari dalam 10 hari pertama pasca persalinan, dengan mengecualikan 24 jam
pertama. Istilah infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan
oleh masuknya kuman-kuman ke dalam alat-alat genital pada waktu persalinan
dan nifas. Infeksi nifas yang terjadi pada maternal dapat mengalami beberapa
perkembangan penyakit, diantarana adalah demam nifas, infeksi uterus, atau
infeksi pada genitalia interna yang lain seperti terjadinya infeksi pada
perineum,vulva,serviks,dan endometrium.
Etiologi
Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan seperti
eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam
tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri). Penyebab yang terbanyak dan lebih
dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai
penghuni normal jalan lahir.

INFEKSI GENITAL
1. Patogen potensial yang berada dalam vagina secara normal :
 Streptococcus anerobik
 Basil gram negatif anerobik
 Streptococcus hemolyticus (selain group A)
2. Bakteri yang berasal dari organ visera sekitar :
 E Coli
 Clostridium Welchii
3. Bakteri yang berasal dari organ yang jauh :
 Stafilokok
 Streptokus Hemolitikus Grup A
4. Mycoplasma hominis
5.
INFEKSI NON – GENITAL :
 Infeksi traktus urinarius : E Coli
 Infeksi mamme : stafilikok

Streptococcus haemoliticus anaerobic


Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat. Infeksi ini
biasanya eksogen (ditularkan dari penderita lain, alat-alat yang tidak suci hama,
tangan penolong, infeksi tenggorokan orang lain).

Staphylococcus aureus
Masuknya secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan
sebagai penyebab infeksi di rumah sakit dan dalam tenggorokan orang-orang
yang nampaknya sehat. Kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas,
walaupun kadang-kadang menjadi sebab infeksi umum.
Escherichia Coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi
terbatas pada perineum, vulva, dan endometriurn. Kuman ini merupakan sebab
penting dari infeksi traktus urinarius

Clostridium Welchii
Kuman ini bersifat anaerob, jarang ditemukan akan tetapi sangat
berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada abortus kriminalis dan partus yang
ditolong oleh dukun dari luar rumah sakit.

Faktor predisposisi
Faktor- faktor pada persalinan yang dapat menjadi pemicu terjadinya infeksi
nifas:
1. Partus lama
2. Malnutrisi
3. Semua keadaan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh, seperti
perdarahan yang banyak, pre eklampsia; juga infeksi lain seperti
pneumonia, penyakit jantung, dsb.
4. Perdarahan antepartum
5. Kelelahan
6. Kurang baiknya proses pencegahan infeksi
7. Anemia
8. Hygiene (dari penolong maupun maternal)
9. Tindakan bedah vaginal yang menyebabkan perlukaan jalan lahir
10. Proses persalinan bermasalah :
- Partus lama/macet
- Korioamnionitis
- Persalinan traumatic
- Kurang baiknya pros pencegahan infeksi
- Periksa dalam yang berlebihan
- Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah.

Diagnosis
1. Terjadi perdarahan hebat
2. Demam ( infeksi )
3. Bau busuk dari darah nifas yang keluar
4. Peningkatan leukosit
5. Nyeri tekan pada abdomen kuadran bawah
6. Nyeri lepas
7. Inspekulo : lokia berbau busuk

Manifestasi Klinis

a. Infeksi pada perineum, vulva, vagina dan serviks


Gejalanya berupa rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi dan
kadang-kadang perih bila kencing. Bila getah radang bisa keluar, biasanya
keadaannya tidak berat, suhu sekitar 38°C dan nadi di bawah 100 per
menit. Bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan dan getah radang tidak
dapat keluar, demam bisa naik sampai 39 - 40°C dengan kadang-kadang
disertai menggigil.

b. Endometritis
Kadang-kadang lokia tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan
selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiametra dan dapat
menyebabkan kenaikan suhu. Uterus pada endometritis agak membesar,
serta nyeri pada perabaan dan lembek.
Pada endometritis yang tidak meluas, penderita merasa kurang
sehat dan nyeri perut pada hari-hari pertama. Mulai hari ke-3 suhu
meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan
nadi menurun dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal
kembali.
Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-
kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya berat. Malahan
infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokia yang sedikit dan tidak
berbau.
c. Septicemia dan piemia
Kedua-duanya merupakan infeksi berat namun gejala-gejala
septicemia lebih mendadak dari piemia. Pada septicemia, dari permulaan
penderita sudah sakit dan lemah. Sampai tiga hari postpartum suhu
meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Selanjutnya, suhu
berkisar antara 39 - 40°C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi
cepat (140 - 160 kali/menit atau lebih). Penderita meninggal dalam enam
sampai tujuh hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi
seperti piemia.
Pada piemia, penderita tidak lama postpartum sudah merasa
sakit, perut nyeri, dan suhu agak meningkat. Akan tetapi gejala-gejala
infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-
kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Suatu ciri
khusus pada piemia   ialah   berulang-ulang   suhu  meningkat  dengan 
cepat  disertai menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Ini terjadi
pada saat dilepaskannya embolus dari tromboflebitis pelvika. Lambat laun
timbul gejala abses pada paru-paru, pneumonia dan pleuritis. Embolus
dapat pula menyebabkan abses-abses di beberapa tempat lain.

d. Peritonitis
Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi
dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan
sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada
sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan
menyebabkan peritonitis.
Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada
daerah pelvis. Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada
peritonitis umum. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan
umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bisa terdapat pertumbuhan abses.
Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum douglas harus dikeluarkan
dengan kolpotomia posterior untuk mencegah keluarnya melalui rektum
atau kandung kencing.
Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen
dan merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat
dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka
penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata
cekung, kulit muka dingin; terdapat apa yang dinamakan facies
hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi.

e. Sellulitis pelvika (Parametritis)


Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi
dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai
dengan rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam,
hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan sellulitis pelvika.
Pada perkembangan peradangan lebih lanjut gejala-gejala
sellulitis pelvika menjadi lebih jelas. Pada pemeriksaan dalam dapat
diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus dan tahanan ini yang
berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas ke berbagai
jurusan. Di tengah-tengah jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses.
Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara menetap menjadi naik-
turun disertai dengan menggigil. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan
perut nyeri. Dalam dua pentiga kasus tidak terjadi pembentukan abses,
dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor di sebelah uterus
mengecil sedikit demi sedikit, dan akhirnya terdapat parametrium yang
kaku.
Jika terjadi abses, nanah harus dikeluarkan karena selalu ada
bahaya bahwa abses mencari jalan ke rongga perut yang menyebabkan
peritonitis, ke rektum, atau ke kandung kencing.
Patofisiologi
Cara Infeksi:
1)      Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada
pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam
vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alat-
alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhnya bebas dari kuman-
kuman.

2)      Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri
yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau petugas kesehatan
lainnya. Oleh karena itu, hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar
bersalin harus ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernafasan
dilarang memasuki kamar bersalin.

3)      Dalam rumah sakit terlalu banyak kuman-kuman patogen, berasal dari
penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa
oleh aliran udara kemana-mana termasuk kain-kain, alat-alat yang suci hama,
dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau pada waktu
nifas.

4)      Koitus pada akhir kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting,
kecuali apabila mengakibatkan pecahnya ketuban.

5) Infeksi intrapartum, sering dijumpai pada kasus lama, partus terlantar,


ketuban pecah lama, terlalu sering periksa dalam. Gejalanya adalah demam,
dehidrasi, lekositosis, takikardi, denyut jantung janin naik, dan air ketuban berbau
serta berwarna keruh kehijauan. Dapat terjadi amnionitis, korionitis dan bila
berlanjut dapat terjadi infeksi janin dan infeksi umum
Infeksi nifas akibat plasenta tertinggal:
Jaringan plasenta tertinggal

Jarak kehamilan
terlalu dekat + perdarahan
menyusui

Hb Port d’entrée
mikroba, patogen

Tidak higienis
syok &
Sos-sek rendah

Malnutrisi Proliferasi
( pertahanan tubuh ) mikroba

purulent
Peradangan
( metritis )

Lokia berbau
Leukosit keluar busuk

leukositosis

IL - 1 PG

demam Nyeri abdomen


Patologi
Setelah persalinan,tempat bekas perlekatan plasenta pada dinding rahim
merupakan luka yang cukup besar untuk masuknya mikroorganisme.
Patologi infeksi pueperalis sama dengan infeksi luka.infeksi itu dapat :
1. Terdapat pada lukanya
a. Infeksi luka perineum
b. Infeksi vagina
c. Infeksi serviks/endometrium
2. Infeksi menjalar dari luka ke jaringan sekitarnya
a. Tromboflebitis
b. Paremetritis
c. Salpingitis
d. Peritonitis
Infeksi Luka perineum
a. Infeksi vagina
Luka menjadi nyeri,merah dan bengkak akhirnya luka terbuka dan
mengeluarkan getah bernanah.
b. Infeksi luka serviks
Jika lukanya dalam sampai ke parametrium, dapat menimbulkan
parameritis.
c. Endometritis
Infeksi puerperalis paling sering menjelma sebagai endometritis. Setelah
masa inkubasi, kuman-kuman menyerbu ke dalam luka endometrium,
biasanya pada bekas perlekatan plasenta. leukosit-leukosit segera
membuat pertahanan dan keluarlah serum yang mengandung at antigen
sedangkan otot-otot berkontraksi dengan kuat, rupanya dengan maksud
menutup aliran darah dan limfe. Ada kalanya endometritis menghalang
involusi.

Infeksi yang menyebar


a. Tromboflebitis
Penjalaran infeksi melalui vena,sering terjadi dan merupakan penyebab
terpenting dari kematian karena infeksi puerperalis. Vena-vena yang
biasanya memegang peranan terhadap kasus ini hanyalah 2 golongan :
1. Vena – vena dinding rahim dan lig.latum (v.ovarika.v.uterin, dan
v.hipogastrik) tromboflebitis pelvika.
2. Vena – vena tungkai ( v. femoralis,v.poplitea dan safena)
Tromboflebitis femoralis.
b. Sepsis puerperalis
Sepsis puerperalis terjadi kalau setelah persalinan ada sarang sepsis
dalam badan yang secara terus – menerus atau periodic melepaskan
mikroorganismae kedalam peredaran darah.
c. Peritonitis
Infeksi puerperalis melalui saluran getah bening dapat menjalar ke
peritoneum hingga terjadi peritonitis atau ke parametrium menyebabkan
parametritis.
d. Parametritis (“cellulitis pelvica”)

Pencegahan
a.    Masa kehamilan
1. Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti
anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati penyakit-
penyakit yang diderita ibu.
2. Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang
perlu.
3. Koitus  pada  hamil  tua hendaknya  dihindari  atau  dikurangi  dan
dilakukan hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban.
Kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir.

b.   Selama persalinan
Usaha-usaha   pencegahan   terdiri   atas   membatasi   sebanyak
mungkin masuknya kuman-kuman dalam jalan lahir :
1. Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama/menjaga
supaya persalinan tidak berlarut-larut.
2. Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin.
3. Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam
maupun   perabdominam   dibersihkan,   dijahit   sebaik-baiknya  
dan menjaga sterilitas.
4. Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang
hilang harus segera diganti dengan tranfusi darah.
5. Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan
mulut dengan masker; yang menderita infeksi pernafasan tidak
diperbolehkan masuk ke kamar bersalin.
6. Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci
hama.
7. Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada
indikasi dengan sterilisasi yang baik, apalagi bila ketuban telah
pecah.

c.    Selama nifas
1. Luka-luka dirawat dengan baik jangan sampai kena infeksi, begitu
pula alat-alat dan pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat
kandungan harus steril.
2. Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan
khusus, tidak bercampur dengan ibu sehat.
3. Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari pertama
dibatasi sedapat mungkin.

Penatalaksanaan
1. Antisipasi setiap kondisi (faktor predisposisi dan masalah dalam proses
persalinan) yang dapat berlanjut menjadi penyulit/komplikasi dalam masa
nifas.
2. Berikan pengobatan yang rasional dan efektif bagi ibu yang mengalami
infeksi nifas.
3. Lanjutkan pengamatan dan pengobatan terhadap masalah atau infeksi
yang dikenali pada saat kehamilan ataupun persalinan.
4. Jangan pulangkan penderita apabila masa kritis belum terlampaui.
5. Beri catatan atau instruksi tertulis untuk asuhan mandiri di rumah dan
gejala-gejala yang harus diwaspadai dan harus mendapat pertolongan
dengan segera.
6. Lakukan tindakan dan perawatan yang sesuai bagi bayi baru lahir, dari ibu
yang mengalami infeksi pada saat persalinan.
7. Berikan hidrasi oral/IV secukupnya

Pengobatan
Sebaiknya segera dilakukan kultur dari sekret vagina dan serviks, luka operasi
dan darah, serta uji kepekaan untuk mendapatkan antibiotika yang tepat. Berikan
dosis yang cukup dan adekuat. Sambil menunggu hasil laboratorium berikan
antibiotika spektrum luas. Pengobatan mempertinggi daya tahan tubuh seperti
infus, transfusi darah, makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan
tubuh, serta perawatan lainnya sesuai komplikasi yang dijumpai.

Prognosis
Prognosis baik bila diatasi dengan pengobatan yang sesuai. Menurut derajatnya,
septikemia merupakan infeksi paling berat dengan mortalitas tinggi, diikuti
peritonitis umum dan piemia.