Anda di halaman 1dari 4

PEMERIKSAAN TOTAL PROTEIN

DAN ALBUMIN

DASAR TEORI
Protein tersusun dari asam amino yang berikatan satu sama lain dengan ikatan
peptida.

NH2 O

R C C α – as amino

Ikatan peptida OH

Tiga perempat zat padat dari tubuh adalah protein dengan fungsi yang berbeda-
beda. Sebagian besar adalah protein jaringan/structural, protein kontraktil dan
nucleoprotein. Protein yang diperiksa dalam laboratorium terdapat dalam : darah,
urin, saliva, cairan pleural, peritoneal dan feses. Pada praktikum ini yang dibahas
terutama protein plasma.
Protein plasma yang beredar terdiri atas :
1. Albumin
2. Globulin
3. Fibrinogen
4. Terdapat sejumlah kecil dalam : enzim, protein structural
dan metabolic (hormon dan protein transfer).
Fungsi Protein Plasma :
1. Keseimbangan osmotic
Hipoalbumin menyebabkan tekanan osmotic plasma menurun sehingga
kapiler tidak mampu melawan tekanan hidrostatik sehingga timbul edem
(cairan darah menuju ke jaringan interstitial).
2. Pembentukan dan nurisi jaringan
Enzym, hormon, pembekuan darah (fibrinogen, AT III) dan jaringan tubuh.
3. Transportasi
- Umum yaitu albumin
- Khusus
Hormon  Prealbumin
Vitamin  Prealbumin
Lipid  Lipoprotein
Co  Ceruloplasmin
Hb  Haptoglobin
Heme  Hemopexin
Fe  Transferin
4. Daya tahan tubuh
Antibodi dan komplemen
Perubahan Protein Plasma
- Hiperalbumin : peningkatan kadar albumin
Dijumpai pada dehidrasi terjadi hemokonsentrasi protein plasma.
- Hipoalbumin
Dijumpai pada malnutrisi, malabsorbsi, hepatitis akut, penyakit hati
menahun, dan lain-lain.

Pemeriksaan protein plasma berkisar pada pemeriksaan total protein serum,


albumin dan globulin.

METODE :
Metode Biuret

PRINSIP
Dilakukan pemeriksaan kuantitatif dengan spektrofotometri. Reaksi berwarna
antar tembaga alkali dengan rantai peptida CO—NH akan menghasilkan warna
ungu.
BAHAN
• Reagen Biuret
• Reagen Standar Protein
• Serum atau Plasma
ALAT
• Tabung reaksi ukuran 5 ml
• Rak tabung reaksi
• Pipet berukuran 60 μ l dan 1000 μ l
• Spektrofotometer
CARA KERJA
1. Disiapkan 3 buah tabung reaksi seukuran 5 ml, masing-masing
diberi label untuk reagen Blanko (RB), Reagen Standard (STD) dan Sampel
(SPL) berupa serum darah.
2. Tabung RB diberi 3.000 μ l Reagen Biuret.
3. Tabung STD diberi 60 μ l Reagen Standard Protein dan ditambah
dengan 3.000 μ l Reagen Biuret, dicampur supaya homogen.
4. Tabung SPL diberi 60 μ l Sampel (serum) dan 3.000 μ l Reagen
Biuret, dicampur supaya homogen.
5. Selanjutnya masing-masing diinkubasi selama 10 menit pada
temperatur kamar.
6. Diukur absorbsi (ΔA) dari STD dan SPL terhadap RB dengan
spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm.
7. Batas lineritas alat adalah 12 g/dl. Apabila didapatkan di atas
angka tersebut, serum harus diencerkan dengan NaCl 1+1, hasil dikalikan 2.

Pengukuran terhadap Blanko reagen


RB STD SPL
Sample (μ l) -- -- 60
Standard (STD) -- 60 --
Reagen (μ l) 3000 3000 3000

Campur, inkubasi 10 mnt (20 – 25 oC) Ukur Abs (ΔA), standar A (STD) dan
sample A (SPL) terhadap blanko reagen (RB) dalam 10 menit.

PERHITUNGAN
∆A SPL X 8 g / dl
Kadar Total Protein (g/dl) = ∆A STD

LINIERITAS
Batas linearitas alat adalah 12 g/dl. Apabila didapatkan nilai di atas angka
tersebut, serum harus diencerkan dengan NaCl 1 + 1, hasil dikalikan 2.

NILAI NORMAL
Bayi 4,6 – 7,0 g/dl
3 tahun s.d. dewasa 6,6 – 8,7 g/dl

PERTANYAAN :
1. Jelaskan mengapa pada penyakit sindroma nefrotik terjadi
hipoalbumin!
2. Jelaskan mengapa pada penyakit sirosis hepatis terjadi
hipoalbumin!