Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

PENGARUH FAKTOR KIMIA DAN BIOLOGI

Disusun Oleh :

ALFIAN PRAMUDITYA J310090068


DARIS J310090047
DIAH OKTIVA FURI J310090050

PROGRAM STUDI GIZI S1


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011
PENGARUH FAKTOR KIMIA DAN BIOLOGI

A. TUJUAN
1. Mahasiswa mampu nengetahui pengaruh berbagai antibiotik dan
disinfektan terhadap pertumbuhan bakteri.
2. Mahasiswa mampu mengetahui antibiotik dan disinfektan mana yang
membentuk daerah hambatan terbesar.
B. PENDAHULUAN
1. Latar belakang.
Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar,
demikian juga jasat renik. Makhluk-makhluk halus ini tidak dapat
sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan, sehingga untuk hidupnya
sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Satu-satunya jalan untuk
menyelamatkan diri dari faktor lingkungan adalah dengan cara
menyesuaikan diri (adaptasi) kepada pengaruh faktor dari luar.
Penyesuaian mikroorganisme terhadap faktor lingkungan dapat terjadi
secara cepat dan ada yang bersifat sementara, tetapi ada juga perubahan itu
bersifat permanen sehingga mempengaruhi bentuk morfologi serta sifat-
sifat fisiologik secara turun menurun. Kehidupan mikroba tidak hanya
dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, akan tetapi juga mempengaruhi
keadaan lingkungan. Misalnya, bakteri termogenesis menimbulkan panas
di dalam medium tempat tumbuhnya. Beberapa mikroba dapat pula
mengubah pH dari medium tempat hidupnya, perubahan ini dinamakan
perubahan secara kimia. Aktivitas mikroba dipengaruhi oleh faktor-faktor
lingkungannya. Perubahan lingkungan dapat mengakibatkan perubahan
sifat morfologi dan fisiologi mikroba. Beberapa kelompok mikroba sangat
resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Mikroba tersebut dapat
dengan cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Faktor
lingkungan meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia), dan faktor
biotik. Karena ukurannya yang sangat mikroskopis, pertumbuhan mikroba
sangat tergantung pada keadaan sekelilingnya (Pelczar dan Chan, 2006).
Faktor temperatur merupakan faktor lingkungan terpenting yang
mempengaruhi pertumbuhan dan kehidupan mikroba karena enzim yang
menjalankan metabolisme sangat peka terhadap temperatur. Berdasarkan
temperatur minimum, optimum dan maksimum yang dimiliki mikrobia
digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu mikrobia psikrofil, mikrobia
mesofil, dan mikrobia termofil (Suharni, 2009).
Melalui percobaan ini, akan diketahui pengaruh–pengaruh
lingkungan dalam pertumbuhan mikroba, seperti suhu, pH, desinfektan,
dan antibiose. Setelah mengetahui suhu optimum bagi mikroba untuk
hidup, kita dapat mengatur suhu yang tepat untuk mengembangbiakan
mikroba untuk keperluan industri. Begitu pula dengan pH, pH yang
dibutuhkan oleh mikroba untuk dapat tumbuh optimum dapat kita ketahui
melalui percobaan ini, sehingga kita dapat mengatur pH dalam
mengembangkan industri yang menggunakan mikroba.
2. Tinjauan Pustaka.
Hubungan antara kecepatan reaksi kimiawi dan suhu, Dari
pengaruh suhu pada kecepatan reaksi kimia, dapat diramalkan bahwa
semua bakteri dapat melanjutkan tumbuhnya (meskipun dengan kecepatan
yang makin lama makin lebih rendah) selama suhu diturunkan sampai
sistem itu membeku. Akan tetapi, kebanyakan bakteri berhenti tumbuh
pada suhu (suhu minimum untuk tumbuh ) jauh di atas titik beku air.
Setiap mikroorganisme mempunyai suhu yang tepat untuk pertumbuhan,
tetapi di bawah suhu ini pertumbuhan tidak Terjadi betapa pun lamanya
inkubasi. Nilai suhu kardinal menurut angka (minimum, optimum, dan
maksimum) dan kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan, sangat
beragam pada bakteri. Beberapa bakteri yang diisolasi dari sumber air
panas dapat tumbuh pada suhu setinggi 95°C; yang diisolasi dari
lingkungan dingin, dapat tumbuh sampai suhu serendah -10°C jika
konsentrasi solut yang tinggi mencegah mediumnya menjadi beku.
Berdasarkan kisaran suhu untuk tumbuh, bakteri seringkali dibagi atas tiga
golongan besar: termofil, yang tumbuh pada suhu tinggi (diatas 55°C);
mesofil, yang tumbuh baik antara 20°C sampai 45°C dan psikrofil, yang
tumbuh baik pada 0°C. Seperti juga dalam sistem klasifikasi biologis yang
kerap kali benar, terminologi ini menunjukan perbedaan yang lebih jelas di
antara tipe-tipe daripada yang di jumpai di alam. Klasifikasi reaksi suhu
tiga pihak tidak memperhitungkan seluruh variasi di antara bakteri
berkenaan dengan adanya perluasan kisaran suhu yang memungkinkan
pertumbuhan. Perbedaan dalam kisaran suhu di antara termofil kadang-
kadang dinyatakan dengan istilah stenotermofil dan euritermofil
(organisme yang dapat tumbuh di bawah 37 °C).
Psikrofil yang masih dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil
fakultatif; dan yang tidak dapat tumbuh di atas 20 °C di sebut psikrofil
obligat. Garis dengan satu tanda panah menunjukkan batas suhu tumbuh
untuk paling sedikit satu galur spesies itu terdapat variasi di antara
bermacam galur beberapa spesies. Tanda dengan dua panah menunjukkan
bahwa pada batas suhu sebenarnya terletak di antara tanda panah tersebut.
Garis dengan titik-titik menunjukkan bahwa pertumbuhan minimum
belum ditentukan. Data yang menggambarkan kisaran suhu tumbuh
berbagai macam bakteri menunjukkan sifat termofil, mesofil, dan psikrofil
yang agak berubah-ubah. Kisaran suhu yang memungkinkan pertumbuhan
itu berubah-ubah seperti halnya suhu-suhu maksimum dan minimum.
Kisaran suhu beberapa bakteri kurang dari 10°C, sedangkan untuk lainnya
dapat sampai 50°C. Faktor yang menentukan batas suhu untuk tumbuh
telah disingkapkan oleh dua macam penelitian; perbandingan antara sifat
organisme dengan kisaran suhu yang sangat berbeda; dan analisis sifat
mutan yang peka terhadap suhu, kisaran suhunya menjadi lebih sempit
oleh perubahan satu mutan. Ada dua macam mutan yang peka terhadap
suhu; mutan peka panas, dengan suhu tumbuh maksimum yang menurun ;
dan mutan peka dingin, dengan suhu tumbuh minimum yang menaik.
Studi mengenai kinetika denaturasi panas pada enzim dan struktur sel yang
berprotein (misalnya flagelum, ribosom) menunjukkan bahwa banyak
protein khusus pada bakteri termofil lebih tahan panas daripada protein
homolognya dari bakteri mesofil. Mungkin pula untuk mengira-ngirakan
ketahanan panas menyeluruh protein sel yang dapat larut, dengan
mengukur kecepatan protein di dalam ekstrak bakteri menjadi tidak larut
karena denaturasi panas pada beberapa suhu yang berbeda.hakekatnya
semua protein bakteri termofilik setelah perlakuan panas tetap pada tingkat
asalnya yang sebenarnya menghilangkan semua protein mesofil yang
sekelompok. Karena itu adaptasi mikroorganisme termofilik terhadap suhu
di sekitarnya hanya dapat dicapai dengan perubahan mutasional yang
mempengaruhi struktur utama kebanyakan (jika tidak semua) protein sel
tersebut. Meskipun adaptasi evalusionar yang menghasilkan termofil
agaknya melibatkan ,mutasi yang meningkatkan ketahanan panas
proteinnya , namun kebanyakan mutasi yang berpengaruh pada struktur
utama suatu protein khusus (misalnya enzin) mengurangi ketahanan panas
protein tersebut, walaupun banyak di antara mutasi ini mungkin
berpengaruh sedikit atau tidak sama sekali pada sifat-sifat katalitik.
Akibatnya, dengan tidak adanya seleksi tandingan oleh tantangan panas,
maka suhu maksimum untuk pertumbuhan mikroorganisme apa pun harus
menurun secara berangsur-angsur sebagai akibat mutasi acak yang
berpengaruh pada struktur pertama proteinnya.
Pada suhu rendah, semua protein mengalami sedikit perubahan
bentuk, yang dianggap berasal dari melemahnya ikatan hidrofobik yang
memegang peran penting dalam penentuan struktur tartier (berdimensi
tiga). Semua tipe ikatan lain pada protein menjadi lebih kuat bila suhu
diturunkan. Pentingnya bentuk yang tepat untuk fungsi sebenarnya protein
alosterik dan untuk perakitan sendiri protein ribosomal menjadi kedua
kelas protein ini teramat peka terhadap inaktivasi dingin. Oleh karen aitu,
tidaklah mengherankan bahwa mutasi yang menaikkan suhu minimum
untuk pertumbuhan biasanya terjadi di dalam gen yang menyandikan
protein-protein ini.
Susunan lipid pada hampir semua organisme, baik prokariota
maupun eukariota, berubah-ubah menurut suhu tumbuh. Bila suhu turun,
kandungan relatif asam lemak tidak jenuh didalam lipid selular meningkat.
Titik cair lipid berhubungan langsung dengan asam lemak jenuh.
Akibatnya, derajat kejenuhan asam lemak pada lipid membran
menentukan derajat keadaan cairnya pada suhu tertentu. Karena fungsi
membran bergantung pada keadaan cair komponen lipid, dapatlah
dipahami bahwa pertumbuhan pada suhu rendah haruslah diikuti dengan
penambahan derajat ketidakjenuh.

Faktor-faktor Kimia
a. Fenol Dan Senyawa-Senyawa Lain Yang Sejenis
Larutan fenol 2 sampai 4% berguna bagi desinfektan. Kresol atau
kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang
berupa campuran sabun dengan kresol; lisol lebih banyak digunakan
daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah lain untuk fenol.
Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga
desinfektan menjadi menarik.
b. Formaldehida (CH2O)
Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin.
Desinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus,
dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia,
akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahanbahan laboratorium,
alat-alat seperti gunting, sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan.
c. Alkohol
Etanol murni itu kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Jika
dicampur dengan air murni, efeknya lebih baik. Alcohol 50 sampai 70%
banyak digunakan sebagai desinfektan.
d. Yodium
Yodium-tinktur, yaitu yodium yang dilarutkan dalam alcohol,
banyak digunakan orang untuk mendesinfeksikan luka-luka kecil. Larutan
2 sampai 5% biasa dipakai. Kulit dapat terbakar karenanya , oleh sebab itu
untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur.
e. Klor Dan Senyawa Klor
Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan
klor dengan kapur atau natrium merupakan desinfektan yang banyak
dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum.
f. Zat Warna
Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan
bakteri. Pada umumnya bakteri gram positif iktu lebih peka terhadap
pengaruh zat warna daripada bakteri gram negative. Hijau berlian, hijau
malakit, fuchsin basa, kristal ungu sering dicampurkan kepada medium
untuk mencegah pertumbuhanbakteri gram positif. Kristal ungu juga
dipakai untuk mendesinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan
zat warna perlu diperhatikan supaya warna itu tidak sampai kena pakaian.
g. Obat Pencuci (Detergen)
Sabun biasa itu tidak banyak khasiatnya sebagai obat pembunuh
bakteri, tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya
menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion
(detergen) banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Detergen bukan
saja merupakan bakteriostatik, melainkan juga merupakan bakterisida.
Terutama bakteri yang gram positif itu peka sekali terhadapnya. Sejak
1935 banyak dipakai garam amonium yang mengandung empat bagian.
Persenyawaan ini terdiri atas garam dari suatu basa yang kuat dengan
komponen-komponen. Garam ini banyak sekali digunakan untuk sterilisasi
alat-alat bedah, digunakan pula sebagai antiseptik dalam pembedahan dan
persalinan, karena zat ini tidak merusak jaringan, lagipula tidak
menyebabkan sakit. Sebagai larutan yang encer pun zat ini dapat
membunuh bangsa jamur, dapat pula beberapa genus bakteri Gram positif
maupun Gram negatif. Agaknya alkil-dimentil bensil-amonium klorida
makin lama makin banyak dipakai sebagai pencuci alat-alat makan minum
di restoran-restoran. Zat ini pada konsentrasi yang biasa dipakai tidak
berbau dan tidak berasa apa-apa.
h. Sulfonamida
Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang
mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagi
pula tidak merusak jaringan manusia. Terutama bangsa kokus seperti
Streptococcus yang menggangu tenggorokan, Pneumococcus,
Gonococcus, dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamida.
Penggunaan obat-obat ini, jika tidak aturan akan menimbulkan
gejalagejala alergi, lagi pula obat-obatan ini dapat menimbulkan golongan
bakteri menjadi kebal terhadapnya. Khasiat sulfonamida itu terganggu
oleh asam-p-aminobenzoat. Asam-p-aminobenzoat memegang peranan
sebagai pembantu enzim-enzim pernapasan, dalam hal itu dapat terjadi
persaingan antara sulfanilamide dan asam-paminobenzoat. Sering terjadi,
bahwa bakteri yang diambil dari darah atau cairan tubuh orang yang habis
diobati dengan sulfanilamide itu tidak dapat dipiara di dalam medium
biasa. Baru setelah dibubuhkan sedikit asam-p-aminobenzoat ke dalam
medium tersebut, bakteri dapat tumbuh biasa. Berikut ialah rumus bangun
sulfonamide dan asam-p-aminobenzoat.
i. Antibiotik
Antibiotik yang pertama dikenal ialah pinisilin, yaitu suatu zat
yang dihasilkan oleh jamur Pinicillium. Pinisilin di temukan oleh Fleming
dalam tahun 1929, namun baru sejak 1943 antibiotik ini banyak digunakan
sebagai pembunuh bakteri. Selama Perang Dunia Kedua dan sesudahnya
bermacam-macam antibiotik diketemukan, dan pada dewasa ini jumlahnya
ratusan. Genus Streptomyces menghasilkan streptomisin, aureomisin,
kloromisetin, teramisin, eritromisin, magnamisin yang masing-masing
mempunyai khasiat yang berlainan. Akhir-akhir ini orang telah dapat
membuat kloromisetin secara sintetik, obat-obatan ini terkenal sebagai
kloramfenikol. Diharapkan antibiotik-antibiotik yang lain pun dapat dibuat
secara sintetik pula. Ada yang kita kenal beberapa antibiotik yang dapat
dihasilkan oleh golongan jamur, melainkan oleh golongan bakteri sendiri,
misalnya tirotrisin dihasilkan oleh Bacillus brevis, basitrasin oleh Bacillus
subtilis, polimiksin oleh Bacillus polymyxa.Antibiotik yang efektif bagi
banyak spesies bakteri, baik kokus, basil, maupun spiril, dikatakan
mempunyai spektrum luas. Sebaliknya, suatu antibiotik yang hanya efektif
untuk spesies tertentu, disebut antibiotik yang spektrumnya sempit.
Pinisilin hanya efektif untuk membrantas terutama jenis kokus, oleh
karena itu pinisilin dikatakan mempunyai spektrum yang sempit.
Tetrasiklin efektif bagi kokus, basil dan jenis spiril tertentu, oleh karena
itu tetrasiklin dikatakan mempunyai spektrum luas. Sebelum suatu
antibiotik digunakan untuk keperluan pengobatan, maka perlulah terlebih
dahulu antibiotik itu diuji efeknya terhadap spesies bakteri tertentu.
j. Garam – Garam Logam
Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam
jumlah yang kecil saja dapat menumbuhnkan bakteri, daya mana disebut
oligodinamik. Hal ini mudah sekali dipertunjukkan dengan suatu
eksperimen. Sayang benar garam dari logam berat itu mudah merusak
kulit, maka alat-alat yang terbuat dari logam, dan lagi pula mahal
harganya. Meskipun demikian orang masih bisa menggunakan
merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh
manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. ONa
HgOH SHgCH2.CH3 CH3 NO3 COONa metafen mertiolat Persenyawaan
air rasa yang organik dapat pula dipergunakan untuk membersihkan biji –
bijian supaya terhindar dari gangguan bangsa jamur. Nitrat perak 1 sampai
2% banyak digunakan untuk menetesi selaput lendir, misalnya pada mata
bayi yang baru lahir untuk mencegah gonorhoea. Banyak juga orang
mempergunakan persenyawaan perak dengan protein. Garam tembaga
jarang dipakai sebagai bakterisida, akan tetapi banyak digunakan untuk
menyemprot tanaman dan untuk mematikan tumbuhan ganggang di
kolam-kolam renang.
Faktor-faktor Biologi
a. Netralisme
Netralisme adalah hubungan antara dua populasi yang tidak saling
mempengaruhi. Hal ini dapat terjadi pada kepadatan populasi yang sangat
rendah atau secara fisik dipisahkan dalam mikrohabitat, serta populasi
yang keluar dari habitat alamiahnya. Sebagai contoh interaksi antara
mikroba allocthonous (nonindigenous) dengan mikroba autochthonous
(indigenous),dan antar mikroba nonindigenous di atmosfer yang kepadatan
populasinya sangat rendah. Netralisme juga terjadi pada keadaan mikroba
tidak aktif, misal dalam keadaan kering beku, atau fase istirahat (spora,
kista)
b. Komensalisme
Hubungan komensalisme antara dua populasi terjadi apabila satu
populasi diuntungkan tetapi populasi lain tidak terpengaruh. Contohnya
adalah:
a. Bakteri Flavobacterium brevis dapat menghasilkan ekskresi
sistein. Sistein dapat digunakan oleh Legionella pneumophila.
b. Desulfovibrio mensuplai asetat dan H2 untuk respirasi
anaerobic Methanobacterium.
c. Sinergisme
Suatu bentuk asosiasi yang menyebabkan terjadinya suatu
kemampuan untuk dapat melakukan perubahan kimia tertentu di dalam
substrat. Apabila asosiasi melibatkan 2 populasi atau lebih dalam
keperluan nutrisi bersama, maka disebut sintropisme. Sintropisme sangat
penting dalam peruraian bahan organik tanah, atau proses pembersihan air
secara alami.
d. Mutualisme (Simbiosis)
Mutualisme adalah asosiasi antara dua populasi mikroba yang
keduanya saling tergantung dan sama-sama mendapat keuntungan.
Mutualisme sering disebut juga simbiosis. Simbiosis bersifat sangat
spesifik (khusus) dan salah satu populasi anggota simbiosis tidak dapat
digantikan tempatnya oleh spesies lain yang mirip. Contohnya adalah
Bakteri Rhizobium sp. yang hidup pada bintil akar tanaman kacang-
kacangan. Contoh lain adalah Lichenes (Lichens), yang merupakan
simbiosis antara algae sianobakteria dengan fungi. Algae (phycobiont)
sebagai produser yang dapat menggunakan energi cahaya untuk
menghasilkan senyawa organik. Senyawa organik dapat digunakan oleh
fungi (mycobiont), dan fungi memberikan bentuk perlindungan (selubung)
dan transport nutrien / mineral serta membentuk faktor tumbuh untuk
algae.
e. Kompetisi
Hubungan negatif antara 2 populasi mikroba yang keduanya
mengalami kerugian. Peristiwa ini ditandai dengan menurunnya sel hidup
dan pertumbuhannya. Kompetisi terjadi pada 2 populasi mikroba yang
menggunakan nutrien / makanan yang sama, atau dalam keadaan nutrien
terbatas. Contohnya adalah antara protozoa Paramaecium caudatum
dengan Paramaecium aurelia.
f. Amensalisme (Antagonisme)
Satu bentuk asosiasi antar spesies mikroba yang menyebabkan
salah satu pihak dirugikan, pihak lain diuntungkan atau tidak terpengaruh
apapun. Umumnya merupakan cara untuk melindungi diri terhadap
populasi mikroba lain. Misalnya dengan menghasilkan senyawa asam,
toksin, atau antibiotika. Contohnya adalah bakteri Acetobacter yang
mengubah etanol menjadi asam asetat. Thiobacillus thiooxidans
menghasilkan asam sulfat. Asam-asam tersebut dapat menghambat
pertumbuhan bakteri lain. Bakteri amonifikasi menghasilkan ammonium
yang dapat menghambat populasi Nitrobacter.

g. Parasitisme
Parasitisme terjadi antara dua populasi, populasi satu diuntungkan
(parasit) dan populasi lain dirugikan (host / inang). Umumnya parasitisme
terjadi karena keperluan nutrisi dan bersifat spesifik. Ukuran parasit
biasanya lebih kecil dari inangnya. Terjadinya parasitisme memerlukan
kontak secara fisik maupun metabolik serta waktu kontak yang relatif
lama. Contohnya adalah bakteri Bdellovibrio yang memparasit bakteri E.
coli. Jamur Trichoderma sp. memparasit jamur Agaricus sp.
h. Predasi
Hubungan predasi terjadi apabila satu organisme predator
memangsa atau memakan dan mencerna organisme lain (prey). Umumnya
predator berukuran lebih besar dibandingkan prey, dan peristiwanya
berlangsung cepat. Contohnya adalah Protozoa (predator) dengan bakteri
(prey). Protozoa Didinium nasutum (predator) dengan Paramaecium
caudatum (prey).

Bakteri Staphylococcus
Bakteri yang tergolong berbentuk kokus gram positif ada dua
famili yaitu: Famili Micrococcaceae dan Famili Streptococcaceae.
Anggota Famili Micrococcaceae ditandai dengan adanya enzim sitokrom
yang memberikan tes benzidin dan katalase positif. Famili ini memiliki 2
genus yaitu: genus Staphylococcus dan genus Micrococcus. Sedangkan
anggota Famili Streptococcaceae tidak ditemukan enzim sitokrom
sehingga dengan tes benzidin dan test katalase hasilnya negatif. Famili ini
memiliki 2 genus yaitu: genus Streptococcus dan genus Aerococcus.
Bakteri genus Staphylococcus kebanyakan adalah mikroflora yang
normal hidup pada manusia. Staphylococcus berbentuk bola yang
berkoloni membentuk sekelompok sel tidak teratur sehingga bentuknya
mirip gerombolan buah anggur. Kebanyakan tidak berbahaya dan tinggal
di atas kulit dan selaput lendir manusia dan organisme lainnya. Mereka
juga menjadi mikroba tanah. Staphylococcus sering diisolasi dari produk
makanan, debu dan air. Genus Staphylococcus mencakup 31 spesies.
Genus ini dapat ditemui di seluruh dunia. Beberapa spesies ada yang
patogen pada manusia dan hewan.
Morfologi Staphylococcus
Bakteri Staphylococcus berbentuk bulat menyerupai bentuk buah
anggur yang tersusun rapi dan tidak teratur satu sama lain. Sifat dari
bakteri ini umumnya sama dengan bakteri coccus yang lain yaitu :
1. Berbentuk bulat dengan diameter kira-kira 0,5 – 1,5 µm.
2. Warna koloni putih susu atau agak krem
3. Tersusun dalam kelompok secara tidak beraturan.
4. Bersifat fakultatif anaerobik
5. Pada umumnya tidak memiliki kapsul
6. Bakteri ini juga termasuk juga bakteri nonsporogenous (tidak
berspora)
7. Sel-selnya bersifat positif-Gram, dan tidak aktif melakukan
pergerakan (nonmotile)
8. Bersifat pathogen dan menyebabkan lesi local yang oportunistik
9. Menghasilkan katalase.
10. Pertumbuhannya dapat dihambat dengan cepat oleh bahan kimia
tertentu seperti Hexachlorophene 3%.
11. Sebagian besar adalah saprofit yang hidup di alam bebas, namun
habibat
alamiahnya adalah pada permukaan epitel golongan
primate/mamalia.
Bakteri yang memiliki genus Staphylococcus ini mempunyai ciri-
ciri morfologi sebagai berikut:
a.warna koloni putih susu atau agak krem,
b. bentuk koloni bulat, tepian timbul,
c.sel bentuk bola, diameter 0,5-1,5 um,
d. terjadi satu demi satu, berpasangan, dan dalam
kelompok tidak teratur, Menurut Holt et al, (1994), bakteri
Staphylococcus sp. Gram +, tidak berspora, tidak motil,
fakultatif anaerob, kemoorganotrofik, metil red positif,
tumbuh optimum pada suhu 30-370C dan tumbuh baik pada
NaCl 1-7%, dengan dua pernapasan dan metabolisme
fermentatif. Koloni biasanya buram, bisa putih atau krem dan
kadang-kadang kuning keorangeorangean. Bakteri ini
katalase positif dan oksidase negatif, sering mengubah nitrat
menjadi nitrit, rentan lisis oleh lisostafin tapi tidak oleh
lisozim.

FISIOLOGI
Bakteri Staphylococcus mudah tumbuh pada berbagai macam-
macam media, bermetabolisme aktif dengan meragikan karbohidrat dan
menghasilkan pigmen yang bervariasi mulai dari pigmen berwarna putih
sampai kuning tua.
Bakteri Staphylococcus sebagian menjadi anggota flora normal
kulit dan selaput lendir pada manusia, sebagian lagi menjadi bakteri
patogen yang menyebabkan bermacam-macam penyakit atau gangguan
dalam tubuh seperti radang bernanah, sampai sepsis yang bisa berakibat
fatal. Sehingga bakteri ini dapat menyebabkan hemolisis yaitu pemecahan
sel-sel darah, menggumpalkan plasma karena sifat koagulasenya, dan
menghasilkan berbagai macam enzim-enzim yang dapat merusak sistem
imun dan kandungan toksin pada bakteri tersebut yang bersifat destruktif.

STRUKTUR ANTIGEN
Struktur antigen dari Staphylococcus terdiri atas:
1) Peptidoglikan
2) Asam teikhoik
3) Protein A
4) Kapsul
5) Enzim dan toksin-toksin yang ada pada Staphylococcus
Staphylococcus menyebabkan penyakit baik melalui kemampuannya
untuk berkembang biak dan menyebar dalam jaringan, maupun melalui
bahan-bahan ekstraselular yang dihasilkannya. Bahan-bahan tersebut
adalah :
a) Katalase, enzim yang mengkatalisir perubahan H2O2 menjadi air
dan oksigen.
b) Koagulase, adalah protein mirip enzim yang dihasilkan oleh
Staphylococcus.Enzim ini dapat membekukan plasma oksalat atau
plasma sitrat bila di dalamnya terdapat faktor-faktor pembekuan.
Koagulase ini menyebabkan terjadinya deposit fibrin ada permukaan
sel Staphylococcus yang menghambat fagositosis.
c) Enzim-enzim yang lain, seperti hialuronidase satu faktor
penyebaran, staphylokinase yang menyebabkan fibrinolisis,
proteinase dan beta-laktamase.
d) Eksotoksin, yang bisa menyebabkan nekrosis kulit.
e) Lekosidin, yang dihasilkan Staphylococcus menyebabkan infeksi
rekuren, karena leukosidin menyebabkan Staphylococcus berkembang
biak intraselular.
f) Toksin eksploatif, yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus
terdiri dua protein yang menyebabkan deskuamasi kulit yang luas.
g) Toksik penyebab Sindroma Renjatan Toksik, (toksik shock
syndrome toxin) dihasilkan oleh sebagian besar strain Staphylococcus
yang menyebabkan sindroma shock toksik.
h) Enterotoksin, dihasilkan oleh Staphylococcus aureus yang
berkembang biak pada makanan, toksin ini tahan panas, dan bila
tertelan oleh manusia bersama makanan, akan menyebabkan gejala
muntah berak (keracunan makanan).
TEMPAT BERKEMBANG BIAK BAKTERI Staphylococcus
Adapun tempat berkembang biaknya bakteri Staphylococcus :
1. Pada rongga mulut (Staphylococcus aureus, S. Anaerob, S. Epidermis)
2. Ada pada kulit (Staphylococcus Epidermidis)
3. Ada di hidung dan mungkin ada pada permukaan (Staphylococcus aureus)
4. Ada di saluran nafas atas terutama farink (Staphylococcus Epidermidis)
5. Ada di saluran kemih (Staphylococcus)
6. Staphylococcus juga terdapat dalam darah bersama kuman lainnya.

Klasifikasi Staphylococcus.
Genus Staphylococcus mencakup 31 spesies. Kebanyakan tidak
berbahaya dan tinggal di atas kulit dan selaput lendir manusia dan
organisme lainnya. Mereka juga menjadi mikroba tanah. Genus ini dapat
ditemui di seluruh dunia.

Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Bacteria
Filum : Firmicutes
Kelas : Cocci
Ordo : Bacillales
Famili : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus

Macam-macam spesies Staphylococcus antara lain :


• S. Auricularis
• S. Capitis
• S. Caprae
• S. Felis
• S. Haemolyticus
• S. Hominis
• S. Intermedius
• S. Lugdunensis
• S. Saprophyticus
• S. Schleiferi
• S. Vitulus
• S. Warneri
• S. Xylosus
• Dan lain-lain.

Spesies yang sering dijumpai:


1. Staphylococcus aureus
2. Staphylococcus epidermis / Staphylococcus epidermidis /
Staphylococcus albus.
3. Staphylococcus safropitis / Staphylococcus saprophyticus.
Genus Staphylococcus terdiri lebih dari 30 jenis spesies, yang
biasanya diklasifikasikan ke dalam:
1) Staphylococcus yang menghasilkan koagulase.
Misalnya : Staphylococcus aureus, yang patogen utama
pada manusia menjadi penyebab banyak penyakit infeksi.
2) Staphylococcus yang tidak menghasilkan koagulase.
Misalnya : Staphylococcus epidermis, yang menjadi biasa
penghuni kulit. Namun sering menjadi penyebab infeksi
nosokomial, dan Staphylococcus saprophyticus, yang
banyak menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK) pada
wanita.
3) Staphylococcus yang lain : tidak dibahas mendalam
karena terjadi pada hewan dan menyebabkan infeksi pada
hewan.
4) Staphylococcus masih sensitif untuk beberapa
antibiotik yang baru ditemukan tapi resistensi bisa terjadi
sangat cepat. Sebagian besar Staphylococcus sudah
resisten terhadap golongan penicillin karena bakteri ini
menghasilkan penicilinase atau beta-laktamase.
C. ALAT DAN BAHAN
a. Alat : Cawan petri
Potongan kertas
Pipet tetes
Pinset
b. Bahan : Alkohol 70%

Media NA

Larutan senyawa kimia

−Betadine

−Formalin

−Detol

−Kontrol/aquades

Larutan antibiotik

−Tetrasiklin 10 %

−Amoxilin 10 %

−Penicilin

−Kontrol / aquades

Media agar cair

Biakan murni Staphylococus saphropyticus

D. CARA KERJA
Staphylococus saphropyticus
SECARA KIMIA
Mengambil 1 ml suspensi biakan
(dengan pipet volume yang sudah disterilisasi)
Memasukkan NA cair Cawan petri yang sudah steril

Menghomogenkan sampai padat

Cawan petri dijuring( digaris tegak lurus)

Membungkus lagi kemudian menginkubasi

SECARA BIOLOGI
Mengambil cawan petri yang sudah di sterilkan

Pepir diseh dicelupkan ke zat yang bersangkutan

Meletakkan dibagian yang ditentukan hingga selesai

Menginkubasi 37°C

E. HASIL PENGAMATAN
Staphylococus saphropyticus
1. Secara kimia

Gambar Keterangan
Detol = terbentuk daerah
hambatan dengan rata – rata 3,9
mm (daerah hambatan lemah)

Betadine = terbentuk daerah


hambatan dengan rata – rata 1,76
mm (daerah hambatan lemah)

Formalin = terbentuk daerah


hambatan dengan rata – rata 5,26
mm (daerah hambatan sedang)

Kontrol = terkontaminasi oleh


formalin sehingga terbentuk
daerah hambatan

2. secara biologi

Gambar Keterangan
Tetracycline = terbentuk daerah
hambatan dengan rata – rata 3,23
mm (daerah hambatan lemah)

Amphicilin = terbentuk daerah


hambatan dengan rata – rata 5,3
mm (daerah hambatan sedang)

Amoxicilin = terbentuk daerah


hambatan dengan rata – rata 3,16
mm (daerah hambatan lemah)

Kontrol = negatif ( tidak terdapat


daerah hambatan )

F. PEMBAHASAN
Pada praktikum mikrobiologi kali ini mengamati pengaruh kimia dan
biologi pada mikroorganisme dengan biakan murni staphylococcus saprophyticus.
Dari praktikum yang telah dilakukan dengan menginokulasikan bakteri staphylococcus
saprophyticus. Pada media agar cair yang kemudian di atasnya diletakkan paper dish yang
sudah dicelupkan dalam larutan senyawa kimia dan biologi, lalu dibungkus dan diinkubasi
selama 2x24 jam dalam inkubasi, didapatlah hasil seperti pada gambar 1. dan gambar 2. Pada
gambar tersebut nampak ada daerah sekeliling paper dish yang tidak ditumbuhi oleh bakteri
staphylococcus saprophyticus yang disebut zona hambat atau daerah terang, yang
menunjukkan bahwa mikroorganisme tersebut dihambat pertumbuhannya oleh antibiotik
(senyawa kimia dan biologi) merembes dari paper dish ke dalam media agar. Pada gambar 1
dan 2 terlihat ada zona hambat pada gambar yang bentuknya tidak teratur atau tidak mengikuti
bentuk paper dish. Padahal zona hambat yang baik adalah yang bulat mengikuti bentuk paper
dish. Namun hal ini jarang sekali ditemukan. Selanjutnya, sebagaimana telah diketahui
bersama-sama kalau suatu zat antibiotik memiliki keefektifitasan yang berbeda pada bakteri
staphylococcus saprophyticus. Perbedaannya bisa dilihat dari masing-masing diameter
daerah terang dan luas zona hambat pada tabel hasil pengamatan.
Berdasarkan data pada tabel faktor kimia, antibiotik betadine memiliki daya hambat
pertumbuhan bakteri yang lebih kecil dari pada detol dengan rata - rata 1,76 mm dan 3,9 mm.
Sedangkan antibiotik detol memiliki daya hambat pertumbuhan bakteri yang lebih kecil dari
pada formalin dengan rata - rata 3,9 mm dan 5,26 mm. Dan hasil pada kontrol terkontaminasi
oleh formalin. Dilihat dari keempat antibiotik yang digunakan dapat dikatakan yang memiliki
daya hambat terkuat adalah formalin. Sedangkan Davis Stout mengemukakan bahwa
ketentuan kekuatan antibiotik-antibakteri sebagai berikut: daerah hambatan 20
mm atau lebih berarti sangat kuat, daerah hambatan 10 mm-20 mm (kuat), daerah
hambatan 5 mm-10 mm (sedang), dan daerah hambatan 5 mm atau kurang
(lemah). Sehingga bisa dikatakan ada 2 antibiotik yang memiliki daerah hambat
lemah dan 1 memiliki data daerah hambat sedang. Yang lemah betadine dan detol,
dan yang sedang adalah formalin.
Pada biologi antibiotik yang digunakan adalah Amoxicilin, Tetracycline,
Amphicillin dan kontrol. Pada pengujian potensi antibiotik Amoxicilin,
didapatkan hasil pengamatan nilai diameter zona hambatan rata-rata 3,16 mm.
Amoxicilin yang merupakan turunan dari penisilin adalah antibiotika yang
memiliki aktivitas kuat terhadap bakteri gram positif (Pratiwi, 2008). Mekanisme
kerja dari Amoxicilin adalah menghambat sintesis dinding sel dengan cara
mencegah ikatan silang peptidoglikan pada tahap akhir sintesis dinding sel
sehingga protein pengikat penisilin (penicillin binding protein) terhambat. Protein
ini merupakan enzim dalam membran plasma sel bakteri yang secara normal
terlibat dalam penambahan asam amino yang berikatan silang dengan
peptidoglikan dinding sel bakteri dan mengeblok aktivitas enzim transpeptidase
yang membungkus ikatan silang polimer-polimer gula panjang yang membentuk
dinding sel bakteri sehingga dinding sel menjadi rapuh dan mudah lisis
(Pratiwi,2008). Pada pengujian potensi antibiotik Tetracycline didapatkan hasil
pengamatan nilai diameter zona hambatan rata-rata 3,23 mm. Antibiotik ini
bersifat bakteriostatik terhadap berbagai bakteri gram positif dan gram negatif..
Tetracycline memasuki mikroorganisme melalui difusi pasif dan sebagian melalui
suatu proses transport aktif yang bergantung pada energi (Katzung, 2004).
Mekanisme kerja dari Tetracycline adalah menghambat sintesis protein bakteri
dengan cara berikatan pada bagian 16S ribosom subunit 30S, sehingga mencegah
aminoasil-tRNA terikat pada situs A (situs aktif) pada ribosom. Ikatan ini secara
alami bersifat reversibel (Pratiwi, 2008).
Uji potensi antibiotika selanjutnya dilakukan dengan menggunakan
antibiotik Amphicilin. Setelah diinkubasi selama 24 jam dan dilakukan
pengukuran maka didapatkan data nilai diameter zona hambatan rata-rata 5,32
mm. Mekanisme kerja dari Amphicilin sama seperti pada Amoxicilin yaitu
menghambat sintesis dinding sel sehingga dinding sel bakteri menjadi rapuh dan
lisis (Pratiwi, 2008). Dan pada kontrol hasil yang diperoleh negatif (tidak
terbentuk daerah hambatan). Hasil dari antibiotik biologi bila di terapkan dalam
pendapat Davis Stout yang memiliki daerah hambatan lemah ada 2 dan yang
sedang 1 yaitu amoxiclin dan tetracycline untuk yang lemah sedangkan
Amphicilin untuk yang sedang.

G. KESIMPULAN
Dari praktikum yang dilakukan dapat di simpulkan :
1. Pada antibiotik kimia yang memiliki daerah hambatan terbesar adalah
formalin sebesar 5, 26 mm, sedangkan yang memiliki daerah hambatan
terkecil adalah betadin sebesar 1,76mm
2. Pada antibiotik biologi yang memiliki daerah hambatan terbesar adalah
ampixilin sebesar 5,3mm, sedangkan yang memiliki daerah hambatan
terkecil adalah amoxilin sebesar 3,16mm.

H. .DAFTAR PUSTAKA.
Brooks,dkk. 1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 2. Penerbit buku
kedokteran EGC. Jakarta.
Buckle, K. A. 1985. Ilmu Pangan. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.

Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi


Keperawatan. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Katzung, B.G. 2004. Farmakologi Dasar dan Klinik. Penerbit Buku


Kedokteran ECG. Jakarta.

Pelczar, MJ dan ECS. Chan,.1988. Dasar-Dasar Mikrobiologi jilid II.


Penerbit Universitas Indonesia (UI - Press). Jakarta.

Schlegel, Hans G.1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University


Press. Yogyakarta.

Suharni, Theresia Tri dkk. 2008. Mikrobiologi Umum. Penerbit Universitas


Atma Jaya. Yogyakarta.

Volk, Wesley A. dan Margaret F. Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar.


Erlangga. Jakarta.