Anda di halaman 1dari 5

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Polimer merupakan makromolekul yang tersusun ata unit ulang kimia yang kecil,
sederhana, dan terikat oleh ikatan kovalen (…). Percobaan kali ini menggunakan salah satu jenis
polimer berupa nilon-6. Nilon adalah polimer jenis termoplastik bahan halus, yang termasuk
senyawa poliamida karena memiliki gugs amida pada tiap unit ulangnya (…). Nilon dapat
digolongkan menjadi nilon aromatik dan nilon linear. Nilon aromatik adalah nilon yang memiliki
gugus aromatik pada unit ulangnya, misal nilon-6.6 dan nilon linear memiliki unit ulang yang
tersusun dari rantai lurus, misalnya nilon-6 (…). Nilon memiliki sifat mekanik yang unggul dan
daya tahan yang baik serta ketahanan tinggi terhadap pH yang ekstrim. Nilon-6 memiliki enam
atom karbon pada setiap unit ulangnya (…).

Gambar 1 Struktur polimer nilon-6.


Nilon-6 adalah produk polimerisasi senyawa kaprolaktam yang diproduksi melalui dua
tahap, dengan melibatkan zat-zat kimia yang sangat agresif, misal asam sulfat, oleum, dan
hidroksilamun sulfat. Melalui urutan reaksi dengan metode tersebut, dihasilkan amoniumsulfat
sebagai produk samping yang menimbulkan konsekuensi biaya tinggi untuk pengolahannya (…).
Dari benang nilon-6 yang ada, dibentuk suatu membran. Membran adalah lapisan semipermeabel
berupa padatan polimer tipis yang menahan pergerakan bahan tertentu (…). Kinerja membran
yang baik pada umumnya ditentukan oleh besarnya permeabilitas dan selektivitas membran
terhadap materi yang dipisahkan. Nilai fluks dan rejeksi membran dapat digunakan untuk
mengukur besaran permeabilitas dan selektifitas membran (…).
Percobaan kali ini untuk membuat suatu membran dengan bahan dasar nilon-6. Membran
yang terbentuk diukur kinerjanya berdasarkan nilai fluks. Fluks adalah aliran fluida yang melewati
membran dan nilainya dipengaruhi oleh tekanan transmembran, kecepatan alir dan konsentrasi
larutan (…). Semakin banyak volume umpan yang terjadi, maka menunjukkan nilai fluks yang
besar karena volume permeat atau volume umpan sebanding dengan nilai fluks yang diperoleh
(…). Nilai fluks dapar ditentukan berdasarkan persamaan Mulder (…).

Tujuan Percobaan
Percobaan ini bertujuan untuk membuat suatu membrane dari bahan nilon-6 dan
menentukan nilai fluks dari membran yang diperoleh.
METODE PERCOBAAN
Alat dan Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini, antara lain beang nilon-6, HCl
22.5%, dan akuades. Sedangkan, alat-alat yang digunakan, yaitu pengaduk, pelat kaca, alat
pengukur fluks listrik, dan bak plastik.
Prosedur Percobaan
Pembuatan membran nilon-6 dilakukan dilakukan menggunakan bahan dasar berupa
benang nilon-6. Benang tersebut digunting lalu ditimbang sebanyak 1.5; 2.0; dan 2.5 gram dan
dimasukkan ke gelas piala. Larutan HCl 22.5% dimasukkan ke dalam tiga gelas piala yang telah
berisi benang nilon tersebut dan aduk hingga membentuk pasta. Setelah itu, pasta yang telah
terbentuk, dituangkan ke pelat kaca dan diratakan menggunakan pengaduk, kemudian ditunggu
hingga benar-benar mengering. Setelah kering, pelat kaca tersebut dimasukkan ke dalam gelas
piala besar yang berisi air. Pelat kaca diletakkan dengan membentuk sudut sekitar 60˚ terhadap
permukaan air, dan ditunggu hingga membran nilon terlepas dan mengambang di permukaan.
Membran nilon yang telah terbentuk, dicucui dengan air mengalir dan direndam beberapa hari.
Perlakuan tersebut dilakukan dua kali, yaitu untuk membuat membran satu lapisan dan dua
lapisan.
Setelah perendaman, dilakukan pengukuran nilai fluks dari membran yang telah dibuat
tersebut. Langkah awal yang dilakukan adalah memotong membran nilon sebesar 17.5 × 3.5 cm.
Potongan membran dimasukkan ke dalam modul dan dialiri air melalui selang pengalir umpan,
rentetat, permeat, dan selang pengatur tekanan. Variasi tekanan yang digunakan adalah 0.3447 dan
0.4826 bar. Kemudian, nilai fluks setiap membrane dapat diukur dengan fungsi waktu hingga
mencapai kondisi tunak.

HASIL DATA DAN PEMBAHASAN


Tabel 1 Data hasil pengukuran nilai fluks tiap membran
lapisa bobot Luas
n nilon permukaan waktu volume fluks
(menit (ml/cm2
(g) (cm2) ) (ml) menit)
1 1.5 16 × 2.3 0.5 3.00 0.1630
1.5 16 × 2.3 1.0 3.00 0.0815
1.5 16 × 2.3 1.5 2.80 0.0507
1.5 16 × 2.3 2.0 2.40 0.0326
1.5 16 × 2.3 2.5 2.40 0.0261
1.5 16 × 2.3 3.0 2.40 0.0217
1.5 16 × 2.3 3.5 2.00 0.0155
1.5 16 × 2.3 4.0 2.25 0.0153
1.5 16 × 2.3 4.5 2.40 0.0145
Rerata nilai fluks 0.0468
1 2.0 16 × 2.3 0.5 1.20 0.0652
2.0 16 × 2.3 1.0 1.80 0.0489
2.0 16 × 2.3 1.5 2.60 0.0471
2.0 16 × 2.3 2.0 2.00 0.0272
2.0 16 × 2.3 2.5 1.40 0.0152
2.0 16 × 2.3 3.0 1.20 0.0109
2.0 16 × 2.3 3.5 1.10 0.0085
2.0 16 × 2.3 4.0 1.10 0.0075
Rerata nilai fluks 0.0288
2 2.0 16 × 2.3 0.5 6.60 0.3587
2.0 16 × 2.3 1.0 6.60 0.1793
2.0 16 × 2.3 1.5 5.90 0.1069
2.0 16 × 2.3 2.0 5.70 0.0774
2.0 16 × 2.3 2.5 5.00 0.0543
2.0 16 × 2.3 3.0 4.70 0.0426
2.0 16 × 2.3 3.5 5.00 0.0388
2.0 16 × 2.3 4.0 3.80 0.0258
Rerata nilai fluks 0.1105
1 2.5 16 × 2.3 0.5 43.00 2.3369
2.5 16 × 2.3 1.0 40.00 1.0869
2.5 16 × 2.3 1.5 38.00 0.6884
2.5 16 × 2.3 2.0 33.00 0.4485
2.5 16 × 2.3 2.5 34.00 0.3696
2.5 16 × 2.3 3.0 32.00 0.2898
2.5 16 × 2.3 3.5 31.00 0.2407
2.5 16 × 2.3 4.0 29.00 0.1970
Rerata nilai fluks 0.7072
Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan membran dari suatu
polimer dan mengetahui kefektifan suatu membrane berdasarkan nilai fluksnya. Nilai fluks dapat
dijadikan sebagai kemampuan membran untuk menahan adanya aliran, sehingga tidak banyak
bahan yang menembus membran. Semakin sedikit bahan yang dapat menembus membran tersebut,
maka semakin baik dan tinggi nilai kefektifannya (…). Salah satu faktor yang mempengaruhi
kinerja membran adalah sifat hidrofilitas membran. Membran dengan permukaan yang bersifat
hidrofil akan memiliki permeabilitas yang lebih baik (…). Perendaman membran dalam air suling,
bertujuan untuk meningkatkan hidrofilitas dari membran. Selain itu, perendaman dilakukan juga
untuk menghilangkan sisa pelarut yang masih terdapat pada membran. Pelarut yang digunakan
dalam percobaan kali ini adalah HCl 22.5%. Hal lain yang mempengaruhi kekuatan mekanik suatu
membran adalah adanya interaksi molekul melalui ikatan hidrogen antara gugus-gugus amida (…).
Berdasarkan percobaan, dapat diketahui bahwa membran dibuat dengan memvariasikan
bobot nilon-6 yang digunakan, yaitu sebesar 1.5, 2.0, dan 2.5 gram. Pembuatan membran, juga
dilakukan dengan perlakuan yang berbeda, yaitu dengan memvariasikan lapisan yang dibuat
dengan bobot nilon yang sama. Pengukuran nilai fluks pada bobot nilon 1.5 gram dengan
menggunakan satu lapis membran, diperoleh rerata fluks sebesar 0.0468 ml/cm2 menit.
Pengukuran nilai fluks dilakukan hingga mencapai keadaan tunak atau steady state yaitu hingga
volume permeat atau volume air yang melewati membrannya konstan. Nilai fluks sebesar 0.0468
ml/cm2 menit menyatakan bahwa terdapat air sebanyal 0.0468 ml yang meresap di tiap 1 cm2
permukaan membran selama 1 detik.
Selain itu, rerata nilai fluks membran yang diperoleh dari bobot nilon sebesar 2.0 g adalah
0.0288 ml/cm2 menit untuk yang satu lapis, dan untuk membran yang dibuat dengan dua lapis
yaitu sebesar 0.1105 ml/cm2 menit. Nilai fluks berhubungan dengan konsentrasi dari bahan yang
digunakan. Makin besar konsentrasi maka akan terjadi penurunan niali fluks (…). Konsentrasi
dapat pula ditinjau dari bobot bahan yang digunakan. Seharusnya, makin besar bobot nilon yang
digunakan sebagai bahan dasar pembuatan membran, maka akan terjadi penurunan nilai fluks yang
besar pula. Pada membran dengan bobot nilon yang besar, terlebih bila dibuat menjadi dua lapis
maka membrane tersebut seharusnya memiliki daya serap yang lebih maksimal. Namun
berdasarkan hasil percobaan terjadi kesalahan karena pada bobot nilon 2.0 g dan dibuat menjadi 1
dan 2 lapisan membrane, maka membrane dengan 2 lapisan memiliki nilai fluks lebih tinggi
dibandingkan membrane dengan 1 lapisan.

SIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
Agusnar H. 2004. Penentuan derajat kristalinitas larutan kitin dengan variasi waktu penyimpanan
menggunakan difraksi sinar-X(XRD). [skripsi]. Medan : USU.

Azizah U. 2004. Polimer. Sukarmin, editor. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.

Hosier IL, Vaughan AS, Mitchell GR, Siripitayananon J, Davis FJ. 2004. Polymer Chemistry.
Harwood, Moody, editor. New York : Oxford University Press

Ratna. 2010. Definisi plastik [terhubung berkala] http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-


smk/kelas_xi/definisi-plastik/ [ 20 Apr 2011].

Richard WB. 1996. Membrane Technology and Application. 2nd Ed. John Willey & Sons.

Siswono. 2001. Residu Styrofoam Semakin Berbahaya bagi Kesehatan. Jakarta: Kompas.

Siregar AS. 2009. Pencirian dan biodegradasi polipaduan (styrofoam-pati)dengan poliasamlaktat


sebagai bahan kompatimbel. [skripsi]. Bogor : IPB

Stevens MP. 2001. Kimia Polimer. Sopyan I, penerjemah. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
Terjemahan dari: Polymer Chemistry: An Introduction.

Thole. 2010. Styrofoam membantu apa merusak [terhubung berkala]


http://xteknologi.blogspot.com/2010/08/styrofoam-membantu-atau-merusak.html [20 Apr 2011].