P. 1
LAPORAN WAWANCARA

LAPORAN WAWANCARA

|Views: 308|Likes:
Dipublikasikan oleh saputra_aan02

More info:

Published by: saputra_aan02 on May 23, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2014

pdf

text

original

LAPORAN WAWANCARA ´FESTISFAL REOG MINI VIIIµ

DISUSUN OLEH : XI GB.B
1. 2. 3. 4. 5. 6. DENY EKO. P IMAM MAHUDI MOH AAN SAPUTRO MUHAMMAD SAIYFUL REDY SULUNG. W RIKO ALDINANTO (09) (16) (21) (22) (27) (28)

SMK N 1 JENANGAN PONOROGO
Jl. Niken Gandini No.98 Jen angan-Ponorogo Telp. 0352 -461236 E-mail : smkn1jenpo@yahoo.com

PONOROGO 2010

KATA PENGANTAR Puji syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Alloh SWT. Yang telah memberikan rahmat, nikmat, taufik dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas laporan kegiatan wawancara FESTIFAL REOG MINI VIII ini di Kab.Ponorogo 2010 tanpa ada halangan suatu apapun. Adapun pembuatan laporan ini sesuai dengan hasil wawancara dengan narasumber terkait, yang dilakukan oleh rekan-rekan dalam acara tersebut. Kami menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih banyak kekurangan untuk itu kritik dan saran yang bersifat melengkapi demi kesempurnaan laporan ini sangt kami harapkan. Akhirnya kami mengucapkan terima kasih semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Ponorogo, Agustus 2010

Penyusun 

Page 2 of 8 

         
                    i                                                                   ««««««««««««««««                        

              «««««««««««««««                          «««««««««««««««««                 ««««««««««««««     

         ««««««««««««««««« 

                 ««««««««««««««« 

 

                 ««««««««««««««««         ««««««««««««««««««««««««««  

Page 3 of 8

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian baratlaut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat Pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok , namun salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog. Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam.
Page 4 of 8

Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.

BAB II PROSES KERJA

II.I

PELAKSANAAN

Kami memulai kegiatan wawancara dan peliputan Festifal Reog Mini (FRM) ini pada tanggal 05 dan 06 agustus 2010, pada pukul 19:00 WIB, di panggung utama alun-alun. Pembukaan Festival Reog Mini (FRM) ke-VIII tingkat SMP yang diikuti dengan hari jadi Kabupaten Ponorogo yang bertempat di panggung utama alun-alun Ponorogo ini padat penonton. B ahkan diperkirakan pagelaran FRM ke VIII ini jumlah penontonnya diperkirakan lebih banyak dari tahun kemarin. Pasalnya di kepadatan penonton meluber hingga jalan di sekitaran alun-alun. Tak hanya itu, penonton dalam festifal ini juga didominasi dari luar Ponorogo. Seperti halnya Kabupaten Madiun, Pacitan serta Magetan y                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       II.II NARASUMBER

Kami melakukan beberapa wawancara dengan peserta yang mengikuti FRM, diantaranya : 1. Bapak Seno dari kelompok Reog Mini Badegan 2. Bapak Dedy dari kelompok Reog Mini Babadan

Page 5 of 8

II.III HASIL WAWANCARA Berikut ini adalah hasil wawancara kami dengan ketiga narasumber diatas antara lain : 1. Kelompok Reog Mini Badegan
Thusday, 5 Agustus 2010

Kelompok Reog ini didirikan pada tahun 1994 oleh Bpk.Camat Badegan dan dipimpin oleh Bpk.Seno. Kelompok Reog ini terdiri dari anak-anak SD dan SMP, yang dilatih dan dibina secara rutin. Mereka melakukan latihan di desa Mbulu pada sore hari agar tidak mengganggu kegiatan sekolah.Anakanak ini tidak hanya dilatih dan dibina tapi juga diberi motivasi agar biasa dan mau melestarikan budaya REOG ini. Menurut Bpk. Seno pelaksanaan FRM tahun ini kurang baik, karena pesertanya sebagian besar hanya berasal dari Kab. Ponorogo saja, fasilitas serta keamanan bagi peserta maupun penonton juga belum memuaskan. Adapun para pemain dalam kelompok ini sebagai berikut:  Penari :  Barong : Joko, Angga, Ediriyanto  Ganongan : Hengki  Jatilan : Sari, Dini, Nita, Ana, Ratih, Ratna, Tyias, Lusi, Umi, Reni  Pengrawit : Didik Eko Santoso  Penata Tari : Didik Eko  Penata Musik : P. Seno 2. Kelompok Reog Mini Babadan
Friday, 6 Agustus 2010

Kelompok Reog ini dipimpin oleh Bu Ningsih. Kelompok Reog ini terdiri dari anak-anak SMP TERPADU,tapi mewakili Kec. Babadan. yang dilatih dan dibina secara rutin oleh Bpk.Dedy selama kurang lebih 2 bulan. Mereka melakukan latihan di Kec.Babadan pada sabtu sore dan minggu pagi agar tidak mengganggu kegiatan sekolah. Menurut Bu. Ning pelaksanaan FRM tahun ini cukup baik, karena antusias dari peserta dan penonton cukup baik. Tetapi dari segi panggung kurang baik. Adapun para pemain dalam kelompok ini sebagai berikut:  Penari :  Barong : Prasetyo, Yosika  Ganongan : Bagus , Adib  Jatilan : Nolim, Nia, Zata, Rahma, Sanik, Roma, Fitri, Nabila, Diyah, Sukma  Pengrawit : Rendra  Penata Tari : Dedy  Penata Musik : Rendra

Page 6 of 8

II.IV HASIL PELIPUTAN

Bpk Seno (tengah) serta pengurus kelompok Reog Mini Badegan

Para penari Jatilan dari Badegan yang sedang melakukan persiapan

Page 7 of 8

warok cilik & Krue wawancara

PENUTUP
Reog memang sudah jadi bagian dari budaya bangsa ini. Sungguh disesalkan jika ada negara/bangsa lain yang mengakui reog sebagai budaya mereka. Reog ini merupakan warisan asli leluhur kita yang harus kita lestarikan dan kita jaga. Jangan sampai budaya kita dirampas oleh bangsa lain. Reog bukan milik orang ponorogo saja, tapi milik seluruh Bangsa Indonesia. Mari kita lestarikan budaya daerah sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia. Semoga dengan adanya acara atau kegiatan-kagiatan budaya seperti Festifal Reog Mini ini dapat memotifasi generasi muda agar mau mengenal dan mempelajari, serta melestarikan budaya daerah. Kami menulis laporan ini berdasarkan hasil wawancara sesuai fakta-fakta di lapangan, dengan narasumber yang terkait. Tanpa ada sesuatu yang dilebihkan atau dikurangi dari data-data diatas. Kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah terlibat dalam pembuaan laporan ini,serta para narasumber yang telah bersedia memberikan informasi kepada kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan apa yang kami harapkan. Demikian laporan dari kami, jika ada kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Maka dari itu kritik dan saran anda sangat kami butuhkan. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Page 8 of 8

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->