Anda di halaman 1dari 16

GANGGUAN PENGECAPAN

I. EPIDEMIOLOGI
Pengecapan adalah fungsi utama dari taste bud di dalam rongga mulut, namun
indera penciuman juga sangat berperan pada persepsi pengecapan. Penciuman dan
pengecapan sangat berhubungan erat. Serabut pengecap di lidah menentukan rasa dan
saraf di hidung menentukan penciuman. Kedua sensasi tersebut dihubungkan ke otak,
yang kemudian menggabungkan informasi yang didapat untuk mengenal dan
mengapresiasikan rasa.1,2
Selain itu, tekstur makanan seperti yang dideteksi oleh taste bud di rongga mulut
dan keberadaan elemen-elemen dalam makanan serta penyajiannya sangat berperan pada
pengecapan. Makna penting dari pengecapan terletak pada fakta bahwa hal itu
memungkinkan manusia memilih makanan sesuai dengan keinginannya dan mungkin
juga sesuai dengan kebutuhan jaringan akan substansi tertentu. Kemampuan untuk
mengecap bukan saja tergantung pada taste bud, melainkan juga pada pergerakan lidah.
Dengan mendorong makanan di sekitar mulut, lidah akan memilah-milah makanan untuk
taste bud.1,3
Sekitar 80% gangguan pengecapan merupakan gangguan penciuman. Hilangnya
fungsi penciuman dan atau pengecapan dapat mengancam jiwa penderita karena
penderita tidak mampu mendeteksi asap saat kebakaran atau tidak dapat mengenali
makanan yang telah basi. Hasil survei tahun 1994 menunjukkan bahwa 2,7 juta penduduk
dewasa Amerika menderita gangguan penciuman, sementara 1,1 juta dinyatakan
menderita gangguan pengecapan. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa lebih dari
100.000 orang mengunjungi dokter dengan gangguan penciuman dan pengecapan setiap
tahunnya, tetapi lebih banyak kasus yang tidak dilaporkan.4,5

II. ANATOMI LIDAH


Lidah merupakan massa jaringan ikat dan otot lurik yang diliputi oleh membran
mukosa. Membran mukosa melekat erat pada otot karena jaringan penyambung lamina
propia menembus ke dalam ruang-ruang antar berkas-berkas otot. Pada bagian bawah
lidah membran mukosanya halus. Lidah juga merupakan suatu kartilago yang akarnya

1
berada pada bagian posterior rongga mulut dekat dengan katup epiglotis yang menuju ke
laring.6

Gambar 1. Anatomi lidah7

Lidah sebagian besar terdiri dari dua kelompok otot. Otot intrinsik lidah
melakukan semua gerakan halus, membuat kita mampu mengubah bentuk lidah
(memanjang, memendek, atau membulat), sementara otot ekstrinsik mengaitkan lidah
pada bagian-bagian sekitarnya, membuat lidah dapat bergerak mengelilingi rongga mulut
dan faring serta melaksanakan gerakan-gerakan kasar yang sangat penting pada saat
mengunyah dan menelan. Lidah mengaduk makanan, menekannya pada langit-langit dan
gigi yang akhirnya mendorongnya masuk faring.8,9

2
Gambar 2. Otot-otot instrinsik lidah10

Gambar 3. Otot-otot ekstrinsik lidah10

Secara garis besar lidah dapat terbagi menjadi dua bagian, yaitu 2/3 depan (apeks)
dan 1/3 belakang (dorsum). Bagian depan lidah sangat fleksibel dan bekerja sama dengan
gigi dalam pengucapan huruf. Bagian tersebut juga membantu untuk menggerakkan
makanan ke segala arah saat mengunyah. Lidah juga mendorong makanan kembali ke

3
permukaan gigi sehingga gigi dapat mengunyahnya. Bagian belakang lidah juga penting
untuk mengunyah. Begitu makanan sudah halus dan tercampur dengan saliva atau pada
saat meludah otot-otot belakang lidah bekerja. Otot tersebut bersama saliva mengangkat
dan mendorong makanan masuk esophagus.9
Lidah terletak pada dasar mulut, ujung serta pinggiran lidah bersentuhan dengan
gigi-gigi bawah, sementara dorsum merupakan permukaan melengkung pada bagian atas
lidah. Bila lidah digulung ke belakang, maka tampaklah permukaan bawahnya yang
disebut frenulum linguae, sebuah struktur ligamen halus yang mengaitkan bagian
posterior lidah pada dasar mulut. Bagian anterior lidah bebas tidak terkait. Bila
dijulurkan, maka ujung lidah meruncing, dan bila terletak tenang di dasar mulut, maka
ujung lidah berbentuk bulat.8
Lidah merupakan bagian tubuh yang penting untuk pengecapan, terdapat reseptor
untuk merasakan respon rasa manis, asam, asin, dan pahit. Reseptor ini peka terhadap
stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut kemoreseptor. Reseptor tersebut ada yang
tersebar di rongga mulut, faring, dan laring, serta ada pula yang berkelompok dalam
tonjolan-tonjolan epitel permukaan lidah yang disebut papilla, akibatnya permukaan lidah
menjadi tidak rata. Tiap rasa pada zat yang masuk ke dalam rongga mulut akan direspon
oleh lidah di tempat yang berbeda. Terdapat empat jenis papilla, yaitu ;6,8,9
1. Filiformis, terdapat di bagian posterior lidah. Papilla ini sangat banyak diseluruh
permukaan lidah dan tidak mengandung vili pengecap. Papilla filiformis lebih
berfungsi untuk menerima rasa sentuh, daripada rasa pengecapan yang sebenarnya.
2. Fungiformis, di bagian anterior lidah dan diantara filiformis, menyebar pada
permukaan ujung dan sisi lidah. Menyerupai jamur karena mempunyai tangkai yang
sempit, permukaan halus, bagian atas melebar, mengandung vili pengecap, tersebar di
permukaan atas lidah, dan epitel berlapis pipih tidak bertanduk.
3. Foliata, pada pangkal lidah bagian lateral dan terdapat beberapa tonjolan-tonjolan
padat.
4. Sirkumvalata, papilla yang sangat besar dengan permukaan yang pipih meluas di
atas papilla lain, susunan seperti parit, tersebar di daerah “V” bagian posterior lidah.
Terdapat delapan hingga dua belas buah dari papilla ini yang terletak pada bagian

4
dasar lidah. Banyak kelenjar mukosa dan serosin, serta banyak vili pengecap yang
terdapat di sepanjang sisi papilla.

Gambar 4. Papilla lidah11

Setiap vili pengecap terdiri dari dua macam sel, yaitu sel pengecap dan sel
penunjang, pada sel pengecap terdapat silia (rambut gustatori) yang memanjang ke taste
pores. Zat-zat kimia dari makanan yang kita makan, mencapai vili pengecap melalui
taste pores. Papilla dapat merespon empat rasa dasar, yaitu manis, asam, asin, dan pahit.
Letak masing-masing rasa berbeda-beda yaitu manis di lidah bagian depan, asin di lidah
bagian tepi, asam di lidah bagian samping, dan pahit di lidah bagian belakang.6

III. FISIOLOGI PENGECAPAN


III.1.Sensasi Pengecapan Utama
Pengenalan ciri-ciri bahan kimia spesifik yang mampu merangsang berbagai
reseptor kecap masih belum lengkap. Walaupun begitu, penelitian yang bersifat
psikofisiologik dan neurofisiologik telah mengenali sedikitnya 13 reseptor kimia yang
mungkin ada pada sel-sel pengecap, yaitu sebagai berikut: 2 reseptor natrium, 2 reseptor
kalium, 1 reseptor klorida, 1 reseptor adenosin, 1 reseptor ionosin, 2 reseptor manis, 2
reseptor pahit, 1 reseptor glutamat, dan 1 reseptor ion hidrogen.1
Dari analisis pengecapan praktis, kemampuan reseptor diatas dikumpulkan
menjadi 4 kategori umum yang disebut sensasi utama pengecapan. Keempat kategori

5
tersebut adalah manis, asam, asin, dan pahit. Namun, beberapa ilmuwan menyatakan ada
rasa yang kelima yang mereka sebut umami. Umami adalah rasa yang khas untuk daging,
beberapa keju tertentu, dan jamur.1,3

III.2.Ambang Batas Pengecapan


Kepekaan terhadap rasa pahit lebih kuat dibandingkan rasa yang lain, yang
memang diperlukan karena sensasi ini memberikan fungsi perlindungan yang penting.
Banyak manusia mempunyai pengecapan yang tidak peka terhadap substansi-substansi
tertentu, khususnya untuk berbagai tipe komponen tiourea. Sebuah substansi yang sering
digunakan oleh para ahli psikologis untuk memperlihatkan ketidakpekaan pengecapan
adalah feniltiokarbamida, dimana sekitar 15-30% dari manusia memperlihatkan
ketidakpekaan pengecapan, persentase yang sesungguhnya bergantung pada metode
pengujian dan konsentrasi substansi.1

III.3.Indera Pengecap dan Fungsinya


Indera pengecap mempunyai diameter sekitar 1/30 milimeter dan panjang 1/16
milimeter. Indera pengecap terdiri dari kurang lebih 50 sel-sel epitel yang termodifikasi,
beberapa diantaranya disebut sebagai sel sustentakular dan lainnya disebut sebagai sel
pengecap. Sel-sel pengecap terus menerus digantikan melalui pembelahan mitosis dari
sel-sel epitel di sekitarnya, sehingga beberapa diantaranya adalah sel muda dan lainnya
adalah sel matang yang terletak ke arah bagian tengah indera dan akan segera terurai dan
larut.1
Ujung-ujung luar dari sel pengecap tersusun di sekitar taste pores yang sangat
kecil. Dari ujung-ujung setiap sel, beberapa mikrovili menonjol keluar menuju taste
pores, mengarah ke rongga mulut. Mikrovili ini dianggap memberikan permukaan
reseptor untuk pengecapan.1
Anyaman antara sel-sel pengecap merupakan rangkaian percabangan terminal dari
beberapa serabut-serabut saraf pengecap yang dirangsang oleh sel-sel reseptor pengecap.
Beberapa dari serabut-serabut ini berinvaginasi menjadi lipatan-lipatan membran sel
pengecap. Banyak vesikel membentuk membran sel di dekat serabut. Telah diduga bahwa

6
vesikel ini mengandung substansi neurotransmitter yang dilepaskan melalui membran sel
untuk merangsang ujung-ujung serabut saraf dalam responsnya terhadap rangsang kecap.1

III.4.Lokasi Indera Pengecap


Indera pengecap ditemukan pada tiga tipe papilla lidah, sebagai berikut ;1
(1).Sejumlah besar indera pengecap terletak di dinding saluran yang mengelilingi
papilla sirkumvalata, yang membentuk garis V pada permukaan posterior lidah.
(2).Sejumlah indera pengecap terletak pada papilla fungiformis di atas permukaan
depan dari lidah.
(3).Sejumlah lainnya terletak pada papilla foliata yang terdapat di lipatan-lipatan di
sepanjang permukaan lateral lidah.
Indera pengecap tambahan terletak pada palatum dan beberapa di antaranya pada
pilar tonsilar, epiglotis, dan bahkan di esofagus bagian proksimal. Orang dewasa
mempunyai 3000 sampai 10.000 indera pengecap, sedangkan anak-anak mempunyai
lebih sedikit. Di atas usia 45 tahun banyak indera pengecap mengalami degenerasi,
menyebabkan sensasi pengecapan menjadi berkurang.1
Hal yang sangat penting dalam hubungannya dengan pengecapan adalah
kecenderungan indera pengecap untuk melayani sensasi utama tertentu yang terletak di
daerah-daerah khusus. Rasa manis dan asin terutama terletak pada ujung lidah, rasa asam
pada dua pertiga bagian samping lidah, dan rasa pahit pada bagian posterior lidah dan
palatum mole.1

asam asam
asin asin

Gambar 5. Indera pengecapan di permukaan lidah11

7
III.5.Mekanisme Rangsang Indera Pengecap
Mekanisme reaksi antara substansi perangsang dengan vili pengecap untuk
memulai potensial reseptor adalah dengan pengikatan zat kimia kecap pada molekul
reseptor protein yang menonjol melalui membran vili. Hal ini kemudian membuka
saluran ion, yang membuat ion natrium masuk dan mendepolarisasi sel. Selanjutnya, zat
kimia kecap secara bertahap dibersihkan dari vili pengecap oleh saliva, yang
menghilangkan rangsangan.1
Pada penerapan rangsang pengecap yang pertama kali, laju kecepatan pelepasan
impuls dari serabut saraf akan meningkat sampai puncaknya dalam waktu beberapa detik,
tetapi kemudian akan beradaptasi dalam waktu 2 detik berikutnya sampai ke kadar yang
lebih rendah dan stabil. Jadi, sinyal segera yang kuat akan ditransmisikan oleh saraf
pengecap, dan sinyal kontinu yang lebih lemah akan ditransmisikan sepanjang indera
pengecap dan tetap terpapar terhadap rangsang pengecap.1

III.6.Transmisi Sinyal Pengecap ke Sistem Saraf Pusat


Impuls pengecap dari dua pertiga anterior lidah mula-mula akan diteruskan ke N.
trigeminus, kemudian melalui korda timpani menuju ke N. facialis, dan akhirnya ke
traktus solitarius pada batang otak. Sensasi pengecap dari papilla sirkumvalata pada
bagian belakang lidah dan dari daerah posterior rongga mulut yang lain akan
ditransmisikan melalui N. glossofaringeus ke traktus solitarius tetapi pada ketinggian
yang sedikit lebih rendah. Akhirnya, beberapa sinyal pengecap akan ditransmisikan ke
traktus solitarius dari basis lidah dan bagian-bagian dari daerah faring melalui N. vagus.
Semua serabut pengecap bersinaps pada nukleus traktus solitarius dan meneruskan
neuron ke daerah talamus. 1

8
Bagan 1. Transmisi impuls pengecap ke sistem saraf pusat12

IV. GANGGUAN PENGECAPAN


IV.1. Definisi
Gangguan pengecapan dapat terjadi apabila terdapat suatu bahan yang dapat
merubah sensitivitas rasa sehingga lidah tidak dapat mendeteksi rasa dengan benar.
Selain itu, gangguan pengecapan dapat disebabkan karena adanya destruksi dari taste
bud. Gangguan pengecapan adalah gangguan rasa manis, asam, asin, dan pahit. Hal ini
menyebabkan nafsu makan menurun sehingga tidak jarang mengakibatkan defisiensi
protein dan kalori. Pengecapan dapat berkurang sedikit, hilang sama sekali, atau timbul
rasa baru, disebut metallic medicinal.13,14

9
IV.2. Etiologi
Beberapa penyebab terjadinya gangguan pengecapan, sebagai berikut :15,16
1. Drug induced dapat menyebabkan ageusia dan phantogeusia.
Misalnya : penisilamin, griseofulvin, metronidazole, dan litium karbonat.
2. Post influenza like hipogeusia dan hiposmia
Gangguan penciuman dan pengecapan selama mengidap penyakit saluran napas.
3. Acute zinc loss
Zinc merupakan kofaktor pembentukan alkaline fosfatase, enzim yang banyak pada
membran taste bud. Defisiensi zinc dapat mengakibatkan terjadinya gangguan
pengecapan berupa ageusia dan hipogeusia.
4. Lesi atau cedera pada mukosa lidah, taste bud, atau saraf kranial ke batang otak.
Kerusakan N. IX (N. glosofaringeus) mengakibatkan gangguan pengecapan 1/3
posterior lidah, menyebabkan ageusia, disgeusia, dan hipogeusia.
5. Gangguan produksi saliva, sangat berpengaruh dalam hal pengecapan. Suatu zat
makanan hanya dapat dinikmati rasanya jika larut dalam saliva. Melalui taste pores
suatu zat dapat mencapai sel-sel pengecap dan mempengaruhi ujung-ujung sel
pengecap dan melalui serabut saraf seseorang dapat merasakan rasa makanan.
Dengan berkurangnya produksi saliva, sel-sel pengecap akan mengalami kesulitan
dalam menerima rangsang rasa yang dapat menyebabkan terjadinya ageusia dan
hipogeusia.
6. Gangguan pada rongga dan mukosa mulut yang meliputi infeksi, inflamasi, dan
mukositis akibat pajanan radiasi yang dapat merusak sensasi rasa berupa ageusia dan
phantogeusia. Lesi akibat radioterapi yaitu pada mikrovili taste bud.
7. Proses degeneratif pada sistem saraf pusat (parkinson, alzheimer disease, proses
penuaan normal) dapat menyebabkan berkurangnya fungsi pengecapan (hipogeusia),
dimana penurunannya terlihat paling menonjol pada usia dekade ketujuh.
8. Pada proses penuaan normal dapat menyebabkan berkurangnya rasa pengecapan
akibat perubahan pada membran sel-sel pengecapan. Pada awal kelahiran, manusia
memiliki 10.000 taste bud, tetapi setelah usia 50 tahun, taste bud akan mengalami
penurunan fungsi bahkan banyak yang mengalami kematian sehingga taste bud
berkurang. Selain itu, pada usia lanjut produksi saliva berkurang yang dapat

10
menyebabkan mukosa rongga mulut menjadi kering dan rentan terhadap gesekan.
Gesekan ini akan menambah dampak pengurangan taste bud pada usia lanjut. Akibat
proses penuaan normal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan pengecapan
berupa ageusia dan hipogeusia.
9. Kebersihan mulut yang buruk dapat menyebabkan gangguan pengecapan berupa
hipogeusia dan cacogeusia.
10. Keganasan pada kepala dan leher dapat mengakibatkan berkurangnya nafsu
makan (hipogeusia) dan ketidakmampuan dalam mendeteksi suatu rasa (ageusia).
11. Gangguan endokrin dapat terlibat dalam gangguan pengecapan. Diabetes melitus,
hipogonadisme, dan pseudohipoparatiroid dapat mengurangi sensasi rasa
(hipogeusia). Sedangkan hipotiroid dan defisiensi korteks adrenal dapat
meningkatkan sensasi rasa.
12. Gejala yang khas pada anemia defisiensi besi adalah atrofi papilla lidah.
Permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papilla lidah menghilang. Atrofi
papilla lidah ini dapat menyebabkan gangguan pengecapan berupa ageusia dan
hipogeusia.
13. Penyakit herediter Disautonomia Familial tipe I seperti Sindrom Riley-Day
menyebabkan penurunan (hipogeusia) atau hilangnya sensasi rasa (ageusia) karena
tidak berkembangnya taste bud.

IV.3. Manifestasi Klinis


Gangguan pengecapan berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan sebagai berikut
:3,15,16
1. Ageusia adalah hilangnya daya pengecapan secara total, parsial, dan spesifik.
Penyebabnya adalah berbagai keadaan yang mempengaruhi lidah, seperti mulut yang
sangat kering, perokok berat, terapi penyinaran pada kepala dan leher, dan efek
samping dari obat misalnya vinkristin (antikanker) atau amitriptilin (obat antidepresi).
- Ageusia total adalah ketidakmampuan mengenali rasa manis,
asam, asin, dan pahit.
- Ageusia parsial adalah kemampuan untuk mengenali sebagian
rasa, tetapi tidak seluruhnya.

11
- Ageusia spesifik adalah ketidakmampuan untuk mengenali
kualitas rasa pada zat tertentu.

2. Disgeusia adalah berubahnya daya pengecapan.


Penyebabnya bisa berupa luka bakar pada lidah (kerusakan pada jonjot-jonjot
pengecapan), Bell’s palsy (berkurangnya pengecapan pada salah satu sisi lidah), dan
depresi.
3. Hipogeusia adalah berkurangnya daya pengecapan.
Penyebabnya adalah kerusakan N. glosofaringeus dan kebersihan mulut yang buruk.
4. Cacogeusia adalah gangguan pengecapan yang ditandai sensasi rasa yang tidak
enak pada makanan, dapat disebabkan karena kebersihan mulut yang buruk.
5. Phantogeusia adalah gangguan pengecapan yang ditandai dengan rasa yang tidak
enak di mulut, yang dikenal dengan metallic phantogeusia.
Penyebabnya adalah obat-obatan tertentu, termasuk antibiotik, antidepresan, dan
antihipertensi, serta merupakan reaksi yang normal terhadap pengobatan kemoterapi
dan radioterapi.

IV.4. Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis gangguan pengecapan dilakukan anamnesis tentang
riwayat penyakit, ada tidaknya infeksi saluran napas, gangguan pada hidung, riwayat
trauma, gangguan medis lain, dan pengobatan yang didapat, serta lakukan pemeriksaan
fisik. Keadaan mulut diperiksa, untuk melihat kemungkinan adanya infeksi atau mulut
kering.5
The drop technique, digunakan 4 macam rasa manis (gula pasir), kecut/asam
(larutan asam cuka atau jus jeruk), asin (larutan garam), dan pahit (kinin, aspirin, atau
lidah buaya). Kehilangan pengecapan dapat diperiksa menggunakan konsentrasi terendah
dari bahan tes. Penderita diminta untuk mengidentifikasi rasa dari bahan tes yang
diletakkan diatas lidah sambil menutup hidung.2,15,16
Elektrogustometri merupakan tes pengecapan secara kuantitatif. Penderita diminta
untuk membandingkan rasa dari bahan tes yang berbeda atau bagaimana intensitas dari
rasa saat konsentrasi bahan kimia ditingkatkan.15,16

12
Biopsi papila foliata atau fungiformis untuk pemeriksaan histopatologi dari vili
pengecap. Pemeriksaan laboratorium sederhana, untuk melakukan pemeriksaan
sehubungan dengan penyakit yang didapatkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik,
seperti alergi, diabetes melitus, fungsi tiroid, ginjal, hepar, dan endokrin. CT scan sinus
dapat dilakukan jika ada indikasi setelah melalui hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan MRI otak sering kali dianjurkan jika riwayat penyakit tidak jelas dan
terdapat gejala neurologis.5,16

IV.5. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan gangguan pengecapan berdasarkan penyebabnya, yaitu :15,16
a. Menghentikan semua obat yang menyebabkan gangguan pengecapan,
kecuali jika obat tersebut sangat penting dalam mengobati masalah medis lain dan
tidak dapat digantikan.
b. Pemeriksaan ada tidaknya kelainan pada hidung yang menyebabkan
penurunan fungsi penciuman yang selanjutnya mempengaruhi fungsi pengecapan.
c. Zinc sulfat 110 mg/hari/oral. Perbaikan fungsi dapat terlihat selama lebih
dari 12 bulan.
d. Pengobatan pada gangguan mukosa mulut, seperti infeksi bakteri dan
fungus serta inflamasi.
e. Nasehati pasien bahwa dengan mengunyah makanan dengan baik dapat
meningkatkan produksi saliva, sehingga dapat meningkatkan sensasi rasa.
f. Pada mukositis atau mulut kering akibat radioterapi diberikan stimulan
saliva atau saliva artificial dan antiinflamasi lokal untuk meningkatkan fungsi
pengecapan.
g. Menjaga kebersihan mulut.
h. Memperbaiki gangguan endokrin melalui terapi hormonal.
i. Pada penyakit herediter Disautonomia Familial tipe I seperti Sindrom
Riley-Day dimana taste bud tidak ada sama sekali dapat diberikan metakolin
subkutan untuk menormalkan tingginya ambang rasa untuk semua sensasi rasa.
j. Menjaga mulut agar tetap basah dengan cara mengunyah permen.

13
V. KESIMPULAN
Pengecapan adalah fungsi utama dari taste bud, namun indera penciuman juga
berperan pada persepsi pengecapan. Selain itu, tekstur makanan seperti yang dideteksi
oleh taste bud dan keberadaan elemen-elemen dalam makanan sangat berperan pada
pengecapan. Kemampuan untuk mengecap bukan saja tergantung pada taste bud,
melainkan juga pada pergerakan lidah. Dengan mendorong makanan di sekitar mulut,
lidah akan memilah-milah makanan untuk taste bud.1,3
Lidah merupakan bagian tubuh yang penting untuk pengecapan, terdapat reseptor
untuk merasakan respon rasa manis, asam, asin, dan pahit. Reseptor ini peka terhadap
stimulus dari zat-zat kimia, sehingga disebut kemoreseptor. Rasa manis dan asin terutama
terletak pada ujung lidah, rasa asam pada dua pertiga bagian samping lidah, dan rasa
pahit pada bagian posterior lidah dan palatum mole.1,6
Gangguan pengecapan dapat terjadi karena adanya destruksi taste bud atau
terdapat bahan yang dapat merubah sensitivitas rasa sehingga lidah tidak dapat
mendeteksi rasa dengan benar. Gangguan pengecapan adalah gangguan rasa manis, asam,
asin, dan pahit. Hal ini menyebabkan nafsu makan menurun sehingga tidak jarang
mengakibatkan defisiensi protein dan kalori. Pengecapan dapat berkurang sedikit, hilang
sama sekali, atau timbul rasa baru.13,14
Untuk menegakkan diagnosis gangguan pengecapan dilakukan anamnesis tentang
riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Penatalaksanaan yang diberikan sesuai dengan
penyebab dari gangguan pengecapan.5

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton AC, Hall JE. Buku ajar fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC. 2000; 841-5.
2. Fahmi R. Kelainan penciuman dan pengecapan. 2010. [diakses 30 Desember
2010] http://forum.um.ac.id.
3. Smith JL, Egan JN. Body signs. American: Ufuk Publishing House. 2007; 121-6.
4. Mangunkusumo E. Gangguan penghidu. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N,
Bashiruddin J, Restuti RD, editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala leher. Edisi 6. Jakarta: Balai Penerbit FK-UI. 2006; 160-1.
5. Leopold DA, Holbrook EH, Noell CA, Mabry RL. Disorders of taste and smell.
2006. [diakses 30 Desember 2010] http://www.emedicine.com.
6. Snell RS. Head and neck. In: Taylor C, Horvath K, editors. Clinical anatomy by
regions. Edition 8. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. 2007; 778-80.
7. Cotton wood. Tongue. 2006. [diakses 3 Januari 2011]
http://anukp.wordpress.com/ 2006/04/15/tongue.
8. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama. 2004; 310-3.
9. Mozartha M. A-Z Gigi dan mulut: Lidah. 2008. [diakses 3 Januari 2011]
http://www.klikdokter.com.
10. Voice and speech. Articulation: Tongue. 1998. [diakses 3 Januari 2011]
http://www.yorku.ca/earmstro/journey/tongue.html.
11. Oneklikbiologi. Sistem pencernaan. 2010. [diakses 3 Januari 2011]
http://07oneklikbiologi.wordpress.com/2010/09/29/sistem-pencernaan.
12. Nurbaeti. Skema pembentukan impuls saraf pada papilla pengecap. 2009. [diakses
4 Januari 2011] http://arifwr.wordpress.com/2009/06/09/lidah-dan-pengecapan.

15
13. Azwa NA. Prevalensi komplikasi oral akibat kemoterapi pada pasien kanker di
RSUP H. Adam malik Medan. 2009. [diakses 3 Januari 2011]
http://repository.usu.ac.id.pdf.
14. Nadhia A, Sunariani J, Irmawati A. Penurunan sensitivitas rasa manis akibat
pemakaian pasta gigi yang mengandung sodium lauryl sulphate 5%. Jurnal PDGI.
2009; 58(2): 10-13.
15. Akil MA. Gangguan pengecapan. Makasar: Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin. 2008. [diakses 4 Januari 2011] http://fkunhas.com.
16. Snow JB, Martin JB. Gangguan pada penciuman, pengecapan, dan pendengaran.
Dalam: Isselbacher KJ, editor. Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam volume
1. Jakarta: EGC. 2001; 132-3.

16