Anda di halaman 1dari 9

Mohon Pencerahan FSO & FPSO

darwis sbr

Mohon pencerahannya dari Bapak2 yang telah mempuni di Oil & Gas tentang
FSO & FPSO

Terimakasih

Jauhari yahya
kalo yang kita tahu fso (floating storage off loading) semacam tangki penyimpanan
terapung, yang
tidak memerlukan facility process.
Sedangkan fpso (floating production off loading) kebalikan dari fso....(yang
memerlukan facility process)
moga berkenan dan yang mampu nambah biar lebih cerahhh...millis ini

iwan aryawan
Nambahin dikit:

Sesuai dengan pak Jauhari bilang, satu-satunya perbedaan antara FSO dan FPSO
adalah huruf 'P' (Production).

Di FPSO, minyak mentah dari reservoir di proses (Production) diatas dek lalu
disimpan di tanki-tanki lambung kapal (Storage). Minyak yang telah diproses (bisa
juga 'liquefied gas') lalu di export (Off-loading) kemungkinan besar pake shuttle
tanker, untuk dibawa ke darat (konsumen). Off-loading ini bisa juga lewat jalur pipa,
tapi biasanya orang memilih FPSO salah satunya karena tidak adanya fasilitas jalur
pipa di sekitar lokasi (remote area).

FSO hanya digunakan untuk menyimpan (Storage) minyak/liquefied gas yang udah di
proses, sebelum di ekspor (Off-loading) lewat shuttle tanker atau pipa. FSO ini
dibutuhkan karena platform tempat pengilangan tidak mempunyai fasilitas ekspor
langsung (jalur pipa). Atau bisa juga digunakan untuk penampungan sementara
produksi dari platform2 kecil (satellite platforms) sebelum di salurkan ke tempat lain.

JKTPET1
Mas Iwan,

Minyak mentah yang diproses di FPSO ini maksudnya bukan Diproses kayak di Kilang
itu kan ?
Sebatas mana Proses yang dilakukan di FPSO? apa pemisahan Ass. Gas dan Minyak
mentah aja atau bgmn ? apa P (production) itu juga ada yang pakai istilah lain
misalnya Fixed Processing Unit (FPU) misalnya.
Thanks.
Adhia "James" Utama
mas dhs,

proses dalam arti disini bukan proses pengilangan, tapi lebih ke proses pemisahan
dry oil, gas, condensate dan produced water. kita tahu klo dalam produksi oil & gas,
yang muncul adalah emulsi...nah...emulsi ini yang kemudian diproses untuk
menghasilkan dru crude oil yang kemudian di jual...tentunya juga ada fasilitas untuk
pemisahan gas dengan air, kompresi gas export, waste (oily) water treatment, dan
gas dehydration. so...tidak ada proses penyulingan hanya proses pemisahan crude
oil, gas dan produced water saja.
mudah2an bisa lebih membantu menjawab (CMIIW).
setidaknya ini yang sering saya kunjungi di fasilitas FPU di selat makassar.

hasan uddin
Kalo hydrocarbon-nya oil, ya..memang benar prosesnya bukan penyulingan
(refinery). Artinya, hasil proses produksinya masih crude oil yang akan diolah lagi di
kilang onshore.

Tapi kalo FPSO-nya menghandle hydrocarbon jenis gas, si FPSO bisa mengolahnya
menjadi LPG atau LNG. Jadi term fasilitas-nya bisa disamakan dengan kilang mini
pak...

fajar yulianto
FPSO memang bisa mengolah gas untuk jadi LPG. Tapi untuk kasus ini menurut saya
masih diperlukan infrastruktur pipeline di daerah tsb, mengingat C1 dan C2 harus
dialirkan karena proses pencairannya menjadi LNG saat ini belum bisa dilakukan di
lepas pantai.
CMIIW.

Budhi S.
Mas Iwan,

Terima kasih banyak atas kiriman dokumen "To Float or Not to Float" yang sangat
bermanfaat ini.
Dengan membaca dokumen ini, anggota milis akan semakin mengerti mengenai
perbedaan antara FPSO dan FSO.

FSO Floating storage and offloading system: often a ship or bargeshaped floating hull
incorporating tanks for storage of produced oil, and a method of loading the oil into
off-take tankers. These installations do not have any production or processing
facilities.

FPSO Floating production, storage and offloading vessel: it includes, in addition to its
storage and offloading capability, facilities for receiving crude oil from producing
wells and processing it for export by separating water and gas.
FPS Floating production system: a general term to describe any floating facility
designed to receive crude oil from producing wells and process it. It may not have
facilities for storage, in which case export would be by pipeline to shore or to a
nearby FSO.

FSU Floating storage unit: a floating facility intended only for storage of oil. Export
may be by pipeline to an onshore facility rather than offloaded to shuttle tankers.
Sometimes used synonymously with FSO.

Selain itu, kita juga akan mendapatkan pencerahan mengenai faktor-faktor : water
depth, operating conditions, reservoir size and life, distance from markets, size of off-
take cargoes, safety, environmental impact and economics yang mempengaruhi
pemilihan oil production systems. Detail selanjutnya silahkan membuka attachment
yang saya sertakan pada posting ini.

Salam,
Budhi S.

--
From: iwan aryawan

Mas Budhi,

Mumpung lagi hangat, ini saya lampirkan dokument dari woodside tentang prosedure
untuk memutuskan tipe platform yang cocok untuk pengembangan ladang
minyak/gas baru. Rangkuman yang lumayan pendek tapi sarat informasi. Saya yakin
informasi ini sangat berguna untuk temen-temen milis migas.

Attachment : To Float or not to float.pdf

darwis sbr
Saya ucapkan banyak terima kasih atas pencerahan Bapak Jauhari dan Bapak Iwan
semoga Allah S.W.T membalaskan budi baik Bapak2 semuanya.

Sekali lagi terima kasih banyak Pak

roeddy setiawan
menambahkan keterangan,

pemakaian FPSO/FSO/FPU. itu buil to purpose driving force nya adalah cheaper
project cost, faster first oil, sehingga faster cost recovery juga dari pemerintah,
ahirnya NPV dari keseluruhan project jauh lebih baik, misalnya kalau project itu 24
bulan lebih cepat at 60,000 blpd kan sudah dapat $ 3.1 billion gross sale, jelas semua
ongkos seismic,explorasi,overhead semua staff yang say sepuluh tahun, plus project
cost bisa ditagihkan untuk dibayar ( project cost hanya ditagih dalam period psc nya
say 30 th jad 1/30 dengan double decline ballance. kalau ngak salah)

umum nya FPSO/FSO menerima crude nya melalui turet, suatu alat katakanlah
seperti sbm tapi bisa digandulin FPSO/FSO tanpa roboh. dan memungkinkan
FSO/FPSO nya menghadapkan dirinya (rotating) ke arah arus/angin, untuk
memperkecil drag, sambil crude nya di process.
Untuk region yang harsh umumnya turet design ini detachable, jadi kalau ada taifun
misalnya. field di shutdown, FPSO nya bisa menghindar dan lego jangkar di tempat
aman, laminaria field typical detachable turet

untuk FSO biasanya sudah ada fixed paltform nya, seperti yang applikasikan oleh
Arco/ARRI di laut jawa, jadi oil, gas, water dipisah di platform, crude nya di alirkan ke
FSO, prosesing yang dilakukan umumnya hanya natural gravity separation saja,
seperti di crude tank, untuk mencapai crude sales specification, say tidak boleh lebih
dari 2.5 BS&W. kalau lebih owner kena denda, karena tankernya buyer cuman diisi
air saja bukan crude.
untuk perairan yang benign, dengan angin yang kliwir2 spt laut jawa. tidak
memerlukan turet, jadi fso nya jangkaran biasa, loading prosesnya bisa side by side
bisa searah tergantung operator preference

untuk FPSO, bisanya ada prosesing facilities nya dan tidak ada fixed platform nya,
say sumur2 nya di develop dengan teknik subsea completion, jadi semua sumur
nanti masuk ke subsea header, baru masuk ke turet, terus masuk ke prosesing
equipment.
Gas,oil,wtr separator selanjutnya compression facilities kalau gas nya laku di jual,
kalau tidak ada pasar nya yah di flare atau di recompressi dan dikembalikan ke
reservoir untuk pressure maintenance.
prosess equipment tidak ditaruh di dek tapi dibikinkan dingklik setinggi kira kira 3
meteran untuk air gap (tergantung metocean assesment), jaga jaga kalau ada side
wave, biar ngak tumplek, juga untuk supaya blue waters tidak terlalu merusak.
kolong nya dingklik bisa di pake isis isis, mancing tapi terutama maintenance ringan
deck yang ada dingklik nya tadi di bagi bagi section nya menurut API recomm
practice, ada yang dilindungi blast wall , ada yang tidak tergantung keperluannya.

Flare stack, umumnya ngak bisa sebebas membuat flare stack di darat ngak bisa
tinggi2 sekali, nanti stability nya compromized, ngak boleh 2 phase flow, karena
nanti bisa hujan api, ketiup angin balik ke FPSO, kan belum ada yang jualan payung
api (kidding). for most occation flare stack ini yang nanti membatasi produksi,
maksudnya kalau suatu ketika geologis nya salah, tadi nya dipredik 10 mmscfd, lalau
setelah development ketemu 100 mmscfd, fpso ini umumnya ngak bisa ajust, karena
misalnya radiasi thermalnya yang diterima crew dan alat2 sudah tertentu. jadi di fpso
design, pembicaraan design kriteria ini selalu mbulet ngak kelar kelar.

Floating system dr FPSO nya sendiri bisa diperoleh dari bikin baru atau conversion,
yang conversion biasanya diambilkan dari tanker bekas, dipotong tengahnya di
stretch dipanjangkan, atau dipotong tengahnya distretch ke alah lebar, tergantung
metocean criteria yang harus dihadapi. hidung kapal di pasangi turet buat feed inlet
dari subsea header. dibingkin kan dingklik tadi di deck, terus biasanya component
proses equipment datang berupa package, perblock, suplier compressor, datang
complet inlet scrubber,outlet scrubber, cooler, compressor dlm satu skid, tinggal plok
ditaruh. dehydration package, amine package, gen set package dan lain lain
ketempat conversion sampai komplit, sesudah komplit umumnya owner mau test
dulu, make sure semua package bisa memainkan orkes symphony nya tanpa
sumbang., dari separation system, compression,powerhouse, pumps, mcc,
measurement, dataloging, sampai flushing toilet ditest baru boleh load out.
Proses conversion ini belum tentu lebih cepat dari bikin baru, karena meskipun
cuman motong kapal lalu di stretch. sebenarnya banyak banget yang mesti
dikerjakan ulang, mulai dari strip out cabling sysem, pneumatic, ballast system,
stripping paint dan lain lain tetek bengek yang slowing down the proses. umumnya
conversion cheaper dr bikin baru. tapi sejak 2003??, ada keharusan harus double hull
saya ngak ngikutin lagi sebagai contoh Hiunday yard di ulsan, tahun 2003 membuat
76 supertanker dalam satu tahun, jadi 6-7 super tanker / bulan , atau 1 - 2 tanker per
minggu. teknik nya berbeda, mereka bikin panel2 kecil, terus digatuk gatuk seperti
lego, simsalabim jadi. tapi umumnya from scratch to finnish 16 - 20 bulan

Untuk FPU biasanya sedikit lain, tidak ada permanen storage nya jadi kalau ada
product langsung dipump ketempat lain, storage anya sebatas surge kapasiti dr
pump. yang barge tipe umumnya di bikin berani mati, berhadapan dengan wave dari
samping (tentunya sudah di design 100 year tanpa tumplek, tapi siapa tahu kan).
untuk deepwater cost dr barge reasonable tapi cost mooring system nya bisa $ 20
MM. bayangkan saja 3 - 4 km synthetic ropes ada 8 biji, kalu pake ratai juga bisa. tapi
barge nya mesti lebih besar lagi utuk ajust berat rantai.

mudah mudahan sebagian kecil keterangan ini menjelaskan

I Gusti Ketut Ari Wijaya S.


Boleh ikut nimbrung untuk menanyakan sesuatu ga nih?
Apakah FPSO yang ada di Indonesia menggunakan bendera Indonesia dalam
pengoperasiannya?

Langsa Venture (MV 8),San Jacinto Farwah,Anoa Natuna,Kakap Natuna,Belanak


adalah FPSO yang saya tahu beroperasi di Indonesia. Apakah keseluruhan FPSO
tersebut berbendera Indonesia?

Terima Kasih atas bantuannya

roeddy setiawan
pak ari,

Iya pak ini menyangkut kedaulatan, kalau pakai flag amrik, kalau anda mau naik di
tanya pasport dulu ???, jangan jangan disuruh pulang ngak boleh naik hh hh
(kidding).

I Gusti Ketut Ari Wijaya S.


Pak roeddy,

Berdasarkan info yang saya dapat (based on the Class of the vessel), dari kelima
FPSO yang saya sebutkan itu, hanya satu saja yang menggunakan bendera
Indonesia, sedangkan yang lain menggunakan bendera Liberia, Panama, etc. Apakah
azas cabotage tidak/berlaku untuk vessel jenis FPSO?

Thank you

roeddy setiawan
dear pak wijaya,
ingat saya waktu in transit saja pakai flag asalnya, kalau sudah di tambat, diganti
dengan dwi warna. repot kan kalau dianggap negara Liberia, barangkali rekan
bpmigas bisa menjelaskan kenapa dwiwarna nya di waive, sepotong teritorial kita
jadi punya liberia. berita bagus pak buat metro tv atau sidik h he he kidding

hasan uddin
Setahu saya, prinsip cabotage (inpres no 5 th 2005, Kepmen no 21 th 2005; shipping
act no 21 th 1992, PP no 82 th 1999 dan Kepmen no 33 th 2001) diterapkan dengan
bertahap. Flag asing masih diperbolehkan asal di-operate oleh perusahaan "local".

Kira2, (targetnya) prosentase cargo share baru akan 100% full local dengan
menggunakan Indonesian flag pada tahun 2010. Saat ini, perkiraan cargo share
MIGAS adalah 40% local flag dan 60% foreign flag (ref to data dari Dephub Press).

Yang masuk dalam cakupan cabotage adalah trade, finance, transportation, industry,
energy & mineral resourcesdan education. Jadi, FPSO tercover juga oleh prinsip
cabotage.

Dalam sebuah workshop perkapalan dan kepelabuhanan (BPMIGAS-KKKS) beberapa


waktu lalu, disimpulkan juga bahwa beberapa ketentuan international yang terkait
dengan operasional kapal2 penunjang industri migas yang belum diratifikasi belum
dapat diterapkan di Indonesia karena belum menjadi hukum positif. Pengaturannya,
untuk sementara mengacu ke kaidah safety.

Pengalaman kami yang baru sebulanan ini mendeploy sebuah FSO yang berbendera
asing, kami masih diberi dispensasi oleh Hubla untuk mengurus perpindahan
bendera dalam enam bulan kedepan.

roeddy setiawan
pak Hasanuddin,

seru juga yah, ingat saya anoa dan lain lain udah lama banget sampai sekarang
masih pake iberia tetap saja mengundang pertanyaan.

Gusti Sidemen
Dear Pak Rudy, Pak Wijaya dan kawan-kawan lainnya,
Sekedar ikut-ikutan nimbrung. Penyebab FSO, FPSO yang digunakan di lautan
Indonesia didaptarkan di negara lain dan menggunakan bendera negara lain
mungkin disebabkan alasan ekonomi dan kepraktisan saja. Juga karena sistem yang
memungkinkan (sistem pendaftaran terbuka) dimana kapal milik suatu perusahaan
dari suatu negara bisa didaftarkan dinegara lain. Yang menjadikan insentif bagi
perusahaan untuk mendaftarkan kapal di tempat lain seperti Liberia misalnya adalah
karena pajak yang rendah, peraturan yang lebih fleksibel. Sebagai contoh kalau FPSO
itu berbendera Indonesia maka setiap 4 tahun harus ditarik kegalangan untuk
pemeriksaan besar. Sebaliknya kalau berbendera Liberia cukup diperiksa ditempat.
Bayangkan bagaimana repotnya kalau harus membawa FPSO ke galangan. Jadi
kelihatannya kedaulatan no 2 lah. Aturan juga seharusnya dibuat praktis, tepat dan
mengikuti perkembangan teknologi.
roeddy setiawan
pak Gusti,

Husus ke harusan drydock, memang dulu pembicaraan nya ngak selesai selesai, tapi
ingat saya migas (dahulu) sebagai autorizing body memberikan jalan keluar persis
nya saya lupa. tapi ketentuan harus drydock bisa digantikan dengan program
inpspeksi yang lain, seperti underwater inspection. yang kata pak gusti diperiksa di
tempat.

pak hasannudin, yang lagi sibuk dg fpso ini barangkali bisa share bagai yng terkini
tentang directive dr authorizing body.

Gusti Sidemen
Dear Pak Rudy,
Ya kadang-kadang kebijakan itu nggak dibikin tuntas dan jelas. Padahal sudah lama.
Setelah berhasil menyembelih Pertamina, semangat membuat aturan yang berguna
bagi industri migas kok kelihatannya menurun. Sekian pasal dalam undang undang
migas menyatakan akan diatur lebih lanjut. Ya aturannya nggak muncul. Apalagi
FPSO, mungkin dilihat nggak terlalu penting. Mudah-mudahan saja nggak begitu..
Mungkin Pak Rudy atau moderator milis migas bisa bantu bangunkan beliau-beliau
yang ketiduran. Lewat seminar/workshop yang diusulkan oleh Pak Iwan, barangkali?
He..he..

roeddy setiawan
Dear pak Gusti,
iya benar pak, kadang kadang saya rindu dengan suasana jaman dulu sebelum
disembeleh, semuanya satu atap. sekarang lebih panjang chain nya, ada pusat,ada
daerah, ada governing body, ada inter departement terkait. ada kelompok2 yang
kadang kadang memborong semua elemen mulai dari executive, judicative, di
tangan nya sendiri (sementara tapi, membuat kita yang mau kerja bingung nurut
sama siapa).

darma pala
Sebagai tambahan,
Biasanya FPSO yang berbendera asing lewat perusahaan lokal (agent) akan
mendapat dispensasi falg dari HUBLA selama 6 bulan dan dapat diperpanjang (in
practical). Sedangkan ijin operasional fasilitas produksi FPSOnya dari dirjen migas
berupa SKPI (Surat Kelayakan Penggunaan Instalasi) yang berumur 3 tahun, dan
tentunya bisa diperpanjang juga. Untuk ketentuan dry dock, dsb, biasanya mengikuti
class dari kapal tersebut, termasuk menggantikan drydock dengan special survey
(termasuk unwild). Mungkin rekan-2x yang bekerja di class (BKI, LR, ABS, etc) bisa
memberikan pencerahan yang lebih detail.

hasan uddin
Pak Gusti (kapan balik ke ngantor di Kuningan lagi??)

Statement sampean menarik pak...:-)

Yah...in my opinion, begitulah kenyataannya memang. Harus diakui, masih banyak


sekali rules di negeri kita tercinta ini yang tumpang tindih satu dengan lainnya. Jadi,
kita mau jadi tuan rumah (yang bener2 tuan rumah) di negeri sendiripun udah
pontang panting sulitnya.

Tentang ketentuan pemeriksaan besar (dry dock), setahu saya yang berbendera
Indonesia (floating facilities) kok tidak mandatory per-4 tahun (CMIIW). Yang saya
tahu, ketentuan dari BKI (yang diassign oleh Hubla untuk urusan ini berdasarkan SK
Ditjen Hubla/Perla th 1993 kalo gak salah) dry dock bisa diganti dengan U-WILD
(underwater survey).

By rules-nya BKI, memang jelas2 mempersyaratkan bahwa untuk kapal (padahal


FPSO/FSO bukan kapal ya???) dengan class A100 docking period-nya adalah 24 bulan
dan maksimal 30 bulan. Ada juga ketentuan bahwa kapal yang berumur dibawah 15
tahun, U-WILD dapat menggantikan docking survey. Nah lho???

Untuk catatan aja buat remind semuanya, bahwasanya FPSO/FSO hanyalah segelintir
jenis saja...masih ada banyak vessel types lain yang dipakai untuk pendukung
operasi migas, seperti laying barge, heavy lifting vessel, cargo transportation barge,
drill ship, jack up rig, MODU, MOGPU, AHT, survey vessel, dll.

Kalo mau prinsip cabotage diaplikasikan dengan full (yang targetnya MANDATORY tgl
01 Januari 2010 untuk oil & gas cargo vessel dan 01 Januari 2011 untuk supporting
vessels), harus jelas dulu infrastructure-nya (kebijakan fiskal, finansial dan de-
regulasi). Jangan ada lagi duplicated atau bahkan triple work yang notabene high
cost, proses lisensi/sertifikasi yang keluar masuk pintu sana-sini, perbaiki SDM,
optimisasi BKI, dll.

Saya kok jadi inget, beberapa pemda tingkat kabupaten yang lagi berebut cepat
"menangkap" peluang income pajak kendaraan bermotor dengan mempermudah
proses birokrasinya...demi untuk mendongkrak pajak KB di wilayah mereka.

Selamat berbuka puasa..

Gusti Sidemen
Pak Hasanuddin,
Ke Kuningannya masih kapan-kapan. He...he.. saya malah setuju sekali dengan
ungkapan Pak Hasannudin. Sangat mewakili kerisauan orang lapangan. Tentang dry
dock yang 4 tahun, mungkin bisa menimpa FPSO yang konversi dari tanker (dengan
penngerak sendiri) seperti FPSO Kakap Natuna (maaf kalau namanya salah). Difinisi
dan lingkup kapal bisa sangat luas kalau dilihat dari undang undang pelayaran Bisa
jadi FPSO masuk katagori kapal dalam UU tersebut(mungkin saya salah, karena saya
nggak rechek UUnya). . Memang perlu aturan yang jelas yang mengedapankan
keseimbangan aspek ekonomi dan risiko. Siapa tahu, dengan dorongann milis Migas
dan kawan-kawan pelaksana di lapangan akan muncul sistem pengaturan yang
transparan.

iwan aryawan
Ikutan nimbrung,

Kalau saya perhatikan, topik diskusi ini sudah bercampur aduk antara flag statutory,
Government shipping policy (Cabbotage) bahkan sampai ketentuan Class (survey
requirement). Semuanya memang menarik untuk didiskusikan, tapi ada
kemungkinan kita malah bingung sendiri kalau topik-topik tersebut dicampuradukan
secara tidak proporsional.

Kalau banyak yang berminat mungkin kita bisa ngadain kopi darat atau bahkan
workshop nasional dengan mengundang instansi-instansi terkait. Mengingat,
sepengetahuan saya, di negara kita tercinta ini peraturan-peraturan untuk offshore
floating platform belum begitu baku, konsisten dan transparan.

Agak berbeda dengan 'fixed platform', a floating platform vessel (misalnya FPSO)
bisa berlayar (meskipun tidak mempunyai layar) sendiri layaknya sebuah kapal
konvesional. Bahkan kadang-kadang harus mengarungi perairan internasional,
sebelum menuju tempat operasinya. Makanya, sesuai dengan peraturan perairan
internasional (IMO=International Maritime Organisation) vessel tersebut diwajibkan
untuk mempunyai 'flag registrasi' (administration of the Flag State). Termasuk
didalamnya kewajiban untuk mematuhi beberapa konvensi internasional seperti:
SOLAS (1978), Load Line (1966), MARPOL (1978), Tonnage (1969), etc.

Once vessel ini memasuki wilayah perairan nasional, misalnya FPSO beroperasi di
Indonesia, ketentuan hukum perairan nasional (lazimnya disebut 'Coastal State')
lebih superior. Biasanya ketentuan Coastal State ini minimal berisikan IMO
regulations ditambah dengan peraturan2 tambahan (ijin dumping, ketentuan
imigrasi, dsb). Jadi minimal si FPSO ini harus mematuhi kedua jenis peraturan
tersebut. Idealnya si Coastal State ini mengeluarkan peraturan2 yang
mengutamakan 'safety' para warganya dan menghindari pencemaran lingkungan.
Kontrolnya bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah atau didelegasikan ke badan
independent dan kompeten seperi biro2 klasifikasi. Detailnya termasuk ketentuan
survey dan inspeksi. LR misalnya memperbolehkan untuk melakukan underwater
survey dengan catatan FPSO tersebut mempunya 'OIWS' notation (layak dan
mempunyai fasilitas untuk dilakukan underwater survey).

Jadi sebetulnya ketentuan 'Flag' ini bukan semata-mata masalah integrity suatu
negara, tetapi sudah menjadi ketentuan hukum internasional. Karena itu tadi FPSO
mempunyai 'voyage mode' (transit) dan juga 'operation mode'. Bisa saja sewaktu
FPSO itu beroperasi di Indonesia, pemerintah Indonesia mewajibkan bendera merah
putih untuk dikibarkan (what for?). Karena sudah jelas, selama si FPSO tersebut
beroperasi di wilayah Indonesia hukum-hukum Indonesia (offshore industry, tenaga
kerja, imigrasi, dll) berlaku. Mungkin banyak yang belum tau (termasuk saya sendiri)
hukum di Indonesia itu bunyinya seperti apa?

Mohon maaf panjang sekali e-mail ini. Tapi mudah-mudahan sedikit mempercerah.
Untuk detailnya saya sarankan KMI untuk mengadakan diskusi terbuka, dengan
mendatangkan nara sumber dari instansi2 terkait (Migas, Hubla, dll).