Anda di halaman 1dari 95

1

Bincang-Bincang
Dhamma di Dunia Maya
I
Penyusun:
Ivan Taniputera

Kontributor:
Airwinsuper, Denny,
Denny, Dhanuttono, Fajar Kurnia, Gunawan Kurnia, Hedi
Kasmanto, Henry Chen, Irwanpr, Kalyanadhammo, Kelana, Kemenyan, Langit
Biru, Markos, Morpheus, Radi Muliawan, Ryu, 7th, Siwu, Suchamda
(Daniel), Sumedho Benny, Sunari,Surjadie, SWLiang, Tan, V.Diepa, Victor
Alexander, Wi Tjong, Yadi Go

DHARMADANA – TIDAK DIPERJUAL BELIKAN


2

BINCANG-
BINCANG-
BINCANG
DHAMMA DI
DUNIA MAYA
I

Penyusun:
Ivan Taniputera

Kontributor:
Airwinsuper, Denny, Dhanuttono, Fajar Kurnia, Gunawan
Kurnia, Hedi Kasmanto, Henry Chen, Irwanpr, Kalyanadhammo,
Kelana, Kemenyan, Langit Biru, Markos,
Markos, Morpheus, Radi
Muliawan, Ryu, 7th, Siwu, Suchamda (Daniel), Sumedho Benny,
Sunari,Surjadie, SWLiang, Tan, V.Diepa, Victor Alexander,
Wi Tjong, Yadi Go
3

Ucapan Terima kasih


Penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
pada:
• Para kontributor:
kontributor:

Airwinsuper, Denny, Dhanuttono, Fajar Kurnia, Gunawan


Kurnia, Hedi Kasmanto, Henry Chen, Irwanpr, Kalyanadhammo,
Kelana, Kemenyan, Langit Biru, Markos, Morpheus, Radi
Muliawan, Ryu, 7th, Siwu, Suchamda (Daniel), Sumedho Benny,
Sunari,Surjadie, SWLiang,
SWLiang, Tan, V.Diepa, Victor Alexander,
Wi Tjong, Yadi Go

• Para moderator milis:


milis:

Forum Dhammacitta
http://www.dhammacitta.org/forum

Milis Dharmajala
http://groups.yahoo.com/groups/dharmajala

Milis Samaggiphala
http://groups.yahoo.com/groups/samaggiphala

Milis Mahayana_Indonesia
http://groups.yahoo.com/groups/mahayana_indonesia

Milis MUBI
http://groups.yahoo.com/groups/mubi

• pihak-
pihak-pihak lain yang turut mendukung pembuatan buku
ini
4

Kata Pengantar
Namo Buddhaya!

Dewasa ini, kita menyaksikan perkembangan luar biasa dalam bidang


internet, yang kini bahkan sudah menjadi semacam kebutuhan. Internet
bermanfaat dalam mempercepat komunikasi antar umat manusia dan juga
penyebaran atau pertukaran gagasan. Bahkan agama Buddha juga telah
mendapatkan manfaat besar yang berasal perkembangan teknologi ini. Buku
ini merupakan kumpulan beberapa diskusi yang dilangsungkan di berbagai
mailing list (milis) Buddhis.
Beberapa topik diskusi yang tercantum dalam buku ini masih belum
berakhir dan terus berlanjut tatkala buku ini disudahi penyusunannya.
Kelanjutan diskusi tersebut akan dimuat pada jilid selanjutnya. Penulis
memohon maaf sebesar-besarnya apabila terdapat nama kontributor yang
belum dicantumkan ataupun salah penulisannya.
Buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu segenap masukan
dan saran akan diterima dengan senang hati. Penyusun mempersilakan para
pembaca untuk mengirim e-mail ke ivan_taniputera@yahoo.com atau
menghubungi 0816658902. Besar harapan penyusun agar buku ini dapat
memberikan banyak manfaat bagi para pembaca. Semoga buku ini dapat
pula mempererat persahabatan dan persatuan umat Buddhis di dunia maya,
serta menjadi kenang-kenangan berharga bagi mereka yang terlibat dalam
diskusi.
20 Juli 2007

Penyusun
5

Daftar Isi
Topik 1
APAKAH BUAH ATAU AKIBAT
AKIBAT MELAKUKAN SESUATU
YANG TIDAK BAIK DENGAN NIAT YANG BAIK? 6

Topik 2
PANDANGAN BENAR DAN SALAH 14

topik 3
KASUS DAN DILEMA MENARIK 17

topik 4
HADAYAVATU 29

topik 5
PEMBUKTIAN DALAM BUDDHISME 35

topik 6
MENGAPA BERAGAMA BUDDHA? 66

topik 7
BAGAIMANA
BAGAIMAN A BILA ANAK ANDA INGIN MENJADI
BHIKKHU ? 88
6

Topik 1
Apakah Buah atau Akibat Melakukan
Sesuatu yang Tidak Baik dengan Niat yang
Baik?

Posting Sdr. Wi Tjong


Milis Sammaggiphala. Posting no. 32076, 9 Juli 2007, 2:56 PM

Saya ingin "dengar" pendapat teman-teman untuk kasus ini,

Menurut Dhamma, sebagai anak hampir tidak mungkin kita mampu membalas jasa ibu.
Ilustrasinya, meskipun kita gendong selama 100 thn, tetap saja budi beliau tidak
terbalaskan. Tetapi kalau seorang anak mampu mengajarkan Dhamma kepada ibunya,
maka kebajikan ini lebih besar daripada budi baik ibu kepada anak. Artinya, mengajarkan
Dhamma, mendekatkan orang tua kepada Dhamma - meskipun bukan termasuk garukka
kamma (kamma yg paling besar/berat) – adalah karma yg luar biasa baiknya.

Yang ingin saya tanyakan adalah yg sebaliknya. Bagaimana kalau seorang anak
mengajarkan ibu tentang keyakinannya yg bertentangan dengan Dhamma. Ambil saja
contoh : melakukan pembunuhan hewan utk upacara tertentu dsb. Yang menjadi fokus
pertanyaan saya adalah bobot karma anak ini. Apakah berarti karma yang luar biasa
buruk nya juga ?

Wi Tjong

Ulasan terhadap Pertanyaan Sdr. Wi Tjong


(diposting oleh Tan)
Milis Samaggiphala, Posting no.32148, 10 Juli 2007, 2:23 PM

Pertanyaan Sdr. Wi Tjong ini menurut hemat saya bagus dan sangat mendalam sekali,
karena melibatkan kajian yang multi dimensi, baik dari sudut pandang Dhamma, etika,
filsafat, budaya, antropologi dan lain sebagainya. Selain itu, pembahasan seperti ini juga
bagus karena tidak melibatkan debat antar sekte yang berpotensi menimbulkan kebencian
semata. Diskusi ini juga bagus untuk membuka wawasan umat Buddha, terlepas dari
sekte yang dianutnya.

Mari kita kembali pada inti pertanyaan Sdr. Wi Tjong:


7

Mengajarkan sesuatu yang sesuai Dhamma membuahkan jasa pahala yang besar sekali,
sekarang pertanyaannya apakah proses ini juga “reversibel” dalam artian mengajarkan
sesuatu yang adhamma juga membuahkan kamma buruk yang besar?

Apabila ditinjau dari segi niat, maka mengajarkan sesuatu yang buruk dengan niat yang
buruk, tidak perlu kita bahas lagi, karena semua sepakat bahwa hal itu pasti merupakan
sesuatu yang sangat buruk

Kini marilah kita bahas bagaimana mengajarkan sesuatu yang “buruk” dengan niatan
yang “baik.”

Saya akan sajikan sebuah ilustrasi.


Misalkan terdapat sebuah suku terasing yang memiliki tata ritual tertentu. Bagi mereka
kebajikan adalah mematuhi segenap tata ritual tersebut tanpa cela demi menyenangkan
hati sang mahadewa yang mereka sembah. Jadi boleh dikata bahwa semenjak lahir
hingga meninggal hidup mereka diabdikan untuk menaati kitab suci hukum adat mereka.
Mereka belum pernah bersinggungan dengan dunia luar, dan hanya agama suku itulah
yang mereka kenal. Bahkan mereka merasa bahwa mereka adalah satu-satunya manusia
yang ada di muka bumi ini. Pelanggaran terhadap tata ritual bagi mereka adalah “dosa,”
dan mahadewa akan bangkit amarahnya sehingga menjebloskan para pelanggar
ketetapannya itu ke dalam neraka yang menyala-nyala.
Salah satu tata ritual itu adalah pengorbanan hewan. Seorang anak kemudian dididik
untuk menjadi pendeta bagi suku itu. Setelah pendidikannya selesai anak itu kembali ke
keluarganya. Alangkah terkejutnya tatkala menyaksikan bahwa keluarganya di rumah
sudah malas mengadakan ritual pengorbanan hewan. Demi menyelamatkan keluarganya
dari amarah mahadewa, anak yang baru selesai menjalani pendidikan kependetaannya
tersebut mengajarkan kembali ritual suku mereka. Alhasil jadilah mereka keluarga yang
“saleh” dan “taat” terhadap aturan mahadewa. Sang anak merasa bahagia karena berhasil
“menyelamatkan” keluarganya dari amarah mahadewa dan penderitaan kekal yang
menanti mereka. Hingga meninggal anak itu hidup “suci” sesuai dengan aturan yang
digariskan mahadewa.

Pertanyaannya: apakah anak itu telah melakukan kamma buruk? Apakah adil bila anak
itu harus menuai kamma buruk karena telah membantai ratusan hewan padahal ia tidak
mengetahui bahwa itu buruk (setidaknya menurut kacamata agama Buddha)?

Ini adalah pertanyaan dilematis yang dihadapi oleh semua agama besar (terutama yang
misioner – proselyting religion). Kita akan coba mengulas beberapa pandangan satu
persatu.

Memang benar bahwa bila kita bijaksana, mengorbankan makhluk lain demi kepentingan
diri sendiri tidaklah baik. Ini ditinjau dari sudut pandang etika. Si A yang demi karirnya
sendiri mengorbankan si B tidaklah dapat dianggap sebagai seorang yang bajik. Sebagai
sanksi dapat berlaku secara sosial, dalam artian ia akan dijauhi oleh rekan-rekan
sekantornya (diasingkan oleh masyarakat). Tetapi kalau kita kembali pada pengorbanan
hewan, terkadang ritual itu sama sekali tidak didasari oleh rasa egois (atau kalau tetap
8

mau dikatakan egois, katakanlah rasa egois yang sangat rendah). Sebagai contoh, ada
keyakinan tertentu bahwa hewan yang dikorbankan akan hidup berbahagia dengan
mahadewa di surga. Selain itu, dari sudut psikologi, bila terancam orang sudah pasti akan
berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya terlebih dahulu. Bila ada jalan
keselamatan, pasti dia akan menempuh jalan itu. Tidak akan ada orang yang mau mati
konyol. Amarah mahadewa adalah sesuatu yang nyata bagi orang-orang primitif seperti
itu dan pengorbanan hewan serta tata cara ritual adalah jalan keluar bagi amarah
mahadewa yang mudah sekali meluap. Oleh karena itu, mereka memilih untuk
menjalankan ritual pengorbanan (dengan anggapan bahwa hewan itu akan berbahagia di
alam sana atau menganggap bahwa hewan merupakan sesuatu yang sengaja diciptakan
oleh mahadewa untuk dikorbankan), sehingga tidak merisikokan dirinya mati konyol dan
masuk ke neraka abadi, yang siksaannya sangat mendirikan bulu roma.

Tentu saja menurut Buddhadhamma kepercayaan di atas sangat tidak masuk akal. Tetapi
kita harus mengingat bahwa mereka adalah suku terasing yang tidak pernah mengenal
Buddhadhamma atau agama-agama besar lainnya. Jadi tidak tahu mana yang “baik” dan
“buruk” menurut standar kita. Seumur hidup orang itu merasa telah melakukan yang
“baik” semata. Jika ia mengalami kamma buruk, maka saya kira hal itu tidak adil, karena
tidak ada niat buruk sama sekali. Menurut Abhidhamma, sesuatu perbuatan baru dapat
membuahkan hasil bila ada empat faktor:

(1)Niat atau cetana; (2)Pelaku perbuatan; (3)Yang dikenai perbuatan; dan


(4)Paripurnanya tindakan.

Tanpa adanya keempat faktor itu kamma menjadi tidak sempurna. Oleh karena itu,
kendati ritual suku di atas sangat sadistik, ditinjau dari sudut pandang Abhidhamma
kamma-nya adalah tidak sempurna.

Lalu jika demikian, apakah kita boleh melanggar sila dengan niatan yang baik?
Pertanyaan ini harus dijawab dengan sangat hati-hati. Niat untuk “melanggar” sendiri
adalah sesuatu yang tidak baik. Kemudian apakah benar niatan itu benar-benar “baik”?
Terkadang niatan yang baik mudah sekali dibungkus oleh ego atau pembenaran diri. Jadi
sebelum melanggar sila seseorang hendaknya mengamati batinnya terlebih dahulu.
Namun biasanya jarang orang melanggar sesuatu demi maksud yang “baik.” Karena sila
diciptakan untuk “kebaikan” semua makhluk. Jadi bila dilanggar sudah tentu tidak
“baik.” Tetapi melekat pada sila juga tidak dibenarkan. Ada kasus-kasus khusus yang
“pelanggaran” sila dapat dibenarkan. Hal ini sudah menjadi bahan diskusi dalam ilmu
filsafat.

Saya akan sajikan lagi suatu ilustrasi lain.

Misalnya Anda menangkap seorang gembong teroris yang siap meledakkan sebuah kota.
Ia telah menyembunyikan suatu bom mematikan yang siap menghancurkan seluruh kota
itu dalam waktu dua jam lagi. Evakuasi total jelas tidak mungkin. Kini Anda sebagai
interogator berdiri di hadapan gembong yang tertangkap itu. Dengan senyum puas, ia
berkata bahwa ia telah menyembunyikan bomnya dan tak akan mengatakan pada
9

siapapun lokasinya. Nah, sekarang sebagai interogator Anda diberi kekuasaan penuh
untuk membuatnya mengaku. Cara halus dan bujukan ternyata tidak mempan. Uang juga
tidak membuatnya mengaku. Hanya tinggal cara terakhir, yang dapat diterapkan;
yakni....penyiksaan. Sekarang masalahnya dalam dunia beradab menyakiti makhluk lain
adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Tetapi itu adalah cara terakhir yang dapat
ditempuh.

Sebagai seorang yang menjunjung tinggi HAM dan keyakinan Anda sebagai seorang
Buddhis, Anda tentunya tidak menyetujui penyiksaan. Tetapi dalam kasus ini, Anda tidak
memiliki jalan keluar lain. Anda mungkin memendam kebencian terhadap teroris itu
(karena anak atau keluarga Anda barangkali juga berada di dalam kota yang siap meledak
dalam dua jam lagi itu), dan bila menyiksanya Anda barangkali akan menuai kamma
buruk. Namun menurut hemat saya, dalam situasi kritis semacam ini, segala macam
aturan baik duniawi maupun agama boleh dikorbankan demi kepentingan yang lebih
besar. Anda harus siap menerima kamma buruk demi keselamatan banyak orang;
sehingga dengan demikian Anda menjadi seorang yang tidak egois. Jika Anda menolak
menyiksa dengan alasan takut kamma buruk, maka Anda justru menjadi orang yang
egois. Jadi inilah sebabnya dalam kasus-kasus khusus adalah terpuji untuk tidak terikat
pada sila dan serangkaian aturan kemoralan.

Kini kita beralih dari sudut pandang hukum. Orang yang bersalah meskipun sebelumnya
tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu melanggar hukum, tetap saja ia tidak
dapat lolos dari hukuman. Namun, aturan ini sesungguhnya dibuat agar orang tidak dapat
berdalih bahwa ia tidak tahu. Jika demikian, maka semua penjahat akan lolos dari
hukuman. Oleh karenanya, menganalogikan hukum negara dengan hukum kamma tidak
tepat; karena hukum kamma adalah suatu hukum alam, yang katakanlah “tahu
segalanya.”

Karena sudah melebar ke-mana-mana saya akan “ringkas”kan pendapat saya, tetapi
sebelumnya perlu saya kemukakan bahwa tulisan ini bukan merupakan pembelaan bagi
pengorbanan hewan apapun bentuknya. Pengorbanan hewan adalah sesuatu yang sangat-
sangat mengerikan, termasuk dalam bentuk modernnya, yaitu menggunakan mereka
sebagai kelinci percobaan. Banyak hewan mati sia-sia dan dengan penuh penderitaan di
laboratorium2 biologi yang terdapat di sekolah-sekolah. Justru tulisan ini untuk
mendorong kita agar semakin rajin membabarkan kebenaran, di samping juga memahami
alasan mengapa orang mengorbankan hewan. Dengan membabarkan kebenaran akan
semakin banyak makhluk yang diselamatkan. Baik secara ringkas pendapat saya adalah
sebagai berikut:

1)Orang yang melakukan perbuatan buruk tanpa niatan buruk, tidak akan melakukan
kamma yang sempurna, jadi ada kemungkinan tidak berbuah. Seperti yang diumpamakan
oleh YM. Bhante Uttamo mengenai menaruh biji di atas beton.
2)Ini sama sekali bukan masalah kamma baik atau kamma buruk, tetapi niat kita dalam
menolong semua makhluk dari penderitaan. Meskipun pelaku pengorbanan hewan tidak
menuai kamma buruk, kita tetap harus membabarkan kebenaran demi membebaskan
10

hewan2 itu dari penderitaan. Dengan asumsi bahwa tidak ada satupun makhluk yang mau
menderita.
3)Kita hendaknya tidak menganalisa sesuatu berdasarkan kamma baik atau buruknya
semata melainkan dari sudut pandang yang lebih tinggi, yakni cinta kasih.
4)Dalam membabarkan kebenaran pada orang yang masih memiliki pandangan tidak
sesuai Dhamma, kita harus melakukan dengan penuh kerendahan hati, sikap bersahabat,
dan pemahaman. Kita tidak secara terang-terangan mengatakan bahwa pengorbanan
hewan itu salah, melainkan mengajak merenungkan bagaimana rasanya dipotong dengan
pisau ataupun dibedah-bedah di atas meja laboratorium.
5)Dengan demikian kita telah mengemban pesan cinta kasih yang diajarkan oleh Guru
kita 2.500 tahun yang lalu. Hanya dengan demikian kita telah membalas budi baik Sang
Bhagava.

Saya kira sekian dahulu. Mohon maaf kalau sudah terlalu panjang. Semoga dapat
mendatangkan manfaat bagi semua. Semoga tidak menjadi polemik. Semoga semua
makhluk berbahagia.

Metta,

Tan

Posting Sdr. Wi Tjong


Milis Samaggiphala, posting no 32178; 11 Juli 2007, 10:17 AM

Terimakasih buat teman-teman yg telah memberikan banyak bahan buat pelajaran saya.
Mohon maaf saya merespon pendapat anda semua sekaligus dalam satu email ini . Untuk
Bro Tan, luar biasa analisa anda. Kalau diibaratkan seperti kisah Isaac Newton
menemukan gravitasi ketika melihat apel jatuh, maka saya ini hanya menjatuhkan apel,
lalu anda langsung menguraikan tentang 'gravitasi' dengan detail. Baiklah, dibawah ini
saya coba uraikan pemahaman saya dari uraian 'gravitasi' dari anda dan masukan dari
teman-teman tentunya.

Niat baik yg diaktualisasikan dengan baik, kepada objek yg baik pula, maka hasilnya
adalah baik. Niat adalah ukurannya. Namun ketika niat baik yg diaktualisasikan dgn
materi yg "tidak baik" (dalam hal ini tindakan mengajarkan materi yg tidak baik), maka
muncul beberapa pendapat. Ada teman yg berpendapat karma yg sangat buruk, meskipun
niatnya baik. Ada yg berpendapat bukan karma buruk. Itu artinya bisa berarti netral, bisa
pula berarti karma baik. Mengatakan bukan karma buruk, mengindentifikasikan adanya
keragu-raguan (mungkin saya keliru). Ada yg berpendapat karma buruk, tetapi ringan
karena tercampur dengan niatan baik diawal. Tetapi, yang jelas belum ada teman yg
berpendapat baik, meskipun niatnya baik.

Kemudian saya terinspirasi lagi oleh pendapat teman-teman, bahwa karma buruk bagi si-
anak ada potensi terakumulasi terus saat si-ibu melaksanakan ajaran "tidak baik" tadi
terus menerus. Kalau tergantung pada orang yg diajarkan, lalu bagaimana bila ada
seorang penceramah (guru, pandita, bhikkhu dsb) dengan niat mulia Dhamma, namun
11

murid memahaminya materi yg diajarkan secara keliru, lalu kemudian melakukan hal yg
adalah Adhamma. Apakah perbuatan buruk murid ini menjadi akumulasi tabungan karma
buruk sang penceramah ? Padahal niatnya waktu ceramah baik dan materi yg
disampaikan baik pula. Kalau menggunakan logika diatas, mengapa justru yg
terakumulasi adalah karma buruk ? Kelihatannya seolah-olah tidak berhenti pada niatan
baik atau tidak baik saja.

Kalau dirumuskan, hal + dan - dalam kacamata Buddhis :

a.Niat + , aksi + , umumnya hasilnya + (kecuali kasus guru Dhamma diatas dianggap
karma buruk juga...??)
b. Niat +, aksi -, ?? ..ini yg sedang kita bahas.
c. Niat -, aksi +, banyak yg setuju hasilnya –
d. Niat -, aksi - , semua juga bilang hasilnya - (kecuali guru matematika saya yg bilang +)

Sebagai umat Buddha, kita tidak pernah dianjurkan membunuh makhluk hidup, karena
itu sangat tidak baik. Tetapi seandainya ada orang yg bertanya kepada kita: Bagaimana
dengan bunuh diri ? Sama saja, tidak baik. Mengapa ? Itu sama dengan membunuh
makhluk hidup, meskipun objeknya adalah diri sendiri. Lalu mengapa Bodhisatva sering
bunuh diri,bukankah beliau memberi contoh dan melakukan hal yg tidak baik ? Oh
bukan, karena beliau melakukannya pengorbanan dengan niat yg mulia dan cinta
kasihnya yg besar. Oh, kalau dengan niat baik dan rasa cinta kasih yg besar, membunuh
jadi baik / diperbolehkan ? Jelas tidak !! Padahal niatnya baik lho !! bukankah ukurannya
adalah niat baik maka suatu perbuatan menjadi baik ??

Misalnya pada kasus yg baru-baru ini terjadi? Ada seorang ibu yg membunuh 4 orang
anaknya. Alasannya karena cinta kasihnya yg begitu besar sehingga tidak tega melihat
penderitaan yg sedang dialami anaknya. Oh itu beda, karena yg dibunuh bukan diri
sendiri. Bodhisatva tidak pernah mengorbankan makhluk lain, meskipun dengan alasan
cinta kasih. Baik kalau gitu, misalnya ada seorang ibu yg lumpuh bertahun-tahun, diclaim
tidak akan sembuh seumur hidup oleh semua dokter, kemudian bunuh diri karena tidak
ingin lagi melihat 5 anak-anaknya terus berjuang dan menderita menanggung beban
dirinya. Ibu ini bunuh diri bukan karena tidak tahan atas sakitnya, tetapi karena cinta
kasih pada anaknya. Apakah ini adalah pengorbanan yg sama dengan Bodhisatva? Tidak
sama. Lalu, mengapa orang biasa tidak dibenarkan utk berkorban nyawa? Oh, karena
berdana nyawa/tubuh tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, kecuali Bodhisatva.
Ibaratnya, seperti seorang ahli sulap / ilusi / akrobat yg mempertontonkan
kemampuannya bermain-main dengan bahaya, yg adegannya disertai warning : "Don't try
this at home !!". Mereka mampu karena mereka latihan, tau cara dan rahasianya. Kita yg
orang biasa /penonton jangan coba-coba mengikutinya, bisa mati konyol. Kalau begitu,
berarti adegan bahaya yg dipertunjukan sebenarnya tidak ada yg istimewa asal tau cara
dan rahasianya. Apakah perngorbanan ala bodhisatwa juga jadi tidak ada istimewanya,
karena dilakukan oleh seorang 'ahli' ? Hahaha., jadi gak ada henti-hentinya kita dikejar
pertanyaan. Ya, Bodhisatva adalah makhluk yg batinnya sudah "hampir" bersih. Kalau
orang biasa, niatan yg mereka anggap baik, sangat mungkin digerakan oleh Dosa dan
Lobha.
12

Setelah saya mengolah beberapa pendapat, saya belajar beberapa hal penting. Bahwa :

- Niat tetap adalah ukuran kwaliatas karma, namun hati-hati, niat juga sering
dimanfaatkan oleh Dosa dan Lobha utk membodohi diri kita.

- Niat baik dan niat buruk, sama-sama berpeluang menjadi tindakan bermanfaat dan tidak
bermanfaat.

- Niat baik saja tidak ada gunanya kalau tidak memperhitungkan manfaat. Oleh karena
nya selalu gunakan sabuk pengaman yg bernama KEBIJAKSANAAN. Karena
"perbuatan buruk" atau yg KELIHATANNYA buruk pun akan dilakukan oleh seorang
bijaksana apabila mendatangkan manfaat yg lebih besar.

Mungkin ada teman yg ingin berbaik hati melakukan koreksi atas pemahan saya dari
proses belajar ini ?

Oiya, saya yakin disini sudah banyak yg lebih dahulu memahaminya bahasan diatas.
Mohon sabar ya, karena saya yakin disini juga banyak sekali orang-orang seperti saya
yang sedang dalam proses belajar. Yang pasti, selalu saja ada orang yang dapat memetik
manfaat dari BINCANG-BINCANG Dhamma seperti ini. Yang penting bukan lagi
CINCANG-CINCANG Dhamma, meskipun niatannya baik :-).

Thanks u so much ...two tumbs up for all of u !!!

Wi Tjong.

Tanggapan Sdr. Henry Chen


Milis Samaggiphala, posting no. 32174, 11 Juli 2007; 8:40 AM

dear bro Tan,

saya akan mencoba mengulas pertanyaan bro:

1. apakah anak tsb sdh melakukan kamma buruk?

jawab : tentu saja anak itu sudah melakukan kamma buruk.orang yg tidak tahu bahwa
membunuh makhluk itu termasuk akusala kamma(dia agama 'k') dan orang yang
membunuh walau tahu bahwa membunuh itu akusala kamma(seorg Buddhist),kammanya
ya tetap sama.kalau orang yg agama lain(yg tdk tahu bahwa membunuh itu salah)
melakukan pembunuhan lalu tidak salah(bkn akusala) dan kita yg Buddhist membunuh
adalah salah(akusala),maka saya katakan sungguh malang nasib kita yg
Buddhist,sementara mereka bs bebas berbuat tanpa kamma buruk,sdgkan kita tdk boleh
13

krn akusala hanya karena kita sdh tahu bahwa membunuh itu salah.lalu bagaimana
penerapan kata "sesuai benih ditabur begitulah buah dipetik?".ingat hukum kamma
adalah adil dan benar,tidak meragukan bagi org yg bijak dan mengerti.

2.bukan kamma tergantung cetana?

jawab: cetananya adalah membunuh utk dipersembahkan.membunuh adalah satu


hal,ingin menyelamatkan adalah satu hal yg lain tapi keinginan menyelamatkan muncul
dr ketidaktahuan(avijja) yg akhirnya justru menjerumuskan dia dlm akusala.cetana itu
muncul didasari micchaditti(pandangan salah).

3.tentang org yg membawa bom.

jwb:disiksa adalah satu hal,menyelamatkan orang adalah satu hal.sama dgn diatas.cuman
menyelamatkan orang itu merupakan sammaditti (pandangan benar). membunuh berarti
dengan sengaja melenyapkan nyawa makhluk hidup apapun.kata Pali "PANA" dengan
tegas berarti kehidupan batin jasmani mengenai keberadaan makhluk
tertentu.penghancuran secara kejam dari kekuatan kehidupan ini,tanpa mengijinkannya
untuk bergerak sesuai dgn waktunya berarti "PANATIPA".

Salam Metta

Adhigunadharo/Henry Chen
14

Topik 2
Pandangan Benar dan Salah

Pandangan Benar dan Salah (Posting oleh Sdr. Wi


Tjong)
Milis Samaggiphala, posting no 32210, tanggal 11 Juli 2007, 8:04 Am

Suatu ketika, saya bercerita kepada seorang bapak tentang fatalnya akibat Pandangan
Salah. Entah mengerti entah tidak, beliau hanya mendengarkan saja. Very well, very
good alias tidak rewel, manggut-manggut. Saat saya minta sharingnya, "Apakah bapak
punya pengalaman mengenai pandangan salah?". Beliau berpikir sejenak dan tiba-tiba
menjawab dengan serius : "Ada."

Beliaupun bercerita, "Beberapa tahun lalu, saya bersama istri menghadiri acara
pernikahan bawahan saya yg masih muda itu. Banyak teman-teman kantor diundang,
sebagian lagi mungkin teman-teman atau saudaranya. Lalu ketika itu, setelah selesai antri
mengambil makanan, saya pun mencari-cari dimana istri saya yg tadi mengantri ditempat
lain. Ketika saya memandang keseluruh ruangan, tiba-tiba pandangan saya berhenti pada
seorang gadis cantik yg masih muda. Benar-benar cantik sekali pikirku. Pandanganku
seolah tidak ingin pergi dari pemandangan indah itu. Sampai akhirnya saya tersentak
kaget oleh sapaan beberapa bawahan saya. Entah sejak kapan, mereka sudah berdiri
disekeliling. Saya gagap dan bingung mesti jawab apa, ketika ada yg bertanya dengan
tersenyum, lagi mandangi apa pak, sampai begitu seru. Saya jadi salah tingkah, ehmmm,
selamat malam, ehmm..enggak.. lagi nyari ibu. Dalam hatiku, ah jadi malu, ini gara-gara
"Pandangan yang Salah". Kemudian mereka bilang, lah ibu dari tadi disini bersama kami.
Aduh, kenapa jadi begini. Dan saat kulihat istriku, dia membalas dengan tatapan...ah
sudahlah ... gara-gara Pandangan Yang Salah"

Saya tertawa dan berkata, "Wah, itu bukan Pandangan Yang Salah pak. Pandangannya
sih sudah benar, saya juga pasti akan memandang kesana, cuma di Tempat Yang Salah
(tempat yg banyak orang kenal sama bapak), dan Waktu Yang Salah (waktu istri ada
disamping pula)". Dan kami pun tertawa bersama.... hahahahaha....komplit deh..

Saya ingin menggali lebih dalam mengenai pandangan yg salah dan benar. Tetapi
pandangan yang dimaksud disini bukanlah pandangan seperti cerita bapak tadi.
Pandangan salah disini adalah mengenai sudut pandang, pemahaman, pengertian,
keyakinan, persepsi, paradigma yang salah. Pandangan yang salah bisa membuat semua
tindakan kita menjadi salah semuanya. Begitu fatalkan kalau pandangan kita salah ?
Sepertinya iya. Misalnya saja, ketika kita mencari suatu tempat, maka pertama-tama kita
akan menggunakan pandangan mata terlebih dahulu. Apabila pandangan mata berhenti
pada tujuan yg sesuai dengan persepsi kita, maka semua usaha, waktu, tenaga kita
15

habiskan utk bergerak kesana. Tetapi apabila ternyata pandangan kita salah, bukankah
segala usaha, waktu dan tenaga kita menjadi salah semua ? menjadi sia-sia, tidak
membawa manfaat dan tentunya juga rugi atas semua yg seharusnya bisa kita capai
seandainya pandangan kita tidak keliru.

Oleh karena itu, hati-hatilah dalam meyakini suatu pandangan. Seorang kapten kapal
harus sangat hati-hati dengan pandangan kedepannya / arah kapal, kalau tidak ingin
terdampar. Kapten selalu berpegang pada alat bantu berupa kompas. Karena kompas bisa
memberikan "kebenaran universal". Arah utara yg ditunjukan oleh kompas selalu sama
sejak ditemukan. Dipergunakan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun selalu sama.
Pandangan yang kebenaran nya berubah pada waktu dan tempat yg berbeda bukanlah
pandangan yg mengandung kebenaran yang sejati, benar pada waktu dulu tetapi salah
pada waktu sekarang, berlaku pada satu bangsa tetapi tidak pada bangsa lain, atau benar
pada suatu tempat, tetapi tidak bisa diterima ditempat lain. Kebenarannya pun disebut
kebenaran relatif. Karena itu pintar saja tidak cukup untuk meyakini suatu pandangan,
tetapi harus pintar-pintar agar tidak terpasung.
Pandangan seseorang sangat dipengaruhi oleh "data-data" di Neck Top nya (baca: otak).
Stephen R. Covey pernah membuktikan paradigma seseorang sangat tergantung pada
ingatan / simpanan pengetahuan kita dimasa lalu. Beliau membagi kelas menjadi 2
kelompok. Kelompok pertama diberi foto-foto dan cerita tentang gadis-gadis muda.
Kelompok kedua "dicekokin" dengan banyak sekali foto-foto dan cerita orang jompo /
nenek-nenek. Masing-masing kelompok tidak tau kalau foto-foto yg mereka amati adalah
berbeda dengan kelompok lainnya. Setelah setengah jam, foto-foto dikumpulkan kembali.
Lalu satu kelas ini dibagikan gambar yg sama. Gambar yg bisa dilihat dari 2 cara
pandang. Anda pernah melihat gambar yg bisa terlihat sebagai kuda dan bisa juga terlihat
sebagai kodok misalnya ? Nah, gambar ini yg bisa terlihat sebagai wanita muda yg cantik
dan juga sebagai nenek-nenek. Hasilnya, kelompok pertama memberikan persepsi wanita
muda dan kelompok kedua melihatnya sebagai gambar nenek-nenek. Apa sebabnya ?
Karena sebelumnya pikiran mereka sudah terisi pengalaman dan pengetahuan dengan
objek tadi. Dan pikiran pun cenderung memberi persepsi berdasarkan pengalaman masa
lalu tadi.

Kita semua selalu berpikir dan bereaksi terhadap masalah apapun dengan cara yg hampir
sama dan menggunakan semua pengetahuan yg pernah diisi diotak kita. Kita cenderung
membanding-bandingkan apa yg ada dikepala kita dengan informasi yg masuk. Yang jadi
masalah, apabila pengetahuan itu sudah lama tersimpan dipikiran, yang diajarkan dan
sudah kita yakini kebenarannya sejak kecil. Pengetahuan seperti itu sudah tersimpan
dipikiran bawah sadar kita. Pengetahuan seperti ini, tidak gampang dihapuskan, harus
dengan usaha yg tidak biasa. Meskipun logika kita mengatakan keyakinan yg ada dalam
pikiran bawah sadar tadi adalah salah, kita tetap tidak akan melakukan perintah dari
logika. Kalaupun dilakukan, akan timbul suatu perasaan aneh atau tidak nyaman sampai
pelakunya sendiri pun tidak mengerti apa penyebab munculnya perasaan itu.

Oleh karena salah satu faktor yg sangat berpengaruh terhadap pandangan kita adalah
pengetahuan masa lalu, maka hati-hatilah mengisi pengetahuan dipikiran kita. Umat
Buddha selalu diajarkan untuk memberi label "Perlu Diuji Kembali" pada semua
16

pengetahuan kita untuk memberi kesempatan kebenaran sejati masuk sewaktu-waktu.


Kita juga diajarkan untuk menerima suatu kebenaran yg baru diketahui dengan cara
proposional/bijaksana. Jangan langsung disimpan dan diyakini ataupun ditolak begitu
saja. Biarkan label "Perlu Diuji Kembali" menempel di pengetahuan kita sampai saatnya
terbukti benar. Tetapi ini bukanlah berarti semua informasi yg berlabel "Perlu Diuji
Kembali" ini tidak layak dipergunakan /dipercayai, melainkan selama tidak ada yang
lebih unggul, maka informasi ini boleh dianggap paling benar dan tidak menutup
kemungkinan utk mengganti label menjadi "Pandangan Salah" diwaktu yg lain.

Dari banyak masalah yg kita hadapi, kelihatannya kebijaksanaan pribadi masing-masing


memang sangat diuji. Selalu dan selalu Sang Buddha mengajarkan murid nya utk
mengembangkan kebijaksanaan. Tidak salah apabila Guru Agung kita diberi gelar Raja
Para Bijaksana. Karena beliau sendiri pun selalu mengggunakan kebijaksanaan. Orang
bijaksana tidak mungkin berpandangan salah, sebaliknya orang berpandangan salah
pastilah bukan orang bijaksana. Sudah hukum alam, hanya orang bijaksanalah yg
"berjodoh" bertemu dengan pandangan benar. Dan percayakah anda bahwa kebijaksanaan
adalah pencapaian yg melalui proses dan usaha yg sungguh-sungguh, bukanlah hadiah ?

Orang yg masih memegang teguh pandangan salah, tidak mau mendengar dan
mempertimbangkan pandangan lain, menandakan kwalitas kebijaksanaan nya yg masih
rendah. Sang Buddha mampu mengajarkan orang yg rendah kecerdasannya dengan
berbagai cara, namun beliau tidak mampu mengajarkan Dhamma kepada orang yg belum
cukup kebijaksanaannya. Beliau hanya mengajarkan Dhamma dengan tingkat yang sesuai
dengan tingkat kebijaksanaan masing-masing. Demikianlah pandanganku, apakah ada
pandangan ku salah ? Kalau begitu, mohon bagilah pandangan anda .....

Wi Tjong
17

Topik 3
Kasus dan Dilema Menarik

Kasus dan Dilema Menarik (Tan)


Saya pernah mendengar suatu kasus menarik. Ada seorang pembunuh berdarah dingin
yang pernah membantai banyak orang. Tetapi ia berhasil melarikan diri dan tidak
tersentuh oleh hukum. Hukuman bagi kejahatan seperti itu adalah hukuman mati. Empat
puluh tahun dalam pelarian, pembunuh itu telah bertobat dan menjadi orang baik. Ia
banyak melakukan karya kemanusiaan dan bahkan pernah mendonorkan salah satu
ginjalnya. Malangnya, orang itu kemudian tertangkap dan dihadapkan pada pengadilan.
Masalahnya apakah orang itu masih layak dijatuhi hukuman mati atau hukuman
maksimal? Setidaknya ada tiga konsep yang menjawab hal ini.

1.Konsep keadilan

Orang itu tetap harus dijatuhi hukuman sesuai dengan perundang-undangan, karena
keadilan tidak mengenal pandang bulu. Orang bersalah tetap harus dijatuhi hukuman
apapun alasannya. Apalagi orang itu tidak menyerahkan diri dan malah lari dari
kesalahannya. Inilah yang makin memberatkannya.

Sanggahan: orang itu telah melakukan karya kebajikan bagi umat manusia. Sanggahan:
karya kebajikan tidak akan merubah kenyataan bahwa orang itu adalah seorang
pembunuh berdarah dingin. Karena sejarah tidak dapat dihapus atau diubah. Karya
kebajikan adalah “proses sampingan” dalam pelariannya itu. Ia hanya kebetulan saja
menjadi orang baik dan tidak menutup kemungkinan bahwa ia bisa saja menjadi orang
yang lebih jahat lagi selama pelariannya itu. Dengan demikian, orang itu tetap layak
dijatuhi hukuman mati. Keberatan: Tetapi toh pada “kenyataannya” orang itu telah
memilih jalur kebajikan dalam pelariannya. Jika ia memilih jalur kejahatan maka
ceritanya tentu akan lain lagi. Apakah hal ini tidak patut dipertimbangkan?

2.Konsep pengampunan

Orang itu harus dibebaskan, karena ia telah menjadi orang baik. Fungsi hukuman
bukanlah untuk balas dendam, melainkan agar seseorang tidak berbuat kejahatan lagi.
Tanpa perlu menjalani hukuman, ia telah menjadi orang baik; jadi ia tidak perlu dihukum
lagi.

Sanggahan: fungsi hukuman tidak hanya membuat seseorang menjadi baik; tetapi
setidaknya ada empat fungsi lagi yang lupa Anda sebutkan.

1)Melindungi orang lain dari kejahatan


2)Memperbaiki yang rusak (dalam wujud pemberian ganti rugi, bila itu memungkinkan)
18

3)Sebagai shock therapy agar orang lain tidak meniru kejahatan tersebut.
4)Sebagai perwujudan keadilan bagi korban

Poin 1 dalam wujud hukuman penjara atau hukuman mati. Seorang pencuri dipenjara
agar tidak terus menerus mencuri barang orang lain. Seorang pembunuh kejam dihukum
mati agar tidak terus menerus membunuh (dengan asumsi bahwa ia tak dapat
disembuhkan).

Poin 2 dalam wujud pemberian ganti rugi bagi yang rusak; tetapi dalam kasus
pembunuhan, membuat orang lain menjadi cacat, atau perkosaan, apa yang rusak tidak
dapat dipulihkan kembali. Jadi dalam kasus ini poin 2 kita coret.

Point 3 tiap orang takut pada kematian. Oleh karena hukuman mati perlu tetap dijalankan
agar orang takut

Point 4 sudah jelas

Sanggahan:

Poin 1. Orang itu sudah jadi orang baik, jadi dia tidak membahayakan siapa-siapa lagi.

Poin 2 Dicoret karena tidak relevan

Poin 3 Meskipun hukuman mati di jalankan, para pembunuh berdarah dingin terus saja
bermunculan. Kejahatan tidak berkurang. Efektifitas shock therapy patut dipertanyakan.

Poin 4 Keadilan ini seperti “gigi ganti gigi” dan “mata ganti mata,” seperti balas dendam.
Dalam dunia beradab tindakan balas dendam tidak tepat.

3.Konsep Sintesa

Orang itu tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, tetapi tidak dengan
hukuman maksimal; umpamanya diganti hukuman penjara sekian tahun.

Sanggahan:

Berapa tahun hukuman penjara yang tepat bagi orang itu? Sepuluh, duapuluh, atau
tigapuluh tahun? Tidak ada kriteria yang pasti. Apakah hukuman sudah adil bagi keluarga
korban (kembali ke poin 4)?

Sebenarnya masih banyak lagi keberatan dan sanggahan yang dapat dikemukakan bagi
konsep2 di atas. Tetapi akan saya cukupkan sampai di sini saja. Semoga dapat menjadi
bahan diskusi yang menarik bagi para penggemar filsafat. Manakah di antara ketiga
konsep itu yang menurut Anda paling baik? Apakah alasannya?
19

Pertanyaan tambahan: Adakah keadilan yang benar-benar adil? Kalau menurut


Buddhisme tidak ada, karena segala sesuatu adalah dukkha (tidak memuaskan).
Bagaimana pendapat rekan-rekan sekalian?

Metta,

Salam filsafat!

Tan

Jawaban dari Sdr. Suchamda


Milis MUBI, posting no. 39357, tanggal 6 Juli 2007; 1:14 PM

Karena disini adalah milis Buddhis, maka saya hendak merelasikan kasus itu dengan hal2
yang berkaitan dengan ajaran Buddha.

Agama Buddha memiliki ciri khas yang berbeda dengan agama semawi. Kalau agama
semawi, Tuhannya sibuk memberi aturan2 kepada manusia termasuk bagaimana
mengatur tatanan sosial hingga masalah keadilan, sedangkan Buddhism fokus pada
masalah pengolahan batin utk menuju pencerahan ultimit.

Tampak bahwa di dalam agama Buddha, setahu saya (cmiiw) tidak diberikan aturan-
aturan detail tentang bagaimana mengelola masyarakat / negara. Panduan hanya
diberikan dalam bentuk policy ataupun hakikat2 untuk dapat diaplikasikan secara
fleksibel. Oleh karena itu, harus dipisahkan antara pembahasan filosofi yg berkaitan
dengan hukum dan kenegaraan , dengan filosofi Buddhis.

Oleh karena itu, maka dalam pembahasan kasus ini, kita juga harus melihat apa yang
berkaitan dengan filosofi Buddhis. Kita lihat ada satu kasus seorang Angulimala yang
telah membunuh 999 orang dan ternyata bisa mencapai kearahatan juga. Disitu sang
Buddha tidak menerapkan dulu hukuman fisik untuk mengadili perbuatan2 yang lampau.
Kalau kita lihat, hal ini mengandung suatu kebijaksanaan yang mendalam, yang mana
bahwa 'rasa keadilan' pun pada hakikatnya adalah sebuah bentukan pikiran manusia
belaka , sekedar utk memuaskan lobha-dosa-moha kita semua. Maksudnya, seorang
korban atau anggota keluarganya mendapat suatu kebencian yg muncul diakibatkan oleh
si pelaku kejahatan. Konsep keadilan disini bagi sang korban , bisa saja merupakan suatu
bentuk pembalasan atau dengan kata lain pemuasan kebenciannya belaka.

Apabila ditilik dari sudut pembebasan batin, maka hukuman fisik belum tentu bermanfaat
menghasilkan perubahan dalam sifat dan karakter pelaku. Proses penyadaran itu kadang
kala tidak berkorelasi langsung dengan konsep keadilan dunia. Banyak kisah2 dalam
agama-agama, dimana seseorang justru mengalami transformasi batin yang fundamental
20

manakala hukuman itu justru diangkat dari pundaknya. Saya rasa konsep kristian
berpulang pada pemikiran ini : salvation for free.

Kalau menurut pendapat saya pribadi, maka konsep keadilan duniawi yg tertampung
dalam hukum dan ketatanegaraan sudah selayaknya jangan dicampurkan dengan konsep2
spiritual. Kedua hal itu memiliki porsi dan tempatnya masing2.

Bila semuanya hanya ditampung dalam konsep spiritual, maka saya rasa negara dan
tatanan kehidupan bermasyarakat juga tidak akan berjalan dengan baik. Hal ini bukan
dikarenakan konsep spiritual itu tidak benar, tetapi lebih disebabkan oleh karena tidak
semua orang memiliki inklinasi terhadap spiritual. Oleh karena itu, maka hukum dan
norma kemasyarakatan sekuler tetap perlu ditegakkan.

Salam,

Suchamda

Jawaban dari Sdr. Airwinsuper


(Milis Dharmajala, posting no 10065, tanggal 6 Juli 2007, 3:39 AM)

AIRWIN:

Jika saya jadi hakim/juri pengadilan org yg dimaksud (let say Mr.X), maka saya akan:

Menimbang:

1. Mr.X sdh bertobat dan berubah menjadi org yg baik.


2. Kesalahan yang dilakukan Mr.X sangat berat dan sangat merugikan keluarga
korban2nya.

Memutuskan:

1. Membebaskan Mr.X dari hukuman mati.


2a. Memberikan hukuman kpd Mr.X dgn mewajibkan dia mengabdi (melayani) kpd
keluarga korban2nya selama sisa hidupnya.
2b. Jika Mr.X dapat terancam jiwanya oleh keluarga korban yang dendam maka
pertanggungjawaban Mr.X dialihkan kpd Lembaga2 Sosial Kemanusiaan.

***

TAN:

Manakah di antara ketiga konsep itu yang menurut Anda paling baik?

AIRWIN:
21

Jawab: Kenapa cuma ada 3 konsep yah?

***

TAN:

Apakah alasannya?

AIRWIN:

Jawab: Situasional.

TAN

Adakah keadilan yang benar-benar adil?


AIRWIN:
Jawab: Apa itu keadilan?

TAN:

Kalau menurut Buddhisme tidak ada, karena segala sesuatu adalah dukkha (tidak
memuaskan). Bagaimana pendapat rekan-rekan sekalian?

AIRWIN”

Jawab: Jk mmg tdk ada keadilan yang benar2 adil dlm Buddhism, kenapa saya mesti
berpendapat? Itu adl bagian dari dukkha saya kan?

Pertanyaan: Apa benar dlm Buddhism tdk ada konsep keadilan yang benar2 adil?

Salam Filsafat juga,


Erwin

Jawaban Sdr. Sunari


(tanggal 9 Juli 2007 15:18:39 +0700)

~~~
Kalau agama semawi, Tuhannya sibuk memberi aturan2 kepada manusia termasuk
bagaimana mengatur tatanan sosial hingga masalah keadilan,
~~~

Ko Daniel,
Berhubung tuhannya agama samawi (artinya ; langit, lawannya ardhi artinya ; bumi, dan
bukan 'semawi') telah disinggung-singgung, maka perbolehkanlah saya berandai-andai
22

sebagai wakil dia, untuk menjelaskannya, karena kebetulan saya merasa tahu walaupun
sedikit.
Sebenarnya, tuhan sudah menyatakan tidak membutuhkan sembah-sujud para makhluk,
adapun kalau ada ayat yang menyatakan kearah itu, itu hanya 'luaran', karena faktanya
yang tidak mau juga tidak diapa-apakan. Tuhan ini, sebagai kholiq (=pencipta), karena
sangat menyanyangi para makhluq (yang diciptakan) maka sampai harus berbuat ini dan
itu, merendahkan dirinya dengan menciptakan aturan-aturan..
Baiklah, kita tinjau kenapa aturan harus ada..
Aturan dibuat karena adanya kebutuhan
Pada masyarakat yang tertib hukum, sebenarnya kuhp bisa saja tidak perlu ada
Pada masyarakat yang tertip hukum, polisi, para hakim, jaksa, sipir dapat ditiadakan
Semakin tidak teratur dan semakin rumit tatanan suatu masyarakat, semakin diperlukan
aturan yang semakin rumit (lengkap)
Aturan dalam agama samawi dapat diklasifikasikan dalam 2 katagori; urusan diantara
manusia dan urusan dengan tuhan
Aturan antar manusia untuk panduan tertib masyarakat (ketika jaman agama itu
diturunkan), sementara
Aturan peribadatan... sebenarnya adalah sebentuk panduan untuk xiulian (he he he.. pake
istilah asing nih..)
Kalau manusia tidak xiulian.. mau apa juga silahkan.. lupakan atau buang saja itu aturan
Dan aturan vokok dan utama dalam xiulian, baik itu agama, kepercayaan maupun jalan
lainnya adalah hampir2 sama
yaitu memandang hambar kepada urusan dunia, mementingkan urusan kehidupan yang
lebih kekal
memberitahu adanya hukum keadilan, berbuat bajik mendapat pahala, berbuat buruk
mendapatkan karma-buruk/dosa.
wujudnya dapat berbentuk ATURAN, misalnya jangan berzina, jangan mencuri, jangan
madat, jangan membunuh orang, jangan bergunjing, jangan madat, jangan mengurangi
timbangan, jangan kikir dls. LHO... kan mirip juga dengan PANCASILA dalam agama
Buddha, belum lagi yang disebut 8 ruas jalan mulia, eh, jalan mulia beruas delapan,
sekian ratus aturan untuk bhiksu/ni.. {ternyata juga banyaaak aturan untuk menjadi
seorang kultivator sejati dalam agama buddha, bukan sebagai orang biasa yang mengaku
beragama.. dahulu guru Sakyamuni tidak membuat agama, agama tidak ada, yang ada
adalah jalan kultivasi, jalan membina diri, maaf kalau salah}.
Memang untuk mengajarkan bagi masyarakat yang memiliki karakteristik tertentu,
kadang kala harus memakai cara yang khas, yang keras, yang ... Dan unfortunately,
karena MAYA ikut campur.. dapat ditafsir secara salah dan menimbulkan kekacauan
diantara manusia.
Jadi, para sahabat sekalian, percayalah.. sebagai Shen, sebagai Dewa Langit, sebagai raja
langit, sebagai maharaja langit, sebagai asal dari segenap keberadaan (terserah mana yang
anda dipercayai) ... tuhan sebenarnya juga tidak menghendaki adanya ketidak harmonisan
ditengah masyarakat manusia.
Kita patut mengkasihani siapa saja yang mentafsir ajaran para dewa atau tuhan ... yang
sehingga... tidak selaras dengan tujuan semulanya ; menjadi berkah bagi alam semesta.
23

Sifat manusia adalah BERDAGANG, menghitung untung rugi, kalau di malaysia


memperdagangkan narkoba di hukum mati.. orang akan berfikir 10000 kali sebelum
mengambil pilihan sebagai pedagang narkoba, pemerkosa di hukum mati -- maka
walaupun ada kesempatan, orang akan berfikir 10000 kali, demikian juga tentang
hukuman mati yang diterapkan di RRT bagi pelaku dan keluarganya.. ternyata effektif.
Adapun ekses adanya ketidak adilan dan kesalahan dalam proses pengadilan dunia...
kenapa harus di pikiran susah2? kalau kita percaya adanya life-continues forever dan
hukum karma, bukankah justru mereka yang didunia ini 'tampak' teraniaya akan
terkompensasi di pengadilan akherat? Kita tidak perlu mengutuk kegelapan, namun
jadilah pelita yang menerangi.. paling tidak diri sendiri atau yang ada disekitar kita. Kita
lihat saja yang tertampak sesuai dengan yang tertampak, tidak perlu mengadili.. karena
sebagaimana yang saya baca pernah diajarkan oleh guru Buddha.. segalanya sudah
sempurna sebagaimana adanya..

Nyambung gak sih? Maaf kalau tidak..

Salam,
Sunar-i

Tanggapan dari Sdr. Fajar Kurnia


Milis Dharmajala, posting 10082, tanggal 9 Juli 2007, 7:20 AM

Bukankah tujuan dari Buddhisme adalah supaya manusia benar-benar dapat berbahagia?
Lantas mengapa banyak pakar Buddhisme yang suka menonjol-nonjolkan kata 'dukkha'
sehingga akibatnya banyak orang yang lantas beranggapan bahwa Buddhisme itu
mengajarkan pesimisme.
Memahami Dharma adalah satu hal, mengajarkannya adalah hal yang lain lagi. Tidak
ada sebuah metode pembabaran yang benar2 cespleng diterapkan pada setiap jaman dan
situasi.

Tanggapan dari Sdr. Sumedho Benny


Milis Dharmajala, posting 10097, tanggal 11 Juli 2007, 7:15 PM

Catatan: merupakan tanggapan terhadap posting Sdr. Fajar Kurnia

Untuk berbahagia, kita harus tahu apa yang membuat kita tidak bahagia. Dengan
mengetahui apa yang membuat kita tidak bahagia maka kita bisa mengatasinya. Yang
membuat tidak berbahagia itu adalah Dukkha.

Kalau mau menyembuhkan sakit, harus tahu apa penyebabnya dahulu.

Sati,
Sumedho
24

Tanggapan Sdr. Yadi Go


Milis Dharmajala, posting no. 10098, tanggal 11 Juli 2007, 9:48 PM

Betul sekali,

Buddhisme menginginkan semua makhluk (bukan hanya manusia) dapat berbahagia


(baca: kebahagiaan absolut). Mahayana menekankan ini sebagai aspirasi awal
mengawali jalan Bodhisatva. Staviravada tidak menekankan tetapi sering diucapkan
dalam paritta2: Sabbe satta bhavantu Sukhitatta. Kebahagiaan duniawi bersifat relatif,
tergantung pada banyak kondisi dan sangat mudah berubah (impermanent). Banyak raja2
ataupun Pangeran2 di India awal abad Masehi yang menyadari hal ini. Pencapaian
kebahagiaan duniawi mereka sadari sebagai sia-sia. Yang mereka inginkan kebahagiaan
yang tak habis, jika perlu sampai akhir masa. Itu sebabnya banyak yang kemudian
'banting Stir' (baca: berubah haluan), mempelajari Dharma, mengikuti jejak Sidharta yang
tadinya juga seorang Pangeran. Dan terbukti meskipun kerajaan mereka musnah, kerajaan
Dharma terus ada hingga masa sekarang.

Pesimistik:

Some people think that Buddhists are pessimistic, always


talking about death, impermanence and aging. But that is
not necessarily true. Impermanence is a relief! I don’t
have a BMW today and it is thanks to the impermanence of
that fact that I might have one tomorrow. Without
impermanence, I am stuck with the non-possession of a BMW,
and I can never have one. I might feel severely depressed
today and, thanks to impermanence, I might feel great
tomorrow. Impermanence is not necessarily bad news; it
depends on the way you understand it. Even if today your
BMW gets scratched by a vandal, or your best friend lets
you down, if you have a view of impermanence, you won’t be
so worried.

(Shambhala Sun | March 2000 : Buddhism In a Nutshell: The Four Seals of Dharma by Dzongsar
Khyentse Rinpoche)

Certain emotions, such as aggression or jealousy, we


naturally regard as pain. But what about love and
affection, kindness and devotion, those nice, light and
lovely emotions? We don’t think of them as painful;
nevertheless, they imply duality, and this means that, in
the end, they are a source of pain.

(Shambhala Sun | March 2000 : Buddhism In a Nutshell: The Four Seals of Dharma by Dzongsar
Khyentse Rinpoche)
25

"The sun of real happiness shines in your life when you start to cherish
others"

(Chandrakirti)

Metode Pengajaran (abadi sepanjang masa?):

Anda terlalu banyak meminta.

Dalam Buddhisme metode pengajaran yang masih terus berlangsung sampai sekarang
adalah melalui Guru-Murid, agar dapat terjadi komunikasi dua arah, memungkinkan
terjadinya diskusi, pengajaran sekaligus pemahaman, mengasah kecerdasan dalam kasih
sayang, menghindari pengajaran dogmatis, dst.

Yadi Go.

Tanggapan dari Sdr. V. Diepa (Kumari)


Milis Dharmajala, posting 10102, tanggal 12 Juli 2007, 11:46 AM

Re: [Dharmajala] Re: Kasus dan Dilema Menarik

Pertanyaan: Apa benar dlm Buddhism tdk ada konsep keadilan yang benar2 adil?

saya rasa demikianlah adanya dalam Buddhisme tidak ada yang namanya keadilan ayng
benar-benar adil kalau dilihat dari kacamata kita yang tidak benar-benar tidak mengerti
jalannya Hukum Karma.
karena segala sesuatu dalam agama Buddha ditentukan oleh karma kita sendiri baik
dalam kehidupan yang lampau maupun sekarang.
tapi keadilan itu nyat dan exist dalam Hukum Karma, karena siapa yang berbuat dia yang
menuai hasilnya. tapi kapan hasil itu dituai? ada yang langsung, ada masih harus
menunggu waktu.
wah kalau mau dibahas tidaka akn ada habisnya, karena dalam kondisi kehidupan yang
tidak kekal ini terkadang sulit untuk diterima secara logika. karena menyangkut karma
masa lalu (dimensi waktu yang tidak dapat dilihat secara logika) yang kita sendiri tidak
tau apa ayn gkita lakukan baik atau buruk.

salam dalam Dharma


Kumari

Tanggapan Sdr. Siwu


Milis Mahayana_Indonesia, posting no. 2874, tanggal 9 Juli 2007, 10:26 AM
26

Re: [Mahayana_Indonesia] Kasus dan Dilema Menarik

Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai, inilah inti hukum sebab akibat (karma)
yang diajarkan di Buddhisme, juga beberapa agama lainnya. Hanya beda hukum sebab
akibat di Buddhisme dengan yang lain adalah: Buddhisme tidak mengenal penebusan
atau pengampunan. Wow, kejam banget? Bukan, sekali lagi bukan, tapi inilah hukum
alam yang adil.

Saya berbuat jahat, merugikan dan membuat sengsara banyak orang, lalu saya bertobat,
trus saya menikmati kesenagan surgawi karena adanya penebusan dan pengampunan.
Lha, kerusakan dan penderitaan yang terjadi akibat kejahatan saya, siapa yang
membenahi?

Yang saya tahu dalam pandangan Buddhisme:

1. Buah kejahatan dan kebaikan tidak dapat disalingtukarkan, atau saling meniadakan.
Tampaknya ini jawaban yang sangat jelas ttg hukuman yg dipertanyakan.

2. Buddhisme juga mengajarkan umatnya untuk mematuhi hukum negara. Jelasnya, kalau
ada salah satu pihak yang merasa keberatan atas keputusan pengadilan, maka bisa naik
banding. Tentu saja hal ini juga berlaku bagi terdakwa. Namun entah apa keputusan yang
ditentukan nantinya, semua harus mematuhi keputusan final dari tingkat pengadilan
tertinggi di negara bersangkutan. Atau kalau merasa keputusan itu meringankan
terdakwa, para korban bisa juga mengangkatnya ke pengadilan internasional, asal saja
memenuhi persyaratan utk itu.

3. Kalau nantinya ada pengampunan atau grasi dari kepala negara bagi terdakwa, misal:
hukuman mati menjadi penjara seumur hidup, atau bahkan yang lebih ringan lagi, maka
kita juga harus mematuhinya. Ini pertanda bahwa perbuatan baik yang dilakukan
terdakwa telah berbuah. Di sini kita harus tahu, bukan buah itu saling meniadakan,
namun karma baik itu memunculkan kondisi yang mengurangi efek buah karma buruk.
Atau kalau tidak setuju, maka bisa menyampaikan keberatan itu melalui proses hukum
yang berlaku. Tapi di sini ada satu catatan, kalau ternyata grasi itu diperoleh atas hasil
intimidasi, teror, suap dlsb yang merupakan rekayasa terselubung, berarti terdakwa
melakukan perbuatan buruk lagi.

4. Terlepas di mana letak keadilan hukum duniawi, yang pasti hukum sebab akibat itu
adalah adil. Bila hukuman duniawi yang diterima lebih ringan, jangan khawatir,
kekurangannya akan berbuah pada kesempatan yg lain, entah di kehidupan yg sama atau
selanjutnya. Demikian juga bila hukuman itu terlalu berat, itu berarti telah mengurangi
buah dari karma buruk yang belum diterima oleh yg bersangkutan.

Akhir kata, kurang tepat kalau mengatakan: "menurut Buddhisme tidak ada keadailan
yang benar-benar adil, karena segala sesuatunya adalah dukkha (tidak memuaskan)." Ini
ucapan yang harus diperhatikan benar-benar. Karena tiadanya pandangan, pemahaman
27

dan penerapan yang benar tentang hakekat sejati, maka timbullah dukkha; karena dukkha
dan pandangan salah itu tadi maka muncullah pandangan salah yg lain, yakni merasa
tidak adanya keadilan yang benar-benar adil.

Ingat moral kisah Rubah Liar Chan. Seorang Guru Chan ditanya: adakah orang suci itu
terperosok dalam sebab akibat? Jawab beliau: Orang suci tidak terperosok dalam hukum
sebab akibat. Guru Chan itu menganggap bahwa orang suci telah terbebas dan tidak
terikat oleh hukum sebab akibat. Karena jawaban ini, beliau itu harus menjalani
kehidupan sebagai rubah liar selama 500 tahun. Hingga akhirnya ia menjelma sebagai
manusia dan menerima jawaban dari seorang Guru Chan lainnya: Orang suci itu
memahami (bu mei) sebab akibat. Bu dalam Mandarin berarti tidak, sedang Mei berarti
bodoh, tidak mengerti. Jadi bu mei bisa diartikan tidak terseret atau memahami. Ucapan
yang berdasarkan pandangan pribadi menghasilkan kehidupan sebagai rubah selama 500
tahu, trus bagaimana kalau ucapan itu ditambahkan: menurut Buddhisme?

Jadi, semua yang di atas adalah pandangan saya pribadi.

Salam,
siwu

Tanggapan Sdr. Victor Alexander


Milis Mahayana_Indonesia, posting no. 2880, tanggal 12 Juli 2007, 10:22 PM

Re: Kasus & Dilema + Hukum Manusia vs Hukum Alam + Tetap Hukum Mati

Menurut saya, perlu dibedakan Hukum ALam dan Hukum Manusia itu berbeda.

Jika Hukum Alam, itu jelas tak pandang bulu. Setuju atau tidak setuju, tidak ada tawar
menawar ttg Hukum Alam ini.

Jika si orang tsb tidak dihukum mati, dia suatu saat tetap akan menerima karma buruk
yang setimpal, entah kapan --mungkin dikehidupan selanjutnya.

Masalahnya adalah begaimana dgn Hukum Manusia?

Kasus Hukum Manusia biasanya ada aturannya tersendiri. Ada 2 Aspek yang
digunakan,yaitu ttg Keadilan itu sendiri dan ttg keteraturan masyarakat utk masa2
mendatang.

Kita pasti tahu ttg kasus narkoba yangberakhir dgn hukuman mati. Tujuan ini didasarkan
pd aspek no 2. Kalo dari aspek no 1, saya rasatidak adil. Karena banyak pelaku2 bandar
narkoba di masa lalu yang masih hidup sampai sekarang. Karena aturan hukum mati
berlaku baru-baru ini (belum lama ini).
28

Aspek no 2 membuat pemerintah geram dgn ulah pemasaran narkoba yang semakin luas
dan sudah mulai masuk ke sekolah2 menengah. Pertimbangan yang masuk akal dan saya
pribadi menyetujui hal itu.

Jika pelaku narkoba ini diberi ampun, misalnya jika berbuat baik atau bertobat, hukuman
akan dikurangi menjadi hukuman penjara. Maka ada kemungkinan bagi pelaku tsb untuk
pura2 bertobat karena terpaksa –biar tidak dihukum mati.

Kasus pembunuhan saya kria sama. Saya setuju, tetap hukum mati. Kalo sistem hukum
ini gak ditegakkan, maka memungkinakan ulah pelaku kejahtan untuk pura2 bertobat biar
hukumannya dikurangi.

Narapidana yang dikurangi hukumannya pada umumnya hanyalah yang berada pd masa
tahanan. Misal dipenjara 10 tahun, tapi karena tabiatnya baik dikurangi dan menjadi 8
tahun. Itu more masuk akal.
29

Topik 4
Hadayavatu

Posting Sdr. Suchamda


Rekan2 semuanya,

Setelah saya menanyakan kepada mereka yang lebih paham tentang Abhidhamma, saya
ingin mengkoreksi beberapa pernyataan saya.

Hadayavattu (heartbase) dan hadayarupa (heart element) adalah setali tiga uang.
Hadayavattu itu adalah sebuah element abstraksi sub-atomik yang muncul di daerah
sekitar jantung, yaitu pada peralihan proses pemurnian darah dari darah kotor menjadi
darah bersih di perbatasan antara pembuluh vena dan arteri. Tapi perlu diingat bahwa
hadayavattu bukanlah jantung ataupun darah. Hadayavattu ini berfungsi sebagai landasan
dari mind-element. Jadi seandainya kita berpikir dan merasakan sesuatu dengan batin,
maka sebetulnya itu adalah fungsi kerja dari hadayavattu.

Misalnya kita mencerap suatu obyek visual. Kesadaran visual (visual consciousness) itu
munculnya pada eye-base consciousness (vatthu), dimana getaran cahaya jatuh pada
elemen eye-sensitivity (cakkhupasada rupa) dalam partikel2 sub-atomik di mata
kemudian ditangkap dalam proses vitthi pada eye-door kemudian menjadi landasan
munculnya eye-consciousness (cakkhuvinnana), kemudian getaran informasinya
dirambatkan melalu syaraf2 (yang juga merupakan perpaduan materi sub-atomik /
rupakalapa) menggetar hingga menyentuh hadayavattu dengan kecepatan yg sangat
tinggi. Pada saat hadayavattu bergetar maka muncullah fenomena batin (pikiran,
perasaan).

Oleh karena itulah maka apabila orang mengalami tekanan emosi maka daerah sekitar
wilayah jantunglah yang merasa sesak atau berat. Memang hal ini sepertinya
bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern yg mengatakan bahwa pusat kesadaran
berasal dari otak. Akan tetapi narasumber saya menjelaskan bahwa otak sebenarnya
adalah suatu organ yang pasif, dimana berfungsi sekedar sebagai mediator pemroses
informasi secara elektrokimiawi. Sedangkan yang memberi kehidupan (vividness /
qualia) terhadap awareness itu tetaplah dari hadayavattu. Dikatakan bahwa otak pun
sekarang sudah bisa dikultur dalam tabung laborat. Ia kebetulan termasuk sebagai
seorang peneliti juga dibidang itu dan pernah bereksperimen dengan otak kera. Hal itu
menunjukkan bahwa otak sebagai dasar munculnya awareness menjadi perlu dikaji
lanjut.
30

Melalui hadayavatthu inilah seseorang melakukan koneksi ke kehidupan2 masa


lampaunya dalam penyerapan jhana. Melalui hadayavatthu ini pulalah kita dapat
memeriksa komponen2 batin yg muncul-lenyap beserta kandungan2 subtilnya.

Itu saja yg saya ketahui dan bisa sharingkan, mohon koreksinya bila ada kesalahan.
Semoga bermanfaat.

Salam,

Suchamda

Pertanyaan Sdr. Denny


Milis Samaggiphala, posting no. 31828, tanggal 5 Juli 2007, 10:09 AM

Namo Buddhaya,

Bro Daniel,

Tertarik dengan penjelasannya. Hanya ingin informasi lebih lanjut, apakah Hadayavatu
dapat disamakan dengan pikiran alam bawah sadar? Ataukah justru inilah yang
merupakan pikiran sadar yang sebenarnya?

Apakah istilah "pikiran yang selalu melompat-lompat" merupakan Hadayavatu?

Sebelumnya terima kasih.

Rgds,

Denny

Posting Sdr. Suchamda


Milis Samaggiphala, posting no. 31854, tanggal 5 Juli 2007, 7:34 PM

Di dalam Buddhism tidak dibedakan antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Tiap2
pikiran memiliki kekuatannya sendiri2 ada yg kuat ada yg lemah. Pikiran2 kita sehari2
sebenarnya adalah ilusi karena kemunculannya yang berturutan dari moment2 pikiran
yang berbeda. Nah, kala kita bermeditasi vipassana, maka tampaklah pikiran2 itu mulai
terurai menjadi komponen2. Kita juga bisa melihat impuls2 yg lebih halus yg melatar
belakangi pikiran dan perasaan kita. Barangkali itu bisa disebut juga dengan bawah sadar
oleh psikologi modern.

Akan tetapi di dalam rangkaian arus pikiran yang terdiri dari 17 moment pikiran itu,
sambung menyambung dengan suatu proses yg disebut bhavanga, kondisi kesadaran yg
idle. Bhavanga ini juga kadang2 diartikan sebagai bawah sadar.
31

Untuk memahami secara jelas tampaknya sulit deh dijelaskan disini, karena menjelaskan
satu hal terpaksa pakai istilah tertentu yg nantinya memunculkan pertanyaan baru lagi.
Tiada habisnya. Mendingan kalau mau belajar Abhidhamma bisa hubungi sdr.Gunasaro
atau datang di pertemuan Jl.Gunung Sahari I tiap sabtu per dua minggu. Nomornya saya
lupa, coba kontak sdr.Gunasaro via japri aja.

Salam,

Suchamda

Posting Sdr. Suchamda


Milis Samaggiphala, posting no 31946, tanggal 6 Juli 2007, 5:33 PM

Setelah saya pelajari lagi, ada kesalahan yg saya perbuat dalam memahami bhavanga.

Berikut ini hasil pembelajaran saya tentang bhavanga.

Bhavangacitta adalah sebuah life continuum, menjaga kontinyuitas dalam sebuah


kehidupan, diantara munculnya moment2 pikiran. Itu adalah moment kala tiada sense-
impression (rasa?) , ketika seseorang tidak berpikir, dan tidak ada kusala maupun akusala
yang dihasilkan.

Meskipun demikian, spt halnya citta yang lain, bhavanga citta memiliki obyek. Obyeknya
adalah obyek yang sama dengan obyek yang dialami oleh patisandhicitta (citta yang
muncul pertama pada saat kelahiran di kehidupan ini). Bila obyek patisandhicitta kusala,
maka obyek dari bhavanga adalah kusala juga, demikian sebaliknya. Kualitas moralitas
kehidupan dari seseorang tergantung dari akar (hetu) apa yg muncul pada patisandhicitta.
Bila patisandhicitta hanya terdapat satu akar (sahetuka), maka bhavanga citta juga
sahetuka. Bila 2 akar, maka dalam bhavanga itu juga hanya memiliki 2 akar, dst.
Kelahiran di alam manusia dan alam tinggi lainnya adalah karena dimunculkan oleh
kamma yang akusala oleh karena itu memiliki akar yang baik. Seseorang yang lahir
dengan 3 akar (alobha, adosa, panna) akan memiliki kecenderungan untuk mengkultivasi
kebijaksanaan dalam hidupnya. Semua bhavanganya akan disertai juga dengan 3 akar tsb.
Apabila orang tsb mengembangkan 8 ruas jalan kebenaran, maka memungkinkan dalam
kehidupan yg ini juga utk mencapai pencerahan.

Bhavangacitta adalah vipaka citta, ia adalah hasil dari karma yang sama yang dihasilkan
oleh patisandhi citta. Hanya ada 1x patisandhicitta selama kehidupan, tetapi terjadi tak
terhitung banyaknya bhavangacitta yang muncul dari span kehidupan. Kesemua
bhavanga itu muncul akibat dari kamma yang muncul sama dengan yg memunculkan
patisandhicitta.
32

Seperti kita ketahui bahwa patisandhicitta mengalami obyek yang sama baik akusala
maupun kusala yang muncul tepat sebelum munculnya cuti-citta (dying consciousness)
dari kehidupan di masa lampaunya. Bila akusala kamma menghasilkan rebirth di
kehidupan berikutnya maka ia akan terlahir di alam menyedihkan. Patisandhicitta di
kehidupan berikutnya yg merupakan sambungan dari cuticitta memiliki obyek yang tidak
menyenangkan. Demikian pula sebaliknya.

Bhavanga citta adalah bagaikan arus disebuah sungai. Arus ini tak terputuskan bahkan
kala ada obyek yang menampilkan dirinya melalui salah satu indera atau pintu-pikiran
(mind-door). Kala mana citta dari proses pintu indera atau pintu pikiran telah lewat, maka
bhavanga muncul kembali menyambung ke proses yg selanjutnya.

Apakah proses persambungan dari masa lalu ini dikatakan menyimpan segala macam
impresi dan pengalaman di masa lalu? Apakah melalui penembusan pada bhavanga citta
ini kita bisa sampai
pada gudang kesadaran di masa2 lalu?

Oleh karena itu, apakah bhavanga ini boleh dikatakan sebagai bawah sadar, saya tak
berani menilai. Silakan rekan2 mendiskusikannya.

Salam,

Suchamda

Pertanyaan Sdr. Markos


Milis Samaggiphala, posting no. 31873, tanggal 6 Juli 2007, 8:58 AM

Dear Bro Daniel,

Bukankah bhavanga itu adalah 3 proses pertama dari 17 proses pikiran, bro??? mungkin
lebih tepatnya jika proses pikiran itu dimulai dari bhavanga

Pun sejauh yang saya tahu, bhavanga bukan merupakan kesadaran yang idle namun justru
merupakan kumpulan kesadaran lampau atau kumpulan dari tadarammana citta.......

berikut kutipan dari http://www.buddhistonline.com/dsgb/al07.shtml

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
1, 2 dan 3 = Bhavanga citta (kesadaran penyambung kehidupan)
4 = panca-dvaravaijana citta (kesadaran menyelidiki obiek yang datang menuju lima
pintu inde-a) 5 = dvi-panca-vinnana citta (kesadaran rnelihat, mendengar, mencium,
merasakan rasa, dan kesadaran sentuhan badan)
6 = sampaticchana-citta (kesadaran menerima)
7 = santirana citta (kesadaran memeriksa/mengamati)
8 = votthapana citta (kesadaran memutuskan)
9 - 15 = javana citta (dorongan terhadap obiek Yang telah diputuskan baik buruknya)
33

16 dan 17 = tadarammana citta (kesadaran mencatat)

maaf jika ada keterangan yang salah...........

Posting Sdr. Suchamda


Milis Samaggiphala, posting no. 31889, tanggal 6 Juli 2007, 10:11am

betul, bhavanga adalah 3 proses pertama dari 17 proses pikiran, itu yang saya maksudkan.
Apakah tulisan saya tidak jelas yah?

Kalau bhavanga adalah kumpulan kesadaran lampau saya sih baru dengar ini. Yang saya
tahu adalah bahwa bhavangan memang arus kesadaran yang tak terputuskan dari masa
lampau, tetapi tidak memiliki kandungan apa-apa. Kecuali bila anda berbicara konsep
mahayana (yogacara), maka benar dikatakan bahwa adanya alayavijnana (storehouse
consciousness). Dari study saya sendiri , memang bisa diduga bahwa alayavijnana itu
terletak 'dibalik' (agak sulit mengatakannya) bhavanga citta.
Kesulitan mengatakan hal ini adalah karena dua sistem tersebut mengemukakan teori
dalam struktur sistematika yang agak berbeda.

Dalam yogacara:

Kesadaran 1-5 adalah kesadaran indera (kesadaran pengelihatan, pendengaran,


penciuman, pengecapan, dan peraba) Kesadaran ke-6 adalah kesadaran pikiran Kesadaran
ke-7 adalah afflicted consciousness dimana munculnya kesadaran tentang "Aku".
Kesadaran ke-8 adalah storehouse consciousness (alayavijnana) yang bila mencapai
pencerahan berubah menjadi wisdom dan disebut Tatagathagarbha/ Dharmadathu /
Buddha Nature.

Dalam paradigma Abhidhamma Theravada maka kesadaran ke-7 tersebut sebenarnya


bisa diterangkan sebagai rangkaian proses batin yang berkesinambungan sehingga
menghasilkan ilusi tentang "aku". Tetapi bila di breakdown menjadi moment2 pikiran
yang terpisah2 maka tampaklah tidak ada aku disitu. Nah, terlihat perbedaan
sistematikanya bukan? Tetapi hal itu toh bisa dipahami sebagai sebuah penggambaran
akan fenomena yang sama.

Demikian juga kesadaran ke-8.

Menurut Abhidhamma Theravada maka segala proses pikiran muncul dari bergetarnya
Hadayarupa. Hadayarupa sendiri adalah termasuk kammajarupa, atau rupa yang
dihasilkan oleh kamma. Dan proses batin yg terjadi disitu spt yg anda gambarkan sebagai
17 moment pikiran + 3
bhavanga.
Sedangkan pikiran2 itu sendiri hakikat (jati)nya dapat dibagi menjadi 4 : kusala, akusala,
vipaka dan kiriya. Keempat jati itu muncul dalam proses di hadayarupa tersebut plus
kesadaran2 indriya yang terjadi pada kesadaran 1-6.
34

Nah, dari situ kemudian bisa dipetakan menjadi sistematika Yogacara spt di atas, dimana
kesadaran indera terjadi pada kesadaran 1-5, kesadaran pikiran terjadi pada kesadaran ke-
6, ilusi "aku" terjadi pada kesadaran 7, dan semuanya itu berasal dari alayavijnana,
kesadaran ke-8. Supramundane citta yg terjadi pada arahat itu terjadi kala terjadi
transformasi dari alayavijnana menjadi dharmadatu (avijja berubah jadi panna).

Perbedaannya adalah bahwa bahwa kamma masa lalu di abhidhamma theravada tidak
dinominalisasikan sebagai sebuah bagian kesadaran tertentu, tetapi yg pada yogacara
dinominalisasikan sebagai alayavijnana (store house consciousness). Oleh karena itulah
maka menurut informasi anda bahwa proses bhavanga yang tak terputuskan semenjak
masa lalu itu merupakan koneksi menuju alayavijnana kurang kuat. Meskipun demikian,
penjelasan itu barulah bersifat tentative.
Soal apakah dalam Abhidhamma Theravada , bhavanga merupakan akses ke masa lalu
saya masih belum mendapat konfirmasi.

Ada beberapa hal yg kontradiktif utk mengatakan hal itu, dikarenakan utk mengakses
masa lalu via hadayarupa adalah melalui jhana2. Sedangkan bila seorang bermeditasi lalu
jatuh ke kesadaran bhavanga itu justru dikatakan sebuah kesalahan (dihindari).

Kalau saya sendiri sih lebih cenderung mengatakan bahwa akses ke masa lalu itu bukan
dari bhavanga, akan tetapi dari 'proses' yang mengurutkan kesadaran ke masa2 lampau
via hadayarupa (jadi bukan bhavanga). Jadi disitu adanya kesadaran penuh, dan tetap
terjadi muncul lenyapnya kusala dan akusala citta. Kita spt mengalami masa lalu itu
kembali secara sadar, bedanya adalah dengan membawa wisdom yg telah kita akumulasi
saat ini untuk "memahami" (mengobati) trauma2 masa lalu. Pemahaman itu jelas secara
sadar krn akan menghasilkan nana berupa hakikat impermanensi, dukkha dan anatta.

Mohon koreksinya bila salah.

Salam,

Suchamda
35

Topik 5
Pembuktian dalam Buddhisme
Diskusi dalam http://www.dhammacitta.org/forum

HALAMAN 1

Posting Sdr. Kalyanadhammo


Karena belum dipecah saya lanjut.

@morpheus

Dhamma ada dimana2 dan dapat dilihat dari sekeliling kita. Coba gunakan logika anda
maka anda akan paham. Saya rasa anda salah memahami penjelasan saya soal pukul balas
pukul.

Oleh karena itu dengarkan baik2. Jika anda memukul seseorang seseorang maka
kemungkinan besar orang tersebut akan memukul anda kembali. Jika anda menanam bibit
jagung maka anda akan mendapatkan jagung. Sama seperti karma jika anda menanam
sesuatu maka itu yang akan anda terima. Bukan pada kejadian ini hal ini hukum karma
dapat dilihat dengan jelas. Anda tidak perlu memikirkan hal yang terlalu rumit sampai
karma masa lampau, dll kerena kita masih belum mampu untuk melihat. Soal dewa ada
atau bukan itu tidak penting. Saya juga tidak peduli dewa itu ada atau tidak.

Tapi yang saya dengar meditasi samatha dapat mempunyai kemampuan untuk melihat
dewa. Kalau soal katakan itu pada sains ya tentu saja katakan saja mereka pasti akan
mencoba untuk membuktikannya. Ingat ketika orang mengatakan aura itu ada, tenaga
dalam itu ada dan thai chi dapat menyembuhkan penyakit. Lalu apa yang dilakukan orang
sains. Mereka mencari orang2 tersebut dan melakukan penelitian dan sekarang sudah ada
foto krilian yang sudah dapat memfoto aura, mendeteksi gelombang energi panas dari
tenaga dalam dan Thai Chi dapat dijelaskan kenapa dapat menyembuhkan. Jadi katakan
saja pada mereka dan mereka pasti akan berusaha membuktikannya. Mungkin saja nanti
ada yang anda katakan itu menjadi kenyataan ada yang namanya teropong dewa, dll.

Kalau soal dengan rajin berdoa yang rajin dan khusuk memang jadi lebih tenang tapi
karena konsentrasi dan itu tidak membuktikan Tuhan.

Kalau soal buku sd, smp, smu kenapa tidak dimasukan itu ada coba baca buku agama.
36

Saya katakan bukan ilmiah tapi analisa. Untuk itu diperlukannya otak dan keinginan
untuk mengunakannya. Mari kita bicarakan kembali soal Bumi itu bulat. Pada pertama
ilmuwan itu melihat gejala alam dan melakukan analisa. Apa pada saat itu ada buku yang
membahas tentang bumi itu bulat, ada bukti ilmiah dan ada thesis doktornya? Pada saat
itu tidak ada sama sekali yang membahas bumi itu bulat hanya hasil hipotesa. Kemudian
baru ada beberapa orang yang membuktikannya. Jadi dalam keyakinan buddhis.
Mendengar sesuatu => Analisa (ingat untuk ini tidak butuh lab hanya otak) => Mulai
Percaya => Pembuktian => Yakin.

Dalam agama samawi dan banyak buddhis aliran lain melakukan pemotongan dari
mendengar sesuatu => Yakin.

Jika anda mempunyai masalah misalkan rumah tangga anda tentu tidak akan mencari
dokumen, thesis atau buku sd, smp, dan smu anda akan berpikir kenapa itu terjadi dan
bagaiman cara menyelesaikannya.

Kalau soal rebirth sudah ada yang melakukan testing di barat dan dalam kasus2 riponche
itu ada pembuktiannya.

Kalau soal Nibana tergantung pengertian anda soal Nibana. Kalau anda maksud alam
surga lain tentu tidak bisa di analisa dan dibuktikan. Tapi dalam Theravada Nibana
dikatakan adalah kondisi dimana pikiran tidak melekat. Jadi jika anda berpikir jika anda
menganalisa jika anda tidak melekat pada barang yang anda miliki dan barang itu hilang
apa anda akan menderita tentu jika anda analisa anda akan tau.

Saya rasa anda berasal dari aliran lain yang mempunyai kepercayaan tanpa melakukan
analisa terlebih dahulu.

regards.
Topik ini merupakan pecahan dari diskusi thread ini

http://www.dhammacitta.org/forum/index.php/topic,68.0.html

Silahkan dilanjutkan.

Posting Sdr. Kelana


bang kalyana, apa yg anda sebutkan di atas bukan sesuatu yg bisa diterima secara
ilmiah ataupun bisa disebut sebagai "bukti". apakah anda pikir dunia sains bisa
menerima jawaban "bisa anda buktikan sendiri kalo anda meditasi samatha",
"coba pukul, nanti balas dipukul", dsb. itu kan sama aja jawaban orang samawi,
"tuhan bisa anda buktikan sendiri. coba kamu berdoa yg rajin dan khusuk"
37

kalo pengen disebut sebagai "ilmiah" ataupun "bukti", ada kriterianya seperti bisa
terukur di lingkungan yg dikontrol secara konsisten. apakah ada karma yg bisa
diukur dengan alat2 ukur? apakah karma bisa diliat dengan melakukan beberapa
langkah di lab? apakah deva bisa diliat dengan x-ray ataupun alat2 ukur lainnya?
apakah tavatimsa terfoto dari teropong hubble? …………..
sekali lagi saya gak memperdebatkan prinsip buddhis mengenai ehipassiko, gak
ada paksaan untuk menerima, dll. point saya cuman bahwa teori2 dan doktrin2 di
agama buddha itu gak bisa dikatakan ilmiah ataupun faktual. bahas dan katakan
saja itu adalah filosofis atau teologis.
Membahas mengenai science, ilmiah, bukti dan sebagainya ada baiknya membaca ulasan
dari Bhante Brahmavamso tentang Buddhism The only real science

http://www.budsas.org/ebud/ebdha264.htm atau
http://www.bhagavant.com/home.php?link=naskah_dhamma_article&n_id=96

Posting Sdr. Morpheus


Quote from: Kalyanadhammo on Today at 01:54:12 AM
Dhamma ada dimana2 dan dapat dilihat dari sekeliling kita. Coba gunakan logika anda
maka anda akan paham. Saya rasa anda salah memahami penjelasan saya soal pukul balas
pukul. Oleh karena itu dengarkan baik2. Jika anda memukul seseorang seseorang maka
kemungkinan besar orang tersebut akan memukul anda kembali. Jika anda menanam bibit
jagung maka anda akan mendapatkan jagung. Sama seperti karma jika anda menanam
sesuatu maka itu yang akan anda terima. Bukan pada kejadian ini hal ini hukum karma
dapat dilihat dengan jelas. Anda tidak perlu memikirkan hal yang terlalu rumit sampai
karma masa lampau, dll kerena kita masih belum mampu untuk melihat. Soal dewa ada
atau bukan itu tidak penting. Saya juga tidak peduli dewa itu ada atau tidak.
bang kalyana, yg anda sebut sebagai "logika" di atas tidak lain adalah belief

saya mengerti anda mencoba menerangkan dasar pemikiran buddhis dan prinsip
ehipassiko, tapi sasaran dan point saya bukan lah itu. point saya adalah buddhis gak perlu
mengaku bahwa agamanya itu ilmiah atau lebih masuk akal. di mata sains, agama buddha
itu sami mawon dengan agama lain, alias gak terbukti secara ilmiah / sains. buddhisme
menyediakan solusi untuk masalah2 batiniah, bukan menyediakan solusi2, dokumen2
ataupun tesis2 ilmiah.

sekali lagi saya bilang kalo emang hukum karma itu bisa di reproduksi secara konsisten
di dalam lingkungan yg terkontrol, maka hukum karma udah masuk buku fisika / ipa
anak2 smp ama sma. kan terobosan besar tuh kalo bisa dibuktikan secara ilmiah?
kenyataannya gak kan?Quote from: Kalyanadhammo
Ingat ketika orang mengatakan aura itu ada, tenaga dalam itu ada dan thai chi dapat
menyembuhkan penyakit. Lalu apa yang dilakukan orang sains. Mereka mencari orang2
38

tersebut dan melakukan penelitian dan sekarang sudah ada foto krilian yang sudah dapat
memfoto aura, mendeteksi gelombang energi panas dari tenaga dalam dan Thai Chi dapat
dijelaskan kenapa dapat menyembuhkan. Jadi katakan saja pada mereka dan mereka pasti
akan berusaha membuktikannya. Mungkin saja nanti ada yang anda katakan itu menjadi
kenyataan ada yang namanya teropong dewa, dll.
foto aura yg ada dipasaran hanyalah simulasi komputer. foto kirlian sampai sekarang
masih diperdebatkan apakah benar2 merekam aura ataukah hanya uap air dan listrik dari
tubuh. saat ini posisi sains masih tidak menerima yg anda sebut sebagai "bukti" itu.

sekarang kembali ke buddhis. jadi apakah ada jurnal ilmiah yg membuktikan belief yg
ada di agama buddha?

Quote from: Kalyanadhammo


Kalau soal dengan rajin berdoa yang rajin dan khusuk memang jadi lebih tenang tapi
karena konsentrasi dan itu tidak membuktikan Tuhan.

anda betul, tapi demikian juga dengan "analisa" suatu musibah akibat karma. mungkin itu
rasa bersalah, mungkin itu psikologis, mungkin kebetulan... tidak membuktikan adanya
hukum karma. kita sebagai buddhis cuman percaya (bukan tahu) bahwa itu adalah hasil
karma. apakah beda?

Quote from: Kalyanadhammo


Saya katakan bukan ilmiah tapi analisa.

saya gak mengecam analisa anda. emang pernah saya mengecam atau menjelek2kan
belief agama buddha? point saya adalah yg anda sebut sebagai analisa itu tidak diterima
secara ilmiah dan tidak punya bukti secara ilmiah, karenanya gak perlu kita merasa lebih
ilmiah ataupun lebih masuk akal daripada belief lain. itu aja.

Quote from: Kalyanadhammo


Mari kita bicarakan kembali soal Bumi itu bulat. Pada pertama ilmuwan itu melihat
gejala alam dan melakukan analisa. Apa pada saat itu ada buku yang membahas tentang
bumi itu bulat, ada bukti ilmiah dan ada thesis doktornya?

ada dong. copernicus, kepler dan galileo mengeluarkan jurnal2 dan tulisan2 ilmiah
mengenai bulatnya bumi dan heliocentris, ditambah catatan sejarah bikinan columbus,
39

dan lain2nya. blom lagi alat2 ukur jaman sekarang sudah bisa membuktikan bumi bulat
plus fotonya.

sekarang mari kembali ke belief agama buddha. apakah semua ada buktinya?

Quote from: Kalyanadhammo


Mendengar sesuatu => Analisa (ingat untuk ini tidak butuh lab hanya otak) => Mulai
Percaya => Pembuktian => Yakin. Dalam agama samawi dan banyak buddhis aliran lain
melakukan pemotongan dari mendengar sesuatu => Yakin.

sekali lagi, saya tidak mempermasalahkan prinsip ehipassiko ataupun cara berpikir
buddhis. jangan salah mengerti dengan point saya sejak awal.

bisakah saya simpulkan dari tulisan anda di atas bahwa sampai saat ini belief agama
buddha cuman bisa dianalisa (alias dipikir2in sendiri). blom ada buktinya, karenanya
blom bisa dikatakan ilmiah. tul gak?
Quote from: Kelana on Today at 02:58:46 AM
Membahas mengenai science, ilmiah, bukti dan sebagainya ada baiknya membaca ulasan
dari Bhante Brahmavamso tentang Buddhism The only real science
http://www.budsas.org/ebud/ebdha264.htm atau
http://www.bhagavant.com/home.php?link=naskah_dhamma_article&n_id=96

tentu saja saya ingat tulisan ajahn brahm yg saya post sendiri di ffi beberapa tahun silam

tapi disini ajahn brahm bertolak dari anggapan bahwa kita tidak perlu pake belief2 yg
tidak bisa dibuktikan. jadi kalo tavatimsa tidak bisa dibuktikan, maka gak perlu percaya
bahkan perlu dichallange. saya bertolak dari prinsip yg sama. kalo memang itu tidak bisa
dibuktikan, jangan malu2 menyebutnya sebagai belief, jangan pake kata2 ilmiah atau
fakta.

Posting Sdr. Kalyanadhammo


Wah semakin memanas. Lanjut...

@Morpheus
Tampaknya pengertian belief kita tidak sepaham. Dalam Buddhis belief yang dimaksud
adalah kepercayaan yang mempunyai dasar dan kepercayaan yang terbukti. Jadi ada 2.
jika belum terbukti harus ada dasarnya. Kita kembali dalam konteks sutra yang pada
topik sebelumnya. Anda mengatakan anda percaya sutra tersebut tapi apa dasar anda
mempercayainya? Jika hanya percaya begitu saja tanpa berdasar itu belief yang sama
dengan agama samawi. Jadi yang saya debatkan adalah belief yang anda yakini seperti
agama samawi.
40

Tentu anda sadar bahwa sains/ilmiah bukan hanya IPA (Fisika, IPA, Matematika, kimia,
dll). Dalam sains ada sosiologi, psikologi, tata negara, dll. Apakah ada alat yang dapat
membuktikan sosiologi, psikologi, tata negara, dll? Tapi setelah melakukan pengamatan,
meneliti barulah ditarik kesimpulan. Sehingga ada ilmu2 diatas. Apa anda katakan ilmu
tersebut tidak valid dan tidak terbukti karena tidak ada alat yang membuktikannya?
Apakah anda mengatakan bahwa ilmu2 itu tidak diakui dalam masyarakat karena dari
hasil penelitian itu terbukti.

Kembali soal Bumi.

Pada saat orang pertama kali menemukan teori tersebut dia tidak mempunyai bukti,
dokumen bahkan dokumen tersebut dia sendiri yang membuatnya dan pada zaman dulu
memang ada foto? Tapi dia punya dasar. Kalau seperti itu Buddhis juga ada dokumen
yaitu tipitaka
Mungkin sudah ada yang membuat thesis tentang agama Buddha. (Jurusan Teologi) Jadi
kenapa anda bilang tidak ada?

Foto Krilian menurut penelitian itu menangkap gelombang magnetik / listrik yang ada
dalam tubuh. Dan menterjemahkannya kedalam tubuh. Jadi dapat diketahui bahwa
sebenarnya tubuh manusia memiliki gelombang2 dengan frekuensi yang berbeda.

Jika kita makan gorengan terus dan tidak makan yang bergizi hampir pasti anda pasti
akan sakit. Apakah anda dapat mengatakan bahwa jika kita makan gorengan setiap hari
maka kita akan tambah sehat. Jadi ada karma yang dapat dilihat secara langsung
meskipun tidak semua

Jadi saya tidak mengatakan Buddhis agama sains & ilmiah atau buddhis tidak
mempunyai belief. Belief itu ada tapi harus ada dasar dari belief itu. Kembali ke kasus
sutta. pada sutta tersebut anda menyebutkan anda percaya sutra tersebut tapi anda tidak
menyebutkan dasar dari analisa anda ini lah belief agama samawi yang membabi buta
bukan belief seorang buddhis. Kalau anda mengatakan anda tidak percaya adanya dewa
karena tidak tidak ada dasarnya. maka anda berpikir sebagai seorang Buddhis. Jadi
samakan pandangan dulu tentang apa yang dimaksud belief dan sains.

regards. Quote from: Kalyanadhammo on Today at 04:28:50 AM


Jika hanya percaya begitu saja tanpa berdasar itu belief yang sama dengan agama
samawi. Jadi yang saya debatkan adalah belief yang anda yakini seperti agama samawi.

jadi apa dasarnya belief yg ada di buddhis?

Quote from: Kalyanadhammo on Today at 04:28:50 AM


41

Tentu anda sadar bahwa sains/ilmiah bukan hanya IPA (Fisika, IPA, Matematika, kimia,
dll). Dalam sains ada sosiologi, psikologi, tata negara, dll.
Apakah ada alat yang dapat membuktikan sosiologi, psikologi, tata negara, dll?
Tapi setelah melakukan pengamatan, meneliti barulah ditarik kesimpulan. Sehingga ada
ilmu2 diatas.
Apa anda katakan ilmu tersebut tidak valid dan tidak terbukti karena tidak ada alat yang
membuktikannya? Apakah anda mengatakan bahwa ilmu2 itu tidak diakui dalam
masyarakat karena dari hasil penelitian itu terbukti.

lho, karena yg namanya tavatimsa, nibbana dan karma itu domainnya adalah fisika, maka
tentu saja parameter2nya haruslah diukur secara fisik.

untuk hal2 yg domainnya sosial, juga harus dibuktikan dengan riset, sample, percobaan,
statistik, dll.

sekarang kembali ke belief agama buddha, mana ukuran parameter2nya nibbana dan
hukum karma?

tentu saja ada praktek2 buddhisme yg sudah terbukti, diukur secara ilmiah dengan riset
dan sample yg teliti seperti meditasi bikin orang hepi:
http://news.bbc.co.uk/2/hi/health/3047291.stm

tapi kita baru bisa mengklaim agama buddha itu masuk akal dan ilmiah kalo semua
beliefnya sudah terbukti. kenyataannya nggak kan?

Quote from: Kalyanadhammo on Today at 04:28:50 AM


Kembali soal Bumi.
Pada saat orang pertama kali menemukan teori tersebut dia tidak mempunyai bukti,
dokumen bahkan dokumen tersebut dia sendiri yang membuatnya dan pada zaman dulu
memang ada foto?
Tapi dia punya dasar. Kalau seperti itu Buddhis juga ada dokumen yaitu tipitaka
Mungkin sudah ada yang membuat thesis tentang agama Buddha. (Jurusan Teologi)
Jadi kenapa anda bilang tidak ada?

wah, apa sih sebenernya tujuan sains membuat dokumen2 itu? apakah sih kriterianya
suatu teori itu dikatakan sains?

seperti yg saya bilang diawal2, kalo suatu teori itu dikatakan sains maka teori itu harus
bisa diukur dan direproduksi di lingkungan yg terkontrol. seperti dokumen2nya galileo,
42

copernicus atau colombus, 10 kali anda mengulangi hal yg sama seperti yg tertera di
dokumennya, maka 10 kali anda akan mendapatkan efek yg sama. 10 kali anda berlayar
mengikuti dokumennya columbus, maka 10 kali juga anda akan sampai ke tempat yg
sama seperti yg ada di dokumennya columbus. 10 kali anda bikin susunan teorpong
dengan beberapa lensa, maka 10 kali juga anda akan mendapatkan teropong yg sama.

nah, sekarang untuk hukum karma. apakah ada dokumennya kalo anda melakukan x,
maka anda akan mendapatkan y yg sama. kalo dokumen itu bisa mereproduksi hal yg
sama secara konsisten 10 kali, maka itu namanya ilmiah. tapi gak bisa kan? hukum karma
itu gak tau kapan berbuahnya, gak tau seberapa besar efeknya. tul gak?

tanggapan saya mengenai yg lainnya adalah senada.

ps. kapan saya pernah bilang percaya sutra tadi?Hmm, Lanjut...

Tentu saja pikiran sendiri, Masa orang lain.


Bedanya jika seorang Buddhis disarankan untuk menganalisa dulu apa yang didapatnya.
Sedangkan dalam agama samawi jika dikatakan oleh kitab suci maka itu sudah mutlak.
Sejak kapan Buddhis masuk kedalam fisika?
Sains tampaknya lebih ke sains yang kedua yang saya sebutkan.

Misalkan anda menanam satu buah bibit jagung apakah anda dapat mengukur berapa
jagung yang akan anda dapatkan? tentu tidak bukan ada faktor2 lain yang mempengaruhi
jumlah jagung yang diperoleh. Sama seperti hukum karma bukan? Ini membuktikan
hukum seperti itu memang ada.

Banyak dalil2 ilmiah yang tidak terbukti dan bahkan ada yang salah. Jadi anda tidak
dapat mengklaim bahwa jika suda terbukti baru masuk sains. Ingat asal mula bumi, umur
bumi. apakah sains tahu persis berapa umur bumi. Hanya menduga berdasarkan analisa2
yang ada.

Begitulah seharusnya berpikir. Segala sesuatu harus ditelaah dahulu baru kita boleh
mempercayai atau tidak.

Sorry soal sutta itu kurang membaca.

Yang saya tangkap dari pembicaraan anda soal belief. Sepertinya belief yang tanpa ada
dasar apapun.

regards.

Untuk langsung membuktikan hukum kamma secara sederhana, kayaknya simpel deh..
ayo coba anda jitak teman anda dengan niat yg teramat sangat.. lalu liat respon apa yg
terjadi disana

Ini bakal jadi riset yg nyata dan mudah


43

Posting Sdr. Hedi Kasmanto


Quote from: Radi_muliawan on 13 July 2007, 01:51:24 PM
Untuk langsung membuktikan hukum kamma secara sederhana, kayaknya simpel deh..
ayo coba anda jitak teman anda dengan niat yg teramat sangat.. lalu liat respon apa yg
terjadi disana
Ini bakal jadi riset yg nyata dan mudah

Buset.. Ini Ehipassiko yang dengan dampak mengerikan..


Sama saja dengan kalau gak percaya racun serangga mematikan.. coba saja minum
dan lihat responnya..

Posting Sdr. Ryu


Quote
jadi apa dasarnya belief yg ada di buddhis?

Quote
tapi kita baru bisa mengklaim agama buddha itu masuk akal dan ilmiah kalo semua
beliefnya sudah terbukti. kenyataannya nggak kan?

bukankah 4 kesunyataan mulia dapat dibuktikan??

bukankah Jalan mulia berunsur 8 dapat dibuktikan??

Quote
seperti yg saya bilang diawal2, kalo suatu teori itu dikatakan sains maka teori itu harus
bisa diukur dan direproduksi di lingkungan yg terkontrol. seperti dokumen2nya galileo,
copernicus atau colombus, 10 kali anda mengulangi hal yg sama seperti yg tertera di
dokumennya, maka 10 kali anda akan mendapatkan efek yg sama. 10 kali anda berlayar
mengikuti dokumennya columbus, maka 10 kali juga anda akan sampai ke tempat yg
sama seperti yg ada di dokumennya columbus. 10 kali anda bikin susunan teorpong
dengan beberapa lensa, maka 10 kali juga anda akan mendapatkan teropong yg sama.

Apabila anda melempar dadu 10 kali dengan cara yang sama apa akan keluar angka yang
sama??

HALAMAN 2
44

Posting Sdr. Dhanuttono


Quote from: Radi_muliawan on 13 July 2007, 01:51:24 PM
Untuk langsung membuktikan hukum kamma secara sederhana, kayaknya simpel deh..
ayo coba anda jitak teman anda dengan niat yg teramat sangat.. lalu liat respon apa yg
terjadi disana
Ini bakal jadi riset yg nyata dan mudah

buset ini pembuktian yg cukup ekstrem

misalkan kita melanggar lampu merah, trus kita ditabrak oleh kendaraan lain dari sisi lain
atau kita di tilang polisi, terbuang duit n waktu, apakah ini salah satu bentuk hukum
kamma ? ataukah karena salah satu bentuk keteledoran/kelalaian diri sendiri ?

jika tidak salah kamma/karma yg berbuah pada diri seseorang terbentuk bukan cuma dari
1 sebab, tapi dari beberapa sebab yg saling berhubungan satu sama lain, jika demikian
berarti pelanggaran terhadap trafik light/lampu merah (1 sebab) bukan bentuk dari hukum
kamma, apakah demikian ? trus dari puluhan/ratusan (mungkin) yg melanggar trafik
light/lampu merah, tapi tidak semua yg mengalami dampaknya (ditabrak oleh kendaraan
lain/ditilang polisi) apakah itu karena hoki atau kamma/karma baik yg berbuah ?

jika kita jitak kepala teman kita, jg ada kemungkinan mereka tidak marah (mungkin
dianggap bercanda, jd belum tentu marah), apakah hukum kamma/karma tidak berlaku
mutlak dalam hal itu ?

mohon pencerahan

misalkan ada kasus, ada nenek2 jatuh dari tangga didepan dhammasala, tapi untungnya
hanya memar dan luka kecil dikaki, tanggan dan kening.

pertanyaannya :

apakah itu kamma/karma buruk nenek tersebut sedang berbuah ? tapi untungnya nenek2
tersebut cuma memar dan luka kecil, apakah berarti masih ada kamma/karma baiknya yg
berbuah ?

ataukah memang kamma/karma buruk nenek tersebut berbuahnya kecil, cuma sampai
mengakibatkan nenek tersebut memar dan luka kecil, jadi tidak ada kamma/karma baik
yg berbuah pada saat itu ?

ataukah ada kemungkinan lainnya ? susah untuk kita mengetahui secara pasti hal itu, tapi
kita berspekulasi/bermain-main dengan hukum kamma/karma tersebut.
45

mohon sharingnya mengenai pembuktian dhamma

Posting Sdr. Ryu


Bila seseorang berkata, bahwa hanya apa yang diperbuat itulah yang diperolehnya, maka
bila hal itu benar, maka menuntut kehidupan suci tidaklah berarti sebab tak ada
kesempatan untuk mengatasi penderitaan, Tapi Bila seseorang berkata, bahwa bila
seorang berbuat demi apa yang akan diperoleh lau itulah yang diperolehnya, maka
menuntut kehidupan suci adalah berarti ada kesempatan untuk menghancurkan
penderitaan, contohnya, Suatu kejahatan kecil dilakukan seseorang, tindakan itu bisa
berbuah pada kehidupan ini atau sama sekali tidak berbuah.
Contohnya anda memasukkan sejumput garam kedalam gelas kecil anda pasti tidak akan
bisa meminumnya karena rasanya asin, tapi coba anda taruh di sungai pasti garam itu
tidak akan terasa.

Posting Sdr. Morpheus


Quote from: Kalyanadhammo on 13 July 2007, 01:17:34 PM
Tentu saja pikiran sendiri, Masa orang lain.
Bedanya jika seorang Buddhis disarankan untuk menganalisa dulu apa yang didapatnya.
Sedangkan dalam agama samawi jika dikatakan oleh kitab suci maka itu sudah mutlak.

energi saya habis kalo anda berputar2 ke tempat yg sama

sekali lagi, point saya bukanlah prinsip buddhis yg menganalisa duluan baru percaya,
dibandingkan samawi.

anda bilang sendiri basisnya tidak lain adalah "dipikir2 sendiri". apakah dunia ilmiah bisa
menerima bukti "dipikir2 sendiri"?

point saya adalah: yg namanya karma, nibbana, tavatimsa dan asura, di mata sains semua
teori itu adalah tidak terbuktikan karenanya tidak ilmiah... please jangan balik2 lagi ke
ehipassiko dan cara berpikir buddhis. kalo memang menurut anda karma dan nibbana
adalah ilmiah, please copykan saja dokumen, jurnal ilmiah, hasil experiment dan
kesimpulannya.

Quote from: Kalyanadhammo on 13 July 2007, 01:17:34 PM


Sejak kapan Buddhis masuk kedalam fisika?
Sains tampaknya lebih ke sains yang kedua yang saya sebutkan.
46

yg namanya pembuktian karma atau tavatimsa itu adalah hukum alam, tentu saja
domainnya adalah fisika. ok lah kalo anda mau ilmu sosial, tolong sebutkan papernya,
experimennya, samplenya dan kesimpulannya tavatimsa atau asura.

Quote from: Kalyanadhammo on 13 July 2007, 01:17:34 PM


Misalkan anda menanam satu buah bibit jagung apakah anda dapat mengukur berapa
jagung yang akan anda dapatkan? tentu tidak bukan ada faktor2 lain yang mempengaruhi
jumlah jagung yang diperoleh.
Sama seperti hukum karma bukan? Ini membuktikan hukum seperti itu memang ada.

kesimpulan itu namanya melompat2, tanpa bukti yg tercatat, tau2 ada kesimpulan

saya teringat anekdot pembuktian tuhan:


ARGUMENT FROM MIRACLES (I)
(1) My aunt had cancer.
(2) The doctors gave her all these horrible treatments.
(3) My aunt prayed to God and now she doesn't have cancer.
(4) Therefore, God exists.
ARGUMENT FROM INTIMIDATION
(1) See this bonfire?
(2) Therefore, God exists.
COSMOLOGICAL ARGUMENT, a.k.a. FIRST CAUSE ARGUMENT (I)
(1) If I say something must have a cause, it has a cause.
(2) I say the universe must have a cause.
(3) Therefore, the universe has a cause.
(4) Therefore, God exists.

sekarang teori anda:


1. jagung buahnya bisa 3 atau 4 atau 5 biji
2. ada faktor2 lain yg mempengaruhi jumlah buahnya
3. therefore karma exists

bandingkan dengan experiment "jagung" mendel dibawah:


http://en.wikipedia.org/wiki/Gregor_Mendel

Quote from: Kalyanadhammo on 13 July 2007, 01:17:34 PM


Banyak dalil2 ilmiah yang tidak terbukti dan bahkan ada yang salah. Jadi anda tidak
dapat mengklaim bahwa jika suda terbukti baru masuk sains.
47

Ingat asal mula bumi, umur bumi. apakah sains tahu persis berapa umur bumi. Hanya
menduga berdasarkan analisa2 yang ada.

hah? saya kaget mendengar ini dari seorang buddhis. argumen ini berkali2 dikeluarkan
oleh orang samawi

mari kita lihat bukti2 umur bumi:


http://www.talkorigins.org/faqs/faq-age-of-earth.html

ini bukan analisa, melainkan sudah ada bukti2 yg valid yg saling menguatkan satu sama
lain.

Posting Sdr. Morpheus


Quote from: Radi_muliawan on 13 July 2007, 01:51:24 PM
Untuk langsung membuktikan hukum kamma secara sederhana, kayaknya simpel deh..
ayo coba anda jitak teman anda dengan niat yg teramat sangat.. lalu liat respon apa yg
terjadi disana
Ini bakal jadi riset yg nyata dan mudah

penyataan ngawur2an, jawabannya juga ngawur2nya:


sample 1: si A, temen anda orangnya penakut dan badannya kecil. begitu dijitak, dia diem
aja, malah takut.
sample 2: si B, temen anda orangnya pemarah dan badannya kayak ade rai. anda dibales
jitak 10 x
sample 3: si C, orangnya gak suka konfrontasi, diem aja malah menjauh
sample 4: si D, orangnya kasar suka maen jitak2an. begitu dijitak, dia merasa itu sebagai
keakraban, malah ketawa2.

jadi mana bukti ilmiah karmanya?

Posting Sdr. Morpheus


Quote from: dhanuttono on 14 July 2007, 01:54:41 PM
ataukah ada kemungkinan lainnya ? susah untuk kita mengetahui secara pasti hal itu, tapi
kita berspekulasi/bermain-main dengan hukum kamma/karma tersebut.

nah, kejujuran seperti ini yg kita butuhkan... jawaban jujurnya: tidak tahu!
karenanya kita gak bisa bilang kalo karma itu ilmiah!

Posting Sdr. Morpheus


48

Quote from: ryu on 13 July 2007, 11:52:33 PM


Apabila anda melempar dadu 10 kali dengan cara yang sama apa akan keluar angka yang
sama??

kata kuncinya bukan "sama", melainkan "terdokumentasi".


dokumen2 ilmiah bisa meramalkan hasil experiment anda selama anda mengikuti
variable2 yg ada di dokumen tersebut.

fenomena dadu bisa "diramalkan" oleh teori probabilistik...


kalo anda melempar dadu 600 kali, kemungkinan anda akan mendapatkan masing2 mata
dadu seratus kali, plus minus errornya sedikit.

Posting Sdr. Ryu


saya pernah nonton kalau ga salah einstein pernah berkata "apakah tuhan sedang bermain
dadu?" ketika dia meneliti apa ya lupa lagi.

Posting Sdr. Ryu


Jadi kalau ada Tuhan apa ketika dia mencobai manusia dia jg sedang main dadu?

Posting Sdr. Dhanuttono


Quote from: ryu on 15 July 2007, 01:16:53 PM
Jadi kalau ada Tuhan apa ketika dia mencobai manusia dia jg sedang main dadu?

bisa jadi, tuhan mengalami syndrome jahat sesaat, kemudian setelah manusia itu meminta
ampun (entah dia salah atau tidak, pokoknya ngalami penderitaan karena dicobai) baru
tuhan mengalami syndrome baik sesaat menjadi penolong yg maha baik...

dadu nya digunakan untuk memunculkan nilai random, sehingga siapa pun pasti akan di
cobai

Posting Sdr. Kalyanadhammo

Hmm, Lanjut...

Quote from: Morpheus


anda bilang sendiri basisnya tidak lain adalah "dipikir2 sendiri". apakah dunia ilmiah
bisa menerima bukti "dipikir2 sendiri"?
49

Ya. Itu namanya teori.


Banyak ilmuwan mengemukakan teori atas dasar pemikiran sendiri.
Contoh: Ilmuwan bernama dolton (Kalau tidak salah)
Mengemukakan pendapatnya tentang teori atom. pada saat itu belum ada bukti. dan pada
saat itu belum ada alat yang bisa membuktikan teorinya tersebut jadi hanya pendapat dan
buat pikirnya sendiri.
Sekitar 10 tahun kemudian terbukti dari 5 teori yang dibuktikan 3 terbukti benar dan 2
salah.
Jadi ilmiah dapat menerima bukti hasil pemikiran selama orang tersebut mempunyai
argumen yang kuat.

Quote from: Morpheus


yg namanya pembuktian karma atau tavatimsa itu adalah hukum alam, tentu saja
domainnya adalah fisika. ok lah kalo anda mau ilmu sosial, tolong sebutkan papernya,
experimennya, samplenya dan kesimpulannya tavatimsa atau asura.

Disini anda salah. Hukum alam tidak hanya fisika. Hukum alam itu sangat luas.
Jika anda mengatakan hukum alam hanya fisika maka anda hanya orang yang berpikir
sempit.

Quote from: morpheus


ARGUMENT FROM MIRACLES (I)
(1) My aunt had cancer.
(2) The doctors gave her all these horrible treatments.
(3) My aunt prayed to God and now she doesn't have cancer.
(4) Therefore, God exists.

ARGUMENT FROM INTIMIDATION


(1) See this bonfire?
(2) Therefore, God exists.

COSMOLOGICAL ARGUMENT, a.k.a. FIRST CAUSE ARGUMENT (I)


(1) If I say something must have a cause, it has a cause.
(2) I say the universe must have a cause.
(3) Therefore, the universe has a cause.
(4) Therefore, God exists.

Kemungkinan diatas masih terlalu umum karena masih banyak kemungkinan lain.
50

Tidak ada hubungan antara ada alam ada karena ada sebab, kemudian nyambung ke
Tuhan.

Ingat bibinya ke dokterm, Bon fire tidak ada hubungan dengan Tuhan. Dalam prinsip
jagung terlihat hukum bahwa jika kita menanam sesuatu itu lah yang kita dapatkan.

Prinsip ini terlihat lebih jelas dari pada teori anda yang sama sekali tidak nyambung.

Quote
hah? saya kaget mendengar ini dari seorang buddhis.
argumen ini berkali2 dikeluarkan oleh orang samawi Grin
Seperti teori diatas setelah mendengar sesuatu dia pikirkan jika dia pikir itu masuk akal
maka dia memberikan 30 - 50 % kepercayaan, apakah bisa salah tentu saja bisa. Oleh
karena itu perlu dilanjutkan dengan pembuktian. (Saya tidak bicara soal ehipasiko jadi
jangan dibawa2)

Sorry websitenya di block jadi tidak bisa lihat.


Tapi menurut yang saya dengar bukti tersebut berdasarkan penelitian umur dari batu.
Anda tidak mungkin tau secara nyata kecuali anda menyaksikan bumi itu terbentuk dan
masih hidup sampai saat ini. Jadi penelitian tersebut hanya kesimpulan dari ilmuwan itu
sendiri bedasarkan fakta2 yang ada.

Mungkin cuma salah paham.


Tapi dari pembicaraan anda diatas menyatakan bahwa kepercayaan buddhis sama dengan
kepercayaan agama samawi. dimana sesuatu yang ditulis dalam kitab suci dipercayai
100%.tanpa dipikirkan atau berusaha di buktikan. Seorang manusia punya otak oleh
karena itu kita harus mengunakan otak kita untuk berpikir jangan percaya sesuatu
membabi buta. Sebenarnya itulah pangkal perdebatan ini.

regards.

Posting Sdr. Morpheus


Quote from: Kalyanadhammo on 16 July 2007, 02:09:20 PM
Ya. Itu namanya teori.
Banyak ilmuwan mengemukakan teori atas dasar pemikiran sendiri.
Jadi ilmiah dapat menerima bukti hasil pemikiran selama orang tersebut mempunyai
argumen yang kuat.

jadi kenapa yg namanya "teori" karma itu gak pernah terdengar di forum2 science?
51

Quote from: Kalyanadhammo on 16 July 2007, 02:09:20 PM


Disini anda salah. Hukum alam tidak hanya fisika. Hukum alam itu sangat luas. Jika anda
mengatakan hukum alam hanya fisika maka anda hanya orang yang berpikir sempit.
susah juga ngejelasinnya

http://en.wikipedia.org/wiki/Physics

Physics (Greek: ?? (phúsis), "nature" and (phusiké), "knowledge of nature") is


the branch of science concerned with discovering and characterizing universal laws that
govern such things as matter, energy, space, and time. Discoveries in physics resonate
throughout the natural sciences, and physics has been described as the "fundamental
science" because other fields such as chemistry and biology investigate systems whose
properties depend on the laws of physics.

jadi kalo misalnya anda berhasil membuktikan adanya alam / dimensi tavatimsa, tentu
saja domainnya adalah physics, bukan ekonomi, bukan kimia, bukan politik, bukan
computer science, bukan yg lain2... di sini saya berbicara mengenai domain.

yg namanya hukum alam, apa aja yg terjadi dialam itu klasifikasinya adalah fisika.
sekali lagi saya berbicara mengenai domain. saya gak mengatakan seluruh fenomena di
dunia ini sudah dijelaskan oleh text book fisika.

kalo begini terus, energi saya udah bakal habis. kayaknya saya perlu minum hemaviton

Quote from: Kalyanadhammo on 16 July 2007, 02:09:20 PM


Kemungkinan diatas masih terlalu umum karena masih banyak kemungkinan lain. Tidak
ada hubungan antara ada alam ada karena ada sebab, kemudian nyambung ke Tuhan.
Ingat bibinya ke dokterm, Bon fire tidak ada hubungan dengan Tuhan.
Dalam prinsip jagung terlihat hukum bahwa jika kita menanam sesuatu itu lah yang kita
dapatkan.
Prinsip ini terlihat lebih jelas dari pada teori anda yang sama sekali tidak nyambung.

ini juga anda tanggapi? ini kan sarkasme?!?!?

maksud saya mengeluarkan anekdot di atas untuk menggambarkan kesimpulan yg


meloncat2...

*nyari2 hemaviton*

Quote from: Kalyanadhammo on 16 July 2007, 02:09:20 PM


52

Tapi menurut yang saya dengar bukti tersebut berdasarkan penelitian umur dari batu.
Anda tidak mungkin tau secara nyata kecuali anda menyaksikan bumi itu terbentuk dan
masih hidup sampai saat ini. Jadi penelitian tersebut hanya kesimpulan dari ilmuwan itu
sendiri bedasarkan fakta2 yang ada.

bukti2 itu dari bidang geologi, radioaktif, atmosfit, dll, semua menunjukkan arah umur
bumi yg sama.

science != menyaksikan secara nyata.

gak menyaksikan secara nyata pun bisa diakui science.

saya udah berkali2 ngomong soal instrumen, pengukur, dokumen, blablabla.

Quote from: Kalyanadhammo on 16 July 2007, 02:09:20 PM


Tapi dari pembicaraan anda diatas menyatakan bahwa kepercayaan buddhis sama dengan
kepercayaan agama samawi. dimana sesuatu yang ditulis dalam kitab suci dipercayai
100%.tanpa dipikirkan atau berusaha di buktikan. Seorang manusia punya otak oleh
karena itu kita harus mengunakan otak kita untuk berpikir jangan percaya sesuatu
membabi buta. Sebenarnya itulah pangkal perdebatan ini.

anda menciptakan sendiri kata2 yg tidak pernah saya ucapkan sejak awal diskusi ini. saya
tidak pernah ngomong buddhis itu 100% percaya buta pada kitab suci. dan ini berkali2
saya sangkal, tapi balik2nya lagi ke prinsip buddhis tidak langsung percaya,
blablablabla...

pangkalnya adalah bahwa yg namanya kepercayaan apapun labelnya tetaplah


kepercayaan. tidak ada kepercayaan yg lebih logis ataupun lebih ilmiah ketimbang
kepercayaan lainnya...

kalo suatu kepercayaan itu sudah terbukti melalui riset, experiment dan proses2 ilmiah,
maka kepercayaan itu tidak lagi disebut kepercayaan, melainkan pengetahuan

contohnya, mengenai meditasi bisa bikin orang lebih bahagia itu bukan lagi kepercayaan,
melainkan udah menjadi pengetahuan (baca link bbc yg saya post sebelumnya). namun
yg namanya nibbana, tavatimsa, asura, dll sampai saat ini statusnya adalah kepercayaan.
karenanya, nibbana dan tavatimsa tidak berhak untuk disebut ilmiah.

saya sudahi aja post saya di topik ini.


saya udah gak ada tenaga dan hemevitonnya blom ketemu
kamsiah
53

Posting Sdr. 7th


pembuktian karma ada ato tidak sama saja seperti orang kristen membuktikan tuhan ada
atau tidak...

Posting Sdr. Morpheus


Quote from: 7th on 17 July 2007, 12:11:34 AM
pembuktian karma ada ato tidak sama saja seperti orang kristen membuktikan tuhan ada
atau tidak...

akhirnya ada yg bisa mengerti daku.. muah muah muah muah

Posting Sdr. Dhanuttono


Quote from: 7th on 17 July 2007, 12:11:34 AM
pembuktian karma ada ato tidak sama saja seperti orang kristen membuktikan tuhan ada
atau tidak...

beda... kamma/karma memang tidak dapat dilihat cara kerjanya untuk manusia biasa, tapi
bukan berarti tidak ada atau tidak bisa dicapai (kemampuan untuk dapat melihat cara
kerjanya)

anak kecil (TK/SD) susah untuk membuktikan bahwa rumus Integral itu ada atau tidak,
tapi bukan berarti rumus Integral itu tidak ada atau tidak bisa dipelajari. hanya saja anak
kecil tersebut belum bisa mencapai dan mengerjakan rumus Integral, walau ia telah
mempelajari mathematik, masih terbatas kemampuan nya.

beda hal nya dengan tuhan ada atau tidak ada... apa tuhan itu ada ? contoh yg tersimple
dinyatakan bahwa alam semesta diciptakan ini cuma bumi, bintang, matahari dan bulan
(baca deh kitab agama Samawi) secara langsung (jd seketika) dalam beberapa hari proses
penyempurnaan... ilmu pengetahuan telah membuktikan hal lainnya, bahwa ada seseuatu
yg berproses dalam pembentukan alam semesta dan bintang2 yg bertebaran adalah
matahari dari suatu galaxy yg berarti ada kemungkinan adanya planet seperti bumi,
dimana terdapat mahluk hidup... itu telah mematahkan konsep tuhan sebagai
personal/individu

Posting Sdr. 7th


kalo orang 'bertuhan' ditanya pembuktian tuhan, maka dia juga bisa mengambil contoh
integral tersebut...
54

perbedaannya ada pada :

melihat dari sisi Karma lebih banyak memberi jawaban yang masuk akal atas fenomena
dan realita di dunia ini. sedangkan melihat dari sisi tuhan, MENURUT SAYA jarang bisa
memberi jawaban masuk akal dan memuaskan, malah kadang jawabannya memunculkan
pertanyaan lain lagi, seperti "rencana tuhan" - so apakah rencana tuhan itu? "hanya tuhan
yang tahu" - kenapa harus hanya dia yang tau? dll....

nah masalah keduanya ada atau tidak, terbukti atau tidak, itu sama aja.
yang ada kita hanya bisa melihat relevansi mereka dengan kehidupan sekarang.
mana yang lebih masuk akal? mana yang lebih layak dipercayai mnurut Anda....

HALAMAN 3
Posting Sdr. Kalyanadhammo
Hmm, Lanjut

Ngomong2 kalau bisa jangan terlalu panjang balasnya report dan susah.
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh
pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi
serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam.

Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah berikut:

1. Karakterisasi (observasi dan pengukuran)


2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil observasi dan
pengukuran)
3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)

Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_ilmiah

Disana tidak dikatakan itu fisika bukan? Jadi selama memenuhi unsur2 diatas dapat orang
menganggap sebagai ilmiah sah2 saja. Termasuk agama samawi jika memenuhi.

Baca: http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu

disana fisika hanya sebagian dari ilmu alam ada ilmu alam yang lain.

Contoh yang anda kemukakan yang pertama sudah tidak valid. Ilmuwan sudah
membuktikannya dan tidak setiap orang yang berdoa itu sembuh jadi apa hubungannya
dengan Tuhan?
55

Contoh kedua mungkin valid jika 100 th yang lalu karena sekarang hal seperti itu sudah
wajar seperti pelangi sudah dapat dijelaskan atau mungkin perlu cek mata.

Contoh ke tiga baru cukup menarik. pada kesimpulan god its exists itu tidak nyambung
seharusnya Alam semesta ada karena sebab. Jika anda menyebutnya Tuhan tergantung
pada pengertian Tuhan. Jika Tuhan sebagai sebuah Mahluk yang maha XXX maka
perkataan itu sudah dapat disanggah.

Nah anda sudah mengatakan bahwa tidak diakui secara nyata pun bisa dianggap ilmiah.
Umur Mumy saja tidak ada yang tau kapan tanggal lahirnya apalagi bumi. Paling cuma
bilang umur bumi xxx tahun tapi karena adanya prediksi dan eksperimen hal tersebut
diakui sebagai ilmiah.
Selama persyaratan diatas terpenuhi itu dapat dikatakan ilmiah.

Saya rasa anda sudah memahami perbedaannya kepercayaan Buddhis dan yang lainnya
jadi untuk apa anda tanya dengan saya perbedaannya.
Memang tapi setelah di analisa(Dipikirkan) baru dipercaya akan mempunyai keakuratan
yang lebih tinggi dari pada hanya mengunakan perasaan.

Kalau soal2 tavatimsa, asura, dan alam lainnya memang tidak dapat dipikirkan jadi kalau
tidak dapat dipercaya ya terserah. tapi Nibana masih dapat di prediksi karena pengertian
Buddhis Nibana itu bukan alam gaib atau alam surga jadi masih dalam jangkauan.

kalau Tuhan sebagai Mahluk yang XXX sudah disangkal sendiri oleh kitab sucinya jadi
sudah terbukti.

Jangan Menyerah begitu saja. Forum akan semakin ramai jika ada perdebatan bukan
begitu? Kalau pendapat sama semua bukan tidak menarik?

regards

Posting Sdr. Sumedho


"Pembelajaran Terjadi Karena ada Perbedaan" TM

Posting Sdr. 7th


Quote
Ngomong2 kalau bisa jangan terlalu panjang balasnya report dan susah. Smiley
Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh
pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan observasi
serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam.
56

wah, gajah di seberang pulau tampak, semut di pelupuk mata tidak tampak

Quote
TM
"Pembelajaran Terjadi Karena ada Perbedaan"

set dah ada TM-nya...

saya juga punya kk...

"Perbedaan akan menimbulkan pembelajaran" TM - 7th

Posting Sdr. Morpheus


loh, masih ngomongin 3 macam argumen itu? ngerti sarkasme gak bang?

http://en.wikipedia.org/wiki/Sarcasm
Sarcasm from Greek (sarkasmos), 'mockery, sarcasm' is sneering, jesting, or
mocking at a person, situation or thing. It is strongly associated with irony, with some
definitions classifying it as a type of verbal irony intended to insult or wound[1] —
stating the opposite of the intended meaning, e.g. using "that's fantastic" to mean "that's
awful".

It is used mostly in a humorous manner, and is expressed through vocal intonations such
as over-emphasizing the actual statement or particular words. Use of sarcasm is
sometimes viewed as an expression of concealed anger[2], annoyance and/or ignorance.

perdebatan bisa menarik kalo saling mengerti yg diomongin. saya kehabisan energi
menjelasin sesuatu yg gak esensial kayak di atas...

Posting Sdr. Kalyanadhammo


Hehehe,

Yup, Benar juga sebenarnya mau pendek tapi pas terakhir lihat jadi panjang.
Secara pribadi saya tidak mau ikut campur tentang pendapat pribadi. Hasil akhir terserah
pendapat pribadi dan tidak ada maksud menghina.
Tapi forum kelihatan lebih seru kalau ada perbedaan pendapat makanya saya lanjutkan
terus.
Sama seperti sepak bola kalau gak ada event ya membosankan.
Lagi pula sekalian meningkatkan jumlah posting.

regards.
57

Posting Sdr. 7th


ada event juga membosankan...

hanya melihat 22 orang aneh kejar"an satu buah bola, eh ketika dah dapet malah
ditendang lagi... bukankah itu aneh...

Posting Sdr. Kalyanadhammo


Bukan event seperti itu. Kalau sepak bola pada saat mau merebut bola yang satu nyundul
bola yang satu mau nendang bola. Cukup menegangkan bukan kalau bola gak kena wah
bisa kena kepala orang. Ada lagi event dimana kungfu terlibat itu baru menarik.

regards.

Posting Sdr. Kelana


Belief tidak sama dengan percaya, tidak sama dengan iman. Percaya dan Iman tidak
memerlukan bukti apapun. Belief = keyakinan. Dan keyakinan diperlukan bukti.

Logika tidak identik dengan sains.

Bhante Brahmavamso menjelaskan bahwa sains modern kadang kala mengingkari


patokan-patokan yang ia tetapkan sendiri. Dan pengukur dalam sains kadang kala
berubah-ubah. Sains modern sampai sekarang belum bisa menetapkan ukuran mengenai
kematian. (adanya kasus orang yang telah dinyatakan mati secara medis tetapi bangkit
lagi)

Posting Sdr. Dhanuttono


Quote from: Kelana on 18 July 2007, 07:42:52 PM
Belief tidak sama dengan percaya, tidak sama dengan iman. Percaya dan Iman tidak
memerlukan bukti apapun.

Belief = keyakinan. Dan keyakinan diperlukan bukti.

mengapa percaya dan iman tidak bisa dibuktikan atau tidak memerlukan bukti ? mengapa
belief/keyakinan perlu dibuktikan ?

Quote from: Kelana on 18 July 2007, 07:42:52 PM


58

Logika tidak identik dengan sains.Bhante Brahmavamso menjelaskan bahwa sains


modern kadang kala mengingkari patokan-patokan yang ia tetapkan sendiri. Dan
pengukur dalam sains kadang kala berubah-ubah. Sains modern sampai sekarang belum
bisa menetapkan ukuran mengenai kematian. (adanya kasus orang yang telah dinyatakan
mati secara medis tetapi bangkit lagi)

Apakah Buddhism identik dengan logika ? karena kecendrungan lebih ke arah penalaran
manusia terhadap suatu hal.

Apakah Buddhism mencakupi science ? atau sebaliknya Apakah Science mencakupi


Buddhism ?

Posting Sdr. Kelana


Quote from: dhanuttono on 18 July 2007, 09:15:08 PM
mengapa percaya dan iman tidak bisa dibuktikan atau tidak memerlukan bukti ? mengapa
belief/keyakinan perlu dibuktikan ?

Sdr. Dhanuttono, saya tidak mengatakan percaya dan iman tidak bisa dibuktikan, tetapi
tidak memerlukan bukti. Karena percaya dan iman tidak terdapat penyelidikan lebih
lanjut dan bukti sebagai hasilnya. Contoh: ketika teman kita mengatakan bahwa tadi ia
melihat kecelakaan kereta api dan setelah mendengar kisahnya kita langsung meng-iya-
kan dan menerimanya, menganggapnya sebagai benar apa adanya, tanpa penyelidikan
lebih lanjut maka kita disebut percaya padanya. Ini disebut rasa percaya atau iman.

Berbeda dengan keyakinan. Setelah mendengar kisah dari teman tersebut, kemudian kita
menindaklanjuti dengan menyelidiki apakah benar atau tidak, melihat ada atau tidak
kecelakaan tersebut, dls. Dan baru kemudian setelah ada fakta bahwa misalnya ada kereta
api yang menabrak truk, dan kita baru meng-iya-kan dan menerimanya, maka ini disebut
keyakinan. Keyakinan adalah sesuatu yang pasti, jadi butuh hal-hal yang sebenarnya
terjadi, misalnya fakta.

Quote from: Kelana on 18 July 2007, 07:42:52 PM


Apakah Buddhism identik dengan logika ? karena kecendrungan lebih ke arah penalaran
manusia terhadap suatu hal.

Apakah Buddhism mencakupi science ? atau sebaliknya Apakah Science mencakupi


Buddhism ?
59

Apakah Buddhism identik dengan logika ? tidak juga. Seperti yang anda katakan bahwa
merupakan kecendrungan lebih ke arah penalaran manusia terhadap suatu hal. Dalam
pandangan saya, ketika manusia sudah mengetahui hakikat segala fenomena, maka
semuanya menjadi logis bagi dirinya, sesuai dengan nalarnya. Tapi bagi mereka yang
belum mengetahui hakikat segala fenomena maka ada beberapa fenomena yang tidak
masuk akal bagi dirinya.

Apakah Buddhism mencakupi science ? atau sebaliknya Apakah Science mencakupi


Buddhism ? Saya rasa tidak keduanya. Buddhisme dan sains adalah saling melengkapi.

Posting Sdr. Dhanuttono


Quote from: Kelana on 18 July 2007, 10:02:29 PM
Sdr. Dhanuttono, saya tidak mengatakan percaya dan iman tidak bisa dibuktikan, tetapi
tidak memerlukan bukti. Karena percaya dan iman tidak terdapat penyelidikan lebih
lanjut dan bukti sebagai hasilnya. Contoh: ketika teman kita mengatakan bahwa tadi ia
melihat kecelakaan kereta api dan setelah mendengar kisahnya kita langsung meng-iya-
kan dan menerimanya, menganggapnya sebagai benar apa adanya, tanpa penyelidikan
lebih lanjut maka kita disebut percaya padanya. Ini disebut rasa percaya atau iman.

Berbeda dengan keyakinan. Setelah mendengar kisah dari teman tersebut, kemudian kita
menindaklanjuti dengan menyelidiki apakah benar atau tidak, melihat ada atau tidak
kecelakaan tersebut, dls. Dan baru kemudian setelah ada fakta bahwa misalnya ada kereta
api yang menabrak truk, dan kita baru meng-iya-kan dan menerimanya, maka ini disebut
keyakinan. Keyakinan adalah sesuatu yang pasti, jadi butuh hal-hal yang sebenarnya
terjadi, misalnya fakta.

percaya atau iman, merupakan hal yg menggugah perasaan dan pikiran kita ketika kita di
hadapkan pada suatu hal/kejadian dan menuntut kita untuk menerimanya.

keyakinan, merupakan hasil dari suatu proses pembuktian lebih lanjut atas suatu
hal/kejadian secara sistematis/logis dan tidak menuntut kita untuk menerimanya.

nah, Buddhism sendiri menuntut kita ke arah mana ? jika jawabannya adalah keyakinan,
maka ada hal didalam Buddhism sendiri yg tidak bisa kita buktikan/tindak lanjuti secara
sistematis/logis dan bagaimana cara kita untuk melewati/menghadapi batasan tersebut ?

mohon sharingnya

Quote from: Kelana on 18 July 2007, 10:02:29 PM


Apakah Buddhism mencakupi science ? atau sebaliknya Apakah Science mencakupi
Buddhism ? Saya rasa tidak keduanya. Buddhisme dan sains adalah saling melengkapi.
60

wah jawaban yg mantap

Posting Sdr. Tula


wuiw topic ini keren banget .. sip sip .... 1 topic yg bikin aku baca dari siang sampe
malam di dhammacitta

mau ikutan nimburung dikit neh ... kalo mengenai deva dll

Quote from: elsol


Dewa itu menurut loe ada gk? apakah berdasarkan belief? oh itu kalo loe emank iyah kale
yak!! but kalo bagi gw Dewa itu dah gw buktikan! emank gw gk pernah liat sendiri kalo
dewa itu ada..

hmmm kalo dari pendapat seperti ini agak sulit diterima jg .. di tetangga2 jg banyak yg
bilang ..si a bisa bahasa malaekat ... dia lagi kongkow ama si malaekat Xxx (emang ada
malaikat xxx xixixixixixixi kerja nya mbokep molo ntar kekekekekeke), kecuali tula
rasain sendiri liat itu deva ..

Quote from: morpheus


anda betul, tapi demikian juga dengan "analisa" suatu musibah akibat karma. mungkin itu
rasa bersalah, mungkin itu psikologis, mungkin kebetulan... tidak membuktikan adanya
hukum karma. kita sebagai buddhis cuman percaya (bukan tahu) bahwa itu adalah hasil
karma. apakah beda?

------------------------

sekali lagi, saya tidak mempermasalahkan prinsip ehipassiko ataupun cara berpikir
buddhis. jangan salah mengerti dengan point saya sejak awal.

bisakah saya simpulkan dari tulisan anda di atas bahwa sampai saat ini belief agama
buddha cuman bisa dianalisa (alias dipikir2in sendiri). blom ada buktinya, karenanya
blom bisa dikatakan ilmiah. tul gak

kalo mengenai hukum karma ini ..kita isa pake pemikiran seperti ini kira2 ... lo tau
E=mc^2 ? rumusnya einstein ? apa kah rumus itu uda bisa di buktikan secara nyata ? jgn
sulit2 buktiken ... c^2 aja masi terlalu sulit utk di terapkan di dunia ini ... tp apakah kamu
percaya bahwa rumus yg diajarken oleh einstein ini ? bahkan di sekul2 pasti diajarkan ?
61

kondisi skrg masi lom memungkinkan utk membuktikan rumus ini .... tp who knows 100
th lagi ? begitu pulalah hukum karma ..skrg ini kondisi masi belon memungkinkan utk
pembuktian ... tp setidaknya menurut tula ini hukum karma jau lebih masuk akal dan adil
dari pada hukum surga neroko

menurut aku .. betul .. sampe skrg karma masi cuman percaya karena emang masi lom
bisa di buktikan sama seperti rumus di atas ... tp percaya nya ga asal percaya gitu ... (ya
opo sih ngomong nya)
kira2 seperti yg dikatakan Kalyanadhammo (sulit banget nulis ini )

Quote
Kembali soal Bumi. Grin
Pada saat orang pertama kali menemukan teori tersebut dia tidak mempunyai bukti,
dokumen bahkan dokumen tersebut dia sendiri yang membuatnya dan pada zaman dulu
memang ada foto? GrinTapi dia punya dasar. Kalau seperti itu Buddhis juga ada
dokumen yaitu tipitaka

kenapa ya kok kapal nya semakin jau dari bibir pantai makin cuman keliatan bendera
atasnya doank (bumi bulet) kenapa ya kok yg baru2 lair cacat, mokat, yg baik ikut mokat
dll (contoh2 yg biasa di pake utk menerangkan ke tetangga)

CMIIW ... IMO dari seorang yg cuman baca2 doank


tolong di benerin kalo ada pandangan tula yg salah .....

Posting Sdr. Mopheus


Quote from: Kelana on 18 July 2007, 07:42:52 PM
Belief tidak sama dengan percaya, tidak sama dengan iman. Percaya dan Iman tidak
memerlukan bukti apapun.

Belief = keyakinan. Dan keyakinan diperlukan bukti.

Logika tidak identik dengan sains.

Bhante Brahmavamso menjelaskan bahwa sains modern kadang kala mengingkari


patokan-patokan yang ia tetapkan sendiri. Dan pengukur dalam sains kadang kala
berubah-ubah. Sains modern sampai sekarang belum bisa menetapkan ukuran mengenai
kematian. (adanya kasus orang yang telah dinyatakan mati secara medis tetapi bangkit
lagi)

eh, bang kelana, ini post buat saya? saya gak tau bagian mana yg anda tanggapi...
62

Posting Sdr. Dharmakara


huehueheu... coba buktikan siapa sih suppliernya emas perak berlian di alam dewata....

kalo bisa dibuktikan oleh para ilmuwan, maka saya sembah tuh ilmuwan !!!!

Quote from: Kelana on 18 July 2007, 10:02:29 PM


Quote from: dhanuttono on 18 July 2007, 09:15:08 PM
mengapa percaya dan iman tidak bisa dibuktikan atau tidak memerlukan bukti ? mengapa
belief/keyakinan perlu dibuktikan ?
Sdr. Dhanuttono, saya tidak mengatakan percaya dan iman tidak bisa dibuktikan, tetapi
tidak memerlukan bukti. Karena percaya dan iman tidak terdapat penyelidikan lebih
lanjut dan bukti sebagai hasilnya. Contoh: ketika teman kita mengatakan bahwa tadi ia
melihat kecelakaan kereta api dan setelah mendengar kisahnya kita langsung meng-iya-
kan dan menerimanya, menganggapnya sebagai benar apa adanya, tanpa penyelidikan
lebih lanjut maka kita disebut percaya padanya. Ini disebut rasa percaya atau iman.

Berbeda dengan keyakinan. Setelah mendengar kisah dari teman tersebut, kemudian kita
menindaklanjuti dengan menyelidiki apakah benar atau tidak, melihat ada atau tidak
kecelakaan tersebut, dls. Dan baru kemudian setelah ada fakta bahwa misalnya ada kereta
api yang menabrak truk, dan kita baru meng-iya-kan dan menerimanya, maka ini disebut
keyakinan. Keyakinan adalah sesuatu yang pasti, jadi butuh hal-hal yang sebenarnya
terjadi, misalnya fakta.

Quote from: Kelana on 18 July 2007, 07:42:52 PM


Apakah Buddhism identik dengan logika ? karena kecendrungan lebih ke arah penalaran
manusia terhadap suatu hal.

Apakah Buddhism mencakupi science ? atau sebaliknya Apakah Science mencakupi


Buddhism ?

Apakah Buddhism identik dengan logika ? tidak juga.

Seperti yang anda katakan bahwa merupakan kecendrungan lebih ke arah penalaran
manusia terhadap suatu hal. Dalam pandangan saya, ketika manusia sudah mengetahui
hakikat segala fenomena, maka semuanya menjadi logis bagi dirinya, sesuai dengan
nalarnya. Tapi bagi mereka yang belum mengetahui hakikat segala fenomena maka ada
beberapa fenomena yang tidak masuk akal bagi dirinya.
63

Apakah Buddhism mencakupi science ? atau sebaliknya Apakah Science mencakupi


Buddhism ? Saya rasa tidak keduanya. Buddhisme dan sains adalah saling melengkapi.

HALAMAN 4
Posting Sdr. Dhanuttono
Quote from: Dharmakara on Yesterday at 12:03:24 PM
huehueheu... coba buktikan siapa sih suppliernya emas perak berlian di alam dewata....
kalo bisa dibuktikan oleh para ilmuwan, maka saya sembah tuh ilmuwan !!!!

kalo ga salah toko di alam dewata hahaha.... jangan disembah tuh ilmuwan, nti tuhan
marah loh... menyembah selain ke dirinya...

Posting Sdr. Morpheus


Quote from: Kelana on 18 July 2007, 10:02:29 PM
Ini disebut rasa percaya atau iman....
Berbeda dengan keyakinan. Keyakinan adalah sesuatu yang pasti, jadi butuh hal-hal yang
sebenarnya terjadi, misalnya fakta.

istilah kita beda bagi saya, belief = iman = percaya = yakin = faith
percaya != tahu atau know

saya suka pembedaan istilah:

believing the path


knowing the path
walking the path

patipati, pariyati, pativeda

Posting Sdr. Morpheus


Quote from: tula on 18 July 2007, 11:27:22 PM
kalo mengenai hukum karma ini ..kita isa pake pemikiran seperti ini kira2 ...
lo tau E=mc^2 ? rumusnya einstein ? apa kah rumus itu uda bisa di buktikan secara nyata
? jgn sulit2 buktiken ... c^2 aja masi terlalu sulit utk di terapkan di dunia ini ... tp apakah
64

kamu percaya bahwa rumus yg diajarken oleh einstein ini ? bahkan di sekul2 pasti
diajarkan ?

rumus itu udah terbukti sewaktu bom hiroshima dan nagasaki meledak...

Quote from: tula on 18 July 2007, 11:27:22 PM


begitu pulalah hukum karma ..skrg ini kondisi masi belon memungkinkan utk
pembuktian ...
... menurut aku .. betul .. sampe skrg karma masi cuman percaya karena emang masi lom
bisa di buktikan sama seperti rumus di atas ... tp percaya nya ga asal percaya gitu ... (ya
opo sih ngomong nya)

bedanya, pada sains, mereka mendasarkan teorinya pada suatu fenomena dan teori2
sebelumnya yg sudah terbukti. sedangkanya agama menerima suatu kebenaran, dengan
dasar.... itu ada di buku sucinya hehehe...

Quote from: tula on 18 July 2007, 11:27:22 PM


kenapa ya kok yg baru2 lair cacat, mokat, yg baik ikut mokat dll (contoh2 yg biasa
di pake utk menerangkan ke tetangga)

alasan seperti itu masih gak bisa diterima di kalangan ilmiah...

kalangan ilmiah biasanya mendasarkan penilaiannya pada prinsip occam's razor, yg


mengatakan penjelasan yg paling sederhana itu biasanya yg paling benar...

jadi misalnya tula samar2 melihat dua mahluk kecil ijo matanya gede, maka sains
cenderung mengambil kesimpulan tula salah liat atau kena ilusi optik atau halusinasi,
ketimbang tula melihat alien dari planet xyz, kecuali ada fakta2 baru.

jadi dalam kasus bayi lahir cacat dan yg baik mati duluan, sains cenderung mengambil
kesimpulan yg paling sederhana, yaitu karma itu gak ada, yg ada hanyalah sebab2 fisik
(pembuahan yg gak sempurna, kekurangan hormon anu, nutrisi yg gak seimbang, dll) dan
semuanya hanyalah kebetulan.

Posting Sdr. Ryu


Kalau iman : hujan berasal dari mana? Dari Tuhan (habis perkara) kalau keyakinan:
hujan berasal dari mana : oh ada hukum sebab akibat (air laut menguap dll dll dan baru
yakin sebab akibat, bukan iman yg membabi buta.

Posting Sdr. Kalyanadhammo


65

@Morpheus
Cust for confirmation. Biasanya untuk Kalangan ilmiah mereka tidak mengambil
kesimpulan terlebih dahulu. Biasanya mereka bereksperimen terlebih dahulu baru
mengambil kesimpulan.
Bahkan ilmuwan masih ada yang tetap meneliti alien, penyembuhan dengan doa, dll.

regards.

Posting Sdr. Mopheus


bang kalyana, maafkan keterbatasan kata2 saya untuk menerangkan occam's razor. bisa
dibaca di sini: http://en.wikipedia.org/wiki/Occam's_Razor
66

Topik 6
Mengapa Beragama Buddha?

HALAMAN 1

Posting Tan
Namo Buddhaya,

Saya kira topik usulan Sdr. Surjadie juga bagus sekali. Oleh karena itu, saya hendak
membuka topik baru untuk dimasukkan dalam e-book. Adapun topik itu membahas
mengenai beragama dan Tuhan.

Sebagai pembuka, pertanyaannya adalah seperti yang diusulkan oleh Sdr. Surjadie:

1.Kebanyakan orang mau beragama karena percaya Tuhan. Mereka percaya bahwa
Tuhan tersebut Mahakuasa yang menciptakan alam semesta. Seberapa banyakkah orang
yg lebih percaya hukum karma ketimbang percaya Tuhan?

Pertanyaan berikutnya berasal dari saya:

2.Di tengah-tengah negara yang mengajarkan konsep Ketuhanan ala agama lain,
semenjak kecil kita diajarkan untuk menganut keyakinan terhadap Tuhan menurut agama
lain. Bagaimana perjalanan spiritual rekan-rekan sekalian dalam memahami konsep
Buddhis tentang Tuhan?

Atau barangkali ada usulan pertanyaan lainnya.

Metta,

Tan

Posting Langit Biru


wew.. itu topik di milis ya? *ga ngikutin*

1. wah.. sptnya udah banyak tuh yg percaya hukum karma, bahkan yg bukan buddhist
*baca dr forum2 curhat gitu deh* namanya sih ga selalu karma, kadang ada yg nyebut
"gw ga percaya karma, tp gw percaya tabur-tuai" ..yeah..sama aja lah
67

2. dulu waktu kecil, ga pernah pusing2 mikirin tuhannya kristen ama tuhannya buddha
sama apa ngga. cuman dulu, pernah diceritain ama nyokap ttg pengalaman bliau wkt blm
milih agama, n bagaimana bliau mempertanyakan konsep tuhan itu dan mnrt bliau
banyak kontradiksi. wkt smp aja,mulai baca kitab suci agama lain, dr depan sampe
belakang, n ga sreg ama konsep itu. trus baca2 buku agama buddha, baru mulai ngerasa
cocok dgn konsepnya, dan lebih2 lagi ketika mulai belajar meditasi. pengalaman meditasi
ini yg banyak bikin "ngerti" ajaran buddha dgn lbh mendalam (dan berguna pula efeknya
untukkehidupan sehari2).

Posting Kemenyan
Tuhan hanyalah Pelarian dari ketidakmampuan diri,
Orang-orang berkata, dalam keheningan malam...
Merenungi diri, mendengarkan suara hati...
dan secara gak sengaja menjumpai sosok Tuhan...

Namun, bagi saya itu bukan sosok Tuhan,


Itu adalah Titik Samadhi, dmana pada kondisi tersebut kita merasa nyaman, aman dan
tentram...
pada titik tersebut kita menyadari betapa tidak berartinya kita sebagai manusia,

dalam agama samawi, hal ini dianggap suatu kelemahan manusia, dan Tuhan dalam
agama samawi menangkis perkataan Dia yg Maha Kuasa,
Ikutilah... Maka Surga Bagimu... Berpaling... ? Neraka Bagimu...
Itu Tuhan..., atau preman... ?

Namun dalam Buddhism, hal ini dianggap suatu kemelekatan,

Kita melekat pada kehidupan, dan berusaha untuk bisa lepas dari roda samsara
(kehidupan)

Neraka Republik Indonesia berdasarkan Pancasila, "Ketuhanan YME" Ketuhanan pada


konsep Buddhism adalah: "Ada sesuatu yg MUTLAK, Tidak terlahirkan, Tidak
tercipta..."

Inilah mengapa Buddhism diterima di Indonesia, Bukan karena sesosok "Tuhan"...

tanpa bermaksud menjelek-jelekan kepercayaan orang lain, Kepercayaan mereka juga


perlu dihargai, Apakah itu Nabi/Wahyu/Pemuka Agamanya... Sebab... Biar
bagaimanapun mereka telah mengusahakan "meluruskan" jalan orang lain, Walaupun
dengan embel2x "Tuhan"...

Amat-amat disayangkan kalao kita jadi menganggap "Tuhan" sebagai kelemahan mereka,
dan memperdebatkan (dengan memojokan) konsep Ketuhanan mereka...
68

Posting Ryu
Ya di agama lain juga ada Hidayah, Tabur tuai Lahir Baru yang konsepnya menyerupai
konsep Buddhist walaupun agak berbeda pandangannya.

Quote
tanpa bermaksud menjelek-jelekan kepercayaan orang lain, Kepercayaan mereka
juga perlu dihargai, Apakah itu Nabi/Wahyu/Pemuka Agamanya... Sebab... Biar
bagaimanapun mereka telah mengusahakan "meluruskan" jalan orang lain,
Walaupun dengan embel2x "Tuhan"...
Amat-amat disayangkan kalao kita jadi menganggap "Tuhan" sebagai kelemahan
mereka, dan memperdebatkan (dengan memojokan) konsep Ketuhanan mereka...

Sebenarnya bukan memojokkan dan menganggap "Tuhan" sebagai kelemahan mereka,


tapi memberikan pandangan menurut agama Buddhist toh Sah sah saja, juga untuk
memberikan pengertian dan pandangan Miskonsepsi yang bahkan umat Buddhistpun
banyak yang tidak mengetahui dan tercampur dengan budaya yang ada.

Posting Sdr. 7th


ok, gw ikutan sharing dikit deh...

1. gw termasuk yang percaya karma

tapi murni karma yang bekerja karena hukum alam, bukan karena tuhan... sebagian orang
percaya karma, tetapi juga yakin karma dikendalikan oleh tuhan... menurut gw itu bukan
percaya karma yang sesungguhnya, tetapi hanya sebatas konsep tabur-tuai sesuai campur
tangan dan penilaian dari tuhan mereka... karma sendiri menurut w lebih dalam dari
sekedar tabur-tuai...

2. perjalanan gw memahami konsep tuhan dalam Buddhisme terbilang tidak terlalu


mulus... meski akhirnya agak lancar... terlahir di keluarga konghucu yang gak mengenal
Dhamma sama sekali... disekolahkan di sekolah kristen sejak tk sampe smp, dan selama
itulah gw ke gereja dan diajari injil... selama diajarkan injil itu gw ga pernah mau masuk
kristen, hanya karena menganggap itu berbeda dari yang dianut keluarga gw... memasuki
bangku kuliah sempat terpikir masuk ke kristen, dan memilih mata kuliah agama
kristen... tetapi dari dosen bersangkutan masih mewajibkan untuk mencatat khotbah di
gereja untuk mendapatkan nilai, gw terlanjurr muak akan hal ini yang udah gw lakuin
selama sembilan tahun dulu... makanya gw keluar dari kelas itu dan tahun depannya
mengambil mata kuliah agama Buddha...
69

awal belajar masih ogah"an... ngobrol di kelas... bisa dibilang apa yang diajarkan di kelas
ga ada satu pun yang gw tangkep... untung ada sesi sharing Dhamma sore hari di vihara
bersangkutan... hanya karena pdkt cewe, gw ikutan sesi sharing itu... berbentuk diskusi...
saya pertama kali menanyakan, "Siapakah tuhan dalam agama Buddha? adakah tuhan
dalam agama Buddha?"... pertanyaan gw dijawab dengan, "mengapa kamu ingin tahu?"
gw jawab, "pengen aja" dijawab, "nanti pada saatnya kamu akan menemui tuhan
sesungguhnya"

ini benar" bikin gw penasaran... dengan tujuan mencari tahu tuhan tersebut, sejak itu gw
mulai banyak membaca naskah Buddhisme... beberapa senior yang gw tanya hal sama
memberikan jawaban sama... pemahaman gw yang terkekang ajaran injil sangat
menyulitkan untuk memahami Buddhisme... selama hampir 2 tahun memahami bahwa
'sosok tuhan itu ada tetapi tidak dapat mencampuri urusan manusia'... sangat keliru
memang. hingga akhirnya seorang temen dengan lugas menjawab, "tuhan tidak ada"...

awalnya gw pikir ini konsep yang cukup gila... tetapi penasaran dengan jawaban tersebut,
gw semakin memperbanyak membaca tentang Buddhisme dan mencoba selalu ber-
Ehipassiko... awalnya gw agak takut mempercayai bahwa tuhan itu tidak ada... hampir 3
tahun bingung, akhirnya gw bisa mencerna sedikit tentang tuhan itu... dan mulai berani
mangambil langkah...

wah, kepanjangan yah? inilah sharing gw yang 'sedikit'

Quote
Kemenyan
Tuhan hanyalah Pelarian dari ketidakmampuan diri, Orang-orang berkata, dalam
keheningan malam...
Merenungi diri, mendengarkan suara hati... dan secara gak sengaja menjumpai sosok
Tuhan...

gw setuju banget...
kadang gw masih merasa 'kesepian' di saat gw bermasalah, gw ga punya 'sosok' buat
berlindung... tapi dengan demikian, gw merasa semakin kuat dalam menghadapi masalah
sendirian...

Posting Sdr. Hedi Kasmanto


70

Quote from: 7th on 14 July 2007, 12:50:57 AM


ok, gw ikutan sharing dikit deh...
Quote
Kemenyan
Tuhan hanyalah Pelarian dari ketidakmampuan diri,
Orang-orang berkata, dalam keheningan malam...
Merenungi diri, mendengarkan suara hati...
dan secara gak sengaja menjumpai sosok Tuhan...

gw setuju banget...
kadang gw masih merasa 'kesepian' di saat gw bermasalah, gw ga punya 'sosok' buat
berlindung... tapi dengan demikian, gw merasa semakin kuat dalam menghadapi masalah
sendirian...

Mengapa ya.. Mau beragama Buddha

Posting Sdr. Ryu


Oh iya tambahin nih buat materi pertanyaan sdr. Tan
Bagaimana Sejarah / Asal usul Agama dan pengertian agama itu sendiri juga asal usul
Tuhan?

Posting Sdr. Hedi Kasmanto


Quote from: ryu on 14 July 2007, 10:15:41 AM
Oh iya tambahin nih buat materi pertanyaan sdr. Tan

Bagaimana Sejarah / Asal usul Agama dan pengertian agama itu sendiri juga asal usul
Tuhan?

A History of the Concept of God


71

klik judul untuk menuju link lokasi

Is the Universe wholly apart from God, or is Creation in some sense, a


part of God? Is God solely One in nature, or is there a Threeness, or a
Manyness, or an Infinitude to God? Is God knowable or beyond
knowledge? Is God personal or impersonal? Does God have feelings?
Billions of people have had an opinion on these matters, and that's the
subject of this groundbreaking book. Those who depend upon the
unshakeableness of their beliefs may find this book upsetting or worse,
but to those who consider and question their faith, Karen Armstrong's
A History of God will be challenging and illuminating, and perhaps, as I
found it, even thrilling.

The title goes for brevity over accuracy. Perhaps it could have been
titled “A History of the Idea of God in Judaism, Christianity and Islam,”
but that would have lacked panáche, to say the least. Armstrong
concentrates on the changes in the concept of God, particularly the
unique aspects of monotheistic theology, for instance, God as separate
from Creation, God having a “personal” nature, and so forth. religious
cultures in conflict

Armstrong makes theological history simply fascinating. Beginning


with the evidence for near-universal worship of a Sky God in
prehistory, Armstrong traces the shift from the Sky God to the Earth
Mother to polytheism, and then focuses on the revolutionary
development of Abraham's faith in one God which would clash with
Canaanite, Egyptian, and Mesopotamian paganism for the next 1500
years. Many Christians interested in objective Biblical scholarship are
72

familiar with the “Documentary Hypothesis” of the Pentateuch


stemming from sources J, E, P, and D. Yet never have I seen an
attempt to reconstruct the history and interplay of these perspectives
throughout ancient Israel and the surrounding regions, and not in my
wildest dreams would I have imagined it would be so illuminating...

For instance, Armstrong shows the revolutionary effect of the prophets


in Judaism, beginning with Isaiah, at the time when the J and E
material was still being written. She shows that prophetic Judaism was
an “Axial religion,” a development of the Axial age when cities became
the centers of culture in Asia and the Mediterranean. Other Axial
religious developments included the teachings of Socrates, Plato,
Zoroaster, the Upanishadic sages, the Buddha, Lao-tse, and Confucius.
These all taught a universal ethic, insisting that God or the Absolute
needed no temple, transcended all, was accessible to or within
everyone, and that compassion was the highest virtue.

The prophets' teaching that “God desires mercy, and not sacrifice,”
was in sharp contrast to the priestly, Temple-based establishment,
which insisted the Temple was the ultimate dwelling on God on Earth,
having chosen the Israel out of all the nations. (This was the beginning
of a clash which would endure until John the Baptist and the ministry
of Jesus.)

But this is just the beginning. Instead of specializing on a single


religion or period in time, Armstrong boldly takes up all the threads of
theology throughout the four millennia of the monotheistic religions.
With them, she weaves a tapestry of our collective religious experience
which can help us understand our faith and ourselves better.
Subsequent chapters focus on the life of Christ, early Christian
theologies, understandings (and misunderstandings) of Trinity, the
influence of Greek philosophy upon Christianity and Islam, mysticism,
the Reformation, the Enlightenment, and Fundamentalism. three
Persons or three personae?

A special treat is her insight on Trinitarian thought. It was a surprise to


learn that the term “persons” in “One God in three Persons” came from
the Latin word personae, referring to the masks of characters in a
drama. Personae was the Latin translation of the Greek word
hypostases, "expressions." The different words used in Greek and
Latin to describe the Trinity reflected (and influenced) very different
73

understandings of God's nature. For the Eastern bishops, the Trinity


described how One God, whose essence (ousia) is mysterious,
ineffable, utterly beyond and above being known or described in any
way, imparts his energies (energeia) to Creation through the
expressions (hypostases) of Father, Son, and Holy Spirit. In other
words, the Eastern view of the Trinity reconciled knowledge of God as
both personal and beyond personal, knowing and loving in his
expressions, and yet beyond any human conception at all in essence.
Have you ever heard it like that before? world-wide paradigm shifts

Brilliant also is her ability to relate the historic phenomena of


mysticism, reformation, rationalism, and fundamentalism beyond just
the Christian perspective, into a world-wide perspective simultaneously
developing in all “the religions of God.” Her revelation that the
Reformation was not just a Protestant reformation, but a universal one
is a brilliant example. As the printing press spread, the authority of the
written word took on unprecedented dimensions. Galileo, she points
out, was condemned by the Catholic Church not because his
heliocentric universe conflicted with any doctrine or dogma, but
because it contradicted an extremely literal reading of the Bible.

Especially helpful is her knowledge about Islamic history with revealing


treatments on philosophical and mystical eras in Islam, before the
relatively recent phenomenon of Islamic Fundamentalism. It was
fascinating to learn that some Sufi schools were so devoted to Jesus
that they adapted the Shahada to “there is no God but God, and Jesus
is His Prophet."

Despite five well-earned frims, A History of God has minor but


significant flaws: Awkward sentences abound, and her lack of direct
experience with conservative American Protestantism makes her
disdain for it seem less than objective. Furthermore, errors like
“Maurice Cerullo” (i.e. Morris Cerullo) make it feel insufficiently edited,
particularly in the age of the Internet. However, none of these are
fatal flaws by any means; Armstrong has created a landmark work,
undoubtedly unique in its combination of depth and scope. What can I
say, but read it!

« Last Edit: 14 July 2007, 11:14:18 AM by Hedi Kasmanto


74

Posting Tan
Quote from: 7th on 14 July 2007, 11:58:38 AM
yah...

btw buku history of god udah ada yang baca?

bagaimana?

eh, oot dikit yah (sayang, kalo dibuatin tred lagi buat nanya ini doank)...ada yang tahu
biografi Y.M. A.L De Silva? Apakah beliau dulunya kristen? (sehubungan dengan buku
beyond belief)

maap oot, makasih

Buku History of God saya sudah baca, yang tulisannya Karen Armstrong ya? Bukunya
sangat bagus. Saya sampai baca beberapa kali. Beliau sudah mengarang lanjutannya, tepi
judulnya lupa. Kalau buku "History of God" dititikberatkan pada agama samawi, maka
buku sambungannya ini lebih menitik-beratkan pada agama-agama "Timur," seperti
Buddha, Hindu, Dao, dan Konghucu. Saya kira juga sama menariknya.

A.L. De Silva memang dulunya umat Kristen.

Metta,

Tan

Posting Tan
Quote from: ryu on 14 July 2007, 10:15:41 AM
Oh iya tambahin nih buat materi pertanyaan sdr. Tan

Bagaimana Sejarah / Asal usul Agama dan pengertian agama itu sendiri juga asal usul
Tuhan?

Sebenarnya definisi agama sendiri masih belum ada kesepakatan. Kalau di Indonesia, jika
tidak salah definisi agama adalah:

1.Pengakuan terhadap Tuhan YME.


2.Adanya kitab suci
75

3.Adanya nabi

Kalau definisi ini yang kita pakai, maka agama suku tidak dapat lagi disebut agama.
Inilah yang jadi masalah.
Oleh karena itu, ada sumber yang mengatakan bahwa kita tidak menggunakan istilah
agama Buddha, melainkan Buddha Sasana. Sebenarnya saya melihat bahwa daya tahan
dan kesetiaan umat Buddha sungguh besar. Coba kita bayangkan, sedari kecil kita banyak
dicekoki konsep2 tentang Tuhan yang berbeda dengan pandangan Buddhis, tetapi
akhirnya kita tetap dapat memahami konsep Ketuhanan Buddhis. Ini sangat luar biasa.
Karena untuk lepas dari suatu konsep yang ditanamkan sejak kecil sungguh sulit. Dulu
waktu saya belajar Buddha Sasana untuk pertama kali, tidak begitu mudah untuk
melepaskan diri dari konsep Tuhan ala agama lain.

Demikian sekedar sharing dari saya.

Metta,

Tan

Posting Sdr. Ryu

Quote from: Tan on 14 July 2007, 10:04:37 PM


Quote from: ryu on 14 July 2007, 10:15:41 AM
Oh iya tambahin nih buat materi pertanyaan sdr. Tan

Bagaimana Sejarah / Asal usul Agama dan pengertian agama itu sendiri juga asal usul
Tuhan?

Sebenarnya definisi agama sendiri masih belum ada kesepakatan. Kalau di Indonesia, jika
tidak salah definisi agama adalah:

1.Pengakuan terhadap Tuhan YME.


2.Adanya kitab suci
3.Adanya nabi

Kalau definisi ini yang kita pakai, maka agama suku tidak dapat lagi disebut agama.
Inilah yang jadi masalah.
Oleh karena itu, ada sumber yang mengatakan bahwa kita tidak menggunakan istilah
agama Buddha, melainkan Buddha Sasana. Sebenarnya saya melihat bahwa daya tahan
dan kesetiaan umat Buddha sungguh besar. Coba kita bayangkan, sedari kecil kita banyak
dicekoki konsep2 tentang Tuhan yang berbeda dengan pandangan Buddhis, tetapi
76

akhirnya kita tetap dapat memahami konsep Ketuhanan Buddhis. Ini sangat luar biasa.
Karena untuk lepas dari suatu konsep yang ditanamkan sejak kecil sungguh sulit. Dulu
waktu saya belajar Buddha Sasana untuk pertama kali, tidak begitu mudah untuk
melepaskan diri dari konsep Tuhan ala agama lain.

Demikian sekedar sharing dari saya.

Metta,

Tan

Justru saya melihat kebanyakan teman2 saya malah berpindah ke agama lain karena
alasannya ikut pasangannya. Apa karena Agama Buddha terlalu lunak sehingga mudah
terpengaruh oleh ajaran lain. Kalau pengalaman saya Justru mengenal agama Buddha
dengan mencari sendiri dari buku2 dan sekarang dari internet bukan dari ceramah / dari
vihara, padahal waktu SMA saya sekolah Buddhist tapi saya tidak mau mengenal
Buddhist justru lama setelah keluar SMA itu baru mengenalnya.

HALAMAN 2
Posting Sdr. 7th
'lunak' dalam artian tidak ada ancaman berat kalo kita berpindah agama...

di samping mereka yang gampang terpengaruh adalah orang" yang pengetahuan Dhamma
nya sangat minim... mereka hanya Buddhis ktp doank, but praktek hanya Konghucu dan
Tao... ketika 'diserang' mereka ga punya landasan kuat buat counter... makanya gampang
kebawa...
pendapat gw seh begini...

Posting Sdr. Ryu


Oh tidak justru yang saya tahu teman saya itu pengetahuan dharma nya dalam lho, dia di
sekolah Buddhist dari SD s/d SMA, lingkungan keluarganya semua Buddhist. Yach
menurut pandangan saya karena "CINTA" mengalahkan segalanya he he he...........

Posting Tan
Quote
77

Justru saya melihat kebanyakan teman2 saya malah berpindah ke agama lain karena
alasannya ikut pasangannya. Apa karena Agama Buddha terlalu lunak sehingga mudah
terpengaruh oleh ajaran lain.

Kalau pengalaman saya Justru mengenal agama Buddha dengan mencari sendiri dari
buku2 dan sekarang dari internet bukan dari ceramah / dari vihara, padahal waktu SMA
saya sekolah Buddhist tapi saya tidak mau mengenal Buddhist justru lama setelah keluar
SMA itu baru mengenalnya.

TAN:

Mungkin sedikit melenceng dari topiknya. Saya akan menanggapi mengenai pindah
agama karena mengikuti pasangannya. Di Vihara saya sebenarnya melihat banyak sekali
pria dan wanita yang belum dapat pasangan. Lalu mengapa justru banyak umat Buddhis
yang mencari pasangan dari keyakinan lain?
Barangkali, ini juga ada hubungannya dengan minimnya sekolah2 Buddhis yang ada,
sehingga akhirnya banyak umat Buddhis yang cari pasangan dari keyakinan lain.
Buddhisme sebenarnya memiliki keunggulan dalam artian mengajarkan kita untuk
mengasah panna dan bukannya mengikuti suatu doktrin yang membuta. Wawasan kita
dikembangkan seluas-luasnya dalam Buddhisme, ini yang tidak didapat dalam keyakinan
lainnya.

Metta,

Tan

Posting Tan
Sdr. Ryu dan 7th yang budiman,

Memang benar bahwa baik orang yang pengetahuan Dhammanya dalam ataupun rendah,
sama-sama berpotensi meninggalkan Dhamma. Ini semua ada banyak faktor. Salah
satunya adalah pasangan hidup. Ini masalah sangat pelik, karena dapat menyebabkan baik
orang yang pengetahuan Dhammanya tinggi atau rendah meninggalkan Dhamma.
Sebenarnya masalah ini dapat diselesaikan misalnya dengan mengadakan perayaan yang
melibatkan para muda-mudi di vihara. Kita boleh saja mencontoh acara yang diadakan
oleh agama tetangga kita, yakni acara hari Valentine; dimana muda-mudi yang masih
belum dapat pasangan dan memang berniat untuk cari pasangan dipersilakan hadir.
Biasanya muda-mudi di vihara mungkin merasa malu untuk saling mendekatkan diri.
Dengan adanya acara yang khusus untuk itu, maka diharapkan bahwa rasa malu mereka
akan hilang.
78

Penyebab lain adalah masalah ekonomi. Hal ini dapat menghilangkan segenap rasio kita.
Kalau ada yang memberikan bantuan dengan syarat meninggalkan keyakinan Dhamma
pada orang yang benar-benar bermasalah keuangannya, tentu sulit bagi mereka untuk
menolak. Ini berlaku pula bagi orang yang dalam maupun rendah keyakinan
Dhammanya.

Metta,

Tan

Posting Sdr. Kemenyan


Quote from: 7th on 14 July 2007, 11:51:49 PM
di samping mereka yang gampang terpengaruh adalah orang" yang pengetahuan Dhamma
nya sangat minim...
mereka hanya Buddhis ktp doank, but praktek hanya Konghucu dan Tao...
ketika 'diserang' mereka ga punya landasan kuat buat counter... makanya gampang
kebawa...
kalau menurut gue bukan karena mereka "Gak bisa counter",
tapi...

Gue coba masukin postingan "CROSS FORUM"


Originally taken from [ Agama Budha di Indonesia BUKAN murni AGAMA BUDHA ]

Quote from: nerazblue


gw mo nanya donk knp sigh [sebagian] kristen benci bgt sm BUddha? trutama CIMED..

Well.. Karena elo ngomonk CIMED, gw langsung bisa nangkep apa yg terjadi...

CIMED (Cina Medan) kebanyakan mempercayai ajaran buddha, namun tidak mengerti
apa itu ajaran Buddha/Dharma,

dan bagi yg kristen (kturunan Chinese) kebanyakan mreka sudah mengikuti ajakan,
dikarenakan orang-tua mreka tidak bisa menjelaskan:
praktek Tao / Kong Hucu (Altar, Dewa-Dewi) dengan benar kepada anak2xnya...

Orang tua mereka umumnya hanya tau itu adalah kepercayaan / budaya... bahkan tidak
sedikit tidak mengerti "mengapa"

Sehingga... ketika manusia mengalami "keraguan" dan "bimbang", dan disuntik


"ajakan"...
79

Ya... geto d... menjadi fanatik... Bahkan bnyk diantara mreka yg saya lihat bahkan
membuang 'Papan leluhur'-nya

Ditambah lagi... di Medan,


Banyak sekolah Methodist (khusus kristen) yang merupakan tempat favourite cimed

Sehingga dari kecil mereka (diluar rumah) sudah mendapatkan ajaran kristen

Mohon maaf, kalao Realita ini rada menyinggung yang Kristen/Katholik


---
Quote from: nerazblue
soalnya bnyak yg CIMED awalnya BUDDHA trs pindah ke Kristen..

Lebih tepat Taoism...

Taoism dan Kong Hucu menghormati orang tua (walaupun dah mokad)
dengan memberikan penghormatan berupa 'Papan Leluhur'
yang prakteknya berupa:

Quote
Why..? apa hanya itu alasannya..? orgtua ga ngerti..?
Kebanyakan ortu-nya percaya dengan hal-hal yg berbau mistis...

Yang tidak bisa diterima anak muda (yang sudah terdoktrin dari sekolah) "Thats
STUPID!!! kayu doank... koq di kasih Dupa..."

Quote
berarti ortu mereka dengan rela apa melepaskan kebudayaan mereka..?
Mau menyalahkan siapa ? mau mempraktekan 'MAGIS / MISTIS'-nya juga diri sendiri
gak mampu (Tidak mendalami TAO sebenarnya)

Quote
kebudayaan buddha bnyak sekali diidentikan dgn Cina apa betul spt itu..?

Benar adanya... karena Buddha adalah Ajaran yg tidak memaksa...


80

Mau dicampur sambel sama kecap juga ga masalah...

Posting Sdr. 7th

hihihi

kk kemenyan nyomot dari tetangga...

yah maksud gw counter bukan dalam artian debat ma mereka... tapi counter ajaran
mereka yang masuk ke pikiran mereka... contoh gampang aja gw neh termasuk yang
disebut tipe cimed di atas...

dulu waktu sd, ketika dibilang penyembah patung/berhala, apa lagi yang bisa gw pikirin
selain bahwa itu adalah benar? pikiran gw belum sampai ke patung adalah wujud
penghormatan... seandainya gw bisa ngejawab seperti itu, so lantas siapa yang gw
sembah? pasti gw kehilangan pegangan...
nah ketika ajaran" mereka dimasukkan ke pikiran gw, pengetahuan dan pikiran gw gak
kuat buat 'meng-counter' ajaran itu benar juga seh kalo dipikir" pada saat itu... gw ga
pernah diajarin dalam 'Buddha' yang gw anut apa yang akan gw capai nantinya,
sedangkan mereka mengiming"inya dengan surga. siapa tokoh panutan gw (dulu benar"
blank, gw sd belum kenal Gotama, dan gw menganggap yang disebut Buddha adalah
tuhan), kalo mereka punya Yesus yang konon katanya sangat baik dan berkorban di kayu
salib menebus dosa kita... di Buddha siapa yang mau berkorban demi dosa kita? dan
masih banyak hal" lainnya yang susah sekali di'counter' pengetahuan gw waktu itu... dan
akhirnya mereka berhasil mengembalikan 1 lagi domba yang hilang

hingga akhirnya memasuki smu gw berhasil lari dari kawanan domba dan sekarang
kembali lagi sebagai Buddhist yang 'lahir baru'

Posting Tan
Quote from: dhanuttono on 16 July 2007, 10:59:31 AM
Quote from: ryu on 15 July 2007, 10:47:25 AM
Tau mungkin RENCANA TUHAN?
apakah itu bukan rencana yg mengatakan bahwa hal/kejadian tersebut sebagai rencana
tuhan ?
apakah tuhan dah umumkan rencana2 nya ? dimana tuh ? ataukah dibisiki neh ?
koq tau itu mungkin rencana tuhan ?

TAN:
81

Sebenarnya istilah "rencana Tuhan" sendiri bertentangan dengan hakeket Tuhan yang
dipahami oleh agama teistik. Mengapa begitu? Karena Tuhan adalah maha kuasa
(Omnipotence), dalam artian apa yang ia inginkan akan langsung terjadi, tanpa perlu
membuat rencana terlebih dahulu. Beda dengan manusia yang harus membuat masterplan
terlebih dahulu, ia harusnya tidak perlu membuat rencana. Begitu berpikir, apa yang
dipikirkannya itu akan terlaksana.
Jadi istilah "rencana Tuhan" itu sebenarnya tidak pernah ada. Ini sekedar pendapat saya.
Oleh karena itu, saya lebih percaya pada hukum karma, dimana nasib ada di tangan kita
sendiri dan bukannya hasil rancangan suatu makhluk adikuasa.

Metta,

Tan

Posting Sdr. Dhanutono

Quote from: Tan on 16 July 2007, 11:20:04 AM


Quote from: dhanuttono on 16 July 2007, 10:59:31 AM
Quote from: ryu on 15 July 2007, 10:47:25 AM
Tau mungkin RENCANA TUHAN?

apakah itu bukan rencana yg mengatakan bahwa hal/kejadian tersebut sebagai rencana
tuhan ?
apakah tuhan dah umumkan rencana2 nya ? dimana tuh ? ataukah dibisiki neh ? koq
tau itu mungkin rencana tuhan ?

TAN:

Sebenarnya istilah "rencana Tuhan" sendiri bertentangan dengan hakeket Tuhan yang
dipahami oleh agama teistik. Mengapa begitu? Karena Tuhan adalah maha kuasa
(Omnipotence), dalam artian apa yang ia inginkan akan langsung terjadi, tanpa perlu
membuat rencana terlebih dahulu. Beda dengan manusia yang harus membuat masterplan
terlebih dahulu, ia harusnya tidak perlu membuat rencana. Begitu berpikir, apa yang
dipikirkannya itu akan terlaksana. Jadi istilah "rencana Tuhan" itu sebenarnya tidak
pernah ada. Ini sekedar pendapat saya. Oleh karena itu, saya lebih percaya pada hukum
karma, dimana nasib ada di tangan kita sendiri dan bukannya hasil rancangan suatu
makhluk adikuasa.
Metta,
82

Tan

hai bro Tan...

mengenai tuhan, bagaimana dengan kasus manusia yg tidak normal seperti idiot/cacat
anggota tubuh/autis dan lainnya yg dilahirkan dalam bentuk demikian ? dikatakan
sebelumnya bahwa tidak ada rencana tuhan, tapi yg ada adalah sesuatu yg terjadi dengan
instan terhadap apa yg diinginkan oleh si tuhan... apakah kasus manusia yg tidak normal
merupakan buah pikiran/keinginan dari tuhan atau bagaimana ? bagaimana pandangan
dari agama K ? (mohon sharingnya, mau tau aja seh, karena kan ex K)

Posting Sdr. 7th


izinkan saya ikutan comel menjawab
itu disebut cobaan dari tuhan, konon katanya tuhan mempunyai rencana besar di balik itu
semua bagi si anak dan keluarganya itu... dikaitkan lagi dengan peryataan kk Tan, tidak
ada rencana, maka seharusnya tuhan tidak perlu berencana dengan memulai memberi
penderitaan pada si anak dan keluarganya... apakah tidak bisa menjalankan rencananya
tanpa mencacatkan orang? so, jika tuhan mengakibatkan anak terlahir cacat adalah suatu
HAL YANG TIDAK PENTING!

Posting Sdr. Dhanuttono


Quote from: 7th on 16 July 2007, 11:57:50 AM
itu disebut cobaan dari tuhan, konon katanya tuhan mempunyai rencana besar di balik itu
semua bagi si anak dan keluarganya itu...

jika itu sebagai rencana tuhan bagi si anak dan keluarganya, seperti apakah rencana itu
?apakah termasuk rencana yg baik atau buruk ? apakah memberikan manfaat dan
kebahagiaan bagi anak dan keluarganya ?

dimana tuhan menyatakan rencana nya, sehingga seseorang dapat meng-klaim atau
menyatakan apa yg ia katakan adalah betul sebagai rencana tuhan ?

Quote from: 7th on 16 July 2007, 11:57:50 AM


dikaitkan lagi dengan peryataan kk Tan, tidak ada rencana, maka seharusnya tuhan tidak
perlu berencana dengan memulai memberi penderitaan pada si anak dan keluarganya...
apakah tidak bisa menjalankan rencananya tanpa mencacatkan orang? so, jika tuhan
mengakibatkan anak terlahir cacat adalah suatu HAL YANG TIDAK PENTING!

nah itu yg dipertanyakan oleh saya, apakah berarti ciptaannya yg gagal (tidak ada QC)
ataukah "tuhan jg manusia" (seperti lagu band serius) yg dapat salah ? jika tidak,
mengapa bisa terjadi ?
83

bukankah dinyatakan bahwa manusia diciptakan sempurna, baik dan indah sesuai rupa
dan gambarnya ? apakah bentuk2 manusia yg tidak normal merupakan salah satu bentuk
rupa dan gambar tuhan ? cuma curiga aja seh

HALAMAN 3
Posting Sdr. 7th
hahaha.... maap kk saya ga bisa jawab pertanyaan ini karena memang TIDAK ADA
YANG PERNAH BISA MENJAWABNYA buat saya... (kalo ada yang bisa silahkan
jawab)

itulah salah satu sebabnya saya berada disini sekarang

Posting Sdr. Ryu


kalau anda mau jawaban kristen ada dialkitab yaitu waktu yesus ditanya sm ga tau lp lg
ada orang buta yg nanya dosa sapa hingga orang itu buta? Apa orangtuanya? Kata yesus
bukan tapi rencana tuhan supaya orang2 bs melihat. Kalau di buddhis ada panca niyama
yg mengatur hukum di dunia ini.

Posting Sdr. 7th


kenapa butuh rencana? kenapa tidak ciptakan aja semua orang bisa melihat...

Posting Sdr. Ryu


Makanya km harus kemasukan Tuhan dulu baru tahu rencana Tuhan itu indah pada
waktunya (jadi kristen mode=on) oh iya sdr Tan bagaimana sdh nambah bahannya? Sy
mau nambah pertanyaannya. Kalau seseorang beragama a apa ada keterikatan dgn
kehidupan masa lalu? Apa bisa di atur kalau misalnya ingin di kehidupan akan datang
jadi buddhist lg? Apakah beragama jg termasuk keterikatan?

Posting Sdr. Dhanuttono


Quote from: 7th on 16 July 2007, 12:23:06 PM
memang TIDAK ADA YANG PERNAH BISA MENJAWABNYA buat saya... (kalo ada
yang bisa silahkan jawab)
84

nah itu dia yg jd pertanyaan, jika memang tidak ada yg bisa menjawab, koq ada orang yg
berani menyatakan hal tersebut ? berarti dia berbohong atas perkataannya ?

jd teringat 10 perintah tuhan, tp menurut ku perlu ditambah kan 1 lg jdnya kan 11


hukum ke-11 : berdusta-lah kamu dalam namaku, maka kamu akan ku tinggikan

mode kidding on

Posting Sdr. 7th


yah saya tidak tau...

daripada memaksa mereka memberikan jawaban yang ga menjawab, mending gw cari


jawaban sendiri... jawaban yang belum tentu benar tapi menjawab...

Posting Sdr. Dhanuttono


Quote from: ryu on 16 July 2007, 01:41:08 PM
Makanya km harus kemasukan Tuhan dulu baru tahu rencana Tuhan itu indah pada
waktunya (jadi kristen mode=on)

kalo bisa kemasukkan tuhan, berarti tuhan sebangsa hantu/setan jg donk... masa ada
tuhan yg nganggur ya ? sekali dia merasuki manusia/berbisik pada manusia, berapa juta
masalah terbengkalai, pada hal tiap detik ada yg memohon pada nya tuh, belum lagi
kerjaan dia menciptakan ini itu (termasuk manusia), mengatur ini itu... dan lainnya

atau manusia cacat/tidak normal itu karena ada tuhan yg nganggur, jd ciptaannya
terbengkalai waktu proses penciptaan terjadi, jd-lah ciptaannya kurang sempurna...
keteledoran tuhan donk

Quote from: ryu on 16 July 2007, 01:41:08 PM


Kalau seseorang beragama a apa ada keterikatan dgn kehidupan masa lalu? Apa bisa di
atur kalau misalnya ingin di kehidupan akan datang jadi buddhist lg? Apakah beragama
jg termasuk keterikatan?

ikutan ya, jika seseorang beragama X apakah ada ketrikatakan dengan masa lalu ? ada
kemungkinan (ini yg biasa kita ketahui) contohnya kita dulu mengenal Buddhism (Ajaran
Buddha) ada kemungkinan di kehidupan-kehidupan selanjutnya menjadi seorang
Buddhist.

tapi yg sempat jd pertanyaan saya (berdasarkan catatan sejarah di dalam Tripitaka)


apakah berjuta-juta tahun yg lalu, bahkan kalpa-kalpa yg dulu ada agama sejenis Samawi
85

jg (berdasarkan apa yg kita ketahui terhadap Buddhism) ? jika tidak ada, mengapa
sekarang ada orang yg beragama Samawi ? apa penyebabnya ? apa bisa jd mereka dulu
adalah penganut agama X, Y, Z dalam artian agama selain Buddhism (contoh pengikut
ajaran pertapa telajang dan yg lainnya) ?

jika saya tidak salah (CMIIW) kita bisa bertekat agar dapat mengenal Buddhism
dikehidupan selanjutnya, tentunya jika kita belum dapat mencapai tingkat kesucian...
karena kekuatan pikiran yg mendorongnya.

contoh yg dapat kita buktikan : apakah kita bisa mengatur bangun pagi tepat jam 5 ? pake
jam waker saja masih bisa ke-bablas-an, betul ? kita setting tubuh kita bagaimana pun
pasti tidak bisa berhasil, tapi ketika kita bertekat untuk dapat bangun jam 5 pagi, secara
tidak sadar, kita akan otomatis bangun pada jam 5 pagi... siapa yg pernah ngalami nih ?

apakah beragama itu berarti keterikatan ? terikat konsep mungkin kali ya, kalo di hapal
bukan di pahami... dan saat ini yg paling parah adalah dogma yg tidak dapat di utak atik.
tapi bisa jg dikatakan keterikatan yg baik, jika dipahami secara baik, begitu jg sebaliknya
menjadi keterikatan yg buruk, jika dipahami secara salah.

tapi ada yg masih diluar jangkauan kita, misalkan hukum kamma/karma, bagi kita yg
belum dapat melihat sendiri kerja hukum kamma/karma, kita terikat konsep
kamma/karma, bahkan kadang kita berspekulasi dengan hasil dari suatu perbuatan
(kamma/karma). Tapi bagi mereka yg sudah dapat melihat sendiri kerja hukum
kamma/karma (kemampuan bathin) mereka tidak terikat konsep kamma/karma textbook
lg (definisi, uraian, contoh2 tentang hukum kamma/karma) tapi muncul pengetahuan
tentang kebenaran yg terjadi.

mohon sharing dan pencerahannya

Posting Sdr. Sumedho


Quote from: dhanuttono on 16 July 2007, 02:18:47 PM

contoh yg dapat kita buktikan : apakah kita bisa mengatur bangun pagi tepat jam 5 ? pake
jam waker saja masih bisa ke-bablas-an, betul ? kita setting tubuh kita bagaimana pun
pasti tidak bisa berhasil, tapi ketika kita bertekat untuk dapat bangun jam 5 pagi, secara
tidak sadar, kita akan otomatis bangun pada jam 5 pagi... siapa yg pernah ngalami nih ?

apakah beragama itu berarti keterikatan ? terikat konsep mungkin kali ya, kalo di hapal
bukan di pahami... dan saat ini yg paling parah adalah dogma yg tidak dapat di utak atik.
tapi bisa jg dikatakan keterikatan yg baik, jika dipahami secara baik, begitu jg sebaliknya
menjadi keterikatan yg buruk, jika dipahami secara salah.
86

tapi ada yg masih diluar jangkauan kita, misalkan hukum kamma/karma, bagi kita yg
belum dapat melihat sendiri kerja hukum kamma/karma, kita terikat konsep
kamma/karma, bahkan kadang kita berspekulasi dengan hasil dari suatu perbuatan
(kamma/karma). Tapi bagi mereka yg sudah dapat melihat sendiri kerja hukum
kamma/karma (kemampuan bathin) mereka tidak terikat konsep kamma/karma textbook
lg (definisi, uraian, contoh2 tentang hukum kamma/karma) tapi muncul pengetahuan
tentang kebenaran yg terjadi.

mohon sharing dan pencerahannya

Bangun sesuai keinginan ? Pernah koq. Kalau pake alarm, bangun sesaat sebelum alarm
berbunyi. Jadi udah angkat alarm ditangan utk matiin, padahal beberapa saat lagi baru
bunyi.

Hukum Kamma itu kalo dibahas apa sebab atau apa akibatnya mah seperti tebak2x buah
manggis deh.

Posting Sdr. Ryu


Kalau bangun jam 5 sy pernah kalau tdk salah alam pikiran bwh sadar yg bekerja. Nah
kalau pikiran alam bawah sadar bgmn menurut buddhist?

Posting Sdr. Dhanuttono


Quote from: ryu on 16 July 2007, 03:09:23 PM
Kalau bangun jam 5 sy pernah kalau tdk salah alam pikiran bwh sadar yg bekerja. Nah
kalau pikiran alam bawah sadar bgmn menurut buddhist?

(CMIIW) jika kita menggunakan contoh sebuah komputer, otak manusia ibaratnya
prosesor yg menjadi pusat pengolahan data, memori merupakan ingatan pada manusia...
nah disini lah letak kita menanamkan segala hal dalam kehidupan kita, baik yg kita sadari
atau tidak.

contohnya : kita membuat statment, bahwa ber-bisnis itu susah dan harus butuh modal yg
besar, jika statment itu trus menerus kita ulang dalam benak/pikiran kita, maka dapat
menjadi sebuah ingatan dan hasil nya adalah kita benar-benar susah untuk ber-bisnis.

contoh lain : anak kecil di katakan bodoh terus menerus oleh orang tuanya, kecendrungan
yg terjadi anak (anak dalam kondisi normal, kecerdasan rata-rata) itu adalah benar-benar
bodoh dalam pelajaran disekolah hingga ia dewasa...

kenapa demikian ? karena kita telah terprogram/terhipnotis tanpa penolakan akan kata-
kata tersebut didalam benak kita, nah dimana letak program yg di-inputkan ke dalam
benak kita ? di alam bawah sadar kita (CMIIW, tingkat kesadaran Delta 1,5 - 4 Hz)
87

ini jg yg mengakibatkan ketika kita bertekat dengan kuat, pernyataan itu tersimpan
didalam alam bawah sadar yg tidak pernah kita sadari dan muncul (sesuatu yg
mengendalikan) tanpa kita ketahui, salah satu contohnya adalah ketika kita bertekat untuk
bangun jam 5 pagi, tanpa kita sadari, kita dapat bangun tepat jam 5 pagi...

jika tidak salah didalam Buddhism disebut sebagai cetana/kehendak/niat

mohon sharing dan koreksinya

Diskusi di forum Dhammacitta akan diakhiri di halaman ketiga.


Kelanjutannya akan dimuat pada jilid selanjutnya.
88

Topik 7
Bagaimana Bila Anak Anda Ingin Menjadi
Bhikkhu?

Posting Sdr. Tan


Milis MUBI. Posting no. 39475, 18 Juli 2007, 2:40 PM

Namo Buddhaya,

Mungkin agak menyimpang dari topik. Jadi bhikkhu khan seharusnya baik. Tetapi
mengapa terkadang orang tua merasa berat hati melepaskan anaknya jadi bhikkhu?
Apakah ini sejenis ego orang tua?

Metta,

Tan

Posting Sdr. Irwanpr


Milis MUBI. Posting no. 39477, 18 Juli 2007, 5:25 PM

Saya rasa banyak faktor Sdr. Tan, saya berharap rekan-rekan lain di milis ini mau berbagi
pandangannya mengenai hal ini. Dari sisi orang tua maupun anak; calon bhikkhu
(bhikkhuni), bhikkhu, maupun mantan bhikkhu kalau ada. Terima kasih sebelumnya.
Kadang masalahnya juga susah-susah gampang. Contohnya saya, Anda bayangkan kalau
dulu tiba-tiba saya bilang ke papah mamah saya bahwa saya mau berhenti dari sekolah
dasar dan jadi bhikkhu aja. Terus orang tua saya yang baik hati tanya alasan saya.
Bagaimana menjelaskan soal lirik lagu yang saya engggak ngerti, papah mamah juga
enggak ngerti, dan bilang ke mereka kalau lagu itulah alasan saya mau jadi bhikkhu?

Posting Sdr. Surjadie


Milis MUBI. Posting no. 39478, 18 Juli 2007, 5:49 PM

Bagaimana kalau sudah punya cucu, kemudian anak kita jadi Bhikkhu? Dengan demikian
masalah menimang cucu nya Sdr. GK sudah selesai. Mungkin ada pandangan yang lain?
Terima kasih.

Metta,

Surjadie.
89

Posting Sdr. Irwanpr


Milis MUBI. Posting no. 39480, 18 Juli 2007, 5:57 PM

Pak Gunawan yang baik,

Sebagai anak yang berbakti, tentu anak Bapak juga ingin melihat papahnya bahagia. Dia
ingin memenuhi harapan-harapan Bapak yang mungkin belum pernah Bapak rasakan,
apalagi hal itu juga baik untuk dirinya.

Tapi semua itu masih berupa harapan-harapan (masa depan) yang belum tiba,
berdasarkan pengalaman-pengalaman (masa lalu) Bapak yang sudah lewat.

Bagaimana jika ternyata anak Bapak menemukan kebahagiaaannya di saat kini, dari saat
ke saat, ketika dia berjalan melakukan pindapatta?

Anak Bapak mungkin merelakan kebahagiaanya demi memenuhi harapan-harapan


Bapak. Sebaliknya apakah Bapak mau merelakan kebahagiaan Bapak demi anak Bapak?

Posting Sdr. Irwanpr


Milis MUBI. Posting no. 39481, 18 Juli 2007, 6:02 PM

Masalahnya mungkin sudah beda lagi Pak: Siapa yang akan membesarkan sang cucu?
Apakah Pak GK setuju untuk menjadi ayah sekaligus kakek bagi sang cucu?

Posting Sdr. Gunawan Kurnia


Milis MUBI. Posting no. 39482, 18 Juli 2007, 8:44 PM

Oalaaah, Surjadie-heng, koq mikirnya cuman sampe situ seh ? Kalo anak saya jadi
bikkhu setelah ngasih cucu buat saya, yang mendidik cucu saya siapa ? Yang ngopeni
menantu saya siapa ? Koq bisa masalahnya dikatakan selesai ? Haiya ... ;)

Kiong tjhioe,

GK

Posting Sdr. Gunawan Kurnia


Milis MUBI. Posting no. 39483, 18 Juli 2007, 8:54 PM

Irwan-heng,

Nggak lah yao. Saya nggak mau jadi ayah sekaligus kakek bagi cucu saya. Karena tugas
ayah dan kakek itu beda. Tugas ayah adalah mendidik anaknya, sedangkan kakek taunya
90

cuman sayang doank sama cucunya. Makanya jangan pernah serahkan tugas mendidik
anak kita kepada kakek dan/atau neneknya. Nanti anak kita bisa kolokan, manja. Karena,
kakek dan nenek taunya cuman sayang sama cucunya. Semua kemauan cucunya dituruti,
termasuk yang aneh-aneh.
Walah ... ;)

Kiong-tjhioe,
GK

N.B.

Irwan-heng,
Nggak sekalian nanya, bersediakah GK menjadi suami sekaligus mertua bagi sang
menantu ?
Heheheh ... ^_^

Posting Sdr. Gunawan Kurnia


Milis MUBI. Posting no. 39484, 18 Juli 2007, 9:08 PM

Irwan-heng,

Tentu saya rela menderita demi anak saya. Waktu anak saya demam tinggi akibat radang
tenggorokan beberapa waktu yang lalu, panas badanya sangat tinggi dan di merintih
kesakitan. Saya nggak tega ngeliat bibirnya yang mungil merintih kesakitan terus
menerus. Dalam hati saya sempat mengeluh, kalo boleh biar saya saja yang menderita
sakit, jangan anak saya. Saya sempet ucapkan kata-kata itu kepada anak saya. Anak saya
pun sempat mengangguik, dia tau meski pun saya sehari-hari cukup galak sebagai bapak,
tapi saya sayang kepadanya.

Tapi berbahagia melihat anak saya pindapatta? Jujur Pak, nggak ada kerelaan saya untuk
melihat hal itu. Maafkan saya Pak.

Kiong-tjhioe,

GK

Posting Sdr. Surjadie


Milis MUBI. Posting no. 39490, 19 Juli 2007, 9:45 AM

Terima kasih atas tanggapan sdr GK. Mikirnya saya memang sederhana saja.... kalau
urusan yang seperti itu. Saya merasa bahagia kalau melihat anak saya hidup bahagia.
Saya juga merasa bahagia kalau melihat menantu dan cucu saya nanti hidup bahagia.....
sepanjang itu berada di jalan Dharma. Setiap orang seyogyanya berjuang mencari
kebahagiaannya tanpa mengurangi kebahagiaan orang lain. Pengorbanan adalah suatu
91

konsekuensi dari ketidakrelaan yang sifatnya relatif. Ketidakrelaan sdr GK adalah suatu
hal yang relatif umum dialami setiap orang tua. Orang yang tidak rela pasti merasa
berkorban. Tetapi orang yang rela tidak akan merasa berkorban, melainkan berjuang.
Saya berusaha menghargai pemikiran setiap orang yang berbeda-beda. Saya berusaha
menghargai perkataan setiap orang yang berbeda-beda. Saya berusaha menghargai
perbuatan setiap orang yang berbeda-beda. Saya dan mereka berbeda mungkin karena
background yang berbeda. Saya harap setiap orang akan dapat saling menghargai.
Semoga sdr GK dapat berbahagia dengan pikiran/perkataan/perbuatan yang dimilikinya.

Metta,

Surjadie.

Posting Sdr. Gunawan Kurnia


Milis MUBI. Posting no. 39491, 19 Juli 2007, 11:33 AM

Surjadie-heng,

Dalam memecahkan suatu masalah, sebaiknya memang disederhanakan, supaya mudah


dicarikan solusinya. Namun kalo terlalu disederhanakan, bisa-bisa tinjauannya nggak
komprehensif, hanya dari satu sudut pandang dan bahkan konsekuensinya tak terpikirkan.
Kalo kita tinjau secara komprehensif, berbagai alternatif bisa kita explore dan berbagai
konsekuensi yang potensial timbul bisa kita antisipasi.
Jadi, ini bukan tentang menghargai pemikiran orang lain, tetapi tentang pola berpikir-nya.
Jangan ngambek lagi ya. Heheheh ... ^_^

Kiong tjhioe,

GK

Posting Sdr. SWLiang


Milis MUBI. Posting no. 39493, 19 Juli 2007, 1:20 PM

Tiap orang memiliki pikiran masing2. Tiap orang memiliki cara bagaimana dia bisa
bahagia.

Anak kita sendiri adalah individu orang yang berbeda dengan kita. Jadi jelas mereka
punya pikiran masing2 dan bagaimana cara dia bisa bahagia. Bahagia yang kita rasakan
belum tentu sama spt yang dia rasakan.

Salam metta,

Suwarno
92

Posting Sdr. Gunawan Kurnia


Milis MUBI. Posting no. 39495, 19 Juli 2007, 2:41 PM

Suwarno-heng,

Memang, yang Suwarno-heng katakan itu betul. Secara logika saya mengerti bahwa
bahagia yang saya rasakan belum tentu sama seperti yang anak saya rasakan, karena anak
saya merupakan individu yang berbeda dengan saya.

Hanya saja, sampe saat ini perasaan saya blom mampu 'menerima' apabila kelak anak
saya menemukan kebahagiaannya dengan menjadi bhikkhu. Ban-ban kamsia buat
masukannya.

Kiong tjhioe,

GK

Posting Sdr. Surjadie


Milis MUBI. Posting no. 39496, 19 Juli 2007, 3:45 PM

Dalam memecahkan suatu masalah, sebaiknya memang komprehensif supaya tuntas


solusinya. Namun kalau terlalu komprehensif, bisa-bisa malahan nggak terselesaikan
masalahnya. Menurut saya yang penting adalah esensinya : setuju atau tidak setuju.
Konsekuensi yang timbul bukan tidak dipikirkan tetapi itu adalah mengikuti esensinya.
Jika esensinya tidak setuju, maka masalahnya bisa kita anggap selesai, tetapi bagi anak
kita yang ingin jadi bhikkhu belum tentu selesai.
Sebaliknya, jika esensinya setuju, maka bagi kita akan banyak konsekuensinya. Hanya
saja konsekuensi itu jangan terlalu didramatisir kalau kita setuju dengan esensinya.
Menghadapi seabrek konsekuensi sendirian memang bisa memancing emosi..... Jangan
sampai kita ngambek .... kalau anak kita mau menjadi bhikkhu. Tetapi memang ngambek
itu adalah perasaan manusiawi yang wajar-wajar saja. Komunikasi yang baik, akan
memungkinkan kita mengetahui pola pikir anak kita. Demikian juga, sang anak akan
mengetahui pola pikir kita sebagai orang tuanya.
Kalau satu masalah dihadapi berdua, barangkali akan lebih mudah menyelesaikannya.
Apalagi jika dibantu seluruh anggota keluarga, barangkali akan menyelesaikan masalah
tsb.

Metta,

Surjadie.

Posting Sdr. Tan


Milis MUBI. Posting no. 39498, 19 Juli 2007, 4:29 PM
93

Hai Bro dan Sis seDhamma!

Ada lagi nih bahan pertimbangan. Kalau memang kita yakin bahwa dalam agama Buddha
diajarkan bahwa menjadi bhikkhu adalah suatu hal yang amat luhur, mengapa kita
keberatan kalau anak kita menjadi bhikkhu? Bukankah kita seharusnya bergembira bila
akan kita ingin mengejar keluhuran tertinggi? Saya sering bingung mengapa orang tua
yang beragama Buddha sendiri, kerap tidak setuju bila anaknya menjadi bhikkhu, padahal
jelas sekali Buddha mengajarkan bahwa hidup ini hanyalah dukkha, anatta, dan anicca.
Bila anak kita ingin lepas dari dukkha, anatta, dan anicca, bukankah cita-cita itu sangat
mulia, bahkan lebih mulia dari menjadi insinyur ataupun dokter? Atau mungkin dalam
alam bawah sadar kita tertanam bahwa seorang bhikkhu itu sesungguhnya bukan sesuatu
yang mulia? Atau mungkin kita sebenarnya tidak benar-benar percaya yang disabdakan
Sang Bhagava? Baik silakan diteruskan diskusinya. Mohon maaf kalau ada kata yang
salah.

Metta,

Tan

Posting Sdr. Gunawan Kurnia


Milis MUBI. Posting no. 39497, 19 Juli 2007, 4:19 PM

Surjadie-heng,

Dunia ini nggak hanya setuju atau nggak setuju lho, abstain boleh 'kan ? Nggak memilih
adalah juga suatu pilihan.

Dunia ini nggak hanya hitam dan putih, abu-abu boleh 'kan ? Merah kuning hijau, boleh
'kan ? Makin banyak warna, makin menarik. Susah kalo pola pikirnya nggak sama
frekuensinya. Tulalit, nggak nyambung. gotjap tambah gotjap, tjepe' deh ... ;)

GK

Posting Sdr. Surjadie


Milis MUBI. Posting no. 39499, 19 Juli 2007, 5:33 PM

Saya setuju dengan pandangan yg disampaikan Sdr Tan. Tinggal bagaimana kita
mengatasi konsekuensinya, seperti dipermasalahkan oleh Sdr Gunawan. Mungkin ini
merupakan PR bagi semua umat Buddha. Bagi saya akan lebih berat kalau anak saya
pindah agama.

Metta,
94

Surjadie.

Posting Sdr. Surjadie


Milis MUBI. Posting no. 39500, 19 Juli 2007, 5:41 PM

Abstain boleh.
Abu-abu boleh.
Warna boleh. Susah dan gampang adanya di pikiran.... ;)
Duit tjepe' kog mau beli baso...?
Kalau sudah cape'.... yah ngaso aja dulu deh.... (^_^)

Metta,

Surjadie

Posting Sdr. Gunawan Kurnia


Milis MUBI. Posting no. 39506, 20 Juli 2007, 3:55 PM

Surjadie :

Tinggal bagaimana kita mengatasi konsekuensinya, seperti dipermasalahkan oleh Sdr


Gunawan.

GK :

Weleh-weleh, gimana ceritanya neh sampe Surjadie-heng bisa ngambil kesimpulan


begitu ? Haiya ... ;)

Kiong tjhioe,

GK

Posting Sdr. Surjadie


Milis MUBI. Posting no. 39507, 20 Juli 2007, 4:46 PM

Ini hanya permainan pikiran saja.......

Simple dianggap tidak memikirkan konsekuensi, padahal konsekuensinya sudah


dijelaskan. Fleksibel dianggap plintat-plintut, padahal esensinya sudah dijelaskan.
Busyet.... deh ... ;).... tapi, yah.... sudahlah. Anda sudah menjadi orang tua yang baik
seperti yang disampaikan Sdr. Suwarno.

Anda sudah menyadari emosi Anda yang tidak rela melihat anak berpindapatta. Jika
orang selalu sadar akan gejolak emosi nya, ini juga sudah baik. Jangan sampai emosi
95

negatif menguasai pikiran/perkataan/tulisan/perbuatan. Jika pandangan saya tidak cocok


dengan cara berpikir Anda, janganlah dipakai. Terima kasih.

Metta,

Surjadie.

Posting Sdr. Surjadie


Milis MUBI. Posting no. 39508, 20 Juli 2007, 5:30 PM

Wah, saya senang nih berdiskusi dengan Sdr GK.

Setiap pernyataan dan tulisan-tulisan saya selalu diperhatikan dan dikritisi. Seperti orang
tuanya, maka anaknya Sdr GK pastilah juga anak yang cerdas dan kritis. Jika keinginan
orang-tua selaras dengan keinginan anak, tentulah tidak masalah. Mudah-mudahan
menjadi lebih jelas. Jika masih belum jelas, bisa ditanya lagi. Semoga penjelasan saya
bisa bermanfaat. Terima kasih.

Metta,

Surjadie.