Anda di halaman 1dari 30

OSILATOR

Tugas Elektronika Komunikasi II


Dosen Pembimbing : Ir. Ahmad Wahyu Purwandi

Disusun Oleh:
Nama : Veronica
Kelas : 2D
No. Absen : 23
NIM : 0831130014

POLITEKNIK NEGERI MALANG


TEKNIK TELEKOMUNIKASI
2010
OSILATOR

Osilator adalah suatu alat yang merupakan gabungan elemen-elemen aktif dan
pasif untuk menghasilkan bentuk gelombang sinusoidal atau bentuk gelombang
periodik lainnya. Suatu osilator memberikan tegangan keluaran dari suatu bentuk
gelombang yang diketahui tanpa penggunaan sinyal masuk dari luar. Osilator
mengubah daya arus seaarh (dc) dari catu daya ke daya arus bolak-balik (ac) dalam
beban. Dengan demikian fungsi osilator berlawanan dengan penyearah yang
mengubah daya searah ke daya bolak-balik. Suatu osilator dapat membangkitkan
bentuk gelombang pada suatu frekuensi dalam batas beberapa siklus tiap jam sampai
beberapa ratus juta siklus tiap detik. Osilator dapat hamper secara murni menghasikan
gelombang sinusoidal dengan frekuensi tetap, ataupun gelombang yang hanya dengan
harmonic. Osilator umumnya digunakan dalam pemancar dan penerima radio dan
televise, dalam radar dan dalam berbagai sistem komunikasi.

TEORI RANGKAIAN
Osilator bisa dibangun dengan menggunakan beberapa teknik dasar, yaitu:
1. Menggunakan komponen-komponen yang memperlihatkan karakteristik
resistansi negatif, dan lazimnya menggunakan dioda terobosan dan UJT
2. Menggunakan umpanbalik positif pada penguat. Umpanbalik positif
menguatkan desah internal yang terdapat pada penguat. Jika keluaran penguat
sefasa dengan masukkannya, osilasi akan terjadi.

PRINSIP DASAR OSILATOR


Dalam suatu osilator, suatu resistansi negatif diberikan untuk kompensasi
kehilangan-kehilangan (kebocoran) dalam rangkaian. Dalam osilator umpan-balik,
umpan-balik positif dari luar cukup untuk membuat perolehan keseluruhan menjadi
tidak terhingga dan memberikan resistansi negatif yang diperlukan untuk
menanggulangi peredaman alami dari osilator. Dalam osilator resistansi negatif terjadi
umpan-balik positif dalam dan berperan menghasilkan resistansi negatif yang
diperlukan. Dalam suatu osilator tidak ada sinyal yang diberikan dari luar. Sinyal awal
untuk menyulut (trigger) osilasi biasanya diberikan oleh tegangan derau. Tegangan
derau muncul sewaktu catu daya dihidupkan. Karena spektrum frekuensi derau sangat
lebar, osilator selalu memiliki tegangan komponen pada frekuensi yang benar untuk
bekerjanya osilator.
Seluruh osilator umpan balik memerlukan beberapa devais atau mekanisme
yang menyediakan penguatan (gain) yang dikombinasikan dengan sebuah susunan
umpan balik. Gambar di bawah ini, menunjukkan diagram rangkaian osilator secara
umum.

Sebuah penguat (amplifier) yang mempunyai penguatan tegangan yang


output dan inputnya dihubungkan melalui rangkaian umpan balik. Ini mengembalikan
sebuah fraksi, dari tegangan output ke input penguat. Catatlah bahwa gain dari
penguat dan faktor umpan balik tergantung frekuensi. Secara umum, baik penguat
maupun rangkaian umpan balik akan mengubah besar dan fasa dari sinyal.
Misal sebuah sinyal fluktuasi:

maka output dari penguat

yang akan menghasilkan sinyal input baru ("echoed")


yang kembali ke input penguat. Ini akan menjadi input baru dimana input baru ini
akan dikuatkan dan akan menghasilkan echo baru pada input dan seterusnya. Setelah
beberapa kali mengelilingi loop, amplitudo dari echo terbaru akan menjadi:

Dengan melihat persamaan diatas, maka jika:

Echo akan berangsur-angsur menghilang. Namun jika kita mengatur :

Ukuran echo cenderung bertambah dengan waktu, atau paling tidak akan tetap
konstan jika kita mengatur

sebagai hasilnya kita menemukan bahwa sebuah sinyal inisial menghasila]kan sebuah
sinyal yang berulang terus-menerus yang amplitudonya tidak hilang:

memberikan bahwa:

dua persamaan terakhir disebut juga "Kriteria Barkhausen" . Beberapa sistem yang
memenuhi kriteria ini dapat berosilasi pada frekuensi dimana kedua persamaan diatas
dapat terpenuhi.
JENIS - JENIS OSILATOR
Osilator dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara. Berdasarkan
pembangkitannya, osilator dibedakan menjadi dua:
1. Self sustaining ( free running oscillator )
2. Nonself sustaining ( triggered oscillator )
Untuk "free running oscillator" terdapat empat kebutuhan agar osilator umpan balik
bekerja:
1. Amplification (penguatan)
2. Umpan balik positif
3. Pembentuk frekuensi
4. Power supply

Tergantung kepada alam bentuk gelombang yang dibangkitkan, osilator dapat


dibagi menjadi dua kategori : osilator sinusoidal atau osilator harmonic dan osilator
relaksasi. Osilator sinusoidal menghasilkan bentuk gelombang sinusoidal atau
mendekati sinusoidal pada frekuensi tertentu. Osilator relaksasi menghasilkan bentuk
gelombang bukan sinusoidal seperti gelombang segiempat dan gelombang gigi-
gergaji.
Osilator dapat pula digolongkan pada alat-alat tertentu yang menghasilkan
osilasi. Pada penggolongan ini, osilator dapat merupakan jenis resistansi negatif atau
jenis umpan balik. Osilator resistansi negatif menggunakan alat aktif yang memproses
lengkung karakteristik arus tegangan dengan kemiringan negatif dalam daerah
operasinya. Dioda kanal merupakan alat resistansi negatif yang digunakan dalam
resistor. Osilator umpan-balik sebaliknya, mempunyai penguat umpan-balik
regeneratif (positif), dimana perolehan lingkar juga diatur sedemikian sehingga
perolehan keseluruhan menjadi tidak terhingga.
Baik osilator sinusoidal maupun osilator relaksaasi dapat merupakan jenis
resistansi negatif dan jenis umpan-balik. Osilator sinusoidal jenis umpan-balik dapat
digolongkan lebih lanjut menjadi osilator LC (indktor-kapasitor) dan RC (tahanan
kapasitor).
Osilator sinusoidal kadang-kadang digolongkan menurut frekuensi sinyal yang
dihasilkan. Jadi osilator yang membangkitkan sinyal dalam daerah frekuensi audio
dikenal sebagai osilator frekuensi audio. Demikian pula, osilator yang menghasilkan
sinyal-sinyal daerah frekuensi radio dinamakan osilator frekuensi radio, dan
seterusnya.
Klasifikasi osilator didasarkan pada daerah frekuensi yang dihasilkan :
1. Osilator Frekuensi Audio (AF) beberapa hz -20 KHz
2. Osilator Frekuensi Radio (RF) 20 KHz - 30MHz
3. Osilator Frekuensi Sangat Tinggi (VHF) 30MHz - 300MHz
4. Osilator Frekuensi Ultra Tinggi (UHF) 300MHz - 3GHz
5. Osilator Gelombang Mikro 3 GHz - Beberapa GHz

1. OSILATOR HARMONIK atau OSILATOR SINUSOIDAL


Bentuk gelombang sinusoidal periodik mempunyai fenomena yang sangat
mirip gerakan bandul-mekanik atau bandul-matematis yang akan berayun ke kiri
dan kemudian ke kanan melalui titik diamnya dengan frekuensi yang tertentu dari:

(Persamaan 1)
Secara teori, bandul akan terus berayun dengan simpangan yang tetap tanpa
diperlukan energi tambahan dari luar berbentuk dorongan yang searah ayunan.
Tetapi pada kenyataannya, ayunan tersebut makin lama makin mengecil
simpangannya sampai akahirnya berhenti di titik setimbangnya. Hal ini
disebabkan karena sistem bandul mengalami gaya gesekan dengan udara selama
dia mengayun yang akhirnya tentu mengurangi energi bandul sampai menjadi nol.
Dalam hal ayunan elektronis, yaitu yang terjadi pada rangkaian osilator,
tepatnya pada satu tank-circuit, ayunan yang berbentuk siklus pengisian dan
pengosongan muatan kapasitot akan berlangsung terus tanpa memerlukan energi
elektris tambahan dari luar. Sebuah tank-circuit ditunjukkan pada gambar di
bawah ini yaitu satu induktor yang terpasang paralel dengan sebuah kapasitor.
Gambar 1 Komposisi sebuah tank-circuit
(a) tank-circuit,
(b) saat pengisian kapasitor,
(c) saat pengisian induktor.

Dalam keadaan diam, sebuah tank-circuit hanyalah sebuah rangkaian biasa


seperti ditunjukkan pada Gambar 1(a). Tetapi bila diinjeksikan satu muatan listrik
pada kapasitornya sampai penuh seperti ditunjukkan pada Gambar 1(b), maka
disitulah akan dimulai osilasi. Energi listrik yang telah tersimpan dalam kapasitor
akan mengalami pengosongan (discharge) ke induktor sampai muatan kapasitor
tersebut habis. Energi listrik tersebut kemudian berpindah seluruhnya ke induktor.
Setelah itu proses discharge terjadi sebaliknya, yaitu dari induktor ke kapasitor
sampai muatan seluruhnya ditampung kapasitor. Selanjutnya siklus yang sama
terjadi dan demikian seterusnya. Bila tidak terjadi kerugian energi karena disipasi
energi pada bahan resitif induktor dan kerugian dielektrik pada kapasitor, maka
ayunan atau osilasi tersebut berlangsung terus. Tetapi dalam kenyataannya
tidaklah demikian.
Untuk mempertahankan osilasi tersebut, maka harus ada energi tambahan dari
luar tank-circuit yang dapat mempertahankannya. Hal yang sama terjadi pada
ayunan bandul-matematis seperti diuraikan di atas, yaitu dorongan yang searah
ayunan. Sementara pada tank-circuit, energi yang ditambahkan harus satu fasa
dengan fasa osilasi. Inilah yang dimaksudkan, bahwa osilasi listrik tersebut
mempunyai fenomena yang persis sama dengan ayunan bandul-matematis.
Frekuensi osilasi juga mempunyai bentuk yang mirip, yaitu,
(Persamaan 2)

Pelaksanaan pemberian energi tambahan dari luar tank-circuit agar osilasi


berlangsung terus, dilakukan dengan proses feedback dari output ke tank-circuit.
Secara umum, apabila satu penguat mempunyai jalur feedback positif sedemikian,
sehingga dicapai satu kondisi yang disebut sebagai Barkhausen-Criterion, maka
terjadilah osilasi tersebut.
Secara umum, diagram blok sebuah penguat dengan jalur feedback dilukiskan
pada Gambar 2. A adalah faktor penguatan tanpa feedback sementara adalah
fungsi-alih jalur feedback. Dengan adanya jalur umpan-balik positif, maka faktor
penguatan menjadi,

(Persamaan 3)

Gambar 2 Diagram blok penguat dengan jalur umpan balik positif

Kriteria Barkhausen untuk menghasilkan satu osilasi, adalah kondisi dimana,


faktor ( 1-A ) = 0 atau A = 1, sehingga nilai Af menjadi tak berhingga. Hal ini
mempunyai makna, bahwa sinyal output (sinusoidal) tetap ada walupun inputnya
nihil. Karena kedua faktor tersebut, A dan , adalah bilangan kompleks, maka
kondisi A = 1, menunjukkan, bahwa |A | = 1, dan fasa A = nol. Kedua
parameter ini masing-masing dapat digunakan untuk menentukan syarat osilasi,
dan nilai frekuensi osilasinya.
Rangkaian osilator yang menggunakan tank-circuit, secara diagram blok
ditunjukkan pada Gambar 3. Jenis osilator yang menggunakan tank circuit adalah
Hartley, Colpitts, dan osilator Clapp.

Gambar 3 Diagram blok osilator yang menggunakan tank-circuit (tuned circuit)

Diagram blok Gambar 3 ini bila disesuaikan dengan digram blok Gambar 2
adalah, blok amplifier pada Gambar 3 adalah blok amplifier pada Gambar 2 yang
mempunyai penguatan A. Sedang blok umpan-balik pada Gambar 2
direpresentasikan sebagai impedansi Z2 pada Gambar 3, yang outputnya adalah
tegangan Vi’, yaitu sinyal umpan-balik positif. Z1, Z2, dan Z3, masing-masing
adalah komponen tank-circuit yang digunakan.
Rangkaian tiga loop di atas membentuk satu rangkaian penggeser fasa antara
input dan outputnya. Rangkaian tersebut akan berosilasi dengan frekuensi tertentu
bila total pergeseran fasanya sebesar 0º, serta loop-gain sama atau lebih besar dari
satu. Kedua persyaratan tersebut adalah kriteria lengkap Barkhausen. Bila nilai
mutlak loop-gain lebih besar dari satu, maka amplitudo osilasi membesar dalam
rangkaian osilator praktis, osilasi yang membesar itu terus berlangsung sampai
daerah nonlinier karakteristik amplifier itu sendiri yang membatasi nilai loop-gain
tersebut sampai menjadi satu. Setelah itu, nilai satu tersebut secara otomatis
dipertahankan tetap satu, atau dihasilkan kondisi ‘stabil’ osilasi.
Blok rangkaian dapat dianalisa bila rangkaian diputus pada input amplifier,
dan menghitung loop-gain ( = perkalian A ) dari Vi ke Vi’. Bila impedansi input
cukup besar, maka dapat diabaikan, dan dihasilkan dua loop yang masing-masing
dialiri arus I1 dan I2. Persamaan loop yang muncul adalah,
Dengan menyelesaikan empat persamaan tersebut di atas, dihasilkan,

(Persamaan 3)

Karena pada kondisi resonansi, (Z1 + Z2 + Z3) merupakan rangkaian resonansi


seri dengan nilai Q yang tinggi, maka nilai resistansi-dinamis-nya yang dihasilkan
sangat kecil serta dapat diabaikan, sehingga jumlah ketiga reaktansi tersebut sama
dengan nol, atau,

(Persamaan 4)

dan nilai loop gain Persamaan 3 menjadi leih sederhana seperti persamaan berikut,

(Persamaan 5)

Pada penerapannya, tiga reaktansi tersebut dapat bervariasi, sehingga


terbentuk rangkaian osilator Hartley misalnya, dimana X1 dan X2 adalah induktor,
dan X3 adalah kapasitor, dsb.
MACAM – MACAM OSILATOR HARMONIK :
1. OSILATOR ARMSTRONG

Gambar 4 Rangkaian Osilator Armstrong

Umpan balik untuk osilator tidak perlu datang dari sambungan


listrik . Dalam rangkaian yang ditunjukkan di atas, umpan balik yang berasal
dari gandengan magnet antara kumparan di dalam tangki rangkaian dan
sebuah pengingat kumparan, T.
Frekuensi osilasi masih dikendalikan terutama oleh rangkaian tangki,
sehingga =2 f=1/ . Namun, dalam rangkaian ini terdapat beberapa
faktor yang membuat persamaan ini hanya perkiraan. Tentu saja, kita
memiliki kapasitansi sesaat dalam transistor dan induktansi kecil dari
komponen terdahulu. Tapi kali ini kami juga memiliki pengingat bahwa koil,
yang bertindak sebagai beban L karena induktansi. Semua faktor ini menarik
frekuensi dari sedikit.
C dapat dibuat variabel untuk mengatur baik frekuensi ke nilai
tertentu, atau untuk membuat rentang variabel.

2. OSILATOR CLAPP

Gambar 5 Rangkaian Osilator Clapp

Osilator Clapp adalah versi modifikasi osilator Colpitt dengan


kemantapan frekuensi lebih baik. Frekuensi ditentukan oleh deret kondensator
Co dan induktor Lo dan bukan oleh kondensator jajar C1 dan C2 seperti
dalam rangkaian osilator Colpitt standar. Untuk osilator Clapp :
dan umpan balik positif diadakan oleh C1 dan C2. Kondensator-kondensator
ini harus jauh lebih tinggi harganya daripada Co.

3. OSILATOR COLLPIT

Gambar 6 Rangkaian dasar osilator Collpit

Osilator Colpitt adalah salah satu topologi osilator yang efektif


digunakan untuk pembangkit gelombang sinus pada rentang frekuensi antara
10 kHz hingga 10 MHz. Osilator ini menggunakan rangkaian tertala LC dan
umpanbalik positif melalui suatu pembagi tegangan kapasitif dari rangkaian
tertala. Umpanbalik ini bisa ditopankan deret maupun jajar.

FREKUENSI OSILASI
Frekuensi osilasi ditentukan oleh rumus

dan penguatan transistor yang dibutuhkan oleh osilator untuk memelihara


osilasi adalah
KALANG UMPAN BALIK
Setiap kombinasi kondensator dapat dipakai untuk menala rangkaian
resonansi. Tetapi susunan yang biasa adalah C2 dibuat jauh lebih besar
daripada C1. Dalam hal ini, C1, kondensator yang lebih rendah harganya
menentukan frekuensi, sedangkan C2 yang lebih rendah reaktansinya
menentukan umpanbalik. Jika C1 dibuat jauh lebih besar daripada C2,
rangkaian masih akan berosilasi dengan umpanbalik dari C1. Namun
amplitudo keluaran rendah karena kalang resonansi memiliki faktor-Q rendah,
disebabkan C2 terkena efek jajaran impedansi masukan transistor(hib) yang
relatif rendah. Stabilitas rangkaian osilator Colpitt adalah cukup baik, tetapi
rangkaian terumpani deret yang menggunakan tunggal-basis memberikan
kualitas terbaik.

VARIASI
Untuk mendapatkan stabilitas frekuensi yang lebih baik, osilator
Colpitt dapat diubah menjadi osilator Clapp dengan menambahkan
kondensator harga kecil dalam deret dengan induktor.

4. OSILATOR PIERCE ATAU KRISTAL


C1: 100 pF keramik disc atau perak mika
C2: 680 pF keramik disc atau perak mika
C3: uf ,01 keramik disc
C4: keramik ,001 disc UF
Q1: 2N3904
R1: 220 K
R2: 1 K
Gambar 7 Macam-macam rangkaian osilator Kristal

Osilator kristal adalah osilator yang menggunakan kristal sebagai


kalang penentu frekuensi osilator frekuensi tetap jika dibutuhkan stabilitas
yang tinggi. Bahan dari kristal tertentu memperlihatkan efek piezoelektrik
apabila dikenai tegangan listrik. Jika osilator kristal ditahan pada suhu
terkendali, maka stabilitas sebesar 1 ppm dapat dicapai.
Sebuah kristal dibuat dari bahan tertentu, yaitu diantaranya adalah,
rochellesalt, quartz, tourmaline. Karena berkembangnya teknologi bahan,
maka belakangan telah dibuat bahan sintetisnya seperti ADP (ammonium
dihydrogen phospate), atau EDT (ethylene diamine tartrate).
Sebagai komponen rangkaian osilator, bahan kristal mengalami proses
yang disebut dengan piezoelectric effect, yaitu, bila pada terminalnya
diberikan tegangan listrik (energi listrik), maka akan dihasilkan tegangan
mekanis dalam kristal. Tegangan mekanis ini kemudian menghasilkan satu
medan elektrostatis (energi listrik), yang selanjutnya dari energi itu
menghasilkan tenaga mekanik lagi, dst. Proses ini mirip dengan osilasi yang
terjadi pada satu tank-circuit yang diuraikan di depan. Hanya perbedaannya,
pada piezoelectric effect, terjadi siklus perubahan energi, yaitu dari energi
mekanik ke energi listrik.
Rangkaian pengganti satu kristal, serta karakteristik impedansinya
ditunjukkan pada Gambar 8. Pada grafik karakteristiknya, nampak adanya dua
frekuensi resonansi, yaitu frekuensi resonansi seri ( s) dan frekuensi paralel
( p), yang saling berdekatan. Perbedaan kedua nilai frekuensi resonansi
tersebut < 1 % dari frekuensi resonansi seri. Dan oleh karena nilai kapasitansi
C sangat kecil dibandingkan dengan nilai kapasitansi C’, maka praktis kedua
nilai frekuensi tersebut mendekati sama atau s p.

Pada Gambar 8(a) nampak terdapat nilai-nilai L, R, C, dan C’, yang


masing-masing mewakili, masa bahan kristal, sifat hambatan listrik kristal,
sifat elastis kristal, dan nilai kapasitansi antara kedua elektroda (terminal)
kristal.

Gambar 8 Rangkaian pengganti kristal piezoelectric


(a) rangkaian pengganti (b) karakteristik

Dengan sifat piezoelectric effect tersebut maka penempatannya dalam


satu rangkaian osilator akan mempengaruhi nilai frekuensi yang dihasilkan
rangkaian. Penempatan kristal dapat secara seri pada jalur umpan balik
rangkaian, atau merupakan komponen tank circuit. Penempatan secara seri
seperti ditunjukkan rangkaiannya pada Gambar 9, akan memberikan frekuensi
osilasi di luar frekuensi resonansinya.
\

Gambar 9 Rangkaian osilator kristal seri

Kristal yang menghasilkan osilasi dengan frekuensi di luar frekuensi


serinya dikatakan sebagai overtone. Kapasitor C3 dan C4 di set untuk
memberikan sinyal umpan-balik dari kolektor ke emitter. Kristal ditempatkan
di jalur umpan-balik yang bekerja pada mode seri. Induktor L1 adalah bagian
rangkaian yang ditune untuk mendapatkan frekuensi overtune. L1 akan
beresonansi bersama-sama C3, C4, dan C5 yang membentuk satu tank circuit.
Pengaturan pertama dilakukan pada induktor L1 sedemikian sehingga osilator
mulai berosilasi, kemudian baru kapasitor C2 diatur untuk mendapatkan
frekuensi yang tepat.
Disamping kristal tersebut bekerja dengan mode seri seperti diatas,
kristal juga dapat dikerjakan dalam mode paralel-nya. Rangkaian ang bekerja
dalam mode paralel ditunjukkan pada Gambar 10, yaitu yang sebetulnya
adalah rangkaian osilator Colpitts yang diganti komponen induktor tank-
circuitnya. Dalam hal ini, kapasitor C1 dan C2 tidak lagi menentukan besar
frekuensi osilasinya, namun hanya menentukan besar nilai sinyal yang
diumpan-balikkan, yaitu ratio keduanya seperti dijelaskan di depan. Frekuensi
osilasi ditentukan oleh nilai frekuensi mode paralel kristal yang biasanya
tertulis pada fisik kristal tersebut.
Gambar 10 Rangkaian osilator kristal mode paralel

FREKUENSI RESONANSI
Rangkaian ekuivalen kristal menunjukkan ada dua kemungkinan
keadaan resonansi, yaitu:
Resonansi deret

Resonansi jajar

Namun karena , kedua frekuensi saling berdekatan sekali.


5. OSILATOR HARTLEY

Gambar 10 Rangkaian osilator Hartley

Mempunyai rangkaian seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.


Pada rangkaian dc-nya, dimana titik kerja ditempatkan di tengah-tengah kurva
karakteristiknya, atau penguat bekerja sebagai penguat kelas A. Selanjutnya,
nilai-nilai induktansi dan kapasitansi tank-circuit ditentukan sesuai dengan
frekuensi osilasi yang dikehendaki. Biasanya nilai kapasitansi dulu yang
dipilih bebas sesuai dengan nilai yang tersedia di pasaran.
Gambar 11 Rangkaian osilator Hartley

Frekuensi osilasi osilator Hartley ini ditentukan oleh rumus berikut ini :

Dimana, Lt = induktansi tank-circuit = L1 + L2, henry


C = kapasitansi tanck-circuit, farad

Kapasitansi C1 dan C2 berfungsi sebagai jalan bebas bagi komponen ac


(RF) disamping mencegah hubungan dc. Begitu juga kapasitor CE berfungsi
sebagai jalan bebas komponen ac dengan mem-bypass resistor RE. Sementara
resistor RB dan RE digunakan untuk memberikan prategangan pada rangkaian,
yaitu agar bekerja pada kelas A. RFC (radio frequency choke) digunakan
untuk mencegah sinyal RF masuk ke baterai.
6. OSILATOR GESERAN-FASA (PHASE-SHIFT OSCILLATOR)

Gambar 12 Rangkaian osilator geseran fasa

Osilator geseran-fasa adalah sebuah osilator gelombang sinus sederhana.


Osilator ini memiliki sebuah penguat pembalik, dan sebuah tapis umpanbalik yang
menggeser 180° fasa dari frekuensi osilasi. Filter elektronik harus didesain
sedemikian rupa sehingga isyarat diatas dan dibawah frekuensi osilasi yang
diinginkan digeser kurang ataupun lebih dari 180°. Ini menghasilkan superposisi
membangun bagi isyarat pada frekuensi osilasi dan superposisi merusak pada
frekuensi lainnya. Jalan paling umum untuk mendapatkan tapis jenis ini adalah
dengan menyambungkan deret tiga tapis resistor-kondensator, yang memberikan
geseran fasa sebesar 270°. Pada frekuensi osilasi, setiap tapis memproduksi
geseran fasa sebesar 60° sehingga keseluruhan tapis forsoduksi geseran fasa 180°.

IMPLEMENTASI PENGUAT OPERASI


Salah satu implementasi osilator geseran-fasa yang paling sederhana adalah
dengan menggunakan penguat operasi, tiga kondensator dan empat resistor seperti
pada diagram. Perhitungan frekuensi osilasi untuk sirkuit ini ternyata sangat rumit
karena setiap tingkat R-C membebani tingkat sebelumnya. Perhitungan dapat
disederhanakan dengan menggunakan kondensator dan resistor dengan harga yang
sama, kecuali untuk resistor umpanbalik negatif. Pada diagram, jika R1 = R2 = R3
= R, dan C1 = C2 = C3 = C, maka:

dan persyaratan osilasi adalah:

Tanpa menjadikan semua resistor dan kondensator berharga sama,


perhitungan menjadi sangat rumit
Persyaratan osilasi:

Versi lain dari sirkuit ini dapat dibuat dengan menggunakan penyangga
penguatan tunggal diantara setiap tingkat R-C sehingga menghindari pembebanan
dan mempermudah perhitungan.

7. OSILATOR JEMBATAN WIEN


Osilator Jembatan Wien mempunyai karakteristik sebagai berikut :
• Pada frekuensi osilasi tegangan output vo dan input V+ sefasa pada 0
derajat
• Sinyal akan berbentuk segi empat dan frekuensi akan turun apabila
penguatan terlalu besar
• Perbandingan nilai kapasitor dan resistor menentukan tingkat kestabilan
frekuensi
Gambar 13 Rangkaian osilator Jembatan Wien

8. OSILATOR T
Rangkaian ini menghasilkan distorsi gelombang sinus,yang sangat
rendah meskipun perangkat non-linear yang digunakan untuk membatasi
amplitudo (D1 dan D2). Alasannya adalah pertama bahwa distorsi (harmonik)
adalah minus diumpankan ke masukan dari opamp dengan jauh lebih sedikit
kerugian daripada positifnya masukan, dimana sangat melemahkan
mereka. Kedua, osilator ini membawa keseimbangan antara umpan balik
positif dan negatif. Ini berarti bahwa hanya sejumlah kecil non-linearitas yang
diperlukan untuk menstabilkan amplitudo. Untuk meminimalkan distorsi, R5
harus nilai tinggi. Meskipun sedikit lebih kompleks daripada osilator jembatan
Wien, amplitudo dari jenis osilator ini bermacam-macam.
2. OSILATOR RELAKSASI :

Gambar 1 Rangkaian Osilator Relaksasi dengan Op-Amp

Bagian lain dari rangkaian Gambar 1 adalah rangkaian umpanbalik negatif


yang terdiri dari resistor R dan kapasitor C. Sama halnya seperti rangkaian
umpanbalik positif, tegangan referensi negatif pada bagian ini juga akan berubah-
ubah tergantung dari tegangan keluaran pada saat itu. Kita sebut saja titik referensi
komparator ini -vref. Bedanya, pada rangkaian umpanbalik negatif ada komponen C
yang sangat berperan dalam pembentukan osilasi. Tegangan -vref akan berbentuk
eksponensial sesuai dengan sifat pengisian kapasitor. Dari keadaan kapasitor C yang
kosong, tegangan akan menaik secara ekponensial. Namun pada rangkaian ini
tegangan -vref tidak akan dapat mencapai tegangan tertinggi +Vsat. Karena ketika
tegangan -vref sudah mencapai titik UTP maka keluaran komparator op-amp akan
relaks menjadi -Vsat.
Demikian juga sebaliknya ketika tegangan keluaran op-amp relaks pada titik
saturasi terendah -Vsat, kapasitor C kembali kosong secara eksponensial. Tentu saja
pengosongan kapasitor C tidak akan sampai menyebabkan tegangan -vref mencapai -
Vsat. Ingat jika tegangan keluaran op-amp pada titik saturasi terendah (-Vsat),
tegangan referensi positif berubah menjadi titik LTP, sehingga ketika -vref < LTP
tegangan keluaran op-amp kembali relaks ke titik saturasi tertinggi (+Vsat). Demikian
seterusnya sehingga terbentuk osilasi pada keluaran komparator.
FREKUENSI OSILATOR
Demikian prinsip kerja osilator ini dan dinamakan osilator relaksasi sebab
tegangan keluarannya relaks pada titik saturasi tertinggi dan terendah. Berapa
frekuensi osilator yang dapat dibuat, bisa dihitung dari kecepatan pengisian dan
pengosongan kapasitor C melalui resistasi R. Pada gambar diagram waktu gambar-2,
hendak ditentukan berapa perioda T dari osilator. Karena T = 2t maka dihitung saja
berapa nilai t. Pada contoh ini t = t2-t1.

Gambar2 : Diagram Waktu Frekuensi Osilator

Masing-masing pada saat t2 dan t1 tengangan kapasitor adalah

Vt2 = Vsat (1-e-t2/RC) dan


Vt1 = Vsat (1 - e-t1/RC)

Perhatikan bahwa Vt2 = +BVsat dan Vt1 = -BVsat.


Dengan mengaplikasikan persamaan matematika eksponensial dari persamaan di atas
akan diperoleh :

t = t2-t1 = RC ln [( 1+B)/(1-B)]
dan

T = 2t = 2RC ln [( 1+B)/(1-B)]

Tentu frekuensi osilator dapat dihitung dengan f = 1/T. Sebagai contoh pada
rangkaian gambar 1, jika dihitung maka akan didapat T = 589 us atau f = 1.7 kHz.

MACAM - MACAM OSILATOR RELAKSASI :


1. OSILATOR SUMBATAN
Osilator sumbatan adalah salah satu osilator yang paling efektif untuk
memproduksi pulsa-pulsa umur pendek dengan tepi-tepi cepat dan siklus aktif
rendah. Salah satu penerapannya adalah sebagai generator pulsa clock dalam
sistem digital. Transistor daya rendah dapat dipakai untuk membangkitkan
pulsa-pulsa berdaya relatif tinggi karena siklus aktifnya rendah. Daya yang
diboroskan rata-rata adalah kecil karena transistor hanya hidup sebentar
selama periode siklus. Umpanbalik positif osilator adalah melalui
transformator pulsa kecil diantara kalang kolektor dan kalang basis.

CARA KERJA
Bila untuk pertamakalinya daya dihidupkan, Transistor akan mati
sampai tegangan yang membentangi kondensator naik sedikit diatas 0.6 V.
Transistor mulai menghantar dan arus kolektor mengalir melalui lilitan primer
transformator. Karena ada umpanbalik positif, arus kolektor yang berubah
menginduksikan gaya elektromotif dalam lilitan sekunder yang memaksa
transistor menghantar lebih lanjut. Dengan cepat sekali transistor hidup dan
jenuh, tegangan kolektornya jatuh sampai sekitar 0.1 V (VCE(sat)). Setelah
berlangsung sebentar, arus kolektor berhenti berubah, disebabkan oleh
penguatan transistor atau kejenuhan transformator. Bila hal ini terjadi, medan
magnet dalam transformator runtuh dan gaya elektromotif basis jatuh.
Transistor mulai mati dengan tegangan kolektornya naik menuju +VCC.
Umpanbalik dengan cepat mematikan transistor dan gelombang basis menuju
negatif, tegangan puncak yang membentangi kondensator kira-kira nVCC
dengan n adalah perbandingan lilitan transformator. Transistor masih tetap
mati sementara kondensator mengisi muatan secara eksponensial melalui
resistor. Segera setelah tegangan kondensator mencapai +0.6 V, transistor
menghantar lagi dan siklus diulang. Sebuah dioda dipasang membentangi
primer transformator untuk menindas gaya elektromotif lawan yang
ditimbulkan ketika transistor mulai mati.

2. MULTIVIBRATOR TAKSTABIL
Rangkaian osilator ini berada dalam kelompok osilator relaxation, yang
terdiri dari 3 bentuk, yaitu, bistable (BMV), monostable (MMV), dan astable
(AMV). Jenis yang merupakan generator gelombang persegi adalah, astable
multivibrator. Nama lain AMV adalah, free running multivibrator.

Gambar 3 Rangkaian Multivibrator Takstabil

Mempunyai rangkaian seperti ditunjukkan pada gambar 3. Nampak pada


gambar 3, bahwa rangkaian disusun oleh dua rangkaian transistor yang simetri
yang tersambung saling mengumpan balik. Output sinyal yang berbentuk
gelombang persegi dapat diperoleh, baik dari kolektor transistor T1 (=vc1)
maupun dari kolektor transistor T2 (=vc2). Bentuk gelombang dimaksud
ditunjukkan pada gambar 4.
Gambar 4 Diagram bentuk gelombang persegi, output multivibrator takstabil

Terlihat pada diagram bentuk gelombang output AMV sebagai fungsi waktu,
bahwa lebar pulsa positif dan lebar perioda nol, masing-masing sebesar,

sehingga waktu perioda sinyal persegi tersebut adalah,

Bila lama perioda t1 dan t2 dirancang sama, maka persamaan di atas menjadi,

dimana R1 = R2 = R dan C1 = C2 = C.

Nilai waktu perioda t1 ataupun t2 dapat diturunkan sebagai berikut.


Sebetulnya waktu perioda tersebut, adalah waktu yang diperlukan untuk
megisi kapasitor dari –Vcc sampai nol melalui transistor yang sedang on.
Gambar 5 menunjukkan proses tersebut ketika transistor T1 yang on. Polaritas
muatan awal kapasitor C2 ditunjukkan pada gambar, yaitu sebesar – Vcc yang
cukup untuk membuat transistor T2 off. Kondisi off transistor T2 berlangsung
terus sampai muatan kapasitor C2 mencapai nol volt (atau +VBEcutin). Ketika
muatan kapasitor C2 mencapai nol volt, maka transistor T2 menjadi on yang
kemudian dapat membuat transistor T1 off karena muatan –Vcc pada
kapasitor C1.
Gambar 5 Proses pengisian kapasitor pada multivibrator takstabil

Kurva pengisian kapasitor C1 atau C2 ditunjukkan pada Gambar 6. Kurva


pengisian mengikuti fungsi exponensial sebagai berikut,

Untuk kondisi muatan kapasitor sama dengan nol, maka persamaan menjadi
sebagai berikut,

Gambar 6 Kurva pengisian kapasitor