Anda di halaman 1dari 52

Ê Ê

   

Sering kali dengan gampang orang mendefinisikan remaja sebagai periode transisi
antara masa anak-anak ke masa dewasa, masa usia belasan tahun, atau seseorang yang
menunjukkan tingkah laku tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya, dan
sebagainya. Masalahnya sekarang, kita tidak pernah berhenti dengan hanya menyatakan
bahwa mendefinisikan remaja itu sulit. Sulit atau mudah, masalah-masalah yang menyangkut
kelompok remaja kian hari kian bertambah. Berbagai tulisan, ceramah, maupun seminar yang
mengupas berbagai segi kehidupan remaja, termasuk kenakalan remaja, perilaku seksual
remaja, dan hubungan remaja dengan orang tuanya, menunjukkan betapa seriusnya masalah
ini dirasakan oleh masyarakat 1

Sarwono (2007) menyatakan bahwa perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada


perkembangan jiwa remaja yang terbesar pengaruhnya adalah pertumbuhan tubuh (badan
menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi
(ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual
sekunder yang tumbuh sehingga menyebabkan mudahnya aktivitas seksual (terutama
dikalangan remaja) dilanjutkan dengan hubungan seks 1.

Rasa ingin tahu terhadap masalah seksual pada remaja sangat penting dalam
pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Pada masa remaja,
informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan supaya remaja tidak
mendapatkan informasi yang salah dari sumber-sumber yang tidak jelas. Pemberian informasi
masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi
seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan
tidak cukupnya informasi mengenai aktifitas seksual mereka sendiri. Tentu saja hal tersebut
akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila tidak didukung dengan
pengetahuan dan informasi yang tepat 2.

Pengetahuan remaja tentang seks masih sangat kurang. Faktor ini ditambah dengan
informasi keliru yang diperoleh dari sumber yang salah, seperti mitos seputar seks, VCD
porno, situr porno di internet, dan lainnya akan membuat pemahaman dan persepsi anak
tentang seks menjadi salah. Pendidikan seks sebenarnya berarti pendidikan seksualitas yaitu

c
suatu pendidikan seksual dalam arti luas yang meliputi berbagai aspek yang berkaitan dengan
seks, diantaranya aspek biologis, orientasi, nilai sosiokultur dan moral serta perilaku3.

Dr. Boyke Dian Nugraha, pakar seks dan spesialis Obstetri dan Ginekologi,
menyatakan bahwa penyebabnya antara lain maraknya pengedaran gambar dan VCD porno,
kurangnya pemahaman akan nilai-nilai agama, keliru dalam memaknai cinta, minimnya
pengetahuan remaja tentang seksualitas serta belum adanya pendidikan seks secara reguler
hingga formal di sekolah sekolah. Itulah sebabnya informasi tentang makna hakiki cinta dan
adanya kurikulum kesehatan reproduksi di sekolah mutlak di perlukan 4.

Harus diakui, sampai saat ini di kalangan masyarakat tertentu, bebicara soal seks
masih dianggap masalah yang tabu. Seks belum menjadi wacana publik. Pro kontra masih
saja ada. Oleh karena itu, jarang sekali di jumpai pembicaraan perihal seks secara terbuka.
Namun disisi lain (fakta yang tidak terbantahkan), masalah seks juga berjalan terus. Untuk
itu, sosialisasi pemahaman tentang makna hakiki cinta dan perlunya kurikulum kesehatan
reproduksi di sekolah sangat perlu sebagai salah satu alternatif yang dapat ditempuh untuk
memfilter perilaku destruktif seksual remaja 4.

Ironisnya meskipun topik ini dianggap sebagai sesuatu yang tak layak dikemukakan,
tetapi sex merupakan sesuatu topik yang tak pernah habis dibahas. Orang tak pernah bosan
dan jenuh membicarakannya. Malcom Muggeridge (1903-1990) seorang jurnalis Inggris
pernah mengatakan ´Orgasme telah menggantikan Salib sebagai pusat kerinduan dan
gambaran pemenuhan kebutuhan.´ Hal ini mendorong timbulnya sikap munafik dalam
masyarakat. Disatu sisi seseorang akan bersikap seolah-olah acuh dan cuek dengan masalah
sex bahkan melarang membicarakannya walaupun dalam forum keilmuan, tetapi disisi lain
sebenarnya ia sangat tertarik dengan masalah sex dan berusaha mencari jawabannya sendiri,
bahkan ia memburu dan mencari buku-buku dan majalah porno. Bahkan seringkali justifikasi
agama dipakai untuk ´membungkam´ remaja yang bertanya tentang masalah sexual5.

Terlepas dari pro dan kontra pemblokiran situs porno yang sempat marak diberitakan
di berbagai media. Di era globalisasi sekarang ini pengenalan seks sejak dini dirasa cukup
penting, mengingat anak-anak dengan mudah mendapat informasi dari berbagai media seperti
majalah, buku, TV, VCD dan Internet. Sebagai orang tua, tentunya tidak menginginkan anak-
anaknya mencari pengetahuan tentang seks dengan caranya sendiri seperti mengakses situs-
situs porno atau menonton VCD porno dan lain-lain4.

½
Hasil penelitian di sejumlah kota besar di Indonesia menunjukkan sekitar 20% sampai
30% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks (DUTA, Edisi No. 230/ Th.XVIII/
September 2006). Maka jangan heran kehamilan pranikah semakin sering terjadi. Disinyalir
jumlah angka (persentase) yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada data yang tercatat
(Pasti, 2008). Berdasarkan sumber dari Hanifah (2000), bahwa beberapa hasil penelitian di
Indonesia menunjukan adanya penurunan batas usia hubungan seks pertama kali. Menurut
Iskandar (1998) sebanyak 18% responden di Jakarta berhubungan seks pertama di bawah usia
18 tahun dan usia termuda 13 tahun. Sedangkan menurut Utomo (1998), menyatakan bahwa
remaja Manado yang sudah aktif secara seksual, melakukan hubungan seks pertama pada
usia di bawah 16 tahun sebanyak 56,8% pada remaja pria dan 33,3% pada remaja1.

Untuk mengatasi masalah-masalah ini diperlukan adanya pemahaman dan


penerangan tentang sex secara benar dan tepat yang dilandasi oleh nilai-nilai agama, budaya
dan etika yang ada di masyarakat. Penyuluhan dan penerangan tentang sex harus dilandaskan
pada ilmu pengetahuan dan nilai-nilai agama, sehingga seorang remaja akan mendapatkan
informasi yang benar dan tepat dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama dan keimanan
yang kuat sehingga seorang remaja dapat terhindar dari hal-hal yang negatif dan tercela
terkait dengan masalah sex. Untuk itu pendidikan sex Islami sangat diperlukan. Uraian
dibawah ini akan membicarakan masalah-masalah sex ditinjau dari aspek medis dan Islam;
perubahan fisik, perubahan psikologi dan perubahan pada organ reproduksi yang terjadi pada
remaja, dampak sex bebas pada remaja serta cara-cara penanggulangannya5.

£
Ê Ê


Ê  



Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.
Batasan usia remaja menurut WHO (World Health Organization, badan PBB untuk kesehatan
dunia) adalah 12 sampai 24 tahun. . Namun jika pada usia remaja seseorang sudah menikah
maka ia tergolong dalam dewasa dan tidak remaja lagi. Sebaliknya jika usia sudah bukan
remaja lagi tetapi masih tergantung pada orang tua (tidak mandiri), maka dimasukkan ke
dalam kelompok remaja5.

Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang di dorong oleh hasrat seksual, baik
dengan lawan jenisnya maupun dengan sesama jenis. Bentuk-bentuk perilaku ini bisa
bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku berkencan, bercumbu
dan bersenggama. Sedangkan penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang ditempuh
seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya1.

Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks
yang tidak wajar. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti
pengalaman sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik. Penyimpangan
seksual umumnya dikaitkan dengan konteks sosial dan standar moral setempat. Namun ada
yang secara konsisten ( secara sosiologis dan psikologis)dianggap menyimpang.

Berdasarkan defenisi diatas maka p    


 aktivitas seksual yang ditempuh pada masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan tidak sewajarnya dalam konteks
sosiologis dan psikologis.

  

Hasil penelitian di sejumlah kota besar di Indonesia menunjukkan sekitar 20% sampai
30% remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks (DUTA, Edisi No. 230/ Th.XVIII/
September 2006). Maka jangan heran kehamilan pranikah semakin sering terjadi. Disinyalir
jumlah angka (persentase) yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada data yang tercatat
(Pasti, 2008). Berdasarkan sumber dari Hanifah (2000), bahwa beberapa hasil penelitian di

è
Indonesia menunjukan adanya penurunan batas usia hubungan seks pertama kali. Menurut
Iskandar (1998) sebanyak 18% responden di Jakarta berhubungan seks pertama di bawah usia
18 tahun dan usia termuda 13 tahun. Sedangkan menurut Utomo (1998), menyatakan bahwa
remaja Manado yang sudah aktif secara seksual, melakukan hubungan seks pertama pada
usia di bawah 16 tahun sebanyak 56,8% pada remaja pria dan 33,3% pada remaja putri 1.

Disalah satu harian ibukota tertanggal 22 Desember 2006 ketua Perhimpunan


Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dalam salah satu kesempatan mengatakan bahwa 15%
remaja Indonesia yang berusia 10-24 tahun telah melakukan hubungan sexual diluar nikah.
Sementara itu United Nation Population Fund (UNPF) dan Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) mensinyalir jumlah kasus aborsi di Indonesia mencapai 2,3
juta pertahunnya, dengan 20% diantaranya dilakukan oleh para remaja. Catatan akhir tahun
2002 Polda Metro Jaya melaporkan terjadinya peningkatan kasus perkosaan di DKI jaya dari
5
89 kasus pada tahun 2001 menjadi 107 kasus (kenaikan 20%) pada tahun 2002.


!"   
#$
Didunia ini manusia dan hewan akan lenyap dari permukaan bumi apabila mereka
oleh alam tidak dibekali dengan naluri untuk berkembang biak demi meneruskan keturunan.
Dorongan atau keinginan untuk bersetubuh (koitus) disebut libido seksualis (nafsu birahi,
nafsu syahwat). Dorongan /keinginan ini dapat disamakan dengan keinginan makan (lapar)
dan minum (haus). Apabila lapar dan haus mempunyai arti dalam mempertahankan
kelangsungan kehidupan individu, maka libido mempunyai tujuan untuk mempertahankan
kehidupan spesies homo sapiens (manusia).
Istilah seks mempunyai arti yang jauh lebih luas dari istilah koitus dalam arti kata
yang sempit (bersatunya tubuh antara laki-laki dan wanita). Seksualitas, reaksi dan tingkah
laku seksual didasari dan dikuasai oleh nilai-nilai kehidupan manusia yang lebih tinggi tidak
seperti pada hewan. Hewan bersetubuh semata-mata atas dorongan naluri birahi. Sedangkan
pada manusia seks dapat dipandang sebagai pencetus dari hubungan antar individu, dimana
daya tarik rohani dan badan menjadi dasar kehidupan bersama antara dua insan manusia.
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya
usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai
tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk
pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-
18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10

D
tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah
bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap
menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak
lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir
tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka
menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu
mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.

Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun
seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai
pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi
oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai aspek kehidupan
dalam diri mereka. Seksualitas menyangkut berbagai aspek yang sangat luas, yaitu aspek
biologis, sosial, perilaku dan kultural. Untuk dapat memahami seksualitas pada remaja, maka
perlu dilihat berdasarkan perubahan pada aspek - aspek tersebut

 ‘ Ê   

Pada remaja mulai terjadi perubahan dari aspek biologis dimana terjadi aktifasi
hormonal yang menyebabkan pematangan organ reproduksi beserta fungsinya. Hormon
adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin yang mempunyai efek tertentu pada
aktifitas organ-organ lain dalam tubuh. Hormon seks merupakan zat yang dikeluarkan oleh
kelenjar seks dan kelenjar adrenal langsung ke dalam aliran darah. Mereka secara sebagian
bertanggungjawab dalam menentukan jenis kelamin janin dan bagi perkembangan organ seks
yang normal. Mereka juga memulai pubertas dan kemudian memainkan peran dalam
pengaturan perilaku seksual. Hormon-hormon seks utama yaitu estrogen dan progesteron
pada wanita serta androgen dan testosteron pada laki-laki.
Otak manusia mengatur dan mengkordinir, gerakan, perilaku dan fungsi tubuh,
homeostasis seperti tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, keseimbangan cairan,
keseimbangan hormonal, mengatur emosi, ingatan, aktivitas motorik dan lain-lain. Sel
berkomuniksi dengan membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang di kenal sebagai
potensial aksi. Mereka berkomunikasi dengan neuron yang lain dan keseluruh tubuh dengan
mengirimkan berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter. Neurotransmitter
ini dikirimkan pada celah yang di kenal sebagai sinapsis. Neurotransmiter paling

 
mempengaruhi sikap, emosi, dan perilaku seseorang yang ada antara lain Asetil kolin,
dopamin, serotonin, epinefrin, norepinefrin.
Estrogen adalah hormon seks yang umumnya diproduksi oleh rahim wanita yang
merangsang pertumbuhan organ seks anak perempuan, seperti halnya payudara dan rambut
kelamin, dikenal sebagai karakteristik seks sekunder. Estrogen juga mengatur siklus
menstruasi. Pada kebanyakan wanita, hormon indung telur tidak memainkan peran yang
penting dalam gairah seks mereka. Dalam sebuah penelitian pada wanita dibawah usia 40
tahun, 90% melaporkan tidak adanya perubahan dalam nafsu seks atau fungsi setelah hormon
seks diturunkan karena pengangkatan kedua rahim. Estrogen penting dalam menjaga kondisi
dinding vagina dan elastisitasnya, memproduksi cairan yang melembabkan vagina dan
pertumbuhan lapisan lendir rahim. Mereka juga membantu untuk menjaga tekstur dan fungsi
payudara wanita.
Testosteron adalah hormon seks yang diproduksi oleh testis, sedangkan androgen
dihasilkan oleh kelenjar adrenal. Testosteron dan androgen membantu memulai
perkembangan testis dan penis pada janin laki-laki. Mereka memulai proses pubertas dan
mempengaruhi pertumbuhan rambut pada wajah, tubuh, dan alat kelamin, mendalamkan
suara, pertumbuhan otot, karakteristik seks sekunder pria. Setelah pubertas, hormon-hormon
tersebut memainkan peran dalam pengaturan gairah seks. Kekurangan testosteron dalam
jumlah yang besar dapat menyebabkan turunnya gairah seks, dan kelebihan testosteron dapat
meningkatkan gairah seks pada pria. Pada pria, terlalu sedikit testosteron dapat menyebabkan
sulit mendapat atau menjaga ereksi. Sedangkan bila terlalu berlebihan,dapat meyebakan hal
yang sebaliknya. Namun, kadar testosteron tidak begitu mempengaruhi daya tarik dan gairah
seks saat mereka berada pada batas rata-rata. Gairah seks cenderung dipengaruhi oleh
perangsang dari luar (gambar, suara, sentuhan) daripada oleh variasi hormon seks, kecuali
dalam beberapa kasus langka.

Hormon ± hormon sex diatas , pada masa remaja sangat aktif diproduksi yang menyebabkan
stimulasi pelepasan neurotransmiter. Neurotransmiter yang dilepaskan antara lain berupa :
1.‘ Dopamin.
Dopamin merupakan neurotransmiter yang sangat berhubungan dengan gairah yang dimiliki
seseorang. Dopamin yang diproduksi di pusat otak memengaruhi persepsi seseorang terhadap
dunia luar, menciptakan sesuatu hal yang dialami sebagai { .
2.‘ Serotonin
Neurotransmiter lain yang meningkat pada remaja antara lain adalah Serotonin .
Neurotransmitter ini diproduksi di otak tengah serta batang otak, dan membantu dalam

ë
mencapai kepuasan, termasuk kenikmatan yang dirasakan pada saat orgasme. Serotonin bisa
meningkatkan gairah--biasanya dengan bekerjasama dengan dopamin--tetapi, yang menjadi
paradoks, obat-obatan pendorong serotonin ({ 
{
  {) seperti Prozac juga
dapat membuat seseorang kesulitan mencapai orgasme.
3.‘ Epinefrin dan norepinefrin
Epinephrine dan norepinephrine pada kelenjar adrenal , pada jaringan syaraf tulang belakang
dan di otak, juga memainkan peran yang sangat penting dalam memfasilitasi gairah dan
orgasme. Epinefrinmeyebabkan perasaan senang pada tubuh ,menyebabkan jantung berdetak
lebih cepat dan tekanan darah meningkat.

   %"& 

Susan Noelen Hoeksema dalam bukunya { , mengatakan bahwa


perilaku penyimpangan seksual 90% lebih diderita oleh pria. Namun, saat para peneliti
mencoba menemukan ketidaknormalan pada hormon testoteron ataupun hormon-hormon
lainnya yang diduga menjadi penyebab perilaku seks menyimpang, hasilnya tidak konsisten.
Artinya, kecil kemungkinan perilaku seks menyimpang disebabkan oleh ketidaknormalan
hormon seks pria atau hormon lainnya. Penyebabnya, tampaknya lebih berkaitan dengan
pelampiasan dorongan agresif atau permusuhan, yang lebih mungkin terjadi pada pria
daripada pada wanita.

Penyebab lainnya yang diduga dapat menyebabkan perilaku seks menyimpang ialah
penyalahgunaan obat dan alkohol. Obat-obatan tertentu memungkinkan seseorang yang
memiliki potensi perilaku seks menyimpang melepaskan fantasi tanpa hambatan kesadaran.
Kemudian, aspek sosial-lingkungan, keluarga, dan budaya di mana seorang anak dibesarkan
ikut memengaruhi perilaku seksnya. Anak yang orangtuanya sering mendapat hukuman fisik
dan mendapat kontak seksual yang agresif, lebih mungkin menjadi agresif dan impulsif
secara seksual terhadap orang lain di saar dewasa dewasa. Sebuah juga penelitian
menunjukkan bahwa empat dari lima penderita pedofilia telah mengalami pelecehan seksual
di masa kanak-kanak.

'(" )(" *


 
# 

Seorang remaja ingin mencoba sesuatu segala sesuatu. Ia harus diberi kesempatan
untuk membuat kesalahan. Ia tidak akan mau hanya menerima nasehat saja. Ia selalu ingin

·
tahu sebab dari sesuatu hal dan menyangsikan kebenaran tradisi keluarga, ketentuan dalam
agama dan ajaran politik. Selama masa ini seorang remaja menginginkan kebebasan yang
lebih luas. Ia ingin mendapatkan peran yang lebih banyak dalam segi kehidupan. Sebaliknya
seorang remaja cenderung untuk menghindari tanggung jawab yang berat dan tidak mau
berdisiplin. Ia cenderung berusaha menghindari resiko atas keputusan yang diambilnya dan
menggantungkannya pada orang tua atau orang yang ia percayai5.

Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung-jawab atas munculnya
dorongan seks. Banyaknya tabu sosial, sekaligus juga kekurangan pengetahuan yang benar
tentang seksualitas mengakibatkan meningkatnya kejadian sex bebas dan permasalahan yang
di akibatkan oleh sex bebas, seperti aborsi, kejahatan seksual, renggangnya hubungan
keluarga, meningkatnya pemakaian narkoba, dan kriminalitas lainnya5.
Remaja perlu mengetahui perubahan di atas agar mereka mampu mengendalikan
perilakunya. Remaja harus mengerti bahwa begitu dia mendapatkan menstruasi atau mimpi
basah maka secara fisik dia telah siap dihamili atau menghamili. Bisa hamil atau tidaknya
remaja putri bila melakukan hubungan seksual tidak tergantung pada berapa kali dia
melakukan hubungan seksual tetapi tergantung pada kapan dia melakukan hubungan seksual
(dikaitkan dengan siklus kesuburan) dan apakah sistem reproduksinya berfungsi dengan baik
(tidak mandul). Banyak remaja yang tidak mengetahui akan hal ini, sehingga mereka
menyangka bahwa untuk hamil orang harus terlebih dahulu melakukan hubungan seksual
berkali-kali. Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seksual peyimpang pada remaja
antara lain adalah :

1). Meningkatnya libido seksualitas


Pada remaja terjadi perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat
seksual (libido seksualitas). Peningkatan hasyrat seksual ini membutuhkan penyaluran
dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu.
2). Penundaan usia perkawinan
Penyaluran hasrat seksual tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia
perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan
yang menetapkan batas usia menikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita dan 19 tahun
untuk pria), maupun karena norma sosial yang makin lama makin menuntut persyaratan
yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental, dan lain-
lain).


Sementara usia kawin ditunda, norma-norma agama tetap berlaku dimana seseorang
dilarang untuk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bahkan larangannya
berkembang lebih jauh kepada tingkah-tingkah laku yang lain seperti ciuman dan
masturbasi. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri akan terdapat kecenderungan
untuk melanggar saja larangan-larangan tersebut.
3). Tabu-larangan
Ditinjau dari pandangan psikoanalisis, tabunya pembicaraan mengenai seks tentunya
disebabkan karena seks dianggap sebagai bersumber pada dorongan-dorongan naluri di
dalam ³id´. Dorongan-dorongan naluri seksual ini bertentangan dengan dorongan
³moral´ yang ada dalam ³super ego´, sehingga harus ditekan, tidak boleh dimunculkan
pada orang lain dalam bentuk tingkah laku terbuka.

Remaja (dan juga banyak orang dewasa) pada umumnya tidak mau mengakui
aktivitas seksualnya dan sulit diajak berdiskusi tentang seks, terutama sebelum ia
bersenggama untuk yang pertama kalinya.

Tabu-tabu ini jadinya mempersulit komunikasi. Sulitnya komunikasi, khususnya


dengan orang tua, pada akhirnya akan menyebabkan perilaku seksual yang tidak
diharapkan.
4). Kurangnya informasi tentang seks
Pada umumnya mereka ini memasuki usia remaja tanpa pengetahuan yang memadai
tentang seks dan selama hubungan pacaran berlangsung pengetahuan itu bukan saja
tidak bertambah, akan tetapi malah bertambah dengan informasi-informasi yang
salah. Hal yang terakhir ini disebabkan orang tua tabu membicarakan seks dengan
anaknya dan hubungan orang tua-anak sudah terlanjur jauh sehingga anak berpaling ke
sumber-sumber lain yang tidak akurat, khususnya teman sehingga muncul niat untuk
mencoba
5). Pergaulan yang makin bebas
Kebebasan pergaulan antar jenis kelamin pada remaja, kiranya dengan mudah bisa
disaksikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kota-kota besar. Di pihak lain,
tidak dapat diingkari adanya kecenderungan pergaulan yang makin bebas antara pria dan
wanita dalam masyarakat sebagai akhibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita
sehingga kedudukan wanita makin sejajar dengan pria 1.

Penyimpangan seksual dialami oleh remaja juga dipengarui oleh berbagai faktor yaitu:

c
J‘ Waktu /saat mengalami pubertas. Saat itu mereka tidak pernah memahami tentang
apa yang akan dialaminya.
J‘ Kontrol sosial kurang tepat yaitu terlalu ketat atau terlalu longgar.
J‘ Frekuensi pertemuan dengan pacarnya. Mereka mempunyai kesempatan untuk
melakukan pertemuan yang makin sering tanpa kontrol yang baik sehingga
hubungan akan makin mendalam.
J‘ Hubungan antar mereka makin romantis.
J‘ Kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk mendidik anak-anak untuk
memasuki masa remaja dengan baik.
J‘ Kurangnya kontrol dari orang tua. Orang tua terlalu sibuk sehingga perhatian
terhadap anak kurang baik.
J‘ Status ekonomi. Mereka yang hidup dengan fasilitas berkecukupan akan mudah
melakukan pesiar ke tempat-tempat rawan yang memungkinkan adanya
kesempatan melakukan hubungan seksual. Sebaliknya yang ekonomin lemah tetapi
banyak kebutuhan/tuntunan, mereka mencari kesempatan untuk memanfaatkan
dorongan seksnya demi mendapatkan sesuatu.
J‘ Korban pelecehan seksual yang berhubungan dengan fasilitas antara lain sering
menggunakan kesempatan yang rawan misalnya pergi ke tempat-tempat sepi.
J‘ Tekanan dari teman sebaya. Kelompok sebaya kadang-kadang saling ngin
menunjukkan penampilan diri yang salah untuk menunjukkan kemantapannya,
misal mereka ingin menunjkkan bahwa mereka sudah mampu seorang perempuan
untuk melayani kepuasan seksnya.
J‘ Penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol. Peningkatan penggunaan obat
terlarang dan alkohol makin lama makin meningkat.
J‘ Mereka kehilangan kontrol sebab tidak tahu batas-batasnya mana yang boleh dan
mana tidak boleh.
J‘ Mereka merasa sudah saatnya untuk melakukan aktifitas seksual sebab sudah
merasa matang secara fisik.
J‘ Adanya keinginan untuk menunjukkan cinta pada pacarnya.
J‘ Penerimaan aktifitas seksual pacarnya.
J‘ Sekedar menunjukkan kegagahan dan kemampuan fisiknya.
J‘ Terjadi peningkatan rangsangan pada seksual akibat peningkatan kadar hormon
reproduksi/seksual 6.

cc
+
,%,  

Gangguan-gangguan pada tingkah laku seksual yang berlaku umum (tidak khusus
remaja), menurut Sarwono Sarlito W, 2007, terdiri dari 4 kelompok besar yang masing-
masing terdiri dari beberapa subkelompok yaitu sebagai berikut:

- .""
Gambaran utama dari gangguan ini adalah ketidaksesuaian antara alat kelamin
dengan identitas jenis yang terdapat pada diri seseorang. Jadi seorang yang beralat kelamin
laki-laki merasa dirinya wanita, ataupun sebaliknya. Identitas jenis yang menyimpang ini
dinyatakan dalam perbuatan (cara berpakaian, mainan kegemarannya), ucapan maupun
objek seksualnya:

1. Transeksualisme
Pada orang dewasa, gangguan identitas jenis ini dinamakan transeksualisme.
Minat seksual kaum transeksual ini biasanya adalah yang sejenis kelamin
(homoseksual, walaupun mereka tidak mau disebut sebagai homoseks), tetapi juga yang
melaporkan pernah mengalami hubungan heteroseksual dan beberapa di antara mereka
dilaporkan aseksual (tidak berminat pada seks).
2. Gangguan identitas jenis masa kanak-kanak
Walaupun transeksualisme biasanya mulai timbul sejak masa kanak-kanak, akan
tetapi ada gangguan jenis yang hanya terjadi pada masa kanak-kanak saja.
3. Gangguan identitas jenis tidak khas
Yaitu tidak sepenuhnya menunjukkan tanda-tanda transeksualisme, akan tetapi
ada perasaan-perasaan tertentu yang menolak struktur anatomi dirinya seperti merasa
tidak mempunyai vagina atau vagina yang akan tumbuh menjadi penis (pada wanita),
atau merasa tidak punya penis atau jijik pada penisnya sendiri (pada pria).

/- 
Adalah gangguan seksual karena pada penderita seringkali menghayalkan
perbuatan seksual yang tidak lazim, sehingga khayalan tersebut menjadi kekuatan yang
mendorong penderita untuk mencoba dan melakukan aktivitas yang dikhayalkannya.

Dapat dilihat dari tiga kategori :


1. Dari cara penyaluran dorongan seksualnya:


J‘ Masochisme : Mendapatkan kegairahan seksual melalui cara dihina, dipukul atau
penderitaan lainnya

J‘ Sadisme : Mencapai kepuasan seksual dengan cara menimbulkan penderitaan


psikologik atau fisik (bisa berakhibat cidera ringan sampai kematian) pada
pasangan seksnya.

J‘ Eksibitionisme : Mendapatkan kepuasan seks dengan memperlihatkan alat


kelaminnya kepada orang lain.

J‘ Scoptophilia : Mendapatkan kepuasan seks dari melihat aktivitas seksual.

J‘ Voyeurisme : Mendapatkan kepuasan seks dengan melihat orang telanjang.

J‘ Transvestisme : Mendapatkan kepuasan seks dengan memakai pakaian dari lawan


jenisnya.

J‘ Sodomi : Mendapatkan kepuasan seks dengan melakukan hubungan seksual


melalui anus

J‘ Seksualoralisme : Mendapatkan kepuasan seks dari aplikasi mulut pada genitilia


pasangan
2. Dari orientasi atau sasaran seksual yang menyimpang
J‘ Pedophilia : Seseorang dewasa mendapat kepuasan seks dari hubungan dengan
anak-anak.
J‘ Bestiality : Mendapatkan kepuasan seks dari hubungan dengan binatang
J‘ ùoophilia : Mendapatkan kepuasan dengan melihat aktivitas seksual dari binatang
J‘ Necriphilia : Mendapatkan kepuasan seks dengan melihat mayat, coitus dengan
mayat.

J‘ Pornography : Mendapatkan kepuasan seks dengan melihat gambar porno lebih


terpenuhi dibandingkan dengan hubungan seksual yang normal.
J‘ Fetishisme : Pemenuhan dorongan seksual melalui pakaian dalam lawan jenis.

J‘ Frottage : Mendapatkan kepuasan seks dengan meraba orang yang disenangi dan
biasanya orang tersebut tidak mengetahuinya.
J‘ Incest : Hubungan seksual yang dilakukan antara dua orang yang masih satu
darah.
J‘ Mysophilia, coprophilia dan Urophilia : Senang pada kotoran, faeces dan urine.


J‘ Onani , Masturbasi : Mendapatkan kepuasan seks dengan merangsang genitalnya
sendiri.
3. Dilihat dari tingkat penyimpangan, keinginan, dan kekuatan dorongan seksual :
J‘ Nymphomania : Seorang wanita yang mempunyai keinginan seks yang luar biasa
atau yang harus terpenuhi tanpa melihat akibatnya.
J‘ Satriasis : Keinginan seksual yang luar biasa dari seorang lelaki.

J‘ Promiscuity dan prostitusi : Mengadakan hubungan seksual dengan banyak orang.


J‘ Perkosaan : Mendapatkan kepuasan seksual dengan cara paksa.

,-  
Gambaran utama dari Disfungsi Psikoseksual adalah terdapat hambatan pada
perubahan psikofisiologik yang biasanya terjadi pada orang yang sedang bergairah
seksual.
1. Hambatan selera seksual
Sukar atau tidak bis timbul minat seksual sama sekali secara menetap dan meresap.

2. Hambatan gairah seksual:


J‘ Pada laki-laki: gagal sebagian atau seluruhnya untuk mencapai atau
mempertahankan ereksi sampai akhir aktivitas seksual (impotensia).
J‘ Pada wanita: gagal sebagai atau seluruhnya untuk mencapai atau mempertahankan
pelumasan dan pembengkakan vagina (yang merupakan respons gairah seksual
wanita) sehingga akhir dari aktivitas seksual (frigiditas).
3. Hambatan orgasme wanita
Berulang-ulang atau menetap tidak terjadi orgasme pada wanita setelah terjadi gairah
seksual yang lazim selama aktivitas seksual.

4. Hambatan orgasme pria


Berulang-ulang atau menetap tidak terjadi ejakulasi atau terlambat berejakulasi
setelah terjadi fase gairah seksual yang lazim selama aktivitas seksual.

5. Ejakulasi prematur
Secara berulang-ulang dan menetap terjadi ejakulasi sebelum dikehendaki karena
tidak adanya pengendalian yang wajar terhadap ejakulasi selama aktivitas seksual.

6. Dispareunia fungsional


Rasa nyeri yang berulang dan menetap pada alat kelamin sewaktu senggama, baik
pada pria maupun wanita.
7. Vagina fungsional
Ketegangan otot vagina yang tidak terkendali sehingga mengalami senggama.

0 
#

Gangguan seksual merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi oleh remaja
pada masa sekarang. Jika hal ini terus berlangsung akan menyebabkan penurunan prestasi
belajar serta dapat memberikan dampak negatif bagi lingkungan sekitar. Oleh karena itu,
gangguan seksual ini perlu diketahui agar dapat dilakukan penatalaksanaan sebagaimana
mestinya sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan7.
Bagi kebanyakan remaja, gangguan seksual biasanya dianggap sebagai suatu aib
sehingga penderita umumnya menyembunyikan dan merasa malu untuk berkonsultasi atau
berobat. Akibatnya, hal ini justru akan menimbulkan masalah yang lebih lanjut baik di bidang
akademik maupun nonakademik. Pasalnya, selama remaja kehidupan laki-laki dan
perempuan dihiasi oleh seksualitas. Sehingga masa remaja adalah waktu untuk penjelajahan
dan eksperimen, fantasi seksual, dan kenyataan seksual, sehingga menjadikan seksualitas
sebagai bagian dari identitas seseorang7.

Beberapa perilaku seksual meyimpang pada remaja antara lain adalah :

-1"
"/

cD

Onani adalah pemuasan hasrat seksual yang dilakukan oleh diri sendiri dengan
melakukan rangsangan terhadap alat kelamin. Ada yang berpendapat bahwa sebutan onani
khusus untuk praktek yang dilakukan laki-laki, sedangkan masturbasi adalah sebutan praktek
untuk kedua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. Istilah netral (dalam bahasa Indonesia)
"masturbasi" dipinjam dari bahasa Inggris, { 
 . Ada dua versi etimologi untuk kata
ini. Yang pertama adalah dari kata bahasa Yunani,    (ȝİȗİĮ, bentuk jamak untuk penis)
atau dari gabungan kata bahasa Latin,  { (tangan) dan   (mengganggu). Versi
lainnya adalah gabungan dari kata Latin  { (tangan) dan { (mempermainkan),
sehingga berarti "mempermainkan [penis] dengan tangan"8.
Dalam bahasa Melayu, kegiatan masturbasi dikenal sebagai ,, namun kata
ini dalam penggunaan sehari-hari di Indonesia jarang dipergunakan lagi. Akibat masturbasi
dalam kultur Indonesia dianggap tabu dibicarakan secara terbuka, kata-kata kiasan sering
dipakai untuk menyebutkan tindakan ini, seperti "mengocok", "main sabun", dan
sebagainya8.

Onani ini pun memiliki sejarahnya sendiri. Sejarah onani ini lebih dominan pada
alkitab kristen yang terdapat pada Kejadian 38:6-10. seorang pemudah bernama onan. pada
saat itu Onan sedang gelisah. Ia disuruh ayahnya, Yehuda, untuk menikahi janda almarhum
kakaknya. Onan keberatan karena ia yakin bahwa anak yang lahir akan dianggap sebagai
keturunan kakaknya. Maka, Onan kemudian memutuskan untuk menumpahkan spermanya di
luar tubuh janda tersebut setiap kali mereka berhubungan seksual. Dengan cara itu, janda
kakaknya tidak akan hamil. Namun, cara itu harus berakhir tragis karena Tuhan murka dan
Onan mati9.
Sebagian besar pria usia muda pernah melakukan masturbasi. Kegiatan Masturbasi
atau onani itu biasa dilakukan saat mandi. Pada saat mandi penis dibersihkan dengan sabun
yang licin. Saat menggosok penis biasanya akan timbul perasaan nikmat dan penis menjadi
ereksi. Pemandangan melihat penisnya ereksi dan menjadi keras dan besar, ditambah rasa
nikmat, menjadi suatu pengalaman yang istimewa bagi remaja muda9.
Rasa ingin tahunya timbul lalu penis itu digosok-gosok kembali dan rasa nikmat akan
meningkat dan penis ereksi dengan keras. Bila penis digosok terus, akhirnya cairan sperma
(semen) akan menyemprot atau ejakulasi sekaligus dengan terjadinya puncak rasa nikmat.
Inilah permulaan masturbasi pada remaja pria9.


Kelainan perilaku seks biasanya dilakukan oleh laki-laki yang merasa ingin
memenuhi kebutuhan seksnya, dilakukan dengan cara mengeluarkan air mani oleh tangan.
Biasanya dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi atau pada waktu tidur. Onani bisa
mengakibatkan lemah syahwat bahkan melemahkan sperma sehingga tidak sanggup
membuahi sel telur wanita. Efek samping lain dari onani ini adalah efek psikologisnya
dimana si pelaku sering merasa berdosa sehingga menimbulkan psikoneurosa atau gangguan
kejiwaan9.
Pada banyak masyarakat hingga abad ke-20 masturbasi dianggap sebagai hal yang
tidak baik. Anggapan memalukan dan berdosa yang terlanjur tertanam disebabkan karena
porsi "penyalahgunaan" pada kata itu hingga kini masih tetap ada dalam terjemahan modern -
meskipun para aparatur kesehatan telah sepakat bahwa masturbasi tidak mengakibatkan
kerusakan fisik maupun mental. Tidak juga ditemukan bukti bahwa anak kecil yang
melakukan perangsangan diri sendiri bisa mengalami celaka9.
Yang terjadi adalah, sumber kepuasan seksual yang penting ini oleh beberapa
kalangan masih ditanggapi dengan rasa bersalah dan kecemasan karena ketidaktahuan mereka
bahwa masturbasi adalah kegiatan yang aman, juga karena pengajaran agama berabad-abad
yang menganggapnya sebagai kegiatan yang berdosa. Terlebih lagi, banyak di antara kita
telah menerima pesan-pesan negatif dari para orang tua kita, atau pernah dihukum ketika
tertangkap basah melakukan masturbasi saat kanak-kanak. Pengaruh kumulatif dari kejadian-
kejadian ini seringkali berwujud kebingungan dan rasa berdosa, yang juga seringkali sukar
dipilah. Saat di mana masturbasi menjadi begitu berbahaya adalah ketika ia sudah merasuk
jiwa (kompulsif). Masturbasi kompulsif - sebagaimana perilaku kejiwaan yang lain - adalah
pertanda adanya masalah kejiwaan dan perlu mendapatkan penanganan dari dokter jiwa9.
Adapun beberapa pandangan tentang onani9 :
1. Kedokteran

Menurut Prof Peter Lim. Onani Baik karena pd saat kesuburuan, jika Produksi sperma pria
tdk di keluarkan secara teratur kualitas sperma akan memburuk.

J‘ Onani dapat membantu mencegah terkena penyakit kanker Prostat ( Jenis kanker yang
menyerang pria di usia 50 thn) karena, kelenjar kelamin menjadi bersih dan tdk
tersumbat.
J‘ Onani tdk menyebabkan kemandulan. Karena kemandulan terkait dengan Jumlah
spermatozoa yang di bawah standar. Sedangkan Onani adalah cara berfantasi seks.
J‘ Secara psikologis bisa menimbulkan perasaan berdosa, malu, dan tertekan


2. Agama
A. Islam

Ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Pertama haram, dan kedua boleh-boleh saja.
Ulama yang berpendapat demikian, mendasarkan keharamannya pada ayat Al-quran yang
mengatakan " dan orang-orang yang memelihara kemaluan mereka kecuali terhadap
istrinya atau hamba sahayannya, mereka yang demikian itu tdk tercela, tetapi barang siapa
berhendak selain dari yang demikian itu, maka mereka itu adalah orang-orang yang
melewati batas" (Al-mu'minum:5-7)

Sedang ulama yang memperbolehkan onani atau masturbasi ini beralasan bahwa mani
adalah sesuatu yang lebih. Karenanya boleh dikeluarkan. Bahkan hal itu diibaratkan
dengan memotong daging lebih. Pendapat demikian ini didukung Imam Hambali dan Ibnu
Hazm. Sedang ulama Hanafiah memberikan batas kebolehan dalam keadaan:

J‘ karena takut melakukan perzinaan;


J‘ karena tidak mampu kawin (tapi syahwat berlebihan).

Rasulullah SAW juga telah mengajarkan bagaimana menghindari luapan birahi, bagi
para pemuda yang belum mampu menikah; hendaknya sering-sering melakukan puasa,
karena puasa itu hikmah, dan puasa bisa membendung syahwat atau nafsu birahi. Sabda
Rasul: "Hai para pemuda, barang siapa diantara kalian sudah ada kemampuan (fisik dan
modal berumah tangga), maka kawinlah karena perkawinan itu bisa menjinakkan
pandangan dan kemaluan. Tetapi barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia
berpuasa, sebab puasa itu bisa membendung syahwat. (HR. Bukhari).[7]

B. Kristen
Kegiatan tersebut di katakan Dosa karena seperti yang tertera pada Imamat 15:16-17 "
barang siapa laki-laki menuangkan maningnya diluar pada istrinya dikatanan NAzis.
sampai matahari terbenam"

C. Buddha

Pada Agama Buddha di katakan Melanggar Dharma 1." Memuaskan ketamakan


berdasarkan kegelapan batin "


3. Masyarakat
Pada pandangan ini banyak terdapat pro dan kontra hal tersebut hanya dapat di
nilai oleh setiap ndividu masing-masing.
Dampak-dampak Onani atau masturbasi antara lain adalah:
1. Pada Wanita

Bagi wanita meskipun masturbasi tergolong beresiko rendah, ada beberapa dampak
dari masturbasi :
1)‘ Robeknya selaput dara dan terjadi infeksi apabila dilakukan dengan menggunakan alat.
2)‘ mengalami lecet apabila dilakukan secara terus menerus dan menggunakan alat bantu.

2. Pada Pria
Kekebalan tubuh berkurang, Lemas, daya ingat menurun, sering di hantui perasan
bersalah, menjadi kecanduan, akhirnya Impotent ( bila dilakukan secara terus menerus
karena kinerja penghasil sperma akan berkerja 2 kali lipat untuk menghasilkan sperma dan
akhirnya menjadi rusak. Hal tersebut sama dengan mesin yang terlalu di paksa
kinerjanya).

3. Pasangan suami istri


Masturbasi merupakan tindakan mencapai kepuasan sendiri, sementara hubungan
seks suami istri yang dicapai adalah kepuasan bersama, sehingga jika terbiasa melakukan
aktivitas seksual untuk kepuasan pribadi akan sulit ketika melakukan aktifitas seksual
untuk kepentingan bersama.
Beberapa Tips untuk menghentikannya :
1. Kuatkan Tekat
2. Lebih dekat pada yang maha kuasa
3. Cari kegiatan yang bersifat positif mis: berolah raga
4. Niat, tujuan, target dan strategi serta waktu evaluasi kemajuan mesti ditetapkan sejak
awal. Juga, siapkan hadiah dan hukuman sebagai imbalan. Contohnya, sewalah film
kesukaan. Jika berhasil memenuhi target, tontonlah, jika gagal, kembalikan saja.

c
-  2  3"-!&' 

Kelainan perilaku seks yang dilakukan oleh dua individu yang berjenis kelamin sama
dinamakan homoseksual. Laki-laki dengan laki-laki dinamakan male sexuality atau lebih
umum disebut homoseksual saja. Wanita dengan wanita disebut lesbians. Dalam DSM IV-
TR, Homoseksual tidak termasuk gangguan seksual lagi, tetapi hanya pada kelainan arah
pemuasan seksual. Hal yang memprihatinkan disini adalah kaitan yang erat antara
homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini dipertegas dalam jurnal
kedokteran Amerika (JAMA tahun 2000), kaum homoseksual yang "mencari" pasangannya
melalui internet, terpapar risiko penyakit menular seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi
dibandingkan mereka yang tidak.

Homoseksual mengacu pada kelainan interaksi seksual dan/atau romantis antasa


pribadi yang berjenis kelamin sama. Kata homoseks digunakan untuk hubungan intim
dan/atau hubungan seksual di antara orang berjenis kelamin yang sama. Istilah gay pada
mulanya digunakan untuk pengacu pada orang-orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai
homoseks. Tanpa memandang jenis kelamin.

Belakangan, gay digunakan untuk mengacu laki-laki homoseksual. Sedangkan kata


lesbian digunakan untuk merujuk wanita homoseksual. Homoseksual termasuk perbuatan
dosa yang tua. Ribuan tahun yang lalu, kaum Luth di kota Sodom dan beberapa kota tetangga
telah melakukan hal ini. Kata sodomi, perbuatan bersetubuh melalui dubur diturunkan dari
nama kota Kum Luth ini. Istilah sodomi kemudian menjadi sebutan bagi aksi ngeseks via

½
dubur baik pada pasangan sesama jenis maupun dengan pasangan perempuan, bahkan pada
istri sendiri. Entah dengan siapa pun, sodomi dalam kacamata Islam merupakan
penyimpangan dan dan termasuk perbuatan maksiat.

Menurut Dr. Rono Sulistyo (1977), ada tiga macam homoseksual,diantaranya adalah
sebagai berikut:
a) Aktif, bertindak sebagai pria dan tidak bertanggung jawab kepada teman seksnya.

b) Pasif, yaitu bertindak sebagai wanita.


c) Campuran, yaitu kadang-kadang sebagai pria dan kadang kadang sebagai wanita.
Sebab-sebab terjadinya perbuatan homoseks itu antara lain adalah :
a) Faktor hereditas (dibawa sejak lahir), ini jarang sekali terjadi.
b) Adanya ketidakseimbangan hormon seks (sex hormonal imbalance).
c) Pengaruh lingkungan,
Seperti: Terpisah dari lawan jenis dalam jangka waktu yang lama, misalnya di penjara dan
di asrama; Pengalaman hubungan seks dengan sesama jenis pada waktu kecil (masa
kanak-kanak), dengan istilah sodomi; Kesalahan perlakuan, yakni anak laki-laki yang
hidup di rumah tangga dimana semua saudaranya perempuan. Jika anak ini diperlakukan
sebagai anak perempuan setiap harinya misalnya dibedaki, diberi pakaian wanita, dan lain-
lain. Maka akan tumbuh sifat-sifat kewanitaan pada dirinya (merasa diri sebagai jenis
kelamin wanita); Hubungan seks yang tidak memuaskan di dalam kehidupan suami istri.

Untuk menyembuhkan penderita seperti yang terpenting ialah adanya kesadaran diri
dari penderita tersebut untuk memperbaiki diri. Disamping itu, pengobatan/ terapi akan
berhasil bila lingkungannya di ubah sedemikian rupa.


!  3Ê/+&4& 

½c
 
Masa remaja merupakan masa peralihan atau masa transisi dimana pada masa ini
adalah masa perubahan dari masa ank-anak menjadi dewasa.Mengingat karakter remaja yang
masih labil,seba ingin tahu dan terkadang kurang bisa mengendalikan emosi, remaja sering
melakukan tindkan yang bisa disebut penyimpangan sosial.

Tak sedikit di antara mereka yang "berjalan" terlalu jauh. Mereka menjadi lepas
kendali. Buntutnya adalah kebablasan. Misalnya terjerat dalam pesta hura-hura ganja, putau,
ekstasi, dan pil-pil setan lain. Tak sedikit pula di antara mereka yang kemudian hamil di luar
nikah akibat sex bebas (free sex). Jalan pintas lewat aborsi pun dilakukan, untuk
melenyapkan jabang bayi yang belum mereka kehendaki.
Dewasa ini, jenis penyimpangan sosial yang sering dilakukan remaja adalah perilaku
sex bebas. Perkembangan zaman sepertinya sejalan dengan perkembangan tingkat remaja yg
melakukan sex bebas. Sex bebas jaman sekarang ini sudah dianggap biasa, padahal dengan
melakukan sex bebas sudah merusak nilai-nilai sosial. Pendidikan pengetahuan kesehatan
reproduksi memang sangat penting, namun jangan sampai salah kaprah dalan penerapannya.

Lebih parah lagi mengenai pembagian kondom gratis kepada para remaja agar mereka
terhindar dari pengakit HIV/AIDS.Justru hal tersebut dimanfaatkan oleh para oknum remaja
yang menggunakan kondom sebagai jembatan melakukan sex bebas.Statistik menunjukkan,
angka peningkatan penderita HIV/AIDS dan penyakit kelamin lainnya yang menimpa remaja
Indonesia. Hal tersebut seharusnya menjadi sorotn utama kita mengingat bahwa remaja
adalah generasi penerus bangsa.
Ada beberapa sebab yang dapat dijadikan alasan merebaknya "wabah mengerikan"
ini, di antaranya adalah:
1. Pengaruh Negatif Media Massa
Media masssa seperti televisi, film, surat kabar, majalah dan sebagainya belakangan
semakin banyak memasang dan mempertontonkan gambar-gambar seronok dan adegen
seks serta kehidupan yang glamour yang jauh dari nilai-nilai Islami. Hal ini diperparah
lagi dengan berkembangnya tehnologi internet yang menembus batas-batas negara dan
waktu yang memungkinkan kawula muda mengakses hal-hal yang bisa meningkatkan
nafsu seks. Informasi tentang seks yang salah turut memperkeruh suasana. Akibatnya
remaja cenderung ingin mencoba dan akhirnya terjerumus kepada sex bebs (free sex).
2. Lemahnya Keimanan

½½
Hampir semua, bila tidak mau dikatakan semua, perilaku seks bebas, tahu akan beban dosa
yang mereka terima. Tapi entah kenapa, bagi mereka hal itu dibelakangkan' dan
menjadikan nafsu sebagai pemimpin. Hal Ini menunjukkan lemahnya rasa keimanan
mereka.
3. Tidak adanya pendidikan sex yang benar, tepat dan dilandasi nilai-nilai agama.
4. Lemahnya pengawasan orang tua dan pendidk( disekolah )
5. Salah dalam memilih teman , pergaulan dan lingkungan sosial

Dampak dari sex bebas (free sex), khususnya pada remaja dapat dibagi menjadi :
1. Bahaya Fisik
Bahaya fisik yang dapat terjadi adalah terkena penyakit kelamin (Penyakit Menular
Sexual/ PMS) dan HIV/AIDS serta bahaya kehamilan dini yang tak dikehendaki.
PMS adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang kepada orang lain melalui
hubungan seksual. Seseorang berisiko tinggi terkena PMS bila melakukan hubungan
seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. Bila
tidak diobati dengan benar, penyakit ini dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi,
seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir bahkan kematian.
Penyakit klamin yang dapat terjadi adalah kencing nanah (Gonorrhoe), raja singa (Sifilis),
herpes genitalis, limfogranuloma venereum (LGV), kandidiasis, trikomonas vaginalis,
kutil kelamin dan sebagainya. Karena bentuk dan letak alat kelamin laki-laki berada di
luar tubuh, gejala PMS lebih mudah dikenali, dilihat dan dirasakan. Tanda-tanda PMS
pada laki-laki antara lain:
J‘ berupa bintil-bintil berisi cairan,
J‘ lecet atau borok pada penis/alat kelamin,
J‘ luka tidak sakit; keras dan berwarna merah pada alat kelamin,
J‘ adanya kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam,
J‘ rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin,
J‘ rasa sakit yang hebat pada saat kencing,
J‘ kencing nanah atau darah yang berbau busuk,
J‘ bengkak panas dan nyeri pada pangkal paha yang kemudian berubah menjadi
borok.
Pada perempuan sebagian besar tanpa gejala sehingga sering kali tidak disadari. Jika
ada gejala, biasanya berupa antara lain:

½£
J‘ rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual,
J‘ rasa nyeri pada perut bagian bawah,
J‘ pengeluaran lendir pada vagina/alat kelamin,
J‘ keputihan berwarna putih susu, bergumpal dan disertai rasa gatal dan
kemerahan pada alat kelamin atau sekitarnya,
J‘ keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk, dan gatal,
J‘ timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual,
J‘ bintil-bintil berisi cairan,
J‘ lecet atau borok pada alat kelamin.
Perlu diketahui bahwa PMS tidak dapat dicegah hanya dengan memilih pasangan
yang kelihatan bersih penampilannya, mencuci alat kelamin setelah berhubungan seksual,
minum jamu-jamuan, minum antibiotik sebelum dan sesudah berhubungan seks.
AIDS singkatan dari 
     

   . Penyakit ini adalah
kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh. Penyebabnya
adalah virus HIV. HIV sendiri adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus.
AIDS merupakan penyakit yang salah satu cara penularannya adalah melalui hubungan
seksual. Selain itu HIV dapat menular melalui pemakaian jarum suntik bekas orang yang
terinfeksi virus HIV, menerim tranfusi darah yang tercemar HIV atau dari ibu hamil yang
terinfeksi virus HIV kepada bayi yang dikandungannya. Di Indonesia penularan
HIV/AIDS paling banyak melalui hubungan seksual yang tidak aman serta jarum suntik
(bagi pecandu narkoba).
Sesudah terjadi infeksi virus HIV, awalnya tidak memperlihatkan gejala-gejala
khusus. Baru beberapa minggu sesudah itu orang yang terinfeksi sering menderita
penyakit ringan sehari-hari seperti flu atau diare. Pada periode 3-4 tahun kemudian
penderita tidak memperlihatkan gejala khas atau disebut sebagai periode tanpa gejala,
pada saat ini penderita merasa sehat dan dari luar juga tampak sehat. Sesudahnya, tahun
ke 5 atau 6 mulai timbul diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering
sariawan dimulut, dan terjadi pembengkakan di kelenjar getah bening dan pada akhirnya
bisa terjadi berbagai macam penyakit infeksi, kanker dan bahkan kematian. Untuk
mendeteksi adanya antibodi terhadap virus HIV, yang menunjukkan adanya virus HIV
dalam tubuh, dilakukan tes darah dengan cara 
{ sebanyak 2 kali. Kemudian bila
hasilnya positif, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan cara  {    atau
  { {


½è
Kesiapan seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan atau mempunyai anak
ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal, yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental/
emosi/psikologis dan kesiapan sosial/ekonomi. Secara umum, seorang perempuan
dikatakan siap secara fisik jika telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya (ketika
tubuhnya berhenti tumbuh), yaitu sekitar usia 20 tahun. Sehingga usia 20 tahun bisa
dijadikan pedoman kesiapan fisik. Kehamilan pada usia yang sangat dini dan tidak
dikehendaki akan menyebabkan terjadinya resiko kehamilan dan persalinan serta resiko
pada janin seperti
J‘ panggul sempit
J‘ kontraksi rahim yang lemah
J‘ ketidak teraturan tekanan darah yang dapat berdampak pada keracunan kehamilan
serta
J‘ kejang-kejang yang dapat menyebabkan kematian
J‘ Remaja atau calon ibu merasa tidak ingin dan tidak siap untuk hamil maka ia bisa
saja tidak mengurus dengan baik kehamilannya
J‘ Gangguan pertumbuhan organ-organ tubuh pada janin
J‘ kecacatan
J‘ Sulit mengharapkan adanya perasaan kasih sayang yang tulus dan kuat dari ibu yang
tidak menghendaki kehamilan bayi yang dilahirkanya nanti. Sehingga masa depan
anak mungkin saja terlantar
J‘ Mengakhiri kehamilannya atau sering disebut dengan aborsi. Di Indonesia aborsi
dikategorikan sebagai tindakan ilegal atau melawan hukum. Karena tindakan aborsi
adalah ilegal maka sering dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak aman.
Aborsi tidak aman berkontribusi kepada kematian dan kesakitan ibu. Aborsi sangat
berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan perempuan terutama jika dilakukan
secara sembarangan yaitu oleh mereka yang tidak terlatih. Perdarahan yang terus-
menerus serta infeksi yang terjadi setelah tindakan aborsi merupakan sebab utama
kematian perempuan yang melakukan aborsi. Di samping itu aborsi juga berdampak
pada kondisi psikologis. Perasaan sedih karena kehilangan bayi, beban batin akibat
timbulnya perasaan bersalah dan penyesalan yang dapat mengakibatkan depresi.
2. Bahaya perilaku dan kejiwaan
Sex bebas akan menyebabkan terjadinya penyakit kelainan seksual berupa keinginan
untuk selalu melakukan hubungan sex. Sipenderita sellau menyibukkan waktunya dengan

½D
berbagai khayalan-khayalan seksual, jima, ciuman, rangkulan, pelukan, dan bayangan-
bayangan bentuk tubuh wanita luar dan dalam. Sipenderita menjadi pemalas, sulit
berkonsentrasi, sering lupa, bengong, ngelamun, badan jadi kurus dan kejiwaan menjadi
tidak stabil. Yang ada dipikirannya hanyalah seks dan seks serta keinginan untuk
melampiaskan nafsu seksualnya. Akibatnya bila tidak mendapat teman untuk sex bebas,
ia akan pergi ke tempat pelacuran (prostitusi) dan menjadi pemerkosa. Lebih ironis lagi
bila ia tak menemukan orang dewasa sebagai korbannya, ia tak segan-segan memerkosa
anak-anak dibawah umur bahkan nenek yang sudah uzur.
3. Bahaya sosial
Sex bebas juag akan menyebabkan seseorang tidak lagi berpikir untuk membentuk
keluarga, mempunyai anak, apalagi memikul sebuah tanggung jawab. Mereka hanya
menginginkan hidup di atas kebebasan semu. Lebih parah lagi seorang wanita yang
melakukan sex bebas pada akhirnya akan terjerumus ke dalam lembah pelacuran dan
prostitusi.
Anak yang terlanjur terlahir akibat sex bebas (perzinahan) tidak mendapatkan cinta
kasih dari ayahnya dan kelembutan belainan ibunya. Ia tidak akan mendapat perhatian
dan pendidikan yang cukup. Setelah ia tahu bahwa ia terlahir akibat perzinahan, maka
kejiwaannya akan menjadi kaku dan tersisih dalam pergaulan dan sosial kemasyarakatan,
bahkan tak jarang ia akan terlibat dalam masalah kriminalitas. Hal yang lebih ironis lagi
adalah sering ayah dari anak yang terlahir akibat sex bebas tidak jelas lagi siapa ayahnya.
Sex bebas juga akan menyebabkan berantakannya suatu keluarga dan terputusnya tali
silaturrahmi dan kekerabatan. Orang tua biasanya tidak akan perduli lagi pada anak yang
telah jauh tersesat ini, sebaliknya seorang remaja yang merasa tidak dipedulikan lagi oleh
orang tuanya akan semakin nekad, membangkang dan tidak patuh lagi pada orang tua. Ia
juga akan terlibat konfrontasi dengan sanak saudara lainnya. Hal ini pada akhirnya dapat
menimbulkan rasa frustasi dan kecewa serta dendam tak kesudahan terhadap anggota
keluarga sendiri.
4. Bahaya perekonomian
Sex bebas akan melemahkan perekonomian si pelaku karena menurunnya
produktivitas si pelaku akibat kondisi fisik dan mental yang menurun, penghamburan
harta untuk memenuhi keinginan sex bebasnya. Disamping itu sipelaku juga akan
berupaya mendapatkan harta dan uang dengan menghalalkan segala cara termasuk dari
jalan yang haram dan keji seperti korupsi, menipu, judi, bisnis minuman keras dan
narkoba dan lain sebagainya.

½ 
5. Bahaya keagamaan dan akhirat
Para pemuda yang terperosok kedalam lumpur kehanyutan sex bebas dan
kemerosotan akhlak akan ditimpa 4 macam hal tercela yang diisyaratkan dan disebutkan
tanda-tandanya oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang tercantum dalam Hadist yang
diriwayatkan oleh Ath-Thabrani. Rasulullah SAW bersabda : ´Jauhilah zina karena ia
mengakibatkan 4 macam hal; menghilangkan wibawa di wajah, menghalangi rezeki,
dimurkai Allah dan menyebabkan kekelan dalam neraka´ (HR. Ath-Thabrani). Seorang
pezina ketika ia melakukan zina akan terlepas dari keimanan dan ke Islaman,
sebagaimana hadist Rasulullah SAW: ´ Tidak ada seorang pezina ketika melakukan zina
sedangkan saat itu ia beriman....´ (HR. Bukhari dan Muslim)
Untuk menghindari sex bebas perlu dilakukan pengontrolan dan pengendalian nafsa
syahwat. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah
1. Memperdalam keimanan
Memperdalam keimanan adalah menyakini bahwa Allah senantiasa bersamanya,
mendengar dan melihat, mengetahui apa yang tersembunyi dan yang tampak serta apa
yang tersirat di dalam lubuk hati yang paling dalam. Allah SWT berfirman ´ Tidakkah
kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah memngetahui apa yang ada di langit dan apa
yang ada di bumi, tiada pembicaraan yang rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah
yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang
keenamnya. Dan tiadalah (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kiurang dari itu atau
lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka dimanapun mereka berada ..... ´ (QS.
Al-Mujaadilah (58): 7)Dengan itikad dan perasaan ini, seseorang mukmin akan terlepas
dari jeratan hawa nafsu dan dorongan nafsu yang buruk, bisikan syetan serta fitnah harta
dan wanita.
2. Mengisi waktu luang dengan hal yang bermanfaat
Rasulullah SAW bersabda ´ Tekunilah yang bermanfaat untukmu dan mintalah
pertolongan kepada Allah, jangan sampai kamu lemah¶ (HR. Muslim). Seorang pemuda
bila ia sendirian diwaktu-waktu kosong, akan datang kepadanya angan-angan, bisikan-
bisikan dan hawa nafsu yang membawa kepada dosa juga khayalan-khayalan seksual.
Seorang pemuda harus mentahui bagaimana ia menghabiskan waktunya dan mengisi
waktu kosongnya. Banyak sekali hal-hal yang dapat dilakukan oleh seorang remaja untuk
mengisi waktu kosongnya, bisa dengan olahraga, rekreasi, membaca buku yang berfaidah,
membuat kerajinan tangan, menghadiri pengajian, mengiktui perlombaan dan lain-lain
aktifitas yang bermanfaat.

½ë
3. Teman yang shalih
suatu kenyataan dan pengalaman membuktikan bahwa ketika seorang remaja berteman
dengan teman yang shaleh dan baik maka ia akan terpengaruh pada mereka untuk
melakukan kebaikan, istiqomah dan keshalihan. Rasulullah SAW bersabda ´ Jangan
kamu berteman kecuali dengan orang mukmin dan jangan memakan makananmu kecuali
orang yang takwa (HR. At-Turmudzi). Sebaliknya jika seorang pemuda berteman dengan
teman yang jahat dan selalu berbuat maksiat, maka ia akan terpengaruh untuk melakukan
kejahatan, kemaksiatan dan kemerosotan moral juga. Inilah sebabnya Rasulullah SAW
menasehati lewat sabdanya : ´ seseorang itu menurut agama temannya, maka hendaklah
dia memperhatikan siapa yang menjadi temannya (HR. At-Turmudzi).
4. Menjauhi dan menghindari media massa yang buruk
Media massa merupakan salah satu faktor yang ´ikut´ bertanggung jawab terhadap
menjamurnya seks bebas. Banyak acara-acara ditelevisi dan pemberitaan di koran dan
majalah yang mengumbar nafsu seks, gambar-gambar yang seronok, iklan-iklan yang
berbau ´pornografi´ yang turut memperburuk moral para remaja dan merangsang remaja
untuk melakukan seks bebas. Untuk itu para remaja perlu memilah-milah berita yang
akan dibaca dan acara televisi yang akan ditontonnya. Sekarang ini ada pepatah yang
mengatakan ´tontonan telah menjadi tuntunan, sebaliknya banyak tuntunan hanya tinggal
sebagai tontonan saja´ Allah SWT berfirman: ´Dan janganlah kamu mendekati zina,
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk´ (QS
Al-Israa¶: 32)
5. Berpuasa
Berpuasa sunnah dapat mengendalikan hawa nafsu seksual, disamping itu juga akan
menghindari timbulnya pikiran-pikiran kotor, sehingga dapat melindungi seorang remaja
dari melakukan seks bebas. Rasulullah SAW bersabda ´ Wahai sekalian pemuda, siapa di
antara kalian yang telah mempunyai kemampuan (untuk menikah) maka menikahlah.
Sesungguhnya pernikahan itu lebih dapat menjaga pandangan mata dan mengekang hawa
nafsu. Bagi siapa yang belum memiliki kemampuan, maka berpuasalah. Sesungguhnya
puasa adalah penawar baginya´ (HR Bukhari)
6. Menggunakan cara-cara medis
Nabi Muhammad SAW bersabda ´ Hikmah itu adalah barang yang tercecer milik orang
yang beriman, dimana saja ia mendapatkannya ... ia yang lebih berhak untuk itu (HR.
Turmudzi dan Al Askari). Untuk mengendalikan nafsu seksual dapat diupayakan cara-
cara medis sebagai berikut:

½·
a.‘ Sering mandi air dingin di musim panas
b.‘ memperbanyak olahraga dan latihan fisik
c.‘ Menjauhi makanan yang mengandung merica dan rempah-rempah karena
mempunyai sifat merangsang
d.‘ Tidak terlalu banyak mengkonsumsi semampunya minuman perangsang saraf
seperti kopi
e.‘ Tidak terlalu banyak mengkonsumsi daging merah dan telur

' 5  

Pelaku penyimpangan seks ini mendapat kepuasan seksual dengan melihat diam-
diam atau mengintip orang lain (baik sejenis kelamin atau tidak) yang sedang telanjang,
menaggalkan pakaian, atau melakukan hubungan seksual. Kelainan ini disebut juga
skopofilia. Anehnya, pelaku voyeurisme sama sekali tidak mengiginkan berhubungan
seksual dengan orang yang diintip. Ia cuma berharap memperoleh kepuasan orgasme
dengan cara masturbasi selama atau sesudah mengintip.

Berbeda dengan orang yang normal, penderita voyeurisme sudah terpuaskan tanpa
harus melakukan senggama. Nggak seperti anggapan orang, voyeurisme tidak dapat
dilekatkan kepada penggemar film dan pertunjukan porno, karena para pemain film itu
dengan sengaja menghendaki dan menyadari bahwa mereka akan ditonton orang lain.
Sebutan voyeurisme hanya berkaitan dengan intip-mengintip. Voyeurisme sejati tidak
akan terangsang jika melihat seseorang yang tidak berpakaian dihadapannya. Mereka
hanya terangsang dengan melakukan pengitipan. Dengan mengintip mereka mampu

½
mempertahankan keunggulan seksual tanpa mengalami resiko kegagalan atau penolakan
dari pasangan yang nyata.

Survei menyebutkan, 83 persen pria dan 74 persen wanita tergolong Voyeurism.


Voyeurism termasuk dalam psychosexual disorder atau perilaku seks menyimpang, yaitu
senang mengintip orang lain yang sedang tidak berpakaian atau mengintip perilaku seksual
orang lain sehingga hasrat seksnya terpenuhi.
Menurut American Psychiatric Association, seseorang dikatakan sebagai voyeurism
jika setidaknya selama 6 bulan melakukan aktivitas mengintip orang lain beradegan seks
atau telanjang dan sudah mengganggu kepentingan serta privasi orang lain. Terkadang
orang yang punya sikap Voyeurism menggunakan berbagai cara untuk bisa melihat adegan
seks, seperti menaruh cermin atau kamera di tempat tersembunyi. Ada juga yang
memasang tape perekam agar bisa mendengarkan percakapan orang yang sedang bercinta.
Perilaku seks voyeurism bisa masuk dalam 3 kategori, yaitu patologis (penyakit),
kriminal dan kesenangan seksual semata. Tapi voyeurism lebih banyak dianggap sebagai
perilaku seks yang menyimpang, sehingga sangat jarang orang yang kepergok melakukan
tindakan itu lalu ditahan.
Sebuah studi yang dimuat dalam Interdisciplinary Journal dilakukan untuk
mengetahui kebiasaan perilaku seks voyeurism seseorang. Beberapa grup pria yang tinggal
di apartemen dipantau kebiasaannya melalui teleskop yang dipasang secara sembunyi-
sembunyi. Hasilnya, pria-pria itu diam-diam sering melihat adegan seks orang lain. Studi
lainnya yang dilakukan oleh peneliti University of Chicago melaporkan, partisipan
berumur 18 hingga 44 tahun mengaku senang melihat pasangannya tidak berpakaian. Para
partisipan tidak menolak jika disuguhkan pemandangan tersebut secara gratis, apalagi jika
tidak ketahuan orang lain.
Sementara itu, dalam International Journal of Sexual Health disebutkan bahwa dari
318 partisipan yang mengikuti studi, sebanyak 83 persen pria dan 74 persen wanita
mengaku ingin melihat pemandangan seksual, hanya jika tidak ketahuan oleh orang lain.
Sebuah teori mengatakan bahwa melihat pemandangan seksual adalah salah satu faktor
yang bisa menentukan kecocokan pasangan dan reproduksi seseorang. Peneliti
mengatakan, setiap orang sebenarnya memiliki keinginan melihat pemandangan seksual
tanpa ketahuan orang lain.
Penanganan untuk orang Voyeurism bisa dilakukan dengan terapi sikap atau
behavioral therapy. Namun biasanya seorang Voyeurism akan sangat sulit menjalani terapi

£
ini jika tidak dipaksakan. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan perilaku seks
menyimpang ini, modal utamanya hanya kesadaran si pelaku saja untuk sembuh dan tidak
mengintip lagi.

+ / +

Definisinya adalah seseorang mendapatkan kepuasan seksual dengan memamerkan


bagian genitalnya sendiri kepada orang asing yang tidak mau melihatnya. Penyimpangan
ini disebut juga apodisofilia . Bagi seorang ekshibisionis, kepuasan berasal dari reaksi
orang lain, yang secara keliru diduga (oleh si penderita) sebagai ekspresi kepuasan
seksual.

Kepuasan seksual diperoleh penderita saat melihat reaksi terperanjat, takut, kagum,
jijik, atau menjerit dari orang yang melihatnya. Kemudian hal tersebut digunakan sebagai
dasar untuk fantasi masturbasi. Orgasme dicapai dengan melakukan masturbasi pada saat
itu juga atau sesaat kemudian.Secara epidemiologi, penyimpangan ini lebih sering
dilakukan oleh laki ± laki dari pada perempuan.

Sebelum beraksi, pelaku terus merasa gelisah, tercekam, dan tegang. Perasaannya
akan terasa lega begitu berhasil memamerkan penisnya pada wanita dewasa atau anak
dengan usia dan bentuk tubuh sesuai keinginannya. Pada saat melakukan pelaku seolah-

£c
olah bermimpi, tidak mengetahui keadaan sekitarnya dan tidak menyadari bahaya akan
tertangkap. Setelah itu muncul perasaan menyesal dan takut ditangkap.

Namun, perasaan ini tidak cukup kuat untuk mencegahnya berbuat ulang pada
kesempatan lain. Dalam banyak kasus tindakan didahului suatu periode di mana pelaku
pergi ke suatu tempat sepi dan menunggu sampai hari agak gelap. Namun, ada pula
ekshibisionis yang tidak menghindari suasana ramai sehingga tidak malu-malu melakukan
perbuatannya di toko, kamar tunggu praktik dokter, atau jendela rumahnya pada siang
bolong. Ada pula yang timbulnya secara impulsif karena perasaan ingin melakukannya
timbul seketika, sehingga tanpa pikir panjang pelaku menuruti dorongan hatinya.

Acap kali seorang ekshibisionis dapat melakukan tindakan pengamanan supaya tidak
tertangkap basah saat melakukannya. Ia teliti dulu sebelumnya apakah ada pria lain yang
mengamatinya atau menutupi kembali penisnya bila tiba-tiba muncul seseorang yang tidak
diinginkan. Ekshibisionis banyak ditemukan pada usia 20-an dan banyak di antaranya
mengalami kesulitan ereksi dalam aktivitas seksual lainnya.

0  0 


Pedofilia (dari bahasa Yunani: 




 (ʌĮȚįȠijȚȜȚĮ)²
{ (ʌĮȚȢ, "anak-anak")
dan 

 (ijȚȜȚĮ, "cinta") adalah penyimpangan kepribadian seseorang yang memiliki

£½
ketertarikan atau hasrat seksual terhadap anak-anak yang belum memasuki masa remaja.
yang tidak mau berhubungan dengan mereka.

Istilah ini seringkali ditujukan kepada orang-orang yang lebih dewasa dengan kondisi
kelainan ini. Kadang istilah ini juga digunakan untuk merujuk kepada pelaku pelanggaran
seksual terhadap anak-anak. Orang-orang yang mempunyai kondisi ini disebut  

(bahasa Inggris:  
 ).

Sekitar dua pertiga korban kelainan ini adalah anak-anak berusia 8 ± 11 tahun.
Kebanyakan paedofilia menjangkiti pria, namun ada pula kasus wanita berhubungan seks
secara berulang dengan anak-anak. Kebanyakan kaum paedofil mengenali korbannya,
misalnya saudara, tetangga, atau kenalan. Kaum paedofil dikategorikan dalam tiga
golongan yakni di atas 50 tahun, 20-an hingga 30 tahun, dan para remaja. Sebagian besar
mereka adalah para heteroseksual dan kebanyakan sudah menjadi ayah.


6 ("+ 


Adalah sebuah hasrat seksual terdahap suatu bagian tubuh, objek, kegiatan atau
gerakan pada tubuh. Ini merupakan sebuah "penyakit" psikologi yg membuat penderita
fetishism (Fetishist) terobsesi pada bagian tubuh / objek / gerakan, mencintai hanya bagian
tubuh itu, dan peningkatan hasrat seksual pada bagian bagian tertentu itu. Misalnya :

1.‘ Bagian Tubuh : Mata, Hidung, Bibir, Ketiak, Pusar, dll


‘ Objek Pada Tubuh : kacamata, stocking, lingerine, korset, behel, dll 
! ‘ Gerakan Atau Kegiatan : mengibas rambut, berkeringat, anal, dll 

££
Kenapa disebut dengan penyakit, karena penderita fetishism ini tidak akan tertarik selain
objek dari fetish-nya itu sendiri (biasa disebut partialism). Misalnya seseorang Fetishist
tertarik pada mata seorang wanita, dia tidak akan peduli bila wanita itu berwajah monster,
cacat, atau yg lain. Bagi dia, mata wanita itu, sempurna.
Menurut beberapa ahli kejiwaan. Hasrat fetish bisa timbul karena pengalaman
traumatic dari penderita, misalnya salah satu orang yg sangat dia sayang meninggal, dan
beberapa tahun kemudian dia bertemu seseorang yg memiliki bibir yg sama dengan orang yg
dia sayang itu. Namun, banyak juga yg mengatakan bahwa fetishme itu muncul karena
adanya faktor alami dari otak si penderita yg mengingat terus menerus bagian / objek /
kegiatan orang yg disayanginnya. Misalnya, anda sedang rindu dengan kekasih anda, anda
membayangkannya dalam pikiran anda. Anda selalu ingat saat dia tersenyum, tertawa,
berjalan, dan akhirnya lama kelamaan berubah menjadi sebuah fetisism.

Ada lima tingkatan Fetishist dilihat dari tindakan atau seberapa jauh hasrat Fetishist
kepada parts / objek / kegiatan yg dicintainya, berikut :
1. Tingkat I : Pemuja (Desires)

Ini adalah tahap awal. Tidak terlalu terpengaruh atau fetish tidak terlalu mengganggu
pikiran seseorang. Contohnya adalah saat seorang pria mengidamkan wanita dengan
payudara yg besar, rambut pirang, atau berbibir tipis. Namun bila pria ini tidak
mendapatkan wanita yg diimpikannya itu, dia tidak akan terlalu mempermasalahkannya
dan hubungan seksual dengan wanita itu tetap berjalan normal.
2. Tingkat II : Pecandu (Cravers)
Ini adalah tingkatan lanjutan dari tingkat awal. Saat seseorang Fetishist telah
mencapai tahap ini, psikologi orang ini akan membuat dirinya "amat membutuhkan"
pasangan dengan fetish tertentu yg didambakannya. Bila hal itu tidak dapat terpenuhi,
akan mengganggu hubungan seksual orang ini, misalnya hilang hasrat seksual atau tidak
tercapainya organsme / climaks.

3. Tingkat III : Fetishist Tingkat Menengah

Ini termasuk tingkat yg berbahaya, Fetishist akan melakukan apapun demi


mendapakan fetish yg dia inginkan dengan menculik, menyiksa, atau hal2 sadis lainnya.
Hasrat seksual Fetishist ini hanya akan terlampiaskan dengan seseorang yg memiliki
bagian yg dia inginkan TIDAK PEDULI ITU LAWAN JENIS ATAUPUN SEJENIS
4. Tingkat IV : Fetishist Tingkat Tinggi

£è
Lebih sadis dari tingkat III, pada tingkat ini seseorang TIDAK AKAN PEDULI
DENGAN HAL LAIN DILUAR FETISH-Nya. Misal Fetish seseorang adalah stocking
wanita, maka dia tidak membutuhkan wanita itu, hanya stockingnya saja. Dan yg lebih
parah adalah bila Fetish seseorang adalah bagian tubuh, dia hanya membutuhkan bagian
tubuh orang itu saja dan tidak peduli dengan orang yg memiliki bagian tubuh itu sendiri.
5. Tingkat V : Fetishistic Murderers
Penderita rela membunuh, memutilasi, demi mendapatkan fetish yg dia inginkan.
Penderita fetisme ini bisa disembuhkan dengan terapi psikologis dan pengobatan
kejiwaan lainnya. Tergantung dari tingkat Fetishist itu sendiri.

$ Ê""78 0

Bestially adalah bentuk penyimpangan orientasi seksual individu dimana terdapat


kejanggalan untuk mencapai kepuasan hubungan seksual dengan menggunakan hewan
sebagai media penyalur dorongan atau rangsangan seksual contohnya manusia dengan kuda,
anjing, sapi, kambing, ayam, bebek, kucing, babi, simpanse. Pada kasus semacam ini
penderita tidak memilki orientasi seksual terhadap manusia
Sedangkan ùoofilia adalah salah satu bentuk penyimpangan perilaku seksual dimana
terdapat orang atau individu yang terangsang melihat hewan melakukan hubungan seks

£D
dengan hewan. Jika bestialitas adalah sebutan untuk aktivitas seksualnya, maka
kecenderungan atau ketertarikan seksual manusia terhadap binatang disebut zoofilia.

$ ( ""+&0



Merupakan kelainan seksual dimana pelakunya mendapatkan kepuasan seks dengan


jalan menggesek-gesekkan bagian tubuhnya ke orang lain di tempat umum seperti kereta,
pesawat, bis, atau konser musik.

Aksi gesek-menggesek ini biasanya dilakukan dengan tangan atau juga dengan alat
kelamin yang dikenakan pada sembarang tubuh korban, termasuk pada area kelamin korban.
Mayoritas pelakunya adalah laki-laki dan kebanyakan korbannya adalah perempuan, walau
ada juga perempuan yang melakukannya kepada laki-laki atau laki-laki kepada sesamanya.
Orang dewasa yang melakukannya ke anak kecil juga ada. Adapun gejala dari Frotteurisme
antara lain adalah :

J‘ Memperoleh kepuasaan saat melakukan ³gesekan´


J‘ Ketagihan untuk melakukannya berulangkali

£ 
    +&0

Sadisme ± mengambil nama dari Marquis de Sade (1740-1814) adalah istilah yang
digunakan untuk menggambarkan kenikmatan atau rangsangan seksual yang diperoleh
dengan menimbulkan nyeri atau menyiksa pasangannya. Semakin sakit, semakin terangsang.

Masokisme ± nama pengarang terkenal lain tentang eksploitasi seksual, Leopold von
Sacher-Masoch (1836-1895) menggambarkan keinginan untuk mendapatkan nyeri dan
kenikmatan seksual dari siksaan atau hinaan (secara fisik atau verbal).

Penderita sadistik mendapatkan kepuasan seksual dari menimbulkan rasa sakit


dan/atau hinaan, sedangkan masokistik mendapatkan kepuasan seksual dari menerima rasa
sakit dan/atau hinaan. Aktivitas seksual sadomasokistik ditandai oleh teknik yang melibatkan
dominasi dan penyerahan ekstrim dan dengan memberi dan menerima siksaan. Sebagian
besar penderita adalah wanita. Disebut sadomasokistik karena pelakunya memiliki sisi
sadistik dan masokistik dari kepribadian mereka. Tetapi, walaupun banyak yang bertukar
peran, masokistik lebih banyak dari sadistik.

Secara teoritis, bila menelusuri teori Sadomasokisme sampai ke Sigmund Freud


dengan teorinya tentang tiga tipe manusia. Pertama, manusia yang mengalami kenikmatan
melalui oral (mulut). Kedua, manusia yang mengalami kenikmatan melalui anal (dubur). Dan
terakhir, manusia yang mengalami kenikmatan melalui genital (alat kelamin)..

£ë
Freud beranggapan bahwa manusia dewasa tidak semuanya
telah mencapai kematangan secara kejiwaan (psikologis). Mereka yang telah matang secara
kejiwaan adalah mereka yang bisa memperoleh kenikmatan dominan melalui penggunaan
organ-organ seksual. Jadi, menurut Freud, kalau secara seksual seseorang bisa mencapai
orgasme dan kepuasan batin dari hubungan seksual
dengan lawan jenisnya, maka orang itu sehat. Mereka yang tidak sehat adalah yang masih
terkungkung di dalam kenikmatan-kenikmatan oral dan anal. Dianggap bahwa keduanya
adalah cara-cara memperoleh kenikmatan yang kekanak-kanakan (infantile), arena memang
melalui oral dan anal seseorang yang genitalnya belum matang bisa memperoleh
kenikmatan.

Manusia dewasa tipe oral adalah mereka yang konsumtif. Apa saja dikonsumsinya,
terutama makanan dan minuman. Manusia dewasa tipe anal adalah mereka yang
mengumpulkan segala sesuatu. Maunya mencari dan mengumpulkan, dan bukan menikmati
hasil usahanya. Manusia tipe genital adalah yang bisa sharing secara seksual dengan lawan
jenisnya, dan menikmati sharing itu secara fisik maupun secara kejiwaan. Apabila manusia
dewasa bisa menjadi tipe genital maka, menurut Freud, orang itu sudah dewasa dan sehat.
Apabila masih belum melewati phase oral dan anal, maka orang itu sakit.

Kalau kita mengikuti jalan pikiran Freud, berarti manusia tipe sadis dan tipe masokis
adalah manifestasi dari kecenderungan kekanak-kanakan (infantile) yang terbawa terus
sampai ke masa dewasa. Tipe sadis adalah yang konsumtif, ingin mengkonsumsi segalanya
melalui mulut dengan mengunyahnya. Tipe masokis adalah yang mengumpulkan segala-
galanya, bahkan rasa sakit (pain) yang memang bisa dinikmatinya. Jadi, tipe masokis adalah
orang tipe anal.

Di jaman modern, kecenderungan itu tetap terbawa melalui institusi-institusi keluarga.


Anak pria dibesarkan dengan asumsi-asumsi sadistik: harus independen, harus menguasai,
harus dilayani, dsb. Anak wanita dibesarkan dengan asumsi-asumsi masokistik: harus
melayani, harus ramah, harus sabar, dsb. Dan ini masih berjalan terus bahkan sampai detik
ini. Di Indonesia, hal itu masih dirasakan sebagai suatu
kewajaran. Padahal barangkali tidak wajar sebab memang tidak alamiah. Itu adalah ³nurture´
dan bukan ³nature´. Merupakan hasil budaya manusia, dan bukan alami sebagai hakekat
manusia sebagai yang diciptakan oleh tuhan..

£·
Tidak semua pria adalah agresif, tetapi dipaksakan untuk seperti itu oleh budaya.
Tidak semua wanita adalah pasif, tetapi dipaksakan seperti itu oleh budaya. Apabila ini
dibawa sampai ke titik jenuhnya, akan timbul friksi-friksi. Friksi-friksi berupa mencuatnya
segala imajinasi yang membayangkan berbagai kenikmatan yang mungkin timbul apabila
suatu peran dijalani. Wanita yang dibesarkan untuk pasrah mungkin berimajinasi untuk
menjadi ³maskulin´. Akhirnya bukan maskulin yang terjadi,
tetapi sadisme. Sasarannya adalah pasangan hidupnya atau orang-orang dengan mana ia
memiliki hubungan romantis (seksual). Pria yang dibesarkan oleh budaya patriarkal mungkin
akan membayangkan betapa nikmatnya apabila bisa ³pasrah´ terhadap suatu kekuatan lain,
menjadi ³feminin´. Yang terjadi bukanlah femininitas, tetapi
enaknya rasa dikuasai oleh seseorang. Dengan kata lain, menjadi masokistik, menikmati
disakiti atau dikuasai oleh orang lain yang biasanya adalah pasangan
hidupnya sendiri atau orang-orang dengan mana ia memiliki hubungan romantis (seksual).

Sadomasokisme secara perilaku seksual tidaklah seberbahaya sadomasokisme secara


mental psikologikal. Dikatakan yang paling berbahaya sebab segala macam ancaman
terselubung (blackmails) bisa dilakukan oleh aktor-aktornya yang akhirnya membuat
terciptanya suatu lingkaran tak berawal dan tak berujung yang terus menerus berputar selama
aktor-aktornya masih sanggup untuk melakukan peran sadomasokistik itu. Salah satu aktor
adalah yang sadis, dan satunya lagi adalah yang masokistik. Mungkin bisa saling bertukar
peran, tetapi gamenya tetap sama, Sadomasokistik juga. Apabila tidak bisa ditemukan jalan
keluarnya, atau apabila salah satu partner dalam game itu merasa bahwa ³enough is enough´,
jalan keluarnya cuma satu, yaituperceraian (divorce). Kalau hubungannya bukan pernikahan,
maka yang terjadi adalah perpisahan (break up).

4 . " +&0


£
Gerontopilia adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang pelaku jatuh
cinta dan mencari kepuasan seksual kepada orang yang sudah berusia lanjut (nenek-nenek
atau kakek-kakek). Gerontopilia termasuk dalam salah satu diagnosis gangguan seksual, dari
sekian banyak gangguan seksual seperti voyurisme, exhibisionisme, sadisme, masochisme,
pedopilia, brestilia, homoseksual, fetisisme, frotteurisme, dan lain sebagainya. Keluhan
awalnya adalah merasa impoten bila menghadapi istri/suami sebagai pasangan hidupnya,
karena merasa tidak tertarik lagi. Semakin ia didesak oleh pasangannya maka ia semakin
tidak berkutik, bahkan menjadi cemas.
Gairah seksualnya kepada pasangan yang sebenarnya justru bisa bangkit lagi jika ia
telah bertemu dengan idamannya (kakek/nenek).Kasus Gerontopilia mungkin jarang terdapat
dalam masyarakat karena umumnya si pelaku malu untuk berkonsultasi ke ahli, dan tidak
jarang mereka adalah anggota masyarakat biasa yang juga memiliki keluarga (anak &
istri/suami) serta dapat menjalankan tugas-tugas hidupnya secara normal bahkan kadang-
kadang mereka dikenal sebagai orang-orang yang berhasil/sukses dalam karirnya. Meski
jarang ditemukan, tidaklah berarti bahwa kasus tersebut tidak ada dalam masyarakat
Indonesia.

Kecenderungan untuk melakukan hubungan kelamin dengan wanita-wanita yang lebih


tua atau yang lanjut usianya. Hal ini mungkin disebabkan pertimbangan-pertimbangan
ekonomi atau karena keinginan wanita-wanita itu untuk memperoleh kepuasan seks dari yang
lebih muda dari suaminya.

 ,"0

è
Hubungan kelamin terjadi antar dua orang di luar nikah sedangkan mereka adalah
berkerabat dekat sekali misalnya antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak laki-
lakinya atau saudara laki ± laki dengan saudara perempuan.

Hal ini sering terjadi pada masyarakat yang taraf kehidupannya amat rendah, dan juga
keluarga yang pecah (broken home). Hal ini disebabkan karena pada keluarga ini kurang
ditemukan disiplin dan kaburnya norma- norma kehidupan sebagai pegangan dalam
kehidupan berkeluarg. Incest merupakan tabu sosial yang besar, bahkan bisa merusak
keturunan.

6,  


#

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati)
bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi
dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit
untuk berubah dari mood ³senang luar biasa´ ke ³sedih luar biasa´, sementara orang dewasa
memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada
para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau
kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat,
hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis18.
Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang
dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap
pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau
selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri.
Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang
direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan
bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja
putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan
tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi
lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan ³hebat´. 18
Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya
jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa
orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau

èc
pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain
kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita
dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.18
Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali
mereka terlihat ³tidak memikirkan akibat´ dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering
dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat
jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-
jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati,
lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung-
jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jatidiri positif pada remaja.
Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang
lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai
acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai ³seseorang yang baru´; berbagai nasihat
dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan
dilakukan oleh para ³idola´nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini
juga akan menjadi sangat penting bagi remaja.18
Dari beberapa dimensi perubahan yang terjadi pada remaja seperti yang telah
dijelaskan diatas maka terdapat kemungkinan ± kemungkinan perilaku yang bisa terjadi pada
masa ini. Diantaranya adalah perilaku yang mengundang resiko dan berdampak negative pada
remaja. Perilaku yang mengundang resiko pada masa remaja misalnya seperti penggunaan
alcohol, tembakau dan zat lainnya; aktivitas social yang berganti ± ganti pasangan dan
perilaku menentang bahaya seperti balapan, selancar udara, dan layang gantung (Kaplan dan
Sadock, 1997). Alasan perilaku yang mengundang resiko adalah bermacam ± macam dan
berhubungan dengan dinamika fobia balik ( conterphobic dynamic ), rasa takut dianggap
tidak cakap, perlu untuk menegaskan identitas maskulin dan dinamika kelompok seperti
tekanan teman sebaya.
Semua masalah tersebut perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak mengingat
remaja merupakan calon penerus generasi bangsa. Ditangan remaja lah masa depan bangsa
ini digantungkan. Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan dalam upaya untuk
mencegah semakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja, yaitu antara lain :
Peran Orangtua :
‡ Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita
‡ Membekali anak dengan dasar moral dan agama
‡ Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua ± anak

è½
‡ Menjalin kerjasama yang baik dengan guru
‡ Menjai tokoh panutan bagi anak baik dalam perilaku maupun dalam hal menjaga
lingkungan yang sehat
‡ Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak
‡ Hindarkan anak dari NAPùA
Peran Guru :
‡ Bersahabat dengan siswa
‡ Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman
‡Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada kegiatan
ekstrakurikuler
‡Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga
‡Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP
‡Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas
‡Meningkatkan kerjasama dengan orangtua, sesama guru dan sekolah lain
‡Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek setempat
‡Mewaspadai adanya provokator
‡Mengadakan kompetisi sehat, seni budaya dan olahraga antar sekolah
‡Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembang secara sehat
dalah hal fisik, mental, spiritual dan sosial
‡Meningkatkan deteksi dini penyalahgunaan NAPùA
Peran Pemerintah dan masyarakat :
‡Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti
‡Menyediakan sarana/prasarana yang dapat menampung agresifitas anak melalui
olahraga dan bermain
‡Menegakkan hukum, sangsi dan disiplin yang tegas
‡Memberikan keteladanan
‡Menanggulangi NAPùA, dengan menerapkan peraturan dan hukumnya secara tegas
‡Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan
Peran Media :
‡Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesaui usia)
‡Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif)
‡Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang bebas biaya khusus
untuk remaja

è£
Berikut beberapa petunjuk-petunjuk praktis yang diberikan Stanley Coopersmith
(peneliti pendidikan anak), kepada orangtua dalam mendidik dan membina anak. Pertama,
kembangkan komunikasi dengan anak yang bersifat suportif. Komunikasi ini ditandai lima
kualitas; openness, empathy, supportiveness, positivenes, dan equality. Kedua, tunjukkanlah
penghargaan secara terbuka. Hindari kritik. Jika terpaksa, kritik itu harus disampaikan tanpa
mempermalukan anak dan harus ditunjang dengan argumentasi yang masuk akal.17

Ketiga, latihlah anak-anak untuk mengekspresikan dirinya. Orangtua harus membiasakan diri
bernegosiasi dengan anak-anaknya tentang ekspektasi perilaku dari kedua belah pihak.
Keempat, ketahuilah bahwa walaupun saran-saran di sini berkenaan dengan pengembangan
harga diri, semuanya mempunyai kaitan erat dengan pengembangan intelektual. Proses
belajar biasa efektif dalam lingkungan yang mengembangkan harga diri. Intinya, hanya
apabila harga diri anak-anak dihargai, potensi intelektual dan kemandirian mereka dapat
dikembangkan.17

Selain petunjuk yang diberikan Stanley di atas, keteladanan orangtua juga merupakan faktor
penting dalam menyelamatkan moral anak. Orangtua yang gagal memberikan teladan yang
baik kepada anaknya, umumnya akan menjumpai anaknya dalam kemerosotan moral dalam
berperilaku.17

Melihat fenomena ini, sepertinya misi menyelamatkan moral serta memperbaiki perilaku
generasi muda harus segera dilakukan dan misi ini menjadi tanggung jawab bersama,
tanggung jawab dari seluruh elemen bangsa. Jika misi ini ditunda, maka semakin banyak
generasi muda yang menjadi korban dan tidak menutup kemungkinan kita akan kehilangan
generasi penerus bangsa.17

Tidak gampang untuk menangani para penderita penyimpangan seksual terutama


remaja, karena mereka sering tidak menghendaki atau merasa tidak perlu mendapat terapi.
Namun demikian, perlu ada beberapa terapi psikiatrik yang dapat dicoba. Pertama,
melakukan pendekatan psikodinamik dan psikoanalitik (menggali pengalaman masa lalu
yang menyebabkan kelainan kejiwaan). Kedua, Melakukan terapi perilaku yang terdiri dari
aversive conditioning, yaitu conditioning untuk menimbulkan rangsangan (stimulus) terhadap
lawan jenis. Atau mengukur tingkat birahi dengan pletismometris penis. Tentang terapi ini
Prof. Arif Adimoelya, seorang ahli androlog dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga,

èè
terapi aversion diperlukan untuk menghilangkan conditioning yang ada atau hal-hal yang
menyebabkan kelainan psikoseksual.17

Penderita diberi kejutan listrik sementara disuguhi gambar-gambar atau film mengenai
penyimpangan seksual. Khususnya pada voyeurisme dan ekshibisionisme, penderita
hendaknya dipacu secara halus untuk lebih berani berkomunikasi langsung dengan lawan
jenisnya, sehingga diharapkan lambat laun akan berani melakukan kontak badan langsung.
Atau penderita diajari mengatasi rasa takut dan malu untuk mengungkapkan keinginan seks
yang benar.17

Ketiga, karena umumnya penderita mempunyai sifat dasar kekurangan social skill
(kecakapan sosial), maka mereka perlu disertakan dalam program terapi yang mengajarkan
kecakapan sosial serta empati terhadap dunia sekelilingnya. Ditambah lagi terapi perilaku
secara individual.17

Keempat, terapi farmakologi yang meliputi pemberian hormon wanita, anti androgen,
dan obat-obatan golongan penghambat daur ulang serotonin yang biasanya digunakan untuk
mengobati penderita depresi tetapi k eberhasilan terapi ini tampak lebih disebabkan oleh
penurunan nafsu birahinya. Terapi ini mungkin lebih efektif pada penderita parafilia bersifat
hiperseks.17

Kelima, tidak kurang pentingnya perhatian masyarakat terhadap penderita. Mereka


hendaknya tidak dicemoohkan tetapi diberi pengarahan agar berusaha menghilangkan
kebiasaan yang memalukan tersebut.17

$ # "$ 

Remaja yang bersikap hidup sehat adalah remaja:


1. Mengerti tujuan hidup
2.Memahami faktor penghambat maupun pendukung perkembangan kematangannya.
3. Bergaul dengan bijaksana
4. Terus menerus memperbaiki diri
Dengan demikian remaja dapat diharapkan menjaga remaja yang handal dan sehat. Remaja
harus mengetahui dirinya memiliki kekhawatiran dan harapan, dengan kata lain remaja harus

èD
mengerti dirinya sendiri. Faktor yang berkembang pada setiap remaja antara lain fisik,
intelektual, emosional, spiritual. Kecepatan perkembangan tersebut adalah sebagai berikut:
1.Fisik 35%
2.Intelektual 20%
3.Emosional 30%
4.Spiritual 15%
Faktor fisik berkembang secara tepat sedangkan faktor lainnya berkembang tidak sama
besar. Perkembangan yang tidak seimbang inilah yang menimbulkan kejanggalan dan
berpengaruh terhadap perilaku remaja. Bagaimana seseorang remaja melihat dirinya sendiri,
orang lain serta hubungannya dengan orang lain termasuk orang tua dan pembina?
Kadangkadang ia ingin dianggap sebagai anak-anak, orang dewasa, orang lain dianggap
sebagai orang tua, teman. Hubungan dirinya dengan orang lain dianggap bersifat:
1. Otoriter -------demokratis
2. Tertutup -------terbuka
3. Formal -------informal
Semua tersebut di atas dalam keadaan "dalam perjalanan menuju" Sehingga dapat dilihat
segalanya masih dalam proses dan tidak berada dalam kutub atau masa anak-anak ataupun
kutub atau masa dewasa. "Dalam perjalanan menuju" ini yang menonjol adalah:
1. Fisik yang kuat
2. Emosi yang cepat tersinggung
3. Sering mengambil keputusan tanpa berfikir panjang
4. Pertimbangan agama, falsafah, ataupun tatakrama hanya kadang-kadang
saja dipakai
Dan "Dalam perjalanan menuju" yang paling penting diketahui oleh remaja adalah bagaimana
remaja dapat berproses :
1.Menuju fisik yang ideal
2.Menuju emosi kelakian ataupun kewanitaan yang utuh
3.Menuju cara berfikir dewasa
4.Menuju mempercayai hal-hal yang agamais, bersifat falsafah dan bersifat tatakrama


è 
Ê Ê

9

:

J‘ Perilaku seksual meyimpang pada remaja adalah aktivitas seksual yang ditempuh pada
masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa untuk mendapatkan kenikmatan
seksual dengan tidak sewajarnya dalam konteks sosiologis dan psikologis.
J‘ Faktor yang mempengaruhi perilaku seksual peyimpang pada remaja antara lain adalah

M‘ Meningkatnya libido seksualitas


M‘ Penundaan usia perkawinan
M‘ Tabu-larangan
M‘ Kurangnya informasi tentang seks
M‘ Pergaulan yang makin bebas
M‘ Waktu /saat mengalami pubertas. Saat itu mereka tidak pernah memahami
tentang apa yang akan dialaminya.
M‘ Kontrol sosial kurang tepat yaitu terlalu ketat atau terlalu longgar
M‘ Frekuensi pertemuan dengan pacarnya. Hubungan antar mereka makin romantis.
M‘ Kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk mendidik anak-anak untuk
memasuki masa remaja dengan baik.
M‘ Kurangnya kontrol dari orang tua. Orang tua terlalu sibuk sehingga perhatian
terhadap anak kurang baik.
M‘ Status ekonomi.
M‘ Korban pelecehan seksual yang berhubungan dengan fasilitas antara lain sering
menggunakan kesempatan yang rawan misalnya pergi ke tempat-tempat sepi.
M‘ Tekanan dari teman sebaya.
M‘ Penggunaan obat-obatan terlarang dan alkohol.
M‘ Mereka kehilangan kontrol sebab tidak tahu batas-batasnya mana yang boleh dan
mana tidak boleh.
M‘ Mereka merasa sudah saatnya untuk melakukan aktifitas seksual sebab sudah
merasa matang secara fisik.
M‘ Adanya keinginan untuk menunjukkan cinta pada pacarnya.
M‘ Penerimaan aktifitas seksual pacarnya.

èë
M‘ Sekedar menunjukkan kegagahan dan kemampuan fisiknya.
M‘ Terjadi peningkatan rangsangan pada seksual akibat peningkatan kadar hormon
reproduksi/seksual.

J‘ Gangguan-gangguan pada tingkah laku seksual 


- .""
1. Transeksualisme
2. Gangguan identitas jenis masa kanak-kanak
3. Gangguan identitas jenis tidak khas
/- 
Dapat dilihat dari tiga kategori :
1. Dari cara penyaluran dorongan seksualnya:
J‘ Masochisme J‘ Voyeurisme
J‘ Sadisme. J‘ Transvestisme
J‘ Eksibitionisme J‘ Sodomi
J‘ Scoptophilia
2. Dari orientasi atau sasaran seksual yang menyimpang
J‘ Pedophilia. J‘ Frottage
J‘ Bestiality J‘ Incest
J‘ ùoophilia J‘ Mysophilia, coprophilia dan
J‘ Necriphilia Urophilia

J‘ Pornography J‘ Onani , Masturbasi

J‘ Fetishisme

3. Dilihat dari tingkat penyimpangan, keinginan, dan kekuatan dorongan seksual :


J‘ Nymphomania
J‘ Satriasis
J‘ Promiscuity dan prostitusi
J‘ Perkosaan

,-  

è·
1.Hambatan selera seksual 5. Ejakulasi prematur
2. Hambatan gairah seksual: 6. Dispareunia fungsional
3. Hambatan orgasme wanita 7. Vagina fungsional
4. Hambatan orgasme pria


J‘ Cara untuk mencegah semakin meningkatnya masalah yang terjadi pada remaja, yaitu
Peran Orangtua :
‡ Menanamkan pola asuh yang baik pada anak sejak prenatal dan balita
‡ Membekali anak dengan dasar moral dan agama
‡ Mengerti komunikasi yang baik dan efektif antara orangtua ± anak
‡ Menjalin kerjasama yang baik dengan guru
‡ Menjai tokoh panutan bagi anak baik dalam perilaku maupun dalam hal menjaga
lingkungan yang sehat
‡ Menerapkan disiplin yang konsisten pada anak
‡ Hindarkan anak dari NAPùA
Peran Guru :
‡ Bersahabat dengan siswa
‡ Menciptakan kondisi sekolah yang nyaman
‡Memberikan keleluasaan siswa untuk mengekspresikan diri pada kegiatan
ekstrakurikuler
‡Menyediakan sarana dan prasarana bermain dan olahraga
‡Meningkatkan peran dan pemberdayaan guru BP
‡Meningkatkan disiplin sekolah dan sangsi yang tegas
‡Meningkatkan kerjasama dengan orangtua, sesama guru dan sekolah lain
‡Meningkatkan keamanan terpadu sekolah bekerjasama dengan Polsek setempat
‡Mewaspadai adanya provokator
‡Mengadakan kompetisi sehat, seni budaya dan olahraga antar sekolah
‡Menciptakan kondisi sekolah yang memungkinkan anak berkembang secara sehat
dalah hal fisik, mental, spiritual dan sosial
‡Meningkatkan deteksi dini penyalahgunaan NAPùA
Peran Pemerintah dan masyarakat :
‡Menghidupkan kembali kurikulum budi pekerti

è
‡Menyediakan sarana/prasarana yang dapat menampung agresifitas anak melalui
olahraga dan bermain
‡Menegakkan hukum, sangsi dan disiplin yang tegas
‡Memberikan keteladanan
‡Menanggulangi NAPùA, dengan menerapkan peraturan dan hukumnya secara tegas
‡Lokasi sekolah dijauhkan dari pusat perbelanjaan dan pusat hiburan
Peran Media :
‡Sajikan tayangan atau berita tanpa kekerasan (jam tayang sesaui usia)
‡Sampaikan berita dengan kalimat benar dan tepat (tidak provokatif)
‡Adanya rubrik khusus dalam media masa (cetak, elektronik) yang bebas biaya khusus
untuk remaja

D
 (9 # 9 : 

1)‘ Sarwono, S. W. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

2)‘ Glevinno, A. 2008. Remaja dan Seks. (http://public.kompasiana.com/). Diakses tanggal:

31-10-2010.

3)‘ Kuntjojo. 2008. Mencegah Perilaku Seks Yang Tidak Sehat Pada Remaja Melalui
Pendidikan seks. (http://ebekunt.wordpress.com/). Diakses tanggal: 31-10-2010.
4)‘ Pasti, Y. P. 2008. Memotret Perilaku Seks Remaja. (http://whandi.net/index.php).
Diakses tanggal: 31-10-2010.
5)‘ Jusuf, A. A. 2006 . Bahaya Sex Bebas Pada Remaja, Dari Aspek Medis dan Islam.
(http://staff.ui.ac.id/internal/132015140/material/dampaksexbebaspadaremaja-2006.doc)
Diakses tanggal: 29-10-2010.

6)‘ Soetjiningsih. 2007. Tumbuh Kembang Remaja Dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung
Seto.
7)‘ Willis, S. S. 2005. Remaja Dan Masalahnya. Bandung: Alfabeta.
8)‘ Annonymus, 2010. Mastubasi,Onani,Rancap. (http://id.wikipedia.org/wiki/Masturbasi)
Diakses tanggal: 30-10-2010.
9)‘ Hadinisme. 2010. Sejarah Onani dan masturbasi
(http://hadinisme.blogspot.com/2010/10/sejarah-onani-dan-masturbasi.html) Diakses
tanggal: 31-10-2010.

10)‘ Ali, M. Dkk. 2009. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
11)‘ Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta
12)‘ Abdullah. 2008. Penyimpangan Seksual. http://www.diffy.com/cmm/artikel
definisi.penyimpangan1.html.Diakses tanggal: 31-10-2010.
13)‘Arief, Kushartati. 2001. Remaja dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Depdiknas.
14)‘Dianawati, Ajen. 2006. Pendidikan Seks Untuk Remaja. Jakarta: Kawan Pustaka.
15)‘Junaedi, Didi. 2010. 17+ Seks Menyimpang. Jakarta: Semesta Rakyat Merdeka.
16)‘ Mahmud, Farhan. 2002. Penyimpangan Seksual. (www.google.com
/seksmenyimpang.). Diakses tanggal: 27-10-2010.

Dc
17)‘ Back Van Dongokman . 2010 . Parafilia, Penyimpangan Perilaku  (
http://r.yuwie.com/blog/entry.asp?id=610310&eid=500474 ). Diakses Tanggal 28-10-
2010

18)‘ Widianti , E. 2010 .Remaja dan Permadalahannya. (http://resources.unpad.ac.id/unpad-


content/uploads/publikasi_dosen/1A%20makalah.remaja&masalahnya.pdf). Diakses
Tanggal 31±10-2010