Anda di halaman 1dari 2

Titin Andiatina

Etoser 2008

Syiar Islam bidang peternakan


Berdakwah atau mensyiarkan agama islam merupakan kewajiban bagi setiap muslim,
sebagaimana sering didengungkan pada setiap pelatihan bahwa setiap dari diri kita adalah
da’i (pensyiar ajaran islam), minimal da’i bagi diri kita sendiri. Dilanjutkan pula dengan kata
Balighuanni walaw ayah sampaikanlah meskipun satu ayat, hal ini berarti bahwa kita
dianjurkan untuk selalu menyampaikan apa yang kita ketahui pada orang-orang di sekeliling
kita. Hal yang dapat dikatakan paling mudah untuk kita lakukan adalah memberitahukan
segala sesuatu yang sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki (meski tidak selamanya
benar bagi semua orang). Syiar Islam di bidang peternakan merupakan salah satu hal yang
secara tidak langsung dianggap penting bagi kehidupan manusia, karena peternakan
bersinggungan baik secara langsung pada kehalalan produk pangan asal hewani yang
dikonsumsi oleh manusia. Bahkan Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa semua
makanan halal dimakan kecuali bangkai, babi, anjing dan hewan berkuku dan bergigi tajam
serta bertaring. Oleh karena itu seleksi ketat memang harus dilakukan untuk memperoleh
produk pangan asal hewani yang aman dan terutama halal bagi masyarakat muslim.

Hingga saat ini peternakan babi masih luas tersebar di beberapa titik di Indonesia,
kasus penjualan ayam tiren (#bangkai ayam) juga masih sering terdengar, belum lagi dengan
pemalsuan makanan yang dijual atas nama kambing/sapi padahal menggunakan hewan yang
dinyatakan haram untuk dimakan. Hal tersebut bukan tidak mungkin disebabkan karena
kurangnya kepahaman dan kesadaran pengelola peternakan untuk berusaha menyediakan
produk yang aman dan halal dikonsumsi. Oleh karena itu pencerdasan pada peternak sangat
penting untuk dilakukan, terutama pemahaman akan nilai-nilai islam.

Di lingkungan belajar (#kampus) batas syiar islam jika dilihat sekilas akan nampak
kabur, karena memang dengan dalih belajar kita tidak diperbolehkan untuk menolak
memasuki peternakan babi, maupun mempelajari berbagai prospek bisnis hewan tersebut,
bahkan tidak jarang pengampu mengajarkan untuk membuka usaha di pengolahan pangan
asal babi karena usaha ini cenderung masih jarang yang menjalankan tetapi prospeknya
sangat bagus dengan peluang laba yang cukup menggiurkan. Inilah yang membuat
mahasiswa peternakan harus ekstra hati-hati dalam menyikapi ‘pembelajaran’ yang ia
peroleh, karena batasnya sangat tipis antara informasi yang baik untuk dipraktekkan dan
informasi yang hanya untuk didengarkan sedangkan keduanya mempunyai nilai matriil yang
cukup menggiurkan.

Dakwah bidang peternakan secara garis besar dapat meliputi hal berikut :

- Pemahaman akan ajaran islam bahwa beternak merupakan salah satu yang
dicontohkan oleh Nabi dan di dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa hewan ternak
telah diperuntukkan untuk dapat dimanfaatkan oleh manusia (hal ini mampu
mematahkan teori vegetarian yang mengatasnamakan rasa kemanusiaan pada hewan
yang dipotong).
- Pelaksanaan proses produksi dan pemberian pakan pada ternak yang baik (dan halal)
agar dapat menghasilkan bahan baku yang baik pula sesuai dengan yang diajarkan
oleh islam.
- Pengolahan ternak sebagai bahan baku pangan untuk manusia agar menghasilkan
produk pangan yang halal.

Dari ketiga hal tersebut yang paling penting untuk kita lakukan dalam berdakwah adalah
memberikan pemahaman akan pentingnya ajaran islam pada peternak agar setelah peternak
faham dapat mengaplikasikannya pada pekerjaan yang dijalani. Selain itu setelah kita
menjadi seorang peternak atau setidaknya orang yang aktif dalam kegiatan bidang ini, kita
dapat mencontohkan bagaimana cara beternak yang baik tanpa melupakan penerapan ajaran
islam. Sehingga peternak lain dapat memiliki contoh peternak yang dikelola dengan ‘islami’,
karena salah satu cara terbaik untuk mengajak seseorang melakukan sesuatu adalah dengan
memberikannya contoh.