Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH SEMINAR UMUM

PNA 4080

KEGIATAN PERANTINGAN SEBAGAI SALAH SATU UPAYA


PENINGKATKAN PRODUKSI KAKAO (Theobroma cacao L.)

Disusun Oleh:
Nama : Aji Prasetio
Nomor Mahasiswa : 06/194492/PN/10676
Dosen Pembimbing : Ir. Sriyanto Waluyo, M.Sc.
Tanggal Presentasi : 15 April 2010

PROGRAM STUDI AGRONOMI


JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010

 
HALAMAN PENGESAHAN

MAKALAH SEMINAR UMUM


SEMESTER II TAHUN AKADEMIK 2009/2010

KEGIATAN PERANTINGAN SEBAGAI SALAH SATU UPAYA


PENINGKATAN PRODUKSI KAKAO (Theobroma cacao L.)

Disusun oleh :
Nama : Aji Prasetio
NIM : 06/194492/PN/10676

Makalah seminar umum ini telah disetujui dan disahkan sebagai salah satu
kelengkapan mata kuliah Seminar Umum (PNA 4080) pada semester II tahun ajaran
2009/2010.
Yogyakarta, April 2010

Dosen Pembimbing Tanda Tangan Tanggal

Ir. Sriyanto Waluyo, M.Sc. ...................... .................

Komisi Seminar Mahasiswa Tanda Tangan Tanggal

Ir. Sri Muhartini, M.S. ...................... .................

Ketua Jurusan Budidaya Pertanian Tanda Tangan Tanggal

Prof. Dr. Ir. Didik Indradewa, Dip. Agr. St. ...................... .................

ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN COVER .............................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii
INTISARI ................................................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ...................................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................................... 2
C. Kegunaan................................................................................................ 2
BAB II PERANTINGAN PADA TANAMAN KAKAO ...................................... 3
A. Sekilas tentang Tanaman Kakao ......................................................... 3
B. Pemangkasan/Perantingan Tanaman Kakao ..................................... 4
BAB III PENUTUP ................................................................................................. 14
A. Kesimpulan ............................................................................................ 14
B. Saran ....................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 15

iii
 
INTISARI

Keterkaitan proses-proses fisiologis tanaman terhadap hasil memang


sangat erat kaitannya. Begitu juga pada tanaman kakao. Untuk
mendapatkan kakao dengan produksi tinggi, salah satunya dilakukan
usaha pemangkasan/perantingan. Prinsipnya, kegiatan perantingan kakao
ini dilakukan untuk membentuk frame, memelihara tinggi tanaman untuk
memudahkan kegiatan petik serta mengurangi jumlah daun ternaungi
maupun yang menaungi agar tanaman memiliki asimilat yang cukup untuk
dikonversi sebagai senyawa-senyawa sekunder berupa hasil yang dipanen.
Keywords: perantingan, pemangkasan, kakao, ILD, LAI

iv
 
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara yang terletak di daerah tropis yang cocok
untuk budidaya berbagai tanaman baik hortikultura maupun perkebunan. Selain itu,
sebagai negara agraris, Indonesia merupakan negara yang menghasilkan beberapa
komoditi andalan yang dibutuhkan oleh pasar dunia diantaranya adalah kakao, kopi,
dan karet (Sikumbang et al., 2004).
Dari data tahun panen 2005, sebagai negara penghasil kakao, Indonesia
menempati urutan ketiga (13 %), setelah Pantai Gading (38 %) dan Ghana (19 %).
Selanjutnya Nigeria (5 %), Brasil (5 %), Kamerun (5 %), Ekuador (4 %) dan
Malaysia (1 %) (Anonim a, 2009). Sampai tahun 2005, data luas lahan yang
diusahakan untuk penanaman kakao tercatat 1.167.046 ha dengan total produksi
sebanyak 748.828 ton. Pada tahun 2009 diperkirakan (estimasi dengan model
double exponential smoothing) luasan ini akan bertambah dan mencapai angka
1.303.917 ha dengan produksi total 882.931 ton (Anonim b, 2009).
Untuk meningkatkan produktivitas kakao, para pelaku perkebunan
menerapkan 2 langkah dasar, yaitu ekstensifikasi dan intensifikasi perkebunan.
Permasalahannya adalah, tidak semua perkebunan dapat melakukan ekstensifikasi
lahan perkebunannya dengan cara memperluas areal pertanaman. Hal tersebut
dikarenakan kebutuhan pemukiman penduduk yang semakin meningkat, khususnya
di pulau Jawa. Alternatif yang lain adalah dengan melakukan intensifikasi dalam
kegiatan budidaya, seperti pemilihan bibit unggul berkualitas, pemupukan yang
tepat, pengendalian organisme pengganggu tanaman, dsb. Selain hal tersebut, yang
tidak kalah penting adalah kita mengetahui proses-proses fisiologis tanaman kakao
untuk kemudian memberikan perlakuan yang tepat pada tanaman kakao tersebut.
Salah satu upaya tersebut adalah dengan melakukan kegiatan pemangkasan
(perantingan). Pada praktek di lapangan, terdapat beberapa jenis kegiatan
perantingan yang dilakukan sesuai dengan kebutuhannya yang bermuara untuk
membantu meningkatkan produksi kakao. Kegiatan perantingan inilah yang akan
menjadi topik dalam makalah seminar umum mahasiswa kali ini.

1
 
B. Tujuan
1. Mengetahui kegiatan-kegiatan perantingan dilakukan pada tanaman kakao
(Theobroma cacao L.).
2. Mengetahui manfaat perantingan terkait dengan proses-proses fisiologis
tanaman untuk membantu meningkatkan produksi kakao (Theobroma cacao L.).

C. Kegunaan
1. Memenuhi persyaratan kurikulum S1 di Fakultas Pertanian Universitas
Gadjah Mada.
2. Memperoleh pengetahuan yang komperehensif berkaitan dengan kegiatan
perantingan pada tanaman kakao (Theobroma cacao L.).

2
 
BAB II
PERANTINGAN PADA TANAMAN KAKAO

A. Sekilas tentang Tanaman Kakao


Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) merupakan tanaman yang berasal dari
Amerika Tengah. Pada tahun 1519 bangsa Indian Maya dan Astek di Amerika
Tengah diketahui mempunyai pengetahuan tentang cara bercocok tanam dan
pengolahan biji kakao. Penyebaran tanaman kakao yang berasal dari Amerika
Tengah menyebar ke India Timur dan Venezuela hingga ke Asia. Pada tahun 1560,
tanaman kakao dibawa masuk oleh bangsa Spanyol ke Indonesia (Sulawesi).
Adapun sistematika tanaman kakao menurut klasifikasi secara botani adalah
(Syamsulbahri, 1996):
Divisio : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Malvales
Familia : Sterculiaceae
Genus : Theobroma
Species : Theobroma cacao L.
Tanaman kakao merupakan tanaman yang meghasilkan bunga pada batang atau
cabang sehingga digolongkan ke dalam kelompok tanaman caulifloris. Salah satu
aspek fisiologis yang penting dalam hubungannya dengan peningkatan produksi
adalah pertumbuhan reproduktif yang terdiri dari pembungaan, pembentukan buah,
hingga masak. Terjadi saling ketergantungan antara pembungaan dan pembentukan
buah dalam mempengaruhi poroduktivitas (Winarsih, 1986).
Kakao sendiri adalah bahan baku yang banyak dipakai pada berbagai industri,
misalnya makanan, minuman, kosmetik, kimia, farmasi, pakan ternak, dan
sebagainya.
Produksi buah kakao antar pohon bervariasi, hal ini disebabkan karena banyak
faktor yang mempengaruhi antara lain banyaknya bunga yang dihasilkan, sifat
kompatibel dan inkompatibel pada masing-masing klon atau varietas, pengaruh
layu pentil, serta tingkat serangan hama dan penyakit sejak pembuahan hingga
pemanenan (Palaniapan dan Samsudin, 1989 cit. Suhendi, 1994).

3
 
Di Indonesia, kakao banyak diusahakan di daerah Sulawesi, khususnya di
daerah Sulawesi Selatan. Namun, secara umum, setiap daerah di Indonesia juga
sudah banyak yang mengusahakan kakao sebagai tanaman budidaya dengan luasan
areal pertanaman yang bervariasi. Data dari Pusat Data dan Informasi Departemen
Perindustrian tentang luas lahan dan produksi kakao adalah sebagai berikut
(Anonim c, 2007): Sumatra 147.000 ha (98.000 ton), Jawa 47.000 ha (21.000 ton),
Kalimantan 37.000 ha (26.000 ton), Bali 31.000 ha (18.000 ton),
Sulawesi 588.000 ha (435.000 ton), Nusa Tenggara 48.000 ha (18.000 ton), Maluku
dan Papua 82.000 ha (38.000 ton). Sedangkan untuk totalnya, luas lahan dan
produksi kakao di Indonesia mencapai 992.000 ha (851.000 ton).

B. Pemangkasan/Perantingan Tanaman Kakao


Kakao adalah tanaman dengan habitus pohon yang dapat tumbuh tinggi jika
tidak dilakukan pemangkasan (mencapai 10 m). Secara umum, tanaman kakao
dipangkas untuk membentuk dan mengatur frame, serta untuk menjaga agar
tanaman tidak tumbuh terlampau tinggi sehingga mempersulit pekerja dalam
kegiatan pemeliharaan (pengendalian hama dan penyakit), maupun kegiatan petik
kakao. Alat-alat yang digunakan pada kegiatan perantingan/pemangkasan antara
lain: sabit bergalah (angkus), gunting tanaman, dan gergaji tanaman.

Gambar 1. Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan pemangkasan:


a). gunting pangkas, gergaji dan pisau pangkas, b). sabit bergalah (angkus).

4
 
Selain hal tersebut di atas, tinjauan proses-proses fisiologis tanaman kakao juga
digunakan sebagai dasar tujuan dilakukannya kegiatan pemangkasan.
a. Tujuan dan Manfaat Pemangkasan
Pada dasarnya yang dipanen dari setiap tanaman sebenarnya adalah hasil
fotosintesis atau asimilat yang telah dirubah menjadi senyawa-senyawa
sekunder. Pemangkasan kakao merupakan salah satu upaya agar laju
fotosintesis berlangsung optimal, hasil bersih fotosintesis maksimal, dan
distribusinya ke organ-organ yang membutuhkan berlangsung lancar. Proses
tersebut dan faktor-faktor yang berpengaruh perlu dipahami sebagai dasar
dalam melakukan tindakan pemangkasan yang benar.
Produksi kakao yang tinggi tentunya berbanding lurus dengan banyaknya
asimilat yang terbentuk. Fotosintesis berlangsung terutama dengan kehadiran
dua pigmen, yaitu klorofil a dan klorofil b, dan sejauh yang diketahui hanya
berlangsung di dalam kloroplas dalam sel hidup. Umumnya fotosintesis terjadi
di permukaan daun yang mengandung klorofil. Daun sebagai faktor-faktor
penting dalam proses fotosintesis, daun bisa dikatakan sebagai sumber (source)
untuk memasok asimilat ke seluruh organ tanaman. Namun, keberadaan daun
juga dapat menjadi pemakai (sink) asimilat itu sendiri apabila terjadi keadaan
saling menaungi (mutual shading). Sehingga pasokan asimilat ke organ-organ
tanaman yang lain, khususnya buah berkurang dan akhirnya akan berdampak
pada turunnya produktivitas.
Parameter yang erat kaitannya dengan fotosintesis adalah ILD
(indeks luas daun), yaitu angka yang menunjukkan nisbah antara total luas
seluruh daun yang ada di tajuk tanaman dan luas bidang tanah yang ternaungi
tajuk tanaman tersebut.
Fotosintesis tanaman kakao berlangsung optimal pada penyinaran matahari
60-80 % dari penyinaran penuh (langsung). Laju fotosintesis pada
ILD optimum 3,5-5,0 mg/dm2/hari, setara produksi bahan kering
12,8-18,2 ton/ha/tahun (Alvim, 1977 cit. Lukito et al., 2004). Dibandingkan
dengan tanaman keras lainnya, harkat tersebut sangat rendah. Secara seluler,
jumlah klorofil per sel palisade dan sel bunga karang sangat rendah, yaitu hanya
tiga buah (Bogorad cit. Baker et al., 1975 cit. Lukito et al., 2004).

5
 
ILD akan bertambah seiring dengan pertambahan jumlah daun tanaman.
Peningkatan ILD juga akan mendorong peningkatan hasil asimilasi bersih
(NAR= Net Assimilate Rate). Namun, pada titik tertentu, adakalanya hasil
asimilasi bersih akan menurun walaupun pertumbuhan daun tinggi
(ILD meningkat). Hal tersebut dikarenakan adanya daun yang saling ternaungi,
sehingga hasil asimilasinya tidak cukup untuk kegiatan respirasi. Fenomena
seperti ini merubah status daun yang awalnya sebagai source menjadi sink.
Dari hal tersebut maka diketahui bahwa untuk menjaga hasil asimilat yang
cukup perlu dilakukan kegiatan pengurangan daun (pemangkasan cabang yang
tidak produktif). Hal ini dilakukan untuk menjaga agar ILD kakao berada pada
titik optimal sehingga didapatkan hasil fotosintesis maksimal.
Indeks Luas Daun (ILD) optimal dipengaruhi oleh hal-hal berikut
(Lukito et al., 2004):
1. Umur tanaman. ILD berkembang seiring pertumbuhan tajuk tanaman.
2. Intensitas penyinaran (musim dan letak matahari). Pada musim kemarau,
ILD optimal lebih tinggi daripada pada musim hujan karena musim
kemarau lebih banyak energi cahaya yang tersedia. Pada cuaca yang
selalu berawan, intensitas penaungan perlu dikurangi agar ILD optimal
yang dicapai lebih tinggi, sehingga hasil bersih fotosintesis tinggi.
3. Jarak tanam (populasi). Semakin rapat jarak tanam, ILD optimal
semakin rendah karena peluang daun-daun saling menaungi dan peluang
ternaungi oleh tanaman di sebelahnya semakin besar.
4. Kultivar atau varietas yang berkaitan dengan ukuran dan distribusi daun.
Varietas yang ukuran daunnya kecil, ILD optimal lebih besar daripada
varietas yang daunnya lebar. Varietas yang daunnya cenderung vertikal,
ILD optimal lebih besar daripada yang daunnya cenderung horisontal.
Untuk mengetahui ILD, pengukuran struktur tajuk dapat dilaksanakan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dengan membongkar
tanaman serta mengukur luas semua daun (LA= leaf area) dan luas tanah yang
dinaungi (GA= ground area). Secara langsung, rumusnya adalah ILD= LA/GA.
Pengukuran secara tidak langsung dilakukan dengan berdasar pada penerusan
cahaya oleh tajuk tanaman. Banyak penelitian membuktikan cahaya turun
secara eksponensial dengan semakin masuk kedalam tajuk tanaman. Secara

6
 
matematis penurunan tersebut dapat dituliskan menurut hukum Beer’s dalam
Nobel et al. (1993) cit. Lukito et al. (2004) sebagai berikut.
F
Q Q .e
è F ln Q ⁄QF : k
Keterangan:
F = ILD (indek luas daun)
Q0 = intensitas cahaya matahari diatas tajuk kakao
QF = intensitas cahaya matahari dibawah tajuk kakao
k = koefisien penghambatan cahaya oleh tajuk (foliar absorption
coefficient) angkanya 0,3-1,3 untuk kebanyakan jenis tanaman.
Susunan daun erektofilik (mendekati vertikal), k= 0,4, dan
daun planofilik (mendekati horisontal), k= 1,1. Untuk tanaman
kakao menurut Alvim (1975) cit. Lukito et al. (2004), nilai k= 0,62
(0,57-0,67).

Selain mengatur ILD, pemangkasan juga dimaksudkan untuk mendorong


tumbuhnya tunas-tunas baru dan daun-daun baru. Daun-daun muda inilah yang
menjadi produsen asimilat yang kuat serta hormon pembungaan. Keterkaitan
kegiatan pemangkasan yang dilakukan juga berpengaruh pada keadaan hormon
yang ada pada tanaman tersebut. Dengan pemangkasan terjadi perubahan
keseimbangan hormon ABA (Abscisic Acid) dan sitokinin. Abscisic Acid
dibentuk oleh daun-daun tua dan berperan memacu gugurnya daun. Sementara
itu, sitokinin yang dibentuk di ujung-ujung akar berperan memacu pertunasan
ranting dan tumbuhnya daun baru.
Pemangkasan ringan tetapi sering dinilai lebih baik daripada pemangkasan
berat. Hal tersebut dikarenakan ketika dilakukan pemangkasan berat maka
ketika pertumbuhan daun dan buah sama-sama serentak dalam satu waktu maka
yang terjadi adalah buah kalah bersaing dalam memanfaatkan asimilat. Buah
tersebut umumnya terlihat layu, kering, dan mati (cherrelle wilt).

7
 
Pemangkasan tanaman kakao mempunyai tujuan sebagai berikut (Lukito et
al., 2004):
1. Memperoleh kerangka dasar (frame) percabangan tanaman kakao yang
baik.
2. Mengatur penyebaran cabang dan daun-daun produktif di tajuk merata.
3. Membuang bagian-bagian tanaman yang tidak dikehendaki, seperti
tunas air serta cabang sakit, patah, menggantung dan cabang terbalik.
4. Memacu tanaman membentuk daun baru yang potensial untuk sumber
asimilat.
5. Menekan resiko terjadinya serangan hama dan penyakit.
6. Meningkatkan kemampuan tanaman menghasilkan buah.

b. Jenis Pemangkasan
Pada tanaman kakao, terdapat tiga jenis pemangkasan menurut tujuannya,
yaitu: pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan
produksi. Pelaksanaan ketiga jenis pemangkasan itu juga dilaksanakan pada
waktu dan prioritas yang berbeda.

Gambar 2. Bagian-bagian tanaman kakao.

8
 
1. Pemangkasan Bentuk
Pemangkasan bentuk adalah kegiatan pemangkasan yang dilakukan
untuk membentuk frame (tajuk) tanaman kakao yang baik. Frame atau
tajuk yang baik secara umum adalah bentuk tajuk merata, memiliki
3 jorket (jorquette) yang simetris agar memperkecil ruang terbuka pada
saat tanaman tersebut sudah dewasa di lapangan serta agar sinar
matahari dapat diserap seluruh daun secara optimal oleh tanaman
tersebut. Pemangkasan bentuk ini dilakukan pada saat tanaman kakao
sudah membentuk jorket dan cabang-cabang primer sampai tanaman
memasuki fase produktif.
Untuk mengoptimalkan tujuan hasil perantingan, sebaiknya tanaman
dipangkas pada saat berumur 8-12 bulan (tanaman muda) dan pada saat
berumur 18-24 bulan (tanaman remaja) (Thorold, 1975). Tanaman yang
dilakukan pemangkasan bentuk umumnya masih relatif muda karena
pada umur tersebut tanaman belum terlalu tinggi dan mudah dijangkau
pekerja untuk melakukan kegiatan pemangkasan tersebut.
Teknik kegiatan pemangkasan bentuk dilakukan dengan cara
sebagai berikut (Lukito et al., 2004):
- Memotong cabang primer (lazimnya 4-6 cabang) hingga tersisa tiga
cabang yang tumbuh sehat dan arahnya simetris.
- Membuang cabang-cabang sekunder yang tumbuh terlalu dekat
dengan jorket (berjarak 40-60 cm).
- Mengatur cabang-cabang sekunder berikutnya agar jaraknya tidak
terlalu rapat satu sama lain dengan membuang sebagian cabang-
cabangnya.
- Jangan memotong ujung cabang primer agar tajuk kakao dapat
segera saling menutupi.
- Memotong cabang-cabang yang tumbuh meninggi untuk membatasi
tinggi tajuk kakao, sehingga tinggi tanaman kakao hanya 4-5 m.

9
 
Gambar 3. Pemangkasan bentuk (disisakan 3 cabang primer yang
simetris) (Wahyudi et al., 2008).

2. Pemangkasan Pemeliharaan
Pemangkasan/perantingan pemeliharaan bertujuan untuk
mempertahankan frame yang telah terbentuk, memelihara tanaman
kakao agar tetap sehat sehingga pertumbuhannya bisa berlangsung baik
tanpa ada gangguan OPT. Selain itu, untuk pemangkasan ini juga
dimaksudkan untuk memacu pembentukan organ-organ tanaman seperti
daun, bunga, dan buah.
Dalam perantingan pemeliharaan, dikenal istilah wiwilan, yaitu
kegiatan membuang tunas air. Wiwilan bisa dilakukan secara manual
menggunakan tangan (Prawoto et al., 2008). Tunas air adalah tunas
muda yang sangat rakus hara, oleh karena itu kegiatan wiwilan perlu
dilakukan secara terus-menerus. Wiwilan secara manual
dilakukanapabila tunas air tersebut masih muda dan lunak. Namun,
ketika sudah mulai berkayu, wiwilan dapat dilakukan dengan
menggunakan sabit.
Pada prinsipnya, pemangkasan pemeliharaan adalah memotong
ranting atau cabang yang sangat ternaungi maupun yang menaungi,
masuk jauh ke tajuk tanaman didekatnya, menggantung, sakit atau patah.
itu, kegiatan sampingan pada kegiatan pemangkasan pemeliharaan
adalah memetik buah-buah yang sakit dan membenamnya untuk
menghindari tertularnya buah yang masih sehat.

10
 
Gambar 4. Kegiatan pemangkasan pemeliharaan dengan
menggunakan sabit bergalah (angkus).

Pemangkasan pemeliharaan juga dimaksudkan untuk mengurangi


daun pada cabang yang menggantung dan menghalangi aliran udara
didalam kebun, sehingga cabang kembali dapat terangkat. Dalam hal ini,
pemangkasan hanya dilakukan pada bagian yang bersifat parasiter
(Lukito et al., 2004). Pemangkasan ini dilakukan secara ringan di sela-
sela pemangkasan produksi dengan frekuensi 2-3 bulan sekali. Hal ini
juga dilakukan untuk membantu melindungi tanaman dari serangan
hama dan penyakit (sanitasi).

11
 
Keterangan:
Q0= intensitas cahaya matahari diatas tajuk kakao
QF= intensitas cahaya matahari dibawah tajuk kakao

Gambar 5. Bagan Pangkas Pemeliharaan (Lukito et al., 2004).

3. Pemangkasan Produksi
Tujuan dari pemangkasan produksi adalah untuk memacu
pertumbuhan bunga dan buah. Perantingan produksi berkesinambungan
dengan perantingan pemeliharaan. Tujuannya adalah untuk
memaksimalkan produktivitas tanaman. Cara ini dilakukan dengan
memangkas daun-daun agar tidak terlalu rimbun sehingga sinar
matahari bisa tersebar merata ke seluruh organ daun. Dengan demikian,
proses fisiologis terpenting dari tanaman, yakni fotosintesis bisa
berjalan lancar sehingga sirkulasi makanan dari daun ke seluruh organ
tanaman juga lancar. Tanaman pun akhirnya dapat berproduksi secara
optimal (Winarsih dan Zaenudin, 1996).
Perantingan produksi ini dilakukan sebanyak dua kali setahun, yaitu
pada akhir musim kemarau-awal musim hujan serta akhir musim
kemarau. Di Jawa Timur, pemangkasan dilakukan pada bulan Oktober
untuk pembuahan pada semester satu, dan pada bulan April untuk
pembuahan semester dua (Lukito et al., 2004).

12
 
Perantingan ini dilakukan dengan cara memotong cabang yang
tumbuh meninggi (lebih dari 3-4 m). Istilah yang umum dipakai adalah
topping 3-4 m. Manfaat dari jenis perantingan ini adalah memacu flush,
pembungaan, dan pertumbuhan buah. Perbedaan dengan pemangkasan
pemeliharaan adalah pemangkasan produksi lebih berat daripada
pemangkasan pemeliharaan (25-50 % dipangkas).

Untuk jadwal dari masing-masing kegiatan pemangkasan, dapat melihat


tabel berikut:
Tabel 1. Jadwal Pemangkasan
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
Jenis
Pemangkasan
Produksi
Pemeliharaan
Wiwilan
Sumber: Poster Pemangkasan Tanaman Kakao, Puslitkoka-Jember.

c. Prinsip Pemangkasan
Pada prinsipnya, kegiatan pemangkasan/perantingan pada tanaman kakao
baik dilakukan secara ringan namun dengan frekuensi yang sering. Berat atau
ringannya pangkasan dapat diketahui dari diameter cabang yang dipangkas
(0-2,5 cm). Pemotongan cabang yang terlalu besar umumnya memiliki resiko
cabang mati, lapuk, dan menjalar ke pangkal. Untuk menghindari hal tersebut,
maka sebaiknya setelah pemotongan cabang berdiameter besar, luka bekas
potongan harus ditutup dengan obat penutup luka. Untuk pemotongan cabang
berdiameter besar ini diusahakan untuk meninggalkan sisa ± 5 cm dari cabang
induknya.
Tidak seperti kegiatan pemeliharaan yang lainnya, benar atau salah dalam
kegiatan pemangkasan tanaman kakao ini hanya dapat dirasakan saja (feeling),
sehingga dibutuhkan pengalaman. Oleh karena itu, kegiatan
perantingan/pemangkasan membutuhkan tenaga khusus yang memiliki
spesialisasi perantingan saja.

13
 
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) adalah tanaman yang membutuhkan
pemangkasan/perantingan pada kegiatan budidayanya.
2. Kegiatan pemangkasan kakao yang dilakukan antara lain: pemangkasan bentuk,
pemangkasan pemeliharaan, dan pemangkasan produksi.
3. Prinsip pemangkasan adalah bagaimana mengatur dan mempertahankan bentuk
frame, mengurangi jumlah daun ternaungi sehingga proses fotosintesis berjalan
optimal dan menghasilkan asimilat secara maksimal.
4. Pelaku kegiatan pemangkasan harus berpengalaman untuk mendapatkan hasil
pangkasan yang baik.

B. Saran
Tanaman kakao di lahan petani umumnya kurang begitu memperhatikan
kegiatan perantingan/pemangkasan ini, sehingga perlu bagi kita, mahasiswa sebagai
masyarakat akademis perlu memberikan pemahaman yang baik terkait perlunya
kegiatan perantingan/pemangkasan kakao.

14
 
DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 2009. Kakao. <http://id.wikipedia.org/wiki/Kakao>. diakses tanggal 9 Maret


2009.

Anonim b. 2009. Luas Areal dan Produksi Perkebunan Seluruh Indonesia menurut
Pengusahaan.
<http://ditjenbun.deptan.go.id/web.old//index.php?option=com_remository&Itemid
=177>. Diakses tanggal 13 November 2009.

Anonim c. 2007. Gambaran Sekilas Industri Kakao.


<http://www.depperin.go.id/PaketInformasi/Kakao/kakao.pdf>. Diakses tanggal 26
Maret 2010.

Lukito, A.M., Mulyono, Tetty Yulia, dan Hadi Iswanto. 2004. Pusat Penelitian Kopi dan
Kakao Indonesia: Panduan Lengkap Budi Daya Kakao. AgroMedia Pustaka,
Jakarta.

Prawoto, A. Adi. 1990. Kajian okulasi tanaman kakao, pengaruh batang bawah terhadap
mutu hasil batang atas. Pelita Perkebunan 6 (2): 38 - 46.

Suhendi, D. 1994. Komposisi klon dan tata tanam pada rehabilitasi tanaman kakao dengan
teknik sambung samping. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia 13 (1):
28 - 34 A.

Syamsulbahri.1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjah Mada


University Press, Yogyakarta.

Siskumbang, Z., A. Pasaribu dan Mayang S. M. 2004. Prospek Pembangunan Industri dan
Ekspor Hasil Olahan Kakao Indonesia. Simposium Kakao 2004. Pusat Penelitian
Kopi dan Kakao Indonesia, Jember.

Thorold, C. A. 1975. Diseases of Cocoa. London: Clarendon Press, Oxford.

Wahyudi, T., T. R. Panggabean, dan Pujiyanto. 2008. Panduan Lengkap Kakao:


Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya, Jakarta.

Winarsih dan Zaenudin. 1996. Dasar-dasar fisiologi pemangkasan tanaman kakao. Warta
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia 12 (2): 148 - 152.

Winarsih, S. 1986. Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pembungaan dan


pembentukan buah coklat. Penelitian Perkebunan 1: 109-118.

15