Anda di halaman 1dari 196

SOSIOLOGI

Jilid 1

untuk

SMA/MA Kelas X

Suparto

Literatur Media Sukses


Jl. Madrasah No. 38, Pekayon, Pasar Rebo
Jakarta 13710

Bab 2 Norma dan Nilai Sosial i


Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Sosiologi, ditulis oleh Suparto; Editor, Vera B. L. Sihotang,
-- Jakarta: Literatur Media Sukses

Penulis
Suparto

Editor Sosiologi
Vera B. L. SihotangChristianiE

Desain Sampul
Andie Anakota Jilid 1
Setting/Tata Letak
Untuk SMA/MA Kelas X
Sri Sugiyarni
Astuti Krisnawati
Hak cipta ” 2006 pada Penulis
Hak penerbitan pada Penerbit Literatur Media Sukses
Cetakan Pertama, 2006

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Tidak diperkenankan


memperbanyak isi buku ini dalam bentuk apapun tanpa izin
tertulis dari Penerbit Literatur Media Sukses.

ii Sosiologi SMA/MA Kelas X


K
ritik yang sering ditujukan kepada buku teks Sosiologi sebagai buku pelajaran
antara lain cara pendekatan penyajian konsep materi yang kurang membumi
terhadap realitas yang ada. Para pendidik sering mengalami kesulitan dalam
mengajarkan ilmu-ilmu sosial. Para siswa berargumen bahwa ilmu-ilmu sosial
menjenuhkan. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya minat para siswa untuk
menggeluti kajian-kajian ilmu sosial. Kondisi ini terbentuk dikarenakan bahwa belajar
ilmu-ilmu sosial merupakan ilmu-ilmu hafalan dan tidak kontekstual.
Buku Sosiologi untuk SMA/MA ini disusun sebagai alternatif bagi para guru dan
siswa Sekolah Menengah Atas bahwa belajar ilmu sosial tidak semata-mata hafalan.
Esensi ilmu sosial justru terletak pada daya analisis dan metode yang dipakai dalam
mengkaji suatu problem kemasyarakatan.
Buku ini terdiri atas 3 jilid, yaitu jilid 1 untuk SMA/MA Kelas X, jilid 2 untuk
SMA/MA Kelas XI, dan jilid 3 untuk SMA/MA Kelas XII. Pendekatan pembelajaran
menggunakan metode Contextual-Teaching Learning. Diharapkan guru menjadi
fasilitator dan terlibat intens dalam proses pembelajaran serta bersedia
mengembangkan segala materi pokok dengan berbagai indikatornya dengan situasi
dan kondisi yang sesuai dengan lingkungan belajar siswa.
Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Literatur Media
Sukses yang telah menerbitkan naskah kami menjadi buku. Kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan kualitas buku ini.

Jakarta, Desember 2006

Penulis

Kata Pengantar iii


Sebelum memulai proses belajar mengajar, 4. Bahan Diskusi Kelompok
sebaiknya terlebih dahulu kita mengetahui bagian- Bahan ini disediakan melatih siswa
bagian yang terdapat dalam buku Sosiologi ini. mendiskusikan suatu permasalahan dengan
orang lain.
1 j. Metode Analisis Media Massa
Media massa lebih bersifat subjektif, sebab media massa memiliki latar belakang
yang berbeda-beda. Oleh karena itu, ulasan media massa yang satu dengan ulasan
2 3
media massa yang lain sering kali ada kesenjangan. Untuk mendapatkan gambaran
yang lebih konkret, seorang peneliti dapat menggunakan metode analisis media
NILAI DAN NORMA SOSIAL

5. Lembar Pro dan Kontra


massa dengan cara menghimpun selengkap mungkin artikel-artikel sejenis yang Kunjungilah salah satu lembaga pengendalian sosial yang terdekat dari sekolah
ada di berbagai media massa. Lalu, dipakai sebagai dasar untuk analisis dalam Anda, misalnya kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau rumah tahanan/lembaga
kaitannya dengan pengkajian suatu hipotesa dan masalah dalam penelitian. pemasyarakatan.
Kemudian buatlah laporan ringkas mengenai hal-hal berikut ini!
1. Fungsi dan peranan lembaga
2. Tugas dan kewenangan lembaga
Tujuan Pembelajaran
3. Kegiatan operasional lembaga

Lembar Pro dan Kontra disajikan sebagai


Menjelaskan nilai dan
norma.
Dalam suatu penelitian mengenai kelebihan dan kekurangan suatu metode atau
Membedakan nilai
dan norma. teknologi tertentu, seorang peneliti menggunakan metode komparasi. Metode
Menjelaskan peran komparasi dilakukan dengan membandingkan dua hal yang sama, tetapi dalam
nilai dan norma dalam waktu atau tempat yang berbeda. Melalui metode komparasi inilah, kita dapat
masyarakat.
mengetahui banyak hal yang sangat berguna dalam penelitian tersebut.

sarana untuk melatih mengungkapkan


Mengklasifikasikan
kasus pelanggaran
nilai dan norma yang Pertanyaan:
berlaku dalam 1. Jelaskan persiapan apa sajakah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti
masyarakat.
Sumber: Gatra, 27 November 2004 yang menggunakan metode komparasi!

M
enurut kalian, a pakah nilai itu? Dalam pengertian

pendapat atau debat pendapat antarsiswa


sehari-hari nilai sering diartikan sebagai harga atau Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 9
ukuran. Misalnya, nilai ekonomis sebuah mobil dapat
diartikan sebagai harga sebuah mobil yang diukur dengan
uang. Dalam sosiologi, nilai justru bukan sebuah ukuran yang
dapat dinyatakan dengan barang, melainkan sesuatu yang
abstrak atau tidak nyata.

5 yang dibimbing oleh guru.


4
6. Lembar Sosiologi Terapan
MEWUJUDKAN PEMERINTAH YANG BAIK
KESENJANGAN SOSIAL SEBAGAI POTENSI KONFLIK

P
emilu tahun 2004 ini merupakan suatu sistem yang lebih baik dan
lebih demokratis untuk memilih anggota legislatif, presiden, dan
Salah satu penyebab menjadi semakin tingginya jurang kesenjangan sosial
wakil presiden karena ketiga komponen bangsa yang penting itu dipilih
antara golongan kaya dan golongan miskin adalah kehadiran teknologi melalui
secara langsung oleh rakyat melalui proses pemilihan umum.
proses modernisasi dan pembangunan. Melalui proses modernisasi dan
pembangunan, teknologi-teknologi baru diimpor oleh agen modernisasi dan Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang kuat yang dapat

Lembar sosiologi terapan ini merupakan


pembangunan untuk memajukan taraf kehidupan suatu bangsa. Akan tetapi, menyatukan pendapat dari seluruh rakyatnya sehingga seluruh kekuatan
teknologi canggih ini akan berpihak kepada orang-orang kaya dan selanjutnya bangsa tertuju pada satu arah untuk mencapai tujuan negara. Ciri-ciri
menjadi sekutu orang-orang kaya untuk menghasilkan barang dan pemerintah yang baik adalah pemerintah yang dapat menyusun kebijakan
mendatangkan uang. Barang-barang teknologi canggih ini misalnya mobil, yang tepat sesuai dengan harapan warga masyarakatnya.
telepon, traktor pembajak, truk, komputer, internet, televisi, radio, mesin tenun,
mesin bubut, dan lain-lain. Petunjuk Simulasi Pro Kontra

Justru dengan kedatangan mesin-mesin teknologi canggih ini golongan


masyarakat miskin akan termarginalkan. Sebab, mereka tergusur dari pekerjaan
yang diakibatkan oleh mesin-mesin yang digunakan daripada tenaga-tenaga
1. Siswa dalam kelas dibagi atas dua kelompok. Satu kelompok pro dan satu
kelompok lagi kontra. Tuangkan pendapat dan penjelasan kalian sesuai
dengan kelompok masing-masing berdasarkan pertanyaan di bawah ini! latihan menyelesaikan permasalahan dalam
kehidupan sehari-hari.
6 7 8
Soal Objektif

MENGELIMINIR BUDAYA KORUPSI


1. Perilaku menyimpang adalah semua perilaku warga masyarakat yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku
menyimpang terdiri atas:
x Kenakalan remaja (delinquention)
Pilihlah satu jawaban yang benar dengan menyilang huruf A, B, C, D atau E!

1. Usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah dan mengatasi


adanya perilaku menyimpang disebut . . . .
7. Rangkuman
P
ada masa reformasi akhir-akhir ini, hampir semua media massa x Kejahatan (criminality) A. kontrol sosial D. pengadilan
membahas tentang cara-cara memberantas budaya korupsi. Korupsi B. pengendalian sosial E norma sosial
memang merupakan sesuatu penyimpangan yang benar-benar 2. Teori Penyimpangan

Rangkuman mencakup ringaksan materi pada


x Teori kebudayaan khusus yang menyimpang C. deviasi sosial
menghambat upaya perkembangan masyarakat secara keseluruhan.
Di kalangan birokrat, baik pemerintah maupun lembaga nonpemerintah x Teori anomi 2. Fungsi keluarga untuk membentuk perilaku tertib dan patuh terhadap norma-
dewasa ini memang masih sangat kental dengan budaya korupsi, kolusi, dan x Teori reaksi masyarakat norma sosial dalam lingkungan masyarakat setempat terhadap putra dan putrinya
nepotisme. Mungkin hal ini tidak akan sepenuhnya bisa dihilangkan dari tata 3. Sifat-sifat Penyimpangan adalah fungsi . . . .
pergaulan masyarakat kita. Tetapi setidaknya dapat ditekan sekecil mungkin x Penyimpangan positif A. sosialisasi D. penghubung kerabat

setiap bab yang bertujuan untuk memudah-


pertumbuhannya. x Penyimpangan negatif B. edukasi E reproduksi
Pada dasarnya, budaya korupsi ini dilakukan turun-temurun dari generasi C. pengawasan sosial
4. Penyebab perilaku menyimpang
l l

9 10 kan siswa mengingat kembali materi-materi


A
adat 25, 45 – 48, 53, 70, 72, 85, 102, 104, 106,
112, 113, 124, 125, 139, 143, 147, 148, 152,
166, 177
F
fakta 6, 8, 37
fenomena alam 77, 109
yang telah dipelajari di bab tersebut.
accomodation : proses sosial yang ditandai dengan fenomena sosial 4, 8, 16, 17, 18, 19, 23, 26, 33,
pengurangan tuntutan akomodasi 66, 67 165, 109
akulturasi 23, 82, 110 folkways 48, 103
adat : suatu kebiasaan yang diulang-ulang dan telah akulturasi budaya 110
menyatu dengan kehidupan masyarakat
akulturasi : percampuran dua hal atau lebih yang bersifat
angket 2, 7, 8, 32
asimilasi 23, 67, 68, 82, 83, 110 H
melengkapi asimilasi budaya 110
hipotesa 10
akulturasi budaya : proses pencampuran dua unsur budaya atau asosiasi 3, 73

I
8. Uji Kompetensi
asumsi 100
lebih yang bersifat melengkapi tanpa
Auguste Comte 3, 15
menghilangkan corak yang lama
angket : daftar pertanyaan untuk menghimpun data
B
identifikasi 11, 60, 65, 89
yang diperlukan dalam suatu penelitian ilmu pengetahuan 3, 4, 10, 15, 17, 20, 25, 32, 40,
42, 64, 80, 108, 109, 114, 125, 129
applied science : ilmu terapan BAP 167, 168 imitasi 60, 64, 65, 89
arbitration : akomodasi dengan menggunakan pihak ketiga interaksi sosial 10, 11, 32, 35, 59, 62, – 66, 73,
sebagai pihak penengah yang dapat bersifat
mengikat atau memaksa kedua belah pihak
C 75, 84, 85, 89, 90, 101, 144, 164, 172
internal 170, 80, 90

Pada setiap akhir bab disediakan Uji


C l kh h interview 5

Kompetensi untuk mengukur kemampuan


1. Pengantar Awal Bab siswa dalam menguasai semua materi dalam
Pada setiap awal bab terdapat fokus tentang satu bab.
materi-materi yang akan dibahas di bab
tersebut. 9. Daftar Istilah
Daftar Istilah disajikan di setiap bab yang
2. Tugas Perorangan merupakan kumpulan istilah-istilah yang
Dalam setiap bab ada kegiatan yang dibahas di bab tersebut.
dilakukan oleh siswa secara mandiri.
10. Indeks
3. Tugas Penelitian Indeks merupakan daftar kata-kata penting
Tugas Penelitian merupakan tugas yang disertai nomor halaman kemunculan.
mendeskripsikan suatu permasalahan.

iv Sosiologi SMA/MA Kelas X


Kata Pengantar ................................................................................................ iii
Apakah Keunggulan Buku Ini? ....................................................................... iv

SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU TENTANG HUBUNGAN


BAB 1 MASYARAKAT DAN LINGKUNGAN

Peta Konsep ................................................................................................. 2


A. Sosiologi Sebagai Ilmu dan Metode ..................................................... 3
B. Konsep-konsep Dasar Dalam Sosiologi ............................................... 10
C. Konsep-konsep Tentang Realitas Sosial Budaya .................................. 16
D. Hubungan Antarberbagai Konsep Tentang Realita Sosial Budaya ...... 18
E. Data Sosiologis dan Antropologis Tentang Fenomena Sosial
Di Lingkungan Setempat ...................................................................... 23
Rangkuman ............................................................................................ 32
Uji Kompetensi ...................................................................................... 34

BAB 2 NILAI DAN NORMA SOSIAL


Peta Konsep ................................................................................................. 40
A. Nilai dan Norma Sosial ........................................................................ 41
B. Nilai Sosial ............................................................................................ 41
C. Norma Sosial ......................................................................................... 45
Rangkuman .................................................................................................. 53
Uji Kompetensi ............................................................................................ 54

BAB 3 INTERAKSI SOSIAL DAN DINAMIKA SOSIAL

Peta Konsep ................................................................................................. 60


A. Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial ................................................... 61
B. Faktor-faktor yang Mendorong Terjadinya Interaksi ............................ 64
C. Bentuk-bentuk Interaksi yang Mendorong Terciptanya Lembaga,
Kelompok, dan Organisasi Sosial ......................................................... 69

Daftar Isi v
D Proses Pembentukan Lembaga, Kelompok, dan Organisasi Sosial ..... 74
E. Faktor-faktor Penyebab Perubahan dan Dinamika Sosial ................... 76
F. Interaksi Sosial dan Keteraturan Sosial ................................................ 84
Rangkuman .................................................................................................. 88
Uji Kompetensi ............................................................................................ 90

BAB 4 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN


Peta Konsep ................................................................................................. 96
A. Peranan Nilai dan Norma Sosial Dalam Proses Sosialisasi ................ 97
B. Proses Sosialisasi ................................................................................... 108
C. Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian .................................................. 114
D. Hubungan Pembentukan Kepribadian dengan Kebudayaan ............... 122
Rangkuman .................................................................................................. 127
Uji Kompetensi ............................................................................................ 128

BAB 5 PERILAKU MENYIMPANG


Peta Konsep ................................................................................................. 134
A. Perilaku Menyimpang ........................................................................... 135
B. Terjadinya Perilaku Menyimpang Sebagai Hasil Sosialisasi yang
Tidak Sempurna .................................................................................... 139
C. Penanggulangan Terhadap Perilaku Menyimpang ............................... 147
Rangkuman .................................................................................................. 152
Uji Kompetensi ............................................................................................ 154

ATURAN-ATURAN SOSIAL DALAM KEHIDUPAN


BAB 6
BERMASYARAKAT
Peta Konsep ................................................................................................. 160
A. Pentingnya Pengendalian Sosial ........................................................... 161
B. Jenis-jenis Lembaga Pengendalian Sosial............................................. 161
C. Cara-cara Pengendalian Sosial ............................................................. 165
D. Akibat-akibat Tidak Berfungsinya Lembaga Pengendalian Sosial ....... 168
Rangkuman .................................................................................................. 173
Uji Kompetensi ............................................................................................ 175
Daftar Istilah ............................................................................................... 179
Daftar Pustaka ............................................................................................ 185
Indeks ........................................................................................................... 187

vi Sosiologi SMA/MA Kelas X


SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU
YANG MENGKAJI
HUBUNGAN MASYARAKAT

Tujuan Pembelajaran
Mendefinisikan
sosiologi sebagai ilmu
dan metode.
Mendeskripsikan
hubungan berbagai
konsep tentang
realitas sosial.
Mengidentifikasi data
tentang realita sosial
masyarakat.

Sumber: Koleksi editor

T
ahukah kalian mengapa sosiologi kita pelajari? Sebagai
warga masyarakat, kita selalu terikat dengan orang lain
untuk melakukan berbagai macam bentuk kerja sama
di berbagai segi kehidupan. Dalam melakukan hubungan-
hubungan sosial, kita harus memahami tata cara dalam
pergaulan agar kita dapat diterima sebagai warga masyarakat
yang baik, sehingga kita dapat menjalankan misi pribadi kita
masing-masing. Dengan demikian, kita memerlukan banyak
wawasan tentang bagaimana menjalani dan membina
hubungan sosial dalam masyarakat. Untuk mendapatkan
jawabannya, kita perlu mempelajari sosiologi, karena sosiologi
memberikan banyak wawasan dan kajian tentang hubungan
masyarakat dan lingkungan. Penjabaran wawasan-wawasan
tersebut dalam praktik kehidupan sehari-hari akan diuraikan
pada bab berikut.

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 1


Metode dalam
Pengertian sosiologi

j
j j sosiologi

Hakikat sosiologi

j
Karakteristik
x Observasi
j

Ruang lingkup
Sosiologi
j x Angket
Tujuan pembentukan x Observasi
j

sosiologi partisipan
x Wawancara
SOSIOLOGI SEBAGAI x Komparasi
Konsep dasar ILMU TENTANG x Histori
j

dalam sosiologi HUBUNGAN x Kepustakaan


MASYARAKAT DAN
LINGKUNGAN
x Dokumentasi
x Analisis media
massa
j

Konsep-konsep tentang Hubungan antar-


realitas sosial berbagai konsep
tentang realitas sosial

2 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU DAN METODE
1. Pengertian Sosiologi
Sosiologi sebagai ilmu sosial yang relatif baru mungkin agak sulit untuk
didefinisikan bagi kalian yang masih relatif baru mempelajari sosiologi. Sebagai
salah satu pegangan tentang pengertian sosiologi, kalian perlu mengetahui pendapat
dari tiga tokoh sosiologi berikut ini.

a. Pitirim A. Sorokin
Mengemukakan sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal sebagai berikut.
x Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka ragam sosial, misalnya gejala
ekonomi dan agama, juga keluarga dan moral.
x Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala nonsosial.
x Ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial.

b. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi


Menyatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari
struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan sosial.

c. Auguste Comte
Mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari manusia sebagai
makhluk yang mempunyai naluri untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya.
Artinya, sosiologi mempelajari segala aspek kehidupan bersama yang terwujud
dalam asosiasi-asosiasi, lembaga-lembaga, maupun peradaban.

2. Objek Kajian Sosiologi


Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan mempunyai objek kajian tentang perilaku
sosial individu maupun kelompok individu dalam masyarakat yang penjabarannya
meliputi bentuk-bentuk penyesuaian perilaku terhadap norma dalam berbagai bentuk
perubahan sosial yang ada dalam masyarakat. Objek kajian sosiologi ini senantiasa
bersifat aktual karena masyarakat terus-menerus mengalami proses sosial termasuk
perubahan-perubahan dalam struktur dan pola interaksinya.

3. Metode-Metode Sosiologi
Untuk melakukan suatu aktivitas diperlukan cara-cara yang lebih ringkas dan
efisien agar tujuan tercapai. Cara-cara ini dikenal dengan metode. Metode dalam
konteks pengetahuan adalah cara-cara yang dapat dipergunakan untuk mencapai
suatu tujuan tertentu. Dengan demikian, sosiologi sebagai metode artinya sosiologi
dapat dipergunakan sebagai salah satu cara atau perantara dalam mencapai suatu
tujuan tertentu yang ada di dalam masyarakat. Sebagaimana kita ketahui bahwa

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 3


sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempunyai objek kajian mengenai
perilaku sosial serta budaya yang ada dalam satu masyarakat. Dengan begitu,
sosiologi pun sedikit banyak memiliki data-data mengenai karakter sosial budaya
dari tiap-tiap masyarakat yang berbeda-beda.
Selain sosiologi, ilmu lain yang juga mempelajari manusia adalah antropologi.
Antropologi mempelajari aneka ragam manusia atau masyarakat serta kebudayaannya
di masa lampau dan masa sekarang, sejarah pertumbuhannya, bentuk kebudayaan,
serta lenyapnya suatu masyarakat dan kebudayaannya. Artinya, metode antropologi
juga berguna sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan tertentu dalam
masyarakat. Sebagai contoh, melalui sosiologi dan antropologi kegiatan
pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah dapat disosialisasikan ke dalam
setiap masyarakat yang bercorak kesukuan dengan metode dan pendekatan secara
sosiologis dan antropologis. Sebaliknya, ketika pemerintah melalui kegiatan
pembangunan ingin memperoleh data mengenai berbagai macam fenomena sosial
budaya dari suatu masyarakat, dapat diperoleh melalui data-data yang terhimpun
di dalam sosiologi dan antropologi. Ini berarti, sosiologi dan antropologi menjadi
kail untuk memperoleh data-data sosial budaya dari dalam masyarakat. Sosiologi
dan antropologi dapat pula berfungsi sebagai bejana yang menjadi sarana sosialisasi
suatu program pemerintah di dalam masyarakat.

Perencanaan
Pembangunan

Data Sosial Kebijaksanaan


dan Budaya Pembangunan

Metode Sosiologi Metode Sosiologi


dan Antropologi dan Antropologi

Suku Bangsa Suku Bangsa Suku Bangsa


A B C

à Bagan 1.1 Bagan Peranan Metode Sosiologi dan Antropologi dalam


Proses Pembangunan Bangsa.

4 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Menurut bagan di atas, jelaslah metode sosiologi dan antropologi sebagai suatu
kesatuan dan dapat dipergunakan oleh pemerintah atau pun lembaga nonpemerintah
yang mempunyai kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat. Hal ini
dapat terjadi karena konsep-konsep dalam studi sosiologi dan antropologi dapat
menjadi cara untuk memasukkan program pembangunan yang berkaitan dengan
masyarakat.
Metode-metode yang sering dipergunakan di dalam sosiologi dan antropologi
antara lain:

a. Metode Wawancara (Interview)


Pada hakikatnya, metode wawancara adalah metode pengumpulan data dalam
penelitian sosial yang dalam pelaksanaannya, peneliti mewawancarai responden
yang telah ditetapkan sebagai sampel untuk memperoleh keterangan-keterangan
yang diperlukan dalam penelitian tersebut. Metode ini mempunyai kelebihan bahwa
data-data sosial budaya yang diinginkan dapat diperoleh secara luas dan dalam
melalui pertanyaan secara lisan dari hati ke hati antara pewawancara dan responden.
Akan tetapi, metode interview secara spesifik memerlukan seorang pewawancara
yang mumpuni dan memenuhi kriteria sebagai berikut.
x Cakap, artinya seorang pewawancara harus benar-benar menguasai
permasalahan dari setiap pertanyaan yang diajukan, serta memiliki keterampilan
untuk menggali alternatif-alternatif jawaban yang lebih dalam dan rinci dari
responden.

Sumber: Pilars, 29 September – 05 Oktober 2003

à Gambar 1.1 Wawancara merupakan salah satu cara yang dapat


ditempuh dalam pengumpulan data guna mendukung penelitian
yang dilakukan.

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 5


x Ramah, artinya seorang pewawancara harus menyenangkan, tidak menakutkan,
dan berpenampilan baik. Tujuannya agar responden dapat secara bebas untuk
menyampaikan alternatif jawabannya secara objektif kepada pewawancara.
Dengan demikian, data yang diperoleh akurat.
x Fleksibel, artinya seorang pewawancara harus luwes dan mampu menyesuaikan
diri dengan situasi dan kondisi dari masing-masing pribadi responden. Sikap
yang fleksibel membuat responden tidak merasa tertekan dalam menyampaikan
jawaban-jawaban atas setiap pertanyaan yang diajukan. Dengan demikian, data
yang diperoleh objektif.
x Objektif, artinya seorang pewawancara harus senantiasa berpegang teguh pada
fakta yang ada, artinya pewawancara harus dapat mencegah masuknya pendapat-
pendapat pribadi ke dalam penelitian dengan tetap menjaga objektifitas
berdasarkan fakta yang benar-benar ada di lapangan.
x Konsisten, artinya seorang pewawancara harus senantiasa berpegang teguh pada
prinsip-prinsip keilmuan, tidak berubah-ubah oleh pengaruh-pengaruh ekonomis,
politik, ideologis, atau kepentingan tertentu.

b. Metode Observasi Langsung


Metode observasi langsung sering disebut metode yang mudah dan murah.
Artinya, metode ini sangat gampang pelaksanaannya dan memerlukan biaya yang
relatif sedikit sehingga hampir setiap orang dengan mudah dapat melakukannya.
Pada hakikatnya, metode observasi langsung adalah metode pengumpulan data
dalam penelitian sosial yang dalam pelaksanaannya memungkinkan peneliti dapat
secara langsung mengamati kondisi objek yang diteliti. Untuk memperoleh data
yang akurat, maka peneliti harus terlebih dahulu menyiapkan instrumen yang disebut
check list (daftar untuk mengecek apakah objek yang diamati memiliki kualifikasi
sebagaimana yang ada di dalam daftar). Contoh: peneliti yang mengobservasi 5
ruangan kelas belajar dalam suatu lomba kebersihan, peneliti telah membuat check
list yang disesuaikan dengan kepentingan penelitian tersebut agar dapat memberi
dasar penelitian yang tepat.

c. Metode Observasi Partisipan


Metode observasi partisipan mempunyai potensi yang lebih untuk mendapatkan
data yang sangat detail walaupun harus menanggung konsekuensi dan tantangan
yang amat berat. Yang dimaksud dengan metode observasi partisipan adalah metode
pengumpulan data dalam suatu penelitian sosial yang di dalam pelaksanaannya,
peneliti hidup bersama-sama dengan masyarakat yang diteliti dalam waktu yang
relatif panjang. Dengan demikian, peneliti akan memperoleh data sosial budaya
secara detail karena tidak sekadar melihat dan bertanya, melainkan mengalami
sendiri dalam setiap kegiatan. Penerapan metode ini memerlukan suatu keberanian

6 Sosiologi SMA/MA Kelas X


dan pengorbanan dari peneliti itu sendiri, karena penuh tantangan yang terkadang
akan membawa ongkos pemikiran, tenaga, bahkan nyawa. Akan tetapi hasilnya,
peneliti akan dapat menghimpun data sosial budaya dengan tepat, lengkap, dan
detail sehingga memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Misalnya, seorang peneliti dari
Jerman bernama Pieter Carlos meneliti kehidupan sosial budaya suku Asmat dan
suku Dani di pedalaman Papua. Pieter Carlos datang sendiri ke lokasi dan selama
enam tahun dia hidup bersama-sama dan menyatu dengan masyarakat Asmat dan
masyarakat Dani. Sambil menjalani aktivitas hariannya, Pieter Carlos dapat memotret
macam-macam kegiatan, mengikuti semua aktivitas, bahkan mengikuti setiap perilaku
sosial harian yang dilakukan oleh masyarakat Asmat dan Dani.

d. Metode Angket
Apabila penelitian mempunyai jangkauan responden yang amat besar dan
respondennya berupa masyarakat-masyarakat yang relatif maju, maka metode angket
sangat tepat untuk digunakan. Metode angket adalah metode pengumpulan data
dalam suatu penelitian sosial di mana dalam pelaksanaannya, peneliti menyampaikan
sejumlah pertanyaan dalam suatu daftar pertanyaan yang telah disesuaikan dengan
kepentingan penelitian tersebut. Satu hal yang merupakan kelebihan dari metode
ini adalah bahwa dalam waktu yang relatif singkat, seorang peneliti dapat
memperoleh data dalam jumlah yang amat sangat besar. Dalam hal ini, peneliti
mengirim daftar pertanyaan kepada seratus ribu responden yang alamatnya telah
diketahui sebelumnya dan memberikan perangko pengiriman kembali jawaban-
jawaban angket kepada penelitinya. Dalam jangka yang tidak terlalu lama (kurang
dari 10 hari), 100.000 responden telah mengirim kembali angket tersebut ke alamat
yang telah ditentukan dengan perangko pengiriman yang ada di dalam amplop
daftar pertanyaan tersebut.
Agar data sosial budaya yang terhimpun melalui metode angket ini tetap memiliki
objektifitas yang tinggi, diperlukan syarat-syarat antara lain sebagai berikut.
x Pertanyaan harus singkat, padat, dan komunikatif dengan menggunakan bahasa
yang sesederhana mungkin sehingga mudah dipahami.
x Respondennya harus merupakan masyarakat yang cakap, artinya memiliki basis
kependidikan yang cukup. Dengan demikian, mereka pun memiliki kesadaran
ilmiah yang tinggi dan memiliki kemampuan intelektual untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan dalam angket tersebut. Tetapi metode ini akan gagal
total apabila respondennya adalah masyarakat primitif atau masyarakat pedesaan
yang basis pendidikannya relatif rendah. Jawaban yang disampaikan pun
merupakan jawaban-jawaban yang memiliki tingkat akurasi yang rendah.
Keadaan seperti ini akan membuat penelitian menjadi fatal.
x Koresponden harus terlebih dahulu mengetahui identitas dari responden yang
akan ditetapkan sebagai subjek penelitiannya. Hal ini sangat penting agar proses

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 7


pengiriman angket dapat dilakukan secara benar dan serentak dalam waktu
yang relatif singkat.

e. Metode Komparasi
Untuk mendapatkan data tentang perbedaan atau persamaan dari dua fenomena
sosial yang ada di dalam masyarakat, seorang peneliti dapat menggunakan metode
komparasi. Metode komparasi bertujuan untuk mendapatkan persamaan dan
perbedaan dari dua hal. Yang dimaksud dengan metode komparasi adalah metode
pengumpulan data dalam suatu penelitian sosial, yaitu dengan membandingkan
dua hal yang sama dengan lokasi atau waktu yang berbeda. Dengan demikian,
peneliti akan memperoleh persamaan dan perbedaan yang dapat dipergunakan
sebagai bahan untuk menganalisis dan mengkorelasikan fakta atau kejadian secara
ilmiah sesuai dengan kepentingan penelitian. Metode komparasi digunakan oleh
peneliti apabila bentuk penelitiannya mengandung kepentingan untuk
membandingkan sesuatu yang sama dengan tempat dan kurun waktu yang berbeda.

f. Metode Kepustakaan
Metode kepustakaan merupakan metode yang penelitiannya lebih banyak
memerlukan data-data dokumenter atau pendapat-pendapat dari para ahli tentang
suatu fenomena sosial tertentu dalam masyarakat. Cara pengumpulan data dilakukan
dengan mengambil data atau keterangan-keterangan yang ada di dalam literatur
yang ada di perpustakaan. Kelebihan metode ini adalah memperoleh banyak sumber
tanpa mengalami banyak biaya, tenaga, dan waktu. Yang menjadi masalah adalah
kepandaian peneliti untuk mencari buku-buku yang relevan yang dapat dipakai
sebagai sumber data dalam penelitian.

g. Metode Penelusuran Sejarah (History)


Metode history atau metode penelusuran sejarah merupakan metode
pengumpulan data dengan cara menelusuri sejarah melalui dokumen-dokumen
dan benda-benda peninggalan sejarah yang dapat dijadikan sumber keterangan
mengenai berbagai macam kejadian di masa lampau. Dalam pelaksanaannya,
metode ini memerlukan suatu ketekunan dan ketelitian, yaitu dengan mengungkap
dan menghimpun keterangan-keterangan, serta benda-benda peninggalan yang akan
dipergunakan sebagai sumber data dalam penelitian.

h. Metode Pengukuran Langsung


Penelitian kuantitatif dilakukan dengan perhitungan angka-angka, maka seorang
peneliti lebih tepat menggunakan metode pengukuran langsung. Metode ini sangat
objektif karena data-data yang diperoleh merupakan data primer. Pengumpulan
data dalam metode ini dilakukan dengan cara menghitung atau mengukur sendiri
data-data yang diperlukan dalam penelitian. Misalnya, menghitung orang, mengukur

8 Sosiologi SMA/MA Kelas X


panjang dan lebar tanah, bangunan, menghitung jumlah ternak, mengukur kedalaman
air, menghitung suhu udara, tekanan, kelembaban, dan lain-lain. Melalui metode
ini, seorang peneliti akan mengeluarkan banyak pengorbanan yang terkadang penuh
dengan resiko.

i. Metode Dokumenter
Apabila suatu penelitian lebih banyak memerlukan data-data pendukung yang
berupa dokumen-dokumen seperti dokumen pemasaran, dokumen kepegawaian,
dokumen kejadian hukum, dan lain-lain, seorang peneliti dapat menggunakan
metode dokumenter. Pada hakikatnya, sumber penelitian dapat berupa data-data
yang diambil dari arsip-arsip atau dokumen yang dihimpun oleh kolektor. Yang
terpenting adalah bahwa pengambilan dokumen harus sesuai dengan data yang
diperlukan dan dari sumber-sumber yang dapat dipercaya. Metode pengumpulan
data yang dilakukan peneliti dengan mengambil dari dokumen-dokumen yang
dihimpun oleh kolektor dinamakan metode dokumenter. Para kolektor tersebut
adalah kepala desa, pimpinan instansi, atau badan-badan informasi, termasuk Badan
Pusat Statistik. Data yang diperoleh melalui metode ini merupakan data sekunder.

j. Metode Analisis Media Massa


Media massa lebih bersifat subjektif, sebab media massa memiliki latar belakang
yang berbeda-beda. Oleh karena itu, ulasan media massa yang satu dengan ulasan
media massa yang lain sering kali ada kesenjangan. Untuk mendapatkan gambaran
yang lebih konkret, seorang peneliti dapat menggunakan metode analisis media
massa dengan cara menghimpun selengkap mungkin artikel-artikel sejenis yang
ada di berbagai media massa. Lalu, dipakai sebagai dasar untuk analisis dalam
kaitannya dengan pengkajian suatu hipotesa dan masalah dalam penelitian.

Dalam suatu penelitian mengenai kelebihan dan kekurangan suatu metode atau
teknologi tertentu, seorang peneliti menggunakan metode komparasi. Metode
komparasi dilakukan dengan membandingkan dua hal yang sama, tetapi dalam
waktu atau tempat yang berbeda. Melalui metode komparasi inilah, kita dapat
mengetahui banyak hal yang sangat berguna dalam penelitian tersebut.

Pertanyaan:
1. Jelaskan persiapan apa sajakah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti
yang menggunakan metode komparasi!

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 9


2. Sebutkan kelemahan-kelemahan dari metode komparasi!
3. Apa kelebihan yang dapat diperoleh dengan menerapkan metode komparasi?
4. Menurutmu hal-hal apa saja yang dapat dibandingkan dari kekurangan suatu
metode atau teknologi tertentu?

Ilmu pengetahuan merupakan himpunan pengetahuan-pengetahuan yang tersusun


secara sistematis. Sosiologi dan antropologi merupakan himpunan pengetahuan-
pengetahuan mengenai perilaku sosial serta mengenai keanekaragaman makhluk
manusia dan budayanya. Untuk mengkaji lebih jauh mengenai materi-materi yang
menjadi substansi dalam kajian sosiologi dan antropologi, akan dijabarkan melalui
konsep-konsep tentang realitas sosial budaya serta korelasinya satu dengan yang
lain pada uraian berikut ini.

B. KONSEP-KONSEP DASAR DALAM SOSIOLOGI


Pengertian dari konsep-konsep dasar adalah konsep-konsep pokok yang akan
menjadi bahan kajian di dalam sosiologi maupun dalam antropologi. Konsep-konsep
dasar itu meliputi tentang masyarakat, kebudayaan, kebutuhan hidup manusia,
interaksi sosial, norma dan nilai, perilaku menyimpang, kepribadian, pengendalian
sosial, perubahan sosial, dan masih banyak lagi.

1. Konsep-Konsep Dasar
Sosiologi dan antropologi mempunyai kekhususan yang berbeda antara lain
sosiologi lebih menekankan pada konsep perilaku sosial, sedangkan antropologi
lebih terfokus pada konsep keanekaragaman makhluk dan budaya manusia. Adapun
konsep-konsep yang mendasar dalam sosiologi dan antropologi antara lain sebagai
berikut.

a. Masyarakat
Istilah masyarakat dalam bahasa sehari-hari sering kita artikan sebagai himpunan
orang-orang dalam satuan wilayah tertentu. Pada hakikatnya, yang dimaksud dengan
masyarakat adalah kumpulan orang yang hidup di suatu wilayah tertentu dan
membina kehidupan bersama dalam berbagai aspek kehidupan atas dasar norma
sosial tertentu. Jelaslah bahwa setiap masyarakat lahir karena adanya kerja sama di
antara warganya dan terikat dalam suatu tata norma tertentu dalam ruang wilayah
yang tertentu pula. Jadi, unsur-unsur pokok masyarakat meliputi hal-hal berikut.
x Adanya individu-individu yang cenderung bersifat heterogen dalam berbagai
hal seperti usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, latar belakang sosial
ekonomi, dan lain-lain.

10 Sosiologi SMA/MA Kelas X


x Adanya hubungan timbal balik yang secara otomatis terjadi dalam setiap
masyarakat tanpa henti-hentinya dan meliputi berbagai aspek kehidupan seperti
dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan dalam bidang
pertahanan dan keamanan.
x Adanya daerah atau areal dengan batas-batas tertentu yang merupakan wadah
tempat berlangsungnya suatu tata kehidupan bersama. Wilayah ini dapat berupa
areal yang sempit maupun dalam satuan areal yang amat sangat luas. Dalam
arti luas, seluruh masyarakat di dunia ini merupakan suatu masyarakat dengan
tata pergaulan yang amat sangat kompleks dan tidak pernah berhenti dalam
berbagai aktivitas.
x Adanya sistem norma tertentu yang berfungsi sebagai pedoman dalam sistem
tata kelakuan dan hubungan warga masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya.
Norma-norma sosial ini bersumber dari sistem tata nilai yang tumbuh dan
berkembang di dalam masyarakat tersebut.

b. Interaksi Sosial
Di satu sisi, interaksi sosial merupakan bentuk-bentuk aktivitas individu dalam
memenuhi kebutuhannya. Dalam arti lain, interaksi sosial adalah hubungan dan
pengaruh timbal balik antara individu dan individu, antara individu dan kelompok
individu, dan hubungan timbal balik antara kelompok individu dan kelompok
individu yang lain. Interaksi sosial senantiasa berpedoman pada sistem tata nilai
suatu masyarakat dengan ketentuan ”di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.”
Artinya, di mana suatu perbuatan dilakukan hendaknya berpedoman pada sistem
tata nilai yang ada di tempat itu. Ini terjadi karena setiap masyarakat memiliki
sistem tata nilai yang berbeda-beda walaupun secara universal tata nilai ini hampir
sama.
Dalam suatu interaksi sosial, terdapat 4 subkomponen yang dapat mendukung
terwujudnya suatu interaksi sosial. Komponen-komponen itu adalah rangsangan,
tanggapan, aktivitas aksi, dan aktivitas reaksi.
x Rangsangan (stimulan), yaitu suatu aktivitas yang mendorong pada seseorang
untuk memberikan respon atau tanggapan. Stimulan ini dapat berupa perilaku,
penampilan, suara, dan berbagai macam pendapat atau ucapan. Aktivitas ini
akan mengakibatkan adanya tanggapan dari pihak yang lain.
x Tanggapan (respon), yaitu suatu aktivitas yang muncul karena adanya stimulan,
baik stimulan yang pasif maupun stimulan yang aktif. Dengan adanya stimulan
dan respon, suatu kontak sosial sesungguhnya telah terjadi. Untuk kontak
selanjutnya akan berbentuk aksi dan reaksi.
x Aktivitas aksi, yaitu aktivitas permulaan yang menjadi penyebab munculnya
interaksi sosial. Aksi ini dapat dipengaruhi oleh banyak dorongan seperti simpati,
sugesti, empati, identifikasi, dan lain-lain, baik dari pihak pertama maupun dari
pihak kedua dalam suatu interaksi sosial.

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 11


x Aktivitas reaksi, yaitu suatu aktivitas tanggapan yang muncul setelah adanya
aksi dari pihak pertama. Reaksi ini merupakan umpan balik atas perilaku-perilaku
yang dilakukan oleh pihak pertama.

c. Sosialisasi
Pada hakikatnya, sosialisasi merupakan suatu proses pergaulan seseorang terhadap
banyak orang di dalam masyarakat. Proses sosialisasi bagi seorang individu
berlangsung sejak lahir hingga sepanjang hayatnya. Proses sosialisasi ini merupakan
proses belajar berinteraksi di tengah-tengah masyarakat. Melalui proses sosialisasi,
seorang individu akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan, nilai-nilai, dan norma-
norma yang akan membekali individu tersebut dalam proses pergaulan. Dengan
demikian, seorang individu dapat berhasil dalam setiap usahanya di tengah-tengah
masyarakat sekaligus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan
lingkungan budaya pada masyarakat tersebut.

1. Apakah yang dimaksud dengan konsep dasar dalam sosiologi dan


antropologi?
2. Berikan 3 contoh konsep dasar dalam sosiologi dan 3 konsep dasar dalam
antropologi!
3. Sebutkan unsur-unsur dalam masyarakat!
4. Coba praktikkan di depan kelas bersama teman sebangkumu bagaimana
kalian berinteraksi! Di dalam interaksi tersebut, kalian tunjukkan adanya
proses sosialisasi.

d. Kebutuhan Hidup
Kebutuhan hidup adalah kebutuhan manusia untuk mempertahankan serta
mengembangkan kehidupannya. Kebutuhan ini merupakan suatu perwujudan dari
manusia sebagai makhluk hidup, sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk
yang memiliki akal budi. Kebutuhan hidup ini terdiri atas tiga macam, yaitu sebagai
berikut.
(1) Kebutuhan mendasar merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi dan apabila
tidak dipenuhi, maka orang akan mati. Kebutuhan mendasar ini meliputi
kebutuhan makan, minum, dan kebutuhan perumahan. Kebutuhan ini muncul

12 Sosiologi SMA/MA Kelas X


sebagai hakikat manusia sebagai makhluk hidup. Agar tetap hidup, maka manusia
perlu makan, minum, istirahat, pakaian, perumahan, dan lain sebagainya untuk
mempertahankan dan mengembangkan hidupnya.
(2) Kebutuhan sosial adalah kebutuhan manusia untuk bersama-sama dengan
manusia yang lain. Kebutuhan ini muncul sebagai hakikat manusia sebagai
makhluk sosial (zoon politicon). Kebutuhan sosial mencakup kebutuhan
berkomunikasi dengan sesama, kebutuhan pendidikan, kebutuhan untuk
menjalankan kepentingan bersama, dan lain-lain.
(3) Kebutuhan integratif adalah kebutuhan kejiwaan manusia seperti misalnya
kebutuhan berekreasi, kebutuhan untuk mengungkapkan rasa estetika, kebutuhan
untuk mengungkapkan rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kebutuhan
untuk mengungkapkan harga diri, dan lain-lain.

e. Kepribadian
Setiap manusia mempunyai kepribadian sendiri-sendiri yang tidak akan sama
antara manusia yang satu dan manusia yang lain. Kepribadian ini merupakan
gambaran secara umum dari perilaku seorang individu yang sangat khas yang
dapat terlihat dari perilaku sehari-hari. Wujud nyata dari kepribadian dapat berupa
banyak hal antara lain sebagai berikut.
x perangai. x kegemaran.
x sikap atau perilaku. x keimanan dan ketakwaan.
x tutur kata. x tanggung jawab.
x persepsi. x prakarsa, dan lain-lain.

Kepribadian merupakan perpaduan antara warisan biologis yang diterima


seseorang dari leluhurnya dan pengaruh lingkungan melalui proses interaksi dan
proses sosialisasi sejak lahir hingga dewasa.

f. Perilaku Menyimpang
Setiap orang mempunyai ego masing-masing. Manakala ego setiap orang lebih
mementingkan dirinya sendiri daripada kepentingan orang lain atau kepentingan
umum, maka yang terjadi adalah benturan kepentingan antarindividu. Hal ini dapat
mengakibatkan perilaku-perilaku yang menyimpang. Pada hakikatnya, perilaku
menyimpang merupakan bentuk-bentuk perilaku warga masyarakat yang tidak sesuai
dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat tersebut. Perilaku menyimpang
dapat bersumber dari banyak hal, yaitu sebagai berikut.
x Adanya resesi dan depresi ekonomi. Apabila dalam masyarakat terjadi resesi
dan depresi ekonomi, lapisan masyarakat bawah akan kesulitan melakukan
pemenuhan kebutuhan pokoknya. Padahal kebutuhan ini harus dipenuhi dan
kalau tidak maka mereka akan mati. Akibatnya perilaku warga masyarakat

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 13


lapisan bawah seringkali menjadi tidak sesuai dengan norma-norma yang ada
sehingga terjadi perilaku yang menyimpang.
x Lemahnya aparat penegak hukum dalam melakukan tindakan penegakan hukum.
Hal ini dapat terjadi karena norma yang ada tidak sesuai dengan perkembangan
kehidupan sekarang, atau mungkin karena kualitas moral dari aparat para dan
karena kurangnya personil, serta peralatan yang diperlukan oleh aparat penegak
hukum.
x Adanya peperangan dan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kantibmas)
yang memburuk. Jika terjadi peperangan atau suasana kamtibmas yang
memburuk, orang terdorong untuk melakukan penjarahan terhadap harta benda
milik orang lain. Terjadilah perilaku-perilaku menyimpang yang tidak sesuai
dengan norma-norma sosial dalam keadaan yang aman.
x Tidak berhasilnya proses pewarisan budaya dari generasi tua kepada generasi
muda. Misalnya, kini makin banyak keluarga yang tidak memiliki eksistensi
untuk menjalankan fungsinya. Hal ini menyebabkan semakin banyaknya bentuk-
bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh warga masyarakat.
Secara umum, perilaku menyimpang dapat terjadi akibat proses sosialisasi yang
tidak sempurna atau adanya proses sosialisasi terhadap sub-sub kebudayaan yang
memang menyimpang. Cara mengatasinya melalui peran pendidikan, baik yang
dilakukan orang tua kepada anaknya, guru kepada muridnya, maupun pemerintah
kepada aparatur negaranya.

g. Pengendalian Sosial
Semua usaha yang dilakukan oleh warga masyarakat agar warganya dapat
berperilaku sesuai norma dan nilai yang ada dalam masyarakat tersebut dinamakan
pengendalian sosial. Dalam pelaksanaan pengendalian sosial diperlukan banyak
hal antara lain norma, lembaga atau institusi, dan personil-personil penegak hukum.
Apabila pelaksanaan pengendalian sosial telah direalisasikan oleh akumulasi dari
norma, lembaga dan personil penegak hukum, munculah perangkat untuk
menciptakan tertib sosial yang dinamakan pranata sosial.
Pengendalian sosial ada yang bersifat preventif, represif, maupun gabungan
dari keduanya. Pengendalian sosial bersifat preventif bertujuan untuk menghindari
penyimpangan sedini mungkin, sedangkan pengendalian sosial bersifat represif
bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti semula. Gabungan dari keduanya
dilaksanakan sebelum dan sesudah penyimpangan itu terjadi. Pengendalian sosial
dapat dilakukan melalui dua teknik, yaitu compulsion (paksaan) dan pervasion
(pengisian).
Compulsion merupakan teknik pengendalian sosial yang diciptakan untuk
memaksa orang untuk mengubah sikapnya yang menyimpang dan secara tidak
lansung kembali patuh pada nilai dan norma. Berbeda dengan cara compulsion

14 Sosiologi SMA/MA Kelas X


yang dilakukan lewat paksaan, cara pervasion dilakukan dengan menyampaikan
norma dan nilai secara berulang-ulang.

h. Perubahan Sosial Budaya


Makna dari perubahan sosial budaya adalah semua bentuk perubahan struktur
sosial dan struktur budaya termasuk corak kebudayaannya. Hal ini terjadi akibat
adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur sosial budaya yang ada dengan unsur-
unsur sosial budaya yang baru yang dianggap ideal.

Dalam sejarah perkem-


bangan sosiologi, terdapat
banyak tokoh yang mem-
punyai andil besar. Satu
diantaranya adalah Auguste
Comte, seorang ahli filsafat
berkebangsaan Perancis pada
Sumber: www.bolender.com abad ke-19, yaitu tepatnya
pada tahun 1839. Ia mengata-
kan bahwa penelitian-penelitian tentang masyarakat
telah sampai pada titik yang menggembirakan untuk
memasuki perkembangan yang mengarah pada
terbentuknya ilmu pengetahuan yang mempunyai objek
mengenai masyarakat. Auguste Comte memberikan
nama pada ilmu pengetahuan tentang masyarakat
dengan istilah Sosiologi.
Kata sosiologi pada mulanya digunakan untuk
menyebut studi tentang kemasyarakatan. Istilah
sosiologi diambilnya dari kata socius bahasa Latin yang
berarti kawan dan kata logos dari bahasa Yunani yang
berarti kata atau berbicara. Dengan demikian, Auguste
Comte kita kenal sebagai Bapak Sosiologi.

Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial dan kebudayaan dalam suatu


masyarakat adalah sebagai berikut.

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 15


x Perubahan situasi alam, misalnya perubahan siang dan malam, perubahan waktu,
perubahan iklim, musim, termasuk perubahan-perubahan alam yang bersifat
temporer seperti gempa bumi, banjir, dan tanah longsor. Hal ini dapat
menyebabkan perubahan-perubahan pola aktivitas bagi manusia dalam
masyarakat.
x Perubahan situasi kependudukan, misalnya perubahan jumlah penduduk,
perubahan tingkat kelahiran, perubahan tingkat kematian, perubahan tingkat
kepadatan, perubahan komposisi penduduk, dan lain-lain. Hal ini juga dapat
menjadi penyebab terjadinya perubahan sosial budaya dalam masyarakat.
x Perubahan struktur sosial dan budaya. Yang dimaksud di sini adalah perubahan
susunan orang-orang dalam masyarakat beserta dengan pola aktivitasnya dan
hasil-hasil aktivitas tersebut dalam bentuk artefak. Dengan berubahnya struktur
sosial, seringkali merubah struktur budaya yang berupa pola aktivitas, kebijakan,
dan hasil-hasil perbuatan seperti benda-benda konkret.
x Perubahan nilai dan sikap. Walaupun nilai mempunyai kecenderungan yang
tetap, tetapi dalam kurun waktu yang relatif panjang, nilai-nilai sosial itu dapat
bergeser dan bahkan berubah untuk menyesuaikan keadaan dalam masyarakat.
Jika nilai-nilai berubah, maka akan mengakibatkan sikap dan perilaku orang
juga mengalami perubahan-perubahan.

C. KONSEP-KONSEP TENTANG REALITAS SOSIAL BUDAYA

1. Kemiskinan
Kemiskinan merupakan suatu keadaan individu atau sekelompok individu dalam
masyarakat yang secara ekonomi tidak dapat mengembangkan dirinya setaraf dengan
perekonomian orang-orang di sekitarnya. Kemiskinan dapat disebabkan oleh
kebodohan, sikap malas, kondisi alam yang gersang, peperangan, penjajahan, dan
lain-lain. Kemiskinan merupakan salah satu fenomena sosial yang akan diperangi
oleh semua bangsa melalui proses pembangunan dan modernisasi.

2. Kebodohan
Kebodohan merupakan suatu keadaan individu atau sekelompok individu yang
secara intelektual tidak dapat mengembangkan dirinya setaraf dengan perkembangan
intelektual masyarakat. Kebodohan dapat terjadi juga oleh faktor penjajahan,
kemiskinan, sikap malas, peperangan, resesi dan depresi, keadaan alam yang gersang
dan letaknya yang terpencil, dan lain-lain.

3. Kesenjangan Sosial
Kesenjangan sosial adalah suatu keadaan di mana terdapat jurang perbedaan
yang sangat jauh antara golongan masyarakat yang kaya dan masyarakat miskin.

16 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Kesenjangan sosial memang merupakan suatu fenomena sosial yang tidak dapat
diingkari. Artinya, hal tersebut pasti terjadi pada setiap masyarakat. Tetapi di sisi
lain, kesenjangan sosial sedapat mungkin harus dicegah karena mempunyai dampak
negatif yang kurang menguntungkan situasi dalam masyarakat itu sendiri. Adapun
dampak negatif dari kesenjangan sosial itu sendiri dapat terlihat dari hal-hal di
bawah ini.

a. Menimbulkan kecemburuan sosial


Pada hakikatnya, kecemburuan sosial merupakan sikap iri dan sinis terhadap
pihak lain. Misalnya, kecemburuan sosial dari golongan ekonomi bawah terhadap
golongan ekonomi atas sebagai akibat adanya perbedaan kekayaan dan pendapatan
yang sangat mencolok. Selanjutnya, kecemburuan sosial ini akan membentuk jurang
pemisah (gap) dan seringkali menjadi sumber konflik yang berakibat pada pertikaian
golongan ekonomi lemah dan golongan ekonomi kaya.

b. Menimbulkan sikap penindasan


Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin sering kali menimbulkan
kecenderungan dari golongan kaya untuk mengabaikan atau meremehkan golongan
miskin. Hal ini bahkan dapat diikuti dengan kecenderungan untuk menindas atau
memperlakukan seseorang dengan tidak wajar. Secara sosiologis, keadaan ini juga
tidak menguntungkan karena dapat menjadi pemicu terjadinya konflik sosial dalam
masyarakat.

4. Kesenjangan Kebudayaan (Cultural of Lag)


Kesenjangan kebudayaan adalah suatu perbedaan perkembangan budaya antara
subkebudayaan yang satu dan subkebudayaan yang lain. Misalnya, antara
subkebudayaan material dan subkebudayaan spiritual. Contoh nyata berkaitan dengan
asal-usul manusia yang menurut versi kitab suci berbeda dengan ilmu pengetahuan
(antropologi fisik).
Kesenjangan kebudayaan dapat berupa kesenjangan perkembangan budaya
di lingkungan budaya produsen dan lingkungan budaya konsumen. Sebagai
contoh pada masyarakat-masyarakat primitif yang belum memiliki penguasaan
ilmu pengetahuan dan teknologi tentang sepeda motor. Masalah timbul ketika
di antara mereka mampu membeli sepeda motor, namun tidak dapat menggunakan
indikator-indikator yang ada pada kendaraan bermotor (indikator oli habis,
indikator bahan bakar, penggunaan spion, merawat mesin, dan sebagainya).
Akibatnya muncul kerusakan-kerusakan yang bersumber dari rendahnya
peradaban masyarakat pemakai yang tidak sesuai dengan peradaban masyarakat
pembuatnya.

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 17


5. Kedudukan dan Peran
Setiap orang mempunyai kedudukan sosial dan sekaligus menuntut adanya peran
sosial berdasarkan kedudukan itu. Kedudukan sosial (status sosial) adalah posisi
seseorang di tengah-tengah masyarakat, sedangkan peran sosial adalah aktivitas
yang diharapkan berdasarkan status tersebut. Setiap individu seringkali memiliki
status sosial lebih dari satu. Dengan demikian, ia memiliki peran yang bermacam-
macam yang dapat mengakibatkan konflik peran (conflict of rule) dan konflik status
(conflict of status). Yang pasti lain kedudukan, lain pula peranan yang diharapkan
dari masing-masing status tersebut.
Kita mengenal tiga macam status, yaitu assigned status, ascribed status, dan
achieved status.
a. Assigned status adalah status yang lebih tinggi yang diberikan kepada seseorang
atau kelompok orang karena dianggap telah berjuang dan berjasa bagi
masyarakat. Status sosial seperti ini misalnya berupa kenaikan pangkat,
penganugerahan gelar, atau jabatan kehormatan.
b. Ascribed status adalah kedudukan seseorang yang diperoleh dengan sendirinya,
yaitu karena keturunan atau kelahiran. Kedudukan semacam ini biasanya terdapat
dalam masyarakat yang susunannya dikuasai oleh kaum bangsawan (feodal)
atau dalam masyarakat yang terbagi dalam lapisan-lapisan berdasarkan
perbedaan rasial, yaitu berasarkan ciri-ciri fisik seperti warna kulit dan rambut.
Contoh status semacam ini dapat dijumpai dalam kesultanan di Yogyakarta.
Kedudukan seseorang yang diperoleh dengan sendirinya, secara langsung juga
dapat dijumpai pada masyarakat biasa, yaitu masyarakat terbuka yang tidak
dikuasai golongan apapun dan tidak tergantung pada perbedaan rasial. Misalnya,
dalam setiap keluarga, laki-lakilah yang akan selalu menjadi kepala rumah
tangga walaupun bukan lahir dari keturunan bangsawan.
c. Achieved status adalah kedudukan yang dicapai oleh seseorang karena usaha-
usaha yang disengaja, artinya kedudukan itu diperoleh bukan karena kelahiran
atau keturunan. Misalnya, anak seorang petani karena bersekolah sampai ke
perguruan tinggi berhasil menjadi dokter, hakim, atau apa saja yang mendapat
penghormatan lebih tinggi di masyarakat.

D. HUBUNGAN ANTARA BERBAGAI KONSEP TENTANG REALITAS


SOSIAL BUDAYA
Keterkaitan komponen dalam masyarakat dapat mewujudkan suatu aktivitas
masyarakat yang disebut proses sosial dan dinamika sosial. Dalam hubungan-
hubungan tersebut, terdapat fenomena-fenomena sosial sebagai akibat adanya proses
sosial yang berlangsung terus-menerus yang melibatkan berbagai komponen dalam
masyarakat, baik komponen-komponen alam maupun komponen-komponen sosial

18 Sosiologi SMA/MA Kelas X


budaya. Hal ini akan mengakibatkan situasi di dalam masyarakat senantisa bergerak
dan kait mengkait antara fenomena sosial yang satu dengan fenomena sosial yang
lain. Berikut ini adalah beberapa contoh hubungan antara fenomena sosial yang
satu dengan fenomena sosial yang lain dalam kehidupan realitas sosial budaya.

1. Kemiskinan dan Kebodohan


Kemiskinan dan kebodohan merupakan dua fenomena sosial yang berkaitan
timbal balik. Artinya, kemiskinan menyebabkan kebodohan, selanjutnya kebodohan
kembali menyebabkan kembali kemiskinan. Kemiskinan merupakan suatu keadaan
seseorang secara ekonomi tidak dapat mengembangkan dirinya setaraf dengan
perkembangan perekonomian masyarakat di sekitarnya. Akibatnya, orang ini akan
tertinggal perkembangan kehidupannya dari masyarakat yang lain. Salah satu akibat
dari munculnya fenomena kemiskinan ini adalah bahwa orang tidak lagi mampu
memenuhi kebutuhan pendidikan, melainkan hanya mampu memenuhi kebutuhan
pokok berupa kebutuhan makan dan minum. Sementara dengan tidak terpenuhinya
kebutuhan pendidikan dapat menimbulkan kebodohan.
Adapun solusi dari kemiskinan dan kebodohan dapat dilakukan dengan upaya-
upaya seperti: meningkatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan,
meningkatkan mutu pendidikan, memberikan bantuan dana pendidikan dan
beasiswa, memberikan bimbingan usaha kecil dan menengah, memberikan bantuan
modal atau kredit dengan bunga yang sangat rendah, dan mengkoordinasikan
pemasaran hasil produksi melalui KUD (Koperasi Unit Desa).

Sumber: Trubus, Mei 2004

à Gambar 1.2 Golongan pekerja buruh yang bekerja di


berbagai sektor kehidupan termasuk kelompok miskin.

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 19


2. Modernisasi dan Kesenjangan Sosial
Modernisasi memang merupakan upaya pembaruan dengan mengubah pola pikir
irasional tradisional menjadi pola pikir rasional dan modern. Proses modernisasi
dapat kita lihat dari meningkatnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi,
serta munculnya industri-industri dan peralatan modern lainnya.
Dengan perkembangan industri dan peralatan teknologi yang serba mekanis,
pemilik modal akan mempunyai kedudukan yang makin strategis serta memiliki
produktivitas kerja yang meningkat akibat bantuan dari mesin-mesin tersebut. Hal
ini justru telah mengangkat pendapatan masyarakat golongan kaya menjadi lebih
tinggi. Sebaliknya golongan bodoh dan miskin justru akan terdesak karena
pekerjaannya telah digantikan oleh mesin-mesin. Akibatnya yang terjadi di dalam
masyarakat adalah kesenjangan makin tinggi, yaitu yang kaya makin kaya, sedangkan
yang miskin menjadi semakin miskin.

3. Sosialisasi dan Kepribadian


Melalui proses sosialiasi, seorang individu akan mendapatkan banyak hal antara
lain: pengetahuan tentang lingkungan alam atau wilayah yang ada di dalam
masyarakat, pengetahuan tentang nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku di dalam
masyarakat, pengetahuan tentang budaya dan seni yang berkembang dan digemari
oleh masyarakat, pengetahuan tentang sub-sub kebudayaan yang dilarang (tabu),
dan struktur sosial yang menyangkut kedudukan orang-orang termasuk peranannya
dalam tata pergaulan masyarakat tersebut.
Melalui proses sosialisasi, seorang individu akan mengetahui banyak hal yang
ada di dalam masyarakat sehingga dapat berperilaku dengan tepat sesuai dengan
nilai-nilai dan norma-norma yang ada di dalam masyarakat tersebut.
Proses sosialisasi mempunyai peranan sangat menentukan dalam membentuk
kepribadian seseorang, karena melalui proses sosialisasi inilah prinsip-prinsip hidup
seorang individu akan dibentuk oleh budaya lingkungan tempat hidupnya (social
determinism).

4. Kedudukan dan Peran Sosial


Kedudukan atau status sosial merupakan posisi seseorang di tengah-tengah
masyarakat. Melalui kedudukan inilah, seorang individu akan menjalankan
aktivitasnya sesuai dengan kedudukannya itu. Setiap orang mempunyai lebih dari
satu kedudukan dan tiap-tiap kedudukan menuntut peranan yang berbeda-beda.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan kedudukan dan peran sosial
antara lain sebagai berikut.
x Peran sosial hendaknya dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat sesuai
dengan kedudukan yang diembannya.

20 Sosiologi SMA/MA Kelas X


x Dalam menjalankan kedudukannya, seseorang harus berlandaskan pada nilai-
nilai dan norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat.
x Apabila peran sosial dapat dilaksanakan dengan baik, hal tersebut dapat
menaikkan kedudukan sosial seseorang (social climbing).
x Apabila seseorang tidak dapat menjalankan peranan sosialnya berdasarkan
kedudukan yang diembannya, maka kedudukan sosialnya menjadi turun (social
sinking).

5. Masyarakat dan Kebudayaan sebagai Sistem


Kebudayaan manusia dihasilkan melalui proses pergaulan dalam masyarakat.
Selanjutnya, kebudayaan dipakai dan dipedomani untuk menyelenggarakan
kehidupan. Perhatikan bagan berikut ini!

Pergaulan antar
Warga Masyarakat

Sistem
Masyarakat
Kebudayaan

Membentuk Kepribadian
Generasi Baru

à Bagan 1.2 Bagan masyarakat dan kebudayaan sebagai suatu


sistem.

Tampak dalam bagan bahwa masyarakat dan kebudayaan sungguh-sungguh


merupakan suatu sistem yang terkait sangat erat satu dengan yang lain. Masyarakat
sangat dipengaruhi oleh corak budaya yang ditinggalkan generasi terdahulu. Proses
ini berlangsung melalui pembentukan kepribadian bagi generasi baru. Selanjutnya,
masyarakat yang di dalamnya terdiri dari individu-individu dengan struktur sosialnya
akan melangsungkan suatu proses sosial melalui berbagai bentuk pergaulan hidup.
Melalui proses pergaulan hidup inilah, kebudayaan baru dihasilkan sebagai pengem-
bangan dan revisi terhadap kebudayaan lama produk generasi terdahulu.

6. Perilaku Menyimpang dan Pengendalian Sosial


Perilaku menyimpang yang ada di dalam masyarakat disebabkan banyak hal,
diantaranya karena lemahnya aparat penegak hukum atau karena resesi dan depresi

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 21


ekonomi. Adanya perilaku menyimpang mengakibatkan keseimbangan dalam
masyarakat terancam. Oleh sebab itu, orang-orang yang berkompeten dalam
masyarakat tersebut mulai mencari solusi sosial untuk mencegah adanya perilaku
menyimpang. Usaha inilah yang dinamakan pengendalian sosial. Dengan
pengendalian sosial yang efektif, tingkat perilaku menyimpang akan mengalami
penurunan. Selanjutnya, dengan menurunnya perilaku menyimpang, pengendalian
sosial yang dilakukan pun menjadi berkurang. Demikianlah terjadi suatu korelasi
sebab akibat antara perilaku menyimpang dan pengendalian sosial dalam suatu
masyarakat.
Pada masyarakat primitif, pengendalian sosial lebih mudah dilaksanakan karena
warganya memiliki tingkat kemurnian yang tinggi dan belum tercemar oleh motif-
motif politik, ekonomi, atau pun pengaruh media massa sehingga pengendalian
sosial dapat dilakukan secara tradisional dan sederhana. Sebaliknya, pada
masyarakat modern, bentuk kehidupan tidak lagi kooperatif, melainkan sangat
kompetitif sehingga perilaku menyimpang relatif lebih banyak terjadi. Dengan
demikian, kapasitas dan intensitas pengendalian sosial harus ditingkatkan sehingga
semua penyimpangan akan dapat dikurangi dan tidak mengganggu sistem ketertiban
dalam masyarakat.

7. Nilai, Norma, dan Pranata Sosial


Setiap masyarakat menginginkan adanya keteraturan sosial. Untuk menciptakan
kondisi seperti ini, diperlukan suatu perangkat pengaturan tertib sosial yang disebut
pranata sosial. Pranata sosial terdiri atas norma dan nilai sebagai pedoman, lembaga
sosial sebagai wadah, dan personil-personil pelaksana ketertiban sosial. Nilai dan
norma mempunyai korelasi untuk membentuk dan mewujudkan pranata sosial yang
efektif. Dengan pranata sosial yang efektif, tercipta suatu tertib sosial di dalam
masyarakat. Keadaan inilah yang akan menyuburkan lahirnya nilai-nilai baru yang
akan mendorong pengadaan norma-norma sebagai aplikasinya.

Materi-materi pelajaran sosiologi dan antropologi memang banyak


persamaannya, tetapi masing-masing mempunyai kekhususan dalam objek
kajiannya. Selanjutnya, diskusikan dengan teman-temanmu, apa perbedaan
yang mencolok dari kajian sosiologi dan antropologi?

22 Sosiologi SMA/MA Kelas X


E. DATA SOSIOLOGIS DAN ANTROPOLOGIS TENTANG FENOMENA
SOSIAL DI LINGKUNGAN MASYARAKAT SETEMPAT
Wilayah Indonesia terdiri atas banyak pulau besar dan kecil. Letak Indonesia
berada pada persilangan tansportasi laut kawasan dunia yang sangat ramai. Keadaan
ini telah mendorong terbentuknya masyarakat Indonesia sebagai masyarakat
multietnis dan multikultural. Kondisi ini di satu pihak mendatangkan keuntungan,
antara lain sebagai berikut.
x Menjadi objek penelitian ilmu-ilmu sosial dan budaya yang sangat berharga.
x Menjadi pesona yang tersendiri dalam kegiatan kepariwisataan.
x Banyak memiliki kekayaan budaya yang unik yang jarang dijumpai pada bangsa
lain.

Namun di sisi yang lain, bangsa Indonesia yang multietnis dan multikultural
sangat rawan terhadap konflik dan penuh dengan perubahan-perubahan yang
terkadang sangat merugikan bagi perkembangan suatu bangsa.
Masyarakat Indonesia sebagai masyarakat multietnis dan multikultural memiliki
lebih banyak fenomena-fenomena sosial yang menarik untuk dikaji. Fenomena-
fenomena sosial ini merupakan bentuk-bentuk kenisbian dari tata pergaulan
masyarakat yang majemuk (misalnya asimilasi kebudayaan, akulturasi kebudayaan,
perkawinan campur, toleransi sosial) dan fenomena-fenomena lain yang negatif
(konflik horizontal antarras, antarsuku, maupun antaragama). Fenomena-fenomena
ini sangat sensitif terjadi dalam masyarakat sebagai perwujudan dari masyarakat
Indonesia sebagai masyarakat multietnis dan multikultural.
Masyarakat Indonesia dikenal pula sebagai masyarakat sedang berkembang
yang mengalami proses perubahan struktur dari masyarakat tradisional yang agraris
menuju masyarakat industri yang modern. Proses perubahan ini memunculkan
banyak fenomena, baik yang positif maupun yang negatif. Misalnya, kesenjangan
sosial, meningkatnya kemiskinan, meningkatnya kriminalitas, pemakaian obat-obat
terlarang, sampai munculnya gaya-gaya hidup eksekutif yang mewah. Fenomena-
fenomena ini menjamur terjadi dalam masyarakat hampir di seluruh wilayah
tanah air.
Berikut ini adalah fenomena-fenomena sosial di Indonesia yang sekaligus
merupakan data-data sosiologis dan antropologis yang perlu mendapat perhatian
dari seluruh komponen bangsa.

1. Demoralisasi
Demoralisasi merupakan suatu keadaan ketika kualitas moral warga masyarakat
mengalami penurunan. Penyebabnya, bentuk kehidupan yang semakin kompetitif
sehingga banyak orang melakukan jalan pintas dengan mengabaikan prinsip-prinsip

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 23


moral termasuk nilai-nilai keagamaan. Sebagai indikasi, gejala demoralisasi me-
landa Indonesia dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut.
x Meningkatnya kualitas dan kuantitas kriminalitas sosial seperti pencurian,
perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan.
x Meningkatnya unjuk rasa/demonstrasi yang berakhir dengan kerusuhan-
kerusuhan yang bersifat anarkis seperti pembakaran rumah, pembakaran fasilitas
umum, perusakan, dan penjarahan-penjarahan.
x Meningkatnya konflik sosial vertikal maupun horizontal. Konflik vertikal misalnya
perseteruan antara pemerintah pusat dan rakyat Aceh, rakyat Papua, dan eks
Timor-Timur. Konflik horizontal seperti konflik antara masyarakat Dayak dan
masyarakat Madura, konflik antara etnis Thionghoa dan masyarakat pribumi,
konflik yang bernuansa agama seperti yang terjadi di Ambon, Poso Sulawesi,
dan lain-lain.
x Merebaknya isu terorisme yang mengancam keselamatan orang, baik di tempat-
tempat umum maupun di tempat-tempat ibadah seperti yang terjadi di Jakarta,
Medan, Makasar, dan Bali.

Sumber: Majalah Hidayatullah, Oktober 2003

à Gambar 1.3 Aparat keamanan yang tangguh diperlukan


untuk memelihara stabilitas negara dari berbagai ancaman
kerusuhan yang merusak keharmonisan bermasyarakat.

24 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan proses demoralisasi di Indonesia,
yaitu sebagai berikut.
x Pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi. Hal ini mengakibatkan jumlah pencari
kerja tidak lagi sebanding dengan perkembangan lapangan pekerjaan.
x Menurunnya kewibawaan pemerintah yaitu dengan tidak berhasilnya pemerintah
memenuhi tuntutan rakyat.
x Adanya sikap-sikap negatif seperti malas, boros, tidak disiplin, apatis dan, lain-
lain yang selanjutnya mengakibatkan sikap menempuh sesuatu melalui jalan
pintas seperti korupsi, manipulasi, nepotisme, kolusi, politik uang, dan lain-
lain.
x Adanya krisis ekonomi yaitu menurunnya nilai mata uang nasional terhadap
nilai mata uang asing yang dijadikan pedoman seperti Dollar Amerika, Euro,
Yen, dan lain-lain.
x Menurunnya kualitas aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan, dan
kehakiman yang belum mampu menuntaskan perkara-perkara pelanggaran
hukum, baik perdata maupun pidana.
x Makin terhimpitnya kesempatan manusia untuk mendalami nilai-nilai agama
dan nilai-nilai adat leluhur mengenai perilaku yang baik. Hal ini disebabkan
karena meningkatnya aneka macam kegiatan manusia yang bersifat duniawi
sebagai konsekuensi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2. Konsumerisme
Konsumerisme merupakan pola pikir akibat berlangsungnya proses modernisasi,
yakni orang lebih baik membeli barang-barang produk kebutuhan sehari-hari
daripada harus membuat sendiri. Akibatnya, orang menjadi sangat konsumtif sehingga
kadang-kadang menjadi malas dan boros. Semua ini terjadi karena proses modernisasi
telah berhasil memproduksi barang-barang kebutuhan sehari-hari dengan banyak
pilihan, murah harganya, dan mudah didapat.

3. Sekularisme
Sekularisme merupakan pola pikir yang lebih mendahulukan kepentingan-
kepentingan yang bersifat keduniawian. Pola pikir ini sebagai dampak dari proses
rasionalisasi dan modernisasi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus
berkembang dengan pesatnya serta terbukti dapat membantu semua pekerjaan
manusia dengan tepat dan cepat, membuat manusia sangat mempercayai kebenaran
ilmu pengetahuan dan teknologi. Akibatnya, orang akan berpaling dari nilai-nilai
spiritual atau keagamaan.

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 25


4. Gejala Demokratisasi
Dengan meluasnya paham demokrasi, maka masyarakat penganut paham
demokrasi terus-menerus meningkatkan kadar demokrasinya dalam berbagai segi
kehidupan. Inilah yang dimaksud dengan gejala demokratisasi. Sejak Indonesia
melaksanakan reformasi pada tahun 1998, maka terjadilah perombakan-perombakan
pada sistem pemerintahan yang mengarah pada peningkatan kadar demokrasi, antara
lain sebagai berikut.
x Pemilihan presiden secara langsung.
x Pemisahan kepolisian dari TNI.
x Pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
x Pemilihan Umum yang tidak hanya memilih partai, melainkan memilih para
wakil rakyat yang berkualitas.

5. Munculnya Fenomena Otonomi Daerah


Era otonomi daerah merupakan upaya pengembangan pilar demokrasi yang
mula-mula bersifat sentralistik menjadi desentralistik. Tujuannya untuk memperbaiki
rantai pemenuhan kepentingan rakyat secara langsung melalui pemerintah pusat,
tetapi cukup melalui pemerintah daerah masing-masing.
Pengertian otonomi daerah adalah suatu sistem pendistribusian dan
pendelegasian kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, baik
pemerintah daerah di tingkat I maupun pemerintah daerah di tingkat II. Faktor-
faktor yang mendorong lahirnya gagasan otonomi daerah adalah sebagai berikut.
x Dorongan masyarakat daerah untuk mengelola sumber-sumber alam yang berada
di wilayahnya masing-masing.
x Dorongan masyarakat daerah untuk mengembangkan potensi daerah secara
lebih leluasa dan tidak tergantung oleh pemerintah pusat.
x Untuk memperkuat pilar hak-hak asasi manusia dengan mengurangi otoritas
yang dipegang oleh negara melalui pemerintah pusat.

Munculnya fenomena sosial dalam bentuk otonomi daerah bermakna positif


dan negatif. Sisi positif dari otonomi daerah antara lain sebagai berikut.
x Meningkatnya kreativitas dan partisipasi daerah untuk mengembangkan wilayah
masing-masing.
x Menjadi sederhananya rantai pemenuhan kebutuhan rakyat yang tidak lagi
melalui jalur yang sangat panjang dengan tergantung pada pemerintah pusat.
x Meningkatnya kesejahteraan masyarakat daerah tanpa mengabaikan pendapatan
pemerintah pusat.
x Dorongan untuk bersaing dalam arti yang positif dari masing-masing daerah
untuk membawa masyarakatnya lebih maju dan mencapai kesejahteraan yang
lebih baik bagi warganya.

26 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Sisi negatif dari otonomi daerah antara lain sebagai berikut.
x Memunculkan dua kelompok yang bersifat kompetitif dan bahkan konflik di
antara elit-elit pemerintahan di pusat dan elit-elit pemerintahan di daerah.
x Ada beberapa pemerintah daerah yang belum cakap menerima otonomi daerah
sebagai suatu kewenangan untuk mengelola daerah masing-masing tanpa
mengabaikan kepentingan-kepentingan masyarakatnya.
x Menurunnya kadar nasionalisme akibat dari lahirnya paham-paham
etnosentrisme dan paham-paham teritorialisme akibat adanya kewenangan yang
diberikan pada daerah termasuk putra-putra daerahnya.
x Dilihat dari kaca mata kepegawaian, otonomi daerah mempersulit pengem-
bangan karir karena terhalang oleh mutasi-mutasi yang hanya terbatas pada
daerah tertentu saja.

6. Meningkatnya Angka Pengangguran


Sejak krisis ekonomi tahun 1998 yang ditandai dengan krisis politik dengan
berakhirnya era Orde Baru, muncul banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) yang
mengakibatkan banyak pengangguran. Selain krisis ekonomi juga ditandai dengan
krisis moral, krisis kepemimpinan, dan bahkan krisis kepercayaan bangsa-bangsa
asing kepada pemerintah Indonesia. Fenomena ini akan mengakibatkan banyak
sekali kemunduran, yaitu dengan ditandai dengan menurunnya kegiatan sektor riil
sehingga perampingan karyawan dan PHK besar-besaran terus berlanjut silih berganti
antara perusahaan yang satu dan perusahaan yang lain.

Sumber: Kompas, Mei 2004

à Gambar 1.4 Banyaknya peminat bursa tenaga kerja di Gedung Tenis Indoor
Senayan, Jakarta, Mei 2004 m e n u n j u k k a n s e m a k i n b a n y a k n y a
pengangguran di Indonesia.

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 27


Contoh-contoh meningkatnya angka pengangguran adalah perampingan di Bank
Indonesia, Bank Rakyat Indonesia, Pertamina, PT Dirgantara Indonesia, PT Semen
Padang, dan banyak perusahaan kecil lainnya. Beberapa akibat yang mencolok
dari fenomena ini antara lain sebagai berikut.
x Adanya penurunan pendapatan keluarga dan masyarakat.
x Adanya peralihan profesi atau pekerjaan.
x Munculnya demoralisasi yang ditandai dengan meningkatnya kejahatan.
x Munculnya pedagang kaki lima di banyak kota di Indonesia.
x Menurunnya volume ekspor Indonesia ke negara-negara lain yang selanjutnya
merendahkan pendapatan negara.
x Muncul akibat-akibat sampingan seperti konflik antarsuku, antarras,
dan antaragama yang mengakibatkan persatuan dan kesatuan negara tercabik-
cabik.

7. Munculnya Gerakan Separatis


Gerakan separatis merupakan gerakan sekelompok orang yang bersifat sistematis
dan terorganisir untuk membebaskan (memisahkan) diri dari keterkaitannya dengan
pemerintah pusat. Secara sosiologis dan antropologis, kelompok masyarakat yang
ingin memisahkan diri jelas memiliki kepentingan-kepentingan yang tidak bisa
terakomodasi oleh pemerintah pusat. Dengan demikian, mereka telah putus asa
dan melakukan tindakan ekstrim untuk melawan pemerintah pusat dan berusaha
memisahkan diri sebagai negara yang merdeka. Hal inilah yang semestinya harus
dimengerti oleh para elite pemerintahan yang berada di pusat. Tetapi di sisi lain,
pemerintah pusat memiliki kewajiban untuk melindungi seluruh tumpah darah
Indonesia, termasuk semua penduduk untuk tetap bersatu dan utuh dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian, bagaimanapun pemerintahan pusat
pasti akan bersikukuh untuk tetap menolak semua keinginan sekelompok masyarakat
di daerah yang ingin memerdekakan diri. Yang penting bagi kita bahwa penyelesaian
masalah ini harus dilakukan dengan pendekatan-pendekatan sosiologis, ideologis,
dan kultural sehingga dari kedua belah pihak akhirnya dapat memahami masing-
masing kepentingannya dan dapat mencapai titik temu yang menguntungkan kedua
belah pihak. Sebagai contoh dari fenomena ini mulai dari terpisahnya Timor Timur
dari Indonesia, munculnya gerakan separatis di Aceh, gerakan Papua Merdeka,
serta Republik Maluku Selatan.
Sebagai bangsa yang besar dan majemuk, Indonesia memerlukan suatu
pemerintahan yang amat sangat bijak dan mempunyai wawasan kebangsaan yang
tebal, mempunyai visi dan misi yang kuat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,
serta mempunyai wawasan kemajemukan dan HAM yang tinggi. Keadaan ini relatif
sulit dilakukan hingga pada suatu saat seolah-olah terjadi krisis kepemimpinan, tetapi

28 Sosiologi SMA/MA Kelas X


dengan peran serta seluruh masyarakat, maka krisis separatis di Indonesia ini akan
berangsur-angsur terselesaikan.

Sumber: Tempo, Edisi 18–24 Agustus 2003

à Gambar 1.4 Ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah


memicu timbulnya pemberontakan.

Dalam masyarakat pada umumnya terdapat tiga macam status, yaitu status
yang diperoleh karena kelahiran, kerja keras, dan pemberian. Menurut kalian
status manakah yang paling dominan dimiliki oleh masyarakat di Indonesia?

MENGATASI KRISIS DEMORALISASI

U
ntuk mengatasi gejala demoralisasi yang kian hari terasa kian
meningkat pada masyarakat Indonesia, diperlukan suatu solusi dari
berbagai kalangan untuk ambil bagian mengupayakan rehabilitasi
perilaku sosial sehingga sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma yang
berlaku pada masyarakat Indonesia.

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 29


Untuk mengatasi krisis demoralisasi, peranan keluarga justru lebih penting
dan lebih strategis dibandingkan dengan peranan lembaga pendidikan, baik
lembaga pendidikan formal maupun lembaga pendidikan nonformal.

Petunjuk Simulasi Pro Kontra


1. Siswa dalam kelas dibagi atas dua kelompok. Satu kelompok pro dan
satu kelompok lagi kontra. Tuangkan pendapat dan penjelasan kalian
sesuai dengan kelompok masing-masing berdasarkan pertanyaan di bawah
ini!
2. Pilihlah seorang dari setiap kelompok yang bertugas sebagai presenter
untuk menyajikan kesimpulan hasil diskusi kelompokmu!

Pertanyaan:
1. Setujukah kalian dengan pendapat yang tertuang pada alinea terakhir?
Jelaskan dan sertai dengan data-data pendukung!
2. Bagaimana solusi mengatasi krisis demoralisasi?

MENGHARGAI KEPENTINGAN ORANG LAIN

S
etiap orang pasti memiliki kepentingan-kepentingan, baik yang mendasar
maupun kepentingan yang sifatnya temporer. Demikian juga semua
orang senantiasa ingin memenuhi kebutuhannya dengan mengambil
berbagai macam benda pemuas kebutuhan yang ada di dalam masyarakat.
Sering kali upaya-upaya pemenuhan ini berbenturan antara pihak yang
satu dengan pihak yang lain. Inilah yang menjadi sumber persaingan dan
pertikaian di antara individu di dalam masyarakat. Dalam sosiologi, melalui
pembahasan tentang kedudukan dan peranan telah diisyaratkan bahwa setiap
individu harus dapat memainkan peranan di dalam kedudukannya dengan
sebaik-baiknya. Sedapat mungkin melakukan tindakan-tindakan kooperatif
terhadap pihak lain dengan memperhatikan hak-hak dan kepentingan orang
lain. Apabila semua orang dapat melakukan hal tersebut, maka masyarakat
akan mencapai suatu keteraturan.

30 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Pertanyaan:
1. Apakah yang dimaksud dengan norma dan nilai sosial?
2. Apa peranan norma dan nilai dalam membentuk perilaku warga masyarakat
yang baik?
3. Kemukakan pendapatmu bagaimana prinsip-prinsip untuk menjalankan
peranan dalam suatu kedudukan!
4. Bagaimana kriteria warga masyarakat yang baik?

DATA SOSIAL BUDAYA DAN PEMBANGUNAN

Salah satu kriteria pemerintah yang baik adalah pemerintah yang dapat
menyusun dan melaksanakan berbagai kebijakan yang sesuai dengan
kebutuhan, sesuai dengan kemampuan, dan sesuai dengan nilai-nilai budaya
masyarakatnya. Untuk dapat melakukan hal tersebut, diperlukan data sosial
budaya. Misalnya, data jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut umur
dan jenis kelamin, data pendapatan per kapita, data kelahiran, data kematian,
data kemiskinan, data drop out, dan data sosial budaya lainnya.
Sosiologi dan antropologi dapat menjembatani pemerintah dalam rangka
memperoleh data-data sosial budaya dari berbagai suku bangsa yang ada di
dalam masyarakat. Data-data dapat diperoleh melalui sensus penduduk atau
penelitian-penelitian sosial lainnya dengan menggunakan tenaga-tenaga
sosiolog yang berkualitas. Data-data sosial budaya yang akurat akan menjadi
bahan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan pembangunan bagi seluruh
warganya.

Pertanyaan:
1. Bagaimana cara memperoleh data-data sosial budaya yang benar?
2. Sebutkan metode-metode pengumpulan data dalam sosiologi dan
antropologi! Berikan penjelasan masing-masing!

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 31


3. Apa manfaat data sosial budaya bagi kegiatan pembangunan?
4. Coba sebutkan lima kriteria pemerintah yang baik!
5. Bagaimana peranan sosiologi dan antropologi dalam proses penyusunan
kebijakan pembangunan suatu bangsa?

Sosiologi dan antropologi sebagai ilmu yang relatif baru mempunyai dua pengertian
dasar, yaitu sosiologi dan antropologi sebagai ilmu pengetahuan serta sosiologi dan
antropologi sebagai metode.
1. Konsep-konsep Dasar Sosiologi dan Antropologi
x Masyarakat x Nilai dan Norma
x Kebudayaan x Kepribadian
x Interaksi Sosial x Perilaku Menyimpang
x Sosialisasi x Pengendalian Sosial
x Kebutuhan Hidup x Perubahan Sosial Budaya
2. Kebutuhan hidup ini terdiri dari 3 macam, yaitu sebagai berikut.
x Kebutuhan mendasar, yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi dan apabila tidak
dipenuhi maka orang akan mati.
x Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan manusia untuk bersama-sama dengan
manusia yang lain. Kebutuhan ini muncul sebagai hakikat manusia sebagai
makhluk sosial (zoon politicon).
x Kebutuhan integratif, yaitu kebutuhan kejiwaan manusia seperti misalnya
kebutuhan berekreasi, kebutuhan untuk mengungkapkan rasa estetika,
kebutuhan untuk mengungkapkan rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha
Esa, kebutuhan untuk mengungkapkan harga diri, dan lain-lain.
3. Metode-metode Sosiologi dan Antropologi
x Metode Wawancara
x Metode Observasi Langsung
x Metode Observasi Partisipan
x Metode Angket
x Metode Komparasi

32 Sosiologi SMA/MA Kelas X


x Metode Kepustakaan
x Metode Penelusuran Sejarah
x Metode Pengukuran Langsung
x Metode Dokumenter
x Metode Analisis Media Massa
4. Konsep-konsep Tentang Realitas Sosial Budaya
x Kemiskinan
x Kebodohan
x Kesenjangan Sosial
x Kesenjangan Kebudayaan (Cultural of Lag)
x Kedudukan dan Peran
5. Hubungan Antarberbagai Konsep Tentang Realitas Sosial Budaya
x Kemiskinan dan Kebodohan
x Modernisasi dan Kesenjangan Sosial
x Sosialisasi dan Kepribadian
x Kedudukan dan Peran Sosial
x Masyarakat dan Kebudayaan sebagai Sistem
x Perilaku Menyimpang dan Pengendalian Sosial
x Nilai, Norma, dan Pranata Sosial
6. Data Sosiologis dan Antropologis Tentang Fenomena Sosial di Lingkungan
Masyarakat Setempat
x Demoralisasi
x Konsumerisme
x Sekularisme
x Gejala Demokratisasi
x Munculnya Fenomena Otonomi Daerah
x Meningkatnya Angka Pengangguran
x Munculnya Gerakan Separatis

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 33


Soal Objektif

Pilihlah satu jawaban yang benar dengan menyilang huruf A, B, C, D atau E!


1. Ilmu pengetahuan bersifat logis berarti . . . .
A. berdasarkan logika
B. berdasarkan pengalaman
C. berdasarkan urutan disiplin ilmu
D. berdasarkan hitungan
E. berdasarkan hapalan
2. Arti kata sosial dalam “Departemen Sosial” menunjukkan pada kegiatan-kegiatan
di lapangan sosial, artinya kegiatan-kegiatan untuk . . . .
A. mengatasi permasalahan manusia dalam bidang kebaikan
B. mengatasi permasalahan manusia dalam bidang kesejahteraan
C. mengatasi permasalahan manusia dalam bidang keselamatan
D. mengatasi permasalahan manusia dalam bidang keharmonisan
E. salah semua
3. Salah satu kegunaan data sosial budaya yang dihimpun melalui penelitian sosial
dalam kegiatan pembangunan adalah . . . .
A. sebagai data pelengkap dalam pembangunan
B. sebagai data kebenaran dalam pembangunan
C. sebagai bahan pembanding penyelenggara pemerintahan
D. sebagai bahan penyusunan kebijakan oleh pemerintah

4. Perhatikan pernyataan berikut.


1. Waktu penelitiannya sangat panjang.
2. Menggunakan instrumen penelitian berupa angket.
3. Peneliti dalam menghimpun data tidak hanya melihat dan bertanya, tetapi
mengalami sendiri.
4. Data yang terhimpun sangat lengkap dan detail.
5. Data yang terkumpul berupa data sekunder.
Dari pernyataan tersebut di atas, yang merupakan ciri-ciri metode observasi
partisipan adalah . . . .
A. 1, 2, 3, 4 D. 1, 4, 5
B. 1, 3, 4, 5 E. 1, 3, 5
C. 2, 3, 4, 5

34 Sosiologi SMA/MA Kelas X


5. Sosiologi sebagai ilmu tentang perilaku sosial mempunyai objek kajian berupa
hal-hal berikut ini, kecuali . . . .
A. interaksi sosial D. lembaga sosial
B. norma dan nilai sosial E. kebutuhan hidup manusia
C. situs-situs purbakala

6. Lembaga pemerintah yang secara khusus menghimpun, mengolah, dan


menyajikan data-data sosial budaya untuk berbagai kebutuhan dalam
pembangunan adalah . . . .
A. kepolisian
B. lembaga swadaya masyarakat
C. Badan Pusat Statistik
D. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional)
E. Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)

7. Sosiologis berasal dari kata Latin socius dan kata Yunani logos. “Socius” dalam
pengertian sosiologi berarti . . . .
A. sosial D. kawan
B. keluarga E. kawan dan lawan
C. kerabat

8. Di bawah ini yang bukan merupakan konsep-konsep dasar dalam sosiologi dan
antropologi adalah . . . .
A. perilaku menyimpang
B. proses sosialisasi
C. pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia)
D. perubahan sosial
E. norma dan nilai sosial
9. Sosiologi bersifat empiris artinya . . . .
A. kajiannya didasarkan pada kenyataan yang pernah terjadi dalam masyarakat
B. selalu menganalisis hal-hal yang benar-benar terjadi bahkan yang seharusnya
terjadi
C. selalu bersikap terbuka terhadap pembaruan
D. menerima hal-hal baru untuk disesuaikan dengan pengalaman-pengalaman
masa lalu
E. berorientasi pada nilai dan norma

10. Di bawah ini yang bukan merupakan unsur pokok masyarakat adalah . . . .
A. adanya persamaan darah dan keturunan
B. adanya norma sosial sebagai pedoman perilaku

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 35


C. wilayah dengan batas-batas tertentu
D. adanya kerja sama
E. adanya orang-orang

11. Kaitan antara pengendalian sosial dan perilaku menyimpang adalah . . . .


A. perilaku menyimpang sebagai akibat dari pengendalian sosial
B. pengendalian sosial dan perilaku menyimpang merupakan fenomena sosial
dalam masyarakat
C. pengendalian sosial dilakukan untuk mencegah dan mengatasi perilaku
menyimpang
D. pengendalian sosial merupakan akibat dari perilaku menyimpang
E. pengendalian sosial sama dengan perilaku menyimpang

12. Keseluruhan perubahan situasi dalam masyarakat dalam kurun waktu tertentu
dinamakan . . . .
A. proses sosial D. dinamika sosial budaya
B. perubahan sosial budaya E. evolusi sosial
C. interaksi sosial

13. Yang disebut teknik interview adalah teknik . . . .


A. pengumpulan bahan
B. mencatat secara langsung
C. tanya jawab secara langsung
D. tanya jawab secara tidak langsung
E. laporan pandangan mata

14. Metode yang termasuk jenis kuantitatif adalah metode . . . .


A. induktif D. komparatif
B. deduktif E. statistik
C. historis

15. Dalam sosiologi, yang dimaksud dengan pemikiran adalah pengambilan


keputusan dengan menggunakan . . . .
A. hitungan D. metode kuantitatif
B. akal pikiran E. menggunakan matematik
C. pendekatan historis

16. Metode penelitian dengan mempergunakan analisis atas peristiwa-


peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip-prinsip umum disebut
metode . . . .

36 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. statistik D. komparatif
B. kuantitatif E. historis
C. case study

17. Segala sesuatu yang benar-benar ada dan dapat dilihat serta diraba
disebut . . . .
A. fakta D. argumentasi
B. data E. statement
C. kenyataan

18. Pengumpulan data dengan menggunakan angket tidak cocok untuk masyarakat
pedesaan di Indonesia karena . . . .
A. masyarakat di Indonesia pada umumnya tidak cukup dalam menjawab
pertanyaan dalam angket tersebut
B. masyarakat desa memiliki banyak kegiatan di ladang dan di sawah
C. jarak antara desa dan kota relatif jauh
D. masyarakat desa bersifat tidak jujur di dalam menjawab pertanyaan
E. pengiriman angket sangat sulit akibat letaknya yang terpencil

19. Pengumpulan data dengan cara interview akan mempunyai kelebihan-kelebihan,


antara lain . . . .
A. hemat biaya dan tenaga
B. memiliki biaya dan tenaga
C. data yang diperoleh lebih luas dan lengkap
D. hubungan antara peneliti dan responden menjadi semakin akrab
E. menghilangkan subjektivitas

20. Istilah sosiologi pertama kali digunakan pada tahun 1839 di Perancis
oleh . . . .
A. Emille Durkheim D. Pitirim A. Sorokin
B. Samuel Koening E. Herbert Spencer
C. Auguste Comte

Soal Essay

Jawablah soal-soal berikut ini dengan singkat dan tepat!


1. Coba kemukakan kembali menurut bahasamu sendiri, apakah sosiologi itu?
2. Coba jelaskan mengapa sosiologi itu perlu dipelajari!
3. Sebutkan objek-objek kajian dalam sosiologi!
4. Sebutkan dan jelaskan empat metode penelitian yang penting dalam sosiologi!

Bab 1 Sosiologi Sebagai Ilmu yang Mengkaji Hubungan Masyarakat 37


5. Apa yang dimaksud dengan kesenjangan sosial? Sebutkan dampak negatif dari
kesenjangan sosial tersebut!
6. Tuliskan dua kegunaan sosiologi dalam pembangunan bangsa Indonesia yang
sangat majemuk!
7. Apakah yang dimaksud dengan pengetahuan?
8. Sebutkan empat sisi positif dari adanya otonomi daerah!
9. Sebutkan beberapa faktor yang menyebabkan proses demoralisasi di Indonesia!
10. Apa manfaat langsung yang dapat dipetik dari pelajaran sosiologi ini dalam
kehidupanmu sehari-hari?

38 Sosiologi SMA/MA Kelas X


NILAI DAN NORMA SOSIAL

Tujuan Pembelajaran
Menjelaskan nilai dan
norma.
Membedakan nilai
dan norma.
Menjelaskan peran
nilai dan norma dalam
masyarakat.
Mengklasifikasikan
kasus pelanggaran
nilai dan norma yang
berlaku dalam
masyarakat.
Sumber: Gatra, 27 November 2004

M
enurut kalian, a pakah nilai itu? Dalam pengertian
sehari-hari nilai sering diartikan sebagai harga atau
ukuran. Misalnya, nilai ekonomis sebuah mobil dapat
diartikan sebagai harga sebuah mobil yang diukur dengan
uang. Dalam sosiologi, nilai justru bukan sebuah ukuran yang
dapat dinyatakan dengan barang, melainkan sesuatu yang
abstrak atau tidak nyata.
Bagaimana denga norma? Di sekolah tempat kamu belajar,
pasti ada norma-norma yang harus kamu patuhi bukan?
Misalnya kewajiban kamu sebagai murid untuk menghormati
gurumu termasuk dalam norma nonformal. Penjelasan
mengenai nilai dan norma sosial, serta bagaimana peranannya
di dalam kehidupan masyarakat akan segera kamu pelajari di
bab ini.

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 39


Nilai Vital
j Nilai Religi

Nilai j Nilai Material


j
Nilai Estetika
j

j
Sosial

Nilai Moral

j
j

Nilai Spiritual

NORMA DAN j Norma Adat dan j Nilai Kebenaran


Ilmu Pengetahuan
NILAI Kebiasaan

Norma Kesusilaan dan


j

Kesopanan
Norma Pranata
j

Sosial Sosial
Norma Agama
j

j
Keteraturan
j

Norma Hukum Hidup

40 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. NILAI DAN NORMA SOSIAL
Nilai dan norma sosial memiliki peranan penting bagi masyarakat, yaitu sebagai
pedoman atau petunjuk dalam bertingkah laku. Dua pedoman ini juga berfungsi
untuk mengatur kehidupan setiap anggota masyarakat dan merupakan warisan yang
diterima secara turun temurun. Selain itu, nilai dan norma merupakan bagian dari
kekayaan budaya.
Untuk menciptakan tertib sosial dalam masyarakat diperlukan adanya kesadaran
warga masyarakat akan pentingnya keteraturan itu sendiri. Oleh karena itu, warga
masyarakat perlu mengetahui tentang nilai dan norma sosial sebagai unsur yang
penting dalam pembentukan perilaku tertib sosial.
Oleh karena itu, nilai dan norma itu harus dijunjung tinggi dan harus
dipertahankan, karena dua pedoman tersebut merupakan bukti bahwa masyarakat
tersebut beradab. Jika norma dan nilai tersebut sudah dilaksanakan dengan baik,
kehidupan masyarakat akan teratur sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di
masyarakat.

1. Amatilah kehidupan di sekitar rumahmu!


2. Tulislah sejumlah nilai dan norma sosial yang ada di lingkungan tempat
tinggalmu itu!
3. Buatlah pembahasan terhadap salah satu norma dalam kaitannya dengan
pengaturan perilaku!

B. NILAI SOSIAL
1 . Pengertian Nilai Sosial
Pada dasarnya, nilai sosial adalah semua pola pikir yang dianggap baik dan
benar oleh hampir semua orang dalam masyarakat. Nilai-nilai sosial ini diperoleh
berdasarkan pengalaman-pengalaman kejadian dalam masyarakat sehingga akhirnya
menjadi suatu prinsip perilaku yang kuat yang diyakini kebenarannya.
Menurut C. Kluckhohn, nilai bukanlah keinginan, melainkan yang diinginkan.
Keinginan lebih bersifat individu, artinya masing-masing orang memiliki keinginannya
sendiri yang berbeda dari orang lain. Sebaliknya, yang diinginkan adalah keinginan
seseorang atau kelompok dengan mempertimbangkan hal-hal lain. Misalnya, apakah
yang diinginkan itu sudah sesuai dengan aturan yang berlaku dalam masyarakat.

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 41


Nilai sosial memang awalnya berasal dari nilai perorangan, tetapi lama-kelamaan
nilai itu diterima dan diakui oleh sebagian besar masyarakat. Akhirnya, nilai itu pun
menjadi nilai sosial atau nilai bersama. Dengan kata lain, nilai sosial dapat
didefinisikan sebagai sesuatu yang baik yang diinginkan, dicita-citakan, dan dianggap
penting oleh warga masyarakat dan dijadikan dasar dalam menentukan apa yang
bernilai atau berharga.

2 . Macam-macam Nilai Sosial


Untuk mengatur hubungan dan pengaruh timbal balik di antara orang-orang
dalam masyarakat diperlukan adanya nilai sosial. Pada hakikatnya, nilai adalah
segala sesuatu yang dianggap baik dan benar oleh banyak orang dalam masyarakat
yang selanjutnya merupakan sesuatu yang diidam-idamkan. Oleh karena itu, nilai
akan dipedomani dalam setiap benak orang yang akan mempengaruhi bentuk-bentuk
perilaku bagi orang tersebut. Menurut Prof. Dr. Notonegoro, nilai sosial dibedakan
menjadi tiga macam, yaitu:

a . Nilai Material
Pada dasarnya, yang dimaksud dengan nilai material adalah nilai yang ada atau
yang muncul karena materi tersebut, contohnya emas. Emas ini mempunyai nilai
tertentu yang muncul karena benda berupa emas mempunyai warna kuning gilap
dan tidak luntur yang selanjutnya akan banyak kegunaannya untuk membuat berbagai
macam perhiasan. Nilai terkandung dalam suatu benda dinamakan nilai sentral.

b. Nilai Vital
Pada dasarnya, nilai vital adalah nilai yang muncul karena daya kegunaannya,
contohnya pisau. Pisau mempunyai harga atau nilai tertentu karena ketajamannya
yang dapat digunakan untuk memotong sesuatu. Tetapi seandainya pisau tersebut
tumpul, nilainya akan merosot. Sebaliknya, apabila pisau selalu tajam dalam waktu
yang amat sangat panjang (berkualitas), maka pisau ini akan memiliki harga atau
nilai yang semakin tinggi. Nilai suatu benda yang muncul karena kegunaannya
dinamakan nilai vital.

c . Nilai Spiritual
Nilai spiritual bersifat sangat abstrak dan berguna bagi rohani manusia . Menurut
Prof. Dr. Notonegoro, nilai spiritual meliputi nilai kebenaran (kenyataan), nilai
keindahan (estetika), nilai moral (etika), dan nilai keagamaan (nilai religius).
Nilai kebenaran (kenyataan) bersumber dari akal manusia (rasio atau akal).
Nilai kebenaran ilmu pengetahuan merupakan nilai yang bersumber dari rasionalitas
manusia. Contoh 6 u 6 = 36, angka 36 adalah kebenaran yang bersumber dari
rasionalitas masnusia. Suatu nilai kebenaran yang bersumber dari pertimbangan akal

42 Sosiologi SMA/MA Kelas X


pikir manusia yang sewaktu-waktu dapat diuji kebenarannya oleh siapa pun
dinamakan Nilai Kebenaran Ilmiah.
Nilai estetika didasarkan pada kemampuan perasaan manusia menangkap sesuatu
yang indah tentang objek tertentu atau suatu hal. Misalnya, ketika kita mendengar
suara orang yang menyanyi dengan merdu. Nilai moral (estetika) merupakan nilai
yang didasarkan pada keinginan manusia terhadap sesuatu yang baik dan buruk.
Misalnya, menolong orang lain bernilai baik, sebaliknya menyontek pada waktu
ulangan bernilai buruk.
Nilai keagamaan (nilai religius) merupakan nilai yang didasarkan pada keyakinan
manusia terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Nilai keagamaan seseorang akan berbeda
dengan yang lain meskipun agama yang dianut sama.

3 . Ciri-ciri Nilai Sosial


Nilai sosial memiliki ciri, yaitu sebagai berikut.
• Nilai bersifat abstrak.
• Nilai terbentuk melalui proses pengalaman dalam pergaulan antarindividu dan
antarkelompok individu dalam masyarakat.
• Nilai belum merupakan perintah atau larangan sehingga tidak memiliki sanksi.
• Nilai menjadi dasar pedoman perilaku.

4 . Terbentuknya Nilai Sosial


Nilai-nilai sosial tiap-tiap masyarakat memang memiliki perbedaan-perbedaan
sehingga tiap-tiap masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam sistem
perilakunya.

Sumber: Kompas, 11 Agustus 2006

à Gambar 2.1 Sikap saling menolong merupakan nilai dalam


masyarakat, karena sikap tersebut dianggap baik dalam
kehidupan bermasyarakat.

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 43


Tetapi secara universal, ada nilai-nilai kemanusiaan yang cenderung sama antara
masyarakat satu dengan masyarakat yang lain, misalnya seperti contoh berikut.
• Setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang patut dihargai oleh orang yang lain.
• Orang tua patut mendapatkan penghargaan dan perlindungan dari yang muda
dan yang kuat.
• Musyawarah untuk mencapai mufakat cenderung lebih baik daripada hasil
pemikiran seorang yang bersifat diktator, dan lain-lain.

Nilai sosial terbentuk melalui pengalaman dan kejadian yang kemudian diseleksi
dan diaktualisasikan dalam sistem perilaku sehingga dipertahankan keberadaannya oleh
banyak orang dalam masyarakat. Selanjutnya nilai-nilai sosial yang abstrak ini akan
dikonkretkan dalam bentuk norma-norma sosial yang berupa perintah dan larangan,
serta sanksi-sanksi sesuai dengan bidang-bidang kehidupan yang ada dalam masyarakat.

5 . Fungsi Nilai Sosial dalam Membentuk Keteraturan


Secara umum, nilai bersifat abstrak dan menjadi prinsip bagi individu dalam
menentukan perilakunya. Nilai sosial dalam masyarakat memang senantiasa mengalami
pergeseran seiring dengan berkembangnya peradaban dan pergaulan yang terjadi
dalam masyarakat. Tetapi secara umum, nilai-nilai sosial dalam masyarakat berfungsi
sebagai pedoman perilaku yang telah disepakati oleh warga masyarakat termasuk
para pendahulu yang membuatnya. Nilai sekaligus merupakan buah pemikiran warga
masyarakat untuk mengatur dan membatasi aktivitas individu agar tidak memasuki
hak-hak orang lain. Bagi mereka yang berperilaku tidak sesuai dengan nilai-nilai
sosial, mereka akan ikut mendapat kecaman dari warga masyarakat, baik dalam
bentuk kecaman ringan maupun kecaman berat sesuai dengan tingkat penyimpangan
perilaku terhadap norma yang ada. Jadi dapat dikatakan bahwa nilai menjadi alat
kontrol atau pengatur yang mengikat agar seseorang mau berperilaku baik.

Bentuklah kelompok yang terdiri 2 – 3 orang, kemudian kerjakan soal di


bawah ini!
1 . Tulislah pelanggaran-pelanggaran terhadap tata tertib di sekolahmu!
2 . Menurut kalian, bagaimana cara mengatasi pelanggaran-pelanggaran
tersebut pada nomor 1?
3 . Jelaskan mengapa tata tertib di sekolah perlu dipatuhi oleh semua siswa!
4 . Sudahkah para guru menjadi contoh dan penegak tata tertib di lingkungan
sekolahmu? Jelaskan pendapatmu!

44 Sosiologi SMA/MA Kelas X


C. NORMA SOSIAL
1. Pengertian Norma Sosial
Tahukah kalian bahwa norma sosial adalah pelindung kita dari tindak angkara
murka orang-orang kuat yang ada di sekitar kita. Norma sosial adalah aturan-aturan
tertulis maupun tidak tertulis yang berfungsi untuk mengatur perilaku semua orang
dalam masyarakat sehingga tercipta keteraturan sosial. Norma sosial keberadaannya
sangat diperlukan untuk menjamin semua orang termasuk yang lemah agar
kepentingannya dapat terpenuhi secara wajar dalam masyarakat, sehingga orang-
orang yang lemah pun dijamin kelangsungan hidupnya oleh norma-norma tersebut.
Norma-norma yang mengatur masyarakat ada yang bersifat formal atau resmi
dan nonformal atau tidak resmi. Norma formal dapat berupa aturan-aturan yang
tertulis yang berasal dari lembaga atau institusi resmi seperti surat keputusan, juga
peraturan daerah yang bersumber dari negara.
Norma nonformal merupakan aturan tidak tertulis, contohnya aturan-aturan di
masyarakat, adat istiadat, juga aturan-aturan dalam keluarga. Norma sebagai ketentuan
menjadi ukuran perilaku dan merupakan pedoman yang harus ditaati setiap warga
masyarakat. Dengan demikian, jika seseorang melanggar aturan, dia akan diberi sanksi
berupa hukuman. Sebaliknya, sanksi diciptakan masyarakat untuk menjadi kendali bagi
seseorang supaya perilakunya dapat sesuai dengan aturan-aturan yang ditetapkan.

2 . Macam-macam Norma Sosial


Norma pada dasarnya merupakan perwujudan konkret dari nilai-nilai sosial.
Norma dibuat oleh warga masyarakat untuk melaksanakan nilai-nilai yang ada
dalam masyarakat tersebut dan telah dianggap baik dan benar. Agar norma dapat
dipatuhi oleh semua warga masyarakat, maka norma dilengkapi dengan sanksi.

Sumber: Gatra, 27 November 2004

à Gambar 2.2 Beribadah merupakan salah satu cara


seseorang melaksanakan norma agamanya.

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 45


Sanksi pada hakikatnya merupakan alat untuk menekan atau memaksa warga
masyarakat mematuhi nilai-nilai yang telah disepakati. Oleh sebab itu, sering kali
norma diberlakukan lebih berat dari bentuk pelanggarannya. Ada empat macam
norma yang ada dalam masyarakat, antara lain:
a. Norma Agama
Setiap agama memiliki aturan-aturan atau syariat untuk mengatur hubungan-
hubungan antarmanusia maupun hubungan dengan Tuhan. Norma agama adalah norma
yang berasal dari wahyu Tuhan yang disampaikan melalui orang-orang yang terpilih
(Nabi). Pada hakikatnya, norma agama merupakan himpunan peraturan-peraturan
yang merupakan petunjuk hidup, baik perintah maupun larangan agar umat manusia
dapat memperoleh jalan kebenaran sehingga dapat mencapai kebahagiaan dan
keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Tiap-tiap agama memiliki norma sendiri-
sendiri yang akan bercorak pada zaman tertentu di mana agama itu lahir serta lokasi
di mana wahyu Tuhan itu diturunkan, tetapi yang jelas norma agama merupakan
norma yang berisi kebenaran terutama bagi para pemeluknya.
b. Norma Adat/Kebiasaan
Dalam kehidupan masyarakat tradisional, orang berperilaku dan perpedoman
pada kebiasaan-kebiasaan atau adat. Norma adat adalah norma-norma yang berada
di dalam masyarakat yang berkaitan dengan sistem penyelenggaraan hidup yang
terjadi secara berulang-ulang karena telah dibakukan dan diyakini sebagai sesuatu
yang baik. Selanjutnya adat dan kebiasaan akan dipedomani oleh setiap warga
masyarakat sebagai suatu cara berperilaku dalam setiap kepentingan dalam
penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat. Contoh norma adat adalah adat
perkawinan, adat pembagian warisan, dan lain-lain.
c . Norma Kesusilaan/Kesopanan
Setiap manusia mempunyai harkat dan martabat yang sama di hadapan Tuhan.
Oleh sebab itu, setiap manusia sebenarnya perlu dihargai sama. Norma seperti
inilah yang diperlukan untuk meredam terjadinya konflik yang bersumber dari
perendahan martabat oleh orang lain. Pada dasarnya, norma kesusilaan dan
kesopanan merupakan penjabaran dari nilai-nilai moral, yaitu mengenai tuntutan
perilaku yang benar yang seharusnya diperbuat oleh setiap warga masyarakat. Norma
kesusilaan dan norma kesopanan memiliki substansi pokok, yaitu mengenai
penghargaan terhadap harkat dan martabat orang lain. Sebagai suatu prinsip bahwa
berperilaku susila dan sopan pada dasarnya merupakan perbuatan yang akan berbuah
pada penghargaan pribadi si pelakunya. Artinya, semua bentuk kesusilaan dan
kesopanan akan memunculkan penghargaan dari orang lain kepada kita sendiri.
d. Norma Hukum
Dalam kaitannya dengan struktur pemerintahan suatu negara, diperlukan
pedoman-pedoman untuk mengatur hak dan wewenang tiap-tiap aparatur negara

46 Sosiologi SMA/MA Kelas X


secara struktural dari atas hingga ke bawah. Pada dasarnya, norma hukum adalah
norma masyarakat yang dibuat oleh lembaga-lembaga yang berwenang. Lembaga
yang berwenang bisa berupa majelis, DPR dan pemerintah, presiden sebagai
penyelenggara eksekutif, atau pimpinan departemen hingga stafnya yang terbawah.
Semua bentuk peraturan yang tertulis yang dibuat lembaga-lembaga negara yang
berwenang dinamakan norma hukum. Di Indonesia, norma hukum terdiri dari hukum
perdata dan pidana. Hukum perdata adalah suatu lapangan hukum yang mengatur
masalah perkawinan, warisan, jual beli, dan perjanjian-perjanjian. Sebaliknya, hukum
pidana merupakan suatu lapangan hukum yang mengatur masalah kejahatan seperti
penganiayaan, pembunuhan, penipuan, pemerasan, pemalsuan, dan lain-lain. Sering
kali hukum perdata dan hukum pidana mempunyai keterkaitan antara satu dengan
yang lain. Masalah-masalah perdata sering kali berkelanjutan menjadi masalah-
masalah pidana atau di dalam masalah pidana, di dalamnya terkandung banyak
pelanggaran pada masalah perdata. Norma hukum merupakan norma terakhir yang
lebih dapat menjamin adanya suatu tertib sosial di dalam masyarakat.

Sumber: www.asianfoodworker.net

à Gambar 2.3 Hukuman penjara merupakan sanksi yang diberikan


kepada seseorang yang melanggar norma hukum.

Norma sosial pada dasarnya meliputi norma agama, norma kesusilaan dan
kesopanan, norma adat dan kebiasaan, dan norma hukum. Tetapi norma hukum
mempunyai peran cukup besar dalam mengatur hubungan antarindividu dalam
kaitannya dengan kedudukannya sebagai warga negara. Norma-norma hukum dalam
masyarakat negara memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
• Bersifat eksplisit, artinya tertulis dengan jelas dan tegas.
• Bersifat memaksa, artinya apabila orang melanggar maka akan dikenai sanksi
dan apabila tidak diindahkan akan dipaksa oleh alat-alat negara.

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 47


• Dibuat oleh lembaga yang berwenang, artinya tiap-tiap tingkatan norma hukum
dibuat oleh pejabat-pejabat yang berwenang dengan tingkatan yang tertentu
pula, misalnya Undang-Undang Dasar dibuat oleh MPR (Majelis Permusyawaratan
Rakyat), undang-undang dibuat oleh DPR dan pemerintah, dan seterusnya.
• Bersifat mengatur, artinya berisi perintah-perintah dan larangan-larangan untuk
mengendalikan perilaku warga masyarakat sesuai dengan bidang-bidang yang
diatur masing-masing hukum.
• Bersifat melindungi, artinya melindungi pihak-pihak yang lemah dari desakan dan
cengkeraman pihak-pihak yang kuat melalui sanksi-sanksi dan alat-alat negara.

3. Proses Terbentuknya Norma Sosial


Dengan semakin berkembangnya tata keidupan dan peradaban manusia, pranata
sosial disadari semakin diperlukan dalam kehidupan sehingga mulai dibakukan dan
disempurnakan secara turun-temurun. Tata kelakuan mencerminkan sifat-sifat yang
hidup dalam kelompok manusia dan dilaksanakan sebagai alat pengawas secara
sadar maupun secara tidak sadar oleh masyarakat terhadap anggota-anggotanya.
Proses dipatuhi dan terbentuknya suatu norma sosial dapat berlangsung melalui
empat tingkatan, yaitu sebagai berikut.

a. Cara (usage)
Cara (usage) adalah suatu perilaku tertentu yang secara tidak sadar telah
disepakati oleh masyarakat terhadap perbuatan yang tertentu pula. Contoh: cara
orang memakai topi, cara orang menuang minuman, cara orang memberi salam
kepada orang tua, dan lain-lain.

b. Kebiasaan (folkways)
Kebiasaan (folkways) adalah suatu tata kelakuan yang bersifat lebih mengikat
kepada anggota masyarakat dan lebih dipatuhi. Karena bila terjadi penyimpangan
terhadapnya, akan dimarahi oleh para leluhurnya. Kebiasaan merupakan perbuatan
yang diulang-ulang terhadap apa yang sama sebagai bukti bahwa orang menyukai
perbuatan tersebut.

c. Tata Kelakuan (mores)


Tata kelakuan (mores) adalah suatu kelompok aktivitas yang benar-benar telah
menjadi pedoman yang berlaku dari suatu masyarakat. Mores ini merupakan pedoman
perilaku yang dianggap paling benar yang dimiliki, dipakai, dan dipertahankan oleh
warga masyarakat.

d. Adat-istiadat (custom)
Apabila tata kelakuan tersebut kekal serta kuat integrasinya dengan pola-pola
perilaku masyarakat, maka dapat terus meningkatkan kekuatan mengikatnya

48 Sosiologi SMA/MA Kelas X


terhadap perilaku warga masyarakat, dengan demikian terbentuklah custom
(adat- istiadat).
Dalam perkembangan selanjutnya, pranata sosial terus mengalami perubahan
dalam arti bertambah jumlahnya dan berubah bentuknya sejalan dengan perkembangan
tata kehidupan manusia dalam masyarakat. Di dalam perkembangan selanjutnya,
norma-norma tersebut berkelompok-kelompok pada berbagai keperluan pokok dari
kehidupan manusia seperti kebutuhan hidup kekerabatan, kebutuhan pencaharian
hidup, kebutuhan akan pendidikan, kebutuhan untuk menyatakan rasa keindahan,
kebutuhan jasmaniah dari manusia, dan lain sebagainya. Misalnya, kebutuhan hidup
kekerabatan menimbulkan lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti keluarga batih,
pelamaran, perkawinan, perceraian, dan sebagainya. Kebutuhan akan pencaharian
hidup menimbulkan lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pertanian, peternakan,
koperasi, industri, dan lain-lain. Kebutuhan akan pendidikan akan menimbulkan
lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pesantren, taman kanak-kanak, sekolah-
sekolah dasar, sekolah-sekolah menengah, perguruan-perguruan tinggi, pemberantasan
buta huruf, dan lain sebagainya.
Dari contoh-contoh di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa lembaga-
lembaga kemasyarakatan terdapat dalam setiap masyarakat tanpa memperdulikan
apakah masyarakat tersebut mempunyai taraf kebudayaan sederhana atau modern.
Hal itu disebabkan oleh karena setiap masyarakat tentu mempunyai kebutuhan-
kebutuhan pokok yang apabila dikelompok-kelompokkan, terhimpun menjadi lembaga
kemasyarakatan. Untuk memberikan suatu batasan, dapatlah dikatakan bahwa
lembaga kemasyarakatan merupakan himpunan dari norma-norma dari segala
tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat.
Wujud kongkret dari lembaga kemasyarakatan tersebut adalah association. Sebagai
contoh, universitas merupakan lembaga kemasyarakatan, sedangkan Universitas
Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Gajah Mada, Universitas Airlangga,
dan lainnya adalah institusi.
Proses pelembagaan sebenarnya tidak berhenti demikian saja, tetapi dapat
berlangsung lebih jauh lagi hingga suatu norma masyarakat tidak hanya menjadi
institusionalized dalam masyarakat, tetapi menjadi internalized. Maksudnya adalah
suatu taraf perkembangan di mana para anggota masyarakat dengan sendirinya
ingin berperikelaku sejalan dengan perilaku yang memang sebenarnya memenuhi
kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, norma-norma tadi telah mendarah daging
(internalized).

4 . Fungsi Norma Sosial dalam Membentuk Keteraturan


Norma sosial memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini
norma sosial berfungsi sebagai faktor perilaku yang memukinkan seseorang menentukan
lebih dulu bagaimana tindakannya akan dinilai oleh orang lain. Selain itu, norma sosial

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 49


juga menjadi aturan yang mendorong seseorang atau kelompok untuk mencapai nilai-
nilai sosial sekaligus menjadi unsur pengendali dalam hidup bermasyarakat.
Untuk membentuk keteraturan sosial dalam masyarakat, diperlukan tiga syarat
pokok antara lain sebagai berikut.
a . Norma Sosial yang Memadai
Norma sosial ini berfungsi sebagai landasan perilaku yang harus diperbuat oleh
setiap individu dalam bidang kehidupan tertentu.
b. Aparat Penegak Norma
Aparat penegak norma adalah semua pihak yang mempunyai keterkaitan dan
kepentingan untuk menegakkan keberadaan norma dalam mengatur perilaku individu
dalam masyarakat. Penegak norma ini terdiri dari penegak formal dan penegak
nonformal. Penegak formal meliputi polisi, jaksa, dan hakim, sedangkan penegak
nonformal meliputi tokoh-tokoh masyarakat, kaum ulama, para pendidik, dan tokoh-
tokoh masyarakat lainnya.

Sumber: www.pikiran-rakyat.com

à Gambar 2.4 Polisi menjadi aparat penegak norma dengan


tujuan untuk memelihara dan menciptakan keamanan.

c. Kesadaran Akan Pentingnya Keteraturan


Untuk menciptakan kesadaran sosial tentang pentingnya hidup bersama dalam
masyarakat, diperlukan pengetahuan pendidikan yang memadai serta sosialisasi
terhadap norma-norma hukum. Dengan demikian warga masyarakat menyadari
bahwa norma memang harus dipatuhi sebagai bentuk sumbangan seorang individu
dalam menciptakan tertib sosial dalam masyarakat yang paling hakiki.

50 Sosiologi SMA/MA Kelas X


1. Buatlah sebuah uraian yang berisi laporan bagaimana kamu sebagai seorang
anak dan siswa mendukung nilai dan norma yang ada di lingkungan
sekolahmu sebagai orientasi acuan dalam bertingkah laku. Tuliskan tidak
lebih dari satu halaman!
2. Sebutkan faktor-faktor penyebab menjamurnya pedagang kaki lima dan
rumah liar di kota-kota besar, serta bagaimana cara menyelesaikannya.
3. Sebutkan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya aksi demonstrasi yang
disertai dengan tindak anarkis, dan bagaimana penyelesaiannya?
Buatlah analisis sosial tentang ke tiga pertanyaan di atas!

TANGKAP DULU, BARU ADILI

T
erpilihnya Abdul Rahman Saleh, SH sebagai Jaksa Agung pada Kabinet
Bersatu pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla pada
awalnya terkesan memberikan harapan, karena Abdul Rahman Saleh
pada saat menjadi anggota Mahkamah Agung pada pengadilan kasus korupsi
berskala besar yang melibatkan salah satu pejabat tinggi negara bersikap
berbeda dengan majelis hakim.
Masyarakat berharap pada masa kepemimpinan Abdul Rahman Saleh
sebagai kepala Kejaksaan Agung RI, proses peadilan terhadap para koruptor
dapat dipercepat dan kalau perlu koruptor-koruptor tersebut ditangkapi dahulu
baru diproses.

Petunjuk Simulasi Pro Kontra


1. Siswa dalam kelas dibagi atas dua kelompok. Satu kelompok pro dan satu
kelompok lagi kontra. Tuangkan pendapat dan penjelasan kalian sesuai
dengan kelompok masing-masing berdasarkan pertanyaan di bawah ini!
2. Pilihlah seorang dari setiap kelompok yang bertugas sebagai presenter
untuk menyajikan kesimpulan hasil diskusi kelompokmu!

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 51


Pertanyaan:
1. Setujukah kalian atas usul tangkap dulu koruptor-koruptor itu baru proses?
Jelaskan!
2. Bagaimana seharusnya tindakan Kepala Kejaksaan Agung RI terhadap para
koruptor di Indonesia. Berikan alasan kalian dengan mempertimbangkan
norma hukum yang berlaku di Indonesia!

AWAS, NARKOBA MENGANCAM

M
asa depan bangsa Indonesia ada di tangan siswa-siswa sekarang.
Namun, dalam perjalanannya banyak hambatan dan rintangan yang
dihadapi, salah satunya bahaya narkoba yang setiap saat mengajak
generasi muda. Berbagai usaha telah dilakukan, baik oleh ulama, sekolah,
pemerintah, dan badan dunia untuk menekan penyebaran narkoba kepada
masyarakat.

Pertanyaan:
1. Bagaimana seharusnya nilai-nilai sosial itu disemaikan kepada generasi
muda sehingga terhindar dari bahaya narkoba?
2. Apakah hukuman berat terhadap pengedar narkoba merupakan solusi?
3. Nilai-nilai apa yang harus didalami siswa agar terhindar dari bahaya
narkoba?

LALU LINTAS SUKA-SUKA


Pasca reformasi, masyarakat Indonesia khususnya di perkotaan cenderung
menjadi tidak teratur. Contoh khusus terjadi pada lalu lintas. Cobalah perhatikan

52 Sosiologi SMA/MA Kelas X


bus dengan penuh sesak dan penumpang bergelantungan melintas di jalan tol,
kendaraan melawan arus, bus parkir (ngetem) di mana tanda dilarang berhenti
banyak terpampang, jalan-jalan dipenuhi pedagang, jalan digunakan sebagai
lahan parkir, dan pungli terus merajalela. Akhirnya dapat dikatakan bahwa
masyarakat perkotaan Indonesia jauh dari tata tertib berlalu lintas.

Pertanyaan:
1. Mengapa masyarakat perkotaan cenderung menjadi tidak teratur berlalu
lintas pasca reformasi?
2. Mengapa petugas seperti polisi dan Dinas Perhubungan tidak bertindak
untuk meluruskannya?
3. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh polisi?
4. Norma apa yang tidak berfungsi dalam bahan diskusi di atas?

1. Nilai sosial merupakan segala sesuatu yang dianggap baik dan benar dan dicita-
citakan oleh warga masyarakat.
2. Nilai sosial meliputi nilai vital, nilai material, dan nilai spiritual. Nilai sosial ini
berfungsi menjadi pedoman perilaku warga masyarakat dalam pergaulan.
3. Norma sosial adalah semua bentuk peraturan, baik yang tertulis maupun yang
tidak tertulis yang ada dan berlaku dalam masyarakat.
4. Norma sosial terdiri dari empat macam, yaitu norma agama, kesusilaan dan
kesopanan, adat dan kebiasaan, dan norma hukum.
5. Norma sosial berfungsi mengatur hubungan dan perilaku timbal balik antarindividu
dan antarkelompok individu dalam masyarakat.
6. Agar norma dapat dipatuhi oleh individu dalam masyarakat, diperlukan sanksi
yang pelaksanaannya harus dikawal dan ditegakkan oleh aparat penegak norma,
baik formal maupun nonformal sehingga dalam masyarakat tercipta keteraturan
sosial.
7. Keteraturan sosial merupakan keadaan di mana semua orang dalam masyarakat
telah berbuat sebagaimana hak dan kewajibannya sehingga tidak terjadi benturan
antara hak dan kewajiban dengan individu yang lain.

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 53


Soal Objektif

Pilihlah satu jawaban yang benar dengan menyilang huruf A, B, C, D, dan E!

1. Lahirnya lembaga sekolah di masyarakat disebabkan oleh . . . .


A. tersedianya sarana pendidikan
B. fasilitas yang telah tersedia
C. berkembangnya suatu kebudayaan yang sangat komplek
D. adanya program wajar 9 tahun dan GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua
Asuh)
E. pertentangan antargolongan

2. Menurut Prof. Koentjaraningrat, istilah pranata sosial digunakan untuk


menekankan terdapatnya aturan main tentang . . . .
A. berbagai kebutuhan hidup dalam kehidupan bermasyarakat yang saling
berkaitan
B. kebutuhan manusia yang meliputi jasmaniah, rohaniah, dan sosial
C. bermacam-macam bentuk kebutuhan keluarga dan kehidupan bermasyarakat
D. mencukupi kebutuhan ekonomi dengan berusaha secara profesional
E. untuk membatasi kebutuhan umat manusia

3. Sikap toleransi antarumat beragama dalam masyarakat merupakan wujud dari


kebutuhan akan pengaturan . . . .
A. pembagian kekuasaan
B. saling menghormati
C. pewarisan nilai-nilai
D. hubungan manusia dengan kekuatan ilahi
E. saling membutuhkan

4. Pranata sosial berubah karena adanya:


1. interaksi antarkelompok masyarakat
2. proses internalisasi
3. adat istiadat yang kuat
4. pengendalian sosial dalam masyarakat
5. akulturasi kebudayaan
Dari pernyataan di atas, yang benar adalah . . . .

54 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. 1 dan 3 D. 4 dan 5
B. 2 dan 3 E. 1 dan 5
C. 2 dan 4

5. Perhatikan pernyataan-pernyataan di bawah ini!


1. menunjukkan tujuan hidup masyarakat
2. memberikan pedoman kepada anggota masyarakat
3. mengatur cara bertindak yang mengikat
4. menjaga keutuhan masyarakat
5. memberikan pegangan dalam sistem pengendalian

Yang merupakan fungsi dari pranata sosial adalah . . . .


A. 1, 3, 4 D. 3, 4, 5
B. 2, 3, 4 E. 1, 3, 5
C. 2, 4, 5

6. Nilai dapat diartikan sebagai cita-cita, karena nilai merupakan . . . .


A. moral dan keyakinan bangsa D. tujuan yang ingin dicapai
B. tindakan sosial E. tindakan berbudi pekerti
C. sarana untuk mencapai tujuan

7. Norma-norma dalam masyarakat yang berfungsi untuk mengatur hubungan


antarindividu dalam masyarakat yang berkaitan dengan hak dan kewajiban
individu sebagai warga negara adalah norma . . . .
A. adat dan kebiasaan D. norma kebiasaan
B. norma hukum E. norma sosial
C. norma agama

8. Berikut ini yang bukan contoh dari nilai moral menurut Prof. Dr. Notonegoro
adalah . . . .
A. iman dan taqwa D. sombong dan kikir
B. jujur dan adil E. tawakal
C. rajin dan hemat

9. Di bawah ini yang dimaksud dengan nilai vital adalah . . . .


A. segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat melakukan kegiatan
atau aktivitasnya
B. segala sesuatu yang bersumber pada unsur rasa atau estetika manusia
C. nilai yang bersumber pada kepercayaan atau keyakinan manusia
D. segala sesuatu yang bersumber pada akal manusia
E. nilai ilmu pengetahuan

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 55


10. Sanksi yang sifatnya ringan berupa teguran, sindiran, atau pun dipergunjingkan
merupakan hukuman bagi seseorang yang melanggar . . . .
A. folkways D. mores
B. mode E. norma sosial
C. usage

11. Yang dimaksud dengan proses internalisasi adalah . . . .


A. proses panjang yang berlangsung seumur hidup sejak individu lahir sampai
meninggal
B. keseluruhan aktivitas masyarakat yang disampaikan kepada pihak-pihak
tertentu sehingga tercapai kestabilan
C. kegiatan individu yang mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku
sesuai dengan kelompoknya
D. proses di mana individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta
sikap dengan adat istiadat
E. proses berubahnya pola perilaku akibat perubahan norma

12. Seperangkat aturan yang berkisar tentang kegiatan manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya disebut . . . .
A. norma sosial D. pranata sosial
B. adat istiadat E. kaidah hukum
C. folkways

13. Di bawah ini yang bukan contoh dari norma hukum adalah . . . .
A. Undang-Undang No. 1 Tahun 1974
B. Tata Tertib Sekolah
C. Undang-Undang No. 20 tahun 2003
D. Tata Cara Penguburan Jenazah pada masyarakat Jawa
E. PP 30 Tahun 1980

14. Perbedaan yang mendasar antara norma dan nilai sosial adalah . . . .
A. nilai bersifat abstrak, norma bersifat konkret
B. nilai bersifat tertutup, norma bersifat terbuka
C. norma bersifat tetap, nilai bersifat berubah-ubah
D. norma bersifat sempit, nilai bersifat luas
E. wilayah berlakunya
15. Upaya untuk mencegah dan mencari solusi terhadap semua bentuk penyimpangan
sosial yang ada dalam masyarakat dinamakan . . . .
A. perilaku sosial D. ketidaksamaan sosial
B. pengendalian sosial E. vested interest
C. aktivitas sosial

56 Sosiologi SMA/MA Kelas X


16. Norma yang dimiliki sanksi berat bagi pelanggarannya adalah . . . .

I II III IV V

Kelaziman Kesopanan Kesusilaan Hukum Agama

A. I D. IV
B. II E. V
C. III

17. Salah satu fungsi norma dan nilai dalam masyarakat adalah . . . .
A. memberi arah dan tujuan individu dalam melaksanakan komunikasi sosial
B. memberikan petunjuk mengenai aktivitas sosial
C. membatasi/melarang berbagai macam aktivitas sosial dalam masyarakat
D. memberi arah terhadap individu untuk berperilaku di tengah-tengah
masyarakat
E. memberikan kekuasaan kepada pihak/golongan tertentu

18. Perilaku individu atau kelompok individu dalam masyarakat yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat
dinamakan . . . .
A. perilaku menyimpang D. perilaku terpuji
B. aktivitas terlarang E. antisosial
C. keanekaragaman perilaku sosial

19. Yang dimaksud dengan kenakalan remaja adalah . . . .


A. aktivitas remaja yang belum dewasa hukum di luar jam pelajaran
B. semua aktivitas remaja yang belum dewasa hukum yang bertentangan dengan
norma-norma sosial
C. tindakan-tindakan remaja yang merugikan kepentingan masyarakat luas
D. aktivitas remaja yang belum dewasa hukum yang bertentangan dengan norma
adat dan kebiasaan
E. kenakalan anak-anak usia sekolah di dalam lingkungan sekolahnya

20. Hukuman yang dijatuhkan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku


merupakan sanksi norma . . . .
A. adat istiadat
B. kesusilaan
C. kesopanan
D. hukum
E. agama

Bab 2 Nilai dan Norma Sosial 57


Soal Essay

Jawablah soal-soal berikut ini dengan singkat dan tepat!


1. Apakah yang dimaksud dengan norma sosial dan nilai sosial?
2. Jelaskan kaitan antara norma dan nilai sosial!
3. Bagaimana menciptakan norma sosial yang memadai?
4. Apa syarat-syarat pokok terciptanya keteraturan sosial dalam masyarakat?
5. Sebutkan fungsi nilai!
6. Sebutkan macam-macam norma sosial dalam masyarakat!
7. Mengapa norma dapat menjaga kelangsungan hidup masyarakat? Jelaskan!
8. Apakah yang dimaksud dengan:
a. Norma kesusilaan
b. Norma kesopanan
c. Norma adat
d. Norma kebiasaan
9. Bagaimana peranan aparat penegak hukum dalam menciptakan tertib sosial?
10. Jelaskan kaitan antara kesadaran sosial dan keteraturan sosial dalam masyarakat!

58 Sosiologi SMA/MA Kelas X


INTERAKSI SOSIAL DAN
DINAMIKA SOSIAL

Tujuan Pembelajaran
Mendefinisikan
interaksi sosial dan
dinamika sosial.
Menjelaskan faktor
yang mendorong
terjadinya interaksi
sosial dan dinamika
sosial.
Menghubungkan
antara interaksi sosial
dan keteraturan sosial.
Sumber: http://images.google.co.id

S
etiap manusia tidak dapat hidup sendiri. Bagaimana
menurutmu dengan pendapat tersebut? Kita sebagai
manusia tentu saja membutuhkan orang lain. Untuk itu,
kita pun berinteraksi dengan orang lain. Begitu juga dengan
kamu bukan? Di rumah, kamu berinteraksi dengan orang tua
dan saudaramu. Di sekolah, kamu pun berinteraksi dengan
guru dan teman-temanmu. Dan di lingkungan tempat
tinggalmu, kamu pun berinteraksi dengan tetangga dan anggota
masyarakat lainnya. Dengan interaksi, setiap individu akan
mengetahui nilai dan norma apa yang berlaku di
lingkungannya. Hal tersebut akan membantu mewujudkan
keteraturan sosial. Apa yang dimaksud dengan interaksi sosial?
Untuk mengetahuinya, coba kamu pelajari bab ini.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 59


Pengertian interaksi Kaitan antara interaksi
sosial dan dinamika sosial dan dinamika
sosial sosial

j
j

INTERAKSI SOSIAL
DAN DINAMIKA
SOSIAL

j
j

Faktor pendorong Bentuk-bentuk interaksi Faktor penyebab


terjadinya interaksi sosial yang mendorong perubahan sosial
sosial terciptanya lembaga
sosial, kelompok dan
organisasi sosial
j
j x Lingkungan alam
x Sugesti j x Status
x Imitasi x Hubungan kependudukan
x Identifikasi kekeluargaan x Nilai dan sikap
x Motivasi
x Hubungan
antarstatus
x Simpati
x Hubungan
x Empati
antarkepentingan
x Hubungan
persahabatan

60 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. INTERAKSI SOSIAL DAN DINAMIKA SOSIAL
Sebagai manusia, kita selalu mempunyai naluri untuk hidup berkelompok atau
bersama dengan orang lain. Naluri inilah yang disebut dengan naluri gregoriousness,
sedangkan dorongan untuk hidup bersama dengan orang lain dipengaruhi oleh
faktor-faktor sebagai berikut.

x Dorongan untuk Memenuhi Kebutuhan


Dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia mutlak memerlukan
keberadaan manusia lain. Untuk melaksanakan pemenuhan berbagai
kebutuhan hidup, baik mendasar, kebutuhan sosial, maupun kebutuhan integratif,
manusia tidak dapat melaksanakannya secara sendirian, melainkan harus
bersama-sama dengan manusia lain. Dari dorongan inilah, manusia membentuk
suatu kelompok-kelompok untuk berburu, untuk mendirikan rumah, untuk
berladang, dan lain-lain sebagainya.

x Dorongan untuk Meneruskan Keturunan


Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap manusia memiliki naluri untuk
meneruskan keturunan dengan cara melangsungkan perkawinan. Untuk itu,
diperlukan dorongan untuk memenuhi kelangsungan hidup masyarakat itu
sendiri. Secara naluriah, setiap manusia mempunyai dorongan seksual sebagai
kodrat manusia untuk meneruskan keturunannya agar tidak punah. Keadaan ini
telah mendorong setiap manusia lain jenis untuk membentuk suatu kehidupan
bersama yang kemudian disebut keluarga. Keluarga dapat berkembang menjadi
suatu extended family dan bahkan berkembang menjadi suatu kerabat atau pun
suku bangsa. Keadaan ini telah mendorong munculnya kelompok-kelompok
persekutuan manusia yang didasarkan pada persamaan darah dan keturunan.

x Dorongan untuk Mempertahankan Diri


Dalam rangka mempertahankan diri dari berbagai serangan, baik oleh
binatang atau pun kelompok manusia yang lain, manusia memerlukan
keberadaan orang lain. Ketika manusia dalam taraf kehidupan yang masih
primitif, manusia belum banyak memiliki teknologi untuk menyelenggarakan
kehidupannya. Mereka masih hidup berpindah-pindah dari hutan yang satu ke
hutan yang lain. Terkadang mereka menghadapi tantangan dari binatang buas
atau pun dari kelompok suku lain yang menyerang. Dengan dorongan inilah,
manusia membentuk suatu koloni dengan tujuan semata-mata untuk
mempertahankan diri dari serangan-serangan binatang buas, alam, atau pun
dari kelompok suku lain. Di samping itu, tidak selamanya kondisi alam senantiasa
ramah, terutama ketika terjadi bencana-bencana yang memerlukan pertolongan
orang lain. Untuk itulah, manusia membentuk suatu koloni untuk menjaga
kelangsungan hidupnya.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 61


x Dorongan untuk Hidup Bersama
Sebagai makhluk pemikir dan bermoral, manusia mempunyai kejiwaan dan
mempunyai kepentingan terhadap keberadaan orang lain. Untuk melaksanakan
berbagai pekerjaan besar, sering kali manusia secara individu kewalahan untuk
melakukannya. Dengan demikian, setiap orang memerlukan kebersamaan
dengan orang lain. Dorongan inilah yang membuat terciptanya suatu kehidupan
bersama untuk menjalin kegotong-royongan dalam rangka mempertahankan
dan mengembangkan kehidupannya. Melalui kegotong-royongan inilah,
kelangsungan hidup masyarakat terjamin.

Untuk mewujudkan kehidupan bersama, terlebih dahulu manusia pun harus


melakukan interaksi sosial dengan sesamanya. Apakah yang dimaksud dengan
interaksi sosial itu?

Sumber: Koleksi Editor

à Gambar 3.1 Dorongan untuk hidup bersama dipengaruhi oleh keinginan


manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

1. Pengertian Interaksi Sosial


Interaksi sosial adalah hubungan dan pengaruh timbal balik antara individu dengan
individu, individu dengan kelompok individu, dan kelompok individu dengan kelompok
individu. Interaksi sosial merupakan bentuk dasar dari dinamika sosial budaya yang
ada di dalam masyarakat. Melalui interaksi sosial akan terjadi perubahan-perubahan
di dalam masyarakat yang memungkinkan terbentuknya hal-hal baru sehingga
dinamika masyarakat menjadi hidup dan dinamis.

62 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Interaksi sosial dilakukan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan mendasar,
kebutuhan sosial, dan kebutuhan integratif. Interaksi sosial itu sendiri mempunyai
ciri-ciri, yaitu jumlah pelakunya lebih dari satu orang dan adanya komunikasi antara
pelaku dengan menggunakan simbol atau lambang. Selain itu, interaksi sosial juga
ditandai dengan adanya dimensi waktu yang meliputi masa lalu, masa kini, dan
masa yang akan datang, juga adanya tujuan yang akan dicapai dari hasil-hasil
interaksi sosial tersebut.

2. Pengertian Dinamika Sosial


Dinamika sosial pada hakikatnya adalah keseluruhan perubahan dari seluruh
komponen masyarakat dari waktu ke waktu. Dinamika sosial dapat berupa
perubahan-perubahan yang progresif maupun perubahan-perubahan yang regresif.
Di dalam dinamika sosial, seluruh elemen masyarakat beserta dengan perangkat-
perangkatnya terjadi interaksi dan korelasi saling mempengaruhi sehingga
mewujudkan suatu gerak dari keseluruhan komponen yang ada di dalam masyarakat.

3. Kaitan Antara Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial Budaya


Interaksi sosial merupakan bagian terkecil dari proses perubahan yang ada di
dalam masyarakat. Interaksi sosial merupakan implementasi dari pemenuhan
kebutuhan warga masyarakat, baik secara individual maupun secara kolektif dengan
berpedoman pada sistem budaya yang ada, termasuk nilai-nilai, norma, dan pranata
sosial. Melalui proses interaksi sosial inilah, masyarakat akan bergerak secara dinamis,
baik yang bersifat progresif maupun yang bersifat regresif hingga mewujudkan suatu
dinamika sosial maupun dinamika budaya.

1. Jelaskan apa saja yang mendorong manusia melakukan interaksi sosial!


2. Apakah yang dimaksud dengan keteraturan sosial?
3. Mengapa manusia dikatakan makhluk individu dan juga makhluk sosial?
Apa yang melatar belakangi hal tersebut? Jelaskan alasanmu!
4. Jelaskan bagaimana peranan nilai dan norma dalam interaksi sosial!

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 63


Bentuk-bentuk konkret dari dinamika sosial dan budaya adalah sebagai
berikut.
x Perubahan jumlah penduduk.
x Perubahan komposisi penduduk (kepadatan, persebaran, dan struktur penduduk
menurut umur, jenis kelamin, tingkat mata pencarian, agama dan kepercayaan,
dan lain-lain).
x Perubahan kualitas penduduk.
x Perubahan struktur pemerintahan.
x Perubahan undang-undang dasar, undang-undang, dan peraturan pelaksana
lainnya.
x Perubahan ejaan dalam bahasa.
x Perubahan mata pencaharian.
x Perubahan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
x Perubahan tingkat pendapatan dan perubahan tingkat kemakmuran.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG TERJADINYA INTERAKSI


SOSIAL
Manusia adalah makhluk sosial, artinya makhluk yang selalu hidup bersama-
sama dengan manusia lain. Manusia memang tidak dapat hidup sendiri dan mandiri
tanpa pertolongan orang lain. Bahkan secara ekstrim, manusia tidak akan mempunyai
arti jika tidak ada manusia lain. Oleh karena itu, secara kodrati, manusia memerlukan
manusia yang lain untuk melakukan interaksi sosial. Adapun dorongan-dorongan
terjadinya interaksi sosial dalam masyarakat adalah sebagai berikut.

1. Sugesti
Salah satu faktor pendorong interaksi sosial adalah sugesti, yaitu pengaruh psikis
yang ada pada seseorang yang berasal datang dari diri sendiri atau pun dari orang
lain karena adanya kepercayaan terhadap sesuatu hal dari orang yang dipercayai.
Pengaruh ini datang secara tiba-tiba dan tanpa adanya pemikiran yang detail yang
dipertimbangkan terlebih dahulu. Singkatnya sugesti menciptakan dorongan kepada
individu untuk melakukan suatu kontak sosial dengan pihak lain.

2. Imitasi
Yang dimaksud imitasi pada hakikatnya adalah suatu keinginan seseorang untuk
meniru segala sesuatu yang ada pada orang lain. Imitasi muncul disebabkan oleh
adanya minat, perhatian atas sikap mengagumi terhadap pihak lain yang dianggap
cocok. Contoh: meniru gaya bicara guru idolanya, meniru mode pakaian artis yang
menjadi idolanya, dan lain-lain. Pada waktu melaksanakan peniruan terhadap sesuatu

64 Sosiologi SMA/MA Kelas X


yang menarik dari orang yang dikagumi ini muncul suatu kemegahan dan kebanggaan
dalam jiwa orang yang bersangkutan. Imitasi terdiri dari peniruan terhadap pola pikir
orang lain, peniruan terhadap perilaku, dan peniruan terhadap benda-benda hasil
karya atau artefak.

3. Identifikasi
Yang dimaksud dengan identifikasi dalam suatu interaksi sosial adalah dorongan
seseorang untuk menjadikan dirinya identik atau sama dengan orang lain. Motif
identifikasi dipergunakan ketika orang menjadi bagian dari kelompok yang besar.
Contoh: soal pakaian seragam, soal ketaatan terhadap peraturan, atau opini pribadi
terhadap kelompoknya. Proses identifikasi diikuti dengan perbuatan-perbuatan yang
lebih konkret dan merupakan hasil pertimbangan yang matang pada diri seseorang.
Berbeda dengan imitasi, identifikasi melalui proses kejiwaan akan melahirkan suatu
sikap yang menyerupai dengan pihak yang ditiru.

4. Simpati
Pengaruh psikis yang paling mendasar dalam suatu interaksi sosial adalah rasa
simpati seseorang terhadap orang lain. Simpati merupakan suatu sikap ketertarikan
kepada orang lain disebabkan oleh menariknya penampilannya, kebijaksanaannya,
atau pola pikirnya. Simpati dapat menjadi dorongan yang sangat kuat pada diri
seseorang untuk melakukan kontak dan komunikasi dengan mitranya. Simpati akan
sangat dirasakan bila terjadi proses pertukaran pendapat dan nilai-nilai. Dengan
adanya rasa simpati, seseorang dapat berbuat apa saja untuk mewujudkan rasa
simpatinya.

5. Motivasi
Motivasi dalam suatu interaksi sosial merupakan dorongan yang mendasari
seseorang untuk melakukan perbuatan berdasarkan pertimbangan rasionalitas.
Contoh: seseorang mengikuti suatu kegiatan tertentu karena adanya motif-motif
tertentu seperti motif ekonomi, motif popularitas, motif politik, dan lain-lain. Motivasi
seseorang dapat muncul disebabkan faktor atau pun pengaruh dari orang lain sehingga
seorang individu melakukan kontak dengan orang lain.

6. Empati
Rasa empati merupakan rasa haru ketika seseorang melihat orang lain mengalami
sesuatu yang menarik perhatian. Empati merupakan kelanjutan rasa simpati yang
berupa perbuatan nyata untuk mewujudkan rasa simpatinya. Contoh: ketika seseorang
yang mengalami kecelakaan dan menangis, tiba-tiba kita pun yang melihatnya
menangis. Tindakan ikut menangis dan melakukan pertolongan tertentu ketika melihat
seseorang yang mengalami musibah merupakan contoh dari empati.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 65


Bentuk-bentuk interaksi sosial ada yang bersifat asosiatif maupun disosiatif. Pola
hubungan interaksi sosial yang bersifat asosiatif (menyatukan) akan mendorong
terbentuknya lembaga, kelompok, dan organisasi sosial. Sebaliknya, bentuk interaksi
disosiatif akan menghambat terbentuknya lembaga, kelompok, dan organisasi sosial.
Bentuk-bentuk proses sosial asosiatif antara lain sebagai berikut.
a. Kooperasi
Kooperasi adalah kerja sama antara beberapa kelompok sosial yang ada
sebagai upaya mencapai tujuan bersama. Bentuk-bentuk kooperasi antara lain
tawar-menawar, kooptasi, koalisi, dan patungan.
x Tawar-menawar (bargaining), yaitu kerja sama sebagai hasil kesepakatan
tawar-menawar antara kedua belah pihak.
x Kooptasi (cooptation), melalui kesempatan penunjukan pimpinan yang akan
mengendalikan kerja sama.
x Koalisi (coalition), yaitu kerja sama antarkelompok untuk mencapai tujuan
yang sama meskipun di antara mereka terjadi perbedaan-perbedaan
struktural.
x Patungan (joint-venture), yaitu usaha bersama untuk melakukan suatu
kegiatan dengan pembagian keuntungan bersama secara merata dan
proporsional.
b. Akomodasi
Akomodasi adalah suatu proses kesepakatan di antara kedua belah pihak
yang tengah bersengketa yang bersifat darurat (sementara) dengan tujuan
mengurangi ketegangan di antara kedua belah pihak. Beberapa bentuk
akomodasi antara lain sebagai berikut.
x Coercion
Proses akomodasi ini dilaksanakan karena adanya paksaan. Dalam
coercion, salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah bila
dibandingkan dengan pihak lawan. Pelaksanaan coercion dapat dilakukan
secara langsung atau fisik dan secara tidak langsung atau psikologis. Bentuk
akomodasi ini dapat kalian lihat ketika rakyat Indonesia menjadi romusha
pada masa penjajahan Jepang tahun 1942. Romusha menjadi pihak dalam
posisi lemah dan tidak dapat melawan. Dalam hal ini, interaksi sosial
didasarkan pada penguasaan Jepang terhadap romusha-nya yang dianggap
tidak mempunyai hak-hak apapun juga.
x Kompromi
Lewat bentuk akomodasi ini, masing-masing pihak yang terlibat konflik
saling mengurangi tuntutannya. Salah satu pihak harus bersedia merasakan
dan memahami keadaan pihak lain. Dengan begitu, akan tercapai
penyelesaian dari konflik yang ada.

66 Sosiologi SMA/MA Kelas X


x Mediasi dan arbitrase
Arbitrase merupakan bentuk akomodasi dengan jalan meminta bantuan
pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak atau oleh badan yang
kedudukannya lebih tinggi daripada pihak-pihak yang berkonflik. Seperti
halnya arbitrase, mediasi juga meminta bantuan pihak ketiga untuk
membantu dalam penyelesaian konflik. Tetapi dalam mediasi, pihak ketiga
bersikap nertal dan bertindak sebagai penasihat tanpa mempunyai wewenang
untuk mengambil keputusan. Pihak ketiga di sini harus mengutamakan
penyelesaian secara damai.
x Peradilan (ajudikasi)
Dalam adjudikasi, konflik diselesaikan lewat pengadilan.
x Toleransi
Toleransi timbul tidak sadar dan tidak direncanakan, yang terwujud
dalam bentuk saling menghargai, saling menghormati, dan tidak saling curiga.
Perilaku ini timbul karena masing-masing pihak berusaha menghindarkan
diri dari perselisihan.
x Stalemate
Bentuk akomodasi ini terjadi ketika masing-masing pihak menghentikan
konflik karena kekuatan yang seimbang. Mereka merasa sudah tidak ada
kemungkinan lagi untuk maju atau mundur.

c. Asimilasi
Proses asimilasi adalah proses sosial yang masing-masing pihak terdorong
keinginannya untuk bergabung dan bekerja sama dalam mewujudkan suatu
keharmonisan. Proses asimilasi digolongkan sebagai proses asosiatif, yaitu
masing-masing pihak saling memerlukan dengan tujuan membentuk kehidupan
baru yang saling menguntungkan serta membentuk corak kehidupan yang
berbeda dengan masa sebelumnya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi proses asimilasi, antara lain sebagai
berikut.
x Sikap dan kesediaan saling menenggang (toleransi).
x Sikap dalam menghadapi orang asing dan kebudayaannya.
x Adanya kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang.
x Keterbukaan golongan penguasa.
x Adanya kesamaan dalam berbagai unsur budaya.
x Perkawinan campuran.
x Adanya musuh bersama dari luar.
Sebaliknya, proses asimilasi juga dapat terhambat oleh faktor-faktor
berikut.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 67


x Ada isolasi kebudayaan dari salah satu kebudayaan kelompok.
x Minimnya pengetahuan dari salah satu kelompok atas kebudayaan kelompok
lain.
x Ketakutan atas kekuatan kebudayaan kelompok lain.
x Perasaan superioritas atas kebudayaan kelompok tertentu.
x Adanya perbedaan ciri-ciri badaniah.
x Adanya perasaan in-group yang kuat.
x Adanya diskriminasi.
x Adanya perbedaan kepentingan antarkelompok.

Sumber: Fotomedia, Juni 2001

à Gambar 3.2 Proses asimilasi bisa dilakukan melalui


perkawinan campuran.

Adapun bentuk-bentuk interaksi yang bersifat disosiatif, terdiri dari persaingan


(kompetisi), kontravensi, dan pertentangan (konflik).
a. Persaingan (kompetesi)
Persaingan merupakan proses sosial yang ditandai dengan adanya persaingan
antarindividu atau kelompok dalam mencari keuntungan dengan cara menarik
perhatian tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan terjadi dalam
beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut.
x Persaingan ekonomi, persaingan ini timbul ketika jumlah persediaan yang
terbatas tidak seimbang dengan jumlah konsumen yang ada.
x Persaingan dalam hal kedudukan dan peranan, persaingan ini timbul karena
adanya keinginan-keinginan dari tiap orang untuk mempunyai kedudukan
dan peranan yang lebih tinggi dari yang sudah dimiliki.
x Persaingan kebudayaan, keagamaan, pendidikan, dan lembaga
kemasyarakatan.

68 Sosiologi SMA/MA Kelas X


x Persaingan ras, persaingan ini terjadi karena perbedaan warna kulit, bentuk
tubuh, dan corak rambut.

b. Kontravensi
Kontravensi merupakan sikap mental yang tersembunyi terhadap orang lain
atau terhadap unsur-unsur kebudayaan golongan tertentu. Proses sosial semacam
ini ditandai dengan keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang dan perasaan
tidak suka yang disembunyikan atau kebencian terhadap seseorang.

c. Pertentangan (konflik)
Proses sosial semacam ini dilakukan oleh seorang individu atau kelompok
yang berusaha mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan ancaman atau
kekerasan. Pertentangan dapat terjadi karena adanya perbedaan pendirian dan
perasaan di antara individu dan perbedaan latar belakang kebudayaan. Konflik
juga dapat terjadi karena adanya perbedaan kepentingan antarindividu maupun
kelompok di bidang ekonomi, sosial, dan politik. Selain itu, perubahan sosial
yang berlangsung dengan cepat yang akan mengubah nilai masyarakat yang
ada sering kali juga menimbulkan konflik dalam masyarakat.

1. Menurutmu apakah persaingan dapat dipakai untuk menyeleksi kemampuan


seseorang? Jelaskan pendapatmu!
2. Sebutkan jenis-jenis proses sosial asosiatif dan disosiatif!
3. Bagaimana terjadinya konflik dalam masyarakat?
4. Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan suatu konflik
sosial?

C. BENTUK-BENTUK INTERAKSI YANG MENDORONG TERCIPTANYA


LEMBAGA, KELOMPOK DAN ORGANISASI SOSIAL
Dalam suatu masyarakat dapat terbentuk community sentiment, yaitu seperasaan,
senasib, dan sepenanggungan di antara sesama anggota masyarakat. Adanya
community sentiment dalam masyarakat dapat mewujudkan kehidupan di masa
depan yang lebih baik dengan membentuk lembaga-lembaga sosial yang mengurus
kebutuhan mendasar dari setiap warga masyarakat. Di sisi lain, ada pula dorongan

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 69


membentuk suatu kelompok-kelompok individu identitas yang sama dan secara khusus
membentuk suatu organisasi sosial untuk mewujudkan cita-cita tertentu.
Lembaga sosial ada dalam setiap masyarakat, baik dalam masyarakat tradisional
maupun masyarakat modern, karena setiap masyarakat pastinya mempunyai
kebutuhan-kebutuhan pokok. Kebutuhan-kebutuhan tersebut jika dikelompokkan
nantinya akan terhimpun sebagai lembaga sosial. Tempat-tempat ibadah merupakan
contoh lembaga-lembaga sosial dalam bidang keagamaan. Tetapi yang dimaksud
di sini bukan gedungnya, melainkan semua norma dan nilai kemasyarakatannya
yang mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan. Jadi, dapat dikatakan bahwa
lembaga sosial merupakan kumpulan norma masyarakat yang mengatur pergaulan
hidup manusia, berkelompok-kelompok pada berbagai keperluan pokok hidup
manusia.
Terciptanya lembaga-lembaga sosial didorong oleh beberapa faktor, antara lain
sebagai berikut.
x Adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan mendasar,
kebutuhan sosial, maupun kebutuhan integratif.
x Adanya keterbatasan benda-benda pemuas kebutuhan sehingga diperlukan
adanya lembaga yang mengatur setiap pemenuhan kebutuhan manusia.
x Adanya keinginan untuk mewujudkan keadaan hari esok yang lebih baik dan
menjamin kelangsungan hidup masyarakat.
x Untuk mewujudkan efisiensi kerja setiap individu yang dapat didelegasikan
kepada lembaga-lembaga sosial tertentu untuk mewakilinya, misalnya:
 mengurus pendidikan anak di bentuk sekolah,
 mengurus soal keamanan dibentuk polisi dan militer, serta
 menyelenggarakan keadilan dan perlindungan hukum, dibentuklah kejaksaan
dan pengadilan, dan seterusnya.

Lembaga sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok


manusia mempunyai beberapa fungsi, yaitu memberikan pedoman pada anggota
masyarakat bagaimana harus bertingkah laku dalam menghadapi masalah yang
timbul dalam masyarakat. Selain itu, lembaga sosial juga berfungsi untuk menjaga
keutuhan masyarakat dan memberikan pegangan kepada masyarakat untuk
mengadakan sistem pengendalian sosial.
Menurut Gilin dan Gillin, lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat dapat
dibedakan menjadi lima macam, antara lain sebagai berikut.
a. Crescive institutions dan enacted institutions yang merupakan klasifikasi dari sudut
perkembangannya. Crescive institutions yang juga disebut lembaga-lembaga yang
paling primer merupakan lembaga-lembaga yang secara tak disengaja tumbuh
dari adat istiadat masyarakat. Contoh: hak milik, perkawinan, agama, dan
seterusnya. Sebaliknya adalah enacted institutions dibentuk dengan sengaja guna
tercapainya tujuan tertentu dan tetap berpedoman pada adat istiadat, selanjutnya
diserahkan kepada pemerintah. Contoh: pendidikan (madrasah).
b. Basic institutions dan subsidiary institutions. Basic institutions dianggap sebagai
lembaga kemasyarakatan yang sangat penting untuk memelihara dan
mempertahankan tata tertib dalam masyarakat. Di Indonesia, misalnya keluarga,
sekolah-sekolah, dan negara dianggap sebagai basic institutions yang pokok.
Sebaliknya adalah subsidiary institutions yang merupakan lembaga sosial yang
kurang penting. Contoh: rekreasi, olahgara, dan menyanyi.
c. Approved atau social sanctioned institutions adalah lembaga-lembaga yang
diterima masyarakat seperti misalnya sekolah, perusahaan dagang, dan lain-
lain. Sebaliknya adalah unsanctioned institutions yang ditolak oleh masyarakat
walau kadang-kadang masyarakat tidak berhasil untuk memberantasnya, seperti
misalnya kelompok penjahat-penjahat, pemeras, pencoleng, dan sebagainya.
d. General institutions dan restricted institutions, lembaga ini timbul apabila
klasifikasi terebut berdasarkan pada faktor penyebarannya. Misalnya, agama
merupakan suatu general institutions, oleh karena dikenal oleh hampir semua
masyarakat di dunia ini. Agama-agama Islam, Protestan, Katolik, Budha, dan
lain-lainnya merupakan restricted institutions karena dianut oleh masyarakat-
masyarakat tertentu di dunia ini.
e. Berdasarkan fungsinya, ada perbedaan antara operative institutions dan regulative
institutions. Yang pertama berfungsi sebagai lembaga yang menghimpun pola-
pola atau tata cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan lembaga yang
bersangkutan, seperti misanya lembaga industrialisasi. Yang kedua, bertujuan
untuk mengawasi adat istiadat atau tata kelakuan yang tidak menjadi bagian
yang mutlak daripada lembaga itu sendiri. Contoh adalah lembaga-lembaga
hukum.

Dalam interaksi yang dilakukan manusia, akan terdapat suatu hubungan timbal
balik, saling mempengaruhi, dan saling menolong. Hubungan-hubungan tersebut
akan menjadikan manusia dalam berbagai himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia.
Himpunan-himpunan tersebut nantinya akan menimbulkan kelompok-kelompok sosial
di dalam kehidupan manusia.
Berikut merupakan faktor-faktor yang mendorong terbentuknya kelompok-
kelompok sosial.
x Adanya kesadaran dari sekelompok individu yang merasa memiliki identitas
yang sama.
x Adanya keinginan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu dalam
kelompok.
x Adanya keinginan untuk membela hak-hak dan kepentingan dari individu di
dalam kelompok.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 71


x Adanya keinginan untuk mendominasi struktur masyarakat seperti kekuasaan
dan pemerintahan yang ada di dalam masyarakat.

Dalam sejarah perkem-


bangan sosiologi, terutama di
Jerman kita mengenal salah satu
tokoh yang cukup populer, yaitu
Max Weber, dengan berbagai
macam tulisan dan argumentasi-
nya. Max Weber, sosiolog
berkebangsaan Jerman dengan
latar belakang pendidikan di
Sumber: www.mohr.de bidang hukum berpendapat
bahwa ada pengaruh faktor-
faktor politik, agama, dan ekonomi terhadap
perkembangan hukum dan kehidupan sosial
masyarakat. Salah satu argumen-tasinya yang terkenal
adalah argumentasi tentang hukum, baik di lingkungan
nasional maupun di lingkungan internasional. Pada
masalah hukum ini, Max Weber mengatakan ada empat
tipe ideal dari norma hukum yang ada di dalam
masyarakat, yaitu sebagai berikut.
1. Hukum Irasional dan Material
2. Hukum Irasional dan Formal
3. Hukum Rasional dan Material
4. Hukum Rasional dan Formal

Organisasi sosial sendiri terbentuk atas dasar dorongan-dorongan yang sedikit


berbeda dengan terbentuknya lembaga dan kelompok sosial, antara lain:
x Adanya cita-cita bersama untuk mewujudkan suatu keadaan yang lebih baik.
x Adanya pembagian tugas untuk mengurus kepentingan organisasi.

72 Sosiologi SMA/MA Kelas X


x Adanya keinginan untuk menjaga kelangsungan hidup organisasi.
x Adanya keinginan untuk mengembangkan kepentingan bersama seperti industri,
perdagangan, olahraga, seni dan budaya, dan lain-lain.
Organisasi sosial sendiri terbentuk dari adanya minat dan kepentingan dari
individu dalam sebuah masyarakat yang disalurkan melalui bentuk persekutuan
manusia yang formal dan lebih teratur. Jadi, dapat dikatakan bahwa organisasi
adalah sekumpulan orang atau individu dalam suatu kelompok yang saling
berinteraksi dan bekerja sama yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu untuk
mencapai tujuan bersama.
Dengan adanya dorongan-dorongan untuk mewujudkan terciptanya lembaga-
lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan organisasi sosial dalam masyarakat,
terdapat empat macam bentuk interaksi sosial antara lain sebagai berikut.

1. Hubungan Antarstatus
Hubungan antarstatus terjadi dalam suatu organisasi, baik pemerintah maupun
swasta. Hubungan yang terjalin berpedoman pada kedudukan masing-masing dalam
suatu organisasi yang bersifat formal sehingga interaksi masing-masing pihak
didasarkan pada statusnya masing-masing. Contoh: hubungan kedinasan di dalam
militer antara atasan dan bawahan atau hubungan antara ketua, sekretaris, bendahara,
dan anggota dalam suatu organisasi. Berikut beberapa karakteristik yang menandai
adanya hubungan antarstatus.
x Semua pihak berpijak pada statusnya.
x Bentuk hubungan tersebut didasarkan pada norma yang legal.
x Toleransi bersifat terbatas.
x Hubungannya bersifat resmi.
x Ada sanksi yang diberlakukan dalam setiap interaksi yang menyimpang dari
ketentuan yang ada.

2. Hubungan Antarkepentingan
Pada dasarnya, hubungan antarkepentingan merupakan hubungan antara pihak
yang satu dengan pihak yang lain di dalam masyarakat yang berorientasi pada
terpenuhinya kepentingan dari masing-masing pihak. Dalam hubungan
antarkepentingan ini, masing-masing pihak saling memberikan solidaritasnya untuk
mendukung terciptanya suatu jalinan yang harmonis sehingga kepentingan dari
masing-masing pihak dapat terlaksana dengan baik. Contoh: hubungan dalam asosiasi
sepak bola, bulu tangkis, pedagang batik, dan lain-lain. Hubungan antarkepentingan
ini juga memiliki karakteristik berikut.
x Semua pihak berpijak pada kepentingan masing-masing.
x Hubungan lebih bersifat legal.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 73


x Didasarkan pada norma-norma tertentu yang telah disepakati.
x Solidaritas sosial dalam keseharian sangat tebal.
x Semua pihak mempunyai orientasi yang sama.

3. Hubungan Kekeluargaan
Dalam suatu keluarga atau kerabat terdapat pola hubungan di antara orang-
orang yang mempunyai asal-usul dan darah keturunan yang sama. Hubungan ini
merupakan hubungan kekeluargaan. Pada hakikatnya, hubungan kekeluargaan
merupakan hubungan yang terjadi antarpihak yang memiliki hubungan darah dengan
ciri solidaritas antaranggota relatif lebih tinggi dan bentuk-bentuk hubungan lebih
bersifat nonformal. Bila dicermati, ternyata pada masyarakat primitif dan masyarakat
tradisional hubungan kekeluargaan sangat erat. Tetapi pada masyarakat modern,
justru relatif rendah. Mereka lebih akrab dengan orang-orang yang mempunyai
hubungan bisnis yang sama. Berikut beberapa karakteristik dari hubungan
kekeluargaan.
x Semua pihak berasal dari keturunan yang sama.
x Hubungan bersifat tidak resmi.
x Solidaritas sangat kuat.
x Aktivitasnya tidak didasarkan pada peraturan yang berlaku.
x Semua pihak saling melindungi dan memanjakan.

4. Hubungan Persahabatan
Hubungan persahabatan terjadi antara dua individu atau lebih yang tidak ada
hubungan darah. Mereka ini sangat mendambakan adanya komunikasi yang saling
menguntungkan untuk menjalin suatu persahabatan atau keakraban. Contoh: hubungan
dua individu yang saling bersahabat. Ada beberapa karakteristik hubungan
persahabatan, antara lain sebagai berikut.
x Semua pihak tidak ada hubungan darah atau keturunan.
x Bentuk hubungan dapat bersifat formal atau nonformal.
x Semua pihak saling mengupayakan agar hubungan tetap harmonis.
x Solidaritas sosial relatif kuat.

D. PROSES PEMBENTUKAN LEMBAGA, KELOMPOK, DAN ORGANISASI


SOSIAL
Bersamaan dengan proses berkembangnya suatu masyarakat, maka munculah
dorongan dari warga masyarakat untuk mengatur dan mengembangkan kehidupannya
agar terjadi pola hubungan yang lebih harmonis. Dorongan-dorongan ini

74 Sosiologi SMA/MA Kelas X


mengakibatkan terbentuknya lembaga sosial untuk mewujudkan keteraturan sosial
dalam masyarakat.

1. Proses Pembentukan Lembaga Sosial Dalam Perkembangan


Keteraturan Sosial
Norma dalam masyarakat dibuat untuk menciptakan keteraturan. Mula-mula
norma terbentuk secara tidak sengaja, kemudian lama-lama dibuat secara sadar.
Norma-norma yang ada setelah mengalami suatu proses akan menjadi bagian tertentu
dari lembaga sosial. Proses inilah yang dinamakan proses pelembagaan
(institutionalization), di mana ketika norma sudah dikenal, diakui, dihargai, dan ditaati
dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikatakan bahwa norma sudah melembaga.
Untuk menciptakan suatu tertib sosial dalam masyarakat, memang diperlukan
proses yang relatif panjang sehingga akhirnya terbentuk lembaga-lembaga sosial
yang mengurus masing-masing kebutuhan pokok warga masyarakat yang bentuknya
berbeda-beda sesuai bidangnya. Adapun proses terbentuknya suatu keteraturan sosial
adalah sebagai berikut.
x Adanya tertib sosial, yaitu tahapan keteraturan yang mulai ada akibat adanya
norma/peraturan yang baru.
x Adanya order, yaitu tahapan yang masyarakatnya mulai memandang perlu/
meminta akan adanya tertib sosial itu sendiri.
x Adanya keajegan, yaitu suatu tahapan di mana interaksi sosial, norma, dan
nilainya mulai ada kesesuaian dalam masyarakat.
x Adanya pola, yaitu suatu tahapan yang keajegannya terus berulang sehingga
membentuk suatu pola perilaku masyarakat. Pada tahap ini, perilaku sosial,
norma, dan nilai benar-benar telah menjadi satu perwujudan dalam segala
aktivitas manusia.

2. Proses Terbentuknya Kelompok


kelompok pada awalnya terbentuk melalui berkumpulnya sejumlah orang yang
berekrumunan. Kerumunan itu pun berkembang menjadi kelompok-kelompokkan di
dalamnya telah tumbuh ikatan persamaan kepentingan, persamaan senasib, persepsi
atau tujuan. Dalam kelompok tersebut, akan terjadi hubungan timbal balik antara
setiap anggotanya dan akan ada norma-norma yang mereka buat dan mereka taati
bersama.
Kumpulan orang atau kerumunan dapat berubah menjadi kelompok apabila ada
interaksi di antara orang-orang yang ada di dalam kerumunan tersebut dan ada
ikatan emosional sebagai pernyataan bersama. Selain itu, di dalam kerumunan
tersebut telah berkembang tujuan atau kepentingan bersama, kepemimpinan yang

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 75


dipatuhi, dan ada norma yang diakui dan diikuti oleh mereka yang terlibat di
dalamnya.

Sumber: Koleksi editor

à Gambar 3.3 Dalam suatu kelompok akan terjadi hubungan timbal


balik antara anggotanya.

3. Proses Terbentuknya Organisasi Sosial


Untuk mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhannya, manusia harus bekerja
sama dengan orang lain. Kerja sama dalam suatu kesatuan sistem yang teratur akan
terwujud setelah diorganisasi atau dibentuk organisasi. Pembentukan organisasi diawali
oleh persekutuan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan bekerja sama
dan didasarkan atas persamaan profesi, kepentingan, visi, dan misi. Organisasi ini
nantinya berfungsi sebagai tempat untuk menampung aspirasi dari para anggota dan
sebagai alat untuk mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuannya, setiap organisasi
mempunyai orang-orang yang memenuhi syarat untuk menduduki struktur organisasi
tersebut. Selain itu, disusunlah anggaran dasar dan anggaran rumah tangga dari
organisasi tersebut, di mana di dalamnya dinyatakan secara jelas tujuan, asas, visi,
misi, fungsi, kedudukan, serta hak dan kewajiban masing-masing anggota.

E. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN DAN DINAMIKA SOSIAL


Sebagaimana kita ketahui bahwa masyarakat senantiasa bersifat dinamis, tidak
pernah berhenti dari aktivitas, dan akibatnya senantiasa mengalami perubahan-
perubahan. Perubahan ini dapat terjadi dalam skala besar seperti adanya revolusi
sosial, namun dapat terjadi pula dalam skala kecil. Perubahan-perubahan yang terjadi
dalam masyarakat dapat direncanakan dengan perencanaan yang matang, dapat
juga terjadi tanpa adanya perencanaan.
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan antara lain berubahnya
lingkungan alam, situasi kependudukan, struktur sosial yang akan mengakibatkan
berubahnya pola interaksi, serta berubahnya nilai dan sikap.

76 Sosiologi SMA/MA Kelas X


1. Perubahan Lingkungan Alam
Perubahan lingkungan alam pada dasarnya bersumber dari rotasi dan revolusi
bumi sehingga mengakibatkan suatu siklus pergantian seperti musim, iklim, arah
angin, perubahan siang malam, perubahan waktu, dan seterusnya. Perubahan-
perubahan lingkungan alam ini menyebabkan manusia harus melakukan penyesuaian
terhadap perubahan-perubahan itu sendiri. Adapun contoh-contoh perubahan
lingkungan alam adalah sebagai berikut.
a. Pergeseran Lintasan Semu Matahari Tahunan
Pergeseran lintasan semi matahari tahunan ini akan membawa banyak perubahan
dalam kehidupan masyarakat, antara lain perubahan musim dan iklim yang akan
berakibat pada perubahan suhu, tekanan, dan curah hujan sehingga mengakibatkan
perubahan pola tanam bagi kegiatan pertanian. Perubahan pola tanam ini juga turut
membawa perubahan pada produktivitas.
b. Pergantian Musim
Seperti musim panas, musim gugur, musim dingin, dan musim semi (di daerah
iklim sedang), sedangkan di Indonesia terjadi pergantian musim hujan dan kemarau.
Berubahnya fenomena alam ini telah membawa pengaruh perubahan terhadap
produktivitas industri es, produksi tanaman tertentu yang juga akan berpengaruh
terhadap tingkat pendapatan, dan pola konsumsi bagi sebagian besar umat manusia.
c. Pergantian Siang dan Malam
Berubahnya fenomena alam ini juga membawa pengaruh pada struktur aktivitas
manusia, yaitu aktivitas-aktivitas sosial budaya yang layak dilakukan pada siang
hari dan malam hari.
d. Perubahan yang Sifatnya Mendadak atau Bersifat Temporer
Beberapa contohnya adalah banjir, tanah longsor, gempa bumi, gunung meletus,
dan lain-lain.

Sumber: Tempo

à Gambar 3.4 Banjir merupakan fenomena alam yang sifatnya


mendadak dan temporer.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 77


Berubahnya fenomena alam menjadi penyebab berubahnya aktivitas manusia
untuk melakukan evakuasi atau pemindahan lokasi tempat tinggal serta aktivitas-
aktivitas penyelamatan lainnya. Bencana-bencana alam ini juga dapat mengakibatkan
kerugian-kerugian yang dapat mengubah tingkat pendapatan atau pun kekayaan
banyak orang.

2. Perubahan Situasi Kependudukan


Melalui proses natalitas dan mortalitas, situasi kependudukan bersifat sangat
dinamis (artinya selalu berubah-ubah). Bentuk-bentuk perubahan situasi
kependudukan ini antara lain terjadi pada jumlah penduduk, komposisi penduduk,
tingkat kepadatan penduduk, persebaran penduduk, dan kulitas penduduk.
a. Perubahan Jumlah Penduduk
Perubahan jumlah penduduk dapat memunculkan kebijaksanaan-kebijaksanaan
oleh penguasa dalam mengatasi segala permasalahannya seperti masalah kesehatan,
pendidikan, perumahan, dan lain-lain. Berubahnya jumlah penduduk juga menuntut
perubahan-perubahan fasilitas umum seperti jalan raya, sekolah, rumah sakit, kantor
pos, bank, serta fasilitas-fasilitas yang lain. Wujud perubahan-perubahan inilah yang
merupakan dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat.
b. Perubahan Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk adalah perbandingan-perbandingan antara kelompok-
kelompok penduduk. Misalnya, perbandingan antara pria dan wanita, perbandingan
antara kelompok produktif dan nonproduktif, serta komposisi penduduk menurut
tingkat pendidikan, dan lain-lain. Perubahan komposisi penduduk dapat berpengaruh
terhadap perubahan-perubahan pola aktivitas manusia yang menyangkut
produktivitas kerja, pendapatan, volume ekspor barang dan jasa, dan lain-lain.
c. Perubahan Tingkat Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk pada dasarnya adalah bilangan yang menyatakan berapa
banyaknya penduduk pada tiap-tiap kawasan di muka bumi seluas 1 km2. Kepadatan
penduduk ini dapat berubah-ubah karena kelahiran dan kematian, juga karena
adanya mobilitas seperti imigrasi, emigrasi, urbanisasi, ruralisasi, dan lain-lain.
Berubahnya tingkat kepadatan penduduk akan merubah banyak hal seperti
meningkatnya harga tanah, munculnya rumah susun, munculnya perumahan kumuh,
masalah kemacetan lalu lintas, munculnya solusi jalan layang, busway, kebijaksanaan
three in one pada jalur-jalur tertentu, dan lain-lain. Yang pasti bahwa berubahnya
tingkat kepadatan penduduk akan sangat mempengaruhi berbagai pola aktivitas
manusia.
d. Perubahan Persebaran Penduduk
Ada banyak dorongan mengapa orang mengalami perpindahan tempat. Dorongan-
dorongan tersebut antara lain sebagai berikut.

78 Sosiologi SMA/MA Kelas X


x Alasan perkawinan
x Alasan pendidikan
x Alasan mengadu nasib atau mencari pekerjaan
x Alasan keamanan
x Alasan tugas atau pekerjaan, dan lain-lain.
Dengan berpindahnya penduduk dari satu daerah ke daerah yang lain akan
mewujudkan banyak perubahan-perubahan, yaitu masalah penyesuaian diri, proses
sosialisasi, percampuran kebudayaan, pembauran ras, pemerataan pendapatan, dan
lain-lain.
d. Perubahan Kualitas Penduduk yang Menyangkut Kesehatan, Pendidikan, dan
Tingkat Pendapatan
Kualitas penduduk adalah keadaan secara umum mengenai tingkat kesejahteraan
dan tingkat peradaban suatu masyarakat. Tinjauan ini dapat diindikasikan oleh
data-data kesehatan, pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat kelahiran dan kematian,
angka pendapatan perkapita, angka harapan hidup, dan lain-lain. Dengan
berubahnya kualitas penduduk secara sosiologis, akan mempengaruhi pola konsumsi,
pertumbuhan investasi, peningkatan produktivitas kerja, dan lain-lain.

3. Perubahan Struktur Sosial


Yang dimaksud dengan struktur sosial adalah keseluruhan dari bangunan
konstruksi masyarakat yang menyangkut kedudukan dan peran dari tingkat atas
hingga tingkatan bawah. Berubahnya struktur sosial, mengakibatkan perubahan
pola interaksi, efisiensi, dan efektifitas kerja, serta berubahnya personil-personil dari
tiap-tiap kedudukan dan peran yang ada di dalam masyarakat. Contoh-contoh
perubahan struktur sosial antara lain sebagai berikut.
x Berubahnya undang-undang dasar, undang-undang, dan peraturan-peraturan
pelaksanaannya.
x Berubahnya personil-personil pemangku status sosial mulai dari atas sampai ke
bawah, misalnya berubahnya personil presiden dan wakil presiden, pejabat
tinggi negara, dan personil kabinet.
Dengan berubahnya struktur sosial, baik yang menyangkut peraturan-peraturan
maupun personil-personil akan menumbuhkan banyak perubahan atau dinamika
sosial seperti berubahnya kebijaksanaan, berubahnya pola kerja yang akan berakibat
memburuk atau membaiknya situasi umum dalam masyarakat.

4. Perubahan Nilai dan Sikap


Nilai dan sikap yang dianut dalam diri seorang individu dapat mengalami
pergeseran atau perubahan akibat situasi yang dinamis. Situasi yang berubah-ubah
pula meliputi masalah keamanan, masalah kurs nilai mata uang, masalah pendidikan,

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 79


masalah kesehatan, dan lain-lain. Adanya perubahan dalam nilai sentral (nilai yang
paling dipedomani seseorang) akan mengakibatkan perubahan pola perilaku.
Misalnya, orang menjadi gemar menabung, lebih mementingkan pendidikan, sangat
berhati-hati karena keamanan memburuk, dan seterusnya. Contoh-contoh perubahan
nilai dan sikap antara lain sebagai berikut.
x Pola keluarga besar menjadi pola asuh keluarga kecil.
x Tidak gemar menabung menjadi gemar menabung.
x Pandangan terhadap masa lampau menjadi berpandangan pada masa yang
akan datang.
x Menganggap pendidikan tidak penting menjadi pendidikan sangat penting, dan
lain-lain.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan dan dinamika sosial dalam


masyarakat dapat juga diklasifikasikan menjadi faktor internal dan faktor eksternal,
yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam masyarakat dan dari luar masyarakat itu
sendiri. Adapun penjabaran faktor-faktor internal dan eksternal yang menyebabkan
perubahan dan dinamika sosial itu sebagai berikut.

a. Faktor Internal
Yaitu faktor penyebab yang berasal dari dalam masyarakat sendiri. Hal-hal yang
dapat menyebabkan munculnya perubahan-perubahan dan dinamika sosial yang
berasal dari dalam masyarakat itu sendiri adalah sebagai berikut.
x Gerakan Sosial (Social Revolution)
Gerakan sosial adalah akumulasi dari kehendak sebagian warga masyarakat
untuk melakukan perubahan-perubahan yang bersifat fundamental dalam suatu
masyarakat. Gerakan sosial ini sering disebut revolusi sosial, yaitu perubahan-
perubahan yang berlangsung relatif cepat yang menyangkut bidang-bidang
kehidupan yang sangat mendasar, misalnya adalah masalah pemerintahan,
masalah personil pejabat negara, masalah penegakan hukum, masalah keadilan,
dan lain-lain. Gerakan sosial ini dapat berupa tuntutan-tuntutan, aksi pemogokan,
protes, demonstrasi hingga berbentuk perang saudara atau suatu kudeta. Akibat
dari gerakan sosial ini akan memunculkan pembaharuan tatanan kehidupan
dalam masyarakat. Revolusi yang terjadi di suatu negara dapat mendorong
terjadinya perubahan besar, mulai dari bentuk negara, lembaga kemasyarakatan,
sampai pada keluarga-keluarga yang mendiami negara tersebut.
x Penemuan Baru (Invention dan Discovery)
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan
manusia melakukan berbagai macam penelitian hingga menghasilkan sesuatu
yang baru. Penemuan baru ini dapat berupa discovery dan invention.
 Discovery, yaitu penemuan baru yang belum diterima oleh kalangan luas
masyarakat dan belum diaplikasikan dalam bentuk penerapan teknologi.

80 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Tetapi penemuan baru ini telah menunjukkan sesuatu kebenaran yang belum
pernah ada yang diperoleh melalui suatu penelitian atau suatu penjelajahan.
Discovery dapat terwujud dalam bentuk penemuan unsur kebudayaan, baik
alat maupun gagasan yang diciptakan seseorang.
 Invention, yaitu penemuan baru yang telah diterima oleh kalangan luas
masyarakat dan telah diaplikasikan dalam bentuk teknologi baru yang
bermanfaat bagi orang banyak. Invention ini seringkali akan mengakibatkan
munculnya berbagai macam inovasi terutama di bidang teknologi.
Discovery akan menjadi invention apabila masyarakat sudah mengakui,
menerima, dan menciptakan penemuan baru tersebut.
x Perencanaan Perubahan (Pembangunan)
Pada masyarakat modern, perubahan-perubahan yang diidealkan pada masa
yang akan datang telah disusun dalam suatu perencanaan perubahan yang
disebut pembangunan. Di Indonesia, perencanaan pembangunan ini dirumuskan
oleh MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) yang merupakan penjelmaan dari
seluruh rakyat Indonesia dalam sebuah perencanaan yang disebut GBHN (Garis-
garis Besar Haluan Negara). Selanjutnya GBHN ini akan diserahkan kepada
Presiden selaku Mandataris MPR untuk dilaksanakan selama lima tahun ke
depan.
Perencanaan pembangunan yang baik adalah perencanaan pembangunan
yang penyusunannya melibatkan partisipasi seluruh lapisan dan golongan
sehingga akan sesuai dengan nilai-nilai kemampuan, nilai-nilai kebutuhan, dan
nilai-nilai budaya masyarakat. Kemudian, pelaksanaan pembangunan yang baik
adalah pelaksanaan pembangunan yang telah dilaksanakan sesuai dengan
perencanaan yang telah disusun tersebut. Apabila dalam suatu pelaksanaan
pembangunan telah dilaksanakan persis seperti rencananya tetapi belum
menunjukkan hal-hal yang baik seperti yang diinginkan, maka yang buruk
adalah perencanaan pembangunannya.
Untuk keberhasilan pelaksanaan pembangunan, diperlukan beberapa syarat-
syarat sebagai berikut.
 Adanya perencanaan yang baik, yaitu perencanaan yang sesuai dengan
kemampuan, kebutuhan, nilai-nilai kebudayaan masyarakat.
 Adanya dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Tanpa adanya dukungan,
suatu program pembangunan tidak akan tercapai meskipun ada perencanaan
yang baik.
 Adanya stabilitas nasional yang sehat dan dinamis, yaitu iklim masyarakat
yang aman, nyaman, dan tertib sehingga semua program pembangunan dapat
berjalan dengan lancar dan selamat. Sebaliknya, apabila situasi keamanan
terganggu, maka yang terjadi adalah hambatan-hambatan dalam setiap segi
pelaksanaan pembangunan.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 81


 Adanya optimalisasi pencapaian pelaksanaan pembangunan oleh penguasa,
dalam hal ini adalah presiden hingga seluruh jajaran aparatur negara.
 Bertambah atau berkurangnya penduduk. Pertambahan penduduk membuat
masyarakat pun mulai mengenal hak milik seseorang atas tanah, sistem bagi
hasil, dan sewa tanah. Berkurangnya penduduk karena perpindahan penduduk
ke daerah lain juga menyebabkan kekosongan pada lapangan pekerjaan.
Hal ini mempengaruhi lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada.
 Pertentangan dalam masyarakat di antara individu dengan kelompok, antara
kelompok dengan kelompok, dan antara individu dengan individu. Hal ini
juga menyebabkan perubahan dan dinamika sosial budaya. Pertentangan
antara generasi muda dengan generasi tua merupakan contoh pertentangan
antara kelompok dengan kelompok. Generasi muda lebih mudah menerima
unsur-unsur kebudayaan baru, hal ini terlihat misalnya dalam hal pergaulan.
Sebaliknya, generasi tua justru tidak begitu saja menerima unsur kebudayaan
tersebut.

b. Faktor eksternal
Yaitu faktor penyebab perubahan yang berasal dari luar masyarakat, antara
lain:
x Pengaruh Kebudayaan Lain
Melalui proses interaksi antarindividu maupun antarkelompok antara bangsa
yang satu dan bangsa yang lain akan mengakibatkan akulturasi, asimilasi, dan
penetrasi kebudayaan.
 Akulturasi Kebudayaan
Yaitu proses bercampurnya dua kebudayaan atau lebih secara damai dan
sukarela, terutama percampuran antara kebudayaan setempat dan
kebudayaan asing yang bersifat melengkapi atau menyempurnakan. Ciri-ciri
akulturasi kebudayaan antara lain: corak kebudayaan setempat yang
mengalami percampuran masih tampak sifat-sifat khasnya, proses
percampuran kebudayaan berjalan secara damai dan sukarela, proses
percampuran ini lebih bersifat menyempurnakan, serta proses percampuran
kebudayaan ini merupakan percampuran antara kebudayaan setempat
dengan kebudayaan asing.
 Asimilasi Kebudayaan
Yaitu proses percampuran dua kebudayaan atau lebih yang berlangsung
sangat panjang dan akrab sehingga dapat membuat corak kebudayaan
khasnya menjadi luntur sama sekali sehingga sulit untuk dikenali. Proses
asimilasi kebudayaan merupakan proses percampuran yang terbaik karena
tidak ada unsur paksaan dan terjadi dalam suatu hubungan yang sangat
harmonis. Dengan begitu, percampuran-percampuran itu sungguh-sungguh

82 Sosiologi SMA/MA Kelas X


dikehendaki oleh semua pihak. Ciri-ciri asimilasi kebudayaan antara lain:
proses percampurannya berlangsung dalam waktu yang sangat panjang,
wilayahnya saling berdekatan, hubungannya sangat akrab atau intim, dan
corak kebudayaan khas menjadi luntur sehingga membentuk corak budaya
yang baru yang merupakan perpaduan dari hasil percampuran tersebut.
 Penetrasi Kebudayaan
Yaitu proses percampuran dua kebudayaan atau lebih, tetapi melalui
pemaksaan, penindasan, atau pun penjajahan. Penetrasi budaya ini terjadi
dari budaya masyarakat yang kuat kepada budaya masyarakat yang lemah.
Tipe-tipe penetrasi budaya dapat berlangsung melalui penjajahan fisik,
penjajahan ekonomi, atau melalui sistem religi atau agama dan kepercayaan.
Ciri-ciri penetrasi kebudayaan antara lain: proses percampurannya melalui
suatu pemaksaan, terjadi pengikisan budaya lokal, meluasnya budaya
masyarakat penjajah, dan sifat-sifat khas dari budaya setempat menjadi luntur
bahkan hilang sama sekali hingga sangat sulit untuk dikenali.
x Pengaruh Lingkungan Alam
Sebagaimana telah disinggung di atas bahwa alam senantiasa mengalami
perubahan-perubahan dalam bentuk siklus yang teratur maupun siklus yang tidak
teratur. Perubahan-perubahan lingkungan alam ini mendorong manusia untuk
melakukan penyesuaian-penyesuaian agar dapat bertahan hidup. Gempa bumi,
angin topan, dan banjir besar termasuk bencana yang tidak hanya ikut merubah
lingkungan alam, tetapi juga melahirkan perubahan-perubahan dalam masyarakat,
misalnya dalam hal mata pencarian. Misalnya, seseorang yang tinggal di daerah
pantai meninggalkan daerahnya ke daerah pertanian karena bencana banjir. Ia
pun menyesuaikan dirinya dengan menjadi petani.

1. Jelaskan bagaimana pengaruh lingkungan alam terhadap perubahan sosial


dan budaya, serta berikan contoh-contohnya!
2. Setiap perubahan sosial mesti terdapat pihak-pihak yang dirugikan dan
pihak-pihak yang diuntungkan. Jelaskan bagaimana solusinya!
3. Perubahan yang direncanakan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan
kemampuan masyarakat. Jelaskan bagaimana membuat perencanaan
perubahan yang baik!
4. Berikan dua buah contoh bahwa perubahan sosial dalam masyarakat terjadi
akibat perubahan nilai dan sikap!

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 83


x Peperangan
Yang dimaksud dengan peperangan adalah konflik atau pertikaian antara
masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain di luar batas-batas negara.
Peperangan ini sering kali akan memunculkan implikasi yang negatif, misalnya
macetnya proses pemasaran, pengiriman bahan baku, proses kerja sama,
distribusi tenaga kerja, dan lain-lain sehingga akan menimbulkan perubahan-
perubahan yang lebih bersifat destruktif. Peperangan dengan negara lain juga
dapat menyebabkan perubahan, di mana seringkali negara yang menang akan
memaksakan kebudayaannya terhadap negara yang kalah.

F. INTERAKSI SOSIAL DAN KETERATURAN SOSIAL


Dalam membangun terciptanya keteraturan sosial dalam dinamika kehidupan
sosial, interaksi sosial merupakan sarana yang sangat fundamental untuk membentuk
karakter dan perilaku setiap individu. Dalam interaksi yang dilakukannya, individu
akan memahami norma-norma sosial sekaligus dapat mematuhinya.
Interaksi sosial terjadi pertama kali dalam lingkungan keluarga dan kerabat.
Oleh karena itu, sangat diperlukan peranan orang tua dalam rangka membentuk
generasi muda yang memahami norma-norma kesusilaan, kesopanan, budi pekerti,
dan dasar-dasar dari norma agama.
Di sisi lain, sekolah merupakan media kedua yang sangat strategis untuk
menyelenggarakan interaksi sosial yang terarah dan untuk menciptakan warga
masyarakat yang berkualitas secara intelektual.
Dalam interaksi yang dilakukan, manusia akan melakukan kerja sama. Terjadinya
kerja sama antara individu-individu atau antara kelompok-kelompok dalam interaksi
sosial merupakan bentuk adanya keteraturan sosial dalam masyarakat. Kerja sama
inilah yang mendorong terbentuknya suatu sistem norma sosial yang baku dalam
pergaulan hidup bermasyarakat.

Sumber: Indonesia Indah

à Gambar 3.5 Kerja sama diperlukan untuk mencapai tujuan bersama.

84 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Interaksi sosial merupakan bentuk umum dari proses sosial. Proses sosial sendiri
muncul karena adanya hubungan-hubungan yang terjadi di antara manusia yang
bersifat dinamis. Artinya, jika ada keteraturan sosial dalam masyarakat, hubungan
sosial yang muncul pun akan bersifat dinamis di mana ada timbal balik dan saling
mempengaruhi dalam hubungan tersebut. Interaksi sosial yang berlansung positif
akan mengarah pada kerja sama, sebaliknya jika berlangsung negatif akan
mendatangkan konflik. Agar interaksi sosial berlangsung positif, diperlukan adanya
keteraturan sosial.
Seperti kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang
majemuk dalam hal suku, agama, bahasa, budaya, dan adat istiadatnya.
Kemajemukan ini pasti akan mendorong pula terjadinya keragaman dalam interaksi
sosial. Sebagai individu, kita pun harus dapat menciptakan keteraturan sosial di
tengah-tengah keragaman tersebut. Keteraturan sosial di dalam masyarakat tidak
akan terjadi dengan sendirinya, hal tersebut harus diciptakan oleh masing-masing
individu yang hidup dalam masyarakat. Untuk mewujudkan keteraturan sosial, kita
pun sebagai anggota masyarakat harus mematuhi norma-norma yang berlaku dan
saling menghormati satu sama lain. Ketika kita sudah memahami dan mematuhi
nilai dan norma yang berlaku, interaksi yang kita hasilkan pun akan mengarah pada
kerja sama dan berlangsung positif. Dengan sendirinya, keteraturan sosial di tengah
keragaman masyarakat pun akan tercipta.
Keteraturan sosial menjadi idaman semua orang, karena keteraturan sosial dapat
menjamin semua kepentingan, baik individu maupun kelompok. Kepentingan-
kepentingan tersebut dapat terpenuhi secara wajar tanpa adanya konflik dengan
pihak lain. Oleh karena itu, interaksi sosial bagi seorang anak sangat penting dalam
membentuk karakter sosial yang baik dan mampu menghasilkan calon-calon warga
masyarakat yang baik.

1. Coba amatilah perilaku sosial dari seluruh komponen sekolah dan buatlah
deskripsinya secara ringkas!
2. Bagaimana menciptakan keteraturan sosial di lingkungan sekolahmu?
3. Menurutmu komponen-komponen apakah yang perlu dibenahi dan
bagaimana solusinya?

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 85


MEWUJUDKAN KAMTIBMAS DALAM MASYARAKAT

K
eamanan dan ketertiban merupakan sesuatu yang sangat mahal
harganya yang dapat mempengaruhi kelancaran proses interaksi
antarwarga masyarakat dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya.
Terwujudnya keamanan dan ketertiban akan menjamin kelancaran roda
pemerintahan dan terciptanya stabilitas nasional yang mantap.
Untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban di dalam masyarakat,
diperlukan perhatian dari semua pihak, baik aparat keamanan (tentara dan
kepolisian) maupun semua warga masyarakat sebagai komponen bangsa.
Dalam konteks ini peranan aparat keamanan lebih strategis dan lebih penting
daripada peranan rakyat biasa sebagai warga masyarakat.
Petunjuk Simulasi Pro Kontra
1. Siswa dalam kelas dibagi atas dua kelompok. Satu kelompok pro dan satu
kelompok lagi kontra. Tuangkan pendapat dan penjelasan kalian sesuai
dengan kelompok masing-masing berdasarkan pertanyaan di bawah ini!
2. Pilihlah salah seorang dari setiap kelompok yang bertugas sebagai presenter
untuk menyajikan kesimpulan hasil diskusi kelompokmu!
Pertanyaan:
1. Setujukah kalian dengan pendapat pada alinea terakhir bacaan di atas?
Jelaskan disertai dengan data-data pendukung!
2. Bagaimana solusi menciptakan kamtibmas di lingkungan kalian?

MENGELIMINIR BUDAYA TAWURAN

P
ada pergaulan remaja terutama di lingkungan sekolah, anak-anak
membentuk suatu kelompok-kelompok bermain dengan ekses negatif,
yaitu membentuk suatu geng yang mengarah pada akumulasi tenaga

86 Sosiologi SMA/MA Kelas X


fisik untuk mempertahankan kepentingan kelompoknya. Tindakan ini di satu
sisi memang menjadi sarana pergaulan untuk menyerap pengetahuan dan
keterampilan dari satu pihak kepihak yang lain. Tetapi seringkali muncul
sebagai kelompok-kelompok fisik yang cenderung mengembangkan budaya
tawuran dengan kelompok yang lain.
Ada kalanya kelompok yang satu bertemu dengan kelompok yang lain
dan timbul masalah yang sifatnya relatif sepele, maka terjadi perkelahian di
antara kedua geng tersebut. Kejadian ini sering kali dilakukan setelah usai
sekolah atau bahkan meninggalkan jam pelajaran untuk berkelahi dengan
kelompok yang lain.

Pertanyaan:
1. Bagaimana pendapat kamu tentang kerugian akibat adanya tawuran?
2. Mengapa justru budaya tawuran sangat rentan pada anak-anak usia remaja?
3. Bagaimana cara-cara untuk mencegah terjadinya tawuran?

INTERAKSI SOSIAL DAN DINAMIKA SOSIAL


Setiap masyarakat terdiri dari individu-individu yang bersifat heterogen,
artinya masing-masing individu mempunyai latar belakang sosial ekonomi
yang sangat berbeda-beda. Keadaan ini telah mendorong secara naluriah bagi
tiap-tiap individu untuk bekerja sama dalam rangka memenuhi kebutuhan
hidupnya. Proses pemenuhan kebutuhan ini dilakukan melalui interaksi sosial
yang berlangsung terus-menerus, baik antaranggota masyarakat dalam suatu
masyarakat atau pun antarmasyarakat yang berbeda struktur budayanya.
Sebagai hasil proses interaksi sosial, setiap orang dalam masyarakat akan
mendapatkan pengetahuan, nilai-nilai, serta budaya-budaya baru yang
diperoleh dari orang lain atau dari masyarakat yang lain. Proses ini telah
mendorong orang untuk memperbaiki atau merevisi hidupnya termasuk
kebudayaannya seperti pola pikirnya, mata pencariannya, perumahannya, dan
sebagainya. Proses inilah yang dimaksud dengan proses perubahan sosial dan
budaya yang dalam kurun waktu yang panjang disebut dinamika sosial budaya.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 87


Pertanyaan:
1. Bagaimana peranan norma dan nilai dalam proses interaksi sosial?
2. Jelaskan bagaimana kaitan antara interaksi sosial dan dinamika sosial
budaya?
3. Sebutkan bentuk-bentuk kerja sama seperti apa yang kamu alami ketika
kamu masih anak-anak?
4. Apa sajakah yang dapat diperoleh bagi seseorang melalui proses interaksi
sosial dengan individu yang lain, baik dalam satu masyarakat atau pun
antarmasyarakat?
5. Mengapa perubahan sosial budaya suatu bangsa perlu direncanakan secara
saksama dalam waktu sebelumnya? Jelaskan alasanmu!

1. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara individu dengan individu, individu
dengan kelompok individu, dan hubungan antara kelompok individu dengan
kelompok individu.
2. Dinamika sosial pada hakikatnya merupakan keseluruhan perubahan dari seluruh
komponen masyarakat dari waktu ke waktu. Dinamika sosial dapat berupa
perubahan-perubahan yang positif maupun yang negatif. Di dalam dinamika
sosial, seluruh elemen masyarakat beserta dengan perangkat-perangkatnya saling
berinteraksi dan mempengaruhi sehingga mewujudkan suatu gerak dari
keseluruhan komponen yang ada di dalam masyarakat.
3. Interaksi sosial merupakan komponen yang paling dasar dalam mewujudkan
suatu dinamika sosial dan budaya di dalam masyarakat. Dengan interaksi sosial,
akan terjadi proses pemindahan nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan-
keterampilan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain sehingga menimbulkan
perubahan-perubahan.
4. Faktor-faktor yang mendorong terjadinya interaksi sosial
x Sugesti x Simpati
x Imitasi x Motivasi
x Identifikasi x Empati
5. Dengan terbentuknya suatu masyarakat, maka terbentuk pula community
sentiment, yaitu seperasaan, senasib, dan sepenanggungan yang muncul di dalam

88 Sosiologi SMA/MA Kelas X


hati setiap warga masyarakat. Dengan community sentiment ini, kehidupan
bersama dalam masyarakat akan terbangun dengan kokoh.
6. Untuk mewujudkan kehidupan di masa depan yang lebih baik, dibentuklah
lembaga-lembaga sosial yang mengurus kebutuhan mendasar dari setiap warga
masyarakat.
x Hubungan antarstatus x Hubungan kekeluargaan
x Hubungan antarkepentingan x Hubungan persahabatan
7. Proses pembentukan lembaga sosial dalam perkembangan keteraturan sosial
x tertib sosial x keajegan
x order x pola perilaku
8. Proses terbentuknya kelompok. Kelompok diawali degnan orang-orang yang
berkerumun dan berinteraksi. Jika di dalamnya telah tumbuh ikatan persamaan
kepentingan, persamaan senasib, persepsi atau tujuan, suatu kerumunan dapat
dikatakan telah menjadi kelompok. Selain itu, dalam kelompok tersebut telah
terjadi hubungan timbal balik dan ada norma-norma yang dipatuhi oleh masing-
masing anggota.
9. Proses terbentuknya organisasi sosial. Terbentuknya organisasi diawali oleh
persekutuan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi dan bekerja sama.
Kerja sama ini dapat didasari oleh adanya persamaan profesi, kepentingan, visi,
dan misi.
10. Faktor-faktor penyebab perubahan dan dinamika sosial
x Perubahan lingkungan alam
x Perubahan situasi kependudukan
x Perubahan struktur sosial
x Perubahan nilai dan sikap
Selain faktor-faktor di atas, perubahan dan dinamika sosial juga disebabkan
oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor internal
x Gerakan sosial (sosial revolution)
x Penemuan baru (invention dan discovery)
x Perencanaan perubahan pembangunan
b. Faktor eksternal
x Pengaruh kebudayaan lain
x Pengaruh lingkungan alam
x Peperangan
11. Ada hubungan timbal balik antara interaksi sosial dan keteraturan sosial. Interaksi
sosial yang mengarah pada kerja sama dengan sendirinya akan menciptakan
keteraturan sosial.

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 89


Soal Objektif

Pilihlah satu jawaban yang benar dengan menyilang huruf A, B, C, D atau E!

1. Interaksi sosial dapat berlangsung bilamana memenuhi syarat antara lain . . . .


A. ada kontak sosial dan komunikasi
B. ada pelaku dan dimensi waktu
C. ada tujuan yang hendak dicapai dan simbol
D. ada tindakan dan norma sosial
E. ada pelaku dan tata nilai

2. Status sosial dapat mempengaruhi pola interaksi sosial, status sosial dapat
diperoleh melalui faktor keturunan atau kelahiran, misalnya gelar ningrat yang
dapat disebut dengan . . . .
A. tipe status D. assigned status
B. ascribed status E. sosial status
C. achieved status

3. Interaksi sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, dalam proses sosial
tersebut seseorang yang cenderung menanggapi anjuran tertentu dari pihak lain
tanpa berpikir panjang pada individu penerima disebut . . . .
A. identifikasi D. imitasi
B. empati E. simpati
C. sugesti

4. Interaksi sosial dapat dinamakan proses sosial, salah satu bentuk proses yang
disosiatif antara lain . . . .
A. sosialisasi D. kompetisi
B. akomodasi E. akulturasi
C. asimilasi

5. Salah satu bentuk proses sosial asosiatif antara lain kerja sama, adapun contoh
bentuk kerja sama antara lain . . . .
A. coercion D. kompetisi
B. akomodasi E. akulturasi
C. asimilasi

90 Sosiologi SMA/MA Kelas X


6. Suatu proses sosial asimilasi dapat berjalan dengan lancar, salah satu faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi antara lain . . . .
1. persamaan unsur-unsur kebudayaan
2. kesempatan di bidang ekonomi yang seimbang
3. toleransi di antara mereka
4. perbedaan ekstrem latar belakang budaya
5. terisolasinya golongan tertentu
Pernyataan di atas yang benar adalah . . . .
A. 1, 2, dan 3 D. 2, 3, dan 5
B. 1, 2, dan 4 E. 3, 4, dan 5
C. 1, 2, dan 4

7. Perhatikan pernyataan di bawah ini!


1. sebagai petunjuk arah dan pemersatu
2. merupakan alat pendorong dan pemersatu
3. dapat ditularkan
4. terbentuk melalui proses belajar
5. mempunyai pengaruh yang berbeda
Pernyataan di atas yang merupakan ciri-ciri nilai sosial adalah . . . .
A. 1, 2, dan 3 D. 2, 3, dan 5
B. 1, 2, dan 4 E. 3, 4, dan 5
C. 1, 4, dan 5

8. Macam-macam nilai sosial:


1. nilai ekonomi, nilai watak
2. nilai kebenaran, nilai kebaikan
3. nilai religius, nilai keindahan
4. nilai kejasmanian, nilai intelektual
5. nilai material, nilai vital
Uraian di atas, yang termasuk nilai sosial menurut Prof. Dr. Notonegoro
adalah . . . .
A. 1 dan 2 D. 4 dan 5
B. 2 dan 3 E. 5 dan 1
C. 3 dan 4

9. Budi selalu bersikap sopan, hormat, dan patuh kepada kedua orang tuanya.
Tingkah laku Budi tersebut merupakan contoh tindakan sosial . . . .
A. irasional D. tradisional
B. afektif E. rasional
C. instrumental

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 91


10. Perhatikan contoh bentuk-bentuk interaksi sosial berikut!
1. kerja sama membangun perusahaan
2. pengaturan kegiatan bersama dengan baik
3. persaingan tidak sehat mencapai prestasi terbaik
4. penyebaran rasa benci untuk menjatuhkan orang lain
5. perselisihan dengan cara yang kasar
Dari contoh interaksi sosial di atas, yang bersifat disosiatif adalah . . . .
A. 3, 4, dan 5 D. 1, 2, dan 4
B. 2, 4, dan 5 E. 1, 2, dan 3
C. 2, 3, dan 5

11. Faktor penyebab terjadinya perbedaan nilai yang menjadi orientasi tindakan
individu dalam masyarakat adalah . . . .
A. kepribadian dan sikap D. waktu dan tempat
B. ras dan keturunan E. tempat dan kebudayaan
C. latar belakang pendidikan

12. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu dengan individu,
antara kelompok dengan kelompok, dan kelompok dengan individu. Faktor
yang mempengaruhi terjadinya interaksi sosial adalah . . . .
A. kontak D. imitasi
B. komunikasi E. penerima
C. sumber

13. Suatu sistem norma yang mengatur segala tindakan manusia dalam memenuhi
kebutuhan pokoknya dalam hidup bermasyarakat disebut . . . .
A. sistem sosial D. pranata sosial
B. norma sosial E. custom
C. folkways

14. Dalam suatu kehidupan masyarakat, keteraturan sosial dapat terbentuk


dikarenakan adanya . . . .
A. keselarasan antara interaksi dengan norma dan nilai sosial yang berlaku
B. norma-norma sosial beserta sanksi-sanksi bagi yang melanggar
C. sistem nilai yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat
D. ketaatan masyarakat terhadap norma sosial yang berlaku
E. kondisi masyarakat yang mau menerima norma-norma sosial

15. Dalam kehidupan masyarakat terdapat perbedaan tentang nilai-nilai yang mereka
anut disebabkan adanya perbedaan-perbedaan, antara lain . . . .

92 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. harapan, tujuan, motivasi, perencanaan
B. tata nilai, keinginan, kemampuan, fasilitas
C. kondisi lingkungan, tujuan, kemauan, kemampuan
D. pengetahuan, kebudayaan, pengalaman, kebiasaan
E. kebiasaan, kepribadian, lingkungan, tata nilai
16. Suatu kondisi masyarakat yang teratur di mana sistem norma dan nilai-nilai
sosial yang berkembang diakui dan dipatuhi seluruh anggota masyarakat sehingga
berbentuk pembagian kerja dan pranata sosial dalam setiap individu atau
kelompok disebut . . . .
A. pola D. order
B. tertib sosial E. keajegan
C. keteraturan sosial
17. Masyarakat dapat dinyatakan telah mencapai kondisi tertib, adapun salah satu
cirinya . . . .
A. sebagian besar masyarakat menerima norma tersebut
B. norma-norma sosial tersebut diterima secara mantap
C. adanya tata nilai tertentu yang dipakai oleh masyarakat
D. norma-norma sosial tersebut mempunyai sanksi-sanksi
E. terdapat suatu sistem nilai dan norma yang jelas

18. Proses yang cenderung bersatu dan meningkatkan solidaritas anggota-anggota


kelompok merupakan bentuk proses . . . .
A. disosiatif D. kompetisi
B. asosiatif E. akomodasi
C. kerja sama

19. Keteraturan sosial merupakan hubungan selaras antara . . . .


A. norma dan tata tertib yang berlaku dalam masyarakat
B. sosialisasi dan komunikasi antarindividu dalam kelompok
C. proses sosial, struktur sosial, dan interaksi anggota masyarakat
D. individu, kelompok, dan anggota masyarakat seluruhnya
E. interaksi sosial, norma sosial, dan nilai yang berlaku dalam masyarakat

20. Interaksi sosial merupakan dasar dari terjadinya . . . .


A. sistem sosial D. status sosial
B. struktur sosial E. proses sosial
C. kelas sosial

Bab 3 Interaksi Sosial dan Dinamika Sosial 93


Soal Essay

Jawablah soal-soal berikut ini dengan singkat dan tepat!


1. Jelaskan proses terbentuknya suatu lembaga!
2. Sebutkan faktor-faktor yang mendorong terjadinya interaksi sosial!
3. Karakteristik apa saja yang menandai adanya hubungan antarstatus?
4. Mengapa berubahnya lingkungan alam dapat menyebabkan perubahan dan
dinamika sosial?
5. Sebutkan bentuk-bentuk dari perubahan situasi kependudukan!
6. Apa yang dimaksud dengan struktur sosial?
7. Apa yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan?
8. Apa yang dimaksud keteraturan sosial?
9. Bagaimana upaya menciptakan keteraturan sosial di dalam masyarakat?
10. Apa sumbangan dari adanya keteraturan sosial terhadap pembangunan bangsa?
jelaskan!

94 Sosiologi SMA/MA Kelas X


SOSIALISASI DAN
PEMBENTUKAN
KEPRIBADIAN

Tujuan Pembelajaran
Mendefinisikan
sosialisasi dan
pembentukan
kepribadian.
Menghubungkan
pembentukan
kepribadian dengan
kebudayaan.
Mendeskripsikan
hubungan sosialisasi
dengan kepribadian.
Sumber: Koleksi Editor

P
roses sosialisasi pada dasarnya merupakan proses belajar
berinteraksi yang dilakukan oleh seorang individu di tengah-
tengah masyarakat dalam rangka menyesuaikan diri dengan
tata pergaulan dalam masyarakat. Melalui proses sosialisasi, seseorang
akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tentang struktur
masyarakat, struktur budaya, termasuk sistem nilai dan norma yang
dipedomani oleh warga masyarakat. Bersamaan dengan proses
sosialisasi berlangsung pula proses pembentukan kepribadian
individu. Setelah individu mencapai usia dewasa, kepribadian
terbentuk secara stabil yang dapat terlihat melalui perilaku-perilaku
yang khas.
Sebagaimana kita ketahui bahwa kepribadian merupakan
gambaran umum yang menyeluruh dari perilaku yang khas yang
dimiliki seseorang. Kepribadian bersifat abstrak yang perwujudannya
dapat dilihat melalui beberapa aspek yang ada pada tiap-tiap individu
seperti perangai, prakarsa, kerja sama, pengendalian emosi,
kegemaran, dan tanggung jawab yang tampak sehari-hari. Kepribadian
terbentuk dari perpaduan antara faktor intern yang berupa warisan
biologis dan faktor ekstern yang berupa pengaruh-pengaruh dari
lingkungan di luar diri individu. Bagaimanakah sosiologi yang kamu
jalankan mempengaruhi kepribadianmu? Coba ikuti bab berikut ini.

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 95


Sosialisasi Sosialisasi Ciri-ciri
Primer Sekunder Fisik

j j Tingkat
j Intelegensi
Proses Sosialisasi j
Warisan Biologis j
j
Bakat-bakat
j Seni
Keluarga, Play
j

Media Sosialisasi Group,


Lingkungan
Sifat-sifat
Pendidikan,
Khas
Media Massa j

Kepribadian
j

j
j

Otoriter Peralihan Normatif

96 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. PERANAN NILAI DAN NORMA SOSIAL DALAM PROSES SOSIALISASI
Tiap-tiap masyarakat mempunyai sistem nilai dan norma yang berbeda-beda.
Sistem nilai dan norma tumbuh dan berkembang melalui proses yang relatif
panjang dan terseleksi sehingga norma dan nilai merupakan segala sesuatu yang
dianggap baik dan benar dan dijadikan pedoman untuk menyatakan benar atau
tidaknya suatu perbuatan yang dilakukan orang di tengah-tengah masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut, nilai dan norma seperti dikatakan mempunyai
peranan yang sangat penting dalam proses sosialisasi yang dilakukan oleh seorang
individu.
Penjelasan secara lengkap mengenai nilai sosial dan norma sosial termasuk
peranannya secara detail akan dijabarkan pada uraian berikut ini.

1. Perbedaan Nilai dan Norma Sosial


Secara mendasar, perbedaan nilai dan norma dalam penerapan pengaturan tertib
sosial dalam masyarakat adalah sebagai berikut.

Nilai Sosial Norma Sosial

1. Terbentuk lebih dulu daripada 1. Terbentuk setelah adanya nilai,


norma norma dibuat untuk melaksanakan
nilai

2. Bersifat abstrak (samar-samar) 2. Bersifat konkret (nyata, jelas, dan


tegas)

3. Belum dilengkapi sanksi 3. Telah dilengkapi dengan sanksi

4. Tidak tertulis 4. Bisa tertulis, bisa tidak tertulis

5. Mempunyai fungsi sebagai 5. Mempunyai fungsi mengatur


pedoman perilaku warga dan membatasi perilaku warga
masyarakat masyarakat

a. Nilai Sosial
Setiap masyarakat mempunyai sistem tata kelakuan dan hubungan sendiri-sendiri.
Sistem inilah yang disebut tata nilai. Selanjutnya tata nilai ini akan diaktualisasikan
dalam bentuk norma-norma sosial yang lebih bersifat eksplisit dan dilengkapi dengan
sanksi. Agar nilai-nilai sosial ini dapat dilaksanakan oleh warga, norma-norma sosial
dibentuk dengan isi, perintah-perintah, dan larangan-larangan. Nilai-nilai sosial ini
merupakan aktualisasi dari kehendak masyarakat mengenai segala sesuatu yang
dianggap benar dan baik.

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 97


x Pengertian Nilai Sosial
Pada dasarnya, nilai sosial adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan
benar yang dicita-citakan oleh warga masyarakat. Contoh-contoh nilai antara
lain jujur, adil, rajin, hemat, bersahaja, tawakal, beriman, sholeh dan sholehah,
dan lain-lain.
Menurut Soleman (1990:63), mengatakan bahwa “Nilai-nilai juga memberikan
perasaan identitas masyarakat dan menentukan seperangkat tujuan yang hendak
dicapai”. Nilai sosial secara umum dapat dinyatakan sebagai keyakinan relatif
kepada yang baik dan buruk, yang benar dan salah, kepada apa yang seharusnya
ada, dan apa yang seharusnya tidak ada. Pengertian tersebut dipertegas oleh
Polak (1985:30), yang mengatakan bahwa nilai atau values dimaksudkan sebagai
ukuran-ukuran, patokan-patokan, anggapan-anggapan, dan keyakinan-keyakinan
yang dianut oleh orang banyak dalam lingkungan suatu kebudayaan tertentu
mengenai apa yang benar, pantas, luhur, dan baik untuk dikerjakan, dilaksanakan,
atau diperhatikan.
Setelah nilai sosial terseleksi dan berupa sesuatu yang telah dinyatakan
benar dan baik, dapat dikatakan nilai adalah hasil penilaian atau pertimbangan
moral. Seperti halnya norma, nilai juga bisa berbeda-beda antara masyarakat
yang satu dengan lainnya. Misalnya, suatu masyarakat menjunjung tinggi
anggapan tentang waktu adalah uang dan kerja keras, sedangkan di masyarakat
lain menganggap kedua hal tersebut “tidak penting” atau dianggap sebagai
gejala materialisme. Ada masyarakat yang amat mementingkan bentuk, sikap
lahiriah yang sopan, dan tutur kata yang ramah. Masyarakat Indonesia sendiri
pada umumnya menilai pentingnya “gotong royong” dan “hubungan
kekerabatan”. Dengan demikian, kita sudah mempunyai gambaran bahwa nilai
adalah sesuatu yang baik yang selalu diinginkan, dicita-citakan, serta dianggap
benar dan penting oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat.
Dilihat dari sudut perilaku masyarakat, nilai juga bisa diartikan sebagai
sesuatu (tindakan) yang dianggap baik, benar, dan berguna berdasarkan ukuran
yang berlaku dalam masyarakat. Nilai sosial sendiri adalah penghargaan yang
diberikan masyarakat kepada segala bentuk sesuatu yang baik, penting, hukum,
pantas dan mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan dan kebaikan
hidup bersama.
Masih banyak pendapat-pendapat mengenai nilai sosial antara lain yang
dikemukakan oleh tokoh-tokoh berikut ini.
 Green, melihat nilai sosial sebagai kesadaran yang berlangsung secara relatif
dan disertai emosi terhadap objek, ide, dan orang perorangan.
 Young, merumuskan bahwa nilai sosial adalah asumsi-asumsi yang abstrak
dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang penting.

98 Sosiologi SMA/MA Kelas X


 Woods, menyatakan bahwa nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum
yang telah berlangsung lama, yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan
dalam kehidupan sehari-hari.
x Tolok Ukur Nilai Sosial
Setiap nilai sosial pada suatu masyarakat mempunyai tolok ukur yang
berbeda-beda. Tetapi secara universal, tolok ukur nilai ini tidaklah jauh berbeda
antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Tolok ukur yang
dipakai memberi nilai (penghargaan) tertentu, yaitu daya guna fungsional yang
dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Dikatakan “daya guna fungsional”
karena setiap obyek dihargai menurut fungsinya dalam struktur dan sistem
masyarakat yang bersangkutan. Jadi, penghargaan yang diberikan berbeda-beda
tergantung pada besar kecilnya fungsi.
x Jenis-jenis Nilai Sosial
Menurut Prof. DR. Notonegoro, nilai dapat dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu sebagai berikut.
 Nilai material adalah segala benda yang berguna bagi jasmani manusia.
 Nilai vital adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat
melakukan kegiatan atau aktivitasnya.
 Nilai kerohanian adalah segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.
Nilai kerohanian dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu sebagai
berikut.
 Nilai kebenaran (kenyataan) yang bersumber dari akal manusia (cipta, rasio,
budi).
 Nilai keindahan yang bersumber pada unsur rasa manusia (estetika).
 Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada unsur kehendak/
keamanan (karsa, etik).
 Nilai religius yang merupakan nilai ketuhanan, kerohanian yang tertinggi
dan mutlak. Nilai religius ini bersumber pada kepercayaan/keyakinan
manusia.
x Ciri-ciri Nilai Sosial
Secara universal nilai sosial mempunyai karakteristik sebagai berikut.
 Terbentuk dari hasil interaksi sosial antarwarga masyarakat.
 Dapat disebarluaskan melalui pergaulan.
 Terbentuk melalui proses belajar.
 Berbeda-beda antara kebudayaan yang satu dengan yang lain.
 Dapat mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap setiap orang dalam
masyarakat.
 Merupakan faktor pembentuk pribadi seseorang, baik positif maupun negatif.
 Merupakan hasil seleksi dari berbagai macam aspek kehidupan di dalam
masyarakat.

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 99


b. Norma Sosial
Untuk mewujudkan nilai-nilai sosial yang telah diyakini kebenarannya, diperlukan
suatu peraturan untuk menjamin terlaksananya nilai-nilai sosial tersebut dalam bentuk
norma sosial. Norma sosial dibuat berisi perintah dan larangan yang dilengkapi
dengan sanksi dengan maksud agar dapat dipatuhi sehingga warga masyarakat
dapat berperilaku secara baik sebagaimana nilai-nilai yang ada.
x Pengertian Norma Sosial
Yang dimaksud norma sosial adalah semua bentuk ketentuan, baik tertulis
maupun tidak tertulis yang ada dan berlaku di dalam masyarakat untuk me-
ngatur hubungan dan pengaruh timbal balik antaranggota masyarakat dalam
melakukan aktivitas sosialnya. Norma sosial ini meliputi norma agama, norma
kesusilaan dan kesopanan, norma adat dan kebiasaan, serta norma hukum.
Meskipun keempatnya mempunyai bidang pengaturan yang berbeda-beda, tetapi
terdapat banyak persamaan yang berupa moralitas yang bersifat universal
(umum).
Secara kodrati seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles, bahwa manusia
adalah makhluk sosial (Zoon Politicon), yang mengadakan hubungan timbal
balik/berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk kelangsungan
hidupnya. Dalam berinteraksi inilah terjadi berbagai macam pengaruh, baik
yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif.

Sumber: Tempo, 16 Juni 2002

à Gambar 4.1 Pencemaran lingkungan oleh suatu perusahaan melalui


pembuangan limbah sembarangan dapat merugikan ekosistem sekitarnya
sehingga perusahaan tersebut dapat dijerat dengan norma hukum.

100 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Dilihat dari aspek penyelamatan dan menjaga kelangsungan hidup
masyarakat, manusia menciptakan norma-norma atau kaidah-kaidah yang
berfungsi melindungi diri dari kekuatan-kekuatan destruktif. Pada hakikatnya,
norma-norma tersebut merupakan petunjuk-petunjuk tentang bagaimana
manusia harus bertindak dan bertingkah laku di dalam pergaulan hidup. Pada
mulanya, norma-norma itu terbentuk secara tidak sengaja, tetapi lama kelamaan
norma itu dibuat secara wajar. Misalnya, dalam soal jual beli, dahulu seorang
perantara tidak diberi keuntungan, sekarang seorang perantara harus mendapat
bagiannya. Dalam soal perjanjian, dahulu berbentuk lisan sekarang harus
berbentuk tulisan.
Dengan adanya norma, seseorang tidak dapat bertindak semaunya sendiri
dalam kehidupan bermasyarakat. Norma memungkinkan seseorang untuk
menentukan terlebih dahulu bagaimana tindakannya itu akan dinilai oleh orang
lain. Pada kondisi seperti ini, norma merupakan kriteria bagi orang lain untuk
mendukung atau menolak perilaku seseorang. Berdasarkan uraian tersebut, dapat
dirumuskan bahwa norma merupakan petunjuk hidup bermasyarakat yang berisi
perintah atau larangan demi tercapainya ketertiban dan kedamaian.

x Daya Ikat Norma


Dalam proses tumbuh dan berkembangnya, suatu norma sosial mempunyai
tahapan-tahapan dengan daya ikat yang berbeda-beda. Adapun tahapan-tahapan
proses terbentuknya norma sosial sesuai dengan tingkatan daya mengikatnya
adalah sebagai berikut.

 Cara (Usage)
Pada hakikatnya, usage menunjuk kepada suatu bentuk perbuatan. Norma
ini mempunyai daya ikat yang sangat lemah di antara norma-norma lainnya.
Cara (usage) lebih menonjol di dalam hubungan antara individu. Suatu
penyimpangan terhadap usage tidak akan mengakibatkan hukuman yang
berat, tetapi sekadar celaan, cemoohan, ejekan, sinisme, dan sebagainya,
sehingga mereka dijauhi oleh masyarakat di lingkungannya.
Contoh: orang memakai topi secara benar, lidah topi berada di depan,
tidak di samping kanan, kiri atau di belakang. Tetapi ketentuan ini belum
memiliki daya ikat yang kuat karena seolah-olah tidak ada sanksinya. Bila
ada yang memakainya tidak seperti kelaziman, yang ada hanya berupa
teguran agar dipakai dengan benar.

 Kebiasaan (Folkways)
Folkways adalah norma yang mempunyai kekuatan mengikat lebih tinggi
daripada usage. Kebiasaan adalah perbuatan yang diulang-ulang dalam
bentuk yang sama. Sesuatu yang diulang-ulang memberikan bukti bahwa
perbuatan itu dianggap baik.

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 101


Contoh: apabila memasuki rumah orang lain sebaiknya permisi dulu
dengan mengetuk pintu atau memberi salam seperti “assalamu‘alaikum”.
Selanjutnya baru memasuki rumah ketika dipersilahkan oleh tuan rumah.
Kebiasaan ini juga belum mempunyai daya ikat yang relatif kuat karena
memasuki rumah teman atau saudara kandung kadang-kadang tidak perlu
melakukan itu dan tidak akan dipersalahkan. Tetapi ketika memasuki rumah
orang yang benar-benar yang belum dikenal, barulah hal tersebut
dilaksanakan.

 Tata Kelakuan (Mores)


Pada perkembangan norma sosial setingkat, tata kelakuan atau mores
mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari kelompok manusia yang
dilaksanakan sebagai alat pengawas, secara sadar atau tidak sadar oleh
masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Tata kelakuan tersebut
memaksakan satu perbuatan yang lain. Jadi, tata kelakuan merupakan alat
agar para anggota masyarakat menyesuaikan perbuatan-perbuatannya
dengan tata kelakuan tersebut.

 Adat Istiadat (custom)


Apabila suatu kelakuan telah menyatu dengan struktur budaya setempat,
maka terbentuklah norma dengan tingkatan yang lebih tinggi daya ikatnya
yang disebut adat. Pada dasarnya, adat istiadat atau custom adalah suatu
tata kelakuan yang sakral dan kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku
masyarakat, serta memiliki kekuatan yang mengikat. Pelanggaran terhadap
adat istiadat akan dikenakan sanksi yang keras, baik langsung maupun tidak
langsung.
Contoh: dalam suatu rangkaian upacara perkawinan menurut tata cara
adat selalu didahului dengan upacara lamaran dan peningsit sebagai suatu
tanda ikatan antara calon mempelai laki-laki dengan calon mempelai
perempuan. Apabila tidak melalui prosedur itu, seorang individu akan
dicemooh atau dihina oleh warga masyarakat karena tidak mematuhi tata
cara adat sebagaimana layaknya dilakukan oleh warga masyarakat yang
lain.

x Jenis-jenis Norma
Berlakunya suatu norma dalam masyarakat dapat berlangsung dalam
lingkungan pergaulan yang formal seperti dalam tata pemerintahan atau dalam
suasana nonformal seperti yang berada dalam lingkungan keluarga, kerabat,
atau lingkungan permainan. Norma terbagi menjadi dua kelompok, yaitu norma
dilihat dari resmi atau tidaknya dan norma utama.

102 Sosiologi SMA/MA Kelas X


 Norma resmi dan tidak resmi
(1) Norma resmi (formal)
Pada dasarnya, norma resmi adalah patokan yang dirumuskan dan
diwajibkan dengan jelas dan tegas oleh yang berwenang kepada semua
warga masyarakat. Contoh: hubungan tata kerja kedinasan di lingkungan
Departeman Pertahanan dan Keamanan.
(2) Norma tidak resmi (nonformal)
Yang dimaksud dengan norma tidak resmi adalah patokan yang
dirumuskan secara tidak jelas (subconscious) dan pelaksanaannya tidak
diwajibkan bagi warga masyarakat yang bersangkutan. Norma tersebut
tumbuh dari kebiasaan bertindak yang seragam dan diterima oleh
masyarakat. Walaupun dikatakan tidak diwajibkan, namun semua angota
sadar bahwa patokan tidak resmi itu harus ditaati dan mempunyai
kekuatan memaksa yang lebih besar dari patokan resmi. Contoh: norma-
norma pergaulan dalam keluarga dan kerabat.
 Norma Utama
Norma utama adalah norma-norma yang mempunyai peranan sangat strategis
dalam tata pergaulan masyarakat. Norma-norma utama dibedakan menjadi
empat macam, antara lain:
(1) Norma Agama
Norma agama pada hakikatnya merupakan wahyu langsung dari Tuhan.
Dalam norma agama tidak ada ancaman sanksi nyata dalam kehidupan
dunia. Hanya orang yang beragama yang percaya bahwa pelanggar
norma akan dihukum di akhirat dan yang mematuhi norma-norma agama
akan mendapat pahala. Jadi, norma agama lebih menyangkut pribadi
tiap-tiap individu, dan pada kenyataannya merupakan faktor yang tidak
kecil artinya dalam menjamin ketertiban masyarakat.
(2) Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan adalah petunjuk hidup yang berasal dari akhlak atau
dari hati nurani sendiri tentang apa yang baik dan apa yang buruk yang
datang dari hati sanubari manusia itu sendiri. Contoh: berpelukan dan
berciuman di depan umum, meskipun mereka suami istri tetapi dianggap
bertentangan dengan norma kesusilaan.
(3) Norma Kesopanan
Norma kesopanan adalah petunjuk hidup yang mengajarkan agar
seseorang bersikap sopan terhadap orang lain sebagai anggota
masyarakat. Contoh: meludah di sembarang tempat, memasuki
rumah orang lain hendaknya memberi isyarat terlebih dahulu, yaitu

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 103


menyatakan punten (Sunda), kulonuwun (Jawa), assalamu‘alaikum, dan
sebagainya.
(4) Norma Kebiasaan
Norma kebiasaan adalah kumpulan petunjuk hidup tentang perilaku yang
diulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan
masyarakat. Contoh: membawa oleh-oleh ketika pulang dari bepergian,
pembakaran mayat (ngaben), dan sebagainya.
(5) Norma Adat
Kebiasaan-kebiasaan yang telah menyatu dengan tata kehidupan
masyarakat serta mengandung nilai-nilai ritual yang diyakini dinamakan
norma adat. Contoh: upacara kematian dan upacara pernikahan
(6) Norma Hukum
Norma hukum adalah himpunan petunjuk hidup atau peraturan-
peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Norma itu mengatur, melarang,
serta memaksa orang untuk berperilaku sesuai dengan yang ditetapkan
oleh hukum atau undang-undang. Norma hukum berfungsi untuk
menertibkan dan menstabilkan kehidupan sosial. Selain itu, hukum juga
berfungsi sebagai sistem kontrol sosial.

2. Fungsi Nilai dan Norma Sosial


Secara garis besar, nilai dan norma sosial mempunyai beberapa fungsi, yaitu
sebagai petunjuk arah perilaku, benteng perlindungan, dan pendorong.

a. Sebagai Petunjuk Arah Perilaku


Nilai dan norma berfungsi sebagai arah atau panduan perilaku warga masyarakat.
Ini mengandung pengertian bahwa nilai dan norma telah terseleksi sebagai suatu
panduan perilaku yang diyakini kebenarannya. Selanjutnya panduan perilaku itu
dapat dicontoh oleh warga masyarakat yang lain dalam berbagai segi kehidupan.
Dengan demikian, warga masyarakat akan berperilaku sebagaimana yang diinginkan
oleh sistem nilai dan norma yang ada.

b. Sebagai Benteng Perlindungan


Nilai dan norma dalam suatu tata pergaulan merupakan pelindung terhadap
perilaku-perilaku yang menyimpang, terutama bagi pihak-pihak yang lemah. Dengan
demikian, nilai dan norma akan melindungi pihak-pihak yang lemah sehingga tidak
diperlakukan semena-mena oleh pihak-pihak yang kuat. Tanpa adanya nilai dan
norma yang berlaku, kepentingan pihak-pihak yang lemah sering kali dirampas
oleh pihak-pihak yang kuat. Tetapi dengan melalui sanksi yang ada pada setiap

104 Sosiologi SMA/MA Kelas X


norma, perbuatan semena-mena itu dapat dicegah secara preventif maupun represif
untuk melindungi yang lemah.

c. Sebagai Pendorong
Di sisi lain nilai dapat berfungsi sebagai alat pendorong (motivator) dan sekaligus
menuntun manusia untuk berbuat baik. Karena adanya nilai sosial yang luhur,
munculah harapan baik dalam diri manusia. Dengan kata lain, apabila manusia
dari bangsa dan negara yang telah maju sanggup dan berhasil merealisasikan diri
mereka menjadi manusia yang paripurna, maka manusia-manusia dari bangsa yang
belum maju pun akan terdorong untuk mengejar keparipurnaan tersebut. Manusia
menjadi manusia paripurna berkat keberhasilannya merealisasikan nilai sosial yang
tinggi menjadi kenyataan konkret. Berkat adanya nilai-nilai sosial yang dijunjung
tinggi itulah, manusia menjadi manusia yang sungguh-sungguh berbudi luhur dan
suatu bangsa menjadi bangsa yang sungguh-sungguh beradab.

Sumber: Tempo, 4 Maret 2001

à Gambar 4.2 Aparat penegak hukum hendaknya dapat benar-benar


menegakkan hukum dan melindungi masyarakat, bukan sebagai
alat untuk menakut-nakuti rakyat.

3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Perubahan Nilai dan


Norma
Sebagaimana kita ketahui bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini
tidak bersifat kekal, melainkan dapat mengalami pergeseran atau perubahan secara
mencolok. Hal yang demikian dapat juga terjadi pada nilai dan norma sosial yang
telah dibakukan kebenarannya. Norma dan nilai pada dasarnya akan mengalami

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 105


perubahan atau pergeseran sesuai dengan perubahan tuntutan kebutuhan masyarakat.
Hal ini berkaitan dengan pengaturan perilaku warga masyarakat untuk menciptakan
tertib sosial. Sebagai contoh: ketika Indonesia merdeka, norma-norma hukum berada
dalam jumlah yang sangat sedikit. Itu saja merupakan warisan dari pemerintah
Hindia Belanda. Tetapi dengan perubahan-perubahan tingkat peradaban masyarakat
Indonesia, mulai bermunculan peraturan-peraturan perundangan untuk menyesuaikan
dengan tuntutan kehidupan pada saat itu. Perubahan-perubahan itu misalnya
ditandai dengan munculnya Undang-Undang Pendidikan Nomor 2 tahun 1989
yang kemudian disempurnakan menjadi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003.
Berikut ini adalah faktor-faktor penyebab terjadinya perubahan nilai dan norma di
masyarakat.

a. Berubahnya Struktur Pemerintahan


Suatu revolusi sosial sering kali diikuti dengan perubahan struktur pemerintahan
secara mendasar. Perubahan struktur pemerintahan dalam suatu negara sering kali
berkelanjutan dengan perubahan sistem nilai dan norma dari pemerintah terdahulu
kepada pemerintahan yang baru. Hal ini terjadi terutama apabila figur penguasa
terdahulu mempunyai visi dan misi yang berbeda dengan figur pemerintahan yang
baru. Sebagai salah satu contoh kejadian yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini,
yaitu setelah runtuhnya pemerintahan Soeharto dengan nafas Golongan Karya
menjadi sistem pemerintahan reformasi hingga pemerintahan Megawati yang
bernafaskan demokrasi. Di Indonesia, perubahan pemerintahan dari orde lama ke
orde baru banyak sekali mengakibatkan perubahan tata nilai yang menyangkut
perubahan perundang-undangan. Hal serupa juga terjadi pada peralihan struktur
pemerintahan dari orde baru ke orde reformasi.

b. Perubahan Tingkat Peradaban


Sebagai akibat adanya penemuan baru, baik invention maupun discovery akan
mendorong terjadinya inovasi-inovasi. Melalui inovasi inilah, tingkat peradaban
akan mengalami peningkatan. Cepat atau lambat setiap masyarakat tentu mengalami
perubahan dan perkembangan. Dengan perubahan dan perkembangan ini, berubah
pula sistem budaya, sistem ilmu pengetahuan, dan teknologi berikut perubahan tata
nilai dan sistem norma. Sebagai contoh dengan munculnya bencana banjir di
beberapa kota besar di Indonesia seperti di Jakarta, misalnya telah melahirkan suatu
ide untuk menertibkan dan membuat peraturan perundangan baru yang melarang
pendirian bangunan/rumah pada daerah-daerah resapan. Demikian juga munculnya
RUU Pengaturan Penggunaan Air Tanah. Dari dua contoh ini, terjadi perubahan
nilai dan norma yang semata-mata didorong oleh tuntutan perubahan tingkat
peradaban yang terjadi dalam masyarakat. Demikian juga perubahan-perubahan
yang terjadi pada teknologi informatika, teknologi transportasi, teknologi pendidikan,
dan lain-lain.
c. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ilmu pengetahuan dan teknologi senantiasa mengalami perubahan dan
perkembangan. Perubahan dan perkembangan itu semata-mata adalah untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja manusia. Akibat lanjutannya adalah
munculnya perubahan-perubahan peraturan perundangan yang dipandang sudah
tidak efektif untuk mengatur dan mengendalikan perilaku warga masyarakat.

1. Apakah yang dimaksud dengan sosialisasi primer dan sekunder?


2. Jelaskan macam-macam norma sosial yang ada di dalam masyarakat beserta
peranannya!
3. Bagaimana peranan norma dan nilai dalam proses sosialisasi?
4. Ada empat fungsi keluarga yang pokok, sebutkan dan jelaskan!

d. Penemuan-penemuan Baru
Sebagai tindak lanjut dari berkembangnya tingkat pendidikan, maka manusia
terus-menerus melakukan penyelidikan dan penjelajahan untuk mengungkap
fenomena-fenomena alam dan fenomena sosial yang ada di muka bumi. Upaya-
upaya inilah yang kita sebut penemuan baru. Pada dasarnya, penemuan baru dapat
berupa discovery maupun invention. Penemuan baru ini akan berkelanjutan dengan
adanya inovasi-inovasi dalam berbagai segi kehidupan yang berkelanjutan untuk
lebih memanfaatkan penemuan baru tersebut bagi kehidupan manusia. Penemuan
baru yang semakin banyak bermunculan akan melahirkan suatu bentuk pengaturan
dan perlindungan terhadap penemuan baru itu sendiri seperti lahirnya Undang-Undang
Perlindungan Hak Cipta yang akhir-akhir ini marak dibicarakan di kalangan elit
pemerintahan di Indonesia.

e. Pengaruh Kebudayaan Asing


Bergulirnya era globalisasi menjadikan komunikasi dan pergaulan umat manusia
sedunia menjadi satu lingkungan yang efektif dan tidak lagi ada sekat-sekat batas
antarnegara. Era ini telah membuka banyak bangsa di dunia saling bertukar pengaruh
dan budaya. Meluasnya pergaulan antarmanusia yang melintasi batas-batas negara
telah mengakibatkan adanya keinginan-keinginan untuk meniru atau mengadopsi

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 107


budaya-budaya asing tertentu ke dalam masyarakat setempat termasuk sistem
pendidikan, sistem perundangan, sistem telekomunikasi, dan lain-lain. Dengan
demikian, pergaulan antarnegara sangat memungkinkan perubahan nilai dan norma
dengan mengadopsi budaya asing. Proses percampuran budaya antarbangsa
memungkinkan terjadinya akulturasi budaya, asimilasi budaya, dan penetrasi budaya.

B. PROSES SOSIALISASI
Proses sosialisasi pada hakikatnya adalah proses belajar berinteraksi bagi individu
di tengah-tengah masyarakat. Dalam arti sempit, proses sosialisasi merupakan proses
mengenal lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan fisik. Hal ini
dimaksudkan untuk melakukan persiapan dalam melaksanakan proses pergaulan
lebih lanjut dan menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi di lingkungan
kehidupan yang baru tersebut. Dalam arti luas, proses sosialisasi adalah proses
komunikasi dan proses interaksi yang dilakukan oleh seorang individu selama
hidupnya sejak lahir sampai dengan meninggal. Proses ini berupa proses alamiah
yang dilakukan oleh semua individu sebagai makhluk sosial yang tidak dapat terlepas
dari tata pergaulan dengan manusia yang lain. Pada proses ini, seorang individu
mula-mula mengenal lingkungan sosial terdekatnya seperti anggota keluarga dan
kerabatnya. Kemudian, proses sosialisasi meluas ke lingkungan masyarakat setempat
seperti dengan lingkungan sepermainan dan lingkungan komunitas setempat. Dalam
proses perkembangannya, proses sosialisasi berlangsung dalam lingkungan yang
lebih luas seperti lingkungan sekolah dan lingkungan kerja yang akhirnya memasuki
lingkungan masyarakat luas. Keberhasilan suatu proses sosialisasi akan ditandai
dengan adanya keterampilan atau kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan
berbagai macam lingkungan yang dibatasi dengan sistem tata nilai dan norma yang
berbeda-beda.
Untuk mendalami hal-hal yang berkaitan dengan sosialisasi, ikutilah uraian
berikut ini.

1. Tujuan Sosialisasi
Pada dasarnya, proses sosialisasi pasti dilakukan oleh semua orang dalam bentuk
sosialisasi primer maupun proses sosialisasi sekunder. Proses sosialisasi primer
berlangsung sejak lahir hingga dewasa di lingkungan setempat. Proses sosialisasi
sekunder dilakukan ketika orang mengalami perpindahan tempat tinggal, baik alasan
pekerjaan, perkawinan, atau menempati perumahan yang baru. Sosialisasi
sesungguhnya merupakan proses yang bersifat kodrati, artinya dengan sendirinya
setiap orang secara naluriah akan melaksanakan proses ini dan sering kali tujuan
itu sangat tidak disadari. Akan tetapi, bagi seorang pejabat baru yang memasuki
medan tugas yang baru sangat disadari bahwa untuk mengawali tugas kedinasannya,
seorang pejabat baru harus melakukan sosialisasi dengan lingkungan sosial yang

108 Sosiologi SMA/MA Kelas X


baru. Aktivitas yang dapat dilakukan sebagai perwujudan dari proses sosialisasi
adalah memperkenalkan diri dengan instansi-instansi terkait, dengan tokoh-tokoh
masyarakat, dengan mitra kerja, dengan atasan langsung, dengan teman sejawat,
dan dengan lingkungan masyarakat luas.

Sumber: Ayahbunda, 10–23 Maret 2001

à Gambar 4.3 Proses sosialisasi dalam keluarga


dimulai semenjak anak masih kecil.

Hal-hal yang diperoleh dalam proses sosialisasi adalah pengetahuan-pengetahuan


untuk membekali seorang individu dalam melaksanakan pergaulan di tengah-tengah
masyarakat antara lain sebagai berikut.
x Untuk mengetahui lingkungan sosial, baik lingkungan sosial tempat individu
tinggal termasuk lingkungan sosial yang baru. Lingkungan sosial ini meliputi
pihak-pihak yang mempunyai keterkaitan dengan aktivitas individu tersebut.
x Untuk mengetahui lingkungan fisik yang baru. Dengan mengetahui lingkungan
fisik dari suatu daerah, seseorang akan mengenali arah, posisi, kedudukan,
skema, dan sub-sub area yang berada di lingkungan yang baru tersebut.
Pengetahuan seperti ini akan sangat berguna bagi seseorang yang baru untuk
mendukung kelancaran proses menjalankan kedudukan dalam tugas kedinasan
yang baru.

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 109


x Untuk mengetahui nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di dalam suatu
masyarakat. Setiap masyarakat memiliki sistem tata nilai yang berbeda-beda.
Oleh sebab itu, seorang individu yang memasuki lingkungan sosial baru perlu
mengetahui sistem tata kelakuan, peradaban, tata nilai, dan adat istiadat yang
berlaku di daerah itu. Dengan demikian, tidak akan mengakibatkan kegagalan
dalam proses pergaulan.
x Untuk mengetahui lingkungan tipe sosial budaya suatu masyarakat. Dalam suatu
proses sosialisasi, akhirnya sosial budaya suatu masyarakat dapat diketahui. Hal
ini akan membekali seorang individu dalam proses pergaulan dan proses
penyesuaian diri dengan lingkungan masyarakat tersebut. Artinya, proses
sosialisasi telah membekali seorang individu dengan berbagai pengetahuan yang
ada di dalam lingkungan masyarakat sehingga seseorang dapat sukses
melaksanakan pergaulan hidup di tengah-tengah masyarakat.

Suatu proses sosialisasi dikatakan berhasil apabila ditandai oleh hal-hal


berikut.
x Dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisiknya.
x Memiliki banyak teman atau relasi usaha yang akan mengakibatkan ketenteraman
dalam pergaulan dan keberhasilan dalam karir dan usaha.
x Meningkatnya status yang sering kali diikuti dengan meningkatnya kepercayaan
dan meningkatnya peranan sosial di lingkungan sosial yang baru.
x Terintegrasi secara kuat dengan masyarakat setempat dalam setiap aktivitas
yang ditandai dengan keakraban dan persaudaraan di antara individu tersebut
dengan warga masyarakat yang lain.

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Sosialisasi


Setiap orang mempunyai warisan biologis yang berbeda-beda. Warisan biologis
inilah yang dimaksud dengan faktor intrinsik, sedangkan pengaruh-pengaruh
lingkungan seperti lingkungan keluarga, lingkungan sepermainan, lingkungan
pekerjaan, dan lingkungan pendidikan merupakan faktor ekstrinsik, yaitu faktor yang
berada di luar diri seorang individu. Adapun penjelasan dari faktor intrinsik dan
faktor ekstrinsik tersebut di atas adalah sebagai berikut.

a. Faktor Intrinsik
Sejak lahir, manusia itu sesungguhnya telah memiliki pembawaan-pembawaan
yang berupa bakat, ciri-ciri fisik, dan kemampuan-kemampuan khusus warisan orang
tuanya. Pada hakikatnya, faktor intrinsik adalah faktor yang berasal dari dalam diri
individu yang melakukan proses sosialisasi. Wujud nyata faktor intrinsik antara lain
dapat berupa pembawaan-pembawaan atau pun warisan biologis termasuk

110 Sosiologi SMA/MA Kelas X


kemampuan-kemampuan yang ada pada diri seseorang. Misalnya bakat, IQ, motivasi,
emosi, hobi, karakter, dan lain-lain. Faktor-faktor ini akan menjadi bekal seorang
individu untuk melaksanakan berbagai macam aktivitas dalam proses sosialisasi.
Hasilnya akan sangat berpengaruh terutama dalam perolehan keterampilan,
pengetahuan, dan nilai-nilai dalam proses sosialisasi itu sendiri. Faktor intrinsik dalam
realitanya justru merupakan faktor yang dominan. Di satu sisi merupakan faktor
pendorong untuk mewujudkan suatu keinginan, di sisi lain merupakan faktor
pengendali dan berfungsi sebagai pengukur mengenai baik buruknya suatu aktivitas
dalam suatu proses interaksi.

b. Faktor Ekstrinsik
Sejak manusia dilahirkan, manusia telah mendapat pengaruh dari lingkungan di
sekitarnya yang disebut faktor ekstrinsik. Faktor ekstrinsik dapat berupa norma-
norma, sistem sosial, sistem budaya, dan sistem mata pencarian yang ada di dalam
masyarakat. Untuk melakukan proses sosialisasi, seorang individu akan dibatasi
dengan nilai-nilai dan norma-norma yang ada di dalam masyarakat. Nilai-nilai ini
akan menjadi pedoman bagi seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas. Di
samping itu juga dapat dipengaruhi oleh struktur sosial dan budaya masyarakat
yang menyangkut struktur pemerintahannya, struktur budaya dan seninya, struktur
mata pencariannya, dan lain-lain. Perpaduan antara faktor intrinsik dan faktor
ekstrinsik akan berakumulasi pada diri seseorang dalam melaksanakan proses
sosialisasi.

3. Media Sosialisasi
Media sosialiasi adalah sarana seorang individu belajar berinteraksi untuk
mengenal sistem tata kelakuan dan hubungan di lingkungan masyarakatnya. Adapun
media sosialisasi itu setidaknya terdiri dari empat macam, yaitu sebagai berikut.

a. Keluarga
Keluarga merupakan lembaga sosial yang mempunyai tugas dalam proses
pembudayaan, terutama kepada generasi muda yang menjadi anak keturunannya.
Proses pembentukan budaya baru pada masyarakat sangat tergantung pada keluarga,
terutama melalui proses sosialisasi anak-anak ke masa dewasa. Keluarga merupakan
kelompok primer yang pertama dikenal seorang anak. Ketika anak sudah cukup
umur untuk memasuki kelompok primer lain di luar keluarga, pondasi dasar
kepribadiannya sudah ditanamkan secara kuat, jenis kepribadiannya pun mudah
diarahkan dan terbentuk.
Dalam kehidupan sosial, tentu saja keluarga tidak terlepas dari kondisi-kondisi
yang ada dalam masyarakat, baik norma maupun nilai-nilai yang berlaku. Oleh

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 111


karena itu, norma dan nilai itu dapat berpengaruh terhadap tindakan yang akan
dijalankan oleh keluarga. Misalnya, aturan perkawinan yang harus sesuai dengan
adat istiadat dan kebiasaan masyarakat di tempat tinggalnya.
Jadi, keluarga merupakan eksponen dari kebudayaan masyarakat dan perantara
pertama dalam transmisi kebudayaan. Masyarakat berbicara melalui mulut orang
tua dan masyarakat bertindak melalui tindakan orang tua.

b. Lingkungan Sekolah
Setelah seorang anak belajar berinteraksi di lingkungan keluarga,
selanjutnya ia akan memasuki lingkungan yang lebih luas, yaitu lingkungan sekolah.
Pada lingkungan ini, seorang anak akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan
yang praktis yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lembaga
sekolah mendidik dan mengajarkan pengetahuan yang dianggap perlu dan tidak
mungkin lagi ditangani oleh lingkungan keluarga. Lembaga pendidikan primer adalah
sekolah formal yang dimulai dari jenjang sekolah taman kanak-kanak hingga
perguruan tinggi.
Dengan adanya lingkungan sekolah yang baik memungkinkan proses
pembentukan kepribadian anak dapat berlangsung dengan baik. Pengaruh-pengaruh
ini berasal dari program pendidikan yang dilaksanakan melalui guru-guru dan tenaga
kependidikan lainnya, serta pengaruh kondisi siswa pada umumnya sehingga tercipta
suatu iklim belajar yang kondusif. Berikut adalah proses sosialisasi di lingkungan
sekolah.
x Membantu orang agar siap mencari nafkah hidup bila telah tiba waktunya.
x Menolong orang dalam mengembangkan potensi pribadi dan pengembangan
masyarakat.
x Melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya.
x Membentuk kepribadian.

c. Media Massa
Media massa merupakan media sosialisasi yang sangat luas dan cukup efektif
pengaruhnya dalam proses sosialisasi bagi seorang individu. Dengan perkembangan
teknologi informasi, baik media suara, media cetak, maupun media gambar dapat
memberikan pengaruh perkembangan anak. Keberadaan media tersebut
mempengaruhi sikap dan tindakan anggota masyarakat pada umumnya. Akibatnya,
nilai-nilai dan norma-norma yang disampaikan tertanam dalam diri si anak melalui
penglihatan atau pendengaran. Dengan demikian, jelaslah bahwa media massa
dapat menjadi media atau alat sosialisasi untuk menyampaikan berbagai informasi
yang bisa mempengaruhi kepribadian seseorang. Di masa informasi ini, justru media
massa yang mempunyai kedudukan sangat strategis dalam mempengaruhi

112 Sosiologi SMA/MA Kelas X


kepribadian seseorang karena media massa lebih banyak mendominasi waktu-waktu
luang yang dimiliki oleh individu.
Beberapa media massa yang mempunyai peranan strategis dalam pembentukan
kepribadian seorang anak antara lain sebagai berikut.
x Televisi, baik swasta maupun televisi pemerintah.
x Radio, baik RRI (Radio Republik Indonesia) maupun radio-radio swasta.
x Majalah, buletin, buku-buku bacaan lainnya seperti novel, cerita bergambar,
komik remaja, dan lain-lain.
x Surat kabar.
x Internet.

d. Teman Sepermainan (Play Group)


Teman sepermainan atau play group adalah lingkungan pergaulan anak yang
mempunyai usia relatif sebaya. Lingkungan ini berlangsung di sela-sela pendidikan
dan pergaulan rumah tangga. Lingkungan ini cukup efektif mengisi pengetahuan-
pengetahuan dalam proses seorang individu. Dalam kelompok teman sepermainan,
anak mematuhi aturan yang berlaku jika ingin diterima menjadi anggota kelompoknya.
Melalui anggota kelompok sepermainan, anak belajar hidup bersosial.
Kelompok teman sepermainan di tingkat remaja pada umumnya mempunyai
keterikatan yang kuat dengan kelompoknya. Sosialisasi di lingkungan teman
sepermainan yang baik bisa mendukung terbentuknya kepribadian seseorang menjadi
baik atau sebaliknya. Beberapa contoh lingkungan sepermainan yang cukup efektif
mempengaruhi kepribadian seorang anak antara lain sebagai berikut.
x Perkumpulan bermain musik.
x Perkumpulan bermain sepak bola.
x Perkumpulan bermain sepeda santai.
x Perkumpulan kelompok belajar (les).

e. Lingkungan Kerja
Bagi orang dewasa, lingkungan kerja merupakan lingkungan yang relatif
baik untuk mengembangkan dan mematangkan pribadi seorang individu. Hal ini
terjadi karena lingkungan kerja mempunyai norma-norma yang lebih kuat
serta pengawasan yang ketat sehingga dapat membentuk kepribadian menjadi
sempurna. Lingkungan kerja bisa menjadi media sosialisasi bagi orang yang bekerja
di lingkungan itu. Seseorang dapat belajar dari teman-teman di lingkungan kerjanya
tentang berbagai nilai dan norma kehidupan. Ia pun akan berusaha mematuhi
nilai dan norma yang berlaku agar dapat diterima sebagai anggota di tempat kerja
tersebut. Melalui lingkungan kerja inilah, prakarsa, tanggung jawab, kerja sama,
kegemaran, dan hal lainnya akan lebih berkembang membentuk kepribadian yang
relatif stabil.

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 113


C. FAKTOR-FAKTOR PEMBENTUK KEPRIBADIAN

1. Pengertian Kepribadian
Pada awalnya, kepribadian memang telah diwariskan oleh ayah dan ibu dalam
bentuk yang masih samar-samar yang disebut warisan biologis. Warisan biologis
dapat berupa beberapa hal berikut.
x Ciri-ciri fisik, seperti raut muka, warna kulit, postur tubuh.
x Golongan darah.
x Bakat.
x Sifat-sifat khas.

Sumber: Koleksi Editor

à Gambar 4.5 Lingkungan pergaulan berpengaruh besar terhadap


kepribadian seseorang.

Selanjutnya, warisan biologis ini berkembang menjadi semakin nyata ketika


seorang anak melakukan proses sosialisasi sesama manusia dimulai dari lingkungan
keluarga, lingkungan kerabat, lingkungan sepermainan, lingkungan pendidikan, dan
lingkungan masyarakat luas. Adanya proses sosialisasi menjadikan seorang individu
memperoleh nilai-nilai yang beraneka macam. Kemudian, nilai-nilai ini menjadi
satu sistem nilai yang paling diyakini dan paling mempengaruhi tipe perilaku
seseorang yang dinamakan nilai sentral.
Kepribadian merupakan perwujudan dari nilai-nilai sentral yang diyakini dan
dipedomani seseorang untuk menentukan perilaku secara umum. Proses pembentukan
kepribadian dimulai dari proses sosialisasi di lingkungan keluarga, lingkungan teman
sepermainan, lingkungan sosial, lingkungan kerja, maupun lingkungan masyarakat
luas. Gambaran lebih jauh mengenai proses pembentukan kepribadian, coba kamu
perhatikan bagan berikut ini.

114 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Proses Pembentukan Kepribadian

Lingkungan Media Massa


Pendidikan

Lingkungan
Lingkungan
Keluarga dan
Pergaulan
Kerabat

Generasi Baru Generasi Baru


dengan Warisan Proses Sosialisasi dengan Kepribadian
Biologis tertentu tertentu

Lingkungan Pendidikan

à Bagan 4.1 Bagan Pembentukan Kepribadian


melalui proses Sosialisasi

Berdasarkan bagan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kepribadian seseorang


terbentuk dari perpaduan antara warisan biologis dan pengaruh-pengaruh lingkungan
seperti lingkungan keluarga dan kerabat, lingkungan pendidikan, lingkungan
pergaulan, dan lingkungan masyarakat luas. Selanjutnya, individu yang telah
terbentuk kepribadiannya akan turut mempengaruhi budaya masyarakat di
lingkungannya. Proses ini berlangsung terus-menerus seperti rantai sistem yang
tiada putus-putusnya dari generasi ke generasi.
Seorang individu dalam proses sosialisasi di tengah-tengah masyarakat akan
memperoleh pengaruh baik yang positif maupun yang negatif, baik dari lingkungan
pendidikan, lingkungan pergaulan termasuk lingkungan kerja, media massa, dan
pengaruh dari masyarakat luas. Demikian pula halnya di lingkungan keluarga akan
mengembangkan bakat dan pembawaan yang ada dengan menyerap prinsip-prinsip,
nilai-nilai sosial, pengetahuan, serta keterampilan yang dianggap baik dan sesuai
bagi dirinya. Sesungguhnya di sinilah kepribadian mulai terbentuk dalam diri
seseorang yang memiliki nilai-nilai sentral yang mendominasi perilaku seseorang.
Dengan melihat dan memperhatikan perilaku-perilaku khas yang diperbuat seseorang
dalam kegiatan sehari-hari, kita dapat mengetahui tipe kepribadian seseorang.

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 115


2. Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian
Ada dua faktor besar yang turut mempengaruhi corak kepribadian seorang
individu, yaitu faktor warisan biologis yang berupa pembawaan-pembawaan dan
faktor-faktor lingkungan tempat seorang individu melakukan pergaulan. Yang harus
disadari bahwa setiap orang memiliki corak kepribadian yang tidak pernah sama
walaupun pada anak yang kembar sekalipun. Hal ini mengisyaratkan kepada kita
bahwa setiap anak walaupun memiliki asal usul/keturunan yang sama pada dasarnya
ia memiliki kepribadian yang berbeda. Demikian juga orang yang bergaul di
lingkungan masyarakat yang berbeda-beda akan menghasilkan suatu proses
pembentukan kepribadian yang berbeda-beda pula. Faktor-faktor yang mempengaruhi
proses pembentukan kepribadian seseorang antara lain sebagai berikut.

a. Faktor Warisan Biologis


Faktor warisan biologis adalah faktor-faktor yang berupa bawaan dari leluhurnya,
yaitu dari ayah, ibu, serta kakek dan nenek dari ayah maupun dari ibu. Faktor-faktor
ini sesungguhnya merupakan pondasi yang menjadi cikal bakal untuk proses
pembentukan suatu kebudayaan. Bentuk-bentuk warisan biologis terdiri dari hal-
hal berikut ini.
x Ciri-ciri fisik, seperti warna kulit, raut muka, postur tubuh, dan lain-lain yang
mempunyai kemiripan dengan ayah, ibu, atau perpaduan dari keduanya.
x Tingkat IQ, yaitu kecakapan seseorang yang dapat diukur dengan sejumlah
pertanyaan. IQ ini bisa mirip dengan ayah atau pun dengan ibu.
x Bakat, seperti seni lukis, seni suara, seni tari, seni karawitan, presenter, politikus,
olahragawan, dan lain-lain.
x Sifat-sifat khas yang berasal dari orang tua, bisa dari ayah atau dari ibu, misalnya
sifat pendiam, sifat pemarah, sifat ramah, sifat ekstrim atau normatif, dan lain-
lain.

Kepribadian bersifat abstrak dalam hal ini, yaitu tidak dapat dilihat dengan panca
indera dan hanya dapat dideteksi melalui perilaku-perilaku keseharian yang asli
yang tidak dibuat-buat. Kepribadian dapat diumpamakan sebagai suatu bangunan
rumah dan faktor pembawaan merupakan kerangkanya. Selanjutnya, desain dan
pengembangan variasi dan interior rumah merupakan faktor-faktor milieu atau faktor
lingkungan. Faktor pembawaan dapat berupa bentuk fisik, yaitu warna kulit, tipe
rambut, bentuk raut muka, postur tubuh, dan hal yang bersifat abstrak seperti karakter,
bakat, IQ, dan lain-lain. Menurut Mendel, faktor pembawaan ini bisa dominan ayah
(XY), dominan ibu (XX), atau merupakan variasi dari ayah atau ibu. Namun demikian,
bisa juga seorang ibu yang memiliki kemampuan reproduksi sempurna dapat
mewariskan faktor-faktor genetika yang sangat panjang yang berantai dari orang tua
ibu atau nenek dan kakeknya ibu.

116 Sosiologi SMA/MA Kelas X


1. Apakah kepribadian itu?
2. Bagaimana proses pembentukan kepribadian?
3. Jelaskan mengapa faktor lingkungan mempunyai peran yang lebih penting
dalam pembentukan kepribadian!
4. Apakah kepribadian dapat mengalami perubahan? Jelaskan jawabanmu!

b. Faktor Lingkungan
Lingkungan mempunyai peranan dalam proses pembentukan kepribadian individu-
individu. Kepribadian antara seorang individu dengan individu yang lain tidak sama
tergantung dari tipe-tipe faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Yang dimaksud
dengan faktor lingkungan adalah faktor-faktor pembentuk kepribadian yang berasal
dari lingkungan sosial seorang individu, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan
pendidikan, lingkungan pergaulan, lingkungan kerja, media massa, dan lingkungan
masyarakat luas.

x Lingkungan Keluarga
Yang dimaksud keluarga adalah suatu kesatuan sosial terkecil yang ber-
anggotakan ayah, ibu, dan anak-anak. Tiap-tiap keluarga mempunyai situasi
dan kondisi yang berbeda-beda. Lingkungan keluarga merupakan lingkungan
yang sangat fundamental dalam menampung berbagai kegiatan individu ketika
masa kanak-kanak. Proses pendidikan budi pekerti di dalam keluarga sangat
efektif untuk proses pembentukan nilai-nilai sentral yang selanjutnya menjadi
pondasi pembentukan kepribadian seseorang.

x Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan merupakan lingkungan yang cukup efektif pula
dalam mempengaruhi kepribadian. Yang dimaksud dengan lingkungan
pendidikan adalah lingkungan sekolah sejak taman kanak-kanak sampai
perguruan tinggi. Situasi pendidikan seorang individu bersekolah juga sangat
efektif dalam proses pembentukan kepribadian. Dengan pemberian bekal
pengetahuan nilai-nilai dan budi pekerti, seorang individu akan dikuatkan
pondasi kepribadiannya dalam proses kepribadian yang dewasa. Di lingkungan
sekolah, seorang individu mendapatkan pendidikan, pengajaran, dan pelatihan
keterampilan yang berpengaruh besar dalam proses pengembangan bakat dan
pembawaan lainnya yang bersifat positif. Akan tetapi, bila lingkungan pendidikan-

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 117


nya kurang baik, hal itu justru dapat mempersubur proses pengembangan faktor-
faktor pembawaan yang bersifat negatif seperti serakah, emosional, tamak,
takabur, sombong, kikir, cabul, dan rakus, serta sifat-sifat negatif lainnya.

x Lingkungan Pergaulan
Lingkungan pergaulan berada di lingkungan masyarakat setempat dan
mempunyai usia yang relatif sebaya. Yang dimaksud dengan lingkungan
pergaulan adalah lingkungan di mana seorang individu secara efektif
menghabiskan waktunya pada lingkungan tersebut. Lingkungan ini dapat berupa
teman sepermainan, lingkungan setempat, maupun lingkungan tempat tinggal.
Pada pergaulan di lingkungan sepermainan, pada umumnya individu bergaul
dengan orang lain yang sebaya. Dengan demikian, belum ada pihak yang
menjadi pengendali atau pun pengontrol terhadap perilaku-perilaku yang negatif.
Untuk itu, lingkungan pergaulan perlu mendapat perhatian dan pengawasan
dari orang tua agar ada fungsi pengendalian terhadap perilaku-perilaku yang
menyimpang. Apabila hal ini tidak dilakukan, sesungguhnya lingkungan
pergaulan justru mengakibatkan bakat-bakat negatif tumbuh subur dan
berkembang yang pada gilirannya akan mewarnai tipe-tipe kepribadian yang
tidak diinginkan.

x Media Massa
Media massa merupakan perangkat-perangkat yang menjembatani
komunikasi antara individu atau kelompok individu dengan individu atau
kelompok individu yang lain. Media massa mempunyai peran cukup efektif
dalam proses pembentukan kepribadian. Contoh media massa yakni buku,
majalah, koran, radio, televisi, VCD, internet, dan lain-lain.

Sumber: Warta Ekonomi, 19 Maret 2001

à Gambar 4.5 VCD-VCD pendidikan, ilmu pengetahuan, dan cerita yang berpesan
moral dapat mempengaruhi pembentukan kepribadian seorang anak.

118 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Melalui media massa, seorang individu memperoleh masukan-masukan yang
akan mempengaruhi proses pengembangan bakat/pembawaan yang dimilikinya.
Masukan-masukan itu dapat berupa ilmu pengetahuan maupun wawasan
duniawi. Juga tak dapat dihindari jika yang berkembang tidak hanya bakat-
bakat atau pembawaan yang positif, melainkan yang negatif.

x Lingkungan Masyarakat Luas


Lingkungan masyarakat luas juga mempunyai andil dalam proses pem-
bentukan kepribadian seorang anak, tetapi tidak seefektif pada lingkungan
keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan sepermainan. Lingkungan
masyarakat luas merupakan komponen yang terakhir yang mempengaruhi proses
pembentukan kepribadian seseorang. Sesungguhnya lingkungan masyarakat luas
merupakan gabungan dari lingkungan keluarga, kerabat, lingkungan pergaulan,
lingkungan kerja, dan lingkungan setempat. Namun demikian, skala wilayahnya
jauh lebih luas apalagi dengan terbukanya sarana telekomunikasi dan sarana
transportasi yang memadai. Lingkungan masyarakat luas dapat pula berupa
peranan tokoh masyarakat, pemuka agama, kelompok elit pemerintahan, dan
pemerintah yang kesemuanya dapat berpengaruh positif atau negatif dalam
proses pembentukan kebudayaan.

3. Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian sebagai Hasil Sosialisasi

a. Fase Pertama
Kepribadian terbentuk melalui proses yang sangat panjang, yaitu sejak lahir
hingga dewasa. Fase pertama dimulai sejak anak berusia 1 – 2 tahun ketika anak
mulai mengenal dirinya sendiri. Kita dapat membedakan kepribadian seseorang
menjadi dua bagian penting, yaitu sebagai berikut.
x Bagian yang pertama adalah unsur-unsur dasar atas berbagai sikap yang disebut
attitudes yang kurang lebih bersifat permanen dan tidak mudah berubah di
kemudian hari. Unsur yang pertama juga disebut struktur dasar kepribadian
(basic personality structure), sedangkan unsur yang kedua disebut capital
personality.
x Bagian yang kedua adalah unsur-unsur yang terdiri atas keyakinan-keyakinan
atau anggapan-anggapan yang lebih fleksibel yang sifatnya mudah berubah
atau dapat ditinjau kembali di kemudian hari. Anggapan-anggapan ini diperoleh
berdasarkan pengalaman melalui pergaulan dengan orang lain.

b. Fase Kedua
Fase kedua merupakan fase yang sangat efektif dalam membentuk dan
mengembangkan bakat-bakat yang ada pada diri seorang anak. Fase ini diawali dari

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 119


usia antara dua sampai tiga tahun. Fase kedua merupakan fase perkembangan, di
mana rasa aku yang telah dimiliki seorang anak mulai berkembang karakternya
sesuai dengan tipe pergaulan yang ada di lingkungannya termasuk struktur tata nilai
maupun struktur budayanya.
Proses ini berlangsung relatif panjang pada anak hingga menjelang masa
pendewasaan, kepribadiannya tersebut mulai nampak dengan tipe-tipe perilaku
yang khas. Hal tersebut yang tampak dari perangai, kegemaran, IQ, serta bakat
yang dimiliki oleh anak tersebut. Adapun bagian-bagian dari kepribadian secara
umum terdiri dari uraian berikut.

x Dorongan-dorongan (drivers)
Unsur drivers merupakan pusat dari kehendak manusia untuk melakukan
suatu aktivitas yang selanjutnya akan membentuk motif-motif tertentu untuk
mewujudkan suatu keinginan. Drivers dibedakan menjadi kehendak dan
nafsu-nafsu. Kehendak merupakan dorongan-dorongan yang bersifat kultural,
artinya sesuai dengan tingkat peradaban dan tingkat perekonomian seseorang.
Jika tingkat perekonomiannya berbeda, maka kehendak-kehendaknya pun akan
berbeda pula. Makin tinggi tingkat perekonomian dan peradabannya, kehendak
seseorang akan semakin banyak pula jumlah dan jenisnya. Bagian yang kedua
adalah nafsu-nafsu. Nafsu-nafsu ini merupakan kehendak yang terdorong
oleh kebutuhan biologis, misalnya nafsu makan, tidur, birahi, amarah, dan lain-
lain.

x Naluri (insting)
Naluri atau insting merupakan suatu dorongan yang bersifat kodrati yang
melekat dengan hakikat hidup sebagai makhluk. Misalnya, seorang ibu
mempunyai naluri yang kuat untuk mempunyai anak, mengasuh, dan
membesarkan anak hingga dewasa. Naluri ini akan dapat dilakukan pada setiap
makhluk hidup tanpa harus belajar terlebih dahulu seolah-olah telah menyatu
dengan hakikat hidupnya sebagai makhluk hidup.

x Getaran Hati (emosi)


Emosi atau getaran hati merupakan sesuatu yang abstrak yang menjadi
sumber perasaan manusia. Emosi dapat menjadi pengukur segala sesuatu yang
ada pada jiwa manusia seperti senang, sedih, indah, serasi, dan seterusnya.

x Perangai
Perangai merupakan perwujudan dari perpaduan antara hati dan pikiran
manusia yang nampak dari raut muka maupun gerak-gerik seseorang. Perangai
ini merupakan salah satu unsur dari kepribadian yang mulai riil, dapat dilihat,
dan diidentifikasi oleh orang lain.

120 Sosiologi SMA/MA Kelas X


x Intelegensi (Inteligent Quotient – IQ)
Intelegensi adalah tingkat kemampuan berpikir yang dimiliki oleh seseorang.
Intelegensi ini termasuk di dalamnya adalah IQ, memori-memori pengetahuan,
dan pengalaman-pengalaman yang telah diperoleh seseorang selama proses
sosialisasi. Intelegensi merupakan dasar kecakapan seseorang secara umum.

x Bakat
Bakat pada hakikatnya merupakan seseuatu yang abstrak yang diperoleh
seseorang karena warisan biologis yang diturunkan oleh leluhurnya, seperti
bakat seni, berdagang, berpolitik, dan lain-lain. Bakat tersebut merupakan sesuatu
yang sangat mendasar dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan yang
ada pada seseorang. Pada dasarnya, setiap orang memiliki bakat yang berbeda-
beda walaupun berasal dari ayah dan ibu yang sama.

c. Fase Ketiga
Pada proses perkembangan kepribadian, fase ketiga merupakan fase akhir yang
ditandai dengan makin stabilnya perilaku-perilaku yang khas atau sifat-sifat khas
dari seorang individu. Pada fase ketiga, terjadi perkembangan yang relatif tetap,
yaitu dengan terbentuknya perilaku-perilaku yang khas sebagai perwujudan
kepribadian yang bersifat abstrak. Fase ketiga disebut fase kedewasaan, yaitu ketika
seseorang telah berusia antara 25 – 28 tahun.
Setelah kepribadian terbentuk secara permanen, kepribadian dapat
diklasifikasikan menjadi tiga tipe, yaitu sebagai berikut.

x Kepribadian Normatif
Kepribadian normatif merupakan kepribadian yang ideal, yaitu seseorang
mempunyai prinsip-prinsip yang kuat untuk menerapkan nilai-nilai sentral yang
ada dalam dirinya sebagai hasil proses sosialisasi pada masa sebelumnya.
Seseorang memiliki kepribadian normatif apabila terjadi proses sosialisasi antara
perlakuan terhadap dirinya dan perlakuan terhadap orang lain sesuai dengan
tata nilai yang ada di dalam masyarakat. Tipe kepribadian ini ditandai dengan
kemampuan menyesuaikan diri yang sangat tinggi dan dapat menampung banyak
aspirasi dari orang lain.

x Kepribadian Otoriter
Tipe kepribadian otoriter terbentuk melalui proses sosialisasi individu yang
lebih memenangkan kepentingan-kepentingan terhadap dirinya daripada
kepentingan-kepentingan orang lain. Situasi ini terjadi pada anak-anak tunggal,
yaitu anak yang sejak kecil mendapat dukungan dan perlindungan yang lebih
dari lingkungan orang-orang di sekitarnya, dan anak yang sejak kecil memimpin
di kelompoknya. Salah satu ciri dari kepribadian otoriter adalah menonjolnya

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 121


kehendak pribadi dan kurang menampung banyak aspirasi dan sering kali
memandang rendah keberadaan orang lain.

x Kepribadian Perbatasan
Kepribadian perbatasan merupakan kepribadian yang relatif labil, di mana
ciri-ciri khas dari prinsip-prinsip dan perilakunya sering kali mengalami
perubahan-perubahan sehingga seolah-olah seseorang mempunyai lebih dari
satu corak kepribadian. Seseorang dikatakan memiliki kepribadian perbatasan
apabila orang ini memiliki dualisme budaya karena proses perkawinan atau
karena situasi tertentu hingga mereka harus mengabdi pada dua struktur budaya
masyarakat berbeda.
Kepribadian demikian sering kali terdapat pada orang-orang campuran antara
dua golongan etnis, pada orang-orang yang berdiri pada dua kelas masyarakat,
atau pun seorang yang mendapat dua jenis pendidikan yang latar belakangnya
berbeda.

1. Kemukakan dengan bahasamu sendiri bagaimana kaitan antara kepribadian


dan kebudayaan setempat!
2. Jelaskan bagaimana proses terbentuknya norma sosial!
3. Menurutmu fase apa yang paling mempengaruhi kepribadian seseorang?
Mengapa? Jelaskan pendapat kalian!
4. Jelaskan bahwa norma sosial dapat menjamin kelangsungan hidup
masyarakat!

D. HUBUNGAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN DENGAN KEBUDAYAAN


Kebudayaan adalah segala sesuatu yang merupakan hasil budidaya manusia
dalam hidup bermasyarakat. Kebudayaan ini dapat berwujud dalam bentuk sistem
ide, sistem aktivitas, dan benda-benda konkret.

1. Sistem Ide (Gagasan)


Sistem ide adalah gagasan-gagasan yang merupakan hasil pencetusan orang
per orang atau kelompok orang yang telah menjadi kebiasaan atau adat istiadat.
Kebiasaan-kebiasaan ini selanjutnya dipedomani sebagai suatu sistem yang dapat
diterima dan diterapkan oleh semua warga masyarakat.

122 Sosiologi SMA/MA Kelas X


2. Sistem Aktivitas (Perilaku Sosial)
Sistem aktivitas merupakan perwujudan dari sistem ide yang ada sehingga
perilaku-perilaku sosial yang ada dalam masyarakat merupakan manifestasi dari
sistem ide yang ada pada masyarakat tersebut. Selanjutnya, sistem aktivitas ini akan
menjadi sistem perilaku yang dipedomani sebagai sarana untuk melaksanakan
pergaulan dan pemenuhan kebutuhan di dalam masyarakat.

3. Benda-Benda Konkret (Artefak)


Artefak merupakan benda-benda konkret atau benda hasil karya yang merupakan
manifestasi dari sistem ide dan sistem aktivitas masyarakat. Artefak-artefak selanjutnya
akan menjadi sistem peralatan dan perlengkapan hidup manusia yang dipakai untuk
menyelenggarakan kehidupan.
Dengan demikian, kepribadian boleh dikatakan terbentuk oleh kebudayaan
setempat sehingga tiap-tiap orang mempunyai karakteristik yang sama apabila berasal
dari lingkungan yang sama pula. Inilah yang disebut dengan etos kebudayaan.
Etos kebudayaan merupakan watak khas dari suatu masyarakat yang dapat
terpancar dari perilaku warga masyarakatnya. Misalnya dalam bentuk bahasa, pakaian
adat, kesenian, pola pikir, dan lain-lain. Kepribadian mempunyai kaitan yang sangat
erat dengan kebudayaan setempat dan selanjutnya kebudayaan setempat berangsur-
angsur akan dipengaruhi bahkan direvisi oleh pribadi-pribadi yang ada pada
masyarakat tersebut. Untuk lebih jelasnya, perhatikan bagan berikut ini.

Bahasa Sistem Religi Sistem Kesenian

Generasi Baru
Masyarakat Melahirkan
dengan Kepribadian
Generasi Baru
Tertentu

Sistem Ilmu Sistem Ekonomi Sistem Teknologi Sistem Organisasi


Pengetahuan Sosial

à Bagan 4.2 Bagan pengaruh unsur kebudayaan


terhadap kepribadian seseorang.

Tampak kepribadian seseorang sepenuhnya dipengaruhi oleh tujuh unsur


kebudayaan masyarakat setempat yang terdiri dari bahasa, religi, kesenian, sistem
ilmu pengetahuan, sistem teknologi, sistem mata pencarian, dan sistem organisasi

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 123


sosial. Ketujuh unsur tersebut mempengaruhi kepribadian individu, terutama generasi
baru secara akumulatif dan komprehensif.
Budaya digunakan oleh setiap orang sebagai pedoman atau acuan dan latar
belakang tindakan manusia dalam kehidupannya. Perilaku yang tidak selalu dapat
dikategorikan sebagai perwujudan budaya. Tapi yang perlu dicatat di sini bahwa
kebudayaan selalu berhubungan dengan proses berpikir manusia, terutama ketika ia
bertindak. Jadi, dapat dikatakan bahwa kebudayaan mempunyai pengaruh besar
terhadap kepribadian seseorang.

Bentuklah kelompok yang beranggotakan 10 – 15 orang. Setiap kelompok


meneliti salah satu topik di bawah ini.
1. Kecenderungan budaya korupsi di Indonesia dalam dua tahun pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla.
2. Korupsi merupakan salah satu kepribadian bangsa Indonesia.

MEWUJUDKAN WARGA MASYARAKAT YANG BAIK

W
arga masyarakat yang baik adalah warga masyarakat yang dapat
menjalankan peranannya yang menyangkut hak maupun
kewajibannya secara baik tanpa mengurangi hak dari orang yang
lain. Ini berarti bahwa individu tersebut telah berperilaku seperti nilai-nilai dan
norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat.
Untuk mewujudkan masyarakat yang baik, diperlukan kerja sama dari
berbagai komponen, baik pemerintah, warga masyarakat, lembaga pendidikan,
maupun tokoh-tokoh keagamaan. Dalam konteks ini keluarga justru mempunyai
peranan yang lebih penting dan mendasar dalam mewujudkan warga
masyarakat yang baik ketimbang peranan lembaga pendidikan seperti TK,
SD, SMP, dan SMU, serta perguruan tinggi.

124 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Petunjuk Simulasi Pro Kontra
1. Siswa dalam kelas dibagi atas dua kelompok. Satu kelompok pro dan satu
kelompok lagi kontra. Tuangkan pendapat dan penjelasan kalian sesuai
dengan kelompok masing-masing berdasarkan pertanyaan di bawah ini!
2. Pilihlah salah seorang dari setiap kelompok yang bertugas sebagai presenter
untuk menyajikan kesimpulan hasil diskusi kelompokmu!

Pertanyaan:
1. Setujukah Anda dengan pendapat pada alinea terakhir bacaan di atas?
Jelaskan dan sertakan data-data pendukung!
2. Bagaimana solusi Anda dalam mewujudkan masyarakat yang baik?

MEMPERSIAPKAN KETERAMPILAN HIDUP

P
ada dasarnya, proses sosialisasi merupakan proses belajar bagi seorang
individu untuk membekali diri dengan pengetahuan-pengetahuan dan
keterampilan-keterampilan tertentu agar seorang individu dapat
berperilaku sesuai dengan kondisi budaya masyarakatnya.
Ada kalanya proses sosialisasi justru menyerap sub-sub kebudayaan yang
menyimpang. Keadaan ini akan membawa jalan yang tersesat bagi seorang
individu untuk meniti karir hidup dalam masyarakat. Tetapi sebaliknya dengan
menyerap sub-sub kebudayaan yang baik, besar manfaatnya dalam membekali
diri dengan keterampilan-keterampilan khusus yang dapat menunjang kehidupan
hari tua.

Pertanyaan:
1. Apakah yang dimaksud dengan keterampilan hidup atau life skill ?
2. Mengapa seorang remaja perlu membekali diri dengan keterampilan hidup?
3. Sebutkan lima contoh keterampilan hidup yang Anda senangi dan
bagaimana cara Anda memperoleh keterampilan-keterampilan tersebut!

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 125


4. Melalui media apa sajakah keterampilan hidup itu dapat diserap?
5. Apa yang akan terjadi bila seorang individu yang memasuki usia akhir
dewasa tidak memiliki keterampilan hidup?

PROSES SOSIALISASI DAN KEPRIBADIAN INDIVIDU


Setiap manusia sejak kecil hingga dewasa senantiasa berada di lingkungan
individu yang lain, baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerabat,
lingkungan masyarakat setempat, lingkungan permainan, lingkungan
pendidikan, maupun lingkungan masyarakat luas. Proses ini lebih tepat disebut
proses sosialisasi.
Dalam proses sosialisasi, seorang individu akan mendapatkan segala sesuatu
yang baik maupun yang buruk di dalam masyarakat yang meliputi hampir
semua segi kehidupan. Misalnya, bidang kesenian, olahraga, perdagangan,
masalah hukum, masalah perkawinan, dan lain sebagainya. Melalui proses
sosialisasi, orang akan bertambah banyak pengalamannya serta berkembang
prinsip-prinsipnya hingga akhirnya terbentuk persepsi dan pola pikir yang
didasarkan pada nilai-nilai yang diserap dalam proses sosialisasi. Gambaran
umum dari perilaku yang khas seorang individu dinamakan kepribadian.
Kepribadian ini dapat dilihat dari keseluruhan perilaku yang sehari-hari diperbuat
oleh seseorang.
Pertanyaan:
1. Kapankah kepribadian seseorang akan menjadi baik? Dan kapankah
kepribadian seseorang akan menjadi buruk?
2. Jelaskan bagaimana korelasi antara kepribadian dan proses sosialisasi yang
dialami oleh seorang individu!
3. Sebutkan komponen-komponen dari kepribadian seseorang yang terlihat
dari aktivitas kesehariannya!
4. Mengapa seorang anak perlu dibatasi lingkungan pergaulannya?
5. Bagaimana peranan warisan biologis dalam pembentukan kepribadian
seorang anak?

126 Sosiologi SMA/MA Kelas X


1. Norma dan nilai merupakan pedoman bagi individu yang melaksanakan proses
sosialisasi, bahkan menjadi pedoman bagi semua warga masyarakat. Melalui
proses sosialisasi, seseorang pada hakikatnya akan mempelajari norma dan nilai
yang berlaku dalam masyarakat untuk dipedomani yang selanjutnya seorang
individu dapat berperilaku secara tepat sehingga dapat sukses dalam pergaulan.
2. Perbedaan nilai dan norma sosial
x Nilai sosial: dibuat lebih dulu daripada norma sosial, bersifat implisit, dan
belum dilengkapi dengan sanksi.
x Norma sosial: dibuat untuk melaksanakan nilai-nilai sosial, bersifat eksplisit,
dan sudah dilengkapi dengan sanksi.
3. Fungsi nilai dan norma sosial adalah sebagai petunjuk arah perilaku, benteng
perlindungan, dan pendorong atau motivator.
4. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan nilai dan norma meliputi
perubahan struktur pemerintahan, perubahan tingkat peradaban, perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, penemuan-penemuan baru, dan pengaruh
kebudayaan asing.
5. Tujuan sosialisasi adalah untuk mengetahui lingkungan sosial, lingkungan fisik,
nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di dalam suatu masyarakat, dan
mengetahui lingkungan sosial budaya suatu masyarakat.
6. Faktor-faktor yang mempengaruhi sosialisasi
x Faktor Intrinsik yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam seorang individu.
x Faktor Ekstrinsik yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar diri seseorang.
7. Media sosialisasi terdiri atas keluarga, lingkungan permainan, lingkungan
pendidikan,lingkungan kerja, dan media massa.
8. Faktor-faktor pembentuk kepribadian
x Faktor Warisan Biologis: ciri-ciri fisik, golongan darah, bakat, dan sifat-sifat
khas.
x Faktor Lingkungan: lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan
pergaulan (lingkungan kerja), media massa, dan lingkungan masyarakat
luas.
9. Kepribadian tiap-tiap individu dalam masyarakat sangat dipengaruhi oleh corak
kebudayaan, di mana individu itu hidup dan berkembang menjadi dewasa
(social determinism).

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 127


Soal Objektif

Pilihlah satu jawaban yang benar dengan menyilang huruf A, B, C, D, dan E!

1. Gambaran umum mengenai kejiwaan manusia yang teraktualisasi dalam bentuk


perilaku yang khas dari seorang individu disebut . . . .
A. hati nurani D. kejiwaan
B. ego E. perangai
C. kepribadian

2. Untuk mengetahui kondisi kejiwaan seseorang dapat diperhatikan


melalui . . . .
A. karakter D. prakarsa
B. perilaku keseharian E. pengendalian emosi
C. kegemaran

3. Faktor-faktor berikut ini yang bukan merupakan faktor-faktor warisan biologis


adalah . . . .
A. bakat-bakat D. lingkungan keluarga
B. kondisi fisik E. tabiat
C. golongan darah

4. Perhatikan pernyataan berikut ini:


1. prakarsa
2. kerja sama
3. perangai
4. budi pekerti
5. imajinasi
6. tingkat kecerdasan (IQ)
Dari pernyataan di atas, yang merupakan bagian atau unsur kepribadian
seseorang adalah . . . .
A. 1, 2, 3, 4 D. 1, 2, 4, 5
B. 2, 3, 4, 5 E. 2, 3, 5, 6
C. 3, 4, 5, 6

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian seseorang adalah seperti berikut,


kecuali . . . .

128 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. lingkungan alam D. penemuan baru
B. warisan biologis E. budaya masyarakat setempat
C. lingkungan keluarga

6. Pembentukan kepribadian generasi penerus yang memiliki imtak (iman-takwa)


dan iptek (ilmu pengetahuan-teknologi) yang kuat dan seimbang secara kodrati
sejak semula menjadi tugas pokok media sosialisasi . . . .
A. sekolah D. pemerintah
B. keluarga E. multimedia
C. masyarakat
7. Pernyataan berikut ini yang merupakan penjabaran dari istilah social determinism
adalah . . . .
A. Tiap-tiap individu memiliki corak kepribadian yang berbeda-beda.
B. Salah satu perwujudan dari kehidupan sosial dalam masyarakat adalah
kegotongroyongan.
C. Corak kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh budaya masyarakatnya.
D. Setiap masyarakat memiliki struktur budaya yang berlainan.
E. Budaya merupakan perwujudan dari kepribadian masyarakat.

8. Perhatikan pernyataan berikut ini:


1. pengetahuan tentang lingkungan alam
2. norma dan nilai sosial
3. struktur sosial dan personil dari masing-masing status dalam struktur sosial
4. strata dan popularitas diri
5. proses intuitif
Berdasarkan pernyataan di atas, sesuatu yang dapat diperoleh seseorang dalam
proses sosialisasi adalah . . . .
A. 1, 2, 3 D. 1, 2, 5
B. 2, 3, 5 E. 1, 2, 4
C. 1, 3, 4
9. Proses sosialisasi primer adalah . . . .
A. proses sosialisasi di lingkungan sekolah
B. proses sosialisasi di lingkungan keluarga dan masyarakat setempat
C. proses sosialisasi di lingkungan tempat tinggal yang baru
D. proses sosialisasi di lingkungan kerja
E. proses sosialisasi pada lingkungan teman sepermainan
10. Proses sosialisasi yang dilakukan oleh seorang pejabat baru pindahan dari daerah
lain merupakan contoh dari . . . .

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 129


A. sosialisasi D. sosialisasi sekunder
B. adaptasi E. proses enkulturasi
C. sosialisasi primer

11. Keunggulan lembaga sekolah bagi pembinaan generasi muda terletak pada
peranannya dalam . . . .
A. melatih keterampilan D. membudayakan masyarakat
B. mendidik budi pekerti E. mensosialisasikan nilai dan norma
C. mengajar ilmu pengetahuan

12. Nilai dan norma mempunyai hubungan saling berkaitan yang merupakan dasar
dalam . . . .
A. kehidupan sosial yang bersifat abstrak
B. kehidupan bersama sebagai realita sosial
C. menentukan kepentingan individu dalam masyarakat
D. kehidupan kelompok untuk memenuhi kebutuhan khusus
E. menentukan interaksi sosial bersama makhluk individu

13. Menurut Prof. Dr. Notonegoro, nilai dibagi atas tiga, yaitu . . . .
A. nilai kesopanan, kesusilaan, dan moral
B. nilai abstrak, konkret, dan nominal
C. nilai mutlak, nisbi, dan nominal
D. nilai material, vital, dan kerohanian
E. nilai material, spritual, dan moral

14. Segala sesuatu yang berguna bagi manusia sehingga orang dapat mengadakan
kegiatan atau aktivitas termasuk dalam nilai . . . .
A. material D. religius
B. moral E. etika
C. vital
15. Fungsi nilai sebagai pendorong, maksudnya adalah . . . .
A. menuntun manusia untuk berbuat baik
B. menyatukan kelompok yang mengalami konflik
C. memberikan rasa kebersamaan
D. pengendali sosial dari perbuatan yang menyimpang
E. petunjuk arah dalam pemenuhan kebutuhan

16. Nilai sosial memiliki ciri-ciri antara lain . . . .


1. merupakan hasil interaksi antarwarga masyarakat
2. dibawa sejak lahir melalui orang tua

130 Sosiologi SMA/MA Kelas X


3. terbentuk melalui proses sosialisasi
4. mempunyai pengaruh yang sama sesuai dengan kebudayaan
5. mempengaruhi perkembangan pribadi individu, baik positif maupun negatif
Pernyataan di atas yang benar adalah . . . .
A. 1, 2, 3 D. 2, 3, 4
B. 1, 3, 4 E. 3, 4, 5
C. 1, 3, 5

17. Salah satu pepatah yang mengatakan “lain ladang lain belalang, lain
lubuk lain ikannya” memberikan gambaran kepada kita bahwa setiap daerah
memiliki . . . .
A. tingkat perkembangan yang berbeda dengan daerah lain
B. kebiasaan hidup yang berbeda dengan daerah lain
C. tuntutan kehidupan yang berbeda dengan daerah lain
D. nilai-nilai yang berbeda dengan daerah lain
E. tata kelakuan yang berbeda dengan daerah lain

18. Seorang anak akan merasa aman dan mendapat pengalaman dalam
kelompoknya. Dalam hal ini, yang merupakan media sosialisasi adalah . . . .
A. lingkungan masyarakat D. teman kerja
B. lingkungan sekolah E. teman bermain
C. teman sekoah

19. Sejak kecil Lita selalu dibimbing dan diarahkan oleh orang tuanya agar melakukan
sesuatu dengan baik dan benar. Dalam hal ini, Lita mengalami proses sosialisasi,
yaitu . . . .
A. pemulihan tindakan anak yang bersifat asosial
B. pembelajaran ilmu pengetahuan sosial
C. penanaman nilai dan norma sosial
D. pembentukan kepribadian sosial
E. peningkatan kepekaan sosial

20. Meskipun sudah tahu akibat buruk dari penyalahgunaan narkoba, kenyataannya
masih banyak remaja yang terjebak untuk mengkonsumsi. Kasus ini terjadi
sebagai akibat dari . . . .
A. adanya kebebasan media massa
B. menurunnya kualitas pendidikan
C. banyaknya teman dalam pergaulan
D. lingkungan masyarakat yang buruk
E. proses sosialisasi yang tidak sempurna

Bab 4 Sosialisasi dan Pembentukan Kepribadian 131


Soal Essay

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan singkat dan tepat!


1. Apakah yang dimaksud dengan sosialisasi?
2. Jelaskan bagaimana peranan norma dan nilai dalam proses sosialisasi!
3. Sebutkan macam-macam norma sosial!
4. Mengapa norma dan nilai dapat mengalami pergeseran? Jelaskan!
5. Apakah yang dimaksud dengan kepribadian?
6. Jelaskan bagaimana korelasi antara proses sosialisasi dan proses pembentukan
kepribadian!
7. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan
kepribadian pada diri seseorang!
8. Apa yang dimaksud dengan nilai sentral? Bagaimana peranannya dalam bentuk
perilaku?
9. Sebutkan dan jelaskan macam-macam media sosialisasi!
10. Apa tujuan seorang individu melaksanakan proses sosialisasi?

132 Sosiologi SMA/MA Kelas X


PERILAKU MENYIMPANG

Tujuan Pembelajaran
Mengidentifikasikan
terjadinya perilaku
menyimpang sebagai
hasil sosialisasi yang
tidak sempurna.
Mengklasifikasi jenis-
jenis perilaku
menyimpang.
Mendeskripsikan
cara-cara untuk
menanggulangi
terjadinya perilaku
menyimpang.

Sumber: http/images.google.co.id

D
alam perkembangan masyarakat tidak selamanya orang-
orang berperilaku sesuai norma dan nilai. Perilaku yang
tidak sesuai dengan norma dan nilai inilah yang dinamakan
perilaku menyimpang yang menggelisahkan masyarakat sehingga
masyarakat mengambil suatu tindakan yang disebut pengendalian
sosial. Untuk membahas lebih lanjut, uraian berikut akan menjelaskan
bagaimana keterkaitan nilai dan norma sosial, perilaku menyimpang,
dan pengendalian sosial.

Bab 5 Perilaku Menyimpang 133


Proses sosialisasi
Tidak mampu Proses belajar Ketegangan
yang tidak
menyerap norma yang menyimpang Antarkebudayaan
sempurna

Dorongan
Pelampiasan rasa Sikap mental yang kebutuhan
kecewa tidak sehat ekonomi

Perilaku Menyimpang Tindakan anti sosial

j
j
Sikap melanggar Sikap anti
j
j

norma kemapanan
Pelanggaran Norma

Delinkuensi Kriminalitas
j
Pengendalian Sosial

134 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. PERILAKU MENYIMPANG
Perilaku menyimpang merupakan akibat proses sosialisasi yang salah atau proses
sosialisasi terhadap sub-sub kebudayaan yang menyimpang. Perilaku-perilaku ini
merugikan warga masyarakat secara sosiologis sehingga akan menjadi penghambat
tumbuh dan berkembangnya suatu masyarakat.
Perilaku menyimpang dapat dilakukan oleh siapapun, mulai dari anak muda
hingga orang dewasa pernah melakukannya. Tapi yang perlu diperhatikan adalah
bahwa batasan perilaku menyimpang ditentukan oleh norma-norma atau nilai-nilai
yang berlaku di masyarakat. Suatu tindakan yang mungkin pantas dan dapat diterima
di suatu tempat lain. Jadi, dapat dikatakan bahwa aturan yang menjadi dasar adanya
penyimpangan bukanlah baik atau buruknya perbuatan itu menurut pengertian
umum, melainkan berdasarkan ukuran norma dan nilai yang berlaku di dalam
masyarakat tertentu.

1. Pengertian Perilaku Menyimpang (Social Deviation)


Yang dimaksud perilaku menyimpang adalah semua perilaku warga masyarakat
baik secara individual maupun secara kolektif, baik secara langsung maupun tidak
langsung, yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku dalam
masyarakat. Perilaku menyimpang ini meliputi hal-hal berikut ini.

a. Kenakalan Remaja (Delinkuensi)


Semua bentuk perilaku remaja yang belum dewasa secara hukum yang
bertentangan dengan nilai-nilai dan norma sosial yang ada dikategorikan sebagai
kenakalan remaja. Norma yang dilanggar meliputi norma adat dan kebiasaan, norma
kesusilaan dan kesopanan, norma agama, maupun norma hukum. Kenakalan remaja
sering kali menjadi benih awal dari suatu kriminalitas. Kenakalan remaja pada
umumnya terjadi akibat gagalnya keluarga menjalankan fungsi-fungsinya, terutama
fungsi pendidikan dan fungsi pengawasan sosial. Kegagalan ini kemudian menjadi
beban masyarakat ketika seorang anak tidak mengetahui prinsip-prinsip benar dan
salah, serta tidak mengetahui prinsip baik dan buruk. Contoh delinkuensi: berkata-
kata jorok, mencuri buah-buahan, minum-minuman keras, perkelahian pelajar, dan
lain-lain.

b. Kejahatan (Criminality)
Kejahatan atau kriminalitas adalah semua bentuk perilaku warga masyarakat
yang telah dewasa yang bertentangan dengan norma-norma hukum, terutama adalah
hukum pidana. Kriminalitas terdiri atas kejahatan kerah biru dan kejahatan kerah
putih.
x Kejahatan kerah biru (blue collar crime), yaitu kejahatan yang dilakukan oleh
orang-orang miskin karena kemiskinannya.

Bab 5 Perilaku Menyimpang 135


x Kejahatan kerah putih (white collar crime), yaitu kejahatan yang dilakukan oleh
orang-orang kaya dan penguasa. Kejahatan ini dilakukan semata-mata bukan
karena kekurangan atau kemiskinan, melainkan karena keserakahannya.

2. Beberapa Teori Penyimpangan

a. Teori Kebudayaan Khusus yang Menyimpang


Teori ini dikemukakan oleh Shaw dan McKay. Menurutnya, kejahatan berawal
dari proses sosialisasi terhadap subkebudayaan yang memang salah dan menyimpang.
Hal ini terjadi pada perkampungan-perkampungan yang berserakan dan tidak teratur,
di mana perilaku menyimpang dianggap hal yang biasa, bahkan dianggap perilaku
yang normatif. Generasi baru yang dilahirkan di lingkungan ini pun dengan sendirinya
akan menyerap nilai-nilai yang memang menyimpang sejak awal.

b. Teori Anomi
Robert K. Merton mengemukakan bahwa penyimpangan perilaku terjadi karena
masyarakat mempunyai struktur budaya dengan sistem nilai yang berbeda-beda
sehingga tidak ada satu standar nilai yang dijadikan suatu kesepakatan untuk dipatuhi
bersama. Akibatnya, masing-masing masyarakat akan berperilaku dengan standarnya
masing-masing, padahal struktur budaya yang satu dengan struktur budaya yang
lain saling bertentangan. Pada akhirnya terjadi penyimpangan-penyimpangan
perilaku. Keadaan anomi bisa menyebabkan penyimpangan sosial selanjutnya
dikatakan bahwa dalam proses sosialisasi, individu-individu belajar mengenal tujuan-
tujuan budaya tersebut. Anomi terjadi karena adanya ketidakharmonisan antara
tujuan budaya dan cara-cara untuk mencapai tujuan budaya. Menurut Merton, ada
lima tipologi tingkah laku individu untuk menghadapi hal tersebut, yaitu konformitas,
inovasi, ritualisme, pengasingan diri, dan pemberontakan.

No. Cara-cara Adaptasi Tujuan Budaya Cara-cara yang


Melembaga
1. Konformitas  
2. Inovasi  
3. Ritualisme  
4. Pengasingan diri  
5. Pemberontakan ± ±

à Tabel 5.1 Tabel Tipologi Adaptasi Individual dari Merton.

136 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Keterangan:
Ada lima macam tingkah laku manusia yang berkaitan dengan budaya dengan cara-
cara yang disetujui untuk mencapai tujuan tersebut. Tanda + menunjukkan sikap
menerima, tanda – berarti sikap menolak, dan tanda ± berarti penolakan terhadap
nilai-nilai yang berlaku dan berupaya dengan nilai-nilai baru.

Dalam teori sosiologi, makna konformitas adalah suatu sikap yang menerima
tujuan sesuai dengan nilai-nilai budaya dan cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Misalnya, seseorang yang ingin lulus ujian SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa
Baru) agar menjadi mahasiswa PTN. Untuk mencapainya, dia tidak memakai joki
dan menyontek, dan tetapi dengan cara belajar sungguh-sungguh. Belajar merupakan
cara untuk mencapai tujuan yang disetujui dan sudah melembaga dalam masyarakat,
sedangkan menjadi mahasiswa merupakan tujuan yang sesuai dengan nilai budaya.
Sikap konformitas ini bukan merupakan keadaan anomis.
Dalam suatu perombakan struktur nilai, seringkali terjadi pembaruan-pembaruan
untuk menyempurnakan tata nilai lama yang dianggap tidak sesuai. Dalam konteks
ini, terjadilah suatu inovasi nilai. Inovasi adalah suatu sikap menerima tujuan sesuai
dengan nilai budaya, tetapi menolak cara-cara yang melembaga untuk mencapai
tujuan. Contohnya, meskipun masyarakat kita mendorong semua anggota masyarakat
untuk memperoleh kekayaan dan kedudukan sosial yang tinggi, namun dalam
kenyataannya, cara yang disetujui untuk mencapainya hanya memungkinkan
segelintir orang untuk berhasil. Mereka yang melihat betapa kecilnya kemungkinan
untuk berhasil jika mematuhi peraturan atau cara-cara yang benar, akan berupaya
untuk melanggar peraturan ini, misalnya korupsi. Korupsi merupakan cara yang
tidak disetujui dalam mencapai tujuan yang sesuai dengan nilai budaya.

Sumber: Pilars, 8–14 Desember 2003

à Gambar 5.1 Perilaku menyimpang berupa tindakan


yang melanggar hukum ditidaklanjuti dengan
memasukkan pelaku ke ruang tahanan.

Bab 5 Perilaku Menyimpang 137


Pemberontakan adalah sikap yang menolak tujuan dan cara-cara yang
melembaga dan berupaya menggantikannya dengan tujuan dan cara yang baru,
contohnya kaum revolusioner.
Selanjutnya, ritualisme dan pengasingan diri. Sikap menolak tujuan sesuai dengan
nilai budaya dengan menerima cara-cara yang melembaga untuk mencapai tujuan
disebut ritualisme. Contohnya: meskipun masyarakat kita menolak pengaturan zakat,
namun mereka menerima cara-cara yang melembaga untuk mencapai tujuan
perzakatan. Sebaliknya pada pengasingan diri, seorang individu atau kelompok
masyarakat menolak tujuan maupun cara-cara untuk mencapai tujuan yang
melembaga.

c. Teori Reaksi Masyarakat


Teori penyimpangan yang ketiga adalah teori reaksi masyarakat. Pada dasarnya,
teori ini adalah teori pemberian label atau cap terhadap suatu tindakan
penyimpangan. Oleh karena itu, teori ini disebut pula teori pemberian cap. Teori
ini dijelaskan dengan memakai bantuan konsep penyimpangan primer dan sekunder,
khususnya penyimpangan sekunder. Sebabnya masa depan seseorang yang telah
terlanjur dianggap sebagai penyimpangan sekunder bisa berubah secara drastis.
Misalnya, seseorang yang melakukan tindakan pencurian di wilayah tempat
tinggalnya, walaupun dilakukan hanya satu kali, oleh masyarakat diberi cap sebagai
pencuri. Meskipun kesehariannya bertingkah laku baik, namun cap itu sendiri jauh
lebih diperhatikan melebihi status-status yang lainnya.

1. Jelaskan mengapa orang harus berperilaku seperti norma dan nilai!


2. Ada banyak teori penyimpangan, teori manakah menurut Anda yang paling
baik? Apa alasannya?
3. Sebutkan lima bentuk penyimpangan sosial yang masih tergolong ringan!
4. Jelaskan bagaimana kaitan antara kenakalan remaja dan kriminalitas!

3. Sifat-Sifat Penyimpangan
Penyimpangan perilaku memang tidak selamanya mempunyai pengaruh yang
buruk bagi masyarakat. Berdasarkan sifatnya, penyimpangan dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu penyimpangan positif dan penyimpangan negatif.

138 Sosiologi SMA/MA Kelas X


x Penyimpangan positif adalah penyimpangan yang terarah pada nilai-nilai sosial
yang ideal, walaupun cara atau tindakan yang dilakukan itu seolah-olah
menyimpang dari norma-norma yang berlaku, padahal sebenarnya tidak.
Seseorang dikatakan menyimpang secara positif jika dia berusaha merealisasikan
suatu cita-cita namun masyarakat pada umumnya menolak atau tidak dapat
menerima caranya. Akibatnya yang diterima bukan pujian melainkan celaan.
Contoh: wadah pergaulan dalam bentuk “kontak jodoh” yang mungkin belum
dapat diterima oleh anggota masyarakat karena dianggap melampaui batas.
x Penyimpangan negatif adalah kecenderungan bertindak ke arah nilai-nilai sosial
yang dipandang rendah dan berakibat buruk. Tindakan perilaku menyimpang
ini dianggap tercela oleh masyarakat, pelakunya dikucilkan dan bobotnya diukur
menurut kaidah sosial yang dilanggar. Pelanggaran terhadap kaidah susila dan
adat istiadat biasanya dinilai berat.

B. TERJADINYA PERILAKU MENYIMPANG SEBAGAI HASIL SOSIALISASI


YANG TIDAK SEMPURNA
Proses sosialisasi yang tidak sempurna dapat membentuk perilaku menyimpang.
Hal ini terjadi misalnya karena seorang individu kesulitan dalam berkomunikasi
ketika bersosialisasi. Perilaku menyimpang tersebut juga dapat terjadi ketika seorang
individu tidak mampu mendalami norma-norma masyarakat yang berlaku dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Proses sosialisasi tidak akan berhasil
jika sejak kecil seseorang mengamati kemudian meniru perilaku menyimpang yang
dilakukan oleh orang-orang dewasa, terutama orang-orang di sekitarnya. Individu
juga dapat tidak berhasil melakukan sosialisasi jika ia tidak memiliki kepercayaan
diri dan kemampuan dalam proses sosialisasi tersebut.

1. Penyebab Perilaku Menyimpang


Berdasarkan tinjauan multidimensi, perilaku menyimpang dapat disebabkan
oleh hal-hal berikut ini.
a. Ketidaksanggupan Menyerap Norma-norma Kebudayaan
Proses ini berlangsung ketika seseorang individu tidak mampu membedakan
perilaku yang pantas dan yang tidak pantas. Ini dapat terjadi karena seseorang
menjalani proses sosialisasi yang tidak sempurna. Kasus ini tampak pada seseorang
yang berasal dari keluarga berantakan. Biasanya bila anak ini terjun ke masyarakat
yang lebih luas, ia cenderung tidak sanggup menjalankan perannya sesuai dengan
perilaku yang pantas menurut ukuran masyarakat.

b. Proses Belajar yang Menyimpang


Proses belajar suatu subkebudayaan yang menyimpang akan menimbulkan
perilaku-perilaku baru pada generasi baru yang menyimpang dari norma dan nilai

Bab 5 Perilaku Menyimpang 139


yang ada. Adapun terjadinya proses belajar perilaku menyimpang sama halnya
dengan proses belajar yang lainnya. Proses belajar ini terjadi melalui interaksi sosial
dengan orang lain khususnya orang-orang berperilaku menyimpang yang sudah
berpengalaman.

c. Ketegangan antara Kebudayaan dan Struktur Sosial


Pada masyarakat multikultural memang terdapat perbedaan-perbedaan struktur
budaya yang sangat mendasar. Hal ini menjadi titik awal terjadinya penyimpangan.
Setiap masyarakat tidak hanya memiliki tujuan-tujuan yang dianjurkan oleh
kebudayaan, tetapi juga cara-cara yang diperkenankan oleh kebudayaan tersebut
untuk mencapai tujuan tadi. Apabila seseorang tidak diberi peluang untuk memilih,
maka cara-cara ini dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga kemungkinan
besar akan terjadi perilaku menyimpang.

d. Ikatan Sosial yang Berlainan


Dalam suatu masyarakat memang terdapat kerabat-kerabat dengan ikatan sosial
yang berbeda-beda dan struktur tata nilai yang berbeda pula. Setiap orang biasanya
berhubungan dengan kelompok yang berlainan. Hubungan dengan kelompok-
kelompok tersebut akan cenderung membuatnya mengidentifikasi dirinya dengan
kelompok yang paling dihargainya. Dengan hubungan ini, ia akan memperoleh
pola-pola sikap dan perilaku kelompoknya. Jika pergaulan ini memiliki pola sikap
dan perilaku menyimpang, maka kemungkinan besar ia juga akan menunjukkan
pola-pola perilaku menyimpang.

e. Akibat Proses Sosialisasi Nilai-nilai Subkebudayaan Menyimpang


Sebagaimana disinggung di depan, bahwa proses sosialisasi akan menghasilkan
sesuatu yang baik dan yang buruk yang kadang berlangsung secara tumpang tindih
tanpa disadari. Proses sosialiasi ini terjadi secara sengaja maupun tidak sengaja.
Perilaku menyimpang sering kali merupakan akibat dari sosialisasi yang sengaja
maupun tidak sengaja. Perilaku menyimpang sebagai hasil sosialisasi yang sengaja
dapat terjadi melalui kelompok-kelompok gelap yang tujuannya benar-benar
mengajarkan penyimpangan. Mereka membentuk subkebudayaan yang berbeda
dari kebudayaan umumnya.

f. Sikap Mental yang Tidak Sehat


Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai sentral yang ada pada diri
manusia itu. Nilai sentral ini merupakan nilai yang paling dipedomani oleh seseorang.
Adakalanya nilai-nilai sentral ini sangat berbeda antara individu yang satu dengan
individu yang lain. Terutama karena berasal dari masyarakat yang mempunyai struktur
budaya yang berlainan. Hal ini dapat terjadi karena orang yang melakukan perilaku
menyimpang tidak merasa bersalah atau menyesal.

140 Sosiologi SMA/MA Kelas X


g. Dorongan Kebutuhan Ekonomi
Sebagaimana diketahui bahwa kebutuhan hidup tidak selamanya tersedia dan
mudah dijangkau. Terkadang keinginan tidak sesuai dengan kemampuan. Hal inilah
yang menjadi titik awal terjadinya penyimpangan perilaku akibat dorongan
pemenuhan kebutuhan ekonomi. Seseorang yang terdesak kebutuhan ekonominya
jika tidak memiliki iman yang kuat atau tidak dapat mengendalikan diri atau tidak
mau bekerja keras dapat terdorong menjadi penjahat.

h. Pelampiasan Rasa Kecewa


Tidak selamanya keadaan yang ada di hadapan kita sesuai dengan keinginan
kita. Keadaan inilah yang membuat orang mengalami kekecewaan. Selanjutnya
sering kali kekecewaan ini memunculkan perilaku-perilaku yang merupakan
pelampiasan dari rasa kekecewaannya itu. Misalnya, seseorang yang mengalami
rasa kecewa atau kepahitan hidup dapat melakukan perilaku menyimpang sebagai
usaha pelarian atau pelampiasan terhadap rasa kecewanya atau kesulitannya itu.

i. Keinginan untuk Dipuji atau Gaya-gayaan


Di lingkungan orang-orang yang sebaya, sering kali perilaku menyimpang itu
dilakukan untuk menunjukkan keberanian seseorang untuk melakukan sesuatu,
termasuk perilaku-perilaku yang menyimpang. Perilaku menyimpang kadang-kadang
dilakukan sekedar untuk gaya-gayaan atau keinginan untuk dipuji. Misalnya:
berkelahi, mabuk-mabukan, penyalahgunaan narkotika, dilakukan biar dianggap
hebat, jagoan, dan lainnya.

1. Mengapa sosialisasi yang tidak sempurna dapat menyebabkan perilaku


menyimpang?
2. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor penyebab perilaku menyimpang!
3. Sebutkan macam-macam perilaku menyimpang!

2. Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang Akibat Perubahan Sosial Budaya


Proses perubahan sosial budaya yang sangat mendasar dan berlangsung relatif
cepat mengakibatkan munculnya perilaku-perilaku menyimpang. Mereka merombak
sistem perilaku lama sehingga yang pada mulanya merupakan sesuatu yang benar
namun sekarang menjadi sesuatu yang salah dan menyimpang.

Bab 5 Perilaku Menyimpang 141


Sumber: Men’s Obsession, Edisi Khusus 2005

à Gambar 5.2 Adanya tindakan revolusioner dari rakyat berupa


tuntutan agar terjadi pergantian pimpinan dalam pemerintah
merupakan wujud ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah.

Sebagai contoh, kasus Indonesia yang sejak merdeka hingga sekarang setidaknya
telah terjadi tiga kali revolusi sosial, yaitu perubahan sosial yang mendasar dan
berlangsung dalam waktu yang relatif singkat terjadi di awal kemerdekaan, pada
masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru, dan di mana peralihan antara Orde Baru
ke Orde Reformasi.

a. Revolusi Sosial pada Awal Kemerdekaan


Pada masa ini terjadi perubahan sosial yang sangat mendasar pada struktur
pemerintahan, yaitu dari sistem kolonialis menjadi sistem demokrasi di bawah
pemerintahan bangsa sendiri. Ketika terjadi perubahan secara cepat, terjadi struktur-
struktur budaya lama yang masih muncul pada masa sekarang. Perilaku ini
merupakan contoh perilaku menyimpang akibat perubahan sosial budaya pada
masa itu. Contoh:
x penggunaan bahasa Belanda dan bahasa Jepang yang merupakan peninggalan
bangsa penjajah, dan
x gaya kepemimpinan yang otoriter.

b. Revolusi Sosial pada Masa Peralihan Orde Lama ke Orde Baru


Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1965/1966 pada saat pemerintahan Orde Lama
lengser dari panggung kekuasaan dan diganti dengan pemerintahan Orde Baru.
Pada masa ini terjadi perombakan susunan kabinet 100 menteri dengan pembubaran
Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada masa berikutnya, perilaku-perilaku dan ajaran
komunis masih muncul yang selanjutnya dapat disebut perilaku menyimpang akibat
perubahan sosial pada masa itu. Contoh: sikap-sikap ajaran komunis sosialis seperti

142 Sosiologi SMA/MA Kelas X


bekerja sama untuk kepentingan bersama dan segala sesuatu menjadi hak milik
bersama.

c. Revolusi Sosial pada Masa Peralihan antara Orde Baru ke Orde Reformasi
Masa peralihan ini terjadi sekitar tahun 1998 dan 1999, yaitu ketika kekuasaan
Orde Baru turun dari panggung politik di Indonesia yang dilanjutkan dengan
Pemilihan Umum pada tahun 1999. Hingga saat ini kita masih berada pada Orde
Reformasi. Sesuatu yang dianggap baik dan dipedomani pada masa pemerintahan
Orde Baru menjadi sesuatu yang menyimpang pada masa sekarang. Ini terjadi
karena adanya perubahan struktur budaya pada masa peralihan tersebut. Contoh:
sikap mengekang kebebasan dan sikap sentralistik.

Secara umum, penyimpangan-penyimpangan sosial dalam masyarakat itu dapat


diklasifikasikan menjadi empat jenis penyimpangan besar, antara lain sebagai
berikut.

a. Penyimpangan gaya hidup


Penyimpangan gaya hidup merupakan salah satu bentuk penyimpangan ringan,
yaitu apabila seseorang dalam menyelenggarakan kehidupannya tidak seperti yang
dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Penyimpangan gaya hidup ini bisa
berupa cara berpakaian, cara berbicara, solidaritas sosial yang sangat terbatas, dan
lain-lain. Secara hukum, penyimpangan jenis ini belum melanggar norma, tetapi
berdasarkan adat dan kebiasaan, penyimpangan gaya hidup sudah termasuk
penyimpangan yang sangat mendasar terutama bagi masyarakat tradisional.

b. Penyimpangan pemakaian barang-barang konsumsi yang berlebihan


Penyimpangan pemakaian barang konsumsi ini merupakan bentuk pe-
nyimpangan terhadap norma agama dan norma kebiasaan. Secara hukum perilaku-
perilaku tersebut belum dianggap salah, tetapi oleh para alim ulama melalui khotbah-
khotbahnya perilaku ini telah dinyatakan sebagai perilaku yang kurang terpuji
sehingga perlu untuk dihindari. Contohnya, ada kalanya kelompok orang-orang
kaya memenuhi kebutuhan secara mewah dan berlebihan. Hal ini juga membuat
perilaku tersebut berbeda dengan apa yang dilakukan oleh warga masyarakat pada
umumnya.

c. Penyimpangan seksual
Pada dasarnya, penyimpangan seksual adalah penyimpangan perilaku seksual
yang dilakukan di luar ikatan pernikahan antara pria dan wanita. Sebagai contoh
penyimpangan seksual antara lain: kumpul kebo, pelacuran, pelecehan seks, dan
pemerkosaan. Penyimpangan seksual ini merupakan penyimpangan terhadap norma
kesusilaan dan kesopanan, terhadap norma adat dan kebiasaan, dan terhadap norma
agama dan norma hukum.

Bab 5 Perilaku Menyimpang 143


d. Penyimpangan perilaku yang mengarah pada tindak kejahatan (kriminalitas)
Penyimpangan kriminalitas merupakan perilaku warga masyarakat yang telah
dewasa hukum yang bertentangan dengan norma-norma hukum, terutama hukum
pidana. Perilaku-perilaku kriminal yang bertentangan dengan norma hukum pidana
misalnya: penipuan dan pemerasan, pemalsuan dokumen, penganiayaan,
pembunuhan, perusakan, pencurian, dan perampokan.

Berdasarkan esensi berat-ringannya pelanggaran, penyimpangan sosial dapat


diklasifikasikan menjadi dua tingkatan, yaitu penyimpangan primer dan
penyimpangan sekunder.

a. Penyimpangan primer
Penyimpangan primer adalah penyimpangan yang dilakukan sekali dan
untuk yang pertama kali. Setelah itu, penyimpangan tidak akan terulang lagi.
Penyimpangan ini merupakan penyimpangan dalam kategori yang ringan dan sering
kali disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan atau ketidaktahuan dari orang yang
melakukannya.

b. Penyimpangan sekunder
Penyimpangan sekunder adalah penyimpangan atau pelanggaran yang
dilakukan berkali-kali, bahkan pelakunya memiliki kecakapan khusus atau ter-
spesialis dengan jenis pelanggaran yang dilakukannya. Jenis pelanggaran ini
merupakan pelanggaran yang mempunyai esensi berat dan perlu mendapatkan
sanksi maksimal berdasarkan hukum yang berlaku. Contoh: pencopet, pencuri sepeda
motor, dan lain-lain.

Berdasarkan jumlah pelakunya, penyimpangan sosial dapat diklasifikasikan


menjadi dua macam, yaitu penyimpangan perorangan dan penyimpangan kelompok.

a. Penyimpangan perorangan
Penyimpangan perorangan adalah penyimpangan atau pelanggaran yang
dilakukan orang perorangan. Penyimpangan ini dapat meliputi penyimpangan seks,
penyimpangan kriminal, atau penyimpangan gaya hidup. Penyimpangan jenis ini
sering kali terjadi di lingkungan birokrasi berupa penyimpangan penyalahgunaan
kekuasaan pada jabatan tertentu.

b. Penyimpangan kelompok
Penyimpangan kelompok adalah penyimpangan yang dilakukan secara
bersama-sama dan terkoordinir, serta melembaga yang disebut pula sebagai kolusi.
Kolusi dapat terjadi di kalangan pemerintah maupun di kalangan swasta. Yang pasti
kolusi akan mengakibatkan korban yang lebih banyak dan sering kali berlangsung
dalam waktu yang sangat panjang.
Beberapa jenis penyimpangan sosial yang sering kita jumpai dalam kehidupan
sehari-hari antara lain sebagai berikut.

a. Pemalsuan uang dan dokumen


Hampir setiap dekade di Indonesia ada saja pihak-pihak yang memalsukan
uang pemerintah RI. Oleh karena itu, PERURI (Perusahaan Uang Republik Indonesia)
senantiasa secara berkala mengganti jenis-jenis uang yang beredar untuk menghindari
adanya pemalsuan terhadap jenis uang tertentu. Di samping itu, kepolisian dan
intelejen selalu berusaha untuk menangkap dan mengadili pihak-pihak yang telah
memalsukan uang pemerintah RI.
Pemalsuan dokumen meliputi pemalsuan materai, perangko, surat-surat berharga
seperti ijazah, cek, perjanjian-perjanjian, dan lain sebagainya. Pelanggaran tipe ini
biasanya dilakukan oleh orang-orang yang justru ahli dalam bidangnya dan sering
kali membentuk suatu sindikat yang justru melibatkan orang-orang pandai bahkan
aparat. Oleh karena itu, informasi dari masyarakat terhadap semua bentuk
pelanggaran merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi kepolisian untuk
memberantas tindakan penyimpangan tersebut.

Sumber: Garuda, September 2003

à Gambar 5.3 Penggantian jenis-jenis uang yang beredar secara berkala


oleh Peruri dimaksudkan untuk menghindari pemalsuan uang.

b. Korupsi, kolusi, dan nepotisme


Korupsi dapat dipahami sebagai suatu sikap untuk memperkaya diri dengan
cara mengambil atau memanfaatkan uang negara. Korupsi bisa dilakukan di
lingkungan pemerintah maupun di lingkungan swasta, sedangkan kolusi merupakan
korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan melembaga.
Nepotisme merupakan suatu bentuk kejahatan berbentuk memberikan
toleransi yang lebih kepada keluarga dan kerabatnya dalam kaitan dengan birokrasi

Bab 5 Perilaku Menyimpang 145


pemerintahan maupun pengadaan barang. Nepotisme bisa berarti melanggar hukum,
bisa juga tidak melanggar hukum. Namun yang jelas nepotisme merupakan suatu
penyimpangan perilaku secara tidak wajar dan menimbulkan kecemburuan sosial
bagi masyarakat umum.

c. Pembobolan bank
Sistem komputerisasi perbankan yang bersifat terbuka (on line) sering kali
menjadi incaran para pembobolan bank. Pelaku umumnya orang-orang dalam di
lingkungan bank yang bersekongkol dengan orang-orang tertentu selaku nasabah.
Kasus pembobolan bank sering terjadi karena lemahnya pengawasan dan canggihnya
sistem transfer dana dari bank yang satu ke bank yang lain. Pembobolan bank
biasanya melalui transaksi kredit yang diberikan oleh bank kepada nasabah fiktif.

d. Aksi perkelahian massal dan tindakan anarkis


Aksi perkelahian massal merupakan bentuk solidaritas sosial yang negatif
dari suatu kelompok terhadap kelompok yang lain. Dalam suatu perkelahian massal,
sering kali berbuntut penganiayaan, pembunuhan, atau tindakan anarkis yang
merusak seperti membakar rumah dan fasilitas-fasilitas tertentu. Penyimpangan
perilaku tipe ini penyelesaiannya harus lebih hati-hati, yaitu dengan melibatkan
tokoh-tokoh masyarakat serta kedua belah pihak.

e. Perampokan, penganiayaan, dan pembunuhan


Perampokan pada umumnya dilakukan dengan mengancam, baik dengan
senjata tajam maupun senjata api. Rangkaian tindakan perampokan sering kali
berkaitan dengan tindak penganiayaan dan bahkan pembunuhan.

f. Pencurian
Pencurian merupakan suatu tindak pelanggaran kriminal dengan mengambil
barang-barang milik orang lain secara tidak sah. Ada banyak jenis pencurian yang
biasa terjadi di dalam masyarakat, antara lain: pencurian sepeda motor dan mobil
(curanmor), pencurian barang-barang elektronik, pencurian perhiasan dan uang,
dan pencurian ternak.

g. Penyimpangan seks
Penyimpangan seks merupakan penyimpangan sosial pada aktivitas seks
yang dilakukan antara laki-laki dan perempuan yang menyimpang dari norma-
norma agama atau pun norma hukum. Ada beberapa macam penyim-pangan seks,
antara lain: pelacuran (prostitusi), homoseksual, lesbian, dan perkosaan.

h. Alkoholisme (miras)
Minum-minuman beralkohol yang melebihi ambang batas dilarang oleh
hukum karena dapat mendorong terjadinya tindak kriminal yang lain. Selain itu,

146 Sosiologi SMA/MA Kelas X


dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Beberapa contoh alkohol atau
miras antara lain: ciu, jenewer, wiski, atau jenis-jenis miras yang lain.

i. Narkotika
Penyimpangan sosial jenis ini merupakan penyimpangan yang bertendensi
ekonomi, yaitu dilakukan oleh orang-orang mampu dan disalurkan oleh orang-
orang dalam suatu bentuk kegiatan bisnis. Adapun barang-barang yang dapat
tergolong narkotika antara lain: ekstasi, putaw, heroin, sabu-sabu, dan ganja.

j. Perkelahian pelajar
Kasus perkelahian pelajar merupakan kasus-kasus kenakalan remaja yang
marak di kalangan pelajar. Perkelahian pelajar atau tawuran pada umumnya
berlangsung di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Ujung-pandang,
Semarang, dan lain-lain. Hal-hal yang dapat menyebabkan perkelahian pelajar
antara lain: pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah yang tidak
terisi sesuai dengan jadwal, kurangnya pengawasan orang tua siswa, kurangnya
pengawasan dari pihak sekolah, dan lain-lain.

1. Coba jelaskan bagaimana urut-urutan penyelesaian kasus pelanggaran


hukum dari awal sampai dengan vonis hakim!
2. Pengendalian sosial seperti apa yang dilakukan untuk mengatasi tawuran?
Jelaskan pendapatmu!
3. Mengapa undang-undang perlu dibuat dengan melibatkan Dewan
Perwakilan Rakyat?
4. Apa yang dimaksud dengan pengendalian korupsi, kolusi, dan nepotisme?

C. PENANGGULANGAN TERHADAP PERILAKU MENYIMPANG

Untuk menanggulangi terjadinya perilaku menyimpang, diperlukan pengendalian


sosial. Pengendalian sosial merupakan suatu sistem yang mendidik, mengajak,
bahkan memaksa warga masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan
norma. Dengan begitu, kehidupan masyarakat pun akan tertib dan teratur.
Kepentingan individu atau kelompok tertentu sering kali menimbulkan
penyimpangan-penyimpangan. Untuk itu, pengendalian sosial di antara individu
maupun di antara kelompok juga perlu dilakukan. Pengendalian sosial di antara

Bab 5 Perilaku Menyimpang 147


individu dilakukan dengan pengawasan individu tertentu terhadap individu lainnya.
Misalnya, ayahmu yang mendidikmu untuk menaati peraturan dalam keluarga.
Pengendalian sosial di antara individu dan kelompok terjadi ketika individu
mengawasi suatu kelompok. Hal ini dilakukan misalnya oleh gurumu terhadap
murid-muridnya di sekolah. Selain itu, pengendalian sosial juga dapat dilakukan
diantara kelompok, di mana ada pengawasan dari suatu kelompok terhadap
kelompok lainnya.
Menurut Koentjaraningrat (1922 : 217), upaya pengendalian sosial dapat
dilakukan dengan mempertebal keyakinan para warga masyarakat akan kebaikan
adat istiadat dalam berbagai masyarakat. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan.
Selain itu, pengendalian sosial juga dapat dilakukan dengan memberikan
penghargaan kepada warga masyarakat yang mematuhi adat istiadat dan sebaliknya
mengembangkan rasa malu dalam jiwa warga masyarakat yang tidak mematuhi
adat istiadat. Jika upaya pengendalian sosial tadi belum berhasil juga, dilakukan
cara-cara yang lebih tegas. Misalnya, mengembangkan rasa takut dalam jiwa
masyarakat yang hendak menyimpang dari adat dengan ancaman dan kekerasan.
Selain itu juga memberlakukan hukuman dengan mengenakan sanksi yang tegas
pada pelanggarnya. Misalnya, hukuman penjara atau berupa denda.
Pengendalian sosial yang dilakukan diharapkan dapat mengurangi penyimpangan
sosial yang terjadi. Seperti apakah cara-cara pengendalian sosial itu dan lembaga-
lembaga apa saja yang melakukannya? Kamu bisa mengetahuinya di bab selanjutnya.

Kunjungilah salah satu lembaga pengendalian sosial yang terdekat dari sekolah
Anda, misalnya kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau rumah tahanan/lembaga
pemasyarakatan.
Kemudian buatlah laporan ringkas mengenai hal-hal berikut ini!
1. Fungsi dan peranan lembaga
2. Tugas dan kewenangan lembaga
3. Kegiatan operasional lembaga

148 Sosiologi SMA/MA Kelas X


MEWUJUDKAN PEMERINTAH YANG BAIK

P
emilu tahun 2004 ini merupakan suatu sistem yang lebih baik dan
lebih demokratis untuk memilih anggota legislatif, presiden, dan
wakil presiden karena ketiga komponen bangsa yang penting itu dipilih
secara langsung oleh rakyat melalui proses pemilihan umum.
Pemerintah yang baik adalah pemerintah yang kuat yang dapat
menyatukan pendapat dari seluruh rakyatnya sehingga seluruh kekuatan
bangsa tertuju pada satu arah untuk mencapai tujuan negara. Ciri-ciri
pemerintah yang baik adalah pemerintah yang dapat menyusun kebijakan
yang tepat sesuai dengan harapan warga masyarakatnya.

Petunjuk Simulasi Pro Kontra


1. Siswa dalam kelas dibagi atas dua kelompok. Satu kelompok pro dan satu
kelompok lagi kontra. Tuangkan pendapat dan penjelasan kalian sesuai
dengan kelompok masing-masing berdasarkan pertanyaan di bawah ini!
2. Pilihlah salah seorang dari setiap kelompok yang bertugas sebagai presenter
untuk menyajikan kesimpulan hasil diskusi kelompokmu!

Pertanyaan:
1. Setujukah kalian bahwa pemerintah yang baik adalah pemerintah yang
kuat (strong government) yang dapat menyatukan pendapat dari seluruh
rakyat untuk menuju pada satu arah sesuai dengan tujuan negara? Jelaskan!
2. Menurut Anda, bagaimanakah solusi untuk mewujudkan pemerintah yang
baik?

Bab 5 Perilaku Menyimpang 149


MENGELIMINIR BUDAYA KORUPSI

P
ada masa reformasi akhir-akhir ini, hampir semua media massa
membahas tentang cara-cara memberantas budaya korupsi. Korupsi
memang merupakan sesuatu penyimpangan yang benar-benar
menghambat upaya perkembangan masyarakat secara keseluruhan.
Di kalangan birokrat, baik pemerintah maupun lembaga nonpemerintah
dewasa ini memang masih sangat kental dengan budaya korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Mungkin hal ini tidak akan sepenuhnya bisa dihilangkan dari tata
pergaulan masyarakat kita. Tetapi setidaknya dapat ditekan sekecil mungkin
pertumbuhannya.
Pada dasarnya, budaya korupsi ini dilakukan turun-temurun dari generasi
terdahulu kepada generasi berikutnya. Untuk mengeliminir budaya korupsi,
mulai sekarang generasi-generasi tua harus berani menjadi guru perilaku sosial
yang baik dengan meninggalkan secara perlahan dan penuh kesadaran budaya
korupsi.

Pertanyaan:
1. Mengapa korupsi masih kental dilakukan dalam masyarakat kita, terutama
oleh pejabat-pejabat negara?
2. Bagaimana upaya pencegahannya melalui proses pewarisan budaya yang
baik?
3. Benarkah bahwa budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme tak pernah bisa
dihapuskan? Mengapa demikian?
4. Sebutkan masing-masing dua contoh budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme
di kalangan birokrat pemerintah!
5. Setujukah Anda dengan dibentuknya lembaga Komite Pemberantasan
Korupsi (KPK). Apa alasanmu?

150 Sosiologi SMA/MA Kelas X


KESENJANGAN SOSIAL SEBAGAI POTENSI KONFLIK

Salah satu penyebab menjadi semakin tingginya jurang kesenjangan sosial


antara golongan kaya dan golongan miskin adalah kehadiran teknologi melalui
proses modernisasi dan pembangunan. Melalui proses modernisasi dan
pembangunan, teknologi-teknologi baru diimpor oleh agen modernisasi dan
pembangunan untuk memajukan taraf kehidupan suatu bangsa. Akan tetapi,
teknologi canggih ini akan berpihak kepada orang-orang kaya dan selanjutnya
menjadi sekutu orang-orang kaya untuk menghasilkan barang dan
mendatangkan uang. Barang-barang teknologi canggih ini misalnya mobil,
telepon, traktor pembajak, truk, komputer, internet, televisi, radio, mesin tenun,
mesin bubut, dan lain-lain.
Justru dengan kedatangan mesin-mesin teknologi canggih ini golongan
masyarakat miskin akan termarginalkan. Sebab, mereka tergusur dari pekerjaan
yang diakibatkan oleh mesin-mesin yang digunakan daripada tenaga-tenaga
manusia. Inilah kasus kesenjangan sosial yang makin lebar. Kasus ini dapat
membuat sekat-sekat dalam masyarakat untuk menimbulkan penindasan sosial
budaya kepada kelompok miskin serta mendorong adanya kecemburuan sosial
dari kelompok miskin kepada kelompok kaya. Pada gilirannya, keadaan ini
dapat menjadi potensi terjadinya konflik dalam masyarakat.

Pertanyaan:
1. Sebutkan empat faktor penyebab kesenjangan sosial!
2. Jelaskan bagaimana kaitan antara modernisasi dan kesenjangan sosial!
3. Mengapa kesenjangan sosial dapat menjadi potensi konflik dalam
masyarakat?
4. Bagaimana cara-cara mengatasi kesenjangan sosial dalam masyarakat?
5. Upaya-upaya apakah yang sekarang diperjuangkan oleh pemerintah
Indonesia dalam mengatasi kemiskinan?

Bab 5 Perilaku Menyimpang 151


1. Perilaku menyimpang adalah semua perilaku warga masyarakat yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku
menyimpang terdiri atas:
x Kenakalan remaja (delinquention)
x Kejahatan (criminality)
2. Teori Penyimpangan
x Teori kebudayaan khusus yang menyimpang
x Teori anomi
x Teori reaksi masyarakat
3. Sifat-sifat Penyimpangan
x Penyimpangan positif
x Penyimpangan negatif
4. Penyebab perilaku menyimpang
x Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan
x Proses belajar yang menyimpang
x Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial
x Ikatan sosial yang berlainan
x Akibat proses sosialisasi nilai-nilai subkebudayaan menyimpang
x Sikap mental yang tidak sehat
x Dorongan kebutuhan ekonomi
x Pelampiasan rasa kecewa
x Keinginan untuk dipuji atau gaya-gayaan
5. Revolusi sosial yang terjadi di Indonesia
x Revolusi sosial pada awal Kemerdekaan
x Revolusi sosial pada masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru
x Revolusi sosial pada masa peralihan antara Orde Baru ke Orde Reformasi
6. Jenis-jenis penyimpangan sosial yang terjadi di masyarakat
x Penyimpangan gaya hidup
x Penyimpangan pemakaian barang-barang konsumsi yang berlebihan
x Penyimpangan seksual
x Penyimpangan perilaku yang mengarah pada tindak kejahatan (kriminalitas)

152 Sosiologi SMA/MA Kelas X


7. Penyimpangan sosial berdasarkan esensi berat-ringannya pelanggaran
x Penyimpangan primer
x Penyimpangan sekunder
8. Penyimpangan sosial berdasarkan jumlah pelakunya
x Penyimpangan perorangan
x Penyimpangan kelompok
9. Contoh penyimpangan sosial dalam kehidupan sehari-hari
x Pemalsuan uang dan dokumen
x Korupsi, kolusi, dan nepotisme
x Pembobolan bank
x Aksi perkelahian massal dan tindakan anarkis
x Perampokan, penganiayaan, dan pembunuhan
x Pencurian
x Penyimpangan seks
x Alkoholisme (miras)
x Narkotika
x Perkelahian pelajar ebudayaan dan Struktur Sosial
10. Untuk menanggulangi terjadinya perilaku menyimpang, diperlukan pengendalian
sosial. Suatu sistem yang mendidik , mengajarkan, bahkan memaksa warga
masyarakat untuk berprilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.
Pengendalian sosial merupakan. Contoh-pengendalian sosial antara lain:
x Pendidikan
x Penghargaan
x Mengembangkan rasa malu
x Mengembangkan rasa takut dengan ancaman dan kekerasan
x Hukuman dengan mengenakan sanksi yang tegas

Bab 5 Perilaku Menyimpang 153


Soal Objektif

Pilihlah satu jawaban yang benar dengan menyilang huruf A, B, C, D atau E!

1. Usaha-usaha yang dilakukan oleh masyarakat untuk mencegah dan mengatasi


adanya perilaku menyimpang disebut . . . .
A. kontrol sosial D. pengadilan
B. pengendalian sosial E norma sosial
C. deviasi sosial

2. Fungsi keluarga untuk membentuk perilaku tertib dan patuh terhadap norma-
norma sosial dalam lingkungan masyarakat setempat terhadap putra dan putrinya
adalah fungsi . . . .
A. sosialisasi D. penghubung kerabat
B. edukasi E reproduksi
C. pengawasan sosial

3. Salah satu penyebab adanya perilaku menyimpang adalah . . . .


A. faktor warisan biologis
B. pengaruh lingkungan keluarga
C. adanya proses sosialisasi yang tidak sempurna
D. faktor usia dan jenis kelamin
E pengaruh lingkungan pergaulan

4. Suatu keadaan di mana terjadi penurunan kualitas moral orang-orang dalam


masyarakat disebut . . . .
A. demoralisasi D. revitalisasi
B. penyimpangan sosial E reorganisasi
C. degradasi moral

5. Salah satu tujuan dari pengendalian sosial adalah . . . .


A. menciptakan kebenaran
B. melindungi kepentingan umum
C. menciptakan keteraturan sosial
D. mengatur pemenuhan kebutuhan
E menghindari konflik sosial

154 Sosiologi SMA/MA Kelas X


6. Pada masyarakat tradisional seperti masyarakat Tengger di Gunung Bromo Jawa
Timur, penyimpangan perilaku akan diberikan sanksi berupa . . . .
A. sanksi hukum fisik
B. denda berupa uang
C. sanksi sosial dikucilkan dari masyarakat
D. hukuman kurungan
E hukuman gantung

7. Ukuran menyimpang tidaknya suatu tindakan adalah . . . .


A. nilai-nilai dan norma sosial
B. hukum dan norma
C. agama dan adat istiadat
D. tata kelakuan dan kebiasaan
E. benar dan salah

8. Penyimpangan hanya bersifat sementara dan tidak berulang kembali dan individu
yang melakukan masih diterima secara sosial termasuk jenis perilaku
menyimpang . . . .
A. individu D. primer
B. kelompok E sekunder
C. terorganisir

9. Keluarga yang kurang harmonis akan menimbulkan dampak penyimpangan


sebagai . . . .
A. hasil sosialisasi tidak sempurna
B. hasil sosialisasi dan nilai-nilai subkebudayaan menyimpang
C. ketidakmampuan orang tua dalam mendidik
D. kebebasan dalam pergaulan di masyarakat
E pengendalian internal yang tidak dilakukan orang tua

10. Di bawah ini merupakan bentuk-bentuk perilaku menyimpang.


1. perkelahian pelajar
2. homoseksualitas
3. penyalahgunaan narkotika
4. kebut-kebutan di jalan raya
5. penggunaan obat bius di rumah sakit
Dari jawaban di atas, yang benar adalah . . . .
A. 1, 2, 3 D. 2, 4, 5
B. 1, 3, 5 E 3, 4, 5
C. 2, 3, 4

Bab 5 Perilaku Menyimpang 155


11. Hal yang terpenting dalam upaya pencegahan perilaku menyimpang
adalah . . . .
A. mengekang pergaulan remaja
B. memberikan hukuman yang berat bagi pelaku
C. memberdayakan lembaga sensor film
D. meningkatkan kesadaran norma agama dan kesusilaan
E melakukan pengendalian sosial lewat lembaga sosial

12. Media sosialisasi yang sering menyajikan berita dengan menggambarkan sisi
kehidupan yang berbeda serta bertentangan dengan nilai dan norma diajarkan
di dalam keluarga dan sekolah adalah . . . .
A. teman sepermainan D. organisasi pemuda
B. media massa E lembaga swadaya masyarakat
C. lembaga pendidikan

13. Tindakan kolusi dan korupsi di perusahaan atau instansi pemerintah termasuk
dalam tipe perilaku penyimpangan . . . .
A. primer D. represif
B. sekunder E kuratif
C. preventif

14. Pernyataan di bawah ini adalah perilaku yang menyimpang, kecuali . . . .


A. pelacuran demi terpenuhi kebutuhan rohaninya
B. pelajar saling berkelahi demi nama baik sekolahnya
C. perlakuan seks sebelum pernikahan demi martabat keluarganya
D. menghisap narkotika untuk memperkuat ketahanan jasmani dan rohaninya
E belajar yang giat demi mencapai prestasi dan nama baik sekolah dan
keluarganya

15. Pernyataan di bawah ini merupakan akibat negatif bagi penghisap narkotika,
kecuali . . . .
A. suka bekerja keras agar nafsu makan semakin kuat
B. rasa kering pada mulut dan kerongkongan
C. suka berbohong dan sering marah
D. sering melanggar hukum
E sering buang air kecil

16. Bertolak pada ketahanan keluarga, secara psikologis penyebab kenakalan remaja
tercantum di bawah ini, kecuali . . . .
A. perasaan tidak terpenuhi kebutuhannya (kurang dimengerti) bahkan terancam
keamanan dirinya

156 Sosiologi SMA/MA Kelas X


B. adanya konflik dan frustasi yang tidak terpecahkan yang tersimpan di dalam
diri sendiri
C. perasaan terkekang keinginannya dalam menyatakan perasaan dan
kebebasannya
D. perasaan yang puas atas suksesnya setiap anggota keluarganya
E. sakit hati karena kecemburuan antarsaudara keluarganya

17. Keseluruhan aktivitas masyarakat yang disampaikan kepada pihak tertentu dalam
masyarakat karena ada penyimpangan sosial sehingga kestabilan dalam
masyarakat tercipta, pengertian ini adalah . . . .
A. proses sosial D. aktivitas sosial
B. interaksi sosial E. stratifikasi sosial
C. pengendalian sosial

18. Instansi yang termasuk pelaksana hukum dalam pengendali primer adalah seperti
di bawah ini, kecuali . . . .
A. kepolisian D. kehakiman
B. pengadilan E kesehatan
C. kejaksaan

19. Susunan orang-orang yang memimpin dengan pembantu-pembantunya


yang mengurus keutuhan termasuk menyelesaikan masalah dalam masyarakat
disebut . . . .
A. sistem sosial D. interaksi sosial
B. proses sosial E. struktur sosial
C. pengendalian sosial

20. Manfaat pengendalian sosial adalah . . . .


A. menciptakan keteraturan sosial
B. melindungi kepentingan umum
C. menciptakan homogenitas ipoleksosbudhankam
D. menyelamatkan manusia dari tindakan dosa
E menghindari perilaku menyimpang

Soal Essay

Jawablah soal-soal berikut ini dengan singkat dan tepat!


1. Buatlah batasan skala yang dianggap sebagai perilaku menyimpang dalam
keluargamu!
2. Sebutkan tiga bentuk penyimpangan yang paling meresahkan dalam masyarakat!

Bab 5 Perilaku Menyimpang 157


3. Sebutkan sebab-sebab timbulnya proses sosialisasi yang tidak sempurna dan
berikan penjelasan secukupnya!
4. Sebutkan dan jelaskan kegiatan yang perlu diadakan untuk menghindari perilaku
menyimpang di daerahmu!
5. Jelaskan keberadaan kelompok-kelompok yang berperilaku menyimpang dalam
kehidupan bermasyarakat!
6. Sebutkan tiga lembaga penegak hukum di Indonesia yang melaksanakan fungsi
pengendalian sosial!
7. Jelaskan pengertian pengendalian sosial!
8. Apa yang dimaksud dengan penyalahgunaan narkotika?
9. Sebutkan salah satu contoh pengendalian sosial yang dilakukan kelompok
terhadap kelompok!
10. Mengapa perilaku menyimpang juga dapat dikatakan positif?

158 Sosiologi SMA/MA Kelas X


ATURAN-ATURAN SOSIAL
DALAM KEHIDUPAN
BERMASYARAKAT

Tujuan Pembelajaran
Mengidentifikasi jenis-
jenis lembaga
pengendalian sosial.
Mendeskripsikan
berbagai cara
pengendalian sosial.
Mendeskripsikan
akibat tidak
berfungsinya lembaga
sosial.
Mengidentifikasikan
aturan-aturan sosial
dalam kehidupan
masyarakat.

Sumber: Tempo, 10 – 16 Mei 2004

K
amu pasti pernah melihat aksi demonstrasi di televisi bukan?
Misalnya, demonstrasi yang dilakukan oleh para mahasiswa,
buruh, atau kelompok masyarakat lainnya. Pada dasarnya, para
demonstran tersebut ingin menyampaikan aspirasi mereka dan
tentunya ingin agar harapan-harapannya terwujud. Tetapi sering kali
ketika harapan-harapan mereka tidak terwujud, yang muncul justru
ketidakpuasan. Perasaan tidak puas ini sering menjadi penyebab
munculnya kekerasan pada demonstrasi-demonstrasi. Jika hal itu sudah
terjadi, polisi yang tadinya mengawasi jalannya demonstrasi pun ikut
turun dan mengendalikan para demonstran tersebut. Nah, di sinilah
peran polisi sebagai salah satu pelaku pengendali sosial sudah dapat
kamu lihat, bukan? Pengendalian sosial juga dapat dilakukan dalam
berbagai cara. Untuk lebih jelasnya, coba kamu pelajari bab ini!

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 159


Pengetahuan Pengetahuan Pengetahuan Penerapan
tentang hakikat tentang interaksi tentang norma pengetahuan
manusia sosial dan nilai tentang sosialisasi

Pengetahuan Pengetahuan Pengetahuan-


tentang perilaku tentang pengetahuan
menyimpang Pengendalian sosial lain

j
Penerapan perilaku
sehari-hari

j
Tertib Sosial

160 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. PENTINGNYA PENGENDALIAN SOSIAL

Sering kali dalam kehidupan di sekitar kita, kita melihat pelanggaran-pelanggaran


terhadap norma-norma sosial yang ada. Pelanggaran tersebut disebabkan karena
ketidaktahuan atau karena kesengajaan. Perilaku menyimpang sungguh-sungguh
harus dihindari karena dapat merugikan pihak lain dan menimbulkan keresahan
dalam masyarakat. Begitu juga tindakan anti sosial sedapat mungkin dicegah untuk
menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bersama. Perilaku menyimpang
merupakan fenomena sosial yang pasti terjadi pada setiap masyarakat. Masalahnya
adalah jangan sampai perilaku menyimpang ini terjadi dalam jumlah dan skala
yang besar karena dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah sosial yang dinamakan
pengendalian sosial. Pengendalian sosial dapat dilakukan dengan berbagai macam
cara sesuai dengan tingkat dan jenis penyimpangan perilaku yang dilakukan. Nah,
di bab sebelumnya kamu sudah mengetahui sedikit tentang pengendalian sosial. Di
bab ini kamu akan lebih banyak mengetahui tentang pengendalian sosial.

B. JENIS-JENIS LEMBAGA PENGENDALIAN SOSIAL

Pengendalian sosial berhubungan dengan cara-cara dan metode-metode yang


digunakan untuk mendorong seseorang agar perilakunya sesuai dengan kehendak
kelompok atau masyarakat luas. Untuk itu, diperlukan lembaga, baik yang bersifat
formal maupun nonformal untuk menjalankan peran sebagai lembaga pengendalian
sosial.
Berdasarkan eksistensi tugas pengendaliannya,lembaga pengendalian sosial
dibedakan menjadi dua, yaitu lembaga pengendalian sosial primer dan lembaga
pengendalian sosial sekunder.

1. Lembaga Pengendalian Sosial Primer


Yang dimaksud dengan lembaga pengendalian sosial primer adalah lembaga
pengendali yang memang sejak awal keberadaannya menjadi aparat penegak hukum
atau pengendali ketertiban dalam masyarakat. Lembaga ini meliputi kepolisian,
kejaksaaan, dan pengadilan. Ketiga lembaga ini merupakan aparat negara yang
secara khusus mengurusi soal penerapan hukum dan pengadilan terhadap
pelanggaran hukum yang terjadi di masyarakat.

2. Lembaga Pengendalian Sosial Sekunder


Yang dimaksud dengan lembaga pengendalian sekunder adalah lembaga
pengendalian yang bukan merupakan petugas pokok melainkan menjadi pengamat
atau pihak yang diterapi suatu peraturan hukum. Mereka memiliki pengetahuan
tentang hukum dan peradilan, misalnya seorang dosen, seorang pembela hukum

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 161


atau advokat serta mahasiswa fakultas hukum, dan lain-lain. Mereka ini dapat menjadi
pengontrol kebijakan dalam pelaksanaan hukum dan peradilan. Akan tetapi, hanya
sebatas pengamat yang berhak mengemukakan pendapat atau opini terhadap suatu
penyelesaian hukum. Dengan demikian, lembaga pengendalian sosial sekunder
meliputi semua warga masyarakat (para dosen, mahasiswa, pembela hukum, pemuka
agama, tokoh masyarakat, dan lain-lain).
Adapun jenis-jenis komponen yang dapat berfungsi sebagai pengendali perilaku
sosial dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut.
a. Lembaga Adat dan Tokoh Masyarakat
Salah satu lembaga pengendalian sosial yang paling dini adalah para pemuka
masyarakat dan pemuka adat. Pada masyarakat tradisional, bentuk-bentuk
pelanggaran terhadap norma-norma adat, penanganannya menjadi kewenangan
dari lembaga-lembaga adat masyarakat itu sendiri. Misalnya, pelanggaran terhadap
adat perkawinan, adat kekerabatan, adat pembagian warisan, adat-adat ritual, serta
tradisi-tradisi khusus. Pada masyarakat tradisional, lembaga adat ini merupakan
lembaga pengendalian sosial yang vital dan eksis dalam mempengaruhi dan mengatur
tata kelakuan warga masyarakat sehari-hari. Lembaga adat terdiri atas tokoh-tokoh
adat, orang-orang tua, dan pemuka masyarakat pada masyarakat tradisional. Tokoh-
tokoh adat merupakan pemimpin nonformal, artinya otoritas yang dimiliki merupakan
pemberian langsung oleh masyarakat yang dipimpinnya melalui kriteria-kriteria
tertentu yang telah ditetapkan.

Sumber: Gatra, 6 Desember 2003

à Gambar 6.1 Tokoh masyarakat dijadikan panutan dan pengendali


sosial dalam masyarakat.

Selain pemuka agama, para tokoh masyarakat pun berperan dalam pengendalian
sosial mereka yang mempunyai pengaruh atau pun kharisma untuk mengatur
berbagai kegiatan di dalam lingkup masyarakat. Tokoh-tokoh masyarakat merupakan

162 Sosiologi SMA/MA Kelas X


panutan sekaligus pengendali yang dipatuhi oleh warga masyarakat yang lain.
Jelaslah, bahwa sistem ketertiban yang ada di dalam masyarakat sangat ditentukan
pula oleh peranan tokoh-tokoh masyarakat.
Pengendalian sosial pada saat sekarang kian berkembang dalam berbagai bentuk.
Misalnya, yang dilakukan dalam bentuk gosip, demonstrasi, unjuk rasa, aksi protes,
pemogokan-pemogokan, serta tekanan-tekanan politik lain yang komponennya sering
kali melibatkan kalangan media massa, lembaga swadaya masyarakat, pelajar, dan
mahasiswa, serta tokoh-tokoh masyarakat. Semua usaha warga masyarakat untuk
memberikan opini dan penekanan terhadap pihak-pihak yang dianggap melanggar
ketentuan perundangan yang berlaku, baik yang disampaikan secara langsung
maupun tidak langsung disebut kontrol sosial.
b. Lembaga Kepolisian
Pemisahan TNI (Tentara Nasional Indonesia) dengan Kepolisian sejak reformasi
bergulir merupakan suatu langkah maju. Kepolisian telah ditempatkan sebagai
lembaga penegak hukum yang berfungsi mengawasi semua bentuk penyimpangan
terhadap hukum yang berlaku. Selanjutnya, kepolisian akan membuat berita acara
pelanggaran yang dilengkapi dengan data-data penyidikan untuk ditindaklanjuti
oleh kejaksaan.
Polisi sebagai aparat keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas menjadi
pelindung terhadap ketertiban masyarakat, menangkap pelaku-pelaku pelanggar
hukum, dan melakukan tindak lanjut terhadap penyelesaian suatu pelanggaran
hukum untuk disampaikan ke pihak kejaksaan. Akan tetapi, sering kita gelisahkan
beberapa oknum aparat penegak hukum juga telah melakukan penyimpangan
terhadap tugasnya sehingga mengakibatkan rusaknya sistem dalam upaya
pengendalian sosial itu sendiri.
c. Lembaga Kejaksaan
Setelah kepolisian melakukan penyidikan terhadap tindak pelanggaran hukum,
maka kepolisian memberikan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepada kejaksaan.
Lembaga kejaksaan pada hakikatnya merupakan lembaga formal yang bertugas
sebagai penuntut umum, yaitu pihak yang melakukan penuntutan terhadap mereka-
mereka yang melakukan pelanggaran hukum berdasarkan tertib hukum yang berlaku.
Pekerjaan lembaga kejaksaan merupakan tindak lanjut dari lembaga kepolisian
yang menangkap dan menyidik pelaku-pelaku pelanggaran untuk dituntut di
pengadilan berupa bentuk pelanggarannya yang bertujuan untuk menciptakan
keadilan di dalam masyarakat.
d. Lembaga Pengadilan
Salah satu lembaga penegak hukum yang paling akhir adalah pengadilan. Tahap
pelaksanaannya melalui tiga tingkatan hingga sampai ke Mahkamah Agung. Putusan
pengadilan negeri bisa menjadi putusan tetap atau tidak tetap. Apabila pihak yang

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 163


dikenai putusan naik banding pada tingkat pengadilan di atasnya, putusan tersebut
masih bersifat sementara dan putusan itu akan dinyatakan final hingga diputuskan
oleh Mahkamah Agung. Lembaga pengadilan pada hakikatnya merupakan lembaga
pengendalian sosial formal karena lembaga tersebut memeriksa kembali hasil
penyidikan dan BAP dari kepolisian serta menindaklanjuti tuntutan dari kejaksaan
terhadap kasus pelanggaran itu sendiri. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pengadilan
akan mempersidangkan setiap kasus pelanggaran terhadap norma-norma hukum,
baik hukum perdata maupun hukum pidana sesuai dengan hukum acara masing-
masing.
Agar suatu peraturan hukum dipatuhi maka dilengkapi dengan sanksi dengan
maksud untuk memberikan penekanan sekaligus ancaman dan pendidikan bagi
yang melakukan pelanggaran terhadap hukum. Adapun bentuk-bentuk sanksi dari
peraturan hukum antara lain: hukuman denda, hukuman kurungan, hukuman seumur
hidup, dan hukuman mati.
e. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan Masyarakat
Sejak reformasi bergulir pada tahun 1998 di Indonesia, bermunculan Lembaga
Swadaya Masyarakat (Non Government Oganization), yaitu suatu lembaga
nonpemerintah yang bergerak di bidang kemasyarakatan termasuk pengawasan
terhadap aparatur pemerintahan. Contoh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu:
Kontras, Parlement Watch, Corruption Watch, Solidamor, dan lain-lain. Lembaga-
lembaga ini secara mandiri berdiri dan bekerja untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat sesuai dengan bidangnya serta menjadi lembaga kontrol masyarakat
terhadap kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Secara sosiologis,
lembaga ini sangat penting keberadaannya di dalam masyarakat sebab menjadi alat
kontrol ketika pemerintah melakukan penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-
norma hukum.
f. Lembaga Pendidikan
Fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Sesuai dengan fungsinya, lembaga pendidikan sangat berperan
besar sebagai lembaga pengendalian sosial. Guru-guru di sekolah selain mengajar,
juga bertugas untuk mengawasi perilaku murid-muridnya dan mendidiknya. Lewat
tugasnya, mereka pun telah melakukan bentuk pengendalian individu terhadap
kelompok.
g. Lembaga Keagamaan
Lembaga keagamaan berfungsi untuk mengajak dan mengarahkan umat beragama
untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Fungsi ini juga dapat
dijalankan oleh tokoh agama, di mana ia menuntun anggota masyarakatnya untuk
selalu berperilaku sesuai dengan nilai dan norma agama.

164 Sosiologi SMA/MA Kelas X


1. Menurutmu apakah selama ini lembaga kepolisian sudah berfungsi sebagai
pengendali sosial?
2. Apa akibat dari tidak berfungsinya lembaga pengendalian sosial?
3. Setujukah kamu jika polisi melakukan pengendalian sosial yang keras
terhadap para demonstran? Jelaskan pendapatmu!

C. CARA-CARA PENGENDALIAN SOSIAL


Mengenai bagaimana cara pengendalian sosial dilaksanakan, kita mengenal
tingkatan-tingkatan dalam pelaksanaan pengendalian sosial, antara lain sebagai
berikut.

1. Pengendalian Intrinsik dan Ekstrinsik


Pengendalian intrinsik adalah pengendalian dari dalam diri seorang individu
dengan berpikir secara jernih, sabar, dan jujur sehingga seseorang tidak terjerumus
ke dalam tindakan-tindakan yang menyimpang. Di dalam ilmu jiwa, alat pengendali
ini dinamakan hati nurani. Hati nurani selalu bersifat jujur dan benar, seolah-olah
merupakan petunjuk Tuhan secara spiritual kepada umatNya secara abstrak.
Pengendalian ekstrinsik adalah pengendalian dari luar terhadap perilaku
menyimpang seseorang, bisa dilakukan oleh orang tua, keluarga dan kerabat, tokoh
agama dan tokoh masyarakat, serta aparatur negara seperti kepolisian, kejaksaan,
dan pengadilan.

2. Pengendalian Preventif, Represif, dan Gabungan


Pengendalian preventif adalah pengendalian sosial yang bersifat pencegahan
agar seseorang tidak melakukan penyimpangan perilaku. Bentuknya berupa nasehat-
nasehat, anjuran, pendidikan budi pekerti, pendidikan agama, dan lain-lain.
Pengendalian sosial represif merupakan pengendalian sosial yang dilakukan setelah
terjadi suatu pelanggaran, misalnya dengan teguran, sanksi sosial, atau pun sanksi
hukum. Pengendalian sosial gabungan merupakan gabungan dari pengendalian
preventif dan represif. Pengendalian ini dilakukan dua kali, yaitu setelah dan sesudah
penyimpangan terjadi. Artinya, pengendalian ini berusaha mencegah sekaligus
mengembalikan keadaan sesudah penyimpangan terjadi.

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 165


Sumber: Indonesia Indah

à Gambar 6.2 Salah satu cara dalam melaksanakan


pengendalian sosial adalah melalui pendidikan agama.

3. Pengendalian Internal dan Eksternal


Pengendalian sosial dilihat dari asalnya dapat berasal dari dalam lembaga internal
maupun dari luar lembaga eksternal. Contoh pengendalian sosial internal, misalnya
pada Departemen Pendidikan Nasional ada aparat pengendali yang disebut inspektur
jenderal hingga para pengawas di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan
pendidikan tinggi. Contoh pelaku pengendalian eksternal adalah aparat kepolisian
atau tokoh-tokoh masyarakat selaku pengamat pelaksanaan kebijakan pemerintah.

4. Pengendalian Persuasi dan Koersi


Dilihat dari caranya, pengendalian sosial dapat berlangsung lewat cara persuasi
dan cara koersi. Cara persuasi dilakukan dengan membujuk atau mengajak seseorang
atau sekelompok orang secara halus untuk mematuhi nilai-nilai dan norma-norma
yang berlaku di masyarakat. Sebaliknya, cara koersi dilakukan dengan cara kekerasan
fisik atau dengan ancaman. Pelaksanaannya dilakukan dengan menggunakan
kekerasan fisik yang akhirnya menimbulkan dendam bahkan korban.

5. Pengendalian Compulsion (Paksaan) dan Pervasion (Pengisian)


Berdasarkan tehniknya, pengendalian sosial dapat dilakukan secara paksaan
(compulsion) dan pengisian (pervasion). Teknik compulsion diciptakan untuk
memaksa orang untuk mengubah perilakunya yang menyimpang dan akhirnya secara
tidak langsung kembali patuh pada nilai dan norma. Teknik pervasion dilaksanakan
dengan cara menyampaikan nilai dan norma secara berulang-ulang. Dengan teknik
ini diharapkan seseorang dapat meningkat kesadarannya dalam mematuhi nilai dan
norma yang berlaku.

166 Sosiologi SMA/MA Kelas X


1. Menurutmu pengendalian sosial seperti apakah yang dapat dijalankan untuk
mengatasi tawuran?
2. Apakah yang dimaksud dengan pengendalian gabunan (preventif dan
represif)?
3. Coba tuliskan penyimpangan sosial yang pernah terjadi di lingkungan tempat
tinggalmu, kemudian ceritakan juga penendalian sosial apa yang dilakukan
untuk mengatasinya!

Pengendalian sosial dapat terwujud dalam bentuk gosip, teguran, pendidikan,


pendidikan agama, dan hukuman atau saksi.

1. Gosip atau Desas-Desus


Gosip atau desas-desus merupakan bentuk pengendalian sosial atau kritik sosial
yang dilontarkan secara tertutup oleh masyarakat terhadap warga masyarakat yang
menyimpang perilakunya. Gosip muncul di masyarakat apabila ada individu/
kelompok yang tindakannya menyimpang dari nilai-nilai dan norma-norma sosial
yang berlaku. Artinya, individu tersebut akan menjadi bahan pembicaraan
masyarakatnya.

2. Teguran
Teguran merupakan kritik sosial yang dilontarkan secara terbuka oleh masyarakat
terhadap warga masyarakat yang berperilaku menyimpang. Dalam pelaksanaannya,
teguran ini ada dua macam, yaitu teguran lisan dan teguran tertulis. Teguran lisan
adalah teguran yang dilontarkan secara lisan kepada individu yang berperilaku
menyimpang. Misalnya, teguran orang tua secara lisan dan langsung terhadap
anaknya yang berperilaku menyimpang, teguran guru kepada siswa yang melanggar,
teguran lisan pemimpin terhadap bawahannya yang melanggar, dan sebagainya.
Teguran tertulis adalah bentuk teguran yang dilakukan secara tidak langsung, tetapi
melalui surat. Teguran tertulis ini umumnya dilakukan oleh pimpinan kepada
bawahannya dalam ikatan kedinasan (pekerjaan).

3. Pendidikan
Pengendalian sosial dapat dilakukan secara tidak langsung sejak awal melalui
jalur pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal. Pendidikan
merupakan alat pengendalian sosial, karena pendidikan dapat membina dan

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 167


mengarahkan warga masyarakat terutama anak sekolah kepada pembentukan sikap
dan tindakan para siswa yang bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri,
masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Secara pedagogis, pendidikan sangat menentukan proses pembentukan
kepribadian seseorang. Individu yang berpendidikan baik cenderung berperilaku
lebih baik daripada individu yang kurang berpendidikan. Melalui pendidikan yang
sempurna, seorang individu dapat membedakan mana yang benar dan salah, mana
yang baik dan buruk, atau mana yang boleh dan tidak boleh. Sebaliknya, individu
yang kurang pendidikannya cenderung mengalami kesulitan menyesuaikan dirinya
dalam interaksi sosial di masyarakatnya.

4. Pendidikan Agama
Tindakan para tokoh-tokoh agama dengan memberikan siraman rohani kepada
umatnya merupakan suatu bentuk pengendalian preventif terhadap perilaku
menyimpang. Norma-norma agama berisi bimbingan dan arahan kepada pemeluknya
agar bersikap dan berperilaku baik dalam pergaulan hidup bermasyarakat.

5. Hukuman atau Sanksi


Hukuman merupakan pengendalian sosial yang paling akhir penerapannya
apabila pengendalian yang lain belum juga dipatuhi. Hukuman mempunyai tingkatan
yang semakin berat sesuai bobot kesalahan masing-masing pelanggar. Kita mengenal
dua macam hukuman, yaitu sanksi hukum dan sanksi sosial.
a. Sanksi Sosial
Sanksi sosial diberikan oleh warga masyarakat kepada orang yang berperilaku
menyimpang. Bentuknya berupa teguran, dikucilkan dari masyarakat, diusir dari
masyarakat, pengadilan massa dalam bentuk penganiayaan secara massal hingga
pembunuhan massal.
b. Sanksi Hukum
Sanksi hukum merupakan sanksi yang dilakukan penegak hukum terhadap
individu yang melanggar norma-norma hukum, baik hukum perdata maupun hukum
pidana. Sanksi hukum ini meliputi: hukuman denda, hukuman kurungan, hukuman
seumur hidup, dan hukuman mati.

D. AKIBAT-AKIBAT TIDAK BERFUNGSINYA LEMBAGA PENGENDALIAN


SOSIAL

Kehidupan sosial budaya masyarakat merupakan suatu sistem yang terdiri dari
banyak komponen dan saling berkaitan secara berkesinambungan. Salah satu
subsistemnya adalah lembaga pengendalian sosial. Apabila lembaga pengendalian
sosial dalam suatu masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, maka

168 Sosiologi SMA/MA Kelas X


terjadilah kegoncangan sistem yang mengganggu keteraturan sosial sebagaimana
yang diinginkan.
Lembaga pengendalian sosial diharapkan mampu menjalankan fungsinya
sehingga penyimpangan pun dapat dicegah. Jika penyimpangan terjadi, lembaga
pengendalian sosial harus mampu mengembalikan dan memperbaiki keadaan
menjadi seperti semula. Selain itu, diusahakan juga supaya pengendalian sosial
tidak terjadi lagi. Masyarakat pun dapat membantu lembaga pengendalian sosial
untuk menjalankan fungsinya. Masyarakat dapat mensosialisasikan kontrol sosial
agar anggota masyarakat mau bertingkah laku seperti yang diharapkan tanpa adanya
paksaan. Beberapa akibat dari tidak berfungsinya lembaga pengendalian sosial adalah
sebagai berikut.
x Meningkatnya korupsi dan kolusi
x Terjadinya konflik sosial
x Kegoncangan ekonomi
x Tidak adanya kepastian hukum
x Pengadilan massa

Apa yang harus dilakukan ketika ternyata penyimpangan yang terjadi banyak
dilakukan oleh masyarakat? Diperlukan kembali adanya upaya untuk mengembalikan
ketertiban dalam masyarakat, antara lain seperti penyuluhan hukum, Judicial review,
revitalisasi aparat, pencanangan Gerakan Disiplin Nasional, dan peningkatan peran
serta warga masyarakat dalam kontrol sosial.

a. Penyuluhan Hukum
Banyak di antara warga masyarakat yang mempunyai pengetahuan dan
kesadaran hukum yang rendah. Oleh sebab itu, sangat perlu untuk diprogramkan
adanya penyuluhan hukum dengan melibatkan aparat-aparat yang terkait. Misalnya,
kejaksaan, pengadilan, perpajakan, pendidikan, dan lain-lain. Dengan meningkatnya
pengetahuan hukum dari warga masyarakat, akan dapat mengurangi kuantitas
pelanggaran hukum yang terjadi di dalam masyarakat. Menurut penelitian, sekitar
20 persen pelanggaran hukum disebabkan karena ketidaktahuan terhadap norma
hukum.

b. Judicial Review
Proses perubahan sosial menuntut adanya perombakan atau perbaikan terhadap
peraturan-peraturan hukum yang dianggap usang. Inilah yang dinamakan judicial
review.

c. Revitalisasi Aparat
Apabila keadaan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat semakin memburuk
dan aparat keamanan kewalahan mengatasi banyaknya pelanggaran yang terjadi,

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 169


diperlukan revitalisasi aparat termasuk peralatannya. Misalnya, mengganti personil
pada tiap-tiap jabatan, menambah jumlah personil baru, serta melengkapi sarana
dan prasarana yang diperlukan. Salah satu solusi yang murah dan cepat adalah
dengan membangun keamanan swakarsa yang anggotanya direkrut dari warga
masyarakat.

d. Pencanangan Gerakan Disiplin Nasional


Pada masa Orde Baru pernah dicanangkan suatu gerakan yang disebut Gerakan
Disiplin Nasional (GDN). Perbuatan tersebut sesungguhnya positif sebab dapat
membudayakan suatu ketertiban dalam masyarakat pada setiap segi kehidupan.
Apabila suatu ketertiban telah mengakar dan membudaya dalam suatu masyarakat,
hal tersebut akan membentuk suatu sistem pengendalian sosial yang efektif. Artinya,
tumbuh kesadaran tentang ketertiban dan kuatnya pengendalian diri dari masing-
masing individu.

e. Peningkatan Peran Serta Warga Masyarakat dalam Kontrol Sosial


Sejalan dengan era reformasi, maka pilar demokrasi berkembang menjadi semakin
kokoh, misalnya dengan terbukanya kebebasan pers serta terbukanya warga
masyarakat mengemukakan pendapat dan opini terhadap semua bentuk kebijakan
pemerintah. Apabila hal seperti ini dapat dikembangkan, maka akan dapat menjadi
alat kontrol yang efektif dalam rangka menegakkan suatu tertib sosial di dalam
masyarakat.

Prosedur
1. Buatlah kelompok diskusi yang beranggotakan 10 orang!
2. Carilah masalah sosial di media massa (koran atau majalah)!
3. Lakukanlah analisa sosial terhadap masalah sosial itu!
4. Kemukakan pengendalian sosial dalam menyelesaikan masalah sosial
tersebut!

Tugas
1. Buatlah laporan diskusi dari kelompokmu!
2. Presentasikan hasil diskusi ini pada pertemuan dua minggu yang akan
datang!

170 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Kamu pasti sering menonton televisi bukan? Menurutmu apakah dengan acara-
acara televisi yang disiarkan dapat membentuk perilaku menyimpang? Jika ya,
pengendalian sosial seperti yang harus dilakukan? Jelaskan pendapatmu!

PENDIDIKAN ANAK SELAMA DI SEKOLAH TANGGUNG JAWAB


SIAPA?

A
nak saat di sekolah, tanggung jawab Siapa? Suatu bangsa akan besar
apabila pendidikannya baik dan maju. Oleh karena itu, Indonesia
berupaya mewujudkan program wajib belajar 9 tahun. Namun
demikian, saat anak di sekolah selama 12 tahun (mulai SD, SMP, sampai
SMA), tanggung jawab siapa? Apakah tanggung jawab guru, kepada sekolah,
yayasan, atau orang tua?

Petunjuk Simulasi Pro Kontra


1. Siswa dalam kelas dibagi atas dua kelompok. Satu kelompok pro dan
satu kelompok lagi kontra. Tuangkan pendapat dan penjelasan kalian
sesuai dengan kelompok masing-masing berdasarkan pertanyaan di bawah
ini!
2. Pilihlah salah seorang dari setiap kelompok yang bertugas sebagai presenter
untuk menyajikan kesimpulan hasil diskusi kelompokmu!

Pertanyaan:
1. Setujukah kalian, bahwa anak saat di sekolah adalah dominan tanggung
jawab pihak sekolah mulai dari guru, kepala sekolah, dan yayasan/
pengelola. Jelaskan!
2. Bagaimana solusi mengatasi masalah pendidikan sekarang ini? Jelaskan!

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 171


BEDOL DESA ATAU REKOLASI PENDUDUK
KORBAN LUMPUR LAPINDO BRANTAS

M
ari kita sepakati sementara waktu bahwa semburan lumpur panas
Lapindo Brantas adalah suatu kecelakaan atau musibah. Sekarang
Pemda Sidoardjo dan Propinsi Jawa Timur dihadapkan masalah
besar dengan tenggelamnya empat desa di sekitar lokasi PT Lapindo Brantas
dan akhirnya membuat penduduk desa tersebut ”terlunta-lunta” di tempat
penampunan sementara.
Berdasarkan hasil penelitian pemerintah, bahwa tidak mungkin lagi
penduduk kembali ke desa mereka, pemerintah pun dihadapkan pada dua
pilihan, yaitu bedol desa atau relokasi penduduk.
Pertanyaan:
1. Alternatif mana yang seharusnya diambil oleh penduduk Sidoardjo?
2. Menurutmu apakah Lapindo telah melakukan penyimpangan sosial? Jelaskan
pendapatmu!
3. Bagaimana seharusnya sikap masyarakat atas pilihan yang diambil oleh
pemerintah Kota Sidoardjo?

BATUAN DANA LANGSUNG TUNAI

Di awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla,


dibicarakan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada masyarakat miskin
dengan jumlah Rp100.000,00/bulan selama 1 tahun dan pembayarannya
dilakukan setiap 3 bulan.

172 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Pro kontra atas kebijakan ini sampai saat ini terus berlangsung dan pada
saat-saat pembayaran, banyak warga berebut dan tidak jarang mengakibatkan
kecelakaan kepada penerimanya. Di samping itu, banyak warga yang
seharusnya sebagai yang berhak, namun karena kesalahan dalam pendataan
atau adanya kesengajaan membuat BLT tidak tersalurkan kepada sasaran yang
tepat. Akhir-akhir ini kelihatannya pemerintah menyadari bahwa BLT bukan
suatu cara yang tepat untuk membantu rakyat miskin, syukurlah!

Pertanyaan:
1. Mengapa program BLT tersebut gagal?
2. Prosedur apa yang tidak dilakukan pemerintah saat menentukan pemilihan
kebijaksanaan?
3. Sebaiknya BLT tersebut diwujudkan dalam bentuk program sosial yang
bagaimana?
4. Jika kita hendak membantu seseorang, lebih baik memberikan kail atau
ikannya sekaligus?

1. Jenis-jenis lembaga pengendalian sosial


x Lembaga pengendalian sosial primer
x Lembaga pengendalian sosial sekunder
2. Komponen-komponen yang dapat berfungsi sebagai pengendali perilaku sosial
antara lain.
x lembaga adat dan tokoh masyarakat
x lembaga kepolisian
x lembaga kejaksaan
x lembaga pengadilan
x LMS dan masyarakat
x lembaga pendidikan
x lembaga keagamaan

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 173


3. Cara-cara pengendalian sosial
x Pengendalian intrinsik dan ekstrinsik
x Pengendalian preventif, represif, dan gabungan
x Pengendalian internal dan eksternal
x Pengendalian persuasi dan koersi
x Pengendalian compulsion (paksaan) dan pervasion (pengisian)
4. Bentuk-bentuk pengendalian sosial
x Gosip atau desas-desus
x Teguran
x Pendidikan
x Pendidikan agama
x Hukuman atau sanksi
5. Akibat-akibat tidak berfungsinya lembaga pengendalian sosial
x Meningkatnya korupsi dan kolusi
x Terjadinya konflik sosial
x Kegoncangan ekonomi
x Tidak adanya kepastian hukum
x Pengadilan massa
6. Upaya untuk mengembalikan ketertiban setelah penyimpangan terjadi
x Penyuluhan hukum
x Judicial review
x Revitalisasi aparat
x Pencanangan Gerakan disiplin Nasional
x Peningkatan peran serta warga masyarakat dalam kontrol sosial

174 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Soal ObJektif

Pilihlah satu jawaban yang benar dengan menyilang huruf A, B, C, D atau E!

1. Aparat pengendalian sosial di lingkungan sekolah bagi para siswa


adalah . . . .
A. guru bimbingan dan penyuluhan
B. BP3
C. Guru dan karyawan
D. kepala sekolah
E. guru dan karyawan

2. Pengendalian sosial yang dilakukan oleh individu-individu itu sendiri untuk


menghindari perilaku menyimpang disebut . . . .
A. pengendalian primer D. pengendalian formal
B. pengendalian sekunder E. pengendalian nonformal
C. pengendalian internal

3. Jika anggota masyarakat selalu menghina dan membicarakan seseorang yang


dianggap berperilaku menyimpang, berarti ia melakukan pengendalian sosial
berupa . . . .
A. cemoohan D. intimidasi
B. desas-desus E. condolence
C. gosip

4. Penyebaran brosur tentang penyakit AIDS kepada masyarakat luas merupakan


salah satu bentuk pengendalian . . . .
A. preventif D. pedagogis
B. represif E. didaktis
C. kuratif

5. Di bawah ini termasuk komponen-komponen yang berfungsi sebagai pengendali


perilaku sosial, kecuali . . . .
A. lembaga adat D. lembaga kepolisian
B. lembaga pendidikan E. lembaga sekolah
C. lembaga agama

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 175


6. Pengendalian yang muncul dari dalam diri seseorang disebut . . . .
A. pengendalian preventif D. pengendalian compulsion
B. pengendalian eksternal E. pengendalian intrinsik
C. pengendalian persuasi

7. Pengendalian sosial yang bersifat pencegahan disebut . . . .


A. pengendalian intrinsik D. pengendalian eksternal
B. pengendalian sementara E. pengendalian preventif
C. pengendalian represif

8. Berdasarkan eksistensi tugas pengendaliannya, lembaga pengendalian sosial


dibagi dua, yaitu . . . .
A. sekolah dan guru
B. pendidikan dan keagamaan
C. primer dan sekunder
D. permanen dan sementara
E. lembaga adat dan tokoh masyarakat

9. Lembaga penegak hukum terdiri dari tiga macam, yaitu . . . .


A. kejaksaan, tentara, kepolisian
B. pengadilan, lembaga permasyarakatan, sekolah
C. Mahkamah Agung, pengadilan, kejaksaan
D. kepolisian, kejaksaan, pengadilan
E. jaksa, hakim, polisi

10. Kritik sosial yang dilontarkan secara terbuka terhadap warga yang melakukan
penyimpangan disebut . . . .
A. gosip D. hukuman
B. teguran E. penghinaan
C. nasihat

11. Berikut ini merupakan akibat dari tidak berfungsinya lembaga pengendalian
sosial, kecuali . . . .
A. menurunnya tingkat kemiskinan
B. meningkatnya korupsi dan kolusi
C. pengadilan massa
D. kegoncangan ekonomi
E. terjadinya konflik sosial

12. Usaha warga masyarakat untuk memberikan opini dan penekanan terhadap
pihak yang melanggar perundingan disebut . . . .

176 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A. pengendalian sosial D. hukuman massal
B. tindakan pencegahan E. kontrol sosial
C. sanksi sosial
13. Nasihat dan anjuran termasuk dalam pengendalian . . . .
A. sementara D. preventif
B. ekstrinsik E. kuratif
C. represif
14. Pengendalian sosial yang dianggap mempunyai kharisma atau pengaruh untuk
mengatur kegiatan di masyarakat adalah . . . .
A. kepala desa D. lembaga adat
B. hansip E. tokoh masyarakat
C. pemuka agama
15. Berikut ini yang merupakan sanksi hukum adalah . . . .
A. hukuman pasung D. cemoohan
B. hukuman denda E. gosip
C. teguran
16. Pengendalian sosial bertujuan untuk . . . .
A. meningkatkan pengetahuan masyarakat
B. menghukum orang yang bersalah
C. mendidik masyarakat awam
D. menciptakan keamanan dan ketertiban
E. menciptakan masyarakat adil dan makmur
17. Pengendalian sosial yang bersifat formal dapat dilakukan oleh . . . .
A. masyarakat D. tokoh agama
B. kepolisian E. pemangku adat
C. saudara
18. Pengendalian sosial yang paling akhir penerapannya apabila pengendalian lain
belum dipatuhi disebut . . . .
A. sanksi sosial D. gosip
B. pendidikan E. intimidasi
C. hukuman
19. Teknik pengendalian dengan cara menyampaikan nilai dan norma
disebut teknik . . . .
A. eksternal D. koersi
B. pervasion E. compulsion
C. persuasi

Bab 6 Aturan-aturan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat 177


20. Pengendalian lewat hati nurani termasuk dalam pengendalian . . . .
A. internal D. persuasi
B. represif E. intrinsik
C. preventif

Soal Essay

Jawablah soal-soal berikut ini dengan singkat dan tepat!


1. Apa yang dimaksud dengan pengendalian compulsion?
2. Sebutkan akibat-akibat dari tidak berfungsinya lembaga pengendalian sosial!
3. Apa yang menyebabkan lembaga pengendalian sosial tidak menjalankan
fungsinya?
4. Pengendalian sosial seperti apa yang dilakukan oleh guru?
5. Apa yang dimaksud dengan gosip?
6. Menurutmu apakah gosip cukup efektif untuk melakukan pengendalian sosial?
7. Apa yang dimaksud dengan teguran?
8. Apa yang dimaksud dengan pengendalian intrinsik?
9. Apa yang dimaksud dengan pengendalian preventif?
10. Sebutkan upaya-upaya untuk mengembalikan penyimpangan tersebut!

178 Sosiologi SMA/MA Kelas X


accomodation : proses sosial yang ditandai dengan
pengurangan tuntutan
adat : suatu kebiasaan yang diulang-ulang dan telah
menyatu dengan kehidupan masyarakat
akulturasi : percampuran dua hal atau lebih yang bersifat
melengkapi
akulturasi budaya : proses pencampuran dua unsur budaya atau
lebih yang bersifat melengkapi tanpa
menghilangkan corak yang lama
angket : daftar pertanyaan untuk menghimpun data
yang diperlukan dalam suatu penelitian
applied science : ilmu terapan
arbitration : akomodasi dengan menggunakan pihak ketiga
sebagai pihak penengah yang dapat bersifat
mengikat atau memaksa kedua belah pihak
yang bertikai
asimilasi : percampuran antara dua hal atau lebih secara
homogen
asimilasi budaya : percampuran dua unsur budaya atau lebih
yang berbeda yang berlangsung secara
harmonis sehingga melahirkan suatu corak
budaya baru yang serasi
asosiasi : perhimpunan orang-orang yang mempunyai
kepentingan yang sama
asumsi : alternatif jawaban dari suatu masalah
coercion : akomodasi yang pelaksanaannya dilakukan
dengan paksaan
community : masyarakat setempat
compromise : akomodasi, di mana pihak-pihak yang terlibat
diminta dapat mengurangi tuntutannya agar
perselisihan dapat diselesaikan
cooperation : kerja sama
crowd : kerumunan

Daftar Istilah 179


custom : adat istiadat, yaitu norma yang telah mendarah
daging dan menyatu dengan kehidupan
masyarakat.
data empiris : data realita di lapangan
data etnografi : data-data mengenai suku bangsa tertentu
data primer : data yang diperoleh secara langsung oleh
peneliti terhadap obyek penelitian tanpa
melalui perantara
data sekunder : data yang diperoleh peneliti melalui perantara
(kolektor)
data sosial : semua keterangan atau kenyataan yang berada
di dalam masyarakat yang berkaitan dengan
segi kemanusiaan
demoralisasi : penurunan kualitas moral
dinamika sosial : gerak perubahan situasi di dalam masyarakat
sebagai akibat dari proses sosial yang terjadi
dalam masyarakat tersebut.
eksplisit : nyata atau realistis
fakta : suatu kejadian yang di dalamnya terdapat
pelaku, waktu dan tempat, serta peristiwanya
family counseling : bimbingan keluarga
fenomena alam : semua kejadian atau keadaan yang bersifat fisis
yang terjadi dalam masyarakat
fenomena sosial : semua kejadian atau keadaan yang ada di
dalam masyarakat
folkways : kebiasaan, yaitu segala sesuatu yang dilakukan
secara berulang-ulang
hipotesa : jawaban sementara dari suatu masalah
ilmu pengetahuan : himpunan pengetahuan-pengetahuan yang
tersusun secara sistematis
intelektualitas : kecakapan berpikir
interaksi sosial : hubungan dan pengaruh timbal balik antar-
individu, antarkelompok, dan antara individu
dengan kelompok
interview : metode pengumpulan data dengan cara
mewawancarai responden
kebiasaan : cara-cara yang dianggap baik dan benar
sehingga dipedomani dan dilaksanakan secara
berulang-ulang

180 Sosiologi SMA/MA Kelas X


kebudayaan : semua benda, baik abstrak maupun konkret
yang merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa
manusia dalam hidup bermasyarakat.
kebutuhan hidup : kebutuhan yang harus dipenuhi untuk
mempertahankan kehidupan manusia yang
terdiri dari kebutuhan mendasar, kebutuhan
sosial, dan kebutuhan integratif
kebutuhan integratif : kebutuhan kejiwaan manusia sebagai
perwujudan dari hakikat manusia sebagai
manusia, makhluk pemikir, dan bermoral
kebutuhan mendasar : kebutuhan pokok manusia berkaitan dengan
hakikat manusia sebagai makhluk hidup
kebutuhan sosial : kebutuhan manusia untuk mewujudkan
kehidupan bersama dengan manusia yang lain
keluarga : satuan sosial terkecil yang beranggotakan ayah,
ibu, dan anak-anak
kenakalan remaja : perilaku menyimpang yang dilakukan oleh
remaja yang belum dewasa
kepribadian : generalisasi dari perilaku khas seseorang
knowledge : pengetahuan tentang sesuatu hal
kompetisi : suatu bentuk interaksi sosial yang berupa
persaingan
konflik : suatu bentuk interaksi sosial, di mana masing-
masing pihak saling menghancurkan
konsep : himpunan fakta-fakta yang sejenis dalam
bentuk istilah
konsep dasar : konsep yang pokok dan penting
konsiliasi : usaha untuk mempertemukan pihak-pihak
yang berselisih melalui cara-cara yang damai
dan rasional
kontravensi : suatu keadaan di mana pihak dengan pihak
saling tidak cocok tetapi kedua belah pihak
tidak saling menampakkan ketidakcocok-
kannya
kontrol sosial : semua pengendalian terhadap penyimpangan
oleh warga masyarakat
kultural : semua hasil cipta, rasa, dan karya manusia
dalam hidup bermasyarakat
lingkungan kerja : lingkungan sosial di mana seseorang bekerja

Daftar Istilah 181


logika : pertimbangan akal pikir manusia
masyarakat : persekutuan orang yang menempati wilayah
tertentu dan membina kerja sama dalam
seluruh aspek kehidupan atas dasar norma
tertentu
media massa : sarana komunikasi antarorang dalam
masyarakat
media sosialisasi : sarana untuk melaksanakan sosialisasi bagi
seseorang
mediation : akomodasi dengan menggunakan pihak ketiga
sebagai penengah tetapi pihak ketiga tidak
mempunyai otoritas untuk mengikat dan
memaksa kedua belah pihak yang bertikai
metode : cara-cara yang ditempuh untuk mencapai
suatu tujuan
metode dokumenter : metode penelitian dengan mengambil data dari
arsip-arsip
mores : tata kelakuan, yaitu salah satu jenis norma yang
bersifat mengikat warga masyarakat karena telah
menjadi suatu kesepakatan bersama
nilai : segala sesuatu yang dianggap baik dan benar
yang dicita-citakan oleh masyarakat
nilai kebenaran : nilai yang bersumber dari rasionalitas manusia
nilai keindahan : nilai yang bersumber dari perasaan atau
estetika manusia
nilai kerohanian : nilai yang dipedomani di dalam kejiwaan
manusia yang terdiri dari nilai kebenaran, nilai
keindahan, nilai moral, dan nilai religius
nilai material : nilai yang terkandung di dalam suatu benda
nilai moral : nilai yang bersumber dari kebenaran perilaku
seseorang
nilai religius : nilai kebenaran yang bersumber dari
kepercayaan/agama
nilai sentral : nilai yang paling dipedomani dalam diri
seseorang yang merupakan pedoman
terbentuknya perilaku seseorang
nilai sosial : segala sesuatu yang dianggap baik dan benar
yang dicita-citakan

182 Sosiologi SMA/MA Kelas X


nilai vital : nilai sesuatu yang muncul karena kegunaan-
nya atau fungsinya
norma : semua bentuk peraturan, baik yang tertulis
maupun tidak tertulis, yang ada dan berlaku
di dalam masyarakat
norma adat : hukum adat
norma agama : ketentuan-ketentuan dalam agama
norma hukum : peraturan-peraturan perundangan yang berlaku
dan dibuat oleh lembaga yang berwenang
norma kesusilaan dan kesopanan : norma yang mengatur tentang perilaku
manusia yang berkaitan dengan penghargaan
harkat dan martabat orang lain
norma sosial : semua bentuk peraturan, baik yang tertulis
maupun tidak tertulis, yang ada dan berlaku
di dalam masyarakat
observasi : metode pengumpulan data dengan meng-
gunakan panca indera
penelitian sosial : serangkaian aktivitas yang sistematis dan
terorganisir untuk mengungkap secara objektif
berbagai macam fenomena sosial di dalam
masyarakat
pengendalian sosial : upaya masyarakat untuk mencegah terjadinya
penyimpangan terhadap nilai dan norma
perilaku menyimpang : perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan
nilai
perubahan sosial budaya : semua bentuk perubahan terhadap struktur
sosial budaya dalam masyarakat
pewarisan biologis : pewarisan yang berupa bakat atau ciri-ciri fisik
dari leluhurnya
pewarisan budaya : proses transformasi budaya dari generasi tua
kepada generasi muda
play group : teman sepermainan
pranata sosial : suatu perangkat untuk menciptakan tertib sosial
dalam masyarakat
proses asosiatif : proses yang mengarah pada terbentuknya
perkumpulan atau perhimpunan orang
proses inkulturasi : proses pembudayaan
proses institusionalized : proses pelembagaan

Daftar Istilah 183


proses internalisasi : proses masuknya suatu pengetahuan ke dalam
pikiran seseorang
proses sosial : proses berlangsungnya suatu aktivitas
masyarakat secara komprehensif sehingga
mengakibatkan perubahan dari waktu ke waktu
realitas sosial : keadaan senyatanya di dalam masyarakat
research metodology : metodologi-metodologi dalam penelitian
sanksi : hukuman atau denda yang diberikan kepada
orang yang melakukan penyimpangan perilaku
sanksi hukum : hukuman atau denda yang diberikan pada
mereka yang melanggar norma hukum
sanksi sosial : hukuman atau denda yang diberikan kepada
mereka yang melanggar norma-norma
kesusilaan, kesopanan, adat, dan kebiasaan
sekolah : lembaga pendidikan yang memberikan
pengajaran kepada peserta didik
social behaviour : perilaku sosial
social mobility : semua bentuk perubahan struktur orang-orang
dalam masyarakat
sosialisasi : belajar berinteraksi di tengah-tengah
masyarakat sesuai dengan status sosialnya
sosiologi : ilmu yang mempelajari tentang perilaku sosial
dalam masyarakat
strong government : pemerintah yang kuat
technological change : perubahan teknologi
tolerance : akomodasi tanpa persetujuan yang formal, di
mana masing-masing pihak diminta dapat
menghindari perselisihan yang terjadi
urban sosiology : sosiologi perkotaan

184 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Aisal Sanafiah, Drs. Sosiologi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Pedoman Penyusunan Karya Tulis
Ilmiah di Bidang Pendidikan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1997. Sosiologi ke-I untuk SMU
Dieter Evers Hans. 1979. Sosiologi Perkotaan. Jakarta: LP3S
Djoyodiguno, SH. 1961. Azas-azas Sosiologi, Rincihan I. Yogyakarta: Yayasan BP
Gajah Mada
Faure Edgar, Felife Herrera, dkk. 1981. Belajar untuk Hidup, Dunia Pendidikan Hari
Kini dan Hari Esok, Sebuah Laporan Komisi Internasional untuk Pengembangan
Pendidikan. Jakarta: Bharata Karya Aksara
Gazalba Sidi, Drs. 1978. Azas Kebudayan Islam. Bulan Bintang
Gerungan WA. Dr. 1991. Psikologi Sosial. Bandung: Eresco
Huki D.A., Willa. 1982. Pengantar Sosiologi. Surabaya: Usaha Nasional
JB. A.F, Mayor Polak. 1976. Sosiologi Suatu Buku Pengatar Ringkas. Jakarta: PT.
Ichtiar Baru
J. Goode, William. 1985. Sosiologi Keluarga. Bina Aksara
Kartono, Kartini, Dra. 1980. Pengantar Metodologi Research Sosial. Bandung: Alumni
Khiam Kheo Soe, Drs. 1963. Sendi-sendi Sosiologi (Ilmu Masyarakat). Bandung:
Ganaco
Koentjaraningrat. 1985. Pengantar Antropologi. Jakarta: Aksara Baru
Lawang, Robert M.Z, Drs. 1984/1985. Modul Pengantar Antropologi. Depdikbud
Universitas Terbuka
Lawang, Robert M.Z, Drs. 1985. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kurnia Universitas
Terbuka
Luth Nursal Drs dan Daniel Fernandes. 1995. Panduan Belajar Sosiologi Jilid I.
PT. Galaxy Puspa Mega
M. Amirin, Tatang. 1990. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta: Rajawali Press
Mulyadi, Yad dan Posman Simanjuntak. 1992. Sosiologi dan Antropologi. Jakarta:
Erlangga

Daftar Pustaka 185


Schuyt, S.J.M. Rechtssociologie, een terreinverkenning. 1971. Rotterdam: Universitaire
Press
Soedjono. 1985. Sosiologi. Bandung: Alumni
Soekanto, Soerjono. 1983. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Ghalia Indonesia
Soekanto, Soerjono. 1974. Faktor-faktor Dasar Interaksi Sosial dan Kepatuhan pada
Hukum. Hukum Nasional, No. 25
Soekanto, Soerjono. 1969. Modernisasi dan Aspirasi-aspirasi Modernisasi. dimuat
dalam Kompas, 8 Februari
Soekanto, Soerjono. 1973 Pengantar Sosiologi Hukum. Jakarta: Bharata
Soemardjan, Selo cs. Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi. Bandung: PT. Eresco
Soemardjan, Selo. 1972. Peranan Ilmu-ilmu Sosial di Dalam Pembangunan. Pidato
Ilmiah pada Dies Natalis UI ke-XXII
Soemardjan, Selo. Perkembangan Ilmu Sosiologi di Indonesia dari 1945 Sampai
1965. Research di Indonesia 1945-1965. Jilid IV. Bidang Ekonomi, Sosial, dan
Budaya
Soemardjan, Selo. 1965. Perkembangan Politik sebagai Penggerak Dinamika
Pembangunan Ekonomi. Jakarta: FEUI
Soemardjan, Selo. 1967. Pola-pola Kepemimpinan Salam Pemerintahan. Jakarta:
Lembaga Pertahanan Nasional
Soemardjan, Selo. 1965. Sifat Panutan di Dalam Pandangan Masyarakat Indonesia.
Lembaga Ekonomi dan Kemasyarakatan Nasional. MIPI Departemen Urusan
Research Nasional. Masalah-masalah Ekonomi dan Faktor IPOLSOS Jakarta
Soemardjan, Selo. 1962. Social Changes in Yogyakarta. Cetakan Pertama. Ithaca,
New York: Cornell University Press. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan
judul Perubahan Sosial di Yogyakarta, Yogyakarta: GMUP Press, 1982
Soemardjan, Selo, Soelaeman Soemardi (ed). 1964. Setangkai Bunga Sosiologi. Edisi
Pertama. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

186 Sosiologi SMA/MA Kelas X


A F
adat 25, 45 – 48, 53, 70, 71, 85, 100, 102, 104, fakta 6, 8, 37
110, 112, 122, 123, 135, 139, 143, 148, 162, fenomena alam 77, 78, 107
173 fenomena sosial 4, 8, 16 – 19, 23, 26, 33, 107,
akomodasi 66, 67 161
akulturasi 23, 82, 108 folkways 48, 101
akulturasi budaya 108
angket 2, 7, 8, 32
asimilasi 23, 67, 68, 82, 83, 108 H
asimilasi budaya 108 hipotesa 9
asosiasi 3, 73

I
asumsi 98
Auguste Comte 3, 15
identifikasi 11, 60, 65, 88

B ilmu pengetahuan 3, 4, 10, 15, 17, 20, 25, 32,


40, 42, 64, 80, 106, 107, 112, 123, 127
BAP 163, 164 Imitasi 60, 64, 65, 88
interaksi sosial 10, 11, 32, 35, 59, 62 – 66, 73,

C
75, 84, 85, 88 – 99, 140, 160, 168
internal 80, 89, 166
interview 5
C. Kluckhohn 41 intrinsik 110, 111, 127, 165
Coercion 66

K
coercion 66
community 69, 88, 89
custom 48, 49, 102
keagamaan 24, 25, 42, 43, 68, 70, 124, 164, 173

D
kebiasaan 40, 46 – 48, 53, 100 – 104, 112, 122,
135, 143
kebudayaan 4, 10, 14, 15, 17, 20, 21, 23, 32, 33,
data primer 8 49, 67 – 69, 79, 81 – 84, 87, 89, 95, 98, 99, 107,
data sekunder 9 112, 116, 119, 122 – 125, 127, 135, 136, 139,
data sosial 4, 5, 6, 7, 31, 32 140, 152
demoralisasi 23 – 25, 28 – 30, 33 kebutuhan hidup 10, 12, 32, 49, 61, 62, 70, 86,
dinamika sosial 18, 59, 60 – 64, 76, 79, 80, 82, 87, 100, 141
87, 88 kebutuhan integratif 13, 32, 61, 63, 70
kebutuhan mendasar 12, 32, 63, 69, 70, 89

E
kebutuhan sosial 13, 32, 61, 63, 70
kejaksaan 25, 51, 52, 70, 148, 163, 164, 165,
169, 173
eksplisit 47, 97, 127 keluarga 3, 14, 18, 28, 30, 45, 49, 61, 71, 74,
eksternal 80, 82, 89, 166, 174 80, 84, 96, 102, 103, 108 – 112, 114, 115, 117,
ekstrinsik 110, 111, 127, 165, 174 119, 124, 126, 127, 135, 139, 145, 148, 165
empati 11, 60, 65, 88 kenakalan remaja 135, 138, 147, 152

Indeks 187
kepolisian 25, 26, 86, 145, 148, 161, 163 – 166, nilai kerohanian 99
173 nilai material 40, 42, 53, 99
kepribadian 10, 13, 20, 21, 32, 33, 69, 95, 96, nilai moral 40 – 43, 46, 99
111 – 124, 126, 127, 168
nilai religius 42, 43, 99
koersi 166
nilai sentral 42, 80, 114, 132, 140
kolusi 25, 144, 145, 147, 150, 153, 169
nilai sosial 16, 35, 41 – 45, 50, 52, 53, 97 – 100,
kompetisi 68 105, 127, 139
konflik 17, 18, 23, 24, 27, 28, 46, 66, 67, 68, 69,
nilai vital 40, 42, 53, 99
84, 85, 151, 169
norma 3, 10 – 15, 20 – 22, 32, 33, 39 – 41,
konsep 10, 18, 33, 138
44 – 53, 63, 70, 72 – 76, 84, 85, 89, 95, 97, 98,
konsep dasar 10, 32 100 – 108, 110 – 113, 122, 124, 127, 133 – 135,
konsumerisme 25, 33 138, 139, 143, 144, 146, 147, 152, 153,
kontravensi 68 160 – 162, 164, 166 – 169
kontrol sosial 104, 163, 169, 170 174 norma adat 40, 46, 47, 100, 104, 135, 143, 162
korupsi 25, 51, 137, 145, 147, 150, 153, 169, norma agama 40, 45 – 47, 53, 84, 100, 103,
174 135, 143, 146, 164, 168
kultural 23, 28, 120 norma hukum 40, 46 – 48, 50, 52, 53, 72, 100,
104, 106, 135, 143, 144, 146, 164, 168, 169

L norma kesusilaan dan kesopanan 40, 46, 47,


135, 143
lingkungan kerja 108, 113, 114, 115, 117, 119, norma sosial 10, 11, 14, 20, 39, 41, 44, 45,
127 47 – 50, 53, 84, 97, 100 – 102, 104, 105, 107,
122, 127, 132, 133, 135, 161, 167
LSM 164

M O
observasi 2, 6, 32
masyarakat 1, 3 – 24, 26 – 33, 39, 41 – 53, 59,
61 – 64, 69 – 89, 92, 95, 97 – 112, 114 – 119,
121 – 127, 133, 135 – 140, 143 – 148,
150 – 153, 159, 161 – 170, 172 – 174 P
Max Weber 72 pendidikan 7, 10, 13, 14, 19, 49, 50, 68,
media massa 2, 9, 22, 33, 96, 112, 113, 115, 70 –72, 78 – 80, 92, 96, 106 – 108, 110,
117 – 119, 127, 150, 163, 170 112 – 115, 117, 119, 122, 124, 126, 127, 135,
media sosialisasi 111 – 113, 127 148, 164 – 169, 171, 173
metode 1, 3 – 9, 32, 161 penelitian sosial 5, 6, 7, 8
metode dokumenter 9, 33 pengadilan 51, 67, 70, 148
mores 48, 102 pengangguran 27, 28, 33
motivasi 60, 65, 88, 111 pengendalian sosial 10, 14, 21, 22, 32, 33, 70,
133, 134, 147, 148, 153, 159, 161 – 171, 173

N perilaku menyimpang 10, 13, 14, 21, 22, 32, 33,


133 – 137, 139 – 142, 147, 152, 153, 161, 165,
167, 168, 171
nepotisme 25, 145 – 147, 150, 153
persuasi 166, 174
nilai 10 – 16, 20 – 22, 24, 25, 32, 33, 39 – 46,
perubahan sosial budaya 15, 16, 32, 88, 141,
50 – 53, 59, 60, 63, 65, 69, 70, 75, 76, 79, 80,
142
81, 83, 85, 87 – 90, 95, 97 – 100, 104 – 108,
110 – 115, 117, 120, 121, 124, 126, 127, 133, pewarisan budaya 150
135 – 140, 145 – 147, 152, 153, 160, 164, 166, Pitirim A. Sorokin 3
167 play group 96, 113
nilai kebenaran 40, 42, 43, 99 pranata sosial 14, 22, 33, 63
nilai keindahan 42, 99 preventif 14, 105, 165, 167, 168

188 Sosiologi SMA/MA Kelas X


Prof. Dr. Notonegoro 42, 99 Sekularisme 25, 33
proses asosiatif 67 Selo Soemardjan 3
proses sosial 3, 18, 21, 66 – 69, 85 separatis 28, 29, 33
simpati 11, 60, 65, 88

R Soelaeman Soemardi 3
sosialisasi 50, 79, 95 – 97, 107 – 115, 119, 121,
125 – 127, 133 – 136, 139 – 141, 152
realitas sosial 2, 10, 16, 18, 19, 33
sosiologi 3 – 5, 10, 32, 39, 72, 95, 137
represif 14, 105, 165, 167
sugesti 11, 60, 64, 88
Robert K. Merton 136

S U
usage 48, 101
sanksi 43 – 45, 47, 48, 53, 73, 97, 100 – 104,
127, 144, 148, 153, 164, 165, 168, 174
sanksi hukum 168
sanksi sosial 165, 168
W
sekolah 18, 39, 44, 49, 51, 52, 59, 70, 71, 78, wawancara 2, 5, 32
84 – 87, 108, 112, 117, 147, 148, 164, 168, 171

Indeks 189
190 Sosiologi SMA/MA Kelas X